Anda di halaman 1dari 22

Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan

Vol. I No. 1 April 2017

LARANGAN TASYABBUH
DALAM PERSPEKTIF HADIS
Nablur Rahman Annibras
Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung
Email: blue_mumys@yahoo.co.uk

Abstrak
Meniru budaya atau tradisi milik bangsa lain merupakan buah dari
adanya interaksi sosial antara dua entitas atau kultur yang berbeda.
Persinggungan budaya semacam ini membuka peluang adanya
keterpengaruhan suatu kelompok atas tradisi atau kebiasaan kelompok
lain. Keterpengaruhan yang kemudian melahirkan peniruan-peniruan
tradisi seperti yang telah dicontohkan sebelumnya. Dalam ranah kajian
Islam, konsep seperti ini dinamakan dengan nama tasyabbuh. Tasyabuh
merupakan hal yang dilarang dalam Islam. Sebagaimana yang terdapat
dalam banyak hadis, bahwa Rasulullah melarang akan praktek tasyabbuh
tersebut khususnya terhadap tradisi atau kebiasaan dari kaum Yahudi
dan Nasrani. Dalam memaknai hadis-hadis tentang tasyabuh tersebut,
terjadi perbedaan pendapat dikalang para ulama terkait boleh atau
tidaknya tasyabuh khususnya meniru tradisi kaum Yahudi dan Nasrani.
Melalui kajian matan dan sanad, bahwa hadis-hadis yang menjelaskan
tentang larangan tasyabuh terhadap tradisi-tradisi kaum non-Muslim
khususnya kaum Yahudi dan Nasrani merupakan bentuk perlindungan
atas identitas ke-Islaman umat Muslim. Dalam hal ini, tasyabuh
merupakan sebuah pelanggaran apabila bertentangan dengan akidah
dan syariah, yaitu tidak menyinggung kaidah-kaidah normatif agama
baik itu nash al-Qur’an maupun al-Sunnah serta bukan bagian dari
kebiasaan khusus kaum Yahudi dan Nasrani.

Kata Kunci: Tasyabuh, Hadis, Larangan

Pendahuluan
erkembangnya zaman merupakan sebuah keniscayaan

B yang tidak dapat dibantahkan. Manusia berlomba-lomba


menciptakan berbagai terobosan-terobosan sebagai bentuk
berkembangnya daya intelektual dan peradaban manusia. Termasuk
di dalamnya adalah perkembangan teknologi yang demikian

75
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, Vol. I No. 1 April 2017: 75-96

pesatnya. Di masa sekarang, nyaris tidak ada lagi hambatan bagi


manusia untuk dapat berkomunikasi dengan koleganya walaupun
dipisahkan oleh jarak yang membentang. Seseorang dapat dengan
mudah mengetahui apa yang terjadi di belahan dunia lain tanpa
harus bersusah payah melihat langsung apa yang terjadi. Ini semua
merupakan efek domino dari perkembangan teknologi, termasuk
di dalamnya teknologi informasi dan komunikasi.
Tidak adanya jarak antar belahan dunia manapun memungkin-
kan terjadinya transfer informasi yang sangat mudah. Tidak cukup
disana, transfer kebudayaan pun menjadi hal yang niscaya. Sesuatu
yang menjadi kebiasaan atau trend baik itu gaya berbusana, tradisi-
tradisi, makanan dan lain sebagainya dari sebuah negara sangat
mungkin untuk juga terjadi di negara lain yang jaraknya jauh.
Sebagai contoh adalah bagaimana tradisi valentine day pada setiap
tanggal 14 Februari yang menjadi sebuah tradisi di negara-negara
barat kemudian diadopsi oleh sebagian pemuda-pemudi di Indonesia.
Valentine day atau lebih dikenal sebagai sebagai Hari Kasih Sayang
adalah sebuah hari dimana para kekasih dan mereka yang sedang
jatuh cinta menyatakan cintanya di dunia Barat. Hari raya ini di-
asosiasikan dengan para pasangan yang saling bertukaran pernak-
pernik bersimbolkan “valentines” yang diantaranya adalah segala
sesuatu yang berbentuk hati dan gambar sebuah cupid bersayap.1
Tradisi semacam ini kemudian diikuti oleh banyak pemuda-pemudi
di belahan negara lain termasuk di dalamnya negara Indonesia yang
notabene merupakan sebuah negara dengan jumlah penduduk
Muslim terbesar di seluruh dunia yaitu sebanyak 207.176.162 jiwa.2
Meniru budaya atau tradisi milik bangsa lain dalam ajaran Islam
seringkali disebut dengan nama tasyabbuh. Contoh dari transformasi
budaya dalam ajaran Islam adalah mengenai thawaf mengelilingi
Ka’bah ketika umrah maupun haji. Tradisi thawaf pada dasarnya
1
https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Kasih_Sayang Diakses pada tanggal 20
Desember 2016, pukul 12.29 WIB.
2
Akhsan Na’im & Hendry Syaputra, Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama,
dan Bahasa Sehari-Hari Penduduk Indonesia, (Jakarta: Badan Pusat Statistik, 2010), 10.

76
Larangan Tasyabbuh Dalam Perspektif Hadis (Nablur Rahman Annibras)

telah dilakukan jauh sebelum Islam datang. Suku-suku Arab, serta


umat Yahudi dan Nasrani yang berada di luar kota Makkah terbiasa
melakukan kunjungan atau ziarah ke Ka’bah atau Baitullah di kota
Makkah. Bahkan, bangsa Arab pra-Islam terbiasa membagi waktu
untuk thawaf ke dalam dua masa, yaitu siang bagi kaum pria, dan
malam bagi kaum wanita. Dalam tradisi mereka, thawaf adalah
tradisi mengelilingi Ka’bah yang harus dilakukan dalam keadaan
yang suci. Konteks suci menurut mereka adalah dengan menanggal-
kan atribut-atribut yang menempel pada badan mereka atau dengan
kata lain melakukan thawaf atau mengelilingi Ka’bah tanpa meng-
gunakan busana sama sekali.3
Adanya transformasi (peniruan) budaya semacam ini merupa-
kan buah dari adanya interaksi sosial antara dua entitas atau kultur
yang berbeda. Persinggungan budaya semacam ini membuka
peluang adanya keterpengaruhan suatu kelompok atas tradisi atau
kebiasaan kelompok lain. Keterpengaruhan yang kemudian melahir-
kan peniruan-peniruan tradisi seperti yang telah dicontohkan
sebelumnya. Dalam ranah kajian Islam, konsep seperti ini dinama-
kan dengan nama tasyabbuh. Permasalahan mulai muncul tatkala
adanya hadis Rasulullah yang melarang akan praktek tasyabbuh
tersebut khususnya terhadap tradisi atau kebiasaan dari kaum
Yahudi dan Nasrani. Tulisan ini akan membahas bagaimana se-
benarnya pemahaman tasyabbuh dalam hadis Rasulullah?.

