Anda di halaman 1dari 4

PENATALAKSANAAN DIARE

No. Dokumen : SOP/B/V/DIARE/01


SOP No. Revisi : 00
Tanggal Terbit : 05 Juni 2019
PUSKESMAS KUMBE EUTALIA ANITU,Amd.Keb
KABUPATEN MERAUKE NIP. 197809172005062001

1. Pengertian 1. Diare ialah buang air besar dengan konsistensi lebih encer/cair dari
biasanya, ≥ 3 kali per hari, dapat/tidak disertai dengan lendir/darah
yang timbul secara mendadak dan berlangsung kurang dari 2
minggu.
2. Diare adalah buang air besar yang sering dan cair, biasanya paling
tidak tiga kali dalam 24 jam. Namun, lebih penting konsistensi tinja
daripada daripada jumlah. Seringkali, buang air besar yang
berbentuk bukanlah diare. Hanya bayi yang diberi ASI sering buang
air besar, buang air besar yang "pucat" juga bukan diare.
2. Tujuan 1. Mencegah dehidrasi, jika tidak ada tanda-tanda dehidrasi.
2. Mengobati dehidrasi, jika ada.
3. Mencegah kerusakan nutrisi, dengan memberi makanan selama dan
setelah dehidrasi,dan.
4. Mengurangi durasi dan keparahan diare, dan timbulnya pada
episode mendatang, dengan memberikan suplemen zinc.
3. Kebijakan 1. Surat Keputusan Kepala Puskesmas Kumbe tentang penetapan
Penanggung jawab UKM.
2. Surat Keputusan Kepala Puskesmas Kumbe tentang pengelolaan
dan pelaksanaan UKM Puskesmas.
3. Surat Keputusan Kepala Puskesmas Kumbe tentang monitoring
pengelolaan dan pelaksanaan UKM Puskesmas.
4. Referensi 1. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 001 Tahun 2012 tentang
Sistem Rujukan Pelayanan Kesehatan Perorangan (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2012 Nomor 122);

2. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 71 Tahun 2013 tentang

1 dari 4
Pelayanan Kesehatan Pada Jaminan Kesehatan Nasional;

3. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75 Tahun


2015 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat;

4. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46 tahun


2015 tentang Akreditasi Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama;

5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:


828/MENKES/SK/IX/2008 tentang Petunjuk Teknis Standar
Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota;

6. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


296/Menkes/SK/III/2008 tentang Pedoman Pengobatan Dasar di
Puskesmas;

7. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor:


HK.02.02/MENKES/514/2015 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi
Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama;

8. Peraturan Bupati Merauke Nomor 33 Tahun 2016 Tentang Izin


Operasional Puskesmas (Lembaran Daerah Kabupaten Merauke
Tahun 2016 Nomor 33)

5. Alat dan Bahan 1. Stetoskop.


2. Tensi meter.
3. Thermometer.
4. Oralit.
6. Prosedur/Langkah- Kegiatan dilakukan pada pasien rawat inap dan rawat jalan. Pasien
langkah dengan keluhan buang air besar dengan konsistensi lebih encer/cair dari
biasanya, ≥ 3 kali per hari.

1. Petugas melakukan observasi awal penyebab diare..


2. Anak penderita diare ringan tetap dapat mengkonsumsi makanan
biasa, termasuk susu. ASI tetap dapat diberikan. Jika anak terlihat
kembung setelah minum susu sapi atau formula, petugas
mengubungi DSA. Petugas mendiskusikan kemungkinan mengganti

2 dari 4
susu. Biasanya susu yang digunakan yaitu susu free-lactose (FL).
Cairan khusus (pengganti cairan tubuh) umumnya belum diperlukan
pada anak penderita diare ringan.
3. Anak yang menderita diare sedang dapat dirawat di rumah dengan
mendapatkan pengawasan ekstra dari petugas dan petunjuk dari
DSA-nya.
4. Petugas tidak membuat sendiri cairan ini. Takaran dan kandungan
dari oralit sangat kompleks.
5. Patugas memberikan cairan infus untuk diare berat dengan gejala-
gejala dehidrasi berat.
6. Petugas menyarankan pasien untuk banyak minum (paling sedikit 55
cc air setiap jam) untuk menggantikan cairan yg hilang melalui diare.
7. Petugas tetap memberikan dit makanan padat, jika pasien sudah
biasa makan makanan padat.
8. Jika ada muntah, makanan padat biasanya tidak diberikan sampai
muntah ini berhenti. Tetapi petugas menawarkan cairan yang bening
(sari buah yang diencerkan atau cairan rehidrasi, jika dianjurkan oleh
dokter) atau untuk anak yg sudah lebih besar, tawarkan es lilin yang
dibuat dari sari buah yang diencerkan.
9. Ketika tinja mulai normal kembali, biasanya setelah dua atau tiga
hari, petugas menganjurkan untuk kembali ke diet bayi yang
biasanya, tetapi tetap membatasi susu dan produk susu lainnya
(kecuali asi atau susu formula untuk satu atau dua hari lebih lama.
10. Pada diare yang berlangsung selama dua minggu atau lebih, pada
bayi yang minum susu botol, petugas menganjurkan perubahan susu
formulanya.
11. Petugas memberikan pengobatan untuk membantu meringankan
gejala.

7. Dokumen Terkait 1. Laporan bulanan diare.


2. Rekapan hasil kunjunagn rumah.
8. Unit Terkait 1. Poli umum.

3 dari 4
2. Rawat inap.
3. Kunjungan rumah.

4 dari 4