Anda di halaman 1dari 72

BAB I

PENDAHULUAN

A. Maksud dan Tujuan Kunjungan Kerja Lapangan

Maksud dilaksanakannya kunjungan kerja lapangan ini sebagai

persyaratan untuk kelulusan sebagai Ahli Madya Farmasi.

Tujuan kunjungan kerja lapangan mahasiswa Akademi Farmasi ISFI

Banjarmasin di Industri Farmasi adalah :

1. Mengetahui tentang persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB)

di industri farmasi PT. Kimia Farma, Tbk.

2. Mengetahui bagaimana pengolahan air di NEWater Singapore.

3. Membandingkan adanya kesesuaian teori tentang industri farmasi yang

didapat selama diperkuliahan dengan kenyataan yang terjadi di industri

farmasi.

4. Meningkatkan dan memperluas keterampilan mahasiswa sebagai bekal

untuk memasuki dunia kerja.

5. Menambah wawasan dan memperoleh ilmu pengetahuan tentang industri

farmasi dan profesi farmasi di industri farmasi.

Penulisan laporan ini merupakan kelanjutan tujuan PKL yang telah

ditempuh para mahasiswa dan merupakan rangkuman dari kegiatan yang

telah dilaksanakan, sehingga dapat mempermudah mempelajari dan

menelaahnya kembali.

1
2

B. Pengertian-Pengertian

1. Industri Farmasi

Menurut Permenkes RI No.1799/Menkes/Per/XII2010 tentang

Industri Farmasi.Industri Farmasi adalah badan usaha yang memiliki izin

dari Menteri Kesehatan untuk melakukan kegiatan pembuatan obat atau

bahan obat.

2. Pedagang Besar Farmasi (PBF)

Menurut Permenkes No.30 Tahun 2017Pedagang Besar Farmasi

adalah badan hukum perseroan terbatas atau koperasi yang memiliki izin

untuk pengadaan, penyimpanan, penyaluran perbekalan farmasi dalam

jumlah besar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang

berlaku.

3. Sediaan Farmasi

Menurut Permenkes No.9 Tahun 2017 mendefinisikan Sediaan

Farmasi adalah obat, bahan obat, obat tradisional, dan kosmetika.

4. Bahan Obat

Menurut Permenkes RI No.1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang

Industri Farmasi. Bahan obat adalah bahan baik yang berkhasiat maupun

tidak berkhasiat yang digunakan dalam pengolahan obat dengan standar

dan mutu sebagai bahan baku farmasi.

2
5. Karantina

Karantina adalah status bahan atau produk yang dispisahkan secara

fisik dengan sistem tertentu menunggu keputusan apakah bahan atau

produksi tersebut ditolak atau dapat digunakan untuk pengolahan,

pengemasan dan distribusi (Badan POM, 2003)

6. Pengemasan

Pengemasan adalah bagian siklus produksi yang dilakukan produk

ruahan untuk menghasilkan produk jadi (Badan POM, 2003).

7. Produk Ruahan

Produk ruahan adalah tiap bahan-bahan yang telah selesai diolah

dan tinggal memerlukan tahap pengemasan untuk menghasilkan produk

jadi (Badan POM, 2003).

8. Produk Antara

Produk antara adalah tiap bahan atau campuran bahan yang masih

memerlukan satu atau lebih tahap pengolahan lebih lanjut untuk menjadi

produk ruahan (Badan POM, 2003).

9. Tanggal Daluarsa/Expire Date

Tanggal daluarsa/Expire date adalah tanggal yang menyatakan

bahwa sebelum tanggal tersebut suatu batch masih memenuhi spesifikasi

standar mutu yang memenuhi syarat (Badan POM, 2003)

10. CPOB atau Cara Pembuatan Obat yang Baik

Menurut Permenkes RI No.1799/Menkes/Per/XII/ 2010 tentang

Industri Farmasi. Cara Pembuatan Obat yang Baik, yang disingakat CPOB

3
adalah cara pembuatan obat yang bertujuan untuk memastikan agar mutu

obat yangdihasilkan sesuai dengan persyaratan dan tujuan pengguanaanya.

11. Obat

Menurut Permenkes RI No.1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang

Industri Farmasi.Obat adalah bahan atau panduan bahan, termasuk produk

biologi yang digunakan untuk mempengaruhi atau menyelidiki sistem

fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis,

pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan

kontrasepsi untuk manusia.

12. Obat Jadi

Obat jadi adalah sediaan atau paduan bahan-bahan termasuk

produk biologi dan kontrasepsi yang siap untuk digunakan mempengaruhi

dan menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka

penetapan diagnosa, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan

kesehatan (Badan POM, 2003).

13. Produksi

Produksi adalah seluruh rangkaian kegiatan yang meliputi

penerimaan dan penyiapan bahan baku serta bahan pengemasan,

pengolahan dan pengendalian mutu sehingga diperoleh produk jadi yang

siap didstribusikan (Badan POM, 2003).

14. Pengemasan

Pengemasan adalah seluruh rangkaian kegiatan mulai dari

pengisian, pembungkusan, pemberian etiket dan atau kegiatan lain yang

4
dilakukan terhadap produk ruahan untuk menghasilkan produk jadi (Badan

POM,2003).

15. Pengawasan Mutu (Quality Control)

Pengawasan mutu (Quality Control) adalah semua upaya yang

dilakukan selama pembuatan dan dirancang untuk menjamin keseragaman

produk obat yang memenuhi spesifikasi, identitas, kekuatan, kemurnian,

dan karakteristik lain yang ditetapkan (Badan POM, 2003).

16. Sanitasi

Sanitasi adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan

melindungi kebersihan lingkungan dari subjeknya (Badan POM, 2003).

17. Bets

Bets adalah sejumlah obat yang mempunyai sifat dan mutu yang

seragam yang dihasilkan dalam satu siklus pembuatan atas suatu perintah

pembuatan tertentu (Badan POM, 2003).

18. Nomor Bets

Nomor Batch adalah penandaan yang terdiri dari angka atau huruf

atau gabungan keduanya, yang merupakan tanda pengenal suatu batch,

yang memungkinkan penelusuran kembali riwayat lengkap pembuatan

batch tersebut, termasuk seluruh tahap produksi, pengawasan dan

distribusi (Badan POM, 2003)

19. Granulasi basah

Granulasi basah adalah cara pembuatan tablet dengan

mencampurkan zat aktif dan eksipien menjadi partikel yang lebih besar

5
dengan menambahkan cairan pengikat dengan jumlah yang tepat sehingga

diperoleh masa lembab yang dapat digranulasi (Folttman & Quadir).

20. Granulasi kering

Granulasi basah adalah proses pembuatan tablet dengan cara

mencampurkan zat aktif dan eksipien dalam keadaan kering, untuk

kemudian dikempa kembali untuk mendapatkan tablet yang memenuhi

persyaratan (Folttman & Quadir).

21. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun

Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, disingkat limbah B3

adalah sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan

berbahaya dan atau beracun yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan

atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat

mencemarkan dan atau merusakkan lingkungan hidup, dan atau dapat

membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, kelangsungan hidup

manusia serta makhluk hidup lain (Folttman & Quadir).

6
6

BAB II

URAIAN OBJEK KUNJUNGAN KERJA LAPANGAN

A. PT. MARTINA BERTO, Tbk.

1. Gambaran Umum

1.1 Sejarah

PT. Martina Berto merupakan perusahaan kosmetika dengan keinginan

mempercantik wanita Indonesia lahir dan batin dengan memanfaatkan sumber

daya alam di Indonesia. PT. Martina Berto didirikan pada tahun 1970 oleh ibu

Dr.Martha Tilaar, seorang sarjana dan ahli gizi lulusan Universitas Jurusan

Kecantikan Amerika. Pada Tahun tersebut, awalnya beliau hanya mendirikan

salon di garasi rumah orang tuanya di Jl. Kusuma Atmaja No. 47 Menteng,

Jakarta Selatan. Lalu pada tahun 1974, beliau membangun Martha Tilaar Beauty

School. Kemudian, pada tahun 1981, berkembang menjadi sebuah perusahaan

dangan nama PT. Martha Tilaar Group dan sekarang sebagai distributor produk

Martha Tilaar.

Pada tahun 1986, dibangun kembali pabrik kedua yang sampai sekarang

terletak di daerah Pulogadung, Jakarta Timur.PT. Martina Berto mengeluarkan

produksi kosmetik yang di tata dari tahun 1998 sampai sekarang berjumlah lebih

dari 600 macam produk.

PT. Martina Berto memiliki jumlah tenaga kerja lebih dari 500 orang

sebagaian besar adalah wanita dengan maksud untuk membantu mendapatkan

pekerjaan yang layak. Dengan dihasilkannya produk yang berkualitas kepada para

7
konsumen, PT. Martina Berto berhasil meraih penghargaan ISO 9001 pada tahun

1996.

1.2 Visi dan Misi

Visi

Menjadi perusahaan perawatan kecantikan dan spa (Beauty & Spa) yang

terkemuka di dunia dengan produk yang bernuansa ketimuran dan alami, melalui

pemanfaatan teknologi modern dan menempatkan penelitian dan pengembangan

sebagai sarana peningkatan nilai tambah bagi konsumen dan pemangku


6
kepentingan lainnya.

Misi

1. Mengembangkan, memproduksi dan memasarkan produk perawatan

kecantikan dan spa yang bernuansa ketimuran dan alami dengan standar

mutu internasional guna memenuhi kebutuhan konsumen di berbagai

segmen pasar dari premium, menengah atas, menengah dan menengah-

bawah dalam suatu portofolio yang sehat dan setiap merek mampu

mencapai posisi 3 besar di Indonesia di setiap segmen pasar yang

dimasukinya.

2. Menyediakan layanan yang prima kepada semua pelanggan dalam porsi

yang seimbang, termasuk konsumen dan para penyalur produk.

3. Mempertahankan kondisi keuangan yang sehat dan pertumbuhan bisnis.

4. Merekrut, melatih dan mempertahankan tenaga kerja yang kompeten dan

produktif sebagai bagian dari aset Perusahaan.

8
5. Memanfaatkan metode operasi, sistem dan teknologi yang efisien dan

efektif di seluruh unit dan fungsi usaha.

6. Menerapkan ‘Good Corporate Governance’ secara konsisten demi

kepentingan para pemangku kepentingan (stakeholders).

7. Memberikan tingkat keuntungan yang wajar kepada para pemegang

saham.

8. Mengembangkan pasar kosmetika dan jamu internasional dengan fokus

jangka menengah di kawasan Asia Pasifik dengan produk dan merek

pilihan, dan fokus jangka panjang di pasar global.

2. Struktur Organisasi

Struktur organisasi PT. Martina Berto, Tbk. dapat dilihat pada lampiran.

3. Proses Produksi

Produksi yang dilakukan Martha Tilaar telah berstandar Internasional

yaitu ISO 9001, ISO 14001, Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik (CPKB), and

Good Manufacturing Practices (GMP). Semua produk yang dihasilkan akan

diteliti dibagian R n D (Research and Development).

3.1Bahan Baku

Bahan baku berupa simplisia yang berasal dari supplier dan bahan baku

berupa herba ekstrak diolah mandiri dari kebun yang dikelola di gunung Putri.

Bahan baku berupa minyak yang diambil sarinya dengan kadar tertentu diperoleh

dari supplier dalam bentuk sediaan yang sudah jadi.

9
Sebelum bahan baku diproses, bahan baku terlebih dahulu ditimbang,

diuji fisik, lalu dibersihkan kemudian disortir dengankadar air 5%. Bila memenuhi

persyaratan maka bahan baku dapat diproses.

3.2Proses Pembuatan

Produksi menggunakan formulasi tradisional yang diproses dengan

menggunakan teknologi canggih. Pengembangan suatu produk dapat dipasarkan

dimulai dari suatu ide, yang oleh pihak laboratorium kemudian dibuat formulanya

berdasarkan farmakope dan literatur lain.

