Anda di halaman 1dari 21

HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL

MAKALAH
Disusun Untuk Melengkapi Salah Satu Persyaratan
Kelulusan Mata Kuliah Hukum Dagang

Oleh:
Randi Irham Akbar ( 010118348 )

Kelas IJ

(……………..….)
Dosen Mata kuliah:
Agus Satory,S.H.,M.H.
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya kepada kita, sehingga kami bisa menyelesaikan makalah dengan
tepat waktu, yang kami beri Judul “Hak Kekayaan Intelektual”.
Tujuan dari penyusunan makalah ini guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Hukum Dagang di Fakultas Hukum (FH) Program Studi Ilmu Hukum di Universitas Pakuan.
Dalam pengerjaan makalah ini melibatkan banyak pihak yang sangat membantu
dalam banyak hal. Oleh sebab itu, disini kami sebagai penulis ingin menyampaikan rasa
terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dan memberikan dukungan
untuk menyelesaikan makalah ini.

Bogor, 10 Oktober 2019

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ...........................................................................................i

DAFTAR ISI .........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN .........................................................................1

1.1 Latar Belakang .........................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ....................................................................2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................... .........3

2.1 Pengertian Hak Kekayaan Intelektual ……..............................3

2.2. Sejarah Hak Kekayaan Intelektual............................................5

BAB III PEMBAHASAN ...........................................................................8

3.1 Bidang - bidang didalam HKI beserta Dasar Hukumnya .........8

3.2 Jangka Waktu Perlindungan HKI .............................................9

3.3 Pelanggaran HKI di Indonesia..................................................11

BAB IV PENUTUP ......................................................................................17

4.1 Kesimpulan ...............................................................................17

4.2 Saran .........................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................................18

ii
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Di Era Globalisasi dan Era Modernisasi saat ini,telah banyak produk dan
ciptaan yang telah di perkenalkan kepada masyarakat dengan satu tujuan yaitu
memperkenalkan teknologi – teknologi atau karya – karya terbaru yang mereka
temukan kepada masyarakat.
Selain itu, dengan semakin banyaknya produk dan karya yang telah ada,
maka membanjirlah di ranah industry produk dan karya imitasi, alias palsu.
Produsen palsu ini dengan pandainya meniru karya asli atau original dan di
poles sedemikian rupa sehingga banyak orang yang tertipu.
Dengan bermodalkan produk dan karya asli yang sudah tenar, mereka
meniru lalu menjual produk dan karya dibawah satu nama tersebut.
Hal ini tentu bisa menurunkan citra bahkan merusak produk dan karya
asli tersebut, sehingga konsumen pun enggan untuk memakai atau membelinya
lagi.
Hukum pun sudah diberlakukan untuk mencegah hal demikian, seperti
diterbitkannya Hukum tentang HKI, namun maling tetap lebih pintar dari
korban, selalu ada kecolongan yang terjadi hingga barang palsu tersbut bisa di
selundupkan lalu di jual.
Oleh karena itu, didalam makalah ini akan dijelaskan apa itu HKI,apa
saja bagiannya, dan bagaiamana sepak terjangnya di Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah


1
1. Apa saja yang terdapat didalam HKI serta dasar Hukumnya
2. Berapa lamakah jangka waktu perindungan HKI ?
3. Bagaimana contoh pelanggaran HKI di Indonesia ?
4. Seperti apa upaya penegakan hukum atas HKI di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui definisi dari Hak Kekayaan Intelektual


2. Untuk mengetahui bagian – bagian dari HKI serta dasar Hukumnya
3. Untuk mengetahui jangka waktu perlindungan terhadap HKI
4. Untuk mengetahui kasus pelanggaran HKI di Indonesia
5. Untuk mengetahui upaya penegakan hukum atas HKI di Indonesia.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Hak Kekayaan Intelektual

