Anda di halaman 1dari 7

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

Bentuk lambang berupa palang berwarna hijau dengan roda bergerigi sebelas dengan warna dasar putih.

1. Arti (Makna) Tanda Palang


Bebas dari kecelakaan dan penyakit akibat kerja (PAK).
2. Arti (Makna) Roda Gigi
Bekerja dengan kesegaran jasmani dan rohani.
3. Arti (Makna) Warna Putih
Bersih dan suci.
4. Arti (Makna) Warna Hijau
Selamat, sehat dan sejahtera.
5. Arti (Makna) 11 (sebelas) Gerigi Roda
Sebelas Bab Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.

1
KESELAMATAN dan KESEHATAN KERJA (K3)

A. Pendahuluan

Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, memuat petunjuk


tekhnis mengenal apa yang harus dilakukan oleh dan kepada pekerja untuk menjamin
keselamatan pekerja itu sendiri, keselamatan umum dan keselamatan produk yang
dihasilkan pekerja.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja memuat tiga elemen dasar dan utama yaitu
lingkungan kerja, kesehatan kerja dan keselamatan kerja. Lingkungan kerja adalah
lingkungan tempat tenaga kerja bekerja melakukan kegiatan yang ada hubungannya
dengan kegiatan perusahaan.

Ada beberapa golongan lingkungan kerja, diantaranya

1. Lingkungan fisik, yaitu : lingkungan yang memuat kulaitas udara, pertukaran


udara, tekanan udara atau suhu dan kelembababn serta berbagai perngkat kerja
baik mesin dan bukan mesin.
2. Lingkungan kimia, yaitu :lingkungan yang memuat bahan baku, bahan jadi dan
bahan sisa yang ada hubungannnya dengan kegiatan perusahaan, terutama bahan
kimia yang mempunyai risiko kimia-radiasi.
3. Lingkungan biologi, yaitu : lingkungan mencakup lingkungan kerja di perkebunan
dan pertanian, lingkungan pekerjaan di peternakan seperti rumah pejagalan.
4. Lingkungan sosial, yaitu : lingkungan yang berintraksi sesama pekerja

Pada prinsipnya setiap tenaga kerja dan juga perusahaan tidak menghendaki
terjadinya keceakaan kerja. Hal ini merupakan naluri yang wajar dan bersifat
Universal bagi setiap makhluk di dunia. Namun dalam praktiknya, kecelakaan kerja
sering terjadi. Kecelakaan tersebut disebabkan oleh tiga elemen utama yaitu elemen
manusianya, peralatan dan lingkungan kerja.

Dari beberapa hasil riset (Jimmie, 1997) menginformasikan bahwa faktor manusia
merupakan faktor penyebab kecelakaan kerja yang paling sering terjadi. Hal ini terjadi
karena :

1. Kelalaian pekerja atau kelalaian pemilik perusahaan/industri.


2. Kurangnya kesadaran akan pentingnya keselamatan dalam kerja.
3. Elemen peralatan yang dibutuhkan tenaga kerja seperti alat pelindung diri (APD)
yang kurang mendapat perhatian karena dipandang tidak berpengaruh langsung
pada hasil produksi.
4. Lingkungan kerja kurang mendapat perhatian baik ditinjau dari aspek fisik seperti
pencahayaan, kebisingan dan ventilasi udara di tempat kerja, maupun aspek
biologis dan aspek psychososial.

2
B. Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
Keselamatan dan kesehatan kerja merupakan instrumen yang bertujuan untuk
memproteksi atau melindungi tenaga kerja, perusahaan, lingkungan hidup dan
masyarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja.

Beberapa pendapat mengenai pengertian keselamatan dan kesehatan kerja antara lain:
1. Menurut Mangkunegara (2002) Keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu
pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah
maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya, dan manusia pada umumnya, hasil
karya dan budaya untuk menuju masyarakat adil dan makmur.
2. Menurut Suma’mur (2001), keselamatan kerja merupakan rangkaian usaha untuk
menciptakan suasana kerja yang aman dan tentram bagi para karyawan yang bekerja
di perusahaan yang bersangkutan.
3. Menurut Simanjuntak (1994), Keselamatan kerja adalah kondisi keselamatan yang
bebas dari resiko kecelakaan dan kerusakan dimana kita bekerja yang mencakup
tentang kondisi bangunan, kondisi mesin, peralatan keselamatan, dan kondisi pekerja.
4. Mathis dan Jackson (2002), menyatakan bahwa Keselamatan adalah merujuk pada
perlindungan terhadap kesejahteraan fisik seseorang terhadap cedera yang terkait
dengan pekerjaan. Kesehatan adalah merujuk pada kondisi umum fisik, mental dan
stabilitas emosi secara umum.
5. Menurut Ridley, John (1983) yang dikutip oleh Boby Shiantosia (2000), mengartikan
Kesehatan dan Keselamatan Kerja adalah suatu kondisi dalam pekerjaan yang sehat
dan aman baik itu bagi pekerjaannya, perusahaan maupun bagi masyarakat dan
lingkungan sekitar pabrik atau tempat kerja tersebut.
6. Jackson (1999), menjelaskan bahwa Kesehatan dan Keselamatan Kerja menunjukkan
kepada kondisi-kondisi fisiologis-fisikal dan psikologis tenaga kerja yang diakibatkan
oleh lingkungan kerja yang disediakan oleh perusahaan.
7. Secara filosofi (Depnaker RI, 1991), keselamatan kerja adalah suatu pemikiran dan
upaya demi terjaminnya keadaan, keutuhan dan keempurnaan baik jasmani maupun
rohani manusia serta hasil karya dan budaya yang bertujuan untuk kesejahtraan
manusia pada umumnya dan tenaga kerja pada khususnya.

