Anda di halaman 1dari 59

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

PEMILU

Penyusun

Nama : Ferylyana Dwi Sintyani Hermawanto

Kelas : XII Perbankan

No. Abs : 10
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kuasa sehingga
penyusunan makalah ini dapat berjalan dengan baik dan lancar. Kami juga berterimakasih kepada
setiap pihak yang telah terlibat dan membantu kami dalam penyusunan makalah ini.

Makalah untuk Sekolah Menengah Kejuruan Sisitem Pemerintahan Indonesia kali ini
mengangkat topik mengenai Pemilukada Langsung atau Pemilukada Melalui DPRD. Makalah ini
kami susun sedemikian rupa dengan mencari dan menggabungkan sejumlah informasi yang kami
dapatkan baik melalaui buku, media cetak, elektronik maupun media lainnya. Kami berharap dengan
informasi yang kami dapat dan kemudian kami sajikan ini dapat memberikan penjelasan yang cukup
tentang Pemilukada di Indonesia.

Demikian satu dua kata yang bisa kami sampaikan kepada seluruh pembaca makalah ini. Jika
ada kesalahan baik dalam penulisan maupun kutipan, kami terlebih dahulu memohon maaf dan kami
juga berharap semua pihak dapat memakluminya. Semoga semua pihak dapat menikmati dan
mengambil esensi dari makalah ini. Trimakasih.

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................................... i

DAFTAR ISI .............................................................................................................................. ii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................................... 1

I.1 Latar Belakang ................................................................................................................. 1

I.2 Identifikasi Masalah ........................................................................................................ 2

I.3 Tujuan Penulisan ............................................................................................................. 2

I.4 Sistem pemilu .................................................................................................................. 2

I.5 Tahapan Pemilu ................................................................................................................ 3

BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................... 6

II.1 Sejarah Pemilu .............................................................................................................. 6

II.2 Pengertian Landasan ....................................................................................................... 35

II.3 Pemilukada Langsung ..................................................................................................... 37

II.4 Pemilukada Tidak Langsung .......................................................................................... 49

II.5 Pentingnya Pemilu Langsung .......................................................................................... 51

II.6 Manfaat Pemilu ............................................................................................................... 52

BAB III PENUTUP ................................................................................................................... 54

III.1 Kesimpulan .................................................................................................................. 54

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................ 56

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pasal 18 ayat (4) UUD 1945 menyebutkan bahwa “Gubernur, Bupati, danWalikota masing
masing sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara demokratis”.
Berarti prinsip dasarnya adalah kepala daerah dipilih secara demokratis, sehingga apakah kepala
daerah dipilih langsung ataukah tidak langsung diatur dengan undang-undang. Namun harus diakui
pemilihan langsung sesungguhnya merupakan tindak lanjut realisasi prinsip-prinsip demokrasi secara
normatif yakni jaminan atas bekerjanya prinsip kebebasan individu dan persamaan, khususnya dalam
hak politik (Pratikno, 2005).
Smith, Dahl, maupun Mawhood mengatakan bahwa untuk mewujudkan apa yang disebut:
localaccountability, political equity, and local responsiveness, yang merupakan tujuan desentralisasi,
di antara prasyarat yang harus dipenuhi untuk mencapainya adalah pemerintah daerah harus (1)
memiliki teritorial kekuasaan yang jelas (legal territorial of power); (2) memiliki pendapatan daerah
sendiri (local own income); (3) memiliki lembaga perwakilan rakyat (local representative body) yang
berfungsi untuk mengontrol eksekutif daerah; dan (4) adanya kepala daerah yang dipilih secara
langsung oleh masyarakat melalui mekanisme pemilu (Syarif Hidayat, 2000). Maka meski masih ada
sejumlah kelemahan dalam regulasi dan pelaksanaannya, gagasan mengembalikan pilkada kepada
anggota DPRD merupakan langkah mundur dalam membangun demokrasi yang lebih substantif.
Pilkada oleh anggota DPRD pernah dilakukan ketika undang-undang pemerintahan daerah
masih menggunakan UU No. 22/1999. Model pemilihan ini relatif lebih hemat dan efisien dari sisi
biaya dibanding dengan sistem pemilihan langsung seperti digunakan saat ini, namun kurang
melibatkan partisipasi masyarakat secara luas dalam menentukan pemimpinnya sehingga menjadi
kurang demokratis dibandingkan jika dipilih langsung. Selain sangat terbuka kemungkinan terjadinya
praktik dagang sapi (money politics) oleh anggota DPRD dan oligarki parlemen. Cara pemilihan
melalui lembaga perwakilan sering berdampak dengan munculnya gubernur; bupati/walikota yang
tidak sesuai dengan harapan rakyat. Sebaliknya melalui pilkada langsung lebih dapat menghasilkan
pemimpin yang lebih sesuai dengan harapan rakyat karena rakyat dapat langsung melihat, menilai dan
memilih pemimpin yang dianggap cocok menjadi gubernur, bupati/walikota. Alasan para pihak yang
mengusulkan agar mengembalikan pilkada kepada anggota DPRD pada umumnya didasarkan pada 3
(tiga) pokok masalah berikut. Pertama, pilkada langsung terbukti tidak efisien dilihat dari sisi
anggaran. Kedua, pilkada langsung banyak memicu dan melahirkan konflik horisontal dalam
masyarakat, seringkali bahkan berkepanjangan. Sementara pada proses dan hasilnya masih jauh dari
ideal. Sebagian orang bahkan melihat, bahwa para kepala daerah produk pilkada langsung tidak lebih

1
baik dari para kepala daerah hasil pemilihan oleh dewan. Ketiga, pilkada langsung banyak diwarnai
praktik-praktik tidak sehat seperti jual beli suara (Agus Sutisna, 2010).
Tulisan ini akan membedah lebih lanjut kelemahan yang disangkakan pada
Pilkada langsung. Apakah kelemahan itu hanya milik pilkada langsung?
Apa strategi atau rekomendasi untuk memperbaiki kualitas pilkada langsung?.

B. Identifikasi Masalah
1. Apa pengertian dan landasan hukum Pemilukada
2. Apa kelemahan dan kelebihan Pemilukada langsung dan pemilukada melalui DPRD

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui Pengertian dan landasan hukum Pemilukada
2. Menganalisis permasalahan tentang Pemilukada langsung dan Pemilukada melalui DPRD

D Sistem Pemilu

 Sistem Distrik :
Satu wilayah (satu distrik pemilihan) memilih satu wakil tunggal (single-member
constituency) atas dasar suara terbanyak. Suara lawan yang kalah dianggap hilang.
 Keuntungan Sistem Distrik
1. Fragmentasi atau kecenderungan untuk membuat partai dapat dibendung
2. Dapat mendorong penyederhanaan partai tanpa paksaan
3. Wakil distrik yang duduk di DPR lebih dekat dengan rakyat pemilihnya.
4. Lebih aspiratif dan dapat memperjuangkan rakyat pemilihnya
 Kelemahan Sistem Distrik
1. Partai yang kalah akan kehilangan suara
2. Lebih memperjuangkan kepentingan distrik
3. Memudahkan terjadinya pengkotakan etnis dan agama
4. Mendorong terjadinya dis-integrasi
 Sistem Proporsional :

Satu wilayah (daerah pemilihan) memilih beberapa wakil (multi-member constituency), yang
jumlahnya ditentukan berdasarkan rasio, misalnya 1 : 400.000. Artinya 1 wakil dipilih oleh 400.000
pemilih.

 Keuntungan Sistem Proporsional


1. Lebih demokratis, karena menggunakan asas one man one vote

2
2. Tidak ada suara yang hilang, karena lebih bersifat representatif
3. Lebih mengutamakan kepentingan nasional daripada kepentingan distrik/daerah
4. Kualitas wakil rakyat yang akan duduk di DPR dapat terpantau dan terseleksi dengan baik
melalui sistem daftar calon.
 Kelemahan Sistem Proporsional
1. Kurang mendorong partai-partai untuk bekerjasama satu sama lain
2. Cenderung mempertajam perbedaan antar partai
3. Wakil yang dipilih punya kemungkinan tidak mewakili rakyat pemilihnya
4. Kekuatan partai sangat bergantung pada pemimpin partai.
 Sistem Campuran (Distrik dan Proporsional)
1. Menggabungkan 2 (dua) sistem sekaligus (distrik dan proporsional)
2. Setengah dari anggota Parlemen dipilih melalui sistem distrik dan setengahnya lagi dipilih
melalui proporsional.
3. Ada keterwakilan sekaligus ada kesatuan geografis.

E Tahapan Pemilu

1. Pemutakhiran data pemilih dan penyusunan daftar pemilih.

Kegiatan awal yang perlu dilakukan untuk melaksanakan pemilu adalah pendaftaran orang-orang
yang memilki hak untuk memilih, misalnya yang sudah berusia minimal 17 tahun, bukan anggota
TNI/Polri, tidak terganggu jiwanya dan sebagainya. Pendaftaran pemilih sangat penting untuk
memastikan hanya mereka yang berhak yang bisa menggunakan hak pilihnya, juga untuk pengadaan
logistik pemilu seperti pencetakan surat suara, pembuatan Tempat Pemungutan Suara (TPS), bilik dan
kotak suara dan sebagainya.

2. Pendaftaran dan Penetapan Peserta Pemilu.

KPU juga perlu mendaftar siapa yang boleh jadi peserta pemilu? Tidak semua orang atau partai boleh
ikut pemilu, tanpa ada syarat yang harus dipenuhi. Bisa kacau bro. Ada syarat-syarat yang harus
dipenuhi untuk bisa didaftarkan sebagai peserta pemilu. Nah, tugas KPU adalah memverifikasi
(memeriksa) kelengkapan syarat-syarat itu sehingga mereka bisa ditetapkan sebagai peserta pemilu.

3.Penetapan jumlah kursi dan penetapan daerah pemilihan.

Pemilu dimaksudkan untuk memperebutkan kursi di DPR, DPD atau DPRD. Berapa jumlah kursinya?
Nah, hal itu perlu diatur berdasarkan wilayah tertentu yang disebut dengan daerah pemilihan.

3
4. Pencalonan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota.

Tahap selanjutnya adalah pencalonan anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD
kabupaten/kota. Partai politik akan mengajukan daftar calon untuk dipilih rakyat dalam pemilu secara
langsung.

5. Masa kampanye.

Ini tahapan yang paling heboh. Banyak poster, spanduk, kumpulan massa dan bahkan arak-arakan di
jalan-jalan. Tujuan kampanye sebenarnya untuk memperkenalkan visi, misi dan program partai atau
calon kepada rakyat kalau mereka terpilih sebagai wakil rakyat.

6. Masa tenang.

Masa tenang adalah masa antara berakhirnya kampanye dan pemungutan suara. Saat itu semua bentuk
kampanye harus dihentikan dan semua pihak fokus pada persiapan pemungutan suara. Itulah yang
disebut masa tenang.

7. Pemungutan dan penghitungan suara.

Inilah tahapan yang dinanti-nanti semua pihak yang terlibat dalam pemilu. Saat itu rakyat diberi
kesempatan untuk mendatangi TPS guna memilih calon pemimpin atau wakil rakyat yang mereka
nilai layak mewakili mereka. Setelah pemungutan suara usai, akan dilakukan penghitungan suara.
Kamu bisa berpartisipasi secara aktif mengawasi atau memantau pelaksanaan pemungutan dan
penghitungan suara di TPS.

8. Penetapan hasil Pemilu.

Setelah suara dihitung, barulah hasilnya ditetapkan. Saat itu akan diketahui siapa yang keluar sebagai
pemenang dalam pemilu, siapa saja yang terpilih jadi wakil rakyat, berapa banyak jumlah suara yang
diperoleh setiap peserta pemilu.

9. Pengucapan sumpah/janji .

Anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota. Setelah KPU menetapkan hasil
pemilu dan calon terpilih, para calon wakil rakyat itu akan dilantik sebagai anggota DPR, DPD dan
DPRD.

Pemilu Menurut Para Ahli

4
1. Menurut (Ramlan, 1992:181) Pemilu diartikan sebagai “ mekanisme penyeleksian dan
pendelegasian atau penyerahan kedaulatan kepada orang atau partai yang dipercayai.

