Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH ATONIA UTERI

Mata Kuliah : Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal

Dosen : Anita Rahmawati, SSiT, MPH

Disusun Oleh Kelompok 10 :

1. Dian Rahmayani P07124216064


2. Anisa Falahatul Qodar P07124216075
3. Aisyah Hernawati P07124216120

PRODI D IV KEBIDANAN REGULER B TINGKAT II


POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
TAHUN AKADEMIK 2017/2018

ii
LEMBAR PENGESAHAN

Judul Makalah : Atonia Uteri

Anggota Kelompok :

1. Dian Rahmayani P07124216064


2. Anisa Falahatul Q P07124216075
3. Aisyah Hernawati P07124216120

Prodi : Sarjana Terapan Reguler B Tingkat 2

Dosen Pengampu :Anita Rahmawati, S.SiT,MPH

Yogyakarta, 15 Maret 2018

Menyetujui, Mengetahui,

Anita Rahmawati, S.SiT,MP Dian Rahmayani

NIP.197108112002122001 NIM.P07124216064

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas
berkat limpahan rahmat, karunia dan hidayah Nya-lah kami dapat menyelesaikan
tugas makalah dari mata kuliah Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal dan
Neonatal yang berjudul “Atonia Uteri “ dengan tepat waktu.

Selain bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Asuhan Kebidanan


Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal, makalah ini juga disusun dengan maksud
agar pembaca dapat memperluas ilmu dan pengetahuan. Semoga makalah ini dapat
memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca dan dapat bermanfaat bagi
kita semua . Amin.

Yogyakarta, 15 Maret 2018

Penulis,

iii
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................................................... ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................................................... iii
BAB II..................................................................................................................................................... 5
PEMBAHASAN ..................................................................................................................................... 5
A. Latar Belakang ............................................................................................................................ 5
B. Materi .......................................................................................................................................... 5
C. Manfaat ....................................................................................................................................... 6
BAB II..................................................................................................................................................... 7
PEMBAHASAN ..................................................................................................................................... 7
A.Definisi ............................................................................................................................................ 7
B. Fisiologi Atonia Uteri..................................................................................................................... 7
C. Patofisiologi Atonia Uteri .............................................................................................................. 8
D. Etiologi Atonia Uteri ...................................................................................................................... 9
E. Faktor Presdisposisi Atonia Uteri ................................................................................................. 10
F. Tanda dan Gejala Atonia Uteri ..................................................................................................... 10
G. Manisfestasi Klinis ....................................................................................................................... 11
H. Pencegahan Atonia Uteri .............................................................................................................. 11
I. Penatalaksaan Antonia Uteri.......................................................................................................... 12
J. Insidensi Atonia Uteri ................................................................................................................... 13
K. Kewenangan Bidan ...................................................................................................................... 14
BAB III ................................................................................................................................................. 15
PENUTUP ............................................................................................................................................ 15
A. Kesimpulan .................................................................................................................................. 15
B. Saran ............................................................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 16

4
BAB II

PEMBAHASAN

A. Latar Belakang
Perdarahan setelah melahirkan adalah konsekuensi perdarahan
berlebihan dari tempat implantasi plasenta, trauma di traktus genitalia dan
traktus di sekitarnya, atau keduanya. Dengan demikian perdarahan
postpartum merupakan penjelasan suatu kejadian dan bukkan diagnosis.
Di inggris, separuh kematian ibu hamil akibat perdarahan disebabkan oleh
proses postpartum (Bonnar 2000).
Secara tradisional, perdarahan pascapartum didefinisikan sebagai
kehilangan 500 ml atau lebih darah setelah persalinan pervaginam atau
1000 ml atau lebih setelah sesar. Wanita dengan hipervolemia normal
akibat kehamilan biasanya mengalami peningkatan volume darah sebesar
30 hingga 60 persen yang bagi kebanyakan wanita, berarti 1 sampai 2 liter.
Oleh karena itu, wanita yang bersangkutan akan menoleransi pengeluaran
darah, tanpa mengalami penurunan yang nyata dalam hematokrit yang
mendekati volum darah yang ia tambahkan selama hamil. Meskipun
pengeluaran darah yang melebihi 500 ml beluum pasti merupakan suatu
kejadian abnormal untuk persalinan pervaginam, namun kehilangan darah
yang sebenarnya biasanya dua kali lipat dari pada yang diperkirakan.

