Anda di halaman 1dari 16

Berkala Perikanan Terubuk, Juli 2010, hlm 112-124 Vol 38 No.

2
ISSN 0126-6265

112
Berkala Perikanan Terubuk, Juli 2010, hlm 112-124 Vol 38 No.2
ISSN 0126-6265

PERAN KELEMBAGAAN LOKAL TERHADAP NILAI KEARIFAN


TRADISIONAL DALAM PEMANFAATAN DAN PELESTARIAN
SUMBERDAYA PESISIR (Studi Kasus di Desa Panglima Raja Kecamatan
Concong Kabupaten Indragiri Hilir Propinsi Riau)

By

Zulkarnain

Diterima: 13 Januari 2010/ Disetujui: 29 Januari 2010

ABSTRACT

The research was conducted in Panglima Raja Village Concong


Subdistrict Indragiri Hilir Regency of Riau Province. It was aimed to identify of
rule institution that relationship with local wisdom. The research was done by case
study or gounded research method.
The result of research showed that there were no rule of custom institution
to exploiting and conservation of coastal zone resources in Panglima Raja
Village. The rule of village government institution as decision maker to legality of
local wisdom value. But not yet maximum to legalize value, norm of local
wisdom in society Panglima Raja Village become law of legal formal, becouse the
make of rule do not acomodation participatory local wisdom.

Keywords : Local Wisdom, Coastal Zone Resources, Community, Local


Institution

PENDAHULUAN 1 mengganggu keutuhan dan


kelestarian fungsinya perlu
Latar Belakang
diminimalkan dengan berbagai cara,
Pemanfaatan sumberdaya sehingga potensi yang berlimpah
pesisir sering kali dilakukan tanpa tersebut dapat dimanfaatkan secara
melihat pelestarian dan berkelanjutan, sebagai tumpuan
keseimbangannya, karena setiap harapan masa depan anak cucu
pemanfaat mengambil secara sesuka generasi penerus bangsa terutama
hati demi kepuasan dan keuntungan dalam menghadapi berbagai
pribadi dengan melakukan ekploitasi tantangan global menuju
secara berlebih. Hal ini menjadikan pembangunan yang lebih maju.
sumberdaya pesisir dalam keadaan Perilaku masyarakat lokal
terancam dan memungkinkan sebagai sebuah kearifan lokal dalam
terdegradasi berbagai potensi yang pelestarian lingkungan yang
dimilikinya dan bahkan kepunahan diproyeksikan dengan cara tersendiri
terhadap segala bentuk kekayaan sesuai dengan pola berpikir dan
yang terkandung di dalamnya. tradisi yang berlangsung ketika ia
Berdasarkan hal tersebut, dilakukan, diharapkan mampu
segala bentuk upaya yang memunculkan konsep dan cara
menjaga keseimbangan pelestarian
1)
Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu lingkungan. Berbagai macam bentuk
Kelautan Universitas Riau Pekanbaru

112
Peran Kelembagaan Lokal Terhadap Nilai Berkala Perikanan Terubuk Vol 38 No.2 Juli 2010

pantang-larang, tabu, pepatah-petitih ekonomi, perlu mendapat perhatian


dan berbagai tradisi lainnya dapat tentang pelestariannya. Pada saat ini
mengungkapkan beberapa pesan kegiatan pelestarian di kawasan ini
yang memiliki makna sangat besar belum menjadi hal yang utama
bagi pelestarian lingkungan untuk diperhatikan walaupun
khususnya sumberdaya pesisir. pemerintah Kabupaten Indragiri
Upaya untuk mengembalikan Hilir telah menjadikan daerah ini
kepercayaan masyarakat lokal sebagai kawasan pengelolaan
terhadap kekuatan kearifan yang sumberdaya pesisir (Marine and
pernah dianut dan dimiliki sangat Coastal Resources Management)
gencar dilakukan. Sejalan dengan hal sejak tahun 2002.
itu, seharusnya upaya pelestarian Banyak sekali kebiasaan-
sumberdaya pesisir tersebut kebiasaan masyarakat dalam
memperhatikan beberapa hal yaitu 1) menjaga kelestarian lautnya, tidak
Mengembangkan kelembagaan menjadi bagian dalam pengelolaan
masyarakat lokal 2) meningkatkan sumberdaya pesisir yang
apresiasi budaya lokal, seperti direncanakan atau dilakukan oleh
pantangan dan larangan, pemerintah. Kebiasaan (folkways)
mempuakakan suatu tempat, petatah- masyarakat dalam menjaga dan
petitih dan peribahasa adat. Upaya mengelola sumberdaya pesisir
tersebut dapat disertai dengan tersebut hanya menjadi kekuatan
menggali pesan-pesan kearifan atau yang mengikat untuk komunitas itu
substansi kearifan, yang selanjutnya sendiri. Kearifan masyarakat dalam
disesuaikan dengan landasan interaksinya dengan alam hanya
pemahaman masyarakat saat ini. menjadi kekuatan adat dalam bentuk
Salah satu daerah yang kebiasaan yang hanya mengatur pada
memiliki kekayaan potensi tataran komunitas lokal mereka saja.
sumberdaya pesisir adalah Desa Sudah ada beberapa
Panglima Raja. Desa ini terletak di penelitian tentang kearifan lokal
kawasan pesisir Kabupaten Indragiri masyarakat, maka perlu melihat
Hilir tepatnya di Kecamatan peran kelembagaan terhadap nilai-
Concong. Kawasan ini memiliki nilai kearifan lokal yang ada,
potensi wilayah pesisir yang cukup sehingga adanya penguatan terhadap
baik dibandingkan beberapa daerah nilai-nalai kearifan lokal tersebut.
lainnya. Masyarakat di kawasan ini Kajian ini sangat perlu
sangat tergantung dengan wilayah terutama di daerah-daerah yang
pesisir yang mereka jadikan sebagai memiliki rentanitas kerusakan
tempat memenuhi kebutuhan rumah lingkungan yang besar dan rentang
tangga mereka. Aktifitas mencari kendali yang rumit oleh karakteristik
kerang dan menangkap ikan wilayah yang berpulau-pulau.
merupakan aktifitas pokok yang Pendesainan pengelolaan
tidak pernah lepas dari keseharian sumberdaya pesisir pada tataran
mereka. masyarakat desa sangat
Sebagai kawasan pesisir membutuhkan penyerapan nilai-nilai
yang menjadi pusat berbagai budaya yang sudah mengakar dalam
kegiatan untuk memenuhi kehidupan dan kelembagaan mereka.
kebutuhan masyarakat, terutama
kegiatan pemenuhan kebutuhan

