Anda di halaman 1dari 16

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tanaman Jahe

2.1.1 Habitat

Jahe dapat tumbuh pada daerah tropis dengan ketinggian tempat antara

0-1,700 m di atas permukaan laut. Jahe memerlukan suhu tinggi serta curah hujan

yang cukup saat masa pertumbuhannya. Suhu tanah yang ideal yaitu antara 25-

30°C. Untuk mendapatkan hasil rimpang yang baik, tanah harus dalam keadaan

gembur sehingga member kesempatan akar tersebut berkembang dengan normal.

Tanaman ini tidak tahan genangan air sehingga irigasinya harus selalu

diperhatikan (Hapsoh, 2011).

2.1.2 Morfologi

a. Rimpang/akar

Rimpang bercabang tidak teratur umumnya kearah vertikal, kulit

berbentuk sisik tersusun melingkar dan berbuku-buku, warna kuning coklat

sampai merah tergantung dari jenisnya. Daging berwarna kuning cerah, berserat,

aromatis, mengandung metabolit sekunder (Syukur, 2001).

b. Batang

Batang tanaman merupakan batang semu yang tumbuh tegak lurus. Batang

itu terdiri dari seludang-seludang daun tanaman dan pelepah-pelepah daun yang

menutupi batang. Bagian luar batang agak licin dan sedikit mengkilap berwarna
hijau tua. Batang biasanya basah dan banyak mengandung air, sehingga tergolong

tanaman herba (Paimin, 2000).

c. Daun

Daun jahe berbentuk lonjong dan lancip menyerupai daun rumput-

rumputan besar. Daun itu berselingan dengan tulang daun sejajar sebagaimana

tanaman monokotil lainnya. Pada bagian atas, daun lebar dengan ujung agak

lancip, bertangkai pendek, berwarna hijau tua agak mengkilap. Sementara bagian

bawah berwarna hijau muda dan berbulu halus. Panjang daun sekitar 5-25 cm

dengan lebar 0,8-2,5 cm. Tangkainya berbulu atau gundul dengan panjang 5-25

cm dan lebar 1-3 cm. Ujung daun agak tumpul dengan panjang lidah 0,3-0,6 cm.

Bila daun mati maka pangkal tangkai tetap hidup dalam tanah, lalu bertunas dan

menjadi rimpang akar baru (Tjitrosoepomo, 1994).

d. Bunga

Bunga jahe berupa bulir yang berbentuk kincir, tidak berbulu, dengan

panjang 5-7 cm dan bergaris tengah 2-2,5 cm. Bulir itu menempel pada tangkai

bulir yang keluar dari akar rimpang dengan panjang 15-25 cm. Tangkai bulir

dikelilingi daun pelindung yang berbentuk lonjong, runcing, dengan tepi berwarna

merah, ungu, atau hijau kekuningan. Bunga terletak pada ketiak daun pelindung

dengan beberapa bentuk, yakni panjang, bulat telur, lonjong, runcing, atau tumpul.

Daun kelopak dan daun bunga masing-masing tiga buah yang sebagian bertautan

(Paimin, 2000). Pada bunga jahe, benang sari berupa staminodia, berjumlah 6

tersusun dalaam 2 lingkaran. Yang 3 diluar tertanam pada mahkota, dari yang

sebelah dalam 2 menyerupai tanduk dan 1 lagi menyerupai daun mahkota,


berwarna lembayung berbintik-bintik berlekuk 3, bakal buah tenggelam, beruang

3 yang dapat dibuahi hanya sebuah sedangkan sebuah benang sari lain telah

berubah bentuk menjadi daun (Tjitrosoepomo, 1994).

Taksonomi Tanaman Jahe

Menurut Paimin, (2000), Taksonomi tanaman jahe sebagai berikut :

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledoneae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Zingiber

Spesies : Zingiber officinale Roscoe

Ciri morfologis famili ini merupakan herba aromatik dengan rimpang tebal

yang sangat menonjol. Rimpang ini kaya akan minyak atsiri, tersimpan dalam sel

khas. Daun tersusun spiral atau berseling dengan pelepah di sekeliling batang.

pelepah ini tersusun sedemikian rupa sehingga membentuk struktur mirip batang

yang mendukung batang asli yang agak lemah (Heinrich dkk., 2010).

