Anda di halaman 1dari 31

Mata Kuliah Dosen Pengampu

Intervensi Non Klinis Hirmaningsih S. Psi, M.Psi, Psi

RANCANGAN INTERVENSI NON KLINIS

“Pengaruh Pemberian Permainan Tradisional Gobag Sodor Terhadap


Penyesuaian Sosial Anak Sekolah Dasar”

Disusun oleh :
Nafatalia Isdarina
Tartini

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU
TP. 2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kehidupan seorang anak sebagian besar tidak lepas dari teman-temannya.
Mereka melakukan kegiatan belajar hingga bermain bersama-sama. Proses
sosialisasi anak ini tidak lepas dari penyesuaian sosial. Anak yang tidak memiliki
penyesuaian sosial dengan baik biasanya menyendiri, tidak bisa bergaul dengan
teman-temannya. Sebaliknya, anak yang memiliki penyesuaian sosial bisa
bergaul dengan teman-temannya dengan luwes. Anak yang bisa melakukan
penyesuaian sosial mempunyai dampak positif, yaitu dapat membangun sikap
sosial yang menyenangkan, seperti kesediaan untuk membantu orang lain
(Hurlock, 2002).
Hurlock (2002) mendefinisikan penyesuaian sosial sebagai keberhasilan
seseorang untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri terhadap orang lain pada
umumnya dan terhadap kelompok pada khususnya. Seorang anak jika mengalami
kesulitan dalam melakukan penyesuaian sosial di sekolahnya maka akan
memiliki ketidakmampuan dalam bergaul dengan teman sebayanya. Anak
sekolah yang bergaul dengan temannya, misal melalui permainan dapat
menyesuaikan diri lebih mudah daripada anak-anak yang tidak bermain dengan
temannya. Interaksi yang dialami anak dengan teman-temannya mempunyai
peran yang penting dalam perkembangan sosial anak. Interaksi ini meningkat
semakin kuat dan menjadi hal yang umum setelah umur 6 tahun.
Permainan merupakan salah satu cara bagi anak agar memiliki
penyesuaian sosial terhadap lingkungannya. Menurut Tedjasaputra (2001)
melalui kegiatan bermain bersama teman-temannya, egosentrisme anak semakin
berkurang, dan secara bertahap berkembang menjadi makhluk sosial yang
bergaul dan menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya. Mulyadi (dalam
Raharjani, 2004) menambahkan sosialisasi dapat dipupuk melalui kesempatan
bermain bersama teman-teman sebayanya. Menurut Hurlock (2002) bermain
dianggap sebagai alat yang penting bagi sosialisasi. Sepanjang masa kanak-

1
kanak, bermain sangat mempengaruhi penyesuaian pribadi dan sosial terutama
permainan yang bernuansa sosial. Oleh karena itu, dalam permainan sosial anak
memang disituasikan serta didukung untuk terlibat secara aktif guna
berhubungan dengan teman sepermainannya (dalam Hartini, 2004; Fatmala,
2016)
Bentuk permainan juga mempengaruhi proses sosialisasi anak (Raharjani,
2004). Bentuk permainan secara umum ada dua, yaitu permainan modern dan
tradisional (Suyami, 2007). Aktivitas bermain anak merupakan salah satu sarana
yang digunakan untuk mempelajari suatu kemampuan apapun termasuk
bersosialisasi. Khususnya pada perkembangan sosial, bermain bersama teman
sebaya dapat meningkatkan sosialisasi anak (Raharjani, 2004). Jadi, suatu
permainan baik itu tradisional maupun modern yang dimainkan secara kelompok
dapat meningkatkan sosialisasi anak. Akan tetapi menurut Suyami (2007) sifat
permainan modern adalah personal, yaitu anak bermain sendiri, tidak berinteraksi
sosial dan tidak terlibat emosional dengan teman-temannya, sehingga
menyebabkan perkembangan jiwa si anak tidak bisa mengerti perasaan orang lain
dan tidak mampu melakukan musyawarah dengan teman lainnya. Sebaliknya,
dalam permainan tradisional anak terlibat secara emosional dengan teman lain,
merasa saling membutuhkan, sehingga akan berkembang menjadi generasi yang
bisa mengerti dan memahami perasaan orang lain. Salah satu permainan
tradisional yang diharapkan mampu meningkatkan penyesuaian sosial anak
adalah gobag sodor (Suyami, 2007).
Menurut Purwaningsih (2006) permainan tradisional gobag sodor
merupakan salah satu permainan yang dimainkan secara berkelompok..
Permainan gobag sodor ini dimainkan oleh 2 kelompok dengan sedikitnya 6
orang anak (Dekdikbud, 1981; Hanrianto, 2015). Permainan gobag sodor
merupakan permainan yang terdiri dari dua kelompok. Setiap kelompok terdiri
dari 4-7 anak atau menyesuaikan bentuk kotak. Untuk memenangkan permainan
gobag sodor dibutuhkan kerjasama dan kekompakan kelompok. Secara tidak

2
langsung anak-anak melakukan interaksi dan mendapatkan pengalaman dengan
teman dalam kelompoknya (dalam Siagawati, 2007; Hanrianto, 2015 ).
Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti memilih permainan tradisional,
yaitu gobag sodor sebagai intervensi yang akan digunakan untuk mengetahui
apakah permainan tradisional gobag sodor efektif terhadap penyesuaian sosial
anak sekolah dasar pada lingkungan sekolahnya, yaitu dengan teman-teman
sekolahnya. Berdasarkan latar belakang tersebut permasalahan yang peneliti
ajukan adalah efektifitas permainan tradisional gobag sodor terhadap
penyesuaian sosial anak sekolah dasar.
B. Tujuan dan Manfaat Intervensi
Tujuan yang ingin dicapai dalam intervensi ini adalah untuk mengetahui
efektivitas permainan tradisional gobag sodor terhadap penyesuaian sosial pada
anak sekolah dasar. Sedangkan manfaat yang hendak peneliti capai ialah sebagai
berikut;
1. Manfaat Teoritis
Mendapatkan pengetahuan tentang penyesuaian sosial melalui permainan,
sehingga pembaca dapat menambah ilmu pengetahuan khususnya dibidang
psikologi pendidikan anak, perkembangan anak, sosial, dan budaya tradisional
2. Manfaat Praktis
a) Bagi anak, mendapatkan ilmu permainan yang dibutuhkan untuk usia 8-
11 tahun dimana pada usia ini anak lebih fokus untuk mengembangkan
skill interaksi sosialnya dengan teman sebaya, dewasa, dan lingkungan
sekitar, sehingga anak memiliki penyesuaian sosial yang baik.
b) Bagi orang tua, memberikan informasi dan pengetahuan bahwa
permainan tradisional merupakan aset budaya yang perlu dijaga, tidak
hanya sebagai identitas budaya daerah tetapi permainan tradisional
memberikan efek positif terhadap penyesuaian sosial anak, dimana
penyesuain sosial anak berguna untuk masa depan perkembangan anak.
c) Bagi guru, memberikan informasi atau pengetahuan bahwasanya
permainan tradisional ini bisa dijadikan alternative bermain atau olah raga

