Anda di halaman 1dari 5

TEORI PASAR MODAL DAN INVESTASI

SAP 7
REVIEW ARTIKEL INTERNASIONAL

OLEH

NAMA : IDA AYU NIRMA PRAMESWARI


NIM : 1881611026
NO. ABSEN : 01

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS UDAYANA
2019

REVIEW ARTIKEL INTERNASIONAL


Judul : Effectiveness of Portfolio Selection Using Markowitz Model and Broker
Recommendation in Indonesia Stock Exchange (Mining, Agriculture, and
Infrastructure Industry)
Penulis : Vindaniar Y. Putri
Sumber : The 2nd International Conference on Vocational Higher Education (ICVHE)
Volume 2018
Unit Kerja : Vocational Program, Universitas Indonesia, Depok, Indonesia

1. Isu/Fenomena/Latar Belakang Masalah


Kondisi banyaknya jenis sekuritas di pasar modal saat ini, baik secara internasional
maupun nasional dapat menyebabkan perluasan sekuritas aset bagi investor. Hal ini
menyebabkan investor memiliki tingkat risiko dan pengembalian pada tingkat yang sama atau
bahkan risiko lebih kecil dari tingkat pengembalian. Investor yang baik tentu saja akan
mendiversifikasikan investasi mereka pada beberapa industri atau sektor yang menghasilkan
tingkat pengembalian maksimal dengan risiko yang lebih rendah untuk portofolio mereka.
Tujuan investor untuk membentuk portofolio dengan diversifikasi instrumen investasi adalah
untuk mengurangi risiko guna memperoleh keuntungan maksimal. Diversifikasi sangat
penting dilakukan karena sebagian besar investor masih menghindari risiko. Semakin banyak
instrumen investasi yang dipilih, maka semakin banyak risiko yang dapat diminimalkan.
Fokus artikel ini adalah pada investasi saham yang dapat diperdagangkan melalui bursa, oleh
karena itu, ada beberapa modifikasi dari teori Robert Ang tentang pengembangan portofolio
investasi.

2. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas pemilihan portofolio
dengan menggunakan model Markowitz dan model rekomendasi broker untuk meminimalkan
risiko dan memaksimalkan pengembalian yang diharapkan dalam portofolio investor di Bursa
Efek Indonesia (Industri Pertambangan, Pertanian, dan Infrastruktur) pada Tahun 2016.

3. Landasan Teori
Grand theory dalam penelitian ini adalah Teori Portofolio. Teori portofolio merupakan
eori yang berkaitan dengan pemilihan potofolio, dimana ketika mengelola aset, investor harus
memilih dan menggabungkan dalam komposisi dan proporsi tertentu sehingga dapat
mencapai titik optimal antara risiko dan pengembalian yang diperlukan. Teori ini, melalui
model kuantitatif dan data historis mampu menghitung tingkat pengembalian portofolio yang
diharapkan dan risiko portofolio yang dapat diterima, juga menunjukkan cara membentuk
portofolio optimal. Portofolio juga memiliki tingkat pengembalian dan tingkat risiko yang
sama dengan aset investasi lainnya. Namun, membentuk portofolio adalah upaya untuk
melakukan trade-off terbaik antara risiko dan pengembalian.
Harry Markowitz memperkenalkan teori portofolio untuk pertama kalinya. Pendekatan
Markowitz dalam mengembangkan portofolio adalah bahwa investor harus mengevaluasi
portofolio mereka berdasarkan pengembalian yang diharapkan dan risiko, yang diukur
dengan standar deviasi. Markowitz kemudian menerbitkan konsep yang disebut portofolio
efisien. Portofolio yang efisien adalah portofolio, yang memiliki risiko terkecil untuk
pengembalian yang diharapkan sama, atau pengembalian yang diharapkan terbesar untuk
risiko yang sama.

4. Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Data yang diperoleh
dilakukan dengan dua cara yaitu studi literatur dan studi lapangan. Penelitian ini
menggunakan data mingguan dengan periode selama September 2014 hingga September
2016. Semua data dalam bentuk mata uang Rupiah Indonesia dan dari database Datastream.
Perusahaan yang dipilih sebagai sampel adalah perusahaan yang berada di posisi papan
teratas atau saham blue chip, kapitalisasi pasar besar, nilai perdagangan tinggi, dan
berdasarkan rekomendasi broker. Rekomendasi broker didasarkan pada laporan analis ekuitas
dari Juli 2016 hingga September 2016. Sebelum menentukan bobot untuk setiap saham,
peneliti pertama-tama menghitung portofolio varians minimum global (batas investor
rasional) dan portofolio berisiko optimal (antarmuka kritis antara jalur alokasi modal terbaik
(CAL) dan batas efisien) oleh Markowitz.

