Anda di halaman 1dari 24

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan nikmat
kesehatan yang diberikan sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah
tentang “Pemeriksaan penunjang”. Tak lupa juga shalawat dan salam kami
haturkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Kami sadar bahwa makalah ini masih belum sempurna dan masih banyak
kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, kami mohon saran
dan kritik yang membangun dari para pembaca agar makalah ini dapat lebih baik
dari sebelumnya.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat membawa manfaat bagi kita semua.

Bukittinggi, Oktober 2019

Kelompok 8

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………...i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………….ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang....................................................................................................1
1.2 Rumusan masalah...............................................................................................1
1.3 Tujuan................................................................................................................2
1.4 Manfaat………………………………………………………………………..2

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Defenisi Pemeriksaan Penunjang.......................................................................3
2.2 Jenis-jenis pemeriksaan penunjang....................................................................3
2.2.1 Pemeriksaan laboratorium ………………………………………………3
2.2.2 Pemeriksaan darah…................................................................................4
2.2.3 Rontgen...................................................................................................10

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan.....................................................................................................17
3.2 Saran................................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB II
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peran Perawat ialah tingkah laku yg diharapkan oleh orang lain pada
seseorang sesuai dengan kedudukan dalam system, di mana bisa dipengaruhi oleh
kondisi sosial baik dari profesi perawat ataupun dari luar profesi keperawatan yg
bersifat konstan
Perawat atau Nurse berasal dari bahasa latin yaitu dari kata Nutrix yang
berarti merawat atau memelihara.Harlley Cit ANA (2000) menjelaskan pengertian
dasar seorang perawat yaitu seseorang yang berperan dalam merawat atau
memelihara, membantu dan melindungi seseorang karena sakit, injury dan proses
penuaan dan perawat Profesional adalah Perawat yang bertanggungjawab dan
berwewenang memberikan pelayanan Keparawatan secara mandiri dan atau
berkolaborasi dengan tenaga Kesehatan lain sesuai dengan kewenanganya.
(Depkes RI,2002)
Seseorang bisa dikatakan sebagai perawat & memiliki tanggungjawab
sebagai perawat manakala yg bersangkutan bisa membuktikan bahwa beliau
sudah menyelesaikan pendidikan perawat baik di luar ataupun didalam negeri yg
umumnya dibuktikan dgn ijazah atau surat tanda tamat belajar.
Dengan kata lain orang dinamakan perawat bukan dari keahlian turun
temurun, melainkan dengan melalui jenjang pendidikan perawat. Tugas perawat
dalam menjalankan perannya sebagai pemberi asuhan keperawatan ini dapat
dilaksanakan tepat tahapan dalam proses keperawatan.

1.2 Rumusan masalah


a) Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan penunjang?
b) Apa tujuan pemeriksaan laboratorium?
b) Apa tujuan pemeriksaan darah?
c) Apa tujuan pemeriksaan rontgen?
1.3 Tujuan penulisan
1) Tujuan umum
Untuk mengetahui peran perawat dalam pemeriksaan penunjang.
2) Tujuan khusus
a) Mengetahui pemeriksaan laboratorium
b) Untuk mengetahui pemeriksaan darah
c) Untuk mengetahui pemeriksaan rontgen

1.4 Manfaat
Kami mengetahui tentang penunjang diantaranya pemeriksaan
laboratorium, darah, dan rontgen serta berharap makalah ini dapat berguna bagi
para pembaca
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Defenisi pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan penunjang yaitu suatu pemeriksaan medis yang dilakuan atas
indikasi tertentu guna memperoleh ketarangan yang lebih lengkap. Tujuan
pemeriksaan ini dapat bertujuan :

a. Terapeutik, yaitu untuk pengobatan tertentu


b. Diagnostik, yaitu untuk membantu menegakan diagnosis tertentu
c. Pemeriksaan,laboratorium,Rontagen, USG, dll dan KTA

