Anda di halaman 1dari 15

1

BAB II

PEMBAHASAN

SKENARIO 1

SARIAWAN TERJADI LAGI

Seorang perempuan berusia 30 tahun datang ke RSGM dengan keluhan sariawan


yang sering kambuh. Sariawan muncul saat akan datang muncul sehingga
akhirnya memutuskan konsultasi ke dokter gigi. Pernah diobati dengan obat
kumur, namun tidak mengurangi rasa sakit dan tak nyaman saat makan. Sariawan
biasanya sembuh dalam waktu lebih kurang 10 hari. Pada pemeriksan ekstra oral
terlihat ulser berjumlah 2 buah, berukuran lebih kurang 8 mm, tepi eritema, di
mukosa labial atas. Semua penyakit terdapat dalam al quran atau tafsir karena
setiap penyakit ada obatnya.

Diskusikan dengan langkah seven jump !

Step 1 : Klasifikasi Istilah

1. Sariawan
kelainan selaput lendir pada mulut, luka di dalam mulut yang sakit
berbentuk oval atau bulat bewarna merah, bewarna putih kemerahan,
gejala sebagai respon tubuh, luka kecil di dasar gusi, disebabkan oleh
infeksi virus, menyerang mukosa yang tidak berkeratin misal di labial.
2. Datang bulan
peluruhan dinding rahim pada wanita 1 kali sebulan, minimal 1 hari satu
malam atau lebih.
3. Tepi eritema
tepi yang memerah, sebuah kondisi kulit ditandai ruam , bercak pada
mukosa karna pelebaran, bersifat akut dan dapat sembuh.
4. Konsultasi
dimana pasien datang ke dokter untuk konsultasi apakah ada penyakit atau
tidak, bertanya jawab
5. Ulser
suatu defek pada jar. epitel yang kehilangan lapisan epidermis
6. Mukosa
lapisan kulit dalam yang tertutup dan proses sekresi
2

Step 2 : Menetapkan Permasalahan


1. Apa penyebab sariawan ketika datang bulan ?
2. Apa diagnosis pada skenario ?
3. Kenapa sariawan dapat sembuh setelah 10 hari ?
4. Apa ada pencegahan pada skenario ?
5. Apa pengobatan pada kasus di skenario?
6. Apa etiologi pada skenario ?
7. Apakah ada etiologi lain dari skenario ?
8. Apa klasifikasi dari skenario ?
9. Apa pemeriksaan yang ada pada skenario?
10. Ayat yang dapat menjelaskan kasus pada skenario?

Step 3 : Brainstroming / Curah pendapat


1. Apa penyebab sariawan ketika datang bulan ?
Jawab: hormon progesteron penuruhan hormon sehingga suplay darah
dan rentan terhadap iritasi lokal,
2. Apa diagnosis pada skenario ?
Jawab: diagnosis stomatitis rekuren
3. Kenapa sariawan dapat sembuh setelah 10 hari ?
Jawab: terjadi karena mentruasi sehingga mengalami perubahan
hormon sehingga sariwan juga akan hilang
4. Apa ada pencegahan pada penyakit di skenario ?
Jawab: hindari stress, menjaga rongga mulut dan pola makan,
kekurangan vitamin , mengkomsumsi vit b 12, hindari makan pedas
dan pemberian antibiotik, makanan zat besi, memeriksan gigi dan
mulut ke dokter gigi,
5. Apa pengobatan pada kasus di skenario?
Jawab: memakai analgetik, tropikal antibodi, vitamin c , obat kumur ,
jika untuk anak anak paracetamol, anti inflamasi dan antibiotik
6. Apa etiologi pada skenario ?
Jawab: etiologi karana penurunan hormon progesteron, pasta gigi
bersifat sodium, infeksi bakteri yg berperan steptococcus sanguis,
trauma seperti tergigit, kuran nutrisi, auto umum, dan gigi tiruan,
deficiensi vitamin c, kekurangan zat besi, dan imunologi , tidak
diketahui penyebab sebenarnya dilihat dari faktor predisposisi
7. Apa klasifikasi dari skenario ?
Jawab: ada 3 : tipe minor terjadi pada 75 – 80 % sembuh 10 sampai 15
hari, mayor (terjadi dengan gejala demam, 2- 3 cm di mulut,
3

