Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN

PRAKTIKUM ALAT DAN MESIN PENGERING PADI


Untuk memenuhi tugas mata kuliah Alat dan Mesin Pertanian

Dosen Pengampu

Dr. Ir. Soesilo Wibowo, MS

Oleh:

No. Nama Anggota NIRM

1. Siti Maryam 04.1.17.0965


2. Sri Nurazizah 04.1.17.0966
3. Syifa Widi Utami 04.1.17.0967
4. Ulfa Yusriyana 04.1.17.0968
5. Vera Realita 04.1.17.0969
6. Yuda Pratama 04.1.17.0970

Tingkat I B

KEMENTRIAN PERTANIAN
BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA
MANUSIA PERTANIAN
SEKOLAH TINGGI PENYULUHAN PERTANIAN BOGOR
JL. ARIA SURIALAGA NO. 1 KOTAK POS 188 BOGOR 16001
TELEPON : (0251) 8351063, FAKSMILI : (0251) 8312386/(0251) 835106
KATA PENGANTAR

Puja puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat
karunia rahmat-Nya penulis dapat menyusun dan menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas yang di ajukan oleh Dosen
mata Kuliah “ALAT MESIN PERTANIAN’’ yang berjudul “Alat Pengering
Padi”

Dalam penysunan makalah ini poenulis mengucapkan banyak terima kasih


kepada:

1. Ketua Sekolah Tinggi Penyluhan Pertanian Bogor


2. Dosen Mata Kuliah Alat Dan Mesin Pertanian
3. Semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak


kesalahan dan kekeliruan yang harus di perbaiki, oleh karena itu penulis
mengharapkan bimbingan dari Dosen yang bersangkutan serta kritik dan saran.

Akhir kata, saya sampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam proses pembuatan makalah ini dari awal sampai akhir,
semoga segala perbuatan baik yang telah dikerjakan senantiasa mendapat ganjaran
dan rida dari Allah SWT. Amin.

Bogor, Mei 2018

Penulis

i
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang .......................................................................................... 1
1.2.Tujuan ........................................................................................................ 1
1.3.Manfaat ..................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.Gabah ......................................................................................................... 3
2.2.Drying (Pengeringan) ................................................................................. 4
2.3.Proses Pengeringan Gabah ......................................................................... 6
2.4.Jerami ......................................................................................................... 9
BAB III METODOLOGI
3.1. Waktu dan Tempat Pelaksanaan ............................................................... 11
3.2. Proses Pengeringan Padi ........................................................................... 11
3.3. Cara Kerja Alat Pengering ........................................................................ 11
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Pengeringan Gabah Padi Dengan Box Dryer ........................................... 13
4.2. Hasil dan Pembahasan ............................................................................. 16
BAB V KESIMPULAN
5.1. Kesimpulan .............................................................................................. 18
5.2. Saran .......................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 19

ii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Pengeringan merupakan proses pengurangan air yang terkandung dalam
suatu bahan. Pada proses pengeringan, air menguap karena terjadinya perbedaan
tekanan uap pada udara pengering dengan bahan yang dikeringkan, sehingga
terjadinya penguapan air pada bahan yang dikeringkan.
Proses pengeringan dapat dilakukan terhadap biji bijian termasuk pada
komoditas padi. Pegeringan padi adalah usaha penurunan kadar air dari dalam
padi setelah dipanen sehingga mencapai kadar air yang diharapkan padi tidak
rusak. Jumlah kandungan air pada padi disebut kadar air dan dinyatakan dengan
persen (%). Karena tingginya kandungan air padi maka perlulah dilakukan
pengeringan, dimana pada umumnya kadar air padi mencapai 20 % - 26 %, hal ini
bergantung cuaca pada saat pemanenan tentunya.
Dari segi produktivitas, pengeringan padi secara konvensional
membutuhkan waktu lama, yaitu dua hingga tiga hari untuk cuaca cerah atau
empat hingga lima hari untuk cuaca mendung. Hal ini berdampak pada biaya
operasional yang tinggi mencapai lima ratus ribu rupiah per ton. Dari segi
kualitas, ketika cuaca mendung kadar air dari padi kering yang dihasilkan >14%,
sedangkan Relative Humidity (RH) atau kelembaban standar padi kering siap
giling menurut PUSLITBANG Departemen Pertanian Indonesia adalah 14%.
Oleh karena itu, dibutuhkan sebuah mesin pengering padi untuk membantu
para petani sehingga para petani tidak perlu merasa kawatir terhadap musim hujan
yang sedang melanda daerah Surabaya dan sekitarnya, serta diharapkan dengan
adanya mesin ini dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas padi yang dihasilkan
sehingga dapat menambah produktivitas para petani.