2.1.3 Jenis-jenis Tanaman Jahe

Jahe mempunyai beberapa varietas yang dibedakan berdasarkan ukuran,

bentuk, dan warna rimpangnya. Varietas yang banyak ditanam ada tiga macam

yaitu jahe gajah (Z. officinale var. officinale), jahe emprit (Z. officinale var.

rubrum), dan jahe merah (Z.officinale var. amarum) (Syukur, 2001).


1. Jahe putih besar/Jahe gajah/Jahe Badak (Zingiber officinale var. officinale)

Varietas jahe ini banyak ditanam di masyarakat dan dikenal dengan nama

Zingiber officinale var. officinale. Batang jahe gajah berbentuk bulat, berwarna

hijau muda, diselubungi pelepah daun, sehingga agak keras. Ukuran

rimpangnya lebih besar dan gemuk jika dibandingkan jenis jahe lainnya. Jika

diiris rimpang berwarna putih kekuningan. Berat rimpang berkisar 0,18-1,04

kg. Jenis jahe ini bisa di konsumsi baik saat berumur muda maupun berumur

tua, baik sebagai jahe segar maupun olahan (Hapsoh, 2010).

Akar jahe gajah ini memiliki serat yang sedikit lembut dengan kisaran panjang

akar 4,53-6,30 cm dan diameter mencapai kisaran 4,53-6,30 mm. Rimpang

memiliki aroma yang tajam dan rasanya kurang pedas. Kandungan minyak

atsiri pada jahe gajah 0,82-1,66% (Hapsoh, 2010).

2. Jahe Putih/Jahe Emprit (Zingiber officinale var. rubrum)

Dikenal dengan nama latin Zingiber officinale var. rubrum, memiliki rimpang

dengan bobot berkisar antara 0,5-0,7 kg/rumpun. Daging rimpang berwarna

putih kekuningan. Tinggi rimpangnya dapat mencapai 11 cm dengan panjang

anatara 6-30 cm dan diameter antara 3,27-4,05 cm. Ruasnya kecil, agak rata

sampai agak sedikit menggembung. Tinggi tanaman jika diukur dari

permukaan tanah sekitar 40-60 cm sedikit lebih pendek dari jahe gajah. Bentuk

batang bulat dan warna batang hijau muda hampir sama dengan jahe gajah,

hanya penampilannya lebih ramping dan jumlah batangnya lebih banyak.

Kedudukan daunnya berselang-seling dengan teratur. Warna daun hijau muda

dan berbntuk lancet. Jumlah daun dalam satu batang 20-30 helai. Panjang daun
dapat mencapai 20 cm dengan lebar daun rata-rata 25 cm. Kandungan minyak

atsiri 1,5-3,5%. Kandungan minyak atsirinya lebih besar daripada jahe gajah,

sehingga rasanya lebih pedas (Hapsoh, 2010).

3. Jahe Merah atau Jahe Sunti (Zingiber officinale var. amarum)

Jahe merah mempunyai nama latin Zingiber officinale var. amarum, memiliki

rimpang dengan bobot antara 0,5-0,7 kg/rumpun. Struktur rimpang jahe merah,

kecil berlapis-lapis dan daging rimpangnya berwarna merah jingga sampai

merah, ukuran lebih kecil dari jahe emprit. Diameter rimpang dapat mencapai 4

cm daan tingginya antara 5,26-10,40 cm. Susunan daun terletak berselang-

seling teratur, berbentuk lancet dan berwarna hijau muda hingga hijau tua.

Panjang daun dapat mencapai 25 cm dengan lebar antara 27-31 cm. Kandungan

minyak atsiri sebesar 2,58-3,90%. Jahe merah mempunyai kegunaan yang

paling banyak jika dibandingkan jenis jahe yang lain yang merupakan bahan

penting dalam industri jamu tradisional (Hapsoh, 2010).

2.1.4 Budidaya Tanaman Jahe

Menurut Hapsoh, (2011), cara budidaya Tanaman Jahe sebagai berikut:

a) Penyiapan Lahan

Jahe cocok dibudidayakan di lahan kering karena bebas genangan air dan

bisa juga menggunakan lahan sawah, dengan syarat dilakukan pengolahan

tanah terlebih dahulu. Tanah sawah umumnya liat dan padat ketika kering,

oleh karena itu dalam pengolahannya perlu memasukkan pupuk organik

atau pupuk kandang dan kapur yang banyak.