berlangsung lebuh lama , 10- 15 %), dan hipertiform( 5-10% ,10 – 12


hari akan sembuh lesi berkemlompok)
8. Apa pemeriksaan yang lain pada skenario?
Jawab: pem. Lab: kultur virus dari vesikel stomatitis sendiri, pem
penunjang :sweb untuk virus, pem. visual
9. Ayat yang dapat menjelaskan kasus pada skenario?
Jawab: hadist H. Bukhari : tidaklah allah menurunkan penyakit jika
tidak ada obatnya
4

Step 4 : Menganalisis Permasalahan

SARIAWAN TERJADI LAGI

PEMERIKSAAN SUBJEKTIF PEMERIKSAAN OBJEKTIF PEMERIKSAAN PENUNJANG

ANAMNESIS INTRA ORAL EKSTRA ORAL

DIAGNOSIS

PROGNOSIS

Step 5 : Mengambil Kesimpulan dan Menetapkan Tujuan Pembelajaran

1. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang pemeriksaan


dari sariawan
2. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang diagnosis
utama (kerja) dan diagnosis banding (DD) dari sariawan
3. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang faktor
predisposisi (pendukung, etiologi )dari sariawan
4. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang rencana
perawatan dari sariawan
5. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang klasifikasi
dari sariawan
6. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang prognosis dari
sariawan
5

Step 6 : Mencari sumber melalui artikel, literature, buku, dan bertanya


kepada pakar dan mendiskusikannya

1. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang pemeriksaan dari


sariawan

PEMERIKSAAN FISIK

1. Apusan (swab), baik untuk infeksi bakteri dan virus.


2. Kerokan atau swab jaringan untuk infeksi jamur.
3. Biopsi, atau pengangkatan sel atau jaringan untuk penelitian lebih lanjut.
4. Tes darah.
5. Tes tempel untuk mengidentifikasi alergi.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

 Dilakukan pengolesan lesi dengan toludin biru 1% dengan swab atau


kumur sedangkan diagnosis pasti dengan menggunakan anbiopsi

PEMERIKSAAN LABORATURIUM

1. WBC menurunkan stomatitis sekunder


2. Pemeriksaan virus: cairan vesikel dari herpes simplek stomatitis
3. Pemeriksaan cultur bakteri: eksudat untuk membentuk vincent’s stomatitis

2. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang diagnosis utama


(kerja) dan diagnosis banding (DD) dari sariawan

PERBEDAAN ULCERASI LISAN

Sebelum membuat diagnosis ras, penyebab yang berpotensi


terabaikan untuk ulkus oral harus dipertimbangkan. beberapa kondisi
dapat hadir dengan ulkus aphthous mukosa, yang memerlukan
pemeriksaan menyeluruh untuk mempersempit diferensial. Pemeriksaan
fisik harus digunakan untuk menyaring trauma akibat peralatan gigi, erupsi
vesiculobullous yang meluas, dan tanda-tanda ketidakseimbangan hormon.
Kehadiran demam harus segera dilakukan pemeriksaan infeksi, dan jika
demam berulang, sindrom demam . Pekerjaan darah harus digunakan
untuk menyingkirkan defisiensi dan antibodi hematologi atau nutrisi yang
berkaitan dengan autoimunitas. Diagnosis banding untuk ulserasi oral
6