113
Peran Kelembagaan Lokal Terhadap Nilai Berkala Perikanan Terubuk Vol 38 No.2 Juli 2010

Rumusan Masalah lingkungan dalam upaya menjaga


kelestarian sumberdaya pesisir.
Pengkajian peran
3. Sebagai gambaran dan referensi
kelembagaan lokal terhadap nilai
bagi pembangunan wilayah
kearifan tradisional dalam pelestarian
pesisir secara nasional terutama
sumberdaya pesisir di Kawasan Desa
pembangunan wilayah pesisir
Panglima Raja menjadi semakin
yang berbasiskan potensi dan
penting karena bagian dari usaha
budaya masyarakat lokal.
penyelamatan lingkungan wilayah
pesisir. Berdasarkan hal tersebut
maka dapat dirumuskan METODOLOGI PENELITIAN
permasalahan penelitian yaitu: Waktu dan Tempat
bagaimana peran kelembagaan lokal
terhadap nilai kearifan lokal dalam Penelitian tentang Peran
pemanfaatan dan pelestarian Kelembagaan Lokal terhadap Nilai
sumberdaya pesisir di kawasan Kearifan Tradisional dalam
Panglima Raja? Pemanfaatan dan Pelestarian
Sumberdaya Pesisir telah
dilaksanakan di Desa Panglima Raja
Tujuan Penelitian
Kecamatan Concong Kabupaten
Penelitian ini bertujuan untuk Indragiri Hilir Propinsi Riau pada
mengidentifikasi dan bulan Desember 2006 sampai dengan
menganalisis peran kelembagaan akhir Januari 2007.
lokal yang berkaitan dengan
kearifan lokal kelembagaan lokal Metode yang Digunakan
yang terhadap dengan nilai Penelitian ini menggunakan
kearifan lokal dalam metode studi kasus dengan
pemanfaatan dan pelestarian pendekatan kualitatif. Menurut
sumberdaya pesisir di kawasan Bogdan dan Taylor dalam Maleong
Panglima Raja. (2000) penelitian kualitatif
merupakan prosedur penelitian yang
Manfaat Penelitian menghasilkan data deskriptif berupa
Manfaat Penelitian ini kata-kata tertulis atau lisan dari
diharapkan : orang-orang dan perilaku yang dapat
1. Memberikan kontribusi kepada diamati. Hal yang senada juga
pihak terkait seperti Pemerintah disampaikan Kirk dan Miller dalam
Daerah, Dinas Perikanan, Maleong (2000) mereka
Masyarakat dan seluruh menambahkan bahwa penelitian
Stakeholders dalam pengelolaan kualitatif bergantung pada
wilayah pesisir di Kabupaten pengamatan terhadap manusia pada
Indragiri Hilir wilayah sendiri dan berhubungan
2. Sehubungan dengan program dengan diri mereka dalam bentuk
otonomi desa di Propinsi Riau bahasa dan peristilahan mereka.
dalam mewujudkan Visi Riau
2020 maka hasil penelitian ini Teknik Pengumpulan Data
diharapkan dapat memberikan Data yang dikumpulkan
kontribusi kepada masyarakat adalah data primer dan data
lokal, tentang kearifan sekunder. Data sekunder
dikumpulkan dari instansi