3
anak di sekolah. Tidak hanya dengan permainan modern saja tetapi
permainan tradisional juga memiliki efek positif terhadap penyesuaian
sosial anak usia 8-11 tahun.
d) Bagi pembaca, memberikan refrensi mengenai permainan tradisional dan
perkembang anak.
C. Hasil Penelitian yang Mendukung
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Hanrianto (2015) yang
berjudul “Pengaruh Permainan Tradisional Gobag Sodor Terhadap Peningkatan
Kemampuan Penyesuaian Sosial Siswa Kelas IV di Madrasah Ibtidhaiyah
Yaspuri kota Malang”, hasil pnelitian menunjukkan permainan tradisional gobag
sodor efektif untuk meningkatkan kemampuan penyesuaian sosial siswa kelas
IV.
Penelitian lain yang mendukung ialah dari Wahyuni (2009) berjudul
“Efektivitas pemberian permainan tradisional gobag sodor terhadap
penyesuaian sosial anak sekolah dasar negeri Cakraningratan Surakarta”, hasil
mengungkapkan bahwa kelompok eksperimen yang diberi perlakuan permainan
tradisional gobag sodor mempunyai penyesuaian sosial lebih baik daripada
kelompok kontrol.
Hasil penelitian lain yang mendukung ialah penelitian dari Listyaningrum
(2018) yang berjudul “Pengaruh Permainan Tradisional Gobag Sodor Terhadap
Sikap Sosial Siswa Kelas III SDN 01 Manguharjo Kota Madiun”, Hasil
penelitian menunjukkan bahwa permainan tradisional Gobag Sodor efektif untuk
meningkatkan sikap sosial anak sekolah dasar.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Penyesuaian Sosial Siswa Sekolah Dasar
1. Penyesuaian Sosial
a. Pengertian Penyesuaian Sosial
Hurlock (2002) mendefinisikan penyesuaian sosial sebagai
keberhasilan seseorang untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri terhadap
orang lain pada umumnya dan terhadap kelompok pada khususnya.
Penyesuaian sosial merupakan suatu cara untuk menyesuaikan terhadap
tuntutan dan batasan dalam masyarakat termasuk kemampuan bekerja
secara harmonis serta mendapatkan kepuasan dalam interaksi sosial (APA,
2007).
Menurut Agustiani (2006) penyesuaian sosial merupakan penyesuaian
yang dilakukan individu terhadap lingkungan di luar dirinya, seperti
lingkungan rumah, sekolah, dan masyarakat. Penyesuaian sosial
merupakan kemampuan atau kapasitas yang dimiliki individu untuk
bereaksi secara efektif dan wajar terhadap realita, situasi, dan hubungan
sosial sehingga tuntutan hidup bermasyarakat terpenuhi dengan cara yang
dapat diterima dan memuaskan (Schneiders, 1964; Fatmala , 2016)
Menurut Kartono (dalam Hanrianto, 2015). penyesuaian sosial adalah
adanya kesanggupan untuk mereaksi secara efektif dan harmonis terhadap
realitas dan situasi sosial, dan bias mengadakan relasi sosial yang sehat.
Bisa menghargai individu lain dan menghargai hak-hak sendiri dalam
masyarakat. Bisa bergaul dengan orang lain dengan jalan membina
hubungan persahabatan yang kekal.
Kesimpulannya penyesuaian sosial adalah hubungan antara individu
dengan individu yang lain secara dua arah dalam suatu lingkungan yang
memiliki aturan tertentu, dan individu tersebut beradaptasi dengan
lingkungan tempat dia berada.

5
b. Aspek-aspek Penyesuaian Sosial
Hurlock (2002) mengemukakan aspek-aspek dalam penyesuaian
sosial, antara lain ;
1) Penampilan nyata
Over performance yang diperlihatkan individu sesuai norma yang
berlaku di dalam kelompoknya, berarti individu dapat memenuhi
harapan kelompok dan dapat diterima menjadi anggota kelompok
tersebut. Benuk dari penampilan nyata adalah aktualisasi diri,
keterampilan menjalin hubungan antar manusia dan kesedian untuk
terbuka terhadap orang lain.
2) Penyesuaian diri terhadap kelompok
Hal ini berarti bahwa individu tersebut mampu menyesuaikan diri
secara baik dengan setiap kelompok yang dimasukinya, baik teman
sebaya maupun orang dewasa. Bentuk dari penyesuaian diri terhadap
kelompok adalah kerjasama dengan kelompok, tanggung jawab serta
setia kawan.
3) Sikap sosial
Individu mampu menunjukkan sikap yang menyenangkan
terhadap orang lain, ikut pula berpartisipasi dan dapat menjalankan
perannya dengan baik dalam kegiatan sosial. Bentuk dari sikap ini
adalah ikut dalam kegiatan sosial, dapat menghargai pendapat orang
lain, dan mempunyai rasa empati.
4) Kepuasan pribadi
Hal ini ditandai dengan adanya rasa puas dan perasaan bahagia
karena dapat ikut ambil bagian dalam aktivitas kelompoknya dan
mampu menerima diri sendiri apa adanya dalam situasi sosial. Bentuk
aspek kepuasan pribadi adalah percaya diri dan disiplin. Kemampuan
tersebut akan membuat seseorang bertindak dinamis, luwes dan tidak
kaku sehingga menimbulkan rasa aman, tidak dihantui oleh kecemasan
dan ketakutan.