Hak Kekayaan Intelektual (selanjutnya disingkat HKI) adalah


terjemahan resmi dari Intellectual Property Rights (IPR). Berdasarkan
substansinya, HKI berhubungan erat dengan benda tidak berwujud serta
melindungi karya intelektual yang lahir dari cipta, rasa dan karsa manusia.
WIPO (World Intellectual Property Organization), sebuah lembaga
internasional di bawah PBB yang menangani masalah HKI mendefenisikan
HKI sebagai “Kreasi yang dihasilkan dari pikiran manusia yang meliputi :
invensi, karya sastra, simbol, nama, citra dan desain yang digunakan di dalam
perdagangan.”
Hak Kekayaan Intelektual itu adalah hak kebendaan, hak atas sesuatu
benda yang bersumber dari hasil kerja otak, hasil kerja rasio. Hasil dari
pekerjaan rasio manusia yang menalar. Hasil kerjanya itu berupa benda
immaterial. Benda tidak berwujud.
Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual di dalam buku panduan
HKI menjelaskan bahwa Hak Kekayaan Intelektual atau yang disingkat “HKI”
atau akronim “HaKI”, adalah padanan kata yang biasa digunakan untuk
Intellectual Property Rights (IPR), yakni hak yang timbul bagi hasil olah pikir
otak yang menghasilkan suatu produk atau proses yang berguna untuk manusia.
Pada intinya HKI adalah hak untuk untuk menikmati secara ekonomis hasil dari
suatu kreatifitas intelektual. Objek yang diatur dalam HKI adalah karya-karya
yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia.
Apabila ditelusuri lebih mendalam, konsep Hak Kekayaan Intelektual
(HKI) meliputi
1. Hak milik hasil pemikiran (intelektual), melekat pada pemiliknya,
bersifat tetap dan ekslusif; dan
2. Hak yang diperoleh pihak lain atas izin dari pemilik, bersifat sementara.
Hasil kemampuan berpikir (intellectual) manusia merupakan ide yang
kemudian dijelmakan dalam bentuk Ciptaan atau Penemuan. Pada ide
tersebut melekat predikat intelektual yang bersifat abstrak.
Konsekuensinya, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) menjadi terpisah

3
dengan benda material bentuk jelmaannya. Hak Kekayaan Intelektual
(HKI) adalah kekayaan bagi pemiliknnya. Kekayaan tersebut dapat
dialihkan pemanfaatan atau penggunaannya kepada pihak lain, sehingga
pihak lain itu memperoleh manfaat dari Hak Kekayan Intelektual
tersebut. Hak pemanfaatan ini atau penggunaan ini disebut hak yang
diperoleh karena izin (lisensi) dari pemiliknya.
Hak Kekayaan Intelektual (HKI) merupakan sumber kekayaan material
bagi pemiliknya karena mempunyai nilai ekonomi. Dalam kegiatan industri dan
perdagangan, keuntungan ekonomi tidak hanya dapat dinikmati oleh pemilik,
melainkan juga oleh pihak lain. Nilai ekonomi tersebut mendorong ilmuwan
untuk berpikir terus-menerus guna menghasilkan Ciptaan atau Penemuan baru
yang mendatangkan keuntungan ekonomi. Makin meningkat kemampuan
berpikir dan mencipta, makin bertambah jumlah Hak Kekayaan Intelektual
(HKI), dan ini berarti makin banyak menghasilkan keuntungan ekonomi.

2.2 Sejarah Hak Kekayaan Intelektual


Secara historis, peraturan perundang-undangan di bidang HKI di Indonesia
telah ada sejak tahun 1840-an. Pemerintah Kolonial Belanda memperkenalkan undang-
undang pertama mengenai perlindungan HKI pada tahun 1844. Selanjutnya,
Pemerintah Belanda mengundangkan UU Merek (1885), UU Paten (1910), dan UU
Hak Cipta (1912).
Indonesia yang pada waktu itu masih bernama Netherlands East-Indies telah
menjadi anggota Paris Convention for the Protection of Industrial Property sejak tahun
1888 dan anggota Berne Convention for the Protection of Literary and Aristic Works
sejak tahun 1914. Pada jaman pendudukan Jepang yaitu tahun 1942 s.d. 1945, semua
peraturan perundang-undangan di bidang HKI tersebut tetap berlaku.
Pada tanggal 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia memproklamirkan
kemerdekaannya. Sebagaimana ditetapkan dalam ketentuan peralihan UUD 1945,
seluruh peraturan perundang-undangan peninggalan kolonial Belanda tetap berlaku
selama tidak bertentangan dengan UUD 1945. UU Hak Cipta dan UU peningggalan
Belanda tetap berlaku, namun tidak demikian halnya dengan UU Paten yang dianggap
bertentangan dengan pemerintah Indonesia. Sebagaimana ditetapkan dalam UU Paten
peninggalan Belanda, permohonan paten dapat diajukan di kantor paten yang berada

