Anda di halaman 1dari 17

SOSIOLINGUISTIK

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Linguistik Umum
Dosen pengampu Dr. Muhammad Rohmadi, M.Hum.

Nama Anggota Kelompok 3 Kelas A:

1. Akhmad Mukhibun (K1219005)


2. Alya Puteri Noordiniyah (K1219011)
3. Byuti Adi Maghfiroh (K1219023)
4. Elisa Mifta Choirunnisa (K1219033)
5. Lina Khoirun Nisa (K1219051)
6. Rahmad Yahya Tri Kurniawan (K1219063)
7. Rismawati Ariesta Wulandari (K1219065)

PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2019
2

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kemudahan sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya
tentunya penulis tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Shalawat serta salam semoga terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu
Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-nantikan syafa’atnya di akhirat nanti.
Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya.
Baik itu berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk
menyelesaikan pembuatan makalah ini sebagai tugas dari mata kuliah Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa dengan judul “SOSIOLINGUISTIK”.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kata
sempurna dan masih terdapat banyak kesalahan serta kekurangan di dalamnya,
penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya. Untuk itu, penulis mengharapkan
saran serta kritik yang konstruktif dari pembaca untuk makalah ini agar lebih baik
lagi kedepannya.
Demikian, harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca
untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Surakarta, 15 November 2019

Penulis
3

Daftar Isi

HALAMAN JUDUL .................................................................................................. i


KATA PENGANTAR ............................................................................................... ii
DAFTAR ISI............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................... 4
1.1 Latar Belakang ..................................................................................................... 4

1.2 Rumusan Masalah ................................................................................................ 4

1.3 Tujuan Penelitan .................................................................................................. 4

1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN .......................................................................................... 6

2.1 Jenis-jenis bahasa dalam sosiolinguistik .............................................................. 6

2.2 Variasi bahasa dalam sosiolinguistik ................................................................... 8

2.3 Penerapan dalam kehidupan sehari-hari terkait sosiolinguistik ......................... 10

BAB III PENUTUPAN

A. Simpulan ......................................................................................................... 15
B. Saran ............................................................................................................... 16

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................. 17


4

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada November 1966, istilah sosiolinguistik telah menjadi istilah yang lazim di
kalangan linguis dan sosiolog. Pertemuan tahunan Linguistic Society of America
(LSA) telah memiliki sesi tersendiri yang diberi nama Sosiolinguistics yang telah
berlangsung lebih dari 15 tahun. LSA telah mendeskripsikan sosiolinguistik sebagai
sebuah komponen utama dalam disiplin ilmu linguistik. Dewasa ini sosiolinguistik
mengandung beberapa topik di dalamnya, di antaranya perencanaan bahasa, studi
mengenai bahasa dan jenis kelamin, variasi bahasa (dialek), register, pidgin, creol,
dan lain-lain.

Indonesia menjadi sebuah ladang subur bagi kajian Sosiolinguistik. Menurut peta
bahasa yang diterbitkan Lembaga Bahasa Nasional pada tahun 1992 (Nababan, 1986:
12) terdapat 418 bahasa daerah di Indonesia dengan jumlah penutur berkisar antara
100 orang (Irian Jaya) sampai dengan kurang lebih 50 juta orang (bahasa Jawa).
Kebanyakan orang Indonesia akan mempelajari dan memakai bahasa daerah sebagai
bahasa pertama, sedangkan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Orang tersebut
dinamakan berdwibahasa. Selain itu, masyarakat Indonesia sangat multikultur,
sehingga akan terdapat banyak klasifikasi sosial yang membuat kajian sosiolinguistik
menjadi menarik.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu :
1. Bagaimanakah jenis-jenis bahasa dalam sosiolinguistik?
2. Bagaimanakah variasi bahasa dalam sosiolinguistik?
3. Bagaimanakah contoh dalam kehidupan sehari-hari terkait sosiolinguistik?