Bentuk sediaan kosmetik terbagi 2, yaitu :

a. Bentuk Padat

Kosmetik yang termasuk bentuk padat yaitu : bedak tabur, bedak padat,

pemulas mata, pemulas pipi, dan lipstik.

1. Bedak Tabur

Cara Pembuatan : Bahan dihaluskan dengan mesin penghalus

kemudian di tambahkan talk dan bahan

tambahan dan siap untuk dikemas.

2. Bedak Padat

Cara Pembuatan : Bahan dihaluskan dengan mesin penghalus

di tambah zat pengikat dan zat pelicin lalu

di cetak langsung pada wadahnya pada

tekanan tertentu.

3. Pemulas Mata dan Pipi

Cara Pembuatan : Bahan dihaluskan dengan mesin penghalus

10
ditambah zat pengikat, zat pelicin dan zat

pewarna lalu dicetak langsung pada

wadahnya dengan tekanan tertentu.

4. Lipstik

Cara Pembuatan : Basis minyak tengkawang, dicampur

carbowa, paraffin, zat pewarna dan minyak

zaitun. Dilumerkan pada suhu tertentu

sehingga diperoleh lipstik cair, dituang

kedalam cetakan dinginkan.Setelah lipstik

memadat, masukan kedalam kemasan

khusus lalu dilewatkan diatas api khusus

untuk mengkilapkan dan membuat batang

lipstik menjadi lebih rata dan warnanya

cerah.

Pembuatan lipstik berdasarkan area :

a) Liquid Processing Area : Lipstik diproses untuk pembuatan

lipstik 1 warna satu hari atau

perminggu semua bahan dan wangi-

wangian.

b) Lipstik Moulding Area :Lipstick yang sudah dicampur siap

untuk dicetak.

c) Lipstik Flaming Area :Lipstik diperhalus dan diperlicin

permukaannya.

11
d) Lipstik Packing Area : Lipstik yang dicetak dandikemas

siap untuk diedarkan.

b. Bentuk Semi Padat

Meliputi lotion, krim dan lain-lain. Prinsipnya sama dengan sediaan

padat, hanya yang perlu diperhatikan kekentalannya.

1. Lotion

Cara Pembuatan:Vaselin dan oleum dilebur pada suhutertentu lalu

dimasukan kedalam mikser, diaduk bersama

sampai dingin. Kemudian ditambah dengan

bahan tambahan seperti bahan pengawet,

diaduklagi sampai homogeny. setelah itu

dimasukan dalam pengemas.

2. Krim

Cara Pembuatan: Bahan baku ditimbang sesuai formula, fase

minyak ditambahkan dengan air dan surfaktan,

dimasukan kedalam mesin, kemudian

dicampur dengan zat berkhasiat sampai

homogen.

12
4. Pengujian Mutu

Pengujian dilakukan mulai dari bahan baku, bahan baku setengah jadi

dan bahan jadi. Quality Control (QC) meliputi penentuhan pH, penetapan

kadar,zat warna,derajat halus dan viskositas. Pengujian kualitas dilakukan pada

konsumen salon dengan pengawasan dokter kulit.

4.1 Terhadap Bahan Baku

1. Pengujian kadar zat berkhasiat.

2. Pengujian kemurnian.

3. Pengujian kadar air.

4.2 Terhadap produk antara

1. Bedak tabur

a) Homogenitas

Tidak boleh ditemukan adanya lapisan warna atau ketidakcampuran

pada dispersi bedak yang menyebabkan pulverisasi yang jelek atau pengeluaran

warna keseragaman pada bedak dapat dengan mudah diperiksa dengan

menyebarkannya pada kertas putih dan diuji dengan kaca pembesar. Jika terdapat

ketidakseragaman yang terdeteksi, proses selanjutnya untuk memperoleh

pengembangan warna maksimal harus diperoleh dalam homogenitas.

b) Kadar air

Pengukuran kandungan air yang berada dalam bahan ataupun sediaan

dilakukan dengan cara yang tepat yang bertujuan memberikan batasan minimal

atau rentang tentang besarnya kandungan air dalam bahan, dimana nilai maksimal

atau rentang yang diperbolehkan terkait dengan kemurnian dan kontaminasi.

13
2. Bedak padat

a) Shade control dan Lighting

Shade control adalah salah satu dari aspek yang mengancam dalam

pengendalian mutu bedak. Variasi antar bets yang sama terjadi, dan titik yang

tepat dimana untuk mempertimbangkan suatu bets baru dapat menjadi pilihan

komersil walau kadang-kadang sukar untuk ditentukan. Pengendalian produksi

harus sedemikan rupa sehingga shade-nya tidak berbeda dari yang baku.

b) Dispersi Warna

Pewarna pada bedak wajah haruslah terdispersi secara homogen dalam

dasar bedak. Tidak boleh ditemukan adanya lapisan warna atau

ketidakbercampuran pada dispersi bedak yang menyebabkan pulverisasi yang

jelek atau pengeluaran warna keseragaman pada bedak dapat dengan mudah

diperiksa dengan menyebarkannya pada kertas putih dan diuji dengan kaca

pembesar. Jika terdapat ketidakseragaman yang terdeteksi, proses selanjutnya

untuk memperoleh pengembangan warna maksimal harus diperoleh dalam

homogenitas.

c) Pay Off

Hasil dari bedak harus selalu diperiksa pada kulit. Jika tekanan pada

cake terlalu besar, bedak yang dihasilkan tidak akan tersapu bersih dengan mudah.

Jika tekanannya terlalu rendah, cake akan menjadi lembek dan mempunyai

kecenderungan menjadi remuk dan pecah.

d) Uji Tekanan

14
Pada bedak tekanan yang diberikan secara alami haruslah rata, dengan

adanya kantung-kantung udara akan membuat cake menjadi mudah pecah.

Keseragaman dan kekerasan dari cake sebaiknya diperiksa dengan penetrometer.

Pemeriksaan pada table sebaiknya diambil dari berbagai segi untuk meyakinkan

bahwa produk cukup keras dan tekanan yang diberikan seragam.

e) Tes Keretakan

Langkah yang paling baik terhadap kecenderungan bedak menjadi

pecah adalah dengan menjatuhkan bedak pada permukaan kayu beberapa kali

pada ketinggian 8-10 inci. Jika cake yang dihasilkan tidak rusak, mengindikasikan

bahwa kekompakannya lulus uji dan dapat disimpan tanpa menghasilkan hal-hal

yang tidak memuaskan.

3. Lipstik

a) Pemeriksaan kekuatan lipstik

Pengamatan dilakukan terhadap kekuatan lipstik dengan cara lipstik

diletakkan horizontal. Pada jarak kira-kira ½ inci dari tepi lipstik, digantungkan

beban yang berfungsi sebagai penekan. Tiap 30 detik berat penekan ditambah (10

gram). Penambahan berat sebagai penekanan dilakukan terus menerus sampai

lipstik patah, pada saat lipstik patah merupakan nilai kekuatan lipstiknya.

b) Penentuan pH sediaan

Alat pH meter terlebih dahulu dikalibrasi dengan menggunakan

larutan dapar standar netral (pH 7,01) dan larutan dapar pH asam (pH 4,01)

hingga alat menunjukkan harga pH tersebut. Kemudian elektroda dicuci dengan

air suling, lalu dikeringkan dengan tissu. Sampel dibuat dalamkonsentrasi 1%

15
yaitu ditimbang 1 g sediaan dan dilebur dalam beker glass dengan 100 ml air

suling di atas penangas air. Setelah dingin kemudian elektroda dicelupkan dalam

larutan tersebut. Dibiarkan alat menunjukkan harga pH sampai konstan. Angka

yang ditunjukkan pH meter merupakan pH sediaan. Penentuan pH dilakukan tiga

kali pada tiga lipstik terhadap masing-masing konsentrasi.

c) Pemeriksaan stabilitas sediaan

Pemeriksaan stabilitas sediaan dilakukan terhadap adanya perubahan

bentuk, warna dan bau dari sediaan lipstik dilakukan terhadap masing-masing

sediaan selama penyimpanan pada suhu kamar pada hari ke 1, 5, 10 dan

selanjutnya setiap 5 hari hingga hari ke-30. Pada perubahan bentuk diperhatikan

apakah lipstik terjadi perubahan bentuk dari bentuk awal pencetakan atau tidak,

pada perubahan warna diperhatikan apakah lipstik terjadi perubahan warna dari

warna awal pembuatan lipstik atau tidak, pada perubahan bau diperhatikan apakah

lipstik masih berbau khas dari parfum yang digunakan atau tidak.

d) Pemeriksaan titik lebur lipstik

Pengamatan dilakukan terhadap titik lebur lipstik dengan cara melebur

lipstik. Sediaan lipstik yang baik adalah sediaan lipstik dengan titik lebur dengan

suhu di atas 50ºC. Lipstik dimasukkan dalam oven dengan suhu awal 50ºC selama

15 menit, diamati apakah lipstik meleleh atau tidak, setelah itu suhu dinaikkan

1ºC setiap 15 menit dan diamati pada suhu berapa lipstik mulai meleleh.

e) Uji oles

Uji oles dilakukan secara visual dengan cara mengoleskan lipstik pada

kulit punggung tangan kemudian mengamati banyaknya warna yang menempel

16
dengan perlakuan 5 kali pengolesan. Sediaan lipstik dikatakan mempunyai daya

oles yang baik jika warna yang menempel pada kulit punggung tangan banyak dan

merata dengan beberapa kali pengolesan pada tekanan tertentu. Sedangkan

sediaan dikatakan mempunyai daya oles yang tidak baik jika warna yang

menempel sedikit dan tidak merata.Pemeriksaan dilakukan terhadap masing-

masing sediaan yang dibuat dan dioleskan pada kulit punggung tangan dengan 5

kali pengolesan.

f) Pemeriksaan homogenitas

Masing-masing sediaan lipstik diperiksa homogenitasnya dengan cara

mengoleskan sejumlah tertentu sediaan pada kaca yang transparan. Sediaan harus

menunjukkan susunan yang homogen dan tidak terlihat adanya butir-butir kasar.

g) Uji iritasi

Uji iritasi dilakukan dengan maksud untuk mengetahui bahwa lipstik

yang dibuat dapat menimbulkan iritasi pada kulit atau tidak. Iritasi dapat dibagi

menjadi 2 kategori, yaitu iritasi primer yang akan segera timbul sesaat setelah

terjadi pelekatan atau penyentuhan pada kulit, dan iritasi sekunder yang reaksinya

baru timbul beberapa jam setelah penyentuhan atau pelekatan pada kulit.

Teknik yang digunakan pada uji iritasi ini adalah uji tempel terbuka

(Patch Test) pada lengan bawah bagian dalam terhadap 10 orang panelis. Uji

tempel terbuka dilakukan dengan mengoleskan sediaan yang dibuat pada lokasi

lekatan dengan luas tertentu (2,5 x 2,5 cm), dibiarkan terbuka dan diamati apa

yang terjadi. Uji ini dilakukan sebanyak 3 kali sehari selama tiga hari berturut-

turut untuk sediaan yang paling tinggi konsentrasi pewarnanya, yaitu konsentrasi

17
18%, reaksi yang terjadi diamati. Reaksi iritasi positif ditandai oleh adanya

kemerahan, gatal-gatal, atau bengkak pada kulit lengan bawah bagian dalam yang

diberi perlakuan. Adanya kulit merah diberi tanda (+), gatal-gatal (++), bengkak

(+++), dan yang tidak menunjukkan reaksi apa-apa diberi tanda (0). Kriteria

panelis uji iritasi sesuai dengan Ditjen POM, 1985.