4
di Batavia ( sekarang Jakarta ), namun pemeriksaan atas permohonan paten tersebut
harus dilakukan di Octrooiraad yang berada di Belanda.
Pada tahun 1953 Menteri Kehakiman RI mengeluarkan pengumuman yang
merupakan perangkat peraturan nasional pertama yang mengatur tentang paten, yaitu
Pengumuman Menteri Kehakiman No. J.S. 5/41/4, yang mengatur tentang pengajuan
semetara permintaan paten dalam negeri, dan Pengumuman Menteri Kehakiman No.
J.G. 1/2/17 yang mengatur tentang pengajuan sementara permintaan paten luar negeri.

Pada tanggal 11 Oktober 1961 pemerintah RI mengundangkan UU No. 21 tahun


1961 tentang Merek Perusahaan dan Merek Perniagaan (UU Merek 1961) untuk
menggantikan UU Merek kolonial Belanda. UU Merek 1961 yang merupakan undang-
undang Indonesia pertama di bidang HKI. Berdasarkan pasal 24, UU No. 21 Th. 1961,
yang berbunyi "Undang-undang ini dapat disebut Undang-undang Merek 1961 dan
mulai berlaku satu bulan setelah undang-undang ini diundangkan". Undang-undang
tersebut mulai berlaku tanggal 11 November 1961. Penetapan UU Merek 1961
dimaksudkan untuk melindungi masyarakat dari barang-barang tiruan/bajakan. Saat
ini, setiap tanggal 11 November yang merupakan tanggal berlakunya UU No. 21 tahun
1961 juga telah ditetapkan sebagai Hari KI Nasional.
Pada tanggal 10 Mei1979 Indonesia meratifikasi Konvensi Paris [Paris
Convention for the Protection of Industrial Property (Stockholm Revision 1967)]
berdasarkan Keputusan Presiden No. 24 Tahun 1979. Partisipasi Indonesia dalam
Konvensi Paris saat itu belum penuh karena Indonesia membuat pengecualian
(reservasi) terhadap sejumlah ketentuan,yaitu Pasal 1 s.d. 12, dan Pasal 28 ayat (1).
Pada tanggal 12 April 1982 Pemerintah mengesahkan UU No.6 tahun 1982
tentang Hak Cipta ( UU Hak Cipta 1982) untuk menggantikan UU Hak Cipta
peninggalan Belanda. Pengesahan UU Hak Cipta 1982 dimaksudkan untuk mendorong
dan melindungi penciptaan, penyebarluasan hasil kebudayaan di bidang karya ilmu,
seni dan sastra serta mempercepat pertumbuhan kecerdasan kehidupan bangsa.
Tahun 1986 dapat disebut sebagai awal era modern sistem HKI di tanah air.
Pada tanggal 23 Juli 1986 Presiden RI membentuk sebuah tim khusus di bidang HKI
melalui Keputusan No. 34/1986 (Tim ini lebih dikenal dengan sebutan Tim Keppres
34). Tugas utama Tim Keppres 34 adalah mencangkup penyusunan kebijakan nasional
di bidang HKI, perancangan peraturan perundang-undangan di bidang HKI dan
sosialisasi sistem HKI di kalangan instansi pemerintah terkait, aparat penegak hukum

