Anda di halaman 1dari 22

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap aktivitas yang dilakukan manusia akan menghasilkan limbah,


limbah ini dalam skala kecil tidak akan menimbulkan masalah karena alam
memiliki kemampuan untuk menguraikan kembali komponen-komponen yang
terkandung dalam limbah. Namun bila terakumulasi dalam skala besar, akan timbul
permasalahan yang dapat menggangu keseimbangan lingkungan hidup.
Permasalahan lingkungan saat ini yang dominan adalah limbah yang
berasal dari hasil kegiatan rumah tangga dan industri. Limbah sendiri terbagai
menjadi limbah domestik cair dan limbah domestik padat. Limbah cair sendiri dapat
dikatakan sebagai buangan yang berbentuk cair atau liquid sedangkan, limbah
domestik padat adalah limbah yang berbentuk padatan bisa berupa plastik, padatan
tersuspensi, lumpur ataupun bubur.
Sumber pencemaran terbesar sendiri berasal limbah domestik. Hal tersebut
dikarenakan semakain bertambahnya jumlah penduduk dan diikuti dengan
padatnya kegiatan pembangunan dan pemukiman di wilayah pesisir sehingga
inputan limbah domestik pada perairan laut menjadi besar. Masuknya limbah
tersebut pada lingkungan perairan dapat menyebabkan beberapa dampak dan
masalah bagi ekosistem laut, seperti penurunan kualitas air, penurunan kesehatan
organisme yang akan berbanding lurus dengan kematian biota. Limbah yang tidak
dikelola akan menimbulkan dampak pada perairan.Pengelolaan limbah dalam
proses produksi dimaksudkan untuk meminimalkan limbah yang terjadi, serta untuk
menghilangkan atau menurunkan kadar bahan pencemar yang terkandung di dalam
perairan.
Limbah yang terdiri dari limbah domestik yaitu jenis limbah hasil kegiatan
rumah tangga, perdangan, pertanian dan industri yang dibuang langsung ke badan
penerima, maka akan mengakibatkan pencemaran air. Oleh karena itu sebelum
dibuang ke badan penerima air, terlebih dahulu harus diolah. Pentingnya
diadakannya upaya/ mitigasi dalam penanganan limbah tersebut agar dapat
menghindari dampak buruk dari limbah domestik tersebut sehingga dapat
memenuhi standar air yang baik. Oleh karena itu makalah ini disusun untuk
mengkaji bagaimana jenis limbah domestik , dampak serta upaya penanganannya
di wilayar pesisir dan laut

1.2. Tujuan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah:


1. Mengetahui jenis limbah domestik.
2. Mengetahui pengaruh/ dampak dari limbah.
3. Mengetahui upaya dan penanganan limbah.

1
BAB 2. PEMBAHASAN

2.1. Limbah Domestik dan Jenis-Jenisnya


Limbah rumah tangga, bangunan, perkantoran atau sering disebut juga
dengan limbah cair domestik (domestic wastewater) adalah salah satu sumber
pencemaran yang menimbulkan dampak yang serius pada lingkungan pesisir
dimana umumnya karena tidak dikelola dengan tepat. Berbagai kehidupan di tepi
pantai seperti pemukiman, perikanan, pertanian, industri dan kegiatan pariwisata.
Limbah domestik ini masuk ke perairan laut secara langsung dari outfall di pinggir
pantai dari sungai yang bermuara ke laut atau dari aliran air hujan. Terlebih di
daerah perkotaan, limbah domestik menjadi limbah dengan persentase terbesar
dalam menyumbang kerusakan lingkungan hidup (Nahdliyah, 2017).
Jenis - jenis Limbah dibagi menjadi limbah cair dan padat. Berdasarkan
KEPMEN LH No. 112 Tahun 2003 tnetang Baku Mutu Air Limbah Domestik, air
limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha dant atau kegiatan
permukiman (estate), rumah makan (restaurant), perkantoran, perniagaan, industri,
apartemen, dan asrama. Air limbah rumah tangga terdiri dari 3 fraksi penting, yaitu
: Tinja (feces), berpotensi mengandung mikroba patogen, air seni (urine), umumnya
mengandung Nitrogen (N) dan Fosfor (F), serta kemungkinan kecil mikro-
organisme.

Tabel 1. Baku Mutu Air Laut Untuk Wisata Bahari Menteri Negara Lingkungan
Hidup No. 51 Tahun 2004
No Parameter Satuan Baku mutu
FISIKA
1 Kecerahan M >3
2 Kebauan - Tidak berbau
3 Padatan tersusoensi total mg/l 80
4 Sampah - Nihil
o
5 Suhu C Alami
6 Lapisan minyak - Nihil
KIMIA
1 pH - 6,5 – 8,5
o
2 Salinitas /oo Alami
3 Ammonia total (NH3-N) mg/l 0,3
4 Sulfida (H2S) mg/l 0,03
1
5 Hidrokarbon total mg/l
6 Senyawa Fenol total mg/l 0,002
7 PCB (poliklor bifenil) μg/L 0,01
8 Surfaktan (deterjen) mg/l MBAS 1
9 Minyak dan lemak mg/l 5
10 TBT (tri butil tin) μg/l 0,01
Logam Terlarut
1 Raksa (Hg) mg/l 0,003
2 Kadmium (Cd) mg/l 0,01
3 Tembaga (Cu) mg/l 0,05
4 Timbal (Pb) mg/l 0,05
5 Seng (Zn) mg/l 0,1

2
BIOLOGI
1 Coliform (total) MPN/100 ml 1000
RADIO NUKLIDA
1 Komposisi yang tidak diketahui Bq/l 4

Keterangan:
1. Nihil adalah tidak terdeteksi dengan batas deteksi alat yang digunakan (sesuai
dengan metode yang digunakan).
2. Metode analisa mengacu pada metode analisa untuk air laut yang telah ada, baik
internasional maupun nasional.
3. Alami adalah kondisi normal suatu lingkungan, bervariasi setiap saat (siang,
malam dan musim).
4. Pengamatan oleh manusia (visual).
5. Pengamatan oleh manusia (visual). Lapisan minyak yang diacu adalah lapisan tipis
(thin layer) dengan ketebalan 0,01 mm.
a. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% kedalaman euphotic.
b. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% konsentrasi rata2
musiman.
c. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <2oC dari suhu alami.
d. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <0,2 satuan pH.
e. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <5% salinitas rata-rata
musiman.
f. Berbagai jenis pestisida seperti: DDT, Endrin, Endosulfan dan Heptachlor.
g. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% konsentrasi rata-rata
musiman.

