Anda di halaman 1dari 76

ASKEP THYPOID

A. KONSEP DASAR

1. Pengertian

Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella Thypi.
Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh faeses
dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella. ( Bruner and Sudart, 1994 ).

Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella
Thypi ( Arief Maeyer, 1999 ).

Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman salmonella
thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid dan
paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1996 ).

Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga paratyphoid fever,
enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis (.Seoparman, 1996).

Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang
disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara pecal,
oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi (Mansoer Orief.M. 1999).

Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah suatu
penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang dapat
menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.
2. Etiologi

Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. ada dua sumber
penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier.
Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi
salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.

3. Patofisiologi

Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal dengan 5F
yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan melalui
Feses.

Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada
orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan
hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut
kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang
tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian
kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung
dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam
jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-
sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam
sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan
kandung empedu.

Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh endotoksemia.
Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan
merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada patogenesis
typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam disebabkan karena
salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh
leukosit pada jaringan yang meradang.

4. Manifestasi Klinik

Masa tunas typhoid 10 – 14 hari

a. Minggu I

pada umumnya demam berangsur naik, terutama sore hari dan malam hari. Dengan keluhan
dan gejala demam, nyeri otot, nyeri kepala, anorexia dan mual, batuk, epitaksis, obstipasi /
diare, perasaan tidak enak di perut.

b. Minggu II

pada minggu II gejala sudah jelas dapat berupa demam, bradikardi, lidah yang khas (putih,
kotor, pinggirnya hiperemi), hepatomegali, meteorismus, penurunan kesadaran.

5. Komplikasi

a. Komplikasi intestinal

1) Perdarahan usus

2) Perporasi usus

3) Ilius paralitik

b. Komplikasi extra intestinal

1) Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis,


tromboplebitis.

2) Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik.

3) Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.

4) Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.

5) Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.

6) Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.

7) Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer,


sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.
6. Penatalaksanaan
a. Perawatan.

1) Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi
perdarahan usus.

2) Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada
komplikasi perdarahan.
b. Diet.

1) Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.

2) Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.

3) Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.

4. Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.
c. Obat-obatan.

1) Klorampenikol

2) Tiampenikol

3) Kotrimoxazol

4) Amoxilin dan ampicillin


7. Pencegahan

Cara pencegahan yang dilakukan pada demam typhoid adalah cuci tangan setelah dari toilet
dan khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan, hindari minum susu mentah
(yang belum dipsteurisasi), hindari minum air mentah, rebus air sampai mendidih dan hindari
makanan pedas

8. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium, yang
terdiri dari :

a. Pemeriksaan leukosit

Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan
limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada
kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada
batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi
atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk
diagnosa demam typhoid.

b. Pemeriksaan SGOT DAN SGPT


SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal
setelah sembuhnya typhoid.

c. Biakan darah

Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan darah negatif
tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan
darah tergantung dari beberapa faktor :

1) Teknik pemeriksaan Laboratorium

Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal ini
disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan
darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.

2) Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit.

Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan berkurang
pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.

3) Vaksinasi di masa lampau

Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam darah
klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.

4) Pengobatan dengan obat anti mikroba.

Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan
kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.

d. Uji Widal

Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin
yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga
terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal
adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji
widal ini adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka
menderita typhoid. Akibat infeksi oleh salmonella thypi, klien membuat antibodi atau
aglutinin yaitu :

1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).

2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman).

3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman)

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk
diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.

Faktor – faktor yang mempengaruhi uji widal :


a. Faktor yang berhubungan dengan klien :

1. Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi.

2. Saat pemeriksaan selama perjalanan penyakit: aglutinin baru dijumpai dalam darah setelah
klien sakit 1 minggu dan mencapai puncaknya pada minggu ke-5 atau ke-6.

3. Penyakit – penyakit tertentu : ada beberapa penyakit yang dapat menyertai demam typhoid
yang tidak dapat menimbulkan antibodi seperti agamaglobulinemia, leukemia dan karsinoma
lanjut.

4. Pengobatan dini dengan antibiotika : pengobatan dini dengan obat anti mikroba dapat
menghambat pembentukan antibodi.

5. Obat-obatan imunosupresif atau kortikosteroid : obat-obat tersebut dapat menghambat


terjadinya pembentukan antibodi karena supresi sistem retikuloendotelial.

6. Vaksinasi dengan kotipa atau tipa : seseorang yang divaksinasi dengan kotipa atau tipa,
titer aglutinin O dan H dapat meningkat. Aglutinin O biasanya menghilang setelah 6 bulan
sampai 1 tahun, sedangkan titer aglutinin H menurun perlahan-lahan selama 1 atau 2 tahun.
Oleh sebab itu titer aglutinin H pada orang yang pernah divaksinasi kurang mempunyai nilai
diagnostik.

7. Infeksi klien dengan klinis/subklinis oleh salmonella sebelumnya : keadaan ini dapat
mendukung hasil uji widal yang positif, walaupun dengan hasil titer yang rendah.

8. Reaksi anamnesa : keadaan dimana terjadi peningkatan titer aglutinin terhadap salmonella
thypi karena penyakit infeksi dengan demam yang bukan typhoid pada seseorang yang
pernah tertular salmonella di masa lalu.

b. Faktor-faktor Teknis

1. Aglutinasi silang : beberapa spesies salmonella dapat mengandung antigen O dan H yang
sama, sehingga reaksi aglutinasi pada satu spesies dapat menimbulkan reaksi aglutinasi pada
spesies yang lain.

2. Konsentrasi suspensi antigen : konsentrasi ini akan mempengaruhi hasil uji widal.

3. Strain salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen : ada penelitian yang
berpendapat bahwa daya aglutinasi suspensi antigen dari strain salmonella setempat lebih
baik dari suspensi dari strain lain.

9. Tumbuh kembang pada anak usia 6 – 12 tahun

Pertumbuhan merupakan proses bertambahnya ukuran berbagai organ fisik berkaitan dengan
masalah perubahan dalam jumlah, besar, ukuran atau dimensi tingkat sel. Pertambahan berat
badan 2 – 4 Kg / tahun dan pada anak wanita sudah mulai mengembangkan cirri sex
sekundernya.
Perkembangan menitik beratkan pada aspek diferensiasi bentuk dan fungsi termasuk
perubahan sosial dan emosi.
a. Motorik kasar

1) Loncat tali

2) Badminton

3) Memukul

4) motorik kasar di bawah kendali kognitif dan berdasarkan secara bertahap meningkatkan
irama dan keleluasaan.
b. Motorik halus

1) Menunjukan keseimbangan dan koordinasi mata dan tangan

2) Dapat meningkatkan kemampuan menjahit, membuat model dan bermain alat musik.
c. Kognitif

1) Dapat berfokus pada lebih dan satu aspek dan situasi

2) Dapat mempertimbangkan sejumlah alternatif dalam pemecahan masalah

3) Dapat membelikan cara kerja dan melacak urutan kejadian kembali sejak awal

4) Dapat memahami konsep dahulu, sekarang dan yang akan datang


d. Bahasa

1) Mengerti kebanyakan kata-kata abstrak

2) Memakai semua bagian pembicaraan termasuk kata sifat, kata keterangan, kata
penghubung dan kata depan

3) Menggunakan bahasa sebagai alat pertukaran verbal

4) Dapat memakai kalimat majemuk dan gabungan


10. Dampak hospitalisasi

Hospitalisasi atau sakit dan dirawat di RS bagi anak dan keluarga akan menimbulkan stress
dan tidak merasa aman. Jumlah dan efek stress tergantung pada persepsi anak dan keluarga
terhadap kerusakan penyakit dan pengobatan.

Penyebab anak stress meliputi ;

a. Psikososial

Berpisah dengan orang tua, anggota keluarga lain, teman dan perubahan peran

b. Fisiologis
Kurang tidur, perasaan nyeri, imobilisasi dan tidak mengontrol diri

c. Lingkungan asing

Kebiasaan sehari-hari berubah

d. Pemberian obat kimia

Reaksi anak saat dirawat di Rumah sakit usia sekolah (6-12 tahun)

a. Merasa khawatir akan perpisahan dengan sekolah dan teman sebayanya

b. Dapat mengekspresikan perasaan dan mampu bertoleransi terhadap rasa nyeri

c. Selalu ingin tahu alasan tindakan

d. Berusaha independen dan produktif

Reaksi orang tua

a. Kecemasan dan ketakutan akibat dari seriusnya penyakit, prosedur, pengobatan dan
dampaknya terhadap masa depan anak

b. Frustasi karena kurang informasi terhadap prosedur dan pengobatan serta tidak familiernya
peraturan Rumah sakit
B. ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

Faktor Presipitasi dan Predisposisi

Faktor presipitasi dari demam typhoid adalah disebabkan oleh makanan yang tercemar oleh
salmonella typhoid dan salmonella paratyphoid A, B dan C yang ditularkan melalui makanan,
jari tangan, lalat dan feses, serta muntah diperberat bila klien makan tidak teratur. Faktor
predisposisinya adalah minum air mentah, makan makanan yang tidak bersih dan pedas, tidak
mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, dari wc dan menyiapkan makanan.
2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa yang mungkin muncul pada klien typhoid adalah :

a. Resti ketidakseimbangan volume cairan dan elektrolit b.d hipertermi dan muntah.

b. Resti gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake yang tidak
adekuat.

c. Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypi.

d. Ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik.

e. Kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dengan kurang informasi atau


informasi yang tidak adekuat.

3. Perencanaan

Berdasarkan diagnosa keperawatan secara teoritis, maka rumusan perencanaan keperawatan


pada klien dengan typhoid, adalah sebagai berikut :
Diagnosa. 1

Resti gangguan ketidak seimbangan volume cairan dan elektrolit, kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan hipertermia dan muntah.

Tujuan

Ketidak seimbangan volume cairan tidak terjadi

Kriteria hasil

Membran mukosa bibir lembab, tanda-tanda vital (TD, S, N dan RR) dalam batas normal,
tanda-tanda dehidrasi tidak ada

Intervensi

Kaji tanda-tanda dehidrasi seperti mukosa bibir kering, turgor kulit tidak elastis dan
peningkatan suhu tubuh, pantau intake dan output cairan dalam 24 jam, ukur BB tiap hari
pada waktu dan jam yang sama, catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah nyeri dan
distorsi lambung. Anjurkan klien minum banyak kira-kira 2000-2500 cc per hari, kolaborasi
dalam pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, K, Na, Cl) dan kolaborasi dengan dokter dalam
pemberian cairan tambahan melalui parenteral sesuai indikasi.
Diagnosa. 2

Resiko tinggi pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
yang tidak adekuat

Tujuan

Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi

Kriteria hasil

Nafsu makan bertambah, menunjukkan berat badan stabil/ideal, nilai bising usus/peristaltik
usus normal (6-12 kali per menit) nilai laboratorium normal, konjungtiva dan membran
mukosa bibir tidak pucat.

Intervensi

Kaji pola nutrisi klien, kaji makan yang di sukai dan tidak disukai klien, anjurkan tirah
baring/pembatasan aktivitas selama fase akut, timbang berat badan tiap hari. Anjurkan klien
makan sedikit tapi sering, catat laporan atau hal-hal seperti mual, muntah, nyeri dan distensi
lambung, kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet, kolaborasi dalam pemeriksaan
laboratorium seperti Hb, Ht dan Albumin dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian
obat antiemetik seperti (ranitidine).
Diagnosa 3

Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi salmonella thypi

Tujuan

Hipertermi teratasi

Kriteria hasil

Suhu, nadi dan pernafasan dalam batas normal bebas dari kedinginan dan tidak terjadi
komplikasi yang berhubungan dengan masalah typhoid.

Intervensi

Observasi suhu tubuh klien, anjurkan keluarga untuk membatasi aktivitas klien, beri kompres
dengan air dingin (air biasa) pada daerah axila, lipat paha, temporal bila terjadi panas,
anjurkan keluarga untuk memakaikan pakaian yang dapat menyerap keringat seperti katun,
kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat anti piretik.
Diagnosa 4

Ketidak mampuan memenuhi kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan kelemahan fisik

Tujuan

Kebutuhan sehari-hari terpenuhi

Kriteria hasil

Mampu melakukan aktivitas, bergerak dan menunjukkan peningkatan kekuatan otot.

Intervensi

Berikan lingkungan tenang dengan membatasi pengunjung, bantu kebutuhan sehari-hari klien
seperti mandi, BAB dan BAK, bantu klien mobilisasi secara bertahap, dekatkan barang-
barang yang selalu di butuhkan ke meja klien, dan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian
vitamin sesuai indikasi.
Diagnosa 5

Resti infeksi sekunder berhubungan dengan tindakan invasive

Tujuan

Infeksi tidak terjadi

Kriteria hasil

Bebas dari eritema, bengkak, tanda-tanda infeksi dan bebas dari sekresi purulen/drainase
serta febris.
Intervensi

Observasi tanda-tanda vital (S, N, RR dan RR). Observasi kelancaran tetesan infus, monitor
tanda-tanda infeksi dan antiseptik sesuai dengan kondisi balutan infus, dan kolaborasi dengan
dokter dalam pemberian obat anti biotik sesuai indikasi.
Diagnosa 6

Kurang pengetahuan tentang penyakit berhubungan dengan kurang informasi atau informasi
yang tidak adekuat

Tujuan

Pengetahuan keluarga meningkat

Kriteria hasil

Menunjukkan pemahaman tentang penyakitnya, melalui perubahan gaya hidup dan ikut serta
dalam pengobatan.