5
dan masyarakat luas. Tim Keppres 34 selanjutnya membuat sejumlah terobosan, antara
lain dengan mengambil inisiatif baru dalam menangani perdebatan nasional tentang
perlunya sistem paten di tanah air. Setelah Tim Keppres 34 merevisi kembali RUU
Paten yang telah diselesaikan pada tahun 1982, akhirnya pada tahun 1989 Pemerintah
mengesahkan UU Paten.
Pada tanggal 19 September 1987 Pemerintah RI mengesahkan UU No. 7 tahun
1987 sebagai perubahan atas UU No. 12 tahun 1982 tentang Hak Cipta. Dalam
penjelasan UU No. 7 tahun 1987 secara jelas dinyatakan bahwa perubahan atas UU
No. 12 tahun 1982 dilakukan karena semakin meningkatnya pelanggaran hak cipta
yang dapat membahayakan kehidupan sosial dan menghancurkan kreativitas
masyarakat.
Menyusuli pengesahan UU No. 7 tahun 1987 Pemerintah Indonesia
menandatangani sejumlah kesepakatan bilateral di bidang hak cipta sebagai
pelaksanaan dari UU tersebut.
Pada tahun 1988 berdasarkan Keputusan Presiden No. 32 di tetapkan
pembentukan Direktorat Jendral Hak Cipta, Paten dan Merek (DJ HCPM) untuk
mengambil alih fungsi dan tugas Direktorat Paten dan Hak Cipta yang merupakan salah
satu unit eselon II di lingkungan Direktorat Jendral Hukum dan Perundang-undangan,
Departemen Kehakiman.
Pada tanggal 13 Oktober 1989 Dewan Perwakilan Rakyat menyetujui RUU
tentang Paten, yang selanjutnya disahkan menjadi UU No. 6 tahun 1989 (UU Paten
1989) oleh Presiden RI pada tanggal 1 November 1989. UU Paten 1989 mulai berlaku
tanggal 1 Agustus 1991. Pengesahan UU Paten 1989 mengakhiri perdebatan panjang
tentang seberapa pentingnya sistem paten dan manfaatnya bagi bangsa Indonesia.
Sebagaimana dinyatakan dalam pertimbangan UU Paten 1989, perangkat hukum di
bidang paten diperlukan untuk memberikan perlindungan hukum dan mewujudkan
suatu iklim yang lebih baik bagi kegiatan penemuan teknologi. Hal ini disebabkan
karena dalam pembangunan nasional secara umum dan khususnya di sektor indusri,
teknologi memiliki peranan sangat penting. Pengesahan UU Paten 1989 juga
dimaksudkan untuk menarik investasi asing dan mempermudah masuknya teknologi
ke dalam negeri. Namun demikian, ditegaskan pula bahwa upaya untuk
mengembangkan sistem KI, termasuk paten, di Indonesia tidaklah semata-mata karena
tekanan dunia internasional, namun juga karena kebutuhan nasional untuk
menciptakan suatu sistem perlindungan HKI yang efektif.

6
Pada tanggal 28 Agustus 1992 Pemerintah RI mengesahkan UU No. 19 tahun
1992 tentang Merek (UU Merek 1992), yang mulai berlaku tanggal 1 April 1993. UU
Merek 1992 menggantikan UU Merek 1961. Pada tanggal 15 April 1994 Pemerintah
RI menandatangani Final Act Embodying the Result of the Uruguay Round of
Multilateral Trade Negotiations, yang mencakup Agreement on Trade Related Aspects
of Intellectual Property Rights(Persetujuan TRIPS).
Tiga tahun kemudian, pada tahun 1997 Pemerintah RI merevisi perangkat
peraturan perundang-undangan di bidang KI, yaitu UU Hak Cipta 1987 jo. UU No. 6
tahun 1982, UU Paten 1989, dan UU Merek 1992.
Di penghujung tahun 2000, disahkan tiga UU baru di bidang KI, yaitu UU No.
30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang, UU No. 31 tahun 2000 tentang Desain Industri
dan UU No 32 Tahun 2000 tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu.
Dalam upaya untuk menyelaraskan semua peraturan perundang-undangan di
bidang KI dengan Persetujuan TRIPS, pada tahun 2001 Pemerintah Indonesia
mengesahkan UU No. 14 tahun 2001 tentang Paten, dan UU No. 15 tahun 2001 tentang
Merek. Kedua UU ini menggantikan UU yang lama di bidang terkait. Pada pertengahan
tahun 2002 tentang Hak Cipta yang menggantikan UU yang lama dan berlaku efektif
satu tahun sejak diundangkannya

BAB III
PEMBAHASAN

7
3.1 Bidang - bidang didalam HKI beserta Dasar Hukumnya

1. Hak Cipta (copyright);


Yaitu hak khusus bagi pencipta maupun penerima hak untuk
mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya maupun memberi izin
untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasan-pembatasan menurut
peraturan perundang-undangan yang berlaku
Adapun Dasar Hukum yang digunakan yakni diatur dalam Undang-
undang No. 6 tahun 1982 tentang Hak Cipta , kemudian diubah menjadi UU
No. 7 tahun 1987, dan diubah lagi menjadi UU No. 12 1987 beserta
peraturan pelaksanaannya.