2.2 Jenis-jenis Pemeriksaan Penunjang


2.2.1 Pemeriksaan laboratorium
A. Pengertian Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur
pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan atau sampel dari penderita,
dapat berupa urine (air kencing), darah, sputum (dahak), dan sebagainya
untuk menentukan diagnosis atau membantu menentukan diagnosis
penyakit bersama dengan tes penunjang lainya, anamnesis, dan
pemeriksaan lainya.
B. Jenis-Jenis Pemeriksaan Laboratorium
1) Mikrobiologi, untuk mengamati air seni, darah, dahak, peralatan medis,
begitupun jaringan yang mungkin terinfeksi. Spesimen tadi dikultur
untuk memeriksa mikroba patogen.
2) Parasitologi, untuk mengamati parasit.
3) Hematologi, menerima keseluruhan darah dan plasma. melakukan
perhitungan darah dan selaput darah.
4) Kimia klinik, biasanya menerima serum, mereka menguji serum untuk
komponen-komponen yang berbeda.
5) Toksikologi, menguji obat farmasi, obat yang disalahgunakan, dan
toksin lain.
6) Imunologi, menguji antibodi.
7) Serologi, menerima sampel serum untuk mencari bukti penyakit seperti
Hepatitis atau HIV.
8) Urinalisis, menguji air seni untuk sejumlah analit.
9) Patologi, bedah menguji organ, ekstremitas, tumor, janin, dan jaringan
lain yang dibiopsi pada bedah seperti masektomi payudara.
10) Sitologi,menguji usapan sel (seperti dari mulut rahim) untuk
membuktikan kanker dan lain-lain.
C. peran perawat dalam pemeriksaan Laboratorium
Perawat mempunyai kontribusi dalam pengkajian status kesehatan
klien dengan mengumpulkan spesimen cairan tubuh. Semua klien rawat
inap menjalani paling sedikit satu kali pengumpulan spesimen laboratorium
selama dirawat di fasilitas pelayanan kesehatan.
Sekumpulan pemeriksaan laboratorium yang dirancang, untuk tujuan
tertentu misalnya untuk mendeteksi penyakit, menentukan resiko, memantau
perkembangan penyakit, memantau perkembangan pengobatan, dan lalin-
lain. Mengetahui ada tidaknya kelainan atau penyakit yang banyak di
jumpai dan potensial membahayakan. Pemeriksaan yang juga merupakan
proses General medical check up (GMC),
meliputi : Hematologi Rutin, Urine Rutin, Faeces Rutin, Bilirubin
Total, Bilirubin Direk, GOT, GPT, Fotafase Alkali, Gamma GT, Protein
Elektroforesis, Glukosa Puasa, Urea N, Kreatinin, Asam Urat, Cholesterol
Total, Trigliserida, Cholesterol HDL, Cholesterol LDL-Direk.

2.2.2 Pemeriksaan Darah


A. Pengertian Pemeriksaan Darah
Pemeriksaan darah lengkap (selanjutnya ditulis DL) adalah suatu
tes darah yang diminta oleh dokter untuk mengetahui sel darah pasien.
Terdapat beberapa tujuan dari DL, di antaranya adalah sebagai
pemeriksaaan penyaring untuk menunjang diagnosa, untuk melihat
bagaimana respon tubuh terhadap suatu penyakit dan untuk melihat
kemajuan atau respon terapi
Pada lembar hasil DL, yang umum tercatat adalah kadar
hemoglobin, jumlah trombosit, jumlah leukosit, dan hematokrit
(perbandingan antara sel darah merah dan jumlah plasma darah.).
Kadang juga dicantumkan LED (Laju Endap Darah) dan hitung jenis
leukosit.

