Anda di halaman 1dari 13

KONSEP HARGA POKOK PENUH (FULL

COSTING) DAN KONSEP HARGA POKOK


VARIABEL (VARIABLE COSTING)

Dosen Pengampu :

Herman Ernandi, SE. MM.

Oleh :

1. Ina Fitria (182010200039)


2. Sherin Farahdilla (182010200015)
3. Akhmad Irsyadin Alain Naufal H. (182010200358)

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SIDOARJO

FAKULTAS BISNIS HUKUM DAN ILMU SOSIAL

PROGRAM STUDI MANAJEMEN

TAHUN 2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI....................................................................................................................... 2
BAB I .................................................................................................................................. 3
PENDAHULUAN .............................................................................................................. 3
BAB II................................................................................................................................. 4
PEMBAHASAN ................................................................................................................. 4
1. PERBANDINGAN METODE ABSORPTION COSTING DAN VARIABLE
COSTING ....................................................................................................................... 4
3. ANALISIS BIAYA, KUANTITAS, DAN LABA ................................................. 6
BAB III ............................................................................................................................. 13
PENUTUP ........................................................................................................................ 13
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 13

Page 2
BAB I
PENDAHULUAN
Terdapat 2 macam alternatif sistem biaya, yakni:

1. Sistem Biaya Penuh (Full Costing)


2. Sistem Biaya Variabel (Variable Costing)

Menurut Standar Akuntansi Keuangan (SAK), perushaan manufaktur


diwajibkan untuk menerapkan Metode perhitungan harga pokok penuh (full
absorption costing) untuk keperluan pelaporan pada pihak eksternal. Dalam sistem
harga pokok penuh seluruh biaya produksi variabel dan biaya produksi tetap
dibebankan kepada produk. Sedangkan dalam sistem harga pokok variabel
(Variable costing) hanya biaya produksi variabel yang dibebaskan kepada produk.

Metode Variable Costing banyak diterapkan bagi keperluan pelaporan


internal, karena metode ini dianggap konsisten dengan asumsi perilaku biaya yang
kerap digunakan dalam pengambilan keputusan manajemen.

Tujuan Pembelajaran

1. Memahami secara komprehensif konsep harga pokok penuh dan konsep


harga pokok variabel.
2. Memahami laporan perhitungan harga pokok produk baik berdasarkan
konsep harga pokok penuh maupun berdasarkan konsep harga pokok
variabel.
3. Memahami perbandingan perhitungan harga pokok produk baik
berdasarkan konsep harga pokok penuh maupun berdasarkan konsep harga
pokok variabel.
4. Memahami analisis biaya, volume dan laba sebagai salah satu penerapan
Metode Harga Pokok Variabel.

Page 3
BAB II
PEMBAHASAN

1. PERBANDINGAN METODE ABSORPTION COSTING DAN


VARIABLE COSTING
Perbandingan mendasar antara kedua metode adalah dalam perlakuan
terhadap biaya tetap (Fixed Cost), dimana dalam Full Costing biaya tetap
diperlakukan sebagai biaya produk (product cost), sedangkan dalam variabel
costing diperlakukan sebagai biaya periode. Sebagai konsekuensi akan
terdapat perbedaan dalam pelaporan jumlah laba periode yang dilaporkan
dalam laporan keuangan (Income Statement).
Dalam Absorption Costing seluruh biaya manufaktur dibebankan pada
produk.
1. Direct Materials
2. Direct Labor
3. Variable overhead
4. Fixed overhead

Dalam Variable Costing yang dibebankan pada produk hanyalah biaya


manufaktur vriabel.

1. Direct materials
2. Direct labor
3. Variable overhead

Dengan asumsi bahwa dari waktu ke waktu tidak dapat perbedaan atau
perubahan dalam jumlah unit produk yang diproduksi dan atau dijual, maka
diagram berikut akan menggambarkan perbedaan dalam jumlah laba yang
dimaksud :

Produksi vs Penjualan Akibat terhdap Akibat Akibat


jumlah unit terhadap biaya terhadap laba
persediaan periode periode
Produksi > Penjualan Bertambah FC > VC FC > VC
Produksi < Penjualan Berkurang FC < VC FC < VC
Produksi = Penjualan Tidak FC = VC FC = VC
Berubah

Contoh Soal :

Berikut ini adalah data produksi dan data keuangan Brawi Mig, untuk bulan
Januari 20XY.