4. Lotion dan krim

a) Pemeriksaan organoleptis sediaan

Pemeriksaan organoleptis sediaan meliputi bentuk, bau dan warna

sediaan yang dilakukan secara visual.

b) Penentuan tipe emulsi

Penentuan tipe emulsi sediaan dilakukan dengan cara sebanyak 1 tetes

krim ditempatkan di atas gelas objek, ditambah 1 tetes larutan metilen biru,

dicampur merata, diamati di bawah mikroskop, akan terbentuk warna biru yang

homogen yang menunjukkan terbentuknya emulsi tipe minyak dalam air

sedangkan jika terbentuk warna biru yang tidak homogen pada fase luar

menunjukkan terbentuknya emulsi tipe air dalam minyak (Wedana, 2013).

Sediaan pelembab pada penelitian ini harus memiliki tipe emulsi minyak dalam

air.

c) Pengukuran pH sediaan

Pengukuran pH sediaan dilakukan dengan cara sediaan krim atau

lotin ditimbang sebanyak 1 gram dan diencerkan dengan aquades 10 ml. Elektroda

pHmeter dicelupkan ke dalam sampel krim atau lotion yang telah diencerkan

18
hingga pada monitor jarum menunjukkan angka yang stabil (Juwita, 2013). pH

sediaan harus sesuai dengan pH kulit yaitu berkisar antara 6-7 (Paithankar, 2010).

d) Pengukuran ukuran partikel

Pengukuran ukuran partikel sediaan diamati dengan menggunakan

mikroskop yang dilengkapi dengan micrometer okuler. Krim atau lotion

ditimbang sebanyak 0,1 gram dan diencerkan dengan air suling hingga 1 ml.

selanjutnya hasil pengenceran diambil dan diteteskan pada kaca obyek untuk

diamati dibawah mikroskop dan dilakukan pengukuran partikel sampai dengan

500 partikel (Anggraini dkk, 2011). Ukuran partikel untuk emulsi adalah 1-100µm

(Ansel, 1985).

e) Pengukuran viskositas

Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan viscometer

Brookfield .Sebanyak 250 ml sediaan krim dimasukkan ke dalam beaker glass.

Selanjutnya spindel diturunkan hingga batas yang ditentukan ke dalam beaker

glass yang berisi krim dan selanjutnya dilakukan pengaturan kecepatan (Asswal,

Kalra, Rout, 2013). Viskositas sediaan krim adalah 30000-70000 cps (Buhse,

2003).

f) Pengukuran daya sebar

Pengukuran daya sebar sediaan dilakukan dengan cara 0,5 gram

sediaan diletakkan diatas kertas grafik yang dilapisi kaca transparan lalu dibiarkan

± 15 detik. Selanjutnya dihitung luas daerah yang diberikan oleh sediaan lalu

ditutup lagi dengan lempengan kaca yang diatasnya diberi beban dengan berat

tertentu (10 g, 20 g, 30 g) dan dibiarkan selama 60 detik lalu dihitung luas yang

19
diberikan oleh sediaan (Anggraini dkk, 2011). Sediaan harus dapat menyebar

secara merata (Paithankar, 2010). Kriteria uji daya sebar dapat dilihat pada tabel.

g) Pengukuran homogenitas sediaan

Pengukuran homogenitas sediaan dilakukan dengan cara sediaan

ditimbang 0,5 gram di atas wadah kemudian diamati secara visual dan sensoris

dengan cara diraba (Singh et al., 2011).

h) Pengukuran daya tercucikan air

Krim ditimbang sebanyak 1 gram kemudian dioleskan pada telapak

tangan dan dicuci dengan sejumlah volume air sambil membilas tangan. Air

dilewatkan dari buret dengan kecepatan 0,25 tetes per detik lalu diamati secara

visual da atau tidaknya krim yang masih tersisa pada telapak tangan. Volume air

yang terpakai kemudian dicatat (Anggraini dkk, 2011). Sediaan pelembab harus

mudah tercucikan air.

4.3Terhadap Produk Jadi

Produk-produk yang dihasilkan nantinya akan diuji salah satunya dengan

dipanaskan dibawah sinar matahari untuk mengetahui apakah produk tersebut

dapat terkena cahaya matahari secara langsung atau tidak. Umumnya semua

produk pada tahap ini dapat bertahan selama 6 bulan sampai dengan 3 tahun.

a) Tes kebocoran (pada produk lotion dan krim)

Pengujian mutu dilakukan juga pada formula yang belum diproduksi

dalam jumlah besar, yaitu dilakukan uji diawal yang mecakup bagaimana produk

itu pada kulit berminyak, kering dan normal sesuai formulanya. Bila hasilnya baik

diadakan uji panel melalui salon kecantikan dan anak-anak SMU tertentu untuk

20
mengetahui minat konsumen terhadap produk tersebut. Objek percobaan telah

dikontrak dan dapat asuransi. Dilakukan di salon-salon Martha Tilaar dengan

dokter spesialis kulit. Monitoring dilakukan juga pada sampel tertinggal, misalnya

sampel tertinggal ada yang bocor atau rusak maka dipasaran juga mengalami hal

yang sama dan semua harus cepat dilaporkan kebagian marketing agar produk

ditarik dipasaran.

Bagian quality control melakukan pengawasan mutu secara menyeluruh,

mulai dari incoming material, in process control, dan outgoing product.

Incoming material meliputi pemeriksaan terhadap bahan baku dan bahan kemas.

Sedangkanin proces control meliputi pemeriksaan terhadap produk ruahan dan

produk antara (work in process) serta pengawasan di line produksi dan

pengemasan. Pemeriksaan outgoing product meliputi pemeriksaan terhadap

produk yang telah dikemas dalam inner/master boxStandar yang ditetapkan

adalah standar mutu internal yang dibuat oleh R&D. Berdasarkan Farmakope

Indonesia, BP, USP, dan sebagainya.

Laboratorium QC terdiri dari 5 bagian pemeriksaan yaitu :

1. Pemeriksaan Raw Material

Dilakukan terhadap setiap bahan baku yang datang darisupplier . Staf QC

yang bertugas sebagai sampler bahan baku yang akan menyampling bahan baku

yang telah diberi status karantina. Jumlah sampel yang disampling adalah n+1

(n=kemasan) untuk jumlah kemasan diatas 20 buah. Sedangkan kemasan dalam

jumlah dibawah 20 maka akan diperiksa secara keseluruhan. Bahan baku yang

diperiksa meliputi bahan baku cair, wax atau granular, serbuk, zat warna, dan

21
parfum. Acuan pada pemeriksaan bahan baku adalah standar bahan baku internal

yang ditetapkan R&D standardisasi. Setiap hasil uji diberi label status sesuai hasil

pemeriksaannya. Label status tersebut antara lain:

1. Label released (warna hijau) untuk pemeriksaan yang memenuhi

spesifikasi pemeriksaan.

2. Label rejected (warna merah) untuk pemeriksaan yang tidak

memenuhi spesifikasi pemeriksaan.

3. Label hold (warna jingga) untuk pemeriksaan yang memerlukan

keputusan penanganan lebih lanjut.

Bahan baku released dipindahkan penyimpanannya dari ruang karantina

keruang penyimpanan bahan baku. Untuk menjaga kualitas bahan baku yang ada

dilakukan pemeriksaan ulang. Setiap bahan baku memiliki masa periksa ulang

yang berbeda Bahan baku cair mempunyai masa periksa ulang (PU) 6 bulan sekali

untuk bahan yang tidak sensitif dan 3 bulan untuk bahan yang sensitif. Bahan

baku serbuk mempunyai masa periksa ulang 1 tahun sekali untuk bahan yang

tidak sensitif dan 6 bulan untuk bahan yang senstif. Sedangkan bahan baku

parfum mempunyai masa periksa ulang 1 tahun sekali dan zat warna 2 tahun.

2. Pemeriksaan Packaging Material

Packaging material terdiri dari wadah kemas dan kemas cetak.

Pemeriksaan wadah kemas meliputi pemeriksaan warna, bentuk, dimensi, uji

kebocoran, berat, daya cengkram, uji printing, body text, dan uji fungsi.

Uji kebocoran wadah yang dilakukan ada 3 macam yaitu

1. Uji kebocoran positif,

22
2. Uji kebocoran negatif, dan

3. Uji kebocoran dengan air pressure.

Ketiga metode tersebut dilakukan tergantung dari jenis wadah kemas,

Pemeriksaan kemas cetak meliputi warna, bentuk, dimensi, uji printing, body text,

jenis material, berat jenis, daya rekat, dan uji fungsi terhadap wadah. Bahan

kemas cetak yang datang dari supplier , dibuatkan BPPB (Bon Penerimaan

Pembelian Barang) oleh petugas gudang dan masuk ke dalam ruang karantina.

Apabila dari hasil pemeriksaan ditemukan banyak ketidaksesuaian, maka akan

dilakukan sampling ulang dan diperiksa kembali untuk memastikan hasil

pemeriksaan.

3. Pemeriksaan Bulk Work in Process

Pemeriksaan bulk WIP dilakukan terhadap bulk, bulk ruahan, dan

produk antara baik liquid dan dry. Parameter pemeriksaan untuk bulk liquid

berdasarkan SPR (Standar Produk Ruahan) Parameter pemeriksaan yang

dilakukan antara lain pemerian, viskositas, pH, densitas, warna, titik leleh, dan

homogenitas. Berbeda dengan bulk liquid, pemeriksaan terhadap bulk dry

dilakukan terhadap produk antara dan ruahan. Parameter untuk pemeriksaan

bulk dry antara lain homogenitas, warna, densitas, moisture content, dan titik leleh

(standar ditetapkan oleh R&D).

4. Pemeriksaan mikrobiologi

Pemeriksaan mikrobiologi menjadi perhatian penting bagi produk

kosmetik karena resiko kontaminasi dapat berasal dari berbagai sumber meskipun

dalam produk sudah mengandung bahan antimikroba. Parameter pemeriksaan

23
yang dilakukan antara lain Angka Lempeng Total (ALT), angka kapang dan

khamir, serta bakteri patogen. Standar pemeriksaan mikrobiologi mengacu pada

standar BPOM. Air yang dipakai untuk produksi juga dilakukan pemeriksaan

mikrobiologi. Biasanya dilakukan satu bulan sekali untuk parameter mikrobiologi

dan satu minggu sekali untuk pemeriksaan pH (pH 6.5 – 7.5). Pemeriksaan

mikrobiologi juga dilakukan pada ruang produksi, air untuk mencuci, dinding, dan

lantai serta mesin produksi.

5. Pemeriksaan in Process Control dan Outgoing Product

Pemeriksaan IPC dilakukan pada tahap awal, tengah, dan

akhir pengemasan. Parameter yang diperiksa oleh IPC antara lain :

1. Kelengkapan lampiran pada PCO ( packing order) dan LPK (lembar

petunjuk kemas),

2. Kesesuain pada produk dan kemasan,

3. Hasil penimbangan,

4. Kesesuaian kemasan,

5. Penampilan produk,

6. Fungsi kemasan,

7. Kelengkapan kemasan,

Tahap akhir pengemasan meliputi pengecekan nama dan isi produk,

nomor bets, nomor regestrasi/notifikasi, segel, pengambilan retained

sample, periksa PSP penimbangan, inner box. Untuk produk dry seperti make up

base, lipstik, dan dekoratif dilakukan pemeriksaan outgoing product .

Pemeriksaan ini dilakukan terhadap produk yang telah dimasukkan dalam

24
inner/master box. Pada pemeriksaannya disesuaikan nama produk dan nama pada

inner box, nomor bets, nomor registrasi/notifikasi, expired date, jumlah produk,

dan kondisi produk serta kelengkapan produk.

5. Pengemasan

5.1 Sediaan Padat

1. Pemulas mata atau pipi : Dikemas dalam wadah pipih yang

dan bedak padat ditentukan oleh pihak produksi.

2. Lipstik : Dikemas dalam wadah berbentuk tabung.

3. Bedak tabor : Dikemas dalam wadah yang bermacam-

macam tergantung berat bedak dan merk

produk masing-masing

5.2Sediaan Cair

Sediaan cair dimasukkan pada botol atau tube dengan ukuran tertentu

sesuai ke praktisan dan merk produk masing-masing.