2. Menurut Harris G. Warren dan kawan-kawan, pemilu merupakan: “Elections are the
accostions when citizens choose their officials and cecide, what they want the government to do. ng
these decisions citizens determine what rights they want to have and keep.”

3. Menurut Ali Moertopo pengertian Pemilu sebagai berikut: “Pada hakekatnya, pemilu adalah
sarana yang tersedia bagi rakyat untuk menjalankn kedaulatannya sesuai dengan azas yang bermaktub
dalam Pembukaan UUD 1945. Pemilu itu sendiri pada dasarnya adalah suatu Lembaga Demokrasi
yang memilih anggota-anggota perwakilan rakyat dalam MPR, DPR, DPRD, yang pada gilirannya
bertugas untuk bersama-sama dengan pemerintah, menetapkan politik dan jalannya pemerintahan
negara”.

4. Menurut Suryo Untoro “Bahwa Pemilihan Umum (yang selanjutnya disingkat Pemilu) adalah
suatu pemilihan yang dilakukan oleh warga negara Indonesia yang mempunyai hak pilih, untuk
memilih wakil-wakilnya yang duduk dalam Badan Perwakilan Rakyat, yakni Dewan Perwakilan
Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Tingkat I dan Tingkat II (DPRD I dan DPRD
II)”.[2]

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Sejarah Pemilu Di Indonesia

A. Pemilu 1955 (Masa Parlementer)


1. Sistem Pemilu
Pemilu 1955 adalah pemilu pertama yang diselenggarakan dalam sejarah kemerdekaan
bangsa Indonesia yang baru berusia 10 (sepuluh) tahun. Pemilu 1955 dilaksanakan pada
masa Demokrasi Parlementer pada kabinet Burhanuddin Harahap. Pemungutan suara
dilakukan 2 (dua) kali, yaitu untuk memilih anggota DPR pada 29 September 1955 dan
untuk memilih anggota Dewan Konstituante pada 15 Desember 1955.
2. Asas Pemilu
Pemilu 1955 dilaksanakan dengan asas :
a. Jujur, artinya bahwa pemilihan umum harus dilaksanakan sesuai dengan peraturan
perundangan yang berlaku.
b. Umum, artinya semua warga negara yang telah memenuhi persyaratan minimal dalam
usia, mempunyai hak memilih dan dipilih.
c. Berkesamaan, artinya bahwa semua warga negara yang telah mempunyai hak pilih
mempunyai hak suara yang sama, yaitu masing-masing satu suara.
d. Rahasia, artinya bahwa pemilih dalam memberikan suara dijamin tidak akan diketahui
oleh siapapun dan dengan cara apapun mengenai siapa yang dipilihnya.
e. Bebas, artinya bahwa setiap pemilih bebas menentukan pilihannya menurut hati
nuraninya, tanpa ada pengaruh, tekanan, paksaan dari siapapun dan dengan cara
apapun.
f. Langsung, artinya bahwa pemilih langsung memberikan suaranya menurut hati
nuraninya, tanpa perantara dan tanpa tingkatan.
3. Dasar Hukum Penyelenggaraan
Dasar hukum pemilihan umum adalah
Pancasila
Undang-Undang Dasar 1945
Ketetapan MPR tentang GBHN
Ketetapan MPR tentang Pemilu
Undang-Undang Nomor 31 tahun 2002 tentang partai politik
Undang-Undang Nomor 7 tahun 2017 tentang pemilu
Landasan pemilu di Indonesia meliputi :
Landasan Idiil pemilu adalah Pancasila

6
Landasan konstitusional adalah Undang-Undang Dasar 1945
Landasan Operasional adalah

a. Ketetapan MPR NO. III / 1.MPR / 1998

b. UU No. 31 tahun 2002 tentang partai politik

c. UU No. 7 tahun 2017 tentang pemilu

 Asas

Pemilihan umum di Indonesia menganut asas "LUBER" yang merupakan singkatan dari
"Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia". Asas "Luber" sudah ada sejak zaman Orde Baru.

"Langsung" berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya secara langsung dan tidak
boleh diwakilkan.

"Umum" berarti pemilihan umum dapat diikuti seluruh warga negara yang sudah memiliki
hak menggunakan suara.

"Bebas" berarti pemilih diharuskan memberikan suaranya tanpa ada paksaan dari pihak
manapun.

"Rahasia" berarti suara yang diberikan oleh pemilih bersifat rahasia hanya diketahui oleh
si pemilih itu sendiri.

Kemudian di era reformasi berkembang pula asas "Jurdil" yang merupakan singkatan dari
"Jujur dan Adil". Asas "jujur" mengandung arti bahwa pemilihan umum harus dilaksanakan
sesuai dengan aturan untuk memastikan bahwa setiap warga negara yang memiliki hak
dapat memilih sesuai dengan kehendaknya dan setiap suara pemilih memiliki nilai yang
sama untuk menentukan wakil rakyat yang akan terpilih. Asas "adil" adalah perlakuan yang
sama terhadap peserta pemilu dan pemilih, tanpa ada pengistimewaan ataupun diskriminasi
terhadap peserta atau pemilih tertentu. Asas jujur dan adil mengikat tidak hanya kepada
pemilih ataupun peserta pemilu, tetapi juga penyelenggara pemilu.

Jadwal

P o s i s i 2 0 1 4 2 0 1 5 2016 2 0 1 7 2 0 1 8 2 0 1 9

7
Presiden (Juli & September) Presiden (10 September)
T i p e T i d a k
DPD&DPR (April) DPD&DPR (10 Juli)

Presiden dan wakil presiden

D P D Y a T i d a k Y a

D P R

Gubernur dan wakil gubernur Riau, Lampung, Jatim, Maluku, Malut Sumbar, Jambi, Bengkulu, Kepri, Kalteng, Kaltim, Sulut Sulteng, Sulbar Aceh, Babel, Jakarta, Banten, Gorontalo, Pabar Sumut, Sumsel, Jabar, Jateng, Bali, NTB, NT , Kalbar, Kalsel, Kaltara, Sulsel, Sultra, Papua, Sultim Riau, Lampung, Jatim, Malteng, Malut, Jatra, Keplam

Walikota/Bupati dan wakil walikota/bupati V a r i a s i

Jika RUU Pemilu disahkan menjadi UU Pemilu maka:

P o s i s i 2 0 1 4 2 0 1 5 2016 2017 2018 2019 [ 2 ] [ 3 ]

Presiden (Juli & September) Presiden (10 September)


T i p e T i d a k
DPD&DPR (April) DPD & DPR (10 Juli)

Presiden dan wakil presiden

D P D Y a T i d a k Y a

D P R

Gubernur dan wakil gubernur Riau, Lampung, Jatim, Maluku, Malut Sumbar, Jambi, Bengkulu, Kepri, Kalteng, Kaltim, Sulut Sulteng, Sulbar Jakarta Sumsel, Bali Lampung, Gorontalo, Jambi

Walikota/Bupati dan wakil walikota/bupati V a r i a s i V a r i a s i T i d a k

8
Keterangan:

Tahun 2019 Pemilihan Umum dilakukan serentak untuk semua jenis di seluruh
wilayah.

Pilkada pada tahun 2017 serta 2018 dimundurkan dan tahun 2020 serta 2021
dimajukan pada tahun 2019 serta Setiap Tahun yang variasi.

Mahkamah Konstitusi memutuskan pemilihan umum untuk semua jenis digelar serentak
pada tahun 2019 nanti pilkada setiap tahun yang bervariasi.[2][3]

Komponen sistem pemilu

Pemilu Terbuka/tertutup Distrik/proporsional/campuran

1 9 5 5 p r o p o r s i o n a l

1 9 7 1

1 9 7 7

1 9 8 2

t e r t u t u p

1 9 8 7 d i s t r i k

1 9 9 2

1 9 9 7

1 9 9 9

2 0 0 4 t e r b u k a c a m p u r a n

9
2 0 0 9

2 0 1 4

Penetapan hasil pemilu

P e m i l i h a n Putaran pertama Putaran kedua K e t e r a n g a n

Presiden dan wakil presiden Minimal 50% syarat calon diajukan dimana partai politik memilki batas ambang 25% kursi parlemen atau 20% suara sah

Minimal 50%

Kepala daerah dan wakil kepala daerah Minimal 30%

Suara terbanyak
D P R
(batas ambang 3,5%)

n / a
D P R D

Suara terbanyak

D P D

Jumlah kepimpinan yang dipilih rakyat

P em i l i h a n T o t a l

Presiden 2

Gubernur 6 4

Walikota/Bupati 1 0 2 2

10
D P R 5 6 0

D P R D 100 per kabupaten/kota

D P D 4 per provinsi

D P R A 7 0

D P R P 5 0

Hasil pemilihan umum Dewan Perwakilan Rakyat

Tahun P e m e n a n g T e m p a t k e d u a T e m p a t k e t i g a

Partai politik Jumlah kursi (dalam persen) Partai politik Jumlah kursi (dalam persen) Partai politik Jumlah kursi (dalam persen)

1955 P N I 5 7 ( 2 2 . 1 7 % ) Masyumi 57 (22.17%) N U 45 (17.51%)

1 9 7 1 G o l k a r 360 (65.55%) N U 56 (21.79%) Par mus i 2 4 ( 9 . 3 3 % )

1 9 7 7 G o l k a r 232 (64.44%) P P P 99 (38.52%) P D I 29 (8.05%)

1 9 8 2 G o l k a r 242 (67.22%) P P P 94 (26.11%) P D I 24 (6.66%)

1 9 8 7 G o l k a r 299 (74.75%) P P P 61 (15.25%) P D I 40 (10%)

1 9 9 2 G o l k a r 282 (70.5%) P P P 62 (15.5%) P D I 56 (14%)

11
1 9 9 7 G o l k a r 325 (76.47%) P P P 89 (22.25%) P D I 11 (2.75%)

1 9 9 9 P D I P 153 (33.12%) G o l k a r 120 (25.97%) P P P 58 (12.55%)

2 0 0 4 G o l k a r 128 (23.27%) P D I P 109 (19.82%) P P P 58 (10.55%)

2 0 0 9 Demokrat 150 (26.79%) G o l k a r 107 (19.11%) P D I P 9 5 ( 1 6 . 9 6 % )

2 0 1 4 P D I P 1 0 9 ( 1 9 . 5 % ) G o l k a r 9 1 ( 1 6 . 3 % ) Gerindra 7 3 (13%)

Jumlah partai politik di Indonesia

Tahun Jumlah

1 9 5 5 tidak terbatas

1 9 7 1 1 0

1 9 7 7

1 9 8 2

1 9 8 7 3

1 9 9 2

1 9 9 7

12
1 9 9 9 4 8

2 0 0 4 2 4

2 0 0 9 3 8

2 0 1 4 1 2

 PERBEDAAN PEMILU 1955-REFORMASI

PERBANDINGAN PELAKSANAAN PEMILU ORDE LAMA, ORDE BARU DAN


REFORMASI
I.PENGERTIAN PEMILU
Dari berbagai sudut pandang, banyak pengertian mengenai pemilihan umum.
Tetapi intinya adalah pemilihan umum merupakan sarana untuk mewujudkan
asas kedaulatan di tangan rakyat sehingga pada akhirnya akan tercipta suatu
hubungan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dan, ini adalah
inti kehidupan demokrasi.
Pemilu dapat dipahami juga sebagai berikut:
Dalam undang-undang nomor 3 tahun 1999 tentang pemilihan umum dalam
bagian menimbang butir a sampai c disebutkan:

Bahwa berdasarkan undang-undang dasar 1945, negara republik indonesia


adalah negara yang berkedaulatan rakyat;
Bahwa pemilihan umum merupakan sarana untuk mewujudkan kedaulatan
rakyat dalam rangka keikutsertaan rakyat dalam penyelenggaraan pemerintahan
negara
Bahwa pemilihan umum umum bukan hanya bertujuan untuk memilih wakil-
wakil rakyat yang akan duduk dalam lembaga Permusyawaratan/Perwakilan,
melainkan juga merupakan suatu sarana untuk mewujudkan penmyusunan tata
kehidupan Negara yang dijiwai semangat Pancasila dan Undang-Undang Dasar
1945 dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

