Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH

AUDIT INVESTIGATIF DENGAN TEKNIK AUDIT DAN TEKNIK


PERPAJAKAN

Disusun Oleh :

Dewi Aprilianti (31620723)

Gina Puspitasari (316)

Onggi Yahya (31620678)

Raka Ramdhani (31620658)

Dosen :

Hendri, SE. Ak.,M.Ak.,CA,ACPA

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MUHAMMADIYAH
BANDUNG 2019

1
2
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur Kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena
atas izin, rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan
baik. Makalah tentang Audit Investigasi Dengan Teknik Perpajakan ini disusun
dengan tujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Audit Investigasi. Melalui
makalah ini, kami berharap agar kami dan pembaca mampu mengenal lebih jauh
mengenaI Audit Investigasi Dengan Teknik Perpajakan.

Kami ucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu,
memfasilitasi, memberi masukan dan mendukung penulisan makalah ini
sehingga selesai tepat pada waktunya. Semoga dibalas oleh Allah SWT dengan
ganjaran yang berlimpah.

Meski demikian, penulis meyakini masih banyak yang perlu diperbaiki


dalam penyusunan makalah ini, baik dari segi dalil, sumber hukum, tata bahasa,
dan bahkan tanda baca. Sehingga sangat diharapkan kritik dan saran dari
pembaca sekalian sebagai bahan evaluasi penulis.

Akhir kata Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat untuk


kelompok kami khususnya, dan pembaca lain pada umumnya.

Hormat Kami

Penyusun

3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I 1
PENDAHULUAN 1
Latar Belakang Masalah 1
Rumusan Masalah 3
BAB II 4
PEMBAHASAN 4
2.1 Konsep Investigatif Dengan Teknik Audit 4
2.1 Teknik-Teknik Audit 4
2.2.1 10
2.2.2 10
2.2.3 10
2.2.4 10
2.2.5 12
2.2.6 12
2.2.7 13
2.2.8 14
2.2.9 14
2.3 14
2.4 15
2.5 15
2.6 17
2.7 19
BAB III 17
PENUTUP 17
3.1Kesimpulan 17
DAFTAR PUSTAKA 18

4
5
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Kecurangan di Indonesia sangat berpengaruh bagi masyarakat, salah
satu contoh kecurangan tersebut adalah tindakan perbuatan korupsi,
penyuapan nepotisme dan kolusi yang sangat merugikan. Kecurangan-
kecurangan tersebut, di Indonesia bagaikan suatu berita yang tidak aneh bagi
kalangan masyarakatnya. Pengusutan tindak kecurangan tersebut dapat
dibantu oleh auditor investigatif yang akan melakukan audit investigasi, oleh
karena itu, diperlukan auditor investigatif memiliki kompetensi yang memadai
agar dapat mengungkap suatu kecurangan yang terjadi. Auditor ini
melakukan suatu investigasi apabila ada dasar yang layak sehingga auditor
tersebut dapat mereka-reka mengenai apa, bagaimana, siapa dan
pernyataan lain yang diduganya relevan dengan pengungkapan kasus
kecurangan.
Pengusutan tindak pidana kecurangan yang dilakukan di luar bidang
hukum pengadilan dapat juga dibantu oleh seorang yang ahli yang dapat
membantu pengusutan diantaranya adalah auditor. Bantuan yang dapat
diberikan oleh auditor berkenaan dengan korupsi dan kecurangan adalah
dengan melakukan audit investigasi. Audit investigasi berhubungan dengan
pengujian dan analisis forensik dalam pengumpulan bukti dengan
menggunakan teknik investigasi dan teknik-teknik audit yang kemudian akan
digunakan dalam perkara pengadilan, oleh karena itu pada auditor investigasi
diperlukan kualitas keterampilan dan keahlian kasus yaitu kombinasi antara
auditor berpengalaman dan auditor peyidik criminal (Karyono,2013:127).
Audit investigasi merupakan audit khusus yang dilakukan berkaitan
dengan adanya indikasi kecurangan salah satunya berupa tindak pidana
korupsi, penyalahgunaan wewenang, dan manipulasi laporan keuangan.Audit
investigasi ini dilakukan oleh auditor yang disebut auditor investigatif. Audit
investigasi mencakup proses mencari, menemukan, dan mengumpulkan
bukti secara sistematis yang bertujuan mengungkapkan terjadi atau tidaknya
suatu perbuatan dan pelakunya guna dilakukan tindakan hukum selanjutnya
(Pusdiklatwas BPKP, 2010:58).

