Anda di halaman 1dari 16

STRATEGI MENGHADAPI PEMERIKSAAN PAJAK

MAKALAH

Diajukan kepada Dosen Matakuliah Tax Management


Endang Mahfudin, S.E.,M.M untuk memenuhi salah satu tugas Tax Management

Kelompok 9
Disusun oleh :
Anjas Dwi Surya Soleh 1441173404134
Wahidi 1441173404145
Tanti Julianti 1441173404197
Siti Jamilah 1441173404206
Megawati Harianja 1441173404222

6 AKB 4

PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SINGAPERBANGSA KARAWANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat serta hidayahnya,
sehingga kami sebagai penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun untuk
memenuhi salah satu tugas kelompok pada mata kuliah Tax Management “Strategi
Menghadapi Pemeriksaan Pajak”

Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan,


dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar
pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk
tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Pemeriksaan pajak pada dasarnya dilakukan untuk menguji kepatuhan pemenuhan


kewajiban perpajakan (tax compliance) dan untuk tujuan lain yang ditetapkan oleh Ditjen Pajak
berdasarkan ketentuan perpajakan yang berlaku.

Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penyusun hadapi namun
dengan semangat dan kerjasama penyusun dalam mengerjakan makalah ini dapat terselesaikan
tepat pada waktunya.

Penyusun sangat menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk
lebih baik dalam penulisan makalah selanjutnya.

Karawang, 20 April 2017

Penulis,
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang…………………………………………………………….…..1


1.2. Identifikasi Masalah……………………………………………………….…..2
1.3. Rumusan Masalah………………………………………………………….….2
1.4. Tujuan Makalah……………………………………………………………….3
1.5. Kegunaan Makalah……………………………………………………………3

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Pemeriksaan Pajak………………………………………………..4

2.2. Kriteria Pemeriksaan……………………………………………………….…5

2.3. Jenis Pemeriksaan………………………………………………………….…6

2.4. Ruang Lingkup Pemeriksaan………………………………………………....6

2.5. Ruang Lingkup Pemeriksaan untuk Tujuan Lain…………………………….7

2.6. Strategi Umum dalam menghadapi Pemeriksaan Pajak……………………...8

2.7. Hak dan Kewajiban Wajib Pajak…………………………………………….11

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan………………………………………………………………….13

3.2. Saran………………………………………………………………………...13

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………14
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tidak ada satu orangpun yang bisa lolos dari pemeriksaan pajak, semua wajib pajak
memiliki peluang yang sama untuk diperiksa. Mungkin tahun 2012 ini Surat Pemberitahuan
Pajak tidak diperiksa, tetapi bisa saja di tahun depannya SPT tersebut diperiksa. Belakangan
ini kita melihat banyak pemberitaan tentang temuan kasus korupsi pajak, termasuk kasus
penyelundupan pajak (tax evasion), yang nilainya tidak tanggung-tanggung. Hal ini juga
banyak terjadi di Negara-negara lain, baik di Negara maju, apalagi dinegara berkembang.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Di satu sisi system perpajakan kita terus mengalami
penyempurnaan, tapi selama peluang kolusi antara wajib pajak dan pemeriksa pajak masih
terbuka, wajib pajak nakal akan selalu mencari cara untuk menghindari pajak. Hal ini juga
menjadi factor micu yang mendorong Wajib Pajak untuk mencoba “mengakali”
pembukuannya.

Untuk kepentingan budgetir, otoritas pajak mengemban tugas berat meningkatkan


penerimaan dari sector pajak guna membiayai penyelenggaraan pemerintah serta
meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Akibatnya, sector pajak menjadi
yang palmh sering merefisi peraturan perpajakan untuk mendukung suksesnya kepentingan
tersebut.

Menurut pasal 1 Angka 25 UU Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan
Tata Cara Perpajakan, Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah
data, keterangan dan atau bukti, yang dilaksanakan secara objectif dan professional
berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan dan atau untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan undang-undang
pepajakan.

