Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kepulauan Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu
lempeng Indo-Australia di bagian Selatan, lempeng Eurasia di bagian Utara, dan lempeng
Pasifik di bagian Timur (Ibrahim, 2005). Peta tektonik kepulauan Indonesia dan
sekitarnya dapat dilihat pada Gambar 1. Wilayah yang rawan dan sering terjadi gempa
bumi umumnya memiliki kesamaan letak geografis dengan zona tumbukan lempeng.
Daerah Lombok merupakan salah satu wilayah yang dekat dengan zona tumbukan
lempeng. Dikarenakan Lombok juga merupakan bagian dari jalur gempa bumi yang
terbentang dari Pulau Sumatra, Jawa, Bali hingga Nusa Tenggara.

Gambar 1.1. Peta Tektonik Kepulauan Indonesia dan Sekitarnya (Bock, 2003).
Lempeng Indo-Australia bergerak relatif ke utara dan menyusup ke bawah
Lempeng Eurasia karena Lempeng Indo-Australia merupakan lempeng samudra yang
memiliki berat jenis lebih besar dibandingkan lempeng benua sehingga lempeng samudra
akan menunjam di bawahnya. Adanya akumulasi energi hasil desakan akibat pertemuan
dua lempeng yang melampaui batas elastisitasnya mengakibatkan muncul bidang patahan
atau sesar. Sesar adalah pergeseran antara dua blok batuan baik secara mendatar, ke atas
maupun relatif ke bawah blok lainnya. Pergeseran antar blok mengakibatkan adanya
akumulasi energi, sehingga menimbulkan gempabumi. Hal ini menunjukkan bahwa
kawasan sesar atau patahan merupakan zona yang rawan terhadap gempabumi.

Daerah Lombok menjadi salah satu daerah yang rawan terjadi bencana Gempa
bumi. Daerah penelitian yang diambil yaitu kabupaten Lombok barat desa Taman Ayu
merupakan daerah yang terdiri dari persawahan dan merupakan daratan rendah.
Berdasarkan peta geologi, di daerah tersebut terdapat sesar. Pengertian sesar yang
dimaksudkan adalah struktur geologi yang terbentuk karena terdapatnya dislokasi atau
patahan yang memotong bidang-bidang perlapisan antar batuan. Pada umumnya bidang
sesar terisi oleh fluida atau mineral yang relatif lebih kondusif dari batuan di sekitarnya
(Hendrajaya dkk, 1993). Adanya sesar ini dapat diidentifikasi dengan menggunakan
metode geomagnet.
Gambar 1.2. Peta geologi pulau Lombok

Metoda Geomagnet adalah salah satu metoda di geofisika yang memanfaatkan


sifat kemagnetan bumi. Menggunakan metoda ini diperoleh kontur yang
menggambarkan distribusi susceptibility batuan di bawah permukaan pada arah
horizontal. Dari nilai susceptibility selanjutnya dapat dilokalisir / dipisahkan batuan yang
mengandung sifat kemagnetan dan yang tidak. Geofisika mempelajari semua isi bumi
baik yang terlihat maupun tidak terlihat langsung oleh pengukuran sifat fisis dengan
penyesuaian pada umumnya pada permukaan (Dobrin dan Savit, 1988).

Pada bulan Agustus tahun 2018 pulau Lombok dilanda bencana gempa bumi.
Daerah yang terkena dampak gempa salah satunya adalah desa Taman Ayu kabupaten
Lombok Barat, oleh karena itu perlu diadakan penelitian untuk mengidentifikasi sesar
yang terdapat di daerah tersebut.
1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari penelitian ini adalah :


1. Bagaimana gambaran struktur bawah permukaan daerah penelitian berdasarkan
persebaran nilai anomali magnetik.
2. Bagaimana interpretasi data suseptibilats untuk mengetahui keberadaan sesar bawah
permukaan di lokasi penelitian.

