Anda di halaman 1dari 13

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/332316155

PEMANFAATAAN CITRA RADAR C-BAND DALAM MENGIDENTIFIKASI FASE


PERTUMBUHAN MCS (MESOSCALE CONVECTIVE SYSTEM)

Conference Paper · December 2015

CITATIONS READS

0 90

1 author:

Rezky Yunita
Meteorological Climatological and Geophysical Agency
4 PUBLICATIONS   0 CITATIONS   

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

Diurnal Weather Variation View project

All content following this page was uploaded by Rezky Yunita on 10 April 2019.

The user has requested enhancement of the downloaded file.


PROSIDING
WORKSHOPOPERASIONALRADARCUACA
VOL:I-JANUARI2016
I
SSN:
2502-8898

PUSATMETEOROLOGIPUBLIK
KEDE
DEPUP
TUTIA
IB DNBIDME
ANG ANG
TEMETEOR
OROLOGOL
IOGI
BADANMETEOROLOGIKLIMATOLOGIDANGEOFISIKA
2016
TIM REDAKSI

Pemimpin Redaksi : Drs. Mulyono R. Prabowo, MSc

Wakil Pimpinan Redaksi : Riris Adriyanto, ST

Editor Pelaksana : Taufiq Hidayah, M.Si

Sekretariat Redaksi : Hesti Heningtiyas, S.Si;

: Eko Wardoyo, MT

Tata Naskah : Iddam Hairuly Umam, S.Si;

: Sri Afnitawati Rizky, S.Si

Staf Redaksi : Farida Ariany;

: Deni Permana, S.Si;

: Haryadi, S.Si;

: H. J. Wahyu Argo, S.Si

Pencetakan : Abdullah Ali;

: Dedi Heriyanto

Distribusi : Siswadi

_____________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar Cuaca 2015 | Vol I : Desember 2015 i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil ‘alaamiin, segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, penyusunan
Prosiding ”Workshop Operasional Radar dan Satelit Cuaca” T.A 2015 telah dapat
diselesaikan.

Prosiding ”Workshop Operasional Radar Cuaca” T.A 2015 ini merupakan kumpulan
makalah yang dibuat oleh para prakirawan yang diundang dalam kegiatan ”Workshop
Operasional Radar Cuaca” T.A 2015. Para penulis berasal dari UPT BMKG Daerah
maupun dari BMKG Pusat.

Prosiding ini terdiri dari 35 (tiga puluh lima) Makalah berkaitan tentang teknik
interpretasi dan analisis citra radar dan teknik pembuatan analisa dan prakiraan cuaca
ekstrem yang akurat, cepat dan mudah dimengerti dengan menggunakan citra radar,
dengan tidak sedikitpun mengubah isi dari makalah sebenarnya dari penulis.

Akhirnya, kami sampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi –
tingginya atas kerjasama dari semua pihak yang turut membantu dalam penyusunan
Prosiding ini.

Jakarta, Desember 2015

Kepala Bidang Pengelolaan Citra Inderaja

Riris Adriyanto, ST

_____________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar Cuaca 2015 | Vol I : Desember 2015 ii
SAMBUTAN
KEPALA PUSAT METEOROLOGI PUBLIK
PADA
PROSIDING “WORKSHOP OPERASIONAL RADAR CUACA”
TAHUN 2015

Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, berkat rahmat dan karunia-Nya lah
prosiding “Workshop Operasional Radar dan Satelit Cuaca” Tahun 2015 ini dapat terbit
dan sampai ke tangan pembaca semua.
Prosiding ini merupakan kompilasi hasil pemikiran rekan-rekan prakirawan pemerhati
cuaca terkait dengan teknik pembuatan analisa kejadian-kejadian cuaca ekstrem
berdasarkan data radar cuaca. Pemikiran yang dituangkan dalam bentuk makalah
tersebut telah dipaparkan dan didiskusikan pada acara “Workshop Operasional Radar
Cuaca” Tahun 2015 yang telah diselenggarakan pada tanggal 10-13 November 2015 di
Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah III Denpasar
Workshop tersebut dimaksudkan sebagai sarana diskusi bagi para prakirawan
mengenai pemanfaatan produk radar cuaca untuk operasional layanan meteorologi. Hal
ini dimaksudkan sebagai respon atas tuntutan bagi BMKG untuk mampu memanfaatkan
teknologi terbaru dalam pemantauan cuaca termasuk penginderaan jauh menggunakan
radar cuaca. Lebih lanjut, sesuai dengan visi BMKG yaitu tanggap dan mampu
memberikan pelayanan MKKuG yang handal guna mendukung keselamatan dan
keberhasilan pembangunan, tidak dapat dipungkiri saat ini BMKG telah menjadi salah
satu sumber referensi bagi pemerintah dan masyarakat untuk mampu menyampaikan
informasi cuaca secara akurat, cepat, tepat, mudah dipahami dan sesuai dengan
kebutuhan masyarakat, maupun pengguna khusus.
Kepada semua pihak yang telah berperan aktif, kami menyampaikan ucapan terima
kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya atas kerja keras yang telah dilakukan.
Tidak lupa pula kami menyampaikan apresiasi, terima kasih yang setinggi–tingginya
kepada seluruh penyumbang makalah, seluruh Tim Redaksi, dan semua pihak yang telah
terlibat dalam penyelesaian prosiding ini. Semoga materi isi prosiding ini dapat
digunakan dan bermanfaat bagi berbagai pihak dalam memahami dan mengembangkan
meteorologi praktis, khususnya dengan memanfaatkan data dan produk radar cuaca.
Selamat berkarya.

Jakarta, Desember 2015


Kepala Pusat Meteorologi Publik,
BMKG

Drs. Mulyono R. Prabowo, M.Sc

_____________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar Cuaca 2015 | Vol I : Desember 2015 iii
DAFTAR ISI

Halaman
Tim Redaksi i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iv
Makalah
Adi Istiyono Analisis Kejadian Waterspot di Pantai Nirwana Kota 1
Bau Bau tanggal 21 Desember 2014
Agus Yarcana, Kajian Persamaan Visibility-Precipitation Rate pada 4
Kadek Sumaja Radar Cuaca EEC C-Band Denpasar
Ahmad Agus Widodo, Identifikasi Potensi Terjadinya Squalline 8
Anggi Dewita Berdasarkan Peta Prediksi Angin Bom di Wilayah
Riau
Akhmad Fadholi Pemanfaatan Produk C-Band Radar Baron dalam 13
Analisis Kejadian Angin Kencang di Muntok
Kabupaten Bangka Barat
Alif Adiyasa Menampilkan dan Mengolah Data NETCDF Hasil 17
Rika Kariani Konversi Data Radar
Annisa Fauziah Identifikasi Squall Line dengan Radar Gematronik 23
Bambang Beny Setiaji Analisa Kegiatan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) 26
Tanggal 9 Juli 2015 dengan Menggunakan Radar
Cuaca di Sumatera Selatan
Ben Arther Molle Analisis Citra Radar EEC Terhadap Kejadian Angin 31
Puting Beliung di Kabupaten Bangli, Kabupaten
Gianyar, Bali Tanggal 10 Maret 2015
Christin Afrin Identifikasi Karakteristik Echo Awan Cumulonimbus 37
Matondang Berdasarkan Citra Radar Doppler (Studi Kasus Hujan
Es, 26 Juli 2015 di Medan)
Dea Nurina Bestari Kajian Awal Analisis Karakteristik Wilayah 41
Kebakaran Hutan dan Lahan Berbasis Data Citra
Radar (Studi Kasus Wilayah Kabupaten Pelalawan)
Deas Achmad Rivai Kajian Hubungan Keterkaitan Beberapa Produk 46
Aulia Nisa’ul Khoir Radar Baron Vhdd-350c untuk Perancangan Aplikasi
Prediksi Curah Hujan Menggunakan Jst
Backpropagation
Deassy Eirene Pemahaman Analisa dan Prakiraan Cuaca dalam 52
Doloksaribu Membuat Peringatan Dini Cuaca Ekstrim (Studi
Kasus Tanggal 8 Agustus 2015 di Medan)

