Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 1

HERNIA DI RS dr SOEHADI PRIJONEGORO SRAGEN

Disusun Oleh :

1. Nurrohim Edy Wasono (17027)

2. Nurul Safitri (17028)

3. Dyah Ayum Pratiwi (17014)

PROGRAM STUDI DIII KEPERAWATAN AKADEMI KEPERAWATAN


INSAN HUSADA SURAKARTA TAHUN 2019/2020
LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH 1
HERNIA

A. DEFINISI
Hernia adalah penonjolan sebuah organ jaringan atau struktur melewati dinding
rongga yang secara normal memang berisi bagian-bagin tersebut. (Diyono dan Mulyanti,
2013 : 65).
Hernia adalah kelainan pada dinding abdomen yang memungkinkan isi abdomen
menonjol dari rongga abdomen. (Lemone, Burke, Bauldoff, 2012 : 889).

B. ETIOLOGI
Menurut Diyono dan Mulyanti (2013:65-67), Hernia abdominal cenderung terjadi
pada kelemahan atruktural yang didapat atau kongenital atau trauma pada dinding
abdominal, yang terjadi peningkatan tekanan intra-abdomen akibat dari mengangkat
benda berat, obesitas, kehamilan, mengejan, batuk, atau kedekatannya dengan tumor. Bila
faktor ini ada bersama dengan kelemahan otot individu akan mengalami hernia.
Bila isi kantong hernia dapat dipidahkan ke rongga abdomen dengan manipulasi,
hernia disebut redusibel. Hernia iredusibel dan inkarserata adalah istilah yang
menunjukkan hernia yang tidak dapat dipindahkan atau dikurangi dengan manipulasi.

C. KLASIFIKASI
Banyak jenis hernia abdominal yang terjadi, diklasifikasikan berdasarkan tempat :
1. Hernia inguinal (paling umum), visera menonjol ke dalam kanal inguinal pada titik di
mana tali spermatik muncul pada pria, dan sekitar ligamen pada wanita. Hernia
inguinal indirek lengkung usus keluar melalui kanalis inguinalis dan mengikuti kordo
spermatikus (pria) atau ligamen sekitar (wanita), ini akibat dari gagalnya prosesus
vaginalis untuk menutup sebelahtestis turun ke dalam skrotum, atau fiksasi ovarium.
Hernia inguinalis direk lengkung usus keluar melalui kanalis inguinalis posterior.
2. Hernia femoralis terjadi di mana arteri femoralis masuk ke dalam kanal femoral, dan
muncul di bawah ligamen inguinal di bawah pangkal paha. Hernia fermoralis terjadi
melalui cincin femoral dan lebih umum pada wanita daripada pria. Ini mulai sebagai
penyumbat lemak di kanalis femoralis yang membesar secara bertahap menarik
peritorium dan hampir tidak dapat dihindari kandung kemih masuk ke dalam kantung.
Ada insiden yang tinggi dari inkarserata dan strangulasi dengan tipe hernia ini. Hernia
fermoralis lengkung usus melalui cincin fermoralis turun ke kanalis fermoral melalui
anulus femoralis keyossa ovalis.
3. Hernia umbilikal terjadi karena kegagalan orifisium umbilikal untuk menutup. Hal ini
paling sering terjadi pada wanita obesita, anak-anak, dan pada pasien peningkatan
intra-abdominal karena sirosis dan ascites. Tipe hernia ini terjadi pada sisi insisi
bedah sebelumnya yang telah sembuh secara tidak adekuat,karena masalah pasca-
operasi seperti infeksi, nutrisi tidak adekuat, distensi ekstrem.
4. Hernia insisional atau ventral terjadi melalui dinding abdominal karena kelemahan,
kemungkinan juga terjadi karena penyembuhan insisi bedah yang buruk.
5. Hernia parastomal menonjol melalui defek fasial di sekitar stoma dan kedalam
jaringan subkutan.
6. Hernia epigastirum tampak melalui defek dilinea alba dan biasanya ditemukan di
garis tengah antara xifisternum dan umbilikus.
7. Hernia ventralis adalah nama umum untuk semua hernia di dinding perut bagian
antaralateral seperti pada hernia sikatrik. Hernia sikartik merupakan penonjolan
peritoneum melalui bekas operasi.