Intervensinya

Kaji sejauh mana tingkat pengetahuan keluarga klien tentang penyakit anaknya, Beri
pendidikan kesehatan tentang penyakit dan perawatan klien, beri kesempatan keluaga untuk
bertanya bila ada yang belum dimengerti, beri reinforcement positif jika klien menjawab
dengan tepat, pilih berbagai strategi belajar seperti teknik ceramah, tanya jawab dan
demonstrasi dan tanyakan apa yang tidak di ketahui klien, libatkan keluarga dalam setiap
tindakan yang dilakukan pada klien

4. Evaluasi

Berdasarkan implementasi yang di lakukan, maka evaluasi yang di harapkan untuk klien
dengan gangguan sistem pencernaan typhoid adalah : tanda-tanda vital stabil, kebutuhan
cairan terpenuhi, kebutuhan nutrisi terpenuhi, tidak terjadi hipertermia, klien dapat memenuhi
kebutuhan sehari-hari secara mandiri, infeksi tidak terjadi dan keluaga klien mengerti tentang
penyakitnya.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA An.T DENGAN THYPOID


DI RUANG INAYAH KAMAR 11
PKU MUHAMMADIYAH GAMBONG

PENGKAJIAN
Tanggal masuk RS : 10-05-2011
Jam masuk RS : 19.45 WIB
Tanggal pengkajian : 15-05-2011
Jam pengkajian : 20.30 WIB
Pengkaji : Ira Indra Imawati
1. IDENTITAS KLIEN
Nama Klien : An.T
Tempat/tgl lahir : Kebumen,06-11-2006
Umur : 4,6 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Suku : Jawa
Bahasa yang dimengerti : Jawa/Indonesia
Dx Medis : Thypoid
No Rekam Medis : 0198092

Orang tua/wali :
Nama ayah/ibu/wali : Tn.K
Pekerjaan ayah/ibu/wali : Buruh
Alamat ayah/ibu/wali : Wonorejo,1/2 karanganyar

2. KELUHAN UTAMA
Pasien panas .

3. RIWAYAT KELUHAN SAAT INI


Pada tanggal 10 mei 20011 pukul 19.45 WIB klien di bawa ke IGD PKU Muhammadiyah
Gombong dengan keluhan panas sejak 5 hari yang lalu,pusing,mual,lemes,.Pada saat di IGD
pasien mendapatkan terapy Aminopilin 2x300 g/l, amoxilin g/l, Infus RL 12tpm, puyer
(Paracetamol 250mg 3x1).Tanda tanda vital Nadi di IGD; 110 x/mnt, suhu; 40º C, RR ;
16x/mnt. BB: 12Kg
Pasien dibawa ke bangsal inayah sekitar jam 20.00 WIB. Pada saat di ruangan Kondisi
klien tampak lemas,akral hangat,pusing,pasien mual,tidak mau makan, tanda tanda vital; S:
3880C, N: 100x/m, R:20x/m.

4. RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU


1. Prenatal :
Selama kehamilan ibu klien melakukan ANC ke bidan secara teratur sesuai dengan anjuran
dari bidan, selama hamil tidak ada keluhan dan penyakit yang diderita ibu klien
2. Perinatal dan post natal :
An. N lahir spontan ditolong bidan, BBL 3,2kg, langsung menangis.
3. Penyakit yang pernah diderita :
Ibu klien mengatakan anaknya tidak pernah sakit yang mengharuskan dirawat di RS, baru
kali ini.
4. Hospitalisasi/tindakan operasi :
Klien belum pernah mengalami hospitalisasi sebelum sakit yang sekarang.
5. Injuri/kecelakaan :
Ibu klien mengatakan anaknya belum pernah mengalami kecelakaan.
6. Alergi :
Ibu klien mengatakan anaknya tidak mempunyai riwayat alergi demikian juga dengan
keluarga, tidak ada yang mempunyai riwayat alergi.
7. Imunisasi dan tes laboratorium :
Ibu klien mengatakan anaknya sudah mendapatkan imunisasi lengkap.
8. Pengobatan :
Apabila klien sakit ibu klien membawa ke bidan atau dokter.

5. RIWAYAT SOSIAL :
1. Yang mengasuh :
Yang mengasuh klien adalah ibunya sendiri
2. Hubungan dengan anggota keluarga :
Hubungan dengan keluarga dan orang lain baik, komunikasi masih belum lancar karena
masih dalam taraf perkembangan.
3. Hubungan dengan teman sebaya :
Hubungan dengan teman sebaya baik
4. Pembawaan secara umum :
Klien nampak pendiam, kooperatif, tidak takut dengan petugas

6. RIWAYAT KELUARGA
1. Sosial ekonomi :
Ibu klien sebagai seorang ibu rumah tangga dan bapak klien sebagai buruh.
2. Lingkungan rumah :
Ibu klien mengatakan lingkungan rumahnya cukup bersih dan ventilasi udara cukup, lantai
rumah dari semen, jumlah jendela 6 buah, tidak ada sumber polusi yang dekat dengan
rumahnya.
3. Penyakit keluarga :
Tidak ada anggota keluarga, saudara yang mempunyai penyakit menular ataupun menurun.

7. PENGKAJIAN TINGKAT PERKEMBANGAN SAAT INI


1. Personal sosial
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa memakai baju, gosok gigi dengan bantuan
ibunya, cuci dan mengeringkan tangan, menyebutkan nama temanya.
2. Motorik halus
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa membuat menara dari 6 kubus,meniru
garis vertikal.
3. Bahasa
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa bicara cukup mengerti, menyebut 4
gambar, mengatakan 2 nama kegiatan
4. Motorik kasar
Pada usia 4,6 tahun sesuai DDST klien sudah bisa melompat dan melempar bola lengan ke
atas
Interpretasi
Pertumbuhan dan perkembangan normal

8. PENGKAJIAN POLA KESEHATAN KLIEN


1. Pemeliharaan kesehatan :
Selama ini apabila anaknya sakit atau ada anggota keluarga yang sakit maka akan priksa ke
bidan kalau tidak sembuh dibawa ke dokter ataupun di bawa ke rumahsakit
2. Nutrisi :
Saat ini klien mendapatkan diet bubur kasar ,ibu klien mengatakan klien susah makan sejak
sebelum sakit biasanya hanya makan pagi dan sore saja dan paling hanya 8- 10 sendok
makan, pada saat dikaji ibu klien mengatakan klien makan hanya 1-3 sendok. Ibu klien
mengatakan anaknya muntah.
3. Cairan :
Sebelum sakit klien minum susu 1-3 gelas perhari, selama sakit klien minum susu 1 gelas
dan kadang minum air putih serta mendapatkan terapi cairan IV RL.
4. Aktivitas :
Sebelum sakit klien tidak ada keluhan dalam aktifitasnya, dapat bermain dengan teman-teman
sebayanya di rumah, sekarang klien hanya tiduran, tidak bisa beraktifitas seperti biasanya,
ADL dibantu oleh ibunya dan perawat.
5. Tidur dan istirahat :
Sebelum sakit klien tidur sekitar pukul 19.30 s.d 05.00, tidur siang 2x dengan konsistensi 1
jam , pada saat sakit klien tidur sekitar jam 20.00 sampai jam 05.00, tidur siang sekitar 3 jam
dengan konsistensi 1 jam.
6. Eliminasi :
Sebelum sakit klien biasanya BAB 1x /hari BAK: 4-6x/hari
Pada saat dikaji klien BAB 1x konsistensi padat dan BAK 3-4x/hari
7. Pola hubungan :
Hubungan dengan orang tua baik, dengan orang lain dan perawat baik.
8. Koping atau temperamen dan disiplin yang diterapkan :
Orang tua klien memberikan kebebasan kepada anaknya untuk bermain bersama teman-
temannya asalkan tidak melebihi waktunya beristirahat.
9. Kognitif dan persepsi :
Tidak ada keluhan tentang penglihatan, penciuman, pendengaran dan perabaan, klien
berumur 4,6 tahun kemampuan kognitifnya baik,
10. Konsep diri :
Ibu klien mengatakan pingin anaknya cepat sembuh karena tidak tega melihat anaknya sakit.
11. Seksual dan menstruasi :
Klien berjenis kelamin perempuan usia 4,6 tahun, belum mengalami menstruasi.
12. Nilai :
Tidak ada nilai-nilai keluarga yang bertentangan dengan kesehatan.

9. PEMERIKSAAN FISIK :
1. Keadaaan umum :
1. Tingkat kesadaran : composmentis.
2. S: 3880C, N: 100x/m, R:20x/m.
3. BB; 11 kg ,TB; 105 cm , LLA ; 18 cm , LK; 49 cm,LD; 60cm
2. Kulit :
Warna sawo matang, kulit teraba hangat, kuku pendek dan bersih, turgor kulit menurun,
3. Kepala :
Bentuk mesochepal, warna rambut hitam, lurus, tersisir rapi dan bersih.
4. Mata :
Simetris, sklera tidak ikterik, konjungtiva anemis.
5. Telinga :
Simetris, discharge (-) bersih, bentuk normal.
6. Hidung :
Simetris, discharge (-), bentuk normal,
7. Mulut :
Simetris, mukosa bibir kering, gigi normal, bersih, karies (-),
Lidah kotor/ putih
8. Leher :
JVP tidak meningkat, tidak ada pembesaran limponodi.
9. Dada :
Paru-paru
I : Simetris, tidak ada retraksi dinding dada
P : tidak ada nyeri tekan
P : sonor
A : vesikuler

Jantung
S1-S2 murni, tak ada murmur, bising (-).
10. Payudara :
Tak ada keluhan, simetris.
11. Abdomen :
I : terlihat membesar
A : bunyi bising usus 10x/m
P :perut kembung, agak keras
P :bunyi thimpany
12. Genetalia :
Tak ada keluhan.
13. Muskuleskeletal :
Tak ada keluhan, pergerakan sendi sesuai jenis, ROM baik.
14. Neurologi :
Normal, tak ada keluhan.

10. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK PENUNJANG


a.Lab darah
Tanggl :15-05-2011
Pukul :10.44 WIB
Pemeriksaan Hasil Nilai normal
Bilirubin total 0,90 mg/dl 0.00-1.00
Bilirubin direk 0.30 mg/dl < 0,20
SGOT 22.0 u/l 40.0 u/l
SGPT 23.0 u/l 41.0 u/l
Leokosit 12.61 4.80-10.80
Eritrosit 4.52 4.20- 5.40
Hemoglobin 11,9 g/dl 12-16 g/dl
Hematokrit 34.9 % 37-47 g/dl
MCV 77.2 79-99
MCH 34.1 g/dl 33.0-47.0
Trombosit 178x 10 /ul 82.0-95.0
HbSag Negative negatif
Gol. Darah O -
Widal (+)

C. Terapi
Tanggal Per-oral Per-interal
1. Ceftriaxon 2x 3 mg
Paracetamol 250 mg 2. Dexa 3 x2 mg
Ctm 3x1 3. Sotatic 2x 1 ½
4. N. 500 /drip
Curliv 2x1 5. Inffus RL 20 tpm
6. D5 15 tpm

1. ANALISA DATA

No Data Etiologi Problem


1 DS : ibu Klien mengatakan anaknya badan nya Proses infekksi Hipertermi
panas salmonella thypi
DO :
1. klien tampak lemas,
2. akral teraba hangat
3. Suhu: 3880C
4. Nadi: 100x/ menit
5. RR: 20x/ menit
2 DS: Proses inflamasi nyeri
P: ibu pasien mengatakan anak nya nyeri bila
untuk beraktifitas/bergerak hilang apabila saat
beristirahat.
Q : ibu pasien mengatakan nyeri anak nya
seperti ditusuk-tusuk
R: ibu Pasien mengatakan nyeri anak nya pada
perut bagian kanan atas.
S: Skala nyeri 4
T: nyeri timbul hingga 5 menit
DO:
Wajah pasien tampak menahan nyeri
N :100x/mnt
S : 38 C
RR: 20x/mnt
Ps lemah, ps tampak gelisah, ps merintih
kesakitan
Nafsu makan menurun, mual (+)
Konjungtiva anemis
Akral hangat
Pasien menangis
3 DS : - ibu klien mengatakan klien makan susah Anoreksia ( mual dan Resiko nutrisi
hanya 1-3 sendok.
muntah) kurang dari
6. Ibu klien mengatakan anaknya muntah ± 2-3x
kebutuhan
setiap makan
7. ibu Klien mengatakan anaknya badan nya
panas
DO :
8. klien muntah
9. BB : 11 kg
10. Porsi makan dari RS hanya dimakan 1-3
sendok
2. PRIORITAS MASALAH
1. Hipertermi berhubungan dengan proses
infeksi salmonella thypi
2. Nyeri b.d proses inflamasi
3. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d
anoreksia ( mual & muntah)

3. RENCANA KEPERAWATAN
No Diagnoses Tujuan intervensi
1 Hipertermi Setelah dilakukan tindakan
1. Mengobserfasi tanda – tanda vital
berhubungan keperawatan selama 2 x 24
2. Pantau aktifitas kejang
dengan proses jam diharapkan suhu tubuh
ifeksi salmonella normal engan 3. KH: Pantau hidrasi
thypi Mempertahaankan suhu
4. Berikan kompres air biasa
tubuh dalam batas normal
5. Pemberian terapi 0bat anti piretik sesuai
program
2 Nyeri b.d proses Setelah dilakukan tindakan a.monitor KU
inflamasi keperawatan selama 2x24 b.kaji tingkat nyeri intensitas dan skala
jam diharapkan nyeri nyeri
berkurang,dengan KH: c.jelaskan penyebab nyeri
Skala nyeri menjadi 3 d.ajarkan teknik distraksi relaksasi(nafas
Pasien nampak lebih rileks dalam)
1. Pasien mampu e.posisikan pasien senyaman mungkin
mengontrol nyeri
f.kolaborasi dengan tim medis pemberian
obat analgesik
3 Resiko nutrisi Setelah dilakukan tindakan
1. Kaji pola dan kebiasaan makan
kurang dari keperawatan selama 2 x 24
2. Observasi adanya muntah
kebutuhan b.d jam kebutuhan nutrisi
anoreksia ( mual, adekuat dengan 3. kriteria Menganjurkan keluarga untuk memberi
muntah) hasil :
makanan dalam porsi kecil tapi sering dan
2. Klien tidak muntah
3. Porsi makan yang tidak merangsang produksi asam (biskuit)
disediakan habis
4. Memberikan terapi pemberian cairan dan
nutrisi sesuai program
5. Memberikan terapi pemberian anti
emetik sesuai program

1. IMPLEMENTASI
1. Hipertermi b.d proses infeksi salmonella thypi
Tgl Implementasi Respon pasien Ttd
15-05-
1. Mengukur tanda – tanda
1. vital S: 37,80 C, N: 100x/m, R:20x/m.
2011
2. Memantau aktifitas kejang
3. Menganjurkan keluarga untuk
2. Pasien tidak mengalami kejang
memberikan sedikit minum tapi
sering
3. Klien sedikit-sedikit mau minum
4. memberikan kompres hangat
5. memberikan terapi sesuai
program
4. Pasien dikompres pake air hangat