Tabel 2. Baku Mutu Air Laut Untuk Biota Laut Menteri Negara Lingkungan Hidup
No. 51 Tahun 2004
No Parameter Satuan Baku mutu
FISIKA
1 Kecerahan M Coral : >5
Mangrove: -
Lamun : >3
2 Kebauan - Alami3
3 Kekeruhan NTU <5
3 Padatan tersusoensi total mg/l Coral : 20
Mangrove: 80
Lamun : 20
4 Sampah - Nihil1(5)
o
5 Suhu C Alami3(c)
Coral : 28-30(e)
Mangrove: 28-32(c)
Lamun : 28-30(c)
6 Lapisan minyak - Nihil1(5)
KIMIA
1 pH - 7 - 8,5(d)
o
2 Salinitas /oo Alami3(e)
Coral : 33-34(e)
Mangrove: s/d 34(e)
Lamun : 33-34€
3 Oksigen Terlarut (DO) mg/l >5

3
4 BOD5 mg/l 20
3 Ammonia total (NH3-N) mg/l 0,3
4 Fosfat (PO4-P) mg/l 0,015
Nitrat (NO3-N) mg/l 0,008
Sianida (CN-) mg/l 0,5
4 Sulfida (H2S) mg/l 0,01
5 PAH (Poliaromatik hidrokarbon) mg/l 0,003
6 Senyawa Fenol total mg/l 0,002
7 PCB (poliklor bifenil) μg/l 0,01
8 Surfaktan (deterjen) mg/l MBAS 1
9 Minyak dan lemak mg/l 1
Pestisida μg/l 0,01
10 TBT (tri butil tin) μg/l 0,01
Logam Terlarut
1 Raksa (Hg) mg/l 0,001
Kromium heksavalen (Cr(VI)) mg/l 0,005
Arsen (As) mg/l 0,012
2 Kadmium (Cd) mg/l 0,001
3 Tembaga (Cu) mg/l 0,008
4 Timbal (Pb) mg/l 0,008
5 Seng (Zn) mg/l 0,05
Nikel (Ni) mg/l 0,05
BIOLOGI
1 Coliform (total)(g) MPN/100 ml 1000(g)
Patogen sel/100 ml nihil1
Plankton sel/100 ml tidak bloom6
RADIO NUKLIDA
1 Komposisi yang tidak diketahui Bq/l 4
Keterangan:
1. Nihil adalah tidak terdeteksi dengan batas deteksi alat yang digunakan (sesuai
dengan metode yang digunakan).
2. Metode analisa mengacu pada metode analisa untuk air laut yang telah ada, baik
internasional maupun nasional.
3. Alami adalah kondisi normal suatu lingkungan, bervariasi setiap saat (siang,
malam dan musim).
4. Pengamatan oleh manusia (visual).
5. Pengamatan oleh manusia (visual). Lapisan minyak yang diacu adalah lapisan tipis
(thin layer) dengan ketebalan 0,01mm
6. Tidak bloom adalah tidak terjadi pertumbuhan yang berlebihan yang dapat
menyebabkan eutrofikasi. Pertumbuhan plankton yang berlebihan dipengaruhi
oleh nutrien, cahaya, suhu, kecepatan arus, dan kestabilan plankton itu sendiri.
7. TBT adalah zat antifouling yang biasanya terdapat pada cat kapal
a. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% kedalaman euphotic.
b. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% konsentrasi rata-rata
musiman.
c. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <2oC dari suhu alami.
d. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <0,2 satuan pH.
e. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <5% salinitas rata-rata musiman.
f. Berbagai jenis pestisida seperti: DDT, Endrin, Endosulfan dan Heptachlor.
g. Diperbolehkan terjadi perubahan sampai dengan <10% konsentrasi rata-rata
musiman.

4
2.1.1. Limbah Cair

Limbah cair dapat diartikan sebagai hasil buangan yang berbentuk cair
atau liquid. Limbah jenis ini dapat dihasilkan dari kegiatan atau proses di dalam
rumah tangga, industri, bahkan kegiatan atau proses di dalam pertambangan. Bila
ditinjau secara kimiawi, limbah ini terdiri dari bahan kimia senyawa organik dan
senyawa anorganik. Contohnya limbah deterjen dari hasil kegiatan rumah tangga
merupakan salah satu jenis limbah cair domestik dimana limbah ini memiliki
senyawa-senyawa kimia yang memiliki peran penting sebagai bahan pencemar.

Gambar 1. Limbah Cair Domestik.


(Sumber :sindonews.com)

Tingkat bahaya keracunan yang ditimbulkan oleh limbah tergantung pada


jenis dan karakteristik limbah. Untuk limbah cair air limbah ini umumnya dibuang
melalui saluran/got menuju sungai ataupun laut. Terkadang dalam perjalannya
menuju laut, air limbah ini dapat mencemari sumber air bersih yang dipergunakan
oleh manusia. Dengan demikian penanganan air limbah perlu mendapat perhatian
serius. Selain dapat berbahaya bagi kesehatan manusia, air limbah juga dapat
mengganggu lingkungan, hewan, ataupun bagi keindahan dipesisir dan laut.
Banyak unsur-unsur kimia merupakan racun yang mencemari air. Patogen/bakteri
mengakibatkan pencemaran air sehingga menimbulkan penyakit pada manusia dan
binatang. Adapuan sifat fisika dan kimia air meliputi derajat keasaman,
konduktivitas listrik, suhu dan pertilisasi permukaan air (Lutfi, 2004).

