Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Interaksi obat terjadi jika efek suatu obat (indeks drug) berubah akibat adanya
obat lain (precipitant drug), makanan atau minuman. Interaksi obat dapat
menghasilkan efek yang memang dikehendaki (destrable drug interaction), atau efek
yang tidak dikehendaki (under sirable/adverse drug interaction = ADIs) yang lazimnya
menyebabkan efek samping obat atau toksisitas karena meningkatnya kadar obat di
dalam plasma atau sebaliknya menurunnya kadar obat dalam plasma yang
menyebabkan hasil terapi menjadi tidak optimal. Sejumlah besar obat baru yang
dilepas dipasaran setiap tahunnya menyebabkan munculnya interaksi baru antar obat
akan semakin terjadi.
Salah satu drug related problems (DRPs) yang dapat mempengaruhi outcome
klinis pasien adalah interaksi obat. Penggunaan obat rasional di Indonesia masih
merupakan masalah dalam pelayanan kesehatan. Adanya polifarmasi seperti penulisan
obat dalam resep yang berjumlah 4 atau lebih dengan presentasi diatas 50%,
antibiotika yang penggunaannya berlebihan (43%), tersedianya waktu konsultasi yang
rata-rata berkisar 3 menit saja sehingga dirasa sangat singkat serta tidak adanya
kepatuhan (Syamsudin, 2011).
Interaksi obat diakibatkan adanya kejadian efek suatu obat diubah akibat adanya
obat lain, semisal obat herbal, makanan, minuman atau agen kimia lainnya dalam suatu
lingkungan (Baxter, 2008). Meningkatnya kejadian interaksi obat bisa disebabkan
makin banyaknya obat yang digunakan ataupun makin seringnya penggunaan obat
(polipharmacy atau multiple drug therapy). Farmasis yang mempunyai pengetahuan
farmakologi dapat berperan untuk mencegah interaksi obat akibat kombinasi obat
dengan efek yang tidak diinginkan (Gapar, 2003).
B. Rumusan Masalah
Pasien Ny.T 65 tahun datang ke rumah sakit dengan keluhan bernafas, mudah
terengah-engah jika berjalan jauh, BB meningkat sebulan terakhir. Pasien memiliki
riwayat gagal ginjal kronik 2 tahun terakhir dan hipertensi sejak 5 tahun lalu. Tx yang

1
diberikan : Furosemida 80mg 1xsehari, CaCO3 3xsehari, metoprolol 50mg 2x sehari.
Dokter menyarankan dilakukan HD.

C. Tujuan

1. Untuk mengidentifikasi obat yang digunakan

2. Untuk mengetahui fungsi dan cara mengkonsumsinya

3.Untuk mengetahui bagaimana interaksi obat-obatan tersebut

4. Untuk mengetahui makanan atau minuman yang baik dikonsumsi dan tidak baik
dikonsumsi dengan obat-obatan tersebut

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Furosemide merupakan obat golongan loop diuretic berpotensi tinggi yang
banyak digunakan dalam aplikasi klinik pasien dengan kondisi hipervolemik ( kitsios
et all 2014). Lokasi aksi furosemide adalah pada lapisan tebal loop henle ascenden di
nefron (Phakdeekitcharoen dan Boonyawat, 2012). Hal-hal yang menentukan aktivitas
diuretic furosemide, yaitu pertama konsentarsi furosemide dalam system urinary yang
dipengaruhi oleh adanya asam-asam organic yang berkompetensi dalam pengangkutan
menuju tubulus proksimal, kedua waktu penghantaran furosemide ke site of action
yang dipengaruhi oleh kardiak output dan rute pemberian furosemide, ketiga kadar
albumin plasma yang dapat membantu sekresi furosemide ke lumen tubulus dan
keempat respon dinamik dari site of action yang dipengaruhi oleh karena aktivitas
RAAS (Ho dan power 2010)
Diantara indikasi penggunaan furosemide adalah kondisi volume overload pada
pasien ginjal kronik (PGK). Kondisi ini biasanya ditandai dengan edema perifer,
edema paru dan timbulya hipertensi. Ketiganya merupakan manipestasi akibat
perubahan handling air dan garam yang terjadi pada pasien PGK terutama pada pasien
stadium V atau end-stage renal diseaseas ( arora, 2012).
CaCO3 salah satu obat non anti hipertensif digunakan sebagai buffer dalam
penanganan kondisi asidosis metabolik yang terjadi pada hampir seluruh pasien gagal
ginjal karena kesulitan dalam proses eliminasi buangan asam hasil dari metabolisme
tubuh (Sjamsiah, 2005). CaCO3 juga digunakan dalam penanganan kondisi
hiperfosfatemia pasien. Hiperfosfatemia pada pasien gagal ginjal terjadi akibat
pelepasan fosfat dari dalam sel karena kondisi asidosis dan uremik yang sering terjadi.
CaCO3 bekerja dengan mengikat fosfat pada saluran pencernaan sehingga mengurangi
absorpsi fosfat (Sweetman, 2007). Terapi dengan Asam Folat digunakan dalam
penanganan kondisi anemia yang muncul pada pasien kondisi uremia, defisiensi asam
folat, defisiensi besi, defisiensi vitamin B12, dan akibat fibrosis sumsum tulang
belakang (Suhardjono, et al., 2001). Dari 20 pasien hanya 2 pasien yang mencapai
kesesuaian terapi (11 – 12 g/dl) dalam penanganan anemia. Terapi ini dirasa kurang