1.2.Tujuan
Tujuan pada laporan ini diuraikan sebagai berikut:
1. Untuk menambah wawasan yang lebih luas tentang alat mesin
pertanian yaitu alat pengering padi

1
2. Agar dapat lebih memahami kinerja atau teknis dari alat pengering
padi

1.3.Manfaat
Dari perumusan masalah yang diuraikan diatas, manfaat penulisan laporan ini
yaitu sebgai berikut:
1. Manfaat Bagi Petani
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk memberikan panduan kepada
para petani dan pelaku usaha pasca panen lainnya agar dapat
melakukan cara-cara penanganan pasca panen sehingga petani dapat
Menekan tingkat kehilangan hasil panen dan memproduksi tanaman
sesuai persyaratan mutu (SNI).
2. Manfaat Bagi Mahasiswa
Manfaat bagi mahasiswa dalam penulisan makalah ini adalah :
Mahasiswa mampu mengenali dan memahami prinsip kerja dan
prilaku teknis dari alat pengering padi tersebut dan Mahasiswa mampu
mengaplikasikannya dilapangan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.Gabah

Gabah dari hasil panen atau yang dikenal dengan nama ”Gabah Kering
Panen (GKP)” biasanya mempunyai kandungan air 18 – 25 %. Gabah harus
memenuhi syarat kandungan air gabah agar gabah layak disimpan atau digiling,
yaitu kandungan airnya sekitar 14%, sedangkan agar gabah dapat langsung
digiling, kandungan airnya harus 12-13%. Gabah Kering Panen ini harus
secepatnya dikeringkan karena jika tidak langsung dikeringkan, akan muncul
permasalahan-permasalahan, yaitu akan terjadi kerusakan pada butir beras yang
dihasilkan, ditandai dengan warna beras yang agak kecoklatan, menyebabkan
harga jual rendah sehingga merugikan petani dan dengan kadar air tersebut gabah
tidak mempunyai ketahanan untuk disimpan.

Struktur butir gabah terdiri atas 3 (tiga) bagian utama yaitu antara lain:

1. Kulit atau sekam

Kulit padi lazimnya dinamakan sekam yaitu 23% dari bobot gabah,
sedangkan butir biji/endosperma dan lembaga/embrio disebut beras.

2. Butir biji atau endosperma

Butir biji yaitu 77% dari berat gabah atau endosperma dibungkus kulit ari
(yang hanya 3% dari bobot beras) terdiri dari lapisan terluar disebut perikarp,
kemudian tegmen dan lapisan aleuron yang banyak mengandung protein. Terdapat
2 (dua) lapisan pada tegmen, yaitu spermoderma dan perisperma yang banyak
mengandung lemak.

3. Lembaga atau embrio

Lembaga atau embrio yang bobotnya sekitar ± 2-3 % dari bobot butir terdiri
dari bakal akar (radikel), bakal daun (plumul), tudung (skutelum) dan epiblas.
Lembaga atau embrio banyak mengandung lemak dan protein

3
2.2.Drying (Pengeringan)

Pengeringan merupakan proses pengurangan kadar air bahan hingga


mencapai kadar air tertentu sehingga menghambat laju kerusakan bahan akibat
aktifitas biologis dan kimia (Brooker et al.,2004). Dasar proses pengeringan
adalah terjadinya penguapan air bahan ke udara karena perbedaan kandungan uap
air antara udara dengan bahan yang dikeringkan. Agar suatu bahan dapat menjadi
kering, maka udara harus memiliki kandungan uap air atau kelembaban yang
relatif rendah dari bahan yang dikeringkan. Pada saat suatu bahan dikeringkan
terjadi dua proses secara bersamaan, yaitu:

1. Perpindahan panas dari lingkungan untuk menguapkan air pada


permukaan bahan.
2. 2.Perpindahan massa (air) di dalam bahan akibat penguapan pada
proses pertama.

