Anda di halaman 1dari 2

Kekerasan Seksual pada Anak Bukan Kasus Sepele

Kekerasan seksual pada anak masih menjadi kasus yang masif terjadi di tengah-tengah
masyarakat baik pelakunya orang dewasa maupun remaja. Di Tasikmalaya (6/12) seorang remaja 16
tahun berinisial R melakukan tindakan kekerasan seksual kepada 8 korban di kecamatan Singaparna
Kabupaten Tasikmalaya dan korbannya merupakan anak-anak yang masih di bawah umur. Berdasarkan
penuturan korban, diketahui bahwa pelaku juga pernah menjadi korban kekerasan seksual enam tahun
yang lalu (www.pikiran-rakyat). Kasus semacam ini bukanlah kasus yang baru memang, bahkan setiap
tahunnya mengalami peningkatan. Menurut Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) jumlah
kasus kekerasan seksual yang dilaporkan di tingkat nasional mencapai 15 persen dari 2.636 kasus pada
2012 meningkat menjadi 3.039 kasus pada 2014. Pemerintah sendiri telah mengambil langkah untuk
mengatasi kasus kekerasan seksual dengan menerbitkan peraturan presiden pengganti undang-undang
(Perppu) yang berisi ancaman hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual pada tahun 2016. Namun
faktanya sudah ada hukuman kebiri, kenapa kasus kekerasan seksual masih saja terjadi.

Sebenarnya kasus kekerasan seksual pada anak bukanlah kasus yang sepele, sehingga
penyelesaiannya pun juga tidak bisa sepele. Tidak cukup jika hanya memberikan hukuman yang berat
kepada pelaku tanpa menyelesaikan akar permasalahannya, karena kenyataanya sudah ada hukuman
kebiri namun kasusnya masih saja terjadi bahkan meningkat tiap tahunnya. Untuk itu, penyelesaian kasus
kekerasan seksual pada anak harus diketahui dulu penyebabnya. Menurut ketua Komnas PA Arist
Merdeka Sirait, faktor meningkatnya kasus pelanggaran hak anak adalah lemahnya pemahaman
keluarga, orang tua, masyarakat dan pemerintah terhadap hak-hak anak. Memang lemahnya
peran dari keluarga, masyarakat dan pemerintah inilah yang menjadi faktor penyebab terjadinya
kasus kekerasan seksual pada anak.

Keluarga memiliki peran yang penting di dalam pembentukan kepribadian seseorang.


Idealnya keluarga memberikan pengajaran yang baik kepada anak. Ketika keluarga tidak mampu
memberikan peran tersebut pastinya akan sulit menghasilkan anak yang baik pula. Sehingga
wajar jika banyak pelaku kekerasan seksual anak memiliki latar belakang keluarga yang kurang
baik (broken home). Keluarga juga memiliki peran sebagai teladan utama bagi anak. Namun
faktanya banyak kasus kekerasan seksual pada anak justru muncul dari orang-orang terdekatnya
seperti sanak saudara, kakak bahkan ayah sendiri. Anak yang seharusnya mencontoh keluarga
justru mendapat ancaman dari keluarganya.

Masyarakat memiliki peran membangun kesadaran publik akan kepeduliaan terhadap


masalah yang terjadi di sekitarnya dan sebagai pengontrol sosial. Fakta saat ini masyarakat
bersikap acuh terhadap masalah yang terjadi disekitarnya sehingga kesadaran untuk peduli
terhadap masalah disekitarnya tidak terbangun. Ketika masyarakat tidak menjalankan perannya
dengan baik, akan semakin meningkatkan kasus kejahatan sosial di tengah masyarakat.
Lingkungan masyarakat saat ini juga tidak menjamin keamanan akan tindak kejahatan termasuk
tindak kekerasan seksual sehingga banyak kasus kekerasan seksual pada anak terjadi di ruang
publik.
Pemerintah merupakan pihak yang memilki peran terbesar di dalam memberikan
pengaturan dan pengurusan masalah yang terjadi di tengah masyarakat. Untuk itu sudah
sepantasnya pemerintah memberikan kebijakan hukum dan pengaturan yang terbaik untuk
permasalahan yang ada di tengah masyarakat. Sehingga hokum yang dihasilkan bukan hanya
hukuman yang memberatkan namun juga merupakan solusi yang terbaik. Aparatur penegak
hukum juga seharusnya memiliki keseriusan di dalam menjalankan tugas. Hukum yang
seharusnya memberikan efek jera terhadap pelaku tindak kejahatan belum terlihat sampai saat
ini. Penegakan hukum yang ada selalu menjatuhkan sanksi hukum pidana dibawah tuntutan,
karena memang mekanisme hukum yang ada selalu “bisa ditawar”. Oleh karena itu adanya
Undang-undang yang berisi hukuman kebiri bagi pelaku kekerasan seksual, tidak menjadi
momok yang menakutkan bagi para pelaku.

Dengan terwujudnya peran sempurna dari tiga pihak yaitu keluarga, masyarakat dan
pemerintah inilah yang bisa menjadi solusi terhadap kasus kekerasan seksual pada anak. lalu
bagaimanakah cara untuk mewujudkannya? Memang akan sangat sulit terwujud ketika berada di
sistem saat ini, karena setiap aturan yang diterapkan belum menjadi solusi yang hakiki. Namun
akan sangat berbeda ketika aturan islam yang diterapkan. Islam memiliki mekanisme yang
sangat sempurna di dalam pengaturan setiap masalah manusia, termasuk kasus kekerasan seksual
pada anak. Pemerintah di dalam sistem islam akan memberikan pengurusan terbaik kapada
rakyatnya. Pemerintah akan menamkan pendidikan aqidah sejak dini kepada semua rakyatnya,
sehingga lahirlah individu-individu yang memiliki aqidah yang kuat. Aqidah yang kuat inilah
yang menjadi benteng bagi setiap individu untuk tidak melakukan tindakan kejahatan, sehingga
keluarga yang terbentuk juga merupakan keluarga yang memiliki aqidah yang kuat. Suasana
yang terbentuk ditengah masyarakat adalah suasana islami yaitu adanya kegiatan amar ma’ruf
nahi munkar sehingga terwujud kesadaran akan kewajiaban untuk peduli terhadap masalah
disekitarnya. Di dalam islam hukum yang diterapkan bersifat memberikan efek jera dan
menghapus dosa. Tidak ada tawar-menawar di dalam penerapannya.

Devi Yunita Sari_UNAIR_SBY