Untuk kepentingan budgetir, otoritas pajak mengemban tugas berat meningkatkan


penerimaan Negara dari sector pajak guna membiayai penyelenggaraan pemerintahan serta
meningkatkan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat. Akibatnya, sector pajak menjadi
sector yang paling sering merefisi peraturan perpajakan untuk mendukung suksesnya
kepentingan tersebut.
Pada umumnya, yang menjadi objek pemeriksaan pajak adalah Surat Pemberitahuan
(SPT) yang disampaikan oleh wwajib pajak. Pengisian surat pemberitahuan sendiri didasarkan
pada pembukuan yang diselenggarakan oleh wajib pajak. Oleh sebab itu, sangat penting bagi
wajib pajak untuk merapikan dan memutahirkan pembukuannya di Indonesia didasarkan pada
Standar Akuntansi Keuangan, namun untuk tujuan perpajakan perlu diadakan beberapa
penyesuaian atau koreksi fiscal sesuai dengan ketentuan perpajakan.

1.2. Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang makalah, maka masalah tersebut dapat diidentifikasi
sebagai berikut:

1. Kurangnya kesadaran bagi wajib pajak atas persiapan administrasi pembukuan yang
rapi.
2. Kurangnya kesadaran bagi wajib pajak untuk bersikap jujur dan transparan dalam
melaporkan hasil usahanya.
3. Masih rendahnya tingkat kinerja Pelaksanaan pembukuan di Indonesia didasarkan
pada Standar Akuntansi Keuangan sehingga perlu koreksi fiscal sesuai dengan
ketentuan perpajakan.

3.3. Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud pemeriksaan pajak dan tujuan pemeriksaan?
2. Apa saja yang menjadi Kriteria Pemeriksaan Pajak?
3. Apa saja Jenis Pemeriksaan Pajak?
4. Bagaimana Ruang Lingkup Pemeriksaan Pajak?
5. Bagaimana Lingkup Pemeriksaan untuk Tujuan lain?
6. Bagaimana Strategi Umum dalam menghadapi Pemeriksaan Pajak?
7. Bagaimana hak wajib pajak apabila dilakukan pemeriksaan dan kewajiban wajib
pajak apabila dilakukan pemeriksaan?
1.4 Tujuan Makalah

1. Untuk mengetahui pemeriksaan pajak dan tujuannya.


2. Untuk mengetahui Kriteria apa saja yang menjadi Pemeriksaan Pajak.
3. Untuk mengetahui Jenis pemeriksaan pajak.
4. Untuk Mengetahui Ruang Lingkup Pemeriksaan Pajak.
5. Untuk Mengetahui Strategi Umum dalam menghadapi Pemeriksaan Pajak.
6. Untuk mengetahui hak dan kewajiban wajib pajak apabila dilakukan pemeriksaan.

1.5. Kegunaan Makalah


Dari Pembahasan dan materi yang dibahas, maka penulis berharap kegunaan dari
makalah ini:

1. Kegunaan Bagi Penulis


Makalah ini merupakan sarana penerapan ilmu yang telah diperoleh selama belajar
dengan mengembangkan pengetahuan dan untuk memenuhi salah tugas pembelajaran.
2. Kegunaan Bagi Pembaca
Untuk mengetahui Strategi menghadapi Pemeriksaan Pajak dikalangan Masyarakat,
dan menambah wawasan mengenai Pemeriksaan Pajak.
3. Kegunaan Bagi Pihak-pihak yang berkepentingan
Strategi Menghadapi Pemeriksaan Pajak diharapkan dapat dipergunakan sebagai acuan
untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap wajib pajak.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Pemeriksaan Pajak

Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan,


dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar
pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk
tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Pemeriksaan pajak pada dasarnya dilakukan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban
perpajakan (tax compliance) dan untuk tujuan lain yang ditetapkan oleh Ditjen Pajak
berdasarkan ketentuan perpajakan yang berlaku.