B. Jenis-Jenis Pemeriksaan Darah


1. Diabetes
Diabetes melitus (DM) merupakan gangguan metabolisme yang
kronik ditandai oleh hiperglikemia. Tes untuk menentukan diabetes
melitus adalah:
a. Glukosa puasa.
Kadar glukosa darah pada waktu puasa atau di singkat glukosa
darah puasa di tujukan untuk :
1) Tes saring diabetes melitus, karena tidak adanya atau defisiensi
insulin,maka kadar glukosa meninggi.
2) Memonitor terapi diabetes melitus.
Nilai rujukan : 70 – 100 mg/dl
Abnormal : >140 mg/dl atau >126 mg/dl (Usulan ADA 1997)
Menunjukan peninggian nilai ambang yang perlu dikonfirmasi
dengan tes glukosa 2 jam post pradial atau tes toleransi glukosa
oral. Bila nilai >200 mg/dl, maka diagnosis adalah diabetes
melitus. Meninggi juga pada pankreatitis,post infrak miocard,
sindrom cushing, akromegali. Menurun pada hiperinsuliniisme,
myxoederma, insufisiensi adrenal, dan hipopituitarisme.
b. Glukosa 2 jam PP
Tes ini merupakan tes saring untuk menentukan diabetes
melitus. Tes dilakukan bila ada kecurigaan DM (misalnya polydipsi
dan polyuri). Atau bila glukosa darah puasa ≥ 140 mg/dl.
Nilai rujukan : <140 mg/dl
Abnormal : ≥ 200 mg/dl menujukan DM, namun dapat juga
2. Faal Hati
a. GOT (glutamic oxal-acetic transaminase)
GOT mengkatalisis konversi bagian nitrogen asam amino menjadi
energi. GOT ditemukan dalam sitoplasma dann mitokondria sel hati,
jantung, otot skelet, ginjal, pankreas, dan eritrosit. Pada kerusakan sel-sel
tersebut di atas, GOT dalam serum meninggi.
Tujuan : Test in vitro kinetik untuk penentuan secara Kuantitatif GOT
(AST =aspartat aminotransferase) dalam serum dan plasma.
Nilai rujukan : 6-30 µ/l
b. GPT (Glutamic-Pyruvic Transminase) atau Alanine Amino Transferase
(ALT) ALT mengkatalisis kelompok asam amino dalam siklus Krebs
untuk menghasilkan energi dijaringan. ALT terdapat di sitoplasma sel
hati, jantung, dan otot skelet. Pada kerusakan sel hati ALT meninggi di
dalam serum hingga merupakan indikator kerusakan sel hati.
Tujuan : Test in vitro kinetik untuk penentuan secara kuantitatif GPT
(ALT= alanine aminotransferase) dalam serum dan plasma.
Nilai rujukan : 7-32 µ/l
c. Bilirubin.
Bilirubin merupakan produk utama katabolisme hemoglobin dalam
hal ini terjadi uncojugated dalm bilirubin seterusnya dalam hati akan di
rubah menjadi conjugated (direct post hepatict).
Tujuan test : Mengevaluasi fungsi hepatobilier dan eritropoetik (gangguan
hemolitik transfuse darah).
Nilai rujukan : Bilirubin indirect ≤ 0,75 mg/dl
Bilirubin direck 0,05-0,3 mg/dl
Bilirubin total 0,2-1,0 mg/dl
d. Alkali Fostafase
Alkali fostafase didapatkan di hati, tulang, ginjal, usus, dan plasenta.
Pada orang dewasa kadar tinggi terutama dihati, tulang, usus, dan plasenta.
Pada waktu trimester kehamilan.
Tujuan test : Menentukan lesilokal dihati karena obstruksi
bilier karena tumor,batu atau abses. Identifikasi penyakit tulang dengan
aktifitas osteoblastik atau respon tyerhadap pengobatan dengan vitamin D
pada riketsia.
Nilai normal : < 240 µ/l
e. Protein
Tujuan : untuk menentukan kadar dan defisiensi protein total.
Nilai normal : 6,6 -8,7 mg/dl
f. Albumin.
Albumin adalah protein yang ada dalah darah yang diperlukan oleh
tubuh untuk memelihara dan memperbaiki jaringan.
Tujuan : penentuan secara kuantitatif albumin dalam serum dan plasma
manusia.
Nilai normal : 3,4 – 4,8 mg/dl