114
Peran Kelembagaan Lokal Terhadap Nilai Berkala Perikanan Terubuk Vol 38 No.2 Juli 2010

pemerintah dan non pemerintah yang disusun tahap pengolahan dan


terkait dengan topik penelitian ini. analisis data yaitu ; (1) telaah data
Data sekunder dikumpulkan dengan dan informasi dari berbagai sumber
metode studi dokumen, literatur, dan hasil wawancara, observasi dan
publikasi. dokumen, (2) Reduksi data informasi
Data primer dikumpulkan dengan membuat abstraksi sebagai
dari informan yang terdiri rangkuman inti dari semua
masyarakat nelayan, tokoh pernyataan sehingga tetap ada (3)
masyarakat, dan aparat Desa menyusun data dan informasi dalam
Panglima Raja melalui teknik satuan-satuan, (4) mengkategorikan
komunikasi dengan wawancara data dan informasi, (5) mengecek
mendalam dan observasi. Secara keabsahan data dan informasi,
operasional data yang dikumpulkan dengan cara mengkonfrimasikan
adalah : kembali setiap data dan informasi
Peran kelembagaan lokal yang yang diperoleh. Adapun analisis data
mendukung pelaksanaan kerarifan yang digunakan adalah analisis
lokal dengan menjelaskan peran kualitatif (studi kasus).
lembaga adat dan lembaga
Defenisi Operasional
pemerintahan desa terhadap kearifan
lokal yang menjadi nilai, norma dan Untuk memudahkan dan
prinsip yang dianut masyarakat membantu kegiatan penelitian maka
ditentukan definisi opreasional
Informan Penelitian penelitian yaitu:
Dalam mengidentifikasi dan 1. Kearifan lokal adalah kearifan
menganalisis peran kelembagaan masyarakat lokal berupa
lokal yang berkaitan dengan kearifan prinsip-prinsip dan cara tertentu
lokal, maka yang telah dijadikan yang dianut, dipahami, dan
informan adalah Lembaga Adat dan diaplikasikan masyarakat lokal
Lembaga Pemerintahan Desa yang dalam berinteraksi dan
terdiri dari sesepuh adat (tetua adat), berinterrelasi dengan lingkungan
Kepala Desa, Badan Perwakilan sekitar yang diformulasikan
Desa, RT, RW dan organisasi dalam bentuk sistem nilai dan
kepemudaan yang ada di Desa norma adat.
Panglima Raja. Jumlah informan
dalam penelitian ini sebanyak 15 2. Peran kelembagaan lokal adalah
orang, hal ini dikarenakan setiap keterlibatan kelembagaan lokal
wawancara yang dilakukan, terhadap kegiatan kearifan
informasi dan jawaban yang masyarakat lokal dalam
diberikan masing-masing informan pemanfaatan dan pelestarian
sama dengan informan sebelumnya. sumberdaya pesisir.
Artinya keterangan dari 15 informan 3. Masyarakat lokal adalah
tersebut sudah dianggap mampu sekelompok besar maupun
untuk menjawab tujuan penelitian sekelompok kecil manusia yang
ini. hidup dalam suatu kawasan
tertentu, sedemikian lama bahkan
Analisis Data sudah mempunyai banyak,
Berdasarkan panduan analisis keturunan, memiliki
data dari Maleong (2000), maka aturan-aturan dan sanksi yang

115
Peran Kelembagaan Lokal Terhadap Nilai Berkala Perikanan Terubuk Vol 38 No.2 Juli 2010

mereka buat sendiri, dan dapat di wilayah Kecamatan Concong


memenuhi kepentingan hidup Kabupaten Indragiri Hilir berjarak
yang utama. sekitar 61 km dari ibu kota
Kabupaten Indragiri Hilir,
4. Lembaga Adat merupakan suatu
organisasi sosial yang dibentuk Tembilahan. Dari Tembilahan
masyarakat hukum adat menuju ke Desa Panglima Raja
bersangkutan, mempunyai hanya dapat ditempuh melalui
transportasi air dengan menggunakan
wilayah tertentu dan harta
kekayaan sendiri serta berhak, perahu motor atau speed boat
berwenang mengatur, mengurus menyusuri Sungai Indragiri ke arah
dan menyelesaikan hal-hal yang Timur. Secara geografis posisi Desa
Panglima Raja terletak pada
berkaitan dengan adat. 0 0
00 14’09”- 00 21’31” LS dan
5. Sistem Nilai adalah patokan, 103038’42” – 103047’53” BT.
ukuran, anggapan dan keyakinan Sedangkan batasan wilayahnya yaitu
tentang sesuatu yang dianggap :
benar, luhur dan baik yang harus  Utara : berbatasan dengan
dilakukan dan diperhatikan Selat Berhala
masyarakat.  Selatan : berbatasan dengan
6. Norma adalah aturan-aturan yang Desa Sungai Bela
disertai sanksi tertentu yang  Barat : berbatasan dengan
digunakan untuk memberikan Desa Concong Luar
dorongan seseorang atau  Timur : berbatasan dengan
sekelompok orang untuk Selat Berhala
mencapai nilai-nilai yang dianut.
Jumlah Penduduk dan keadaan
KEADAAN UMUM DESA Pemukiman
PANGLIMA RAJA
Menurut data monografi desa
Kondisi Geografis tahun 2006 Jumlah penduduk Desa
Desa Panglima Raja terletak Panglima Raja sampai bulan
terletak di Pulau Concong yang November 2006 tercatat 2.651 jiwa
merupakan suatu kawasan pulau- yang terdiri dari 1351 jiwa laki-laki
pulau yang berada di pesisir timur dan 1300 jiwa perempuan yang
Sumatera. Secara Administratif, berasal dari 520 KK dapat dilihat
Desa Panglima Raja merupakan pada tabel 1.
salah satu dari 13 desa yang berada
Tabel 1. Penduduk Desa Panglima Raja menurut Kelompok Umur
Kelompok Umur (Tahun) Jumlah (Jiwa) Persentase (%)
0 - 5 213 8,03
6 - 15 387 14,60
16 - 25 738 27,84
26 - 55 975 36,78
55> 338 12,75
Jumlah 2651 100,00
Sumber: Monografi Desa 2006