5. Hasil dan Kesimpulan Penelitian


Langkah pertama untuk mengembangkan portofolio optimal berdasarkan model
Markowitz adalah membentuk portofolio aset berisiko. Kemudian, data korelasi dan data
kovarian diperlukan untuk menghitung dan memproses data. Berdasarkan hasil analisis yang
ditampilkan pada tabel dalam penelitian, menunjukka bahwa yang memiliki korelasi tertinggi
adalah ADRO - PTBA (0,616). Saham-saham itu berasal dari industri yang sama, yang berarti
jika harga saham ADRO menurun, harga saham PTBA juga menurun. Korelasi negatif datang
dari ADRO - BYAN, ADRO - SMAR, ADRO - TOWR, BYAN - AALI, dan BYAN - TBIG.
ADRO - BYAN dan BYAN - AALI berasal dari industri yang berbeda, sehingga mereka
dapat saling melengkapi. Berdasarkan tabel dalam penelitian juga dapat dilihat bahwa tingkat
pengembalian setiap saham umumnya tinggi kecuali untuk BYAN. Namun, risiko masing-
masing saham juga tinggi. Risiko tertinggi berasal dari ADRO dan INCO. Kedua saham itu
berasal dari industri yang sama, yaitu industri pertambangan. Seperti kita ketahui bahwa
industri pertambangan saat ini cukup tidak stabil, cenderung menurun. Sehingga, meskipun
industri pertambangan mampu menghasilkan return tinggi (INCO dengan 73,34%), tetapi
juga menghasilkan tingkat risiko tertinggi (74,97%). Untuk mencapai titik portofolio optimal,
kita perlu menentukan proporsi yang sesuai untuk setiap saham. Hasil penelitian
menunjukkan proporsi saham menggunakan model Markowitz dibagi secara proporsional
untuk setiap saham, dapat disimpulkan bahwa risiko yang ditanggung investor akan menurun
jika investor mendiversifikasi portofolio mereka. Hal ini dibuktikan dengan risiko masing-
masing saham yang tetap dalam kisaran hingga 70% sebelum terdiversifikasi menjadi 5,1%
setelah diversifikasi. Selain itu, tingkat pengembalian saham portofolio juga berubah.
Investor yang melakukan diversifikasi memiliki tingkat pengembalian 26,63% dari portofolio
mereka. Sedangkan investor yang tidak terdiversifikasi mengalami kerugian karena tidak
mendapatkan tingkat pengembalian yang optimal.
Hasil analisis dengan menggunakan model rekomendasi broker menunjukkan bahwa
pengembalian setiap saham umumnya tinggi kecuali TLKM. Pengembalian tertinggi adalah
dari PGAS dengan 79,42% bersama dengan risiko tinggi juga (55,99%). Pengembalian
negatif untuk TLKM adalah sinyal buruk bagi portofolio karena dapat memengaruhi tingkat
pengembalian portofolio. Namun, risiko saham ADRO dalam metode ini lebih tinggi
daripada dalam portofolio Markowitz (75,4%).
Baik portofolio Markowitz dan rekomendasi broker menghasilkan tingkat
pengembalian dan risiko yang berbeda. Metode portofolio Markowitz menghasilkan tingkat
pengembalian yang lebih tinggi daripada portofolio rekomendasi broker. Kondisi ini mungkin
terjadi karena portofolio Markowitz mengandung lebih banyak saham daripada rekomendasi
broker. Selain itu, dalam rekomendasi broker ada pengembalian negatif dari saham TLKM
yang dapat mempengaruhi pengembalian portofolio keseluruhan. Meskipun melalui
diversifikasi risiko dapat berkurang, tetapi efek negatifnya cukup kuat. Alasan mengapa
hanya ada beberapa stok di industri pertanian, pertambangan, dan infrastruktur yang
direkomendasikan oleh broker memberikan sinyal kepada investor bahwa industri-industri
tersebut tidak cukup baik saat ini. Sehingga, investor rasional harus melihat ke industri lain
seperti industri lain-lain atau barang-barang konsumen, yang memiliki korelasi negatif.
Kesimpulan yang dapat ditarik berdasarkan hasil analisis secara keseluruhan yaitu
portofolio diversifikasi merupakan saran yang paling memenuhi syarat untuk berinvestasi di
pasar saham. Investor yang mendiversifikasi sahamnya dengan tujuan untuk mengurangi
risiko karena kerugian pada satu saham dapat ditutupi dengan laba di saham lainnya. Kinerja
portofolio sangat ditentukan oleh pengembalian harapan dan risiko dengannya. Risiko
portofolio sangat dipengaruhi oleh risiko masing-masing saham, persentase / bobot masing-
masing saham dan juga korelasi antar saham dalam pembentukan portofolio. Pemilihan
metode dalam melakukan penilaian portofolio juga mempengaruhi tingkat pengembalian
suatu portofolio. Pemilihan metode dalam melakukan penilaian portofolio juga
mempengaruhi tingkat pengembalian suatu portofolio. Dalam artikel ini, dapat dilihat bahwa
portofolio penilaian dalam model Markowitz lebih besar dari rekomendasi broker. Ini karena
dalam model Markowitz terdapat 12 saham yang dimasukkan ke dalam portofolio sedangkan
dalam rekomendasi broker hanya menggunakan 7 saham, oleh karena itu dapat disimpulkan
bahwa semakin banyak saham dalam portofolio investor akan dapat mengurangi risiko yang
harus ditanggung dan menghasilkan lebih besar tingkat pengembalian juga.

6. Keunggulan, Keterbatasan, dan Rekomendasi


Penelitian ini memiliki keunggulan yaitu peneliti mampu memaparkan secara singkat
namun jelas dan terstruktur rapi mengenai sub bagian dalam penelitian ini mulai dari latar
belakang masalah, teori dan metode yang digunakan serta hasil dan kesimpulan. Hal ini
membuat pembaca lebih mudah untuk memahami isi dan maksud dari penelitian.
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah peneliti tidak memaparkan kendala/kekurangan
yang dirasakan dalam penelitian, apabila itu dipaparkan dalam penelitian seharusnya akan
sekaligus juga bisa bagi peneliti selanjutnya mendapatkan ide/saran berdasarkan keterbatasan
dalam penelitian ini. Untuk peneliti selanjutnya dapat melalukan penelitian sejenis dengan
membandingkan model lain yang bisa digunakan untuk pemilihan portofolio optimal dan
peneliti selanjutnya juga bisa memperluas sampel penelitian berdasarkan kriteria lainnya.