_____________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar Cuaca 2015 | Vol I : Desember 2015 iv
Diyan Novrida Analisa Kejadian Hujan Lebat di Balikpapan 56
Menggunakan Produk CAPPI, CMAX, UWT, Strom
Track, SWWI pada Radar DWSR-2501c (Studi Kasus
15 Juni 2015)
Dony Christianto, Validasi Curah Hujan Hasil Estimasi Radar Cuaca 61
Sartika Damanik Terhadap Data Observasi Permukaan
Dwi Atmoko Studi Awal Tentang Deteksi Abu dan Asap 66
Pembakaran Biomassa Dengan Menggunakan
Penginderaan Jauh dan Pengamatan Permukaan
6Dwi Hartomo Pemanfaatan Data Radar untuk Peringatan Dini 72
Ramdani Gelombang Tinggi di Wilayah Perairan Selat Sunda
(Studi Kasus 3 – 4 Januari 2015)
Eko Yulianto Nugroho Validasi Arah dan Kecepatan Angin 1000 Meter 77
Produk VVP Radar dengan Hasil Pengamatan
Radiosonde Di Pangkalan Bun
Fajar Setiawan Analisa Sebaran Awan Konvektif Berdasarkan Citra 80
Radar di Jawa Timur
Fitria Puspita Sari Teknik Interpretasi dan Analisa Citra Radar untuk 83
Pemberian Informasi yang Lebih Baik
Herald Betah Menentukan Indikator untuk Prakiraan Gusty 88
dengan Analisa Produk Radar pada Stasiun
Meteorologi Biak Tanggal 27 Juli 2015
Hilma Nurul Fauzia Pemanfaatan Data Radar Cuaca dan WRF untuk 93
Rahman Analisa Kejadian Hujan Lebat Tanggal 03 Juni 2015
di Negara
Levi Ratnasari Karakteristik Bright Band Echo di Radar Cuaca 98
Stamet Radin Inten II Lampung
Maria Carine P.A.D.V Analisa Sistem Presipitasi Menggunakan Dual 103
Eko Wardoyo Doppler C-Band Radar (Studi Kasus Hujan Kediri
Tanggal 2 dan 11 Mei 2015)
Muhammad Analisis Squall Line di Kalimantan Utara (Studi Kasus 107
Hermansyah Tanggal 17 Juli 2014)
Muhammad Nur Hadi Analisa Produk MAX, HWind, dan SWI untuk 112
Pembuatan Peringatan Dini Cuaca Ekstrim di
Sulawesi Utara
Nur Rahmat Jatmiko Analisa Hujan Lebat Pada Musim Transisi di Wilayah 117
DKI Jakarta (Studi Kasus Kejadian Banjir 20 Maret
2015)
Pande Putu Hadi W. Analisis Hujan Sangat Lebat di Kecamatan Negara 125
Kadek Setiya Wati Kabupaten Jembrana Bali (Studi Kasus Tanggal 3
Juni 2015)

