Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

OBSERVASI PENGAJAR MATA PELAJARAN FISIKA


Dosen Pengampu : Suprihatin, M. Ed
( NIP. 197605112009122001 )
Disusun Oleh : Afifa Lutfiah Rahmawati (1302618009)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pendidikan telah menjadi unsur vital dalam kehidupan di era pesatnya


perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini, sehingga pendidikan
menjadi suatu kebutuhan di kalangan masyarakat. Ketika kita membicarakan
tentang pendidikan yang telah menjadi unsur vital dan suatu kebutuhan bagi
masyarakat kita merasa bahwa kita sedang membicarakan permasalahan yang
kompleks dan sangat luas. Mulai dari masalah peserta didik, pendidik/guru,
manajemen pendidikan, kurikulum, fasilitas, proses belajar mengajar, dan lain
sebagainya. Permasalahn yang muncul dalam pendidikan adalah bentuk akibat
dari perubahan paradigma dunia pendidikan yang berusaha berjalan selaras
dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Salah satu masalah yang banyak dihadapi dalam dunia pendidikan kita
adalah lemahnya kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan tenaga
pendidik di instansi pendidikan. Dalam proses pembelajaran di kelas peserta
didik cenderung diarahkan kepada kemampuan untuk menghafal informasi.
Padahal menurut Suwarna (2005:119) dalam bukunya mengatakan bahwa
dalam pandangan constructivism, otak anak pada dasarnya tidak seperti gelas
kosong yang siap diisi dengan air sehingga informasi berasal dari pikiran
guru. Otak anak tidaklah kosong, melainkan berisi pengetahuan-pengetahuan
yang telah dikonstruksikan anak sendiri sewaktu anak berinteraksi dengan
lingkungan atau peristiwa yang dialaminya. Meskipun beberapa pengetahuan
yang dikonstruksikan anak ini cenderung miskonsepsi (salah pemahaman),
namun bagi anak pengetahuan ini cukup masuk akal. Maka otak anak sebagai
peserta didik yang dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai
informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya dengan
menghubungkannya ke dalam kehidupan sehari-hari akan berakibat peserta
didik yang hanya pintar secara teoritis, akan tetapi miskin aplikasi.

Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dijelaskan bahwa Pendidikan


nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, tujuannya adalah untuk mengembangkan potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. ( UU
Sisdiknas , 2003). Sesuai fungsi pendidikan nasional tersebut terletak juga
tanggung jawab seorang pendidik untuk mampu mewujudkannya melalui
pelaksanaan proses pembelajaran memiliki mutu dan kualitas. Salah satu
strategi yang dapat dipergunakan guru untuk memperbaiki mutu dan kualitas
proses pembelajaran adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran
Contextual Teaching and Learning ( CTL ).

Oleh sebab itu, penulis melakukan observasi terhadap salah satu tenaga
pendidik yaitu dosen mata kuliah Fisika Modern, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan, Universitas Negeri Jakarta. Observasi yang dilakukan
adalah tentang bagaimana kegiatan belajar mengajar selama kelas mata kuliah
Fisika Modern

1.2 Perumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan strategi pembelajaran Kontekstual (CTL) ?


2. Apa perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensional ?
3. Bagaimana Pola dan Tahapan Pembelajaran CTL di Kelas?
4. Bagaimana kegiatan belajar mengajar selama kelas mata kuliah Fisika
Modern?
5. Apakah kegiatan belajar mengajar kelas mata kuliah Fisika Modern sudah
menggunakan stategi pembelajaran kontekstual (CTL)?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang strategi


Pembelajaran Kontekstual (CTL) dan mengidentifikasi strategi pembelajarn
apa yang digunakan selama proses pembelajaran kelas fisika modern di
Perguruan Tinggi Negeri
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pembelajaran Kontekstual (CTL)

Pada beberapa tahun terakhir ini pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan


pembelajaran yang banyak dibicarakan orang. Berbeda dengan strategi
pembelajaran lainnya Contextual Teaching and Learning (CTL) yang selanjutnya
oleh penulis dalam makalah ini disingkat CTL merupakan strategi yang melibatkan
peserta didik secara penuh dalam proses pembelajaran. Peserta didik didorong
untuk beraktivitas mempelajari materi pembelajaran sesuai dengan topik yang akan
dipelajarinya.