6
Dalam pelaksanaan audit investigasi, maka auditor investigatif harus
memiliki kompetensi yang memadai untuk membuktikan adanya kecurangan
yang kemungkinan terjadi dan sebelumnya telah terdeteksi oleh berbagai
pihak. Prosedur dan teknik yang digunakan dalam proses penyelidikan harus
sesuai dengan ketentuan-ketentuan dalam standar yang berlaku. Hal
tersebut tentunya berpengaruh terhadap pengumpulan dan pengujian bukti-
bukti yang dilakukan terkait kasus penyimpangan atau kecurangan yang
terjadi. Salah satu tindak penyimpangan atau kecurangan yang semakin
marak terjadi di dunia adalah korupsi. Bentuk kecurangan ini tentu saja
sangat merugikan bagi masyarakat. Dapat dilihat pada kasus yang terjadi
di Bank BRI Unit Tapung Raya, Kepala Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit
Tapung Raya, Masril (40) ditahan polisi. Ia terbukti melakukan transfer uang
Rp1,6 miliar dan merekayasa dokumen laporan keuangan. Perbuatan
tersangka diketahui oleh tim penilik/pemeriksa dan pengawas dari BRI
Cabang Bangkinang pada hari Rabu 23 Februari 2011 Tommy saat
melakukan pemeriksaan di BRI Unit Tapung. Tim ini menemukan
kejanggalan dari hasil pemeriksaan antara jumlah saldo neraca dengan kas
tidak seimbang. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dan cermat,
diketahu iadanya transaksi gantung yaitu adanya pembukuan setoran kas Rp
1,6 miliar yang berasal BRIUnit Pasir Pengaraian II ke BRI Unit Tapung pada
tanggal 14 Februari 2011 yang dilakukanMasril, namun tidak disertai dengan
pengiriman fisik uangnya.Kapolres Kampar AKBP MZ Muttaqien yang
dikonfirmasi mengatakan, Kepala BRI Tapung Raya ditetapkan sebagai
tersangka dan ditahan di sel Mapolres Kampar karenamentransfer uang
Rp1,6 miliar dan merekayasa laporan pembukuan. Kasus ini dilaporkan oleh
Sudarman (Kepala BRI Cabang Bangkinang dan Rustian).
Martha pegawai BRI Cabang Bangkinang. “Masril telah melakukan
tindak pidana membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam
pembukuan atau laporan maupun dalam dokumen laporan kegiatan usaha,
laporan transaksi atau rekening Bank (TP Perbankan). Tersangka dijerat
pasal yang disangkakan yakni pasal 49 ayat (1) UU No. 10 tahun 1998
tentang perubahan atas UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan dangan
ancaman hukuman 10 tahun,” kata Kapolres. Polres Kampar telah melakukan
penyitaan sejumlah barang bukti dokumen BRI serta melakukan koordinasi

7
dengan instansi terkait, memeriksa dan menahan tersangka dan 6 orang
saksi telah diperiksa dan meminta keterangan ahli. Dari kasus tersebut
terlihat bahwa audit investigasi yang dilakukan Kepala Bank Rakyat
Indonesia (BRI) tidak berjalan secara efektif karena adanya rekayasa
dokumen laporan keuangan..

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan diatas, maka
perumusanmasalah dalam penulisan makalah ini yaitu :
1. Apa saja teknik audit ?
2. Apa itu Net Worth Method ?
3. Apa itu Expenditure Method ?

8
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Konsep Investigatif Dengan Teknik Audit
Kata “investigasi” dalam akuntansi forensic umumnya berarti audit
investigasi atau (investigative audit). Karena itu secara alamiah, diantara
beberapa tehnik investigasi ada teknik-teknik yang berasal dari tehnik-tehnik
audit (audit techniques).Banyak auditor yang sudah berpengalamanpun,
merasa ragu untuk terjun dalam bidang investigasi. Padahal, tehnik-tehnik
audit yang mereka kuasai, memadai untuk dipergunakan dalam audit
investigasi.Teknik audit adalah cara-cara yang dipakai dalam mengaudit
kewajaran penyajian laporan keuangan. Hasil dari penerapan tehnik audit
adalah bukti audit. Ada tujuh tehnik, yang dirinci dalam bentuk kata kerja
bahasa Indonesia, dengan jenis bukti auditnya dalam kurung (kata benda
bahasa Inggris), yakni:
1. Memeriksa fisik (physical examination)
2. Meminta konfirmasi (confirmation)
3. Memeriksa dokumen (documentation)
4. Review analitikal (analytic review atau analytical review)
5. Meminta informasi lisan atau tertulis dari auditan (inquiries of the auditee)
6. Menghitung Kembali (reperformance)
7. Mengamati (observation)

