Anda di halaman 1dari 7

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Hukum Islam


Kata “hukum” berasal dari bahasa Arab al-hukm yang secara etimologis berarti
ketetapan, keputusan, atau penyelesaian suatu masalah. Kata al-hukm merupakan bentuk
masdar dari “ Hakama Yahkumu” (‫يحكككم‬-‫ )حكككم‬yang artinya memutuskan, menetapkan,
menyelesaikan masalah. Kata al-hukm merupakan bentuk jamak dari al-ahkam. Dari kata
al-hukm muncul kata al-hikmah yang berarti kebijaksanaan. Orang yang mengetahui
hukum dan mengamalkannya dianggap sebagai orang yang bijaksana. Dari akar kata ini
pula muncul kata al-hakamah. Yang berarti kendali atau kekang kuda. Hal ini dapat
mengingat bahwa hukum dapat mengendalikan atau mengekang seseorang dari hal hal
yang dilarang oleh agama. Ibnu Abbas (w. 688 M), mengartikan hikmah dengan fiqh dan
syariah yang tiada lain adalah hukum Islam itu sendiri.

Pengertian hukum islam atau syariat Islam adalah sistem kaidah-kaidah yang
didasarkan pada wahyu Allah SWT dan Sunnah Rasul mengenai tingkah laku mukallaf
(orang yang sudah dapat dibebani kewajiban) yang diakui dan diyakini, yang mengikat
bagi semua pemeluknya. Dan hal ini mengacu pada apa yang dilakukan oleh Rasul untuk
melaksanakan secara sempurna. Syariat menurut istilah berarti hukum-hukum yang
diperintahkan Allah SWT untuk umatnya yang dibawa oleh seorang Nabi, baik yang
berhubungan dengan kepercayaan (aqidah) maupun yang berhubungan dengan amaliyah.1

Syariat Islam menurut bahasa berarti jalan yang dilalui umat manusia untuk menuju
kepada Allah Ta’ala. dan ternyata Islam bukanlah hanya sebuah agama yang mengajarkan
tentang bagaimana menjalankan ibadah kepada Tuhannnya saja. Keberadaan aturan atau
sistem ketentuan Allah SWT untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah SWT dan
hubungan manusia dengan sesamanya. Aturan tersebut bersumber pada seluruh ajaran
Islam, khususnya Al-Qur’an dan Hadits.2

Definisi hukum Islam adalah syariat yang berarti aturan yang diadakan oleh Allah
untuk umatnya yang dibawa oleh seorang Nabi SAW, baik hukum yang berhubungan

1
Eva Iryani, Hukum Islam, Demokrasi dan Hak Asasi Manusia, dalam Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari
Jambi Vol.17 No.2 Tahun 2017, hal. 24.
2
Ibid
dengan kepercayaan (aqidah) maupun hukum hukum yang berhubungan dengan amaliyah
(perbuatan) yang dilakukan oleh umat seluruh umat Muslim. Hukum Islam bukan hanya
sebuah teori saja namun adalah sebuah aturan aturan untuk diterapkan di dalam sendi
kehidupan manusia. Karena didalam kehidupan manusia banyak ditemukan banyak
masalah masalah baik masalah ibadah maupun masalah muamalah umumnya dalam
agama yang sering kali membuat pemikiran umat Muslim yang cenderung kepada
perbedaan. Untuk itulah maka diperlukan sumber hukum Islam sebagai solusinya.

B. Hubungan Hukum Islam, Syariat dan Fikih


Seperti yang telah dijelaskan, istilah Hukum Islam berasal dari dua kata, yaitu Hukum
dan Islam. Dan dapat disimpulkan bahwa hukum Islam merupakan hukum yang
bersumber dari ajaran Islam. Istilah hukum Islam tidak ditemukan dalam Al-Qur’an,
Sunnah, maupun literatur Islam. Untuk itu, perlu mencari padanan istilah hukum Islam.
Namun, ada dua istilah yang dapat dipadankan dengan istilah hukum Islam yaitu, syariat
dan fikih.

Secara umum, syariat adalah hukum Islam yang bersumber dari Al-Qur’an dan
Sunnah yang belum tercampur dengan daya nalar atau ijtihad, sedangkan fikih adalah
hukum Islam yang bersumber dari pemahaman terhadap syariat atau pemahaman dari
nash Al-Qur’an maupun Sunnah. Syariat selalu mengingatkan kita akan wahyu, ilmu
(pengetahuan) yang tidak akan didapat apabila tidak ada Al-Qur’an dan Sunnah,
sedangkan fikih menekankan penalaran dan deduksi yang dilandaskan kepada ilmu
kemudian diambil dengan cara persetujuan.