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pola sebaran anomali medan magnet di daerah penelitian.
2. Mengidentifikasi keberadaan sesar bawah permukaan dearah penelitian.

1.4 Batasan Masalah


Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Identifikasi lapisan bawah permukaan di lakukan pada beberapa titik di Desa Taman
Ayu khususnya dusun Jeranjang.
2. Identifikasi lapisan batuan yang memiliki keberadaan sesar berdasarkan nilai
suseptibilitas batuan.

1.5 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui letak sesar bawah permukaan sehingga dapat dilakukan tindakan


lanjutan untuk menghadapi bencana.
2. Untuk memberikan informasi bagi pemerintah dan masyarakat setempat mengenai
struktur bawah permukaan dan sebagai literatur pendukung dalam penelitian
geofisika.
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Metode Geomagnet


Metode geomagnet adalah salah satu metode geofisika yang mempelajari kemagnetan di
dalam bumi. metode geomagnet di dasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan
magnet di permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya benda yang termagnetisasi di
bawah permukaan yang disebut dengan suseptibilitas magnetik. Pada setiap akuisisi data
lapangan magnetik harus di awali dengan mendesain akuisisi area yang akan dilakukan
pengukuran geomagnet. Pengukuran geomagnetik ini dapat dilakukan di darat (land
magnetometer), di laut (marine) dan di udara (aeromagnetik). Dalam pengolahan data
magnetik juga terdapat beberapa koreksi dan pengolahan lebih lanjut, dikarenakan kondisi
data magnetik yang dipole terkadang sulit di interpretasi, oleh sebab itu pada advance
prosesing untuk meminimalisasi ambiguitas dalam interpretasi.
Survey magnetik yang dilakukan merupakan survey magnetik rinci. Jarak antar titik ukur
serapat mungkin untuk menghindari terlalu banyaknya interpolasi pada peta magnetik yang
dihasilkan. Peta anomali magnetik yang dihasilkan masih dipengaruhi oleh arah inklinasi
medan magnet bumi pada dearah penyelidikan sehingga maksimum profil anomali tidak
berhubungan langsung dengan posisi sumber benda penyebab anomali. Untuk
menghilangkan pengaruh sudut inklinasi magnetik maka dilakukan filter reduksi ke ekuator
(Blakely, 1995).
2.2 Teori Kemagnetan
2.2.1 Suseptibilitas Magnet
Kemampuan suatu material untuk termagnetisasi digambarkan oleh nilai
suseptibilitas magnet (k). Suseptibilitas magnet (k) merupakan parameter fisis dari
batuan yang dicari pada pengukuran geomagnet. Faktor yang mempengaruhi nilai
suseptibilitas adalah litologi dan mineral-mineral penyusun batuan. Nilai
suseptibilitas batuan ditunjukkan pada Tabel 1-4 Jika sebuah material dengan nilai
suseptibilitas magnet (k) diletakkan pada medan magnet luar dengan kuat medan
magnet H (A/m), maka material tersebut akan terinduksi oleh medan magnet luar
sehingga memiliki nilai intensitas magnetisasi M (A/m) yang ditunjukkan oleh
(Telford et al., 2004):
𝑀=𝑘𝐻 (1)
2.2.2 Induksi Magnet
Adanya medan magnet yang berasal dari bumi menyebabkan terjadinya induksi
magnet. Induksi magnet B adalah medan magnet total yang masih dipengaruhi oleh
medan magnet bumi B0 dan medan magnet hasil induksi Bm dari material yang memiliki
nilai suseptibilitas. Secara umum ditunjukkan pada persamaan berikut (Serway &
Jeweet, 2004):
𝐵 = 𝜇0 (𝐻 + 𝑀) = 𝜇0 (1 + 𝑘)𝐻 = 𝜇0 𝜇𝐼 𝐻 (2)