Tujuan Pemeriksaan

Tujuan dilakukannya pemeriksaan adalah sebagai berikut:

A. Menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan:

a. SPT lebih bayar termasuk yang telah diberikan pengembalian pendahuluan pajak

b. SPT rugi

c. SPT tidak atau terlambat (melampaui jangka waktu yang ditetapkan dalam Surat
Teguran) disampaikan

d. Melakukan penggabungan, peleburan, pemekaran, likuidasi, pembubaran, atau akan


meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya; atau

e. Menyampaikan SPT yang memenuhi kriteria seleksi berdasarkan hasil analisis (risk
based selection) mengindikasikan adanya kewajiban perpajakan WP yang tidak
dipenuhi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.
B. Tujuan lain, yaitu:

a. Pemberian NPWP secara jabatan;

b. Penghapusan NPWP;

c. Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP) dan pencabutan PKP (baca juga: Registrasi
Ulang Pengusaha Kena Pajak);

d. Wajib Pajak mengajukan keberatan;

e. Pengumpulan bahan untuk penyusunan Norma Penghitungan Penghasilan Neto.

f. Pencocokan data dan/atau alat keterangan.

g. Penentuan Wajib Pajak berlokasi di daerah terpencil.

h. Penentuan satu atau lebih tempat terutang PPN.

i. Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak;

j. Penentuan saat mulai berproduksi sehubungan dengan fasilitas perpajakan dan/ atau;

k. Pemenuhan permintaan informasi dari negara mitra Perjanjian Penghindaran Pajak


Berganda

2.2. Kriteria Pemeriksaan

Kriteria pemeriksaan terdiri atas Pemeriksaan Rutin dan Pemeriksaan Khusus.


a) Pemeriksaan Rutin adalah pemeriksaan yang dilakukan terhadap wajib pajak
sehubungan dengan pemenuhan hak dan atau pelaksanaan kewajiban
perpajakannya atau karena diwajibkan oleh Undang-Undang KUP
b) Pemeriksaan Khusus adalah pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan hasil
analisis risiko (risk based selection) terhadap ketidakpatuhan wajib pajak.
Analisis risiko adalah kegiatan yang dilakukan untuk menilai tingkat
ketidakpatuahan wajib pajak yang dapat menimbulkan kerugian pada penerima pajak.
2.3. Jenis Pemeriksaan

Jenis Pemeriksaan terdiri atas Pemeriksaan Kantor dan Pemeriksaan Lapangan.


a) Pemeriksaan Kantor adalah pemeriksaan yang dilakukan dikantor Direktorat Jendral
Pajak.
b) Pemeriksaan Lapangan adalah pemeriksaan yang dilakukan di tempat kedudukan,
tempat kegiatan usaha atau pekerjaan bebas, tempat tinggal wajib pajak atau tempat
lain yang ditentukan oleh Direktur Jendral Pajak.

2.4. Ruang Lingkup Pemeriksaan

Ruang Lingkup Pemeriksaan terdiri atas semua jenis pajak (all taxes), PPh
Badan/Orang Pribadi, PPN,PPh Pemotongan dan Pemungutan, dan lain-lain, baik untuk satu
atau beberapa Masa Pajak, Bagian Tahun Pajak atau Pajak Tahunan, baik tahun-taun lalu
maupun tahun berjalan.

Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan wajib pajak


harus dilakukan dalam hal wajib pajak mengajukan pemohonan pengembalian kelebihan
pembayaran pajak.

Kalau dalam Keputusan Menteri Keuangan terdahulu (545/KMK.04/2000) jenis pemeriksaan


pajak dibedakan antara pemeriksaan lapangan dan pemeriksaan kantor, dan pemeriksaan
lapangan juga dibedakan antara pemeriksaan lengkap dan pemeriksaan sederhana lapangan,
maka di Keputusan Menteri Keuangan No. 199/PMK.03/2007 yang telah direvisidengan
Peraturan Menteri Keuangan No. 82/PMK.03/2011, jenis pemeriksaan lapangan pemeriksaan
kantor.

Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan wajib pajak


dapat dilakukan dengan kriteria dalam hal wajib pajak:

a. Menyampaikan Surat Pemberitahuan yang menyatakan lebih bayar, termasuk yang


telah diberikan pengembalian pendahuluan kelebihan pajak.
b. Menyampaikan Surat Pemberitahuanyang menyatakan rugi.
c. Tidak menyampaikan atau menyampaikan Surat Pemberitahuan tetapi melampaui
jangka waktu yang telah ditetapkan dalam Surat Teguran.
d. Melakukan penggabungan,peleburan,pemekaran,likuidasi,pembubaran, atau akan
meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.
e. Menyampaikan Surat Pemberitahuan yang memenuhi kriteria seleksi berdasarkan hasil
analisis risiko(risk based selection) mengindentifikasikan adanya kewajiban
perpajakan wajib pajak yang tidak dipenuhi sesuai undang-undang perpajakan.