meliputi beberapa entitas, termasuk stomatitis aphthous berulang, sindrom


mukokutan yang diinduksi obat, kelainan autoimun, kelainan hematologis,
kelainan nutrisi, sindrom demam, penyakit vesiculobullous, dan infeksi.
ras tidak dapat dibuat kecuali sebab lain untuk stomatitis aphthous telah
dipertimbangkan dan diberhentikan. Stomatitis aphthous berulang. ras,
penyakit paling umum yang mempengaruhi rongga mulut, ditandai dengan
gangguan berulang pada mukosa mulut dalam bentuk ulkus yang
menyakitkan.1 itu adalah diagnosis eksklusi, dan penyebab lain stomatitis
ulseratif harus dieksplorasi sebelum diagnosis ras adalah terbuat. ras
menyumbang 25 persen dari ulkus berulang pada orang dewasa dan 40
persen pada anak-anak.4 keparahan stomatitis diwakili oleh salah satu dari
tiga subtipe. RAS minor. Ras minor adalah bentuk yang paling umum dan
biasanya terjadi pada pasien yang berusia 5 hingga 19 tahun. wabah
dicirikan oleh beberapa ulserasi bulat, superfisial, yang <10mm dan
disertai oleh pseudomembran abu-abu dan hal eritematosa. 5 Aphthae
minor biasanya terbatas pada bibir, lidah, dan mukosa bukal.

Ras mayor memiliki distribusi yang lebih luas (umumnya meluas


ke gingiva dan mukosa faring), berukuran lebih besar, (> 10mm), dan
memiliki durasi wabah yang lebih lama. Aphthae minor biasanya sembuh
dalam 14 hari presentasi, sedangkan aphthae mayor dapat bertahan selama
lebih dari enam minggu. lebih lanjut, aphthae utama menimbulkan risiko
jaringan parut yang signifikan juga RAS herpetiform. herpetiform ras
hadir dengan puluhan borok kecil dan dalam yang sering menyatu dan
oleh karena itu hadir sebagai borok besar dengan kontur tidak teratur.
wabah tidak menyebabkan kematian dan biasanya sembuh dalam waktu
satu bulan. terlepas dari subtipe, lesi ras dapat mengganggu kemampuan
seseorang untuk berbicara, menelan, dan menjaga kebersihan gigi secara
efektif.

DIAGNOSIS UTAMA

SAR diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu: (1) SAR minor; (2)


SAR mayor; (3) SAR herpetiformis . SAR minor merupakan penyakit
yang paling sering ditemui, yaitu sekitar 75 – 85% dari kasus SAR lainnya
. SAR Minor terlihat dengan bentuk ulser yang dangkal, oval, diameter < 1
cm, berwarna kuning kelabu dengan tepi eritematosus yang mencolok
mengelilingi pseudomembran fibrinosa . SAR minor lebih sering
mengenai mukosa rongga mulut yang tidak berkeratin seperti mukosa
labial dan bukal, dasar mulut, dan pada lateral dan ventral lidah. Ulser
biasanya sembuh spontan tanpa pembentukan jaringan parut dalam waktu
10-14 hari. SAR mayor merupakan salah satu tipe SAR yang terjadi
berkisar 10-15%, ditandai dengan adanya ulser berbentuk bulat atau oval
7