Mekanisme pengeringan diterangkan melalui teori tekanan uap. Air yang


diuapkan terdiri dari air bebas dan air terikat. Air bebas berada di permukaan dan
yang pertama kali mengalami penguapan (Mujumdar dan Devahastin, 2002). Bila
air permukaan telah habis, maka terjadi migrasi air dan uap air dari bagian dalam
bahan secara difusi. Migrasi air dan uap terjadi karena perbedaan konsentrasi atau
tekanan uap pada bagian dalam dan bagian luar bahan (Handerson dan Perry,
2003). Henderson dan Perry (2003) dan Broker et al.(2004) menyatakan bahwa
proses pengeringan dapat dibagi dalam dua periode, yaitu periode laju
pengeringan tetap dan laju pengeringan menurun. Mekanisme pengeringan pada
laju pengeringan menurun meliputi dua proses yaitu pergerakan air dari dalam
bahan ke permukaan bahan dan pengeluaran air dari permukaan air ke udara
sekitarnya. Laju pengeringan menurun terjadi setelah laju pengeringan konstan
dimana kadar air bahan lebih kecil dari pada kadar air kritis (Henderson dan
Perry, 2003). Menurut Brooker et al., (2004), beberapa parameter yang
mempengaruhi waktu yang dibutuhkan dalam proses pengeringan, antara lain:

1. Suhu Udara Pengering

4
Laju penguapan air bahan dalam pengering sangat ditentukan oleh kenaikan
suhu. Bila suhu pengeringan dinaikkan maka panas yang dibutuhkan untuk
penguapan air bahan menjadi berkurang. Suhu udara pengering berpengaruh
terhadap lama pengeringan dan kualitas bahan hasil pengeringan. Makin tinggi
suhu udara pengering maka proses pengeringan makin singkat. Biaya pengeringan
dapat ditekan pada kapasitas yang besar jika digunakan pada suhu tinggi, selama
suhu tersebut tidak sampai merusak bahan.

2. Kelembaban Relatif Udara Pengering

Kelembaban relatif udara adalah perbandingan massa uap air aktual pada
volume yang diberikan dengan masa uap air saturasi pada temperatur yang sama.
Kelembaban mutlak udara berpengaruh terhadap pemindahan cairan dari dalam ke
permukaan bahan. Kelembaban relatif juga menentukan besarnya tingkat
kemampuan udara pengering dalam menampung uap air di permukaan bahan.
Semakin rendah RH udara pengering, makin cepat pula proses pengeringan yang
terjadi, karena mampu menyerap dan menampung uap air lebih banyak dari pada
udara dengan RH yang tinggi.

3. Kecepatan Udara Pengering

Pada proses pengeringan, udara berfungsi sebagai pembawa panas untuk


menguapkan kandungan air pada bahan serta mengeluarkan uap air tersebut. Air
dikeluarkan dari bahan dalam bentuk uap dan harus secepatnya dipindahkan dari
bahan. Bila tidak segera dipindahkan maka air akan menjenuhkan atmosfer pada
permukaan bahan, sehingga akan memperlambat pengeluaran air selanjutnya.
Aliran udara yang cepat akan membawa uap air dari permukaan bahan dan
mencegah uap air tersebut menjadi jenuh di permukann bahan. Semakin besar
volume udara yang mengalir, maka semakin besar pula kemampuannya dalam
membawa dan menampung air dari permukaan bahan.

4. Kadar Air Bahan

Pada proses pengeringan, sering dijumpai adanya variasi jumlah kadar air
pada bahan. Yang mana variasi kadar air ini akan mempengaruhi lamanya proses

5
pengeringan, sehingga perlu diketahui berapa persen kadar air pada bahan saat
basah dan pada saat kering.

