Anda di halaman 1dari 11

Pengertian Ekonomi Lingkungan

Ekonomi lingkungan adalah ilmu yang mempelajari tentang kegiatan


manusia dalam memanfaatkan lingkungan sedemikian rupa sehingga
fungsi/peranan lingkungan dapat dipertahankan atau bahkan dapat
ditingkatkan dalam penggunaannya untuk jangka panjang. Adapun yang
dimaksud dengan lingkungan hidup seperti yang dimaksud dalam Undang-
Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup No. 23/1997 adalah kesatuan ruang
dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhuk hidup, termasuk di
dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan
perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Sesungguhnya fungsi/peranan lingkungan yang utama adalah sebagai
sumber bahan mentah untuk diolah menjadi barang jadi atau untuk langsung
dikonsumsi, sebagai assimilator yaitu sebagai pengelola limbah secara alami,
dan sebagai sumber kesenangan (amenity).
Seiring berkembangnya waktu dan semakin meningkatnya
pembangunan demi meningkatkan kesejahteraan manusia, ternyata fungsi
atau peranan lingkungan telah menurun dari waktu ke waktu. Jumlah
bahan mentah yang dapat disediakan lingkungan alami telah semakin
berkurang dan menjadi langka. Kemampuan alam untuk mengelola limbah
juga semakin berkurang karena terlalu banyaknya limbah yang harus
ditampung melebihi daya tampung lingkungan, dan kemampuan alam
menyediakan kesenangan juga semakin berkurang karena banyak sumber
daya alam dan lingkungan yang telah diubah fungsinya atau karena
meningkatnya pencemaran (Suparmoko dan Suparmoko, 2000).
Penentuan Nilai (Valuation) Lingkungan
Penentuan nilai dari dampak lingkungan suatu kegiatan atas suatu
kebijakan sangat diperlukan khususnya dalam studi Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan (AMDAL). Dalam AMDAL ataupun studi mengenai
kelayakan dari suatu kegiatan atau kebijakan pertama kali harus diusahakan
untuk memperkirakan dampak fisik apa saja yang secara potensial akan
terjadi yang dapat meliputi dampak fisik-kimia, biologis, sosial ekonomi, dan
dampak terhadap kesehatan masyarakat. Dalam praktiknya studi AMDAL
masih belum sampai pada perkiraan nilai rupiah dari suatu dampak,
melainkan hanya sampai pada pernyataan apakah dampak itu penting atau
tidak. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 27 Tahun
1999 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup, kriteria
mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan terhadap
lingkungan hidup, antara lain:
1. jumlah manusia yang akan terkena dampak,
2. luas wilayah persebaran dampak,
3. intensitas dan lamanya dampak berlangsung,
4. banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena dampak,
5. sifat kumulatif dampak,
6. berbalik (reversible) atau tidak berbaliknya (irreversible) dampak.
Walaupun macam dampak penting itu telah diidentifikasikan secara
fisik, manfaat analisis akan semakin tinggi apabila semua dampak fisik itu
dapat dinyatakan dalam nilai uang (rupiah), oleh sebab itu diperlukan
adanya penilaian (valuation) terhadap dampak lingkungan tersebut
(Suparmoko dan Suparmoko, 2000).
Konsep Dasar Penilaian Lingkungan
Pada dasarnya nilai lingkungan terdiri dari dua kelompok yaitu nilai
ekonomi atas dasar penggunaan/pemanfaatan (instrumental value/use value)
dan nilai ekonomi atas dasar bukan penggunaan/pemanfaatan (intrinsic
value/non-use value). Nilai atas dasar penggunaan menunjukkan kemampuan
lingkungan apabila digunakan untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan nilai
atas dasar bukan penggunaan adalah nilai yang melekat pada lingkungan
tersebut. Atas dasar penggunaannya nilai itu dibedakan lagi menjadi nilai
atas dasar penggunaan langsung (direct use value), nilai penggunaan tidak
langsung (indirect use value), dan nilai atas dasar pilihan penggunaan (option
use value) dan nilai yang diwariskan (bequest value). Selanjutnya nilai atas
dasar bukan penggunaan juga dibedakan menjadi nilai atas dasar warisan dari
generasi sebelumnya (bequest value) dan nilai karena keberadaannya
(existence value) (Suparmoko dan Suparmoko, 2000).