2.1 Teknik-Teknik Audit


Ada teknik audit yang lebih dekat kepada praktek investigasi perpajakan
dan organized crime (seperti Net Worth Method dan Expenditure Method); Ada
juga tehnik audit seperti Follow the Money, yang mempunyai unsur pencucian
uang dalam tindak pidananya yang berkaitan erat dengan naluri penjahat dan
sangat dipengaruhi oleh teknologi informasi dalam pengungkapannya. Meskipun
semua (tujuh) tehnik audit yang disebutkan pembahasan akan berfokus pada
review analitikal. Teknik-teknik audit bisa sebagai berikut;

9
2.2.1 Memeriksa Fisik Dan Mengamati
Memeriksa fisik atau physical examination lazimnya diartikan
sebagai penghitungan uang tunai (baik dalam mata uang rupiah atau
mata uang asing), kertas berharga, persediaan barang, aktiva tetap, dan
barang berwujud (tangible assets) lainnya.Mengamati sering diartikan
sebagai pemanfaatan indera kita untuk mengetahui sesuatu. Kalau kita
melakukan kunjungan pabrik, kita melihat luasnya pabrik, peralatan yang
ada, kegiatan yang dilakukan, banyaknya dan beragamnya tenaga kerja.

2.2.2 Meminta Informasi Dan Konfirmasi


Meminta informasi baik lisan maupun tertulis kepada auditan
Seperti dalam audit juga dalam investigatif, permintaan informasi harus
dibarengi, diperkuat, atau dikolaborasi dengan informasi dari sumber lain
atau diperkuat (substantiated) dengan cara lain. Permintaan informasi
sangat penting, dan juga merupakan prosedur yang normal dalam suatu
investigatif. Meminta konfirmasi adalah meminta pihak lain (dari yang
diinvestigasi) untuk menegaskan kebenaran atau tidak keebenaran suatu
informasi. Dalam audit, tehnik ini umumnya diterapkan untuk mendapat
kepastian mengenai saldo utang-piutang.

2.2.3 Memeriksa Dokumen


Tehnik ini tidak memerlukan pembahasan khusus. Tak ada
investigasi tanpa pemeriksaan dokumen. Hanya saja, dengan kemajuan
teknologi, definisi dokumen menjadi luas, termasuk informasi yang diolah,
disimpan dan dipindahkan secara elektronis/digital.

2.2.4 REVIEW ANALITIKAL


Dalam reviu analitikal yang penting bukannya perangkat lunaknya,
tetapi semangatnya, Pada dasarnya seorang investigator secara intuitif
terobsesi dengan “sesuatu yang melenceng” dan bahwa “something
must be wrong because it appears so”. Karena itu ia memerlukan patokan
atau benchmark untuk membandingkannya dengan apa yang
dihadapinya. Patokan inilah yang dirumuskan Stringer dan Stewart
sebagai results that may reasonably be expected.
Misalnya kita sedang menginvestigasi suatu bank yang
berkewajiban memungut pajak penghasilan atas bunga yang diperoleh