_____________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar Cuaca 2015 | Vol I : Desember 2015 v
Rajasain Edralin Analisa Angin Kencang yang Terjadi di Bandara Mopah 130
Merauke (Studi Kasus Tanggal 11 Januari 2015)
Rezky Yunita Pemanfaataan Citra Radar C-Band dalam 134
Mengidentifikasi Fase Pertumbuhan MCS
(Mesoscale Convective System)
Rion Suaib Salman Pemanfaatan Fitur Live Action Tool dalam 139
Pembuatan Peringatan Dini Cueks dan Produk
Informasi Penerbangan
Rizki Adzani, Debora Pemanfaatan dan Verifikasi Akurasi Radar Cuaca 144
Truly Marpaung Dalam Analisis Kejadian Hujan Lebat di Batam (Studi
Kasus Tanggal 18-19 Desember 2014)
Satria Topan Primadi Optimalisasi Penggunaan Produk Radar dalam 149
Pembuatan Peringatan Dini Cuaca (Studi Kasus
Hujan Lebat Nusa Dua, Bali 11 Februari 2015)
Sutikno Threshold PPI, VIL, VIR dan SWWI Pada Radar 153
Cuaca dalam Penentuan Hujan Lebat di Stasiun
Meteorologi Supadio Pontianak
Swasti Ayudia P. Identifikasi Fenomena Cuaca Puting Beliung dan 157
Eko Wardoyo Downburst Serta Optimalisasi Scan Strategy pada
Radar Cuaca di Stasiun Meteorologi Juanda
Surabaya
Tri Setyo Hananto Pemanfaatan Produk Cell Centroid Tracking pada 166
Radar Cuaca Gematronik sebagai Penunjang Proses
Peringatan Dini Cuaca Buruk

_____________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar Cuaca 2015 | Vol I : Desember 2015 vi
PEMANFAATAAN CITRA RADAR C-BAND DALAM
MENGIDENTIFIKASI FASE PERTUMBUHAN MCS (MESOSCALE
CONVECTIVE SYSTEM)
Rezky Yunita
Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas II Syamsudin Noor Banjarmasin
Jl. Angkasa, Bandar Udara Syamsudin Noor, Landasan Ulin, Banjarmasin
Email: yunitarezky@gmail.com

ABSTRAK - Hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu lama yang dihasilkan oleh MCS (Mesoscale
Convective System) kerap berkontribusi terhadap munculnya hujan ekstrim di beberapa wilayah di Indonesia.
Untuk itu, fenomena MCS perlu menjadi perhatian khusus bagi para prakirawan cuaca Badan Meteorologi
Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai bagian dari upaya peningkatan kualitas pelayanan informasi
peringatan dini cuaca ekstrim. Penelitian ini adalah memanfaatkan citra radar C-Band yang terdapat di Stasiun
Meteorologi Syamsudin Noor Banjarmasin guna mengidentifikasi tahapan fase pertumbuhan MCS pada
kejadian hujan lebat tanggal 12 April 2015. Dari hasil interpretasi citra radar dengan menggunakan produk
CAPPI dan CMAX dapat diidentifikasi bahwa MCS yang terjadi pada tanggal tersebut terdiri dari 4 fase utama
dimana masing-masing berlangsung dalam periode waktu berbeda.