13
Demikian juga dalam bab I ketentuan umum pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa:
“pemilihan umum adalah sarana pelaksanaan kedaulatan rakyat dalam negara
kesatuan republik indonesia yang berdasarkan pancasila dan undang-undangn
1945.
PemilihanUmum, selanjutnyadisebutPemilu,
adalahsaranapelaksanaankedaulatanrakyatyang dilaksanakansecaralangsung,
umum, bebas, rahasia, jujur, danadildalamNegara KesatuanRepublikIndonesia
berdasarkanPancasiladanUndang-UndangDasarNegara RepublikIndonesia
Tahun1945.
AsasPemilu:
Pemiludilaksanakansecaraefektifdanefisienberdasarkanasaslangsung, umum,
bebas, rahasia, jujur, danadil.
II. SISTEM PEMILU
A. Sistem perwakilan distrik (single member constituency)
Sistem distrik merupakan sistem pemilu yang paling tua dan didasarkan pada persatuan geografis,
dimana satu kesatuan geografis mempunyai satu wakil di parlemen.
B.Sistem Proporsional
Sistem Proporsional adalah seluruh wilayah merupakan satu kesatuan. Jadi
seperti partai kecil yang memiliki suara di Papua, Kalimantan, dan lain-lain, bisa
dijumlahkan, sehingga Sistem Proporsional memungkinkan partai-partai kecil
berkiprah di parlemen. Jika mereka kalah di wilayah pemilihan tertentu, partai-
partai kecil tidak otomatis gugur, karena masih ada akumulasi suara sisa yang
memungkinkan mereka memperoleh kursi di DPR.
C.sistem gabungan
Sistem Gabungan merupakan sistem yang menggabungkan sistem distrik
dengan proporsional
III. PEMILU ORDE LAMA
Pada masa sesudah kemerdekaan, Indonesia menganut sistem multi partai yang
ditandai dengan hadirnya 25 partai politik. Hal ini ditandai dengan Maklumat
Wakil Presiden No. X tanggal 16 Oktober 1945 dan Maklumat Pemerintah
tanggal 3 November 1945. Menjelang Pemilihan Umum 1955 yang berdasarkan
demokrasi liberal bahwa jumlah parpol meningkat hingga 29 parpol dan juga
terdapat peserta perorangan.
Pada masa diberlakukannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959, sistem kepartaian
Indonesia dilakukan penyederhanaan dengan Penpres No. 7 Tahun 1959 dan

14
Perpres No. 13 Tahun 1960 yang mengatur tentang pengakuan, pengawasan
dan pembubaran partai-partai. Kemudian pada tanggal 14 April 1961
diumumkan hanya 10 partai yang mendapat pengakuan dari pemerintah, antara
lain adalah sebagai berikut: PNI, NU, PKI, PSII, PARKINDO, Partai Katholik,
PERTI MURBA dan PARTINDO. Namun, setahun sebelumnya pada tanggal 17
Agustus 1960, PSI dan Masyumi dibubarkan.
Dengan berkurangnya jumlah parpol dari 29 parpol menjadi 10 parpol tersebut,
hal ini tidak berarti bahwa konflik ideologi dalam masyarakat umum dan dalam
kehidupan politik dapat terkurangi. Untuk mengatasi hal ini maka
diselenggarakan pertemuan parpol di Bogor pada tanggal 12 Desember 1964
yang menghasilkan “Deklarasi Bogor.”
 Tokoh partai PNI
2. Dr. Tjipto Mangunkusumo
3. Mr. Sartono
4. Mr Iskaq Tjokrohadisuryo
5. Mr Sunaryo
6. Soekarno
7. Moh. Hatta
8. Gatot Mangkuprojo
9. Soepriadinata
10. Maskun Sumadiredja
11. Amir Sjarifuddin
12. Wilopo
13. Ali Sastroamidjojo
14. Djuanda Kartawidjaja
15. Mohammad Isnaeni
16. Supeni
17. Sanusi Hardjadinata
18. Sukmawati Soekarno
19. Agus Supartono Supeni
 Tokoh Partai Masyumi
1. KH Hasyim Asy’arie
2. KH Wahid Hasjim,
3. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka),
4. Muhammad Natsir,

15
5. Syafrudin Prawiranegara,
6. Mr. Mohammad Roem,
7. KH. Dr. Isa Anshari,
8. Kasman Singodimedjo,
9. Dr. Anwar Harjono,
 Tokoh Partai NU
1. Syeikh Nawawi al-Bantani
2. Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari
3. Syeikh Sulaiman ar-Rasuli al-Minangkabawi
4. Syeikh Ahmad Khatib Sambas
5. Syeikhona Kholil Bangkalan
6. Kyai Abdullah Termas
7. KH. Hasyim As’ari
8. KH. Wahab Hasbullah
9. KH. Bisri Syamsuri
10. KH. Wahid Hasyim
11. KH. Ahmad Siddiq
12. KH. As’ad Syamsul Arifin
13. KH Saifuddin Zuhri
14. KH. Maksum Ali
15. KH. Zainul Arifin
16. KH TURAICHAN KUDUS
17. KH Agus Maksum Jauhari
18. KH. Bisri Mustafa
19. KH. Asnawi Kudus
20. KH. Abbas Djamil Buntet
 Tokoh partai PKI
1. Mr. Amir Syarifuddin
2. Maruto Darusma
3. Tan Ling Djie
4. Abdulmajid
5. Muso
6. Setiadjit
Pemilu 1955
Hasil penghitungan suara dalam Pemilu 1955 menunjukkan bahwa Masyumi

16
mendapatkan suara yang signifikan dalam percaturan politik pada masa itu.
Masyumi
menjadi partai Islam terkuat, dengan menguasai 20,9 persen suara dan menang
di 10 dari 15 daerah pemilihan, termasuk Jakarta Raya, Jawa Barat,Sumatera
Selatan, Sumatera Tengah, Sumatera Utara, Kalimantan Barat,Kalimantan
Selatan, Sulawesi Tenggara Selatan, dan Maluku. Namun, di Jawa Tengah,
Masyumi
hanya mampu meraup sepertiga dari suara yang diperoleh PNI, dan di Jawa
Timur setengahnya. Kondisi ini menyebabkan hegemoni penguasaan Masyumi
secara nasional tak terjadi.
Berikut hasil Pemilu 1955:
Partai Nasional Indonesia (PNI) – 8,4 juta suara (22,3%)
Masyumi – 7,9 juta suara (20,9%)
Nahdlatul Ulama – 6,9 juta suara (18,4%)
Partai Komunis Indonesia (PKI) – 6,1 juta suara (16%)
 Kelebihan sistem Pemerintahan Orde Baru
perkembangan GDP per kapita Indonesia yang pada tahun 1968 hanyaAS$70
dan pada 1996 telah mencapai lebih dari AS$1.000
sukses transmigrasi
sukses KB
sukses memerangi buta huruf
sukses swasembada pangan
pengangguran minimum
sukses REPELITA (Rencana Pembangunan Lima Tahun)
sukses Gerakan Wajib Belajar
sukses Gerakan Nasional Orang-Tua Asuh
sukses keamanan dalam negeri
Investor asing mau menanamkan modal di Indonesia
sukses menumbuhkan rasa nasionalisme dan cinta produk dalam negeri
 Kekurangan Sistem Pemerintahan Orde Baru
semaraknya korupsi, kolusi, nepotisme
pembangunan Indonesia yang tidak merata dan timbulnya kesenjangan
pembangunan antara pusat dan daerah, sebagian disebabkan karena kekayaan
daerah sebagian besar disedot ke pusat

17
munculnya rasa ketidakpuasan di sejumlah daerah karena kesenjangan
pembangunan, terutama di Aceh dan Papua
kecemburuan antara penduduk setempat dengan para transmigran yang
memperoleh tunjangan pemerintah yang cukup besar pada tahun-tahun
pertamanya
bertambahnya kesenjangan sosial (perbedaan pendapatan yang tidak merata
bagi si kaya dan si miskin)
kritik dibungkam dan oposisi diharamkan
kebebasan pers sangat terbatas, diwarnai oleh banyak koran dan majalah yang
dibreidel
penggunaan kekerasan untuk menciptakan keamanan, antara lain dengan
program “Penembakan Misterius” (petrus)
tidak ada rencana suksesi (penurunan kekuasaan ke pemerintah/presiden
selanjutnya)
Pasca-Orde Baru
Mundurnya Soeharto dari jabatannya pada tahun 1998 dapat dikatakan sebagai
tanda akhirnya Orde Baru, untuk kemudian digantikan “Era Reformasi“.Masih
adanya tokoh-tokoh penting pada masa Orde Baru di jajaran pemerintahan pada
masa Reformasi ini sering membuat beberapa orang mengatakan bahwa Orde
Baru masih belum berakhir. Oleh karena itu Era Reformasi atau Orde Reformasi
sering disebut sebagai “Era Pasca Orde Baru”.

Undang-Undang(UU) No. 7 Tahun 2007 Tentang Pemilu

Setelah melalui pembahasan bersama antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR) Republik Indonesia, akhirnya Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pemilihan Umum
(Pemilu) resmi diundangkan menjadi Undang-Undang (UU) melaluiUndang-Undang (UU) Nomor 7
Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor
182). RUU Penyelenggaraan Pemilu telah disahkan Dalam paripurna yang berlangsung hingga lewat
tengah malam pada Jumat (21/7/2017) menjadi UU lewat paripurna DPR yang diwarnai aksi walk
out. Sedikitnya ada 5 isu krusial di UU Pemilu yang menjadi pijakan untuk Pemilu 2019 mendatang

UU Nomor 7 Tahun 2017 tersebut merupakan penyederhanaan dan penggabungan dari 3 (tiga)
buah undang-undang sebelumnya, yakni Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan
Umum Presiden dan Wakil Presiden, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara

18
Pemilihan Umum, dan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota
Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Adapun Lima isu krusial dalam UU No. 7 Tahun 2017 Tentang Pemilu adalah ambang batas
presidential atau presidential threshold, ambang batas parlemen atau parliamentary threshold,
alokasi kursi anggota DPR per daerah pemilihan (dapil), metode konversi suara pemilu legislatif, dan
sistem pemilu. Yang penjelasannya adalah sebagai berikut.

1. Presidential Threshold: 20-25 Persen

Presidential threshold adalah ambang batas bagi partai politik atau gabungan partai politik untuk
pengajuan presiden atau wakil presiden. Presidential threshold 20-25% maksudnya adalah parpol
atau gabungan parpol harus memiliki 20 persen jumlah kursi di DPR dan/atau 25 persen suara sah
nasional di Pemilu sebelumnya. Isupresidential thresholdmerupakan isu yang paling menimbulkan
perdebatan di antara lima isu krusial lainnya. Hingga diputuskan, isu ini masih menuai pro kontra tak
hanya dari luar parlemen, tetapi juga di internal parlemen.

Presidential thresholdyang akhirnya diputuskan adalah 20-25 persen, yakni 20 persen suara
kursi di DPR atau 25 persen suara sah nasional. Ketentuan ini sudah diberlakukan pada Pemilu 2009
dan 2014 lalu. Akan tetapi, pada dua pemilu sebelumnya, penyelenggaraan pemilu legislatif dan
pemilihan presiden tidak digelar secara serentak.

Pemilu legislatif yang dilaksanakan lebih awal, dan hasilnya dijadikan "modal" dalam
mengusung calon presiden pada pemilihan presiden. Sementara pada Pemilu 2019 mendatang, Pileg
dan Pilpres akan dilaksanakan serentak pada hari dan jam yang sama.

Sebagai gambaran, pada Pilpres 2014, pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla diusung oleh PDI-P
(18,95 persen suara), PKB (9,04 persen suara), Nasdem (6,72 persen suara), Hanura (5,26 persen
suara), dan PKPI (0,91 persen). Jika digabungkan, suara lima partai tersebut melebihi 25 persen.
Gabungan atau koalisi partai-partai itu dapat mengajukan calon dan calon wakil presiden.

Sementara, jika dihitung berdasarkan perolehan kursi parlemen, kursi gabungan empat
partai (minus PKPI yang tak lolos ke DPR) berjumlah 208 kursi. Jumlah tersebut cukup untuk
mencalonkan pasangan capres dan cawapres karena mininum kursi yang harus dikantongi untuk
mencalonkan adalah 112 kursi. Jika sesuai dengan hasil yang diputuskan DPR, maka yang digunakan
adalah hasil pemilihan legislatif 2014.