2. Hak kekayaan industri (industrial property rights), yang mencakup:


a. Paten
Yaitu hak eksklusif yang diberikan negara bagi pencipta di
bidang teknologi. Hak ini memiliki jangka waktu (usia sekitar 20
tahun sejak dikeluarkan), setelah itu habis masa berlaku patennya.
Adapun Dasar Hukumnya Yakni Undang-Undang Nomor 14
Tahun 2001 Tentang Paten
b. Merk dagang,
Yaitu hasil karya, atau sekumpulan huruf, angka, atau gambar
sebagai daya pembeda yang digunakan oleh individu atau badan
hukum dari keluaran pihak lain.
Adapun Dasar Hukumnya Yakni Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2001 Tentang Merek
c. Hak desain industri,
Yakni perlindungan terhadap kreasi dua atau tiga dimensi yang
memiliki nilai estetis untuk suatu rancangan dan spesifikasi suatu
proses industri
Adapun Dasar Hukumnya Yakni Undang-Undang Nomor 31
Tahun 2000 tentang Desain Industri

8
d. Hak desain tata letak sirkuit terpadu (integrated circuit),
Yakni perlindungan hak atas rancangan tata letak di dalam
sirkuit terpadu, yang merupakan komponen elektronik yang
diminiaturisasi.
Adapun Dasar Hukumnya Yakni Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu
e. Rahasia dagang,
Yakni merupakan rahasia yang dimiliki oleh suatu perusahaan
atau individu dalam proses produksi

Adapun dasar hukumnya yakni undangundang republik


indonesia nomor 30 tahun 2000 tentang rahasia dagang

f. Varietas tanaman.

Perlindungan Varietas Tanaman (PVT) adalah perlindungan


khusus yang diberikan Negara, yang dalam hal ini diwakili oleh
Pemerintah dan pelaksanaannya dilakukan oleh kantor PVT,
terhadap varietas tanaman yang dihasilkan oleh pemulia tanaman
melalui kegiatan pemuliaan tanaman.

Adapun dasar hukumnya yakni Undang-Undang Nomor 29


Tahun 2000 Tentang Perlindungan Varietas Tanaman

3.2 Jangka Waktu Perlindungan HKI


1. Hak Cipta
ciptaan yang sifatnya asli atau orisini, jangka waktu
perlindungan hukum diberikan untuk selama seumur hidup pencipta di
tambah 50 tahun setelah pencipta meninggal. Jika kepemilikan ciptaan-
ciptaan tersebut diatas dimiliki oleh dua orang atau lebih, hak cipta dapat
berlaku selama hidup pencipta yang meninggal dunia paling akhir dan
berlangsung hingga 50 tahun setelahnya

9
jika ciptaan-ciptaan yang bersifat turunan (derivatif), jangka
waktu perlindungan hukum hak cipta hanya berlaku 50 tahun untuk
orang perorangan maupun badan hukum sejak ciptaan yang
bersangkutan pertama kali diumumkan

sedangkan jika Ciptaan-ciptaan yang dimaksud adalah hasil


kebudayaan rakyat yang menjadi milik bersama, seperti : cerita rakyat,
dongeng dll, maka jangka waktu perlindungan hukum hak cipta yang
berlaku tanpa batas waktu

2. Hak kekayaan Industri


a. Paten

Diberikan jangka waktu selama 20 (dua puluh) tahun terhitung

sejak tanggal penerimaan dan jangka waktu itu tidak dapat

diperpanjang

b. Merk Dagang

Diberikan jangka waktu selama 10 (sepuluh) tahun sejak tanggal

penerimaan dan jangka waktu perlindungan itu dapat

diperpanjang

c. desain industry

Perlindungan terhadap Hak Desain Industri diberikan untuk

jangka waktu 10 (sepuluh) tahun terhitung sejak Tanggal

Penerimaan.

d. desain tata letak sirkuit terpadu (integrated circuit),

Perlindungan desain tata letak sirkuit terpadu diberikan selama

10 (sepuluh) tahun.

e. Rahasia dagang

10
Jangka waktu untuk hak rahasia dagang tidak terbatas, sepanjang

rahasia itu dipegang oleh pemiliknya.

f. Varietas tanaman

Jangka waktu perlindungan PVT adalah 20 tahun untuk tanaman

semusim dan 25 tahun untuk tanaman tahunan

3.3 Pelanggaran HKI di Indonesia


Banyak sekali pelanggaran HKI di Indonesia, salah satunya yakni :
1. Merek DUNKIN’ DONATS VS DONATS’ DONUTS di Yogyakarta
Merek DUNKIN’ DONUTS milik DUNKIN’ DONUTS INC.,
USA, telah terdaftar di banyak negara di dunia, termasuk di Indonesia
Merek DUNKIN’ DONUTS, antara lain terdaftar untuk jenis-jenis jasa
restoran (kelas 42), dan untuk produk-produk makanan (kelas 30).
Kalau kita memperhatikan gambar dari restoran DONATS’
DONUTS, maka kita akan melihat adanya bentuk-bentuk pelanggaran
sebagai berikut.