2.5. Ruang Lingkup Pemeriksaan untuk Tujuan Lain

Ruang lingkup pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan


ketentuan undang-undang perpajakan dapat meliputi, penentuan, pencocokan, atau
pengumpulan materi yang berkaitan dengan tujuan pemeriksaan.

Pemeriksaan untuk tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan undang-


undang perpajakan, dilakukan dengan kriteria antara lain:

a. Pemberian Nomor Pokok Wajib Pajak secara jabatan.


b. Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak.
c. Pengukuhan atau pencabutan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak.
d. Wajib pajak mengajukan keberatan.
e. Pengumpulan bahan guna penyusunan Norma Perhitungan Penghasilan Neto
f. Pencocokan data dan atau alat keterangan.
g. Penentuan wajib pajak beralokasi didaerah terpencil.
h. Penentuan satu atau lebih tempat terutang Pajak Pertambahan Nilai.
i. Pemeriksaan dalam rangka penagihan pajak.
j. Penentuan saat produksi dimulai atau memperpanjang jangka waktu kompensasi
kerugian sehubungan dengan pemberian fasilitas perpajakan.
k. Memenuhi permintaan informasi dari Negara Mitra Perjanjian Penghindaran Pajak
Berganda.

Pemeriksaan untuk tujuan lain dengan kriteria sebagaimana dimaksud di atas


dapat dilakukan dengan sejenis Pemeriksaan Kantor atau Pemeriksaan Lapangan.
2.6. Strategi Umum dalam Menghadapi Pemeriksaan Pajak

Pemeriksaan pajak dilakukan dengan tujuan untuk menguji kepatuhan pemenuhan


kewajiban perpajakan dan untuk tujuan lain, berdasarkan undang-undang perpajakan. Berikut
ini beberapa tips menghadapi pemeriksaan pajak:
a. Bila terjadi kelebihan pajak, agar diajukan klaim atau restitusi pajak (pengembalian
kelebihan bayar) dan jangan merasa takut dengan pemeriksaan pajak, selama kita tidak
berbuat curang dan asalkan administrasi pembukuan kita dipelihara dengan rapi.
b. Pemeriksaan pajak tidak hanya didasarkan pada SPT. Walaupun laporan audit
memberikan opini wajar tanpa pengecualian, karena setelah memasukan SPT dapat saja
dilakukan pemeriksaan sederhana kantor selama 2 bulan.
c. Persiapkan pembukuan atau laporan keuangan yang rapi. Lakukan pembukuan
dengan baik, benar dan jujur. Tutup celah – celah kelemahan dalam pembukuan yang
bisa menimbulkan koreksi fiskal.
d. Membuat rekonsiliasi komersial fiscal sesuai aturan. Kita akan rugi jika tidak
membayar rekonsiliasi sesuai aturan, karena akan muncul koreksi yang dendanya
cukup besar.
e. Gunakan konsultan pajak sebagai mitra diskusi seputar perpajakan dan pada saat
diperiksa, karena konsultan pajak yang terdaftar dan bersertifikat dapat memberikan
masukan dalam menghadapi pemeriksaan pajak.
f. Menghindari penyelesaian dibawah tangan degan aparat pemeriksa pajak. Pemerintah
Dirjen Pajak tidak pernah mentoleransi prilaku semacam itu, kalau pun kita harus
membayar pajak karena ketidak tahuan dalam menerapkan peraturan, ajukan saya
permohonan penghapusan atau keringanan denda. Dirjen Pajak, sesuai dengan
kewenangan yang diberikan oleh undang-undang, pasti akan mengabulkan permohonan
kita berdasarkan rasa keadilan, bila bukti-bukti yang diajukan menguatkan hal itu.
g. Melakukan penelitian kembali atas pemenuhan kewajiban perpajakan yang selama ini
telah dilaksanakan (tax review). Apabila memang masih ditemukan adanya kesalahan
dalam melaksanakan kewajiban perpajakan tersebut, maka segera lakukan pembetulan
sebelum dilakukan pemeriksaan.
h. Menyiapkan sikap mental dan berpikir positif, bahwa pemeriksa pajak juga manusia
yang bisa berbuat salah dalam menjalankan tugasnya, sehingga tidak perlu ditakuti.
Jangan perlakukan pemeriksa sebagai musuh, tetapi sebagai mitra dan terbuka untuk
melakukan kompromi (dalam arti yang positif).
i. Selalu taat pajak dalam memenuhi hak dan kewajiban perpajakan, dengan cara
menghindari penggelapan atau penghindaran pajak dengan cara illegal (tax evasion).
Tindakan ini merupakan perbuatan kriminal karena menyalahi peraturan. Contoh kasus
penggelapan pajak antara lain:
1) Melaporkan omzet atau penjualan lebih kecil dari seharusnya.
2) Transaksi ekspor fiktif.
3) Pemalsuan dokumen keuangan perusahaan.
4) Menggelambungnya biaya perusahaan dengan membebankan biaya fiktif
5) Melakukan mark up nilai barang yang diimpor.

