Anda di halaman 1dari 60

LAPORAN PRAKTIK

MATA KULIAH PERILAKU KESEHATAN

HEALTY BEHAVIOR : PERILAKU TIDAK MEROKOK

KELOMPOK 8

ANISA ALHADA (186110733)

OKVA REYHANDA (186110757)

YULIAN BINTAN (186110769)

DOSEN PEMBIMBING :
Widdefrita, S.KM, M.KM
Fizran, S.KM, M.Kes

PRODI S1 TERAPAN PROMOSI KESEHATAN

POLTEKKES KEMENKES RI PADANG

TAHUN 2019
LEMBARAN PENGESAHAN

Berdasarkan Praktik Belajar Lapangan yang kami laksanakan di Puskesmas Lapai

dan Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang tentang menganalisis perilaku kesehatan

healty behavior perilaku tidak merokok yang dilaksanakan pada bulan Oktober 2019 -

November 2019

Disetujui oleh,

Koordinator Mata Kuliah Dosen Pembimbing

Widdefrita, S.KM, M.KM Fizran, S.KM, M,Kes

Ketua Kelompok

Anisa Alhada

NIM. 186110733

1i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

kami ucapkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,

hidayah, dan inayah-Nya kepada kami semua, sehingga kami kelompok 8 mata kuliah

Perilaku Kesehatan ini dapat menyelesaikan makalah dengan tepat waktu.

Adapun makalah tentang Healty Behavior : Perilaku Tidak Merokok ini

merupakan salah satu tugas bidang studi Perilaku Kesehatan yang diampu oleh Ibuk

Widdefrita, S.KM, M.KM. Namun tidak lepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya

bahwa ada kekurangan baik dari segi penyusun bahasanya maupun segi lainnya. Oleh

karena itu dengan lapang dada dan tangan terbuka kami membuka selebar-lebarnya bagi

pembaca yang ingin memberi saran dan kritik kepada kami sehingga kami dapat

memperbaiki makalah ini.

Akhirnya penyusun mengharapkan semoga dari makalah ini dapat diambil hikmah

dan manfaatnya sehingga dapat memberikan inpirasi terhadap pembaca.

Padang. Oktober 2019

Kelompok 8

2
ii
DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan ........................................................................................................i

Kata Pengantar ................................................................................................................ii

Daftar Isi ..........................................................................................................................3

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................5

1.1 Latar Belakang ......................................................................................................5

1.2 Tujuan Penulisan ...................................................................................................8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .....................................................................................9

2.1 Konsep Perilaku Kesehatan ...................................................................................9

2.2 Domain Perilaku Kesehatan ..................................................................................12

2.3 Model Teori Perilaku Keshetan.............................................................................15

2.4 Perilaku Tidak Merokok ........................................................................................25

2.5 Analisis Perilaku Tidak Merokok .........................................................................32

BAB III METODE ANALISIS PERILAKU ................................................................34

3.1 Teknik Analisis Perilaku .......................................................................................34

3.2 Tempat dan Waktu ................................................................................................34

3.3 Sasaran Perilaku ....................................................................................................34

3.4 Metode Pengumpulan Data yang Dianalisis .........................................................35

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .........................................................................37

4.1 Hasil Analisis Perilaku ..........................................................................................37

3
4.2 Pembahasan ...........................................................................................................46

BAB V PENUTUP ...........................................................................................................49

1.1 Kesimpulan............................................................................................................49

1.2 Saran ......................................................................................................................49

Daftar Pustaka .................................................................................................................50

Lampiran..........................................................................................................................51

Instrumen Penilaian Perilaku ........................................................................................52

Lembar Konsul Pembimbing .........................................................................................59

4
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang lazim dilakukan dalam

kehidupan sehari-hari, sehingga dimanapun tempat selalu ditemukan orang merokok

baik laki-laki, perempuan, anak kecil, anak muda, orang tua, status kaya atau miskin

tanpa terkecuali. Padahal sebagian besar masyarakat sudah mengetahui bahaya dari

merokok namun pada kenyataannya merokok telah menjadi kebudayaan. Menurut

World Health Organization (WHO), tembakau membunuh lebih dari 5 juta orang per

tahun dan diproyeksikan akan membunuh 10 juta orang sampai tahun 2020, dari

jumlah itu 70% korban berasal dari negara berkembang yang didominasi oleh kaum

laki-laki sebesar 700 juta terutama di Asia. WHO memperkirakan 1,1 miliar perokok

dunia berumur 15 tahun ke atas yaitu sepertiga dari total penduduk dunia. Indonesia

menduduki peringkat ke-5 dalam konsumsi rokok di dunia setelah China, Amerika

Serikat, Jepang dan Rusia (Tarwoto, dkk, 2010).

Perilaku merokok sudah dianggap sebagai penyakit, yakni penyakit

kecanduan akibat zat. Saat ini, perilaku merokok pun sudah masuk dalam daftar

International Classification of Disorder (ICD) 10 dan Diagnostic and Statistic Manual

of Mental Disorder (DSM) V. Indonesia juga sudah menempati posisi negara

keempat dengan jumlah perokok terbanyak di dunia dan peringkat ketujuh tertinggi

di dunia untuk jumlah produksi rokok. Selain itu, proporsi perokok laki-laki usia

muda di Indonesia merupakan yang tertinggi di Asia. Bahkan perokok usia sekolah

15–19 tahun meningkat dua kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir dan perokok laki-

5
laki meningkat empat kalinya selama 20 tahun terakhir. Rata-rata perilaku merokok

di Indonesia saat ini sebesar (28,8%). Proporsi merokok penduduk umur 15 tahun ke

atas cenderung meningkat, dari tahun 2007 sebesar (34,2%) meningkat menjadi

(36,3%) di tahun 2013. Proporsi merokok penduduk umur 10-18 tahun cenderung

meningkat, dari tahun 2013 sebesar (7,2%) meningkat menjadi (8,8%) di tahun 2016

dan terus meningkat menjadi (9,1%) di tahun 2018. (Riskesdas 2018).

Badan kesehatan dunia (WHO, 2016) menyebutkan bahwa selama 15 tahun

terakhir, penyakit tidak menular (PTM) di Indonesia telah menggeser penyakit

menular dan menjadi penyebab utama kematian. Kebiasaan merokok, merupakan

salah satu faktor risiko penyakit tertentu untuk PTM, seperti halnya penyakit jantung.

Pada tahun 2016 kelompok diagnosis penyakit jantung kardiovaskuler memberikan

beban JKN sebesar Rp 7,4 triliun.

Menurut Tarwoto, dkk (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan

merokok adalah tekanan teman sebaya, berteman dengan perokok usia muda, status

sosial ekonomi rendah, mempunyai orang tua yang merokok, saudara kandung,

lingkungan sekolah (guru) yang merokok dan tidak percaya bahwa merokok

mengganggu kesehatan. Penelitian lain di Indonesia dilakukan oleh Global Tobacco

Youth Survey (GTYS) atau survei merokok pada remaja di Jakarta menunjukkan

perilaku merokok karena lingkungan keluarga (66,85%) tinggal dengan keluarga

yang merokok dan (93,2%) karena faktor media atau melihat iklan rokok di media.

Hal ini sejalan dengan penelitian yang pernah dilakukan Trihandini dan Wismanto

(2003), menunjukkan bahwa remaja yang merokok dipengaruhi oleh persepsinya

terhadap gaya hidup modern, gaya hidup modern ini dipersepsi dari teman-teman

6
sekelompoknya dan merokok akan merasa lebih dewasa dan bisa timbul ide atau

inspirasi. Selain itu menurut Saprudin (2007), alasan remaja merokok adalah karena

melihat teman (28,43%), melihat orang tua/keluarga (19,61%), melihat tokoh/artis di

televisi (16,66%), melihat guru (9,8%), menghilangkan stres (3,92%), dan tidak

pernah mendapatkan informasi tentang bahaya merokok (10,79%). Pelaksanaan

kebijakan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) juga belum sepenuhnya berjalan dengan

optimal. Selain implementasi belum optimal, baru seperempat kabupaten atau kota

saja yang menerapkan kebijakan KTR. Kelima, untuk meningkatkan implementasi

provisi WHO FCTC, pada tahun 2008 WHO mengembangkan cara praktis dan

efektif biaya yang berorientasi pada pengurangan demand, yaitu MPOWER (Monitor

penggunaan tembakau dan pencegahannya; Perlindungan terhadap asap tembakau;

Optimalkan dukungan untuk berhenti merokok; Waspadakan masyarakat akan

bahaya tembakau; Eliminasi iklan, promosi dan sponsor terkait dengan tembakau;

dan Raih kenaikan cukai tembakau). Indonesia telah menjalankan MPOWER, tetapi

menurut WHO masih belum optimal pencapaiannya.