Pengertian Tasyabbuh
Secara etimologi, kata tasyabbuh berasal dari bahasa Arab yang
akar katanya adalah sya-ba-ha yang berarti penyerupaan terhadap
atau atas sesuatu. Kata tersebut kemudian membentuk derivasi kata-
kata lainnya seperti syibh, syabah, ataupun syabih.4 Menurut Ibnu

3
Abu Hapsin, Islam dan Budaya Lokal: Ketegangan antara Problem Pendekatan dan
Kearifan Lokal Masyarakat Jawa, dalam Annual Conference on Islamic Studies (ACIS)
ke-10 di Banjarmasin pada tanggal 1-4 November 2010.
4
Ahmad Faris, Mu’jam Maqayis al-Lughah, Jilid III, (Beirut: Dar al-Jayl, 1411 H.),
243.

77
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, Vol. I No. 1 April 2017: 75-96

Manzur, kata tasyabbuh merupakan bentuk mashdar dari kata


tasyabbaha-yatasyabbahu yang bermakna suatu objek yang
menyerupai sesuatu yang lain.5 Adapun secara terminologi, kata
tasyabbuh menurut Imam Muhammad al-Ghazi al-Syafii didefinisi-
kan sebagai sebuah usaha seseorang untuk meniru sosok yang
dikaguminya baik itu dari tingkah lakunya, penampilannya, atau
bahkan hingga sifat-sifatnya. Usaha tersebut merupakan sebuah
praktek yang benar-benar disengaja untuk diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari.6 Menurut Muhammad Rawwas Qal’ah Ji,
tasyabbuh memiliki makna imitasi atau peniruan sebagai penjiplakan
dan taqlid.7 Sikap seperti ini disebabkan karena adanya kecintaan,
kekaguman atau ketertarikan hati terhadap objek yang ditiru.
Fenomena semacam ini banyak sekali ditemukan dalam masyarakat
Indonesia. Derasnya arus westernisasi membuat sebagian masya-
rakat seperti latah untuk mengikuti trend kekinian, termasuk di
dalamnya tradisi Valentine Day yang telah disinggung sebelumnya.
Pada dasarnya, interaksi antara masyarakat Muslim dengan
masyarakat non-Muslim baik itu dari kalangan Yahudi maupun
Nasrani dalam sebuah kelompok masyarakat telah terjadi sejak zaman
Rasulullah masih hidup. Pada saat itu, masyarakat Madinah tidak
hanya terdiri dari masyarakat Muslim saja, namun terdapat pula
golongan Yahudi maupun Nasrani seperti bani Aus, Khazraj, Nadhir,
Quraizhah dan lain sebagainya. Hanya saja, tidak selamanya interaksi
tersebut berjalan harmonis. Pengkhianatan kelompok Nadhir dan
Quraizhah memaksa masyarakat Muslim untuk bertindak tegas.8
Adanya interaksi antar kultur atau latar belakang yang berbeda
dalam sebuah komunitas masyarakat pada akhirnya akan me-

5
Lihat Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab, Jilid XVII, (Beirut: Dar ash-Shadir, 1990),
503.
6
Jamil bin Habib al-Luwaihiq, at-Tasyabbuh al-Manhi ‘Anhu fi al-Fiqh al-Islami,
(Makkah: Jami’ah Umm al-Qura, 1417 H), 16.
7
Muhammad Rawwas Qa’ah Ji & Hamid Shadiq Qunaybi, Mu’jam Lughah al-
Fuqaha, (Beirut: Dar al-Nafa’is, 1988), 98.
8
Muhammad Tasrif, Islam dan Multikulturalisme, (Ponorogo: STAIN Ponorogo
Press, 2010), 20-27.

78
Larangan Tasyabbuh Dalam Perspektif Hadis (Nablur Rahman Annibras)

nimbulkan sikap saling mempengaruhi. Sabda Nabi mengenai hal


ini terekam melalui sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Qutaibah:

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah mencerita-


kan kepada kami Ibn Lahibah dari Amri bin Syu’aib dari
ayahnya dari kakeknya. Bahwasanya Rasulullah Saw. pernah
bersabda: “Tidaklah termasuk golongan kita seseorang yang
meniru selain daripada kita. Janganlah meniru kaum Yahudi
dan tidak pula kaum Nasrani. Sesungguhnya ucapan salam
kaum Yahudi dengan isyarat jari-jari, dan ucapan salam kaum
Nasrani dengan isyarat telapak tangan. (HR. Abu Dawud) 9
Sepintas dalam hadis di atas, Rasulullah melarang kaum
Muslimin untuk meniru apa yang dilakukan oleh kaum Yahudi dan
Nasrani ketika hendak mengucapkan salam atau sapaan antar
sesama. Rasulullah seolah ingin menegaskan keharusan bagi setiap
Muslim untuk memiliki identitas keislaman yang berbeda dengan
identitas-identitas golongan lainnya. Dalam konteks ini, ucapan
sapaan yang diajarkan oleh Rasulullah sebagai bagian dari identitas
seorang Muslim adalah sebagaimana yang diriwayatkan dalam
Sunan Abu Dawud:

9
Abu Isa Muhammad bin Isa al-Tirmidzi, al-Jami’ al-Kabir, Jilid IV, (Beirut: Dar
al-Gharb al-Islami, 1996), 425-426.

79
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, Vol. I No. 1 April 2017: 75-96

“Telah diceritakan kepada kami Ibn Basyar, telah diceritakan


kepada kami Abu ‘Ashim, telah diceritakan kepada kami Ibn
Juraij, telah diceritakan kepada kami Yahya bin Habib, telah
diceritakan kepada kami Rawh dari Ibn Juraij, dia berkata:
Dikabarkan kepadaku Amru bin Abi Sufyan bahwa Amru bin
Abdullah bin Shafwan memberitahukannya dari Kaldah bin
Hanbal. Dia berkata: Sesungguhnya Shafwan bin Umayah
diutus olehnya untuk menemui Rasulullah dan dengannya
sekantong susu segar, daging rusa, dan daging anak rubah,
sedangkan Rasulullah tengah berada di ujung kota Makkah.
Lalu aku masuk dan belum mengucapkan salam. Lalu
Rasulullah berkata: Kembalilah, dan ucapkanlah “Assalamu
‘alaikum”. Peristiwa tersebut terjadi setelah masuk Islamnya
Shafwan bin Umayyah. (HR. Abu Dawud) 10
Jika merujuk pada dua hadis di atas, maka jelaslah Rasulullah
sangat menekankan pentingnya seorang Muslim memiliki identitas
keislaman yang kokoh dan tidak terpengaruh dengan tradisi-tradisi
Barat. Penggunaan ucapan assalamu’alaikim merupakan sebuah
manifestasi identitas kemusliman yang jelas yang tidak terpengaruh
atau ikut-ikutan terhadap identitas-identitas yang dibawa oleh kaum
non-Muslim. Akan tetapi, apakah larangan mengikuti trend Barat
tersebut berlaku umum? Ataukah terdapat “ruang negosiasi” di situ?
10
Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdi al-Sijistani, Sunan Abi Dawud,
Jilid VII, (Damaskus: Dar al-Resalah al-A’lamiah, 2009), 477-478.

