Anda di halaman 1dari 16

”TEORITISASI DAN IMPLIKASI PERTUKARAN SOSIAL

DALAM KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI”

Makalah ini diajukan untuk memenuhi nilai UTS mata kuliah Teori Komunikasi

Dosen Pembimbing :

Drs. A. M. Moefad, SH., M.Si

Disusun Oleh :

Danus Ardiansah (B06210003)

Kelas 2/G1
Program Studi Ilmu Komunikasi
Fakultas Dakwah
Institut Agama Islam Negeri Sunan
Ampel Surabaya
2O11
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur Penulis Panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini
tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang Teoritisasi dan Implikasi
Pertukaran Sosial dalam Komunikasi Antar Pribadi.

Dalam penyusunan makalah ini, penulis banyak mendapat tantangan dan


hambatan akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa
teratasi. Olehnya itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini,
semoga bantuannya mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari
bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik konstruktif dari pembaca sangat
penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.

Demikianlah sebagai pengantar kata, dengan iringan serta harapan semoga tulisan
sederhana ini dapat diterima dan bermanfaat bagi pembaca. Atas semua ini penulis
mengucapkan ribuan terima kasih yang tidak terhingga, semoga segala bantuan
dari semua pihak mudah – mudahan mendapat amal baik yang diberikan oleh
Allah SWT.

Surabaya, Juni 2011

Penyusun

I
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................. I

Daftar Isi ............................................................................................................... II

BAB I : PENDAHULUAN ………………..………………………. .. 1

A. Latar Belakang …………………………...……………… 1


B. Rumusan Masalah ……………………………………….. 2

BAB II : PEMBAHASAN ………………………………...…...……... 3

A. Pengertian Teori Pertukaran Sosial ………………………. 3


B. Asumsi Teori Pertukaran Sosial ………………………….. 4
C. Konsep Teori ……………………………………………… 6
D. Imlplikasi pada Komunikasi Antar Pribadi………..………. 7

BAB III : PENUTUP ……...………………….………………………. 11

A. Kesimpulan ………………………………………......… 11
B. Saran ……………………………………………..……... 12

Daftar Pustaka …………………………………………………..……………. 13


BAB I II
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Teori Pertukaran Sosial ini tidak lepas dari pemikiran para teoritikus
Pertukaran Sosial (Social Exchange) yaitu John Thibaut dan Harold Kelley yang
akan memprediksi bahwa hubungan itu akan mengalami masalah karena
hubungan itu saat ini tampaknya membutuhkan lebih banyak pengorbanan
daripada memberikan penghargaan. Teori Pertukaran Sosial didasarkan pada ide
bahwa orang memandang hubungan mereka dalam konteks ekonomi dan mereka
menghitung pengorbanan dan membandingkannya dengan penghargaan yang
didapatkan dengan meneruskan hubungan itu. Pengorbanan (cost) adalah elemen
dari sebuah hubungan yang memiliki nilai negative bagi seseorang. Penghargaan
(rewards) adalah elemen-elemen dalam sebuah hubungan yang memiliki nilai
positif.
Para Teoritikus Pertukaran Sosial berpendapat bahwa semua orang menilai
hubungan mereka dengan melihat pengorbanan dan penghargaan. Semua
hubungan membutuhkan waktu dan partisipasinya. Sudut Pandang Pertukaran
Sosial berpendapat bahwa orang menghitung nilai keseluruhan dari sebuah
hubungan dengan mengurangkan pengorbanannya dari penghargaan yang diterima
(Monge & Contractor, 2003).
Sebagai contoh, Kita akan menyukai orang yang menyukai kita, kita akan
menyenangi orang yang memuji kita, menurut teori pertukaran sosial, interaksi
sosial adalah semacam transaksi dagang. Kita akan melanjutkan interaksi kita bila
laba lebih banyak dari biaya. Sehingga, dalam berinteraksi antara satu individu
dengan individu lain yang tercapai adalah suatu kepuasan dan kenikmatan
tersendiri, yang mendatangkan keuntungan diantara kedua belah pihak. Maka

1
kebersamaan dan persamaan persepsi bisa tercapai sesuai apa yang menjadi tujuan
bersama.