5. Terapi diberikan
16-05-
1. 6. –
Mengukur kembali tanda S: 36,8C, N: 100x/m, R:20x/m.
2011
tanda vital
2. Memantau kembali aktifitas
7. Pasien tidak mengalami kejang
kejang
3. Menganjurkan kembali
keluarga untuk memberikan
8. Klien sedikit-sedikit mau minum
sedikit minum tapi sering
4. memberikan kompres hangat
5. memberikan kembali terapi
9. Pasien sudah tidak dikompres
sesuai program

10. Terapi diberikan

2. Nyeri b.d proses inflamasi

Tgl Implementasi Respon pasien Ttd


1. Monitor KU / TTV
15-05-2011 Keadaan pasien lemah
2. Mengkaji skala nyeri N : 100 x/mnt
3. Memberikan posisi yang nyaman. R : 20 x/mnt
4. Mengajarkan teknik relaksasi S : 37 C
5. Memberikan motivasi untuk
kompres air hangat pada bagian Skala nyeri 4
yang sakit
6. Memberikan terapi obat analgesik

-terapi masuk

1. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan b.d anoreksia ( mual, muntah)


Tgl Implementasi Respon pasien Ttd
15-05-
20111. Mengkaji pola dan kebiasaan Klien makan hanya 1-3sdm
makan
2. Mengobservasi adanya klien sudah muntah 1x
muntah
3. Menganjurkan keluarga Ibu klien mengatakan anaknya masih
susah makan
untuk memberi makanan
dalam porsi kecil tapi sering
dan tidak merangsang
produksi asam (biskuit)
4. Memberikan terapi
pemberian cairan dan nutrisi
sesuai program
Infus RL terpasang 20tpm
5. Memberikan terapi
pemberian anti emetik sesuai
program

Terapi diberikan
16-05-
6. Mengkaji kembali pola 1.
dan Klien menghabiskan ¼ porsi dari RS
2011
kebiasaan makan
7. Mengobservasi kembali
2. Klien sudah tidak muntah terus
adanya muntah
8. Menganjurkan kembali pada
3. Klien terlihat makan biskuit,pisang
keluarga untuk memberi
makanan dalam porsi kecil
tapi sering dan tidak
merangsang produksi asam
9. Memberikan kembali terapi
pemberian cairan dan nutrisi
sesuai program
10. Memberikan kembali terapi
4. Infus RL terpasang 20 tpm
pemberian obat anti emetik
sesuai program

5. Terapi diberikan

2. EVALUASI

Hari / tanggal SOAP Ttd


Rabu S: ibu klien mengatakan anaknya sudah tidak panas
18-05-2011 O: klien masih tampak lemas,
1. klien sudah tdak muntah
2. Suhu: 36 C
3. Nadi: 90x/ menit
4. RR: 20x/ menit
A: masalah teratasi sebagian
P: pertahankan intervensi
Rabu S: ibu Pasien mengatakan ,anak nya sudah tidak nyeri
18-05-2011
perut
O: pasien nampak rileks
A: Masalah teratasi
P: pertahankan intervensi
Motivasi pasien untuk tetap melakukan teknik
relaksasi distraksi (nafas dalam) bila nyeri timbul
Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik

Rabu S:
18-5-2011 - S: ibu klien mengatakan ,klien setiap habis makan
sudah berkurang muntah nya.
O: klien masih muntah 1x
5. BB : 11kg
6. Porsi makan dari RS hanya dimakan ¼ porsi
A: masalah teratasi
P: pertahankan intervensi

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Di Indonesia demam thypoid jarang dijumpai secara epidemic , tetapi lebih sering
bersifat seporadis, terpencar-pencar di suatu daerah, dan jarang menimbulkan lebih dari satu
kasus pada orang-orang serumah. Pasien anak yang ditemukan berumur diatas 1 tahun.
Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang ditandai dengan
bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus, pembentukan
mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng Soegijanto, 2002)
Masa inkubasi demam thypoid berlangsung selama 7-14 hari (bervariasi antara 3-60
hari) bergantung jumlah dan strain kuman yang tertelan. Selama masa inkubasi penderita
tetap dalam keadaan asimtomatis. (Soegeng soegijanto, 2002)
BP RSUD Kebumen adalah salah satu Rumah Sakit daerah yang mengelola berbagai
penyakit, termasuk penyakit thipoid. Bangsal Melati adalah salah satu bangsal di BP RSUD
Kebumen yang mengelola pasien anak. Di Bangsal Melati pada bulan april terdapat 10 pasien
anak yang menderita penyakit thypoid.
Dalam minggu pertama, keluhan dan gejala menyerupai penyakit infeksi akut pada
umumnya seperti demam, nyeri kepala, anoreksia, mual, muntah, diare, konstipasi, serta suhu
badan yang meningkat.
Pada minggu kedua maka gejala/tanda klinis menjadi makin jelas, berupa demam
remiten, lidah tifoid, pembesaran hati dan limpa, perut kembung, bisa disertai gangguan
kesadaran dari ringan sampai berat. Lidah tifoid dan tampak kering, dilapisi selaput
kecoklatan yang tebal, di bagian ujung tepi tampak lebih kemerahan. (Ranuh, Hariyono, dan
dkk. 2001)

2. Konsep Dasar
1. Definisi
Typhoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi salmonella
Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh
faeses dan urine dari orang yang terinfeksi kuman salmonella.
( Bruner and Sudart, 1994 ).

Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella Thypi
( Arief Maeyer, 1999 ).

Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh kuman
salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini adalah Typhoid
dan paratyphoid abdominalis
( Syaifullah Noer, 1996 ).

Typhoid adalah penyakit infeksi pada usus halus, typhoid disebut juga paratyphoid
fever, enteric fever, typhus dan para typhus abdominalis
(.Seoparman, 1996).
Typhoid adalah suatu penyakit pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik
yang disebabkan oleh salmonella typhosa, salmonella type A.B.C. penularan terjadi secara
pecal, oral melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi
(Mansoer Orief.M. 1999).
Dari beberapa pengertian diatasis dapat disimpulkan sebagai berikut, Typhoid adalah
suatu penyakit infeksi usus halus yang disebabkan oleh salmonella type A. B dan C yang
dapat menular melalui oral, fecal, makanan dan minuman yang terkontaminasi.

2. ETIOLOGI
Etiologi typhoid adalah salmonella typhi. Salmonella para typhi A. B dan C. Ada dua sumber
penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier.
Carier adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi
salmonella typhi dalam tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.

C.PATOLOGI ANATOMI
Susunan saluran pencernaan terdiri dari : Oris (mulut), faring (tekak), esofagus
(kerongkongan), ventrikulus (lambung), intestinum minor (usus halus), intestinum mayor
(usus besar ), rektum dan anus. Pada kasus demam tifoid, salmonella typi berkembang biak
di usus halus (intestinum minor). Intestinum minor adalah bagian dari sistem pencernaan
makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada seikum, panjangnya  6 cm,
merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan
yang terdiri dari : lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot
melingkar (M sirkuler), lapisan otot memanjang (muskulus longitudinal) dan lapisan serosa
(sebelah luar).
Usus halus terdiri dari duodenum (usus 12 jari), yeyenum dan ileum. Duodenum
disebut juga usus dua belas jari, panjangnya  25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke
kiri pada lengkungan ini terdapat pankreas. Dari bagian kanan duodenum ini terdapat selapu
t lendir yang membukit yang disebut papila vateri. Pada papila vateri ini bermuara saluran
empedu (duktus koledikus) dan saluran pankreas (duktus wirsung/duktus pankreatikus).
Dinding duodenum ini mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar,
kelenjar ini disebut kelenjar brunner yang berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.
Yeyenum dan ileum mempunyai panjang sekitar  6 meter. Dua perlima bagian atas
adalah yeyenum dengan panjang  23 meter dari ileum dengan panjang 4 – 5 m. Lekukan
yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan lipatan
peritonium yang berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium.
Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri dan vena
mesenterika superior, pembuluh limfe dan saraf ke ruang antara 2 lapisan peritonium yang
membentuk mesenterium. Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas
yang tegas.
Ujung dibawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang yang
bernama orifisium ileoseikalis. Orifisium ini diperlukan oleh spinter ileoseikalis dan pada
bagian ini terdapat katup valvula seikalis atau valvula baukhim yang berfungsi untuk
mencegah cairan dalam asendens tidak masuk kembali ke dalam ileum.
Mukosa usus halus. Permukaan epitel yang sangata luas melalui lipatan mukosa dan
mikrovili memudahkan pencernaan dan absorbsi. Lipatan ini dibentuk oleh mukosa dan sub
mukosa yang dapat memperbesar permukaan usus. Pada penampang melintang vili dilapisi
oleh epitel dan kripta yag menghasilkan bermacam-macam hormon jaringan dan enzim yang
memegang peranan aktif dalam pencernaan.
Didalam dinding mukosa terdapat berbagai ragam sel, termasuk banyak leukosit. Disana-
sini terdapat beberapa nodula jaringan limfe, yang disebut kelenjar soliter. Di dalam ilium
terdapat kelompok-kelompok nodula itu. Mereka membentuk tumpukan kelenjar peyer dan
dapat berisis 20 sampai 30 kelenjar soliter yang panjangnya satu sentimeter sampai beberapa
sentimeter. Kelenjar-kelenjar ini mempunyai fungsi melindungi dan merupakan tempat
peradangan pada demam usus (tifoid). Sel-sel Peyer’s adalah sel-sel dari jaringan limfe
dalam membran mukosa. Sel tersebut lebih umum terdapat pada ileum daripada yeyenum. (
Evelyn C. Pearce, 2000)
D.PATOFISIOLOGI
Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara, yang dikenal
dengan 5F yaitu Food(makanan), Fingers(jari tangan/kuku), Fomitus (muntah), Fly(lalat), dan
melalui Feses.

Feses dan muntah pada penderita typhoid dapat menularkan kuman salmonella thypi
kepada orang lain. Kuman tersebut dapat ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan
hinggap dimakanan yang akan dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut
kurang memperhatikan kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang
tercemar kuman salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut. Kemudian
kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh asam lambung
dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai jaringan limpoid. Di dalam
jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk ke aliran darah dan mencapai sel-
sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini kemudian melepaskan kuman ke dalam
sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia, kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan
kandung empedu.
Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh
endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa endotoksemia
bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia berperan pada
patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada usus halus. Demam
disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya merangsang sintetis dan pelepasan zat
pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.

E..KOMPLIKASI

a. Komplikasi intestinal

1) Perdarahan usus

2) Perporasi usus

3) Ilius paralitik

b. Komplikasi extra intestinal

1) Komplikasi kardiovaskuler : kegagalan sirkulasi (renjatan sepsis), miokarditis, trombosis,


tromboplebitis.
2) Komplikasi darah : anemia hemolitik, trobositopenia, dan syndroma uremia hemolitik.
3) Komplikasi paru : pneumonia, empiema, dan pleuritis.
4) Komplikasi pada hepar dan kandung empedu : hepatitis, kolesistitis.
5) Komplikasi ginjal : glomerulus nefritis, pyelonepritis dan perinepritis.
6) Komplikasi pada tulang : osteomyolitis, osteoporosis, spondilitis dan arthritis.
7) Komplikasi neuropsikiatrik : delirium, meningiusmus, meningitis, polineuritis perifer,
sindroma Guillain bare dan sidroma katatonia.
F.PENATALAKSANAAN
1. Perawatan
1. Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam tulang atau 14 hari untuk mencegah komplikasi
perdarahan usus.

2. Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada
komplikasi perdarahan.

2. Diet
Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.
2. Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.
3. Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.

Rabu, 28 November 2012


Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Demam Thypoid

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN TYPHOID

Definisi
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam
satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dan dengan atau tanpa
gangguan kesadaran. (Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak, 1993).

Etilogi
Salmonella typhii, basil Gram negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora,
mempunyai sekurang - kurangnya empat macam antigen yaitu : antigen 0 (somatik), H
(flagella), Vi dan protein membran hialin. (Mansjoer, 2000).

Pathofisiologi
Kuman salmonella masuk bersama makanan atau minuman, setelah berada dalam usus
halus akan mengadakan invasi ke jaringan limfoid pada usus halus (terutama plak peyer) dan
jaringan limfoid mesentrika. Setelah menyebabkan peradangan dan nekrosis, kuman lewat
pembuluh limfe masuk ke darah (bakteremia primer) menuju organ retikuloendotelial sistem
(RES) terutama hati dan limpa. Pada akhir masa inkubasi 5 - 9 hari kuman kembali masuk ke
organ tubuh terutama limpa, kandung empedu ke rongga usus halus dan menyebabkan
reinfeksi di usus.
Dalam masa bakteremia ini kuman yang mengeluarkan endotoksin yang susunan
kimianya sama dengan somatik antigen (lipopolisakarida), yang semula di duga bertanggung
jawab terhadap terjadinya gejala - gejala dari demam tifoid.
Demam tifoid disebabkan karena salmonella typhosa dan endotoksinnya yang
merangsang sintesa dan pelepasan zat pirogen oleb leukosit pada jaringan yang meradang.
Selanjutnya beredar mempengaruhi pusat termoregulator di hipotalamus yang akhirnya
menimbulkan gejala demam. (Penyakit infeksi Tropik Pada Anak, 1993).

Penatalaksanaan
1. Perawatan
Penderita demam tifoid perlu dirawat di rumah sakit untuk di isolasi, observasi serta
pengobatan. Penderita harus istirahat 5 - 7 hari bebas panas, tetapi tidak harus tirah baring
sempurna seperti pada perawatan demam tifoid dimasa lampau. Mobilisasi dilakukan
sewajarnya, sesuai dengan situasi dan kondisi penderita.
Penderita dengan kesadaran menurun posisi tubuhnya perlu diubah - ubah untuk
menghindari komplikasi pneumonia hipostatik dan dekubitus.

2. Diet
Dimasa lampau, penderita diberi makan diet yang terdiri dan bubur saring, kemudian
bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan kondisi pasien. Pemberian bubur saring tersebut
dimaksudkan untuk menghindari perdarahan usus atau perforasi usus. Banyak penderita tidak
senang diet demikian, ini mengakibatkan keadaan umum dan gizi penderita memburuk dan
masa penyembuhan menjadi semakin lama. Beberapa peneliti menunjukkan bahwa
pemberian makanan padat dini yaitu nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran
yang berserat kasar) dapat diberikan dengan aman pada pasien demam tifoid.