80
Larangan Tasyabbuh Dalam Perspektif Hadis (Nablur Rahman Annibras)

Pada pembahasan selanjutnya akan diklasifikasi terlebih dahulu


sebelum dianalisis secara lebih mendalam mengenai hadis-hadis yang
berkenaan dengan perilaku tasyabbuh sebagai sebuah fenomena
global.

Hadis-Hadis Larangan Tasyabbuh


Larangan mengenai tidak bolehnya mengikuti trend atau tradisi
Barat oleh kaum Muslimin didasari adanya hadis-hadis Rasulullah
yang secara jelas berbicara mengenai hal tersebut. Namun demikian,
tidak seluruh hadis secara terang-terangan menggunakan term
tasyabbuh atau syabaha sebagai kata kunci. Sedikitnya ada tujuh
bentuk lain yang memiliki konotasi makna yang sesuai atau mirip
dengan term tasyabbuh itu sendiri. Jamil bin Habib al-Luwaihiq dalam
tesisnya di Universitas Umm al-Qura Makkah menyebutkan sedikit-
nya ada tujuh term yang memiliki konotosi makna yang serupa
dengan kata tasyabbuh. Kata-kata tersebut adalah:11
1. Al-Tamatsul atau penyerupaan.
2. Al-Muhakah atau yang serupa.
3. Al-Masyakilah atau yang satu bentuk.
4. Al-Itba’ atau mengikuti.
5. Al-Muwafaqah yaitu pengikutan seseorang terhadap atau atas
orang lain baik itu dari segi bentuk suara, perbuatan, keyakinan
dan lain-lain baik itu atas motivasi orang tersebut atau tidak.
6. Al-Ta’sii.
7. Al-Taqlid, mashdar dari qallada yaitu mengikuti jejak seseorang
atau lainnya baik dari ucapan maupun perbuatan tanpa melihat
adanya alasan atau argumen di balik semua tindakan tersebut.
Sejauh yang telah penulis telusuri, hadis-hadis mengenai
larangan tasyabbuh terhadap ada tiga term utama yang digunakan.
Di bawah ini penulis akan paparkan secara umum term-term apa
saja yang menyangkut larangan untuk ber-tasyabbuh.

11
Jamil bin Habib al-Luwaihiq, at-Tasyabbuh al-Manhi ‘Anhu fi al-Fiqh al-Islami,
19-20.

81
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, Vol. I No. 1 April 2017: 75-96

Hadis dengan Term Tasyabbuh


Sedikitnya ada 38 hadis dengan term tasyabbuh yang
menggunakan pola atau redaksi yang mirip. Perbedaan antar redaksi
matan secara umum terkelompokkan dalam tiga bentuk. Yaitu:

Hadis 1:

.
“Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah
berkata, telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr
berkata, telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahman bin
Tsabit berkata, telah menceritakan kepada kami Hassan bin
Athiyah dari Abu Munib Al Jurasyi dari Ibnu Umar ia berkata,
“Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa menyerupai dengan
suatu kaum, maka ia bagian dari mereka”. (HR. Abu Dawud)12

Hadis 2:

12
Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdi al-Sijistani, Sunan Abi Dawud,
Jilid VI, 144.

82
Larangan Tasyabbuh Dalam Perspektif Hadis (Nablur Rahman Annibras)

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid, yaitu


al-Wasithi, telah dikabarkan kepada kami Ibn Tsauban dari
Hasan bin ‘Athiyah dari Abu Munib al-Jurasyi dari Ibn Umar
dia berkata: Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Aku diutus
dengan pedang hingga hanya Allah semata lah yang disembah,
tidak ada sekutu bagi-Nya; dijadikan rizkiku di bawah
bayangan tombakku; dan dijadikan kehinaan dan kerendahan
bagi siapa saja yang menyelisihi perkaraku. Barangsiapa
menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”
(H.R. Ahmad)13

Hadis 3:

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid, yaitu


al-Wasithi, telah dikabarkan kepada kami Ibn Tsauban dari
Hasan bin ‘Athiyah dari Abu Munib al-Jurasyi dari Ibn Umar
dia berkata: Rasulullah Saw. pernah bersabda: “Aku diutus
dengan pedang menjelang hari kiamat hingga hanya Allah
semata lah yang disembah, tidak ada sekutu bagi-Nya;
dijadikan rizkiku di bawah bayangan tombakku; dan dijadikan

h t t p : / / l i b r a r y . i s l a m w e b . n e t / h a d i t h /
1 3

display_hbook.php?bk_no=121&hid=4969&pid=60283 diakses pada tanggal 21


Desember 2016 pkl. 20.46 WIB.

83
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, Vol. I No. 1 April 2017: 75-96