3. Lemak.
a. Kolesterol
Tujuan : Penentuan secara kuantitatif kolesterol dalam serum dan plasma.
Nilai normal : < 200 mg/dl.
b. HDL Klolesterol (High Density Lipoprotein)
Tujuan : Penentuan secara kuantitatif HDL kolesterol dalam serum dan
plasma.
Nilai normal : Laki-laki 35 – 55 mg/dl, perempuan 45 – 55 mg/dl.
c. LDL Kolesterol (Low Density Lipoprotein)
Tujuan : Penentuan secara kuantitatif LDL kolesterol dalam serum dan
plasma.
Nilai normal : <130 mg/dl
d. Trigliserida
Tujuan : Untuk penentuan secara kuantitatif trigliserida dalam serum dan
plasma.
Nilai normal : < 200 mg/dl
4. Faal Ginjal
a. Ureum
Ureum adalah hasil metabolesme protein,ureum di bentuk dari
amonia dalam hati dan di ekskresi oleh ginjal.
Tujuan : Penentuan kuantitatif urea dalam serum plasma dan urin.
Nilai normal : 10,0 – 50,0 mg/dl
b. Creatinin
Creatinin merupakan hasil akhir metabolisme creatin yang di filtrasi
glomeruli ginjal.
Tujuan : Penentuan invitro secara kuantitatif creatinin dalam serum dan
plasma manusia.
Nilau normal :
laki-laki 0,70 -1,20 mg/dl,
perempuan 0,50 – 0.90 mg/dl.
c. Bun (Blood Urea Nitrogen)
BUN adalah produk akhir dari metabolisme protein, dibuat oleh hati,
sampai pada ginjal tidak mengalami perubahan molekul. Pada orang normal
ureum diekskresikan melalui urine. Konsentrasi nitrogen / urea dalam darah
bukan untuk mengukur fungsi glomerulus yang ideal, karena
peningkatannya dalam darah dipengaruhi oleh banyak faktor diluar ginjal.
Ureum merupakan senyawa ammonia berasal dari metabolisme asam
amino yang diubah oleh hati menjadi ureum. Ureum bermolekul kecil
mudah berdifusi ke cairan ekstra sel, dipekatkan dan diekskresikan melalui
urine lebih kurang 25 gr/hari.
Nilai Normal BUN
Pria : BUN : 15 – 40 (mg/dl)
Wanita : BUN : 15 – 40 (mg/dl)
5. Pemeriksaan darah lengkap
a. Hemoglobin.
Hemoglobin adalah metaloprotein (protein yang mengandung zat besi) di
dalam sel darah merah yang berfungsi sebagai pengangkut oksigen dari paru-
paru ke seluruh tubuh.
Tujuan : untuk memeriksa kemungkinan anemia.
Nilai normal : Laki laki 14 – 16 , perempuan 12 – 14 gr %
b. Hematocrit
Hematokrit merupakan ukuran yang menentukan banyaknya jumlah sel darah
merah dalam 100 ml darah yang dinyatakan dalam persent (%).
Nilai normal hematokrit untuk pria berkisar 40,7% - 50,3% sedangkan untuk
wanita berkisar 36,1% - 44,3%
c. Eritrosit (sel darah merah)
Eritrosit adalah jenis sel darah yang paling banyak dan berfungsi
membawa oksigen ke jaringan-jaringan tubuh.
Tujuan : untuk menetahui kualitas darah dalam tubuh.
Nilai normal : laki-laki 4,5 – 5,5, perempuan 4-5 juta/UL
d. Leukosit (sel darah putih)
Leukosit adalah sel yang membentuk komponen darah. Sel darah putih ini
berfungsi untuk membantu tubuh melawan berbagai penyakit infeksi sebagai
bagian dari sistem kekebalan tubuh.dan merupakan pertahanan badan terhadap
benda asing
Tujuan : Untuk mengetahui kemampuan tubuh melawan infeksi.
Nilai normal : 5-10.000/UL
e. Trombosit (keping darah)
Trombosit adalah sel kecil yang beredar dalam darah.
Tujuan : Untuk melihat kemampuan tubuh mengontrol pendarahan.
Nilai normal : 150 -400.000/UL
f. Indeks Eritrosit (MCV, MCH, MCHC)
Biasanya digunakan untuk membantu mendiagnosis penyebab anemia
(Suatu kondisi di mana ada terlalu sedikit sel darah merah). Indeks/nilai yang
biasanya dipakai antara lain :
1) MCV (Mean Corpuscular Volume) atau Volume Eritrosit Rata-rata (VER),
yaitu volume rata-rata sebuah eritrosit yang dinyatakan dengan femtoliter (fl)
MCV = Hematokrit x 10
Eritrosit
Nilai normal = 82-92 fl
2) MCH (Mean Corpuscular Hemoglobin) atau Hemoglobin Eritrosit Rata-Rata
(HER), yaitu banyaknya hemoglobin per eritrosit disebut dengan pikogram
(pg)
MCH = Hemoglobin x 10
Eritrosit
Nilai normal = 27-31 pg
3) MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration) atau Konsentrasi
Hemoglobin Eritrosit Rata-rata (KHER), yaitu kadar hemoglobin yang didapt
per eritrosit, dinyatakan dengan persen (%) (satuan yang lebih tepat adalah
“gr/dl”)
MCHC = Hemoglobin x 100
Hematokrit
Nilai normal = 32-37 %
g. Laju Endap Darah
Laju Endap Darah atau Erithrocyte Sedimentation Rate (ESR) adalah
kecepatan sedimentasi eritrosit dalam darah yang belum membeku, dengan
satuan mm/jam. LED merupakan uji yang tidak spesifik. LED dijumpai
meningkat selama proses inflamasi akut, infeksi akut dan kronis, kerusakan
jaringan (nekrosis), penyakit kolagen, rheumatoid, malignansi, dan kondisi
stress fisiologis (misalnya kehamilan).
International Commitee for Standardization in Hematology (ICSH)
merekomendasikan untuk menggunakan metode Westergreen dalam
pemeriksaan LED, hal ini dikarenakan panjang pipet Westergreen bisa dua kali
panjang pipet Wintrobe sehingga hasil LED yang sangat tinggi masih
terdeteksi.
Nilai normal LED pada metode Westergreen :
Laki-laki : 0 – 15 mm/jam
Perempuan : 0 – 20 mm/jam
h. Hitung Jenis Leukosit (Diff Count)
Hitung jenis leukosit digunakan untuk mengetahui jumlah berbagai jenis