dengan batas yang tidak jelas, diameternya ≥ 1 cm dan disertai rasa sakit
hebat . SAR mayor bisa muncul pada setiap bagian mukosa mulut tetapi
cenderung muncul pada mukosa berkeratin seperti palatum keras dan
tenggorokan. SAR mayor kambuh lebih sering dan berlangsung lebih lama
dibandingkan tipe minor, yaitu dalam waktu beberapa minggu sampai
beberapa bulan. Ulser biasanya sembuh dengan membentuk jaringan parut
dan distorsi jaringan. Hal ini disebabkan karena ulser sudah mengerosi
jaringan ikat . SAR herpetiformis adalah tipe ulserasi fokal kambuhan
pada mukosa mulut yang jarang terjadi, hanya memiliki prevalensi
berkisar 5- 10% dari seluruh kasus SAR. Gambaran mencolok dari SAR
tipe ini adalah adanya ulser bersifat multiple, yaitu 20 hingga 200 ulser,
diameter 1-3mm, bentuk bulat, mukosa di sekitar ulkus eritematosus dan
diperkirakan akan ada rasa sakit. Setiap bagian mukosa mulut dapat
terkena SAR herpetiformis, tetapi khususnya terjadi pada ujung anterior
lidah, tepitepi lidah dan mukosa bibir . Ulser berlangsung selama 7-30 hari
dengan peyembuhan meninggalkan jaringan parut . Diagnosis SAR
didasarkan pada anamnesa dan gambaran klinis dari ulser. Perhatian
khusus harus ditujukan pada riwayat keluarga, frekuensi ulser, durasi
ulser, jumlah ulser, lokasi terjadinya ulser (non-keratinisasi atau
keratinisasi), ukuran dan bentuk ulser, kondisi medis, ulser genital,
masalah kulit, gangguan pencernaan, riwayat obat, tepi ulser, dasar ulser,
dan jaringan disekitarnya . Hal ini disebabkan karena banyaknya lesi di
dalam rongga mulut yang secara klinis mirip dengan SAR, antara lain
ulkus traumatikus, Sindrom behcet, herpes simplek, dan karsinoma sel
skuamosa.

3.Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang faktor


predisposisi (pendukung, etiologi )dari sariawan

FAKTOR PREDISPOSISI

Sampai saat ini, etiologi SAR masih belum diketahui dengan pasti. Ulser
pada SAR bukan karena satu faktor saja tetapi multifaktorial yang
memungkinkannya berkembang menjadi ulser. Faktor-faktor ini terdiri dari pasta
gigi dan obat kumur 8 sodium lauryl sulphate (SLS), trauma, genetik, gangguan
immunologi, alergi dan sensitifitas, stres, defisiensi nutrisi, hormonal, merokok,
infeksi bakteri, penyakit sistemik, dan obat-obatan. Dokter gigi sebaiknya
mempertimbangkan bahwa faktorfaktor tersebut dapat memicu perkembangan
ulser SAR.
8

Pasta Gigi dan Obat Kumur SLS

Penelitian menunjukkan bahwa produk yang mengandungi SLS yaitu agen


berbusa paling banyak ditemukan dalam formulasi pasta gigi dan obat kumur,
yang dapat berhubungan dengan peningkatan resiko terjadinya ulser, disebabkan
karena efek dari SLS yang dapat menyebabkan epitel pada jaringan oral menjadi
kering dan lebih rentan terhadap iritasi. Beberapa penelitian telah melaporkan
bahwa peserta yang menggunakan pasta gigi yang bebas SLS mengalami sariawan
yang lebih sedikit. Penurunan ini ditemukan setinggi 81% dalam satu penelitian.
Studi yang sama juga melaporkan bahwa subjek penelitian merasa bahwa
sariawan yang mereka alami kurang menyakitkan daripada pada saat mereka
menggunakan pasta gigi yang menggandung SLS

Trauma

Ulser dapat terbentuk pada daerah bekas terjadinya luka penetrasi akibat
trauma. Pendapat ini didukung oleh hasil pemeriksaan klinis, bahwa sekelompok
ulser terjadi setelah adanya trauma ringan pada mukosa mulut.22 Umumnya ulser
terjadi karena tergigit saat berbicara, kebiasaan buruk, atau saat mengunyah,
akibat perawatan gigi, makanan atau minuman terlalu panas, dan sikat gigi.25
Trauma bukan 9 merupakan faktor yang berhubungan dengan berkembangnya
SAR pada semua penderita tetapi trauma dapat dipertimbangkan sebagai faktor
pendukung.