25
6. Distribusi

Pemasaran produk dilakukan dengan dua cara :

1. Pemasaran Langsung

Yaitu hasil produksi langsung dipasarkan oleh perusahaan kepada

konsumen.

2. Pemasaran Tidak Langsung

Yaitu pendistribusian dilakukan oleh yang menyalurkan produk kepada

konsumen. Produk-produk PT. Marthita Berto juga dipasarkan diluar

negeri seperti Malaysia, Brunnei Darusalam dan Eropa.

7. Hasil Produksi (Brand)

1. Belia

2. Berto Tea

3. Biokos

4. Caring Colours

5. Cempaka Cosmetics

6. Dewi Sri Spa

7. Jamu Garden

8. Mirabella Cosmetics

9. PAC

10. Rudy Hadisuwarno

11. Sariayu

26
8. Pengolahan Limbah

8.1 Limbah Padat

Limbah langsung dibakar, contoh limbahyaitu sisa dari bahan pengemas.

8.2 Limbah Cair

Jika limbah tersebut mengandung bahan berbahaya maka akan diuji dulu

kadarnya, dan yang tidak melewati ambang batas maka dinetralkan dahulu

sebelum dibuang.

27
B. PT. KIMIA FARMA, Tbk PLANT JAKARTA

1. Gambaran Umum

1.1. Sejarah

Cikal-bakal Kimia Farma adalah perusahaan industri farmasi pertama di

Indonesia yang didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda tahun 1817. Nama

perusahaan ini pada awalnya adalah NV Chemicalien Handle Rathkamp & Co.

Berdasarkan kebijaksanaan nasionalisasi atas eks perusahaan Belanda di masa

awal kemerdekaan, pada tahun 1958, Pemerintah Republik Indonesia melakukan

peleburan sejumlah perusahaan farmasi menjadi PNF (Perusahaan Negara

Farmasi) Bhinneka Kimia Farma. Kemudian pada tanggal 16 Agustus 1971,

bentuk badan hukum PNF diubah menjadi Perseroan Terbatas, sehingga nama

perusahaan berubah menjadi PT Kimia Farma (Persero).

Pada tanggal 4 Juli 2001, PT Kimia Farma (Persero) kembali mengubah

statusnya menjadi perusahaan publik—PT Kimia Farma (Persero) Tbk, dalam

penulisan berikutnya disebut Perseroan. Bersamaan dengan perubahan tersebut,

Perseroan telah dicatatkan pada Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya

(sekarang kedua bursa telah merger dan kini bernama Bursa Efek Indonesia).

Berbekal pengalaman selama puluhan tahun, Perseroan telah berkembang menjadi

perusahaan dengan pelayanan kesehatan terintegrasi di Indonesia. Perseroan kian

diperhitungkan kiprahnya dalam pengembangan dan pembangunan bangsa,

khususnya pembangunan kesehatan masyarakat Indonesia.

PT. Kimia Farma, Tbk. Plant Jakarta memproduksi sediaan tablet, tablet

salut, kapsul, granul, sirop kering, suspensi/sirop, tetes mata, krim, antibiotika dan

28
injeksi. Unit ini merupakan satu-satunya pabrik obat di Indonesia yang mendapat

tugas dari pemerintah untuk memproduksi obat golongan narkotika. Industri

formulasi ini telah memperoleh sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik

(CPOB) dan ISO:9001.

1.2 Visi, Misi dan Budaya Perusahaan

Visi

Komitmen pada peningkatan kualitas kehidupan kesehatan dan

lingkungan.

Misi

1. Mengembangkan industri kimia dan farmasi dengan melakukan

penelitian dan pengembangan produk yang inovatif.

2. Mengembangkan bisnis pelayanan kesehatan terpadu (Health Care

Provider)yang berbasis jaringan distribusi dan jaringan apotek.

3. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan mengembangkan

sistem informasi perusahaan.

Budaya Perusahaan

Kimia Farma memiliki budaya perusahaan yang di sebut I CARE yang

merupakan singakatan dari :

I = INNOVATE

Memiliki budaya berpikir Out OF The Box, dan membangun produk

unggulan

C = COSTUMER FIRST

Mengutamakan pelanggan sebagai rekan kerja / mitra.

29
A = ACCOUNTABILITY

Bertanggung jawab atas amanah yang dipercayakan oleh perusahaan.

R = RESPONSIBILITY

Memiliki tanggung jawab pribadi untuk bekerja tepat waktu, tepat

sasaran dan dapat diandalkan.

E = ECO-FRIENDLY

Menciptakan dan menyediakan produk maupun jasa layanan yang ramah

lingkungan.

2. Struktur Organisasi

Stuktur organisasi PT. Kimia Farma, Tbk. Plant Jakarta dapat

dilihat pada lampiran.

3. Proses Produksi

3.1 Bahan Baku / Bahan Awal

a. Bahan baku pada awalnya dipesan olehPerencanaan Pengendalian

Produksi dan Inventori(PPPI), bahan yang dipesan akan dikirimkan ke

bagian penyimpanan. Penerimaan bahan baku berasal dari lokal dan

impor.

b. Setiap pemasukan, pengeluaran, dan sisa bahan harus dilakukan

pencatatan.

c. Pada saat diterima harus diperiksa keutuhan kemasan dan kebenaran

label dari bahan tersebut.

30
d. Setiap bahan awal, sebelum dinyatakan lulus untuk digunakan

hendaklah memenuhi spesifikasi bahan awal yang sudah ditetapkan

yang diberi label dengan nama yang dinyatakan dalam spesifikasi.

e. Bahan awal yang mengalami kerusakan oleh suhu disimpan ditempat

yang suhu udaranya diatur.

f. Bahan awal yang mudah terurai atau menurun potensinya harus

dinyatakan batas waktu penggunaanya.

g. Persediaan bahan awal diperiksa dalam selang waktu tertentu untuk

meyakinkan bahwa wadahnya tertutup rapat, bertanda yang benar dan

dalam kondisi yang baik. Pemeriksaan laboratorium kembali dilakukan

sesuai prosedur yang ditentukan.

h. Semua bahan awal yang tidak memenuhi syarat ditandai dengan jelas,

ditempatkan terpisah dan secepatnya dikembalikan ke pemasok atau

dimusnahkan.

3.2 Proses Pembuatan

Bagian produksi dipimpin oleh seorang Manager Produksi yang

membawahi Asisten Manager Produksi I yang bertanggung jawab terhadap

produksi produksi tablet non-betalaktam dan Anti Retro Viral(ARV), Asisten

Manager Produksi II yang bertanggung jawab terhadap produksi krim, cairan,

kapsul, sirup kering non- betalaktam dan produk steril, Asisten Manager Produksi

III yang bertanggung jawab terhadap produksi sediaan betalaktam. Dalam

melaksanakan tugasnya, masing-masing Asisten Manager membawahi supervisor.

31
Alur proses produksi pada tiap bagian produksi ini dimulai dari Bagian

PPPI memberikan Surat Perintah Kerja (SPK) kepada masing-masing bagian

produksi untuk produksi, yang disertai dengan Bon Penyerahan Bahan Baku

(BPBB), Bon Penyerahan Bahan Kemas (BPBK), Man Hour (MH), Machine

Hour (MCH), dan Berita Acara Produksi (BAP). Pengembangan produk akan

memberikan Catatan Pengolahan Bets (CPB) dan Catatan Pengemasan Bets

(CPSB). BPBK akan diteruskan ke gudang kemas, sedangkan BPBB serta CPB

akan dikirimkan ke penimbangan sentral. Kemudian bahan baku yang telah

ditimbang akan dikirim ke masing-masing bagian produksi untuk melakukan

kegiatan produksi.

3.2.1. Produksi I

Asisten manajer produksi I adalah seorang apoteker, yang bertanggung

jawab terhadap kegiatan produksi I, yaitu produksi tablet non betalaktam dan

ARV. Rifampicin memiliki ruangan khusus untuk produksi mulai dari proses

mixing sampai akhir pencetakan, sedangakn produksi ARV dilakukan di gedung

terpisah dari produksi 1. Asisten manajer dibantu oleh 4 supervisor, yaitu Spv.

Granulasi, Spv. Pencetakan 40 tablet, dan Spv. Penyalutan tablet, Spv. Produksi

dan Pengemasan ARV. Adapun tahapan-tahapan produksi, sebagai berikut:

a. Granulasi

Metode yang digunakan dalam proses produksi tablet meliputi granulasi

basah, granulasi kering dan metode cetak langsung.

32
1. Granulasi Basah

Pada metode granulasi basah diawali dengan membuat larutan

pengikat. Proses pencampuran awal yaitu bahan aktif, bahan pengisi, sebagian

penghancur dan larutan pengikat dicampur menggunakan mikser Diosna. Bahan

yang telah tercampur kemudian dikeringkan dalam ruang Dehumidifier.

Dilakukan pemeriksaan LOD (Loss On Drying), jika memenuhi syarat dilakukan

pengayakan dengan Communiting Fitzmill/Oscilating Granulator agar distribusi

partikelnya lebih seragam. Tahap akhir adalah pencampuran akhir dengan fase

luar atau lubrikan, biasanya digunakan Magnesium Stearat atau Talk,

menggunakan alat V-mikser sehingga menjadi massa cetak. Selanjutnya, massa

cetak tersebut akan dikirim ke Karantine In Process (KIP) untuk dilakukan

pemeriksaan oleh bagian In Process Control (IPC).

2. Granulasi Kering

Pada granulasi kering, proses pencampuran awal dilakukan dengan

mengayak semua bahan, kemudian dilakukan pencampuran awal menggunakan

mikser Diosna V-250. Setelah itu, digranulasi dengan metodeslugging

menggunakan mesin cetak atau compacting menggunakan Roller Compactor

kemudian dilakukan pengayakan dengan menggunakan Oscillating

Granulatorsampai diperoleh granul yang siap untuk dicetak. Setelah granul

terbentuk, kemudian dilakukan proses pencampuran akhir dengan fase luar

menggunakan V-mikser untuk memperoleh massa cetak. Massa cetak yang

dihasilkan dikirim ke KIP untuk dilakukan pemeriksaan oleh IPC.

33
3. Cetak Langsung

Proses cetak langsung dilakukan dengan pengayakan semua bahan

aktif dan bahan pembantu ke dalam satu wadah, V-mikser sampai menjadi massa

cetak. Selanjutnya massa cetak dikirim ke KIP untuk dilakukan pemeriksaan oleh

IPC.

b. Pencetakan tablet

Setelah melalui pemeriksaan IPC dan dinyatakan memenuhi syarat,

massa cetak tersebut dikembalikan ke Bagian Produksi I untuk dicetak. Setelah

selesai pencetakan tablet, maka dibawa ke KIP untuk pemeriksaan laboratorium

oleh QC.

c. Penyalutan

Proses penyalutan dilakukan terhadap beberapa sediaan tablet. Tablet

salut yang diproduksi PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Plant Jakarta ada dua jenis,

yaitu tablet salut film dan tablet salut gula.

1. Tablet Salut Gula

Proses pembuatan tablet salut gula terdiri dari 4 tahap, yaitu

Protecting/Sealing, Sub Coating, Coating/Coloring dan Polishing.

a) Protecting. Pada awal proses penyalutan, tablet inti akan

mengalami penyalutan awal yang disebut dengan protecting dengan

tujuan untuk melakukan proteksi terhadap tablet inti. Bahan yang

biasa digunakan adalah larutan Shellac. Proses selanjutnya adalah

mengeringkan tablet inti yang telah terproteksi tersebut ke dalam

dehumidifier dengan suhu 40 C selama 17 jam.