Dengan teori pertukaran sosial ini, maka akan dicoba suatu bentuk analisis
yang lebih mendalam tentang komunikasi antar individu, sehingga membenarkan
definisi dari komunikasi antar individu itu sendiri yang lebih mengarah kepada
suatu bentuk interaksi sosial yang lebih menguntungkan diantara kedua belah
pihak.

B. Rumusan Masalah

Untuk memudahkan pembaca memahami isi makalah, penulis mencoba


mempersempit uraian-uraian dalam makalah ini menjadi beberapa garis besar
yang pada intinya membahas:

1. Pengertian Teori Pertukaran Sosial


2. Asumsi Teori Pertukaran Sosial
3. Konsep Teori
4. Implikasi pada Komunikasi Antar Pribadi

BAB II
PEMBAHASAN

2
A. Pengertian Teori Pertukaran Sosial
Teori Pertukaran Sosial dari Thibault dan Kelley ini menganggap bahwa
bentuk dasar dari hubungan sosial adalah sebagai suatu transaksi dagang, dimana
orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk
memenuhi kebutuhannya.
Teori ini menelaah bagaimana kontribusi seseorang dalam suatu hubungan,
di mana hubungan itu memengaruhi kontribusi orang lain. Thibaut dan Kelley,
(Sendjaja, 2002: 2.43) pencetus teori ini, mengemukakan bahwa orang
mengevaluasi hubungannya dengan orang lain dengan mempertimbangkan
konsekuensinya, khususnya terhadap ganjaran yang diperoleh dan upaya yang
telah dilakukan, orang akan memutuskan untuk tetap tinggal dalam hubungan
tersebut atau pergi meninggalkannya.1
John Thibaut dan Harold Kelley menyatakan bahwa ”Setiap individu
secara sukarela memasuki dan tinggal didalam suatu hubungan hanya selama
hubungan itu cukup memuaskan dalam hal penghargaan dan pengorbanannya”
(1959, hal. 37) . Sebagaimana diamati oleh Ronald Sabatelli dan Constance
Shehan (1993), pendekatan Pertukaran Sosial memandang hubungan melalui
metafora pasar, dimana setiap orang bertindak berdasarkan tujuan pribadi untuk
mencari keuntungan.2
Yang menjadi ciri khas dalam teori menurut Thibaut dan Kelley ini adalah
“Tingkat Perbandingan”. Maksudnya adalah penunjukan ukuran baku (standar)
yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu
sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lampau
atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya. Ukuran bagi keseimbangan
pertukaran antara untung dan rugi dalam hubungan dengan orang lain itu disebut
comparison level, di mana apabila orang mendapatkan keuntungan dari
hubungannya dengan orang lain, maka orang akan merasa puas dengan hubungan
itu. Sebaliknya, apabila orang merasa rugi berhubungan dengan orang lain dalam

1
Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi-Komunikasi : Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi 3
Komunikasi di Masyarakat. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Hal. 265.
2
West, Richard dan Lynn H. Turner. 2009. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi.
Jakarta : Salemba Humanika. Hal. 217
konteks upaya dan ganjaran, maka orang cenderung menahan diri atau
meninggalkan hubungan tersebut.
Hubungan yang ideal akan terjadi bilamana kedua belah pihak dapat saling
memberikan cukup keuntungan sehingga hubungan tersebut menjadi sumber yang
dapat diandalkan bagi kepuasan kedua belah pihak (Roloff, 1981, Sendjaja, 2002 :
2.43)

B. Asumsi Teori Pertukaran Sosial


Semua teori Pertukaran Sosial dibangun atas dasar beberapa asumsi
mengenai sifat dasar manusia dan sifat dasar hubungan. Thibaut dan Kelley
mendasarkan teori mereka pada dua konspetualisasi: satu berfokus pada sifat
dasar dari individu-individu dan satu lagi mendeskripsikan hubungan antara dua
orang. Oleh karenanya, asumsi-asumsi yang mereka buat juga masuk dalam
kategori ini.3

1. Asumsi Teori Pertukaran Sosial mengenai sifat dasar manusia


 Manusia mencari penghargaan dan menghindari hukuman
Pendekatan ini berasumsi bahwa perilaku orang dimotivasi oleh suatu
mekanisme dorongan internal. Ketika orang merasakan dorongan ini,
mereka termotivasi untuk menguranginya, dan proses pelaksanaannya
merupakan hal yang menyenangkan.