Page 4
- Persediaan Awal Periode 0 (nihil)
- Produksi 10.000 unit
- Penjualan 8.000 unit; dengan harga jual Rp. 300/unit
- Komisi penjualan adalah Rp. 10/unit
- Detail Biaya Tetap:
~ BOP Tetap Rp. 250.000
~ Biaya Administrasi dan Penjualan Rp. 100.000

Data biaya per unit jadi :

Item Biaya Variable Cost Full Cost Keterangan


(Rp.) (Rp.)
Bahan Baku 50 50
B. Tenaga Kerja 100 100
BOP Variabel 50 50
BOP Tetap 25 Rp. 250.000/10.000 = 25

Binus Company
Laporan Rugi Laba – Variable – Costing
Penjualan (8.000 x Rp. 300) Rp. 2.400.000
Dikurangi biaya variabel:
HPP Variabel Rp. 1.600.000
B. Penjualan & Umum - Variabe 80.000 1.680.000
Rp. 720.000

Marjin Konstribusi
Dikurangi Biaya Tetap :
BOP Tetap Rp. 250.000
B. Penjualan & Umum – Tetap 100.000 350.000
Laba Bersih Rp. 370.000

Binus Company
Laporan Rugi Laba – Absorption – Costing
Penjualan Rp. 2.400.000
Dikurangi Harga Pokok Penjualan 1.800.000
LABA KOTOR : Rp. 600.000
Dikurang : Biaya Administrasi & Umum 180.000
Laba Bersih Rp. 420.000

Page 5
Rekonsilasi Laba Kedua Metode

Laba Bersih – Variable Costing Rp. 370.000

BOP tetap tertanam pada persediaan akhir (2.000 unit x Rp. 25) 50.000

Laba Bersih – Absorption Costing Rp. 420.000

Dari contoh diatas telah disajikan perbedaan penentuan harga pokok bagi
kedua metode, dan berikut ini anatomi lengkapnya:

Absorption vs. Variable Costing


Absorption atau Full Variable atau Direct
Harga Pokok Produk Harga Pokok Produk
- Bahan Baku - Bahan Baku
- Tenaga Kerja - Tenaga Kerja
- BOP Variabe - BOP Variabel
- BOP Tetap
Beban Periode Beban Periode
- Penjualan - BOP Tetap
- Umum - Penjualan
- Administratif - Umum
- Administratif

Tentu timbul pertanyaan mengapa metode Harga Pokok Variabel masih


dipergunakan walaupun tidak diakui oleh PSAK?

1. Laba menurut absorption-costing dipengaruhi volume produksi,


sedangkan variable-costing tidak demikian.
2. Variable costing lebih baik dalam memberi sinyal berkaitan dengan
kinerja

Salah satu aplikasi dari variable costing adalah dalam melakukan analisis
biaya, kuantitas, dan laba (cost profit volume analisis).

3. ANALISIS BIAYA, KUANTITAS, DAN LABA


Dalam bagian ini kita akan membahas hubungan antara biaya
dengan kuantitas produksi serta keterkaitannya dengan laba usaha. Hal
ini akan sangat bermanfaat bagi manajemen untuk merencanakan operasi
dalam jangka pendek, terutama untuk perencanaan :

Page 6
1. Perhitungan Titik Impas / Break Event Point (BEP)
2. Target Volume Produksi
3. Solving un-know, terutama berkaitan dengan :
a. Marjin Kontribusi (contribution margin)
b. Biaya Tetap (fexed cost)
4. Margin of Safely

PERSAMAAN LABA (PROFIT EQUITION)

LABA OPERASI = PENJUALAN – TOTAL BIAYA

II = TR – TC

Dimana :

TR = P.x

TC = V.x+F

P = Price / harga per unit x

X = jumlah/kuantitas output

F = Total Fixed Cost per periode

V = Averange Variable Cost

II = Px – [V . x + F]

II = [ P – V ] x – F

Dan [ P – V ] dikenal dengan istilah marjin kontribusi (contribution margin)

Perlu dikemukakan pula asumsi dari model CPV ini, yakni CPB]V model
mengasumsikan bahwa SELURUH fixed cost adalah biaya periode dan
tidak dialokasikan pada produk. Kesimpulannya CPV konsisten dengan
variable costing tapi tidak dengan full-costing. Mengapa demikian, silahkan
simak modul akuntansi biaya berkenaan dengan variable costing dan full
costing.

Page 7
Contoh 1 : Mencari Break Even Point

Brawi Autos adalah dealer mobil Exclusive. Harga jual per unit $ 15.000,-

Adapun average variable cost adalah sebagai berikut :

~ Harga per unit Exclusive $ 12,300

~ Biaya operasi dealer 100

~ Komisi penjualan 600 +

TOTAL $ 13.000

Adapun fixed cost per bulan adalah $ 30.000

Manajer mengharapkan BEP pada bulan pertama, maka berapa unit mobil yang
terjual?

BEP adalah kondisi dimana II = 0 (nihil)

II = ( P – V ) x – F = 0

(P – V) x = F

Rumus untuk mencari unit BEP

F
X =
P–V

30.000
X = = 15 unit suzuki karimun
15.000 – 13.000

Contoh 2 : Target Volume


Manager telah mengetahui bahwa BEP adalah 15 unit, sekarang ia menginginkan
LABA OPERASI sebesar $ 50.000,-, maka berapa unit mobil yang harus terjual
untuk memenuhi harapannya?
Jawabannya (i) Hitung contribution margin :
(P – V) = 15.000 – 13.000 = $ 2.000
Masukkan pada persamaan berikut :

Page 8
II = 50.000
50.000 = 2.000x – 30.000
50.000 + 30.000
Maka x = = 40 unit
2.000

Kesimpulannya bila manajer menghendaki laba operasi sebesar $ 50.000 maka ia


harus mampu menjual 40 unit Exclusive.