Total Economic Value (TEV) dapat ditulis dengan persamaan
matematis
sebagai berikut:
TEV = UV + NUV
UV = DUV + IUV + OV
NUV = BV + EV
TEV = UV + NUV = (DUV + IUV + OV) + (BV + EV)
Dimana:
TEV = Total Economic Value (Nilai Ekonomi Total)
UV = Use Value (Nilai Penggunaan)
NUV = Non Use Value (Nilai Intrinsik)
DUV = Direct Use Value (Nilai Penggunaan Langsung)
IUV = Indirect Use Value (Nilai Penggunaan Tidak Langsung)
OV = Option Use Value (Nilai Pilihan)
BV = Bequest Value (Nilai Warisan/Kebanggaan)
EV = Existence Value (Nilai Keberadaan)

Manfaat Valuasi Ekonomi Peran valuasi ekonomi terhadap


pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan sangat penting dalam
penentuan suatu kebijakan pembangunan. Menurunnya kualitas sumber daya
alam dan lingkungan merupakan masalah ekonomi, sebab kemampuan
sumber daya alam tersebut menyediakan barang dan jasa menjadi semakin
berkurang, terutama pada sumber daya alam yang tidak dapat dikembalikan
seperti semula (irreversible). Oleh karena itu, kuantifikasi manfaat (benefit)
dan kerugian (cost) harus dilakukan agar proses pengambilan keputusan
dapat berjalan dengan memperhatikan aspek keadilan (fairness). Tujuan
valuasi ekonomi pada dasarnya adalah membantu pengambil keputusan
untuk menduga efisiensi ekonomi (economic efficiency) dari berbagai
pemanfaatan yang mungkin dilakukan (Soemarno, 2010).
Contigent Valuation Method (CVM)
Pendekatan CVM pertama kali diperkenalkan oleh Davis (1963)
dalam penelitian mengenai perilaku perburuan (hunter) di Miami.
Pendekatan ini disebut contigent (tergantung) karena pada praktiknya
informasi yang diperoleh sangat tergantung pada hipotesis yang dibangun.
Misalnya, seberapa besar biaya yang harus ditanggung, bagaimana
pembayarannya, dan sebagainya (Mratihatani, 2013). Pendekatan CVM ini
pada hakikatnya bertujuan untuk mengetahui keinginan untuk membayar
(willingness to pay atau WTP) dan keinginan menerima (willingness to
accept atau WTA) dari masyarakat. Karena teknik CVM didasarkan pada
asumsi mendasar mengenai hak pemilikan, jika individu yang ditanya tidak
memiliki hak atas dasar barang dan jasa yang dihasilkan dari sumber daya
alam, pengukuran yang relevan adalah keinginan membayar yang maksimum
(maximum willingness to pay) untuk memperoleh barang tersebut.
Sebaliknya, jika individu yang kita tanya memiliki hak atas sumber daya,
pengukuran yang relevan adalah keinginan untuk menerima (willingness to
accept) kompensasi yang paling minimum atas hilang atau rusaknya sumber
daya alam yang ia miliki (Mubarok dan Ciptomulyono, 2012).
Konsep Nilai untuk Sumber Daya dan Willingness To Pay (WTP)
Pengertian nilai atau value, khususnya yang menyangkut barang dan jasa yang
dihasilkan oleh sumber daya alam dan lingkungan memang bisa berbeda jika
dipandang dari berbagai disiplin ilmu, karena itu diperlukan suatu persepsi yang
sama untuk penilaian ekosistem tersebut. Salah satu tolak ukur yang relatif mudah
dan bisa dijadikan persepsi bersama berbagai disiplin ilmu tersebut adalah
pemberian price tag (harga) pada barang dan jasa yang dihasilkan sumber daya
alam dan lingkungan. Dengan demikian, kita menggunakan apa yang disebut nilai
ekonomi sumber daya alam. Secara umum, nilai ekonomi didefinisikan sebagai
pengukuran jumlah maksimum seseorang ingin mengorbankan barang dan jasa
untuk memperoleh barang dan jasa lainnya. Secara formal, konsep ini disebut
keinginan membayar atau willingness to pay (WTP) seseorang terhadap barang
dan jasa yang dihasilkan oleh sumber daya alam dan lingkungan. Dengan
menggunakan pengukuran ini, nilai ekologis ekosistem bisa diterjemahkan ke
dalam bahasa ekonomi dengan mengukur nilai moneter barang dan jasa.
