Anda di halaman 1dari 3

Nama: Atifa Dwi Wahyuni

NIM: 201910230311045

Judul Buku: Pengantar Filsafat Sistematika dan Sejarah Filsafat Logika dan Filsafat
Ilmu (Epistemologi) Matafisika dan Manusia Aksiologi

Tahun Terbit: Juli 2009

Pengarang: Prof. Dr. Sutardjo A. Wiramihardja, Psi.

FILSAFAT (di dunia) ISLAM

Filsafat islam adalah pembicaraan yang membahas tentang syarat menjalankan


hidup dengan baik dan bertakwa kepada Allah SWT berdasarkan pada agama. Filsafat
islam yang merupakan ide pemikiran dari Ibnu Sina dan Ibnu Rusyd, mereka juga
dikenal sebagai tokoh utama filsafat islam. Bukan hanya kedua filsuf tersebut,
kelompok islam juga memiliki pemikir-pemikir lainnya karena telah memberikan
anggapan yang berbeda dari sebelumnya, terutama penyebar agama islam yang
berasumsi di nuansa islam. Aristoteles dikenal dengan sebutan bapak logika di buku
yang berjudul Organon sebelum pemikir-pemikir islam menyebar yang disusun murid-
muridnya di lembaga pendidikan yang didirikan oleh Plato. Sementara itu, para filsuf
islam telah menafsirkan dan mengedarkan banyak sekali filsafat yunani, jauh lebih
banyak daripada yang diedarkan oleh filsuf barat.

Namun setelah seorang imam besar islam yaitu Al Gazali menyanggah filsafat
islam maka filsafat islam tidak lagi bersinar. Tetapi hal ini bukan menjadi penghalang
bagi para filsuf islam untuk tidak menumbuhkan pemikiran filsafat. Selain Ibnu Sina
dan Ibnu Rusyd, dua tokoh pemikir islam yang besar lainnya yaitu Al Kindi dan Al
Farabi.
Filsafat semata-mata berdasarkan pada akal, sedangkan agama berdasarkan
pada keyakinan yang mendalam. Secara khas, filsafat islam merupakan gagasan yang
berada dalam suasana keyakinan atau gabungan dari akal dan keyakinan. Secara umum,
filsafat islam ditandai dengan ciri paripatetik, yang merupakan menyawakan
pandangan islam, Aristotelian, dan Neoplatonisme.

Berikut beberapa filosof islam yang terkenal:

1. Al-Kindi, yang merupakan seorang peletak pertama pemikiran filsafat islam.


Beliau berpendapat bahwa keyakinan dan kebenaran tentang sesuatu harus didasari
oleh akal. Dari pemikiran Aristoteles, Al-Kindi menggunakan ideologi tentang
adanya penyebab seperti penyebab material, penyebab formal, penyebab efisien,
dan penyebab final. Menurut Aristoteles, Al-Kindi juga menggunakan konsep
penggerak utama atau penyebab pertama yaitu Allah. Oleh karena itu, Allah adalah
yang menjadi awal dari segala hal.

2. Al Farabi, beliau meneruskan pemikiran dari Al-Kindi dan mengembangkannya


secara komprehensif yaitu emanasi. Emanasi merupakan bagian dari filsafat yang
memandang Allah sebagai dasar segala hal. Pemikiran lain dari Al Farabi selain
ketuhanan yaitu masalah ilmu pengetahuan yang menjadikan Al Farabi sebagai
ilmuwan. Nama lain beliau adalh al-Nashr atau al-Naser.

3. Ibnu Sina, orang-orang sering menyebutnya dengan pemimpin ilmu. Pemikiran


filsafat Ibnu Sina berawal dari mempelajari filsafat Aristoteles, namun ia
kembangkan pemikirannya sehingga kita dapat mencatat tiga hal, yaitu mengenai
logika, metafisika, psikologi.

4. Ibnu Rusyd, merupakan seseorang yang mengenalkan filsafat Yunani kepada


dunia barat, sebagai seorang filosof, pemikirannya sering bertolak belakang
dengan cara islam memandang sesuatu. Namun sebagai filsuf islam, beliau lebih
dahulu mengenal islam sehingga beliau sekaligus menjadi penyebar kebenaran
islam.

5. Djamaluddin Al-Afghani, disebabkan oleh pemikirannya, Al-Afghani disebut


sebagai tokoh Renaisans Islam abad ke-19. Beliau juga seorang aktivis, terutama
dalam gerakan dan aktivtas politik lainnya. Menurut AL-Afghani, terdapat tiga
jenis keadaan atau kehidupan yang harus dicapai manusia, yaitu kelezatan rohani,
perasaan pembelaan agama, dan moral yang tinggi. Berikutnya ia mengutarakan
tentang sosialisme islam yang berdasarkan pada kasih saying, akal, dan kebebasan,
sedangkan sosialisme komunis atau materialisme ditandai dengan materialistis
tanpa kasih saying, dan berakhir pada kebencian. Oleh karena itu, al-Afghani
menolak kapitalisme yang mempunyai ciri yang sama dengan materialisme, yaitu
kebendaan tanpa kasih sayang.

Para tokoh-tokoh tersebut sangat berpengaruh dengan filsafat islam, sehingga pada
saat Ibnu Rusyd wafat, orang-orang barat menganggap bahwa filsafat islam telah tiada.
Kenyataannya filsafat islam terus berkembang dengan dua pokok pikiran, yang
pertama kebijaksanaan al-isyraq dari Suhrawardi dan yang kedua Muta’aliyah dari
Mula sadra.