6
Berdasarkan uraian Hurlock di atas, dapat diambil kesimplan bahwa
kriteria dalam penyesuaian sosial adalah dapat menyesuaikan diri dengan
baik di lingkungan sosial, menunjukkan sikap yang menyenangkan dalam
bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain serta meras puas karena
dapat berhubungan baik dengan kelompok sosial dan menerima kelemahan
atau kekurangan dirinya, karena dengan kepercayaan diri yang baik
seseorang tidak akan mengalami hambatan dalam berinteraksi dengan
lingkungan.

c. Faktor Yang Mempengaruhi Penyesuaian Sosial


Menurut Agustiani (2006) penyesuaian sosial yang dilakukan oleh
individu dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu sebagai berikut:
1) Faktor kondisi fisik, yang meliputi faktor keturunan, kesehatan, bentuk
tubuh dan hal-hal lain yang berkaitan dengan fisik.
2) Faktor perkembangan dan kematangan, yang meliputi perkembangan
intelektual, sosial, moral dan kematangan emosional.
3) Faktor psikologis, yaitu faktor – faktor pengalaman individu, frustasi
dan konflik yang dialami, dan kondisi – kondisi psikologis seseorang
dalam penyesuaian diri.
4) Faktor lingkungan, yaitu kondisi yang ada pada lingkungan, seperti
kondisi keluarga, kondisi rumah.
5) Faktor budaya, termasuk adat istiadat dan agama yang turut
mempengaruhi penyesuaian diri seseorang.
2. Siswa Sekolah Dasar
a. Pengertian Anak Sekolah Dasar
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 66 Tahun
2010, sekolah dasar adalah salah satu pendidikan formal yang
menyelenggarakan pendidikan umum pada jenjang pendidikan dasar..
Suharjo (2006) menyatakan bahwa sekolah dasar pada dasarnya
merupakan lembaga pendidikan yang menyelenggarakan program

7
pendidikan enam tahun bagi anak-anak usia 6-12 tahun. Hal ini juga
diungkapkan Fuad Ihsan (2008) bahwa sekolah dasar ditempuh selama 6
tahun.
Usia sekolah dasar merupakan usia 6-12 tahun di mana anak
memperoleh dasar-dasar pengetahuan untuk keberhasilan penyesuaian diri
selanjutnya. Sehingga pada usia ini anak harus banyak bersosialisasi dan
beriteraksi dengan teman sebayanya dan orang-orang dewasa. Anak usia
sekolah dasar merupakan tahap awal anak sekolah dan belajar. Pada saat
anak jenuh dalam belajar, maka anak menghentikan sejenak kegiatan
belajar dan cara menghilangkan kejenuhan terhadap belajar adalah
bermain. (dalam Puri, 2017)
Di Indonesia, kisaran usia sekolah dasar berada di antara 6 atau 7
tahun sampai 12 tahun. Sekolah dasar ditempuh dalam waktu 6 tahun,
mulai dari kelas 1 sampai kelas 6.
b. Fase Anak Sekolah Dasar
Terdapat dua fase yang terjadi pada masa usia sekolah dasar, yaitu :
1) Masa kelas rendah sekolah dasar (usia 6 tahun sampai usia sekitar 8
tahun). Pada usia ini dikategorikan mulai dari kelas 1 sampai dengan
kelas 3.
2) Masa kelas tinggi sekolah dasar (usia 9 tahun sampai kira-kira usia 12
tahun) Pada usia ini dikategorikan mulai dari kelas 4 sampai dengan
kelas 6.
3. Intervensi untuk Meningkatkan Penyesuaian Sosial
Intervensi lain yang memungkinkan untuk meningkatkan penyesuaian
sosial adalah Latihan Keterampilan Sosial (Social Skill Training).
Berdasarkan penelitian Fatmala (2016) yang berjudul “Efektivitas social skill
training (SST) dalam meningkatkan kemampuan penyesuaian sosial siswa sd
kelas akselerasi”. Social skill training terbukti dapat dijadikan suatu
intervensi untuk meningkatkan penyesuaian sosial. Penelitian ini
menggunakan metode eksperimen dan rancangan penelitian pretest post test

8
control group design, alat ukur menggunakan skala likert, dan peneliti
menggunakan modul SST yang dirancang oleh peneliti. Proses pelaksanaan
pelatihan dilakukan selama 3 hari, pada setiap harinya pelatihan mulai dari
jam 09.00 hingga jam 15.00. dari penelitian ini diketahui bahwa social skill
training (SST) efektif untuk meningkatkan kemampuan penyesuaian sosial
siswa Sekolah Dasar.
Berdasarkan penelitian dari Mbadhi (2018) yang berjudul “Pengaruh
permainan tradisional petak umpet terhadap penyesuaian sosial anak usia
sekolah dasar”, hasil yang diperoleh ialah ada pengaruh yang positif
signifikan permainan tradisional petak umpet terhadap penyesuaian sosial
anak usia sekolah dasar. Metode penelitian ini ialah kuantitatif dengan subjek
sebanyak 57 anak kelas 4,5 dan 6. Manfaat pemainan tradisional petak umpet
didalamnya terdapat proses sosialisasi, proses sosialisasi ini tidak dapat
terpisah dari penyesuian sosial anak.
Penelitian selanjutnya yang dapat meningkatkan penyesuaian sosial
adalah dari Syahfitri (2019), penelitian ini menggunakan metode kuantitatif
dan kualitatif, hasil penelitian membuktikan kemampuan penyesuaian sosial
siswa mengalami peningkatan setelah diberikan treatment dengan
menggunakan teknik sosiodrama.
Penelitian ini menggunakan intervensi permainan tradisional gobag
sodor. Alasan peneliti menggunakan permainan tradisional gobag sodor
adalah permainan merupakan suatu hal yang banyak disukai kebanyakan anak.
Anak-anak lebih mampu berbagi secara jujur dan terbuka mengenai
perasaannya dalam sebuah permainan (Siagawati, 2007; Hanrianto, 2015).
Menurut Hurlock (2002) bermain dianggap sebagai alat yang penting bagi
sosialisasi. Sepanjang masa kanak-kanak, bermain sangat mempengaruhi
penyesuaian pribadi dan sosial terutama permainan yang bernuansa sosial.
Oleh karena itu, dalam permainan sosial anak memang disituasikan serta
didukung untuk terlibat secara aktif guna berhubungan dengan teman
sepermainannya (Hartini, 2004). Salah satu alasan peneliti menggunakan

9
permainan tradisional sodor sebagai faktor yang dianggap mampu untuk
meningkatkan kemampuan penyesuaian sosial. Mulai dari anak-anak sampai
yang dewasa, tetapi di daerah kota permainan ini jarang sekali dimainkan.
Dan dalam teori psikologi kognitif permainan gobag sodor merupakan
permainan aktif yang juga termasuk dalam kategori social play games with
rules yaitu permainan yang lebih banyak dikendalikan oleh peraturan
(Tedjasaputra, 2001). Menurut teori kognitif anak, Jean Piaget, social Play
Games with Rules merupakan tahap bermain anak untuk usia 8 sampai 11
tahun (Tedjasaputra, 2001). Oleh sebab itu dalam penelitian ini peneliti
memilih siswa SD kelas IV sebagai sampel dan untuk mengetahui apakah
permainan tradisional sodor ini memberikan pengaruh yang positif terhadap
penyesuian sosial anak usia 8-11 tahun.