D. PATOFISIOLOGIS
Menurut Diyono dan Mulyanti (2013:67-68), Hernia Inguinalis Lateralis
(Indicekta) sebagian besar ada fakta kongenital adanya penonjolan dari prossus vaginalis
peritonel. Hernia Inguinalis Medialis (Direkta) dan hernia femoralis dapat dikatakan
hernia yng didapat (acquisita). Semua keadaan yang menyebabkan kenaikan tekanan
intra-abdomen seperti kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat,
mengejan pada saat defekasi, dan mengejan pada saat miksi, misalnya akibat hipertrofi
prostat dapat menjadi pencetus timbulnya hernia.Kanalis Inguinalis adalah kanal yang
normal pada fetus. Pada bulan ke-8 kehamilan, terjadi desensus testismelalui kanal
tersebut. Penurunan testis tersebut akan menarik peritoneum ke daerah skrotum,
sehingga terjadi penonjolan peritonum ke daerah skrotum disebut dengan prosessus
vaginalis peritonei.
Pada bayi baru lahir, umumnya proses ini telah mengalami obliterasi sehingga isi
rongga perut tidak dapat melalui kanalis tersebut. Namun dalam beberapa hal sering kali
kanalis ini tidak menutup, karena testis turun terlebih dahulu, maka kanalis inguinalis
kanalis lebih sering terbuka, maka yang kanan biasanya juga terbuka. Dalam keadaan
normal, kanalis yang terbuka ini akan menutup pada usia dua bulan. Bila prosesus
terbuka terus (karena tidak mengalami obliterapi) akan timbul hernia inguinalis lateralis
kongenital. Pada orang tua kanalis tersebut telah menutup, namun karena merupakan
lokus introabdaminal meningkat, kanal tersebut dapat terbuka kembali dan timbul hernia
inguinalis lateralis abuisita. Keadaan yang dapat menyebabkan peningkatan tekanan
intra-abdominal adalah kehamilan, batuk kronis, pekerjaan mengangkat benda berat,
mengejan pada saat miksi, misalnya akibat hipertropi prostat.
E. PATHWAYS
Proses vaginalis peritonel

Gagal abliterasi

Sebagian Terbuka Terbuka terus

Hidrokal H. Inguinalis
(Terjadi jepitan oleh annulus inguinalis)

Gangguan aliran darah Gangguan pasase segmen


Usus yang terjepit

Muntah Nyeri
Hijau

Abdomen lambung

F. MANIFESTASI KLINIS
Menurut Diyono dan Mulyanti (2013:68-69) tanda dan gejala hernia adalah
sebagai berikut :
1. Hernia Inguinalis
a. Umumnya terjadi pada pria.
b. Insiden tinggi pada bayi dan anak kecil.
c. Dapat menjadi sangat besar, terdapat benjolan di selangkangan.
d. Sering turun ke skrotum disebut turun berok, burut, kelingsir.
e. Pasien mengeluh nyeri tekan.
f. Hernianya tegang dan tidak direduksi.
g. Terdapat gambaran hipervolemi.
2. Hernia Femoralis
a. Umumnya terjadi pada wanita.
b. Terdapat di kanalis femoralis.
c. Membesar secara bertahap.
d. Biasanya kandung kemih masuk ke dalam kantung.
e. Benjolan pada lipat paha.
3. Hernia Umbilikalis
a. Sering terjadi pada bayi prematur.
b. Terdapat penonjolan isi ronga perut.
c. Umumnya tidak menimbulkan nyeri.
d. Jarang terjadi inkaserasi.
4. Hernia lain
a. Terdapat penonjolan jaringan peritoneum.
b. Sering mengeluh nyeri perut.
c. Tukak peptik.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk mencari kemungkinan adanya tekanan intra peritoneal meningkat, sebagai
penyebab timbulnya hernia maka dilakukan pemeriksaan
1. Rectum toucher : BPH, Stenisis, Anal, Tumor Recti
2. Thorax foto : Batuk kronik, Asma, Tumor Paru
3. USG Abdomen : Asites, Tumor Abdomen
4. Genitalia Eksterna : Striktura urethra, Phymosis