Keinginan membayar juga dapat diukur dalam bentuk kenaikan pendapatan yang
menyebabkan seseorang berada dalam posisi indifferent terhadap perubahan
eksogenous. Perubahan eksogenous ini bisa terjadi karena perubahan harga
(misalnya akibat sumber daya makin langka) atau karena perubahan kualitas
sumber daya. Dengan demikian konsep WTP ini terkait erat dengan konsep
Compensating Variation dan Equivalent Variation dalam teori permintaan. WTP
dapat juga diartikan sebagai jumlah maksimal yang seseorang bersedia bayarkan
untuk menghindari terjadinya penurunan terhadap sesuatu. Selain dari pengukuran
nilai ekonomi dapat juga dilakukan melalui pengukuran kesediaan menerima atau
willingness to accept (WTA) yang tidak lain dalah jumlah minimum pendapatan
seseorang untuk mau menerima penurunan sesuatu. Dalam praktik pengukuran
nilai ekonomi, WTP lebih sering digunakan daripada WTA, karena WTA bukan
pengukuran yang berdasarkan insentif (insentive based) sehingga kurang tepat
untuk dijadikan studi yang berbasis perilaku manusia (behavioural model) (Fauzi,
2004).
Travel Cost Method (TCM)
Metode ini diturunkan dari pemikiran yang dikembangkan oleh Hotelling pada
tahun 1931, yang kemudian secara formal diperkenalkan oleh Wood dan Trice
(1958) serta Clawson dan Knetsch (1966). Metode ini kebanyakan digunakan
untuk menganalisis permintaan terhadap rekreasi di alam terbuka (outdoor
recreation). Secara prinsip, metode ini mengkaji biaya yang dikeluarkan setiap
individu untuk mendatangi tempat-tempat rekreasi, misalnya untuk menyalurkan
hobi memancing di pantai, seorang konsumen akan mengorbankan biaya dalam
bentuk waktu dan uang untuk mendatangi tempat tersebut. Dengan mengetahui
pola ekspenditur dari konsumen ini, kita bisa mengkaji berapa nilai (value) yang
diberikan konsumen kepada sumber daya alam dan lingkungan.
Travel Cost Method ini dapat digunakan untuk mengukur manfaat dan biaya
akibat:
a) perubahan biaya akses (tiket masuk) bagi suatu tempat rekreasi, 16
b) penambahan tempat rekreasi baru,
c) perubahan kualitas lingkungan tempat rekreasi,
d) penutupan tempat rekreasi yang ada.
Tujuan utama TCM adalah ingin mengetahui nilai kegunaan (use value)
dari sumber daya alam melalui pendekatan proxy. Dengan kata lain, biaya yang
dikeluarkan untuk mengkonsumsi jasa dari sumber daya alam digunakan sebagai
proxy untuk menentukan harga dari sumber daya tersebut. Asumsi dasar yang
digunakan pada pendekatan TCM adalah bahwa utilitas dari setiap konsumen
terhadap aktivitas, misalnya rekreasi, bersifat dapat dipisahkan (separable).
Artinya, fungsi permintaan kegiatan rekreasi tidak dipengaruhi (independent) oleh
permintaan kegiatan lain (Fauzi, 2004).