Berikut beberapa perbedaan antara syariat dan fikih, yaitu:

1. Syariat berasal dari Allah dan Rasul-Nya, sedangkan fikih berasal dari pemikiran-
pemikiran manusia terhadap nash Al-Qur’an dan Sunnah.

2. Syariat terdapat dalam Al-Qur’an dan kitab-kitab Hadits sedangkan fikih terdapat
dalam kitab-kitab fikih.

3. Syariat hanya satu, yaitu syariat Islam sedangkan fikih lebih dari satu seperti
terlihat dalam madzhab-madzhab fikih.
4. Syariat bersifat fundamental dan memiliki ruang lingkupnya yang luas, karena
didalamnya para ahli memasukkan urusan akidah dan akhlak sedangkan fikih
bersifat instrumental dan ruang lingkupnya terbatas, pada hukum yang mengatur
perbuatan manusia.

5. Syariat adalah ketetapan Allah SWT dan ketentuan Rasul-Nya sehingga berlaku
abadi sedangkan fikih merupakan karya manusia yang tidak berlaku abadi, dapat
berubah sesuai dengan masanya.

C. Karakteristik Hukum Islam


Hakikat hukum Islam itu tiada lain adalah syari'ah itu sendiri, yang bersumber dari
al-Qur'an, Sunnah Rasul dari al-Ra'yu Doktrin pokok dalam Islam itu sendiri yaitu
konsep tauhid merupakan fondasi dalam struktur hukum Islam, yaitu hubungan hablun
win Allah (hubungan vertikal), dari hablun Min al-nas (hubungan horizontal), al-anirit
bil nia'ruf wa alnahyu al-munkar, taqwa, adil, dan bijaksana serta mendahulukan
kewajiban daripada hak dan kewenangan.

Sehubungan dengan doktrin di atas, maka terdapat lima sifat dan karakteristik hukum
Islam yaitu:

1. Sempurna.

Syari'at Islam diturunkan dalam bentuk yang umum dari garis besar permasalahan.
Oleh karena itu hukum-hukumnya bersifat tetap, tidak berubah-ubah lantaran berubahnya
masa dari berlainannya tempat. Untuk hukum-hukum yang lebih rinci, syari'at isi am
hanya menetapkan kaedah dan memberikan patokan umum. penjelasan dan rinciannya
diserahkan pada ijtihad pemuka masyarakat.

Menurut M. Hasbi AshShiddieciy, salah satu ciri hukum Islam adalah takamul yaitu,
lengkap, sempurna dan bulat, berkumpul padanya aneka pandangan hidup. Menurutnya
hukum Islam menghimpun segala sudut dan segi yang berbeda-beda di dalam suatu
kesatuan karenanya hukum Islam tidak menghendaki adanya pertentangan antara Ushul
dengan Furu', tetapi satu sama lain saling lengkap-melengkapi kuat-menguatkan.

2. Elastis.

Hukum Islam juga bersifat elastis (lentur, Luwes), Ia meliputi Segala bidang dan
lapangan kehidupan manusia,. Hukum Islam memperhatikan berbagai segi kehidupan
baik bidang muamalah, ibadah, jinayah dan lain-lain. Meski demiklan ia tidak memiliki
dogma yang kaku, keras dan memaksa. Hukum Islam hanya memberikan kaidahkaidah
urn urn yang mesti dijalankan oleh umat manusia.

Sebagai bukti bahwa hukum Islam bersifat elastis. Dapat dilihat dalam salah satu
contoh dalam kasus jual beli; bahwa ayat hukum yang berhubungan dengan jual bell
(Q.S. al-Bagarah (2): 275, 282, Q.S. an-Nisa' (4): 29, dan Q.S. (62): 9). Dalam ayat-ayat
tersebut diterangkan hukum bolehnya jual beli, persyaratan keridhaan antara kedua belah
pihak, larangan riba, dan larangan jual beli waktu azan Jum'at. Kemudian Rasul
menjelaskan beberapa aspek jual beli yang lazim berlaku pada masa beliau. Selebihnya,
tradisi atau adat masyarakat tertentu dapat, dijadikan sebagai bahan penetapan hukum
jual beli.