3
C. Tujuan K3
Kesehatan, keselamatan, dan keamanan krja yang bertujuan untuk menjamin
kesempurnaan atau kesehatan jasmani dan rohani tenaga kerja serta hasil karya dan
budayanya. Ada beberapa tjuan K3 diantaranya yakni sebagai berikut :
1. Memelihara lingkungan kerja yang sehat.
2. Mencegah, dan mengobati kecelakaan yang disebabkan akibat pekerjaan sewaktu
bekerja.
3. Mencegah dan mengobati keracunan yang ditimbulkan dari kerja
4. Memelihara moral, mencegah, dan mengobati keracunanyang timbul dari kerja.
5. Menyesuaikan kemampuan dengan pekerjaan, dan
6. Merehabilitasi pekerja yang cedera atau sakit akibat pekerjaan.

Tujuan K3 berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

1. Melindungi dan menjamin keselamatan setiap tenaga kerja dan orang lain di tempat
kerja.
2. Menjamin setiap sumber produksi dapat digunakan secara aman dan efisien.
3. Meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas Nasional.

D. Klasifikasi Kecelakaan Kerja


Klasifikasi kecelakaan akibat kerja meurut Organisasi Perburuhan Internasional (ILO)
Tahun 1962 adalah sbb:
1. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan
a. Jatuh
b. Tertimpa benda jatuh
c. Menginjak, terantuk.
d. Terjepit
e. Geraka berlebihan
f. Kontak suhu tinggi
g. Kontak aliran listrik
h. Kontak dengan bahan berbahaya/radiasi.
2. Klasifikasi menurut penyebab
a. Mesin
b. Alat angkut dan angkat
c. Peralatan lain
d. Bahan-bahan, zat-zat dan radiasi
e. Lingkungan kerja
3. Klasifikasi menurut letak kecelakaan / luka ditubuh
Kepala, leher, anggota atas, anggota bawah, banyak tempat, kelainan tubuh.

4
E. Penyebab Kecelakaan Kerja

Menurut Mangkunegara (2008) faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja,


yaitu:
1. Keadaan Tempat Lingkungan Kerja
a. Penyusunan dan penyimpanan barang-barang yang berbahaya kurang diperhitungkan
keamanannya.
b. Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.
c. Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.
2. Pengaturan Udara
a. Pergantian udara di ruang kerja yang tidak baik (ruang kerja yang kotor, berdebu, dan
berbau tidak enak).
b. Suhu udara yang tidak dikondisikan pengaturannya.
3. Pengaturan Penerangan
a. Pengaturan dan penggunaan sumber cahaya yang tidak tepat.
b. Ruang kerja yang kurang cahaya, remang-remang.
4. Pemakaian Peralatan Kerja
a. Pengamanan peralatan kerja yang sudah usang atau rusak.
b. Penggunaan mesin, alat elektronik tanpa pengamanan yang baik.
5. Kondisi Fisik dan Mental Pegawai
a. Stamina pegawai yang tidak stabil.
b. Emosi pegawai yang tidak stabil, kepribadian pegawai yang rapuh, cara berpikir dan
kemampuan persepsi yang lemah, motivasi kerja rendah, sikap pegawai yang ceroboh,
kurang cermat, dan kurang pengetahuan dalam penggunaan fasilitas kerja terutama
fasilitas kerja yang membawa risiko bahaya.

F. Upaya Pencegahan Kecelakaan Kerja

 Identifikasi dan Pengendalian Bahaya Di Tempat Kerja


1. Pemantauan Kondisi Tidak Aman.
2. Pemantauan Tindakan Tidak Aman.
 Pembinaan dan Pengawasan
1. Pelatihan dan Pendidikan.
2. Konseling & Konsultasi.
3. Pengembangan Sumber Daya.
 Sistem Manajemen
1. Prosedur dan Aturan.
2. Penyediaan Sarana dan Prasarana.
3. Penghargaan dan Sanksi.