2.3.Proses Pengeringan Gabah

1. Pemanenan

Panen dilakukan apabila butir padi telah cukup dianggap masak. Jika panen
dilakukan terlalu awal dikhawatirkan diperoleh bulir muda, bulir hijau dan bulir
kapur (yang tidak tahan simpan) serta rendemen beras rendah. Sebaliknya bila
panen dilaksanakan terlalu tua mengakibatkan prosentase susut menjadi tinggi,
karena gabah yang rontok akan lebih banyak. Panen yang tepat dapat ditentukan
berdasarkan umur tanaman mulai dari fase pembungaan. Pemanenan dapat
dilaksanakan pada saat umur tanaman antara 30-35 hari setelah berbunga merata.
Panen pada periode ini menghasilkan bobot gabah bertambah, tetapi kualitas
sering menurun. Sedangkan apabila dipanen pada umur 25-30 hari setelah
berbunga merata akan menghasilkan prosentase beras kepala bertambah tetapi ada
kemungkinan produksi menurun. Pemanenan yang tepat dapat dilaksanakan pada
kadar air padi/gabah berkisar diantara 23-27% atau apabila 80% bulir berwarna
kuning dari ujung malai. Panen padi dapat dilaksanakan dengan cara memotong
pangkal (tangkai) malai, maupun dengan cara membabat pangkal tanaman.
Pembabatan batang dilaksanakan pada ukuran ± 10 cm di atas permukaan tanah
dengan sabit biasa atau sabit bergerigi. Penggunaan sabit bergerigi lebih
dianjurkan karena praktis dan lebih mudah penggunaannya. Setelah dibabat,
batang padi ditumpuk di atas tanah yang kering dekat dengan lokasi perontokan.
Untuk mengurangi susut gabah akibat tercecer maka penggunaan alas bagi
penumpukan gabah sangatlah dianjurkan. Cara tradisional lain dalam pemanenan
padi adalah dengan cara “potong atas” menggunakan alat ani-ani atau ketam.
Pemanenan cara ini dilakukan pada tanaman padi yang batangnya tinggi, sehingga
gabah hasil panen dapat langsung ditaruh dalam wadah. Pemanenan yang lebih
maju dapat dilakukan dengan menggunakan alat panen seperti reaper, combine
reaper dan lain sebagainya.

6
2. Perontokan

Terdapat 2 (dua) cara perontokan yang biasa dilakukan petani :

a. Perontokan secara tradisional yang dilakukan dengan cara diinjak-


injak/diiles, dihempas atau dipukul pada bambu atau kayu yang
telah dipersiapkan sebelumnya.
b. Perontokan dengan cara moderen dan praktis yaitu dengan
menggunakan mesin perontok atau thresher baik yang digerakkan
dengan kaki/tangan maupun yang digerakkan dengan motor (power
thresher). Perontokan gabah sebaiknya dilaksanakan langsung di
sawahkarena selain dapat memperkecil kehilangan hasil panen
akibat pengangkutan juga agar jerami sisa perontokan dapat
dikembalikan lagi ke sawah sebagai bahan dasar pupuk organik.

Beberapa hal penting yang harus menjadi perhatian dalam perontokan


gabah, antara lain sebagai berikut :

Dalam perontokan hendaknya memperhatikan arah angin sehingga


kotoran yang lebih ringan dari gabah akan langsung terpisah terbawa hembusan
angin. Perontokan dengan cara dihempas atau dipukul pada balok kayu atau
bambu perlu menggunakan alas lebih luas agar gabah yang terpelanting dapat
ditampung dengan mudah.

Tempat perontokan sebaiknya diberi alas plastik atau tikar, anyaman


bambu atau alas lain seperti lantai semen yang rata untuk mengurangi gabah yang
hilang karena tercecer.

Perontokan sebaiknya dilakukan sesegera mungkin setelah panen, hal ini


untuk menghindari timbulnya proses fermentasi yang akan menimbulkan butir
kuning.