3. Obat
Obat - obat antimikrobia yang sering digunakan :
a. Kloramfenikol
b. Tiamfenikol
c. Cotrimoxazole
d. Ampicilin dan amoxilin
Obat - obat simtomatik
a. Antipiretika
b.Kortikosteroid
ASKEP PADA KLIEN DENGAN THYPOID
A. Pengkajian

I. IDENTITAS PASIEN
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan, alamat, status
perkawinan, suku bangsa, nomor register, tanggal MRS, dan diagnosa medis.

II. RIWAYAT KESEHATAN PASIEN


1. Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan panas sudah 2 hari, muntah 3x
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien datang dengan diantar keluarganya dengan keluhan panas, pusing, mual muntah 3x,
semula di rumah sudah diperiksakan ke mantri setempat, tetapi karena panas lagi maka segera
dibawa ke rumah sakit.
3. Riwayat Kesehatan Yang Lalu
Pasien belum pernah menderita sakit seperti ini dan tidak pernah dirawat di rumah sakit,
hanya pilek atau batuk dan biasanya diperiksakan ke mantri setempat. Tidak ada riwayat
alergi.
Pasien mendapat immunisasi lengkap yaitu BCG, DPT, Polio, Campak, DT dan Hepatitis.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Anggota keluarga tidak ada yang menderita sakit seperti ini dan tidak ada penyakit herediter
yang lain.

III. POLA KEBIASAAN PASIEN SEHARI-HARI


1. Pola Nutrisi
Sebelum sakit: Makan 3 x sehari, dengan nasi, lauk dan sayur, makanan yang tidak disukai yaitu kubis
dan yang paling disukai yaitu mie ayam. Pasien makan dengan piring dan sendok biasa, tanpa
memperhatikan warna dan bahannya. Minum 7 - 8 gelas sehari.
Selama sakit : Makan 3x sehari, dengan diet bubur halus, hanya habis ¼ porsi, karena lidahnya terasa pahit.
Pasien makan dari tempat yang disediakan oleh rumah sakit. Minum 7 - 8 gelas sehari.
2. Pola Eleminasi
Sebelum sakit: BAB 1 x sehari dengan konsistensi lunak, warna kuning. BAK 3-4 x sehari , warna kuning
jernih.
Selama sakit: selama 2 hari pasien belum BAB. BAK 3-4 x sehari, warna kuning jernih
3. Pola Istirahat - Tidur
Sebelum sakit: pasien tidur dengan teratur setiap hari pada pukul 20.00 WIB sampai jam 05.00 WIB.
Kadang-kadang terbangun untuk BAK. Pasien juga terbiasa tidur siang dengan waktu sekitar
2 jam. Ibu pasien selalu membacakan cerita sebagai pengantar tidurnya.
Selama sakit : pasien susah tidur karena suasana yang ramai.
4. Pola Aktivitas
Sebelum sakit: pasien bermain dengan teman - temannya sepulang sekolah dengan pola permainan
berkelompok dan jenis permainan menurut kelompok.
Selama sakit: pasien hanya terbaring di tempat tidur.

IV. PENGKAJIAN PSIKO - SOSIO - SPIRITUAL


1. Pandangan pasien dengan kondisi sakitnya.
Pasien menyadari kalau dia berada dirumah sakit dan dia mengetahui bahwa dia sakit dan
perlu perawatan tetapin dia masih ketakutan dengan lingkungan barunya.
2. Hubungan pasien dengan tetangga, keluarga, dan pasien lain.
Hubungan pasien dengan tetangga dan keluarga sangat baik, banyak tetangga dan sanak
saudara yang menjenguknya di rumah sakit. Sedangkan hubungan dengan pasien lain tidak
begitu akrab. Pasien ketakutan.
3. Apakah pasien terganggu dalam beribadah akibat kondisi sakitnya.
Pasien beragama Islam, dalam menjalankan ibadahnya pasien dibantu oleh keluarganya. Ibu
pasien selalu mengajakya berdoa untuk kesembuhannya.

V. PEMERIKSAAN FISIK
a. Keadaan Umum : pasien tampak lemah.
b. Kesadaran : composmentis.
c. Kepala : normochepalic, rambut hitam, pendek dan lurus dengan penyebaran yang merata..
Tidak ada lesi.
d. Mata : letak simetris, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.
e. Hidung : pernapasan tidak menggunakan cuping hidung, tidak ada polip, bersih.
f. Mulut : tidak ada stomatitis, bibir tidak kering.
- gigi : kotor dan terdapat caries
- lidah : kotor
g. Telinga : pendengaran baik, tidak ada serumen.
h. Leher : tidak ada pembesaran kelenjar thyroid.
i. Dada : simetris, pernapasan vesikuler.
j. Abdomen : nyeri tekan pada epigastrium.
k. Ekstremitas :
- atas : tangan kanan terpasang infus dan aktifitasnya dibantu oleh keluarga.
- bawah : tidak ada lesi
l. Anus : tidak ada haemorroid.
m. Tanda - tanda Vital :
Tekanan Darah: 120/80 mmHg
Nadi : 120 x/menit
Suhu : 39° C
Respirasi : 24 x/menit

VI. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Hasil Laboratorium
a. Hematologi
Hb : 11,6 d/dl (14 – 18 d/dl)
Ht : 34,7% (34 – 48%)
Entrosit : 4,11 juta/uI (3,7 – 5,9.106 juta/uI)
VER : 84,5 fl (78 – 90 fl)
KHER : 33,6 g/dl (30 – 37 g/dl)
Leukosit : 12.200 /uI (4,6 – 11.103 /uI)
LED 1 jam : 40 /1 jam (P = 7 – 15 /jam)
2 jam: 80 /1jam (L = 3 -11 /jam)
Trombosit : 232.000 /uI (150 – 400.103 /uI)
Hitung jenis
Eosinofil :- Segmen: 91%
Basofil :- Limfosit: 9%
N. Batang : - Monosit: -
b. Bakteriologi Serogi
Widal
St - O 1/320
St - H 1/160
St - AH -
Spt - BH 1/320
c. Urine
Phisis = warna: kuning
Kimia = PH : agak keruh
Protein :- (negatif)
Glukosa : - (negatif)
Sedimen = epitel : +
Lekosit : + (6 – 8)
Eritrosit : + (1 -2)
Kristal : - (negatif)
Silinder : - (negatif)

B. Diagnosa keperawatan

Setelah data-data terkumpul kemudian dianalisa untuk menentukan masalah pasien dan
merumuskan diagnosa keperawatan.
1. Diagnosa keperawatan yang muncul dalam tinjauan kasus yang ada dalam pathway :
2. Hypertermi berhungan dengan pengaruh endotoksin pada hipotalamus.
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dan kebutuhan berhubungan dengan intake yang kurang.
4. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada usus halus.
5. Defisit perawatan diri berhubungan dengan immobilisasi.
Diagnosa keperawatan yang tidak ada dalam kasus nyata tetapi dalam teori ada, yaitu:
Diare berhubungan dengan inflamasi usus.

ANALISA DATA
NO SYMTOM ETIOLOGI PROBLEM
DO : a. Suhu 39°C Pengaruh Hypertermi
1
b. Nadi 120 x/ menit endotoksin pada
c. Turgor sedang hipothalamus
DS : a. Pasien mengatakan intake yang kurang
badannya terasa panas
b. Pasien rnengeluh pusing

DO : a. Pasien makan hanya habis ¼ porsi intake yang kurang Ketidakseimbangan


2
b. Muntah 3 x nutrisi kurang dari
c. Lidah kotor kebutuhan tubuh
d. Pasien tampak lemah
e. BB turun:
Sebelum sakit = 26 kg
Setelah sakit = 24 kg
DS : a. Pasien mengatakan nafsu
makannya berkurang
b. Pasien mengatakan mual
c. Pasien. mengatakan
lidahnya terasa pahit

DO: a. Pasien tampak


meringis kesakitan jika Nyeri akut Peradangan usus
3
perutnya ditekan halus
b. Ekspresi wajah pasien tegang
c. Skala nyeri 3
d. Leukosit = 12.200 uI
DS : a. Pasien rnengeluh nyeri epigastrium
b. Pasien mengatakan mual

DO : a. Gigi tampak kotor


b. Mulut bau
c. Kulit kotor Immobilisasi Defisit perawatan
4
d. Pasien tampak lemah diri
DS : Pasien mengatakan belum mandi dan
gosok gigi selama 2 hari

C. Perencanaan
Pada tahap-tahap perencanaan asuhan keperawatan pada An. S dengan Typhus
Abdominalis meliputi penentuan prioritas, penentuan tujuan dan menentukan tindakan
keperawatan
Dalam menentukan tujuan yang akan dicapai, unsur-unsur tujuan yang digunakan yaitu
spesifik, bisa diukur, bisa dicapai, realistik dan waktu pencapaianya juga perlu menentukan
kriteria hasil. (Budi Anna Kelliat,1996)
Diagnosa keperawatan pertama, tujuan yang ingin dicapai adalah suhu tubuh menjadi
normal kembali setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, diharapkan
dengan kriteria waktu tersebut tidak terjadi kekurangan cairan karena perspirasi yang
meningkat yang akan menyebabkan kondisi tubuh makin lemah.
Rencana tindakannya antara lain dengan mengukur tanda-tanda vital, yang ditekankan
pada pengukuran suhu untuk memantau penurunan suhu dengan tidak mengabaikan
pengukuran pernafasan, nadi dan tekanan darah.
Kompres dingin dan pemberian minum yang banyak untuk mengganti cairan yang
hilang lewat penguapan Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian anti piretik, untuk
menurunkan suhu.
Diagnosa keperawatan ke dua, dengan kritenia waktu 1 x 24 jam diharapkan pasien
tidak mual dan tidak muntah sehingga dapat menghabiskan porsi makannya dengan evaluasi
terakhir terjadi kenaikan berat badan.
Penulis membuat rencana tindakan dengan melibatkan keluarga dalam memberikan
makanan yang disukai pasien dalam batas diet, melakukan penimbangan berat badan tiap hari
untuk mengetahui status gizi pasien sehingga dapat dilakukan tindakan keperawatan lebih
lanjut dan memudahkan dalam pemberian terapi. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian
anti emetik untuk mencegah rasa mual dan muntah, serta pemberian cairan parenteral sebagai
penambah asupan mineral yang dibutuhkan oleh tubuh.
Diagnosa keperawatan ke tiga, tujuan yang ingin dicapai nyeri berkurang setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, karena kalau tidak cepat diatasi akan
mengganggu aktifitas pasien. Dengan rencana tindakan yang lebih memfokuskan pada
pengajaran tehnik relaksasi dan distraksi serta latihan nafas dalam saat nyeri. Juga kompres
dingin pada daerah yang nyeri karena dengan vasokontriksi dapat memblok rasa nyeri.
Pemberian diet lunak dimaksudkan pada pasien Typhus Abdominalis terdapat tukak-tukak
pada usus halus sehingga tidak terjadi pendarahan atau perforasi usus.
Diagnosa keperawatan ke empat, tujuan yang hendak dicapai adalah perawatan diri
terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan sekitar 20 menit.

D. Pelaksanaan
Pada diagnosa keperawatan yang pertama, semua rencana tindakan dapat dilakukan
seluruhnya. Pada saat kompres seharusnya dilakukan pada lipatan ketiak, lipat paha dan dahi
yang banyak pembuluh darahnya tetapi hanya dilakukan di dahi karena pasien merasa risih.
Mengukur tanda-tanda vital dilakukan setiap 6 jam sekali. Kolaborasi dengan dokter dalam
memberikan anti piretik (paracetamol 3 x 500 mg) dan anti biotik (injeksi ampicillin 2 x I gr).
Injeksi antibiotik dilakukan sampai hari ke-6 dan diganti anti biotik oral (amoxilin 3 x 500
mg).
Dalam diagnosa keperawatan ke dua, diberikan cairan parenteral (dextrose 5% 20
tetes/menit) dan anti emetik (primperan 1/2 cth). Semua tindakan dapat dilakukan bersama
perawat dan keluarga terutama dalam memberikan makanan tambahan.
Untuk diagnosa keperawatan yang ketiga dan kelima rencana tindakan keperawatan
dapat dilakukan sepenuhnya.
Kompres dingin, tehnik relaksasi dan distraksi dilakukan pasien men jelang tidur agar
atau saat nyerinya datang dapat beristirahat dengan cukup dan untuk mengurangi rasa nyeri.
Diagnosa keperawatan yang ke empat dilakukan tidak hanya sekali, tetapi setiap pagi
dan sore selama pasien dirawat.

E. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap terakhir dari proses keperawatan.
Evaluasi digunakan sebagai tolak ukur berhasil tidaknya tindakan keperawatan yang
telah dilakukan. Evaluasi dari keseluruhan diagnosa keperawatan adalah sebagai berikut :
1. Hypertermi berhubungan dengan pengaruh endotoksin pada hipotalamus.
Masalah dapat diatasi sepenuhnya tanggal 13 Juli 2005, suhu tubuh kembali normal menjadi
normal 37°C dan tetap diobservasi sampai pasien diperbolehkan pulang.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang
kurang.
Masalah dapat teratasi pada tanggal 16 Juli 2005 dengan kenaikan berat badan pasien yang
semula 24 kg menjadi 24,1 kg
3. Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada usus halus.
Masalah dapat teratasi sepenuhnya pada tanggal 14 Juli 2005, dari skala nyeri 3 menjadi
skala nyeri 0. Rencana tindakan dihentikan.