10
nasabahnya. Apakah bank menyetorkan pajak penghasilan ini sesuai
ketentuan, baik dalam jumlah maupun waktu penyetoran? Apakah
investigasi ini harus dimulai di cabang-cabang atau kantor-kantor
perwakilan? Menurut reviu analitikal,tidak.
Kita mulai dengan mencocokkan angka-angka agregat. Pertama,
kita tentukan jumlah pajak penghasilan yang sudah disetorkan untuk bank
secara keseluruhan (Kantor Pusat dan Cabang-cabang), menurut
pembukuan bank itu. Selanjutnya, ini adalah hasil perkalian antar tarif
pajak (misal 10 %) dengan jumlah bunga yang dibayarkan bank itu
kepada kepada para nasabahnya. Perbedaan antara data A dengan data
B bisa merupakan perbedaan waktu (timming difference) saja. Yakni,
perbedaan antara saat memotong dan saat menyetor pajak penghasilan.
Timming difference ini juga mudah dialokasi.
Tetapi mungkin juga ada perbedaan yang bersifat tetap
(permanent difference) misalnya dalam hal deposan dalam negeri yang
mendapat pembebasan pajak penghasilan dan deposan di cabang-
cabang luar negeri dimana bank tidak berkewajiban memungut pajak
penghasilannya. Perbedaan ini mudah diketahui karena umumnya jumlah
deposan dalam negeri yang dibebaskan, tidak banyak. Sedangkan untuk
deposan di cabang-cabang diluar negeri, kita mengabaikan seluruh data
bunga luar negeri (bagian dari data B semula).
Dengan contoh ini, mari kita saji definisi reviu analitikal diatas: a
form of deductive reasoning in which the propriety of the individual details
is inferred from evidence of the reasonableness of the aggregate results.
Kita harus memulai dari belakang.
Pertama, evidence of the reasonbleness of the aggregate of the
results; ini diperoleh dari data B yang diadjust untuk deposan dalam
negeri yang dikecualikan pemungutan pajak penghasilannya dan bunga
di cabang-cabang luar negeri.
Kedua, a form of deductive reasoning. Di sini kita membuat
deduksi dari data agregat, data global, data menyeluruh, yang dalam hal
ini adalah data A dan data B. Deduksi ini berkenaan dengan the proprierty
of the individual details. Individual details disini adalah pemungutan dan
penyetoran pajak penghasilan oleh bank secara transaksi demi transaksi,

11
cabang demi cabang, atau mungkin per pejabat bank sesuai dengan
kewenangannya. Kita “think ananlytical first”, dan tidak langsung terjun
dan menyibukkan diri dengan detailed substantive test.
Ada bermacam-macam variasi dari tehnik reviu analitical, namun
semuanya didasarkan atas perbandingan antara apa yang dihadapi
dengan apa yang layaknya harus terjadi, dan berusaha menjawab
sebabnya terjadi kesenjangan. Apakah ada kesalahan (error), fraud, atau
salah merumuskan patokannya.

2.2.5 MEMBANDINGKAN ANGGARAN DENGAN REALISASI


Membandingkan data anggaran dan realisasi dapat
mengindikasikan adanya fraud. Yang perlu dipahami di sini adalah
mekanisme pelaksanaan anggaran, evaluasi atas pelaksanaan anggaran,
dan insentif (keuangan maupun non keuangan) yang terkandung dalam
sistem anggarannya.
Dalam entitas yang merupakan profit center atau revenue center,
pejabat tertentu menerima insentif (bonus) sesuai dengan “keberhasilan”
yang diukur dengan pelampauan anggaran. Investigator perlu
mengantisipasi kecenderungan realisasi penjualannya dibuat tinggi
(overstated). Penjualan kredit dan pengiriman barang secara besar-
besaran pada akhir tahun merupakan indikasi mengenai hal itu.
Pengembalian barang sesudah akhir tahun memperkuat indikasi adanya
fraud.

2.2.6 HUBUNGAN ANTARA SATU DATA KEUANGAN DENGAN DATA


KEUANGAN LAIN
Beberapa akun, baik dalam suatu maupun beberapa laporan
keuangan, bisa mempunyai keterkaitan yang dapat dimanfaatkan untuk
reviu analitikal. Contoh: angka penjualan dengan piutang dan persediaan
rata-rata, angka penjualan dengan bonus bagian penjualan, penghasilan
bunga dengan saldo rata-rata tabungan dan seterusnya.