kehinaan dan kerendahan bagi siapa saja yang menyelisihi


perkaraku. Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka ia
termasuk golongan mereka.”(H.R. Ahmad)14
Tabel Hadis Term Tasyabbuh
ƨǼLJ
ǦǼǐŭơ ȁDŽǠdzơ ǪǧƗ ƣƢƬǰdzơ ǶLJơ ĺƢƸǐdzơ Ʈȇƾūơ ǥǂǗ ǵ
ƧƢǧȂdzơ
ǮȇǂNj ȏ ƅơ ƾƦǠȇ ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ DzǠƳ Ǿdz
241 DzƦǼƷ Ǻƥ ƾŧƗ 5093 4969 DzƦǼƷ Ǻƥ ƾŧƗ ƾǼLjǷ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ 1
ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ ƨdzǀdzơ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
241 DzƦǼƷ Ǻƥ ƾŧƗ 5094 4970 DzƦǼƷ Ǻƥ ƾŧƗ ƾǼLjǷ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ ƨdzǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 2
ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
241 DzƦǼƷ Ǻƥ ƾŧƗ 5634 5515 DzƦǼƷ Ǻƥ ƾŧƗ ƾǼLjǷ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ DZǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 3
ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ȆǨȈLjƥ řưǠƥ ƅơ
Ǻƥ ƾȈǠLJ DzǠƳȁ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ DzǠƳȁ
220 2370 2210 ǁȂǐǼǷ Ǻƥ ƾȈǠLJ ǺǼLJ DZƢLJǁƛ ǞǓȂǷ 4
ǁȂǐǼǷ ǺǷȁ řǨdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ DZǀdzơ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
ƾƟơȁDŽƥ ƧǂȀŭơ ƧŚŬơ ǥƢŢƛ ƪŢ Ȇǫǃǁ DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ƅơ ƾƦǠȇ
840 ȅŚǏȂƦdzơ 5437 3326 ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ 5
ƧǂnjǠdzơ ƾȈǻƢLjŭơ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ ƨdzǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
ƾƟơȁDŽƥ ƧǂȀŭơ ƧŚŬơ ǥƢŢƛ
840 ȅŚǏȂƦdzơ 6205 3971 ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ ƨdzǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 6
ƧǂnjǠdzơ ƾȈǻƢLjŭơ
ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
Ǻƥ ǹƢǸȈǴLJ
36014Ibid. 216 212 ňơŐǘǴdz śȈǷƢnjdzơ ƾǼLjǷ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ ƨdzǀdzơ ƪǴǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 7
ňơŐǘdzơ ƾŧƗ
ǾƦnjƫ ǺǷ řǨdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ
84 DzǠƳȁ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ǦȈLjdzƢƥ řưǠƥ
Ǻƥ ƾǸŰ
ǁƢǤǐdzơȁ DZǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ Ŀ Ȇǫǃǁ
273 ǶȈǿơǂƥƛ --- 56 ȆLJȂLJǂǘdzơ ƨȈǷƗ ĺƗ ƾǼLjǷ ǂƼǏ Ǻƥ Ǻŧǂdzơ ƾƦǟ 8
ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ řǨdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ
ȆLJȂLJǂǘdzơ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
ƾƟơȁDŽƥ ƧǂȀŭơ ƧŚŬơ ǥƢŢƛ
840 ȅŚǏȂƦdzơ 6205 3971
Larangan ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ
Tasyabbuh Dalam Perspektif ƨdzǀdzơ (Nablur
Hadis DzǠƳ ȆŰǁRahman Ȇǫǃǁ 6
DzǛ ƪŢ Annibras)
ƧǂnjǠdzơ ƾȈǻƢLjŭơ
ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
Ǻƥ ǹƢǸȈǴLJ
360 216 212 ňơŐǘǴdz śȈǷƢnjdzơ ƾǼLjǷ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ ƨdzǀdzơ ƪǴǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 7
ňơŐǘdzơ ƾŧƗ
ǾƦnjƫ ǺǷ řǨdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ
DzǠƳȁ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ǦȈLjdzƢƥ řưǠƥ
Ǻƥ ƾǸŰ
ǁƢǤǐdzơȁ DZǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ Ŀ Ȇǫǃǁ
273 ǶȈǿơǂƥƛ --- 56 ȆLJȂLJǂǘdzơ ƨȈǷƗ ĺƗ ƾǼLjǷ ǂƼǏ Ǻƥ Ǻŧǂdzơ ƾƦǟ 8
ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ řǨdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ
ȆLJȂLJǂǘdzơ
ǶȀǼǷ
ǦȈLjdzơ ǞǷ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DZǀdzơ DzǠƳȁ ȆŰǁ DzǛ Ŀ Ȇǫǃǁ DzǠƳȁ
249 ƾȈŧ Ǻƥ ƾƦǟ 848 856 ƾȈŧ Ǻƥ ƾƦǟ ƾǼLjǷ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ 9
ǺǷȁ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ ƔȆNj Ǿƥ ǭǂnjȇ ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
235 ƨƦȈNj ĺơ Ǻƥơ 19629 18833 ƨƦȈNj ĺƗ Ǻƥơ ǦǼǐǷ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ ƨdzǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 10
ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
DzǠƳ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ǦȈLjdzƢƥ řưǠƥ
235 ƨƦȈNj ĺơ Ǻƥơ 19665 18869 ƨƦȈNj ĺƗ Ǻƥơ ǦǼǐǷ DZƢLJǁƛ ǞǓȂǷ DZǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 11
ǾƦnjƫ ǺǷ řǨdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ
ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ǦȈLjdzƢƥ řưǠƥ ƅơ
DzǠƳȁ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ DzǠƳȁ
235 ƨƦȈNj ĺơ Ǻƥơ 7 : 636 32314 ƨƦȈNj ĺƗ Ǻƥơ ǦǼǐǷ DZƢLJǁƛ ǞǓȂǷ 12
ǺǷȁ řǨdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ DZǀdzơ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ƨdzǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ ƪŢ Ȇǫǃǁ DzǠƳ
235 ƨƦȈNj ĺơ Ǻƥơ 33561 32319 ƨƦȈNj ĺƗ Ǻƥơ ǦǼǐǷ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ 13
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
340 ĺơǂǟȋơ Ǻƥơ 1137 1121 ĺơǂǟȋơ Ǻƥơ ǶƴǠǷ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ DZǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 14
ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ŕƷ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ǦȈLjdzƢƥ řưǠƥ
Ǻƥ ƾŧƗ
Ȇǟơǃȁȋơ ƮȇƾƷ ǺǷ ƔDŽƳ ƪŢ Ȇǫǃǁ DzǠƳ Ǿƥ ǭǂnjȇ ȏ ƅơ ƾƦǠȇ
347 Ǻƥ ǹƢǸȈǴLJ --- 31 ƣƢǘŬơ Ǻƥ ǂǸǟ 15
ŃǀƷ Ǻƥȏ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ DZǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ
ŃǀƷ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
ƾǸŰ Ǻƥ ǵƢŤ 85
414 770 722 ȅǃơǂdzơ ǵƢŤ ƾƟơȂǧ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ ȄǴǟ DZǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 16
ȅǃơǂdzơ
ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ
ǶȀǼǷ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ŕƷ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ǦȈLjdzƢƥ řưǠƥ
Ǻƥ ƾŧƗ
Ȇǟơǃȁȋơ
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman danƮȇƾKemanusiaan,
Ʒ ǺǷ ƔDŽƳ ƪŢ1 Ȇǫǃǁ
Vol. I No. AprilDzǠƳ Ǿƥ ǭǂnjȇ
2017: ȏ ƅơ ƾƦǠȇ
75-96
347 Ǻƥ ǹƢǸȈǴLJ --- 31 ƣƢǘŬơ Ǻƥ ǂǸǟ 15
ŃǀƷ Ǻƥȏ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ DZǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ
ŃǀƷ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
ƾǸŰ Ǻƥ ǵƢŤ
414 770 722 ȅǃơǂdzơ ǵƢŤ ƾƟơȂǧ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ ȄǴǟ DZǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 16
ȅǃơǂdzơ
ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ
ǶȀǼǷ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
458 ȆǬȀȈƦdzơ 1199 1150 ȆǬȀȈƦǴdz ǹƢŻȍơ ƤǠNj ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ ƨdzǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 17
ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
DzǠƳȁ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ
ƅơ ƾƦǠdz ǾǴǿƗȁ ǵȐǰdzơ ǵƿ DZǀdzơ DzǠƳȁ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ
481 ƾǸŰ 465 445 ǂƼǏ Ǻƥ Ǻŧǂdzơ ƾƦǟ 18
ȅǁƢǐǻȋơ ǾƦnjƫ ǺǷȁ řǨdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ȅǁƢǐǻȋơ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ
Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ DZǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ DzǠƳ
ƅơ ƾƦǠdz ǾǴǿƗȁ ǵȐǰdzơ ǵƿ
481 ƾǸŰ 466 446 ǮdzƢǷ Ǻƥ džǻƗ ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ 19
ȅǁƢǐǻȋơ
ȅǁƢǐǻȋơ ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
DzǠƳȁ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ
ƅơ ƾƦǠdz ǾǴǿƗȁ ǵȐǰdzơ ǵƿ ǁƢǤǐdzơ DzǠƳȁ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ
481 ƾǸŰ 467 447 ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ 20
ȅǁƢǐǻȋơ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷȁ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ
ȅǁƢǐǻȋơ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ
ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ǦȈLjdzƢƥ řưǠƥ ƅơ
Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ DzǠƳȁ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ DzǠƳȁ
180 105 104 ǭǁƢƦŭơ Ǻƥȏ ƽƢȀŪơ DZƢLJǁƛ ǞǓȂǷ 21
ǭǁƢƦŭơ ǺǷȁ řǨdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ DZǀdzơ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ƾƦǠȈdz ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ǦȈLjdzƢƥ ƪưǠƥ
Ȇǫǃǁ DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ
321 ȅȁƢƸǘdzơ 231 201 ȅȁƢƸǘǴdz ǁƢƯȉơ DzǰnjǷ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ 22
ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ DZǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ ƪŢ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ řǨdzƢƻ ǺǷ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
ǂǐǻ Ǻƥ ƾǸŰ DzǠƳȁ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
243 --- 9 ňƢLJơǂŬơ ƔƢǘǟ ŚLjǨƫ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ 23
ȆǴǷǂdzơ ƨdzǀdzơ ƪǴǠƳȁ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ
ǺǷȁ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ

86
Larangan Tasyabbuh Dalam Perspektif Hadis (Nablur Rahman Annibras)

ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ


ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
ǂǯƢLjǟ Ǻƥơ
571 --- 72534 ǂǯƢLjǟ Ǻƥȏ ǪnjǷƽ ƺȇǁƢƫ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ DZǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 24
ȆǬnjǷƾdzơ
ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳȁ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
748 œǿǀdzơ --- 1191 œǿǀdzơ ƔȐƦǼdzơ ǵȐǟƗ ŚLJ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ DZǀdzơ DzǠƳȁ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 25
ǺǷȁ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
DzǠƳȁ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DZǀdzơ DzǠƳȁ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ
748 œǿǀdzơ --- 1236 œǿǀdzơ ƔȐƦǼdzơ ǵȐǟƗ ŚLJ ǂƼǏ Ǻƥ Ǻŧǂdzơ ƾƦǟ 26
ǺǷȁ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳȁ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
742 ȅDŽŭơ ǦLJȂȇ --- 3934 ȅDŽǸǴdz DZƢǸǰdzơ Ƥȇǀē ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ ǁƢǤǐdzơȁ DZǀdzơ DzǠƳȁ ȆŰǁ ƪŢ Ȇǫǃǁ 27
ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷȁ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ
ƅơ ƾƦǠȇ ŕƷ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
ǂǰƥ ȂƥƗ ǶǴǠdzơ ǂǿơȂƳȁ ƨLjdzƢĐơ ƪŢ Ȇǫǃǁ DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ
333 147 147 ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ 28
ȅǁȂǼȇƾdzơ ȅǁȂǼȇƾǴdz ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ ƨdzǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ řǨdzƢƻ
ŕƷ ǦȈLjdzƢƥ ƨǟƢLjdzơ ȅƾȇ śƥ ƪưǠƥ
DzǠƳ Ǿdz ǮȇǂNj ȏ ǽƾƷȁ ƅơ ƾƦǠȇ
ƤȈǘŬơ
463 2 : 73 448 ƤȈǘƼǴdz ǾǬǨƬŭơȁ ǾȈǬǨdzơ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ DZǀdzơ DzǠƳ ȆŰǁ DzǛ ƪŢ Ȇǫǃǁ 29
ȅƽơƾǤƦdzơ
ǺǷ ȅǂǷƗ ǦdzƢƻ ǺǷ ȄǴǟ ǁƢǤǐdzơȁ
ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ
ƽȁơƽ ȂƥƗ
275 4031 3514 ƽȁơƽ ĺƗ ǺǼLJ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ 30
ňƢƬLjƴLjdzơ
292 ǁơDŽƦdzơ ǂǰƥ ȂƥƗ 2966 2599 ǁơDŽƦdzơ ƾǼLjŠ ǁƢƻDŽdzơ ǂƸƦdzơ DzȈLjƷ Ǻƥ ƨǨȇǀƷ ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ 31
Ǻƥ ǹƢǸȈǴLJ
360 1862 1847 ňơŐǘǴdz śȈǷƢnjdzơ ƾǼLjǷ DzȈLjƷ Ǻƥ ƨǨȇǀƷ ǶȀǼǷ ǾǻƜǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ 32
ňơŐǘdzơ ƾŧƗ
ƣƢȀnjdzơ
454 390 370 ƣƢȀnjdzơ ƾǼLjǷ DZƢLJǁƛ ǞǓȂǷ ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ 33
ȆǟƢǔǬdzơ
Ǻȇƾdzơ ǁȂǻ
807 144 136 ǁƢƬLJȋơ Ǧnjǯ DzȈLjƷ Ǻƥ ƨǨȇǀƷ ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ 34
ȆǸưȈŮơ
Ǻƥ ǹƢǸȈǴLJ
360 8327 8546 ňơŐǘǴdz ǖLJȁȋơ ǶƴǠŭơ DzȈLjƷ Ǻƥ ƨǨȇǀƷ ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ 35
ňơŐǘdzơ ƾŧƗ
ƨdzơȁƿ ȂƥƗ ƤƷƗ ǺǷ ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ
330 --- 3 ǽŚǣȁ ƨdzơȁƿ ĺƗ ƮȇƾƷ ǹȐƴǟ Ǻƥ ȅƾǏ 87
36
ȆǐǸūơ ȆưȈǴdzơ ǶȀǠǷ ǂnjƷ ƢǷȂǫ
Ǻƥơ ƱǂǨdzơ ȂƥƗ
597 138 67 ȅǃȂŪơ Ǻƥȏ džȈǴƥƛ džȈƦǴƫ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ 37
Ǻƥ ǹƢǸȈǴLJ
360 1862 1847 ňơŐǘǴdz śȈǷƢnjdzơ ƾǼLjǷ DzȈLjƷ Ǻƥ ƨǨȇǀƷ ǶȀǼǷ ǾǻƜǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ 32
ňơŐǘdzơ ƾŧƗ
ƣƢȀnjdzơ
454 Jurnal Pemikiran
Tajdid: 390 Keislaman
370 dan ƣƢȀnjdzơ ƾǼLjǷ
Kemanusiaan,DZƢLJǁƛ
Vol.ǞǓȂǷ ǶȀǼǷ ȂȀǧ75-96
I No. 1 April 2017: ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ 33
ȆǟƢǔǬdzơ
Ǻȇƾdzơ ǁȂǻ
807 144 136 ǁƢƬLJȋơ Ǧnjǯ DzȈLjƷ Ǻƥ ƨǨȇǀƷ ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ 34
ȆǸưȈŮơ
Ǻƥ ǹƢǸȈǴLJ
360 8327 8546 ňơŐǘǴdz ǖLJȁȋơ ǶƴǠŭơ DzȈLjƷ Ǻƥ ƨǨȇǀƷ ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ 35
ňơŐǘdzơ ƾŧƗ
ƨdzơȁƿ ȂƥƗ ƤƷƗ ǺǷ ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ
330 --- 3 ǽŚǣȁ ƨdzơȁƿ ĺƗ ƮȇƾƷ ǹȐƴǟ Ǻƥ ȅƾǏ 36
ȆǐǸūơ ȆưȈǴdzơ ǶȀǠǷ ǂnjƷ ƢǷȂǫ
Ǻƥơ ƱǂǨdzơ ȂƥƗ
597 138 67 ȅǃȂŪơ Ǻƥȏ džȈǴƥƛ džȈƦǴƫ ǂǸǟ Ǻƥ ƅơ ƾƦǟ ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ 37
ȅǃȂŪơ
1255 ňƢǯȂnjdzơ 1 : 205 600 ňƢǯȂnjǴdz ƨǟȂǸĐơ ƾƟơȂǨdzơ Ǿũơ ǦǼǐŭơ ǂǯǀȇ Ń ǶȀǼǷ ȂȀǧ ǵȂǬƥ ǾƦnjƫ ǺǷ 38