3
efektif mengingat anemia yang terjadi pada pasien gagal ginjal kronis merupakan
akibat berkurangnya hormon eritropoetin yang dihasilkan ginjal (Anonim, 2006).
Metoprolol, dipasarkan dengan nama dagang di antaranya Lopressor, adalah obat
tipe bloker reseptor ß1. Digunakan menangani tekanan darah tinggi, sakit di dada
karena aliran darah buruk ke jantung, dan sejumlah kondisi menyangkut debar jantung
cepat abnormal. Digunakan untuk mencegah masalah jantung lebih lanjut
setelah infark miokard dan mencegah sakit kepala bagi mereka yang
mengidap migrain
Obat ini dijual dalam formulasi yang dapat dikonsumsi melalui mulut atau urat
nadi (intravenous). Pengobatan seringnya dua kali sehari. Formulasi rilis berjangka
dikonsumsi sekali sehari. Metoprolol dapat dikombinasikan dengan hidroklorotiazid
dalam satu tablet.
Efek samping umum mencakup susah tidur, kelelahan, rasa pingsan, dan tidak
enak di perut Dosis besar dapat mengakibatkan keracunan serius. Kehati-hatian lebih
diperlukan dalam penggunaan oleh mereka yang memiliki masalah hati
atau asma. Pemberhentian obat ini sebaiknya perlahan untuk menurunkan risiko
masalah kesehatan lebih lanjut.
Metoprolol pertama dibuat pada 1969. Ada pada Daftar Obat Esensial Organisasi
Kesehatan Dunia, obat-obatan paling penting yang dibutuhkan dalam sistem
kesehatan dasar. Tersedia sebagai obat generik. Pada 2013, metoprolol adalah
pengobatan ke-19 paling banyak diresepkan di Amerika Serikat.
B. Fungsi dan cara mengkonsumsi
Dalam pengobatan hipertensi, furosemide diberikan dalam dosis oral 40-
80 mg sehari, baik sendiri, maupun dengan antihipertensi lain. Terapi dosis tinggi
digunakan dalam pengolahan oliguria pada gagal ginjal akut atau kronis dimana
laju filtrasi glomerulus kurang dari 20mL/menit tetapi lebih dari 5 mL/menit,
furosemide 250 mg diencerkan 250 mL dalam pengenceran yang cocok lalu
diinfuskan selama satu jam. Jika output urin tidak cukup dalam satu jam
berikutnya, dosis ini dapat diikuti oleh 500 mg ditambahkan ke cairan infus yang
sesuai, volume total harus diatur berdasarkan keadaan hidrasi pasien, dan infus
diberikan selama sekitar 2 jam. Jika ouput urine masih belum dicapai dalam waktu

4
satu jam dari akhir infus kedua kemudian dosis ketiga 1 g mungkin diinfuskan
selama sekitar 4 jam. Kecepatan infus tidak boleh melebihi 4 mg/menit.