Menurut Elaine B Johnson (2002) Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah
:
......an educational process that aims to help students see meaning in
academic material they are studying by connecting academic subjects
with the context of their daily lives, that is, with context of their
personal, social, and cultural circumstance. To achieve this aims, the
system encompasses the following eight component: making
meaningful connections, doing significant work, self-regulated
learning, collaborating, critical and creative thinking, nurturing the
individual, reaching high standards, using authentic assesment.

Kutipan pengertian di atas menegaskan hakikat CTL yang dapat diringkas dalam 3
(tiga) kata yaitu makna, bermakna, dan dibermaknakan. Dengan merujuk pada 4
(empat) konsep kunci yang saling terkait, yaitu teaching (refleksi sistem
kepribadian sang guru yang bertindak secara profesional), learning (refleksi sistem
kepribadian peserta didik yang menunjukkan perilaku yang terkait dengan tugas
yang diberikan, instruction (sistem sosial tempat berlangsungnya mengajar dan
belajar ), dan curriculum (sistem sosial yang berujung pada rencana untuk
pengajaran ) maka dalam CTL guru berperan sebagai fasilitator tanpa henti
(reinforcing), yakni membantu peserta didik menemukan makna (pengetahuan).
Dalam penerapan CTL ada sejumlah strategi yang mesti ditempuh yaitu:

Pertama, pengajaran berbasis problem. Dengan memuculkan problem yang


dihadapi bersama, peserta didik ditantang untuk berfikir kritis untuk
memecahkannya. Problem seperti ini membawa makna personal dan sosial bagi
peserta didik.

Kedua, menggunakan konteks yang beragam. Makna itu ada di mana-mana dalam
konteks fisikal dan sosial. Guru membermaknakan pusparagam konteks (sekolah,
masyarakat, tempat kerja, dan sebagainya), sehingga makna (pengetahuan) yang
diperoleh peserta didik menjadi semakin berkualitas.

Ketiga, mempertimbangkan keberagaman peserta didik baik perbedaan individual


dan sosial. Guru mengayomi peserta didik dan meyakini bahwa keberagaman
dibermaknakan sebagai mesin penggerak untuk belajar saling menghormati dan
membangun toleransi.

Keempat, memberdayakan peserta didik untuk belajar sendiri. Peserta didik dilatih
untuk kritis dan kreatif dalam mencari dan menganalisis informasi dengan sedikit
bantuan atau malah secara mandiri.

Kelima, belajar melalui kolaborasi, Peserta didik dibiasakan saling belajar dari dan
dalam kelompok untuk berbagi pengetahuan dan menentukan fokus belajar.

Keenam, menggunakan penilaian autentik. Hal ini menunjukkan bahwa belajar telah
berlangsung secara terpadu dan kontekstual, dan memberi kesempatan kepada
peserta didik untuk maju terus sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Ketujuh, mengejar standar tinggi. Standar unggul sering dipersepsikan sebagai
jaminan, baik jaminan lulus, jaminan kerja, jaminan kepercayaan diri, jaminan
menentukan masa depan. Hal ini perlu didengungkan kepada peserta didik agar
menjadi manusia yang kompetitif pada abad persaingan dewas ini (Elaine B
Johnson : 2002)

Hampir serupa dengan pengertian CTL di atas. Wina Sanjaya (2006)


mengemukakan bahwa Contextual Teaching and Learning adalah suatu strategi
pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan peserta didik secara penuh
untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan
situasi kehidupan nyata sehingga mendorong peserta didik untuk dapat
menerapkannya dalam kehidupan mereka.