12
2.2.7 MENGGUNAKAN DATA NON KEUANGAN
Inti dari reviu analitikal adalah mengenal pola hubungan,
relationship pattern. Pola hubungan ini tidak mesti hanya antara satu data
keuangan dengan data keuangan lain. Pola hubungan non keuanganpun
bisa bermacam-macam bentuknya.
Dalam bisnis perkebunan ada hubungan antara jumlah pupuk
yang dipergunakan dengan hasil produksi atau panen; angka masukan
maupun keluaran dinyatakan dalam satuan non keuangan, seperti jumlah
ton untuk pupuk dan sawit.
Di pabrik gula ada ukuran antara jumlah ton tebu yang masuk ke
pabrik dan jumlah ton gula yang dihasilkan. Pola hubungan antara
masukan dan keluaran ini dinyatakan dalam suatu ratio yang dalam
industri gula dikenal sebagai rendemen. Perhitungan serupa kita lihat di
industri kayu lapis atau blackboard, dengan nama recovery.
Bermacam ratio kita gunakan untuk berbagai industri. Bahkan
industri-industri atau perusahaan pemeringkat mengembangkan dan
menyebarkan industry ratios.
Perusahaan penerbangan Garuda mendapatkan hasil yang sangat
signifikan dari perjalanan haji. Data yang penting, jumlah calon haji yang
diterbangkan, dapat diperoleh dari sumber intern maupun ekstern
Garuda.
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di konsulat-konsulat kita
diluar negeri, mempunyai hubungan linier dengan banyaknya visa yang
diterbitkan.
Reviu analitikal sering dilakukan dengan hitungan cepat untuk
menunjukkan keganjilan. Seorang bankir mencatat informasi yang
diterimanya dari calon nasabah kreditnya. Dengan cepat ia menetukan
bahwa pabrik pulp berkapasitas besar dilokasi yang terisolasi, tidak akan
bisa beroperasi karena bahan bakunya tidak akan cukup. Semua data
untuk membuat kesimpulan itu ia peroleh selama makan siang dengan
calon debiturnya.

13
2.2.8 REGRESI ATAU ANALISIS TREND
Dengan data historikal yang memadai(makin banyak makin baik,
ceteris paribus), review analitikal dapat mengungkapkan trend. Berbagai
perangkat lunak mempermudah hitungan dan grafiknya, misalnya STAR.

2.2.9 MENGGUNAKAN INDIKATOR EKONOMI MAKRO


Ada hubungan antara besarnya pajak penghasilan yang diperoleh
dalam suatu tahun dengan indikator-indikator ekonomi seperti inflasi,
tingkat pengangguran, cadangan devisa, indikator ekonomi negara-
negara yang menjadi partner perdagangan Indonesia, harga minyak
mentah dan komoditi lain, dan lain-lain. Ini merupakan bidang studi yang
ditekuni para ahli ekonomi makro dan ekonometri.

2.3 INVESTIGATIF DENGAN TEKNIK PERPAJAKAN


Investigatif dengan teknik perpajakan menggunakan dua tehnik
yang secara luas dipraktekkan oleh IRS (Internal Revenue Services) di
Amerika Serikat. Kedua teknik investigasi ini digunakan untuk
menentukan panghasilan kena pajak (PKP) yang belum dilaporkan oleh
wajib pajak dalam SPT-nya. Penerapan tehnik-tehnik ini terus
berkembang, sehingga menjadi umum digunakan dalam memerangi
organized crime.
Kedua tehnik investigatif ini adalah Net Worth Method dan
Expenditure Method. Keduanya menggunakan logika pembukuan atau
akuntansi yang sederhana. IRS menggunakannya sebagai bukti tidak
langsung (circumstantial evidence). Teknik ini menggeser beban
pembuktian dari negara/fiskus kepada wajib pajak. Perlindungan hak
wajib pajak diperlukan karena pergeseran beban pembuktian tersebut
diatas.

14
2.4 NET WORTH METHOD
Net worth method diterapkan oleh kantor pajak Amerika Serikat
(IRS). Pemakaiannya bisa ditelusuri kembali ke tahun 1931 ketika IRS
berhasil menjaring Al(fonso) Capone. Sejak Congress mengundangkan
RICO Act pada tahun 1970, penggunaannya diperluas untuk menemukan
indikasi illegal income dari organized crime (kejahatan yang diorganisasi
seperti Mafia,Triad, dan lain-lain).
Net worth method untuk investigasi pajak ingin membuktikan
adanya PKP yang belum dilaporkan oleh wajib pajak. Untuk organized
crime yang ingin dibuktikan adalah terdapatnya penghasilan yang tidak
sah, melawan hukum, atau illegal income.