Alasan penulis memilih Puskesmas Lapai sebagai sumber data sekunder

penelitian dikarenakan masih rendahnya angka perilaku tidak merokok di wilayah

kerja puskesmas Lapai. Berdasarkan data perilaku tidak merokok anggota keluarga

yang kami dapatkan di Puskesmas Lapai yaitu kelurahan Surau Gadang (49,77%),

Kampung Olo (50,81%), Kurao Pagang (49,7%), Gurun Laweh (44,4%), Tabing

Banda Gadang (32,41%), dan Kampung Lapai (39,16%), yang mana dapat dilihat

bahwa rata-rata angka perilaku tidak merokok berada dibawah 50%.

7
1.2 Tujuan Penulisan

Setelah menyelesaikan survei ini diharapkan mahasiswa dapat melakukan

pengukuran perilaku kesehatan dan menyusun instrumen pengukuran

8
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Perilaku Kesehatan

4.1.1 Pengertian Perilaku Kesehatan

Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2010),

merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap

stimulus atau rangsangan dari luar. Perilaku kesehatan adalah semua akitivitas atau

kegiatan seseorang baik yang dapat diamati (observable) maupun yang tidak dapat

diamati (unobservable) yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan

kesehatan. Pemeliharaan Kesehatan ini mencakup mencegah atau melindungi diri

dari penyakit serta masalah kesehatan lain, meningkatkan kesehatan dan mencari

penyembuhan apabila sakit (Notoatmodjo, 2010). Menurut Sarafino (2006) perilaku

kesehatan adalah setiap aktivitas individu yang dilakukan untuk mempertahankan

atau meningkatkan kondisi kesehatan tanpa memperhatikan status kesehatan.

4.1.2 Proses Perubahan Perilaku

Proses perubahan perilaku telah banyak dijelaskan oleh para ahli perilaku,

menurut Roger (1962) yang mengembangkan teori dari Lewin (1951) tentang 3 tahap

perubahan dengan menekankan pada latar belakang individu yang terlibat dalam

perubahan dan lingkungan dimana perubahan tersebut dilaksanakan. Roger

menjelaskan 5 tahap dalam perubahan, yaitu: kesadaran, keinginan, evaluasi,

mencoba, dan penerimaan atau dikenal juga sebagai AIETA (Awareness, Interest,

Evaluation, Trial and Adoption). Menurut Roger E untuk mengadakan suatu

9
perubahan perlu ada ada langkah yang di tempuh seningga harapan atau tujuan akhir

dari perubahan dapat tercapai. Langkah-langkah tersebut antara lain:

1. Tahap awareness. Tahap ini merupakan tahap awal yang mempunyai arti bahwa

dalam mengadakan perubahan di perlukan adanya kesadaran untuk berubah

apabila tidak ada kesadaran untuk berubah. Maka tidak mungkin tercipta suatu

perubahan.

2. Tahap interest. Tahap yang kedua dalam mengadakan perubahan harus timbul

perasaan minat terhadap perubahan yang dikenal. Timbul minat yang

mendorong dan menguatkan kesadaran untuk berubah.

3. Tahap evaluasi . Pada tahap ini terjadi penilaian terhadap suatu yang baru agar

tidak terjadi hambatan yang akan ditemukan selama mengadakan perubahan.

Evaluasi ini dapat memudahkan tujuan dan langkah dalam melakukan

perubahan.

4. Tahap trial. Tahap ini merupakan tahap uji coba terhadap suatu yang baru atau

hasil perubahan dengan harapan suatu yang baru dapat diketahui hasilnya sesuai

dengan kondisi atau situasi yang ada dan memudahkan untuk diterima oleh

lingkungan.

5. Tahap adoption. Tahap ini merupakan tahap terakhir dari perubahan yaitu proses

penerimaan terhadap suatu yang baru setelah dilakukan uji coba dan merasakan

adanya manfaat dari suatu yang baru sehingga selalu mempertahankan hasil

perubahan.

10
4.1.3 Pendekatan Perubahan Perilaku

Di dalam program-program kesehatan, agar di peroleh perubahan perilaku

yang sesuai dengan norma-norma kesehatan, sangat di perlukan usha-usah konkret

dan positif. Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku tersebut oleh

WHO di kelompokkan mejadi tiga :

1. Menggunakan kekuatan / kekuasaan atau dorongan

Dalam hal ini perilaku di paksakan kepda sasaran atau masyarakat sehimgga

dia mau melakukan (berperilaku seperti yang di harapkan). Cara ini dapat di

tempuh misalnya dengan adanya peraturan-peraturan / perundang-undangan

yang harus di patuhi oleh anggota masyarakat. Cara ini akan menghasilkan

perilaku yang cepat, akan tetapi perubahan tersebut belum tentu akan

berlangsung lama karena perubahan perliku ynag terdi tidak atau belum di

dasari oleh kesadaran sendiri.

2. Pemberian informasi

Selanjurnya dengan memberikan infotmasi-informasi tentang cara-cara

mencapaii hidup sehat, cara pemeliharan kesehatan, cara menghindari

penyakit, dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat

tentang hal tersebut. Dengan pengetahuan-pengetahuan itu akan

menimbulkan kesadaran mereka, dan akhirnya akan menyebabkan orang

berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya itu. Hasil atau

perubahan perilaku dengan acar ini memakan waktu lama, tetapi perubahan

yang dicapaikan akan bersifat langgeng karena di dasari oleh kesadaran

mereka sendiri (bukan karena paksaan)

11
3. Diskusi partisipasi

Cara ini adalah sebagai peningkatakan cara kedua yang dalam memberikan

informasi tentang kesehatan tidak bersifat searah saja tetapi dua arah. Hal ini

berarti bahwa masyarakat tidak hanya pasif menerima informasi, tetapi harus

juga aktif berpatisipasi melalui diskusi-diskusi tentang informasi yang di

terimannya. Dengan demikian maka pengetahuan kesehatan sabagai dasar

perilaku mereka di peroleh secara mantap dan mendalam, dan akhrinyaa

perilaku yang mereka peroleh akan lebih mantap juga, bahkan merupakan

referensi perilaku orang lain. Sudah barang tentu cara ini kan memakan waktu

yang lebih lama dari cara yang kedua tersebut, dan jauh lebih daripada cara

yang pertama. Diskusi partisipasi adalah salah satu cara yang bauk dalam

rangka memberikan informasi dan pesan kesehatan.

2.2 Domain Perilaku

Skinner (dalam Marmi & Margiyati, 2013) memiliki rumus perilaku yaitu S-O-R

atau Stimulus mempengaruhi organisme, kemudian organisme tersebut menghasilkan

respon. Berdasarkan teori S-O-R tersebut, Skinner mengelompokan perilaku menjadi

dua, yakni :

2.2.1 Perilaku Tertutup (covert behaviour)

Perilaku tertutup terjadi bila respons terhadap stimulus tersebut masih

belum bisa diamati orang lain secara jelas. Respon seseorang masih terbatas

dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi, dan sikap terhadap stimulus yang

bersangkutan. Bentuk perilaku tertutup adalah pengetahuan dan sikap.

12
2.2.2 Perilaku Terbuka (overt behaviour)

Perilaku terbuka adalah perilaku yang dapat diamati atau dapat

diobservasi. Perilaku ini terjadi bila respons terhadap stimulus sudah berupa

tindakan atau praktik yang dapat diamati oleh orang lain. Jadi, bentuk perilaku

terbuka yaitu tindakan atau praktik (dalam Notoatmodjo, 2014).