19
Dengan demikian, cara perhitungan tak akan jauh berbeda. Akan tetapi, poin ini menuai pro
dan kontra karena sejumlah kalangan menilai hasil Pemilu 2014 sudah tak bisa digunakan untuk
Pilpres 2019.

Partai Gerindra yang menolak usulanpresidential threshold20-25 persen bahkan


menyebutnya dengan istilah "tiket usang".

Parliamentary Threshold: 4 Persen

Parliamentary threshold adalah ambang batas perolehan suara partai politik untuk bisa
masuk ke parlemen. Ini berarti parpol minimal harus mendapat 4 persen suara untuk kadernya
bisa duduk sebagai anggota dewan.

Artinya, naik 0,5 persen dari Pemilu 2014 lalu. Sehingga, partai yang perolehan
suaranya tak mencapai 4 persen pada pemilihan legislatif tak akan lolos sebagai anggota DPR RI,
DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota. Untuk DPR RI, misalnya. PBB dan PKPI tak bisa
lolos pada 2014 lalu karena perolehan suaranya tak mencapai 3,5 persen. PBB hanya
memperoleh 1,46 persen suara sedangkan PKPI hanya 0,91 persen suara. Poin ini telah
disepakati oleh semua fraksi di parlemen. Berbeda dengan poinpresidential thresholdyang
dianggap sudah tak relevan karena pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2019 dilaksanakan
serentak.

2. Sistem Pemilu: Terbuka

Sistem proporsional terbuka berarti di kertas suara terpampang nama caleg selain nama
partai. Pemilih juga bisa mencoblos langsung nama caleg yang diinginkan. Sistem pemilu
proporsional terbuka merupakan sistem yang cenderung membebaskan pemilih untuk memilih calon
yang diinginkannya.

Calon legislatif terpilih adalah mereka yang mendapatkan suara terbanyak dari pemilih.

Sistem ini banyak diusulkan oleh pengamat pemilu karena dianggap lebih demokratis dan
tingkat partisipasi masyarakat akan lebih tinggi.Alasannya, pemilih bisa memilih langsung
wakilnya.Sistem ini baru benar-benar diterapkan pada Pemilu 2009 dan Pemilu 2014.

Dapil Magnitude: 3-10

20
Dapil magnitude atau alokasi kursi per dapil yakni rentang jumlah kursi anggota DPR di
setiap daerah pemilihan. Berdasarkan Pasal 22 ayat (2) UU Nomor 8/2012 disebutkan jumlah kursi di
setiap dapil anggota DPR paling sedikit 3 kursi dan paling banyak 10 kursi. Hal ini yang disepakati.

Poin alokasi kursi per dapil ataudistrict magnitude yang diketok DPR sama seperti Pemilu
sebelumnya, yakni 3-10.Artinya, jumlah minimum kursi dalam sebuah dapil adalah 3 kursi,
sedangkan jumlah kursi maksimumnya adalah 10 kursi.Tak banyak yang berubah dari poin ini karena
sama seperti pemilu sebelumnya.

Dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang Pemilu sempat berkembang perubahan


alokasi kursi per dapil.Sempat mengemuka menjadi 3-8 atau bahkan bertambah menjadi 3-
12.Dengan dinamika pembahasan yang tinggi, muncul pula pertimbangan lain di Pansus.Jika alokasi
kursi diubah konfigurasinya, maka akan menambah kerumitan karena diperlukan penataan ulang
daerah pemilihan.Padahal, dinamika yang ada sudah cukup tinggi.

3. Metode Konversi Suara: Sainte Lague Murni

Metode konversi suara mempengaruhi jumlah kursi setiap parpol yang lolos ke DPR. Metode
sainte lague murni menerapkan bilangan pembagi suara berangka ganjil seperti, 1, 3, 5, 7, 9, dan
seterusnya. Metode sainte lague ini dalam melakukan penghitungan suara bersifat proporsional
yaitu tidak ada pembedaan dan tidak memihak apakah itu partai kecil ataupun partai besar.

Dalam mengonversi suara menjadi kursi, metodesainte lague modifikasi membagi jumlah
suara tiap partai di suatu dapil dengan empat angka konstanta sesuai rumus. Konstanta awalnya
dimulai dengan angka 1. Kemudian, akan dibagi sesuai dilanjutkan dengan angka ganjil berikutnya.
Setelah itu, hasilnya diperingkat sesuai dengan jumlah kursi dalam suatu dapil. Jika jumlah kursi di
dapil tersebut 10, maka akan dibuat 10 urutan. Metode ini baru diterapkan di Indonesia. Pada
pemilu-pemilu sebelumnya, metode yang digunakan adalah metode bilangan pembagi pemilih
(BPP). Metode BPP adalah menentukan jumlah kursi dengan mencari suara per kursi terlebih dahulu.
Caranya, membagi total suara sah dengan total kursi yang ada di suatu daerah pemilihan (dapil).
Metode ini cenderung menguntungkan partai menengah dan kecil. Sebab, peluang mereka
mendapatkan kursi sisa lebih terbuka. Sebaliknya, partai besar akan cenderung dirugikan.

Metodesainte laguemurni oleh sebagian pihak dinilai lebih adil. Partai dengan perolehan
suara besar akan mendapatkan lebih banyak kursi, sedangkan partai dengan perolehan suara kecil
tentu akan mendapatkan kursi yang lebih sedikit pula. Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi
(Perludem) salah satu yang menilai metodesainte laguemurni lebih adil, metode tersebut akan
memberikan keadilan dan proporsionalitas suara terhadap partai politik peserta pemilu. Sehingga,

21
lebih terjamin proporsionalitas antara jumlah perolehan suara parpol dengan jumlah kursi yang
didapat.

4.
a. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1953 tentang pemilihan Anggota Konstituante dan
Anggota DPR sebagaimana diubah dengan UU Nomor 18 Tahun 1953.
b. Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1954 tentang Menyelenggarakan Undang-
undang Pemilu.
c. Peraturan Pemerintah Nomor 47 Tahun 1954 tentang Cara Pencalonan
Keanggotaan DPR / Konstituante oleh Anggota Angkatan Perang dan
Pernyataan Non Aktif/ Pemberhentian berdasarkan penerimaan keanggotaan
pencalonan keanggotaan tersebut, maupun larangan mengadakan Kampanye Pemilu
terhadap Anggota Angkatan Perang.
5. Badan Penyelenggara Pemilu
Untuk menyelenggarakan Pemilu dibentuk badan penyelenggara pemilihan, dengan
berpedoman pada Surat Edaran Menteri Kehakiman Nomor JB.2/9/4 Und.Tanggal 23
April 1953 dan 5/11/37/KDN tanggal 30 Juli 1953, yaitu :
a. Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) : mempersiapkan dan menyelenggarakan pemilihan
anggota Konstituante dan anggota DPR. Keanggotaan PPI sekurang-kurangnya 5
(lima) orang dan sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang, dengan masa kerja 4
(empat) tahun.
b. Panitia Pemilihan (PP) : dibentuk disetiap daerah pemilihan untuk membantu
persiapan dan menyelenggarakan pemilihan anggota konstituante dan anggota DPR.
Susunan keanggotaan sekurang-kurangnya 5 (lima) orang anggota dan sebanyak-
banyaknya 7 (tujuh) orang anggota, dengan masa kerja 4 (empat) tahun.
c. Panitia Pemilihan Kabupaten (PPK) dibentuk pada tiap kabupaten oleh Menteri
Dalam Negeri yang bertugas membantu panitia pemilihan mempersiapkan dan
menyelenggarakan pemilihan anggota Konstituante dan anggota DPR.
d. Panitia Pemungutan Suara (PPS) dibentuk disetiap kecamatan oleh Menteri Dalam
Negeri dengan tugas mensahkan daftar pemilih, membantu persiapan pemilihan
anggota Konstituante dan anggota DPR serta menyelenggarakan pemungutan suara.
Keanggotaan PPS sekurang-kurangnya 5 (lima) orang anggota dan Camat karena
jabatannya menjadi ketua PPS merangkap anggota. Wakil ketua dan anggota diangkat
dan diberhentikan oleh PPK atas nama Menteri Dalam Negeri.
6. Peserta Pemilu 1955

22
Pemilu anggota DPR diikuti 118 peserta yang terdiri dari 36 partai politik, 34
organisasi kemasyarakatan dan 48 perorangan, sedangkan untuk Pemilu anggota
Konstituante diikuti 91 peserta yang terdiri dari 39 partai politik, 23 organisasi
kemasyarakatan dan 29 perorangan. Partai politik tersebut antara lain :
a. Partai Komunis Indonesia (PKI), berdiri 7 Nopember 1945, diketuai oleh Moh.Yusuf
Sarjono.
b. Partai Islam Masjumi, berdiri 7 Nopember 1945, diketuai oleh dr. Sukirman Wirjo -
Sardjono.
c. Partai Buruh Indonesia, berdiri 8 Nopember 1945, diketuai oleh Nyono.
d. Partai Rakyat Djelata, berdiri 8 Nopember 1945, diketuai oleh Sutan Dewanis.
e. Partai Kristen Indonesia (Parkindo), berdiri 10 Nopember 1945 diketuai oleh DS.
Probowinoto.
f. Partai Sosialis Indonesia, berdiri 10 Nopember 1945 diketuai oleh Mr. Amir
Syarifudin.
g. Partai Rakyat Sosialis, berdiri 20 Nopember 1945 diketuai oleh Sutan Syahrir.
h. Partai Katholik Republik Indonesia (PKRI), berdiri 8 Desember 1945, diketuai oleh J.
Kasimo.
i. Persatuan Rakyat Marhaen Indonesia (Permai) diketuai oleh JB. Assa.
j. Gabungan Partai Sosialis Indonesia dan Partai Rakyat Sosialis, menjadi Partai Sosialis
pada 17 Desember 1945, diketuai oleh Sutan Syahrir, Amir Syarifudin dan Oei Hwee
Goat.
k. Partai Republik Indonesia, Gerakan Republik Indonesia dan Serikat Rakyat Indonesia
menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI) 29 Januari 1946, diketuai oleh Sidik
Joyosuharto.

B. Pemilu 1971-1997 (Masa Orde Baru)


1. PEMILU 1971
a. Sistem Pemilu
Pemilu 1971 merupakan pemilu kedua yang diselenggarakan bangsa Indonesia.
Pemilu 1971 dilaksanakan pada pemerintahan Orde Baru, tepatnya 5 tahun setelah
pemerintahanini berkuasa. Pemilu yang dilaksanakan pada 5 Juli 1971 ini
diselenggarakan untuk memilih Anggota DPR. Sistem Pemilu 1971 menganut sistem
perwakilan berimbang (proporsional) dengan sistem stelsel daftar, artinya besarnya
kekuatan perwakilan organisasi dalam DPR dan DPRD, berimbang dengan besarnya
dukungan pemilih karena pemilih memberikan suaranya kepada Organisasi Peserta
Pemilu.