Bentuk pelanggaran :

Adanya persamaan pada pokoknya dalam bentuk tulisan, bentuk


huruf dan kombinasi warna (pink dan oranye) antara merek DONAT’s
DONUTS yang dipergunakan sebagai mana restoran (merek jasa)
dengan bentuk tulisan dan kombinasi warna dengan merek DUNKIN’
DONUTS.

Merek DONATS’ DONUTS yang memiliki persamaan dalam


bentuk tulisan dan kombinasi warna dengan merek DUNKIN’
DONUTS, ternyata juga digunakan pada kotak kemasan makanan, dan
minuman.

Penggunaan merek DONATS’ DONUTS yang dalam bentuk


tulisan dan kombinasi warna memiliki kesamaan dengan merek

11
DUNKIN’ DONUTS, dapat menimbulkan kekacauan tentang asal usul
barang dan dapat berpengaruh terhadap nama baik DUNKIN’ DONUTS
INC. selaku pemilik merek yang sah;

2. Kasus sengketa sepeda motor Tossa Krisma dengan Honda Karisma

Kasus ini berawal dari kesalahan penemu merek. Dilihat dengan


seksama antara Krisma dan Karisma memiliki penyebutan kata yang
sama. Tossa Krisma diproduksi oleh PT.Tossa Sakti, sedangkan Honda
Karisma diproduksi oleh PT.Astra Honda Motor. PT.Tossa Sakti tidak
dapat dibandingkan dengan PT.Astra Honda Motor (AHM), karena
PT.AHM perusahaan yang mampu memproduksi 1.000.000 unit sepeda
motor per tahun. Sedangkan PT.Tossa Sakti pada motor Tossa Krisma
tidak banyak konsumen yang mengetahuinya, tetapi perusahaan tersebut
berproduksi di kota-kota Jawa Tengah, dan hanya beberapa unit di
Jakarta.

Permasalahan kasus ini tidak ada hubungan dengan


pemroduksian, tetapi masalah penggunaan nama Karisma oleh
PT.AHM. Sang pemilik merek dagang Krisma (Gunawan Chandra),
mengajukan gugatan kepada PT.AHM atas merek tersebut ke jalur
hukum. Menurut beliau, PT.AHM telah menggunakan merek tersebut
dan tidak sesuai dengan yang terdaftar di Direktorat Merek Dirjen Hak
Kekayaan Intelektual Departemen Hukum dan HAM. Bahkan PT.AHM
diduga telah menggunakan merek tidak sesuai prosedur, karena aslinya
huru Karisma di desain dengan huruf balok dan berwarna hitam putih,
sedangkan PT.AHM memproduksi motor tersebut dengan tulisan huruf
sambung dengan desain huruf berwana.
Akhirnya permohonan Gunawan Chandra dikabulkan oleh hakim
Pengadilan Niaga Negeri.

Namun, PT.AHM tidak menerima keputusan dari hakim


pengadilan, bahkan mengajukan keberatan melalui kasasi ke Mahkamah
Agung. PT.AHM menuturkan bahwa sebelumnya Gunawan Chandra

12
merupakan pihak ketiga atas merek tersebut. Bahkan, beliau menjiplak
nama Krisma dari PT.AHM (Karisma) untuk sepeda motornya.

Setelah mendapat teguran, beliau membuat surat pernyataan


yang berisikan permintaan maaf dan pencabutan merek Krisma untuk
tidak digunakan kembali, namun kenyataannya sampai saat ini beliau
menggunakan merek tersebut.

Hasil dari persidangan tersebut, pihak PT.Tossa Sakti (Gunawan


Chandra) memenangkan kasus ini, sedangkan pihak PT.AHM merasa
kecewa karena pihak pengadilan tidak mempertimbangkan atas tuturan
yang disampaikan. Ternyata dibalik kasus ini terdapat ketidakadilan
bagi PT.AHM, yaitu masalah desain huruf pada Honda Karisma bahwa
pencipta dari desain dan seni lukis huruf tersebut tidak dilindungi
hukum.