B. Intervensi Permainan Tradisional Gobag Sodor


1. Pengertian Permaianan Tradisional Gobag Sodor
a. Pengertian Permainan
Permainan merupakan suatu kegiatan yang dicari dan dilakukan oleh
seseorang demi kegiatan itu sendiri, karena kegiatan tersebut memberikan
kesenangan (Gunarsa, 2007; Hanrianto, 2015). Permainan merupakan suatu
hal yang banyak disukai kebanyakan anak. Anak-anak lebih mampu
berbagi secara jujur dan terbuka mengenai perasaannya dalam sebuah
permainan (Siagawati, 2007; Hanrianto, 2015). Hurlock (2002) kegiatan
bermain dalam permainan itu ada 2 yaitu bermain aktif dan bermain pasif.
Bermain aktif adalah bermain yang melibatkan aktivitas tubuh atau
gerakan-gerakan, sedangkan bermain pasif adalah bermain sebagai
“hiburan”, menghabiskan sedikit tenaga. Menurut Hurlock (2002) bermain
dianggap sebagai alat yang penting bagi sosialisasi.
Beberapa penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
permainan merupakan suatu kegiatan atau aktifitas yang dilakukan seorang
anak dengan rasa senang tanpa ada paksaan dari orang lain dan

10
menimbulkan perasaan senang bagi yang melakukan permainan tersebut.
Permainan mempengaruhi perkembangan kognisi, bahasa, pengetahuan
tentang dunia, persepsi, perkembangan gerakan tubuh, perkembangan
sosial dan emosi. Permainan juga mempengaruhi penyesuaian sosial dan
diri terutama permainan yang bernuansa sosial.
b. Permainan Tradisional
Permainan tradisional atau permainan rakyat adalah suatu hasil
budaya masyarakat yang berasal dari jaman yang sangat tua, yang telah
tumbuh dan hidup hingga sekarang (Depdikbud, 1980/1981). Permainan
tradisional adalah segala bentuk permainan yang sudah ada sejak jaman
dahulu dan diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi
(Purwaningsih, 2006; Fatmala, 2016).
Menurut Jarahnitra (dalam Siagawati, 2007; Hanrianto, 2015) bahwa
permainan tradisional rakyat merupakan hasil budaya yang besar nilainya
bagi anak-anak dalam rangka berfantasi, berekreasi, berolahraga yang
sekaligus sebagai sarana berlatih untuk hidup bermasyarakat, ketrampilan,
kesopanan, serta ketangkasan. Dharmamulya (dalam Siagawati, 2007;
Hanrianto, 2015) menyatakan bahwa permainan tradisional merupakan
sarana untuk mengenalkan anak-anak pada nilai budaya dan norma-norma
sosial yang diperlukan untuk mengadakan hubungan atau kontak sosial dan
memainkan peran yang sesuai dengan kedudukan sosial dalam masyarakat.
Penjelasan beberapa ahli di atas dapat disimpulkan permainan
tradisional adalah permainan yang sudah ada sejak jaman dahulu yang
merupakan warisan turun temurun dari satu generasi ke generasi
selanjutnya. Permainan tradisional juga merupakan sarana untuk
memperkenalkan anak-anak terhadap nilai budaya dan norma sosial yang
dibutuhkan dalam mengadakan hubungan atua kontak sosial dalam
masyarakat.

11
c. Permainan Gobag Sodor
Menurut Ariani dkk, (2007) dalam penelitian Hanrianto (2015).awal
mula permainan tradisional gobag sodor muncul karena diilhami oleh
pelatihan prajurit kraton yang sedang melakukan perang-perangan yang
biasanya dilakukan di alun-alun. Permainan tradisional gobag sodor atau
sodoran ini dilakukan di alun-alun dengan masing-masing pemain
berkendaraan kuda, kejar mengejar dengan lawannya dan dengan sodoran
itu berusaha untuk menjatuhkan lawan dari kudanya. Kata “sodor” dalam
permainan ini berarti penjaga garis sodor atau garis sumbu yang membagi
dua garis-garis yang melintang dan paralel (Dekdikbud, 1980/1981;
Hanrianto, 2015).
Istilah “gobag” juga diartikan dengan jenis permainan anak yang
bertempat di sebidang tanah lapang yang telah diberi garis-garis segi empat
di petak-petak, yang dimainkan dengan bergerak bebas berputar, terdiri
dari dua regu, satu regu sebagai pemain dan satu regu sebagai penjaga,
masing-masing beranggotakan sekitar 4-8 orang yang disesuaikan dengan
jumlah kotak (Marsono dalam Siagawati dkk, 2007). Kalau garis melintang
yang membagi persegi panjang menjadi kotak ada 4 buah maka
membutuhkan 8 orang pemain, kalau garis melintangnya 5 buah, berarti
membutuhkan 10 orang pemain (Dekdikbud, 1980/1981). Istilah gobag
sodor ternyata berasal dari bahasa asing, yaitu go back to door. Perubahan
idiom tersebut ke dalam bahasa Jawa diakibatkan oleh penyesuaian lafal
(Ariani, 2007; Hanrianto, 2015). Akhirnya oleh masyarakat Jawa menjadi
“gobag sodor”.
Menurut Purwaningsih (2006) gobag sodor merupakan salah satu
permainan yang dimainkan secara berkelompok. Melalui permainan
tradisional gobag sodor seorang anak dapat berinteraksi dengan teman
sekelompoknya dan meningkatkan sosialisasinya. Mereka juga berbagi
pengalaman dalam permainan tersebut.

12
Menurut Dharmamulya (1993) dalam penelitian Fatmala (2015)
permainan tradisional gobag sodor merupakan permainan yang
berkelompok, maka kelompok tersebut harus kompak, masing-masing
anggota harus bekerja sama, saling membantu, dan saling mengenal tugas
dan kewajibannya.
Dalam teori psikologi kognitif permainan sodor merupakan
permainan aktif yang juga termasuk dalam kategori social play games with
rules yaitu permainan yang lebih banyak dikendalikan oleh peraturan
(Tedjasaputra, 2001). Menurut teori kognitif anak, Jean Piaget, social Play
Games with Rules merupakan tahap bermain anak untuk usia 8 sampai 11
tahun (Tedjasaputra, 2001).
2. Tujuan Permainan Gobag Sodor
Tujuan bermain gobag sodor untuk anak menurut Rahmawati (2016)
adalah sebagai berikut: untuk membina kekompakkan kelompok, melatih
bersosialisasi, menumbuhkan rasa kegembiraan, dan membina rasa tanggung
jawab melalui permainan ini anak-anak belajar untuk saling membantu dan
anak dapat mengembangkan kemampuan bekerjasama pada diri anak,
mengasah ketangkasan (motorik kasar), melatih kemampuan kepemimpinan.
3. Manfaat permainan Gobag Sodor
Manfaat permainan menurut Rusmawati (2004) antara lain:
a) Memperkuat motorik anak.
b) Anak dapat menyalurkan energi yang tertumpuk.
c) Anak dapat menyalurkan perasaannya yang terpendam.
d) Melalui permainan yang melibatkan banyak orang dan banyak aturan
dapat mengenalkan anak pada lingkungan sosial yang baru. Anak harus
belajar mematuhi peraturan, memupuk sifat jujur maupun sportivitas.
e) Bermain dapat merangsang kognitif anak.
f) Membantu dalam penyesuaian sosial, mengembangkan wawasan
sosialnya.
g) Bermain memungkinkan anak menyelesaiakan masalah emosi.