3. Pembersihan

7
Pembersihan gabah selain bertujuan untuk menghilangkan butir hampa,
kotoran dan benda asing lainnya juga mempertinggi nilai jual per satuan bobot,
mempertinggi efisiensi pengeringan dan pengolahan hasil serta akan
memperpanjang daya simpan (menekan serangan hama gudang). Berbagai kotoran
yang biasanya terikut pada hasil perontokan antara lain potongan merang (tangkai
padi), gabah hampa, tanah, pasir, potongan malai atau jaba, potongan daun atau
bagian tanaman lainnya. Terdapat tiga (3) cara pembersihan gabah yang dapat
dilakukan antara lain sebagai berikut :

a. Cara tradisional yaitu ditampi menggunakan nyiru atau dengan mesin


penampi tanpa
b. motor. Cara ini akan memberikan hasil yang baik dan bersih namun kurang
efektif jika digunakan dalam skala besar.
c. Diayak dengan menggunakan saringan atau ayakan. Cara inipun masih
merupakan cara tradisional yang digunakan untuk skala rumah tangga.
d. Pembersihan dengan power blower yaitu peniupan dengan mesin penampi
bermotor yang memungkinkan pembersihan padi dalam skala besar Prinsip
kerja power blower ini didasarkan pada perbedaan bobot bahan, yaitu
kotoran yang lebih ringan dari gabah akan terbawa dan terpisah oleh
hembusan angin. Pembersihan menggunakan hembusan angin disebut juga
sebagai proses wind-owing. Power blower ini membersihkan gabah hasil
perontokan karena mesin ini dilengkapi dengan mesin penampi bermotor
sebagai penampi mekanis. Namun apabila masih terdapat kotoran agak berat
yang berupa batu kecil, kerikil maupun tanah yang tidak memungkinkan
dipisahkan melalui penampilan, maka perlu diambil dan dibuang secara
manual atau dengan alat pembersih lebih maju seperti cleaner yang
dirangkaikan dengan alat pengering.

Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pembersihan:

 Selama pembersihan harus digunakan alas secukupnya sehingga akan


memperkecil kehilangan akibat tercecer.

8
 pembersihan yang dilakukan setelah kegiatan perontokan padi dapat
mempercepat pewadahan dan pengangkutan, namun efektivitas pembersihan
relatif lebih baik apabila gabah dan kotorannya telah kering.
 pembersihan gabah harus diulang sesudah gabah dikeringkan sehingga
kadar hampa dan kotoran minimum.

4. Pewadahan dan Pemindahan

Gabah yang telah dirontokkan hendaknya segera diwadahkan dan


dipindahkan ke tempat yang lebih aman. Gabah yang akan dipindah harus
dikemas ke dalam goni / karung atau wadah lain agar gabah tidak tercecer.
Pemindahan harus dilakukan sesegera mungkin agar terhindar penumpukan gabah
yang terlalu lama dalam kondisi basah. Kondisi gabah yang basah memungkinkan
tumbuh dan berkembang biaknya jamur atau cendawan secara cepat. Pemindahan
gabah dapat dilakukan dengan menggunakan peralatan dari yang sederhana seperti
keranjang, pikulan, sepeda, gerobak; sampai peralatan yang moderen seperti
mobil. Selama proses pemindahan sebaiknya dihindarkan dari kerusakan mekanis,
tercecer, pengotoran dan aman dari tangan-tangan jahil selama pemindahan. Perlu
juga diperhatikan dan disiapkan tempat penampungan hasil panen yang masih
basah. Usahakan agar gabah basah dapat segera dijemur atau diangin-anginkan
untuk menghindari proses fermentasi akibat penumpukan yang menimbulkan suhu
panas. Proses pemanasan terjadi karena adanya akumulasi kalor hasil fermentasi
gabah basah yang ditumpuk, sehingga makin merusak gabah bersangkutan. Agar
supaya akumulasi kalor tidak terjadi maka usahakan gabah basah memperoleh
aerasi (aliran udara yang cukup).

2.4.Jerami

Indonesia adalah Negara agraris yang masyarakatnya hidup di bidang


pertanian. salah satunya pertanian padi. Sepanjang tahun produksi padi
menghasilkan limbah berupa jerami padi dalam jumlah yang besar. Jumlahnya

9
sekitar 20 juta per tahun. Menurut data BPS tahun 2006, luas sawah di Indonesia
adalah 11,9 juta ha. Produksi per hektar sawah bisa mencapai 12-15 ton bahan
kering setiap kali panen, tergantung lokasi dan varientasi tanaman. Selain itu
unsur hara dan kompenen yang terkandung di dalam jerami itu juga sangat luar
biasa.