Asuhan keperawatan pada klien dengan demam


thypoid Presentation Transcript
 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN DEMAM THYPOID/
TIPUS ABDOMINALIS OLEH : @Supriadinavi
 Defenisi Typhoid adalah penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
kuman salmonella thypi dan salmonella para thypi A,B,C. sinonim dari penyakit ini
adalah Typhoid dan paratyphoid abdominalis, ( Syaifullah Noer, 1998 ). Typus
abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna,
gangguan kesadaran, dan lebih banyak menyerang pada anak usia 12 – 13 tahun (
70% - 80% ), pada usia 30 - 40 tahun ( 10%-20% ) dan diatas usia pada anak 12-13
tahun sebanyak ( 5%-10% ). (Mansjoer, Arif 1999). Typus abdominalis adalah
penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran pencernaan dengan gejala
demam yang lebih dari 1 minggu, gangguan pencernaan dan gangguan kesadaran
 Etiologi Typhoid disebabkan oleh bakteri yang disebut salmonella serovarian Typhi
dan paratyphi. Terdapat ratusan jenis bakteri salmonella, tetapi hanya 4 jenis yang
dapat menimbulkan tifus yaitu: 1. Salmonella serovarian typhi 2. Paratyphi A 3.
Paratyphi B 4. Paratyphi C
 Patofisiologi Penularan salmonella thypi dapat ditularkan melalui berbagai cara,
yang dikenal dengan 5 F yaitu Food (makanan), Fingers (jari tangan/kuku), Fomitus
(muntah), Fly (lalat), dan melalui Feses. Feses dan muntah pada penderita typhoid
dapat menularkan kuman salmonella thypi kepada orang lain. Kuman tersebut dapat
ditularkan melalui perantara lalat, dimana lalat akan hinggap dimakanan yang akan
dikonsumsi oleh orang yang sehat. Apabila orang tersebut kurang memperhatikan
kebersihan dirinya seperti mencuci tangan dan makanan yang tercemar kuman
salmonella thypi masuk ke tubuh orang yang sehat melalui mulut
 Kemudian kuman masuk ke dalam lambung, sebagian kuman akan dimusnahkan oleh
asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus bagian distal dan mencapai
jaringan limpoid. Di dalam jaringan limpoid ini kuman berkembang biak, lalu masuk
ke aliran darah dan mencapai sel-sel retikuloendotelial. Sel-sel retikuloendotelial ini
kemudian melepaskan kuman ke dalam sirkulasi darah dan menimbulkan bakterimia,
kuman selanjutnya masuk limpa, usus halus dan kandung empedu.
 Semula disangka demam dan gejala toksemia pada typhoid disebabkan oleh
endotoksemia. Tetapi berdasarkan penelitian eksperimental disimpulkan bahwa
endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam pada typhoid. Endotoksemia
berperan pada patogenesis typhoid, karena membantu proses inflamasi lokal pada
usus halus. Demam disebabkan karena salmonella thypi dan endotoksinnya
merangsang sintetis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang
meradang
 1. DEMAM Minggu I : Demam remiten, biasanya menurun pada pagi hari dan
meningkat pada sore dan malam hari Minggu II : Demam terus Minggu III : Demam
mulai turun secara berangsur – angsur 2. GANGGUAN PADA SALURAN
PENCERNAAN Lidah kotor yaitu ditutupi selaput kecoklatan kotor, ujung dan tepi
kemerahan, jarang disertai tremor Hati dan limpa membesar yang nyeri pada
perabaan Terdapat konstipasi, diare 3. GANGGUAN KESADARAN Kesadaran
yaitu apatis – somnolen Gejala lain “ROSEOLA” (bintik-bintik kemerahan karena
emboli hasil dalam kapiler kulit) Manifestasi Klinis Masa tunas 7-14 (rata-rata 3 –
30) hari, selama inkubasi ditemukan gejala prodromal (gejala awal tumbuhnya
penyakit/gejala yang tidak khas) nyeri kepela, lesu , perasaan tidak enak badan,
diare,anoreksia serta yang paling spesifik :
 Penatalaksanaan Sampai saat ini masih dianut trilogi Penatalaksanaan demam tifoid
yaitu : 1. Pemberian antibiotik 2. Istirahat dan Perawatan profesional 3. Diet dan trapi
penunjang
 Pengkajian • nama, umur, jenis kelamin, alamat, pendidikan, no. Registerasi • status
perkawinan, agama, pekerjaan, tinggi badan, berat badan, tanggal MR Identitas pasien
• pada pasien Thypoid biasanya mengeluh perut merasa mual dan kembung, nafsu
makan menurun, panas dan demam Keluhan utama • Apakah sebelumnya pasien
pernah mengalami sakit Thypoid, apakah tidak pernah, apakah menderita penyakit
lainnya Riwayat penyakit masa lalu
 • Apakah dalam kesehatan keluarga ada yang pernah menderita Thypoid atau sakit
yang lainnya Riwayat Kesehatan keluarga • Psiko sosial sangat berpengaruh sekali
terhadap psikologis pasien, dengan timbul gejala-gejala yang dalami, apakah pasien
dapat menerima pada apa yang dideritanya. Riwayat psikososial • Pola pola seperti
pola nafsu makan persefsi dll • Pemeriksan fisik head to toe Pengkajian fisik dan pola
pola kesehatan
 Diagnosa Keperawatan DX1 • Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi
Salmonella Typhii DX2 • Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari
kebutuhan berhubungan dengan anoreksia DX3 • Intoleransi aktivitas berhubungan
dengan kelemahan / bedrest DX4 • Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari
kebutuhan) berhubungan dengan pengeluaran cairan yang berlebihan (diare/muntah).
 DX1 Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan infeksi salmonella typhi Tujuan :
suhu tubuh normal/terkontrol. Kriteria hasil : 1. Pasien melaporkan peningkatan
suhu tubuh 2. Mencari pertolongan untuk pencegahan peningkatan suhu tubuh. 3.
Turgor kulit membaik
 Intervensi Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga tentang peningkatan suhu
tubuh R/ agar klien dan keluarga mengetahui sebab dari peningkatan suhu dan
membantu mengurangi kecemasan yang timbul. Anjurkan klien menggunakan
pakaian tipis dan menyerap keringat R/ untuk menjaga agar klien merasa nyaman,
pakaian tipis akan membantu mengurangi penguapan tubuh. Batasi pengunjung
R/ agar klien merasa tenang dan udara di dalam ruangan tidak terasa panas
 Observasi TTV tiap 4 jam sekali R/ tanda-tanda vital merupakan acuan untuk
mengetahui keadaan umum pasien Anjurkan pasien untuk banyak minum, minum ?
2,5 liter / 24 jam R/ peningkatan suhu tubuh mengakibatkan penguapan tubuh
meningkat sehingga perlu diimbangi dengan asupan cairan yang banyak Bemberikan
kompres dingin R/ untuk membantu menurunkan suhu tubuh Kolaborasi dengan
dokter dalam pemberian tx antibiotik dan antipiretik R/ antibiotik untuk
mengurangi infeksi dan antipiretik untuk menurangi panas
 DX2 : Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan
dengan anoreksia Tujuan :Pasien mampu mempertahankan kebutuhan nutrisi
adekuat Kriteria hasil : 1. Nafsu makan meningkat 2. Pasien mampu menghabiskan
makanan sesuai dengan porsi yang diberikan
 Intervensi Jelaskan pada klien dan keluarga tentang manfaat makanan/nutrisi. R/
untuk meningkatkan pengetahuan klien tentang nutrisi sehingga motivasi untuk
makan meningkat. Timbang berat badan klien setiap 2 hari. R/ untuk mengetahui
peningkatan dan penurunan berat badan. Beri nutrisi dengan diet lembek, tidak
mengandung banyak serat, tidak merangsang, maupun menimbulkan banyak gas
dan dihidangkan saat masih hangat. R/ untuk meningkatkan asupan makanan karena
mudah ditelan.
 Beri makanan dalam porsi kecil dan frekuensi sering. R/ untuk menghindari mual
dan muntah. Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antasida dan nutrisi
parenteral. R/ antasida mengurangi rasa mual dan muntah.Nutrisi parenteral
dibutuhkan terutama jika kebutuhan nutrisi per oral sangat kurang.
 DX3 :Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemhan / bad rest Tujuan : pasien
bisa melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (AKS) optimal. Kriteria hasil : 1.
Kebutuhan personal terpenuhi 2. Dapat melakukan gerakkan yang bermanfaat bagi
tubuh. 3. memenuhi AKS dengan teknik penghematan energi.
 Intervensi Beri motivasi pada pasien dan kelurga untuk melakukan mobilisasi
sebatas kemampuan (missal. Miring kanan, miring kiri). R/ agar pasien dan
keluarga mengetahui pentingnya mobilisasi bagi pasien yang bedrest. Kaji
kemampuan pasien dalam beraktivitas (makan, minum). R/ untuk mengetahui
sejauh mana kelemahan yang terjadi. Dekatkan keperluan pasien dalam
jangkauannya. R/ untuk mempermudah pasien dalam melakukan aktivitas.
Berikan latihan mobilisasi secara bertahap sesudah demam hilang. R/ untuk
menghindari kekakuan sendi dan mencegah adanya dekubitus
 DX4 :Gangguan keseimbangan cairan (kurang dari kebutuhan ) berhubungan dengan
pengeluaran cairan yang berlebih (diare/mntah) Tujuan : tidak terjadi gangguan
keseimbangan cairan Kriteria hasil : 1. Turgor kulit meningkat 2. Wajah tidak
nampak pucat
 Intervensi Berikan penjelasan tentang pentingnya kebutuhan cairan pada pasien dan
keluarga. R/ untuk mempermudah pemberian cairan (minum) pada pasien.
Observasi pemasukan dan pengeluaran cairan. R/ untuk mengetahui keseimbangan
cairan. Anjurkan pasien untuk banyak minum ? 2,5 liter / 24 jam. R/ untuk
pemenuhan kebutuhan cairan. Observasi kelancaran tetesan infuse. R/ untuk
pemenuhan kebutuhan cairan dan mencegah adanya odem. Kolaborasi dengan
dokter untuk terapi cairan (oral / parenteral). R/ untuk pemenuhan kebutuhan cairan
yang tidak terpenuhi (secara parenteral).
Makalah Askep Tifoid
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Demam thypoid merupakan salah satu penyakit infeksi endemis di Asia, Afrika, Amerika
latin, Karibia, Oceania dan jarang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Menurut data WHO, terdapat
16 juta hingga 30 juta kasus thypoid di seluruh dunia dan diperkirakan sekitar 500,000 orang
meninggal setiap tahunnya akibat penyakit ini. Asia menempati urutan tertinggi pada kasus thypoid
ini, dan terdapat 13 juta kasus dengan 400,000 kematian setiap tahunnya.

Kasus thypoid diderita oleh anak-anak sebesar 91% berusia 3-19 tahun dengan angka
kematian 20.000 per tahunnya. Di Indonesia, 14% demam enteris disebabkan oleh Salmonella
Parathypi A. Demam tifoid pada masyarakat dengan standar hidup dan kebersihan rendah,
cenderung meningkat dan terjadi secara endemis. Biasanya angka kejadian tinggi pada daerah tropik
dibandingkan daerah berhawa dingin. Penyakit ini banyak diderita oleh anak-anak, namun tidak
menutup kemungkinan untuk orang dewasa. Penyebabnya adalah kuman sallmonela thypi atau
sallmonela paratypi A, B dan C.

Penyakit typhus abdominallis sangat cepat penularanya yaitu melalui kontak dengan
seseorang yang menderita penyakit typhus, kurangnya kebersihan pada minuman dan makanan,
susu dan tempat susu yang kurang kebersihannya menjadi tempat untuk pembiakan bakteri
salmonella, pembuangan kotoran yang tak memenuhi syarat dan kondisi saniter yang tidak sehat
menjadi faktor terbesar dalam penyebaran penyakit typhus.

Dalam masyarakat, penyakit ini dikenal dengan nama thypus, tetapi didalam dunia
kedokteran disebut dengan Tyfoid fever atau thypus abdominalis, karena pada umumnya kuman
menyerang usus, maka usus bisa jadi luka dan menyebabkan pendarahan serta bisa mengakibatkan
kebocoran usus.

Untuk itu kami menyusun makalah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan pada Anak
dengan Demam Tifoid” dengan tujuan agar mahasiswa memahami dan mengetahui asuhan
keperawatan pada klien dengan demam tifoid.

B. Tujuan

1. Tujuan umum :
Mahasiswa dapat mengetahui dan mencegah terjadinya demam tifoid serta
mengimplementasikan asuhan keperawatan demam thypoid di lapangan.

2. Tujuan khusus :

a. Mengetahui konsep medik dan asuhan keperawatan pada penyakit demam tifoid

b. Mampu mengaplikasikan tindakan keperawatan sesuai konsep dan sesuai indikasi klien

C. Manfaat Penulisan

1. Mendapatkan pengetahuan tentang penyakit demam tifoid

2. Mendapatkan pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan demam tifoid

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. KONSEP DEMAM TIFOID

1. Pengertian

Typus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari 7 hari, gangguan pencernaan dan dan gangguan
kesadaran (Mansjoer, 2000). Demam tifoid adalah penyakit menular yang bersifat akut, yang
ditandai dengan bakterimia, perubahan pada sistem retikuloendotelial yang bersifat difus,
pembentukan mikroabses dan ulserasi Nodus peyer di distal ileum. (Soegeng, 2002).

Tifus abdominalis adalah suatu infeksi sistem yang ditandai demam, sakit kepala, kelesuan,
anoreksia, bradikardi relatif, kadang-kadang pembesaran dari limpa/hati/kedua-duanya (Djauzi &
Sundaru; 2003). Typhus Abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang biasanya terdapat pada
saluran pencernaan dengan gejala demam lebih dari satu minggu dan terdapat gangguan kesadaran
(Suryadi, 2001).

2. Etiologi

Etiologi typhoid adalah salmonella typhi, salmonella para typhi A. B dan C. Ada dua sumber
penularan salmonella typhi yaitu pasien dengan demam typhoid dan pasien dengan carier. Carier
adalah orang yang sembuh dari demam typhoid dan masih terus mengekresi salmonella typhi dalam
tinja dan air kemih selama lebih dari 1 tahun.
3. Manifestasi Klinis

Masa inkubasi 10-14 hari. Penyakit ini mempunyai tanda-tanda yang khas berupa
perjalanan yang cepat yang berlangsung kurang lebih 3 minggu. Gejala Demam Tifoid antara lain
sebagai berikut :

 Demam > 1 minggu terutama pada malam hari

Demam tidak terlalu tinggi dan berlangsung selama 3 minggu. Minggu pertama peningkatan suhu
tubuh berfluktuasi. Biasanya suhu tubuh meningkat pada malam hari dan menurun pada pagi hari.
Pada minggu kedua suhu tubuh terus meningkat dan pada minggu ke tiga suhu berangsur-angsur
turun dan kembali normal.