2.5 NET WORTH METHOD UNTUK PERPAJAKAN


Di Amerika Serikat di mana Net Worth Method diterima sebagai
cara pembuktian tidak langsung, dasar penggunaannya adalah kewajiban
wajib pajak untuk melaporkan semua penghasilannya (sebagaimana
didefinisikan oleh undang-undangnya) dalam tax returns mereka.
Ketentuan serupa juga berlaku di Indonesia di mana wajib pajak
diwajibkan penghasilannya secara lengkap dan benar dalam SPT (Surat
Pemberitahuan Tahunan, dalam hal ini SPT PPh).
Pemeriksa pajak menetapkan net worth atau kekayaan bersih
pada awal tahun. Ini diperoleh dari pengurangan seluruh assets
seseorang dengan seluruh liabilities-nya. Jadi di awal tahun
tertentu,sebutlah Tahun-1, net worth = assets-lialibilities. Hal yang sama
dilakukan untuk menentukan net worth Tahun-2.
Selanjutnya, net worth Tahun-1 dibandingkan dengan net worth
tahun-2. perbandingan ini akan menghasilkan kenaikan net worth (net
worth increase) yang seharusnya sama dengan PKP untuk tahun-2.
Karena itu kenaikan net worth ini dibandingkan dengan penghasilan yang
dilaporkan dalam SPT PPh tahun-2.
Berikut ini adalah contoh perhitungan PKP yang belum
dilaporkan dengan Net Worth Method.

15
Net Worth Method untuk menentukan PKP yang belum dilaporkan

Tahun 1 Tahun 2
Aset 1.000 Aset 3.000
(-) Liabilitas 200 (-) Liabilitas 250
Net Worth 800 Net worth 2750
Net Worth tahun 1 800
Kenaikan Net Worth 1950
(+) Non deductible
1000
expense
(-) Nontaxable income 400
Corrected taxable income 2250
(-) reported taxable
1250
income
Unreported taxable
1300
income

Beberapa istilah yang perlu dipahami dari tabel diatas adalah


sebagai berikut.

Nondeductable Expanse adalah biaya-biaya yang tidak boleh


dibebankan dalam menghitung PKP. Untuk wajib pajak perorangan
di Indonesia, ini adalah hampir seluruh biaya hidup seseorang,
karena biaya yang boleh dikurangkan (deductable) hanyalah
pengurangan penghasilan bruto berupa biaya jabatan, biaya
pensiun, iuran pensiun dan THT. Oleh karena itu nondedectable
expanse harus ditambahkan kepada net worth increase.

Nontaxable expanse adalah penghasilan seseorang


(perusahaan) yang untuk kepentingan perpajakan bukan
merupakan PKP. Oleh karena itu, penghasilan bukan PKP
(Nontaxable expanse) harus dikurangkan dari net worth increase.

Corrected taxable income adalah PKP sesunguhnya atau


yang seharusnya dilaporkan oleh wajib pajak berdasarkan
perhitungan net worth method.

16
Unreport taxable income adalah PKP yang belum dilaporkan
oelh wajib pajak dalam SPTnya. Informasi inilah yang dihitung
pemeriksa atau penyidik pajak.

2.6 NET WORTH METHOD UNTUK ORGANIZED CRIME


Dengan rumus yang hampir sama, kita dapat menentukan illegal
income. Seperti disebutkan tadi, di Amerika Serikat metode ini digunakan
dalam memerangi organized crime. Di Indonesia pendekatan ini dapat
digunakan untuk memerangi korupsi. Ketentuan perundang-undangannya
sudah ada, yakni laporan mengenai kekayaan pejabat.
Legal income adalah semua penghasilan yang dilaporkan yang
bersangkutan. Inilah yang dibandingkan dengan net worth increase
(sesudah di-adjust dengan personal expenses) untuk menentukan illegal
income.
Berikut adalah contoh perhitungan untuk menentukan illegal
income

Tahun 1 Tahun 2
Aset 1.000 Aset 3.000
(-) Liabilitas 200 (-) Liabilitas 250
Net Worth 800 Net worth 2750
Net Worth tahun 1 800
Kenaikan Net Worth 1950
(+) Personal expense 1000
Corrected taxable income 2950
(-) Legal income 1250
Ilegal income 1700

Dibawah ini ada beberapa catatan yang harus diperhatikan penyidik


atau investigator dalam menerapkan net worth method.