13
h) Melatih anak untuk berkomunikasi.
i) Sumber belajar.
j) Merangsang kreativitas anak.

Manfaat permainan tradisional gobag sodor adalah meningkatkan


kekompakkan, menghibur diri, menumbuhkan kretivitas, dan membentuk
kepribadian (Ardiwinata dkk, 2006). Permainan ini merupakan permainan
berkelompok, sehingga terjalin interaksi sosial antar individu. Manfaat
permainan yang dimainkan secara berkelompok adalah mengembangkan
hubungan sosial dengan teman bermainnya (Hartini, 2004).

Beberapa penjelasan di atas dapat disimpulkan manfaat permainan


antara lain, memperkuat motorik anak, anak dapat menyalurkan perasaannya
yang terpendam, melalui permainan yang melibatkan banyak orang dan
banyak aturan dapat mengenalkan anak pada lingkungan sosial yang baru,
anak harus belajar mematuhi peraturan, memupuk sifat jujur maupun
sportivitas, bermain dapat merangsang kognitif anak, membantu dalam
penyesuaian sosial, mengembangkan wawasan sosialnya, bermain
memungkinkan anak menyelesaiakan masalah emosi, melatih anak untuk
berkomunikasi, sumber belajar, dan merangsang kreativitas anak (dalam
Wahyuni, 2009)

4. Prosedur Pelaksanaan Permainan Gobag Sodor


Berdasarkan Penelitian Hanrianto (2015), prosedur pelaksanaan
intervensi permainan gobag sodor ialah sebagai berikut;
i. Persiapan
1) Persiapan Administrasi
Persiapan penelitian dimulai dengan perizinan penelitian skepada
pihak sekolah dengan membuat surat izin turun lapangan dari pihak
fakultas kepada pihak sekolah yang bersangkutan untuk melakukan
pelaksanaan penelitian.

14
2) Persiapan Alat Ukur
Peneliti menyusun skala untuk mengukur variabel penyesuaian
sosial, peneliti mengembangkan skala berdasarkan kajian teori yang
ada. Skala penyesuaian ini menggunakan aspek yang dikemukan
Hurlock (2000) yaitu penampilan nyata, penyesuaian diri terhadap
kelompok, sikap sosial, dan kepuasan pribadi. Dalam pilihan jawaban
terdapat empat pilihan jawaban, secara garis besar empat pilihan
jawaban tersebut menunjukkan kepada sangat setuju, setuju, tidak
sejutu, sangat tidak setuju.
3) Persiapan Partisipan
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian
Hanrianto (2015) adalah metode purposive sampling. Purposive
sampling adalah pemilihan sekelompok subjek didasarkan atas ciri-
ciri dan sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang
erat dengan ciri-ciri atau sifat populasi yang sudah diketahui
sebelumnya.
Sampel dalam penelitian ini terdiri dari satu kelompok
eksperiment yang berjumlah 16 siswa dan memiliki kriteria sebagai
berikut :
a) Subjek merupakan siswa sekolah MI Yaspuri berusia 8-11 tahun
b) Subjek memiliki skor pre-test tingkat rendah atau sedang
c) Subjek dalam kondisi sehat jasmani
d) Subjek jarang memainkan permainan tradisional
Maka dalam penelitian ini dari total 32 siswa kelas IV di
Madrasah Yaspuri dilakukan pre-test skala psikologi, kemudian
dianalisis menggunaka program SPSS 16.00 kemudiha dari hasil pre-
test peneliti mengambil 16 siswa yang memiliki hasil pre-test rendah
dan sedang. Dari 16 siswa terpilih peneliti memberikan treatmen
bermain Gobag Sodor untuk mengetahui pengaruh bermain Gobak
Sodor terhadap Penyesuaian Sosial 16 siswa tersebut.

15
4) Persiapan Modul
Modul permainan tradisional gobag sodor dalam penelitian
Hanrianto (2015) tersusun sebagai berikut; a) Perkenalan, b) Tujuan
dan pembagian kelompok c) Materi permainan sodor, dan d) Bermain
di Lapangan gobag sodor.
ii. Pelaksanaan
Berdasarkan Penelitian Hanrianto (2015), treatment dilakukan 3 hari
secara berkala selama seminggu, treatment dilakukan sebanyak 6 sesi
pertemuan sehingga treatment dilakukankan kurang lebih 2 minggu.
Pengisian skala penyesuaian sosial dilakukan kembali 1 hari setelah
pemberhentian perlakuan. Langkah-langkah permainan gobag sodor ialah
sebagai berikut;
1) Menyiapkan lapangan permainan tradisional gobag sodor berbentuk
persegi empat dengan luas yang disesuaikan dengan jumlah pemain.
Panjang persegi sekitar 10 meter dan lebarnya sekitar 5 meter. Setiap
jarak 2,5 meter ditarik garis lurus vertikal dan horizontal, sehingga
akan terbentuk 8 bujur sangkar sama besar yang saling berhimpitan,
dengan 4 bujur sangkar di atas dan 4 bujur sangkar di bawahnya
(Ariani dalam Hanrianto, 2015). Gambar lapangan tersebut adalah
seperti berikut:

2) Permainan dimulai dengan membagi menjadi 2 kelompok, yaitu


kelompok pemain dan kelompok penjaga, 1 kelompok terdiri dari 5
orang atau lebih.