 Nyeri kepala

 Malaise

 Letargi

 Lidah kotor

 Bibir kering pecah-pecah (regaden)

 Mual, muntah

 Nyeri perut

 Nyeri otot

 Anoreksia

 Hepatomegali, splenomegali

 Konstipasi, diare

 Penurunan kesadaran

 Macular rash, roseola (bintik kemerahan) akibat emboli basil dalam kapiler

 Epistaksis

 Bradikardi

 Mengigau (delirium)
5. Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan leukosit

Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia dan
limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai. Pada kebanyakan
kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi berada pada batas-batas normal
bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun tidak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh
karena itu pemeriksaan jumlah leukosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.

b. Pemeriksaan SGOT dan SGPT


Sgot Dan Sgpt pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali normal setelah
sembuhnya typhoid.

c. Biakan darah

Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan darah negatif
tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikarenakan hasil biakan darah
tergantung dari beberapa faktor :

1) Teknik pemeriksaan Laboratorium

Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal ini
disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu pengambilan darah
yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia berlangsung.

2) Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit

Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan
berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat positif kembali.

3) Vaksinasi di masa lampau

Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam
darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negatif.

4) Pengobatan dengan obat anti mikroba

Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuhan
kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.

d. Uji Widal

Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Aglutinin
yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien dengan typhoid juga terdapat
pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang digunakan pada uji widal adalah suspensi
salmonella yang sudah dimatikan dan diolah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk
menentukan adanya aglutinin dalam serum klien yang disangka menderita tifoid. Akibat infeksi oleh
salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :

1) Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman).

2) Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kuman).

3) Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai kuman)

Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya untuk
diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita tifoid (Widiatuti, 2001).
2. Penatalaksanaan

a. Perawataan

1) Klien diistirahatkan 7 hari sampai demam atau 14 hari untuk mencegah komplikasi perdarahan usus.

2) Mobilisasi bertahap bila tidak ada panas, sesuai dengan pulihnya tranfusi bila ada komplikasi
perdarahan.

b. Diet

1) Diet yang sesuai ,cukup kalori dan tinggi protein.

2) Pada penderita yang akut dapat diberi bubur saring.

3) Setelah bebas demam diberi bubur kasar selama 2 hari lalu nasi tim.

4) Dilanjutkan dengan nasi biasa setelah penderita bebas dari demam selama 7 hari.

c. Obat-obatan

1) Kloramfenikol.

Dosis yang diberikan adalah 4 x 500 mg perhari, dapat diberikan secara oral atau intravena,
sampai 7 hari bebas panas

2) Tiamfenikol.

Dosis yang diberikan 4 x 500 mg per hari.

3) Kortimoksazol.

Dosis 2 x 2 tablet (satu tablet mengandung 400 mg sulfametoksazol dan 80 mg trimetoprim)

4) Ampisilin dan amoksilin.

Dosis berkisar 50-150 mg/kg BB, selama 2 minggu

5) Sefalosporin Generasi Ketiga.

Dosis 3-4 gram dalam dekstrosa 100 cc, diberikan selama ½ jam per-infus sekali sehari,
selama 3-5 hari

6) Golongan Fluorokuinolon

a) Norfloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 14 hari

b) Siprofloksasin : dosis 2 x 500 mg/hari selama 6 hari

c) Ofloksasin : dosis 2 x 400 mg/hari selama 7 hari

d) Pefloksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari

e) Fleroksasin : dosis 1 x 400 mg/hari selama 7 hari


f) Kombinasi obat antibiotik. Hanya diindikasikan pada keadaan tertentu seperti: Tifoid toksik,
peritonitis atau perforasi, syok septik, karena telah terbukti sering ditemukan dua macam organisme
dalam kultur darah selain kuman Salmonella typhi. (Widiastuti S, 2001).

B. KONSEP KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Identitas klien

b. Dapat terjadi pada anak laki-laki dan perempuan, kelompok umur yang terbanyak adalah diatas
umur lima tahun. Faktor yang mendukung terjadinya demam thypoid adalah iklim tropis social
ekonomi yang rendah sanitasi lingkungan yang kurang.

c. Keluhan utama

Pada pasien typus abdominalis keluhan utamanya adalah demam.

d. Riwayat penyakit sekarang

Demam yang naik turun remiten, demam dan mengigil lebih dari satu minggu.

e. Riwayat penyakit dahulu

Tidak didapatkan penyakit sebelumnya.

f. Riwayat penyakit keluarga

Keluarga ada yang karier

g. Riwayat psiko social dan spiritual

Kelemahan dan gangguan interaksi sosial karena bedrest serta terjadi kecemasan.

h. Riwayat tumbuh kembang

Tidak mengalami gangguan apapun, terkadang hanya sakit batuk pilek biasa

i. Activity Daily Life

1) Nutrisi : pada klien dengan demam tifoid didapatkan rasa mual, muntah, anoreksia, kemungkinan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

2) Eliminasi : didapatkan konstipasi dan diare

3) Aktifitas : badan klien lemah dan klien dianjurkan untuk istirahat dengan tirah baring sehingga
terjadi keterbatasan aktivitas.
4) Istirahat tidur : klien gelisah dan mengalami kesulitan untuk tidur karena adanya peningkatan suhu
tubuh.

5) Personal hygiene : klien dianjurkan bedrest sehingga mengalami gangguan perawatan diri. Perlu kaji
kebiasaan klien dalam personal hygiene seperti tidak mencuci tangan sebelum makan dan jajan di
sembarang tempat.

j. Pemeriksaan fisik

1) Mata : kelopak mata cekung, pucat, dialtasi pupil, konjungtifa pucat kadang di dapat anemia ringan.

2) Mulut : Mukosa bibir kering, pecah-pecah, bau mulut tak sedap. Terdapat beslag lidah dengan
tanda-tanda lidah tampak kering dilatasi selaput tebal dibagian ujung dan tepi lidah nampak
kemerahan, lidah tremor jarang terjadi.

3) Thorak : jantung dan paruh tidak ada kelainan kecuali jika ada komplikasi. Pada daerah perangsang
ditemukan resiola spot.

4) Abdomen : adanya nyeri tekan, adanya pembesaran hepar dan limpa, distensi abdomen, bising usus
meningkat

5) Ekstrimitas : Terdapat rosiola dibagian fleksus lengan atas.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses inflamasi kuman salmonella thypi.

b. Resiko nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, mual, muntah
dan anoreksia.

c. Resiko devisit volume cairan berhubungan dengan intake yang tidak adekuat, kehilangan cairan
berlebih akibat muntah dan diare.

d. Gangguan pola eliminasi BAB berhubungan dengan konstipasi

e. Ansietas berhubungan dengan proses hospitalisasi, kurang pengetahuan tentang penyakit dan
kondisi anaknya

3. Intervensi Keperawatan

Diagnosa
No Tujuan Intervensi Rasional
Keperawatan

1 Peningkatan suhu Tujuan :  Observasi tanda-tanda Tanda-tanda vital berubah


tubuh vital sesuai tingkat
(Hipertermi) Setelah perkembangan penyakit
berhubungan diberikan dan menjadi indikator
dengan proses tindakan untuk melakukan
infeksi Salmonella keperawatan intervensi selanjutnya
Typhi. selama 3 x
24 jam, suhu  Pemberian kompres dapat
tubuh normal. menyebabkan peralihan
panas secara konduksi dan
membantu tubuh untuk
menyesuaikan terhadap
Kriteria hasil : panas
- TTV dalam  Peningkatan suhu tubuh
 Beri kompres pada
batas normal mengakibatkan
daerah dahi
penguapan sehingga perlu
- TD : 80-120/60-
diimbangi dengan asupan
80 mmhg
cairan yang banyak
- N : 120-140 x/i
 Mempercepat proses
(bayi), 100-120
penyembuhan,
(anak)
menurunkan demam.
- S : 36,5-370C Pemberian antibiotik
menghambat
- P : 30-60 x/i pertumbuhan dan proses
(bayi), 15-30 x/i infeksi dari bakteri
(anak)
 Anjurkan untuk banyak
minum air putih

 Kolaborasi pemberian
antiviretik, antibiotik

2 Resiko Tujuan :  Kaji kemampuan  Untuk mengetahui


pemenuhan makan klien perubahan nutrisi klien
nutrisi kurang dari Setelah dan sebagai indikator
kebutuhan tubuh dilakukan intervensi selanjutnya
berhubungan tindakan
dengan intake keperawatan  Memenuhi kebutuhan
yang tidak selama 3 x 24 nutrisi dengan
 Berikan makanan
adekuat, mual, jam kekurangan meminimalkan rasa mual
dalam porsi kecil tapi
muntah dan nutrisi tidak dan muntah
sering
anoreksia. terjadi.
 Memenuhi kebutuhan
nutrisi adekuat

Kriteria hasil :
 Beri nutrisi dengan diet
- Nafsu makan
meningkat, lunak, tinggi kalori
tinggi protein
- Tidak ada  Menambah selera makan
keluhan  Anjurkan kepada orang dan dapat menambah
anoreksia, tua klien/keluarga asupan nutrisi yang
nausea, untuk memberikan dibutuhkan klien
makanan yang disukai
- Porsi makan
dihabiskan  Anjurkan kepada orang
tua klien/keluarga
untuk menghindari
makanan yang
mengandung  dapat meningkatkan asam
gas/asam, pedas lambung yang dapat
memicu mual dan muntah
 Kolaborasi. Berikan
dan menurunkan asupan
antiemetik, antasida
nutrisi
sesuai indikasi

 Mengatasi mual/muntah,
menurunkan asam
lambung yang dapat
memicu mual/muntah

3 Resiko defisit Tujuan :  Kaji tanda dan gejala  Hipotensi, takikardia,


volume cairan dehidrasi demam dapat
berhubungan Setelah hypovolemik, riwayat menunjukkan respon
dengan intake dilakukan muntah, kehausan terhadap dan atau efek
yang tidak tindakan dan turgor kulit dari kehilangan cairan
adekuat, keperawatan
kehilangan cairan selama 3x24  Observasi adanya  Agar segera dilakukan
berlebih akibat jam, tidak tanda-tanda syok, tindakan/ penanganan jika
muntah dan terjadi defisit tekanan darah terjadi syok
diare. volume cairan menurun, nadi cepat
dan lemah

Kriteria hasil :  Berikan cairan peroral


pada klien sesuai
- Tidak terjadi  Cairan peroral akan
kebutuhan
tanda-tanda membantu memenuhi
dehidrasi,  Anjurkan kepada orang kebutuhan cairan
tua klien untuk
- Keseimbangan  Asupan cairan secara
mempertahankan
intake dan adekuat sangat diperlukan
asupan cairan secara
output dengan untuk menambah volume
dekuat
urine normal cairan tubuh
dalam  Kolaborasi pemberian
 Pemberian intravena sangat
konsentrasi cairan intravena
penting bagi klien untuk
jumlah
memenuhi kebutuhan
cairan

4 Gangguan pola Tujuan :  Kaji pola eliminasi klien Sebagai data dasar
eliminasi BAB gangguan yang dialami,
berhubungan Setelah memudahkan intervensi
dengan konstipasi dilakukan selanjutnya
tindakan
keperawatan  Penurunan menunjukkan
selama 3 x 24 adanya obstruksi statis
jam, pola akibat inflamasi,
eliminasi penumpukan fekalit
kembali normal.  Auskultasi bising usus
 Berhubungan dengan
distensi gas
Kriteria hasil :

- Klien
melaporkan  Indikator kembalinya fungsi
BAB lancar GI, mengidentifikasi
ketepatan intervensi
- Konsistensi
lunak
 Selidiki keluhan nyeri  Mengatasi konstipasi yang
abdomen terjadi
 Observasi gerakan
usus, perhatikan
warna, konsistensi,
dan jumlah feses

 Anjurkan makan
 Mungkin perlu untuk
makanan lunak, buah-
buahan yang merangsang peristaltik
merangsang BAB dengan perlahan

 Kolaborasi. Berikan
pelunak feses,
supositoria sesuai
indikasi

5 Ansietas Tujuan :  Kaji tingkat kecemasan Untuk mengeksplorasi rasa


berhubungan yang dialami orang cemas yang dialami oleh
dengan proses Setelah tua klien orang tua klien
hospitalisasi, dilakukan
kurang tindakan  Meningkatkan pengetahuan
pengetahuan keperawatan orang tua klien tentang
selama 3 x 24  Beri penjelasan pada penyakit anaknya
tentang penyakit
dan kondisi jam, kecemasan orang tua klien
anaknya teratasi tentang penyakit
anaknya
 Mendengarkan keluhan
Kriteria hasil :  Beri kesempatan pada orang tua agar merasa
orang tua klien untuk lega dan merasa
- Ekspresi tenang mengungkap kan diperhatikan sehingga
perasaan nya beban yang dirasakan
- Orang tua klien
berkurang
tidak sering
bertanya  Keterlibatan orang tua
tentang kondisi Libatkan orang tua dalam perawatan anaknya
anaknya klien dalam rencana dapat mengurangi
keperawatan kecemasan
terhadap anaknya

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN

1. Identitas Klien

Nama : An. D

Tempat/Tanggal Lahir : Mandailing/04 September 2008

Nama Ayah/ibu : Tn. N/Ny. I

Pekerjaan Ayah : TNI-AD

Pekerjaan Ibu : IRT

Alamat : Asrama 122, Dolok Masihule

Suku : Mandailing

Agama : Islam

Pendidikan : SMA

2. Keluhan Utama

Ibu klien mengatakan anaknya demam selama 5 hari, demamnya naik turun dan tidak membaik
dengan obat penurun panas yang telah diberikan.
3. Riwayat Kehamilan dan Kelahiran

a. Prenatal

Ibu klien mengatakan tidak ada masalah selama kehamilan An. D, ibu klien memeriksakan
kandungannya ke bidan setempat dan dokter kandungan.

b. Natal

Ibu klien mengatakan kelahiran An. D secara normal dan dibantu oleh bidan setempat dengan BB An.
D adalah 2.8 Kg dan An. D tidak mengalami masalah.

c. Postnatal

Ibu klien mengatakan tidak ada mengalami pendarahan hebat ataupun masalah lainnya setelah
kelahiran An. D

4. Riwayat Masa Lalu

a. Penyakit waktu kecil

Orang tua klien mengatakan sewaktu kecil An. D sering mengalami demam, batuk dan pilek.

b. Pernah dirawat dirumah sakit

Ibu klien mengatakan bahwa An. D sebelumnya tidak pernah di rawat di Rumah Sakit, apabila sakit
hanya diberikan obat yang diperoleh dari bidan setempat.

c. Obat-obat yang digunakan

Ibu klien selalu menyediakan obat paracetamol di rumahnya.

d. Tindakan (operasi)

Tidak ada

e. Alergi

Ibu klien mengatakan bahwa An. D tidak ada riwayat alergi baik makanan/pun minuman.

f. Kecelakaan

Ibu klien mengatakan An. D tidak pernah dan jangan sampai terjadi kecelakaan.

g. Imunisasi

Ibu klien mengatakan bahwa imunisasi An. D sudah lengkap karena sangat penting bagi anak.
5. Riwayat Keluarga

Genogram :

6. Riwayat Sosial

a. Yang mengasuh

Ny. I dan Tn. N


b. Hubungan dengan anggota keluarga

Terjalin baik, An. D sering bermain dengan abangnya dan bercanda dengan kedua orang tuanya.

c. Hubungan dengan teman sebaya

Ibu klien mengatakan An. D sering bermain dengan anak-anak di sekitar rumahnya

d. Pembawaan secara umum

Ibu klien mengatakan bahwa An. D sangat ceria, baik dan ramah dengan orang yang sudah
dikenalnya.

e. Lingkungan rumah

Ibu klien mengatakan bahwa An. D tinggal di asrama tentara dengan kondisi rumah bersih, menyatu
antara 1 dengan lainnya, komunikasi antar tetangga terjalin dengan sangat baik.