b) Penyiapan Benih

Untuk benih digunakan rimpang yang berasal dari tanaman cukup tua,

yaitu umurnya antara 9-12 bulan. Rimpang jahe yang akan dibuat benih

dipotong-potong. Ukuran rimpang untuk bibit antara 50-80 gram. Untuk

menjaga agar bekas potongan tidak busuk maka pada bekas sayatan

ditaburi abu gosok. Selanjutnya rimpang ditunaskan selama 1-3 minggu

pada media tumpukan jerami padi. Media jerami disiram rutin dan jangan

dibiarkan sampai kering.

c) Penanaman

Potongan rimpang yang sudah bertunas dimasukkan kedalam lubang

tanam yang telah disiapkan dengan mata tunas dihadapkan ke atas

kemudian ditutup dengan tanah halus. Setelah itu permukaan ditutup

dengan jerami agar pertumbuhan gulma terhambat dan permukaan tanah

tetap terjaga kelembabannya.

2.1.5 Sistem Panen Tanaman Jahe

Waktu panen jahe akan mempengaruhi kadar minyak atsiri dan serat dari

jahe yang dihasilkan. Kadar minyak atsiri jahe akan semakin meningkat dengan

semakin meningkatnya umur tanaman. Waktu panen ditentukan oleh tujuan

produk akhir yang dituju, apakah untuk bumbu masak atau ekstraksi minyak

atsirinya. Pemanenan jahe yang akan digunakan sebagai bumbu masak dilakukan

pada umur kurang lebih 4 bulan. Sebagai bahan obat, rimpang jahe dipanen

setelah tua yaitu umur 9-12 bulan setelah tanam. Pemanenan jahe sebaiknya

dilakukan sebelum musim hujan karena jika dilakukan pada musim hujan
menyebabkan rusaknya rimpang dan menurunkan kualitas rimpang sehubungan

dengan rendahnya bahan aktif karena tingginya kadar air (Hapsoh, 2011).

2.1.6 Kandungan Kimia Jahe

Rimpang jahe mengandung 1-3% minyak atsiri, yang kandungan kimia

utamanya adalah Zingiberen dan β-bisabolen. Rasa pedas dan tajam dihasilkan

oleh campuran senyawa fenolat yang disebut gingerol, gingerdiol, gingerdion,

dihidrogingerdion, dan shogaol. Shogaol dihasilkan dari proses dehidrasi dan

degradasi gingerol serta terbentuk selama pengeringan dan ekstraksi. Shogaol

lebih pedas dan tajam daripada gingerol, yang faktanya bahwa jahe kering lebih

pedas dari jahe segar (Heinrich dkk., 2010).

2.1.7 Manfaat Jahe

Jahe terkenal menghasilkan efek menghangatkan jika dimakan, dan sifat

dasarnya yang berbau tajam merangsang reseptor-reseptor termogenik. Efek

farmakologis paling pentingnya yaitu penggunaannya untuk mencegah gejala

gejala gastrointestinal pada mabuk perjalanan dan mual pascaoperasi, serta vertigo

dan mual pagi hari pada kehamilan, dan terdapat bukti klinis khasiat jahe pada

kondisi ini. Konsumsi jahe juga telah dilaporkan memiliki efek bermanfaat

meringankan nyeri dan frekuensi sakit kepala migrain (Heinrich dkk., 2010).

Sudah sejak lama jahe digunakan sebagai bumbu dapur. Aroma dan rasanya

yang khas menyebabkan penggunaan jahe untuk bumbu dapur lebih

memasyarakat. Penggunaan jahe kedua terbanyak yaitu sebagai obat tradisional.

Jahe yang mengandung gingerol dapat dimanfaatkan sebagai obat Anti Inflamasi,
obat nyeri sendi dan otot karena rematik, tonikum, serta obat batuk (Syukur,

2001).

Gingerol pada jahe bersifat sebagai antikoagulan, yaitu mencegah

penggumpalan darah sehingga dapat mencegah tersumbatnya pembuluh darah

yang menjadi penyebab utama penyakit Stroke, dan serangan jantung (Hapsoh,

2010).

Jahe juga dapat menurunkan tekanan darah dengan cara merangsang

pelepasan hormon adrenalin dan memperlebar pembuluh darah, akibatnya darah

mengalir lebih cepat dan lancar serta memperingan kerja jantung dalam

memompa darah (Hapsoh, 2010).

2.2 Minyak Atsiri

Minyak atsiri adalah minyak yang mudah menguap pada suhu kamar di

udara terbuka, minyak eteris, atau minyak essensial yang mewakili bau dari

tanaman asalnya (Gunawan dkk., 2004), dan merupakan campuran dari senyawa

yang berwujud cairan atau padatan yang memiliki komposisi maupun titik didih

yang beragam (Sastrohamidjojo, 2004).