16
3) Kelompok pemain dan penjaga diberitahu mengenai peraturan
permainan.
4) Pemenang suit berkewajiban melewati garis melintang pertama
hinggar terakhir dan kembali lagi ke garis pertama. Jika salah satu
anggota main tersentuh maka bergantilah pemain. Selain itu jika dalam
satu kotak terdapat tiga pemain maka pemain juga berganti. Beberapa
daerah menyebutnya dengan istilah gosong.
5) Berganti petak dengan pemain lain diperkenankan asal memberi tahu
dahulu. pemain lawan tersentuh oleh penjaga maka pemain pun gugur.
Kemenangan akan diperoleh grup jaga jika berhasil mengenai seluruh
pemain lawan.

iii. Tindak Lanjut


Tahap tindak lanjut adalah melakukan evaluasi melalui observasi
dan tanya jawab pada setiap sesi oleh fasilitator. Evaluasi ini membahas
respon-respon subyek selama mengikuti pelatihan, memantau
pemahaman subyek terhadap materi pelatihan serta untuk melihat
kekurangan dan kelebihan dari kegiatan pelatihan. Setelah dilakukan
pengukuran sebelum dan sesudah perlakuan maka dilakukan analisis hasil
Semua data yang diperoleh selama penelitian dikumpulkan kemudian
dianalisis dengan menggunakan program computer SPSS 16.00 for
windows. Karena sifat dalam penelitian ini adalah perbandingan maka
metode analisa statistic yang digunakan adalah t-test.Keberhasilan terapi
dapat dilihat dari analisis hasil melalui uji skor akhir.Apabila setelah
pemberian treatmen permainan sodor serta tingkat penyesuaian sosial
meningkat maka permainan sodor dapat dikatakan berhasil meskipun
peningkatan yang ditunjukkan belum tentu besar.

17
BAB III
RANCANGAN INTERVENSI
A. Tahap Persiapan
1. Persiapan Administrasi
Tahap persiapan administrasi dilakukan dengan meminta izin kepada
pihak sekolah SDN 037 Pekanbaru dengan membuat surat izin turun lapangan
dari pihak fakultas kepada pihak sekolah yang bersangkutan untuk melakukan
pelaksanaan intervensi bermain permainan tradisional gobag sodor pada siswa
SDN 037 Pekanbaru .
2. Persiapan Alat Ukur
a) Instrumen Skala
Skala dalam penelitian ini merupakan adaptasi dari skala yang
disusun Hanrianto (2015) yang telah teruji reliabilitas dan validitasnya.
Skala ini digunakan pada siswa kelas IV di Madrasah Ibtidhaiyah Yaspuri
Kota Malang. Dalam pilihan jawaban terdapat empat pilihan jawaban,
secara garis besar empat pilihan jawaban tersebut menunjukkan kepada
sangat setuju, setuju, tidak sejutu, sangat tidak setuju.
Pengujian reabilitas pada skala penyesuaian sosial menunjukkan nilai
koefisien reabilitas alpha (Koefisien Alpha Cronbach) yakni 0,931.
Koefisien keandalannya bergerak antara 0 sampai dengan 1,00. Semakin
tinggi koefisien reliabilitas mendekati angka 1,00 berarti semakin tinggi
reliabilitas. Sebaliknya koefisien yang semakin rendah mendekati angka 0
berarti semakin rendah reliabilitas (dalam Azwar, 2009; Hanrianto, 2015)

18
Skala yang digunakan peneliti menggunakan aspek-aspek
penyesuaian sosial dari Hurlock (2002) yaitu penampilan nyata,
penyesuaian diri terhadap kelompok, sikap sosial, dan kepuasan pribadi.
Berikut blueprint skala penyesuaian sosial oleh Hanrianto (2015) yang
akan dipakai oleh peneliti.
Tabel 2 Blueprint skala penyesuaian sosial
Aspek Favorable Unfavorable Jumlah
1. Penampilan Nyata 3, 23, 24, 55, 12, 14, 34, 35 ,57 13
54, 53 ,58, 57
2. Penyesuaian diri 4, 5, 6, 27, 52, 16, 37, 38, 39, 60, 13
terhadap kelompok 51, 50 61
3. Kelompok social 7, 29, 30, 31, 48 18, 19, 20, 40, 41, 12
42, 63
4. Kepuasan diri 11, 33, 45 22, 43, 44, 65, 66 8
Total 21 25 46

b) Kategorisasi
Dalam sebuah penelitian penentuan kategori kecenderungan tiap-tiap
variabel didasarkan pada norma atau ketentuan kategori. Kategori yang
digunakan adalah kategori tinggi, sedang dan rendah. Selanjutnya peneliti
menentukan kategori penyesuain sosial dengan menggunakan norma
standart pemberian kategorisasi sebagai berikut :
Tabel 3. Kategorisasi Skala penyesuaian sosial
Kategori Rentangan Skor Keterangan

Tinggi (μ + 1,0σ) ≤ X μ = mean ideal


σ = standar deviasi
Sedang (μ – 1,0σ) ≤ X (μ + 1,0σ)
X = skor yang
Rendah X < (μ – 1,0σ)
diperoleh

19
Selanjutnya dari ketiga kategorisasi tersebut disusun dengan
langkah-langkah sebagai berikut:

Tabel 4. Perhitungan Nilai Tertinggi, Terendah, Mean Ideal dan SD


No. Penilaian Rumus
1. Nilai tertinggi Skor tertinggi x item
2. Nilai terendah Skor terendah x item
3. Mean ideal ½ (skor tertinggi+ skor terendah)
4. Standar deviasi 1/6 ( skor tertinggi-skor terendah)
(SD)

c) Observasi
Observasi yang dilakukan adalah observasi non partisipan. Hal yang
menjadi materi observasi adalah pada aktivitas subjek yang diamati
dengan teliti terutama hal nonverbal seperti interaksi antar teman,
komunikasi antar teman, kerjasama antar terman, dan lain lain. Observasi
ini dilakukan dari awal sampai akhir perlakuan permainan Gobag Sodor.
Observasi dilakukan untuk mengetahui proses intervensi.
Tabel 4. Blueprint Observasi penyesuaian sosial
Konstruk Aspek Indikator
Variabel
Penampilan nyata 1. Aktualisasi diri tinggi
2. Keterampilan menjalin
hubungan dengan orang lain
3. Kesediaan untuk terbuka
pada orang lain
Penyesuaian diri 1. Mampu bekerjasama dengan
terhadap kelompok orang-orang disekitarnya.
Penyesuaian
2. Punya tanggung jawab
Sosial
3. Punya kesetiakawanan
Sikap sosial 1. Aktif dalam kegiatan sosial
2. Punya empati
3. Menghargai pendapat orang
lain
Kepuasan pribadi 1. Percaya diri
2. Disiplin