Kata Kunci: MCS, Radar, Cuaca Ekstrim

1. PENDAHULUAN

Mesoscale convective system (MCS) adalah


suatu sistem yang terdiri dari kumpulan sel-sel
thunderstorm yang dapat menghasilkan presipitasi
dalam jumlah besar dengan skala spasial mencapai
ratusan bahkan ribuan kilometer[1]. Skala temporal
fenomena MCS berkisar antara 3 – 12 jam, namun
dalam beberapa kejadian dapat mencapai > 24 Jam.
Banyak penelitian tentang MCS yang
mengindikasikan bahwa fenomena MCS terkait
dengan kondisi cuaca buruk seperti tornado, hujan
lebat, hujan es dan angin kencang[2]. Hujan dengan
intensitas tinggi dalam waktu lama yang dihasilkan
oleh MCS ini kerap berkontribusi terhadap munculnya Gambar 1. Perbandingan hasil pengamatan MCS
hujan ekstrim di beberapa wilayah di Indonesia. Untuk dengan citra satelit (kiri) dan radar (kanan)
itu, fenomena MCS perlu menjadi perhatian khusus
bagi para prakirawan cuaca Badan Meteorologi Tujuan dari penelitian ini adalah untuk
Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebagai bagian memanfaatkan citra radar C-Band yang terdapat di
dari upaya peningkatan kualitas pelayanan informasi Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor Banjarmasin
peringatan dini cuaca ekstrim. guna mengidentifikasi tahapan fase pertumbuhan
Berbagai penelitian telah dilakukan terkait MCS pada kejadian hujan lebat tanggal 12 April 2015.
fenomena MCS. Meskipun pentingnya kajian Hujan lebat yang terjadi pada tanggal tersebut telah
mengenai fenomena MCS telah banyak diketahui, mengakibatkan banjir pada sejumlah titik di wilayah
akan tetapi masih banyak hal yang harus dipelajari Kalimantan Selatan.
khususnya tentang tahapan pertumbuhan MCS. Citra Dalam membantu mempelajari fenomena MCS,
satelit dan citra radar saat ini menjadi alat yang paling para peneliti sebelumnya melakukan klasifikasi atau
efektif untuk mengidentifikasi fenomena MCS. Citra pengelompokan kategori MCS dan menganalisa
Satelit yang digunakan umumnya adalah citra satelit perbedaan tiap-tiap kategori. Klasifikasi ini dilakukan
Infrared (IR). Namun demikian, citra satelit dianggap berdasarkan hasil pengamatan citra satelit dan radar.
belum cukup memberikan informasi mengenai a. Klasifikasi MCS dengan citra satelit
struktur awan konvektif di lapisan bawah, oleh Berdasarkan citra IR satelit cuaca, struktur
karenanya citra radar perlu dimanfaatkan guna horisontal MCS dibagi menjadi 4, yaitu[3] :
mengkaji MCS lebih detail. 1. MCC (mesoscale convective complex)
merupakan jenis MCS dengan luasan area awan
dingin (suhu < 52oC) dapat mencapai 50.000 km2.
Daur hidup jenis ini adalah 6 jam dengan esentrisitas

_______________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar Cuaca 2015 | Vol I : Desember 2015 134
> 0,7. Esentrisitas adalah perbandingan antara
diagonal terkecil dengan diagonal terbesar.
2. PECS (persistent elongated convective system)
memiliki ukuran luasan awan dingin (suhu < 52oC)
dapat mencapai 50.000 km2. Daur hidup jenis ini
adalah 6 jam dengan esentrisitas antara 0,2 - 0,7.
3. MßCCS (meso-ß circular convective system)
memiliki wilayah awan dingin (suhu < 52oC) dengan
luasan area mencapai 30.000 km2 dan 50.000 km2.
Daur hidup jenis ini adalah 3 jam dengan esentrisitas
> 0,7.
4. MßECS (meso-ß elongated convective system)
wilayah awan dingin (suhu < 52oC) dengan luasan
area mencapai 30.000 km2 dan 50.000 km2. Daur
hidup jenis ini adalah 3 jam dengan nilai esentrisitas
0,2 - 0,7.