2.1.2. Limbah Padat (Sampah)

Limbah padat diartikan sebagai buangan dari hasil- hasil industri yang tidak
terpakai lagi yang berbentuk padatan, lumpur maupun bubur yang berasal dari suatu
proses pengolahan, ataupun sampah yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan
industri, serta dari tempat- tempat umum. Limbah rumah tangga seperti sampah
organik (sisa-sisa makanan), sampah anorganik (plastik, gelas, kaleng) merupakan
salah satu jenis limbah domestik padat berperan besar dalam pencemaran air, baik
air di permukaan maupun air tanah. Polutan dalam air mencakup unsur-unsur kimia,
pathogen/bakteri dan perubahan sifat fisika dan kimia dari air (Lutfi, 2004)

5
Gambar 2. Limbah Padat di Daerah Pesisir.
(Sumber: Nasution, 2018)

Dengan konsentrasi dan kuantitas tertentu, kehadiran limbah dapat


berdampak negatif terhadap lingkungan terutama bagi kesehatan manusia, sehingga
perlu dilakukan penanganan terhadap limbah. Limbah padat seperti ini apabila
dibuang di dalam air pastinya akan mencemari air tersebut dan dapat menyebabkan
makhluk hidup yang tinggal di dalamnya akan mati (Lutfi, 2004).

2.2. Pengaruh dan Dampak Limbah Domestik

Masuknya limbah cair domestik ke lingkungan perairan dapat memberikan


dampak terhadap kualitas perairan tersebut. Buruknya dampak yang diberikan
mempengaruhi organisme yang hidup didalamnya. Estimasi volume rata-rata
limbah domestik per hari yang bersumber dari residental seperti; rumah tangga,
apartemen, kondominium, cottages, dan resort dapat diketahui bahwa volume
limbah domestik yang dihasilkan berkisar antara 202-204 (USEPA, 2002)
Limbah cair domestik mengandung beragam kotoran yang terlarut maupun
yang tersuspensi (dissolved and suspended impurities). Materi organik terutama
berasal dari sisa-sisa makanan dan sayuran. Unsur hara dapat berasal dari sabun
berbahan kimia, sabun cuci dalam bentuk bubuk, dan sebagainya. Limbah cair
domestik juga mengandung mikroba penyebab penyakit, dan berbagai substansi
yang digunakan manusia untuk membersihkan rumah turut menyumbang polusi air
karena substansi tersebut mengandung bahan kimia yang berbahaya. Substansi-
substansi tersebut mengandung fosfat yang umumnya digunakan untuk melunakkan
air. Semua kandungan yang bersifat kimiawi ini mempengaruhi seluruh kehidupan
di air (perairan) (Pranowo, 2004)
Beberapa dampak dari pencemaran limbah padat seperti :
1. Timbulnya gas beracun, seperti asam sulfida (H2S), amoniak (NH3), methan
(CH4), CO2 dan sebagainya. Gas ini akan timbul jika limbah padat ditimbun dan
membusuk dikarena adanya mikroorganisme. Adanya musim hujan dan
kemarau, terjadi proses pemecahan bahan organik oleh bakteri penghancur
dalam suasana aerob/anaerob.
2. Dapat menimbulkan penurunan kualitas udara, dalam sampah yang ditumpuk,
terjadi reaksi kimia seperti gas H2S, NH3 dan methane yang jika melebihi NAB
(Nilai Ambang Batas) dapat merugikan manusia. Gas H2S 5 ppm dapat
mengakibatkan mabuk dan pusing.
3. Penurunan kualitas air, karena limbah padat biasanya langsung dibuang dalam
perairan atau bersama-sama air limbah. Maka dapat menyebabkan air menjadi
keruh dan rasa dari air pun berubah.

6
4. Kerusakan permukaan tanah.
Dampak limbah domestik terhadap lingkungan pesisir dan laut yaitu dalam
segi lingkungan pantai yang dipenuhi sampah, selain merusak keindahan juga dapat
mempengaruhi kehidupan ekosistem. Banyaknya sampah yang terapung, selain
menimbukan bau yang tidak sedap juga dapat menghalangi penetrasi cahaya yang
masuk ke laut. Air laut berubah warna dan dasar laut tertutupi sampah sehingga
berpengaruh pada kehidupan komunitas bentos. Jika hal ini dibiarkan, tidak
menutup kemungkinan laut kehilangan habitat aslinya dan beberapa jenis makhluk
hidup tidak mampu bertahan. Masuknya beban pencemar organik akan menurunkan
kualitas oksigen terlarut, dengan demikian, kondisi perairan akan menjadi anoksik
(kekurangan oksigen) yang akan berdampak pada kematian ikan masal (Wardhana,
1995).
Material organik akan menyebabkan kelimpahan nutrien, dimana ketika
oksigen turun dan BOD naik, akan menghasilkan pengkayaan materi organik yang
disebut eutrofikasi. Eutrofikasi ini dapat berakibat meledaknya kelimpahan
plankton/algae (fitoplankton). Hal ini dapat mengakibatkan permukaan air laut
berubah warna, menjadi warna yang sesuai dengan pigmen plankton ini. Kejadian
ini biasanya dikenal sebagai Algae Blooms atau red tide, dimana beberapa
diantaranya memiliki kadar toksisitas yang cukup tinggi, untuk itu lebih dikenal
sebagai “Harmfull Algae Blooms (HABs)”. HABs dan red tide juga merupakan
faktor terjadinya kematian ikan secara masal (Wardhana, 1995).
Dampak pencemaran yang paling sering dirasakan oleh masyarakat
diantaranya adalah dampak terhadap kesehatan. Timbunan sampah yang tidak
tertangani dapat menjadi tempat pembiakan penyakit diare, kolera, tifus menyebar
dengan cepat. Begitu juga dengan berbagai penyakit kulit yang biasanya datang
bersamaan dengan genangan air yang membawa limbah (Wardhana, 1995).
Dampak Ekonomi Penurunan kualitas lingkungan berbanding lurus dengan
penurunan nilai suatu wilayah. Kandungan logam berat di perairan menjadikan
beberapa jenis kerang dan ikan berbahaya untuk dikonsumsi dan tidak layak jual.
Selain itu, akibat tercemarnya perairan, hasil tangkapan nelayan mengalami
penurunan signifikan. Laut yang kotor dan dipenuhi sampah akan menimbulkan
keengganan para pengunjung untuk menjadikannya tempat tujuan wisata, yang
berarti mengurangi peluang pemasukan bagi masyarakat setempat (Wardhana,
1995).
Dampak sosial yang timbul bisa beragam. Diantaranya, bergesernya jati diri
masyarakat pesisir yang semula hidup sebagai nelayan menjadi pekerja daratan
seperti buruh, tukang bangunan, satpam, dan lain-lain. Hal ini dikarenakan
kehidupan di laut sudah tidak menjanjikan, hasil tangkapan menurun akibat
pencemaran yang makin meluas. Kawasan pesisir juga dianggap kawasan kumuh
tempat bermuara seluruh sampah, sehingga menjadikan masyarakat pesisir
senantiasa merasa terbelakang dan terpinggirkan (Wardhana, 1995)