Menurut penelitian ketika kita memanen padi 5 ton gabah kering dari 1 ha
sawah maka kita telah kehilangan unsur hara 150 kg N, 20 Kg P, 150 Kg K dan
20 Kg S yang terbawa oleh hasil panen kita. Dari hasil panen 5 ton gabah kering
tersebut biasanya akan dihasilkan 7,5 ton jerami. Di Indonesia rata-rata
kandungan unsur hara yang terkandung dalam jerami adalah 0,4 % N, 0,02 % P,
1,4 % K dan 5,6 % Si. Dan yang perlu diketahui adalah ketika kita memanen padi
5 ton/ha akan dihasilkan jerami sebanyak 7 ton yang mengandung 45 kg N, 10 Kg
P, 125 Kg K, 10 Kg S, 350 Kg Si, 30 Kg Ca 10 Kg Mg. sedangkan untuk
kompenennya sendiri terdiri dari 39% selulosa, 27% hemiselulosa, 12% legini,
11% abu.

Pembakaran jerami oleh petani. secara tak langsung mengembalikan unsur


hara jerami ke dalam tanah, membunuh bakteri patogen yang ada dalam tanah,
dan ikut mengurangi gulma yang ada di lahan pertanian. Hasil pembakaran jerami
berupa selulosa akan lebih cepat diserap tanah dalam kondisi abu karena
kandungan protein dan karbonnya sudah terpecah. Dengan demikian tanpa
disadari pembakaran jerami juga menguntungkan tanah secara tak langsung.

10
BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Kegiatan Pengamatan Cara Kerja Mesin Pengering Padi dilaksanakan pada
hari Jumat, 11 Mei 2018 pukul 08.00 WIB. Pengamatan Alat dan Mesin
Pertanian (Alsintan) ini dilakukan di wilayah lahan IFS Sekolah Tinggi
Penyuluhan Pertanian (STPP) Bogor.

3.2 Proses pengeringan padi


Di dalam biji-bijian terdapat air bebas dan air terikat. Air bebas terdapat di
bagian permukaan biji-bijian, di antara sel-sel dan dalam pori-pori. Air ini
mudah teruapkan pada pengeringan. Dan sebagai zat-zat yang terkandung
dalam gabah, air terikat memang sulit untuk dihilangkannya dan memerlukan
beberapa perlakuan dan ketekunan seperti hanya terhadap beberapa faktor-
faktor yang berpengaruh dalam pengeringan, antara lain temperatur,
kelembaban, dengan ketekunan yaitu kegiatan membalik-balik bahan (gabah)
selama dalam pengeringan. (Bahri Daulay Saipul, 2005)
Air yang diangkut dari biji berlangsung dengan proses penguapan.
Perubahan air menjadi uap air terjadi di permukan biji. Utuk itu, uap harus
didifusikan terlebih dahulu ke permukaan lalu diuapkan. Energi panas harus
cukup untuk menguapkan air dan juga untuk mendifusikan air. (Sumber SNI,
1998)

3.3 Cara Kerja Alat Pengering


Prinsip kerja alat pengeringan gabah yaitu bahan gabah setelah dari panen
masih basah dimasukkan ke dalam oven dengan disusun rata teratur sesuai
kedudukannya. Kemudian bahan bakar limbah pertanian di bakar di dalam
tungku pembakaran. Lalu udara panas hasil pembakaran tersebut dialirkan
dengan kipas ke dalam oven yang telah berisi padi. Dan udara panas dari

11
pembakaran limbah pertanian akan mengalir lalu memanasi dan mengeringkan
gabah tersebut.
Kemudian pada bagian tungku pembakaran oven dan padi dipasang
termokopel untuk mengetahui kenaikan temperatur yang terjadi sambil
mengecek keadaan dan perubahann yang terjadi pada gabah juga dicatat lama
waktu yang berjalan serta banyaknya bahan bakar sekam juga dicatat.proses
demikian terus dipantau sampai pengering selesai.