2.3 Medan Magnet Bumi


Medan magnet adalah anomali magnetik yang disebabkan oleh efek medan magnet bumi.
hal ini mengakibatkan sifat dan karakter dari medan magnet perlu dilakukan reduksi data
sesuai datum dan interpretasi anomali. Medan geomagnet memiliki data yang lebih komplek
dibandingkan dengan medan gravity. Pada titik medan magnet yang di permukaan bumi.
seperti gambar dibawah ini yaitu gambar yang menunjukkan komponen medan magnet.
Dimana vektor B adalah total magnet, komponen vertikal Z dan komponen horisontal H
dalam arah utara magnet. Sudut yang terbentuk antara utara geografis dan utara magnet yang
disebut deklinasi D dan Inklinasi I. Nilai medan magnet total di kutub bernilai 70.000 nT dan
25.000 nT di ekuator (Kearey et al, 2002).

Gambar 2.1. Elemen-Elemen Medan Magnet Bumi

Deklinasi D adalah sudut antara utara magnetik dengan utara geografis, inklinasi I
adalah sudut antara bidang horizontal dan vektor medan magnetik total F, besar sudut diukur
dalam derajat. Medan Magnet bumi terdiri dari tiga bagian yaitu medan utama, medan luar,
dan anomali medan magnetik. Anomali magnetik merupakan target survei. Adanya anomali
magnetik menyebabkan perubahan dalam medan magnet total bumi dan dapat dituliskan
sebagai berikut :

HT = HM + HA (3)

Dengan HT adalah medan magnet total bumi, HM adalah medan magnet utama bumi
dan HA adalah medan anomali magnetik (Nuha dan Avisena, 2012).

2.4 Anomali Medan Magnet


Anomali medan magnet merupakan nilai hasil perhitungan medan magnet setelah
dikoreksi IGRF dan variasi harian. Adanya anomali medan magnet disebabkan oleh variasi
susunan mineral-mineral magnetik yang terkandung dalam batuan. Karena arah B sama
dengan 𝐵𝐼𝐺𝑅𝐹 dan 𝐵𝑉𝐻 maka nilai anomali medan magnet Δ𝐵 ditunjukkan pada persamaan
berikut (Telford et al., 2004):
Δ𝐵=𝐵−𝐵𝐼𝐺𝑅𝐹±𝐵𝑉𝐻 (4)
dengan B adalah nilai medan magnet total dalam nT, 𝐵𝐼𝐺𝑅𝐹 adalah nilai IGRF yang mewakili
medan magnet utama bumi B0 dalam nT, 𝐵𝑉𝐻 adalah nilai variasi harian dalam nT.
2.5 Sesar
Sesar atau patahan merupakan struktur retakan yang mengalami pergeseran (Noor,
2012). Sesar terjadi karena batuan mengalami efek tegangan yang melampaui kekuatan
elastisitasnya. Pergeseran blok batuan yang retak tersebut dapat terjadi dalam jarak yang
sangat kecil sampai dengan skala yang lebih besar atau disebut dengan daerah sesar skala
regional.
Dalam keadaan yang sebenarnya, permukaan sesar dapat mempunyai keadaan
yang berbeda dan gerakannya dapat mempunyai arah yang berlainan sepanjang
permukaannya. Gerakan sesar dapat dibedakan menjadi tiga seperti ditunjukkan pada
Gambar 4.