Perusahaan dapat memanfaatkan celah undang-undang perpajakan agar dapat


membayar pajak secara efisien tanpa menyalahi ketentuan.

a. Menyimpan semua dokumen perusahaan, minimal hingga masa kadaluarsa pajak.


b. Melakukan tax review untuk menguji apakah kita sudah memenuhi kewajiban
perpajakan.
c. Menguasai peraturan pajak dengan baik dengan cara mengupdate aturan pajak dan
aturan pemeriksaan pajak, terutama untuk digunakan dalam berargumentasi dalam
berkomunikasi dengan pemeriksa pajak dalam rangka melaksanakan Pembahasan
Akhir Hasil Pemeriksaan (Closing Conference), untuk mempertahankan besarnya pajak
yang sudah kita bayar, agar tidak harus membayar tambahan beban pajak lagi.
d. Merespon sikap dan perilaku pemeriksa pajak secara bijak agar tidak salah ucap atau
salah langkah, untuk menghindari sentiment negative pada saat pemeriksaan
berlangsung.
e. Jangan memberikan informasi secara sukarela (bila tidak diminta) kepada pemeriksa
pajak.
f. Belajar dari pengalaman buruk dimasa lalu untuk memahami bagaimana menerapkan
learning system yang benar agar kerugian besar dari pajak tidak terulang lagi di masa.
g. Pergunakan hak wajib pajak in the last minutes dengan sebaik-baiknya untuk pembelian
diri wajib pajak untuk hadir dalam Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan (PAHP) dan
menyampaikan tanggapan tertulis. Ajukan Surat Permohonan Pembahasan dengan Tim
Quality Assurance dalam hal masih terdapat perbedaan pendapat dalam Ri-salah PAHP
tersebut. Segeralah membuat Surat Sanggahan atas Surat Pemberitahuan Hasil
Pemeriksaan dengan Argumentasi yang tepat, jangan ditunda-tunda bila tidak
menyetujui sebagai atau seluruh hasil Pemeriksaan. Gagal dalam memaksimalkan
upaya wajib pajak dalam kesempatan terakhir tersebut akan berdampak pada pengenaan
tambahan pajak yang lebih besar yang harus dipikul oleh wajib pajak.
2.7. Hak dan Kewajiban Wajib Pajak apabila dilakukan Pemeriksaan

A. Hak Wajib Pajak Apabila Dilakukan Pemeriksaan

Dalam pelaksanaan Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban


perpajakan dengan jenis Pemeriksaan Lapangan, Wajib Pajak berhak:

1. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa


Pajak dan Surat Perintah Pemeriksaan.
2. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan pemberitahuan secara tertulis
sehubungan dengan pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan.
3. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan penjelasan tentang alasan dan
tujuan Pemeriksaan,
4. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Surat Tugas apabila susunan
Tim Pemeriksa Pajak mengalami perubahan.
5. Menerima Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan.
6. Menghadiri Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dalam jangka waktu yang telah
ditentukan.
7. Mengajukan permohonan untuk dilakukan pembahasan oleh Tim Pembahas, dalam hal
terdapat perbedaan pendapat antara Wajib Pajak dengan Pemeriksa Pajak dalam
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan; dan
8. Memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan Pemeriksaan oleh Pemeriksa
Pajak melalui pengisian formulir Kuesioner Pemeriksaan.
9. Mengajukan pengaduan apabila kerahasiaan usaha dibocorkan kepada pihak lain yang
tidak berhak.

