Anda di halaman 1dari 7

TUGAS PRIBADI KOMUNIKASI KESEHATAN

( MENGANALISA PERILAKU )

DI SUSUN OLEH :

NAMA : Tomi Zulianshah

NIM : 186110765

PRODI : S1 Terapan Promosi Kesehatan

PRODI S1 TERAPAN PROMOSI KESEHATAN

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES RI PADANG

TAHUN AJARAN 2019/2020


TUGAS PRIBADI KOMKES

Pembahasan Sekilas (Klasifikasi Penyakit)

1. Penyakit menular

a. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)


b. Cacar air
c. Konjungtivis (mata merah)
d. Gastroenteritis
e. Campak
f. Kutu rambut
g. Kudis
h. Kurap
i. Gondongan
j. Tuberkulosis (TBC)
k. Hepatitis
l. Diare
m. Malaria
n. Kolera
o. Tifus
p. Batuk
q. Penyakit Menular Seksual
r. Demam Berdarah Dengue (DBD)

2. Penyakit tidak menular


a. Diabetes
b. Rematik
c. Sariawan
d. Hipertensi
e. Osteoporosis
f. Depresi

3. Penyakit ganas

a. Kanker

b. Demam berdarah

c. Ebola

d. Radang Selaput Otak

e. Kolera

f. Stroke
4. Masalah Gizi

a. Kurang vitamin A

b GAKI

c. Anemia

d. Gizi kurang

e. Stunting

3. Penyebab penyakit
a. Factor perilaku
Factor-factor personal dan lingkungan yag berkontribusi terhadap permasalahan
kesehatan tetapi tidak di kendalikan oleh perilaku populasi sasaran.
b. Factor non-perilaku
 Lingkungan : air, udara, jalan
 Teknologi : fasilitas, pelayanan medis
4. Analisis perilaku berrdasarkan tahapan analisis perilaku
a. Membedakan antara penyebab perilaku dan non penyakit perilaku dari
masalah kesehatan.
Contoh: Merokok, gender, gaya hidup santai, stress, hipertensi , kolesterol
tinggi, diabetes, obesitas, konsumsi alcohol
b. Mengembangkan temuan atas perilaku.
 Memelihara atau mencapai BB yang diinginkan
 Berhenti merokok atau jangan mulai
 Berhenti minum minuman beralkohol berlebihan atau jangan di mulai
 Mulai atau lanjutkan olahraga
5. Rangking perilaku berdasarkan urgensinya dan kemudahan di rubah
-Rangking perilaku berdasarkan urgensi
Perilaku di katakana penting jika:
a. Data yang ada secara jelas berhubungan dengan masalah kesehatan
b. Perilaku itu sering terjadi

Perilaku di katakan kurang atau tidak penting jika:

a. Tidak berhubungan langsung dengan masalah kesehatan


b. Perilaku tersebut jarang muncul

-Rangking perilaku berdasarakan kemudahan di ubah

Perilaku mudah di ubah jika:


a. Masih dalam tahap dini atau baru muncul
b. Tidak terkait kuat dengan gaya hidup atau budaya
c. Berhasil di ubah oleh program lain

Perilaku sulit di ubah jika

a. Sudah lama terjadi


b. Terkait kuat dengan gaya hidup atau budaya
c. Tidak dapat di ubah oleh program lain

Menganalisis Status Kesehatan

Nyamuk Anopheles merupakan vektor dari Malaria. Dari sekitar 400 spesies nyamuk
Anopheles telah ditemukan 67 spesies dapat menularkan malaria dan 24 diantaranya
ditemukan di Indonesia. Kabupaten Kotabaru merupakan kabupaten endemis malaria di
Kalimantan Selatan. Data mengenai spesies vektor malaria spesifik pada suatu daerah sangat
berperan penting sebagai salah satu bahan rekomendasi bagi tindak lanjut kebijakan
pengendalian malaria. Penelitian bertujuan untuk mengetahui data vektor malaria di
Kabupaten Kotabaru melalui uji PCR. Penelitian deskriptif dengan desain cross sectional.
Penangkapan nyamuk dilakukan di Desa Siayuh Trans dan Magalau Hulu, tambang emas
Kura-Kura dan Desa Muara Uri dengan metode penangkapan UOL, UOD, dinding dan
kandang. Uji PCR dilaksanakan di laboratorium biomolekuler BBPPVRP Salatiga pada bulan
Februari-April 2015. Hasil penangkapan nyamuk didapatkan 345 ekor nyamuk Anopheles
yang terdiri dari 9 spesies: An. barbirostris, An. tesselatus, An. balabacensis, An. vagus, An.
hyrcanus group, An. peditaeniatus, An. kochi, An. flavirostris, An. umbrosus. Seluruh
nyamuk Anopheles yang didapatkan dibuat 56 pool sampel Anopheles sp untuk diuji PCR
yang telah diklasifikasikan berdasarkan spesies, tanggal dan metode penangkapan. Hasil PCR
terindentifikasi 3 spesies vektor malaria di Desa Siayuh Trans yaitu An. vagus, An.
peditaeniatus dan An. tesselatus yang merupakan vektor malaria baru di Propinsi Kalimantan
Selatan.