Penduduk desa ini didominasi dengan etnis suku Duano yang


oleh etnik suku laut yang dikenal persentasenya berkisar 95% dan 5%

116
Peran Kelembagaan Lokal Terhadap Nilai Berkala Perikanan Terubuk Vol 38 No.2 Juli 2010

lagi adalah suku Bugis, Jawa, Cina, sepanjang kawasan pesisir. Apabila
Banjar, Minang, dan Melayu. Bahasa pasang tiba kondisi di bawah rumah
yang digunakan sebagai bahasa digenangi oleh air pasang.
komunikasi sesama penduduk desa
adalah bahasa melayu. Rumah yang Mata Pencaharian Penduduk
dihuni oleh masyarakat di wilayah Secara garis besar mata
Desa Panglima Raja pada umumnya pencaharian penduduk Desa Panglima
rumah panggung semi permanen Raja disajikan dalam tabel 2.
yang terletak di tepi pantai atau

Tabel 2. Mata Pencaharian Penduduk Desa Panglima Raja


Mata Pencaharian Jumlah (Jiwa) Persentase

Petani 235 11,66


Usaha Nelayan 135 6,70
PNS 4 0,20
Pedagang 43 2,13
Nelayan Buruh 1598 79,31
Jumlah 2015 100
Sumber: Monografi Desa 2006

Karakteristik Sosial Budaya (Proto-Melayu). Percampuran


Keadaan masyarakat Desa tersebut terlihat dari ciri-ciri fisik
Panglima Raja tidak terlepas dari orang Suku Laut yang tidak terlalu
keberadaan suku Laut atau suku tinggi, berpostur tubuh atletis, bidang
Duano. Suku Laut terkenal sebagai dada lebar, dan ukuran tulang
representasi masyarakat bahari, pinggul sampai ke kaki panjang.
yakni masyarakat yang memiliki Raut muka suku laut bersegi dengan
jiwa bahari dengan tradisi tulang rahang yang lebar. Warna
menjadikan laut sebagai basis kulit suku laut cenderung hitam dan
terbentuknya kebudayaan. Hal ini rambut ikal berwarna hitam.
disebabkan Suku Laut dulunya hidup Karakteristik temparamental
berkelana menangkap ikan dengan psikologi sifat Suku Laut adalah
sampan yang mereka istilahkan cepat tersinggung dan marah, namun
dengan “berkajang” yang ternyata mereka termasuk orang yang mudah
juga sekaligus berfungsi sebagai beradaptasi, mandiri dan mobilitas
rumah, sehingga semua aktivitas tinggi yang mencirikan “etos
kehidupan dilakukan di atas sampan kepesisiran” (Badan Penelitian
tersebut. Namun demikian, saat ini Pengembangan dan Pemanfaatan
sulit ditemukan pola hidup Suku Sumberdaya Perairan, 2004)
Laut yang demikian, sebaliknya Kehidupan masyarakat Suku
mereka sudah hidup menetap di Duano sangat tergantung dengan
sepanjang wilayah pesisir. wilayah pesisir, laut menjadi bagian
Penduduk suku laut (suku utama yang tak terpisahkan dalam
Duano) merupakan keturunan dari sistem kehidupan masyarakat Suku
perkawinan campuran dua ras besar Duano. Mereka memanfaatkan laut
yaitu ras Veddoid dan Mongoloid sebagai tempat tinggal dan sumber