Contoh 3 : Solving un-know


Manajer manemukan bahwa ia hanya mendapat jatah 30 unit Exclusive, namun ia
masih berharap bahwa ia akan meraih laba operasi sebesar $ 50.000, bagaimana
caranya? Ada 2 cara alternatif:
(i) Melalui Contribution Margin
50.000 = (P – V) 30 – 30.000
(P – V) = 80.000/30 = $ 2.667
Kesimpulan :
Sang manajer harus meningkatkan contribution margin dari $ 2.000
menjadi $ 2.667 dengan cara :
1. Menaikkan harga jual
2. Menurunkan variable cost
3. Kombinasi keduanya
(ii) Melalui Biaya Tetap
50.000 = (15.000 – 13.000) 30 – F
F = $ 10.000
Kesimpulan : Manajer harus mampu menurunkan Fixed cost dari $
30.000 menjadi $ 10.000

Contoh 4 : Margin of Safety


Margin of Safety didefinisikan sebagai “The excess of projected or actual sales
over the break even volume”
Misalkan dalam contoh Begalung Auto apabila penjualan mobil adalah 20 unit,
dan BEP 15 unit maka:
Margin of Safety = 20 – 15 = 5 unit

Page 9
Kesimpulan :
Penjualan dapat turun maximal 5 unit per periode sebelum terjadi kerugian, cateris
paribus .
Dari ke 4 contoh di atas dapat disimpulkan bila manajer menghendaki kenaikan
laba operasi maka ia dapat menempuh salah satu gabungan dari alternatif berikut:
1. Menaikkan harga penjualan
2. Menurunkan variable cost per unit
3. Menurunkan fixed cost
4. Menaikkan volume penjualan

Marjin Kontribusi
Marjin kontribusi memiliki definisi “Contribution margin as a percentage of sales
revenue”
P–V
, dimana : P = price
P V = variable cost

Manfaat :
1. BEP dalam satuan moneter ($, Rp, dsb)
2. Target penjualan
3. Target laba
Contoh 1 : Break Even Point
Lembaga bimbingan belajar “Brawi Jaya” menyelenggarakan bimbingan belajar
bagi para lulusan SMU yang ingin mengikuti SPMB. Apabila :
1. Fixed cost = Rp. 10.000.000
2. Variable cost = Rp. 240.000/peserta
3. Dan biaya bimbingan (tuition fee) = Rp. 1.000.000 / peserta
Maka tentukan :
a. BEP dalam unit
F 10.000.000
X= = = 13,16 = 14
P–V 1.000.000 – 240.000
Kesimpulan :

Page
10
Apabila manajemen menghendaki BEP maka harus mampu menarik sedikitnya 14
orang peserta.
b. BEP dalam Rp
II = (P – V) x – F = 0
(1.000.000 – 240.000)x – 10.000.000 = 0
760.000 x = 10.000.000
X = 14 unit
II (14) = (14 x 1.000.000) – [10.000.000 + (240.000 x 14)]
= 14.000.000 – (10.000.000 + 3.360.000)
= 640.000,-
Kesimpulannya : Bila manajemen hendak menghendaki BEP, maka biaya
bimbingan per peserta adalah Rp. 640.000 untuk 14 orang peserta.
C. x apalbila II = 10.000.000
10.000.000 = (1.000.000 – 240.000) x – 10.000.000
10.000.000 = 760.000x – 10.000.000
20.000.000 = 760.000x
X = 20.000.000/760.000
= 28 orang
Kesimpulannya; dengan biaya bimbingan Rp. 1.000.000 per peserta
apabila manajemen menghendaki memperoleh laba sebesar Rp.
10.000.000 maka jumlah peserta yang mendaftar harus minimal 28 orang.
Seandainya 80% peserta membayar Rp. 1.000.000/ peserta dan 20%
sisanyan mendapat diskon dan membayar Rp. 800.000,-
Maka tentukan BEP dalam “tuition fee”!
F 10.000.000
PX = =
1–VP 1 – [240.000/(80% x 1.000.000) + (20% x 800.000)]

= 10.000.000 / 1 – (240.000/960.000)
= 10.000.000 / 0,75
= 13,333.33333
Kesimpulan :

Page
11
Apabila 20% peserta mendapat diskon, maka biaya pendidikan yang harus
didapakan dari peserta adalah minimal Rp. 13.333.33333 agar BEP.
(Witjaksono, 2013)

Page
12
BAB III
PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

Witjaksono, A. (2013). Akuntansi Biaya Edisi Revisi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Page
13