2.3. Penanganan Limbah Domestik

Tidak semua efek dari pembuangan sampah ke laut buruk. Pada beberapa
kasus, sampah berupa rangka mobil bekas, ban roda, atau bahkan karung dapat
turun ke dasar laut dan menjadi habitat buatan (artificial reef) untuk organisme laut.

7
Binatang-binatang laut dapat tinggal didalam ataupun berada di dekat struktur
(Mukhtasor, 2007)
Upaya atau penanganan limbah domestik yang mengakibatkan
pencemaran laut juga dapat dilakukan dari metode sederhana seperti aksi bersih
pantai sampai dengan metode berat yang dapat mengeluarkan biaya besar. dengan
volume rata-rata limbah yang dihasilkan tiap orang per harinya, maka dapat kita
bayangkan berapa banyak limbah cair yang dibuang, baik secara langsung maupun
tidak langsung, ke perairan laut. Volume limbah akan besar, apalagi tanpa
penanganan terlebih dahulu akan menimbulkan dampak/pengaruh yang buruk bagi
perairan laut itu sendiri. Oleh karenanya perlu adanya beberapa penangan limbah
domestik baik dari limbah cair ataupun padat untuk mengurangi tingkat
pencemaran laut.

2.3.1. Outfall sebagai fasilitas Alternatif Pembuangan Limbah Cair

Pembuangan limbah kebadan sungai yang berlangsung lama menimbulkan


dampak besar pada wilayah estuari dan perairan laut yaitu mengakibatkan
perubahan lingkungan terhadap kualitas air oleh kandungan limbah sehingga
membawa dampak terhadap perubahan kehidupan dilingkungan tersebut.
Terjadinya penumpukan dan akumulasi limbah dengan konsentrasi yang tinggi
memberikan dampak yang besar terhadap kehidupan perairan laut di sekitar muara
sungai terutama pada tingkat kekeruhan air. Kekeruhan air membawa dampak
terhadap terhalangnya masuknya cahaya matahari yang mengganggu proses rantai
makanan yang membawa perubahan terhadap daur organisme. Contohnya
kandungan logam berat yang ada pada perairan. Kandungan logam berat berdampak
langsung terhadap perubahan kondisi fisik sungai dan estuari, serta mahluk hidup
yang mendiami wilayah tersebut. Proses rantai makanan membawa dampak yang
lebih buruk terhadap percepatan pencemaran mahluk hidup dengan mengendapnya
logam berat dalam tubuh mahluk hidup. Jumlah limbah domestik yang sangat besar,
dapat dilakukan dengan mengurangi beban yang diterima oleh badan sungai dengan
melakukan penanganan khusus atau dengan penangan alternatif yaitu “Ocean
Outfall” (Gambar 3) (Nurdini, 2015)
Outfall adalah ujung saluran yang ditempatkan pada sungai atau badan air
penerima (Gambar 3). Pemanfaatan Ocean Outfall yaitu saluran pembuangan
berupa pipa yang ditanam menuju ketengah perairan laut dengan jarak tertentu
untuk mendapatkan kedalaman air tertentu. Kedalaman tertentu ini didapatkan
dengan mengukur arus laut disuatu wilayah pesisir sehingga dapat membantu
proses biokimia secara natural di laut (Mukhtasor, 2007:126)
Ocean outfall merupakan alternatif pembuangan limbah cair, khususnya
limbah yang mengandung bahan organik dan bakteri faecal coliform dalam jumlah
tinggi. Istilah ocean outfall dikemukakan oleh Charlton pada tahun 1987 untuk
merujuk pada rekayasa perpipaan bawah laut yang digunakan untuk membuang
limbah cair dari daratan ke laut sehingga memungkinkan terjadinya proses biokimia
secara natural di laut. Selanjutnya bahan-bahan organik, nutrien, dan bakteri yang
terkandung di dalam limbah dapat terdegradasi oleh proses alami tersebut
(Mukhtasor, 2007). Sebelum dibuang ke laut, limbah diolah dengan derajat
pengolahan yang lebih rendah daripada persyaratan yang ditetapkan untuk
pengolahan di darat secara umum. Akibatnya biaya pengolahan menjadi lebih

8
murah. Hal ini dikarenakan, untuk memperoleh kriteria keamanan lingkungan yang
sama, ocean outfall memanfaatkan faktor alami laut untuk menurunkan konsentrasi
limbah selain pengolahan di daratan.
Faktor alam yang dimanfaatkan untuk memproses kandungan limbah
tersebut adalah konsentrasi oksigen terlarut, kecepatan arus dam kondisi
gelombang, kedalaman air laut, difusi molekul dan turbulensi, serta energi matahari
(yang digunakan dalam proses biokimia) di lapisan atas air laut. Di samping itu,
proses pengurangan konsentrasi limbah dapat ditingkatkan dengan perancangan
bentuk dan jenis diffuser (pipa penyebar aliran limbah) serta tata letaknya sesuai
dengan kondisi dinamika lingkungan laut dan kuantitas limbah yang hendak
ditangani (Bahtiyar, 2007)

Gambar 3. Skema Pembuangan Limbah Cair Perkotaan Ocean Outfall


(Sumber: Scoop, 2006)