113
117
Peran Kelembagaan Lokal Terhadap Nilai Berkala Perikanan Terubuk Vol 38 No.2 Juli 2010

mata pencaharian utama dalam Kegiatan Sosial Masyarakat


memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kegiatan-kegiatan sosial
Boleh dikatakan bahwa masyarakat
masyarakat Desa Panglima Raja
suku duano tidak dapat melakukan
sangat berkaitan erat dengan
kegiatan sehari-harinya tanpa
keagamaan seperti pengajian,
aktifitas melaut. Menangkap ikan
wiridan dan kegiatan-kegiatan yang
dan mencari kerang di kawasan
telah diprogramkan oleh pemerintah
pesisir panglima raja merupakan
desa. Seperti yang dipaparkan pada
bagian aktifitas kehidupan yang
Tabel 3.
mengisi kesibukan mayarakat Suku
Duano.
Tabel 3. Kegiatan-kegiatan Sosial Masyarakat Desa Panglima Raja
No. Jenis Kegiatan Dusun Panglima Dusun Sungai
Raja Condong
1. Wirid Pengajian Kaum Ibu √ -
2. Wirid Pengajian Kaum Bapak √ -
3. Pengajian salawat untuk anak- √ √
anak
4. Wirid pembacaan yasin √ √
5. Arisan √ -
6. Pengajian Tolak Balak √ -
7. Peringatan Hari Besar Islam √ √
8. Perayaan Hari Besar Nasional √ √
Sumber : Monografi Desa 2006

Pendidikan Masyarakat
Secara umum tingkat
pendidikan masyarakat desa Panglima
Raja disajikan dalam Tabel 4.

Tabel 4. Struktur Pendidikan Penduduk Desa Panglima Raja, Tahun 2006


No Tingkat Pendidikan Dusun Dusun Jumlah Persentase
. Panglima Raja Sungai Condong (%)
1. Tamat dan tidak SD 1.431 300 1.731 90,02
2. Madrasah Ibtida’iah 28 1 29 1,51
3. SMP 112 4 116 6,03
4. SMA/SMU 34 4 38 1,98
5. D1-D3 1 1 2 0,10
6. S1 4 2 6 0,31
7. Pondok Pesantren - 1 1 0,05
Jumlah 1.610 313 1.923 100,00
Sumber: Monografi Desa 2006

Tingkat pendidikan sekolah dasar (SD) sedangkan untuk


masyarakat desa yang rendah lebih tingkat lanjutan tidak tersedia.
disebabkan oleh sarana pendidikan
yang tersedia hanya sampai tingkat

1182
Peran Kelembagaan Lokal Terhadap Nilai Berkala Perikanan Terubuk Vol 38 No.2 Juli 2010

Tabel 6. Orbitrasi, Waktu Tempuh dan Letak Desa/kelurahan

No. Orbitrasi & Jarak tempuh Keterangan

1. Jarak ke Ibukota Kecamatan 44 km


2. Jarak ke Ibukota Kabupaten 61 km
3. Jarak ke ibukota Propinsi 498 km
4. Waktu Tempuh ke Ibukota Kecamatan 1,5 km
5. Waktu tempuh ke Ibukota Kabupaten 2 jam
6. Waktu tempuh ke Ibukota Popinsi 8 jam
Sumber: Monografi Desa, 2006

Aksesibilitas Kelembagaan desa dalam melakukan kegiatan


terutama untuk menyalurkan
Pemerintahan Desa
berbagai bakat dan keahlian generasi
Dalami UU No.4 Tahun 1979 muda desa. Kegiatan yang banyak
tentang Pemerintahan Desa, dilakukan oleh pemuda di daerah ini
disamping Kepala Desa maka adatah kegiatan olah raga seperti
kelembagaan formal lain yang mesti sepak bola dan bola voly serta
ada adalah Lembaga Ketahanan kegiatan kesenian.
Masyarakat Desa (LKMD) yang Majelis taklim
berperan sebagai lembaga pengawas
Kelembagaan ini merupakan
(legistatif). Namun setelah
kelembagaan informal yang tumbuh
dikeluarkan UU No. 22 Tahun 1999
dari kalangan ibu-ibu yang khusus
tentang otonomi daerah terjadi melakukan kegiatan keagamaan
perubahan kelembagaan menjadi seperti wirid pengajian dan yasinan.
Badan Perwakilan Desa (BPD) yang Kegiatan kelembagaan ini cukup
berperan sebagai badan mendapat partisipasi dari masyarakat
permusyawaratan desa yang menjadi khususnya para ibu rumah tangga.
mitra sejajar Kepala Desa dalam Biasanya kegiatan ini dilakukan
membangun desa. sekali seminggu.