3. Universal dan Dinamis.

Ajaran Islam bersifat universal. Ia meliputi seluruh alam tanpa tapal batas, tidak
dibatasi pada daerah tertentu seperti ruang lingkup ajaranajaran Nabi sebelumnya.
Berlaku bagi orang Arab dan orang `Ajam (non Arab). Universalitas hukum Islam ini
sesuai dengan pemilik hukum itu sendiri yang kekuasaan tidak terbatas. Di samping itu,
hukum Islam mempunyai sifat yang dinamis (cocok untuk setiap zaman).

Hukum Islam memberikan kepada kemanusiaan sejumlah hukum yang positif yang
dapat dipergunakan untuk segenap masa dan tempat. Dalam gerakannya hukum Islam
menvertai perkembangan manusia, mempunyai kaidah asasiyah, yaitu ijtihad. Ijtihadlah
yang akan menjawab segala tantangan masa, dapat memenuhi harapan zaman dengan
tetap memelihara kepribadian. dari nilai-nilai asasinya.

Dalam kaitannya dengan keuniversalan tersebut dapat dipahami lewat konstitusi


negara mushm pertama. Madinah, menyetujui dan melindungi kepercayaan non-muslim
dan kebebasan mereka untuk mendakwahkan. Konstitusi ini merupakan kesepakatan
antara Muslim dan Yahudi, serta orang-orang Arab yang bergabung di dalamnya. Non-
Muslim dibebaskan dari keharusan membela negara dengan membayar Jizyah, yang.
berarti hak hidup dan hak milik mereka dijamin. Istilah Zimmi, berarti orang non-Muslim
yang dilindungi Allah dan Rasul. Kepada orang-orang non-Muslim itu diberikan hak
Otonomi yudisial tertentu. Warga negara dan kalangan ahli kitab dipersilahkan
menyelenggarakan keadilan sesuai dengan apa yang Allah wahyukan.
4. Sistematis.

Arti dari pc.myataan bahwa hukum Islam itu bersifat sistematis adalah bahwa hukum
Islam nu mencerminkan sejumlah doktrin yang bertalian secara logis, sating
berhubungan satu dengan lainnya.

Perintah shalat dalam al-Qur'an senantiasa diiringi dengan perintah zakat. Dan
berulang-ulang Allah berfirman "makan dan minumlah kamu tetapi jangan benlebihan".
Dalam hal ini dipahami bahwa hukum Islam melarang seseorang hanya mermuamalah
dengan Allah dan melupakan dunia. Manusia diperintahkan mencari rezeki, tetapi
hukum Islam melarang sifat imperial dan kolonial kctika mencari rezeki tersebut.

5. Hukum Islam bersifat Ta'aquli dan Ta'abbudi.

Sebagaimana dipahami bahwa syari'at Islam mencakup bidang mu'amalah dan bidang
ibadah. Dalam bidang ibadah terkandung nilai-nilai ta'abbudil ghairu ma' qulah al ma'na
(irasional), artinya manusia tidak boleh beribadah kecuali dengan apa yang telah
disyari'atkan dalam bidang ini, tidak ada pintu ijtihad bagi umat manusia. Sedangkan
bidang muamalah, di dalamnya terkadang nilai-nilai ta'aquli/ma’aqulah al-ma’na
(rasional). Artinya, umat Islam dituntut untuk berijtihad guna membumikan ketentuan-
ketentuan syari'at tersebut.

Dengan demikian hukum Islam yang bersifat irasional, aturanaturan hukum Islam itu
sah atau baik, karena semata-mata eksistensi kebajikan yang terkandung di dalamnya,
bukan karena rasionalitasnya.

Dari uraian di atas bahwa sifat hukum Islam tersebut, mempunyai hubungan simbiosis
(sangat erat), sehingga dapat dipahami bahwa kelima sifat yang telah disebutkan itu,
merupakan satu keterpaduan karakteristik hukum Islam yang sangat sesuai dengan fitrah
manusia sebagai makhluk Allah SWT, yang dilengkapi dengan dua kelebihan daripada
makhluk lainnya yaitu akal (intelegensia) dari kalbu (hati nurani).