Hadis dengan Term

Telah diberitakan kepada kami Sa’id bin Abi Maryam, telah


diberitakan kepada kami Abu Ghassan, dia berkata: diberitakan
kepada ku Zaid bin Aslama dari ‘Atha bin Yassar dari Abi Sa’id
r.a. bahwasanya Nabi Saw. pernah berkata: Sungguh kalian
akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal
demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-
orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang biawak sekalipun
pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami berkata, “Wahai
Rasulullah, apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan
Nashrani?” Beliau menjawab , “Lantas siapa lagi?”. (HR.
Bukhari)15

15
Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Shahih al-Bukhari,
(Damaskus: Dar ibn Kathir, 2002), 856.

88
Larangan Tasyabbuh Dalam Perspektif Hadis (Nablur Rahman Annibras)

Tabel Hadis Term Ittiba’


ǶLJơ
ƧƢǧȂdzơ ƨǼLJ ǦǼǐŭơ ȁDŽǠdzơ ǪǧƗ ĺƢƸǐdzơ Ʈȇƾūơ ǥǂǗ ǵ
ƣƢƬǰdzơ
Őnjƥ ơŐNj ǶǰǴƦǫ ǺǷ ǺǼLJ ǺǠƦƬƬdz
Ǻƥ ƾǸŰ
ƶȈƸǏ ǂƸƳ ơȂǰǴLJ Ȃdz ŕƷ ǝơǁǀƥ Ƣǟơǁƿȁ
256 DzȈǟƢũƛ 3456 3221 ǮdzƢǷ Ǻƥ ƾǠLJ 1
ȅǁƢƼƦdzơ ƅơ DZȂLJǁ Ƣȇ ƢǼǴǫ ǽȂǸƬǰǴLjdz ƤǓ
ȅǁƢƼƦdzơ
ǺǸǧ DZƢǫ ȃǁƢǐǼdzơȁ ƽȂȀȈdzơ

Őnjƥ ơŐNj ǶǰǴƦǫ ǺǷ ǺǼLJ ǺǠƦƬƬdz


Ǻƥ śLjūơ
DzȇŗƬdzơ ŃƢǠǷ ǂƴƷ ơȂǴƻƽ Ȃdz ŕƷ ǝơǁǀƥ Ƣǟơǁƿȁ
516 ƽȂǠLjǷ 618 620 ǮdzƢǷ Ǻƥ ƾǠLJ 2
ȅȂǤƦdzơ ŚLjǨƫ ƅơ DZȂLJǁ Ƣȇ ƢǼǴǫ ǶǿȂǸƬǠƦƫ ƤǓ
ȅȂǤƦdzơ
ǺǸǧ DZƢǫ ȅǁƢǐǼdzơȁ ƽȂȀȈdzơ

Studi Sanad dan Matan Hadis

Setelah melakukan penelusuran, hadis ini dikeluarkan di


banyak tempat. Beberapa diantaranya yaitu: 16
1. Penggalan kalimat terakhirnya dalam Sunan Abi Dawud.
2. Hadis yang sama namun dikeluarkan oleh Hudzaifah bin al-
Yaman penulis temukan dalam al-Bahr al-Zakhar bi Musnad al-
Bazar.
3. Tahzib al-Kamal karya al-Mizzi
4. Al-Mu’jam al-Awsath karya Imam al-Thabrani
5. Mushannaf Ibn Abi Syaibah
6. Musnad al-Syihab
16
Software Gawami al-Kalem

89
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, Vol. I No. 1 April 2017: 75-96