34
b) Sub Coating. Untuk menambah bobot tablet, biasanya

menggunakan Magnesii Oxydum Talc. Setelah proses sub coating

tablet kembali dikeringkan di dalam dehumidifier dengan suhu

40°C selama 17 jam.

c) Coating/Coloring. Tablet yang telah kering kemudian dilakukan

coating/ coloring yaitu dengan membasahi tablet menggunakan

larutan gula, pengawet dan pewarna sampai diperoleh bentuk tablet

dengan permukaan yang halus dengan pewarnaan yang merata.

Setelah dilakukan proses coating, tablet dikeringkan di dalam

dehumidifier dengan suhu 40oC selama 17 jam.

d) Polishing. Biasanya menggunakan polishing wax untuk

memberikan warna yang mengkilap dari tablet salut dan

pengeringan dilakukan kembali dengan suhu 40oC selama 17 jam.

Setelah seluruh proses selesai, tahap seleksi dilakukan secara

manual (visual pada meja kaca) dan dengan mesin, kemudian

dilakukan IPC.

2. Tablet salut film

Prosesnya lebih sederhana dengan efisiensi waktu yang lebih baik. Proses

penyalutan film hanya terdiri dua tahap, yakni pada tablet inti dilakukan spraying

dan dilanjutkan dengan polishing. Setelah penyalutan, dilakukan seleksi untuk

memeriksa kualitas penyalutan. Produk yang terseleksi dengan baik kemudian

dikirim ke karantina menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.

35
3.2.2 Produksi II

Produksi II berada di bawah tanggung jawab Asisten Manajer Produksi II

untuk menangani produk kapsul, krim, cairan dan sirup kering non betalaktam dan

produk steril (injeksi). Asisten manajer dibantu oleh empat supervisor, yaitu: Spv.

Kapsul, Spv, Krim, Spv. Cairan dan sirup kering non betalaktam, Spv. Sediaan

steril (injeksi).

a. Pembuatan Sediaan Kapsul

Proses pembuatan kapsul dilakukan dengan metode granulasi. xGranul

yang terbentuk dibawa ke KIP untuk dilakukan pemeriksaan oleh IPC. Setelah

memenuhi syarat dibawa kembali ke ruangan produksi kapsul untuk dilakukan

filling kapsul menggunakan mesin bosch dengan metode punches and dies.

Kapsul yang terbentuk dilakukan polishing, kemudian dibawa kembali ke KIP

untuk pengujian oleh IPC.

b. Pembuatan Sediaan Krim

Produk krim di buat dari fase air dan fase minyak yang terlebih dahulu

di lakukan peleburan. Kedua fase di mixing dengan mesin planetary pada suhu

35°- 40°C sampai terbentuk basis krim. Zat aktif di campur ke sedikit basis di

lumpang sampai homogen. Kemudian zat aktif di mixing ke dalam basis,

kemudian dibawa ke KIP untuk di lakukan uji. Setelah memenuhi syarat uji,

dibawa kembali ke ruang produksi krim untuk dilakukan filling ke tube.

c. Pembuatan Sediaan Cairan

Bahan aktif dan bahan tambahan di lakukan mixing dalam sebuah tangki

sampai homogen. Bagian KIP akan melakukan sampling ke produksi cairan untuk

36
di lakukan pemeriksaan oleh IPC. Setelah memenuhi syarat, di lakukan filling ke

botol. Selama proses filling di lakukan pengecekan keseragaman volume setiap 30

menit, kemudian dilakukan capping.

d. Pembuatan Sediaan Steril (injeksi)

Produk steril dibuat pada kondisi yang terkendali dan dipantau dengan

teliti. Oleh karena itu, untuk membuat sediaan steril diperlukan suatu ruangan

terpisah dengan rancangan bangunan dan konstruksi khusus. Tekanan udara di

dalam ruangan lebih tinggi dari ruangan sekitarnya untuk menghindari terjadinya

kontaminasi silang.

e. Pengolahan Air Produksi

Pengolahan air yang akan digunakan oleh bagian produksi berada di

bawah tanggung jawab Produksi II. Air yang dihasilkan dari proses pengolahan

ini akan digunakan untuk pembuatan sediaan cairan, pembuatan injeksi dan

pencucian wadah seperti botol, tutup botol dan ampul.

3.2.3 Produksi III

Produksi III khusus memproduksi antibiotik turunan penisilin

(betalaktam) yaitu Ampicilin dan Amoxicilin. Gedung betalaktam menurut CPOB

harus dipisahkan dengan gedung yang lain karena sifat kontaminasi dari produk

betalaktam terhadap sediaan obat lain (berhubungan dengan reaksi

alergi/anafilaksis). Produk betalaktam ini diformulasi menjadi tiga bentuk sediaan

yaitu tablet, kapsul dan sirup kering. Plant Jakarta memproduksi kapsul dan sirup

kering hanya sampai pencampuran sedangkan pengisian dimakloonkan.

37
Proses produksi betalaktam pada dasarnya sama dengan produksi sediaan

non betalaktam, proses pembuatan tablet dilakukan dengan granulasi kering.

3.2.4 Narkotika dan Psikotropika

PT. Kimia Farma (Persero) Tbk. Plant Jakarta memiliki hak khusus untuk

mengimpor, memproduksi dan mendistribusikan obat-obatan golongan narkotika

di Indonesia sesuai Keputusan Menteri Kesehatan RI No

199/Menkes/SK/III/1996.

4. Pengawasan Mutu

Bagian Pengawasan mutu dipimpin oleh seorang Asisten Manajer yang

membawahi enam supervisor, yaitu: Spv. Pemeriksaan Bahan Baku, Spv.

Pemeriksaan Bahan Pengemas, Pemeriksaan Produk Antara dan Ruahan,

Pemeriksaan Mikrobiologi dan Limbah, Pemeriksaan Produk Jadi, Pengawasan

Proses Produksi.

4.1Pemeriksaan Bahan Baku

Supervisor pemeriksaan bahan baku mengawasi kegiatan sampling,

pengambilan sampel diambil dari atas, tengah, bawah wadah bahan baku,

kemudian dilakukan pemeriksaan. Selanjutnya bagian pengawasan mutu

memberikan Hasil Pemeriksaan Laboratorium (HPL). Jika HPL menyatakan

bahwa bahan baku diluluskan maka diberi label hijau dan jika ditolak diberi label

merah.

38
4.2 Pemeriksaan Bahan Pengemas

Pemeriksaan bahan pengemas yang akan masuk gudang juga dilakukan

berdasarkan surat permohonan pemeriksaan dari bagian penyimpanan bahan

kemas.

4.3 Pemeriksaan Produk Antara dan Produk Ruahan

Setiap unit proses produksi dilakukan pemeriksaan laboratorium oleh QC

berdasarkan surat permohonan periksa laboratorium akan sampling produk antara

atau ruahan dari Karantina In Process(KIP). Pemeriksaan yang dilakukan pada

produk antara dan produk ruahan, meliputi:

a. Masa cetak granul, diperiksa Loss On Drying (LOD), sifat alir, bobot

jenis.

b. Tablet inti dan tablet salut, diperiksa visual, keseragaman bentuk dan

ukuran, waktu hancur, kekerasan, keragaman bobot, kesragaman

kandungan, waktu hancur kerenggasan, uji disolusi dan penetapan

kadar.

c. Cairan, diperiksa visual, pH, viskositas, keseragaman volume, volume

cairan terpindahkan, bobot jenis, penetapan kadar.

d. Kapsul, diperiksa Loss on Drying (LOD), keragaman bobot dan

keseragaman kandungan

e. Krim, diperiksa pH, homogenitas dan stabilitas krim

f. Sirup kering, diperiksa Loss On Drying

g. Injeksi, diperiksa uji sterilisasi, pH, jumlah partikel, kejernihan dan

keseragaman volume.

39
4.4 Pemeriksaan Mikrobiologi dan Limbah

Quality Cotrol (QC) atau pengawasan mutu juga memeriksa

mikrobiologi pada bahan baku antibiotik dengan uji potensi antibiotik, dan untuk

bahan non antibiotik, meliputi uji kontaminasi penicillin pada air produksi setiap

satu minggu sekali, pada udara ruang produksi setiap satu bulan sekali dan uji

sterilitas. Pengawasan mutu juga memeriksa limbah dengan uji pH, suhu, Total

Solid Suspended (TSS), kandungan ammonia (NH3), PO4, Biological Oxygen

Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD).

4.5 Pemeriksaan Produk Jadi

Setelah menjadi produk jadi, produk tetap dilakukan pemeriksaan

laboratorium untuk memastikan kembali mutu produk. Pemeriksaan meliputi

visual, keseragaman kandungan, keseragaman volume dan penetapan kadar.

4.6 Pengawasan Proses Produksi

Sebelum melakukan proses produksi, QC harus memeriksa terlebih

dahulu hasil produksi awal untuk memastikan alat menghasilkan produk yang

sesuai spesifikasi. Contohnya, QC memeriksa ketebalan, diameter, dan kekerasan

tablet saat awal dicetak. Setelah lulus pemeriksaan, QC memutuskan proses

produksi boleh berjalan. Jika belum memenuhi syarat, QC akan menolak proses

produksi sampai setting alat menghasilkan produk yang sesuai spesifikasi.

40
5. Pengemasan

Bagian pengemasan yang dipimpin oleh Asisten Manajer dibantu oleh 5

Supervisor (Spv.) yaitu Supervisor Karantina In Process(KIP); Spv. pengemasan

primer; Spv. pengemasan sekunder sediaan tablet dan kapsul; Spv. pengemasan

sekunder sediaan liquid, krim, injeksi, sirup kering narkotik/psikotropik; dan Spv.

Penandaan.

Proses pengemasan dimulai setelah produk ruahan diluluskan oleh QC.

Semua produk dikemas sesuai dengan bahan kemasan yang telah ditentukan.

Produk yang telah melalui pengemasan primer kemudian dimasukkan ke jalur

pengemasan sekunder sesuai dengan bentuk sediaannya.

5.1 Karantina In Process (KIP)

Supervisor KIP bertugas menerima, menyimpan dan mengeluarkan

produk massa (kecuali sirup dan injeksi), produk antara (krim, cairan, granul dan

lain-lain) dan produk ruahan sampai produk jadi (untuk semua produk, termasuk

sediaan injeksi dan sirup) untuk dilakukan pemeriksaan laboratorium oleh IPC.

Ada 5 jenis bon penyerahan :

1) Bon I : Penyerahan produk antara dari bagian produksi ke KIP.

2) Bon II : Penyerahan produk antara yang telah diperiksa dari KIP

kebagian produksi untuk melanjutkan proses.

3) Bon III : Penyerahan produk ruahan dari bagian produksi ke KIP.

4) Bon IV : Penyerahan produk ruahan dari KIP ke bagian

pengemasan.

41
5) Bon V : Penyerahan produk jadi dari bagianpengemasan ke

gudangproduk jadi.

5.2 Pengemasan Primer

Pengemasan primer dikhususkan untuk sediaan padat, yaitu tablet dan

kapsul. Pengemasannya dimulai dari proses stripping, blistering atau counting

(dimasukkan dalam botol).

a. Strip

Bahan yang digunakan untuk stripping adalah polycellonium. Alat

stripping yang digunakan contohnya adalah Forecma.

b. Blister

Bahan blister yang digunakan adalah Aluminium foil. Alat blistering yang

digunakan ada Duankwei.

c. Counting ke Dalam Botol

Biasanya digunakan untuk obat yang murah atau tablet salut gula. Alat

yang digunakan adalah chi new.

5.3 Pengemasan Sekunder Sediaaan Tablet dan Kapsul

Bertanggung jawab terhadap pengemasan sekunder dari produk yang

telah dikemas pada pengemasan primer tablet dan kapsul. Hasil strip dan blister

yang lulus tes kebocoran dilanjutkan ke pengemasan sekunder yaitu dengan

memasukkannya ke dalam dus.