Sistem ini (Gambar 3) dapat mengurangi kandungan limbah dalam jumlah


yang lebih banyak daripada sistem pengolahan limbah di darat, baik untuk
parameter BOD5, padatan tersuspensi, maupun coliform. Hal ini terutama karena
disebabkan oleh proses alami di laut yang berperan besar dalam menurunkan kadar
polutan. Selain itu, sistem ini dapat meminimalkan persoalan lahan, lumpur, bau,
dan berlebihnya nutrien, terutama di daerah perkotaan. Namun demikian, seperti
layaknya semua jenis teknologi, ocean outfall juga tidak bisa menghilangkan
limbah secara tuntas. Seluruh rekayasa ini diarahkan untuk menghasilkan teknologi
efektif dengan biaya yang murah. Keberhasilan dari pelaksanaan teknologi ini
tergantung pada perhitungan yang cermat terkait dengan kondisi perairan laut,
kecepatan arus laut dan perancangan yang baik sehingga dapat memberikan hasil
yang seperti diharapkan (Nurdini, 2015)

2.3.2. Upaya pengendalian Kualitas Air dengan Wastewater Treatmeant

Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan


polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan
air buangan menurut Sugiharto, 1987 yang telah dikembangkan tersebut secara
umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan seperti yang tergambar pada gambar
4 mengenai skema tahapan Wastewater Treatmeant

9
•Penyaringan
•Pengolahan Awal
1.Pengolah •Pengendapan
an Primer •Pengapungan

•Metode Trickling Filter


•Metode Activated Sludge
Pengolahan
•Metode Treatment Ponds
Sekunder

•Desinfektan
Pengolahan •Pengolahan Lumpur
Tersier

Gambar 4. Bagan Alir Proses Wastewater Treatmeant

2.3.2.1.Pengolahan Primer (Primary Treatment)

Tahap pengolahan primer limbah cair sebagian besar adalah berupa proses
pengolahan secara fisika. Seperti yang tergambar pada skema Gambar 5

Gambar 5. Bagan Alir Proses Pengolahan Primer

2.3.2.1.1. Penyaringan (Screening)

Limbah yang mengalir melalui saluran pembuangan disaring


menggunakan jeruji saring. Metode ini disebut penyaringan. Metode penyaringan
merupakan cara yang efisien dan murah untuk menyisihkan bahan-bahan padat
berukuran besar dari air limbah seperti yang terlihat pada gambar Gambar 6.

10
Gambar 6. Jenis Penyaringan dalam Pengelolaan Limbah Cair
(Sumber: Sumada, 2019)

2.3.2.1.2. Pengolahan Awal (Pretreatment)

Limbah yang telah disaring kemudian disalurkan kesuatu tangki atau bak
yang berfungsi untuk memisahkan pasir dan partikel padat teruspensi lain yang
berukuran relatif besar. Tangki ini dalam bahasa inggris disebut grit chamber dan
cara kerjanya adalah dengan memperlambat aliran limbah sehingga partikel –
partikel pasir jatuh ke dasar tangki sementara air limbah terus dialirkan untuk proses
selanjutnya. Fungsi grid chamber sendiri adalah tempat proses pengolahan air
terjadi dimana fungsi grit chamber ini adalah menghilangkan tanah kasar, pasir dan
partikel halus mineral dari air yang akan diolah sehingga tidak mengendap dalam
saluran ataupun pipa dan melindungi pompa juga mesin dan abrasi. Secara teoritis,
partikel yang bisa di endapkan oleh grit chamber ini adalah partikel yang berukuran
> 200 mm.

Gambar 7. Alat Grit Chamber


(Sumber: Anomin, 2012)

2.3.2.1.3. Pengendapan

Setelah melalui tahap pengolahan awal, limbah cair akan dialirkan ke


tangki atau bak pengendapan. Metode pengendapan adalah metode pengolahan
utama dan yang paling banyak digunakan pada proses pengolahan primer limbah
cair. Di tangki pengendapan, limbah cair didiamkan agar partikel – partikel padat

11
yang tersuspensi dalam air limbah dapat mengendap ke dasar tangka Gambar 7.
Endapan partikel tersebut akan membentuk lumpur yang kemudian akan dipisahkan
dari air limbah ke saluran lain untuk diolah lebih lanjut. Selain metode
pengendapan, dikenal juga metode pengapungan (Floation).

Gambar 8. Proses Pengendapan Partikel Limbah Cair


(Sumber: Saputra, 2010)

2.3.2.1.4. Pengapungan (Floation)

Metode ini efektif digunakan untuk menyingkirkan polutan berupa minyak


atau lemak. Proses pengapungan dilakukan dengan menggunakan alat yang dapat
menghasilkan gelembung- gelembung udara berukuran kecil (± 30 – 120 mikron).
Gelembung udara tersebut akan membawa partikel –partikel minyak dan lemak ke
permukaan air limbah sehingga kemudian dapat disingkirkan.
Bila limbah cair hanya mengandung polutan yang telah dapat disingkirkan
melalui proses pengolahan primer, maka limbah cair yang telah mengalami proses
pengolahan primer tersebut dapat langsung dibuang kelingkungan (perairan).
Namun, bila limbah tersebut juga mengandung polutan yang lain yang sulit
dihilangkan melalui proses tersebut, misalnya agen penyebab penyakit atau
senyawa organik dan anorganik terlarut, maka limbah tersebut perlu disalurkan ke
proses pengolahan selanjutnya.

Gambar 9. Pengapungan Partikel Limbah Cair

12
2.3.2.2. Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)

Tahap pengolahan sekunder merupakan proses pengolahan secara


biologis, yaitu dengan melibatkan mikroorganisme yang dapat mengurai/
mendegradasi bahan organik. Mikroorganisme yang digunakan umumnya adalah
bakteri aerob (Gambar 9).

Gambar 10. Bagan Alir Proses Pengolahan Sekunder

Terdapat tiga metode pengolahan secara biologis yang umum digunakan


yaitu metode penyaringan dengan tetesan (trickling filter), metode lumpur aktif
(activated sludge), dan metode kolam perlakuan (treatment ponds / lagoons).