Ketika digunakan dalam gangguan ginjal kronis, dosis pral awal 250 mg
dapat diberikan, meningkat, jika perlu dalam tahap 250 mg setiap 4-6 jam hingga
maksimal 1,5 gram dalam 4 jam; dalam kasus luar biasa hingga 2 gram dalam 24
jam dapat diberikan. Penyesuaian dosis harus dibuat kemudian sesuai dengan
respon pasien (sweetman, et al 2009). Selama pengobatan dengan furosemide
dosis tinggi ini, komtrol laboratorium penting dilakukan dengan cermat.
Keseimbangan cairan dan elektrolit harus dikontrol dengan hati-hati khususnya,
pada pasien dengan syok, tindakan harus diambil untuk memperbaiki tekanan
darah dan sirkulasi volume darah, sebelum memulai pengobatan ini
(menggunakan furosemide). Tetapi furosemide dosis tinggi adalah kontra-
indikasi pada gagal ginjal yang disebabkan oleh obat netrotoksik atau
hepatotoksik, dan gagal ginjal yang terkait dengan koma hepatic (Sweetman, et
al. 2009).

Penggunaan obat yang paling banyak digunakan pada pasien gangguan


ginjal kronis adalah kalsium karbonat (CaCO3) sebanyak 65% dan asam folat
sebanyak 64%. Agen pengikat fosfat seperti kalsium karbonat efektif untuk
menurunkan kadar serum fosfat dan meningkatkan kadar serum kalsium pada
pasien gangguan ginjal 6 kronis. Asam folat dibutuhkan sebagai pengganti
vitamin, karena asam folat ikut hilang saat pasien menjalani hemodialisa
(Schonder, 2008).

Penggunaan Kalsium Carbonate (CaCO3) sebaiknya meperhatikan


beberapa hal seperti :

1. Gunakan CaCO3 sesuai dengan yang tertera dengan label obat atau sesuai
dengan yang diresepkan oleh dokter. Jangan menggunakan CaCO3
dengan dosis lebih besar atau lebih kecil dari yang direkomendasikan oleh
dokter.
2. Konsultasikan dahulu dengan dokter sebelum mengkonsumsi CaCO3

5
3. Untuk mengobati hiperpospatemia (kelebihan ion Fosfat dalam darah)
pada pasien gagal ginjal kronis, dosis awal adalah 2,5 g/hari, sampai dosis
17 g/hari dalam dosis terbagi.
Keadaan hipokalsemia akan merangsang system homeostatis
untuk bekerja secara langsung pada tulang melalui aktifitas hormone
parateroit (PTH). Hormone tersebut bekerja pada ginjal untuk
meningkatkan reapsorbsi kalsium sehingga kadar kalsium ekstra sel
meningkat. Sebaliknya jika PTH bekerja pada kontortus proksimal dan
diktalis, maka reabsorpsi pospat akan menurun sehingga kadar pospas
cairan ekstra sel juga menurun (Cunningham 1992).
CaCO3 digunakan sebagai buffer dalam penanganan kondisi
asidosis metabolic yang terjadi pada hampir seluruh pasien gagal ginjal
karena kesulitan dalam proses eliminasi buangan asam hasil dari
metabolisme tubuh (Sjamsiah, 2005). CaCO3 juga digunakan dalam
penanganan kondisi hiperfofatemia pasien. Hiperfosfatemia pada pasien
gagal ginjal terjadi akibat pelepasan fosfat dari dalam sel karena kondisi
asidosis dan uremik yang sering terjadi. CaCO3 bekerja dengan mengikat
fosfat pada seluruh pencernaan sehingga mengurangi absorbsi fosfat
(Sweetman, 2007). Terapi dengan asam folat digunakan dalam
penanganan kondisi anemia yang muncul pada pasien kondisi uremia,
defisiensi asam folat. Defisiensi besi, defisiensi vitamin B12, dan akibat
fiprosis sumsum tulang belakang (suhardjono, et al., 2001).
Metoprolol adalah obat golongan beta blocker yang digunakan
untuk menangani tekanan darah tinggi (hipertensi) dan gagal jantung.
Metoprolol bekerja dengan menghambat suatu zat dalam tubuh yang
dinamakan epinephrine (adrenalin), yaitu zat yang dapat membuat jantung
berdenyut lebih cepat, mempersempit pembuluh darah, dan memperkuat
kontraksi pada jantung. Dengan dihambatnya adrenalin, denyut jantung
akan melambat, tekanan darah menurun, serta beban kerja jantung
berkurang. Selain untuk hipertensi dan gagal jantung, metoprolol juga
digunakan untuk mengatasi gangguan irama jantung dan angina, serta
mencegah migrain.
6
Fungsi dari Metoprolol adalah menurunkan frekuensi denyut
jantung, menurunkan tekanan darah, dan mengurangi beban kerja jantung.
Mengonsumsi Metoprolol dengan Benar adalah menggunakan metoprolol,
ikuti anjuran dokter dan baca petunjuk pemakaian yang tertera pada
kemasan obat, Untuk metoprolol suntikan, pemberian obat harus
dilakukan oleh tenaga medis atas instruksi dokter.
Metoprolol tablet dapat dikonsumsi saat atau setelah makan. Bagi
pasien yang diresepkan metoprolol tablet salut selaput, jangan
mengunyah, membelah, atau menggerus obat terlebih dahulu. Metoprolol
tablet salut selaput harus dikonsumsi secara utuh. Konsumsi metoprolol
pada waktu yang sama setiap harinya, agar hasil pengobatan maksimal.
Bagi pasien yang lupa mengonsumsi metoprolol, disarankan untuk
segera melakukannya apabila jeda dengan jadwal konsumsi berikutnya
tidak terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan
dosis.
C. Interaksi Obat-obatan Furosemide-CaCO3-Metoprolol
1. Furosenamide-CaCO3
Penggunaan bersamaan antasida dapat menurunkan bioavaibilitas
furosenamide atau obat ACE inhibitors lainnya karena penundaan
pengosongan lambung atau PH lambung meningkat. Pada penelitian oleh
Mantyla et all tahun 1984, dosis oral furosenamide yang diberikan dengan
suspense antasida mengakibatkan penuruan bioavaibilitas sehingga
aktivitas efek hipotensi dari purosenamide tertunda. Interaksi obat minor
dapat dicegah dengan mempertimbangkan pemisahan selang waktu satu
hingga dua jam pemberian ACE inhibitors dengan antasida(mantyla et all
1984).
Interaksi obat furosenamide : dapat menambah toksisitas glukosida
digitalis, resiko hipotensi postural bersama alcohol, barbiturate, opioid.
Efek hilangnya kalium diperkuat oleh kortikosteroid, ACTH,
karbenoksolon (DOI, data obat di Indonesia, edisi 11 2008).
2.