23
b. Asas Pemilu
Pemilu 1971 dilaksanakan dengan asas langsung, umum, bebas dan rahasia (LUBER).
 Langsung, artinya bahwa pemilih langsung memberikan suaranya menurut hati
nuraninya, tanpa perantara dan tanpa tingkatan.
 Umum, artinya semua warga negara yang telah memenuhi persyaratan minimal
dalam usia, mempunyai hak memilih dan dipilih.
 Bebas, artinya bahwa setiap pemilih bebas menentukan pilihannya menurut hati
nuraninya, tanpa ada pengaruh, tekanan, paksaan dari siapapun dan dengan cara
apapun.
 Rahasia, artinya bahwa pemilih dalam memberikan suara dijamin tidak akan
diketahui oleh siapapun dan dengan cara apapun mengenai siapa yang dipilihnya.
c. Dasar Hukum
 TAP MPRS No. XI/MPRS/1966.
 TAP MPRS No. XLII/MPRS/1966.
 UU Nomor 15 Tahun 1969 tentang Pemilihan Umum Anggota-Anggota Badan
Permusyawaratan / Perwakilan Rakyat.
 UU Nomor 16 Tahun 1969 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan
DPRD.
d. Badan Penyelenggara Pemilu
Lembaga Pemilihan Umum (LPU) dibentuk dengan Keputusan Presiden Nomor 3
Tahun 1970. LPU diketuai oleh Menteri Dalam Negeri yang keanggotaannya terdiri
atas Dewan Pimpinan, Dewan Pertimbangan, Sekretariat Umum LPU dan Badan
Perbekalan dan Perhubungan. Struktur organisasi penyelenggara di pusat, disebut
Panitia Pemilihan Indonesia (PPI), diprovinsi disebut Panitia Pemilihan Daerah
Tingkat I (PPD I), dikabupaten/ kotamadya disebut Panitia Pemilihan Daerah Tingkat
II, dikecamatan disebut Panitia Pemungutan Suara (PPS) dan didesa/ kelurahan
disebut Panitia Pendaftaran Pemilih (Pantarlih). Untuk melaksanakan pemungutan
dan penghitungan suara dibentuk Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara
(KPPS). Bagi warga negara RI diluar negeri dibentuk Panitia Pemilihan Luar Negeri
(PPLN), Panitia Pemungutan Suara Luar Negeri (PPSLN) dan Kelompok
Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN) yang bersifat sementara
(adhoc).
e. Peserta Pemilu 1971
1) Partai Nahdlatul Ulama.
2) Partai Muslim Indonesia.
3) Partai Serikat Islam Indonesia.

24
4) Persatuan Tarbiyah Islamiiah.
5) Partai Nasionalis Indonesia.
6) Partai Kristen Indonesia.
7) Partai Katholik.
8) Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia.
9) Partai Murba.
10) Sekber Golongan Karya.
2. PEMILU 1977
a. Sistem Pemilu
Pemilu kedua pada pemerintahan orde baru ini diselenggarakan pada tanggal 2 Mei
1977. Sama halnya dengan Pemilu 1971, pada Pemilu 1977 juga menggunakan sistem
perwakilan berimbang (proporsional) dengan stelsel daftar.
b. Asas Pemilu
Pemilu 1977 dilaksanakan dengan asas langsung, umum, bebas dan rahasia.
c. Dasar Hukum
 Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1973 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara
Bidang Politik, Aparatur Pemerintah, Hukum dan Hubungan Luar Negeri.
 Ketetapan MPR Nomor VIII/MPR/1973 tentang Pemilihan Umum.
 Undang-undang Nomor 3/1975 Tentang Partai Politik dan Golongan Karya.
 Undang-undang Nomor 5/1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di daerah.
 Undang-undang Nomor 8/1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian.
 Undang-undang Nomor 5/1979 tentang Pemerintahan Desa.
d. Badan Penyelenggara Pemilu
Pemilu 1977 diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Pemilu yang memiliki
struktur yang sama dengan penyelenggaraan pada tahun 1971, yaitu PPI ditingkat
pusat, PPD I diprovinsi, PPD II dikabupaten/ kotamadya, PPS di
kecamatan, Pantarlih didesa/ kelurahan dan KPPS. Bagi warga negara
Indonesia diluar negeri dibentuk PPLN, PPSLN dan KPPSLN yang bersifat sementara
(adhoc).
e. Peserta Pemilu 1977
Pada Pemilu 1977, ada fusi atau peleburan partai politik peserta Pemilu 1971
sehingga Pemilu 1977 diikuti 3 (tiga) peserta Pemilu, yaitu :
1) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang merupakan fusi/ penggabungan dari
NU, Parmusi, Perti dan PSII.
2) Golongan Karya (GOLKAR).

25
3) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) merupakan fusi/ penggabungan dari PNI,
Parkindo, Partai Katolik, Partai IPKI dan Partai Murba.
3. PEMILU 1982
a. Sistem Pemilu
Pemilu 1982 merupakan pemilu ketiga yang diselenggarakan pada pemerintahan Orde
Baru. Pemilu ini diselenggarakan pada tanggal 4 Mei 1982. Sistem Pemilu 1982 tidak
berbeda dengan sistem yang digunakan dalam Pemilu 1971 dan Pemilu 1977, masih
menggunakan sistem perwakilan berimbang (proporsional).
b. Asas Pemilu
Pemilu 1982 dilaksanakan dengan asas Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia.
c. Dasar Hukum
 Ketetapan MPR Nomor IV/MPR/1978 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara
dan Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/1978 Tentang Pemilu.
 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1980 tentang Pemilihan Umum.
 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1980 sebagai pengganti Peraturan
Pemerintah Nomor 1 Tahun 1976
d. Badan Penyelenggara Pemilu
Struktur organisasi penyelenggara Pemilu 1982 sama dengan struktur organisasi
penyelenggara Pemilu 1977, yaitu : PPI, PPD I, PPD II, PPS, Pantarlih dan KPPS
serta PPLN, PPSLN dan KPPSLN.
e. Peserta Pemilu 1982
1) Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
2) Golongan Karya (Golkar).
3) Partai Demokrasi Indonesia (PDI).
4. PEMILU 1987
a. Sistem Pemilu
Sistem Pemilu yang digunakan pada tahun 1987 masih sama dengan sistem yang
digunakan dalam Pemilu 1982, yaitu menganut sistem perwakilan berimbang
(proporsional) dengan stelsel daftar. Dilaksanakan pada tanggal 23 April 1987.
b. Asas Pemilu
Pemilu 1987 dilaksanakan dengan asas langsung, umum, bebas dan rahasia.
c. Dasar Hukum
 Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1983 tentang GBHN dan Ketetapan MPR Nomor
III/ MPR/1983 tentang Pemilihan Umum.

26
 UU Nomor 1 Tahun 1980 tentang Perubahan Atas UU Nomor 15 Tahun 1969
sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 4 Tahun 1975 dan UU Nomor 2
Tahun 1980.
 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1980 sebagai pengganti Peraturan
Pemerintah Nomor 1 Tahun 1976.
d. Badan Penyelenggara Pemilu
Struktur organisasi penyelenggara Pemilu1982 sama dengan struktur organisasi
penyelenggara Pemilu 1977, yaitu terdiri dari PPI, PPD I, PPD II, PPS, Pantarlih, dan
KPPS serta PPLN, PPSLN dan KPPSLN.
e. Peserta Pemilu 1987
1) Partai Persatuan Pembangunan.
2) Golongan Karya.
3) Partai Demokrasi Indonesia.

5. PEMILU 1992
a. Sistem Pemilu
Pemilu kelima pada pemerintahan Orde Baru dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 1992.
Sistem Pemilu yang digunakan pada tahun 1992 masih sama dengan sistim yang
digunakan dalam Pemilu 1987, yaitu menganut sistem perwakilan berimbang
(proporsional) dengan stelsel daftar.
b. Asas Pemilu
Pemilu 1987 dilaksanakan dengan asas langsung, umum, bebas dan rahasia.
c. Dasar Hukum
 Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1988 tentang GBHN dan Ketetapan MPR Nomor
III/ MPR/1988 tentang Pemilu.
 UU Nomor 1 Tahun 1980 tentang Perubahan Atas UU Nomor 15 Tahun 1969
sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 4 Tahun 1975 dan UU Nomor 2
Tahun 1980.
 Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1985.
 Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 1985.
 Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 1990.
d. Badan Penyelenggara Pemilu
Struktur organisasi penyelenggara Pemilu 1992 sama dengan struktur organisasi
penyelenggara Pemilu 1987, yaitu terdiri dari PPI, PPD I, PPD II, PPS, Pantarlih dan
KPPS, serta PPLN, PPSLN dan KPPSLN.

27
e. Peserta Pemilu 1992
1) Partai Persatuan Pembangunan.
2) Golongan Karya.
3) Partai Demokrasi Indonesia.
6. PEMILU 1997
a. Sistem Pemilu
Pemilu keenam pada pemerintahan Orde Baru ini dilaksanakan pada tanggal 29 Mei
1997. Sistem Pemilu yang digunakan pada tahun 1997 masih sama dengan sistem
yang digunakan dalam Pemilu 1992, yaitu menganut sistem perwakilan berimbang
(proporsional) dengan stelsel daftar.
b. Asas Pemilu
Pemilu 1997 dilaksanakan dengan asas langsung, umum, bebas dan rahasia.
c. Dasar Hukum
 Ketetapan MPR Nomor II/MPR/1993 tentang GBHN dan Ketetapan MPR Nomor
III/ MPR/1993 tentang Pemilu.
 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1996 tentang Pemilihan Umum.
 Peraturan Pemerintah Nomor 35 Tahun 1985 tentang Pelaksanaan Undang-undang
Nomor 16 Tahun 1969 tentang Susunan dan Kedudukan Majelis Permusyawaratan
Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
sebagaimana telah diubah dengan Undang-
undang Nomor 5 Tahun 1975 dan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1985.
d. Badan Penyelenggara Pemilu
Struktur organisasi penyelenggara Pemilu 1997 sama dengan struktur organisasi
penyelenggara Pemilu 1992, yaitu terdiri dari PPI, PPD I, PPD II, PPS, Pantarlih dan
KPPS, serta PPLN, PPSLN dan KPPSLN.
e. Peserta Pemilu 1997
1) Partai Persatuan Pembangunan.
2) Golongan Karya.
3) Partai Demokrasi Indonesia.

C. Pemilu 1999-2009 (Masa Reformasi)


1. PEMILU 1999
a. Sistem Pemilu.
Pemilu 1999 merupakan pemilu pertama pada masa reformasi. Pemungutan suara
dilaksanakan pada tanggal 7 Juni 1999 secara serentak diseluruh wilayah Indonesia.

28
Sistem Pemilu 1999 sama dengan Pemilu 1997 yaitu sistem perwakilan berimbang
(proporsional) dengan stelsel daftar.
b. Asas Pemilu
Pemilu 1999 dilaksanakan dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan
adil.
c. Dasar Hukum
 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1999 tentang Partai Politik.
 Undang-undang Nomor 3 Tahun 1999 tentang Pemilihan Umum.
 Undang-undang Nomor 4 Tahun 1999 tentang Susunan dan Kedudukan MPR,
DPR dan DPRD.
d. Badan Penyelenggara Pemilu
Pemilu tahun 1999 dilaksanakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dibentuk
olehPresiden. KPU beranggotakan 48 orang dari unsur partai politik dan 5 orang
wakil pemerintah. Dalam menyelenggarakan Pemilu, KPU juga dibantu oleh
Sekretariat Umum KPU. Penyelenggara pemilu tingkat pusat dilaksanakan oleh
Panitia Pemilihan Indonesia (PPI) yang jumlah dan unsur anggotanya sama dengan
KPU. Untuk penyelenggaraan ditingkat daerah dilaksanakan oleh PPD I, PPD II,
PPK, PPS dan KPPS. Untuk penyelenggaraan diluar negeri dilaksanakan oleh PPLN,
PPSLN dan KPPSLN yang keanggotaannya terdiri atas wakil-wakil parpol peserta
Pemilu ditambah beberapa orang wakil dari pemerintah dan tokoh-tokoh masyarakat.
e. Peserta Pemilu 1999
Peserta Pemilu tahun 1999 diikuti oleh 48 Partai Politik, yaitu :
1) Partai Indonesia Baru.
2) Partai Kristen Nasional Indonesia.
3) Partai Nasional Indonesia.
4) Partai Aliansi Demokrat Indonesia.
5) Partai Kebangkitan Muslim Indonesia.
6) Partai Ummat Islam.
7) Partai Kebangkitan Umat.
8) Partai Masyumi Baru.
9) Partai Persatuan Pembangunan.
10) Partai Syarikat Islam Indonesia.
11) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
12) Partai Abul Yatama.
13) Partai Kebangsaan Merdeka.
14) Partai Demokrasi Kasih Bangsa.
15) Partai Amanat Nasional.