 Manusia adalah makhluk rasional


Teori ini didasarkan pada pemikiran bahwa di dalam batasan-batasan
informasi yang tersedia untuknya, manusia akan menghitung pengorbanan
dan penghargaan dari sebuah situasi tertentu dan ini akan menuntun
perilakunya. Hal ini juga mencakup kemungkinan bahwa, bila dihadapkan
pada pilihan yang tidak memberikan penghargaan, orang akan memilih
pilihan yang paling sedikit membutuhkan pengorbanan. 4
Dengan berasumsi bahwa manusia adalah makhluk rasioanal, Teori
Pertukaran Sosial menyatakan bahwa manusia menggunakan pemikiran
rasional untuk membuat pilihan.

3
Ibid. Hal. 218
 Standar yang digunakan manusia untuk mengevaluasi pengorbanan dan
penghargaan bervariasi seiring berjalannya waktu dari satu orang ke orang
lainnya
Bahwa teori ini harus mempertimbangkan adanya keanekaragaman. Tidak
ada satu standar yang diterapkan pada semua orang untuk menentukan apa
pengorbanan dan apa penghargaan itu. Teori Pertukaran Sosial adalah teori
yang bersifat hukum, karen SET mengklaim walaupun individu-individu
berbeda dalam hal definisi mengenai penghargaan, asumsi yang pertama
masih tetap benar untuk semua orang : Kita termotivasi untuk
memaksimalkan keutungan dan penghargaan kita sementara pada saat
bersamaan meminimalkan kerugian dan pengorbanan (Molm, 2001).

2. Asumsi Teori mengenai sifat dasar dari suatu hubungan


 Hubungan memiliki sifat saling ketergantungan
Dalam pendekatan mereka tentang hubungan, Thibaut dan Kelley lebih
memilih untuk menamakan teori ini Teori Interpedensi dibandingkan
Pertukaran Sosial atau Teori Permainan. Mereka memutuskan demikian
karena mereka ingin menghindarkan pemikiran menang-kalah dalam teori
permainan dan mereka ingin menekankan bahwa pertukaran sosial
merupakan fungsi saling ketergantungan.

 Kehidupan berhubungan adalah sebuah proses


Dengan menyatakan hal ini, para peneliti ini mengakui pentingnya waktu
dan perubahan dalam kehidupan suatu hubungan. Secara khusus, waktu5
mempengaruhi pertukaran karena pengalaman-pengalaman masa lalu
menuntun penilain mengenai penghargaan dan pengorbanan, dan penilaian
ini mempengaruhi pertukaran-pertukaran selanjutnya.

3. Konsep Teori

Thibault dan Kelley, dua orang pemuka utama dari teori ini menyimpulkan
model pertukaran sosial sebagai berikut, “Asumsi dasar yang mendasari seluruh
analisis kami adalah setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam
hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari
segi ganjaran dan biaya”. Ganjaran, biaya, laba dan tingkat perbandingan
merupakan empat konsep pokok dalam teori ini.4

Adapun keempat konsep tersebut antara lain :

 Ganjaran ialah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang
dari suatu hubungan. Ganjaran berupa uang, penerimaan sosial atau
dukungan terhadap nilai yang dipegangnya. Nilai suatu ganjaran berbeda-
beda antara seseorang dengan yang lain, dan berlainan antara waktu yang
satu dengan waktu yang lain. Buat orang kaya mungkin penerimaan sosial
lebih berharga daripada uang. Buat si miskin, hubungan interpersonal yang
dapat mengatasi kesulitan ekonominya lebih memberikan ganjaran
daripada hubungan yang menambah pengetahuan.