Genetik

Faktor ini dianggap mempunyai peranan yang sangat besar pada pasien
yang menderita SAR. Faktor genetik SAR diduga berhubungan dengan
peningkatan jumlah human leucocyte antigen (HLA), namun beberapa ahli masih
menolak hal tersebut. HLA menyerang sel-sel melalui mekanisme sitotoksik
dengan jalan mengaktifkan sel mononukleus ke epitelium.9,16,26 Sicrus (1957)
berpendapat bahwa bila kedua orangtua menderita SAR maka besar kemungkinan
timbul SAR pada anak-anaknya. Pasien dengan riwayat keluarga SAR akan
menderita SAR sejak usia muda dan lebih berat dibandingkan pasien tanpa
riwayat keluarga SAR.

Gangguan Immunologi

Tidak ada teori yang seragam tentang adanya imunopatogenesis dari SAR,
adanya disregulasi imun dapat memegang peranan terjadinya SAR. Salah satu
penelitian mungungkapkan bahwa adanya respon imun yang berlebihan pada
pasien SAR sehingga menyebabkan ulserasi lokal pada mukosa. Respon imun itu
berupa aksi sitotoksin dari limfosit dan monosit pada mukosa mulut dimana
9

pemicunya tidak diketahui.16 Menurut Bazrafshani dkk, terdapat pengaruh dari


IL-1B dan IL-6 terhadap resiko terjadinya SAR. Menurut Martinez dkk, pada
SAR terdapat adanya hubungan dengan pengeluaran IgA, total protein, dan aliran
saliva. Sedangkan 10 menurut Albanidou-Farmaki dkk, terdapat karakteristik sel
T tipe 1 dan tipe 2 pada penderita SAR.

Stres

Stres merupakan respon tubuh dalam menyesuaikan diri terhadap


perubahan lingkungan yang terjadi terus menerus yang berpengaruh terhadap fisik
dan emosi. Stres dinyatakan merupakan salah satu faktor yang berperan secara
tidak langsung terhadap ulser stomatitis rekuren ini.11 Faktor stres ini akan
dibahas dengan lebih rinci pada subbab selanjutnya.

Defisiensi Nutrisi

Wray (1975) meneliti pada 330 pasien SAR dengan hasil 47 pasien
menderita defisiensi nutrisi yaitu terdiri dari 57% defisiensi zat besi, 15%
defisiensi asam folat, 13% defisiensi vitamin B12, 21% mengalami defisiensi
kombinasi terutama asam folat dan zat besi dan 2% defisiensi ketiganya. Penderita
SAR dengan defisiensi zat besi, vitamin B12 dan asam folat diberikan terapi
subtitusi vitamin tersebut hasilnya 90% dari pasien tersebut mengalami
perbaikan.27 Faktor nutrisi lain yang berpengaruh pada timbulnya SAR adalah
vitamin B1, B2 dan B6. Dari 60 pasien SAR yang diteliti, ditemukan 28,2%
mengalami penurunan kadar vitamin-vitamin tersebut. Penurunan vitamin B1
terdapat 8,3%, B2 6,7%, B6 10% dan 33% kombinasi ketiganya. Terapi dengan
pemberian vitamin tersebut selama 3 bulan memberikan hasil yang cukup baik,
yaitu ulserasi sembuh dan rekuren berkurang. Dilaporkan adanya defisiensi Zink
pada penderita SAR, pasien tersebut diterapi dengan 50 mg Zink Sulfat peroral
tiga kali sehari selama tiga bulan. Lesi SAR yang persisten sembuh dan tidak
pernah kambuh dalam waktu satu tahun. Beberapa peneliti lain juga mengatakan
adanya kemungkinan defisiensi Zink pada pasien SAR karena pemberian preparat
Zink pada pasien SAR menunjukkan adanya perbaikan, walaupun kadar serum
Zink pada pasien SAR pada umumnya normal.

