Anda di halaman 1dari 3

SUDAH BENARKAH POSISI ANDA PADA

SAAT SHALAT BERJAMA’AH?


Posted on 24 Juli 2010 by admin

20

7 Votes

Ada beberapa kesalahan yang sering dilakukan orang dalam shalat berjama’ah, salah satu
diantaranya dalah dalam menempatkan diri di dalam shaf. Berikut ini adalah contoh susunan shaf
yang benar:

Sedangkan berikut ini adalah contoh susunan shaf yang salah (menyalahi sunnah):

 Pada gambar [f] terlihat jarak yang jauh antara imam dan makmum pada shalat
berjama’ah dua orang. Adalah sunnah jika imamdan makmum saling berdiri rapat
dan sejajar, seperti terlihat pada gambar [a]. makmum tidak dibenarkan
menempati posisi di sebelah kiri imam.
 Pada gambar [g] betapa tidak rapatnya antara makmum dengan makmum.
 Pada gambar [h] terlihat betapa rapuhnya shaf, dimana deretan shaf kedua banyak
meninggalkan ruang kosong di tengahnya.
 Rasulullah melarang kita shalat memisahkan diri dibelakang shaf terakhir seperti
pada gambar [i], baik di tengah shaf naupun dipinggirnya. Pada posisi
inisholatnya adalah tidak sah, sehingga yang bersangkutan harus mengulang lagi
sholatnya!

Hal ini berdasarkan dalil:

“Dari Wabishah bin Mi’bad, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam melihat
seseorang shalat di belakang shaf denga sendiri, maka beliau perintahkan dia mengulang
shalatnya itu.” HR. Ahmad, Fiqqus Sunnah I:206, Abu Daud : 628 dan Tirmidzi : 231

Ath-Thabrani menambahkan:

“Mengapa engkau tidak masuk bersama mereka atau engkau tarik salah seorang (untuk
shalatbersama)?” Bulughul Maram : 231

 Pada [j] makmum belakang membentuk shaf tidak dari tengah, melainkan dari sisi
kanan. Perhatikanlah gambar [d] atau [e] untuk shaf yang benar.

Shaf tidak harus seimbang, tetapi yang terpenting adalah:

1. Penuhi dan rapatkan dulu shaf-shaf depan sebelum membentuk shaf baru.
2. Setelah shaf depan penuh, maka bentuklah shaf baru mulai dari tengah sedikitnya
oleh dua orang.
3. Jangan shalat sendirian dibelakang shaf seperti pada gambar [i].

Beberapa dalil dan rujukan lainnya:

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: “Luruskanlah shaf-shaf kalian (3 kali). Demi
Allah, kalian harus benar-benar meluruskan shaf atau (kalau tidak) Allah benar-benar akan
memperselisihkan hati kalian”. [Abu Dawud (662), Ibnu Hibban (396), Ahmad (4/276) dan Ad-
Daulaabi di dalam Al-Kuna II/86 dari an-Nu’man bin Basyir, Silsilah al-Hadits ash-Shahihah
I/71 no.32.]

Anas bin Malik radiyalohu anhu berkata : “Dan seorang dari kami biasa menempelkan
pundaknya dengan pundak temannya, telapak kakinya dengan telapak kaki temannya”. [H.R.
Bukhori no 275]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata:


“Apabila makmum seorang diri, maka dianjurkan agar posisinya di sebelah kanan imam sejajar
dengannya. Dan tidak ada dalil yang menunjukkan pendapat yang berbeda dengan yang diatas
itu” . [Fatwa-fatwa Syaikh bin Baz mengenai Shalat, diterjemahkan oleh Abu Barzani, Pustakla
Al-Kautsar, JakartaJuni 2000 halaman 85]

“Adapun jika seorang diri, maka ia harus berada si sebelahj kanan imam, baik laki-laki (dewasa)
maupun anak kecil. Karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam pernah shalat malam bersama
Ibnu Abbas. Ketika itu Ibnu Abbas berada di sebelah kiri beliau, lalu diputar dengan
meletakkannya di sebelah kanan beliau. Begitu pula Anas, tatkala shalat sunnat bersama Nabi, ia
diletakkan di sebelah kanan beliau”. [ibid, halaman 79]

“Hukum shalat dibelakang shaf sendirian adalah batal (tyidak sah). Hal itu berdasarkan sabda
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, “Tidak (sah) shalat sendiri di belakang shaf”. Selain itu Nabi
juga pernah menyuruh orang yang shalat dibelakang shaf sendirian, agar mengulangi shalatnya.
Ketika itu beliau tidak bertanya kepada orang tadi, apakahia mendapatkan tempat kosong (pada
shaf) itu atau tidak. Dengan demikian hal itumenunjukkan, bahwa tidak ada perbedaan orang
yang mendapatkan tempat kosong dengan yang tidak. Hal itu demi membendung agar orang
tidak sembrono melakukan shalat di belakang shaf sendirian. Adapun orang yang datang ke
mesjid dan ketika itu imam sedang shalat, padahal ia tidak mendapatkan tenmpat kosong di
dalam shaf, maka ia harus menunggu sampai mendapatkan orang yang bersahaf bersama dirinya
sekalipun anak kecil yang usianya baru tujuh tahun atau lebih”. [ibid, halaman 71]

“Sebaliknya shaf itu dimulai dari tengah, yaitu di belakang imam. Namun kita berada di sebelah
kanan setiap shaf itu lebih baik dari pada di sebelah kiri. Yang jelas, kita tidak boleh membentuk
shaf lagi sebelum shaf di depannya penuh. Tidak mengapa makmum di sebelah kanan shaf lebih
banyak. Dan, kita tidak perlu menyeimbangkan shaf bagian kanan dan kiri. Justru kseimbangan
semacam itu menyalahi sunnah. Yang pasti kita tidak boleh membentuk shaf baru sebelum shaf
pertama penuh. Kita tidak boleh membentuk shaf ketiga sebelum shaf kedua penuh. Demikian
seterusnya, karena Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam memrintahkan yang demikian itu kepada
kita”. [ibid, halaman 70]