Gambar 3. Klasifikasi fase inisiasi MCS dari


pertumbuhan squall line, struktur sel thunderstorm dan
pola sistem konvektif

Sedangkan terkait dengan fase dewasa (matang),


klasifikasi pertama yang dihasilkan oleh Houze (1989)
mempertimbangkan tingkat kesimetrisan squall-line.
Sehingga dihasilkan dua tipe, yaitu: Simetris yang
Gambar 2. Struktur MCS berdasarkan citra satelit menunjukkan pola garis yang nampak jelas dan sedikit
melengkung di bagian tengah dan pola Asimetris yang
b. Klasifikasi MCS dengan citra radar
menunjukkan bahwa sel-sel yang tergabung dalam
Proses pengkalisifikasian MCS berdasarkan citra
pola ini dipengaruhi oleh kondisi atmosfer yang
satelit dianggap cukup objektif. Sedangkan klasifikasi
sangat labil. Klasifikasi berdasarkan area stratiform di
dengan menggunakan radar sangat subjektif akibat
depan pergerakan MCS selama masa dewasa dikaji
pola MCS yang sering terlihat tidak beraturan.
oleh Rigo and Llasat (2004) dimana struktur MCS
Berkaitan dengan perbedaan pendapat mengenai fase
dapat dikelompokkan dalam 2 kategori, yaitu[5]:
MCS, Leary and Houze (1979) mengemukakan teori
1. Struktur MCS teratur yang memiliki 3 karakteristik:
bahwa siklus hidup MCS secara umum dibagi menjadi
a. Trailing stratiform : daerah konvektif
4 fase, yaitu: Pembentukan, intensifikasi konveksi,
digandengkan oleh daerah stratiform.
fase matang (dewasa) dan fase peluruhan atau disipasi.
b. Leading stratiform : daerah konvektif didahului
Sedangkan Hilgendorf and Johnson (1998)
oleh daerah stratiform.
mengemukakan tahapan yang berbeda, antara lain: 3
c. Parallel stratiform : daerah konvektif dan
fase pertumbuhan awal (inisiasi), fase dewasa dan fase
stratiform berada pada garis parallel.
peluruhan[4].
2. Struktur MCS tidak teratur dimana sebaran daerah
Terkait fase inisiasi, Loehrer and Johnson (1995)
konvektif dan stratiform tidak berpola.
meninjau perbedaan pola pertumbuhan antara MCS
dengan struktur asimetris thunderstorm. Disorganized,
linear, back-building dan intersecting convective
bands adalah keempat kategori hasil dari kajian
mereka. Aspek terpenting dari klasifikasi tersebut
adalah interaksi antar awan-awan konvektif. Bluestein
dan Jain (1985) adalah peneliti yang pertama kali
mencoba mengidentifikasi pola umum pertumbuhan Gambar 4. Struktur horizontal MCS pada fase dewasa
MCS dari pembentukan squall line (MCC dalam (matang)
bentuk linier). Dari pengamatan citra radar,
pertumbuhan squall line terbagi dalam 4 kategori, 2. DATA DAN METODE
yaitu broken line, back building, broken areal dan
embeded areal. Sedangkan Blanchard (1990) 2.1 Data
mengidentifikasi ada tiga pola, yaitu: linear convective Data dalam penelitian ini merupakan data hasil
systems, occluding convective systems dan chaotic pengamatan Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor
convective systems (gambar 3). Dalam penelitian ini, Banjarmasin pada tanggal 12 April 2015. Data-data
bagian terpenting adalah proses dari penggabungan tersebut meliputi:
seluruh klasifikasi tersebut baik dalam bentuk linier a.Data produk CAPPI, CMAX dan VCUT dari
maupun non-linier. radar C-Band dengan merk EEC

_______________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar Cuaca 2015 | Vol I : Desember 2015 135
b. Data pengamatan cuaca sinoptik Kalimantan Selatan saat itu merupakan awan
c. Data pengamatan radiosonde Jam 00.00 konvektif seperti cumulus dan cumulonimbus.
UTC Pertumbuhan sel-sel awan tersebut cukup cepat,
2.2 Metode terlihat pada citra radar CAPPI jam 04.08 UTC area
Metode yang digunakan dalam penelitian ini awan-awan konvektif mulai meluas dan muncul pula
adalah dengan interpretasi produk CMAX yang sel-sel awan konvektif baru di beberapa wilayah.
dihasilkan oleh radar, serta mengidentifikasi
kesamaan ciri-ciri dari tahapan pertumbuhan Fase Intensifikasi
MCS di wilayah Kalimantan Selatan pada
tanggal 12 April 2015 dengan teori atau hasil
kajian penelitian sebelumnya.