1. Rekaman Makin banyak transaksi terekam, makin ampuh pula


net worth method. Seperti, penggunaan kartu kredit ; selain
meninggalkan paper trails (jejak berupa kertas), ia juga
meninggalkan digital trails yang bisa menjadi bukti dalm upaya

17
pemberantasan tindak pidana pencucian uang, bank, dan
lembaga-lembaga keuangan lainnya. Rekaman ini sangat
mendukung penerapan net worth method
2. Penyimpanan uang tunai – ada beberapa pelaku kejahatan
yang menggunakan jasa perbankan atau pasar modal dalam
menyimpan bahkan menggandakan uang hasil kejahatan
mereka. Ada pula yang menyimpan uang dalam rumah dinas
atau rumah tempat tinggal mereka dalam jumlah yang besar,
disebut juga Cash Hoarding.
3. Tambahan penghasilan – kalau tambahan dari pembelian tanah
atau warisan, masih bisa ditelusuri. Yang menjadi perhatian
bahkan KPK menetapkan aturan dalam hal ini adalah
gratifikasi.
4. Pembalikan beban pembuktian – membalikkan apa yang sudah
dilaporkan ke pemerintah dari yang bersangkutan.
5. Catatan pembukuan – catatan yang seringkali tidak lengkap
dan menjadi tantangan bagi penyidik.
6. Penyidik kurang sabar-dalam menghadapi pelaku yang
tangguhdalam tindak pidana perpajakan, penyidik mungkin
menyerah ketike pelaku bersedia membayar dengan cepat
“temuan si penyidik”. Penyidik perlu berhati-hati terutama ketika
menerapkan net worth method untum pertama kalinya pada
wajib pajak yang bersangkutan. Ditu sebabnya, informasi
penting harus dikumpulkan, baik secara formal maupun
informal.
7. Pembuktian tidak langsung-berulang kali dijelaskan diatas
bahwa net worth method adalah metode pembuktian tidak
langsung, dan membalikkan beban pembuktian kepada pelaku
(wajib pajak atau pelau kejahatan terorganisir). Di indonesia,
Undang-undang belum menetapkan net worth method sebagai
alat pembuktian. Kalau kita akna menggunakannya, cara

18
pembuktian ini harus disertai dengan ketentuan-ketentuan yang
melindungi wajib pajak, tuduhan atau dakwaan harus jelas dam
ditetapkan secara formal dalam surat tugas, khususnya
mengenai makna dan sifta net worth method, asumsi yang
dipakai, dan kesimpulan yang dapat ditarik oleh kedua belah
pihak (negara dan pelaku kejahatan).
8. Kejahatan lain-sering kali dalam menerapkan net worth method
untuk tujuan perpajakan, penyidik dapat mengungkapkan
kejahatan lain, jadi bukan tindak pidana perpajakan. Misalnya
dalam menjelaskan unreported taxable income yang besar
jumlahnya, wajib pajak mengaku dan bisa membuktikan bahwa
tambahan kekayaan berasal dari titipan pihak ketiga. Kalau
titipan ini berupa uang tunai atau uang di bank, ini mungkin
merupakan indikasi tindak pidana pencucian uang.

2.7 EXPENDITURE METHOD


Sebagaimana halnya dengan Net Worth yang dijelaskan,
penerapan Expenditure Method juga dipelopori IRS. Expenditure Method
yang merupakan derivasi atau turunan dari net worth method digunakan
IRS sejak tahun 1940an. Ketika RICO Act diundangkan dalam tahun
1970, Expenditure Method dimanfaatkan sebagai petunjuk organized
crime. Expenditure Method juga merupakan cara pembuktian tidak
langsung.
Seperti Net Worth Method, Expenditure Method juga dimaksudkan
untuk menentukan unreported taxable income. Expenditure Method lebih
cocok untuk para wajib pajak yang tidak mengumpulkan harta benda,
tetapi mempunyai pengeluaran-pengeluaran besar (mewah).