5.4 Pengemasan Sekunder Sediaan Liquid, Krim, Injeksi, Sirup Kering

Narkotik Atau Psikotropik

42
Pada pengemasan sekunder ada 12 jalur pengemasan dimana jalur 1-8

untuk jalurpengemasan sekunder untuk produk tablet dan kapsul, jalur 9-10

adalah jalur pengemasan sekunder untuk sediaan cair dan semisolid, jalur 11-12

terletak pada ruangan tertutup yang merupakan jalur pengemasan sekunder

narkotika dan psikotropika.

5.5 Penandaan

Supervisor penandaan mendapat Rencana Harian dari bagian pengemasan

sehari sebelumnya dan memiliki tugas memberikan penandaan pada leaflet, etiket

dan box yang berupa expired date, manufacturing date, No. Batch dan Harga

Eceran Tertinggi (HET).

6. Pengolahan Limbah

Limbah yang dihasilkan industri dibagi 4 macam, yaitu limbah padat,

limbah cair, cemaran debu/gas (Betalaktam dan non Betalaktam) serta limbah

bakteri. Pengolahan limbah Industri dilakukan sebagai berikut :

6.1 Limbah Padat

Limbah padat industri farmasi dapat bersumber dari :

1) Obat-obat kadaluarsa

2) Kegiatan produksi, meliputi: Kegagalan produksi, debu bahan

formulasi yang terkumpul dari dust collector dan vacuum cleaner,

bekas kemasan bahan baku dan bahan pembantu serta kemasan yang

rusak.

3) Kegiatan laboratorium, contohnya agar dari sampel kadaluarsa

4) Kegiatan kantin karyawan, terdiri dari kotoran/sampah dapur

43
5) Kegiatan administrasi perkantoran, terdiri dari arsip-arsip

kadaluarsa

6) Sampah kebun/halaman

Adapun penanganan untuk limbah padat ini antara lain :

a. Limbah padat termasuk dalam limbah B-3 diolah kerjasama dengan

pengolah limbah B-3 padat misalnya PT. Prasada Pamusnah Limbah

Industri (PT. PPLI).

b. Limbah media agar diolah dengan cara disterilisasi dengan alat

autoklaf, ditampung dengan wadah tertutup, kemudian dikirim ke PT.

PPLI.

c. Kotoran dan sampah dari kantin dan kebun, bekerjasama dengan Dinas

Kebersihan DKI Jakarta untuk dibuang ke TPA.

d. Kertas berkas arsip dan berkas kemasan dihancurkan dan di daur ulang

bekerjasama dengan pihak ketiga.

6.2 Limbah cair

Limbah cair dapat berasal dari :

1) Kegiatan produksi

2) Kegiatan laboratorium

3) Kegiatan sarana penunjang

4) Limbah domestik pencucian

5) Limbah kantin

44
6.3 Limbah gas atau debu

Limbah gas atau debu berasal dari :

1) Kegiatan sarana penunjang,gas yang berasal dari sisa pembakaran

bahan bakar boiler.

2) Kegiatan produksi : Debu yang berasal dari kegiatan proses, antara

lain dari proses granulasi, proses pencetakan tablet, proses coating

dan proses massa kapsul.

Upaya pengelolaan limbah debu atau gas antara lain :

a. Limbah asap dan gas yang keluar dari boiler.

b. Limbah debu yang terjadi dalam proses produksi dikurangi dengan

pemasangan dust collector pada ruang-ruangan yang banyak

menghasikan debu.

c. Pembersihan debu-debu dengan menggunakan vacuum cleaner,

kemudian ditampung dan dikumpulkan, untuk selanjutnya di tangani

seperti limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

6.4 Sistem Pengolahan Limbah

1) Limbah kantin diolah dengan cara pemisahan lemak pada instalasi

penyaringan khusus untuk lemak, dimana padatannya diambil secara

berkala untuk mencegah terjadinya penyumbatan pada pipa penyaluran

limbah dan alat penyaringan.

2) Limbah domestik ditampung pada bak khusus, cairannya dialirkan ke

Instalasi Pengolahan Limbah Sentral, sedangkan padatannya

diendapkan dan dilakukan penyedotan setiap sekali setahun.

45
3) Limbah B3 dari sisa produksi dan debu dust colector disimpan

digudang khusus limbah B3, untuk penanganannya, industri bekerja

sama dengan pihak ketiga.

4) Limbah sisa produksi Betalaktam ditampung pada kolam khusus, untuk

selanjutnya dilakukan treatment pemecahan cincin betalaktam dengan

menambahkan larutan NaOH Teknis, kemudian dialirkan ke Instalasi

Pengolahan Limbah Sentral.

5) Limbah Non-Betalaktam dialirkan ke Instalasi Pengolahan Limbah

Sentral ditampung pada bak utama, disatukan dengan limbah lainnya,

untuk kemudian dialirkan ke bak 2 dan 3 yang berisi bakteri anaerob,

kemudian dialirkan ke bak 4 untuk di aerasi dan penguraian oleh bakteri

aerob, selanjutnya air pengolahan limbah dialirkan ke bak sedimentasi,

lalu ke bak yang berisi ikan sebagai indikator hayati.

46
Sistem pengolahan limbah akan diperiksa berkala oleh Kementrian

Lingkungan Hidup untuk diberikan penilaian berupa :

1) Proper Hitam : Harus dilakukan penegakan hukum, karena ada

indikasi kesengajaan terkait kelalaian yang dapat membahayakan

lingkungan.

2) Proper Merah : Dilakukan pembinaan, karena ada kekurangan

terkait pengelolaan limbah

3) Proper Biru : Pengolahan limbah cukup bagus tapi masih ada

kekurangan.

4) Proper Hijau : Pengolahan limbah disertai CSR.

5) Proper Emas : Pengolahan limbah sudah sangat baik.

7.Nama Produk yang di Hasilkan

 Batugin Sirup Elixir

 Asivit

 Salisil

 Marks

 Venus

47
C. NEWater SINGAPORE

1. Gambaran Umum

1.1 Sejarah

Singapura, dengan luas wilayah 700 km2 mampu menyediakan

kebutuhan air bersih bagi penduduknya melalui manajemen pengelolaan

yang baik. Singapura mengolah kembali air limbah, melakukan

desalinasi (menghilangkan garam dan mineral dari air laut), memperluas

area tangkapan air, dan mengefisiensikan penggunaan air serta

manajemen pengelolaannya. Saat ini, dua per tiga lahan Singapura

digunakan sebagai lokasi penyimpanan air untuk memenuhi kebutuhan

1,4 juta m3 air bersih di negeri itu.Dengan segala keterbatasan yang

dimiliki, Singapura bekerja keras memproduksi air bersih bagi

penduduknya. Negara dengan penduduk lebih dari 5 juta jiwa ini

mengupayakan manajemen pengelolaan air bersih yang baik. Selain

mengimpor, kebutuhan air bersih Singapura diperoleh dari reservoir dan

daerah tangkapan air lainnya (20% dari total kebutuhan), penyulingan air

laut (10%), dan pengolahan air limbah menjadi air bersih (30%).

Singapura mengalokasikan dua per tiga dari luas daratannya

sebagai daerah tangkapan air. Area ini dilindungi dari alih fungsi dan

penggunaan lahan lainnya dengan tujuan untuk menangkap setiap tetes

air hujan di Singapura. Melalui drainase permukaan, sungai dan

reservoir, air hujan kemudian masuk ke instalasi pengolahan untuk diolah

menjadi air bersih.

48
Singapura telah memulai upaya pengolahan air limbah menjadi air

bersih sejak pertengahan tahun 1970-an. Menjelang peralihan abad ke-

21, Singapura sukses dengan percobaann ya pada pabrik reklamasi air

Bedok. Berawal dengan produksi 10.000 m3 air, pabrik di Bedok ini

menghasilkan air bersih yang memenuhi syarat Badan Perlindungan

Amerika Serikat dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Model

tersebut kemudian direplikasi dalam skala yang lebih luas di Singapura.

Hingga saat ini, dapat dikatakan 100% air limbah di Singapura

dikumpulkan melalui jaringan dan diproses untuk kemudian

didistribusikan kembali sebagai air bersih oleh perusahaan bernama

NEWater.

Perusahaan ini beralamat di Gedung Lingkungan 22-01, 40 Scotts

Road, Singapura. Lembaga PUB (Public Utilities Board ) merupakan

agensi air nasional di bawah Kementerian Lingkungan dan Sumber Daya

Air. Agensi ini mengelola secara terpadu pasokan air untuk Singapura,

penampungan air, dan air bekas pemakaian. Untuk menjamin sebuah

pasokan air yang beragam dan berkesinambungan, Singapura

mengandalkan Empat Keran Nasional (Four National Taps), yakni

resapan air lokal, impor dari Malaysia, daur ulang dengan NEWater, dan

desalinasi atau pemurnian air dari kadar garam.

Pada akhir tahun 2005, Singapura mendirikan pabrik desalinasi air

laut Tuas senilai 200 juta dollar Singapura. Inilah pabrik pengolah air

laut pertama untuk tingkat kecamatan dengan kapasitas 114

49
juta m3air/hari.NEWater dan desalinasi keduanya dieksplorasi untuk

mengurangi ketergantungan pada air yang diimpor dari Malaysia.

Pemerintah Malaysia memiliki perjanjian terikat dengan Pemerintah

Singapura utuk menjual air kepada Singapura sampai tahun 2061.

1.2 Slogan PUB (Public Utilities Board)

PUB memiliki slogan yaitu Water For All : Conserve, Value, Enjoy yang

memiliki arti :

1. Conserve : menghemat

2. Value : hasil / menghasilkan

3. Enjoy : menikmati

Diharapkan agar semua rakyat Singapura bisa bekerja sama dalam

program menghemat air, menghasilkan cukup air, sehingga semua rakyat

Singapura dapat menikmati hasil yang telah didapat.

2.Lembaga Pengolahan dan Pendistribusian Air Bersih

Saat ini, penyediaan dan pengelolaan sumber daya air di Singapura

dilakukan oleh PUB yang berada langsung di bawah Kementerian Lingkungan

Hidup dan Sumber Daya Air (MEWR). Awalnya, PUB dan Kementerian

Lingkungan Hidup merupakan dua organisasi yang terpisah. PUB pada saat itu

memiliki tanggung jawab dalam penyediaan air bersih dan jaringan utilitas

lainnya, seperti listrik dan gas. Sementara Kementerian Lingkungan Hidup

memiliki tanggung jawab dalam mengelola lingkungan, termasuk melestarikan

sumber daya air yang ada dan mengolah air kotor sisa aktivitas sosial dan

ekonomi masyarakat.

50
Sejak tahun 2002, Kementerian Lingkungan Hidup berubah menjadi

Kementerian Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air. PUB yang semula

merupakan organisasi terpisah selanjutnya menjadi bagian dari kementerian baru

ini dan memiliki tanggung jawab untuk melakukan kegiatan penyediaan dan

pengelolaan sumber daya air secara menyeluruh. PUB yang semula hanya

bertanggung jawab di bidang penyediaan/ distribusi air bersih, sejak saat itu

bertanggung jawab untuk mengelola air kotor dan menanggulangi potensi banjir

diSingapura. Dengan kewenangan barunya ini, PUB memiliki ruang yang lebih

besar untuk mengelola sumber daya air secara efektif, efisien dan berkelanjutan.

Ruang lingkup kewenangan PUB ini meliputi kegiatan pengumpulan,

produksi, distribusi dan pengolahan kembali air yang sudah dikonsumsi

masyarakat.

3. Sumber Air Bersih di Singapura

3.1 Resapan Air Lokal

Dalam proses pengumpulan, air hujan dikumpulkan melalui sungai, kanal,

dan saluran air, lalu disimpan di 17 waduk (reservoir).Berbagai waduk

dihubungkan oleh jaringan pipa sehingga kelebihan air dapat dipompa dari satu

waduk ke waduk lainnya. Hal itu untuk mengoptimalkan kapasitas penyimpanan.

Waduk tersebut sekaligus juga untuk mencegah terjadinya banjir ketika hujan.