Secara lebih operasional, menurut Becker (dalam Notoatmodjo, 2014),

perilaku sehat mencakup pengetahuan, sikap dan tindakan. Berikut ini

penjelasannya :

a) Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil penginderaan manusia, atau hasil tahu

seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya. Sebagian besar

pengetahuan didapatkan dari indera penglihatan dan pendengaran. Terkait

kesehatan, pengetahuan kesehatan meliputi apa yang diketahui individu terkait

cara-cara memelihara kesehatan, seperti pengetahuan tentang penyakit menular,

pengetahuan tentang faktor-faktor yang terkait dan atau mempengaruhi

kesehatan, pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan pengetahuan

untuk menghindari kecelakaan.

b) Sikap

Sikap juga merupakan respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau

objek tertentu, yang sudah melibatkan faktor pendapat dan emosi yang

bersangkutan. Sikap terhadap kesehatan adalah pendapat atau penilaian

seseorang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan. Seperti

13
sikap terhadap penyakit menular dan tidak menular, sikap terhadap faktor-

faktor yang mempengaruhi kesehatan, sikap tentang fasilitas pelayanan

kesehatan, dan sikap untuk menghindari kecelakaan

c) Praktik

Praktik kesehatan untuk hidup sehat adalah semua kegiatan atau

aktivitas orang dalam rangka memelihara kesehatan, seperti tindakan terhadap

penyakit menular dan tidak menular, tindakan terhadap faktor-faktor yang

terkait dan ataumemengaruhi kesehatan, tindakan tentang fasilitas pelayanan

kesehatan, juga tindakan untuk menghindari kecelakaan.

Ketiga domain tersebut akan dijadikan alat ukur di dalam penelitian ini.

Sebagaimana menurut Notoatmodjo (2014), untuk pengukuran perilaku sehat yaitu

mencangkup ketiga domain di atas. Menurutnya, apabila perilaku terbuka

didasari oleh perilaku tertutup, jika itu bernilai positif bagi individu maka

perilaku tersebut akan menjadi kebiasaan atau bersifat langgeng. Oleh karena itu

ranah atau domain perilaku di atas akan dikaitkan dengan bentuk-bentuk perilaku

sehat hipertensi.Berdasarkan paparan di atas, perilaku sehat dikelompokan

menjadi perilaku tertutup dan terbuka. Perilaku tertutup terdiri dari pengetahuan

dan sikap. Sementara perilaku terbuka yaitu praktik atau tindakan. Menurut

teori tersebut,dalam berperilaku individu tidak dapat bertindak tanpa didasari oleh

pengetahuan dan sikap.

14
2.3 Model Teori Perilaku Kesehatan

2.3.1 Health Belief Model Theory ( Teori Model Kepercayaan Kesehatan )

Model Kepercayaan adalah suatu bentuk penjabaran dari model sosio

psikologis. Munculnya model ini didasarkan pada kenyataan bahwa problem

kesehatan ditandai oleh kegagalan orang atau masyarakat. Untuk menerima usaha

sama dengan pencegahan dan penyembuhan penyakit yang diselenggarakan oleh

provider. Kegagalan ini akhirnya memunculkan teori yang menjelaskan perilaku

pencegahan penyakit atau preventif behavior, yang oleh Becker tahun 1974

mengembangkan dari teori lapangan (field theory) oleh Lewin tahun 1954 menjadi

model kepercayaan kesehatan/ health belief model. Health Belief Model (HBM)

menjadi salah satu kerangka konseptual yang digunakan secara luas di dalam

perilaku kesehatan selama 5 dasawarsa. HBM digunakan untuk menjelaskan

perubahan dan pemeliharaan dari perilaku yang berhubungan dengan kesehatan, serta

sebagai sebuah kerangka pedoman dari intervensi perilaku kesehatan. HBM

menggambarkan, membandingkan, dan menganalisa dengan menggunakan sebuah

aturan yang luas dari beraneka ragam teknik analitik. Lebih dari 2 dasawarsa yang

lalu, lebih banyak penelitian yang melakukan penetapan ukuran dari kepercayaan

orang yang bersangkutan terhadap kondisi kesehatan dan hubungan antara

kepercayaan-kepercayaan ini. Tinjauan dini dari penelitian HBM menemukan

tersedianya konteks sejarah untuk cabang ini (Becker, 1974 ; Janz & Becker, 1984).

HBM baru saja melanjutkan penelitian untuk menegaskan kepercayaan individu

yang bersangkutan terhadap kondisi kesehatan, lalu menempatkannya di berbagai

ragam analisis & memeriksa kualitas dari prediktifnya. HBM mulai berkembang

15
pada tahun 1950 oleh sebuah kelompok ahli ilmu jiwa sosial di US. Pelayanan

kesehatan masyarakat menjelaskan kegagalan yang tersebar luas dari keikutsertaan

individu dalam program untuk pencegahan dan pendeteksian penyakit (Hochbaum,

1958; Rosenstock, 1960, 1974). Kemudian model ini menyampaikan tentang respon

orang untuk berbagai gejala (Kirscht, 1974) dan tingkah laku mereka sebagai respons

untuk mendiagnosa penyakit, dengan factor-faktor yang adheren untuk aturan hidup

dalam kedokteran (Becker, 1974). Pada umumnya, sekarang timbul kepercayaan/

keyakinan bahwa orang lebih memilih tindakan pencegahan, perlindungan atau untuk

mengontrol keadaan sakit dan sehat. Kunci Konsep & Definisi Dari Health Belief

Model :

Konsep Definisi

Merasa Rentan Kepercayaan seseorang mengenai

(Perceived susceptibility) kesempatan untuk mengkondisikan sesuatu

Merasa Berat Kepercayaan seseorang tentang bagaimana

(Perceived severity) seriusnya suatu kondisi dan bagaimana

akibat dari kondisi itu

Merasakan Manfaat Kepercayaan seseorang tentang kemanjuran/

(Perceived benefits) keampuhan dari nasehat, untuk mengurangi

resiko atau dampak yang serius

Merasakan Rintangan Kepercayaan seseorang tentang kenyataan &

(Perceived barriers) harga kejiwaan dari tindakan menasehati

Pedoman Tindakan Strategi-strategi untuk memacu “keadaan

16
(Cues to action) siap” seseorang

Keampuhan diri sendiri Kepercayaan seseorang terhadap

kemampuan- nya untuk mengambil tindakan


(Self-efficacy)

Komponen-Komponen & Hubungan Dari Hbm :

2.3.2 Teori “Reation Action” ( Fesbein & Ajzen :1980 )

Teori ini menekankan pentingnya “intention”/niat sebagai faktor penentu

perilaku. Niat itu sendiri ditentukan oleh :

a. Sikap

b. Norma subjektif

c. Pengendalian perilaku

17
Contoh : Seorang ibu yang mau mengimunisasikan anaknya didasari niat,

dimana niat itu ditentukan oleh sikap ibu yang setuju dengan imunisasi, keyakinan

ibu akan perilaku yang diambil dan sudah siap bila anaknya panas setelah

diimunisasi.

2.3.3 Teori ABC ( Sulzer, Azaroff, Mayer : 1977 )

A. Antesenden

Peristiwa lingkungan yang membentuk tahap atau pemicu

perilaku.Antesenden yang secara reliable mengisyaratkan waktu untuk

menjalankan perilaku dapat meningkatkan kecenderungan terjadinya

suatu perilaku pada saat dan tempat yang tepat. Antesenden ada 2

macam, yaitu :

18
1) Antesenden yang terjadi secara alamiah (naturally occurings

antesendents) yaitu perilaku yang dipicu oleh peristiwa-peristiwa

lingkungan. Contoh : Di daerah yang memiliki sumber air yang

kotor/terkontaminasi mengakibatkan penyakit diare, sehingga

penduduk sekitar dengan sendirinya akan memiliki kesadaran untuk

tidak menggunakan air yang tercemar tersebut untuk dikonsumsi.

2) Antesenden buatan/terencana

Pada perilaku kesehatan yang tidak memiliki antesenden alami,

komunikator bisa mengeluarkan berbagai peringatan yang memicu

perilaku sasaran. Contoh : Dengan memasang poster, leaflet yang berisi

penggunaan jamban yang sehat agar tidak menimbulkan wabah

penyakit.

B. Behaviour (Perilaku).

Yaitu Ciri-ciri suatu perilaku membawa implikasi penting bagi

penyusunan strategi komunikasi.Perilaku sasaran, misalnya konsumsi

ARV pada penderita HIV/AIDS merupakan tujuan program komunikasi

kesehatan. Ketika mengamati perilaku sasaran, komunikator

mempertimbangkan:

1) Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam frekuensi yang cukup. Contoh :

pemberian ARV kepada para penderita HIV yang dilakukan seumur

hidup. Tetapi persediaan ARV tidak mencukupi untuk penderita HIV.