Dari kasus tersebut, PT.AHM dikenakan pasal 61 dan 63


Undang-Undang No.15 Tahun 2001 tentang merek sebagai sarana
penyelundupan hukum. Sengketa terhadap merek ini terjadi dari tahun
2005 dan berakhir pada tahun 2011, hal ini menyebabkan penurunan
penjualan Honda Karisma dan pengaruh psikologis terhadap konsumen.
Kini, PT.AHM telah mencabut merek Karisma tersebut dan
menggantikan dengan desain baru yaitu Honda Supra X dengan bentuk
hampir serupa dengan Honda Karisma.

3.4 Upaya penegakan Hukum HKI di Indonesia


Hingga saat ini Pemerintah, dalam hal Ditjen HKI tidak ada henti – hentinya
melakukan berbagai upaya untuk mengurangi tingkat pelanggaran HKI
khususnya Hak Cipta. Diantaranya yaitu :

1. Dalam hal pendaftaran Karya Intelektual


Sistem pendaftaran paten,merek,desain industry,dan
desain tata letak sirkuit terpadu adalah Konstitutif, berarti wajib

13
diperlukan pendaftaran pada Direktorat Jenderal HKI untuk
memproleh perlindungan Hukum.
Pada saat ini pun, pendaftaran HKI dapat dilakukan pada
kantor – kantor wilayah Departemen Hukum dan Hak asasi
manusia dieluruh Provinsi. Tentu hal ini akan memudahkan
masyarakat untuk mengurus HKI mereka

2. Dalam hal Sosialisasi


Bermacam lapisan masyarakat, seperti kalangan
usaha,seniman,penasehat hukum,mahasiswa,aparat pemerintah
sendiri telah mengikuti pelatihan – pelatihan dan seminar tentang
HKI. Sosialisasi dilakukan diseluruh Indonesia dengan bekerja
sama dengan pihak – pihak lainnya dengan peserta bervariasi
pula. Diharapkan program ini dapat menumbuhkan sikap cepat
tanggap terhadap HKI, banyak yang belum mengetahui apa itu
HKI, setumpuk lembaran penelitian dibuat hanya untuk mejadi
suatu prasyarat untuk mendapatkan kenaikan pangkat atau
kelulusan, tanpa mereka sadari potensi yang besar yang ada pada
penelitian tersebut.

3. Dalam hal koordinasi/kerjasama dengan instansi – instansi


Ditjen HKI melakukan koordinasi secara insentif dengan
aparat penegak hukum seperti : Kepolisian, Kejaksaan,
Kehakiman, Bea Cukai, dan instansi terkait lainnya agar lebih
terkoordinasi dalam menangani penegakan hukum di bidang
HKI

Selain hal diatas, upaya hukum berupa penegakan dengan sanksi tersebut
sudah dilakukan di Indonesia sampaai saat ini, antara lain sebagai berikut :

1. Pemegang hak memakai upaya hukum perdata untuk menuntut


pelanggar, karena mengingkari perjanjian misalnya.
2. Pemegang hak melaksanakan haknya dengan hukum pidana,
misalnya terhadap orang yang menjiplak HAKI-nya.

14
3. Polisi sebagai lembaga negara, memeriksa dan melaksanakan
tuduhan pidana.
4. Bea cukai memeriksa tuduhan pidana atau perdata dan menjatuhkan
sanksi administratif.
5. Pemegang hak asing mengajukan keberatan kepada pemerintahnya
tentang pelanggaran HAKI di negara lain.
6. Pemegang hak lokal mengajukan keberatan kepada pemerintah atau
pemerintah asing.