Dari konsep tersebut ada 3 (tiga) hal yang harus difahami. Pertama, CTL akan
menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi,
artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung.
Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar peserta didik hanya
menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi
pelajaran. Kedua, CTL mendorong agar peserta didik dapat menemukan hubungan
antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya peserta didik
dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah
dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting agar materi yang dipelajari peserta
didik tertanam erat dalam memori peserta didik, sehingga tidak akan mudah
dilupakan. Ketiga, CTL mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya
dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan peserta didik
memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu
dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 (tujuh) asas. Asas-asas ini
yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan
CTL. Adapun 7 (tujuh) asas tersebut adalah :
1. Konstruktivisme, adalah proses membangun atau menyusun penge-tahuan
baru dalam struktur kognitif peserta didik berdasarkan pengalaman.
2. Inkuiri, adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan
penemuan melalui proses berfikir secara sistematis.
3. Bertanya (Questioning), adalah bertanya dan menjawab pertanyaan.
Bertanya dipandang sebagai refleksi keingintahuan setiap individu;
sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang
dalam berfikir.
4. Masyarakat Belajar ( Learning Community) adalah proses kerjasama
saling memberi dan menerima. Penerapannya dapat dilakukan dengan
menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Dalam hal tertentu
guru bisa mendatangkan orang-orang yang dianggap memiliki keahlian
khusus untuk memberikan atau membahas masalah tertentu sesuai
dengan materi pembelajaran.
5. Permodelan ( Modelling ), adalah proses pembelajaran dengan
memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap
peserta didik. Misalnya guru memberikan contoh kepada peserta didik,
atau peserta didik yang telah menguasai kemampuan tertentu
memberikan contoh kepada temannya di depan kelas.
6. Refleksi (reflection), adalah proses pengendapan pengalaman yang telah
dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-
kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya.
7. Penilaian nyata ( authentic assessment ) adalah proses yang dilakukan
dengan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan
belajar yang dilakukan peserta didik. Penilaian diperlukan untuk
mengetahui apakah peserta didik benar-benar belajar atau tidak, apakah
pengalaman belajar peserta didik memiliki pengaruh positif terhadap
perkembangan baik intelektual maupun mental peserta didik.

B. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensional

Terdapat beberapa perbedaan pokok antara CTL dengan pembelajaran konvensional


yang berlaku selama ini. Perbedaan tersebut antara lain :
1. CTL menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar, artinya peserta
didik berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara
menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran. Sedangkan dalam
pembelajaran konvensional peserta didik ditempatkan sebagai obyek
belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.
2. Dalam pembelajaran CTL, peserta didik belajar melalui kegiatan
kelompok seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima dan
memberi. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional peserta didik
lebih banyak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan
menghafal materi pelajaran.
3. Dalam CTL, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara riil;
sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran bersifat
teoritis dan abstrak.
4. Dalam CTL, kemampuan didasarkan atas pengalaman; sedangkan dalam
pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan-
latihan.
5. Tujuan akhir proses pembelajaran melalui CTL adalah kepuasan diri;
sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tujuan akhir adalah nilai
atau angka.
6. Dalam CTL, tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri,
misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena menyadari
perilaku itu merugikan atau tidak bermanfaat; sedangkan dalam
pembelajaran konvensional, tindakan atau perilaku individu di dasarkan
oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu
disebabkan takut hukuman atau sekedar memperoleh nilai dari guru.
7. Dalam CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu
berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, sehingga
setiap peserta didik bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat
pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pembelajaran konvensional hal
ini tidak terjadi, karena kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan
final, oleh karena pengetahuan di konstruksi oleh orang lain.
8. Dalam pembelajaran CTL, peserta didik bertanggung jawab dalam
memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing;
sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu
jalannya proses pembelajaran.
9. Dalam pembelajaran CTL, pembelajaran bisa terjadi dimana saja dalam
konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan; sedangkan
dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi di dalam
kelas.
10. Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan
peserta didik, maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur
dengan berbagai cara, misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya
peserta didik, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain
sebagainya; sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan
hanya diukur dari tes.

C. Pola dan Tahapan Pembelajaran CTL di Kelas

Berdasarkan cirri tersebut Untuk lebih memahami bagaimana mengaplikasikan


CTL dalam proses pembelajaran di Perguruan Tinggi Negeri, maka terlebih dahulu
penyusun menyampaikan Pola pembelajaran CTL di kelas Perguruan Tinggi
Negeri.
Untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan guru dapat melakukan langkah
pembelajaran sebagai berikut :

1. Pendahuluan
a. Dosen menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari
proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan
dipelajari.
b. Dosen menjelaskan prosedur pembelajaran CTL misalnya :
1) Peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan
jumlah peserta didik;
2) Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi, misalnya
kelompok 1 dan 2 melakukan observasi ke obyek A, sedangkan 3
dan 4 melakukan observasi ke obyek B, dan seterusnya.
3) Melalui observasi peserta didik ditugaskan untuk mencatat
berbagai hal yang ditemukan dalam kegiatan observasi tersebut.
c. Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh
setiap peserta didik.
Lokasi pembelajaran : Di dalam Kelas
a. Peserta didik mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan
kelompoknya masing-masing.
b. Peserta didik melaporkan hasil diskusi
c. Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh
kelompok yang lain
3. Penutup
a. Dengan bantuan guru peserta didik menyimpulkan hasil observasi.
b. Guru menugaskan peserta didik untuk membuat tulisan atau
rangkuman mengenai hasil observasi mereka.
D. Hasil Observasi : Kegiatan Belajar Mengajar Selama Kelas Mata Kuliah Fisika
Modern