H. PENATALAKSANAAN
Menurut Diyono dan Mulyanti(2013:70), Perbaikan hernia dilakukan dengan
menggunakan insisi kecil secara langsung di atasarea yang lemah. Usus ini kemudian
dikembalikan di rongga perineal, kantung herni dibuang dan otot ditutup dengan kencang
di atas area tersebut. Hernia di region inguinal biasanya diperbaikan hernia saat ini
dilakukan sebagai prosedur rawat jalan.
Beberapa perbaikan sulit dilakukan karena adanya insuifiersi masa otot untuk
mempertahankan usus ditempatnya. Pada kasus ini graf mata jala tembaga (steel mesh)
digunakan untuk menguatkan area herniasi. Klien dengan kesulitan perbaikan biasanya
dirawat di rumah sakit 1-2 hari untuk mendapatkan antibiotik profilaksis.

I. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


1. Pengkajian
Menurut Menurut Grace, dan Borley (2010:33),Pengkajian pada pasien hernia
yaitu sebagai berikut :
a. Data yang diperoleh/ yang dikaji tergantung tempat terjadinya, beratnya, apakah
akut/kronik, pengaruh terhadap struktur disekelilingnya dan banyaknya akar saraf
yang terkompresi (tertekan).
b. Aktivitas/Istirahat
Gejala : Riwayat pekerjaan yang perlu mengangkat benda berat, duduk,
mengemudi dalam waktu lama. Membutuhkan papan/matras gerak dari
ekstremitas pada salah satu bagian tubuh. Penurunan rentang gerak dari
ekstremitas pada salah satu bagian tubuh. Tidak mampu melakukan aktivitas yang
biasanya dilakukan.
Tanda : Atrotofi otot pada bagian tubuh yang terkena gangguan dalam berjalan.
c. Eliminasi
Gejala : Konstipasi, mengalami kesulitan dalam defekasi. Adanya
inkontinensia/retensi urine
d. Integritas Ego
Gejala : Ketakutan akan timbulnya paralisis, ansietas masalah pekerjaan, finansial
keluarga.
Tanda : Tampak cemas, depresi, menghindar dari keluarga/orang terdekat.
e. Neurosensori
Gejala : Kesemutan, kekakuan, kelemahan dari tangan/kaki
Tanda : Penurunan refleks tendon dalam, kelemahan otot, hipotonia.
Nyeri tekan/spasme otot paravertebralis. Penurunan persepsi nyeri
(sensori).
f. Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri seperti tertusuk pisau, yang akan semakin memburuk dengan
adannya batuk, bersin, membengkokan badan, mengangkat, defekasi, mengangkat
kaki atau fleksi pada leher; nyeri yang tidak ada hentinya atau adanya episode
nyeri yang lebih berat secara intermiten; nyeri yang menjalar kaki, bokong
(lumbal) atau bahu/lengan; kaku pada leher (servikal). Terdengar adanya suaara
“krek” saat nyeri baru timbul/saat trauma atau merasa “punggung patah”.
Keterbatasan untuk mobilisasi/membungkuk kedepan.
Tanda : Sikap dengan cara bersandar dari bagian tubuh yang terkena. Perubahan
cara berjalan, berjalan dengan terpincang-pincang, pinggang terangkat pada
bagian tubuh yang terkenan. Nyeri pada palpasi
g. Keamanan
Gejala : Adanya riwayat masalah “punggung” yang baru saja terjadi.
h. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala : Gaya hidup: monoton atau hiperaktif
Pertimbangan : DRG menunjukkan rerata lama perawatan : 10,8 hari
Rencana/ pemulangan : Mungkin memerlukan bantuan dalam transportasi,
perawatan diri dan penyelesaian tugas-tugas rumah.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan untuk klien dengan Hernia menurut Diyono, dan Mulyanti
(2013 : 72-74) adalah :
a. Nyeri yang berhubungan dengan hiperperistaltik, diare yang berkepanjangan,
iritasi kulit dan jaringan, perlecetan perirektal, fisura.
Tujuan : Nyeri berkurang sampai dengan hilang setelah dilakukan tindakan
keperawatan.
Kriteria hasil : Nyeri berkurang sampai dengan hilang ditandai dengan:
1) Pasien mengutarakan tidak ada nyeri lagi.
2) Pasien tampak tenang, wajay santai.
3) Skala nyeri 0-1.
4) Menunjukkan sikap bekerja sama dalam pelaksanaan tindakan keperawatan.
Intervensi :
1) Dorong pasien untuk mengutarakan dan menggambarkan nyerinya.
2) Kaji keluhan nyeri perut, tempat, lama, intensitas (skala 1-10).
3) Kaji dan laporkan perubahan karakteristik nyeri.
4) Perhatikan petunjuk nonverbal misal: tidak bisa diam, enggan bergerak,
selalu menjaga perut, menarik diri.
5) Kaji faktor yang dapat meningkatkan dan menurunkan nyeri.
6) Berikan tindakan yang meningkatkan rasa nyaman.
7) Kolaborasi: berikan analgesik sesuai rencana medis.
b. Kurang cairan tubuh yang berhubungan dengan :
1) Dampak diare.
2) Mual/Muntah.
Tujuan: Volume cairan tubuh adekuat setelah dilakukan tindakan
keperawatan.
Kriteria hasil :
1) Mempertahankan masukan dan cairan elektrolit yang ditujukan oleh :
a) Turgor kulit baik.
b) Jumlah minum.
c) Mampu melaksanakan penggantian setiap ada cairan yang (diare).
2) Mempertahankan berat jenis urine dalam batas normal.
Intervensi :
a) Kaji faktor penyebab.
b) Kaji dan berikan cairan yang disukai dalam batasan diet.
c) Kaji pengertian pasien dan keluarga tentang pentingnya
mempertahankan dehidrasi yang adekuat dan metode mencapainya.
d) Hilangkan faktor penyebab.
e) Rencanakan masukan cairan tiap shift.
f) Timbang BB tiap hari pada waktu yang sama dan jenis baju yang
sama.
g) Pantau kadar elektrolit darah, nitrogen urae darah, urine dan serum,
esmolalitas, kreatinin, hematrokit, dan hemoglobin.
h) Kolaborasi : berikan cairan intravena sesuai skema rencana medik (
dalam pelaksanaan asuhan sebutkan total dan jenus cairan sesuai
advise dokter).
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria, et al. 2016. Nursing Interventions Classification (NIC).