Air dari waduk tersebut kemudian disalurkan ke saluran air untuk

disaring. Setelah itu, air yang sudah disaring disimpan dalam waduk tertutup

sebelum didistribusikan kepada pelanggan.

51
3.2 NEWater

Pengelolaan air tidak berakhir sampai di situ. Air bekas pemakaian

pelanggan kemudian dikumpulkan lagi melalui sistem pembuangan kotoran dan

dibersihkan di pabrik reklamasi air.

Bagi Singapura, air bekas pemakaian bisa menjadi sumber daya untuk diolah

kembali menjadi air bersih. Pengolahan air bekas pemakaian menggunakan

teknologi membran canggih dan ultraviolet yang disebut NEWater. Air yang

dihasilkan pun kembali murni, bahkan sangat murni. Air yang sangat murni ini

sehat untuk diminum, dan rasanya hambar.

Oleh karena itu, sebagian besar air hasil NEWater ini biasanya disalurkan ke

pabrik-pabrik yang membutuhkan air murni. Sisanya dicampur dengan air dari

waduk, lalu diolah kembali dan didistribusikan ke masyarakat untuk siap

diminum. NEWater mampu menyumbang pasokan air bersih 30 % dari total

273.000 m3 (60 juta galon) kebutuhan air masyarakat Singapura pada 2013.

3.3 Impor dari Malaysia

Selain dari resapan air lokal dan NEWater, Singapura juga mengimpor air

dari Johor, Malaysia. Kerja sama air antara Singapura dan Malaysia diwujudkan

dalam dua perjanjian bilateral. Perjanjian pertama berakhir pada Agustus 2011

dan perjanjian kedua berlaku hingga 2061.

3.4 Desalinasi Air

Singapura juga memanfaatkan sumber daya air laut untuk pemenuhan air

bersih bagi rakyatnya. Air laut disaring dengan proses desalinasi. Desalinasi

adalah proses pemisahan yang digunakan untuk mengurangi kandungan garam

52
terlarut dari air garam hingga level tertentu sehingga air dapat digunakan. Pabrik

desalinasi pertama Singapura adalah SingSpring Desalination Plant yang mulai

beroperasi di Tuas pada September 2005. Pabrik ini merupakan proyek kemitraan

pertama di Singapura antara negara dan pihak swasta.

SingSpring mampu menghasilkan air bersih 30 juta galon atau 136.000 meter

kubik per hari dan merupakan salah satu pabrik desalinasi terbesar di kawasan

tersebut. Pabrik desalinasi kedua akan dibangun pada tahun ini.Pabrik ini

diharapkan mampu menambah pasokan air menjadi 70 juta galon atau 318.500 m3

per hari.

4. Proses Produksi

4.1 Pengumpulan

PUB bertanggung jawab untuk mengumpulkan air hujan. Air hujan ini

kemudian di tampung di 17 reservoir yang tersebar di seluruh penjuru Singapura.

Setiap reservoir terhubung satu sama lainnya, sehingga kelebihan air dari satu

reservoir dapat dialirkan ke reservoir lainnya.

4.2 Produksi

Air yang terkumpul di reservoir, baik yang langsung berasal dari air

hujan, hasil pencampuran NEWater dan hasil pencampuran desalinasi air laut

selanjutnya dialirkan melalui pipa-pipa air untuk diproses lebih lanjut menjadi air

bersih layak minum.

53
4.2.1 Pengolahan Kembali Air yang Sudah Dikonsumsi Masyarakat

Air yang sudah digunakan, dikumpulkan melalui Deep Tunnel Sewerage

System (DTSS) dan diolah kembali sehingga menghasilkan produk NEWater.

DTSS merupakan jaringan pipa bawah tanah sepanjang 48 km yang terbentang

dari utara ke timur Singapura. Jaringan ini ditanam sedalam 55 meter di bawah

permukaan air tanah untuk memastikan agar air kotor ini tidak bercampur dengan

air hujan serta masuk ke dan mencemari reservoir. Jaringan perpipaan ini berakhir

di pusat-pusat pengolahan air kotor (Water Reclamation) yang ada di Singapura.

Di NEWater air yang sudah digunakan masyarakat kembali diproses

melalui 3 tahapan penting agar bisa menjadi air layak minum :

1. Tahap pertama dari proses produksi NEWater dikenal sebagai

Mikrofiltrasi (MF). Dalam proses ini, air yang digunakan

diperlakukan dilewatkan melalui membran untuk menyaring dan

dipertahankan pada padatan tersuspensi permukaan membran,

partikel koloid, bakteri penyebab penyakit, beberapa virus dan kista

protozoa. Air yang masuk disaring melalui membran hanya berisi

garam terlarut dan molekul organik.

2. Tahap keduadari proses produksi NEWater dikenal sebagai Reverse

Osmosis (RO). Dalam RO, membran semipermeabel digunakan.

Membran semipermeabel memiliki pori-pori sangat kecil yang hanya

memungkinkan molekul yang sangat kecil seperti molekul air untuk

melewatinya. Akibatnya, kontaminan yang tidak diinginkan seperti

bakteri, virus, logam berat, nitrat, klorida, sulfat, desinfeksi oleh-

54
produk, hidrokarbon aromatik, pestisida, dll, tidak dapat melewati

membran. Oleh karena itu, NEWater adalah air RO dan bebas dari

virus, bakteri, dan mengandung sejumlah diabaikan garam dan bahan

organik. Pada tahap ini, air sudah dari kualitas air kelas tinggi.

3. Tahap ketiga dari proses produksi NEWater benar-benar bertindak

sebagai pengaman lanjut back-up untuk RO. Pada tahap ini,

ultraviolet atau UV desinfeksi digunakan untuk memastikan bahwa

semua organisme yang tidak aktif dan kemurnian air produk dijamin.

Gambar 2.1 Skema Pengolahan Air di NEWater

55
5. Pemantauan Kebersihan Air

5.1 Parameter Pengganti Secara Online

Parameter pengganti berada di pemompa induk dan servis reservoir yang

berada di luar dan di dalam.

5.2 Biosensor

Biosensor adalah sensor yang mengombinasikan komponen hayati

dengan komponen elektronik (transduser) yang mengubah sinyal dari komponen

hayati menjadi luaran yang terukur. Biosensor juga dapat diartikan sebagai sebuah

alat analisis yang mengkombinasikan komponen biologis dengan detektor

fisikokimia.

Kegunaan dari biosensor ini untuk lingkungan hidup adalah :

1. Kontrol polusi

2. Monitoring senyawa-senyawa toksik di udara, air, dan tanah.

3. Penentuan BOD (Biological Oxygen Demand)

Di Singapura, biosensor menggunakan ikan sebagai komponen hayati.

Biosensor terbuat dari tangki dengan 8 ruang, proses ditempatkan pada tiap ruang

untuk menangkap sinyal listrik saat ikan bernafas, siyal dianalisa dan ditampilkan

di komputer, sehingga alarm berbunyi saat pola nafas 6 dari 8 ikan berubah tiba-

tiba, dan menghasilkan auto-sampling untuk analisis detail.

5.3 Sampling Rutin

Instalasi air dihubungkan dengan pompa-pompa utama ke reservoir-

reservoir di Singapura. Reservoir kemudian akan melewati transmisi utama

sehingga akan sampai kepada pelanggan baik itu untuk industri, komersial,

56
maupun kebutuhan domestik. Baru kemudian akan ada feedback dari pelanggan

yang akan ditampung oleh PUB.

Gambar 2.2 dan 2.3 Pemantauan Kualitas Air di Jaringan Distribusi

57
6. Menjaga Kualitas Air di Konsumen

a) Pekerja Pipa Bersetifikat

Pekerja pipa yang memiliki sertifikat dari PUB berlisensi. Pekerja

pipa bertugas untuk memastikan aspek keamanan pasokan air minum

tidak terganggu.

b) Peralatan Air di Rumah

Memenuhi standar dan persyaratan teknis serta pekerja pipa

memastikan kesesuaian instalasi.

c) Penegakan Hukum

Pengaturan melalui UU utilitas publik.

7. Distribusi

Setelah diolah, air disimpan di reservoir tertutup sebelum kemudian

didistribusikan kepada para konsumen.

8. Sistem Manajemen

Sistem Manajemen Kualitas Air Terpadu meliputi:

1. Jenis data

2. Pengumpulan data

3. Penggabungan data

4. Menganalisis dan pelaporan

58
Gambar 2.4 Sistem Manajemen Kualitas Air Terpadu

59
BAB III

PEMBAHASAN

A. PT. Martina Berto , Tbk

PT. Martina Berto merupakan perusahaan kosmetika dengan

keinginan mempercantik wanita Indonesia lahir dan batin dengan memanfaatkan

sumber daya alam di Indonesia. PT. Martina Berto merupakan perusahaan

kosmetika dengan keinginan mempercantik wanita Indonesia lahir dan batin

dengan memanfaatkan sumber daya alam di Indonesia. Bahan baku berupa

simplisia yang berasal dari supplier dan bahan baku berupa herba ekstrak diolah

mandiri dari kebun yang dikelola di gunung Putri.

Produk yang dihasilkan :

1. Bedak Tabur

Cara Pembuatan : Bahan dihaluskan dengan mesin penghalus

kemudian di tambahkan talk dan bahan

tambahan dan siap untuk dikemas.

5. Bedak Padat

Cara Pembuatan : Bahan dihaluskan dengan mesin penghalus

di tambah zat pengikat dan zat pelicin lalu

di cetak langsung pada wadahnya pada

tekanan tertentu.

6. Pemulas Mata dan Pipi

60
Cara Pembuatan : Bahan dihaluskan dengan mesin penghalus

ditambah zat pengikat, zat pelicin dan zat

pewarna lalu dicetak langsung pada

wadahnya dengan tekanan tertentu.

47
7. Lipstik

Cara : Basis minyak tengkawang, dicampur

Pembuatan carbowa, paraffin, zat pewarna dan

minyak zaitun. Dilumerkan pada suhu

tertentu sehingga diperoleh lipstik cair,

dituang kedalam cetakan

dinginkan.Setelah lipstik memadat,

masukan kedalam kemasan khusus lalu

dilewatkan diatas api khusus untuk

mengkilapkan dan membuat batang

lipstik menjadi lebih rata dan warnanya

cerah.

61
8. Lotion

Cara Pembuatan: Vaselin dan oleum dilebur pada suhu tertentu

lalu dimasukan ke dalam mikser, diaduk

bersama sampai dingin. Kemudian di tambah

dengan bahan tambahan seperti bahan

pengawet, diaduk lagi sampai homogeny.

setelah itu dimasukan dalam pengemas.

9. Krim

Cara Pembuatan: Bahan baku ditimbang sesuai formula, fase

minyak ditambahkan dengan air dan surfaktan,

dimasukan kedalam mesin, kemudian

dicampur dengan zat berkhasiat sampai

homogen.

Setiap hasil uji diberi label status sesuai hasil pemeriksaannya. Label

status tersebut antara lain:

1. Label released (warna hijau) untuk pemeriksaan yang memenuhi spesifikasi

pemeriksaan.

2. Label rejected (warna merah) untuk pemeriksaan yang tidak memenuhi

spesifikasi pemeriksaan.

3. Label hold (warna jingga) untuk pemeriksaan yang memerlukan keputusan

penanganan lebih lanjut.

Pemeriksaan IPC dilakukan pada tahap awal, tengah, dan

akhir pengemasan. Parameter yang diperiksa oleh IPC antara lain :

62
1. Kelengkapan lampiran pada PCO ( packing order) dan LPK (lembar

petunjuk kemas),

2. Kesesuain pada produk dan kemasan,

3. Hasil penimbangan,

4. Kesesuaian kemasan,

5. Penampilan produk,

6. Fungsi kemasan,

7. Kelengkapan kemasan,

Hasil Produksi (Brand)

1. Belia

12. Berto Tea

13. Biokos

14. Caring Colours

15. Cempaka Cosmetics

16. Dewi Sri Spa

17. Jamu Garden

18. Mirabella Cosmetics

19. PAC

20. Rudy Hadisuwarno

21. Sariayu

63
B. PT Kimia Farma, Tbk

PT. Kimia Farma, Tbk. Plant Jakarta memproduksi sediaan tablet, tablet

salut, kapsul, granul, sirop kering, suspensi/sirop, tetes mata, krim, antibiotika dan

injeksi. Unit ini merupakan satu-satunya pabrik obat di Indonesia yang mendapat

tugas dari pemerintah untuk memproduksi obat golongan narkotika. Industri

formulasi ini telah memperoleh sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik

(CPOB) dan ISO:9001.