5
Budaya 5R

 Pengertian
5R adalah cara/metode untuk mengatur/mengelola/mengorganisir tempat kerja
menjadi tempat kerja yang lebih baik secara berkelanjutan.
 Tujuan
Untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas tempat kerja.
 Manfaat
1. Meningkatkan produktivitas karena pengaturan tempat kerja yang lebih efisien.
2. Meningkatkan kenyamanan karena tempat kerja selalu bersih dan luas.
3. Mengurangi bahaya di tempat kerja karena kualitas tempat kerja yang bagus/baik.
4. Menambah penghematan karena menghilangkan pemborosan-pemborosan di tempat
kerja.

1) Ringkas
1. Memilah barang yang diperlukan & yang tidak diperlukan.
2. Memilah barang yang sudah rusak dan barang yang masih dapat digunakan.
3. Memilah barang yang harus dibuang atau tidak.
4. Memilah barang yang sering digunakan atau jarang penggunaannya.
2) Rapi
1. Menata/mengurutkan peralatan/barang berdasarkan alur proses kerja.
2. Menata/mengurutkan peralatan/barang berdasarkan keseringan penggunaannya,
keseragaman, fungsi dan batas waktu.
3. Pengaturan tanda visual supaya peralatan/barang mudah ditemukan.
3) Resik
1. Membersihkan tempat kerja dari semua kotoran, debu dan sampah.
2. Menyediakan sarana dan prasarana kebersihan di tempat kerja.
3. Meminimalisir sumber-sumber sampah dan kotoran.
4. Memperbarui/memperbaiki tempat kerja yang sudah usang/rusak (peremajaan).
4) Rawat
Mempertahankan 3 kondisi di atas dari waktu ke waktu.
5) Rajin
Mendisiplinkan diri untuk melakukan 4 hal di atas.

6
G. Penyakit Akibat Kerja (PAK)

Gangguan kesehatan baik jasmani maupun rohani yang ditimbulkan dan atau
diperparah karena aktivitas kerja atau kondisi yang berhubungan dengan pekerjaan.
 Contoh
Anthrax, Silicosis, Asbestosis, Low Back Pain, White Finger Syndrom, dsb.
 Faktor Penyebab
Biologi (Bakteri, Virus Jamur, Binatang, Tanaman)
Kimia (Bahan Beracun dan Berbahaya/Radioaktif)
Fisik (Tekanan, Suhu, Kebisingan, Cahaya)
Biomekanik (Postur, Gerakan Berulang, Pengangkutan Manual)
Psikologi (Stress, dsb).
 Pencegahan
1. Pemeriksaan Kesehatan Berkala.
2. Pemeriksaan Kesehatan Khusus.
3. Pelayanan Kesehatan.
4. Penyedian Sarana dan Prasarana.

H. Dasar Hukum Kesehatan Kerja

1. Undang-Undang No 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal 8.


2. Permenakertrans 02/MEN/1980 tentang Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja Dalam
Penyelenggaraan Keselamatan Kerja.
3. Permenakertrans 1/MEN/1981 tentang Kewajiban Melapor Penyakit Akibat Kerja.
4. Permenakertrans 3/MEN/1982 tentang Pelayanan Kesehatan Tenaga Kerja.
5. Kepmenaker 333/MEN/1989 tentang Diagnosis dan Pelaporan Penyakit Akibat Kerja.
6. Kepmenaker 51/MEN/1999 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika di Tempat
Kerja.
7. Undang-Undang No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial.
8. Permenaker 1/MEN/1998 tentang Penyelenggaraan Pemeliharaan Kesehatan Bagi
Tenaga Kerja Dengan Manfaat Lebih Dari Paket Jaminan Pemeliharaan Dasar
Jaminan Sosial Tenaga Kerja.
9. Surar Edaran Menakertrans 01/MEN/1979 tentang Pengadaan Kantin dan Ruang
Tempat Makan.
10. Peraturan Menteri Perburuhan tentang Syarat Kesehatan, Kebersihan serta
Penerangan dalam Tempat Kerja.

SUMBER :

Cecep Triwibowo & Mitha E. Pusphandani, Kesehatan Lingkungan dan K3. Nuha Medika
– Yogyakarta. 2013.

Salmah Sjarifah, Ilmu Kesehatan Masyarakat. Trans Info Media – Jakarta. 2013

Rejeki Sri, Sanitasi Hygiene dan K3. Rekayasa Sains – Bandung.