B. Materi
1. Definisi atonia uteri
2. Fisiologi atonia uteri
3. Patofisiologi atonia uteri
4. Etiologi atonia uteri
5. Faktor predisposisi atonia uteri
6. Tanda dan gejala atonia uteri
7. Manifestasi klinis atonia uteri
8. Pencegahan atonia uteri
9. Penatalaksanaan atonia uteri
10. Insidensi atonia uteri
11. Kewenangan Bidan dalam menangani kasus atonia uteri.

5
C. Manfaat
1. Bagi mahasiswa bidan dapat mengetahui cara penanganan apabila
terjadi atonia uteri.
2. Bagi pembaca akan menambah pengetahuan mengenai atonia uteri
sehingga dapat mencegah terjadinya atonia uteri.

6
BAB II

PEMBAHASAN

A.Definisi
Atonia uteria (relaksasi otot uterus) adalah Uteri tidak berkontraksi
dalam 15 detik setelah dilakukan pemijatan fundus uteri (plasenta telah lahir).
(JNPKR, Asuhan Persalinan Normal, Depkes Jakarta ; 2002). Setelah
plasenta lahir, fundus harus selalu di palpasi untuk memastikan bahwa uterus
berkontraksi dengan baik. Kegagalan uterus untuk berkontraksi setelah
melahiirkan sering menjadi penyebab perdarahan obstetris. Faktor
predisposisi atonia uteri diperlihatkan di Tabel 56-1. Pembedahan antara
perdarahan akibat atonia uterus dan akibat laserasi secara tentatif di
dasarkan pada kondisi uterus. Uterus yang atoniik akan lembek dan tidak
keras pada palpasi. Jika tetap terjadi perdarahan meskipun uterus
berkontraksi dengan kuat, kausa perdarahanya kemungkinan besar adalah
laserasi. Darah yang merah segar juga mengisyaratkan laserasi. Uuntuk
memastikan peran laserasi sebagai kausa perdarahan, harus dillakukan
pemeriksaan yang cermat terhadap vagina, serviks dan uterus.
Kadang-kadang perdarahan disebabkan oleh atonia dan trauma,
terutama setelah pelahiran operatif mayor. Secara umum, setelah setiap
kelahiran harus dilakukan inspeksi terhadap inspeksi terhadap serviks dan
vagina untuk mengidentifkasi perdarahan akibat laserasi. Anestesi harus
adekuat untuk mencegah rasa tidak nyaman selama pemeriksaan ini.
Pemeriksaan ringga uterus, serviks dan seluruh vagina merupakan hal yang
esensial setelah ekstraksi bokong, setelah versi podalik iinterna, dan setelah
persalinan pervaginam pada seorang wanita dengan riwayat sesar. (Leveno,
Kennethj. 2009.)

B. Fisiologi Atonia Uteri


Menjelang aterm, diperkirakan bahwa sekitar 600 ml/ mnt darah
mengalir melalui ruang antarvilus. Saat plasenta terlepas, banyak arteri dan
vena yang menyalurkan darah menuju dan dari plasenta terputus secara
mendadak. Di tempat implantasi plasenta, diperlukan kontraksi dan retraksi
miometrium untuk menekan pembuluh-pembuluh tersebut dan menyebabkan
obliterasi lumen agar perdarahan dapat dikendalikan. Potongan plasenta atau
bekuan darah yang melekat akan menghambat kontraksi dan retraksi efektif