Pada makalah ini penulis akan menjelaskan tentang bagaiman kegiatan belajar
mengajar selama kelas mata kuliah fisika modern untuk tingkat pendidikan
Perguruan Tinggi Negeri semester 3 sebagai berikut :

1. Fisika Modern, semester 3

Nama Dosen : Fauzi Bakri

Mata Kuliah yang Diampu : Fisika Modern

Tanggal Observasi : 5 Desember 2019

Lokasi Observasi : Gedung Hasyim Asyari Lantai 3


Ruang 304

Standar Kompetensi Kompetensi Dasar


2. Pengantar Fisika Zat Padat 2.1. Mengenal sifat sifat zat padat
2.2 Susunan atom berkala
2.2. Struktur kristal

Contoh langkah pembelajarannya adalah :


a. Pendahuluan
1) Dosen menjelaskan standar kompetensi yang harus dicapai yaitu
Mengenal sifat sifat zat padat, Susunan atom berkala, Struktur
Kristal, dan manfaat mempelajari dan pentingnya materi pelajaran
yang akan dipelajari.
b. Inti
2) Dosen menjelaskan materi menggunakan bantuan power point dan e
learning
3) Dosen mengajukan sebuah permasalahan kepada mahasiswa sebagai
tolak ukur pemahaman terhadap materi yang telah diajarkan sebelum
melanjutkan ke materi berikutnya sebagai contoh:
Dosen memberikan pertanyaan apakah partikel zat padat selalu
bergerak? Sementara yang kita ketahui partikel penyusun zat padat
sangatlah rapat dan jika bergerak bagaimana pergerakannya?
Jawaban: partikel dalam zat padat selalu bergerak dan
pergerakannya akan semakin cepat pada suhu yang tinggi, misalnya
sendok yang dipanaskan akan dapat menghantarkan panas karena
partikelnya bergerak lebih cepa t(mertumbukan) untuk
menghantarkan panas

E. Apakah Kegiatan Belajar Mengajar Kelas Mata Kuliah Fisika Modern


Sudah Menggunakan Stategi Pembelajaran Kontekstual (CTL)?

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan kepada dosen mata kuliah


Fisika Modern Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pada pola
dan tahap yang seharusnya ada pada strategi pembelajaran dengan
kontekstual, penulis tidak mendapati hal tersebut pada saat melakukan
observasi di kelas. Ketika observasi penulis mengamati dan membandingkan
strategi pembelajaran menggunakan CTL dengan strategi pembelajaran yang
dosen gunakan. Selama proses pembelajaran, dosen menjelaskan langsung
kepada mahasiswa dan hanya melibatakan mahasiswa untuk menemukan
penyelesaian problem berdasarkan konsep tanpa menunjukkannya secara
langsung. Hal ini dikarenakan fisika memiliki konsep yang cukup abstrak
yang membuat beberapa materi cukup sulit untuk melibatkan keaktifan
mahasiswa secara langsung. Selama proses observasi, penulis mengamati
dan mencoba memahami tentang materi fisika zat padat yang berhubungan
dengan partikel. Penulis menyimpulkan bahwa materi tersebut memang
cukup sulit untuk dijelaskan dalam konsep yang riil karena partikel
berukuran sangat kecil.
BAB III

KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Dari penjabaran mengenai Contextual Teaching and Learning (CTL) di atas
dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah
suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan
peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari
dan menghubungkan dengan situasi nyata sehingga mendorong peserta
didik untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka.
2. CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses
berpengalaman dalam kehidupan nyata.
3. Selama proses pembelajaran, dosen menjelaskan langsung kepada
mahasiswa dan hanya melibatakan mahasiswa untuk menemukan
penyelesaian problem berdasarkan konsep tanpa menunjukkannya secara
langsung. Hal ini dikarenakan fisika memiliki konsep yang cukup abstrak
yang membuat beberapa materi cukup sulit untuk melibatkan keaktifan
mahasiswa secara langsung.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/12149834/Makalah_contextual_teaching_learning_CTL_

https://www.academia.edu/30526827/Contoh_Laporan_Observasi_Manajemen_Pendidik
an.docx