- Dalam pelaksanaan Pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban


perpajakan dengan jenis Pemeriksaan Kantor, Wajib Pajak berhak :
1. Meminta Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Tanda Pengenal
Pemeriksa dan Surat Perintah Pemeriksaan.
2. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan penjelasan tentang alasan dan
tujuan Pemeriksaan.
3. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Surat Tugas apabila susunan
Pemeriksa Pajak mengalami pergantian.
4. Menerima Surat Pemberitahuan Hasil Pemeriksaan.
5. Menghadiri Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan dalam jangka waktu yang telah
ditentukan.
6. Mengajukan permohonan untuk dilakukan pembahasan oleh Tim Pembahas, dalam hal
terdapat perbedaan pendapat antara Wajib Pajak dengan Pemeriksa Pajak dalam
Pembahasan Akhir Hasil Pemeriksaan; dan
7. Memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan Pemeriksaan oleh Pemeriksa
Pajak melalui pengisian formulir Kuesioner Pemeriksaan.

- Dalam pelaksanaan Pemeriksaan untuk tujuan lain dengan jenis Pemeriksaan Lapangan,
Wajib Pajak berhak :
1. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa
Pajak dan Surat Perintah Pemeriksaan kepada WP pada waktu Pemeriksaan.
2. Meminta kepada Pemeriksaan Pajak untuk memberikan pemberitahuan secara tertulis
sehubungan dengan pelaksanaan Pemeriksaan Lapangan.
3. Meminta kepada Pemeriksaan Pajak untuk memberikan penjelasan tentang alasan dan
tujuan Pemeriksaan.
4. Meminta kepada Pemeriksaan Pajak untuk memperlihatkan Surat Tugas apabila
terdapat perubahan susunan Tim Pemeriksa Pajak dan atau.
5. Memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan Pemeriksaan oleh Pemeriksa
Pajak melalui pengisian formulir Kuesioner Pemeriksa.

- Dalam pelaksanaan Pemeriksaan untuk tujuan lain dengan jenis Pemeriksaan Kantor, Wajib
Pajak berhak :

1. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Tanda Pengenal Pemeriksa


Pajak dan Surat Perintah Pemeriksaan kepada WP pada waktu Pemeriksaan.
2. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memberikan penjelasan tentang alasan dan
tujuan Pemeriksaan.
3. Meminta kepada Pemeriksa Pajak untuk memperlihatkan Surat Tugas apabila terdapat
perubahan susunan Tim Pemeriksa Pajak dan/ atau.
4. Memberikan pendapat atau penilaian atas pelaksanaan Pemeriksaan oleh Pemeriksa
Pajak melalui pengisian formulir Kuesioner Pemeriksa.
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Pemeriksaan adalah serangkaian kegiatan menghimpun dan mengolah data, keterangan,


dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan profesional berdasarkan suatu standar
pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk
tujuan lain dalam rangka melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Pemeriksaan pajak pada dasarnya dilakukan untuk menguji kepatuhan pemenuhan


kewajiban perpajakan (tax compliance) dan untuk tujuan lain yang ditetapkan oleh Ditjen Pajak
berdasarkan ketentuan perpajakan yang berlaku.

3.2. Saran

Demikianlah yang dapat kami sajikan. Kritik dan saran yang kontruktif sangat kami
harapkan demi perbaikan selanjutnya. Semoga makalah ini menambah wawasan dan manfaat
bagi para pembaca.
DAFTAR PUSTAKA

Drs.Chairil Anwar Pohan,M.Si.,MBA. Manajemen Perpajakan Strategi Perencanaan Pajak


dan bisnis. Edisi Revisi 2013. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

http://www.pajak.go.id/content/pemeriksaan-pajak