20
3. Persiapan Partisipan
Persiapan partisipan dengan diawali dengan screening subjek yang
memenuhi kriteria sebagai partisipan yakni dengan melakukan pengukuran
awal untuk mengetahui tingkat penyesuaian sosial siswa sebelum pemberian
perlakuan. Alat ukur yang digunakan adalah skala penyesuaian sosial yang
telah diuji valid. Pengambilan data pengukuran awal dilakukan dengan tujuan
untuk membuat kategorisasi tingkat penyesuaian sosial. Subjek yang memiliki
tingkat penyesuaian sosial rendah akan menjadi subjek penelitian.
Populasi dari penelitian ini adalah anak usia 8-11 tahun siswa SDN
037 Pekanbaru. Sampel adalah sebagian dari populasi yang karateristiknya
akan di teliti. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian
ini adalah metode purposive sampling. Purposive sampling adalah pemilihan
sekelompok subjek didasarkan atas ciri-ciri dan sifat tertentu yang dipandang
mempunyai sangkut paut yang erat dengan ciri-ciri atau sifat populasi yang
sudah diketahui sebelumnya. Teknik ini mencapai tujuan-tujuan tertentu..
Sampel dalam penelitian ini terdiri dari 10 siswa dan memiliki kriteria
sebagaii berikut :
1) Subjek merupakan siswa sekolah dasar berusia 8-11 tahun
2) Subjek memiliki skor pre-test tingkat rendah atau sedang
3) Subjek dalam kondisi sehat jasmani
4) Subjek jarang memainkan permainan tradisional
Dari 10 siswa terpilih peneliti akan memberikan treatmen bermain
Gobag Sodor untuk mengetahui pengaruh bermain Gobag Sodor terhadap
Penyesuaian Sosial 10 siswa tersebut.
4. Persiapan Modul
Modul pada intervensi ini diadopsi berdasarkan penelitian Hanrianto
(2015) yang dimodifikasi disesuaikan dengan konteks penelitian. Modul
pelatihan yang telah disusun dilakukan expert judgement untuk memberikan
kelayakan seluruh prosedur yang akan dilakukan dalam proses treatment.
Adapun expert judgment dilakukan oleh Hirmaningsih, M.Psi, Psikolog.

21
Nama pelatihan untuk meningkatkan penyesuaian sosial ini adalah
“Permainan gobag sodor”, gobag sodor merupakan salah satu permainan
yang dimainkan secara berkelompok. Melalui permainan tradisional gobag
sodor seorang anak dapat berinteraksi dengan teman sekelompoknya dan
meningkatkan sosialisasinya.
Tujuan intervensi bermain gobag sodor untuk anak menurut Rahmawati
(2016) adalah sebagai berikut: untuk membina kekompakkan kelompok,
melatih bersosialisasi, menumbuhkan rasa kegembiraan, dan membina rasa
tanggung jawab melalui permainan ini anak-anak belajar untuk saling
membantu dan anak dapat mengembangkan kemampuan bekerjasama pada
diri anak, mengasah ketangkasan (motorik kasar), melatih kemampuan
kepemimpinan
Tabel 5. Kisi-kisi Modul Penyesuaian Sosial
No. Sesi Tujuan Materi Waktu
1 Treatmen Treatment bertujuan untuk Subjek dijelaskan 26
1 meningkatkan aktualisasi diri, mengenai permainan November
keterampilan berhubungan gobag sodor dan 2019 pukul
dengan orang lain dan aturannya. Subjek 10.00-11.00
kesediaan terbuka dengan diberi penjelasan WIB
orang lain yang merupakan untuk terbuka pada
bentuk dari aspek penyesuaian orang lain.
diri yaitu penampilan nyata
Hurlock (2002). Kemudian
subjek dapat memahami cara
melakukan permainan gobag
sodor.
2 Treatmen Treatment ini bertujuan untuk Subjek bermain 28
2 meningkatkan kerjasama gobag sodor dan November
dengan kelompok, tanggung diberi penjelasan 2019 pukul
jawab dan setia kawan yang tentang pentingnya 10.00-11.30
merupakan indikator dari bekerja sama serta
aspek penyesuaian diri siswa setia kawan meski
terhadap kelompok pada anggota kelompok
penyesuaian diri. bukan teman dekat.

22
3 Treatmen Treatment pada penelitian ini Subjek bermain 29
3 bertujuan untuk meningkatkan gobag sodor dengan November
sikap sosial dan kepuasan bernyanyi. 2019
pribadi siswa yang merupakan pukul10.00-
aspek dari penyesuaian sosial. 11.30
Hurlock (2002).
4 Treatmen Treatment bertujuan untuk Subjek dijelaskan 03
4 meningkatkan aktualisasi diri, mengenai permainan Desember
keterampilan berhubungan gobag sodor dan 2019 pukul
dengan orang lain dan aturannya. Subjek 10.00-11.00
kesediaan terbuka dengan diberi penjelasan WIB
orang lain yang merupakan untuk terbuka pada
bentuk dari aspek penyesuaian orang lain.
diri yaitu penampilan nyata
Hurlock (2002). Kemudian
subjek dapat memahami cara
melakukan permainan gobag
sodor.
5 Treatmen Treatment ini bertujuan untuk Subjek bermain 05
5 meningkatkan kerjasama gobag sodor dan Desember
dengan kelompok, tanggung diberi penjelasan 2019 pukul
jawab dan setia kawan yang tentang pentingnya 10.00-11.30
merupakan indikator dari bekerja sama serta
aspek penyesuaian diri siswa setia kawan meski
terhadap kelompok pada anggota kelompok
penyesuaian diri. bukan teman dekat.

6 Treatmen Treatment pada penelitian ini Subjek bermain 06


6 bertujuan untuk meningkatkan gobag sodor dengan Desember
sikap sosial dan kepuasan bernyanyi. 2019
pribadi siswa yang merupakan pukul10.00-
aspek dari penyesuaian sosial. 11.30
Hurlock (2002).

5. Persiapan Pelaksanaan
Berdasarkan penelitian Hanrianto (2015), peneliti akan melakukan
treatment sebanyak 6 kali pertemuan, yaitu dari tanggal 14 November s.d 13

23
Desember 2019. Modul pada intervensi ini diadopsi berdasarkan penelitian
Hanrianto (2015) dengan memodifikasi beberapa pernyataan yang disesuaikan
dengan konteks penelitian. Treatment dilakukan 6 kali pertemuan secara
berkala selama seminggu, dan pengisian skala penyesuaian sosial dilakukan
kembali 1 hari setelah pemberhentian perlakuan.
a. Jadwal Pelaksanaan
Jadwal pelaksanaan intervensi gobag sodor disesuaikan berdasarkan
modul dan jam pelajaran siswa.
Tabel 6. Jadwal Pelaksanaan Kegiatan
No Kegiatan Waktu (WIB) Tanggal
1 Perizinan penelitian 09.00-11.00 14 November 2019
dan pemilihan subjek
2 Pretest 10.00-11.00 18 November 2019
3 Treatmen 1 10.00-11.11 26 November 2019
4 Treatmen 2 10.00-11.30 28 November 2019
5 Treatmen 3 10.00-11.30 29 November 2019
6 Treatmen 4 10.00-11.30 03 Desember 2019
7 Treatmen 5 10.00-11.30 05 Desember 2019
8 Treatmen 6 10.00-11.30 06 Desember 2019
9 Posttest 10.00-11.00 07 Desember 2019
10 Follow Up 10.00-10.30 13 Desember 2019