7. Kebutuhan Dasar

a. Makanan

1) Makanan yang disukai/ tidak disukai

Ibu klien mengatakan bahwa sebelum sakit, makanan yang disukai An. D adalah telur, buah apel, dan
jajanan. Selama sakit, An. D masih menyukai telur dan buah apel, sedangkan ikan, pisang, pepaya An.
D kurang suka.

2) Selera

Ibu klien mengatakan bahwa An. D selera makan hanya dengan telur, dan kecap saja sudah cukup.

3) Alat makan yang dipakai

Piring, sendok, dan cangkir.

4) Pola makan/jam

Ibu klien mengatakan bahwa An. D sebelum sakit makan 3x/hari dan dihabiskan. Selama sakit makan
3x/hari itupun tidak dihabiskan.

b. Pola tidur

1) Kebiasaan sebelum (perlu mainan, dibacakan cerita, benda yang dibawa tidur)
Ibu klien mengatakan bahwa An. D kebiasaan sebelum tidur tidak ada, terkadang ibu klien harus
mengelus-elus punggung An. D karena sakit.

2) Tidur siang

Ibu klien mengatakan bahwa An. D jarang sekali tidur siang karena lebih banyak dihabiskan untuk
bermain.

c. Mandi

Ibu klien mengatakan bahwa An.D mandi 2 x /sehari, pagi sebelum pergi kesekolah, dan sore hari,
sedangkan selama sakit An. D belum pernah mandi.

d. Aktivitas bermain

Ibu klien mengatakan bahwa An. D setelah pulang dari sekolah langsung bermain bersama teman-
teman di sekitar rumah. Selama sakit hanya berbaring di tempat tidur.

e. Eliminasi

Ibu klien mengatakan bahwa An. D sebelum sakit BAB sebanyak 1 x/hari, dan BAK tidak tentu,
sedangkan selama ± 1 minggu sampai sekarang (29 April 2013) belum ada BAB, dan BAK ± 4 x/hari
selama di rawat.

8. Keadaan Kesehatan Saat Ini

a. Diagnosa medis : Susp. Typhoid Fever

b. Tindakan operasi : Tidak ada

c. Status cairan : Ringer Laktat

d. Status nutrisi : Diet M2 TKTP

e. Obat-obatan :

- Cotrimoxazole 2 x cth I

- PCT 3 x1 tab

- Lactulosa 3 x cth I

f. Aktivitas : An. D terbaring lemah di tempat tidur, aktivitas

dibantu dan klien terpasang infus di kaki kanan.

g. Tindakan keperawatan :
- Melakukan pemeriksaan Tanda-tanda Vital

- Menganjurkan orang tua klien melakukan kompres hangat

- Menjelaskan pentingnya memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat

- Menganjurkan An. D untuk banyak istirahat selama fase akut

h. Hasil lab : Tanggal 28 April 2013

- Haemoglobin : 15.6 g/dl

- Hematokrit : 46,9 %

- Leukosit : 9.800/ml

- Trombosit : 189.000/ml

- LED : 5 mm

- Widal :

 O : 1/80 1/80 1/40 1/80

 H : 1/40 1/40 1/80 1/80

i. Foto roentgen : Tidak ada

j. Lain-lain : Tidak ada

9. Pemeriksaan Fisik

a. Keadaan umum : Lemah, tingkat kesadaran : Composmentis

b. TB/BB : 118 cm, 27 Kg

c. Lingkar kepala : 49 cm

d. Kepala

Tulang kepala normosefalik, rambut hitam, kulit kepala bersih, tekstur lembut, distribusi rapat, dan
kuat, tidak teraba massa, nyeri tekan (-), frontal teraba panas.

e. Mata

Ketajaman penglihatan baik, sklera putih (tidak ada perdarahan), konjungtiva merah muda, ptosis (-),
refleks cahaya (+ 2), pupil isokor.
f. Leher

Trakea tepat berada di garis tengah, pembesaran tyroid (-), nyeri tekan (-), refleks menelan (+).

g. Telinga

Ketajaman terhadap suara (+), tidak ada serumen, cairan (-), simetris antara d/s, kelainan bentuk (-)

h. Hidung

Septum digaris tengah, pernafasan cuping hidung (-), tidak beringus, bersih, dan tidak ada nyeri
tekan.

i. Mulut

Bibir kering, caries gigi (-), beslag (+), gusi merah muda, otot maseter (+), gerakan lidah baik.

j. Dada

Thorak simetris, ekspansi dada baik, vibrasi dinding dada sama, puting (+2), deformitas (-), fraktur
iga (-), nyeri tekan (-).

k. Paru- paru

Suara napas vesikuler, RR : 32 x/i, bunyi paru resonan

l. Jantung

Bunyi S1 dan S2 terdengar jelas, tidak terdengar bunyi jantung tambahan, HR : 130 x/i.

m. Perut

Umbilikus simetris, acites (-), suepel (+), nyeri tekan (-), peristaltik usus (+) 8 x/i, tekstur kulit lembut
dan elastis (< 2 detik)

n. Punggung

Massa (-), luka (-), nyeri tekan (-)

o. Genetalia

Bentuk normal, skrotum (+), meatus uretra (+), testis (+2), nyeri tekan (-)

p. Ektremitas

1) Ekstremitas atas : Edema (-), ekstremitas hangat, luka (-), terdapat bekas pemasangan infus
(dekstra), jari lengkap, kekuatan otot (+)

a. Ekstremitas bawah : Tidak ada varises, nyeri tekan (-), kekuatan otot (+)
5 5

4 4

q. Tanda vital

a. RR : 32 x/menit

b. HR : 130 x/menit

c. TD : 85/60 mmHg
0
d. Temp : 38,1 C

10. Pemeriksaan Tinggkat Perkembangan

a. Kemandirian bergaul

An. D mudah berinteraksi dengan orang lain

b. Motorik halus

An. D sudah bisa menggambar, mewarnai dan menjelaskan gambar yang telah dibuatnya

c. Motorik kasar

An. D dapat menangkap bola dan melemparkannya, dapat melompat dan dapat berjalan dengan 1
kaki

d. Kognitif

An. D dapat mengingat nama ayah dan ibunya, dapat menjumlahkan penjumlahan yang sederhana
(misalnya 1 + 1 = 2)

e. Bahasa :
Bahasa yang digunakan sehari-hari oleh An. D adalah bahasa Indonesia. An. D berbicara dengan
sangat jelas dan mudah dimengerti.

11. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboraturium (terlampir dihalaman 39)

12. Ringkasan Riwayat Keperawatan

Dari hasil pengkajian didapatkan hasil bahwa An. D demam selama 5 hari, suhu tubuh
0
38,1 C, BAB (-) selama 1 minggu, peristaltik usus 8 x/i, An. D rewel, muntah (-), mual (-), tingkat
kesadaran : composmentis, ekstremitas bawah (+4), An. D terbaring lemah di tempat tidur.

13. Masalah Keperawatan

a. Peningkatan suhu tubuh

b. Gangguan pola eliminasi

c. Intoleransi aktivitas

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermi) berhubungan dengan proses infeksi Salmonella Typhi.

2. Gangguan pola eliminasi (BAB) berhubungan dengan konstipasi

3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik, tirah baring


ANALISA DATA

No Data Etiologi Masalah

1 Ds : Invasi bakteri salmonela Peningkatan suhu


typhi melalui makanan tubuh
 Ibu klien mengatakan demam ± selama 5
atau (hipertermi)
hari demam bersifat naik turun, ibu klien minuman
mengatakan sudah memberi obat penurun
panas tetapi tidak membaik

Do :

 Teraba panas

 An.D rewel
Terjadi peradangan pada
 T : 38.1 0c saluran
 RR : 32 x/i cerna

 HR : 120 x/i

 Pct 3x1 tab

Dilepaskannya zat
pirogen oleh leukosit
pada jaringan yang
meradang
Demam
tipoid

Peningkatan suhu tubuh


(hipertermi)

2 Ds : Terjadi peradangan pada Gangguan pola


saluran cerna eliminasi (BAB)
 Ibu klien mengatakan bahwa An. D sebelum
sakit BAB sebanyak 2 x/hari, sedangkan
selama ± 1 minggu sampai sekarang (29
April 2013) belum ada BAB

 Ibu klien mengatakan makanan yang disukai


An. D adalah telur, buah apel, dan jajanan.
Sedangkan pisang, pepaya dan ikan An. D
kurang suka

Penurunan kerja motilitas


Do : usus
 Makan nasi + telur + kecap

 Makan apel (+)

 Peristaltik usus (8 x/i)

 BAB (-)
 Mual, muntah (-)

 Abdomen : Suepel
Konstipasi
 Suara abdomen : Tympani

Gangguan pola eliminasi


(BAB)

3 Ds : Proses infeksi virus Intoleransi


Salmonella Typhi aktivitas
 Ibu klien mengatakan badan anaknya lemas

Do :

 k/u : lemah

 Kekuatan otot (+4)

 Terbaring di tempat tidur Penurunan sistem


 Terpasang infus metabolisme tubuh

 Aktivitas dibantu Ny. I

Kelemahan fisik

Imobilisasi
Intoleransi aktivitas
C. INTERVENSI KEPERAWATAN

Diagnosa Rencana Tindakan Keperawatan


No
Keperawatan Tujuan Intervensi Rasional

1 Peningkatan Setelah 1. Ukur tanda-tanda vital 1. Sebagai dasar untuk


suhu tubuh dilakukan setiap 2/4 jam menentukan intervensi
(hipertermi) asuhan
b/d proses keperawatan 2. Observasi membran
infeksi selama 1 x 12 mukosa bibir, pengisian
Salmonella jam, kapiler dan turgor kulit2. Untuk identifikasi tanda-tanda
dehidrasi akibat demam
Typhi diharapkan
3. Anjurkan untuk minum
suhu klien
± 2-2,5 L/menit
menurun.
4. Anjurkan kompres
hangat pada dahi,
3. Kebutuhan cairan dalam
KH : ketiak, dan lipat paha
tubuh cukup mencegah
terjadinya demam
1. Suhu tubuh
dalam batas 4. Kompres hangat memberi
normal (36- efek vasodilatasi pembuluh
37 0C) 5. Anjurkan untuk tirah darah sehingga mempercepat
baring/pembatasan penguapan panas
2. Membran
aktivitas selama fase
mukosa 5. Menurunkan kebutuhan
akut
lembab metabolisme tubuh sehingga
6. Anjurkan untuk menurunkan panas
3. Pengisian
menggunakan pakaian
kapiler < 2
yang tipis dan
detik
menyerap keringat
6. Pakaian tipis memudahkan
4. An. D tidak penguapan panas saat
rewel (rileks) penurunan panas klien akan
7. Kolaborasi dalam banyak mengeluarkan
-
pemberian terapi sesuai keringat
indikasi
7. Untuk menurunkan
panas/mengontrol panas,
untuk mengatasi infeksi dan
mencegah penyebaran infeksi,
dan penggantian cairan akibat
penguapan panas tubuh

8. Untuk mengetahui
perkembangan penyakit typus
dan efektifitas terapi
8. Observasi hasil
pemeriksaan darah dan9. Peningkatan suhu terus
feses menerus setelah pemberian
antipiretik dan antibiotik
kemungkinan terjadinya
komplikasi perforasi usus.
9. Observasi adanya
peningkatan suhu terus
menerus, distensi
abdomen, dan nyeri
abdomen

2 Gangguan pola Setelah 1. Kaji pola eliminasi klien1. Sebagai data dasar gangguan
eliminasi (BAB) dilakukan yang dialami memudahkan
b/d konstipasi asuhan intervensi selanjutnya
keperawatan
selama 1 x 12 2. Penurunan menunjukkan
jam, adanya obstruksi statis akibat
2. Asukultasi bunyi usus
diharapkan inflamasi, penumpukan fekalit
pola eliminasi
3. Menandakan adanya gas di
klien kembali
perut sehingga
normal.
mengakibatkan terjadinya
distensi abdomen

KH : 3. Kaji adanya keluhan 4. Makanan lunak serta buah-


nyeri abdomen buahan yang kaya akan serat
1. BAB 1 x/hari dapat mengatasi konstipasi

2. Konstipasi
lunak
5. Dapat merangsang peristaltik
3. Warna feces 4. Anjurkan makan- usus secara perlahan sehingga
kuning makanan yang lunak, masalah konstipasi teratasi
buah-buahan yang
4. Tidak berlendir merangsang BAB

5. Kolaborasi dalam
pemberian terapi sesuai
indikasi

3 Intoleransi Setelah 1. Kaji tingkat toleransi 1. Sebagai dasar untuk


aktivitas b/d dilakukan klien terhadap aktivitas menentukan intervensi
kelemahan asuhan
fisik, tirah keperawatan 2. Kaji jumlah makanan
baring selama 1 x 12 yang dikonsumsi klien
setiap hari 2. Untuk mengidentifikasi intake
jam,
nutrisi klien
diharapkan
3. Anjurkan klien untuk
klien dapat
tidah baring selama fase
melakukan
akut
aktivitas secara
bertahap. 4. Jelaskan pentingnya
3. Untuk menurunkan
pembatasan aktivitas
metabolisme tubuh dan
KH : selama perawatan mencegah iritasi usus