29
16) Partai Rakyat Demokratik.
17) Partai Syarikat Islam Indonesia 1905.
18) Partai Katholik Demokrat.
19) Partai Pilihan Rakyat.
20) Partai Rakyat Indoneia.
21) Partai Politik Islam Indonesia Masyumi.
22) Partai Bulan Bintang.
23) Partai Solidaritas Pekerja.
24) Partai Keadilan.
25) Partai Nahdlatul Umat.
26) PNI Front Marhaenis.
27) Partai Ikatan Pend. Kmd. Indonesia.
28) Partai Republik.
29) Partai Islam Demokrat.
30) PNI Massa Marhaen.
31) Partai Musyawarah Rakyat Banyak.
32) Partai Demokrasi Indonesia.
33) Partai Golongan Karya.
34) Partai Persatuan.
35) Partai Kebangkitan Bangsa.
36) Partai Uni Demokrasi Indonesia.
37) Partai Buruh Nasional.
38) Partai Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR).
39) Partai Daulat Rakyat .
40) Partai Cinta Damai.
41) Partai Keadilan dan Persatuan.
42) Partai Solidaritas Pekerja Seluruh Indonesia.
43) Partai Nasional Bangsa Indonesia.
44) Partai Bhinneka Tunggal Ika.
45) Partai Solidaritas Uni Nasional Indonesia.
46) Partai Nasional Demokrat.
47) Partai Umat Muslimin Indonesia.
48) Partai Pekerja Indonesia.
2. PEMILU 2004
Pemilu 2004 merupakan pemilu pertama yang memungkinkan rakyat memilih langsung
wakil mereka untuk duduk di DPR, DPD dan DPRD serta memilih langsung presiden
dan wakil presiden. Pemilu 2004 diselenggarakan secara serentak pada tanggal 5 April

30
2004 untuk memilih 550 Anggota DPR, 128 Anggota DPD, serta Anggota DPRD
(DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/ Kota) se Indonesia periode 2004-2009.
Sedangkan untuk memilih presiden dan wakil presiden untuk masa bakti 2004-2009
diselenggarakan pada tanggal 5 Juli 2004 (putaran I) dan 20 September 2004 (putaran II).
a. Sistem Pemilu
Pemilu 2004 dilaksanakan dengan sistem yang berbeda dari pemilu-pemilu
sebelumnya. Pemilu untuk memilih Anggota DPR dan DPRD (termasuk didalamnya
DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/ Kota) dilaksanakan dengan sistem perwakilan
berimbang (proporsional) dengan sistem daftar calon terbuka. Partai politik akan
mendapatkan kursi sejumlah suara sah yang diperolehnya. Perolehan kursi ini akan
diberikan kepada calon yang memenuhi atau melebihi nilai BPP. Apabila tidak ada,
maka kursi akan diberikan kepada calon berdasarkan nomor urut. Pemilu untuk
memilih Anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik berwakil banyak.
b. Asas Pemilu
Pemilu 2004 dilaksanakan dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan
adil.
c. Dasar Hukum
 Undang-undang No. 31 Tahun 2002 tentang Partai Politik.
 Undang-undang No. 12 Thn 2003 tentang Pemilihan Umum Anggota DPR, DPD
dan DPRD.
 Undang-undang Nomor 23 tahun 2003 Tentang Pemilihan Umum Presiden dan
Wakil Presiden.
d. Badan Penyelenggara Pemilu
Penyelenggaraan Pemilu 2004 dilakukan oleh KPU. Penyelenggaraan ditingkat
provinsi dilakukan KPU Provinsi, sedangkan ditingkat kabupaten/ kota oleh KPU
Kabupaten/ Kota. Selain badan penyelenggara pemilu diatas, terdapat juga
penyelenggara pemilu yang bersifat sementara (adhoc) yaitu Panitia Pemilihan
Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan Suara (PPS) untuk tingkat desa/ kelurahan
dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) untuk di TPS. Untuk
penyelenggaraan diluar negeri, dibentuk Panitia Pemungutan Luar Negeri (PPLN) dan
Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara Luar Negeri (KPPSLN).
e. Peserta Pemilu 2004
Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD tahun 2004 diikuti 24 partai, yaitu :
1) Partai Nasional Indonesia Marhaenisme (PNI Marhaenisme).
2) Partai Buruh Sosial Demokrat (PBSD).
3) Partai Bulan Bintang (PBB).
4) Partai Merdeka.

31
5) Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
6) Partai Persatuan Demokrasi Kebangsaan (PDK).
7) Partai Perhimpunan Indonesia Baru (PIB).
8) Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK).
9) Partai Demokrat.
10) Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKP Indonesia).
11) Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI).
12) Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI).
13) Partai Amanat Nasional (PAN).
14) Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB).
15) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).
16) Partai Keadilan Sejahtera (PKS).
17) Partai Bintang Reformasi (PBR).
18) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
19) Partai Damai Sejahtera.
20) Partai Golongan Karya (Partai Golkar).
21) Partai Patriot Pancasila.
22) Partai Sarikat Indonesia.
23) Partai Persatuan Daerah (PPD).
24) Partai Pelopor.
f. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2004
Peserta Pemilu Presiden dan Wakil Presiden tahun 2004 putaran I (pertama) sebanyak
5 (lima) pasangan, adalah sebagai berikut :
1) H. Wiranto, SH. dan Ir. H.Salahuddin Wahid.
2) Hj. Megawati Soekarnoputri dan K. H. Ahmad Hasyim Muzadi.
3) Prof. Dr. H. M. Amien Rais dan Dr. Ir. H. Siswono Yudo Husodo.
4) H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla.
5) Dr. H. Hamzah Haz dan H. Agum Gumelar, M.Sc.
Karena kelima pasangan calon presiden dan wakil presiden peserta Pemilu Presiden
dan Wakil Presiden putaran I (pertama) belum ada yang memperoleh suara lebih dari
50%, maka dilakukan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden putaran II (kedua), dengan
peserta dua pasangan calon presiden dan wakil presiden yang memperoleh suara
terbanyak pertama dan terbanyak kedua, yaitu :
1) Hj. Megawati Soekarnoputri dan K. H. Ahmad Hasyim Muzadi.
2) H. Susilo Bambang Yudhoyono dan Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla.
3. PEMILU 2009
Pemilu 2009 adalah pemilu ketiga pada masa reformasi yang diselenggarakan

32
secara serentak pada tanggal 9 April 2009 untuk memilih 560 Anggota DPR, 132
Anggota DPD, serta Anggota DPRD (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/ Kota)
se Indonesia periode 2009-2014. Sedangkan untuk memilih presiden dan wakil presiden
untuk masa bakti 2009-2014 diselenggarakan pada tanggal 8 Juli 2009 (satu putaran).
a. Sistem Pemilu
Pemilu 2009 untuk memilih Anggota DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/ Kota
dilaksanakan dengan sistem perwakilan berimbang (proporsional) dengan sistem
daftar calon terbuka. Kursi yang dimenangkan setiap partai politik mencerminkan
proporsi total suara yang didapat setiap parpol. Mekanisme sistem ini memberikan
peran besar kepada pemilih untuk menentukan sendiri wakilnya yang akan duduk
dilembaga perwakilan. Calon terpilih adalah mereka yang memperoleh suara
terbanyak. Untuk memilih Anggota DPD dilaksanakan dengan sistem distrik berwakil
banyak. Distrik disini adalah provinsi, dimana setiap provinsi memiliki 4 (empat)
perwakilan.
b. Asas Pemilu
Pemilu 2009 dilaksanakan dengan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan
adil.
c. Dasar Hukum
 Undang-undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum.
 Undang-undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.
 Undang-undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD dan
DPRD.
 Undang-undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden dan Wakil
Presiden.
d. Badan Penyelenggara Pemilu
UUD 1945 menyebutkan bahwa Pemilihan Umum dilaksanakan oleh suatu Komisi
Pemilihan Umum yang bersifat nasional, tetap dan mandiri. Penyelenggara pemilu
ditingkat nasional dilaksanakan oleh KPU, ditingkat provinsi dilaksanakan oleh KPU
Provinsi, ditingkat kabupaten/ kota dilaksanakan oleh KPU Kabupaten/ Kota. Selain
badan penyelenggara pemilu diatas, terdapat juga penyelenggara pemilu yang bersifat
sementara (adhoc) yaitu Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), Panitia Pemungutan
Suara (PPS) untuk tingkat desa/ kelurahan dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan
Suara (KPPS) untuk di TPS. Untuk penyelenggaraan diluar negeri, dibentuk Panitia
Pemungutan Luar Negeri (PPLN) dan Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara
Luar Negeri (KPPSLN).
e. Peserta Pemilu

33
Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD Tahun 2009 diikuti oleh 44 partai, 38 partai
merupakan partai nasional dan 6 partai merupakan partai lokal Aceh. Partai-partai
tersebut adalah :
1) Partai Hati Nurani Rakyat.
2) Partai Karya Peduli Bangsa.
3) Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia.
4) Partai Peduli Rakyat Nasional.
5) Partai Gerakan Indonesia Raya.
6) Partai Barisan Nasional.
7) Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia.
8) Partai Keadilan Sejahtera.
9) Partai Amanat Nasional.
10) Partai Perjuangan Indonesia Baru.
11) Partai Kedaulatan.
12) Partai Persatuan Daerah.
13) Partai Kebangkitan Bangsa.
14) Partai Pemuda Indonesia.
15) Partai Nasional Indonesia Marhaenisme.
16) Partai Demokrasi Pembaruan.
17) Partai Karya Perjuangan.
18) Partai Matahari Bangsa.
19) Partai Penegak Demokrasi Indonesia.
20) Partai Demokrasi Kebangsaan.
21) Partai Republika Nusantara.
22) Partai Pelopor.
23) Partai Golongan Karya.
24) Partai Persatuan Pembangunan.
25) Partai Damai Sejahtera.
26) Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia.
27) Partai Bulan Bintang.
28) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.
29) Partai Bintang Reformasi.
30) Partai Patriot.
31) Partai Demokrat.
32) Partai Kasih Demokrasi Indonesia.
33) Partai Indonesia Sejahtera.
34) Partai Kebangkitan Nasional Ulama.

34
35) Partai Aceh Aman Seujahtra (Partai Lokal).
36) Partai Daulat Aceh (Partai Lokal).
37) Partai Suara Independen Rakyat Aceh (Partai Lokal).
38) Partai Rakyat Aceh (Partai Lokal).
39) Partai Aceh (Partai Lokal).
40) Partai Bersatu Aceh (Partai Lokal).
41) Partai Merdeka.
42) Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia.
43) Partai Sarikat Indonesia.
44) Partai Buruh.
f. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2009
Peserta Pemilu 2009 diikuti oleh 3 (tiga) pasangan calon, yaitu :
1) Hj. Megawati Soekarnoputri dan H. Prabowo Subianto (didukung oleh PDIP,
Partai Gerindra, PNI Marhaenisme, Partai Buruh, Pakar Pangan, Partai
Merdeka, Partai Kedaulatan, PSI, PPNUI).
2) Dr. Susilo Bambang Yudhoyono dan Prof. Dr. Boediono (didukung oleh Partai
Demokrat, PKS, PAN, PPP, PKB, PBB, PDS, PKPB, PBR, PPRN, PKPI, PDP,
PPPI, Partai RepublikaN, Partai Patriot, PNBKI, PMB, PPI, Partai Pelopor,
PKDI, PIS, Partai PIB, Partai PDI).
3) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla dan H. Wiranto, S.IP (didukung oleh Partai
Golkar dan Partai Hanura).