12
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pengeringan Gabah Padi Dengan Box Dryer

A. Mesin Box Dryer Horizontal Sistem Indirect

Mesin pengering yang ada dipasaran saaat ini ada berbagai macam variasi
dan fungsi. Mesin box dryer merupakan salah satu jenis mesin pengering tersebut.
Mesin box dryer mempunyai fungsi untk mengeringkan atau mengurangi
kadar/kandungan air pada berbagai jenis bahan baku seperti jagung, gabah,
kedelai, kacang, biji kopi, biji kakao, rempah-rempah dan berbagai jenis bahan
baku lainnya. Mesin box dryer merupakan mesin yang mampu menampung bahan
baku dalam jumlah yang besar sekali proses pengeringan.

Selain itu, mesin box dryer mempunyai keunggulan lain yaitu pemanas
mesin dapat digunakan untuk pemanas lain disesuaikan dengan kondisi dan
kemampuan pengguna mesin. Bisa menggunakan pemanas LPG, tungku kayu,
sekam, maupun briket. Walaupun, mesin ini menggunakan pemanas tungku kayu,
sekam, maupun briket, sebagai bahan pemanasnya tetapi bahan baku yang
dikeringkan tidak akan bercampur dengan asap yang dihasilkan dari pembakaran
karena mesin ini menggunakan system udara panas yang dialirkan/dihembuskan
dengan alat blower.

Adapun klasifikasi adalah sebagai berikut :

 Kapasitas : 1000 kg/proses


 Bahan : Plat Mill Steal
 Produk : padi, jagung, kedelai, kopi, gaplek, dll
 Bahan bakar : sekam padi, kayu bakar, LPG
 Sistem pemanasan : indirectPenurunan kadar air : padi 0.8-1.2 %/jam,
jadung 2-4%/jam
 Kontrol suhu : otomatis
 Penggerak : Diesel SNI/ 8 PK

13
 Dimensi box : 2400x2400x1200 mm
 Dimensi dapur : 600x500x1400 mm
 Ruang blower : 750x650x650 mm
 Ruang bakar : 700x650x650 mm
 Material : 1,5 mm Plat besi
 Sreen : Stainless Steal
 Blower : Axial
 Daun blower : 6 buah ganda
 Rumah daun blower : 6 mm – 12 mm
 As blower PxD : 540 mm x 1.25 inc

B. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengeringan

Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan untuk memperoleh keepatan


pengeringan maksimum, yaitu

a. Luas permukaan

Semakin luas permukaan bahan yang dikeringkan, maka akan semakin cepat
bahan menjadi kering. Biasanya bahan yang akan dikeringkan dipotong– potong
untuk mempercepat pengeringan.

b. Suhu

Semakin besar perbedaan suhu (antara medium pemanas dengan bahan yang
dikeringkan), maka akan semakin cepat proses pindah panas berlangsung
sehingga mengakibatkan proses penguapan semakin cepat pula. Atau semakin
tinggi suhu udara pengering, maka akan semakin besar energi panas yang dibawa
ke udara yang akan menyebabkan proses pindah panas semakin cepat sehingga
pindah massa akan berlangsung juga dengan cepat.

c. Kecepatan udara

14
Umumnya udara yang bergerak akan lebih banyak mengambil uap air dari
permukaan bahan yang akan dikeringkan. Udara yang bergerak adalah udara yang
mempunyai kecepatan gerak yang tinggi yang berguna untuk mengambil uap air
dan menghilangkan uap air dari permukaan bahan yang dikeringkan.

d. Kelembaban udara

Semakin lembab udara di dalam ruang pengering dan sekitarnya, maka akan
semakin lama proses pengeringan berlangsung kering, begitu juga sebaliknya.
Karena udara kering dapat mengabsorpsi dan menahan uap air. Setiap bahan
khususnya bahan pangan mempunyai keseimbangan kelembaban udara masing–
masing, yaitu kelembaban pada suhu tertentu dimana bahan tidak akan kehilangan
air (pindah) ke atmosfir atau tidak akan mengambil uap air dari atmosfir.

e. Tekanan atm dan vakum

Pada tekanan udara atmosfir 760 Hg (=1 atm), air akan mendidih pada suhu
100oC. Pada tekanan udara lebih rendah dari 1 atmosfir air akan mendidih pada
suhu lebih rendah dari 100oC.