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Atmosfer
Gambar 7. Citra radar CAPPI Jam 05.03 UTC (kiri)
dan 05.31 UTC (kanan)

Akibat sebaran awan yang tidak beraturan


(chaotic) maka guna membantu memahami proses
intensifikasi MCS, pada kasus ini diambil fokus objek
yang dianggap paling dominan (lihat lingkaran
merah). Berdasarkan pola sebaran awan konvektif
pada jam 04.00 – 05.00 UTC, pola ini cukup sesuai
dengan kategori occluding convective system yang
dikemukakan oleh Blancard (1990)[4]. Dimana satu
Gambar 5. Data sounding Jam 00z atau lebih sel-sel awan konvektif bergabung sehingga
membentuk cluster awan konvektif baru yang lebih
Berdasarkan data pengamatan radiosonde besar. Pada jam 05.31 UTC, terlihat bahwa sel-sel
jam 00.00 UTC di stamet syamsudin noor awan yang berada di arah barat laut juga mulai
Banjarmasin, nilai CAPE terpantau cukup besar bergabung satu sama lain (lihat lingkaran putih).
yaitu mencapai 1884 J/Kg. Kondisi ini
menunjukkan adanya potensi aktifitas konvektif
yang tinggi di wilayah Kalimantan Selatan.
Indeks stabilitas atmosfer LI menunjukkan nilai -
4.3 yang artinya kondisi atmosfer labil dan
berpeluang terbentuk Thunderstorm. Sedangkan
K-Indeks bernilai 37 yang menunjukkan adanya
peluang konvektif sedang, didukung oleh suhu
konvektif (Tc) yang cenderung mudah dicapai,
yaitu sebesar 31.5oC. Data pengamatan sinoptik
hari sebelumnya (11 April 2015) menunjukkan
adanya pemanasan yang cukup tinggi, dimana
suhu maksimum pada hari itu mencapai 33.5oC.

Fase Inisiasi (Early Stage)

Gambar 8. Citra radar CAPPI Jam 05.58 UTC (atas)


dan 06.26 UTC (bawah)

Gambar 6. Citra radar CAPPI Jam 03.03 UTC Hanya dalam waktu kurang dari 30 menit, kedua
(kiri) dan 04.08 UTC (kanan) cluster awan (lingkaran merah dan putih) terlihat
bergabung membentuk suatu deretan awan konvektif
Pada jam 03.03 UTC, citra radar CAPPI pada Jam 05.58Z. Kedua cluster awan konvektif
menunjukkan adanya objek (awan) dengan nilai echo tersebut tampak bergabung membentuk sudut di
yang cukup tinggi (30 – 45 dbz) pada ketinggian 1 km bagian selatan. Terlihat bahwa keduanya membentuk
dari permukaan. Dari nilai echo yang cukup tinggi suatu pola linier seperti squall line, namun pada pukul
tersebut, dapat diidentifikasi bahwa awan-awan yang
tumbuh di wilayah timur, selatan dan utara

_______________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar Cuaca 2015 | Vol I : Desember 2015 136
06.26 UTC pola tersebut kembali chaos atau tidak Jika ditarik garis horizontal dari ujung ke ujung
beraturan. maka lebar wilayah yang dihasilkan oleh cluster MCS
pada tanggal 12 April 2015 mencapai + 80 Km.
Fase Dewasa (Maturity Stage) Gambar 11 menunjukkan penampang irisan vertikal
(VCUT) dari cluster tersebut. Terlihat pula bahwa
reflektifitas tinggi ( > 55 dbz) berada dekat dengan
permukaan di sekitar pusat radar. Pada saat itu, hujan
lebat terpantau di sejumlah wilayah di Kalimantan
Selatan khususnya Banjarbaru, Cempaka, Martapura,
Pelaihari, Banjarmasin dan Sekitarnya. Stasiun
Meteorologi Syamsuddin Noor mencatat hujan selama
3 Jam antara jam 06.00 – 09.00 UTC adalah sebesar
100 mm. Sedangkan Stasiun Klimatologi Banjarbaru
mencatat hujan dengan periode yang sama sebesar 73
mm. Total akumulasi curah hujan selama 24 jam di
Stasiun Meteorologi Syamsudin Noor Banjarmasin
adalah sebesar 117.5 mm.

