Anda di halaman 1dari 5

METODE PERANCANGAN STRUKTUR

BETON BERTULANG

Disusun Oleh

Caleb Patrick Sidabutar -

Cut Rana Aldilah Putro -

Feria Syafitri -

Hanifah Qonita 1706986214

Rafi Muhammad -

Umar -

Departemen Teknik Sipil

Fakultas Teknik

Universitas Indonesia

Depok

2019
Metode Perancangan Struktur Beton Bertulang

Dalam melakukan perancangan struktur pada beton bertulang, diperlukan


suatu Batasan- Batasan kriteria untuk memastikan beton bertulang tersebut sudah
layak dan aman digunakan baik untuk jangan pendek maupun jangka Panjang.
Metode- metode tersebut antara lain Limit State Design dan metode tegangan kerja.

I. Limit State Design ( Kondisi Batas)

Merupakan suatu Batasan pada struktural, pada suatu pembebanan


yang dikenakan atau dilakukan pada suatu struktur secara terus- menerus akan
mengakibatkan suatu kondisi batas, dimana kondisi struktur tidak lagi memenuhi
kriteria yang sesuai dengan standar (Limit State Design, 2018).

Metode LSD digunakan dengan tujuan memastikan kondisi struktur


tetap baik dan layak. Limit state design terbagi menjadi 3 yaitu, Ultimate Limit State
(ULS), Serviceability Limit State (SLS), dan Special Limit State.

A. Ultimate Limit State (ULS)


Disebut juga metode kekuatan ultimit. Metoda kekuatan
ultimit yaitu metode struktur yang direncanakan terhadap beban
terfaktor sedemikian rupa sehingga struktur tersebut mempunyai
kekuatan ultimit yang diinginkan, yaitu:

ᴍ u ≤ ϕ ᴍn
Suatu kondisi batas ini meliputi keruntuhan sebagian atau
seluruh struktur. Kemungkinan terjadinya kondisi batas ini sangat
kecil. Kondisi ultimit yang utama adalah:
1. Hilangnya keseimbangan dari sebagian atau seluruh
struktur. Keruntuhan demikian biasanya meliputi
terangkatnya/tergesernya seluruh struktur dan akan terjadi
bila gaya reaksi untuk keseimbangan tidak terjadi.

2. Retaknya bagian kritis dari struktur akan menyebabkan


keruntuhan sebagian atau keseluruhan.
3. Keruntuhan progresif.
Pada batas tertentu keruntuhan lokal yang kecil
dapat menyebabkan elemen didekatnya menerima beban
kelebihan dan gagal sampai seluruh struktur runtuh.

Keruntuhan progresif dapat dicegah dengan detail


strruktur yang benar sehingga seluruh struktur terikat dan
tidak terjadi kegagalan lokal. Karena kegagalan
demikian dapat terjadi pada massa konstruksi, maka
perencana harus waspada akan adanya beban dari
prosedur pelaksanaan konstruksi.

4. Pembentukan mekanisme plastis.


Mekanisme ini terjadi bila tulangan meleleh dan
membentuk sendi plastis pada beberapa penampang
sehingga struktur labil.

5. Instabilitas akibat deformasi struktur. Kegagalan ini


meliputi tekuk.

6. Kelelehan. Retak atau patah dari elemen akibat siklus


beban kerja yang berulang akan dapat menyebabkan
keruntuhan.

B. Serviceability Limit State (SLS)


Metode batas kemampuan layan adalah suatu kondisi
dimana memastikan struktur agar tetap nyaman dan dapat
digunakan dalam kondisi yang layak.
Komponen struktur harus memenuhi kemampuan layanan
pada tingkat beban kerja atau mampu menjamin tercapainya
perilaku struktur yang cukup baik pada strata beban kerja.
Kemampuan layanan ditentukan oleh lendutan, retak, korosi
tulangan, dan rusaknya, permukaan balok atau plat beton
bertulang (eprints.undip.ac.id, n.d.).
SLS berkaitan dengan lendutan, retak dan getaran. Metode
kemampuan layan dapat digambarkan dalam konsep:

Perilaku struktur yang diizinkan ≥ Perilaku struktur yang


terjadi

Lendutan besar pada kondisi kelayanan, hal ini


menyebabkan tidak bekerjanya mesin-mesin, mengganggu nilai
estetika serta dapat merusak elemen non struktural. Pada kasus atap
yang sangat fleksibel, akibat berat air pada atap dapat
meningkatkan lendutan dan ketinggian air dan lain-lain sehingga
kapasitas atap terlampaui.
Lebar retak yang besar. Biarpun beton bertulang akan retak
seluruh tulangan bekerja adalah mungkin untuk membuat detail
penulangan sehingga bisa meminimumkan lebar retak.Lebar retak
yang besar ini dapat menyebabkan terjadinya korosi pada tulangan
dan kerusakan beton secara perlahan.
Vibrasi yang tidak diinginkan. Vibrasi vertikal dari lantai
atau jembatan dan vibrasi lateral dari torsional bangunan tingkat
tinggi dapat mengganggu pemakai. Getaran biasanya jarang
merupakan masalah [ada bangunan beton bertulang.

C. Kondisi Batas Khusus (Special Limit State)


Kondisi batas ini meliputi kerusakan atau kegagalan akibat
pembebanan abnormal, yang terdiri dari:
1. Kerusakan atau keruntuhan pada gempa kuat.
2. Efek struktural akibat kebakaran, ledakan atau tubrukan.
3. Efek struktural akibat korosi atau kemunduran kualitas.
4. Instabilitas fisik atau kimia jangka panjang.
II. Metode Tegangan Kerja (Elastis Design)
Metode perencanaan elastis didasarkan pada anggapan bahwa sifat
dan prilaku beton bertulang dianggap sama dengan bahan homogen (serba sama)
seperti kayu, baja dan sebagainya. Unsur struktur direncanakan terhadap beban
kerja sedemikian rupa sehingga tegangan yang terjadi lebih kecil daripada tegangan
yang diizinkan, yaitu:
α≤α
Sesuai dengan teori elastisitas, tegangan dan regangan pada penampang
balok terlentur untuk bahan yang homogen terdistribusi secara linier membentuk
garis lurus dari nol di garis netral ke nilai maksimum di serat tepi terluar. Dengan
demikian nilai-nilai tegangan pada penampang balok terlentur berbanding lurus
dengan regangannya. Metode elastik (tegangan kerja) menggunakan nilai-nilai:
1. Beban guna atau beban kerja (tanpa faktor)
2. Tegangan ijin
3. Hubungan linier antara regangan dan tegangan

Perencanaan berdasarkan beban kerja akan menghasilkan beton bertulang dengan


kondisi yang diharapkan:
1. Lendutan yang terjadi masih dalam batas yang diijinkan.
2. Retakan yang timbul masih dapat dikendalikan (tidak terjadi retak yang
dapat menimbulakan masuknya air yang pada akhirnya akan menyebabkan
korosi).

Anggapan-anggapan dasar yang digunakan metode tegangan kerja untuk komponen


struktur terlentur adalah:
1. Bidang penampang rata sebelum terjadi lenturan akan tetap rata setelah
mengalami lenturan, berarti distribusi regangan sebanding atau linear.
1. Bagi bahan baja maupun beton sepenuhnya Hukum Hooke dimana nilai
tegangan linier dengan nilai regangan.
2. Gaya tarik sepenuhnya dipikul oleh tulangan tarik baja.
3. Batang tulangan baja terlekat sempurna dengan beton, sehingga tidak
terjadi penggelinciran.