D. Substansi Hukum Islam


Hukum Islam mengatur seluruh aspek kehidupan manusia agar selamat di dunia dan
di akhirat. Hukum Islam mengontrol, mengatur dan meregulasi (pengaturan) semua
perilaku privat maupun publik seseorang. Tingkah laku manusia diatur dan dibagi dalam
dua klasifikasi besar yang terpisah tapi saling mempengaruhi. Pertama adalah hubungan
Allah dengan manusia yang diatur melalui hukum kewajiban ibadah. Ibadah merupakan
refleksi atas ketundukan manusia kepada Allah. Kedua adalah hubungan antara sesama
manusia, yaitu aturan hukum yang mengatur segala aktivitas dalam kehidupan manusia
sehari-hari.
Hukum Islam memberi aturan yang spesifik tentang shalat, puasa, zakat, dan haji serta
bantuan-bantuan sosial seperti infak dan shadaqah, tetapi juga berisi aturan tentang
barbagai hal seperti makanan halal, diet, perkawinan, hubungan seksual, pemeliharaan
anak dan masalah-masalah domestik lainnya. Hukum Islam juga mengatur tatanan
tentang bagaimana sesorang harus bertingkah laku dalam kehidupan bermasyarakat dan
berinteraksi dengan kelompok lain, aturan tentang transaksi bisnis, penyelesaian konflik
bahkan aturan perang. Perkembangan substantif hukum Islam senantiasa menyambut
positif nilai-nilai dari luar yang dipandang masih masuk dalam batas ajaran Islam. Aspek-
aspek substantif hukum yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW sudah mengalamai
percampuran antara ide hukum yang suci (sakral) dengan tradisi setempat, yaitu hukum
adat masyarakat Arab. Dalam hukum keluarga misalnya, Islam tetap mempertahankan
perkawinan sebagai lembaga sakral. Perkawinan dalam Islam bertujuan untuk menjaga
kemurnian dan kebersihan hubungan genealogis ras manusia. Nabi telah melakukan
penghapusan beberapa praktik adat Arab yang bertentangan dengan hukum Islam, seperti
poliandri, hubungan seksual di luar nikah, adopsi, perceraian berulang-ulang, dan lain
sebagainya. Nabi juga terus melakukan modifikasi dalam masalah poligami dan mahar.

E. Tujuan Hukum Islam


Tujuan diberlakukannya hukum Islam adalah mengatur kehidupan manusia agar hidup
dengan tenang, damai, tentram dan bebas dari ancaman orang lain. Adapun menurut salah
satu tokoh yang bernama Syatibi hukum Islam mencakup lima hal:

1. Memelihara Agama Islam

Memelihara agama Islam merupakan sesuatu yang sangat penting bagi seluruh kaum
muslimin. Seperti halnya kaum Muslimin diwajibkan shalat, puasa, zakat, dan lain
sebagainya dan perbuatan ini merupakan wujud dari memelihara agama sehingga agama
tetap terpelihara sebagaimana mestinya. Rasulullah SAW bersabda ”Barang siapa
seseorang yang tidak sholat maka dia adalah penghancur agama itu sendiri“
2. Memelihara Jiwa

Tujuan hukum Islam yang kedua adalah memelihara jiwa dengan ditegakkannya
hukum pidana seperti jinayat, qishas harapannya adalah manusia tidak semena-mena
dalam melakukan perbuatannya sendiri sehingga tidak ada lagi korban kekerasan, apalagi
pembunuhan.

3. Memelihara Akal

Tujuan hukum Islam yang ketiga yaitu memelihara akal. Didalam Al-Qur’an sudah
dijelaskan bahwasanya meminum minuman keras, melihat sesuatu yang tidak islami
beserta melakukan perbuatan di luar syariat Islam semua itu bertujuan agar syaraf otak
dan akal agar tetap sehat.

4. Memelihara Keturunan

Tujuan hukum Islam yang ke empat yaitu memelihara keturunan seperti apa yang
telah dijelaskan di dalam alquran bahwasanya perbuatan zina itu haram adapaun
keharaman zina itu tidak lain agar keturunannya terhormat dan bermartabat sehingga
diharamkanlah zina dan perbuatan-perbuatan yang bisa merusak keturunan.

5. Memelihara Harta

Tujuan hukum Islam yang kelima adalah memelihara harta seperti yang telah
dijelaskan di dalam Al-Qur’an, bahwasanya harta merupakan suatu warisan atau titipan
yang diberikan oleh Allah SWT kepada manusia agar mereka menjaganya dengan baik
adapun contohnya yaitu ditegaknya hukum waris terhadap sesuatu benda yang dilindungi
oleh hukum tujuannya agar manusia tidak seenaknya dalam mengambil sesuatu yang
bukan miliknya ataupun merampas sesuatu dari pemilik yang sah.