2.2.1 Sifat-sifat Minyak Atsiri

Menurut Gunawan, (2004), Adapun sifat-sifat dari minyak atsiri ialah :

1. Tersusun dari bermacam-macam komponen senyawa.

2. Memiliki bau khas. Umumnya bau ini mewakili bau tanaman asalnya. Bau

ninyak atsiri satu dengan yang lain berbeda-beda, sangat tergantung dari

macam dan intensitas bau dari masing-masing komponen penyusunnya.


3. Mempunyai rasa getir, kadang-kadang berasa tajam, menggigit, memberi

kesan hangat sampai panas, atau justru dingin ketika terasa di kulit,

tergantung dari jenis komponen penyusunnya.

4. Bersifat tidak stabil terhadap pengaruh lingkungan, baik pengaruh oksigen

udara, sinar matahari, dan panas karena terdiri dari berbagai macam

komponen penyusun.

5. Pada umumnya tidak dapat bercampur dengan air.

6. Sangat mudah larut dalam pelarut organik.

2.2.2 Fungsi Minyak Atsiri

a. Fungsi Minyak Atsiri bagi Tanaman

Dalam jumlah yang relatif besar minyak atsiri disimpan dalam tanaman,

karena tidak ditransfer ke batang atau daun sebelum daun itu gugur

sehingga timbul asumsi kuat bahwa minyak atsiri merupakan sumber

energi yang terpenting. Minyak ini dapat menolak kehadiran binatang akan

tetapi bagi tanaman tertentu, minyak atsiri dapat menarik serangga

sehingga penyerbukan lebih efektif. Di lain pihak tercipta sejenis daya

tahan tanaman terhadap kerusakan oleh binatang maupun tanaman parasit

dengan dihasilkan minyak dengan bau yang merangsang. Minyak

berfungsi sebagai penutup bagian kayu yang terluka atau berfungsi sebagai

vernis untuk mencegah penguapan air (cairan sel) yang berlebihan

sehingga berfungsi sebagai penghambat penguapan air (Guenther, 1987).


b. Fungsi Minyak Atsiri bagi Manusia

Minyak atsiri sebagai bahan pewangi dan penyedap, antiseptik internal

atau eksternal, dan sebagai bahan analgesik. Minyak atsiri mempunyai

sifat membius, dan merangsang. Disamping itu beberapa jenis minyak

atsiri lainnya dapat digunakan sebagai obat cacing. Minyak atsiri juga

membantu pencernaan dengan merangsang saraf sekresi sehingga dengan

mencium bau-bauan tertentu, maka akan keluar cairan getah sehingga

rongga mulut dan lambung menjadi basah. Kegunaan lain dari minyak

atsiri adalah sebagai bahan pewangi kosmetik (Guenther, 1987).

2.2.3 Metode Isolasi Minyak Atsiri

Isolasi atau penyulingan dapat didefinisikan sebagai proses pemisahan

komponen-komponen suatu campuran yang terdiri atas dua cairan atau lebih

berdasarkan perbedaan tekanan uap atau berdasarkan perbedaan titik didih

komponen-komponen senyawa tersebut (Sastrohamidjojo, 2004).

Metode Isolasi Minyak Atsiri

Menurut Gunawan, (2004), Minyak atsiri umumnya diisolasi dengan empat

metode yang lazim digunakan sebagai berikut :

1. Metode destilasi terhadap bagian tanaman yang mengandung minyak.

Dasar dari metode ini adalah memanfaatkan perbedaan titik didih.

2. Metode penyarian dengan menggunakan pelarut penyari yang cocok.

Dasar dari metode ini adalah adanya perbedaan kelarutan. Minyak atsiri

sangat mudah larut dalam pelarut organik dan tidak larut dalam air.
3. Metode pengepresan atau pemerasan. Metode ini hanya bisa dilakukan

terhadap simplisia yang mengandung minyak atsiri dalam kadar yang

cukup besar. Bila tidak, nantinya hanya habis dalam proses pemerasan.

4. Metode perlekatan bau dengan menggunakan media lilin (enfleurage).

Metode ini disebut juga metode enfleurage. Cara ini memanfaatkan

aktivitas enzim yang diyakini masih terus aktif selama sekitar 15 hari sejak

bahan minyak atsiri dipanen.

1. Metode Destilasi

Diantara metode-metode isolasi yang paling lazim digunakan adalah

metode destilasi. Beberapa metode destilasi yang populer dilakukan

diberbagai perusahaan industri penyulingan minyak atsiri, antara lain sebagai

berikut :

a. Metode destilasi uap (langsung dari bahannya tanpa menggunakan air).