leukosit. Terdapat lima jenis leukosit, yang masing-masingnya memiliki fungsi
yang khusus dalam melawan patogen. Sel-sel itu adalah neutrofil, limfosit,
monosit, eosinofil, dan basofil. Hasil hitung jenis leukosit memberikan
informasi yang lebih spesifik mengenai infeksi dan proses penyakit. Hitung
jenis leukosit hanya menunjukkan jumlah relatif dari masing-masing jenis sel.
Untuk mendapatkan jumlah absolut dari masing-masing jenis sel maka nilai
relatif (%) dikalikan jumlah leukosit total dan hasilnya dinyatakan dalam
sel/μl.
Nilai normal :
Eosinofil 1-3%,
Netrofil 55-70%,
Limfosit 20-40%,
Monosit 2-8%
i. Platelet Disribution Width (PDW)
PDW merupakan koefisien variasi ukuran trombosit. Kadar PDW tinggi
dapat ditemukan pada sickle cell disease dan trombositosis, sedangkan kadar
PDW yang rendah dapat menunjukan trombosit yang mempunyai ukuran yang
kecil.
j. Red Cell Distribution Width (RDW)
RDW merupakan koefisien variasi dari volume eritrosit. RDW yang tinggi
dapat mengindikasikan ukuran eritrosit yang heterogen, dan biasanya ditemukan
pada anemia defisiensi besi, defisiensi asam folat dan defisiensi vitamin B12,
sedangkan jika didapat hasil RDW yang rendah dapat menunjukan eritrosit yang
mempunyai ukuran variasi yang kecil.
C. Peran Perawat Dalam Pemeriksaan Darah
Peran perawat dalam pemeriksaan darah yaitu hanya membantu untuk
menunjang pengambilan darah pada pasien. Seperti persiapan alat, persiapaan
pasien, langkah kerja dan documentasi. Setelah itu sampel darah akan diberi
kepada bagian medis yang ahli seperti analis.
2.2.3 Rontgen
A. Pemeriksaan Rontgen
Rontgen atau dikenal dengan sinar X merupakan pemeriksaan yang
memanfaatkan peran sinar X dalam mendeteksi kelainan pada berbagai organ
diantaranya dada, jantung, abdomen, ginjal, ureter, kandung kemih, tengkorak,
rangka.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan menggunakan radiasi radiasi sinar X
yang sedikit karena tingginya kualitas film sinar X dan digunakan untuk
melakukan skrinning dari berbagai kelainan yang ada pada organ.
Sinar X merupakan pancaran gelombang elektromagnetik yang sejenis
dengan gelombang radio, panas, cahaya sinar ultraviolet, tetapi mempunyai
panjang gelombang yang sangat pendek sehingga dapat menembus benda-benda.
Sinar X ditemukan oleh sarjana fisika berkebangsaan Jerman yaitu W. C.
Rontgen tahun 1895
B. Jenis-Jenis Pemeriksaan Rontgen
a. Konvensional
Pemeriksaan radiologi tanpa bahan kontras.
Jenis pemeriksaan:
1. Thorax : Pemeriksaan secara radiologi organ thorax
2. Kepala : Pemeriksaan secara radiologi organ kepala
3. Extermitas : Pemeriksaan secara radiologi organ ektermitas
4. Vetebrae : Pemeriksaan secara radiologi organ vertebrae : vetebrae
cervical,vetebrae thoraxal, vetebrae lumbal, vetebrae sacral, coccigius.
5. Mamoghraphy : Pemeriksaan secara radiologi organ payudara dengan
menggunakan pesawat khusus mammography dengan kapasitas kilo volt
rendah dan waktu expose panjang
b. Pemeriksaan Khusus.
Pemeriksaan radiologi dengan bahan kontras.
Jenis pemeriksaan :
1. Oesophagus
Pemeriksaan secara radiologi organ traktus digestivus pada daerah
oesophagus dengan menggunakan bahan kontras melalui oral (barium sulfat
yang dilarutkan dalam air 1:1)
2. Maag Doedonum
Pemeriksaan secara radiologi pada organ lambung dengan menggunakan
bahan kontras melalui oral (barium sulfat yang dilarutkan dalam air.
3. Follow Through
Pemeriksaan secara radiologi pada organ usus halus dengan menggunakan
bahan kontras melalui oral (barium sulfat yang dilarutkan dalam air.
4. Intra Vena Pyeleography (IPV)
Pemeriksaan secara radiologi pada organ traktus urinarius (ginjal ,urether,
buli & buli) dengan menggunakan bahan kontras melalui penyuuntikan
intravena.
5. Appendikogram
Pemeriksaan secara radiologi pada daerah appendik dengan menggunakan
bahan kontras barium sulfat yang di larutkan dalam air yang kemudian di
minum.
6. Retrograde Pyelography (RPG)
Pemeriksaan secara radiologi pada organ traktus urinarius (ginjal, urether,
buli & buli) dengan menggunakan bahan kontras yang dimasukan melalui
kateter kedalam ginjal dan saluranya. Pemasangan kateter tersebut
dilakukan di kamar operasi).
7. Bipoler Uretrogram
Pemeriksaan secara radiologi pada organ traktus urinarius (ginjal, uretra,
buli-buli) dengan menggunakan bahan kontras yang dimasukan melalui
kateter sistomi kedalam buli-buli dan secara retrograde melalui urether.
8. Hystero Salvingography
Pemeriksaan secara radiologi pada organ genitalia wanita dengan
menggunakan bahan kontras yang dimasukan melalui uterus dan tuba
uterine.
9. Myelography
Pemeriksaan secara radiologi pada organ. canalis medulla spinalis dengan
menggunakan bahan kontras yang dimasukan melalui lumbal fungsi.
10. Fiestelography
Pemeriksaan secara radiologi untuk fistel )kedalaman, hubungan dengan
organ lain) dengan menggunakan bahan kontras dimasukan melalui fistel
tersebut.