Kelembagaan PKK Kelompok Nelayan


Di desa Panglima Raja telah
Kelemabagaan PKK
terbentuk kelompok nelayan, namun
merupakan organisa wanita para ibu
sejauh ini belum banyak berfungsi.
rumah tangga yang diketuai oleh istri
Kelompok ini secara umum masih
Kepala Desa, dimana kegiatannya
menjadi target berbagai kegiatan,
secara rutin dilakukan satu kali
namun dampaknya terhadap
dalam sebulan. Bentuk kegiatan
kemampuan kelompok belum dapat
masih terbatas pada kegiatan arisan,
dilihat.
pengajian dan pembinaan
masak-memasak.. HASIL DAN PEMBAHASAN
Kearifan Lokal Masyarakat dalam
Karang Taruna Pemanfaatan dan Pelestarian
Karang taruna merupakan
wadah organisasi pemuda di tingkat

1192
Peran Kelembagaan Lokal Terhadap Nilai Berkala Perikanan Terubuk Vol 38 No.2 Juli 2010

Zulkarnain (2007) dalam kearifan lokal yang ada di kawasan


hasil penelitiannya menerangkan panglima raja yaitu seperti yang
bahwa terdapat beberapa nilai dijelaskan pada tabel berikut ini
Tabel 7. Kearifan Lokal Masyarakat di Kawasan Desa Panglima Raja dalam
Pemanfaatan dan Pelestarian Sumberdaya Pesisir
Tujuan Kegiatan No Nilai dan Norma kearifan lokal
yang berlaku
1. Penentuan waktu, cuaca dan musim dalam
melakukan penangkapan ikan
2. Mempertahankan penggunaan alat tangkap
Pemanfaatan
tradisional dalam menangkap ikan dan
Sumberdaya Pesisir
kerang
3. Menentukan kawasan boleh menebang
bakau
1. Upacara penghormatan terhadap laut.
2. Komitmen tidak menangkap dan
membunuh lumba-lumba
3. Menganggap wilayah tertentu sebagai
wilayah keramat
Pelestarian
4. Komitmen untuk tidak membuang
Sumberdaya Pesisir
sampah/rimah ke laut
5. Komitmen tidak menggunakan songko
bermesin dalam mengumpulkan kerang
6. Menjaga hutan bakau yang berada di
kawasan pinggir pantai
Sumber : Diolah dari data primer

Dari hasil identifikasi apa yang diwariskan


kearifan lokal masyarakat di desa tersebut banyak
Panglima Raja tersebut, kegiatan mengadung hikmah
pemanfataan dan pelestarian dan kebaikan bagi
sumberdaya pesisir yang kami, macam tak
mengandung nilai kearifan masih boleh menangkap
berlangsung dalam aktivitas mereka. ikan pade kawasan
masih eksisnya beberapa kearifan tertentu.. kate orang
lokal tersebut dikarenakan sekolah, rupenye
pemahaman dan kepentingan tempat-tempat yang
masyarakat tentang nilai-nilai tak boleh tu tempat
kearifan yang dikandungnya. ikan betelo dan
Bapak MN menyatakan : bekembang biak,
“kegiatan dan semua kalau dilanggar
bentuk yang telah bise-bise ikan tak
diwariskan tetue ade lagi nanti”
kami, sampai
sekarang masih Dari pernyataan tersebut
bertahan pada dapat dijelaskan bahwa segala apa
sebagian kami, kerne yang telah diwariskan oleh para

1203
Peran Kelembagaan Lokal Terhadap Nilai Berkala Perikanan Terubuk Vol 38 No.2 Juli 2010

pendahulu mereka, diyakini Ketiga, kearifan tradisional


mengadung banyak hikmah dan bersifat holistik, karena menyangkut
pelajaran yang dapat diambil dan pengetahuan dan pemahaman tentang
dijadikan pelajaran dalam seluruh kehidupan dengan segala
menjalankan berbagai aktifitas relasinya di alam semesta. Alam
mereka. adalah jaring kehidupan yang lebih
Keraf (2002) menyatakan luas dari sekadar jumlah keseluruhan
bahwa kearifan tradisional adalah bagian yang terpisah satu sama lain.
semua bentuk pengetahuan, Keempat, berdasarkan
keyakinan, pemahaman atau kearifan tradisional dengan ciri
wawasan serta adat kebiasaan atau seperti itu, masyarakat adat juga
etika yang menuntun perilaku memahami semua aktivitasnya
manusia dalam kehidupan di dalam sebagai aktivitas moral. Kegiatan
komunitas ekologis. Jadi, kearifan bertani, berburu dan menangkap ikan
tradisional ini bukan hanya me- bukanlah sekadar aktivitas ilmiah
nyangkut pengetahuan dan berupa penerapan pengetahuan
pemahaman masyarakat adat tentang ilmiah tentang dan sesuai dengan
manusia dan bagaimana relasi yang alam, yang dituntun oleh
baik di antara manusia, melainkan prinsip-prinsip dan pemahaman
juga menyangkut pengetahuan, ilmiah yang rasional. Aktivitas
pemahaman dan adat kebiasaan tersebut adalah aktivitas moral
tentang manusia, alam dan bagai- bersumber dari kearifan tradisional.
mana relasi di antara semua Kelima, berbeda dengan ilmu
penghuni komunitas ekologis ini pengetahuan Barat yang mengklaim
harus dibangun, Seluruh kearifan dirinya sebagai universal, kearifan
tradisional ini dihayati, dipraktikkan, tradisional bersifat lokal, karena
diajarkan dan diwariskan dari satu terkait dengan tempat yang partikular
generasi ke generasi lain yang dan konkret. Tetapi, karena manusia
sekaligus membentuk pola perilaku dan alam bersifat universal, kearifan
manusia sehari-hari, baik terhadap dan pengetahuan tradisional dengan
sesama manusia maupun terhadap tidak direkayasapun menjadi
alam dan yang Gaib. universal pada dirinya sendiri.
Ini menunjukkan bahwa,
pertama, kearifan tradisional adalah Peran Kelembagaan Lokal
milik komunitas. Demikian pula, terhadap Kearifan Lokal
yang dikenal sebagai pengetahuan Peran Lembaga Adat terhadap
tentang manusia, alam dan relasi Kearifan Lokal
dalam alam juga milik komunitas.
Kedua, kearifan tradisional, Berdasarkan hasil penelitian
yang juga berarti pengetahuan dapat dijelaskan bahwa di Desa
tradisional, lebih bersifat praktis. Panglima Raja saat ini tidak
Pengetahuan dan kearifan memiliki lembaga adat. Hal ini
masyarakat adat adalah pengetahuan memberikan arti bahwa pelaksanaan
bagaimana hidup secara baik dalam kearifan nilai-nilai tradisional dalam
komunitas ekologis, sehingga pemanfaatan dan pelestarian
menyangkut bagaimana berhubungan sumberdaya pesisir di Desa Panglima
secara baik dengan semua isi alam. Raja sekarang ini, tidak ada lagi
peran lembaga adat.