19
2) Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam jangka waktu yang mencukupi.

Contoh : Mengkonsumsi obat tidak sampai jangka waktu yang telah

ditentukan. Sehingga orang tersebut akan memiliki kekebalan terhadap

obat tersebut.

3) Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam bentuk yang diharapkan.

Contoh : Penyuluhan tentang penularan HIV/AIDS hanya melalui

bahaya jarum suntik, tidak dalam bentuk yang lain seperti melalui

bagaimana cara penularan seksual, dan bahaya penularan ibu ke anak

melalui ASI.

4) Perilaku sasaran ada, tetapi tidak dalam saat yang tepat. Contoh :

Penyuluhan kepada seseorang tentang pencegahan kanker servik,

sedangkan orang tersebut sudah terkena penyakit kanker serviks.

5) Perilaku sasaran tidak ada sama sekali. Contoh : Strategi yang

dilakukan tidak efektif, tidak ada action. Sehingga tidak ada orang yang

akan tertarik.

6) Ada perilaku tandingan. Contoh : ASI vs susu formula.

7) Perilaku sasaran merupakan perilaku yang kompleks. Contoh :

Mengunjungi klinik VCT untuk melakukan test.

C. Consequence (Konsekuen).

Konsekuensi adalah peristiwa lingkungan yang mengikuti sebuah

perilaku, yang juga menguatkan, melemahkan atau menghentikan suatu

perilaku (Holland & Skinner, 1961 ; Miller, 1980). Secara umum, orang

20
cenderung mengulangi perilaku-perilaku yang membawa hasil-hasil

positif (konsekuensi positif) dan menghindari perilaku-perilaku yang

memberikan hasil-hasil negative.Istilah reinforcement mngacu pada

peristiwa-peristiwa yang menguatkan perilaku. Reinforcement positif

adalah peristiwa menyenangkan dan diinginkan, peristiwa ramah yang

mengikuti sebuah perilaku. Tipe reinforcement ini menguatkan perilaku

atau meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut akan terjadi lagi

(Baer, Wolf & Risley, 1969, Miller, 1980). Contoh : Pada ibu hamil

yang sedang memeriksakan kehamilannya di puskesmas mendapat

pujian dan pelayanan yang baik dari pihak pelayan kesehatan, sehingga

ibu tersebut cenderung mengunjungi puskesmas tersebut.

Reinforcement negative adalah peristiwa atau persepsi dari suatu

peristiwa yang tidak menyenangkan dan tidak diinginkan, tetapi juga

memperkuat perilaku, karena seseorang cenderung mengulangi sebuah

perilaku yang dapat menghentikan peristiwa yang tidak menyenangkan.

Orang akan mencoba menjalankan berbagai perilaku untuk mengakhiri

peristiwa negative. Perilaku yang pada akhirnya bisa menghentikan

suatu peristiwa kemungkinan besar bisa dicoba lagi di masa mendatang

(Rimm & Masters, 1979 ; Karoly & Harris, 1986). Contoh :

Penggunaan kondom bagi orang yang beresiko tinggi. Hukuman

(pusnishment ) adalah suatu konsekuensi negative yang menekan atau

melemahkan perilaku. Peristiwa-peristiwa ini berlaku sebagai hukuman

21
karena perilaku yang mereka anut kecil kemungkinannya terjadi lagi

(Sandler, 1986).

D. Rantai ABC

Hubungan antara peristiwa-peristiwa lingkungan dengan perilaku

sering disebut sebagai rantai ABC (Antecendent-Behavior-

Consequence).Hubungan ini mempunyai beberapa implikasi dalam

komunikasi kesehatan.

1) Antesenden atau Konsekuen

Kejadian serupa kadang-kadang dapat berfungsi sebagai antesenden

dan disaat lain sebagai konsekuens, tergantung bagaimana hal kejadian

tersebut mempengaruhi perilaku. Sebagai contoh : Siaran radio dapat

berfungsi sebagai antesenden dengan mengingatkan ibu-ibu supaya

membawa anak-anak mereka agar diimunisasi, namun siaran tersebut

juga dapat dipakai sebagai konsekuens dengan memuji komunitas

dalam perolehan angka cakupan yang tinggi.Pada kenyataannya,

konsekuens untuk suatu perilaku tersebut dapat merupakan bagian dari

antesenden bila perilaku tersebut diulang kembali. Beberapa kampanye

kesehatan telah menggunakan piagam sebagai penghargaan dalam cara

hidup yang mengikuti aturan medis. Contoh : tindakan mengikuti

aturan lengkap. Piagam di sini tidak hanya berfungsi sebagai pemantap

(C 1 ) bagi tindakan mengunjungi klinik untuk yang pertama kali (B 1

), tetapi juga sebagai isyarat (A 2 ) agar kembali mengunjungi klinik (B

22
2 ) untuk mendapatkan imunisasi yang kedua atau ketiga. Isyarat ini

terutama efektif bila piagam yang diberikan tersebut menarik dan

dipajang di rumah atau di tempat lain yang dapat dilihat. Urut-urutan

kedua tahap ini dapat dilukiskan dalam gambar berikut :

A1 → B2 → C1

A2 → B2 → C2

2) Kekuatan Konsekuen

Teori ABC menjelaskan konsekuens mengarahkan lebih banyak

pengaruh terhadap kelangsungan pelaksanaan perilaku daripada

pengaruh yang diberikan oleh antesenden (Miller, 1980). Seorang

komunikator yang ingin menghasilkan sebuah perilaku tahap akhir akan

mengarhkan diri pada apa yang mengikuti perilaku yang diharapkan

serta menciptakan sekumpulan konsekuens menyenangkan bagi

pelaksanaan perilaku tersebut. Upaya ini disebut sebagai strategi

konsekuens (Consequences Strategies). Strategi yang mengarah pada

munculnya kesadaran, peningkatan pengetahuan, penggunaan alat-alat

bantu audiovisual serta pelatihan disebut sebagai strategi antesenden

(Antesendent Strategies). Apabila intervensi semacam ini saja yang

digunakan, tanpa memperkenalkan konsekuens yang mengikuti sebuah

perilaku, maka kecil kemungkinan mereka melakukan tindakan

pengadopsian praktek-praktek.

23
2.3.4 Teori Preced-Proceed ( Lawrence Green : 1991 )

Menurut Lawrence Green (1980) kesehatan seseorang dipengaruhi oleh

faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar perilaku (non behavior causes).

Perilaku ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu :

1) Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud oleh pengetahuan,

sikap, kepercayaan, keyakinan, status sosial dan nilai-nilai.

2) Faktor pendukung (enabling factor), tersedia atau tidaknya fasilitas

kesehatan atau sarana-sarana kesehatan misalnya Puskesmas, obat-obatan

dan jamban.

3) Faktor pendorong (reinforcing factor), yang terwujud dalam sikap dan

perilaku petugas kesehatan atau petugas lain yang merupakan kelompok

referensi dari perilaku masyarakat.

24
Rumusan teori digambarkan sebagai berikut : B = f (PF, EF, RF)

Keterangan :

B = behavior

PF = predisposing factor

EF = enabling factor

RF = reinforcing factor

f = fungsi

Perilaku adalah sesuatu yang kompleks yang merupakan resultan dari

berbagai macam aspek internal maupun eksternal, psikologis maupun fisik. Perilaku

tidak berdiri sendiri dan selalu berkaitan dengan faktor-faktor lain. Pengaruhnya

terhadap status kesehatan dapat langsung maupun tidak langsung. Contoh :

Seorang bapak mau membangun WC yang sebelumnya masih BAB di sungai karena:

1) Ia tahu BAB di jamban lebih sehat ( Pf)

2) Ia punya bahan bangunan untuk memebangun WC ( Ef )

3) Ada surat edaran dari Pak Lurah agar setiap kelurga mempunyai WC

(Rf)

2.4 Perilaku Tidak Merokok

2.4.1 Pengertian Perilaku Tidak Merokok

Perilaku tidak merokok adalah suatu perilaku yang tidak melakukan

kegiatan atau aktivitas membakar rokok kemudian menghisapnya dan

menghembuskannya keluar yang dapat menimbulkan asap yang dapat terisap oleh

25
orang lain dan merupakan pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang

berkaitan dengan rokok dan merokok. Merokok berbahaya karena dapat

menimbulkan berbagai penyakit. Di antaranya, kanker paru-paru dan penyakit

kardiovaskular (Mackay, dkk & Syafei, dkk, dalam Prawitasari, 2012). Selain

tidak merokok secara aktif, individu juga harus menghindari menjadi perokok

pasif. Perokok pasif adalah orang yang menghisap asap rokok orang lain

(Prawitasari, 2012). Dampak yang ditimbulkan sama dengan perokok aktif.