Gambar 2.1. Jenis Sesar : A) Sesar Geser, (B) Sesar Turun,


(C) Sesar Naik (Ibrahim Dan Subardjo, 2005)
2.6 Data Magnetik
Data medan magnetik total hasil pengukuran di lapangan masih berbaur dengan
pengaruh dari dalam dan dari luar bumi. Pengaruh medan yang berasal dari luar bumi
dihilangkan dengan koreksi medan magnetik harian. Sedangkan medan magnet yang berasal
dari dalam bumi yang dibangkitkan dari outer core disebut medan magnet utama dan medan
magnet yang berasal dari kerak bumi merupakan target survei geomagnetik. Pengaruh dari
medan utama pada data hasil pengukuran dihilangkan dengan koreksi medan utama magnet
bumi atau koreksi IGRF (International Geomagnetic Reference Field). Data hasil koreksi
variasi harian dan koreksi IGRF ini disebut anomali medan magnetik residual (∆T),
yaitu(Suparman, 2010):
ΔT = Tobs ± ΔTvh –TIGRF (5)
Dimana:
Tobs = harga medan magnet terukur
ΔTvh = variasi harian medan magnet terukur
TIGRF = medan magnet utama bumi
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Praktikum

Praktikum ini dilaksanakan di Jeranjang, Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung,


Kabupaten Lombok Barat. Dengan mengolah jenis data primer.

3.2 Waktu dan Tempat Praktikum

Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2019 sampai 27 Oktober 2019.
Bertempat di Jeranjang, Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung, Kabupaten Lombok Barat.
3.3 Alat Penelitian
Adapun alat penelitian yg digunakan dala penelitian geomagnet ini adalah
No Nama Alat Kegunaan Jenis
1 Proton Precission Alat ukur kuat medan magnetik Hardware
Magnetometer GSM-19T v
7.0
2 GPS Menentukan titk lokasi Hardware
penelitian
3 Laptop Menyimpan dan mengolah data Hardware
4 Kamera Untuk keperluan dokumentasi Hardware
5 Microsoft Excel 2016 Mengkalkulasikan data Software
6 Surfer Menentukan kontur anomali Software
7 OASIS Montaj Mengolah data anomali Software
magnetik
8 Google Earth Pro Menampilkan lintasan Software
pengambilan data

3.4 Prosedur Penelitian


3.4.1 Pengambilan data
Pengambilan data dilakukan sebanyak 69 titik dengan lintasan sebanyak 10 (A-J).
Dimana setiap lintasan sebanyak 7 titik. Metode yang digunakan adalah metode
geomagnet dengan menggunakan alat Proton Precission Magnetometer (PPM). Pada alat
PPM dibagi menjadi dua bagian yaitu rover dan base. Rover digunakan untuk
mendapatkan hasil koreksi medan magnet observasi di daerah setempat. Sedangkan base
digunakan untuk mendapatkan hasil koreksi medan magnet harian, perbedaannya dengan
rover yaitu untuk base tidak dipindah – pindahkan sehingga pada base ini hanya
bergantung terhadap aktifitas matahari.
Gambar 3.1 Lintasan pengukuran hasil pencitraan google earth

Sebelum mulai mangambil data, alat Proton Precission Magnetometer GSM-19T


v 7.0 diatur terlebih dahulu sehingga nilai hasil pembacan dapat ditampilkan.
Pengambilan data pada setiap titik dilakukan sebanyak lima kali yaitu arah tengah, depan,
kanan, belakang dan kiri dari operator pembawa alat. Kemudian notulen akan mencatat
nilai pembacaan alat sebagai hasil pengamatan.

3.4.2 Pengolahan Data


Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan berbagai koreksi untuk
mendapatkan nilai anomali medan magnet. Anomali medan magnet merupakan nilai dari
hasil perhitungan koreksi harian, koreksi IGRF serta koreksi topografi.Selain itu,
pengolahan data dilakukan dengan menentukan reduksi ke kutub, kontinuitas keatas serta
pemodelan 2D.
a. Koreksi Variasi Harian
Koreksi variasi harian dilakukan untuk menghilangkan pengaruh medan magnet
dari luar yang disebabkan oleh aktivitas matahari. Nilai variasi harian akan bergantung
pada pengukuran nilai di base.
b. Koreksi IGRF
Koreksi IGRF merupakan koreksi yang bersifat global karena koreksi ini
merupakan koreksi yang bersumber dari dalam bumi itu sendiri. Koreksi IGRF dapat
diakses melalui website NOAA maupun calculator IGRF. Nilai koreksi IGRF didapatkan
dengan memasukkan data koordinat dan elevasi.