2.Penyebab Penyakit Malaria :Faktor Perilaku/Non Perilaku

1.Faktor Perilaku

Status manusia sebagai host intermediate, karena dalam tubuh manusia terjadi siklus
aseksual plasmodium dan nyamuk sebagai host definitive, karena di dalam tubuh nyamuk
terjadi siklus seksual plasmodium. Pada prinsipnya setiap orang dapat terinfeksi plasmodium,
karena tubuh manusia merupakan tempat berkembangbiak plasmodium. Ada beberapa faktor
intrinsik yang dapat mempengaruhi kerentanan manusia terhadap plasmodium. Faktor-faktor
tersebut meliputi usia, jenis kelamin, ras, sosial ekonomi, status perkawinan, riwayat penyakit
sebelumnya, perilaku, keturunan, status gizi dan tingkat imunitas. 10
2.Faktor Non Perilaku

1) Pendidikan dan pengetahuan


Tingkat pendidikan seseorang tidak berpengaruh secara langsung dengan kejadian malaria,
namun pendidikan seseorang dapat mempengaruhi jenis pekerjaan dan tingkat pengetahuan
orang tersebut. Secara umum seseorang yang berpendidikan tinggi akan mempunyai
pekerjaan yang lebih layak dibanding seseorang yang berpendidikan rendah dan akan
mempunyai pengetahuan yang cukup terhadap masalah-masalah yang terjadi di lingkungan
sekitarnya. Dengan pengetahuan yang cukup yang didukung oleh pendidikan memadai akan
berdampak kepada perilaku seseorang tersebut dalam mengambil berbagai tindakan. Menurut
Notoatmodjo (2000), pengetahuan tentang penyakit (termasuk malaria) merupakan salah satu
tahap sebelum seseorang mengadopsi (berperilaku baru) ia harus tahu terlebih dahulu apa arti
dan manfaatnya perilaku tersebut bagi dirinya atau keluarganya.
Banyak anggota masyarakat di beberapa daerah endemis malaria yang mengangap masalah
penyakit malaria sebagai masalah biasa yang tidak perlu dikawatirkan dampaknya.
Anggapantersebut membuat mereka lengah dan kurang berkontribusi dalam upaya
pencegahan dan pemberantasan malaria. Di Indonesia, mendiagnosis, mengobati, dan
merawat sendiri bila sakit malaria merupakan hal yang biasa. Masyarakat telah terbiasa
mengkonsumsi obat-obatan yang dapat dibeli di warung-warng tanpa resep dokter (Pusdatin,
2003).
Tingkat pengetahuan penduduk tentang penyakit malaria, diukur dari beberapa pertanyaan,
diantaranya mengenal gejala klinis malaria, mengetahui cara penularan, mengenal ciri
nyamuk penular, mengetahui tempat perindukan nyamuk, mengetahui cara mencegah
penularan, dan mengetahui tempat berobat bila sakit (Depkes RI, 2003).
2) Pekerjaan
Seseorang apabila dikaitkan dengan jenis pekerjaannya, akan mempunyai hubungan dengan
kejadian malaria. Ada jenis pekerjaan tertentu yang merupakan faktor risiko untuk terkena
malaria misalnya pekerjaan berkebun sampai menginap berminggu-minggu atau pekerjaan
menyadap karet di hutan, sebagai nelayan dimana harus menyiapkan perahu dipagi buta
untuk mencari ikan di laut dan lain sebagainya. Pekerjaan tersebut akan memberi peluang
kontak dengan nyamuk (Achmadi, 2005).
3) Kebiasaan penduduk dan adat-istiadat setempat
Kebiasaan-kebiasaan penduduk maupun adat-istiadat setempat tergantung dengan lingkungan
tempat tinggalnya, banyak aktivitas penduduk yang membuat seseorang dapat dengan mudah
kontak dengan nyamuk. Kebiasaan masyarakat dalam berpakaian, tidur menggunakan obat
anti nyamuk atau menggunakan kelambu, keluar rumah malam hari atau melakukan aktivitas
di tempat-tempat yang teduh dan gelap, misalnya kebiasaan buang hajat, sangat berpengaruh
terhadap terjadinya penularan penyakit malaria (Depkes Pusdatin, 2003).
Seperti yang dilaporkan oleh Susanna (2005) dalam disertasinya, kebiasaan keluar rumah
pada malam hari yang dilakukan oleh masyarakat pesisir pantai Nongsa kota Batam seperti
ngobrol di pinggir pantai, nonton televisi di warung-warung sampai larut malam atau
berjalan-jalan malam hari dengan tubuh tidak tertutup secara keseluruhan, akan mendukung
terjadinya penularan malaria.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Masra (2002) menyebutkan penduduk yang mempunyai
kebiasaan atau melakukan aktivitas di luar rumah malam hari, mempunyai risiko untuk
terkena penyakit malaria sebesar 2,56 kali dibanding dengan penduduk yang tidak melakukan
aktivitas di luar rumah malam hari. Sedangkan yang dilaporkan Sulistyi (2001) dalam
penlitiannya, kebiasaan penduduk ke luar rumah malam hari yang tidak terlindung secara
utuh mempunyai risiko sebesar hampir 2 kali (OR:1,927) dibanding dengan penduduk yang
tidak mempunyai kebiasaan keluar rumah malam hari terhadap kejadian malaria.
Tindakan pencegahan perorangan yang utama adalah bagaimana seseorang tersebut dapat
menghindari diri dari gigitan nyamuk (Kandun, 2000)