1214
Peran Kelembagaan Lokal Terhadap Nilai Berkala Perikanan Terubuk Vol 38 No.2 Juli 2010

Peran Lembaga Pemerintahan yang dilaksanakan sejak turun


Desa terhadap Kearifan Lokal temurun.
Kegiatan ini
Upaya untuk melegalisasikan menggambarkan bahwa lembaga
nilai-nilai tradisional masyarakat pemerintahan desa berperan untuk
dalam pemanfaatan dan pelestarian memunculkan kembali fungsi
sumberdaya pesisir telah dilakukan kearifan lokal di tengah-tengah
oleh lembaga pemerintahan desa kehidupan masyarakat Desa
dengan membuat peraturan desa Panglima Raja khususnya dalam
Panglima raja pelestarian sumberdaya pesisir,
No.01/PERDES/PR/X/2005 tentang walaupun dalam prakteknya
Partisipasi Pengelolaan Sumberdaya kegiatan ini difasilitasi melalui
Pesisir Lestari. Peraturan ini dibuat program Small Scale Natural
dengan seharusnya mengacu pada Resources Management (SNRM).
nilai, norma dan prinsip yang dianut Untuk mengetahui lebih jelasnya
oleh masyarakat dalam pemanfaatan dapat dilihat pada tabel 8.
dan pelestarian sumberdaya pesisir
Tabel 8. Peran lembaga pemerintahan desa terhadap nilai dan norma kearifan
lokal dalam pemanfaatan dan pelestarian sumberdaya pesisir
Peran kelembagaan Nilai dan norma kearifan lokal yang
No
lokal berlaku
1. Pelarangan menggunakan putas dan pukat
2. Pelarangan menggunakan songko mesin
3. Menentukan wilayah konservasi bakau
Peran lembaga
4. Pelarangan menebang bakau
pemerintahan desa
Membuat peraturan desa
No.01/PERDES/PR/X/2005 tentang
5.
partisipasi pengelolaan sumberdaya pesisir
lestari di kawasan Desa Panglima Raja
Sumber : Hasil analisis data primer dan sekunder

Seharusnya perdes yang legalitas perdes, sehingga perdes


terbentuk mampu menjadikan aturan belum memiliki kekuatan sesuai
dan legalitas pengelolaan wilayah dengan fungsinya. Berdasarkan hasil
pesisir memiliki kekuatan tersendiri, wawancara mendalam dengan Bapak
untuk dijalankan bagi masyarakat FN (singkatan nama) pimpinan
setempat. Akan tetapi dalam fasilitator Kabupaten beliau
prakteknya perdes yang dibuat sulit menyatakan :
untuk dijalankan karena pengakuan “Lahirnya peraturan
dan legalitas hanya berlaku bagi desa karena
masyarakat Desa Panglima Raja, merupakan syarat
sedangkan dari pihak luar termasuk dalam program Small
pemerintah kabupaten, belum Scale natural resources
memberikan pengakuan terhadap management (SNRM).