7
miometrium sehingga hemostasis di tempat implantasi tersebut terganggu.
Jika miometrium di tempat implantasi plasenta dan disekitarnya berkontraksi
dan beretraksi dengan kuat, kecil kemungkinan terjadi perdarahan yang fatal
meskipun terjadi gangguan mekanisme pembekuan yang hebat. Selama kala
tiga persalinan, akan terjadi perdarahan tak-terhindarkan yang disebabkan
oleh pemisahan parsial sementara plasenta. Sewaktu plasenta terlepas,
darah dari tempat implantasi dapat cepat lolos kedalam vagina (pemisahan
duncan) atau tersembunyi di balik plasenta dan membran (pemisahan
schultze) sampai plasenta lahir. Turunnya plasenta ditandai oleh kendurnya
tali pusat. Jika perdarahan menetap, diindikasikan pengeluaran plasenta
secara manual. Uteus harus di pijat jika tidak berkontraksi dengan kuat.
(Leveno, Kennethj 2009).

C. Patofisiologi Atonia Uteri


Perdarahan obstetri sering disebabkan oleh kegagalan uterus untuk
berkontraksi secara memadai setelah pelahiran. Pada banyak kasus,
perdarahan postpartum dapat diperkirakan jauh sebelum pelahiran. Contoh-
contoh ketika trauma dapat menyebabkan perdarahan postpartum anatara
lain pelahiran janin besar, pelahiran dengan forseps tengah, rotasi forseps,
setiap manipulasi intrauterus, dan mungkin persalinan pervaginam setelah
seksio sesarea (VBAC) atau insisi uterus lainnya. Atonia uteri yang
menyebabkan perdarahan dapat diperkirakan apabila digunakan zat-zat
anestetik berhalogen dalam konsentrasi tinggi yang menyebabkan relaksasi
uterus
Uterus yang mengalami overdistensi besar kemungkinan besar
mengalami hipotonia setelah persalinan. Dengan demikian, wanita dengan
janin besar, janin multipel, atau hidramnion rentan terhadap perdarahan
akibat atonia uteri. Kehilangan darah pada persalinan kembar, sebagai
contoh, rata-rata hampir 1000 ml dan mungkin jauh lebih banyak. Wanita
yang persalinannya ditandai dengan his yang terlalu kuat atau tidak efektif
juga dengan kemuungkinan mengalami perdarahan berlebihan akibat atonia
uteri setelah melahirkan. Demikian juga, persalinan yang dipicu atau dipacu
dengan oksitosin lebih rentan mengalami atonia uteri dan perdarahan
postpartum. Wanita dengan paritas tinggi mungkin berisiko besar mengalami
atonia uteri. melaporkan hasil akhir pada hampir 5800 wanita para 7 atau
lebih. Mereka melaporkan bahwa insiden perdarahan postpartum sebesar 2,7
persen pada para wanita ini meningkat empat kali lipat dibandingkan dengan
populasi obstetri umum. Babinszki melaporkan insiden perdarahan

8
postpartum sebesar 0,3 persen pada wanita dengan paritas rendah, tetapi 1,9
persen pada mereka dengan para 4 atau lebih.

D. Etiologi Atonia Uteri


Overdistensi uterus,baik absolut maupuun relatif, merupakan faktor
resiko mayor terjadinya atonia uteri. Overdistensi uterus dapat disebabkan
oleh kehamilan ganda, janin makrosomia, polihidramnion atau abnormalitas
janin (misal hidrosefalus berat), kelainan struktur uterus atau kegagalan untuk
melahirkan plasenta atau distensi akibat akumulasi darah di uterus baik
sebelum maupun plasenta lahir. Lemahnya kontraksi moimetrium merupakan
akibat dari kelelahan karena persalinan lama atau persalinan dengan tenaga
besar, terutama biila mendapatkan stimmulasi. Hal ini dapat pula terjadi
sebagai akibat dari iinhibisi kontraksi yang disebabkan oleh obat-obatan,
seperti agen anestesi terhalogenisasi, nitrat, obat-obat antiinflamasi
nonsteroid, magnesium sulfat, beta simpatomimetik dan nifedipin. Penyebab
lain yaitu plasenta letak rendah, toksin bakteri (korioamnionitis,
endomiometritis, septikemia), hipoksia akibat hipoperfusi atau uterus
couvelaire pada abruptio plasenta dan hipotermia akibat resusitasi masif.