 Biaya adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu
hubungan. Biaya itu dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan
keruntuhan harga diri dan kondisi-kondisi lain yang dapat menghabiskan
sumber kekayaan individu atau dapat menimbulkan efek-efek yang tidak
menyenangkan. Seperti ganjaran, biaya pun berubah-ubah sesuai dengan
waktu dan orang yang terlibat di dalamnya.

 Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Bila seorang individu
6
merasa, dalam suatu hubungan interpersonal, bahwa ia tidak memperoleh
laba sama sekali, ia akan mencari hubungan lain yang mendatangkan laba.
Misalnya, Anda mempunyai kawan yang pelit dan bodoh. Anda banyak
membantunya, tetapi hanya sekedar supaya persahabatan dengan dia tidak
putus. Bantuan Anda (biaya) ternyata lebih besar daripada nilai
persahabatan (ganjaran) yang Anda terima. Anda rugi. Menurut teori
6
pertukaran sosial, hubungan anda dengan sahabat pelit itu mudah sekali
retak dan digantikan dengan hubungan baru dengan orang lain.

4
Rakhmat, Jalaluddin. 1986. Psikologi Komunikasi. Bandung : CV Remadja Karya. Hal. 151.
 Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai
sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang.
Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada masa lalu atau
alternatif hubungan lain yang terbuka baginya. Bila pada masa lalu,
seorang individu mengalami hubungan interpersonal yang memuaskan,
tingkat perbandingannya turun.

4. Implementasi dalam proposisi komunikasi antar pribadi

Pribadi adalah individu yang berbeda satu dengan yang lainnya, perbedaan
tersebut menyebabkan orang menegebal individu secara khas dan
membedakannya dengan individu lainnya. Kualitas individu menentukan
kekhasannya dalam hubungannya dengan individu lain, dan kekhasan tersebut
akan menentukan kualitas komunikasinya. 5

a. Memahami Hubungan Antarpribadi hubungan antar-pribadi


Di dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, hubungan memainkan peran
penting dalam membentuk kehidupan masyarakat, terutama ketika hubungan antar
pribadi itu mampu memberi dorongan kepada orang tertentu yang berhubungan
7
dengan perasaan, pemahaman informasi, dukungan, dan berbagai bentuk
komunikasi yang mempengaruhi citra diri orang serta membantu orang untuk
memahami harapan-harapan orang lain.

b. Pertukaran sosial dalam proposisi komunikasi antar pribadi

5
Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi-Komunikasi : Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi
Komunikasi di Masyarakat. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Hal. 260.
Para tokoh teoritisasi pertukaran sosial (exchange theory) terutama George
C. Homans menujukkan bahwa terdapat lima bentuk dasar dan perilaku sosial
yang dapat dirumuskan dalam bentuk proposisi sebagai berikut:6
Proposisi yang pertama yang disebut dengan proposisi sukses, itu
mengungkapkan bahwa semakin sering suatu tindakan yang dilakukan oleh
seseorang itu mendatangkan manfaat/ganjaran/tanggapan positif dari orang lain,
maka semakin besar kemungkinan tindakan yang serupa akan dilakukan oleh
orang yang serupa. Misalnya, Setiap kali seorang anak sekolah memperoleh
peringkat yang memuaskan disekolahnya, adan atas prestasinya itu orang tuanya
memberi hadiah yang istimewa pada anaknya tersebut, maka si anak cenderung
akan berusaha mengulang suksesnya itu, yaitu berusaha memperoleh prestasi dan
peringkat yang tinggi agar memperoleh hadiah dari orang tuanya lagi.
Proposisi yang kedua disebut preposisi rangsangan/stimulus. Proposisi ini
berbunyi “Apabila pada masa lampau ada satu atau sejumlah rangsangan
didalamnya tindakan seseorang mendapat ganjaran, maka semakin rangsangan
yang ada menyerupai rangsangan masa lampau itu, maka semakin besar
kemungkinan bahwa orang tersebut akan melakukan tindakan yang sama”.
Maksudnya begini, misalnya saja anda memberi kesempatan kepada pengendara
mobil yang lain untuk berjalan lebih dahulu dan anda mengalah untuk bergerak
berikutnya. Orang yang anda beri kesempatan tersebut melambaikan tangannya
sebagai tanda terima kasih. Atas lambaian tangan tersebut anda merasakan nikmat
maka anda akan melakukan hal yang sama ketika anda menghadapi kejadian yang
8
serupa dengan kejadian yang dulu pernah anda lakukan kepada orang.
Proposisi yang ketiga disebut nilai. Proposisi ini berbunyi “ Semakin
tinggi nilai tindakan seseorang, maka semakin besar kemungkinan orang itu
melakukan tindakan yang sama”. Bila hadiah yang diberikan masing-masing
kepada orang lain amat bernilai, maka semakin besar kemungkinan aktor
8
melakukan tindakan yang dinginkan ketimbang jika hadiahnya tak bernilai. Disini
Homans memperkenalkan konsep hadiah dan hukuman. Hadiah adalah tindakan
dengan nilai positif, makin tinggi nilai hadiah, makin besar kemungkinan

