Anda di halaman 1dari 14

Perpajakan VIII

PPh Final Pasal 4 ayat 2

KARAKTERISTIK PPH FINAL

 Penghasilan (obyek PPh final) tidak perlu dihitung kembali dalam SPT Tahunan
 Pengeluaran dalam memperoleh penghasilan (obyek PPh Final) yang bersangkutan tidak
boleh dibiayakan secara fiscal
 Tidak Dapat Dikreditkan Terhadap Total PPh Terutang

PPh Final = Pelunasan PPh

KENAPA HARUS PAJAK FINAL?

Penyederhanaan Administrasi

 PPh oleh OP yang belum terdaftar secara resmi sebagai WP


 PPh atas obyek yang timbul atau terjadi hanya sekali / tidak sering
 PPh berkaitan dengan pembayar pajak tertentu yang dikecualikan dari kewajiban tertentu
seperti pembukuan atau memasukkan SPT
 Obyek Tertentu, seperti industri spesifik dan transaksi khusus.

PPH PASAL 4 AYAT 2 MENGATUR PEMOTONGAN PAJAK ATAS:

1. Bunga deposito dan tabungan lain


2. Pengh. dari transaksi saham dan sekuritas lainnya di bursa efek
3. Pengh. dari pengalihan harta berupa tanah dan atau bangunan
4. Penghasilan tertentu lainnya.

PP 131 TAHUN 2000

“Mengatur pengenaan pajak penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan”

Bunga deposito, bunga tabungan, dan diskonto sertifikat BI, termasuk bunga dari deposito/tabungan
yang ditempatkan di luar negeri melalui bank yang didirikan atau bertempat kedudukan di
indonesia atau cabang bank luar negeri di Indonesia.

PPh Final = 20% dari jumlah bruto, atau


1
Tarif sesuai TaxTreaty
SUBJEK PEMOTONGAN

1. WPDN (Wajib Pajak Dalam Negeri)


2. BUT
3. WPLN (Wajib Pajak Luar Negeri)

PEMOTONG PAJAK

1. Bank dan Bank Indonesia


2. Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menkeu, atas penjualan SBI kepada pihak
lain yang bukan Dana Pensiun yang pendiriannya telah disahkan Menkeu dan bukan bank.

PENGECUALIAN

a. Bunga deposito dan tabungan serta diskonto, sepanjang jumlah deposito/tabungan/SBI


tidak melebihi Rp. 7.500.000,- dan bukan jumlah yang dipecah-pecah
b. Bunga dan diskonto yang diterima atau diperoleh bank yang didirikan di Indonesia atau
cabang bank luar negeri di Indonesia
c. Bunga dan diskonto yang diterima atau diperoleh Dana Pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Menkeu sepanjang dananya diperoleh dari sumber pendapatan sebagaimana
dimaksud dalam UU Dana Pensiun
d. Bunga tabungan pada bank yang ditunjuk pemerintah dalam rangka pemilikan RS dan
RSS, kaveling siap bangun untuk RS dan RSS, atau rumah susun sederhana, untuk dihuni
sendiri

PPH ATAS HADIAH UNDIAN

 PP No. 132 tahun 2000 tanggal 15 Desember 2000


 KEP DJP NO. KEP-395/PJ./2001 tanggal 13 Juni 2001
 Objek pemotongan: hadiah undian, dengan nama dan dalam bentuk apapun
 Tarif pemotongan 25% dari jumlah bruto
 Sifat pemotongan Final

2
PPH SEWA TANAH/BANGUNAN

Dasar hukum:

 PP 29/1996 jo PP 5/2002
 120/KMK.03/2002
 KEP-227/PJ/2002

Objek:

Sewa tanah dan atau bangunan: tanah, rumah, rusun, apartemen, kondominium, Gd perkantoran,
pertokoan, pertemuan dan bagiannya, rumah kantor, toko, rumah toko, gudang dan bangunan
industry.

Tarif: 10% final

DPP: Jumlah Bruto (semua jumlah yang dibayar atau terutang dengan nama dan dalam bentuk
apapun dlm perjanjian terpisah atau disatukan)

PAJAK PENGHASILAN ATAS PENGHASILAN DARI PERSEWAAN TANAH


DAN/ATAU BANGUNAN

“PP No. 5 Tahun 2002 juncto Keputusan Dirjen Pajak No. KEP-227/PJ./2002”

3
Pemotong pajak: Penyewa, dalam hal penyewa adalah Badan Pemerintah, subjek pajak badan
dalam negeri, penyelenggara kegiatan, bentuk usaha tetap, kerjasama operasi, perwakilan
perusahaan luar negeri lainnya, dan orang pribadi yang ditetapkan oleh Dirjen Pajak.