Bahkan ada pendapat yang menyatakan bahwa perokok pasif lebih berbahaya,

karena asap sisa yang dihembuskan perokok aktif mengandung 75%

zat berbahaya yang ada pada rokok, sementara perokok sendiri hanya

menghirup 25% dari kandungan rokok karena menghisap hasil pembakaran per

batang lewat filter di ujung hisap. Artinya perokok pasif menghirup zat berbahaya

3 kali lebih banyak dari perokok aktif (Perdana & Waspada, 2014).

2.4.1 Manfaat Melakukan Perilaku Tidak Merokok

1) Tubuh akan terasa lebih sehat

Tidak secara klise, tetapi jika memang tadinya merokok dan segera

menghentikan kebiasaan ini, dalam hitungan menit tubuh akan kembali

ke respons normalnya. Mulai dari tekanan darah, nadi, hingga suhu tubuh

secara keseluruhan. Semua aktivitas di dalam tubuh ini akan menjadi

normal.

2) Menghentikan batuk yang parau

26
Segera setelah berhenti merokok, kecenderungan untuk batuk dengan

tingkat yang parah akan berkurang. Dalam waktu yang sama, pernapasan

berat yang kerap kali terjadi juga akan berkurang karena paru-paru mulai

kembali ke fungsi normalnya tanpa gangguan asap rokok. Karena fungsi

paru mulai kembali normal, kemampuan paru-paru untuk mengendalikan

lendir, membersihkan paru-paru, dan mengurangi risiko infeksi akan

meningkat.

3) Meningkatkan kemampuan seksual

Bagi Anda yang sudah menikah dan memiliki pasangan perokok, segera

ingatkan untuk berhenti sebab berhenti merokok akan meningkatkan

kemampuan seksual seseorang. Bagi pria, dengan menghentikan

kebiasaan merokok akan memudahkan proses ereksi, sedangkan bagi

wanita akan menjadi mudah terangsang.

4) Aroma rokok dalam tubuh menghilang

Jika berhenti merokok, dalam beberapa menit aroma rokok dari tubuh

akan hilang. Selain itu, tempat tinggal akan segar dan bersih.

5) Mengurangi risiko berbagai masalah kesehatan

Merokok hanya membuat hidup menjadi rentan. Berhenti merokok jika

ingin hidup sehat tanpa berbagai penyakit seperti impotensi, masalah

kesuburan, katarak, penyakit gusi, kehilangan gigi, dan osteoporosis.

6) Memperpanjang usia

27
Merokok meningkatkan sepuluh kali risiko mengidap penyakit hingga

meninggal akibat berbagai masalah kesehatan yang mengancam

kehidupan.

7) Terlihat awet muda

Merokok menyebabkan penuaan dini. Dengan berhenti merokok, tidak

hanya akan menguntungkan kesehatan secara keseluruhan, tetapi juga

penampilan. Merokok menyebabkan kulit menjadi keriput dan kusam.

8) Tidak ada lagi sesak napas

Nikotin menyebabkan perasaan gelisah dan sesak napas setelah berjalan

selama 2 menit. Setelah berhenti merokok, dalam satu hari tingkat karbon

monoksida akan menurun dan sistem pernapasan menjadi lebih baik.

9) Meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri

Berhenti merokok jika ingin mendapatkan kembali harga diri dan

kepercayaan diri.

10) Masalah jantung berkurang

Seperti disebutkan sebelumnya, merokok membuat lebih dekat dengan

kematian dan memperpendek usia. Jika berhenti merokok, kemungkinan

meninggal dengan penyakit jantung koroner, serangan jantung dan stroke

akan turun hampir 50 persen.

11) Organ sensorik kembali normal

Setelah berhenti merokok, kemampuan saraf yang rusak akan mulai

tumbuh kembali dan akhirnya rasa sentuhan, rasa, dan bau akan kembali

normal.

28
12) Mengurangi biaya untuk cek ke dokter

Merokok menyebabkan beberapa penyakit yang muncul, baik saat ini

maupun nanti. Penyakit seperti batuk, bronkitis, luka pada mulut, semua

akan mulai menghilang.

13) Menangani stres dengan cara yang lebih sehat

Umumnya kita berpikir bahwa rokok membantu untuk meringankan

stres. Tapi itu tidak benar, ketika merokok tubuh akan mengalami reaksi

stres karena tingkat oksigen dalam otak berkurang, hal justru

meningkatkan stres.

14) Transportasi oksigen dalam tubuh menjadi baik

Setelah berhenti merokok, tingkat karbon monoksida akan berkurang.

Hal ini akan meningkatkan tingkat hemoglobin, sehingga transportasi

oksigen akan dilakukan secara efisien di seluruh tubuh.

15) Mengurangi risiko kanker

Karena adanya unsur karsinogenik dalam rokok, maka semakin sering

merokok semakin besar kemungkinan untuk memicu berbagai jenis

kanker, seperti tenggorokan, mulut dan kerongkongan.

16) Kesehatan mulut lebih baik

Kesehatan mulut diperlukan untuk keseluruhan yang lebih baik. Dengan

merokok, akan mengurangi kemampuan untuk mengecap, muncul noda

pada gigi dan meningkatkan masalah gusi. Nantinya bisa menyebabkan

hilangnya gigi dan merusak penampilan secara keseluruhan.

17) Sistem kekebalan tubuh akan lebih kuat

29
Dalam beberapa hari berhenti merokok, sistem kekebalan tubuh akan

tumbuh lebih kuat. Ini akan mengurangi kemungkinan jatuh sakit karena

berbagai masalah kesehatan seperti pilek dan flu.

18) Merasa lebih berenergi

Setelah berhenti merokok, sirkulasi dalam tubuh akan membaik.

Sirkulasi oksigen yang baik akan membuat tubuh menjadi lebih berenergi

dan sehat.

2.4.2 Tips Untuk Melakukan Perilaku Tidak Merokok

1) Download aplikasi khusus untuk berhenti merokok.

Melacak kemajuan kita melalui aplikasi dapat membantu kita termotivasi

untuk berhenti merokok. Dengan bantuan aplikasi khusus, kita juga dapat

melacak berapa banyak uang yang telah kita hemat dan menunjukkan

tingkat manfaat yang kita dapat dengan berhenti merokok bagi tubuh.

2) Hindari minuman yang terkait dengan merokok.

Minum alkohol atau kafein seringkali terkait dengan merokok.

Meminumnya kadang membuat kita kembali tergoda untuk merokok.

Minuman tersebut juga memicu keinginan untuk mengonsumsi minuman

bersoda, yang tak sehat bagi tubuh. Jadi, jika kita ingin berhenti

merokok, kurangilan mengonsumsinya.

3) Cobalah terapi penggantian nikotin.

Berkurangnya kadar nikotin dalam tubuh dapat menyebabkan ketagihan

ketika kita tak lagi menghisap tembakau. Tentu ini membuat kebiasaan

30
merokok muncul kembali. Permen nikotin, rokok elektronik, atau plester

nikotin dapat membantu menghentikan ketagihan dengan memberikan

sedikit nikotin pada tubuh. Seiring waktu, kita secara bertahap dapat

mengurangi adiksi nikoti sampai kita benar-benar bebas dari kecanduan.

4) Cobalah obat khusus.

Beberapa obat-obatan, seperti Champix dan Zyban, dapat diminum setiap

hari dalam bentuk tablet, seperti yang ditentukan oleh dokter umum.

Obat-obatan tersebut dapat mengatasi kecanduan dengan mencegah

nikotin mempengaruhi bagian otak yang meresponnya. Cara ini

membantu secara perlahan mengurangi perasaan nyaman yang kita

dapatkan dari merokok. Biasanya, obat-obatan ini bekerja maksimal dari

tujuh hingga 12 minggu.