2.2. Pengertian dan Landasan Hukum Pemilukada

A. Pengertian Pemilukada
Pemilukada yaitu pemilihan kepala daerah dan wakilnya yaitu pemilihan Gubernur dan
wakilnya maupun pemilihan Bupati/walikota dan wakilnya yang merupakan perwujudan
pengembalian hak-hak rakyat dalam memilih pemimpin di daerah. Pilkada langsung
merupakan instrumen politik dari rakyat dalam kerangka kepemimpinan kepala daerah.
Legistimasi adalah komitmen untuk mewujudkan nilai-nilai dan norma-norma yang
berdimensi hukum, moral, dan sosial. Seorang kepala daerah yang memiliki legitimasi
adalah kepala daerah yang terpilihdengan prosedur yang sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan serta melalui proses kampanye dan pemilihan yang demokratis dan
sesuai dengan norma-norma sosial dan didukung suara trerbanyak
B. Landasan Hukum Pemilukada

35
Penyelenggaraan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden 2004 secara langsung telah
mengilhami dilaksanakannya pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah
(Pemilukada) secara langsung pula. Hal ini didukung pula dengan semangat otonomi
daerah yang telah digulirkan pada tahun 1999. Oleh karena itulah, sejak tahun 2005, telah
diselenggarakan Pemilukada secara langsung, baik ditingkat provinsi maupun kabupaten/
kota. Penyelenggaraan ini diatur dalam UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah yang menyebutkan bahwa “Kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih dalam
satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis berdasarkan asas langsung,
umum, bebas, rahasia, jujur dan adil”. Pasangan calon yang akan berkompetisi dalam
Pemilukada adalah pasangan calon yang diajukan oleh partai politik atau gabungan partai
politik. Pemilukada masuk dalam rezim Pemilu setelah disahkannya UU Nomor 22
Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum sehingga sampai saat ini Pemilu
Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah lebih dikenal dengan istilah Pemilukada. Pada
tahun 2008, tepatnya setelah diberlakukannya UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang
Perubahan Kedua Atas UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,
Pasangan Calon yang dapat turut serta dalam Pemilukada tidak hanya pasangan calon
yang diajukan oleh partai politik atau gabungan partai politik, tetapi juga dari
perseorangan.
g. Asas Pemilukada
Pemilukada dilaksanakan berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan
adil.
h. Dasar Hukum
 UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana diubah
terakhir dengan UU Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas UU
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.
 PP Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkatan dan
Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah sebagaimana diubah
terakhir dengan PP Nomor 49 Tahun 2008 tentang Perubahan Ketiga Atas PP
Nomor 6 Tahun 2005 tentang Pemilihan, Pengesahan Pengangkatan dan
Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.
 UU Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu.
i. Badan Penyelenggara
Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur diselenggarakan oleh KPU Provinsi,
sedangkan Pemilu Bupati dan Wakil Bupati atau Walikota dan Wakil Walikota oleh
KPU Kabupaten/ Kota.
j. Peserta
Peserta Pemilukada adalah Pasangan Calon dari :

36
1) Partai politik atau gabungan partai politik yang memperoleh kursi paling
rendah 15% (lima belas perseratus) dari jumlah kursi DPRD didaerah
bersangkutan atau memperoleh suara sah paling rendah 15% (lima belas
perseratus) dari akumulasi perolehan suara sah dalam Pemilu Anggota DPRD
didaerah bersangkutan.
2) Perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang yang telah memenuhi
persyaratan secara berpasangan sebagai satu kesatuan, dengan syarat dukungan
sejumlah :

Jumlah Dukungan J u m l a h P e n d u d u k
sekurang-kurangnya: P r o v i n s i Kabupaten/ Kota
6 , 5 % sampai dengan 2 juta jiwa sampai dengan 250 ribu jiwa
5 % lebih dari 2 juta - 6 juta jiwa lebih dari 250 ribu - 500 ribu jiwa
4 % lebih dari 6 juta - 12 juta jiwa lebih dari 500 ribu - 1 juta jiwa
3 % lebih dari 12 juta jiwa lebih dari 1 juta jiwa

Jumlah dukungan diatas harus tersebar dilebih dari 50% jumlah kabupaten/
kota diprovinsi yang bersangkutan (Pemilu Gubernur dan Wakil Gubernur).
Sedangkan untuk Pemilu Bupati dan Wakil Bupati atau Walikota dan Wakil
Walikota jumlah dukungan harus tersebar di lebih dari 50% jumlah kecamatan
dikabupaten/ kota yang bersangkutan.

2.3. Pemilukada Langsung

A. Pemilukada Langsung

Sebelum tahun 2005, kepala daerah dan wakil kepala daerah dipilih oleh Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 tentang Pemerintahan Daerah, kepala daerah dipilih secara langsung oleh rakyat
melalui Pemilihan Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah atau disingkat Pilkada. Pilkada
pertama kali diselenggarakan pada bulan Juni 2005.

Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara


Pemilihan Umum, pilkada dimasukkan dalam rezim pemilu, sehingga secara resmi bernama

37
Pemilihan umum Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah atau disingkat Pemilukada.
Pemilihan kepala daerah pertama yang diselenggarakan berdasarkan undang-undang ini
adalah Pilkada DKI Jakarta 2007. Pada tahun 2011, terbit undang-undang baru mengenai
penyelenggara pemilihan umum yaitu Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2011. Di dalam
undang-undang ini, istilah yang digunakan adalah Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali
Kota.

Pilkada diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi dan KPU
Kabupaten/Kota dengan diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan Umum (Panwaslu)
Provinsi dan Panwaslu Kabupaten/Kota.Khusus di Aceh, Pilkada diselenggarakan oleh
Komisi Independen Pemilihan (KIP) dengan diawasi oleh Panitia Pengawas Pemilihan Aceh
(Panwaslih Aceh).

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, peserta pilkada adalah


pasangan calon yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik. Ketentuan ini
diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 yang menyatakan bahwa peserta
pilkada juga dapat berasal dari pasangan calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah
orang. Undang-undang ini menindaklanjuti keputusan Mahkamah Konstitusi yang
membatalkan beberapa pasal menyangkut peserta Pilkada dalam Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004.Khusus di Aceh, peserta Pilkada juga dapat diusulkan oleh partai politik lokal

B. Kelebihan Pemilukada Langsung

Perlu juga diakui bahwa bagian dari kelebihan pilkada secara langsung adalah adanya
pergeseran sistem yang cukup mendasar, yakni dari sistem sentralistik ke desentralistik.
Dalam hal ini, tentu masyarakat akan lebih memiliki kelonggaran untuk menjatuhkan
pilihannya kepada sosok yang benar-benar mereka kenali dan mereka percayai. Bahkan,
sebagian masyarakat secara tidak langsung memiliki kecenderungan yang tinggi untuk
menitipkan pemerintahan daerahnya kepada seorang putera daerah. Walaupun tentu saja
idealisme semacam ini tidak bisa dipersepsikan secara seragam oleh seluruh masyarakat
pemilih. Karena putera daerah bukanlah satu-satunya jaminan kapabilitas dirinya dalam
menjalankan roda pemerintahan.

Banyak permasalahan baik dari implikasi politik maupun dampak sosial ekonomi
baik yang menguntungkan maupun tidak. Ada beberapa keunggulan pilkada dengan model
pemilihan secara langsung.

38
Pertama, pilkada secara langsung memungkinkan proses yang lebih Partisipasi. Partisipasi
jelas akan membuka akses dan kontrol masyarakat yang lebih kuat sebagai aktor yang telibat
dalam pilkada dalam arti partisipasi secara langsung merupakan prakondisi untuk
mewujudkan kedaulatan ditangan rakyat dalam konteks politik dan pemerintahan.

Kedua, proses pilkada secara langsung memberikan ruang dan pilihan yang terbuka bagi
masyarakat untuk menentukan calon pemimpin yang memiliki kapasitas, dan komitmen yang
kuat serta legitimate dimata masyarakat sehingga pemimpin yang baru tersebut dapat
membuahkan keputusan-keputusan yang lebih baik dengan dukungan dan kepercayaan dari
masyarakat luas dan juga diharapkan akan terjadinya rasa tanggung jawab secara timbal balik.
Sang kepala daerah lebih merasa mendapatkan dukungan dari masyarakat, sehingga
kebijakan-kebijakan tentu saja lebih berpihak pada kepentingan dan kesejahteraan rakyat.
pada saat yang sama, rakyat juga akan lebih mendukung kebijakan-kebijakan kepala daerah
sebab mereka telah berperan secara langsung dalam pengangkatan kepala daerah.

Ketiga, mendekatkan elit politik dengan konstituen atau masyarakat. Diharapkan dengan
pemilihan seperti ini mayarakat akan lebih mengenal pemimpin mereka di daerah sehingga
akan memudahkan proses komunikasi politik di daerah.

Keempat, lebih terdesenralisasi. Berbeda dengan pemilihan kepala daerah sebelumnya,


pemilihan kepala daerah dilakukan pemerintah pusat dengan cara menunjuk atau menetapkan
aktor politik untuk menempati jabatan politik di daerah.

Kelebihan diadakannya pilkada langsung adalah kepala daerah terpilih akan memiliki
mandat dan legitimasi yang samngat kuat, kepala daerah terpilih tidak perlu terikat pada
konsesi partai-partai atau faksi-faksi politik yang telah mencalonkannya, sistem pilkada
langsung lebih akuntabel karena adanya akuntabilitas politik, Check and balances antara
lembaga legislatif dan eksekutif dapat lebih berjalan seimbang, kriteria calon kepala daerah
dapat dinilai secara langsung oleh rakyat yang akan memberikan suaranya, pilkada langsung
sebagai wadah pendidikan politik rakyat, kancah pelatihan dan pengembangan demokrasi,
pilkada langsung sebagai persiapan untuk karir politik lanjutan, membangun stabilitas poilitik
dan mencegah separatisme, kesetaraan politik dan mencegah konsentrasi di pusat.

Beberapa kelebihan dalam penyelenggaraan pilkada langsung antara lain sebagai


berikut :

39
a) Pilkada langsung merupakan jawaban atas tuntutan aspirasi rakyat karena pemilihan
presiden dan wakil presiden, DPR, DPD, bahkan kepala desa selama ini telah dilakukan
secara langsung.
b) Pilkada langsung merupakan perwujudan konstitusi dan UUD 1945. Seperti telah
diamanatkan Pasal 18 Ayat (4) UUD 1945, Gubernur, Bupati dan Wali Kota, masing-
masing sebagai kepala pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota dipilih secara
demokratis. Hal ini telah diatur dalam UU No 32 Tahun 2005 tentang Pemilihan,
Pengesahan, Pengangkatan, dan Pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala
Daerah.
c) Pilkada langsung sebagai sarana pembelajaran demokrasi (politik) bagi rakyat. Ia
menjadi media pembelajaran praktik berdemokrasi bagi rakyat yang diharapkan dapat
membentuk kesadaran kolektif segenap unsur bangsa tentang pentingnya memilih
pemimpin yang benar sesuai nuraninya.
d) Pilkada langsung sebagai sarana untuk memperkuat otonomi daerah. Keberhasilan
otonomi daerah salah satunya juga ditentukan oleh pemimpin lokal. Semakin baik
pemimpin lokal yang dihasilkan dalam pilkada langsung 2005, maka komitmen
pemimpin lokal dalam mewujudkan tujuan otonomi daerah, antara lain untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan selalu memperhatikan kepentingan dan
aspirasi masyarakat agar dapat diwujudkan.
e) Pilkada langsung merupakan sarana penting bagi proses kaderisasi kepemimpinan
nasional. Disadari atau tidak, stock kepemimpinan nasional amat terbatas. Dari jumlah
penduduk Indonesia yang lebih dari 200 juta, jumlah pemimpin nasional yang kita miliki
hanya beberapa. Mereka sebagian besar para pemimpin partai politik besar yang
memenangi Pemilu 2004. Karena itu, harapan akan lahirnya pemimpin nasional justru
dari pilkada langsung ini.

C. Kelemahan Pemilukada Langsung


Secara umum ada tiga kelemahan yang disangkakan melekat pada pilkada langsung,
yakni (1) biaya pilkada langsung mahal yang tidak hanya menjadi beban APBD daerah yang
bersangkutan, namun juga bagi kandidat; (2) intensitas konflik pilkada langsung tinggi; dan
(3) pilkada langsung tidak menjamin terpilihnya calon yang berkualitas. Pembahasan berikut
mengupas ketiga aspek tersebut tersebut.