7. Musnad Imam Ahmad.


Sedikitnya, ada empat jalur periwayatan mengenai hadis
tersebut. Salah satunya adalah jalur periwayatan dari Abdullah bin
Umar r.a. - Abu Munib al-Jarasyi – Hasan bin ‘Athiyah – Abd al-
Rahman bin Tsabit bin Tsauban – Abu al-Nadhr.
1. Abdullah bin Umar (w.73 H). Nama lengkapnya adalah
Abdullah bin Umar bin Khatab bin Tufail. Lebih dikenal dengan
nama Ibn Umar atau Abu Abd al-Rahman. Dia dikenal sebagai
seorang sahabat yang berpegang teguh pada atsar.17
2. Abu Munib al-Jarasyi adalah seorang tabiin yang tinggal di
negeri Damaskus-Syam. Dikenal sebagai seorang perawi yang
tsiqah sebagaimana diterangkan oleh al-Dzahabi, Ibn Hajar al-
Asqalani, Ahmad bin Abdullah al-‘Ajali, maupun Abu Hatim bin
Hibban. Dia juga merupakan murid dari Abu Hurairah dan Ibn
Umar.18
3. Hasan bin ‘Athiyah atau lebih kenal dengan nama Hasan bin
‘Athiyah al-Muhary tinggal di negeri Damaskus-Syam. Dikenal
sebagai seorang perawi yang tsiqah sebagaimana dikatakan oleh
Imam Ahmad bin Hanbal maupun Ahmad bin Abdullah al-
‘Ajaly. Imam al-Bukhari dan Abu Hatim bin Hibban memujinya
sebagai salah satu sosok terbaik di masanya. Al-Dzahabi
menilainya sebagai sosok yang tsiqah namun berpaham
Qadariyah.19
4. Abd al-Rahman bin Tsabit bin Tsauban (w. 165 H) digelari
dengan gelar al-Zahid pernah mendiami beberapa tempat seperti
Baghdad dan Damaskus-Syam. Dikenal sebagai perawi yang
shuduq namun terkadang tersalahkan dan dituduh sebagai
seorang Qadary. Abu Hatim al-Razi menilainya sebagai sosok
yang tsiqah, namun terpengaruh paham Qadariyah dan
berubah akalnya di penghujung hayatnya, dia termasuk sosok

17
Ibid.
18
Ibid.
19
Ibid.

90
Larangan Tasyabbuh Dalam Perspektif Hadis (Nablur Rahman Annibras)

yang mustaqim al-hadis. Hal serupa diucapkan pula oleh Ibn


Hajar al-Asqalani, menurutnya dia adalah sosok yang shuduq,
ahli zuhud, namun terkadang salah, dan dituduh sebagai
seorang Qadary dan berubah di akhir hayatnya. Abu Hatim
bin Hibban memasukkannya dalam kategori tsiqah. Ahmad bin
Hanbal menilainya dengan manakir al hadis atau ucapanya
kurang bisa “dipegang”. Dia bukan termasuk sosok yang
“kuat” dalam hadis.20
5. Abu al-Nadhr (w. 207 H) memiliki nama asli Hasyim bin al-
Qasim bin Muslim bin Muqsim atau lebih dikenal dengan nama
Hasyim bin al-Qasim al-Laitsy. Dijuluki dengan sebutan qusair
pernah berdiam di Baghdad dan Khurasan. Dia adalah sosok
perawi yang tsiqah tsabit. Abu Hatim al-Razi menilainya sebagai
sosok yang shuduq. Sedangkan Abu Hatim bin Hibban
menilainya sebagai sosok yang tsiqah. Ibn Abd al-Barr al-
Andalusi menyepakatinya sebagai sosok yang shuduq.
Berdasarkan penelusuran di atas, dapat disimpulkan beberapa
poin dari jalur periwayatan tersebut, yaitu: a) Besar kemungkinan
bertemunya para perawi yang terdapat dalam jalur sanad tersebut.
Hanya Hasan bin ‘Athiyah yang belum ditemukan catatan
sejarahnya. b) Seluruh perawi yang disebutkan tidak ada yang
memiliki catatan “hitam” dalam historis biografinya, kecuali Abd
al-Rahman bin Tsabit bin Tsauban yang di akhir hayatnya
mengalami kemunduran akal.
Dari segi matan hadis, ditemukan sedikitnya ada tiga redaksi
yang berbeda antara satu dengan lainnya. Perbedaan tersebut
terletak pada keutuhan dari matan itu sendiri. Dalam hadis yang
diriwayatkan oleh Utsman bin Abi Syaibah, redaksi matan hadis
hanya merupakan bagian akhir dari rangkaian matan secara
keseluruhan. Yaitu:

20
Ibid.

91
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, Vol. I No. 1 April 2017: 75-96

Adapun hadis yang dikeluarkan oleh Muhammad bin Yazid


dan Abu al-Nadhr merupakan redaksi utuh dari matan hadis tersebut.
Namun demikian, ada pengurangan redaksi dalam hadis yang
dikeluarkan oleh Muhammad bin Yazid, yaitu kalimat
“ ” sebelum kata . Kesimpulan yang dapat
dikemukakan adalah adanya keterkaitan antara satu redaksi dengan
redaksi lainnya. Keterkaitan tersebut tampak saling melengkapi
antara satu riwayat dengan riwayat lainnya. Kesimpulan yang dapat
diutarakan mengenai kualitas sanad dan matan dari hadis tersebut
adalah bahwa semua perawi dalam hadis di atas merupakan sosok
yang tsiqah kecuali Abd al-Rahman bin Tsabit yang merupakan
sosok yang shuduq (jujur) namun sering disalahkan akibat ikhtilath
nya di masa akhir hayatnya. Hadis ini dapat dimasukkan dalam
ketegori hadis hasan mengingat semua syarat-syarat diterimanya
sebuah hadis telah tercukupi dengan baik, baik dari segi sanad
maupun matan.

Tasyabbuh Yang Terlarang


Tasyabbuh atau meniru sebuah tradisi yang dilakukan oleh orang-
orang yang beragama non-Islam jika merujuk pada hadis di atas
maka dengan tegas Rasulullah melarang hal tersebut. Namun
demikian, apakah seluruh tasyabbuh itu kemudian menjadi hal yang
terlarang secara mutlak? Mengenai hal ini sejatinya tasyabbuh terbagi
dalam dua kategori, tasyabbuh yang dapat diterima dan tasyabbuh
yang terlarang. Dilarangnya tasyabbuh oleh Rasulullah berdasarkan
dari berbagai pertimbangan tekstual dan kontekstual yang ada.
Adanya beberapa ritual keagamaan dalam Islam yang merupakan

92
Larangan Tasyabbuh Dalam Perspektif Hadis (Nablur Rahman Annibras)

hasil adopsi dan modifikasi dari tradisi-tradisi terdahulu seperti


aqiqah, tradisi makan sahur ketika puasa, thawaf mengelilingi Ka’bah,
nikah dan lain sebagainya menjadi sebuah alasan yang kuat tentang
ketidak absolutan hadis-hadis yang melarang praktek tasyabbuh.
Ibnu Taimiyah membagi praktek tasyabbuh yang dilarang atau
bertentangan dengan syariah Islam dalam dua bentuk: 21
1. Tasyabbuh atas tradisi-tradisi kaum non-Muslim yang dilakukan
secara sadar bahwa tradisi-tradisi tersebut dilakukan secara
khusus oleh mereka. Contohnya adalah tradisi berbagi hiasan
telur di hari Paskah yang memang menjadi bagian tradisi dari
agama Nasrani. Atau tradisi menyediakan sesaji atau sesajen di
depan patung-patung atau tempat-tempat yang dianggap
keramat dengan tujuan sebagai persembahan bagi sosok yang
dipercaya sebagai penunggu atau penguasa tempat-tempat
tersebut.
2. Tasyabbuh yang dilakukan oleh mereka yang pada dasarnya
tidak mengetahui apa hakikat atau makna dibalik tradisi-tradisi
yang diikutinya. Mengenai hal ini, praktek semacam ini terbagi
kedalam dua jenis:
a. Tradisi yang pada dasarnya memang diambil dari tradisi
keagamaan agama lain yang dikerjakan dalam keadaan
yang sama atau ada sedikit modifikasi atau perubahan baik
dari segi waktu, tempat maupun teknis pelaksanaan.
Sebagai contoh adalah perayaan Natal oleh sebagian
masyarakat Indonesia yang notabene mayoritas beragama
Islam. Ikut merayakan hari Natal oleh masyarakat Muslim
di negeri ini pada umumnya didasari ikut-ikutan atau
ketidak tahuan mereka akan apa hakikat dari hari raya
Natal sebenarnya.
b. Tradisi yang bukan berasal atau tidak diambil dari tradisi
keagamaan agama lain, namun secara kebetulan tradisi