Faktor penyebab terjadinya atonia uteri adalah :


1. Atonia Uteri
a. Umur : Umur yang terlalu muda atau tua.
b. Paritas : Sering dijumpai para multipara dan grandemultipara.
c. Partus lama dan partus terlantar.
d. Obstein operatif dan narkosa.
e. Uterus terlalu tegang dan besar, misalnya pada gemeli, hidramnion,
atau janin besar.
f. Kelainan pada uterus, seperti mioma uteri.
2. Sisa plasenta dan selaput ketuban.
3. Jalan lahir : robekan perineum, vagina serviks, famiks dan rahim.
4. Penyakit darah.
5. Kelainan pembekuan darah misalnya hipofibrinogenemia.
6. Perdarahan yang banyak.
7. Solusio plasenta.
8. Kematian janin yang lama dalam kandungan.
9. Pre-eklamsi dan eklamsi.
10. Infeksi, hepatitis dan septik syok

9
E. Faktor Presdisposisi Atonia Uteri
Perdarahan oleh karena atonia uteri dapat dicegah dengan :
1. Melakukan secara rutin manajemen aktif kala III pada semua wanita
yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan insidens perdarahan
yang pasca persalinan akibat atonia uteri.
2. Pemberian misoprostol peroral 2-3 tablet (400-600 µg) segera setelah
bayi lahir.
Beberapa faktor predisposisi terjadinya atonia uteri adalah :
1. Regangan rahim yang berlebihan karena kehamilan gemeli,
polihidramnion, atau anak teralu besar.
2. Kelelahan karena persalinan lama atau persalinan kasep.
3. Persalinan grande-multipara.
4. Ibu dengan keadaan umum yang jelek, anemis atau menderita penyakit
menahun.
5. Mioma uteri yangmenggangu kontraksi rahim.
6. Infeksi intrauterin (korioamnionitis).
7. Ada riwayat pernah atonia uteri sebelumnya.

F. Tanda dan Gejala Atonia Uteri


1. Perdarahan Pervaginam
Perdarahan yang sangat banyak dan darah tidak merembes. Peristiwa
sering terjadi pada kondisi ini adalah darah keluar disertai gumpalan
disebabkan tromboplastin sudah tidak mampu lagi sebagai anti pembeku
darah.
2. Konsistensi Rahim Lunak
Gejala ini merupakan gejala terpenting/khas atonia dan yang
membedakan atonia dengan penyebab perdarahan yang lainnya.
3. Tinggi Fundus uteri naik.
4. Terdapat tanda-tanda syok
a. nadi cepat dan lemah (110 kali/ menit atau lebih).
b. tekanan darah sangat rendah : tekanan sistolik < 90 mmHg
c. pucat
d. keriangat/ kulit terasa dingin dan lembap
e. pernafasan cepat frekuensi30 kali/ menit atau lebih
f. gelisah, binggung atau kehilangan kesadaran
g. urine yang sedikit ( < 30 cc/ jam)

10
G. Manisfestasi Klinis
1. Uterus tidak berkontraksi dan lembek.
2. Perdarahan segera setelah anak lahir (post partum primer)
Gejala klinis umum yang terjadi ialah kehhilangan darah dalam
jumlah banyak > 500 ml ), nadi lemah, pucat, lochea berwarna merah,
haus, pusing, gelisah, letih dan dapat terjadi syol hipovolemik, tekanan
darah rendah, ekstremitas dingin, mual.

H. Pencegahan Atonia Uteri


Pemberian oksitosin rutin pada kala III dapat mengurangi risiko
perdarahan pospartum lebih dari 40%, dan juga dapat mengurangi kebutuhan
obat tersebut sebagai terapi. Menejemen aktif kala III dapat mengurangi
jumlah perdarahan dalam persalinan, anemia, dan kebutuhan transfusi darah.
Kegunaan utama oksitosin sebagai pencegahan atonia uteri yaitu
onsetnya yang cepat, dan tidak menyebabkan kenaikan tekanan darah atau
kontraksi tetani seperti ergometrin. Pemberian oksitosin paling bermanfaat
untuk mencegah atonia uteri. Pada manajemen kala III harus dilakukan
pemberian oksitosin setelah bayi lahir. Aktif protokol yaitu pemberian 10 unit
IM, 5 unit IV bolus atau 10-20 unit per liter IV drip 100-150 cc/jam.
Analog sintetik oksitosin, yaitu karbetosin, saat ini sedang diteliti
sebagai uterotonika untuk mencegah dan mengatasi perdarahan pospartum
dini. Karbetosin merupakan obat long-acting dan onset kerjanya cepat,
mempunyai waktu paruh 40 menit dibandingkan oksitosin 4-10 menit.
Penelitian di Canada membandingkan antara pemberian karbetosin bolus IV
dengan oksitosin drip pada pasien yang dilakukan operasi sesar. Karbetosin
ternyata lebih efektif dibanding oksitosin.
1. Oksitosin
Jika uterus tidak keras, diindikasikan pemijatan fundus kuat-
kuat. Dua puluh unit (2 ampul) oksitosin dalam 1000 ml ringer laktat
atau salin normal umumnya efektif jika diberikan secara intravena
dengankecepatan sekitar 10 ml/mnt (200 Mu oksitosin per menit)
dibarengi dengan pemijatan uterus. Oksitosin jangan diberikan sebagai
dosisi bolus yang tidak diencerkan karena.

2. Turunan Ergot
Jika oksitosin yang disalurkan secara cepat melalui infus
terbukti tidak efektif, sebagian dokter memberikan metilergonovin
(Mathergine), 0,2 mg, secara intramuskulus atau intravena. Obat ini
dapat merangsang uterus untuk berkontraksi menghentikan
perdarahan. Jika diberikan secara intravena, metilergonovin dapat

11
menyebabkan hipertensi yang berbahaya, teutama pada wanita
preeklamsia.

3. Prostaglandin
Turunan 15 methyl dari prostaglandin F2α (Hemabate) juga
dapat digunakan untuk mengatasi atonia uterus. Dosis awal yang
dianjurkan adalah 250 µg (0,25 mg) secara intramuskulus, dan hal ini
diulangi jika diperlukan dengan interval 15 hingga 90 menit hingga
maksimum 8 dosis. Selain kontriksi vaskuler dan saluran napas paru,
efek samping lain adalah diare, hipertensi, muntah, demam, flushing
dan takikardi.

4. Perdarahan yang tidak responsif terhadap oksitosik


Perdarahan yang berlanjut setelah beberapa kali pemberian
obat oksitosik mungkin berasal dari laserasi jalan lahir, termasuk dari
pada beberapa kasus ruptur uterus. Karena itu, jika perdarahan
menetap, jangan membuang-buang waktu dengnan melakukan upaya-
upaya acak untk menghentikan perdarahan, tetapi harus segera
dimulai suatau penatalaksanaan seperti di Tabel 56-2. Dengan
transfusi dan kompresi uterus dengan tangan serta oksitosin intravena,
jarang diperlukan tindakan tambahan. Bila atonia tidak teratasi,
mungkin diperlukan histerektomi sebagai tindakan untuk
menyelamatkan nyawa. Cara lain yang mungkin berhasil adalah ligasi
arteri uterina, ligasi arteri illiaka interna, atau embolisasi angiografik.

I. Penatalaksaan Antonia Uteri


1. Kenali dan tegakan diagnosis kerja atonia uteri.
2. Masase uterus, berikan oksitosin dan ergometrin intravena, bila ada
perbaikan dan perdarahan berhenti, oksitosin dilanjutkan perinfus.
3. Bila tidak ada perbaikan dilakukan kompresi bimanual, dan kemudian
dipasang tampon uterovaginal padat. Kalau cara ini berhasil,
dipertahankan selama 24 jam.
4. Kompresi bimanual eksternal, menekan uterus melalui dinding abdomen
dengan jalan saling mendekatkan kedua belah telapak tangan yang
melingkupi uterus. Pantau aliran darah yang keluar. Bila perdarahan
berkurang, kompresi diteruskan, pertahankan hingga uterus dapat kembali
berkontraksi. Bila belum berhasil dilakukan kompresi bimanual internal.

12
5. Kompresi bimanual internal, uterus ditekan diantara telapak tangan pada
dinding abdomen dan tinju tangan dalam vagina untuk menjepit pembuluh
darah didalam miometrium (sebagai pengganti mekanisme kontraksi).
Perhatikan perdarahan yang terjadi. Pertahankan kondisi ini bla
perdarahan berkurang atau berhenti, tunggu hingga uterus berkontraksi
kembali. Apabia perdarahan tetap terjadi, coba kompresi aorta
abdominalis.
6. Kompresi aorta abdominalis, raba arteri femoralis dengan ujung jari
tangan kiri, pertahankan posisi tersebut, genggam tangan kanan
kemuadian tekankan pada daerah umbilikus, tegak lurus dengan sumbu
badan, hingga mencapai kolumna vertebralis. Penekanan yang tepat akan
menghentikan atau sangat mengurangi denyut arteri femoralis. Lihat hasil
kompresi dengan memperhatikan perdarahan yang terjadi.
7. Dalam keadaan uterus tidak respon terhadap oksitosin/ergometrin, bisa
dicoba prostaglandin F2a (250 mg) secara intramuskular atau langsung
pada miometrium (transabdominal). Bila perlu pemberiannya dapat
diulang dalam 5 menit dan tiap 2 atau 3 jam sesudahnya.
8. Laparotomi dilakukan bila uterus tapi lembek dan perdarahan yang terjadi
tetap>200 ml/jam. Tujuan laparotomi adalah meligasi arteri uterina atau
hipogastrik (khusus untuk penderita yang belum punya anak atau muda
sekali).
9. Bila tidak berhasil, histerektomi adalah langkah terakhir. Histerektomi
adalah pengangkatan rahim atau uterus dengan metode pembedahan.

J. Insidensi Atonia Uteri


Perdarahan merupakan penyebab kematian nomor satu (40-60%)
kematian ibu melahirkan di Indonesia. Atonia Uteri merupakan penyebab
terbanyak perdarahan post partum dini (50%).

13
K. Kewenangan Bidan
Dalam menangani kasus kegawatdaruratan perdarahan yang
disebabkan oleh atonia uteri bidan memiliki kewenangan seperti berikut.

14
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Atonia uteri adalah keadaan lemahnya tonus / kontraksi rahim yang
menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat
implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir. Perdarahan oleh karena
atonia uteri dapat dicegah dengan. Melakukan secara rutin manajemen aktif
kala III pada semua wanita yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan
insiden pendarahanpasca persalinan akibat atonia uteri.Pemberian
misoprostol peroral 2 – 3 tablet (400 – 600 µg) segera setelah bayi lahir.
Regangan rahim berlebihan karena gemeli, polihibramnion, atau anak terlalu
besar. Kelelahan karena persalinan lama atau persalina kasep. Kehamilan
grande-multipara. Ibu dengan keadaan umum yang jelek, anemis, atau
menderita penyakit menahun. Mioma uteri yang menggangu kontraksi rahim.
Infeksi intrauterin (korioamnionitis). Ada riwayat pernah atonia uteri
sebelumnya.

B. Saran
Diharapkan bidan serta tenaga kesehatan lainnya mampu
meminimalkan faktor risiko dari atonia uteri demi mempertahankan dan
meningkatkan status derajat kesehatan ibu dan anak. Selain itu , mahasiswa
dengan latar belakang medis sebagai calon tenaga kesehatan mampu
menguasai baik secara teori maupun skil untuk dapat diterapkan pada
masyarakat secara menyeluruh.

15
DAFTAR PUSTAKA

Maryunani, Anik. 2009. Asuhan Kegawatdaruratan Dalam Kebidanan. Jakarta : CV.


Trans Info Media.

Saifudin, Abdul Bari. 2010, Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal
dan Neonatal. Jakarta : PT. Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo

Rohani dkk. 2011. Asuhan Kebidanan Pada Masa Persalinan. Jakarta: Salemba
Medika

16