PP 14 Th. 1997 KEPMENKEU NO. 558/KMK.04/2000

“PENGH. DARI TRANSAKSI PENJUALAN SAHAM DI BURSA DIPUNGUT PPH BERSIFAT


FINAL”

1. Pemilik saham pendiri dikenakan tambahan PPh


2. Besarnya pph final 0.1% dari nilai transaksi penjualan
a. Sebesar 0,5% dari:
 Nilai saham pada saat penutupan bursa akhir tahun 1996
 Nilai pada saat penawaran umum untuk saham yang diperdagangkan setelah
1 januari 1997 PPh final 0,5% disetor sendiri, atau
b. Dikenakan tarif umum atas capital gain

Pemotong pajak → penyelenggara bursa efek.

PP 48 TH. 1994 DIUBAH TERAKHIR DGN PP 71 TH.2008

“PENGALIHAN HAK ATAS TANAH/BANGUNAN”

Ruang Lingkup:

 penjualan, tukar-menukar, perjanjian pemindahan hak, pelepasan hak, penyerahan hak,


lelang, hibah, atau cara lain yang disepakati dengan pihak lain selain pemerintah

4
 penjualan, tukar-menukar, pelepasan hak, penyerahan hak, atau cara lain yang disepakati
dengan pemerintah guna pelaksanaan pembangunan

Tarif:

 2,5% dari jumlah bruto nilai pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan (Tahun 2017)
 1% dari jumlah bruto nilai pengalihan atas pengalihan hak atas Rumah Sederhana dan
Rumah Susun Sederhana yang dilakukan oleh Wajib Pajak yang usaha pokoknya
melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan

Sifat PPh: final

Nilai Pengalihan:

 Nilai yang tertinggi antara nilai berdasarkan Akta Pengalihan Hak dengan Nilai Jual Objek
Pajak tanah dan/atau bangunan
 Pengalihan kepada pemerintah: nilai berdasarkan keputusan pejabat yang bersangkutan
 Pengalihan hak sesuai dengan peraturan lelang: nilai menurut risalah lelang

PP 71 TAHUN 2008, PERUBAHAN TERAKHIR PPH TANAH & BANGUNAN

Atas pengalihan hak atas Rumah Sederhana dan Rumah Susun Sederhana yang dilakukan oleh
Wajib Pajak yang usaha pokoknya melakukan pengalihan hak atas tanah dan/atau bangunan
dikenakan Pajak Penghasilan sebesar 1% dari jumlah bruto nilai pengalihan.

Rumah Sederhana terdiri atas:

1. Rumah Sederhana Sehat


2. Rumah Inti Tumbuh

Yang Dibebaskan Dari Pengenaan PPN

RUMAH SUSUN SEDERHANA ADALAH: Bangunan bertingkat yang dibangun dalam suatu
lingkungan yang dipergunakan sebagai tempat hunian yang dilengkapi dengan KM/WC dan dapur
baik bersatu dengan unit hunian maupun terpisah dengan penggunaan komunal termasuk Rumah
Susun Sederhana Milik. YANG DIBEBASKAN DARI PENGENAAN PPN

Pembayarannya dilakukan dengan jalan angsuran.

5
PPh dihitung berdasarkan jumlah setiap pembayaran angsuran termasuk:

1. Uang Muka
2. Bunga
3. Pungutan
4. Tambahan Pembayan Lain yg dipenuhi Pembeli

PP 48 TH. 1994 DIUBAH TERAKHIR DGN PP 71 TH.2008

“Pengalihan Hak Atas Tanah / Bangunan”

Dikecualikan dari Pemotongan:

 WP Orang Pribadi Yang Penghasilannya Dibawah Ptkp Dan Jumlah Penghasilan Bruto
Dari Pengalihan Hak Atas Tanahnya Kurang Dari Rp. 60.000.000
 Orang Pribadi Atau Badan Yang Menerima Atau Memperoleh Penghasilan Dari
Pengalihan Hak Atas Tanah Dan/Atau Bangunan Kepada Pemerintah Guna Pelaksanaan
Pembangunan Untuk Kepentingan Umum Yang MEMERLUKAN PERSYARATAN
KHUSUS.
 Sehubungan Dengan HIBAH Yang Diberikan Kepada Keluarga Sedarah Dalam Garis
Keturunan Lurus Satu Derajat, Dan Badan Keagamaan Atau Badan Sosial Atau Pengusaha
Kecil Termasuk Koperasi Yang Ditetapkan Oleh Menteri Keuangan Sepanjang Tidak Ada
Hubungan Dengan Usaha, Pekerjaan, Kepemilikan, Atau Penguasaan Pihak-pihak Yang
Bersangkutan.
 Sehubungan Dengan WARISAN

PER 35/PJ./2008, KEWAJIBAN NPWP DALAM RANGKA PENGALIHAN HAK


TANAH & BANGUNAN

Atas pembayaran BPHTB dengan menggunakan SSB yang disebabkan adanya pengalihan hak atas
tanah dan/atau bangunan wajib dicantumkan NPWP yang dimilki Wajib Pajak yang bersangkutan.

Kecuali SSB yang digunakan untuk pembayaran BPHTB oleh Wajib Pajak Orang Pribadi dengan
NJOP dan NPOP yang dialihkan kurang dari Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah).

Atas pembayaran Pajak Penghasilan (PPh) dengan menggunakan SSP atas penghasilan dari
pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan, wajib dicantumkan NPWP yang dimiliki Wajib
Pajak yang bersangkutan.

6
Kecuali SSP yang digunakan untuk pembayaran PPh atas penghasilan dari pengalihan harta berupa
tanah dan/atau bangunan oleh Wajib Pajak Orang Pribadi dengan jumlah pajak yang harus dibayar
kurang dari Rp 3.000.000,00 (tiga juta rupiah).

PP 16 TH. 2009 PPH BUNGA OBLIGASI

Definisi:

 Obligasi adalah surat utang dan surat utang negara, yang berjangka waktu lebih dari 12
(dua belas)
 Bunga Obligasi adalah imbalan yang diterima dan/atau diperoleh pemegang Obligasi
dalam bentuk bunga dan/atau diskonto.

Dikenakan PPh bersifat final

“Obligasi dengan Kupon (Interest Bearing Debt Securities)”

Tarif Bunga:

 15% (lima belas persen) bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap
 20% (dua puluh persen) atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan penghindaran
pajak berganda bagi Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap.

dari jumlah bruto bunga sesuai dengan masa kepemilikan Obligasi (Holding Period)

Tarif Diskonto:

 15% (lima belas persen) bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap
 20% (dua puluh persen) atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan penghindaran
pajak berganda bagi Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap.

dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan Obligasi, tidak termasuk
bunga berjalan

“Obligasi tanpa Bunga (Non Interest Bearing Debt Securities)”

Tarif Diskonto:

 15% (lima belas persen) bagi Wajib Pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap
 20% (dua puluh persen) atau sesuai dengan tarif berdasarkan persetujuan penghindaran
pajak berganda bagi Wajib Pajak luar negeri selain bentuk usaha tetap.
7
dari selisih lebih harga jual atau nilai nominal di atas harga perolehan Obligasi,

“Bunga / Diskonto Obligasi Yang Diterima Perusahaan Reksadana yang terdaftar pada
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan”

 0% (nol persen) untuk tahun 2009 sampai dengan tahun 2010;


 5% (lima persen) untuk tahun 2011 sampai dengan tahun 2013; dan
 15% (lima belas persen) untuk tahun 2014 dan seterusnya

Pemotong PPh:

 penerbit Obligasi atau kustodian selaku agen pembayaran yang ditunjuk


 perusahaan efek, dealer, atau bank, selaku pedagang perantara dan/atau pembeli

Tidak dilakukan pemotongan atas bunga & obligasi yang diterima dari:

1. Bank wpdn dan cabang bank wpln sebagai but


2. Dana pensiun yang telah disyahkan menkeu

PP 17 TH. 2009, PPH ATAS PENGHASILAN DARI TRANSAKSI DERIVATIF


BERUPA KONTRAK BERJANGKA YG DIPERDAGANGKAN DI BURSA

Definisi:

 transaksi derivatif adalah transaksi yang didasari pada kontrak atau perjanjian pembayaran
yang nilainya merupakan turunan dari nilai instrumen yang mendasari seperti suku bunga,
nilai tukar, komoditi, ekuiti, dan indeks, baik yang diikuti dengan pergerakan maupun
tanpa pergerakan dana atau instrument
 kontrak berjangka adalah suatu perjanjian termasuk kontrak standar untuk membeli atau
menjual sejumlah efek atau komoditi yang jumlah, mutu, jenis, tempat, dan waktu
penyerahan di kemudian hari telah ditetapkan
 bursa adalah bursa efek dan bursa berjangka di Indonesia yang menyelenggarakan
transaksi kontrak berjangka

Tarif: 2,5% dari margin awal


Bersifat Final dipungut oleh Lembaga Kliring &
Penjamin

8
 Margin awal adalah sejumlah uang atau surat berharga yang harus ditempatkan oleh
pialang berjangka atau anggota bursa pada lembaga kliring dan penjamin untuk menjamin
pelaksanaan transaksi kontrak berjangka
 Lembaga kliring dan penjamin adalah badan usaha yang menyelenggarakan dan
menyediakan sistem dan/atau sarana untuk pelaksanaan kliring dan penjaminan transaksi
di bursa, termasuk lembaga kliring dan penjamin berjangka

PP 4 TH. 1995, PENGHASILAN DARI TRANSAKSI PENJUALAN SAHAM ATAU


PENGALIHAN PENYERTAAN MODAL PERUSAAHAAN MODAL VENTURA
PADA PERUSAHAAN PASANGAN USAHANYA

Tarif PPh Final : 0,1% × nilai tansaksi penjualan/pengalihan

Kriteria perusahaan pasangan usaha:

1. Perusahaan kecil, menengah atau yg melakukan usaha di sektor yang ditetapkan Menkeu
(KMK 250/KMK.04/1995)
2. Sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek

Jika pasangan usaha tidak memenuhi kriteria diatas, maka dikenakan tarif umum.

Jika transaksi dilakukan di bursa efek, maka mengikuti ketentuan PP 14 tahun 1997

PMK 79/PMK.03/2008, REVALUASI AKTIVA TETAP

Tarif PPh Final : 10% × selisih lebih penilaian kembali

Subyek revaluasi:

WP Badan DN termasuk BUT, yg pembukuannya tidak dalam bahasa inggris dan mata uang
dollar.

Objek revaluasi:

1. Seluruh aktiva tetap berwujud termasuk tanah Hak Milik / HGB


2. Seluruh aktiva tetap berwajud tidak termasuk tanah

Jika aktiva tetap yg telah direvaluasi dialihkan sebelum batas waktu yang ditentukan, dikenakan
tambahan PPh: tarif tertinggi WP Badan pada saat revaluasi dikurangi 10%.

9
PP 27 TAHUN 2008, PENGHASILAN DISKONTO SURAT PERBENDAHARAAN
NEGARA

Tarif PPh Final


WP Dalam Negeri = 20% × diskonto
WP Luar Negeri = 20% atau tarif P3B × diskonto

Dikecualikan dari pemotongan:

1. Bank yang didirikan di Indonesia atau cabang bank LN di Indonesia


2. Dana pensiun yang disahkan Menkeu
3. Reksadana selama 5 tahun pertama sejak pendirian / ijin usaha

Pemotongan dilakukan oleh:

1. Penerbit SPN / kustodian yang ditunjuk selaku agen pembayar, atas Diskonto yang
diterima pemegang SPN saat jatuh tempo;
2. Perusahaan efek (broker) atau bank selaku pedagang perantara (dealer), atas Diskonto
yang diterima atau diperoleh penjual SPN pada saat transaksi di Pasar Sekunder;
3. Perusahaan efek (broker), bank, dana pensiun, dan reksadana selaku pembeli SPN
tanpa melalui pedagang perantara, atas Diskonto yang diterima atau diperoleh penjual SPN
pada saat transaksi di Pasar Sekunder

PENGADAAN JASA KONSTRUKSI

Kegiatan Jasa Konstruksi meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan konstruksi
diantaranya pembangunan gedung, jalan, jembatan, dll.