2. Faktor Host (Manusia dan Nyamuk)


1. Manusia (host intermediate)
Pada dasarnya setiap orang dapat terinfeksi penyakit malaria. Bagi pejamu ada beberapa
faktor intrinsik yang dapat mempengaruhi kerentanannya terhadap agent penyakit malaria
(Plasmodium) yaitu :
1) Umur
Secara umum penyakit malaria tidak mengenal tingkatan umur. Hanya saja anak-anak lebih
rentan terhadap infeksi malaria (Depkes RI, 2003). Menurut Gunawan (2000), perbedaan
prevalensi malaria menurut umur dan jenis kelamin berkaitan dengan derajat kekebalan
karena variasi keterpaparan kepada gigitan nyamuk. Orang dewasa dengan berbagai
aktivitasnya di luar rumah terutama di tempat-tempat perindukan nyamuk pada waktu gelap
atau malam hari, akan sangat memungkinkan untuk kontak dengan nyamuk.
2) Jenis kelamin
Infeksi malaria tidak membedakan jenis kelamin akan tetapi apabila menginfeksi ibu yang
sedang hamil akan menyebabkan anemia yang lebih berat dan berdampak terhadap janin yang
dikandungnya (Harijanto, 2000).
3) Ras
Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap
malaria, misalnya penderita sickle cell anemia dan ovalositosis (Depkes RI, 2003).
4) Status Gizi
Status gizi erat kaitannya dengan sistim kekebalan tubuh. Apabila status gizi seseorang baik
akan mempunyai peranan dalam upaya melawan semua agent yang masuk ke dalam tubuh.
Malaria berat sangat jarang ditemukan pada anak-anak dengan marasmus atau kwasiokor.
Defisiensi dan riboflavin seperti yang terdapat dalam air susu ibu, melindungi anak dari
malaria berat (Harijanto, 2000).

3.Analisis perilaku berdasarkan gunakan tahapan analisis perilaku (yang mudah di


ubah dan yang tidak mudah di ubah)

a.Faktor Perilaku yang mudah di ubah

A. cara hidup
B. Status sosial-ekonomi masyarakat
C. status gizi keluarga
Status gizi erat kaitannya dengan sistim kekebalan tubuh. Apabila status gizi
seseorang baik akan mempunyai peranan dalam upaya melawan semua agent yang
masuk ke dalam tubuh. Malaria berat sangat jarang ditemukan pada anak-anak
dengan marasmus atau kwasiokor. Defisiensi dan riboflavin seperti yang terdapat
dalam air susu ibu, melindungi anak dari malaria berat (Harijanto, 2000).
b.Faktor Perilaku yang tidak mudah di ubah

A. Imunitas
B. Umur
Secara umum penyakit malaria tidak mengenal tingkatan umur. Hanya saja anak-
anak lebih rentan terhadap infeksi malaria (Depkes RI, 2003). Menurut Gunawan
(2000), perbedaan prevalensi malaria menurut umur dan jenis kelamin berkaitan
dengan derajat kekebalan karena variasi keterpaparan kepada gigitan nyamuk.
Orang dewasa dengan berbagai aktivitasnya di luar rumah terutama di tempat-
tempat perindukan nyamuk pada waktu gelap atau malam hari, akan sangat
memungkinkan untuk kontak dengan nyamuk.
C. Jenis kelamin
Infeksi malaria tidak membedakan jenis kelamin akan tetapi apabila menginfeksi
ibu yang sedang hamil akan menyebabkan anemia yang lebih berat dan berdampak
terhadap janin yang dikandungnya (Harijanto, 2000).
D. Ras
Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah
terhadap malaria, misalnya penderita sickle cell anemia dan ovalositosis (Depkes
RI, 2003).

4.Rangking perilaku berdasarkan urgensinya dan kemudahan dirubah

Urutan perilaku berdasarkan dari urgensi dan kemudahan di ubah hingga yang tidak bisa
di ubah berdasarkan data di atas :

1. cara hidup
2. Status sosial-ekonomi masyarakat
3. status gizi keluarga
4. Imunitas
5. Jenis Kelamin
6. Ras
7. Umur

5.Pilih perilaku sasaran

1.Penting

 cara hidup
 status gizi keluarga
 Imunitas
 Jenis Kelamin
 Ras
 Umur

2.Tidak Penting

 Status sosial-ekonomi masyarakat