Ruang lingkup pengelolaan lingkungan


Pengelolaan lingkungan mempunyai ruang lingkup yang luas dengan cara yang beraneka pula
1. Pengelolaan lingkungan secara rutin
2. Perencanaan secara dini pengelolaan lingkungan suatu daerah yang menjadi dasar dan
tuntunan bagi perencanaan pembangunan
3. Perencanaan pengelolaan lingkungan berdasarkan perkiraan dampak lingkungan yang akan
terjadi sebagai akibat suatu proyek pembangunan yang sedang direncanaan
4. Perencanaan pengelolaan lingkungan untuk memperbaiki lingkungan yang mengalami
kerusakan, baik karena sebab alamiah maupun karena tindakan manusia
Manusia secara rutin mengelola lingkungan. Pembuangan sampah dan pembuatan saluran
pembuangan limbah dari dapur dan kamar mandi merupakan contoh kegiatan dalam pengelolaan
lingkungan. Para petani secara rutin memelihara sengkedan sawahnya dan saluran
pengairan,memberantas hama dan penyakit tanaman serta membuat sengkedan baru dan
menanam untuk melindungi tanah dari erosi.Didalam kota terdapat pula pengelolaan lingkungan
secara rutin,misalnya pemeliharaan saluran riol,tanam dan jalur hijau. Walaupun pengelolaan
lingkungan sebenarnya telah dilakukan secara rutin,namun kegiatan itu sering tidak disebut
sebagai pengelolaan lingkungan.
Perencanaan pengelolaan lingkungan secara dini perlu dikembangkan untuk dapat memberikan
petunjuk pembangunan apa yang sesuai disuatu daerah,tempat pembangunan itu dilakukan dan
bagaimana pembangunan itu dilaksanakan. Karena sifat dininya,konflik antara lingkungan
dengan pembangunan dapat dihindari atau dikurangi dengan mencari pemecahan secara
dini.Bahkan pembangunan itu dapat direncanakan untuk mengambil manfaat lingkungan dengan
sebaik-baiknya.Dengan demikian akan menjadi jelas pengelolaan lingkungan bukanlah
penghambat pembangunan,melainkan pendukung pembangunan.
Didaerah yang mempunyai potensi besar untuk pembangunan seyogyanya dilakukan
perencanaan dini pengelolaan lingkungan.Daerah tersebut,antara lain,ialah disekitar
kota,sepanjang jalan raya,daerah yang mengandung bahan tambang dan daerah yang berpotensi
untuk transmigrasi dan untuk pariwisata.Daerah-daerah itu dapat diidentifikasi,antara lain,dari
peta jebakan mineral dan non mineral,peta tanah,citra satelit dan potret udara,serta dari GBHN
dan buku repelita.Banyak daerah itu belum mempunyai rencana pengelolaan lingkungan.Daerah
itu barulah mempunyai perencanaan pengembangan wilayah yang ditinjau dari segi ekonomi dan
teknis,atau sama sekali belum mempunyai perencanaan apa-apa.
Pengelolaan lingkungan yang akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian antara lain perencanaan
proyek pembangunan dan untuk memperbaiki lingkungan yang mengalami kerusakan. Oleh
karena itu pengelolaan lingkungan lebih bersifat bereaksi terhadap suatu perencanaan atau
keadaan tertentu.Hal ini menimbulkan citra yang kurang baik terhadap pengelolaan
lingkungan,terutama karena reaksi itu sering terhadap hal-hal yang negatif,misalnya
pencemaran,kematian satwa liar dan banjir. Karena hal-hal yang negatif itu sering berkaitan
dengan pembangunan,citra itu lalu menjurus pada anggapan bahwa pengelolaan lingkungan
menghambat pembangunan.
Perencanaan pengelolaan lingkungan untuk rencana proyek pembangunan umumnya dilakukan
berdasarkan perkiraan dampak apa yang akan diakibatkan oleh proyek tersebut. Metode
perencanaan pengelolaan lingkungan yang demikian itu disebut Analisis Dampak Lingkungan
(AMDAL). Walaupun dampak sebenarnya dapat bersifat positif maupun negatif namun
umumnya dampak konotasi negatif. Oleh karena itu, AMDAL boleh dikata hanya ditujukan
terhadap dampak negati saja. Kecuali itu, perhatian yang berlebihan terhadap AMDAL itu dapat
digunakan, dan timbulnya kesan seolah-olah AMDAL adalah satu-satunya metode erencanaan
pengelolaan lingkungan, menyempitnya persepsi ini membahayakan perkembangan pengelolaan
lingkungan di hari depan.
Perubahan lingkungan dalam ekonomi lingkungan
Perubahan lingkungan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan. Perubahan yang terjadi pada
lingkungan hidup manusia menyebabkan adanya gangguan terhadap keseimbangan karena
sebagian dari komponen lingkungan menjadi berkurang fungsinya. Perubahan lingkungan dapat
terjadi karena campur tangan manusia dan dapat pula karena faktor alami. Dampak dari
perubahannya belum tentu sama, namun akhirnya manusia juga yang mesti memikul serta
mengatasinya.