Metode ini paling sesuai untuk bahan tanaman yang kering dan untuk

minyak-minyak yang tahan pemanasan (tidak mengalami perubahan bau

dan warna saat dipanaskan),

b. Destilasi air, meliputi destilasi air dan uap air dan destilasi uap air

langsung. Metode ini dapat digunakan untuk bahan kering maupun bahan

segar dan terutama digunakan untuk minyak-minyak yang kebanyakan

dapat rusak akibat panas kering. Seluruh bahan dihaluskan, kemudian

dimasukkan kedalam bejana yang bentuknya mirip dandang. Dalam

metode ini ada beberapa versi perlakuan, yaitu :


1. Bahan tanaman langsung direbus dalam air.

2. Bahan tanaman langsung masuk air, tetapi tiak direbus. Dari bawah

dialirkan uap air panas.

3. Bahan tanaman ditaruh di bejana bagian atas, sementara uap air

dihasilkan oleh air mendidih dari bawah dandang.

4. Bahan tanaman ditaruh dalam bejana tanpa air dan disemburkan uap

air dari luar bejana.

2. Metode Penyarian

Metode penyarian digunakan untuk minyak-minyak atsiri yang tidak tahan

pemanasan, seperti cendana. Kebanyakan dipilih metode ini karena kadar

minyaknya di dalam tanaman sangat rendah/kecil. Bila dipisahkan dengan

metode lain, minyaknya akan hilang selama proses pemisahan. Pengambilan

minyak atsiri menggunakan cara ini diyakini sangat efektif karena sifat

minyak atsiri yang larut sempurna di dalam bahan pelarut nonpolar.

3. Metode Pengepresan atau Pemerasan

Metode pemerasan/pengeprasan dilakukan terutama untuk minyak-minyak

atsiri yang tidak tahan pemanasan seperti minyak jeruk (citrus). Juga terhadap

minyak-minyak atsiri yang bau dan warnanya berubah akibat pengaruh pelarut

penyari. Metode ini juga hanya cocok untuk minyak atsiri yang rendemennya

relatif besar.

4. Metode Enfleurage

Metode enfleurage adalah metode penarikan bau minyak atsiri yang

dilekatkan pada media lilin. Metode ini digunakan karena diketahui ada
beberapa jenis bunga yang setelah dipetik, enzimnya masih menunjukkan

kegiatan dalam menghasilkan minyak atsiri sampai beberapa hari/minggu,

misalnya bunga melati, Jasminum sambac, sehingga perlu perlakuan yang

tidak merusak aktivitas enzim tersebut secara langsung (Gunawan dkk., 2004).

2.2.4 Penggolongan Minyak Atsiri

Menurut Gunawan, (2004), Komponen minyak atsiri adalah senyawa yang

bertanggung jawab atas bau dan aroma yang karakteristik serta sifat kimia dan

fisika minyak. Demikian pula peranannya sangat besar dalam menentukan khasiat

suatu minyak atsiri sebagai obat. Atas dasar perbedaan komponen penyusun

tersebut maka minyak atsiri dibagi menjadi beberapa golongan sebagai berikut :

1. Minyak atsiri Hidrokarbon

Contohnya :

a) Minyak terpentin dari tanaman bermarga pinus (famili Pinaceae)

antara lain Pinus palustris Miller, Pinus maritima Lamarck, Pinus

longifolia Roxb, Pinus merkusii L.

b) Minyak cubebae dari hasil penyulingan buah Piper cubeba Linn.

(Kemukus, famili Piperaceae).

Kegunaannya sebagai peluruh air seni, asma, karminatif, ekspektoran, dan

stimulan.

2. Minyak atsiri Alkohol

Contohnya : Minyak pipermen yang diperoleh dari daun tanaman Mentha

piperita Linn. (Poko, famili Labiatae).


Kegunaannya sebagai Bahan pewangi (corrigen odoris), kolagoga dan

ekspektoransia.

3. Minyak atsiri Fenol

Contohnya : Minyak cengkeh yang diperoleh dari bunga dan daun

tanaman Eugenia caryophyllata atau Syzigium caryophyllum (famili

Myrtaceae).

Kegunaannya sebagai antiseptik, obat mulas, menghilangkan rasa mual

dan muntah.