1.3 Tujuan Penelitian


Tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan:
1. Untuk mengetahui jenis-jenis bajasa dalam sosiolinguistik
2. Untuk mengetahui variasi bahasa dalam sosiolinguistik
3. Untuk mengetahui contoh-contoh kalimat yang terkait sosiolinguistik di dalam
kehidupan sehari-hari
5

1.4 Manfaat Penelitian


1. Manfaat Teoritis

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah nilai


tambah khazanah pengetahuan ilmiah dalam bidang pendidikan di
Indonesia.

2. Manfaat Praktis
1. Bagi Mahasiswa Bahasa Indonesia
a. Melatih untuk mengembangkan keterampilan memahami
sosiolinguistik dalam kehidupan sehari-hari.
b. Melatih untuk menulis opini dan memberikan solusi terhadap
permasalahan yang dibahas.
2. Bagi Praktisi Pendidikan
a. Menambah wawasan terhadap para praktisi pendidikan agar lebih
mampu dalam mengembangkan ilmu terutama dalam kajian
sosiolinguistik.
b. Sebagai sarana instrokpeksi diri dalam mengembangkan variasi
pembelajaran dalam bab sosiolinguistik.
3. Bagi Pembuat Kebijakan Pendidikan
a. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi tolak ukur bagi
pemerintah dalam membuat kurikulum pembelajaran mengenai
linguistik terutama sosiolinguistik.
b. Sebagai sarana dalam merumuskan strategi kebijakan yang mampu
membantu para praktisi pendidikan dalam pengembangan kajian
sosiolinguistik.
6

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Jenis-Jenis Bahasa Sosiologi dalam Linguistik


Penjenisan bahasa secara sosiolinguistik berkenaan dengan faktor-faktor eksternal
bahasa atau bahasa-bahasa itu yakni:

1. Jenis Bahasa Berdasarkan Sosiologis

Penjenisan bahasa berdasarkan faktor sosiologis, artinya penjenisan itu tidak


terbatas pada struktur internal bahasa, tetapi juga berdasarkan faktor sejarahnya,
kaitannya dengan sistem linguistik lain, dan pewarisan dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Stewart (dalam fishman(ed.)1968) menggunakan empat dasar untuk
menjeniskan bahasa-bahasa secara sosiologis, yakni:

a. Standardisasi atau pembakuan adalah adanya kodifikasi dan penerimaan terhadap


sebuah bahasa oleh masyarakat pemakai bahasa itu akan seperangkat kaidah atau
norma yang menentukan pemakaiaan “bahasa yang benar”.

b. Otonomi . sebuah sistem linguistik disebut mempunyai keotonomian kalau sistem


linguistik itu memiliki kemandirian sistem yang tidak berkaitan dengan bahasa lain.

c. Faktor historisitas atau kesejarahan. Sebuah sistem linguistik dianggap mempunyai


historisitas kalau diketahui atau dipercaya sebagai hasil perkembangan yang normal
pada masa yang lalu.

d. Faktor vitalitas atau keterpakaian. Menurut Fishman yanng dimaksud dengan


vitalitas adalah pemakaian sistem linguistik oleh satu masyarakat penutur asli yang
tidak terisolasi. Jadi, unsur vitalitas ini mempersoalkan apakah sistem linguistik
tersebut memiliki penutur asli yang masih menggunakan atau tidak.

2. Jenis Bahasa Berdasarkan Sikap Politik

Berdasarkan sikap politik atau sosial politik kita dapat membedakan adanya
beberapa macam bahasa yakni :
7

a. Bahasa Nasional atau bahasa kebangsaan, adalah kalau sistem linguistik itu
diangkat oleh suatu bangsa (dalam arti kenegaraan) sebagai salah satu identitas
kenasionalan bangsa itu.

b. Bahasa Negara adalah sebuah sistem linguistik yang secara resmi dalam undang-
undang dasar sebuah neegara ditetapkan sebagai alat komunikasi resmi kenegaraan.
Artinya, segala urusan kenegaraan, administrasi kenegaraan, dan kegiatan-kegiatan
kenegaraan dijalankan dengan menggunakan bahasa itu.

c. Bahasa resmi yaitu sebuah sistem linguistik yang ditetapkan untuk digunakan
dalam suatu pertemuan, seperti seminar, konferensi, rapat, dan sebagainya.

d. Pengangkatan satu sistem linguistik sebagai bahasa persatuan adalah dilakukan


oleh suatu bangsa dalam kerangka perjuangan, di mana bangsa yang berjuang itu
merupakan masyarakat multilingual. Kebutuhan akan sebuah bahasa persatuan adalah
untuk mengikat dan mempererat rasa persatuan sebagai sattu kesatuan bangsa.

3. Jenis Bahasa Berdasarkan Tahap Pemerolehan

Berdasarkan tahap pemerolehannya dapat dibedakan menjadi beberapa macam


yaitu :

a. Bahasa Ibu

Bahasa ibu lazim juga disebut bahasa pertama (disingkatB1) karena bahasa itulah
yang pertama-tama dipelajarinya. Kalau si anak mempelajari bahasa lain, yang bukan
bahasa ibunya, maka bahasa lain yang dipelajarinya itu disebut bahasa kedua
(disingkat B2). Andaikata kemudian si anak mempelajari bahasa lainnya lagi, maka
bahasa bahasa yang dipelajari terakhir ini disebut bahasa ketiga (disingkat B3). Begitu
pula selanjutnya. Pada umumnya, bahasa pertama seorang anak Indonesia adalah
bahasa daerahnya masingg-masing. Sedangkan bahasa Indonesia adalah bahasa kedua
karena baru dipelajari ketika masuk sekolah, dan ketika dia sudah menguasai bahasa
ibunya; kecuali mereka yang sejak bayi sudah mempelajari bahasa Indonesia dari
ibunya.
8

b. Bahasa Asing

Yang disebut bahasa asing akan selalu merupakan bahasa kedua bagi seorang
anak. Di samping itu penamaan bahasa asing ini juga bersifat politis, yaitu bahasa
yang digunakan oleh bangsa lain. Sebuah bahasa asing, bahasa yang bukan milik
suatu bangsa (dalam arti kenegaraan) dapat menjadi bahasa kedua.

4. Lingua Franca

Yang dimaksud dengan lingua franca yaitu sebuah sistem linguistik yang
digunakan sebagai alat komunikasi sementara oleh para partisipan yang mempunyai
bahasa ibu yang berbeda.

2.2 Variasi Bahasa Sosiolinguistik


Sosiolinguistik sendiri berasal dari dua kata yaitu 'sosio' dan 'linguistic'. Kata
sosio berarti berkaitan dengan masyarkat (sosial) dan linguistic adalah ilmu yang
mempelajari bahasa. Dapat katakan bahwa sosiolinguistik merupakan cabang ilmu
bahasa yang mempelajari hubungan antara masyarkat dan bahasa. Ilmu ini melihat
bahasa dari sudut pandang penggunaanya di masyarkat. Variasi bahasa disebabkan
oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok
yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para penuturnya yang tidak homogen.

Varisia bahasa timbul dari tindak tutur masyarkat. Oleh karenanya variasi bahasa
berbagi menjadi 5 jenis yaitu (1) idiolek, (2) dialek, (3) tingkat tutur, (4) ragam
bahasa, dan (5) register.

1. Idiolek
Idiolek merupakan variasi bahasa yang bersifat individual. Variasi tersebut hanya
tejadi pada satu orang dan berbeda dengan orang lain. Idiolek dapat dicirikan dari
warna suara seseorang. Biasanya hanya dengan mendegar warna suaranya kita akan
tahu siapa yang berbicara.
2. Dialek
Dialek merupakan variasi bahasa yang ada pada suatu wilayah tertentu dan
seringkali menjadi ciri asal penutur. Kelas sosial juga dapat mengakibatkan dialek
yang berbeda. Secara singkat faktor geografis dan sosial mempengaruhi dialek. Dialek
biasanya berifat akumulatif bukan perseorangan. Misalkan suatu masyarkat berada
disuatu wilayah terentu punya dialek yang sama.
9

Akan tetapi sebenarnya dialek bukan merupakan sebuah bahasa yang berbeda
atau baru. Dialek masih menjadi bagian dari suatu bahasa. Variasi hanya berupa kata,
frasa, intonasi, atau pengucapan yang sedikit berbeda dengan kata, frasa, intonasi,
atau pengucapan pada bahasa yang sama.
Contoh: Bahasa Jawa memiliki beberapa dialek yakni dialek Surabaya, Jogja
Solo, dan Banyumasan. Untuk menyebutkan kata 'kamu' dalam bahasa ada beberapa
dialek yakni 'koe', 'siro', 'riko', 'ko', dan 'awak mu'
3. Tingkat Tutur
Tingat tutur (speech level) variasi yang timbul adanya perbedaan mitra tutur.
Penutur akan mempertimbangkan siapa yang menjadi mitra tuturnya. Mitra yang
berbeda akan mengakibatkan penggunaan variasi yang berbeda. Tingkat tutur
dilakukan secara sadar olah seseorang atau masyarkat tutur. Tingkat tutur juga bukan
merupakan bahasa baru, tetapi masih pada bahasa yang sama. Tingkat tutur dapat
dilihat dengan pilihan kata yang berbeda dengan orang yang berbeda. Hal ini juga
menyakut kesopnaan terhadap lawan bicara.
Contoh: Bahasa jawa mengenal kesponanan, ketika berbicara dengan orang yang
lebih tua atau dianggap memiliki status sosial yang lebih tinggi maka penutur akan
cenderung menggunakan bahasa kromo, sedangkan untuk mitra yang sebaya akan
menggunakan bahasa ngoko.
4. Ragam Bahasa
Ragam bahasa terjadi karena adanya perbedaan sudut pandang penutur, tempat,
dan situasi. Hal ini mengkibatkan ragam bahasa resmi (formal) dan tida resmi (non
formal). Ragam formal digunakan pada acara resmi tentu dengan pilihan kata yang
yang sesuai dengan situasi.
5. Register
Ragam bahasa merupakan variasi bahasa yang digunakan oleh seseorang atau
masyarkat tutur untuk suatu keperluan tertentu. Register memiliki maksud dan fungsi
tertentu sesuai dengan maksud penutur. Selain itu juga mencakup konteks
sosial. Register dapat dijumpai baik dalam teks lisan maupun tulis. Register lisan pada
bahasa politik berbeda dengan bahasa biologi. Meskipun ada beberapa kata yang
sama, tetap maknanya berbeda. Register lisan pada bahasa iklan akan berbeda dengan
bahasa koran.
10

2.3 Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari Terkait Sosiolinguistik

Penerapan sosiolinguistik yang tak boleh diabaikan adalah aplikasinya dalam


pendidikan. Bagaimana interaksi kebahasaan dalam proses belajar mengajar sangat
penting diketahui. Persoalannya ialah apakah pengajaran bahasa dapat menyebabkan
anak didik menggunakan suatu bahasa menurut kaidah-kaidah dan tidak
mempersoalkan bagaimana penerapan kaidah dalam penggunaan bahasa sehari-hari.

Penerapan sosilinguistik dalam pengajaran bahasa bukan berarti kita


mengajarkan sosiolinguistik kepada murid-murid, tetapi kita (guru bahasa) harus
membentengi diri dengan pengetahuan sosiolinguistik. Pengetahuan sosiolinguistik
diperlukan agar materi yang kita berikan kepada anak didik dapat mereka cerna dan
dapat dipergunakannya dalam kehidupan sehari-hari.(mansoer pateda, 1987:98)

Dalam sosiolinguistik mengajarkan bagaimana penggunaan bahasa itu secara


aktual dalam komunikasi khususnya dalam pengajaran bahasa. Seperti yang
diungkapkan oleh Fishman (1967: 15; Chaer dan Agustina, 2010:48) bahwa
sosiolinguistik menjelaskan bagaimana menggunakan bahasa dalam aspek atau segi
sosial tertentu dengan memperhatikan, “ who speak, what language, to whom, when,
and to what end”.

Parera (1989:11-13) menyatakan bahwa terdapat tiga tahap aplikasi linguistik


berkaitan kontribusi linguistik dalam pengajaran bahasa sebagai berikut.

Tahap aplikasi pertama adalah tahap deskripsi linguistik. Tahapan ini memberi
jawaban atas pertanyaan general tentang hakekat bahasa yang diajarkan. Secara tidak
langsung bagan-bagan yang dijelaskan memberikan isyarat bahwa teori
struktural dan sosiolinguisrik merupakan bagian dari lingusitik yang
menyumbangakan teorinya dalam penyusunan bahan pengajaran bahasa.

Tahap aplikasi kedua berhubungan dengan isi silabus. Kita tidak akan mengajarkan
keseluruhan bahasa dalam pembelajaran, namun mengajarkan bahasa yang
dibutuhkan oleh peserta didik kita. Dalam tahapan ini kita akan melakukan desain
hasil untuk itu akan dilakukan pemilihan bahan. Pemilihan bahan sangat erat sekali
dengan aplikasi sosiolinguistik terutama jika bahan pembelajaran ingin menyiapkan
11

bagi pembelajar bahasa Indonesia untuk pengguna bahasa asing, seluk-beluk


variasi dialek, perbandingan interlingual dan perbandingan antara dua bahasa.

Tahap aplikasi ketiga merupakan tahap kegiatan pembelajaran bahasa karena pada
tahap kedua belum bisa membuat silabus yang lengkap dan utuh tentang bahasa, maka
kaidah-kaidah penyusunan silabus ini harus memperhatikan faktor linguistik,
psikolinguistik maupun sosiolinguistik sebagai bahan pengajaran (materi yang
dimasukkan silabus) yang nanti juga menentukan alat, bahan dan sumber
pembelajaran dan pendekatan proses (teknik presentasi) seperti pendekatan
kontekstual, metode jigsaw, role playing, komunikatif, koordinatif dan lain
sebagainya dalam belajar mengajar.

Dalam pengajaran bahasa tentu harus mampu mengaplikasikan bahasa sebagai


sarana penyampaian konten, melakukan proses sosial dan berinteraksi dalam
pembelajaran. Maka rumusan Fishman tersebut dirasa penting sebagai pedoman
dalam berinteraksi, yakni mengetahui siapa yang sedang berbicara, siswa, atau sesama
guru atau kepala sekolah, bahasa apa yang harus digunakan, untuk siapa bahasa
tersebut digunakan karena bahasa yang digunakan ketika berkomunikasi dengan siswa
tentu akan berbeda ketika berkomunikasi dengan kepala sekolah atau sesama guru.
Ada pula pertimbangan lalu kapankah komunikasi berlangsung dalam situasi formal
atau nonformal, sepeti ketika guru melaksanakan diskusi di dalam kelas, tentu akan
berbeda ketika sedangan bercengkrama di ruang guru yang dilakukannya oleh sesama
guru, dan tujuan dari interaksi yang dilakukan tersebut apa? misalnya tujuan untk
memotivasi siswa tentu akan berbeda dengan bahasa yang digunakan ketika menegur
siswa yang melakukan kesalahan, maka disitulah aplikasi sosiolinguistik dalam
interaksi pengajaran bahasa sangat penting untuk diterapkan.

Aplikasi berikutnya penggunaan pronomina persona kaitannya dengan variasi


bahasa yang digunakan dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (2003: 249)
yang menjelaskan pronomina persona sebagai berikut.
12

Persona Makna
Tunggal Jamak
Netral Eksklusif Inklusif
Pertama Saya, aku, Kami Kita
aku, ku-,-ku
Kedua Engkau, kamu,Kalian, kamu,
anda, dikau,sekalian, anda,
kau, -mu sekalian
Ketiga Ia, dia, beliau,Mereka
-nya

Sosiolinguistik menjelaskan penggunaan pronomina tersebut dengan


mengklasifikasikan variasi bahasa berdasarkan umur, pendidikan, tingkat
keformalan, topik dan jalur pembicaraan dengan klasifikasi tersebut pengguna
bahasa akan dengan mudah menggunakan masing-masing pronomina persona.

Kontribusi sosiolinguistik dalam pembelajaran bahasa dapat dilihat melalui


aplikasi linguistik, yakni bagaimana sumbangan sosiolinguistik dalam
menentukan bahan pembelajaran, silabus dan pelaksanaan pengajaran bahasa.

Masalah kebahasaan di Indonesia merupakan masalah yang rumit banyak faktor dan
kondisi yang melilit persoalan linguistik. Faktor pertama adalah kemajemukan bangsa
yang berarti juga kemajemukan budaya dan bahasa. Ada tiga masalah yang dihadapi
dan masing-masing memerlukan kebijakan. Ketiga masalah itu ialah masalah bahasa
Indonesia, masalah bahasa daerah , dan masalah bahasa asing. Faktor kedua ialah
keberagaman bahasa daerah dalam jumlah yang sangat besar. Indonesia merupakan
negara yang dihuni oleh ribuan suku dan budaya, diperkirakan 500 bahasa daerah
terdapat di negara kita ini. Oleh karena itu, masalah yang timbul ialah mengenai
pembakuan bahasa. Faktor ketiga ialah faktor kontak bahasa. Masalah yang timbul
akibat kontak bahasa tersebut yakni masalah timbulnya campur kode dan interferensi.
Tampubolon mengemukakan perlu adanya adopsi dan importasi. Adopsi adalah
proses pengambilan dan penggunaan kosakata bahasa daerah secara tidak atau kurang
beraturan dan tidak sesuai dengan kebutuhan yang wajar sehingga sering
membingungkan. Alasan utama mengadakan adopsi dan importasi ialah tidak adanya
kosakata yang tepat dalam bahasa bersangkutan untuk menyatakan suatu ide.
13

Sedangkan alasan lain ialah (1) untuk membentuk suatu ragam khusus, (2) untuk
tujuan eufimismistis atau gaya topeng. Sedangkan gejala importasi berlebihan ialah
proses pemasukan dan penggunaan kosa kata bahasa asing secara tidak atau kurang
berlebihan dan tidak sesuai dengan kebutuhan yang wajar, terutama melalui hubungan
perdagangan luar negeri, sehingga sering membingungkan. Alasan lain adanya
importasi ialah (1) pengaruh hubungan bisnis luar negeri sebagai alasan yang paling
kuat dan (2) gengsi sebagai alasan yang kurang kuat. Dampak dari importasi
berlebihan ialah alienasi bahasa, kerancuan struktural, dan kerancuan kognitif. Faktor
keempat adalah sikap mental anggota masyarakat Indonesia yang negatif. Sikap
negatif yang menonjol ialah (1) penggunaan unsur asing yang tidak perlu (2)
penggunaan bahasa Indonesia yang menyimpang dari kaidah : kaidah ucapan, kaidah
bentukan kata, kaidah bentukan kaliat, kaidah ejaan dan tanda baca.masalah terakhir
ialah penggunaan bahasa asing yang terkesan fanatisme berlebihan. Kebijakan bahasa
dapat dikatakan sebagai garis haluan yang menjadi dasar dalam perencanaan dan
pelaksanaan dalam kegiatan kebahasaan. Kebijakan menganai bahasa nasional
dimulai pada sumpah pemuda. Alasan dari kebijakan ini (1) embrio bangsa Indonesia
sudah mampu menentukan sikap politik yang penting dalam memikirkan negara (2)
penentuan bahasa Indonesia itu menunjukkan wawasan yang luas dan jauh ke depan
masyarakat Indonesia, khususnya pemuda dalam memikirkan masa depan bangsa.
Fungsi bahasa nasional (1) lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas
nasional, (3) alat yang memungkinkan penyatuan berbagai suku bangsa dengan latar
belakanh sosial budaya dan bahasa daerah yang berbeda-beda, ddan (4) alat
perhubungan antardaerah dan antarbudaya. Kebijakan tentang bahasa negara terjadi
pada tahun 1945. Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi (1) bahasa resmi
kenegaraan, (2) bahasa pengantar dalam dunia pendidikan, (3) alat perhubungan pada
tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan
nasional serta kepentingan pemerintah, dan (4) alat pengembangan kebudayaan, ilmu
pengetahuan, dan teknologi. Kebijakan tentang bahasa daerah dapat dilihat pada
penjelasan UUD 1945 pasal 36. Bahasa daerah berfungsi sebagai (1) lambang
kebanggaan daerah, (2) lambang identitas daerah, dan (3) alat perhubungan di dalam
keluarga dan masyarakat daerah. Kebijakan mengenai bahasa asing berfungsi (1) alat
perhubungan antarbangsa, (2) alat pembantu pengembangan bahasa Indonesia
menjadi bahasa modern, dan (3) alat pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi
modern untuk pembangunan nasional. Kebijakan tentang kelembagaan dengan
14

terbentuknya Pusat Pembinaan dan pengembangan Bahasa yang bertugas


melaksanakan penelitian, pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra
berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh Menteri pendidikan dan kebudayaan.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa dibantu oleh UPT yang disebut Balai
Bahasa. Kebijakan tentang penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar dapat
dideskripsikan, bahasa yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai kaidah
kebahasaan :ucapan, kosakata, gramatika dan ejaan. Sedangkan bahasa yang benar
adalah bahasa Indonesia yang digunakan sesuai dengan konteks penggunaan :
partisipan, situasi, media, topik, waktu dan tempat.

Perencanaan bahasa adalah kegiatan politis dan administratif untuk


menyelesaikan persoalan bahasa dalam masyarakat. Target terpenting dalam
perencanaan bahasa Indonesia ialah pembakuan. Pembakuan adalah Proses
pengangkatan satu ragam bahasa menjadi ragam yang diterima secara meluas di
kalangan masyarakat bahasa sebagai ragam supradialektal sebagai bentuk “terbaik” di
atas dialek-dialek local dan sosial. Bahasa baku perlu memiliki sifat kemantapan
dinamis. Fungsi dari bahasa baku yakni fungsi pemersatu, fungsi penanda
kepribadian, fungsi penanda tempat tertinggi atau gengsi tertinggi, dan fungsi
kerangka acuan atau ukuran untuk menentukan ketepatan penggunaan bahasa.
Pengembangan kosakata dapat berupa hilangnya kata dari penggunaan, munculnya
kata lama dalam penggunaan baru, munculnya kata dengan makna yang baru,
munculnya kata baru, dan munculnya kata dengan bentukan baru. Terdapat empat
stategi dalam pemekaran sumber bahasa sendiri yakni pemerian makna baru, terhadap
kata yang sudah ada, pengaktifan kembali unsur lama yang sudah mati, penciptaan
bentukan baru, dan penciptaan akronim. Pemekaran bahasa yang serumpun memiliki
kemudahan karena kesamaan atau kemiripan sistem fonologis, morfologis dan
sintaksis. Sedangakan untuk bahasa asing syarat-syarat yang perlu diperhatikan
sebagai dasar pemekaran adalah istilah asing lebih cocok karena konotasinya, karena
cocok konotasinya, istilah asing memudahkan pengalihan antarbahasa mengingat
keperluan masa depan serta memudahkan tercapainya kesepakatan jika istilah
Indonesia terlalu banyak sinonimnya. Dari cara membentuk istilah dari bahasa asing,
langkah-langkah berikut merupakan urutan, penerjemahan, adaptasi lalu adopsi.
15

BAB III
PENUTUP

1.1 Simpulan

1) Penjenisan bahasa secara sosiolinguistik berkenaan dengan faktor-faktor eksternal


bahasa atau bahasa-bahasa itu yakni:

1. Jenis Bahasa Berdasarkan Sosiologis

Penjenisan bahasa berdasarkan faktor sosiologis, artinya penjenisan itu tidak


terbatas pada struktur internal bahasa, tetapi juga berdasarkan faktor sejarahnya.
Empat dasar jenis bahasa secara sosiologis menurut Stewart (dalam
fishman(ed.)1968), yakni:

a. Standardisasi atau pembakuan

b. Otonomi

c. Faktor historisitas atau kesejarahan

d. Faktor vitalitas atau keterpakaian.

2. Jenis Bahasa Berdasarkan Sikap Politik

Dibedakan menjadi beberapa macam bahasa yakni:

a. Bahasa Nasional atau bahasa kebangsaan

b. Bahasa Negara

c. Bahasa resmi

d. Pengangkatan satu sistem linguistik sebagai bahasa persatuan

3. Jenis Bahasa Berdasarkan Tahap Pemerolehan

Dibedakan menjadi beberapa macam yaitu:

a. Bahasa Ibu

b. Bahasa Asing
16

4. Lingua Franca

Yaitu sebuah sistem linguistik yang digunakan sebagai alat komunikasi sementara
oleh para partisipan yang mempunyai bahasa ibu yang berbeda.

5. Variasi Bahasa

Variasi bahasa disebabkan oleh adanya kegiatan interaksi sosial yang dilakukan
oleh masyarakat atau kelompok yang sangat beragam dan dikarenakan oleh para
penuturnya yang tidak homogen. Varisia bahasa timbul dari tindak tutur masyarkat.
Oleh karenanya variasi bahasa berbagi menjadi 5 jenis yaitu (1) idiolek, (2) dialek, (3)
tingkat tutur, (4) ragam bahasa, dan (5) register.

1.2 Saran

Setelah melakukan penelitian dengan metode studi kepustakaan, penulis menyarankan


beberapa hal seperti :

1. Sebaiknya para pendidik terutama pengajar yang berkaitan dengan bahasa


seharusnya dapat memahami dasar-dasar dalam bab sosiolinguistik, sehingga saat
menyampaikan pembelajaran mengenai bahasa dapat terkait dengan sejarah bahasa
tersebut terbentuk.
2. Sebaiknya para peserta didik lebih mencari tahu dari berbagai sumber mengenai
sosiolinguistik dalam masyarakat agar dapat membedakan kaidah kebahasaannya
dengan Bahasa Indonesia.
3. Para praktisi pendidikan sebaiknya melakukan penelitian maupun kajian ulang
mengenai sosiolinguistik yang terbaru sehingga masyarakat dapat memilah
kosakata yang sesuai dengan adatnya.
17

DAFTAR PUSTAKA

Azhr. 2008. https://azhararief.wordpress.com/2008/08/27/variasi-bahasa-dalam-


sosiolinguistik/. diakses pada 15 November 2019 pukul 12.29.
Prasetyo, Agung. 2018. https://www.linguistikid.com/2018/04/5-variasi-bahasa-
dalam-sosiolinguistik.html.diakses pada 15 November 2019 pukul 12.41.
Arimi, Sailal. 2006. Ihwal Metode Penelitian Sosiolinguistik. Yogyakarta: Fakultas
Ilmu Budaya UGM.
Khusnia , A. F. (2016, Juni). Alih Kode dan Campur Kode dalam Percakapan Sehari-
hari Masyarakat Kampung Arab Kota Malang. Kajian Sosiolinguistik, 46-87.