B. Tahap Pelaksanaan
Tahap pelaksanaan disusun sebagai acuan bagi peneliti untuk melakukan
intervensi. Prosedur pelaksanaan dalam intervensi ini dibagi menjadi 3 tahap,
yaitu: Pre-Test, Pemberian Pelatihan, dan Post-Test.
a. Pre-Test
Tahap Pre-Test`peneliti menganalisis dengan melakukan pengukuran
awal untuk mengetahui tingkat penyesuaian sosial sebelum pemberian
perlakuan. Alat ukur yang digunakan adalah skala penyesuaian sosial yang
telah diuji valid. Pengambilan data pengukuran awal dilakukan dengan tujuan
untuk membuat kategorisasi tingkat penyesuaian sosial. Pada Tahap Pre-Test

24
ini, peneliti menyebarkan skala kepada seluruh siswa-siswi yang berada dalam
1 kelas yang sama yakni kelas IV SD. Setelah skala diisi oleh siswa, peneliti
membuat kategorisasi tingkat penyesuaian sosial pada setiap siswa dan
memilih 10 orang siswa dengan skor terendah untuk diberikan intervensi
bermain gobag sodor.
b. Pemberian Perlakuan
Setelah melakukan pengukuran dan menentukan partisipan, maka tahap
selanjutnya adalah pemberian perlakuan berdasarkan modul yang telah
disusun. Treatment terdiri dari 6 kali pertemuan dengan durasi 45 menit setiap
sesi pertemuannya. Berdasarkan Penelitian Hanrianto (2015), langkah-langkah
permainan gobag sodor ialah sebagai berikut;
i. Menyiapkan lapangan permainan tradisional gobag sodor berbentuk
persegi empat dengan luas yang disesuaikan dengan jumlah pemain.
Panjang persegi sekitar 10 meter dan lebarnya sekitar 5 meter. Setiap jarak
2,5 meter ditarik garis lurus vertikal dan horizontal, sehingga akan
terbentuk 8 bujur sangkar sama besar yang saling berhimpitan, dengan 4
bujur sangkar di atas dan 4 bujur sangkar di bawahnya (Ariani, 2007;
Hanrianto,2015). Gambar lapangan tersebut adalah seperti berikut:

ii. Permainan dimulai dengan membagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok


pemain dan kelompok penjaga, 1 kelompok terdiri dari 5 orang atau lebih.
iii. Kelompok pemain dan penjaga diberitahu mengenai peraturan permainan.

25
iv. Pemenang suit berkewajiban melewati garis melintang pertama hinggar
terakhir dan kembali lagi ke garis pertama. Jika salah satu anggota main
tersentuh maka bergantilah pemain. Selain itu jika dalam satu kotak
terdapat tiga pemain maka pemain juga berganti. Beberapa daerah
menyebutnya dengan istilah gosong.
v. Berganti petak dengan pemain lain diperkenankan asal memberi tahu
dahulu. pemain lawan tersentuh oleh penjaga maka pemain pun gugur.
Kemenangan akan diperoleh grup jaga jika berhasil mengenai seluruh
pemain lawan.
c. Post-Test
Setelah perlakuan diberikan, peneliti melakukan pengukuran akhir dengan
menggunakan skala penyesuaian sosial. Pengukuran ini setelah pemberian
perlakuan dengan tujuan untuk mengetahui tingkat penyesuaian sosial pada
siswa sebelum diberikan perlakuan dan setelah dilakukannya perlakuan. Hasil
pengukuran awal dan pengukuran akhir dianalisa dengan menggunakan
perhitungan secara statistik.

C. Tahap Tindak Lanjut

Tahap tindak lanjut yaitu berupa evaluasi, penyesuaian sosial siswa diukur
kembali dengan skala penyesuaian sosial. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
stabilitas peningkatan penyesuaian sosial pada siswa yang dihasilkan dari
intervensi tersebut. Hal ini juga dapat dilakukan untuk melihat seberapa lama
efek dari bermain gobag sodor berpengaruh terhadap peningkatan penyesuaian
sosial. Pengukuran tindak lanjut (follow up) dilaksanakan seminggu setelah
pemberian intervensi.

26
DAFTAR PUSTAKA

Agustiani, H. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Refika Aditama.

Fatmala, Kiki Dkk. 2016. Efektivitas Social Skill Training (Sst) Dalam Meningkatkan
Kemampuan Penyesuaian Sosial Siswa Sd Kelas Akselerasi. E-Issn:
2549-2136. Vol. 11, No. 1, Hal.47-60universitas Sumatera
Utarauniversitas Sumatera Utara

Hanrianto, Surya. 2015. Pengaruh Permainan Tradisional Gobag Sodor Terhadap


Peningkatan Kemampuan Penyesuaian Sosial Siswa Kelas Iv Di
Madrasah Ibtidhaiyah Yaspuri Kota Malang. Fakultas Psikologi.
Universitas Islam Negeri (Uin) Maulana Malik Ibrahim Malang

Hurlock, E.B (2002). Psikologi Perkembangan. 5th edition. Erlanga: Jakarta.

Listyaningrum, dwi. 2018. Pengaruh Permainan Tradisional Gobag Sodor Terhadap


Sikap Sosial Siswa Kelas III SDN 01 Manguharjo Kota Madiun. Vol.
3, No. 2, Desember 2018, hal 108-112. ISSN 2528-6293

Mbadhi, Valentina Dkk. 2018. Pengaruh Permainan Tradisional Petak Umpet


Terhadap Penyesuaian Sosial Anak Usia Sekolah Dasar. Volume 1,
Nomor 2, Juli-Desember. E-Issn : 2615-1448. Universitas Flores

Puri, Sekar Wahyuning.2017. Sikap Siswa Kelas Atas Sd Negeri Tamanan 1 Kalasan
Terhadap Kebersihan Pribadi. Universitas Negeri Yogyakarta

Rahmawati Diah Dan Rosalia Destarisa.2016. Aku Pintar Dalam Bermain.Solo: Tiga
Serangkai.

Syahfitri, Nurma Ningsih Dkk. 2019. Penerapan Sosiodrama Untuk Meningkatkan


Kemampuan Penyesuaian Sosial Siswa Sekolah Menengah Pertama.
Volume 4 Nomor 2. Universitas Syiah Kuala

Thejasaputra, Mayke s.2001.Bermain, Mainan dan Permainan, Jakarta:PT.Gramedia

27
Wahyuni, Sri Ika. 2009. Efektivitas Pemberian Permainan Tradisional Gobag Sodor
Terhadap Penyesuaian Sosial Anak Sekolah Dasar Negeri
Cakraningratan Surakarta. Program Studi Psikologi, Universitas
Sebelas Maret Surakarta

28
LAMPIRAN

29
30