5) Optimis.

Dr Kershaw-Yates mengatakan tidak ada cara mudah untuk berhenti

merokok. Tapi, itu bukan berarti kita harus kehilangan harapan.

"Prosesnya sangat bervariasi dari orang ke orang. Saat ini ada banyak

perawatan untuk berhenti merokok yang tersedia,” paparnya. Ia

mengatakan merokok diduga sebagai faktor penyumbang utama bagi

sekitar 120.000 kematian per tahun. Tapi, efek dari merokok dapat

diatasi. "Jika kita berhenti merokok sebelum usia 35 tahun, kita memiliki

harapan hidup yang sama dengan mereka yang bukan perokok,"

paparnya.

31
2.5 Analisis Perilaku Tidak Merokok

Perilaku tidak merokok merupakan perilaku yang tergolong sulit ditemukan di

masyarakat Indonesia karena rata-rata kebanyakan pria di Indonesia merokok di usia

yang beragam. Periaku tidak merokok mengurangi resiko penyakit seperti jantung,

stroke, dll. Tetapi masih sulit menerapkan Perilaku Tidak Merokok tersebut.

Oleh karena itu perilaku tidak merokok dapat dibuat perangkingan perilakunya

menurut tingkat urgensinya dan kemudahan diubah.

Urgensi

Penting Tidak Penting

Kemudahan

Diubah
Mudah diubah Membuat peraturan tentang Melaksanakan program

penaikkan harga rokok dan layanan anti rokok

larangan untuk merokok diusia

tertentu dan tempat tertentu

oleh pemerintah

Sulit diubah Melakukan penyuluhan dan -

edukasi tentang bahaya rokok

bagi kesehatan

32
Faktor-faktor penyebab perilaku merokok :

1. Pengaruh orang tua

Salah satu temuan tentang remaja perokok adalah bahwa anak-anak

muda yang berasal dari rumah tangga yang tidak bahagia, di mana

orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dan

memberikan hukuman fisik yang keras, lebih mudah untuk menjadi

perokok dibanding anak-anak muda yang berasal dari lingkunganrumah

tangga yang bahagia (Baer dan Corado dalam Atkinson, 1999: 294).

2. Pengaruh teman

Berbagai fakta mengungkapkan bahwa bila semakin banyak remaja yang

merokok, maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah

perokok dan demikian sebaliknya.

3. Faktor kepribadian

Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin

melepaskan diri dari rasa sakit fisik atau jiwa, dan membebaskan diri dari

kebosanan.

4. Pengaruh iklan

Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan

gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour,

membuat remaja sering kali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang

ada di dalam iklan tersebut (Juniarti, 1991 dalam Poltekkes Depkes

Jakarta I, 2012)

33
BAB III

METODE ANALISIS PERILAKU

3.1 Teknik Analisis Perilaku

Penelitian ini menggunakan metode survei deskriptif, yaitu metode penelitian yang

dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang

suatu keadaan secara objektif. Penelitian ini dilakukan dengan menempuh langkah-

langkah pengumpulan data, klasifikasi, pengolahan/analisis data, membuat

kesimpulan dan menyusun laporan (Notoatmodjo, S, 2010 : 36).

3.2 Tempat dan Waktu

3.2.1 Tempat

Penelitian ini dilakukan di Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang

3.2.2 Waktu

Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober 2019 sampai dengan bulan

November 2019.

3.3 Sasaran Perilaku

Sasaran perilaku yang dianalisis dalam penelitian ini adalah remaja laki-laki di

lingkungan Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang.

34
3.4 Metode Pengumpulan Data yang dianalisis

3.4.1 Kuesioner

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data dengan memberikan atau

menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden dengan harapan responden

akan memberikan respon terkait atas daftar pertanyaan dari kuesioner

tersebut. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis

kuesioner langsung yang tertutup karena responden hanya tinggal

memberikan tanda pada salah satu jawaban yang dianggap benar. Kuesioner

akan memberikan informasi mengenai seberapa dalam pengetahuan remaja

tentang perilaku tidak merokok dan bahaya merokok.

3.4.1 Studi Kepustakaan

Studi pustaka yaitu pengumpulan data atau informasi dengan

menggunakan buku-buku yang berhubungan dengan penelitian dan

bertujuan untuk menemukan teori, konsep, dan variabel lain yang dapat

mendukung penelitian. Di dalam metode studi pustaka ini, peneliti

mencari data melalui referensi - referensi, jurnal dan artikel di internet.

Studi Kepustakaan ini berguna untuk memberikan informasi dan penguatan

tinjauan pustaka dengan menggunakan buku-buku, jurnal dan artikel yang

berhubungan dengan perilaku tidak merokok dan bahaya merokok.

35
3.4.2 Data Sekunder

Data sekunder pada penelitian tentang perilaku tidak merokok dan bahaya

merokok ini diperoleh dari Profil Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Riset

Kesehatan Dasar, dan Puskesmas Lapai.

36
BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Analisis Perilaku

4.1.1 Output Tabel Frekuensi Pengetahuan Responden

Menurut kamu, apakah rokok Frekuensi Persentase

berbahaya bagi kesehatan?

Ya 10 100%

Tidak 0 -

Total 10 100%

Berbahaya bagi kesehatan siapa? Frekuensi Persentase

Perokok itu sendiri 1 10%

Orang di sekitar perokok tersebut 1 10%

Perokok dan orang disekitar perokok 8 80%

Total 10 100%

Menurut kamu, seberapa besar Frekuensi Persentase

resiko/akibat buruk yang ditimbulkan

rokok pada orang di sekitar perokok?

Lebih kecil resikonya dari perokok 3 30%

Sama resikonya dari perokok - -

Lebih besar resikonya dari perokok 7 70%

37
Total 10 100%

Orang yang tidak merokok tapi Frekuensi Persentase

karena dia sering berada di dekat

orang yang sedang merokok dan ikut

menghirup asap rokok tersebut

disebut?

Perokok Aktif - -

Perokok Pasif 10 100%

Total 10 100%

Menurut kamu, bahaya kesehatan apa Frekuensi Persentase

yang dapat ditimbulkan oleh rokok?

Asma 8 80%

Penyakit Jantung 9 90%

Pikun 5 50%

Kanker Paru 8 80%

TBC Paru 5 50%

Pengeroposan Tulang 4 40%

Bronkhitis 4 40%

Kanker Mulut 8 80%

38
Menurut kamu, apakah didalam Frekuensi Persentase

rokok terdapat zat kimia yang

berbahaya?

Ada 10 100%

Tidak 0 -

Total 10 100%

Apakah kamu tahu zat kimia Frekuensi Persentase

berbahaya yang terdapat dalam

rokok?

Tahu 5 50%

Tidak Tahu 5 50%

Total 10 100%

Menurut kamu, zat kimia apa yang Frekuensi Persentase

ada dibawah ini yang berbahaya

untuk kesehatan?

Tar 6 60%

Karbonmonoksida 3 30%

Nikotin 10 10%

Benzene 3 30%

Hidrogen sianida 1 10%

Benzaldehid - -

39
Zat apakah yang ada didalam rokok Frekuensi Persentase

yang dapat membuat kecanduan?

Tar 1 10%

Karbonmonoksida - -

Nikotin 8 80%

Benzene - -

Tidak Tahu 2 20%

Apakah kamu mengetahui adanya Frekuensi Persentase

peraturan yang melarang merokok di

tempat umum, sarana kesehatan,

tempat kerja, tempat proses belajar

mengajar, arena kegiatan anak,

tempat ibadah dan angkutan umum?