1. Perubahan Lingkungan karena Campur Tangan Manusi
Perubahan lingkungan karena campur tangan manusia contohnya penebangan hutan,
pembangunan pemukiman, dan penerapan intensifikasi pertanian. Penebangan hutan yang liar
mengurangi fungsi hutan sebagai penahan air. Akibatnya, daya dukung hutan menjadi berkurang.
Selain itu, penggundulan hutan dapat menyebabkan terjadi banjir dan erosi. Akibat lain adalah
munculnya harimau, babi hutan, dan ular di tengah pemukiman manusia karena semakin
sempitnya habitat hewan-hewan tersebut. Pembangungan pemukiman pada daerah-daerah yang
subur merupakan salah satu tuntutan kebutuhan akan pagan. Semakin padat populasi manusia,
lahan yang semula produktif menjadi tidak atau kurang produktif.
Pembangunan jalan kampung dan desa dengan cara betonisasi mengakibatkan air sulit meresap
ke dalam tanah. Sebagai akibatnya, bila hujan lebat memudahkan terjadinya banjir. Selain itu,
tumbuhan di sekitamya menjadi kekurangan air sehingga tumbuhan tidak efektif melakukan
fotosintesis. Akibat lebih lanjut, kita merasakan pangs akibat tumbuhan tidak secara optimal
memanfaatkan CO2, peran tumbuhan sebagai produsen terhambat. Penerapan intensifikasi
pertanian dengan cara panca usaha tani, di satu sisi meningkatkan produksi, sedangkan di sisi
lain bersifat merugikan. Misalnya, penggunaan pupuk dan pestisida dapat menyebabkan
pencemaran. Contoh lain pemilihan bibit unggul sehingga dalam satu kawasan lahan hanya
ditanami satu macam tanaman, disebut pertanian tipe monokultur, dapat mengurangi
keanekaragaman sehingga keseimbangan ekosistem sulit untuk diperoleh. Ekosistem dalam
keadaan tidak stabil. Dampak yang lain akibat penerapan tipe ini adalah terjadinya ledakan
hama.
2. Perubahan Lingkungan karena Faktor Alam
Perubahan lingkungan secara alami disebabkan oleh bencana alam. Bencana alam seperti
kebakaran hutan di musim kemarau menyebabkan kerusakan dan matinya organisme di hutan
tersebut. Selain itu, terjadinya letusan gunung menjadikan kawasan di sekitarnya rusak.
Sehubungan dengan pemanfaatan sumber daya alam, agar lingkungan tetap lestari, harus
diperhatikan tatanan/tata cara lingkungan itu sendiri. Dalam hal ini manusialah yang paling tepat
sebagai pengelolanya karena manusia memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan
organisme lain. Manusia mampu merombak, memperbaiki, dan mengkondisikan lingkungan
seperti yang dikehendakinya, seperti:
1. manusia mampu berpikir serta meramalkan keadaan yang akan
datang
2. manusia memiliki ilmu dan teknologi
3. manusia memiliki akal dan budi sehingga dapat memilih hal-hal yang baik.
Pengelolaan lingkungan hidup adalah upaya terpadu dalam pemanfaatan, penataan,
pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan, dan pengembangan lingkungan hidup.
Pengelolaan ini mempunyai tujuan sebagai berikut.
1. Mencapai kelestarian hubungan manusia dengan lingkungan hidup sebagai tujuan
membangun manusia seutuhnya.
2. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya secara bijaksana.
3. Mewujudkan manusia sebagai pembina lingkungan hidup.
4. Melaksanakan pembangunan berwawasan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang
dan mendatang.
Melindungi negara terhadap dampak kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan
kerusakan dan pencemaran lingkungan. Melalui penerapan pengelolaan lingkungan hidup akan
terwujud kedinamisan dan harmonisasi antara manusia dengan lingkungannya. Untuk mencegah
dan menghindari tindakan manusia yang bersifat kontradiksi dari hal-hal tersebut di atas,
pemerintah telah menetapkan kebijakan melalui Undang-undang Lingkungan Hidup.