Elseiver : Yogyakarta.
Herdman, T Heather dan Shigemi Kamitsuru. 2018. Diagnosis
Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2015-2017. Alih bahasa Budi Anna
Keliat, et .al., Edisi. 10. EGC, Jakarta
Hidayat, A. Aziz Alimul dan Musrifatul Uliyah. 2015. Pengantar
Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba Medika
Kyle, Terri dan Susan Carman. 2013. Essentials of Pediatric Nursing.
Jakarta: ECG
Moorhead et al. 2016. Nursing Outcomes Classification (NOC). Elseiver :
Yogyakarta.
Mubarak, Indrawati, dan Joko Sutanto. 2015. Ilmu Keperawatan Dasar.
Jakarta: Salemba Medika
Prasetyo, Sigid Nian. 2010. Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri.
Graha Ilmu, Yogyakarta
Potter, Patricia A. dan Anne G. Perry. 2009. Fundamental Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika.
Sutanto, Vita Andina dan Fitriana, Yuni. 2017. Kebutuhan Dasar
Manusia : Teori dan Aplikasi dalam Praktik Keperawatan Profesional.
Pustaka Baru Press, Yogyakarta
Zakiyah, Ana. 2015. Nyeri : Konsep dan Penatalaksanaan dalam Praktik
Keperawatan Berbasis Bukti. Jakarta : Salemba Medika.