c. Pemeriksaan CT Scan
Alat CT scan adalah generator pembangkit sinar-x yang bila dioperasikan
oleh operator akan mengeluarkan sinar-x dalam jumlah dan waktu tertentu. CT
Scan adalah suatu prosedur yang digunakan untuk mendapatkan gambaran
dalam dari berbagai sudut kecil dari organ tulang tengkorak dan otak serta dapat
juga untuk seluruh tubuh.
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk memperjelas adanya dugaan yang
kuat antara suatu kelainan, yaitu :
1) Gambaran lesi dari tumor, hematoma dan abses.
2) Perubahan vaskuler : malformasi, naik turunnya vaskularisasi dan infark.
3) Brain contusion.
4) Brain atrofi.
5) Hydrocephalus
6) Inflamasi

1. Pemeriksaan CT Scan tanpa kontas maupun dengan kontras


1) CT-SCAN OTAK
Potongan axial dari OM Line/Reids base line sampai vertex, tebal
potongan : 4–5 mm infratentorial, 8-10mm supratentorial atau semua rata
7mm. Lesi dimidline sebaiknya dibuat potongan coronal sebagai
tambahan. Kondisi tulang pada kasus trauma/ suspect fraktur tulang
kepala. Indikasi kontras: tumor, infeksi, kelainan vaskuler mencari AVM,
aneurysma.
2) CT-SCAN HYPOFISE
Potongan coronal 1-5mm tanpa dan dengan bolus kontras,
dilanjutkan dengan axial scan 2-5mm dari OM Line sampai supraseller
distren (2mm bila lesi kecil /mikroadenoma atau kelenjar hipofise normal
; 5mm bila tumor besar/ makroadenoma) F.O.V kecil (160-200) mulai
dari procesus clinoideus anterior sampai dorsum sellae.
3) CT-SCAN TELINGA / os.PETROSUM
Teknik : High Resolusi CT / kondisi tulang kasus non-
tumor/trauma basis cranii: potongan axial dan coronal 2mm sejajar
dengan axis os.petrosum. mencakup seluruh tulang os.petrosum, tanpa
kontras, kondisi tulang (WW dan WL yang tinggi) kasus tumor / infeksi
(abses ) potongan axial 2-5mm mencakup seluruh os.petrosum tanpa dan
dengan kontras, kondisi tulang dan soft tissue. Potongan coronal 2-5mm
sebagai tambahan, dalam kondisi tulang dan soft tissue. Mencakup
seluruh os.petrosum dan proses abnormalnya.
4) CT-SCAN ORBITA
Tumor/ infeksi: Potongan axial 3-5mm dari dinding inferior sampai
dinding superior cavum orbita, sudut sejajar dengan N.opticus atau
menggunakan garis infraorbito meatal line, tanpa dan dengan kontras.
Setelah itu dibuat potongan coronal 3-5mm mencakup seluruh cavum
orbita. Fractur orbita : potongan coronal dan axial 2-4mm tanpa kontras,
dicetak dalam kondisi soft tissue dan tulang pada daerah fraktur. F.O.V.
kecil (160-200).
5) CT-SCAN NASOPHARYNX, LIDAH
Nasopharynx: potongan axial 3-5mm, FOV 250mm, kondisi
dengan filter agak tinggi (lebih tinggi dari otak) dan pallatum sampai sinus
frontalis, sudut sejajar pallatum. Tanpa dan dengan kontras bolus,
kemudian dilanjutkan dengan potongan axial 5mm sejajar corpus vertebrae
cervicalis dari C2 s/d C6 F.O.V 200mm untuk mencari pembesaran
kelenjar. Setelah itu dibuat potongan coronal 3-5mm, tergantung besar –
kecilnya kelainan dari choana sampai cervical vertebrae sejajar dengan
dinding posterior nasoprynx F.O.V. 250mm, potongan coronal kadang
perlu dibuat dalam kondisi tulang apabila ada destruksi basis cranii.
Oropharynx: sama dengan nasopharynx hanya mulainya agak
rendah, garis axial dimulai dari mandibula keatas.
Lidah: pasti harus diganjal gigi/rongga mulutnya dengan sepotong
gabus, agar pada potongan coronal lidah tidak menyatu dengan pallatum.
Teknik hamper sama dengan nasopharynx, hanya axial dan coronalnya
harus mencakup seluruh daerah lidah.
Bila tumor diduga berada di 2/3 depan lidah lebih baik dibuat
coronal dahulu tanpa dan dengan bolus kontras, baru kemudian dibuat
axialnya. Sedangkan untuk tumor dipangkal lidah, sebaiknya dibuat axial
dahulu baru cornal. Kontras diberikan pada potongan yang diperkirakan
akan memberi informasi baik.
6) CT-SCAN LARYNX / PITA SUARA
Potongan pre kontras : axial 5mm dari epiglottis sampai cincin
trachea 1-2, sejajar dengan pita suara.
Potongan dengan kontras : axial 2-3mm didaerah pita suara, mulai
dari batas atas sampai batas bawah lesi. Bila ada kelenjar membesar, dibuat
potngan leher 5mm post bolus kontras (delayed scan) F.O.V. 160-200mm,
tanpa dan dengan bolus kontras.
7) CT-SCAN THYROID
Potongan axial 3-5mm dari bagian atas kelenjar thyroid samapi
bagian bawah biasanya mulai setinggi C5-6 sampai thoracic inlet, tanpa dan
dengan bolus kontras, kemudian di ulang / delayed scan untuk mendapatkan
batas lesi dan tambahan informasi yang lebih baik setelah seluruh kelenjar
mengalami penyengatan merata, F.O.V. 160-200mm.
Catatan : untuk CT-Scan pita suara dan thyroid dapat dibuatkan teknik
MPR (Multiplanar Rekontruksi) untuk menghasilkan potongan coronalnya,
untuk itu harus dibuat potongan 1-2mm pada waktu bolus kontras sepanjang
daerah yang diperlukan untuk potongan coronalya.