Tahu 10 100%

Tidak Tahu - -

Total 10 100%

40
4.1.2 Output Tabel Frekuensi Sikap Responden

Saya akan tetap merokok walaupun Frekuensi Persentase

ada orang yang terganggu dengan

asap rokok saya

Setuju 2 20%

Tidak Setuju 8 80%

Total 10 100%

Saya merasa lebih percaya diri jika Frekuensi Persentase

sedang merokok

Setuju 4 40%

Tidak Setuju 6 60%

Total 10 100%

Saya bebas merokok dimana saja saya Frekuensi Persentase

ingin merokok

Setuju 2 20%

Tidak Setuju 8 80%

Total 10 100%

Pemerintah sebaiknya menaikkan Frekuensi Persentase

harga rokok

Setuju 7 70%

Tidak Setuju 3 30%

41
Total 10 100%

Menghirup udara yang bebas asap Frekuensi Persentase

rokok merupakan hak asasi manusia

Setuju 9 90%

Tidak Setuju 1 10%

Total 10 100%

Berhenti merokok tidak mudah, Frekuensi Persentase

namun tidak mustahil

Setuju 8 80%

Tidak Setuju 2 20%

Total 10 100%

Jika kamu merokok, temanmu akan Frekuensi Persentase

menasihatimu

Setuju 8 80%

Tidak Setuju 2 20%

Total 10 100%

Jika kamu merokok, temanmu akan Frekuensi Persentase

membiarkanmu

Setuju 3 30%

Tidak Setuju 7 70%

42
Total 10 100%

Jika kamu merokok, temanmu akan Frekuensi Persentase

ikut merokok

Setuju 2 20%

Tidak Setuju 8 80%

Total 10 100%

Jika kamu merokok, temanmu akan Frekuensi Persentase

menjauhimu

Setuju 3 30%

Tidak Setuju 7 70%

Total 10 100%

4.1.3 Output Tabel Frekuensi Perilaku Responden

Apakah kamu merokok? Frekuensi Persentase

Ya 8 80%

Tidak 2 20%

Total 10 100%

Sudah berapa lama kamu merokok? Frekuensi Persentase

Kurang dari 1 tahun 3 37,5%

Lebih dari 1 tahun 5 62,5%

43
Total 8 100%

Pada umur berapa kamu sudah mulai Frekuensi Persentase

merokok?

Kurang dari 10 tahun 1 12,5%

Lebih dari 10 tahun 7 87,5%

Total 8 100%

Alasan pertama kali merokok? Frekuensi Persentase

Iseng 3 37,5%

Penasaran / ingin coba-coba 3 37,5%

Diajak / dipaksa teman 2 25%

Agar terlihat dewasa / keren - -

Agar terlihat seperti tokoh idola - -

Total 8 100%

Siapa yang pertama kali Frekuensi Persentase

mempengaruhi kamu untuk merokok?

Tidak ada 2 25%

Orang Tua - -

Saudara - -

Teman 6 75%

Kakak / Adik - -

44
Iklan - -

Total 8 100%

Dimana biasanya kamu merokok? Frekuensi Persentase

Di rumah - -

Di sekolah 1 12,5%

Di tempat umum 7 87,5%

Total 8 100%

Berapa banyak rokok yang kamu Frekuensi Persentase

habiskan setiap hari? (rata-rata)

1-10 batang 5 62,5%

11-20 batang 3 37,5%

21-30 batang - -

Total 8 100%

Biasanya kamu mendapatkan rokok Frekuensi Persentase

dari mana?

Teman - -

Orang tua 1 12,5%

Membeli sendiri 7 87,5%

Total 8 100%

45
Keadaan apa yang membuat kamu Frekuensi Persentase

merokok?

Saat merasa bosan 1 12,5%

Saat stress / kesal / marah 2 25%

Saat merasa gugup / menghilangkan - -

ketegangan

Saat mulut terasa tidak enak - -

Saat santai / iseng 5 62,5%

Saat melihat orang merokok - -

Total 8 100%

Pernahkah kamu merokok bersama Frekuensi Persentase

dengan temanmu?

Pernah 7 87,5%

Tidak pernah 1 12,5%

Total 8 100%

4.2 Pembahasan

Berdasarkan hasil output tabel dari 10 responden tersebut dapat disimpulkan

bahwa 10 dari 10 responden mengetahui bahaya merokok bagi kesehatan yang

menandakan remaja laki-laki rata-rata mengetahui bahwa rokok berbahaya bagi

kesehatan namun 8 dari 10 responden adalah perokok yang menandakan bahwa

masih kurangnya kesadaran untuk melakukan perilaku tidak merokok sebagai

46
preventif dalam mencegah beberapa penyakit tidak menular yang salah satu faktor

penyebabnya yaitu perilaku merokok. 8 dari 10 responden juga menyatakan bahwa

merokok berbahaya bagi kesehatan si perokok, terutama orang-orang disekitar yang

menjadi perokok pasif, menandakan bahwa masih pedulinya remaja laki-laki

terhadap lingkungan namun belum cukup menumbuhkan kesadaran untuk

melakukan perilaku tidak merokok. Lalu kebanyakan responden sudah mengetahui

bahwa rokok menjadi faktor resiko penyakit jantung dengan total sebanyak 8 pilihan.

Semua responden juga telah mengetahui bahwa rokok mengandung zat yang

berbahaya namun hanya 50% responden yang mengetahui apa saja bahan kimia

berbahaya yang ada di dalam rokok dan sehingga masih diperlukannya edukasi dan

penyuluhan terhadap remaja laki-laki tentang bahan kimia berbahaya yang ada

didalam rokok. 10 dari 10 responden telah mengetahui peraturan yang berupa

larangan merokok di tempat umum namun masih banyak remaja laki-laki saat ini

yang melakukan perilaku merokok di tempat umum sesuai dengan hasil dari

responden yaitu 7 dari 10 . Rata-rata remaja laki-laki menghabiskan 1-10 batang

rokok perhari yang mana ia beli sendiri. Alasan responden melakukan perilaku

merokok rata-rata paling banyak dikarenakan oleh rasa penasaran atau ingin

mencoba, ajakan dari teman sebaya, dan merasa hanya iseng saja. Dapat kita lihat

kesulitan dalam melakukan perilaku tidak merokok pada remaja laki-laki yaitu

dikarenakan salah satu faktor yaitu ajakan dari teman sebaya untuk mencoba rokok

dan faktor psikologis yaitu rasa penasaran yang timbul karena melihat perilaku

merokok dari lingkungan sekitar, bahkan 8 dari 10 responden mengetahui bahwa

temannya akan ikut melakukan perilaku merokok jika ia melakukan perilaku tersebut.

47
Oleh karena itu masih banyak remaja laki-laki yang telah merokok lebih dari 10

tahun yang artinya pada usia sekolah sekitar 7-10 tahun mereka telah mencoba rokok

sehingga untuk menerapkan perilaku tidak merokok menjadi sangat sulit dan butuh

waktu yang lama bagi perokok aktif. Namun masih ada harapan untuk melakukan

penyuluhan dan edukasi dalam menerapkan perilaku tidak merokok karena

banyaknya responden yang masih peduli dengan lingkungan ditandai dengan 7 dari

10 responden menyatakan tidak setuju untuk merokok jika orang disekitar atau

perokok pasif merasa terganggu, 7 dari 10 responden juga setuju jika pemerintah

menaikkan harga rokok, bahkan 9 dari 10 responden setuju bahwa menghirup udara

bebas merupakan hak asasi manusia. Berdasarkan jawaban responden mengenai

setujunya responden terhadap pernyataan berhenti merokok tidak mustahil, namun

sulit menandakan bahwa ada harapan untuk menerapkan perilaku preventif yaitu

perilaku tidak merokok dalam mencegah penyakit tidak menular.

48
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Perilaku tidak merokok adalah suatu perilaku yang tidak melakukan kegiatan

atau aktivitas membakar rokok kemudian menghisapnya dan menghembuskannya

keluar yang dapat menimbulkan asap yang dapat terisap oleh orang lain dan

merupakan pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang berkaitan dengan

rokok dan merokok. Banyak responden yang mengetahui bahaya merokok bagi

kesehatan namun mereka sendiri adalah perokok aktif, yang menandakan bahwa

masih banyak remaja laki-laki yang peduli akan lingkungan dan diri sendiri namun

belum memiliki kesadaran dalam menerapkan perilaku preventif yaitu perilaku tidak

merokok. Walau demikian, masih ada harapan dalam menerapkan perilaku tidak

merokok dalam upaya preventif terhadap penyakit tidak menular karena banyak

responden yang setuju pada pernyataan berhenti merokok tidak mustahil, namun

sulit.

5.2 Saran

Berdasarkan penelitian ini maka disarankan :

1. Kepada remaja agar lebih meningkatkan pengetahuan tentang bahaya merokok

2. Kepada Orangtua agar selalu mengawasi anak dalam bergaul

3. Kepada Pihak Puskesmas agar selalu melakukan survey dan penyuluhan

terhadap angka perilaku tidak merokok di setiap wilayah kerja puskesmas

tersebut.

