Anda di halaman 1dari 15

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN THYPOID PADA ANAK

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anak


Keperawatan Program Sarjana

1. Miftakhul Nurhasanah (A11701581)


2. Miftachul Jannah (A11701582)
3. Mochamad Lukman (A11701583)
4. Muhamad Faris (A11701584)
5. Mutia Alifa R (A11701585)
6. Nabilla Putri Ibrahim (A11701586)
7. Nanang Aziz Luthfi (A11701587)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH GOMBONG

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah saya dapat menyelesaikan makalah ini sebatas
pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki.

Saya sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan
serta pengetahuan kita mengenai “Makalah Asuhan Keperawatan Thypoid Pada Anak”.

Saya juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan-
kekurangan dan jauh dari apa yang saya harapkan. Untuk itu, saya berharap adanya kritik,
saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya.Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi saya sendiri
maupun orang yang membacanya. Sebelumnya saya mohon maaf apabila terdapat kesalahan
kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan di masa depan.

Gombong, 12 November 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL .................................................................................. 1


KATA PENGANTAR ................................................................................... 2
DAFTAR ISI.................................................................................................. 3
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................. 4
A. Latar Belakang .................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah ............................................................................... 4
C. Tujuan.................................................................................................. 5
BAB II PEMBAHASAN ............................................................................... 6
A. Definisi ................................................................................................ 6
B. Etiologi ................................................................................................ 6
C. Patofisiologi ........................................................................................ 7
D. Manivestasi Klinis............................................................................... 8
E. Penatalaksanaan ................................................................................. 10
F. Pemeriksaan Penunjang ..................................................................... 11
G. Pathway ............................................................................................. 12
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ....................................................... 13
A. Pengkajian ........................................................................................ 13
B. Diagnosa .......................................................................................... 14
C. Intervensi.......................................................................................... 14
BAB IV PENUTUP .........................................................................................
A. Kesimpulan ..........................................................................................
B. Saran ....................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG


Typhoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala demam satu
minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa
gangguan kesadaran (Rampengan, 2008).
Demam typhoid adalah suatu penyakit infeksi sistematik bersifat akut yang
disebabkan oleh Salmonella typhi (Sumarmo, 2008).
Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada
pencernaan dan gangguan kesadaran (Nursalam, 2005).
Demam tifoid (Tifus abdominalis, enteric fever) ialah penyakit infeksi akut yang
biasanya terdapat padasaluran cerna dengan gejala demam satu minggu atau lebih
disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran
(Astuti, 2013).
Thypoid merupakan penyakit infeksi akut usus halus yang disebabkan oleh
salmonella typhi, salmonella paratyphi A, salmonella paratyphi B, salmonella paratyphi
C. Penyakit ini mempunyai tanda-tanda khas berupa perjalanan yang cepat yang
berlangsung kurang lebih 3 minggu disertai gejala demam, nyeri perut dan erupsi kulit.
Penyakit ini termasuk dalam penyakit daerah tropis dan penyakit ini sangat sering
dijumpai di Asia termasuk di Indonesia.

1.2. RUMUSAN MASALAH


1. Mengetahui tentang definisi thypoid
2. Mengetahui tentang etiologi thypoid
3. Mengetahui tentang patofisiologi thypoid
4. Mengetahui tentang manivestasi klinis thypoid
5. Mengetahui tentang penatalaksanaan thypoid
6. Mengetahui tentang pemeriksaan penunjang thypoid
7. Mengetahui tentang asuhan keperawatan thypoid pada anak berdasarkan NANDA
NOC NIC

4
1.3. TUJUAN
1. Pembaca dapat mengetahui tentang definisi thypoid
2. Pembaca dapat mengetahui tentang etiologi thypoid
3. Pembaca dapat mengetahui tentang patofisiologi thypoid
4. Pembaca dapat mengetahui tentang manivestasi klinis thypoid
5. Pembaca dapat mengetahui tentang penatalaksanaan thypoid
6. Pembaca dapat mengetahui tentang pemeriksaan penunjang thypoid
8. Pembaca dapat mengetahui tentang asuhan keperawatan thypoid pada anak
berdasarkan NANDA NOC NIC.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi
Typhoid merupakan penyakit infeksi akut pada usus halus dengan gejala
demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan
atau tanpa gangguan kesadaran (Rampengan, 2008).
Demam typhoid adalah suatu penyakit infeksi sistematik bersifat akut yang
disebabkan oleh Salmonella typhi (Sumarmo, 2008).
Demam typhoid adalah penyakit infeksi akut yang biasanya mengenai saluran
pencernaan dengan gejala demam yang lebih dari satu minggu, gangguan pada
pencernaan dan gangguan kesadaran (Nursalam, 2005).

B. Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah bakteri Salmonella typhi. Infeksi umumnya
diperoleh dari makanan atau air yang terkontaminasi bakteri dari tinja yang
terinfeksi (Valman, 2006).
Etiologi penyakit demam typhoid menurut Rampengan (2008) disebabkan
oleh infeksi kuman Salmonella typhos atau Eberthella typhosa yang merupakan
kuman gram negative, motil dan tidak menghasilkan spora. Kuman ini dapat hidup
baik sekali pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang sedikit lebih rendah, serta
mati pada suhu 70˚c ataupun oleh antiseptik. Sampai saat ini, diketahui bahwa
kuman ini hanya menyerang manusia.
Salmonella typhosa mempunyai 3 macam antigen, yaitu :
a. Antigen O = Ohne Hauch = antigen somatic (tidak menyebar).
b. Antigen H = Hauch (menyebar), terdapat pada flgela dan bersifat termolabil.
c. Antigen V1 = Kapsul = merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan
melindungi antigen O terhadap fagositosis.
Ketiga jenis antigen tersebut di dalam tubuh manusia akan menimbulkan
pembentukan tiga macam antibodi yang lazim disebut agglutinin. Salmonella
typhosa juga memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan dengan resistensi
terhadap multiple antibiotic.
Ada 3 spesies utama, yaitu :
a. Salmonella typhosa (satu serotipe).

6
b. Salmonella choleraesius (satu serotipe).
c. Salmonella enteretidis (lebih dari 1500 serotipe).

C. Patofisiologi
Penyakit typhoid adalah penyakit menular yang sumber infeksinya berasal
dari feses dan urine, sedangkan lalat sebagai pembawa atau penyebar dari kuman
tersebut (Ngastiyah, 2005).
Kuman masuk melalui mulut. Sebagian kuman akan dimusnahkan dalam
lambung oleh asam lambung dan sebagian lagi masuk ke usus halus, ke jaringan
limfoid dan berkembang biak menyerang vili usus halus kemudian kuman masuk ke
peredaran darah (bakterimia primer), dan mencapai sel-sel retikulo endoteleal, hati,
limpa dan organ-organ lainnya ( Suriadi, 2006).
Proses ini terjadi dalam masa tunas dan akan berakhir saat sel-sel retikulo
endotelial melepaskan kuman ke dalam peredaran darah dan menimbulkan
bakterimia untuk kedua kalinya. Selanjutnya kuman masuk ke beberapa jaringan
organ tubuh, terutama limpa, usus dan kandung empedu. Pada minggu pertama sakit,
terjadi Hiperplasia plaks player. Ini terjadi pada kelenjar limfoid usus halus. Minggu
ke dua terjadi nekrosis dan pada minggu ke tiga terjadi Ulserasi plaks player. Pada
minggu keempat terjadi penyembuhan ulkus yang dapat menimbulkan sikatrik.
Ulkus dapat menyebabkan perdarahan, bahkan sampai perforasi usus. Selain itu
hepar, kelenjar mesentrial dan limpa membesar. Gejala demam disebabkan oleh
endotoksil, sedangkan gejala pada saluran pencernaan disebabkan oleh kelaianan
pada usus halus (Suriadi, 2006).
Perjalanan penyakit demam typhoid juga di sampaikan oleh Rohim (2002)
adalah: pada fase awal demam typhoid biasa ditemukan adanya gejala saluran napas
atas. Ada kemungkinan sebagian kuman ini masuk ke dalam peredaran darah
melalui jaringan limfoid di faring. Terbukti dalam suatu penelitian bahwa
Salmonella typhi berhasil diisolasi dari jaringan tonsil penderita demam typhoid,
walaupun pada Salmonella typhi percobaan lain seseorang yang berkumur dengan
air yang mengandung hidup ternyata tidak menjadi terinfeksi. Pada tahap awal ini
penderita juga sering mengeluh nyeri telan yang disebabkan karena kekeringan
mukosa mulut. Lidah tampak kotor tertutup selaput berwarna putih sampai
kecoklatan yang merupakan sisa makanan, sel epitel mati dan bakteri, kadang-

7
kadang tepi lidah tampak hiperemis dan tremor. Bila terjadi infeksi dari nasofaring
melalui saluran tuba eustachi ke telinga tengah dan hal ini dapat terjadi otitis media.
Perubahan pada jaringan limfoid didaerah ileocecal yang timbul selama
demam typhoid dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu: hyperplasia, nekrosis
jaringan, ulserasi, dan penyembuhan. Adanya perubahan pada nodus peyer tersebut
menyebabkan penderita mengalami gejala intestinal yaitu nyeri perut, diare,
perdarahan dan perforasi. Diare dengan gambaran pea soup merupakan karakteristik
yang khas, dijumpai dari 50% kasus dan biasanya timbul pada minggu kedua.
Karena respon imunologi yang terlibat dalam patogenesis demam typhoid adalah sel
mononuklear maka keterlibatan sel poli morfo nuclear hanya sedikit dan pada
umumnya tidak terjadi pelepasan prostaglandin sehingga tidak terjadi aktivasi adenil
siklase. Hal ini menerangkan mengapa pada serotipe invasif tidak didapatkan adanya
diare. Tetapi bila terjadi diare seringkali hal ini mendahului fase demam enterik.
Penulis lain mengatakan bahwa diare dapat terjadi oleh karena toksin yang
berhubungan dengan toksin kolera dan enterotoksin E. coli yang peka terhadap
panas.
Nyeri perut pada demam typhoid dapat bersifat menyebar atau terlokalisir di
kanan bawah daerah ileum terminalis. Nyeri ini disebabkan karena mediator yang
dihasilkan pada proses inflamasi (histamine, bradikinin, dan serotonin) merangsang
ujung saraf sehingga menimbulkan rasa nyeri. Selain itu rasa nyeri dapat disebabkan
karena peregangan kapsul yang membungkus hati dan limpa karena organ tersebut
membesar.
Perdarahan dapat timbul apabila proses nekrosis sudah mengenai lapisan
mukosa dan submukosa sehingga terjadi erosi pada pembuluh darah. Konstipasi
dapat terjadi pada ulserasi tahap lanjut, dan merupakan tanda prognosis yang baik.
Ulkus biasanya menyembuh sendiri tanpa meninggalkan jaringan parut, tetapi ulkus
dapat menembus lapisan serosa sehingga terjadi perforasi. Pada keadaan ini tampak
adanya distensi abdomen. Distensi abdomen ditandai dengan meteorismus atau
timpani yang disebabkan konstipasi dan penumpukan tinja atau kurangnya tonus
pada lapisan otot intestinal atau lambung.

D. Manifestasi Klinis
Menurut ngastiyah (2005), demam thypoid pada anak biasanya lebih ringan
daripada orang dewasa. Masa tunas 10-20 hari, yang tersingkat 4 hari jika infeksi

8
terjadi melalui makanan, sedangkan jika melalui minuman yang terlama 30 hari.
Selama masa inkubasi mungkin ditemukan gejala prodromal, perasaan tidak enak
badan, lesu, nyeri, nyeri kepala, pusing dan tidak bersemangat, kemudian menyusul
gejala klinis yang biasanya ditemukan, yaitu:
1. Demam
Pada kasus yang khas, demam berlangsung 3 minggu bersifat febris remitten dan
suhu tidak tinggi sekali. Minggu pertama, suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap
hari, menurun pada pagi hari dan meningkat lagi pada sore dan malam hari.
Dalam minggu ketiga suhu berangsur turun dan normal kembali.
2. Gangguan pada saluran pencernaan
Pada mulut terdapat nafas berbau tidak sedap, bibir kering dan pecah-pecah
(ragaden). Lidah tertutup selaput putih kotor (coated tongue), ujung dan tepinya
kemerahan. Pada abdomen dapat ditemukan keadaan perut kembung. Hati dan
limpa membesar disertai nyeri dan peradangan.
3. Gangguan kesadaran
Umumnya kesadaran pasien menurun, yaitu apatis sampai samnolen. Jarang
terjadi supor, koma atau gelisah (kecuali penyakit berat dan terlambat
mendapatkan pengobatan). Gejala lain yang juga dapat ditemukan pada punggung
dan anggota gerak dapat ditemukan reseol, yaitu bintik-bintik kemerahan karena
emboli hasil dalam kapiler kulit, yang ditemukan pada minggu pertama demam,
kadang-kadang ditemukan pula trakikardi dan epistaksis.
4. Relaps
Relaps (kambuh) ialah berulangnya gejala penyakit demam thypoid, akan tetap
berlangsung ringan dan lebih singkat. Terjadi pada minggu kedua setelah suhu
badan normal kembali, terjadinya sukar diterangkan. Menurut teori relaps terjadi
karena terdapatnya basil dalam organ-organ yang tidak dapat dimusnahkan baik
oleh obat maupun oleh zat anti.
Soedarto (2007) mengemukakan bahwa manifestasi klinis klasik yang umum
ditemui pada penderita demam typhoid biasanya disebut febris remitter atau demam
yang bertahap naiknya dan berubah-ubah sesuai dengan keadaan lingkungan dengan
perincian :
1. Minggu pertama, demam lebih dari 40°C, nadi yang lemah bersifat dikrotik,
dengan denyut nadi 80-100 per menit.

9
2. Minggu kedua, suhu tetap tinggi, penderita mengalami delirium, lidah tampak
kering mengkilat, denyut nadi cepat. Tekanan darah menurun dan limpa dapat
diraba.
3. Minggu ketiga, jika keadaan membaik : suhu tubuh turun, gejala dan keluhan
berkurang. Jika keadaan memburuk : penderita mengalami delirium, stupor, otot-
otot bergerak terus, terjadi inkontinensia alvi dan urine. Selain itu terjadi
meteorisme dan timpani, dan tekanan perut meningkat, disertai nyeri perut.
Penderita kemudian kolaps, dan akhirnya meninggal dunia akibat terjadinya
degenerasi mikardial toksik.
4. Minggu keempat, bila keadaan membaik, penderita akan mengalami
penyembuhan meskipun pada awal minggu ini dapat dijumpai adanya pneumonia
lobar atau tromboflebitis vena femoralis.

E. Penatalaksanaan
1. Non farmakologi
a. Bed rest
b. Diet, diberikan bubur saring kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai
dengan tingkat kesembuhan pasien. Diet berupa makanan rendah serat.
2. Farmakologi
a. Kloramfenikol, dosis 50 mg/kgBB/hari terbagi 3-4 kali pemberian, oral atau iv
selama 14 hari.
b. Bila ada kontraindikasi kloramfenikol diberikan ampicilin dengan dosis 200
mg/kgBB/hari, terbagi selama 3-4 kali. Pemberian, intravena saat belum dapat
minum obat, selama 21 hari, atau amoxicilin dengan dosis 100 mg/kgBB/har,
terbagi dalam 3-4 kali. Pemberian, oral/iv selama 21 hari kontrimoxasol
dengan dosis (tmp) 8 mg/kgBB/hari terbagi dalam 2-3 kali pemberian, oral
selama 14 hari.
c. Pada kasus berat, dapat diberi cefriaxon dengan dosis 50 mg/kgBB/hari dan
diberikan 2 kali sehari atau 80 mg/kgBB/hari, sekali sehari, intravena, selama
5-7 hari.
d. Pada kasus yang diduga mengalami MDR, maka pilihan antibiotika adalah
meropenem, azithromicin dan flouroquinolon.

10
F. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Rutin
Walaupun pada pemeriksaan darah perifer lengkap sering di temukan
leukopenia dapat pula terjadi kadar leukosit normal atau leukositosis dapat
terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder. Selain itu dapat pula
ditemukan anemia ringan dan trombositopenia. Pada pemeriksaan hitung jenis
leukosit demam typhoid dapat meningkat.
SGOT dan SGPT seringkali meningkat, tetapi akan kembali normal
setelah sembuh. Kenaikan SGOT dan SGPT tidak memerlukan penanganan
khusus.
2. Kultur Darah
Hasil biakan darah yang pasif memastikan demam typhoid akan tetapi
hasil negative tidak menginginkan demam typhoid, karena mungkin disebabkan
beberapa hal sebagai berikut:
a. Telah mendapat terapi antibiotik.
b. Volume darah yang timbul kurang.
c. Riwayat vaksinasi.
3. Uji Widal.
Uji widal dilakukan untuk deteksi antibody terhadap kuman salmonella
typhi. Pada uji widal terjadi suhu reaksi aglutinasi antara antigen kuman
salmonella typhi dengan antibody disebut aglutinin. Antigen yang digunakan
pada uji widal adalah untuk menentukan adanya aglutinin dalam serum
penderita tersangka typhoid yaitu :
a. Aglutinin O (dari tubuh kuman).
b. Aglutinin H (flagella kuman).
c. Aglutinin Vi (sampai kuman).
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang digunakan.
Semakin tinggi liternya semakin besar kemungkinan terinfeksi kuman ini.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi uji widal yaitu :
a. Pengobatan dini dengan antibiotik.
b. Gangguan pembentukan antibody dan pemberian kortikosteroid.
c. Waktu pengambilan darah.
d. Darah endemik atau non endemik.
e. Riwayat vaksinasi.

11
f. Reaksi anamnestik.
g. Faktor teknik pemeriksaan antar laboratorium akibat aglutinin silang dan
strain Salmonella yang digunakan untuk suspensi antigen.

G. Pathway

Salmonella typhosa

Saluran pencernaan

Diserap oleh usus halus

Bakteri masuk aliran darah sistemik endotoksin

Kelenjar tiroid usus halus


Infasi kuman pada limpa Kurangnya demam
usus halus informasi

tukak
Peradangan pada splenomegali
usus halus

Defisit
Pendarahan dan pengetahuan hipertermi
perforasi
Reaksi inflamasi

Mual/tidak nafsu makan

Resiko kekurangan volume cairan


Nyeri

Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

12
BAB III

TINJAUAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
1. Identitas sering ditanyakan pada anak berumur diatas 1 tahun
2. Keluhan utama berupa perasaan tidak enak badan, lesu, nyeri kepala, pusing dan
kurang bersemangat, serta nafsu makan kurang (terutama selama masa inkubasi)
3. Suhu tubuh. Pada kasus yang khas, demam berlangsung selama tiga minggu,
bersifat febris remiten, dan suhunya tidak tinggi sekali. Selam minggu pertama
suhu tubuh berangsur-angsur naik setiap harinya. Biasanya menurun pada pagi hari
dan meningkat lagi pada sore hari dan malam hari. Dalam minggu ke dua, pasien
terus berada dalam keadaan demam. Pada minggu ke 3 suhu berangsur turun dan
normal kembali pada akhir minggu ke tiga.
4. Kesadaran. Umumnya kesadaran pasien menurun walaupun tidak terlalu parah,
yaitu apatis – somnolen. Jarang terjadi sopoor, koma, atau gelisah (kecuali jika
penyakitnya berat dan terlambat menapat pengobatan). Pada punggung dan
anggota gerak terdapat rescola, yaitu bintik-bintik kemerahan karena emboli basil
dalam kapiler kulit yang dapat ditemukan pada minggu pertama demam.
Terkadang ditemukan bradikardi dan epistakis pada anak yang sudah besar.
5. Pemeriksaan fisik
1. Mulut, terdapat nafas yang berbau tidak sedap serta bibir kering dan pecah-
pecah, lidah tertutup selaput putih kotor (cated tongue) sementara ujung dan
tepianya berwarna kemerahan, dan jarang disertai tremor
2. Abdomen, dapat ditemukan keadaan perut kembung (meteorismus). Bisa
terjadi konstipasi atau mungkin diare.
3. Hati dan limpa membesar disertai dengan nyeri pada perabaan
6. Pemeriksaan laboratorium
1) Pada pemeriksaan darah tepi terdapat gambaran leukopenia, limfositosis
relatif, dan aneosiniofilia pada permukaan sakit
2) Darah untuk kultur (biakan,empedu) dan widal
3) Biakan empedu basil salmonella thyposa dapat ditemukan dalam darah
pasien pada minggu pertama sakit. Selanjutnya lebih sering ditemukan di
feses dan urin.
4) Pemeriksaan widal

13
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri akut b.d agen cidera biologis
2. Hipertermi b.d proses infeksi
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d tidak adanya
nafsu makan, mual, muntah
4. Resiko kekurangan volume cairan b.d kurang intake cairan dan peningkatan suhu
tubuh
5. Kurang pengetahuan b.d keterbatasan kognitif
(Suriadi,2006)
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO DX NOC NIC
Nyeri akut Tujuan :
b.d agen Masalah nyeri akut teratasi seluruhnya
cidera Kriteria hasil :
biologis a) Mampu mengontrol nyeri
b) Melaporkan nyeri berkurang
denan menggunaan manajemen
nyeri
c) Mampu mengenali nyeri
d) Menyatakan rasa nyaman setelah
nyeri berkurang
Hipertermi Tujuan :
b.d proses Tanda-tanda vital dalam batas normal
infeksi Kriteria hasil:
a) Suhu tubuh dalam rentang
normal
b) Nadi dan RR dalam rentang
normal
c) Tidak ada perubahan warna kulit
dan tidak ada pusing

14
15