2.3.2.2.1. Metode Trickling Filter

Pada metode ini, bakteri aerob yang digunakan untuk mendegradasi bahan
organik melekat dan tumbuh pada suatu lapisan media kasar, biasanya berupa
serpihan batu atau plastik, dengan dengan ketebalan ± 1 – 3 m. limbah cair
kemudian disemprotkan ke permukaan media dan dibiarkan merembes melewati
media tersebut. Selama proses perembesan, bahan organik yang terkandung dalam
limbah akan didegradasi oleh bakteri aerob. Setelah merembes sampai ke dasar
lapisan media, limbah akan menetes ke suatu wadah penampung dan kemudian
disalurkan ke tangki pengendapan Gambar 10.
Dalam tangki pengendapan, limbah kembali mengalami proses
pengendapan untuk memisahkan partikel padat tersuspensi dan mikroorganisme
dari air limbah. Endapan yang terbentuk akan mengalami proses pengolahan limbah
lebih lanjut, sedangkan air limbah akan dibuang ke lingkungan atau disalurkan ke
proses pengolahan selanjutnya jika masih diperlukan.

Gambar 11. Alat pada Proses Metode Trickling Filter


(Sumber: HIMATEKLING, 2018)

13
2.3.2.2.2. Metode Activated Sludge

Pada Metode activated sludge atau lumpur aktif, limbah cair disalurkan ke
sebuah tangki dan didalamnya limbah dicampur dengan lumpur yang kaya akan
bakteri aerob. Proses degradasi berlangsung didalam tangki tersebut selama
beberapa jam, dibantu dengan pemberian gelembung udara aerasi (pemberian
oksigen). Aerasi dapat mempercepat kerja bakteri dalam mendegradasi limbah.
Selanjutnya, limbah disalurkan ke tangki pengendapan untuk mengalami proses
pengendapan, sementara lumpur yang mengandung bakteri disalurkan kembali ke
tangki aerasi. Seperti pada metode trickling filter, limbah yang telah melalui proses
ini dapat dibuang ke lingkungan atau diproses lebih lanjut jika masih diperlukan.
Terlihat pada Gambar 11 proses mekanisme metode lumpur aktif.

Gambar 12. Metode Activated Sludge


(Sumber: Dais, 2018)

2.3.2.2.3. Metode Treatment Ponds/ Lagoons

Metode treatment ponds/lagoons atau kolam perlakuan merupakan metode


yang murah namun prosesnya berlangsung relatif lambat. Pada metode ini, limbah
cair ditempatkan dalam kolam-kolam terbuka. Algae yang tumbuh dipermukaan
kolam akan berfotosintesis menghasilkan oksigen. Oksigen tersebut kemudian
digunakan oleh bakteri aero untuk proses penguraian/degradasi bahan organik
dalam limbah. Pada metode ini, terkadang kolam juga diaerasi. Selama proses
degradasi di kolam, limbah juga akan mengalami proses pengendapan. Setelah
limbah terdegradasi dan terbentuk endapan didasar kolam, air limbah dapat
disalurka untuk dibuang ke lingkungan atau diolah lebih lanjut.

14
Gambar 13. Proses Treatment Ponds/ Lagoons
(Sumber: Hakim, 2015)

2.3.2.3. Pengolahan Tersier (Tertiary Treatment)

Pengolahan
Desinfeksi
Lumpur

Gambar 14. Bagan Alir Pengolahan Tersier

Pengolahan tersier dilakukan jika setelah pengolahan primer dan sekunder


masih terdapat zat tertentu dalam limbah cair yang dapat berbahaya bagi lingkungan
atau masyarakat. Pengolahan tersier bersifat khusus, artinya pengolahan ini
disesuaikan dengan kandungan zat yang tersisa dalam limbah cair / air limbah.
Umunya zat yang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya melalui proses pengolahan
primer maupun sekunder adalah zat-zat anorganik terlarut, seperti nitrat, fosfat, dan
garam- garaman.
Pengolahan tersier sering disebut juga pengolahan lanjutan (advanced
treatment). Pengolahan ini meliputi berbagai rangkaian proses kimia dan fisika.
Contoh metode pengolahan tersier yang dapat digunakan adalah metode saringan
pasir, saringan multimedia, precoal filter, microstaining, vacum filter, penyerapan
dengan karbon aktif, pengurangan besi dan mangan, dan osmosis bolak-balik.
Metode pengolahan tersier jarang diaplikasikan pada fasilitas pengolahan limbah.
Hal ini disebabkan biaya yang diperlukan untuk melakukan proses pengolahan
tersier cenderung tinggi sehingga tidak ekonomis.

15
2.3.2.3.1. Desinfeksi (Desinfection)

Desinfeksi atau pembunuhan kuman bertujuan untuk membunuh atau


mengurangi mikroorganisme patogen yang ada dalam limbah cair. Meknisme
desinfeksi dapat secara kimia, yaitu dengan menambahkan senyawa/zat tertentu,
atau dengan perlakuan fisik. Dalam menentukan senyawa untuk membunuh
mikroorganisme, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: Daya racun
zat, waktu kontak yang diperlukan, efektivitas zat, kadar dosis yang digunakan,
tidak boleh bersifat toksik terhadap manusia dan hewan, Tahan terhadap air,
biayanya murah.
Contoh mekanisme desinfeksi pada limbah cair adalah penambahan klorin
(klorinasi), penyinaran dengan ultraviolet(UV), atau dengan ozon (O3). Proses
desinfeksi pada limbah cair biasanya dilakukan setelah proses pengolahan limbah
selesai, yaitu setelah pengolahan primer, sekunder atau tersier, sebelum limbah
dibuang ke lingkungan. Seperti yang terlihat pada Gambar 7 diatas.

Gambar 15. Lampu UV modul saluran terbuka UV Desinfeksi sterilisasi Air


untuk Pengolahan Air limbah
(Sumber: Anomim, 2017)

2.3.2.3.2. Pengolahan Lumpur (Slude Treatment)

Gambar 16. Pengolahan Lumpur


(Sumber: Greenfield, 2015)

Pada proses pengolahan lumpur sendiri terdiri dari Thickener, sludge di


gester dan drying. Setiap tahap pengolahan limbah cair, baik primer, sekunder,
maupun tersier, akan menghasilkan endapan polutan berupa lumpur. Lumpur
tersebut tidak dapat dibuang secara langsung, melainkan pelu diolah lebih lanjut.
Endapan lumpur hasil pengolahan limbah biasanya akan diolah dengan cara
diurai/dicerna secara aerob (anaerob digestion), kemudian disalurkan ke beberapa

16
alternatif, yaitu dibuang ke laut atau ke lahan pembuangan (landfill), dijadikan
pupuk kompos, atau dibakar (incinerated). Pada gambar 9 dibawah merupakan
contoh aplikasi dalam pembuatan/ penangan limbah dengan metode wastewater
treatmean dengan menggabungkan semua metode dari primer, sekunder, tersier,
desinfeksi hingga pengolahan lumpur pada wilayah pesisir di negara Panama.

Gambar 17. Contoh Wastewater Treatment Plant pada daerah pesisir


(Sumber: SUEZ, 2009)

2.3.3. Upaya pengendalian Pencemaran Laut Akibat Sampah

Tidak semua efek dari pembuangan sampah ke laut buruk. Pada beberapa
kasus, sampah berupa rangka mobil bekas, ban roda, atau bahkan karung dapat
turun ke dasar laut dan menjadi habitat buatan (artificial reef) untuk organisme laut.
Binatang-binatang laut dapat tinggal di dalam ataupun berada di dekat struktur.
Keberadaan habitat buatan ini dapat mempengaruhi perubahan local pada habitat
dan distribusi ikan disekitar lokasi tersebut. Untuk itu diperlukan kegiatan memilah-
milah sampah, organic dan an-organik, atau sampah yang masih bisa dimanfaatkan
kembali. (Mukhtasor, 2007).
Mendorong masyarakat untuk berperan serta dalam pengendalian
pencemaran laut dapat dilakukan melalaui penerapan 4R: reduce, reuse, recycle dan
replant dalam upaya mengurangi terjadinya pencemaran laut. Selain itu, penerapan
tersebut dapat juga digunakan sebagai sumber alternative pendapatan keluarga bagi
masyarakat pesisir, seperti pengolahan sampah menjadi kertas daur ulang atau
pupuk kompos, sedangkan limbah sisa pemanfaatan ikan dapat diolah menjadi
pakan ikan, pembuatan kerupuk, terasi, atau produk makanan lainnya. (Mukhtasor,
2007).
Upaya penanggulangan pencemaran laut akibat sampah dapat juga
dilakukan dengan Gerakan Bersih Pantai dan Laut. Pembersihan sampah dilakukan
di sekitar wilayah/ daerag aliran sungai, muara, pantai dan laut serta pemukiman
masyarakat pesisir dan memisahkannya menjadi sampah organik dan non-organik

17
dimana sampah non-organik dapat dimanfaatkan lebih lanjut menjadi suatu
teknologi pembangkit listrik tenaga sampah. (Mukhtasor, 2007).
Upaya pengendalian limbah domestik terhadap pesisir dan laut. Seperti
melakukan Penataan pesisir pantai mengambil peran penting dalam
penanggulangan limbah. Penentuan lokasi pembuangan harus diatur sedemikian
rupa, sehingga relatif kecil pengaruhnya terhadap lingkungan. Pengaturan dimana
lokasi pemukiman, kawasan indutri, maupun area pariwisata turut mendukung
pengambilan keputusan, dimana lokasi waste treatment sesuai diletakkan. Dengan
perancangan tata ruang yang baik, aliran limbah dapat didesain dan dikendalikan.
Selanjutnya dapat melakukan cara sederhana, (Damanhuri, 2010).

2.3.3.1. Alternatif

Pengolahan limbah juga dapat dilakukan dengan cara-cara yang sedehana


lainnya misalnya, dengan cara mendaur ulang, Dijual kepasar loakatau tukang
rongsokan yang biasa lewat di depan rumah – rumah. Cara ini bisa menjadikan
limbah atau sampah yang semula bukan apa-apa sehingga bisa menjadi barang yang
ekonomis dan bisa menghasilkan uang. Dapat juga dijual kepada tetangga kita yang
menjadi tukang loak ataupun pemulung. Barang-barang yang dapat dijual antara
lain kertas-kertas bekas, koran bekas, majalah bekas, botol bekas, ban bekas, radio
tua, TV tua dan sepeda yang usang. Dapat juga dengan cara pembakaran. Cara ini
adalah cara yang paling mudah untuk dilakukan karena tidak membutuhkan usaha
keras. Cara ini bisa dilakukan dengan cara membakar limbah-limbah padat
misalnya kertas-kertas dengan menggunakan minyak tanah lalu dinyalakan apinya.
Kelebihan cara membakar ini adalah mudah dan tidak membutuhkan usaha keras,
membutuhkan tempat atau lokasi yang cukup kecil dan dapat digunakan sebagai
sumber energi baik untuk pembangkit uap air panas, listrik dan pencairan logam.

18
BAB 3. KESIMPULAN

1. Ada dua jenis limbah domestik yaitu limbah cair dan padat. Limbah cair
domestik (domestic wastewater) adalah salah satu sumber pencemaran yang
menimbulkan dampak yang serius pada lingkungan pesisir hasil buangan dari
kegiatan rumah tangga (perumahan), bangunan, perdagangan dan perkantoran.
Limbah padat merupakan buangan dari hasil- hasil industri yang tidak terpakai
lagi yang berbentuk padatan, lumpur maupun bubur yang berasal dari suatu
proses pengolahan, ataupun sampah yang dihasilkan dari kegiatan-kegiatan
industri, serta dari tempat- tempat umum.
2. Masuknya limbah cair domestik ke lingkungan perairan dapat memberikan
dampak terhadap kualitas perairan, Timbulnya gas beracun, seperti asam
sulfida (H2S), amoniak (NH3), methan (CH4), CO2, Dapat menimbulkan
penurunan kualitas udara, Penurunan kualitas air, Kerusakan permukaan tanah.
3. Upaya dalam penanganan limbah cair dapat menggunakan sistem Wastewater
Treatmeant dan Ocean Outfall, Sedangkan untuk limbah padat dapat
menggunkan Teknik 4R: reduce, reuse, recycle dan replant pengolahan
sampah menjadi kertas daur ulang atau pupuk kompos, sedangkan limbah sisa
pemanfaatan ikan dapat diolah menjadi pakan ikan, pembuatan kerupuk, terasi,
atau produk makanan lainnya. Upaya penanggulangan pencemaran laut
akibat sampah dapat juga dilakukan dengan Gerakan Bersih Pantai dan Laut.
Pembersihan sampah dilakukan di sekitar wilayah/ daerah aliran sungai, muara,
pantai dan laut serta pemukiman masyarakat pesisir dan memisahkannya
menjadi sampah organik dan non-organik dimana sampah non-organik dapat
dimanfaatkan lebih lanjut menjadi suatu teknologi pembangkit listrik tenaga
sampah.

19
DAFTAR PUSTAKA

Anomin, 2012. Pengolahan Air Limbah Fisika Grit Chamber.


http://pengolahanairlimbah.com/category/pengolahan-air-limbah/
diakses 3 November 2019.
Anomim, 2017. Lampu UV modul saluran terbuka UV Desinfeksi sterilisasi Air
untuk Pengolahan Air limbah. https://indonesian.alibaba.com/product-
detail/uv-lamp-module-open-channel-uv-water-disinfection-sterilizer-
for-sewage-water-treatment-60520493383.html Diakses 3 November
2109.
Anugrah, M.N.P., 2012. Pengolahan Limbah Cair. Fakultas Kesehatan
Masyarakat. Universitas Sriwijaya.
Bahtiyar, A. 2007. Polusi Air Tanah Akibat Limbah Industri dan Rumah Tangga
Serta Pemecahannya. FMIPA Unpad. Bandung
Dais, Suryani. 2018. Cara Menambahkan Oksigen ke dalam Air Limbah dalam
Proses Lumpur Aktif. https://www.sridianti.com/cara-menambahkan-
oksigen-ke-dalam-air-limbah-dalam-proses-lumpur-aktif.html diakses 3
November 2019.

Damanhuri E., Tri p., 2010. Pengelolaan Sampah. Teknik Lingkungan. ITB.

Greenfield. 2015. Water Treatment/Sludge Treatment for Refineries.


https://www.environmental-expert.com/services/water-treatment-
sludge-treatment-for-refineries-614626 Diakses 3 November 2019
Hakim, Lukman. 2015. Tugas Perancangan Bangunan Keairan. Perancangan. Teknik
Prasarana. Program Pascasarjana Teknik Sipil. Universitas Hasanuddin.

Hutagalung, H.P., D. Setiapermana. SH. Riyono. 1997. Metode Analisa Air


Laut, Sediment Dan Biota. Buku kedua. Jakarta P30-LIPI. 182: 59-
77. Peminat dan Ahli kehutanan.
HIMATEKLING, 2018. Trickling Filter. E-Pedia. Himpunan Mahasiswa Teknik
Lingkungan. Universitas Lambung Mangkurat.
Lutfi, Achmad. 2004. Pencemar Lingkungan. Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
dan Menengah. Surabaya
Mukhtasor. 2007. Pencemaran pesisir dan laut. Jakarta: Pradnya Paramita. 322hal.
Nahdliyah, H. 2017. Penanggulangan limbah cair domestik Di lingkungan pesisir
dan laut. Fakultas Perikanan dan Kelautan. Universitas Lambung
Mangkurat.

Nasution. A.Z. 2018. Pembangunan Berkelanjutan dalam Pengelolaan Wilayah Pesisir.


https:// bangazul.com/ pembangunan -berkelanjutan- dalam- pengelolaan-
wilayah-pesisir. Diakses 1 November 2019

20
Nurdini, A.J. 2015. Studi Peningkatan Kinerja Ocean Outfall pada Pembuangan
Limbah Cair di Wilayah Pesisir. Teknik Kelautan. ITS, Surabaya
Pagoray, H. 2003. Lingkungan Pesisir dan Masalahnya sebagai Daerah Aliran
Buangan Limbah. Program Pascasarjana/S3. Institut Pertanian Bogor.
Pranowo, Galih. 2009. Pencemaran Terhadap Lingkungan. Jurusan Matematika
Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Sains dan Terapan, Institut Sains dan
Teknologi Akprind, Yogyakarta.
Saputra, G., Wahyu. K., Rahmi. P.Y., Yanti. P.A., Andal. P.N., 2010. Pencemaran
dan Model Penanganan Limbah di Industri Penjamakan Kulit. Karya
Ilmiah. Padang Panjang
Scoop. 2006. Ocean Outfall project reaches milestone http:// www. scoop.co.nz
/stories/ AK0609/S00032.htm. Diakses 29 oktober 2019.
Sumada, Ketut. 2012. Pengolahan Air Limbah. Jurusan Teknik Kimia Universitas
Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jawa Timur.
Sugiharto,1987. Dasa dasar pengolahan air limbah. Jakarta : Universitas Indonesia
SUEZ. 2009. Panama Wastewater Treatment plant. https:// www.
Suezwaterhandbook .com/case-studies/Panama-wastewater-treatment-
plant-Panama. Diakses 29 Oktober 2019
USEPA. 2002. Onsite Wastewater Treatment Systems Manual. (EPA/625/ R-
00/2008
Wardhana, W.A., 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan, Andi Offset
Yogyakarta, Jakarta

21
MAKALAH PENCEMARAN LAUT
LIMBAH DOMESTIK DI LINGKUNGAN PESISIR DAN LAUT
Dosen pengampu mata kuliah:
Baharuddin, S.Kel. M.Si
Nursalam, S.Kel. MS
Dafiuddin Salim, S.Kel. M.Si

Oleh :

KELOMPOK 2
Ihsan (1710716210007)
Muhammad Fauzan Syahdilas (1710716210013)
Muhammad Ridhoni (1710716110004)
Rahmadani Abdullah (1710716310012)
Reghina Qatrunnada Salsabila (1710716320013)
Samilah (1710716320013)

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN KELAUTAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2019

22