1225
Peran Kelembagaan Lokal Terhadap Nilai Berkala Perikanan Terubuk Vol 38 No.2 Juli 2010

Peraturan ini dibuat membuka tambak kurang dari 200 m


seyogyanya membantu dari garis pantai.
masyarakat Kemudian Pasal 20 yang
mengadovsi nilai-nilai, berisikan aturan tentang sanksi
norma dan prinsip pelanggaran perdes menyatakan.
yang telah mereka Barang siapa dengan sengaja atau
jalankan selama ini, karena kelalaian melanggar peraturan
dengan harapan desa ini, dikenakan sanksi berupa 1)
masyarakat mampu Peringatan/teguran lisan 2)
mengelola wilayah Peringatan/teguran tertulis 3) denda,
sendiri. Akan tetapi yang akan diatur dalam peraturan
dalam prakteknya selanjutnya.
peraturan desa ini sulit Jika diperhatikan isi perdes
untuk dijalankan yang telah disusun tersebut, dapat
dikarenakan legalitas dijelaskan bahwa peran lembaga
peraturan hanya pemerintahan desa masih belum
berada di tingkat desa berperan secara penuh untuk
setempat, sedangkan melaksanakan nilai, norma dan
pemerintah kabupaten prinsip yang dianut masyarakat
belum melegalilasi dalam pemanfaatan dan pelestarian
perdes tersebut untuk sumberdaya pesisir sebagai nilai
disahkan dengan kearifan masyarakat lokal untuk
alasan bahwa Desa menjadi sesuatu aturan yang diakui
Panglima Raja belum legalitasnya.
memerlukan perdes.
Sehingga perdes yang KESIMPULAN
telah disusun hanya
sebuah syarat untuk Kesimpulan
berjalannya suatu Dari pembahasan dan
program..” analisis hasil penelitian yang telah
dijelaskan sebelumnya, maka
Jika dilihat diantara yang isi kesimpulan dan saran dinyatakan
perdes yang mencoba mengakomodir sebagai berikut :
kearifan lokal masyarakat tersebut Kelembagaan lokal di Desa
adalah: Pasal 11. Aturan adat atau Panglima Raja dari lembaga adat
tradisi yang lahir dalam masyarakat tidak memiliki atau lebih jelasnya
desa yang bermanfaat bagi belum memiliki peran terhadap
pengelolaan sumberdaya desa lestari kearifan lokal dalam pemanfaatan
perlu ditegakkan. Pasal 12. Dalam dan pelestarian sumberdaya pesisir.
rangka pengelolaan sumber daya Peran lembaga adat terhadap kearifan
pesisir dilarang melakukan kegiatan lokal sudah mengalami kemunduran
yang dapat merusak lingkungan sejak zaman kerajaan, zaman
seperti membuka lahan dengan cara penjajahan hingga terbentuknya
membakar, menebang hutan secara pemerintahan nasional yang
liar, membuang sampah dan kotoran meneruskan sistem dan cara-cara
di sungai, menggunakan alat tangkap pemerintahan penjajahan Belanda.
yang merusak lingkungan, dan Sehingga kelembagaan adat telah

1236
Peran Kelembagaan Lokal Terhadap Nilai Berkala Perikanan Terubuk Vol 38 No.2 Juli 2010

mengalami perubahan bentuk dan Terpadu. P.T. Pradnya


wewenang. Paramita. Jakarta. 299 hal.
Sedangkan lembaga
pemerintahan desa hanya berperan Dahuri, R. 2000. Pendayagunaan
sebagai pemegang wewenang dan Sumberdaya Kelautan Untuk
legalitas terhadap beberapa nilai Kesejahteraan Rakyat.
kearifan lokal dalam pelestarian Kumpulan Pemikiran.
sumberdaya pesisir. Lembaga Lembaga Informasi dan Studi
pemerintahan desa belum berperan Pembangunan Indonesia.
secara maksimal untuk melegalkan Jakarta. 145 hal.
nilai, norma kearifan lokal
masyarakat Desa Panglima Raja Keraf, A. Sony. 2002. Etika
menjadi sebuah perdes. Karena Lingkungan. Penerbit Buku
perdes yang dibuat masih terdapat Kompas. Jakarta. 322 hal
kelemahan yaitu belum
mengakomodir beberapa nilai-nilai Maleong, L.J. 2000. Metodologi
kearifan lokal secara partisipatif. Penelitian Kualitatif Remaja
Rosdakarya. Bandung. 253 hal.
DAFTAR PUSTAKA Sugiono. 2000. Metode Penelitian
Administrasi. Alfabeta.
BP3SP, Faperika Unri. 2004. Profil
Bandung. 221 hal.
Daerah Penerima Program
SNRM Kabupaten Indragiri
Zulkarnain. 2007. Kearifan Lokal
Hilir. 58 hal.(tidak diterbitkan)
dalam Pemanfaatan dan
Pelestarian Sumberdaya Pesisir
Dahuri, R., J. Rais, S. P. Ginting dan di Kawasan Panglima Raja
M. J. Sitepu. 1996. Kabupaten Inhil. Thesis
Pengelolaan Sumberdaya Pascasarjana. Universitas
Pesisir dan Lautan Secara Andalas. Padang

1247