Hormonal

Pada wanita, sering terjadinya SAR di masa pra menstruasi bahkan banyak
yang mengalaminya berulang kali. Keadaan ini diduga berhubungan dengan
faktor hormonal. Hormon yang dianggap berperan penting adalah estrogen dan
progesteron.20,26 Dua hari sebelum menstruasi akan terjadi penurunan estrogen
dan progesteron secara mendadak. Penurunan estrogen mengakibatkan terjadinya
penurunan aliran darah sehingga suplai darah utama ke perifer menurun dan
terjadinya gangguan keseimbangan sel-sel termasuk rongga mulut, memperlambat
10

proses keratinisasi sehingga menimbulkan reaksi yang berlebihan terhadap


jaringan mulut dan rentan terhadap iritasi lokal sehingga mudah terjadi SAR.
Progesteron dianggap berperan dalam mengatur pergantian epitel mukosa mulut.

Infeksi Bakteri

Graykowski dan kawan-kawan pada tahun 1966 pertama kali menemukan


adanya hubungan antara bakteri Streptokokus bentuk L dengan lesi SAR dengan
12 penelitian lebih lanjut ditetapkan bahwa Streptokokus sanguis sebagai
penyebab SAR. Donatsky dan Dablesteen mendukung pernyataan tersebut dengan
melaporkan adanya kenaikan titer antibodi terhadap Streptokokus sanguis 2A
pada pasien SAR dibandingkan dengan kontrol.

Alergi dan Sensitifitas

Alergi adalah suatu respon imun spesifik yang tidak diinginkan


(hipersensitifitas) terhadap alergen tertentu. Alergi merupakan suatu reaksi
antigen dan antibodi. Antigen ini dinamakan alergen, merupakan substansi protein
yang dapat bereaksi dengan antibodi, tetapi tidak dapat membentuk antibodinya
sendiri. SAR dapat terjadi karena sensitifitas jaringan mulut terhadap beberapa
bahan pokok yang ada dalam pasta gigi, obat kumur, lipstik atau permen karet dan
bahan gigi palsu atau bahan tambalan serta bahan makanan.29,30 Setelah
berkontak dengan beberapa bahan yang sensitif, mukosa akan meradang dan
edematous. Gejala ini disertai rasa panas, kadang-kadang timbul gatal-gatal, dapat
juga berbentuk vesikel kecil, tetapi sifatnya sementara dan akan pecah membentuk
daerah erosi kecil dan ulser yang kemudian berkembang menjadi SAR.

Obat-obatan

Penggunaan obat nonsteroidal anti-inflamatori (NSAID), beta blockers,


agen kemoterapi dan nicorandil telah dinyatakan berkemungkinan menempatkan
seseorang pada resiko yang lebih besar untuk terjadinya SAR. Penyakit Sistemik
Beberapa kondisi medis yang berbeda dapat dikaitkan dengan kehadiran SAR.
Bagi pasien yang sering mengalami kesulitan terus-menerus dengan SAR harus
dipertimbangkan adanya penyakit sistemik yang diderita dan perlu dilakukan
evaluasi serta pengujian oleh dokter. Beberapa kondisi medis yang dikaitkan
dengan keberadaan ulser di rongga mulut adalah penyakit Behcet’s, penyakit
disfungsi neutrofil, penyakit gastrointestinal, HIV-AIDS, dan sindroma Sweet’s.

Merokok

Adanya hubungan terbalik antara perkembangan SAR dengan merokok.


Pasien yang menderita SAR biasanya adalah bukan perokok, dan terdapat
11

prevalensi dan keparahan yang lebih rendah dari SAR diantara perokok berat
berlawanan dengan yang bukan perokok. Beberapa pasien melaporkan mengalami
SAR setelah berhenti merokok.

4. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang rencana


perawatan dari sariawan

Manajemen SAR bisa sangat menantang, terutama pada pasien dengan


penyakit parah. Ketika aphthosis oral sekunder dari penyakit yang mendasarinya,
disarankan untuk mengobati penyakit primer yang diharapkan dapat
meningkatkan aphthae oral. dalam kasus SAR, dan bahkan beberapa kasus
aphthosis oral sekunder, tangga perawatan berikut dapat digunakan.