8) CT-SCAN SINUS PARANASALIS


Teknik High Resolusi
Sinusitis: Potongan coronal 2mm di1/2 bagian depan dan 4mm 1/2
bagian posterior, mulai dari os.nasale sampai dengan nasopharynx,
potongan axial dari dasar sinus maxillaries sampai sinus frontalis 3-5mm,
tanpa bahan kontras, kondisi soft tissue (WW diatas 2000, WL diatas 200)
F.O.V 200-250mm
Tumor sinus : Potongan coronal 3-5mm dari dinding depan sinus
sampai nasopharynx / tumor habis tanpa dan dengan kontras, kemudian
axial 3-5mm dari dasar sinus sampai sinus frontalis / mencakup seluruh
tumor, kondisi soft tissue / tulang dan kondisi massa tumor dengan WW
yang rendah.
9) CT-SCAN THORAX
(bila memungkinkan sebaiknya dipakai teknik high resolusi).
Potongan axial prekontras/ polos dari puncak paru sampai diafragma, tebal
potongan 10, index 10-15. Bolus kontras diberikan mulai dari arkus aortae
samapi hilus inferior, tebal potongan 5-8mm. Bila proses dibawah hilus
potongan post kontras diteruskan kebawah sampai mengenai seluruh proses
terpotong. Kondisi dicetak dalam 2 macam: kondisi parenkim paru dan
kondisi mediastinum. Permintaan khusus untuk parenkim paru dapat dibuat
sbb: biasanya pada indikasi parenchymal lung disease / emphysema. Axial
scan tanpa kontras filter high resolusi, tebal potongan 2mm dengan index
potongan 8-10mm dari puncak paru sampai diafragma.
Tumor esophagus : pemeriksaan thorax scan sambil minum oral
kontras sampai didapatkan lumen tumor yang sempit / batas antara
esophagus yang lebar dan yang sempit sebagai batas atas tumor.Bolus
kontras diberikan pada daerah tumor mulai batas atas sampai batas bawah,
dicetak dalam kondisi mediastinum. Potongan coronal dan sagital dapat
diperoleh melalui MPR (untuk itu perlu dibuat potongan tipis 2-3mm
sewaktu dibolus).