6
Sutaryo. 2005. Sosiologi-Komunikasi. Yogyakarta : Arti Bumi Intaran. Hal. 12.
mendatangkan perilaku yang diinginkan. Sedangakan hukuman adalah hal yang
diperoleh karena tingkah laku yang negatif. Dalam pengamatannya, Homans
memperhatikan bahwa hukuman bukanlah merupakan cara yang efektif untuk
mengubah tingkah laku seseorang. Sebaliknya, orang akan terdorong untuk
melakukan sesuatu jika ia mendapat ganjaran.
Proposisi yang keempat disebut proposisi deprivasi-satiasi. Proposisi ini
berbunyi, ”Semakin sering seseorang menerima ganjaran yang istimewa bagi
tindakan yang dilakukannya, maka semakin kurang bermakna ganjaran-ganjaran
yang diterima berikutnya. Ambillah suatu misal, anda adalah seorang manajer
dalam perusahaan. Suatu hari anda melihat ada seorang karyawan bawahananda
yang sangat rajin. Anda memberi pujian kepadanya, karyawan anda itu pun
merasa senang karena bukan hanya sekedar memperoleh perlakuan baik anda
sebagai atasannya melainkn juga memperoleh pujian. Jadi harap anda ingat,
semakin sering anda memberi pujian kepadanya, maka sebenarnya, pujian-pujian
berikutnya itu sudah kurang bermakna.
Proposisi yang terakhir ini disebut sebagai proposisi persetujuan-
perlawanan. Dalam bagian ini ada dua proposisi yang berbeda. Proposisi yang
pertama berbunyi “ Bila tindakan seseorang tidak memperoleh ganjaran seperti
yang diharapkannya atau mendapat hukuman yang tidak diharapkannya, maka
semakin besar kemungkinana bahwa dia akan menjadi marah dan melakukan
tindakan yang agresif, dan tindakan agresif itu menjadi bernilai baginya.” Homans
9
memberikan contoh bahwa jika seseorang tidak mendapatkan nasihat yang dia
harapkan dari orang lain dan orang lain itu tidak mendapat pujian yang dia
harapkan maka keduanya akan menjadi marah. Proposisi yang kedua lebih bersifat
positif “ Apabila seseorang mendapat ganjaran yang diharapkannya, khususnya
ganjaran yang lebih besar dari pada yang diharapkannya, atau tidak mendapatkan 9

hukuman yang diperhitungkannya maka ia akan menjadi senang, lebih besar ia


akan melakukan hal-hal yang positif dan hasil dari tingkah laku yang demikian
adalah lebih bernilai baginya”. Misalnya, apabila seseorang mendapatkan nasihat
dari orang lain seperti yang diharapkannya dan orang lain itu mendapat pujian
seperti yang diharapkannya maka keduanya akan menjadi senang dan besar
kemungkinan yang satu menerima nasihat dan yang lainnya memberikan nasihat
yang lebih bermanfaat.