49
DAFTAR PUSTAKA

Balitbang Kemenkes RI. Riset Kesehatan Dasar; RISKESDAS. Jakarta: 2018.

Departemen Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar, Laporan Nasional 2013.

Dinas Kesehatan Kota Padang. 2018

Komalasari, D. & Helmi, AF. Faktor-Faktor Penyebab Perilaku Merokok pada Remaja.

Jurnal Psikologi Universitas Gadjah Mada, 2. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada

Press. 2000.

Notoatmodjo S. Konsep Perilaku dan Perilaku Kesehatan. In : Notoatmodjo S.

Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: PT Rineka Cipta; 2012. p.

138-147.

Monique. Menghindari Rokok. Jakarta : Balai Pustaka. 2001.

Puskesmas Kuranji. Data Anggota tidak Merokok. 2018

Saputra, S. Pengaruh Rokok terhadap Kesehatan. Jakarta: Arcan. 2005.

50
LAMPIRAN

Data perilaku tidak merokok di setiap keluarga wilayah kerja Puskesmas Lapai :

No Kelurahan Anggota Keluarga yang tidak merokok

(%) Jumlah Total

keluarga dari Keluarga

persentase Seluruhnya

1 SURAU GADANG 49,77% 770 1.547

2 KAMPUNG OLO 50,81% 375 738

3 KURAO PAGANG 49,7% 1.093 2.199

4 GURUN LAWEH 44,4% 329 741

5 TABUNG BANDA GADANG 32,41% 245 756

6 KAMPUNG LAPAI 39,16% 571 1.458

% CAKUPAN NANGGALO 45,48% 3.383 7.439

51
INSTRUMEN PENILAIAN PERILAKU

(KUESIONER)

A. PENGETAHUAN

1. Menurut kamu, apakah rokok berbahaya bagi kesehatan?

a. Ya

b. Tidak

2. Berbahaya bagi kesehatan siapa?

a. Perokok itu sendiri

b. Orang di sekitar perokok tersebut

c. Perokok dan orang disekitar perokok

3. Menurut kamu, seberapa besar risiko/akibat buruk yang ditimbulkan rokok pada

orang di sekitar perokok?

a. Lebih kecil risikonya dari perokok

b. Sama risikonya dengan perokok

c. Lebih besar risikonya dari perokok

4. Orang yang tidak merokok tapi karena dia sering berada di dekat orang yang

sedang merokok dan ikut menghirup asap rokok tersebut disebut?

a. Perokok aktif

b. Perokok pasif

52
5. Menurut kamu, bahaya kesehatan apa yang dapat ditimbulkan oleh rokok?

(jawaban boleh lebih dari satu)

a. Asma

b. Penyakit jantung

c. Pikun

d. Kanker paru

e. TBC paru

f. Pengeroposan tulang

g. Bronkhitis

h. Kanker mulut

i. Lainnya,sebutkan

6. Menurut kamu, apakah di dalam rokok terdapat zat kimia yang berbahaya?

a. Ada

b. Tidak

7. Apakah kamu tahu zat kimia berbahaya yang terdapat dalam rokok ?

a. Tahu

b. Tidak tahu

8. Menurut kamu, zat kimia apa yang ada dibawah ini yang berbahaya untuk

kesehatan? (jawaban boleh lebih dari satu)

a. Tar

b. Karbon monoksida

c. Nikotin

d. Benzene

53
e. Hidrogen sianida

f. Benzaldehid

g. Lainnya, sebutkan

9. Zat apakah yang ada didalam rokok yang dapat membuat kecanduan?

a. Tar

b. Karbon monoksida

c. Nikotin

d. Benzene

e. Tidak Tahu

f. Lainnya, sebutkan

10. Apakah kamu mengetahui adanya peraturan yang melarang merokok di tempat

umum, sarana kesehatan, tempat kerja, tempat proses belajar mengajar, arena

kegiatan anak, tempat ibadah dan angkutan umum?

a. Tahu

b. Tidak tahu

B. SIKAP

Beri tanda check list ( ) pada tempat yang sesuai dengan jawaban kamu.

Keterangan S = Setuju, TS = Tidak Setuju

54
No. Pertanyaan S TS

1. Saya akan tetap merokok walaupun ada orang yang terganggu dengan

asap rokok saya

2. Saya merasa lebih percaya diri jika sedang merokok

3. Saya bebas merokok dimana saja saya ingin merokok

4. Pemerintah sebaiknya menaikan harga rokok

5. Menghirup udara yang bebas asap rokok merupakan hak asasi manusia

6. Berhenti merokok tidak mudah, namun tidak mustahil

7. Jika kamu merokok, temanmu akan menasihatimu

8 Jika kamu merokok, temanmu akan membiarkanmu

9. Jika kamu merokok, temanmu akan ikut merokok

10. Jika kamu merokok, temanmu akan menjauhimu

C. PERILAKU

1. Apakah kamu merokok

a. Ya

b. Tidak

2. Sudah berapa lama kamu merokok?

a. Kurang dari 1 tahun

b. Lebih dari 1 tahun

3. Pada umur berapa kamu sudah mulai merokok?

a. Kurang dari 10 tahun

b. Lebih dari 10 tahun

55
4. Alasan pertama kali merokok ?

a. Iseng

b. Penasaran/Ingin mencoba-coba

c. Diajak/dipaksa teman

d. Agar terlihat dewasa/keren

e. Agar terlihat seperti tokoh idola

f. Lainnya, sebutkan

5. Siapa yang pertama kali mempengaruhi kamu untuk merokok?

a. Tidak ada

b. Orang tua

c. Saudara

d. Teman

e. Kakak/adik

f. Iklan

g. Lainnya, sebutkan

6. Dimana biasanya kamu merokok?

a. Di rumah

b. Di sekolah

c. Di tempat teman

d. Lainnya, sebutkan

7. Berapa banyak rokok yang kamu habiskan setiap hari (rata-rata)]

a. 1-10 batang

b. 11-20 batang

56
c. 21-30 batang

d. Lainnya, sebutkan

8. Biasanya kamu mendapatkan rokok dari mana ?

a. Teman

b. Orang tua

c. Membeli sendiri

d. Lainnya,sebutkan

9. Keadaan apa yang membuat kamu merokok?

a. Saat merasa bosan

b. Saat stress/kesal/marah

c. Saat merasa gugup/menghilangkan ketegangan

d. Saat mulut terasa tidak enak

e. Saat santai/iseng

f. Saat melihat orang merokok

g. Lainnya,sebutkan

10. Pernahkah kamu merokok bersama dengan temanmu ?

a. Pernah

b. Tidak

57
LEMBAR KONSUL DENGAN PEMBIMBING

POLITEKNIK KEMENTERIAN KESEHATAN


JURUSAN PROMOSI KESEHATAN
Jl. Simpang Pondok Kopi Siteba Nanggalo – Padang

LEMBARAN
KONSULTASI LAPORAN PRAKTIK

Anggota Kelompok : 1. Anisa Alhada (186110733)


2. Okva Reyhanda (186110757)
3. Yulian Bintan (186110769)
Pembimbing : Fizran, SKM, M.Kes
Judul : Perilaku Tidak Merokok

Tanda
Hari/ Topik/ Materi
No Hasil Konsultasi Tangan
Tanggal Konsultasi
Pembimbing
1. Senin/ Konsultasi Bab
Pada latar belakang
4-11-2019 I
diperlukan penambahan data

berupa hasil dari riskesdas dan

data sekunder dari puskesmas

tempat penelitian untuk lebih

menguatkan dukungan dalam

melaksanakan materi

penelitian

2. Rabu/ Konsultasi Bab Dalam analisis perilaku

6-11-2019 II perlunya ditambahkan

58
pengertian dari perilaku

merokok dan perilaku tidak

merokok.

3. Kamis/ Konsultasi ACC

14-11-2019 Bab III

Jumat/ Konsultasi Bab ACC


4.
22-11-2019 IV

Jumat/ Konsultasi Bab ACC


5.
29-11-2019 V

Senin/ Konsultasi ACC

6. 2-12-2019 laporan secara

keseluruhan

Padang, 2019
Ka. Jur Promosi Kesehatan

(John Amos, SKM, M.Kes)


NIP. 19620620 198603 1 002

59