Gambar 3.2 Tampilan calculator IGRF diakses secara online

c. Anomali Medan Magnet


Nilai anomali setiap titik pengukuran akan menghasilkan nilai yang berbeda
sesuai dengan struktur batuan yang berada di bawah permukaan. Setelah didapatkan nilai
anomali medan magnet pada setiap titik pengukuran, maka data tersebut akan digunakan
pada proses pengolahan selanjutnya. diplot ke dalam peta kontur anomali magnetik
dengan bantuan program surfer.
d. Kontinuitas ke Atas
Kontinuasi ke atas merupakan proses pemfilteran data anomali medan magnet
terhadap ketinggian yang berfungsi untuk mengoreksi pengukuran medan magnet dan
menghilangkan pengaruh noise yang tidak diinginkan di permukaan tempat pengukuran.
Pada langkah ini dilakukan pengolahan data menggunakan software Oasis Montaj untuk
menghilangkan pengaruh efek magnetik benda-benda yang berada dilokasi penelitian.
Kemudian dilakukan proses pengolahan Anomali magnetic residual. Proses ini
juga dilakukan dengan software oasis mantaj sehingga diperoleh peta kontur. Dari hasil
peta kontur tersebut dilakukan interpretasi data hasil penelitian. Anomali magnetic
residual diperoleh dari hasil pengurangan anomali magnetic total dan anomali magnetic
regional hasil proses kontinuasi keatas.

3.5 Interpretasi data

Interpretasi data dilakukan untuk menarik kesimpulan dari penelitan. Untuk dapat
mengidentfikasikan sesar kita harus mengetahui lapisan batuan yang bisa dilakukan dengan cara
melihat nilai suseptibilitas batuan.
3.6 Diagram Alir Penelitian

Persiapan:

1. Mencari refrensi
2. Survey lokasi
3. Menyiapkan alat

Pengambilan data

Pengolahan data
menggunakan
software

Iterpretasi data

Kesimpulan

Gambar 3.3 Diagram alir Penelitian


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
Interpretasi struktur bawah permukaan pada kawasan Sesar Jeranjang
berdasarkan pengukuran medan magnet bertujuan untuk mengetahui persebaran nilai
anomali medan magnet, struktur bawah permukaan dan identifikasi jalur sesar
tersebut. Alat yang digunakan untuk akuisisi medan magnet di kawasan Jeranjangn
adalah Proton Precession Magnetometer (PPM) merk Geometric tipe G-856.
Berikut adalah hasil pengolahan data Anomali magnetic pada daerah
Jeranjang desa Taman Ayu kabaupaten Lombok Barat, menggunakan software
Oasis montaj:
a. Peta Elevasi

Gambar 4.1 Peta Elevasi


Dari gambar dapat dilihat bahwa terdapat 5 warna dasar yaitu, kuning, biru,
merah, hijau, dan merah muda. Bagian sebelah kanan menunjukkan nilai nT. Gambar
diatas merupakan gambar dari peta kontur ketinggian(elevasi) daerah jeramjang atau
lokasi penelitian. Daerah tersebut dapat kita identifikasi ketinggiannya berdasarkan
gambar 4.1 yaitu daerah lembah dan daerah tinngi dan daerah datar. Terlihat beberapa
warna yang agak gelap menunjukan bahwa ketinggiannya rendah sedangkan warna yang
terlihat agak cerah,merupakan dataran yang tinggi.