21
Ibn Taimiyah, Iqtida’ al-Sirath al-Mustaqim: Mukhalafah Ashab al-Jahim, (Beirut:
Dar el-Fikr, 2003), 203.

93
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, Vol. I No. 1 April 2017: 75-96

tersebut juga dikerjakan oleh pemeluk agama non-Islam.


Untuk jenis seperti ini bukanlah dianggap sebagai
tasyabbuh. Adapun hukum melakukannya tergantung
apakah bersinggungan dengan syariat atau tidak. Contoh
dari bentuk ini biasanya menyangkut pakaian, makanan
dan hal-hal lainnya yang berkenaan dengan kebiasaan
sehari-hari yang umum terjadi di masyarakat.Menurut
Nashir bin Abd al-Karim al-‘Aql, tidak semua praktek
tasyabbuh dihukumi secara mutlak sebagai praktek yang
dilarang. Menurutnya, meniru dalam hal-hal umum yang
dipandang positif masih mungkin untuk diperbolehkan.
Dia menghukumi mubah pada praktek peniruan tradisi dari
orang-orang non-Muslim dan kafir jika terkait dengan
masalah keduniawian dan bukan ciri khusus dari orang-
orang tersebut. Selain itu, perlu dipastikan pula praktek
tersebut tidak memberikan nilai mudharat terhadap umat
Muslim apapun bentuknya. Dalam konteks ini, jika
peniruan tersebut tidak mengandung unsur-unsur yang
bertentangan dengan syariat Islam baik itu al-Qur’an
maupun al-Sunnah, maka peniruan tersebut dihukumi
secara mubah. Sebagai contoh adalah penggunaan hal-hal
keduniawian seperti alat-alat teknologi terkini (telepon
genggam, televisi, laptop dan lain sebagainya).

Penutup
Hadis-hadis yang menyinggung tentang larangan dari
praktek tasyabbuh akan tradisi-tradisi kaum non-Muslim khususnya
kaum Yahudi dan Nasrani sejatinya merupakan bentuk perlindungan
atas identitas ke-Islaman umat Muslim. Pelarangan tersebut menurut
hemat penulis bukanlah sebuah pelarangan yang bersifat mutlak,
namun hanya berlaku dalam konteks yang bertentangan dengan
akidah dan syariah saja. Adapun praktek tasyabbuh yang tidak
berkaitan dengan kedua hal di atas merupakan bentuk dari tasyabbuh

94
Larangan Tasyabbuh Dalam Perspektif Hadis (Nablur Rahman Annibras)

yang diperbolehkan selama tidak menyinggung kaidah-kaidah


normatif agama baik itu nash al-Qur’an maupun al-Sunnah serta
bukan bagian dari kebiasaan khusus kaum atau golongan tersebut.
Budaya Valentine’s Day yang diperingati setiap tanggal 14
Februari oleh sebagia pemuda-pemudi Indonesia yang beragama
Islam merupakan salah satu bentuk tasyabbuh yang terlarang. Para
pemuda-pemudi Muslim Indonesia seharusnya mempunyai tradisi
yang sarat akan nilai-nilai akhlak yang mulia alih-alih merayakan
sebuah tradisi yang penuh dengan hura-hura, khalwat dengan lawan
jenis yang bukan mahramnya atau bahkan menjurus ke arah
perzinahan atas nama kasih sayang. Inilah yang diwanti-wanti oleh
Rasulullah melalui keberadaan hadis-hadis tentang tasyabbuh itu
sendiri. Wallahu a’lam bi al-shawwab.

Daftar Pustaka
al-Bukhari, Imam Abu Abdullah Muhammad bin Ismail, Shahih al-
Bukhari, Damaskus: Dar ibn Kathir, 2002.
al-Luwaihiq, Jamil bin Habib, at-Tasyabbuh al-Manhi ‘Anhu fi al-
Fiqh al-Islami, Makkah: Jami’ah Umm al-Qura, 1417 H.
al-Sijistani, Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy’ats al-Azdi, Sunan Abi
Dawud, Damaskus: Dar al-Resalah al-A’lamiah, 2009.
al-Tirmidzi, Abu Isa Muhammad bin Isa, al-Jami’ al-Kabir, Beirut:
Dar al-Gharb al-Islami, 1996.
Taimiyah, Ibn, Iqtida’ al-Sirath al-Mustaqim: Mukhalafah Ashab al-
Jahim, Beirut: Dar el-Fikr, 2003.
Faris, Ahmad, Mu’jam Maqayis al-Lughah, Beirut: Dar al-Jayl, 1411
H.
Hapsin, Abu, Islam dan Budaya Lokal: Ketegangan antara Problem
Pendekatan dan Kearifan Lokal Masyarakat Jawa, dalam
Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) ke-10 di
Banjarmasin pada tanggal 1-4 November 2010.
Manzur, Ibn, Lisan al-‘Arab, Beirut: Dar ash-Shadir, 1990.

95
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, Vol. I No. 1 April 2017: 75-96

Na’im, Akhsan & Hendry Syaputra, Kewarganegaraan, Suku Bangsa,


Agama, dan Bahasa Sehari-Hari Penduduk Indonesia, Jakarta:
Badan Pusat Statistik, 2010.
Qa’ah Ji, Muhammad Rawwas & Hamid Shadiq Qunaybi, Mu’jam
Lughah al-Fuqaha, Beirut: Dar al-Nafa’is, 1988.
Tasrif, Muhammad, Islam dan Multikulturalisme, Ponorogo: STAIN
Ponorogo Press, 2010.
Software Gawami al-Kalem
http://library.islamweb.net/hadith/display_hbook.php?
bk_no=121&hid=469&pid=60283 diakses pada tanggal 21
Desember 2016 pkl. 20.46 WIB.
https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Kasih_Sayang Diakses pada
tanggal 20 Desember 2016, pukul 12.29 WIB.

96