Gambar 9. Citra radar CAPPI Jam 06.35 UTC (atas)


dan 06.44 UTC (bawah)

Pada Jam 06.35 UTC, dua gugusan awan yang


sebelumnya terlihat membentuk pola linier berbaur
membentuk suatu cluster awan besar. Tahap ini
mengindikasikan mulai terjadinya fase dewasa
Gambar 11. Vertical Cut produk CMAX Jam 06.44 UTC
(mature). Pada Jam 06.44 UTC terlihat bahwa sebuah
cluster awan dengan ukuran besar telah terbentuk.
Fase Peluruhan (Dissipation Stage)
Fase ini merupakan fase puncak dari evolusi MCS.
Dari citra CMAX Jam 06.35 UTC (gambar 10) dapat
dilihat bahwa reflektifitas maksimum berada
mengelilingi pusat radar dan dari citra CMAX Jam
06.44 UTC terlihat bahwa pusat radar seolah menjadi
titik pertemuan awan-awan konvektif.

Gambar 12. Citra radar CAPPI Jam 07.12, 10.07, 11.00


dan 12.00 UTC

Pada Jam 07.00 UTC, MCS mulai memasuki


fase peluruhan atau disipasi. Pada fase ini, hujan
ringan dari awan-awan stratiform masih terjadi. Fase
peluruhan umumnya memakan waktu yang cukup
lama jika proses konvektif kuat. Dalam kasus ini, fase
peluruhan berlangsung hingga jam 12.06 UTC. Pada
jam tersebut, MCS mulai luruh hingga fase non-
presipitasi (tidak ada hujan).
Gambar 10. Citra radar CMAX Jam 06.35 UTC (atas)
dan 06.44 UTC (bawah)

_______________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar Cuaca 2015 | Vol I : Desember 2015 137
4. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil interpretasi citra radar,
fenomena MCS yang terjadi di wilayah
Kalimantan Selatan pada tanggal 12 April 2015
terdiri dari 4 fase atau tahapan. Tahapan pertama
adalah fase inisiasi yang terjadi cukup singkat
yaitu pada Jam 03.00 UTC hingga 04.00 UTC.
Fase berikutnya adala intensifikasi yang ditandai
oleh penggabungan beberapa cluster awan
konvektif. Fase ketiga merupakan fase dewasa
atau matang yang terjadi antara jam 06.35 –
06.44. Sedangkan fase terakhir adalah fase
peluruhan atau disipasi yang terjadi mulai dari
jam 07.00 hingga mencapai fase non-presipitasi
pada jam 12.00 UTC.
Tahapan-tahapan MCS yang telah berhasil
diidentifikasi pada penelitian ini sesuai dengan
kajian yang telah dilakukan sebelumnya oleh
Leary and Houze (1979) serta Rigo dan Llasat
(2007).

5. DAFTAR PUSTAKA
[1] Houze, R. A., Jr. 1993. Cloud Dynamics.
USA. Academic Press.
[2] Maddox., Houze, R. A. 1980. Mesoscale
convective complexes. Bulletin of American
Meteorological Society. 61,1374–1387.
[3] Jirak, I. L., Cotton, W. R., dan McAnelly,
R. L. 2003. Satellite and radar survey of
mesoscale convective system development.
Mon.WeatherRev131,2428–2449.
[4] Rigo, Tomeu dan Llasat, Maria Carmen.
2007. Analysis of mesoscale convective
systems in Catalonia using meteorological
radar for the period 1996–2000.
Atmospheric Research. 83, 458–472
[5] Houze, R. A., Jr., S. A. Rutledge, M. I.
Biggerstaff, dan B. F. Smull. 1989.
Interpretation of Doppler weather-radar
displays in mid-latitude mesoscale
convective systems. Bulletin of American
Meteorological Society. 70, 608–619

_______________________________________________________________________________________________
Prosiding Workshop Operasional Radar Cuaca 2015 | Vol I : Desember 2015 138
View publication stats