TARIF PPH FINAL JASA KONSTRUKSI

Jasa Jasa Perencanaan &


Pelaksanaan Pengawasan

Memiliki Tidak Memiliki Memiliki Tidak


kualifikasi memiliki kualifikasi kualifikasi memiliki
usaha kecil kualifikasi usaha usaha kualifikasi
usaha menengah usaha
atau besar 10

2% 4% 3% 4% 6%
DARI JUMLAH PEMBAYARAN ATAU JUMLAH PENERIMAAN YANG MERUPAKAN
BAGIAN NILAI KONTRAK TIDAK TERMASUK PPN

PAJAK UMKM

Dasar hukum:

 Peraturan Pemerintah No.46 Tahun 2013 tentang Pajak Penghasilan Atas Penghasilan dari
Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki Peredaran Bruto
Tertentu.
 Menurut PMK No.107/PMK 011/2013
 Berlaku efektif per 1 Juli 2013
 Pada tanggal 1 Juli 2018, pemerintah mengeluarkan PP Nomor 23Tahun 2018 mengenai
tarif baru PPh Final UMKM.

Tarif PPh Final yg awalnya dikenakan sejumlah 1% dipangkas menjadi 0,5% dengan ketentuan:

1. WPOP bisa menikmati tarif PPh Final 0,5% dalam jangka waktu 7 tahun.
2. Untuk WP Badan seperti Koperasi, Persekutuan Komanditer (CV), dan Firma hanya bisa
menikmati tarif PPh Final 0,5% dalam jangka waktu 4 tahun.
3. WP Perseroan Terbatas (PT) hanya bisa menikmati tarif PPh Final 0,5% dalam jangka
waktu 3 tahun.

Dalam hal peredaran bruto Wajib Pajak telah melebihi jumlah Rp4,8 M pada suatu Tahun
Pajak, atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak pada Tahun Pajak berikutnya
dikenai tarif Pajak Penghasilan berdasarkan ketentuan Undang-Undang Pajak Penghasilan.

Objek Pajak:

 Penghasilan dari usaha yang diterima atau diperoleh wajib pajak dengan peredaran bruto
tidak melebihi Rp4,8 miliar dalam 1 tahun.
 Tidak termasuk Penghasilan dari usaha adalah penghasilan dari jasa sehubungan dengan
pekerjaan bebas.
 Peredaran bruto merupakan peredaran bruto dari usaha, termasuk dari usaha cabang.

Subjek Pajak:

11
 Wajib Pajak orang pribadi atau Wajib Pajak badan tidak termasuk bentuk usaha tetap; dan
 menerima penghasilan dari usaha, tidak termasuk penghasilan dari jasa sehubungan
dengan pekerjaan bebas, dengan peredaran bruto tidak melebihi Rp4.800.000.000,00
(empat miliar delapan ratus juta rupiah) dalam 1 (satu) Tahun Pajak.

Pengecualian Subjek Pajak:

 WP OP yang melakukan kegiatan usaha perdagangan dan/atau jasa yang dalam usahanya
menggunakan sarana atau prasarana yang dapat dibongkar pasang, baik yang menetap
maupun tidak menetap dan menggunakan sebagian atau seluruh tempat untuk kepentingan
umum yang tidak diperuntukkan bagi tempat usaha atau berjualan, misalnya pedagang
makanan keliling, pedagang asongan, warung tenda di trotoar, dan sejenisnya.
 WP badan yang belum beroperasi secara komersial atau yang dalam jangka waktu 1 (satu)
tahun setelah beroperasi secara komersial memperoleh peredaran bruto melebihi Rp4,8
miliar.

Jasa sehubungan dengan pekerjaan bebas:

a. tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan, arsitek,
dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;
b. pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron, bintang
iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama, dan penari;
c. olahragawan;
d. penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
e. pengarang, peneliti, dan penerjemah;
f. agen iklan;
g. pengawas atau pengelola proyek;
h. perantara;
i. petugas penjaja barang dagangan;
j. agen asuransi; dan
k. distributor perusahaan pemasaran berjenjang (multilevel marketing) atau penjualan
langsung (direct selling) dan kegiatan sejenis lainnya.

ANGSURAN MASA

 Setoran bulanan merupakan PPh Pasal 4 ayat (2), bukan PPh Pasal 25.
 Jika penghasilan semata-mata dikenai PPh final, tidak wajib PPh Pasal 25.