10) CT-SCAN ABDOMEN ATAS


Potongan Axial dari diafragma sampai ginjal. Prekontras: tebal
potongan 10, index 10-15mm. Bolus kontras diberikan pada daerah yang
menjadi tujuan pemeriksaan. Organ / kelainannya yang diperiksa besar
(hepar, lien): tebal potongan 10mm, index 8-12mm. Organ / kelainannya
sedang (ginjal, lambung, usus) dipakai tebal potongan 5-8mm. Organ /
kelainannya kecil (pancreas, kandung empedu,……..) tebal potongan 2-
5mm.
Pada kasus tertentu seperti tumor yang hipervaskuler/hemangioma
khusus untuk hepar dan ginjal, perlu dibuat delayed scan apbila dicurigai
ada kelainan pada bolus kontras.Pada alat spiral / helical CI, untuk hepar
dan ginjal sebaiknya dipakai program volume/spiral scan untuk
mendapatkan dual phase(fase arterial dan portal pada hepar atau fase
cortex dan medulla pada ginjal), kemudian dibuat lagi delayed scan untuk
mendapatkan fase equilibrium(untuk hepar) dan fase excresi (untuk ginjal)
dimana system pelviocalycesnya terisi penuh. Untuk kasus CA pancreas
pakai kontras negatife (minum air saja).
11) CT-SCAN ABDOMEN BAWAH / PELVIC
Potongan axial dari lumbal 5 sampai buli-buli / kelenjar prostate.
Prekontras : tebal potongan 10mm. Bolus kontras didaerah yang ada
kelainan, tebal potongan tergantung besar kecilnya kelainan. Biasanya
dipakai tebal potongan 5mm. Persiapan pasien sering tidak sampai mengisi
baik rectum-sigmoid, untuk itu perlu dimasukkan kontras rectum. Khusus
untuk Ca cervix yang masih stadium II-III, dibuat potongan 3mm pada
waktu bolus kontras. Delayed scan kadang diperlukan bila: batas tumor
tidak jelas. Potongan koronal dan sagital dapat diperoleh melalui teknik
MPR.
12) CT-SCAN SPINE
Potongan axial F.O.V. 160mm, tanpa kontras atau dengan kontras
intrathecal, disebut CT-Myelografi. Untuk kasus HNP: potongan hanya
didaerah ruang discus, sejajar dengan discus, tebal potongan 2-4mm.
Kondisi soft tissue dan tulang bila perlu. Untuk penilaian canal stenosis,
dapat dibuat satu potongan tepat ditengah korpus vertebrae, tegal lurus
dengan axis corpus. Untuk kasus tumor/spondylylitis/metastasis tulang:
potongan sejajar dengan corpus vertebrae didaerah yang ada kelainannya.
Kondisi soft tissue dan tulang . Bila perlu (umumnya harus) diberikan
bolus kontras terutama pada kasus abses paravertebral atau untuk melihat
infiltrasi tumor kedalam canalis vertebralis.
C. Peran Perawat Dalam Pemeriksaan Rontgen
Perawat radiologis biasanya mengembangkan dan mengelola
rencana perawatan untuk membantu pasien memahami prosedur dan
kemudian, memulihkan diri dari prosedur. Hal ini mungkin juga termasuk
bekerja dengan keluarga pasien. Perawat dapat melakukan pemeriksaan
atau melaksanakan tindakan kesehatan preventif dalam pedoman yang
ditetapkan dan instruksi dari ahli radiologi. Selain itu, perawat dapat
merekam temuan dokter dan mendiskusikan kasus dengan baik ahli
radiologi atau profesional kesehatan lainnya. Seringkali, seorang perawat
radiologis akan membantu selama pemeriksaan atau terapi.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pemeriksaan diagnostik pada sistem kardiovaskuler ini dibagi menjadi
beberapa pemeriksaan yaitu pemeriksaan test laboratorium, pemeriksaan
radiografi, pemeriksaan EKG, pemeriksaan echocardiografi.
Pemeriksaan test laboratorium sendiri dibagi menjadi 2 yaitu
pemeriksaan laboratorium rutin dan pemeriksaan spesifik.
Pemeriksaan radiografi thorax atau sering disebut chest x-ray (CXR)
bertujuan menggambarkan secara radiografi organ pernafasan yang terdapat
didalam rongga dada.

3.2 Saran
Dengan disusunnya makalah ini mengharapkan kepada semua pembaca
agar dapat mengetahui dan memahami peran dan fungsi perawat secara benar
sesuai dengan pemeriksaan penunjang.
DAFTAR PUSTAKA

Hidayati, Ratna dkk. (2014). Praktik Laboratorium Keperawatan. Jakarta :


Erlangga.

Dr. Hadisaputro, Soeharyo, dr Sp.PD. (2012). Buku Saku Pengenal Penyakit


Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Yogyakarta : Amara Books.

Nursalam.2008.Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktik.Jakarta


: Salemba Medika