:
Gambar 1. Diagram pengobatan yang disarankan untuk stomatitis aphthous
Rekuren

1. Topical therapy

Saat ini, manajemen SAR ditujukan untuk perawatan suportif. tidak ada
pengobatan farmakologis yang bersifat kuratif, meskipun beberapa modalitas
telah efektif dalam mengurangi rasa sakit dan eritema dan meningkatkan tingkat
reepithelialization terkait dengan lesi penyembuhan. disarankan untuk melakukan
pendekatan manajemen secara bertahap, menetapkan harapan yang sesuai untuk
pasien, dan menyelidiki kemungkinan penyebab yang mendasar. Beberapa obat
12

topikal dengan mekanisme berbeda efektif dalam menangani lesi SAR.


pengobatan topikal ditujukan untuk pencegahan superinfeksi, perlindungan borok
yang ada, analgesia, menurunkan peradangan, dan mengobati borok aktif.
Memberikan klorheksidin 0,2% kepada pasien yang mengalami SAR untuk
mengurangi kemungkinan superinfeksi dengan bakteri gram positif dan gram
negatif serta jamur. Selain itu, klorheksidin telah terbukti memiliki aktivitas
melawan virus yang diselimuti ( virus herpes simpleks [hsV], cytomegalovirus
[CMV], influenza, dan virus syncytial pernapasan [rsV]). Chlorhexidine juga
efektif dalam menghilangkan dan mencegah pembentukan biofilm yang biasa
ditemukan dalam plak gigi.

Antibiotik topikal dalam bentuk doxycycline atau minocycline mouthwash juga


efektif, kemungkinan sekunder akibat inhibisi metaloproteinase. Lapisan
pelindung ulkus yang ada dapat dicapai dengan pasta bioadhesif yang
diformulasikan dengan benzocaine 20% untuk menghilangkan rasa sakit. salep
lidokain 5% dan semprot lidokain 10% juga efektif untuk analgesia sementara.
sifat anti-inflamasi diklofenak 3% dengan asam hialuronat 2,5% juga efektif.

Salep amlexanox 5%, yang telah dihentikan di Amerika Serikat, telah dilaporkan
mengurangi waktu penyembuhan borok aphthous sekunder akibat sifat anti-
inflamasi dan imunomodulasi. kortikosteroid topikal (obat kumur betametason,
fluticasone propionate spray, triamcinolone dalam sediaan oral) umumnya
berhasil dalam pengobatan borok aktif dan dapat diberikan dengan antijamur
untuk mengurangi risiko kandidiasis oral untuk penggunaan jangka panjang.

2. Terapi sistemik

Beberapa obat sistemik telah dilaporkan efektif untuk mengobati SAR dalam
literatur. ada bukti yang menunjukkan bahwa antimikroba oral, seperti penisilin G
(50mg QiDx 4 hari), mengurangi ukuran ulkus dan nyeri. Clofazimine, sebuah
antimikroba, dalam kombinasi dengan rifampisin dan dapson, telah terbukti
mencegah pembentukan lesi baru. Seng pada 50mg / hari juga telah menghasilkan
efek menguntungkan pada reepitelisasi dan penyembuhan luka.

Tetrasiklin oral dosis rendah mungkin juga bermanfaat karena sifat anti-
inflamasinya. prednison oral (dosis awal 25mg / hari) adalah terapi sistemik lini
pertama dan biasanya dicadangkan untuk pengobatan akut wabah SAR parah.
kortikosteroid sistemik bukan tanpa efek samping dan relatif atau sama sekali
dikontraindikasikan pada pasien tertentu; untuk kasus ini, antagonis reseptor
leukotrien adalah alternatif yang lebih aman.

3. Terapi Laser.

Terapi laser tingkat rendah pada panjang gelombang 658 nm mungkin juga
bermanfaat pada pasien SAR, terbukti sama atau bahkan lebih unggul dari pada
13

pengobatan farmakologis dalam mengelola rasa sakit dan peradangan dan


meningkatkan reepithelisasi ulkus aphthous.

5. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang klasifikasi dari


sariawan

Berdasarkan gejala klinis radang mukosa mulut dapat diklasifikasikan menjadi 4


bentuk klinis (Wray dkk.,2003).

1.Bentuk minor

Sebagian besar pasien (85%) menderita ulser bentuk minor, yang ditandai
dengan ulser bentuk bulat atau oval, disertai rasanyeri dengan diameter antara 2−4
mm, kurang dari 1 cm dan dikelilingi oleh pinggiran yang eritematous. Ulser ini
cenderung mengenai daerah non keratin, seperti mukosa labial, mukosa bukal,dan
dasar mulut. Ulsernya bisa tunggal atau merupakan kelompok yang terdiri dari
empat sampai lima dan menyembuh dalam waktu 7−14 hari tanpa disertai
pembentukan jaringan parut.

2.Bentuk mayor

Radang mukosa mulut tipe mayor dijumpai pada kira-kira 10% penderita,
ulser bentuk mayor ini lebih besar dari bentuk minor.Ulsernya berdiameter 1−3
cm, sangat sakit dandisertai dengan demam ringan, terlihat adanya limfadenopati
submandibula. Ulser ini dapat terjadi pada bagian mana saja dari mukosa mulut
termasuk daerah berkeratin.Berlangsung selama 4 minggu atau lebih dan sembuh
disertai pembentukan jaringan parut.

3.Bentuk Herpetiformis

Bentuk Herpetiformis mirip dengan ulser yang terlihat pada infeksi herpes
primer, sehingga dinamakan herpetiformis.Gambaran yang paling menonjol
adalah adanya ulser kecil berjumlah banyak dari puluhan hingga ratusan dengan
ukuran mulai sebesar kepala jarum (1−2 mm) sampai gabungan ulser kecil
menjadi ulser besar yang tidak terbatas jelas sehingga bentuknya tidak teratur.
14

4.Bentuk Sindrom Behcet

Sindrom behcet merupakan sindrom yang mempunyai tiga gejala yaitu


aphthae dalam mulut, ulser pada genital dan radang mata aphthae dalam mulut
dari sindrom behcet mirip dengan radang mukosa mulut dan biasanya merupakan
gejala awal dari sindrom behcet.

6. Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami tentang prognosis dari


sariawan

Prognosis yaitu ramalan medis dan hasil pemeriksaan dan diagnosis berdasarkan
teori-teori atau hasil penelitian pada peyakit yang bersangkutan. Prognosis adalah
yang digunakan dalam menyampaikan suatu tindakan untuk memprediksi
perjalanan penyakit yang didasarkan pada informasi diagnosis yang tersedia.
istilah medis ini yang menunjukkan prediksi dokter tentang bagaimana pasien
akan berkembang, dan apakah ada kemungkinan pemulihan.

Tujuan dari prognosis adalah untuk mengkomunikasikan prediksi dari kondisi


pasien

di masa yang akan datang, dengan penyakit yang telah dideritanya.

Fungsi dari prognosis ini adalah menentukan rencana terapi selanjutnya, sabagai
bahan pertimbangan perawatan dan rehabilitasi

Kategori prognosis :

Ad vitam (hidup)

1. Ad functionam (fungsi)
2. Ad sanationam (sembuh)

Golongan-golongan prognosis :

1. Sanam (sembuh)
2. Bonam (baik)
15

3. Malam (buruk/jelek)
4. Dubia (tidak tentu/ragu-ragu)
1. Dubia ad sanam/bonam (tidak tentu/ragu-ragu, cenderung
sembuh/baik)
2. Dubia ad malam (tidak tentu/ragu-ragu, cenderung
buruk/jelek)
Karena di skenario disebabkan oleh faktor predisposisi hormon dan bisa terjadi
secara berulang-ulang. Maka, prognosis yang sesuai adalah prognosis bonam.