Undang-undang lingkungan hidup
Undang-undang tentang ketentuan-ketentuan pokok pengelolaan lingkungan hidup disahkan oleh
Presiden Republik Indonesia pada tanggal 11 Maret 1982. Undang-undang ini berisi 9 Bab terdiri
dari 24 pasal. Undang-undang lingkungan hidup bertujuan mencegah kerusakan lingkungan,
meningkatkan kualitas lingkungan hidup, dan menindak pelanggaran-pelanggaran yang
menyebabkan rusaknya lingkungan.
Undang-undang lingkungan hidup antara lain berisi hak, kewajiban, wewenang dan ketentuan
pidana yang meliputi berikut ini.
1. Setiap orang mempunyai hak atas lingkungan hidup yang balk dan
sehat.
2. Setiap orang berkewajiban memelihara lingkungan dan mencegah serta menanggulangi
kerusakan dan pencemaran lingkungan
3. Setiap orang mempunyai hak untuk berperan serta dalam rangka pengelolaan lingkungan
hidup. Peran serta tersebut diatur dengan perundang-undangan.
4. Barang siapa yang dengan sengaja atau karena kelalaiannya melakukan perbuatan yang
menyebabkan rusaknya lingkungan hidup atau tercemamya lingkungan hidup diancam pidana
penjara atau denda.
Upaya pengelolaan yang telah digalakkan dan undang-undang yang telah dikeluarkan belumlah
berarti tanpa didukung adanya kesadaran manusia akan arti penting lingkungan dalam rangka
untuk meningkatkan kualitas lingkungan serta kesadaran bahwa lingkungan yang ada saat ini
merupakan titipan dari generasi yang akan datang. Upaya pengelolaan limbah yang saat ini
tengah digalakkan adalah pendaurulangan atau recycling. Dengan daur ulang dimungkinkan
pemanfaatan sampah, misalnya plastik, aluminium, dan kertas menjadi barang-barang yang
bermanfaat.
Usaha lain dalam mengurangi polusi adalah memanfaatkan tenaga surya. Tenaga panas matahari
disimpan dalam sel-sel solar untuk kemudian dimanfaatkan dalam keperluan memasak,
memanaskan ruangan, dan tenaga gerak. Tenaga surya ini tidak menimbulkan polusi. Selain
tenaga surya, tenaga angin dapat pula digunakan sebagai sumber energi dengan menggunakan
kincir-kincir angin. Di beberapa negara maju telah banyak dilakukan pemisahan sampah organik
dan anorganik untuk keperluan daur ulang. Dalam tiap rumah tangga terdapat tempat sampah
yang berwarna-warni sesuai peruntukkannya.
Dampak Dari Perubahan Lingkungan
Dampak adalah suatu perubahan. Perubahan hanya dapat diukur apabila ada titik acuannya. Titik
acuan untuk pengukuran dampak disebut garis dasar, yaitu kondisi lingkungan yang diperkirakan
akan ada dengan adanya proyek. Misalnya, ada rencana proyek konversi hutan sekunder menjadi
hutan produksi. Misalnya, pinggiran kota besar dan pegunungan disekitarnya mempunyai potensi
besar untuk pemukiman dan industri pariwisata, tetapi tidak mempunyai perencanaan
pengelolaan lingkungan akibatnya ialah, antara lain terjadi pencemaran badan air yang menjadi
sumber air minum, karena industri di tempattkan dihulu tempat air diambil untuk industri
penjernihan air.
Pencemaran udara karena arah angin menghembus dari daerah industri ke kota; menyusutnya air
tanah karena penyedotan yang lebih besar dari penyediaan, mengeringnya sumber air karena
daerah tampung hujan dijadikan daerah pemukiman, banjir karena perkembangan pariwisata di
daerah pegunungan disekitarnya sangat berlebihan dan tidak mengindahkan fungsi hidroorologi
hutan. Kota yang telah mengalami satu atau lebih masalah itu antara lain, ialah Jakarta, Bandung,
Semarang, dan Pontianak. Seandainya telah ada perencanaan pengelolaan lingkungan masalah
itu akan dapatlah dihindari atau paling sedikit dikurangi.