19
Contoh perhitungan unreported taxable income

Jumlah pengeluaran 10.000


(-) total nontaxable income 1.000
Adjusted gross income 9.250
(-) itemized / standard deduction 750
(-) exemptions 500
Corrected Taxable Income 8.000
Reported taxable income 3.000
Unreported taxable income 5.000

Keterangan istilah :
Itemized = pengurangan yang diperkenankan UU baik yang bersifat
standar atau dirinci satu per satu.
Exemption = pengecualian.
Expenditure Method lebih populer dari Net Worth Method, karena
Expenditure Method lebih mudah dibuat atau dihitung, dan juga lebih
mudah dimengerti oleh orang awam. Mahkamah Agung di Amerika
Serikat tidak menetapkan Expenditure Method secara khusus sebagai
alat pembuktian, karena Expenditure Method dianggap derivasi atau
turunan dari Net Worth Method. Seorang akuntan harusnya mampu
menghitung unreported taxable income berdasarkan Net Worth Method
akan mengkonversikannya ke Expenditure Method.
Expenditure Method harusnya digunakan untuk kasus-kasus
perpajakan apabila kondisi-kondisi berikut sangat kuat atau dominan:
1. Wajib pajak tidak menyelenggarakan pembukuan atau catatan.
2. Pembukuan dan catatan wajib pajak tidak tersedia, misalnya karena
terbakar.
3. Wajib pajak menyelenggarakan pembukuan tetapi tidak memadai.
4. Wajib pajak menyembunyikan pembukuan.
5. Wajib pajak tidak mempunyai assets yang terlihat atau dapat
diidentifikasi.

20
Expenditure Method harusnya digunakan untuk kasus-kasus
organized crime apabila kondisi-kondisi berikut sangat kuat atau dominan:
1. Tersangka kelihatannya tidak membeli asset seperti rumah, tanah,
saham, perhiasan, mobil atau kapal mewah, dan seterusnya.
2. Tersangka mempunyai gaya hidup mewah dan agaknya diluar
kemampuannya.
3. Tersangka diduga mengepalai jaringan kejahatan, atau semua saksi
yang memberatkan dia adalah para penjahat yang sudah dijatuhi
hukuman.
4. Illegal income harus ditentukan untuk menghitung denda (misalnya
dalam kejahatan penebangan hutan ilegal), menghitung kerugian
negara (dalam kasus korupsi), dan pungutan negara lainnya.

Expenditure Method adalah derivasi dari Net Worth Method.


Namun, perlakuan terhadap asset dan liabilities-nya berbeda. Misalnya,
dalam Net Worth Method penyidik akan mencantumkan saldo akhir kas
dan bank. Dalam Expenditure Method, hanya perubahannya yang diambil
(kenaikan atau penurunan kas dan bank). Hal yang sama juga berlaku
untuk persediaan barang, piutang, utang, dan pinjaman bank. Depresiasi,
amortisasi, deplesi, deffered gains, dan semacamnya juga diabaikan
dalam Expenditure Method ini sebenarnya merupakan hal yang elementer
untuk seorang akuntan.

21
BAB III PENUTUP

3.1Kesimpulan
Kata “investigasi” dalam akuntansi forensic umumnya berarti audit
investigasi atau (investigative audit). Karena itu secara alamiah, diantara
beberapa tehnik investigasi ada teknik-teknik yang berasal dari tehnik-
tehnik audit (audit techniques).Banyak auditor yang sudah
berpengalamanpun, merasa ragu untuk terjun dalam bidang investigasi.
Padahal, tehnik-tehnik audit yang mereka kuasai, memadai untuk
dipergunakan dalam audit investigasi.Teknik audit adalah cara-cara yang
dipakai dalam mengaudit kewajaran penyajian laporan keuangan. Hasil
dari penerapan tehnik audit adalah bukti audit. Ada tujuh tehnik, yang
dirinci dalam bentuk kata kerja bahasa Indonesia, dengan jenis bukti
auditnya dalam kurung (kata benda bahasa Inggris), yakni:
a. Memeriksa fisik (physical examination)
b. Meminta konfirmasi (confirmation)
c. Memeriksa dokumen (documentation)
d. Review analitikal (analytic review atau analytical review)
e. Meminta informasi lisan atau tertulis dari auditan (inquiries of the
auditee)
f. Menghitung Kembali (reperformance)
g. Mengamati (observation)

22
23
DAFTAR PUSTAKA
Karyono. 2013 forensic fraud. Yogyakarta.
https://dokumen.tips/documents/audit-investigatif-dengan-teknik-audit-dan-
perpajakan.html
https://www.scribd.com/document/332552226/bab-13-dan-14

24