Bagian produksi dipimpin oleh seorang Manager Produksi yang

membawahi Asisten Manager Produksi I yang bertanggung jawab terhadap

produksi produksi tablet non-betalaktam dan Anti Retro Viral (ARV), Asisten

Manager Produksi II yang bertanggung jawab terhadap produksi krim, cairan,

kapsul, sirup kering non- betalaktam dan produk steril, Asisten Manager Produksi

III yang bertanggung jawab terhadap produksi sediaan betalaktam. Dalam

melaksanakan tugasnya, masing-masing Asisten Manager membawahi supervisor.

Alur proses produksi pada tiap bagian produksi ini dimulai dari Bagian PPPI

memberikan Surat Perintah Kerja (SPK) kepada masing-masing bagian produksi

untuk produksi, yang disertai dengan Bon Penyerahan Bahan Baku (BPBB), Bon

Penyerahan Bahan Kemas (BPBK), Man Hour (MH), Machine Hour (MCH), dan

Berita Acara Produksi (BAP). Pengembangan produk akan memberikan Catatan

Pengolahan Bets (CPB) dan Catatan Pengemasan Bets (CPSB). BPBK akan

64
diteruskan ke gudang kemas, sedangkan BPBB serta CPB akan dikirimkan ke

penimbangan sentral. Kemudian bahan baku yang telah ditimbang akan dikirim ke

masing-masing bagian produksi untuk melakukan kegiatan produksi.

Setiap unit proses produksi dilakukan pemeriksaan laboratorium oleh QC

berdasarkan surat permohonan periksa laboratorium akan sampling produk antara

atau ruahan dari KIP. Pemeriksaan yang dilakukan pada produk antara dan produk

ruahan, meliputi :

a. Masa cetak granul, diperiksa Loss On Drying (LOD), sifat alir, bobot

jenis.

b. Tablet inti dan tablet salut, diperiksa visual, keseragaman bentuk dan

ukuran, waktu hancur, kekerasan, keragaman bobot, kesragaman

kandungan, waktu hancur kerenggasan, uji disolusi dan penetapan kadar.

c. Cairan, diperiksa visual, pH, viskositas, keseragaman volume, volume

cairan terpindahkan, bobot jenis, penetapan kadar.

d. Kapsul, diperiksa Loss on Drying (LOD), keragaman bobot dan

keseragaman kandungan.

e. Krim, diperiksa pH, homogenitas dan stabilitas krim

f. Sirup kering, diperiksa Loss On Drying

g. Injeksi, diperiksa uji sterilisasi, pH, jumlah partikel, kejernihan dan

keseragaman volume.

Pengemasan primer dikhususkan untuk sediaan padat, yaitu tablet dan

kapsul. Pengemasannya dimulai dari proses stripping, blistering atau counting

(dimasukkan dalam botol).

65
a. Strip

Bahan yang digunakan untuk stripping adalah polycellonium. Alat

stripping yang digunakan contohnya adalah Forecma.

b. Blister

Bahan blister yang digunakan adalah Aluminium foil. Alat blistering yang

digunakan ada Duankwei.

c. Counting ke Dalam Botol

Biasanya digunakan untuk obat yang murah atau tablet salut gula. Alat

yang digunakan adalah chi new.

C. NEWater Singapore

NEWater merupakan suatu perusahaan yang mengolah air limbah

menjadi air bersih siap minum yang didistribusikan melalui pipa-pipa menuju

pemukiman.Perusahaan ini beralamat di Gedung Lingkungan 22-01, 40 Scotts

Road, Singapura. Lembaga PUB (Public Utilities Board ) merupakan agensi air

nasional di bawah Kementerian Lingkungan dan Sumber Daya Air. Agensi ini

mengelola secara terpadu pasokan air untuk Singapura, penampungan air, dan air

bekas pemakaian.

Untuk menjamin sebuah pasokan air yang beragam dan

berkesinambungan, Singapura mengandalkan Empat Keran Nasional (Four

National Taps), yakni resapan air lokal, impor dari Malaysia, daur ulang dengan

NEWater, dan desalinasi atau pemurnian air dari kadar garam.

66
Pada akhir tahun 2005, Singapura mendirikan pabrik desalinasi air laut

Tuas senilai 200 juta dollar Singapura. Inilah pabrik pengolah air laut pertama

untuk tingkat kecamatan dengan kapasitas 114 juta m3 air/hari.

NEWater dan desalinasi keduanya dieksplorasi untuk mengurangi

ketergantungan pada air yang diimpor dari Malaysia. Pemerintah Malaysia

memiliki perjanjian terikat dengan Pemerintah Singapura utuk menjual air kepada

Singapura sampai tahun 2061.

Tahap Produksi air bersih di NEWater Singapore yaitu :

1. Pengumpulan

PUB bertanggung jawab untuk mengumpulkan air hujan. Air hujan ini

kemudian di tampung di 17 reservoir yang tersebar di seluruh penjuru Singapura.

Setiap reservoir terhubung satu sama lainnya, sehingga kelebihan air dari satu

reservoir dapat dialirkan ke reservoir lainnya.

2. Produksi

Air yang terkumpul di reservoir, baik yang langsung berasal dari air

hujan, hasil pencampuran NEWater dan hasil pencampuran desalinasi air laut

selanjutnya dialirkan melalui pipa-pipa air untuk diproses lebih lanjut menjadi air

bersih layak minum.

3. Pengolahan Kembali Air yang Sudah Dikonsumsi Masyarakat

Air yang sudah digunakan, dikumpulkan melalui Deep Tunnel Sewerage

System (DTSS) dan diolah kembali sehingga menghasilkan produk NEWater.

DTSS merupakan jaringan pipa bawah tanah sepanjang 48 km yang terbentang

dari utara ke timur Singapura. Jaringan ini ditanam sedalam 55 meter di bawah

67
permukaan air tanah untuk memastikan agar air kotor ini tidak bercampur dengan

air hujan serta masuk ke dan mencemari reservoir. Jaringan perpipaan ini berakhir

di pusat-pusat pengolahan air kotor (Water Reclamation) yang ada di Singapura.

Di NEWater air yang sudah digunakan masyarakat kembali diproses

melalui 3 tahapan penting agar bisa menjadi air layak minum :

1. Tahap pertama dari proses produksi NEWater dikenal sebagai

Mikrofiltrasi (MF). Dalam proses ini, air yang digunakan diperlakukan

dilewatkan melalui membran untuk menyaring dan dipertahankan pada

padatan tersuspensi permukaan membran, partikel koloid, bakteri

penyebab penyakit, beberapa virus dan kista protozoa. Air yang masuk

disaring melalui membran hanya berisi garam terlarut dan molekul

organik.

2. Tahap keduadari proses produksi NEWater dikenal sebagai Reverse

Osmosis (RO). Dalam RO, membran semipermeabel digunakan.

Membran semipermeabel memiliki pori-pori sangat kecil yang hanya

memungkinkan molekul yang sangat kecil seperti molekul air untuk

melewatinya. Akibatnya, kontaminan yang tidak diinginkan seperti

bakteri, virus, logam berat, nitrat, klorida, sulfat, desinfeksi oleh-produk,

hidrokarbon aromatik, pestisida, dll, tidak dapat melewati membran.

Oleh karena itu, NEWater adalah air RO dan bebas dari virus, bakteri,

dan mengandung sejumlah diabaikan garam dan bahan organik. Pada

tahap ini, air sudah dari kualitas air kelas tinggi.

68
3. Tahap ketiga dari proses produksi NEWater benar-benar bertindak

sebagai pengaman lanjut back-upuntuk RO. Pada tahap ini, ultraviolet

atau UV desinfeksi digunakan untuk memastikan bahwa semua

organisme yang tidak aktif dan kemurnian air produk dijamin

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Dari hasil kunjungan kerja lapangan diperoleh kesimpulan :

1. PT. Martina Berto adalah perusahaan kosmetika dengan keinginan

mempercantik wanita Indonesia lahir dan bathin dengan memanfaatkan

sumber daya alam Indonesia.Proses produksi telah berstandar

internasional, yaitu ISO 9001, ISO 4001, Cara Pembuatan Kosmetik yang

Benar (CPKB), dan Good Manufacturing Practices (GMP).

2. PT. Kimia Farma (Persero), Tbk. adalah salah satu perusahaan obat

terkemuka di Indonesia. PT. Kimi Farma, Tbk Plant Jakarta memproduksi

sediaan tablet, tablet salut, kapsul, granul, sirup kering, suspensi / sirup,

tetes mata, krim, antibiotika, dan injeksi. Perusahaan ini juga menjadi satu-

satunya perusahaan yang memiliki hak khusus untuk mengimpor,

memproduksi, dan mendistribusikan obat-obatan golongan narkotika di

Indonesia. Sehingga sudah pasti Industri farmasi ini telah memperoleh

sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan ISO 9001.

69
3. NEWater Singapore adalahperusahaan yang bergerak di bawah lembaga

PUB ( Public Utilities Board ) yang megelola secara terpadu pasokan air

untuk Singapura, penampungan air, dan air bekas pemakaian. Hingga saat

ini, dapat dikatakan 100% air limbah di Singapura dikumpulkan melalui

jaringan dan diproses untuk kemudian didistribusikan kembali sebagai air

bersih oleh perusahaan NEWater.

4.2 Saran

1. Terhadap pelaksanaan kunjungan kerja lapangan :

a. Kiranya waktu penulisan laporan diperpanjang agar dapat menghasilkan

laporan yang lebih baik.

b. Semoga pelaksanaan kunjungan kerja lapangan mendatang akan lebih

mamperhatikan faktor waktu, biaya, dan tenaga pelaksanaanya.

2. Terhadap objek kunjungan kerja lapangan :

a. Sebaiknya objek kunjungan kerja lapangan lebih variatif jenisnya

sehingga mahasiswa mendapat pengalaman yang lebih lama.

b. Penjelasan yang diberikan oleh pihak pabrik hendaknya lebih baik dan

terperinci, juga waktu yang diberikan lebih lama agar mahasiswa benar-

benar dapat memahami proses produksi yang dilakukan pabrik tersebut.

70
DAFTAR PUSTAKA

Depkes RI. 2009. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 tahun

2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

Depkes RI. 2009. Undang-undang RI Nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan.

Jakarta: Departemen Kesehatan RI

Depkes RI. 2010. Permenkes RI Nomor 1799/Menkes/Per/XII/2010 tentang

industri Farmasi. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

Badan POM. 2003. PedomanCara Pembuatan Obat yang Baik. BPOM.

Jakarta

Kimia Farma, 2015. PT. Kimia Farma. Diambil dari

http://www.kimiafarma.co.id. Diakses pada tanggal 21 Oktober 2015.

Rahmayani. Nadiya, 2012, Laporan Kunjungan Kerja Lapangan, AKFAR ISFI,

Banjarmasin.

NEWater, 2015,PUB – NEWater. Diambil dari http://www.pub.gov.sg. Diakses

pada tanggal 21 Oktober 2015.

71
Mathatilaar, 2015, Kunjungan Kerja Lapangan PT. Martina Berto, Tbk. Diaambil

dari https://lehanyai.wordpress.com/farmasi/pkl-industri/. Diakses pada

tanggal 21 Oktober 2015

Basma. Astika, 2013, Laporan Kunjungan Kerja Lapangan, AKFAR ISFI,

Banjarmasin.

72