Perjanjian TRIPs mewajibkan negara yang sudah menandatanganinya,


termasuk Indonesia, untuk memberikan informasi terperinci kepada WTO
tentang serangkaian bidang hukum yang berkaitan dengan HAKI, salah satunya
adalah bidang penegakan hukum. Misalnya antara lain : Pengadilan mana yang
berhak mengadili masalah HAKI, siapa yang berhak mengajukan gugatan,
bagaimana dia diwakili, apakah penggugat harus hadir di persidangan, upaya
hukum apa yang dilakukan untuk melindungi informasi rahasia sebagai barang
bukti, pasal-pasal mana yang memberikan kekebalan hukum kepada tergugat
jika dituntut atas dasar hukum yang tidak ada, pasal-pasal mana yang mengatur
tentang jangka waktu dan ongkos perkara di pengadilan HAKI

Informasi-informasi diatas menunjukkan bahwa hukum Indonesia


berhubungan dengan penegakan HAKI cukup baik, paling tidak secara teoritis.
Walaupun pada kenyataannya seringkali sulit menegakkan HAKI di Indonesia.
Kepolisian jarang mempunyai waktu untuk menyidik kasus pembajakan HAKI
karena konsentrasi mereka sudah habis untuk menangani kejahatan yang lain.
Dari segi Hakim pun dinilai oleh pemilik HAKI kurang tegas dalam
menghukum para pelanggar.

Untuk itu diperlukan beberapa terobosan untuk menanggulangi keterbatasan


dalam penegakan HAKI di Indonesia, paling tidak mendekati tujuan HAKI itu
sendiri, adalah sebagai berikut:
1. Adanya perbedaan antara kasus pidana dan perdata yang dapat
dirumuskan secara cepat dan efisien, sehingga polisi dan jaksa dapat

15
lebih leluasa memeriksa kasus yang sifatnya kriminal murni, seperti
pencurian HAKI.

2. Adanya pembaruan di bidang hukum perdata. Proses peradilan


HAKI yang panjang dan memakan waktu lama sangat tidak
menguntungkan, kalau pelanggaran tidak segera dihentikan maka
pemilik HAKI akan mengalami kerugian yang tidak sedikit.
Pengenalan upaya hukum yang baru, seperti adanya putusan sela
dapat diberikan sebelum persidangan pokok dimulai seperti di
Australia, dapat memberikan solusi yang memungkinkan Hakim
dapat memutus secara cepat dan efektif. Jika upaya hukum ini bisa
berjalan, maka pihak pemilik/organisasi lebih percaya diri dalam
melaksanakan haknya. Mereka akan menyelesaikan masalahnya
sendiri, sehingga sumber daya negara (seperti kepolisian) akan
jarang digunakan dan dapat digunakan untuk kepentingan umum.

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

16
Hak Kekayaan Intelektual, disingkat “HKI” atau akronim “HaKI”, adalah
padanan kata yang biasa digunakan untuk Intellectual Property Rights (IPR), yakni hak
yang timbul bagi hasil olah pikir yang menghasikan suatu produk atau proses yang
berguna untuk manusia pada intinya HKI adalah hak untuk menikmati secara ekonomis
hasil dari suatu kreativitas intelektual. Objek yang diatur dalam HKI adalah karya-karya
yang timbul atau lahir karena kemampuan intelektual manusia.
Telah banyak terjadi kasus – kasus tentang pelanggaran HKI yang terjadi di
Indonesia sampai saat ini namun di balik itu, upaya pencegahan dan penaggulangan
pun trus dilakukan leh berbagai pihak yang berwenang.
Sebagai masyarakat kritis, kita harus turut pula membantu untuk pencegahan
pelanggaran HKI, bias dengan cara mengikuti sosialisai yang berkaitan dengan HKI
agar mengetahui dengan jelas, setelah itu bisa kita memberitahu kan juga kepada
masyarakat yang lain tentang HKI

B. Kritik dan Saran


Pembuatan makalah ini dibuat dengan maksud untuk memenuhi tugas mata
kuliah Aspek Hukum Dalam Informasi. Pemakalah menyadari bahwa penyusunan
makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Ibarat Pepatah mengatakan “Tak ada
gading yang tak retak”, manusia tak luput dari salah dan lupa dan kesempurnaan hanya
milik Allah SWT. Oleh karena itu, kami siap untuk diberikan kritik yang tentunya
kritikan yang membangun dan positif, juga diikuti dengan saran yang positif pula.

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku
1. Kitab Undang Hukum Perdata (KUHP)

B. Situs Internet
17
1. http://www.kompasiana.com/bayuharyo/hak-kekayaan-industri-dalam-ranah-
hki_55546d266523bd90144aefd4
2. https://id.wikipedia.org/wiki/Hak_cipta_di_Indonesia
3. http://hukum.unsrat.ac.id/uu/kuhpidana.htm

18