P 760 Hg = 1 atrm air mendidih 100oC

P udara < 1 atm air mendidih < 100oC

Tekanan (P) rendah dan suhu (T) rendah cocok untuk bahan yang sensitif terhadap
panas , contohnya : pengeringan beku (freeze drying)

f. Waktu

Semakin lama waktu (batas tertentu) pengeringan, maka semakin cepat proses
pengeringan selesai. Dalam pengeringan diterapkan konsep HTST (High
Temperature Short Time), Short time dapat menekan biaya pengeringan.

15
4.2. Hasil dan Pembahasan

Dalam praktikum mekanisasi pertanian yang telah di lakukan adapun bahan


yang di gunakan adalah gabah 200 kg serta dengan mesin box dryer berupa
blower, tungku pemanas, cerobong asap, mesin pemanas, tungku pemanas,
belalai, bak pemanas serta rantai pemanas. Suhu optimum mesin ini berkisar 25-
300 C, dalam melakukan praktikum mesin pengering ini dengan mengambil 3
sampel. Dimana ini untuk menentukan kadar air, dalam perhitungan kadar air
menggunakan grain moisture taster. Adapun datanya adalah sebagai berikut :

Sampling Kadar Air Awal Kadar Air Akhir


I 21 % 12.2 %
II 20 % 12.1 %
III 21.4 % 11.2 %
X 21 % 11.8 %

Data diatas menunjukan tingkat kadar air dalam gabah sebelum dan sesudah
dilakukan pengeringan, kadar air optimum suatu padi 14 %, maka dengan
sampling menunjukan kurang dari 14 % itu sudah berada pada kadar air optimum.
Waktu dalam pengeringan gabah ini dimulai pada pukul 08.22 WIB sampai
dengan 10.11 WIB sehingga untuk mencapai kadar air 11.8 % membutuhkan
waktu 109 menit.

Adapun hasil kuantitas dalam pengeringan gabah dilakukan sampling


sebanyak 5 sampel untuk mengetahui penyusutan setelah melakukan pengeringan.
Berikut datanya :

SAMPEL I II III IV V Jumlah


BERAT 35 kg 31 kg 33 kg 32 kg 39 kg 170 kg

Berdasarkan hasil pengeringan yang dilakukan pada praktikum mekanisais


pertanian di dapatkan hasil akhir kuantitas gabah 170 kg. sehingga pada awal
sebelum pengeringan berjumlah 200 kg, ini menjadi 170 kg. hal ini terjadi

16
penyusutan berkisar 30 kg. dapat di perkirakan dalam perhitungan bahwa
penyusutan sebesar :

(𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟)


Penyusutan : 𝑥 100 %
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑎𝑤𝑎𝑙

(200 𝑘𝑔−170 𝑘𝑔)


: 𝑥 100 %
200 𝑘𝑔

: 15 %.

Sehingga pada praktikum ini dengan menggunakan gabah 200 kg dan


dengan waktu 109 menit yang dibutuhkan, bahwa di dapatkan hasil akhir
penyusutan menjadi 170 kg dan penyusutannya berkisar pada angka 15 %.

17
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan uraian laopran di atas, dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Dalam peningkatan efektifitas dan efisiensi produksi padi,


petani dapat mengoptimalkan penggunaan alat dan mesin
pertanian dalam proses pengeringan padi. Yaitu dengan
pengunaan alat dan mesin box dryer.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pengeringan padi
dengan alat dan mesin box dryer yaitu diantaranya: Luas
permukaan, suhu, kecepatan udara, kelembaban udara, tekanan
atmosfer dan vakum dan waktu.
3. Untuk mencapai kadar air gabah padi 11,8% dibutuhkan waktu
sekitar 190 menit, dengan penyusutan gabah seberat 30 kg atau
sebanyak 15%.
5.2.Saran
Dalam pelaksanaan praktikum selanjutnya, diharapkan dapat lebih optimal
dan efektif kembali dalam mengorganisasikan waktu dan kegiatan praktikum

18
DAFTAR PUSTAKA

www.agrowindo.com>mesin-box-dryer-pengering-padi-jagung-kedelai-
serbaguna.htm

19