7
D. Makanan atau minuman yang baik dikonsumsi dan tidak baik dikonsumsi dengan
obat-obatan Furosemide, CaCO3, Metoprolol
Untuk penggunaan obat hipertensi sebaiknya tidak dibarengi dengan
makanan kaya potassium, karena obat hipertensi dapat meningkatkan kadar
potassium dalam darah sehingga bisa memicu arrhythmia dan dyspnea jika
dikonsumsi bersamaan dengan pisang, kentang, kedelai, dan bayam selama
pengobatan. Sedangkan makanan yang boleh dikonsumsi bersamaan dengan obat
hipertensi adalah sumber karbohidrat(biji-bijian ), protein hewani ( ikan, ungags,
daging putih, putih telur), protein nabati(kacang-kacangan, polong-polongan).
Sayur dan buah-buahan segar.
Unutk penggunaan obat gagal ginjal sebaiknya dibarengi dengan
mengkonsumi makanan dengan rendah kandungan kalium(buah apel,kol, paprika,
lobak) asam lemak omega-3 seperti ikan salmon, mackerel, sarden, kakap, dan
tuna, dan makanan sumber protein. Jangan dikonsumsi bersamaan
alcohol/minuman keras karena dapat menyebabkan pusing

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
B. Saran

8
DAFTAR PUSTAKA

Ho, K. M. and Power, B. M. 2010. Benefits and risks of furosemide in acute kidney
injury. The Association of Anaesthetists of Great Britain and Ireland.
Anaesthesia, ,65, pages 283-293.

9
Syamsudin. 2011. Buku Ajar Farmakoterapi Kardiovaskular Dan Renal. Jakarta:
Penerbit Salemba Medika pp 31

Sjamsiah S. 2005. Farmakoterapi gagal ginjal. Surabaya: Universitas Airlangga

Sweetman, S. C., (ED). (2007). Martindale, The Complete Drug Reference, 35 th Ed.
Phamaceutical Press. London, Chicago: 399-400

Suhardjono, dkk. 2001. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi Ke-3. FK UI.
Jakarta

10