4. Minyak atsiri Eter Fenol

Contohnya : Minyak adas yang berasal dari hasil penyulingan buah

Pimpinella anisum atau Foeniculum vulgare (famili Apiaceae atau

Umbelliferae).

Kegunaannya sebagai pelengkap sediaan obat batuk, bahan parfum, serta

menutupi bau tidak enak pada sediaan farmasi (korigen odoris).

5. Minyak atsiri Oksida

Contohnya : Minyak kayu putih yang diperoleh dari isolasi daun

Melaleuca Leucadendron L. (famili Myrtaceae).

Kegunaannya sebagai obat gosok, meredakan kembung (Karminativum),

obat berbagai penyakit kulit ringan (gatal, digigit serangga), serta baunya

untuk menetralkan rasa mual, pusing, dan mabuk perjalanan.

6. Minyak atsiri Ester

Contohnya : Minyak gandapura yang diperoleh dari isolasi daun dan

batang tanaman Gaultheria procumbens L. (famili Erycaceae).


Kegunaannya sebagai korigen odoris, bahan pewangi, bahan parfum,

dalam sediaan farmasi, industri permen dan minuman.

2.3 Parameter Mutu Minyak Atsiri

2.3.1 Bobot Jenis

Bobot jenis merupakan salah satu kriteria penting dalam menentukan mutu

dan kemurnian minyak atsiri . Dari seluruh sifat fisika- kimia, nilai bobot jenis

sudah sering dicantumkan dalam pustaka. Nilai BJ minyak atsiri berkisar antara

0,696-1,188 pada 15°C. Piknometer adalah alat penetapan bobot jenis yang

praktis dan tepat digunakan. Bentuk kerucut piknometer bervolume sekitar 10 ml,

dilengkapi dengan sebuah termometer dan sebuah kapiler dengan gelas penutup

(Guenther, 1987).

2.3.2 Indeks Bias

Indeks bias merupakan perbandingan sudut sinar datang dengan sudut sinar

pantul. Jika cahaya melewati media kurang padat ke media lebih padat, maka

sinar akan membelok atau “membias” dari garis normal. Jika e adalah sudut sinar

pantul, dan i sudut sinar datang, maka menurut hukum pembiasan. Dimana n

adalah indeks bias media kurang padat, dan N, indeks bias media lebih padat.

Refraktometer adalah alat yang tepat dan cepat untuk menetapkan nilai indeks

bias. Dari beberapa tipe refraktometer maka yang dianggap paling baik adalah

refraktometer pulfrich dan Abbe (Guenther,1987).

2.3.3 Putaran Optik

Putaran optik merupakan salah satu penentu mutu minyak atsiri yang

ditentukan dengan alat polarimetri berdasarkan sifat optis aktif minyak atsiri
tersebut. Sebagian besar minyak atsiri jika ditempatkan dalam sinar atau cahaya

yang dipolarisasikan mempunyai sifat memutar bidang polarisasi ke arah kanan

(dextrorotatory) atau ke kiri (laevorotatory). Sifat optis aktif suatu minyak

ditentukan dengan polarimeter, dan nilainya dinyatakan dalam derajat rotasi.

Banyak tipe polarimeter yang dapat digunakan dan yang paling sering digunakan

untuk mengukur putaran optik minyak atsiri adalah half-shadow instrument, tipe l

Lippich. Sudut rotasi tergantung dari sifat cairan, panjang tabung yang dilalui

sinar, panjang gelombang sinar yang digunakan dan suhu. Arah perputaran bidang

polarisasi (rotasi) biasanya menggunakan tanda (+) untuk menunjukkan

dextrorotation (rotasi ke arah kanan, sesuai dengan perputaran jarum jam), dan

tanda (-) untuk levorotation (rotasi ke kiri,yaitu berlawanan dengan arah jarum

jam) (Guenther, 1987).

2.3.4 Spesifikasi Kadar Minyak Atsiri dan Syarat Mutu Minyak Jahe

Tabel 1. Spesifikasi Syarat Mutu Minyak Jahe Menurut SNI 06-1312-1998

No. Jenis Uji Satuan Persyaratan


1. Warna Kuning muda sampai
- oranye
2. Bobot jenis 25C /25C - 0,8720-0,8890
3. Indeks bias 25°C - 1,4853-1,4920
4. Putaran optik ° (-32°)-(-14°)
5. Kadar Minyak atsiri, min % 1,5 %
6. Bilangan asam Mg KOH/g Maks. 2
7. Bilangan ester Mg KOH/g Maks. 15
8. Minyak Lemak - Negatif