Demikianlah beberapa proposisi yang dirumuskan oleh George C. Homans


untuk menjelaskan teori pertukaran social. Pada akhirnya Homans memiliki
kesimpulan bahwa perilaku seseorang merupakan respon orang tersebut terhadap
stimuli yang dihadapinya dengan melalui proses berfikir. Paradigma ini
mempunyai asumsi bahwa manusia pada dasarnya merupakan makhluk pengejar
keuntungan.

BAB III
10

PENUTUP

A. Kesimpulan

Teori Pertukaran Sosial dari Thibault dan Kelley ini menganggap bahwa
bentuk dasar dari hubungan sosial adalah sebagai suatu transaksi dagang, dimana
orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu untuk
memenuhi kebutuhannya.
John Thibaut dan Harold Kelley menyatakan bahwa ”Setiap individu
secara sukarela memasuki dan tinggal didalam suatu hubungan hanya selama
hubungan itu cukup memuaskan dalam hal penghargaan dan pengorbanannya”.
Thibaut dan Kelley mendasarkan teori mereka pada dua konspetualisasi:
satu berfokus pada sifat dasar dari individu-individu dan satu lagi
mendeskripsikan hubungan antara dua orang. Asumsi yang pertama adalah
Asumsi Teori Pertukaran Sosial mengenai sifat dasar manusia
 Manusia mencari penghargaan dan menghindari hukuman
 Manusia adalah makhluk rasional
Asumsi yang kedua dari teori ini adalah Asumsi Teori mengenai sifat dasar dari
suatu hubungan
 Hubungan memiliki sifat saling ketergantungan
 Kehidupan berhubungan adalah sebuah proses

Ada empat Konsep yang mendasari teori ini, keempat konsep tersebut
adalah Ganjaran, Laba, Biaya, dan tingkat perbandingan. Ganjaran ialah setiap
akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Biaya
adalah akibat yang dinilai negatif yang terjadi dalam suatu hubungan. Hasil atau
laba adalah ganjaran dikurangi biaya. Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran
baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu
pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman individu pada
masa lalu atau alternatif hubungan lain yang terbuka baginya.

Teori Pertukaran Sosial ini memiliki lima bentuk dasar dan perilaku sosial
11
yang dapat dirumuskan dalam bentuk proposisi. Diantaranya adalah proposisi
sukses, proposisi stimulus, proposisi nilai, proposisi deprivasi-satiasi, dan yang
terakhir adalah proposisi persetujuan perlawanan.

B. SARAN

Setelah mempelajari makalah ini, kita jadi mengerti tentang analisis Teori
Pertukaran Sosial ini. Teori ini menggambarkan pada suatu tranksaksi dagang
yang lebih mementingkan untung dan rugi. Kita juga dapat mempelajari asumsi-
asumsi, konsep, dan proposisi yang mendasari teori ini.

Setelah mengerti dan memahami analisis Teori Pertukaran Sosial ini


diharapkan kita semua mampu menerapkan dan mempraktekkannya dalam
kehidupan sehari-hari sesuai dasar pemikiran teori ini, agar teori yang kita pelajari
saat ini tidak sia-sia dan bermanfaat untuk kita semua.

12
DAFTAR PUSTAKA

Bungin, Burhan. 2006. Sosiologi-Komunikasi : Teori, Paradigma, dan Diskursus


Teknologi Komunikasi di Masyarakat. Jakarta : Kencana Prenada Media
Group.

Rakhmat, Jalaluddin. 1986. Psikologi Komunikasi. Bandung : CV Remadja Karya


Sutaryo. 2005. Sosiologi-Komunikasi. Yogyakarta : Arti Bumi Intaran.

West, Richard dan Lynn H. Turner. 2009. Pengantar Teori Komunikasi Analisis
dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Humanika

13