1. TTV dalam 5. Bantu klien melakukan 4. Untuk mengurangi peristaltik


batas normal aktivitas sehari-hari usus sehingga mencegah
sesuai kebutuhan iritasi usus
2. Tidak ada
keluhan lelah 6. Libatkan keluarga dalam
pemenuhan kebutuhan
3. Kekuatan otot aktivitas sehari-hari
meningkat
7. Berikan kesempatan 5. Kebutuhan aktivitas klien
pada klien melakukan terpenuhi dengan energi
aktivitas sesuai kondisi minimal, sehinga mengurangi
klien peristaltik usus

6. Partisipasi keluarga
meningkatkan kooperatif klien
dalam perawatan

7. Meningkatkan partisipasi klien


dapat meningkatkan harga diri
dan meningkatkan toleransi
aktivitas
D. IMPLEMENTASI

Diagnosa
No Hari/Tgl Implementasi Evaluasi
Keperawatan

S Peningkatan 1. Mengukur tanda-tanda vital An. D S:


suhu tubuh
E (hipertermi) b/d H :  Ibu klien mengatakan
proses infeksi  T : 38,1 0C badan anaknya masih
L panas, walaupun sudah
Salmonella
A Typhi  RR : 28 x/i dikompres
S  Ibu mengatakan An. D
A  HR : 128 x/i
sudah diberikan banyak
R : An. D rewel (menangis), dan tidak minum
tenang
30  Ibu klien mengatakan
bahwa An. D tidak
A banyak berakivitas hanya
P 2. Mengamati membran mukosa bibir,
berbaring di tempat tidur
R pengisian kapiler dan turgor kulit
I pada An. D  Ibu klien mengatakan
L sudah memberikan
H:
1 pakaian yang tipis dan
2013  Bibir kering menyerap keringat

 CRT & turgor kulit < 2 detik  Ibu klien mengatakan


sudah memberikan obat
penurun panas yang
diberikan
3. Menganjurkan An. D untuk banyak
minum ± 2-2,5 L/hari O:

H : Minum (+)  Teraba panas di dahi

R : An. D tidak sulit minum  T : 38 0C, RR : 130 x/i, HR :


30 x/i

 Kompres (+)
4. Menganjurkan ibu untuk melakukan
kompres hangat pada dahi, ketiak,  Minum (+)
dan lipat paha
 Terbaring di tempat tidur
H : Ibu melakukan kompres hangat
di dahi  Bibir lembab
 Memakai baju tipis dan
R : Ny. I mengambil handuk kecil dan
air hangat dan melakukan kompres menyerap keringat
hangat
 Abdomen : suepel

 Paracetamol
5. Menjelaskan kepada ibu klien
tentang pentingnya tirah  IVFD RL 30 gtt/i
baring/pembatasan aktivitas selama
fase akut
A:
H : Ibu memahami manfaat tirah
baring selama fase akut (demam) Masalah peningkatan
suhu tubuh teratasi
R : Ibu dan An. D memperhatikan sebagian
penjelasan yang diberikan

P : Intervensi dilanjutkan
6. Menjelaskan kepada Ibu klien :
tentang pentingnya menggunakan
pakaian yang tipis dan menyerap  Kaji TTV
keringat bagi An. D
 Anjurkan banyak minum
H : Baju An. D tipis dan menyerap
 Anjurkan untuk kompres
keringat
hangat
R : Ibu sudah memahami pentingnya
 Kolaborasi dalam
pakaian tipis dan menyerap keringat
pemberian terapi
bagi An. D

7. Berkolaborasi dalam pemberian


terapi sesuai indikasi

H:

 IVFD RL 30 gtt/i

 Cotrimoxazole 2 x cth II

 Paracetamol 3 x 1 tab

R : An. D mau meminum obat yang


telah diberikan dan tidak ada tanda-
tanda alergi
8. Melihat hasil pemeriksaan darah
dan feses

H:

 Hb : 15,6 g/dl

 Ht : 46,9 %

 Leu : 9.103/ml

 Tromb : 189. 103/ml

 LED : 5 mm

 Widal :

 O : 1/80 1/80 1/40 1/80

 H : 1/40 1/40 1/80 1/80

9. Mengamati adanya peningkatan


suhu terus menerus, distensi
abdomen, dan nyeri abdomen

H : Suhu masih 38,1 0C, distensi


abdomen (-), suepel (+)

R : An. D mengatakan tidak


merasakan sakit dibagian perut

2 Gangguan pola1. Menanyakan kepada ibu pola S:


eliminasi (BAB) eliminasi An. D
 Ibu klien mengatakan
b/d konstipasi
H : ibu klien mengatakan An. D bahwa An. D belum ada
belum BAB ± 1 minggu BAB

R : An. D mengatakan tidak sesak  An. D mengatakan tidak


BAB, Ibu klien mengatakan cemas merasakan sakit pada
karena AN. D tidak BAB selama ± 1 perutnya
minggu
 An. D mengatakan tidak
2. Mendengarkan suara peristaltik usus ada sesak BAB

H : Terdengar peristaltik usus  An. D mengatakan tidak


3. Mengkaji adanya keluhan nyeri suka makan buah pepaya
abdomen dan pisang

H : abdomen : suepel, nyeri (-)  An. D mengatakan sudah


minum obat
R : An. D mengatakan tidak ada sakit
dibagian perut

4. Menganjurkan ibu klien untuk O:


memberikan makan-makanan lunak,
dan buah-buahan yang merangsang BAB (-)
BAB (pisang, pepaya)  Abdomen : suepel
H : M2 TKTP (pakek telur), makan  M2 TKTP + telur rebus
buah apel
 Makan apel (+)
R : Ibu klien mengatakan
memberikan makanan yang di  Lactulosa 3 x cth I
sediakan oleh RS dan pakek telur,
A:
Ibu klien mengatakan An. D hanya
mau makan buah apel Masalah pola eliminasi
belum teratasi
5. Berkolaborasi dalam pemberian
terapi sesuai indikasi

H : Lactulosa 3 x cth I P : Intervensi dilanjutkan


:
R : An. D mengatakan belum ada
BAB  Kaji eliminasi klien

 Auskultasi bunyi usus

 Anjurkan makan-makanan
lunak dan buah

 Kolaborasi dalam
pemberian terapi

3 Intoleransi 1. Mengkaji tingkat toleransi klien S:


aktivitas b/d terhadap aktivitas
kelemahan fisik,  Ibu klien mengatakan
H : Hanya bisa duduk dan terbaring bahwa An. D hanya bisa
tirah baring
berbaring dan duduk di
R : An. D mengatakan badanya
tempat tidur
lemah
 Ibu klien mengatakan
anaknya sulit bergerak
karena terpasang infus di
2. Mengkaji jumlah makanan yang
kaki sebelah kanan
dikonsumsi klien

H : Diet M2 TKTP 3x/hari, makan roti


(+), makan buah (+) O:

R : Ibu klien mengatakan An. D  Berbaring di tempat tidur


makan 3 x/hari tetapi tidak
dihabiskan  Terpasang infus di kaki
sebelah kanan

 k/u : lemah
3. Memberi penjelasan kepada ibu
untuk menjaga An. D agar tidak
banyak bergerak A:
H : An. D hanya terbaring di tempat Masalah aktivitas belum
tidur teratasi
R : Ibu klien mengatakan akan
membatasi aktivitas An. D
P : Intervensi dilanjutkan
:
4. Membantu klien melakukan aktivitas
 Kaji tingkat toleransi klien
sesuai kebutuhan terhadap aktivitas
H : Membantu An. D duduk  Bantu melakukan aktivitas
R : An. D mengatakan senang bisa sehari-hari sesuai
duduk kebutuhan

 Anjurkan untuk tiraj baring


selama fase akut
5. Melibatkan keluarga dalam
pemenuhan kebutuhan aktivitas  Libatkan keluarga dalam
pemenuhan kebutuhan
sehari-hari
aktivitas sehari-hari
H : Ibu klien bekerja sama dengan
baik

R : Ibu klien mengatakan mau


membantu perawat

6. Memberikan kesempatan pada klien


melakukan aktivitas sesuai indikasi
H : Bermain handphone

R : An. D senang bermain bola di HP

1 R Peningkatan 1. Mengukur tanda-tanda vital An. D S:


suhu tubuh
A (hipertermi) b/d H :  Ibu klien mengatakan
proses infeksi  T : 36,2 0C bahwa anaknya sudah
B tidak demam lagi
Salmonella
U Typhi  RR : 28 x/i  Ibu mengatakan akan
 HR : 92 x/i menjalankan anjuran
yang telah diberikan
O1 R : An. D sudah membaik dan apabila anaknya demam
terlihat lebih segar lagi

 Ibu klien mengatakan


M
masih memberikan obat
E 2. Menganjurkan ibu klien untuk
penurun panas karena
I memberikan banyak minum apabila
takut demamnya
demam
terulang lagi
H : Minum (+)
2013  Ibu klien berterima kasih
R : Ibu klien akan memberikan atas penjelasan yang
banyak minum apabila An. D demam telah diberikan
kepadanya

3. Menganjurkan ibu untuk melakukan


kompres hangat apabila demam O:
terulang kembali
 Ekspresi wajah ibu klien
H : Ibu akan melakukan kompres terlihat senang
hangat apabila demam lagi
 k/u : membaik
R : Ibu klien mengucapkan terima
 T : 36,5 0C, RR : 28 x/i, HR :
kasih atas anjuran yang diberikan
92 x/i

 Minum (+)
4. Berkolaborasi dalam pemberian
 Bibir lembab
terapi sesuai indikasi
 Paracetamol 3 x 1 tab
H:
 IVFD RL 30 gtt/i
 IVFD RL 30 gtt/i
 Cotrimoxazole 2 x cth II A:

 Paracetamol 3 x 1 tab Masalah peningkatan


suhu tubuh sudah
R : An. D mau meminum obat yang teratasi
telah diberikan

P : Intervensi dihentikan.

2 Gangguan pola1. Menanyakan eliminasi kepada An. D S :


eliminasi (BAB)
b/d konstipasi H : BAB (-)  Ibu klien mengatakan
bahwa anaknya sudah
R : An. D mengatakan belum ada
BAB tetapi sedikit
BAB, Ibu klien mengatakan anaknya
tidak ada merasakan sesak BAB.  Ibu klien mengatakan
feces anaknya keras dan
bau, berwarna kuning
2. Mendengarkan suara peristaltik usus
 Ibu klien mengatakan
H : Terdengar peristaltik usus anaknya juga makan
pisang walaupun harus
R : An. D mengatakan tidak ada dipaksa terlebih dahulu
sesak BAB
 Ibu klien mengatakan
siang ini anaknya makan
dengan nasi yang telah
3. Mengingatkan kembali ibu klien
disediakan dan pakai
untuk memberikan makan-makanan
telur
lunak, dan buah-buahan yang
merangsang BAB (pisang, pepaya)

H : M2 TKTP (pakek telur), makan O:


pisang (+)
 Peristaltik usus (+) 12 x/i
R : Ibu klien mengatakan anaknya
pagi ini makan dengan nasi, telur,  M2 TKTP + telur rebus
dan sayur bening  Makan pisang (+) ¼ bagian

 Lactulosa 3 x cth I
4. Berkolaborasi dalam pemberian
terapi sesuai indikasi
H : Diet M2 TKTP, Lactulosa 3 x cth I A:

Masalah pola eliminasi


teratasi

P : Intervensi dihentikan

3 Intoleransi 1. Mengevaluasi tingkat toleransi klien S :


aktivitas b/d terhadap aktivitas
kelemahan fisik,  Ibu klien mengatakan
tirah baring H : Duduk dan berbaring bahwa infus anaknya
sudah dilepas jam 11.00
R : An. D mengatakan badanya wib
sudah tidak lemas lagi dan ingin
berjalan  Ibu klien mengatakan
anaknya sudah membaik
karena sudah bisa
2. Membantu klien melakukan aktivitas berjalan dan bermain
sesuai kebutuhan bersama teman 1
ruangan
H : hanya bisa duduk karena
terpasang infus di kaki kanan  Ibu klien mengatakan
senang karena anaknya
R : An. D mengatakan minta besok sudah boleh
dilepaskan infusnya pulang

 Ibu klien mengatakan akan


menjaga anaknya agar
3. Mengingatkan untuk tirah baring
tidak terlalu kecapaian
apabila masih lemah
karena belum sembuh
H : k/u : membaik betul

R : An. D mengatakan ya  Ibu klien mengucapkan


terima kasih karena
sudah perduli dengan
anaknya
4. Melibatkan keluarga dalam
pemenuhan kebutuhan aktivitas
sehari-hari
O:
H : Makan dibantu, kencing dibantu,
dan duduk mandiri  Ekspresi ibu klien senang

 An. D terlihat senang dan


R : Ibu klien mengatakan aktivitas bermain bersama teman
anaknya masih harus dibantu 1 ruangan

 k/u : baik

 tampak lebih segar

A:

Masalah aktivitas teratasi

P : Intervensi dihentikan
oleh mahasiswa. Terapi
pengobatan dilanjutkan
oleh pegawai ruangan

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan

Typhoid adalah suatu penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran cerna dengan
gejala demam lebih dari 7 hari, gangguan pada saluran cerna dan gangguan kesadaran. Penyakit
pada usus yang menimbulkan gejala-gejala sistemik yang disebabkan oleh salmonella typhi,
salmonella type A.B.C penularan terjadi secara pecal, oral melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi.

Cara pencegahan penyakit typoid yang dilakukan adalah cuci tangan setelah dari toilet dan
khususnya sebelum makan atau mempersiapkan makanan, hindari minum susu mentah (yang belum
dipasteurisasi), hindari minum air mentah, rebus air sampai mendidih dan hindari makanan pedas.

B. Saran

Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan maka dengan adanya
makalah ini, diharapkan pembaca dapat memahami tentang penyakit typoid dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Djauzi & Sundaru. 2003. Imunisasi Dewasa. Jakarta : FKUI

Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius

Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit, Edisi 2. Jakarta : EGC

Soegeng, S. 2005. Ilmu Penyakit Anak “Diagnosa dan Penatalaksanaan”. Jakarta : Salemba Medika

Suryadi. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Jakarta : CV Agung Setia

Syamsuhidayat, W. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC