Anda di halaman 1dari 3

Suatu studi besar oleh Bond & Smith (1996) meneliti hipotesis ini dengan

membandingkan konformitas pada tujuh belas negara yang berbeda. Mereka meneliti hasil
dari 133 studi terdahulu yang menggunakan tugas penilaian garis Asch untuk mengukur
konformitas.

Secara keseluruhan, terdapat 2 motif-yaitu, keinginan untuk mempertahankan


individualitas diri dan keinginan untuk memiliki kontrol atas kehidupan kita-yang berfungsi
untuk melawan keinginan kita untuk disukai dan merasa tepat, dan dengan semikian
mengurangi konformitas. Sehingga keputusan untuk melakukan konformitas atau tidak pada
suatu situasi tergantung pada kekuatan relatif dari beragam motif tersebut dan aktivitas saling
mempengaruhi yang kompleks di antara motif-motif tersebut.

 ORANG-ORANG YANG TIDAK DAPAT MELAKUKAN KONFORMITAS. Sejauh


ini dalam pembahasan, kita berfokus pada orang-orang yang dapat melakukan
konformitas namun memilih untuk tidak melakukannya. Ada pula banyak orang yang
tidak dapat melakukan konformitas karena alasan fisik, hukum, atau psikologis.
Contohnya: beberapa orang tidak berdiri saat lagu kebangasaan dimainkan, dan beberapa
orang yang lain tidak dapat mengikuti gaya berpakaian yang diterima karena alasan yang
serupa.
Homoseksual homoseksual juga menghadapi kesulitan dalam mentaati norma sosial.
Banyak orang dalam kelompok ini berpartisipasi dalam hubungan yang stabil dan
berjangka panjang dengan satu pasangan dan hendak melakukan konformitas terhadap
norma sosial yang menyatakan bahwa orang-orang yang mencintai satu sama lain
diperbolehkan untuk menikah. Meskipun ini isu rumit yang melibatkan pertimbangan
moral, agama dan etika, dan hal ini berada di luar bidang ilmu pengetahuan, penting
untuk dicatat bahwa banyak orang yang merasa sulit atau tidak mungkin untuk mentaati
norma sosial yang ada, meskipun mereka berharap untuk itu, dan sebagai akibatnya
mereka mengahdapi kesulitan & konflik yang tidak umum dijumpai oleh orang lain.

Pengaruh Minoritas: Apakah Mayoritas Selalu Menentukan?

Namun kapankah tepatnya, minoritas berhasil mempengaruhi minoritas? Hasil penelitian


menunjukan bahwa mereka paling mungkin melakukan hal itu pada kondisi tertentu
(Moscovici, 1985). Pertama, anggota kelompok tersebut harus konsisten dalam menentang
opini mayoritas. Kedua, kelompok minoritas harus menghindari tampilan yang kaku dan
dogmatis (Mugny, 1975). Ketiga, keseluruhan konteks sosial di mana kaum minoritas
beroperasi adalah penting.

Ketika kondisi tersebut terpenuhi, kaum minoritas akan menghadapi pertarungan yang
keras dan sulit. Karena kekuatan mayoritas sangatlah besar, terutama pada kekuatan sosial
yang kompleks dan ambigu, di mana kelompok mayoritas dipandang sebagai sumber
informasi tepercaya mengenai apa yang benar dibandingkan dengan minoritas. Akan tetapi,
dengan demikian ancaman yang diberikan oleh mayoritas terhadap minoritas sebenarnya
dapat menjadi bantuan bagi minoritas. Penemuan terkini mengindikasikan bahwa karena
mereka merasakan kepedulian yang lebih besar mengenai menjadi benar (misalnya, memiliki
pandangan yang benar), minoritas cenderung memiliki perkiraan yang terlalu besar atas
jumlah orang yang memiliki pandangan yang sama. Hasil ini dapat menjadi pendorong dan
berfungsi untuk menguatkan keyakinan minoritas agar bertahan pada kemungkinan yang
meragukan.

Jika minoritas bertahan , pada akhirnya mereka bisa saja menang dan menemukan bahwa
pandangan mereka kini menjadi mayoritas; apakah yang akan terjadi terhadap minoritas
ketika mereka menjadi mayoritas? Dan apa yang terjadi kepada mayoritas ketika mereka
jatuh dari posisi tersebut? Prisilin, Limbert, & Bauer(2000) telah meneliti pertanyaan tersebut
dan memperoleh beberapa hasil. Berdasarkan penelitian yang lebih awal, mereka
memprediksi bahwa kehilangan yang dialami oleh kelompok mayoritas yang menjadi
minoritas akan lebih besar dari pada yang dialami oleh minoritas menjadi mayoritas (model
asimetris). Lalu setelah melalui pengujian dari hipotesis tersebut dapat dikatakan secara
singkat bahwa kehilangan posisi yang dialami oleh kelompok mayoritas memiliki efek yang
lebih besar terhadap patisipan kepada kelompok (membuatnya kecewa terhadap kelompok)
dibandingkan dengan memperoleh posisi mayoritas setelah sebelumnya menjadi minoritas (di
mana, pandangannya terhadap kelompok menjadi lebih menyenangkan, namun pada derajat
yang lebih rendah) (model asimetris). Temuan-temuan ini memiliki implikasi penting, yang
menyatakan bahwa minoritas yang pandangannya memperoleh peningkatan bisa jadi agak
goyah, paling tidak sementara. Mayoritas yang dikalahkan mengalami reaksi negatif yang
kuat, sementara minoritas yang baru saja menjadi kuat (kini menjadi mayoritas) menunjukkan
reaksi positif yang lebih lemah. Sebagai akibatnya, minoritas yang baru saja menang bisa jadi
berada pada posisi yang rentan, paling tidak pada walnya. Jika mereka tidak mengambil
tindakan utnuk menguatkan kemenangan mereka, mungkin saja pada kenyataannya
kemenangan itu akan erumur pendek.

Bahwa salah satu efek positif yang dihasilkan oleh kelompok minoritas adalah bahwa
mereka membuat mayoritas berpikir secara lebih sistematis mengenai isu-isu yang diangkat
oleh kelompok minoritas. Hal ini dapat memfasilitasi perubahan sosial berskala besar.