b. Peta Anomali Total

Gambar 4.2 Peta Anomali Total

Gambar 4.2 menunjukkan pola sebaran anomali medan magnet di kawasan


penelitian yang memiliki kisaran nilai anomali medan magnet antara -95,8 nT – 1.138,1
nT. Kawasan penelitian memiliki kisaran nilai anomali medan magnet yang cukup lebar
namun gradasi warnanya masih agak mirip. Anomali warna sedang berwarna hijau
sampai kuning tersebar di bagan bawah peta yaitu dari barat – tengah – hingga ujung
timur dengan rentang nilai 704,3 nT – 274,3 nT. Wanra rendah berwarna biru berada di
bagian selatan lokasi penelitian, dengan rentang nilai 240,5 nT – -95,8 nT. Anomali
tinggi berwarna jingga sampai merah muda berada barat laut – utara -timur laut - timur
kawasan penelitian dengan rentang nilai 715,6 nT – 1.138,1 nT.
c. Peta Residual dan Peta Regional

Gambar 4.3 Peta Residual

Pada peta terlihat nilai nT tertinggi yaitu 14.1 – 39.7 yang ditunjukkan dengan warna
merah muda pda peta. Nilai nT terendah berwarna biru muda sampai biru tua dengan
nilai nT -11.0 - -30.3. Terlihat warna pada peta manunjukkan anomaly pada lokasi
penelitian.
d. Peta Regional

Gambar 4.4 Peta Regional

Peta Regional di atas menunjukkan sebaran anomaly di daerah atau lokasi


penelitian. Dimana peta tersebut menunjukkan daerah yang memiliki batuan dengan
suseptibilitas tinggi dan rendah. warna tinggi menunjukkan keberadaan batuan dengan
suseptibilitas tinggi seperti batuan beku dari gunungapi dan warna cerah menunjukkan
keberadaan batuan dengan suseptibilitas rendah seperti batuan sedimen. Untuk
menjelaskan lapisan-lapisan batuan di kawasan penelitian perlu dilakukan pemodelan 2D
dengan menggunakan kontur anomali medan magnet residual. Berikut adalah pemodelan
2D dari peta Regional dengan 2x slice sebagai pembanding.
Gambar 4.5 Pemodelan adanya sesar untuk sayatan 1

Gambar 4.6 Pemodelan adanya sesar untuk sayatan 2

Pada Gambar menunjukkan pemodelan sesar pada lokasi penelitian. Untuk nilai
suseptibilitas dari gambar di atas dapat dilihat pada table 4.1 berikut:

No Model Suseptibilitas Kedalaman Densitas Jenis


(m) (gr/cm) Batuan
1. 0.000401 0 - 116 2.67 Sandstone

2. 0.00001 – 10 - 160 2.76 Shale


0.000051

3. 0.000101 – 90 - 230 2.67 Limestone


0.0000501
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai
berikut:
1. Data anomaly berhasil diperoleh yang ditunjukkan pada peta anomaly total
dengan nilai nT -95.8 – 1138.1.
2. Diduga terdapat sesar pada lokasi penelitian dengan jenis batuan, shale,
sandstone dan limestone.
5.2 Saran
Sebelum melakukan penelitian alangkah baiknya praktikan melakukan survey
lapan terlebih dahulu dan mempelajari bagian dan fungsi dari alat praktikum.
DAFTAR PUSTAKA

Blakely, R. J. (1995). Potential Theory in Gravity and magnetic application,. Cambridge : Cambridge
University Press. Dippipo, R. (2012).

Noor, Djauhari. (2012). Pengantar Geologi. Fakultas Teknik. Universitas Pakuan.

Telford, W.M., Geldart, L.P., dan Sheriff, R.E., (2004). Applied Gophysics Second Edition.
New York: Cambridge University Press.

Suparman, Yasa; 2010, Deliniasi Semburan Gas di Kabupaten Serang, Banten berdasarkan Data
Magnetik, Bulletin Vulkanologi dan Bencana Geologi, Vol.5 No.2.

Ibrahim, Gunawan, dan Subardjo. 2005. Pengetahuan Seismologi, Jakarta : Badan


Meteorologi dan Geofosika.
Lampiran 1