12
 Jika ada penghasilan lain selain yang dikenai PPh Pasal 4 ayat (2) sesuai ketentuan PP ini,
maka atas penghasilan tersebut dikenai PPh sesuai dengan ketentuan umum.
 Jika ada angsuran PPh Pasal 25 atau PPh yang dipotong/dipungut pihak lain boleh
dikreditkan terhadap PPh terutang tahun pajak ybs. kecuali untuk penghasilan yang
pengenaan pajaknya bersifat final.

PENYETORAN DAN PELAPORAN

 Penyetoran paling lama tanggal 15 (lima belas) bulan berikutnya setelah Masa Pajak
berakhir.
 SSP berfungsi sekaligus sebagai SPT Masa PPh Pasal 4 ayat (2). Jika SSP telah divalidasi
dengan NTPN (Nomor Transaksi Penerimaan Negara) dianggap telah lapor SPT Masa PPh
Pasal 4 ayat (2).
 Wajib Pajak yang melakukan pembayaran Pajak Penghasilan dimaksud dalam Pasal 10
ayat 1 wajib menyampaian Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan paling lama 20
(dua puluh) hari setelah Masa Pajak berakhir.
 Wajib Pajak yang telah menyetorkan Pajak Penghasilan dimaksud pasal 10 ayat 1
dianggap telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan.
 SPT Tahunan:
a. Dilaporkan pada kelompok penghasilan yang dikenai pajak final dan/atau bersifat
final.
b. Formulir SPT Tahunan menggunakan Form 1770 untuk Wajib Pajak orang pribadi
dan 1771 untuk Wajib Pajak badan masih mengakomodasi

CONTOH DAN SIMULASI

1. Penentuan Peredaran Bruto


CV Andik memiliki usaha penjualan gerabah dan memiliki peredaran bruto:
 Januari s.d Desember 2013 sebesar Rp4.000.000.000
 Januari s.d Oktober 2014 sebesar Rp5.000.000.000

2013 2014 2015

 Omzet  Dikenai PPh Final 1% Dikenai PPh


perdagangan 4M  PPh Final 1% Jan s.d Des berdasarkan
 Peredaran bruto 2014, meskipun total ketentuan umum
≤4,8M omzet Okt melebihi 5M PPh.
memenuhi  Peredaran bruto ≥4,8M
kriteria untuk tidak memenuhi kriteria
dikenai PPh
13
untuk dikenai PPh bersifat
bersifat final final
2. Rajesh memiliki 3 toko tekstil, omzet di masing – masing toko adalah Rp80.000.000,
Rp250.000.000, dan Rp400.000.000.
Peredaran bruto usaha perdagangan tekstil Rajesh sebagai dasar pengenaan Pajak
Penghasilan yang bersifat final adalah sebesar:
Dasar Pengenaan PPh Final
= Rp80.000.000 + Rp250.000.000 + Rp400.000.000 = Rp730.000.000,00
PPh Pasal 4 (2) = 1% x Rp 730.000.000 = Rp 7.300.000
3. Tuan. Wiro melakukan penjualan saham unilever sebanyak 1lot dengan harga jual Rp
11.250/lembar . Hitunglah PPH Pasal 4(2) yang harus dipotong oleh perusahaan
sekuritas. Kapan paling lambat dibayar dan dilaporkan, jika penjualan saham dilakukan
tanggal 31 Maret 2015.
Jawab:
Nilai penjualan = 100 lembar x Rp 11.250 = Rp 1.125.000
PPh Psal 4 (2) = 0,1% x Rp 1.125.000= 1.125

Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu pada tanggal 31 Maret 2015
Saat Penyetoran : paling lambat 15 April 2015
Saat Pelaporan : paling lambat 20 April 2015
4. Bapak Robert mendapat hadiah sebuah mobil senilai Rp 200.000.000,- atas undian
tabungan yang diselenggarakan Bank Anti pada tanggal 20 Januari 2015
Jawab:
PPh pasal 4 (2) yang harus dipotong Bank Anti adalah:
25% x Rp 200.000.000,- = Rp 50.000.000,-

Saat terutang : akhir bulan dilakukan pembayaran yaitu pada tanggal 20 Januari 2015
Saat Penyetoran : paling lambat 15 Februari 2015
Saat Pelaporan : paling lambat 20 Februari 2015

14