1. Beban Anggaran

40
Dibanding model memilih kepala daerah oleh anggota DPRD, model memilih kepala
daerah secara langsung memerlukan biaya lebih besar yang harus di sediakan oleh
Pemerintah Daerah yang bersangkutan maupun oleh para kandidat yang berkompetisi.
Belanja pilkada antar daerah berbeda tergantung pada : (1) Jumlah pemilih, (2) Jumlah
TPS , (3) Jumlah wilayah adiministratif di daerah pemilihan (kab/kota, Kecamatan,
Desa/Kelurahan , (4) Jumlah pasangan calon , (5) Jumlah\ putaran pilkada. Belanja
kandidat antara lain: (1) belanja kampanye, (2) belanja saksi, (3) belanja kandidasi di
partai politik/pendukung di jalur perseorangan. Biaya yang besar karena pemilihan secara
langsung melibatkan seluruh pemilih di daerah pemilihan, sedangkan apabila kepala
daerah dipilih oleh dewan hanya melibatkan para anggota DPRD yang jumlahnya hanya
sebanyak 20-50 orang untuk DPRD kabupaten/kota, dan sebanyak 35-100 orang untuk
DPRD provinsi.
Kerapkali besarnya biaya yang disediakan APBD disandingkan dengan pengandaian
pembangunan jembatan, gedung sekolah atau prasarana lainnya yang manfaatnya lebih
langsung dirasakan oleh masyarakat, meski sejatinya kedua aktivitas itu tidak bisa
dikomparasikan. Juga yang sering luput dari perhatian, belanja APBD untuk membiayai
pilkada punya manfaat ekonomi bagi daerah.
Ketentuan Pasal 72 (2) PP 6/2005 (dan perubahannya) mengatur bahwa pihak ketiga
dalam pengadaan surat suara adalah perusahaan percetakan dari daerah pemilihan itu,
kecuali tidak ada maka dapat menunjuk perusahaan percetakan terdekat dengan daerah
pemilihan. Aturan ini seandainya tidak menabrak Keppres No. 80/2003 tentang Pedoman
Pelaksanaan Barang/Jasa Pemerintah (dan perubahannya) akan membuat pengusaha
percetakan lokal yang nota bene menggunakan pekerja lokal memperoleh manfaat yang
besar. UU No. 22/1007 mengatur pekerja pemilu harus berdomisili di wilayah kerjanya,
sehingga uang jasa kerja berupa honorarium mengalir kepada penduduk di daerah
pemilihan bersangkutan. Begitupun belanja sosialisasi oleh KPUD, pemerintah daerah
dan elemen masyarakat, dan belanja kampanye oleh para kandidat terdistribusi pada
masyarakat setempat dalam bentuk kegiatan pemberian informasi dan pendidikan
pemilih maupun kepada pengusaha lokal dalam bentuk pembuatan atribut kampanye.
Kegiatan kampanye, misalnya juga membuka ruang bagi para pedagang kecil untuk
berdagang di lokasi kegiatan. Media massa lokal, cetak maupun elektronik, juga
memperoleh porsi dari iklan politik.
Pilkada langsung kerap dituding menjadi beban tahun anggaran berjalan dan
karenanya mengganggu penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan daerah pada
tahun itu. Agar tidak menjadi beban anggaran tahun berjalan maka untuk pembiayaannya
daerah dapat menyiapkan Dana Cadangan Belanja Pilkada.

41
Ketentuan Pasal 15 Permendagri No. 44/2007 jo Permendagri No. 57/2009 mengatur
bahwa dalam hal ada keterbatasan kemampuan keuangan daerah untuk menyediakan
dana pilkada tidak dapat dibebankan dalam 1 (satu) tahun anggaran, daerah dapat
membentuk Dana Cadangan Belanja Pilkada. Provinsi Jawa Tengah termasuk sedikit
daerah yang menyiapkan Dana Cadangan Belanja Pilkada untuk Pilgub 2008.
Penyediaan Dana Cadangan Belanja Pilkada merupakan pilihan cerdas, terutama bagi
daerah yang pelaksanaan pilkada berdekatan dengan pelaksanaan pemilu yang juga
menyerap dana APBD. Juga untuk menghindari kemungkinan penundaan pilkada karena
faktor biaya yang tidak mampu disediakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan.
Terpilihnya kepala daerah yang berkualitas melalui pilkada langsung menjadikan harga
penyelenggaraan pilkada langsung sangat murah. Tetapi tentu berlaku sebaliknya,
menjadi sangat mahal jika dengan serapan dana besar ternyata hanya sebatas demokrasi
prosedural sehingga tidak menjamin kualitas produknya. Dalam demokrasi prosedural
memang dapat tercapai prinsip-prinsip pemilihan yang langsung, bebas, jujur dan adil
tetapi dari proses itu tidak dijamin menghasilkan kepala daerah yang punya responsivitas
dan akuntabilitas kepada rakyat di daerah pemilihannya.
2. Intensitas Konflik
Pada penyelenggaraan pilkada di sejumlah daerah terjadi konflik yang disertai
kekerasan dan/atau menuai gugatan hukum baik di Pengadilan Negeri, Pengadilan Tata
Usaha Negara, maupun Mahkamah Agung (yang selanjutnya dengan UU No. 22/2007
sengketa pilkada menjadi wewenang Mahkamah Konstitusi). Terjadinya konflik di pilkada
karena sejumlah titik rawan yang disebabkan antara lain oleh rentang daerah pemilihan yang
pendek, ketidakpercayaan dan permusuhan di antara kelompok yang berbeda kepentingan
dalam masyarakat, dan oleh regulasi pilkada yang memiliki ruang bagi konflik politik itu.
Pengalaman menunjukkan konflik pilkada bersumber pada hal-hal berikut:
a. Konflik yang bersumber pada proses pemutakhiran data pemilih yang proses
pemutakhirannya belum mampu menjamin tersedianya data pemilih yang akurat.
b. Konflik pada proses penjaringan calon kepala daerah/wakil kepala daerah oleh partai
politik atau gabungan partai politik yang seringkali dilakukan tidak transaparan sehingga
tidak memuaskan para pihak yang terlibat dan terjadi ketegangan antara DPP dan
DPD/DPC, bahkan massa karena perbedaan pilihan calon yang diusung atau perbedaan
dalam memlih mitra koalisi.
c. Konflik yang terjadi pada proses penetapan calon kepala daerah/wakil kepala daerah
sebagai peserta oleh KPUD, jika prosedur dan hasil penelitian calon kepala daerah/wakil
kepala daerah mendapat reaksi dari kelompok pendukung calon yang dinyatakan tidak
memenuhi persyaratan. Dan sebaliknya konflik yang bersumber pada persyaratan calon

42
yang diragukan keabsahannya oleh masyarakat, sehingga dinilai tidak menjamin
terpilihnya kepala daerah yang jujur, bersih dan track record-nya baik.
d. Konflik yang bersumber pada kampanye negatif yang diikuti reaksi balasan oleh pihak
lawan
e. Konflik yang bersumber pada pelanggaran larangan praktik politik uang dan pelanggaran
netralitas birokrasi.
f. Konflik yang bersumber pada kecurangan oleh pihak manapun saat pemungutan suara
dan penghitungan suara Konflik yang bersumber pada penetapan hasil penghitungan
suara oleh KPUD, karena dalam pilkada berlaku simple majority yang mengatur batas
minimal kemenangan calon terpilih hanya 30 persen, bisa berakibat ketidaksiapan
pemilih untuk menerima kekalahan pasangan calon yang didukung hanya karena selisih
suara tipis
g. Konflik yang bersumber pada kinerja penyelenggara pilkada yang dinilai tidak
professional dan partisan Konflik yang bersumber pada perbedaan penafsiran aturan
main pilkada Namun ricuh dan kisruhnya pilkada tidak hanya ditemukan di pilkada
langsung, sebelumnya intensitas konflik yang cukup tinggi ditemukan di pilkada oleh
anggota DPRD (masa UU No.22/1999), yang sumber konfliknya relatif tidak beda dari
sumber konflik di pilkada langsung, antara lain penjaringan calon oleh partai politik yang
dinilai tidak aspiratif, ketidaksiapan menerima kekalahan pasangan calon yang didukung,
praktik dagang sapi (money politics) dan kecenderungan oligarki dalam memutus
pemenang pemilihan.

Menurut Leo Agustino ada sebelas (11) permasalahan pemilukada di Indonesia, yaitu:
a) Daftar Pemilih tidak akurat
Permasalahan daftar pemilih yang tidak akurat dalam Pilkada, sering dijadikan oleh para
pasangan calon yang kalah untuk melakukan gugatan. Berdasar Pasal 47 UU No. 22
Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilu menyebutkan bahwa PPS mempunyai tugas
dan wewenang antara lain mengangkat petugas pemutakhiran data pemilih dan
membantu KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, PPK melakukan pemutakhiran
data pemilih, daftar pemilih sementara, daftar pemilih hasil perbaikan, dan daftar pemilih
tetap. Melalui pengaturan ini jika dalam pemutakhiran data pemilih, melibatkan RT/RW
sebagai petugas pemutakhiran, maka permasalahan data pemilih yang tidak akurat akan
dapat diminimalisir, karena RT/RW adalah lembaga yang paling mengetahui
penduduknya.
b) Persyaratan Calon tidak lengkap
Proses pencalonan yang bermasalah Permasalahan dalam pencalonan yang selama ini
terjadi disebabkan oleh 2 (dua) hal yaitu konflik internal partai politik/gabungan partai

43
politik dan keberpihakan para anggota KPUD dalam menentukan pasangan calon yang
akan mengikuti Pilkada. Secara yuridis pengaturan mengenai pencalonan Kepala Daerah
dan Wakil Kepala Daerah diatur dalam pasal 59 sampai dengan pasal 64 Undang-Undang
Nomor 32 Tahun 2004. Dari beberapa pasal tersebut memberikan kewenangan yang
sangat besar kepada KPUD dalam menerima pendaftaran, meneliti keabsahan
persyaratan pencalonan dan menetapkan pasangan calon, yang walaupun ada ruang bagi
partai politik atau pasangan calon untuk memperbaiki kekurangan dalam persyaratan
adminitrasi, namun dalam praktek beberapa kali terjadi pada saat penetapan pasangan
calon yang dirugikan. Pasal 59 ayat (5) huruf a Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 menyatakan bahwa partai politik atau gabungan partai politik pada saat
mendaftarkan pasangan calon, wajib menyerahkan surat pencalonan yang
ditandatangani oleh pimpinan partai politik atau pimpinan partai politik yang
bergabung. Dalam tahapan ini kadang terjadi permasalahan di internal partai politik,
ketika calon yang diajukan oleh pimpinan partai politik setempat berbeda dengan calon
yang direkomendasikan oleh DPP partai politik. Dalam permasalahan ini karena
pimpinan partai politik setempat tidak melaksanakan rekomendasi DPP partai politik,
kemudian diberhentikan sebagai pimpinan partai politik di wilayahnya dan menunjuk
pelaksana tugas pimpinan partai politik sesuai wilayahnya yang kemudian juga
meneruskan rekomendasi calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah namun ditolak
KPUD dengan alasan partai politik tersebut melalui pimpinan wilayahnya yang lama
telah mengajukan pasangan calon. Pasal 61 ayat (4) Undang-Undang Nomor 32 Tahun
2004 menyatakan bahwa penetapan dan pengumuman pasangan calon oleh KPUD
bersifat final dan mengikat. Dalam hal KPUD tidak netral, ketentuan ini kadang
disalahgunakan untuk menggugurkan pasangan calon tertentu tanpa dapat
melakukan pembelaan, karena tidak ada ruang bagi pasangan calon yang dirugikan untuk
melakukan pengujian atas tindakan KPUD yang tidak netral melalui pengadilan. Untuk
mengatasi kekurangan ini, ke depan perlu pasangan calon perlu diberi ruang untuk
mengajukan keberatan ke pengadilan, jika dalam proses pencalonan dirugikan KPUD.
c) Pencalonan Pasangan dari parpol
Permasalahan internal parpol dalam menentukan pasangan calon membuat Pilkada
terhambat. Hal itu disebabkan, adanya kepengurusan ganda, proses seleksi tidak
transparan, adanya intervensi pengurus pusat/provinsi, tidak menetapkan pasangan
seperti kasus di Sampang, Jatim.
d) Penyelenggara atau KPUD tidak netral
Faktor yang mempengaruhi ketidaknetralan KPUD berdasarkan faktor kedekatan dan
kekerabatan degan salah satu pasangan. Selain itu, tidak adanya pengadilan yang

44
mengkoreksi keputusan KPUD sehingga sangat dominan kekeuasaan penyelenggara
pemilikada.
e) Panwas pilkada dibentuk terlambat
Terlambatnya panitia pengawas (Panwas) oleh DPRD, sehinggat tidak dapat mengawasi
tahapan pemilukada secara keseluruhan. Berbagai penyimpangan pada persiapan sering
tidak dilanjuti, karena Panwas dibentuk menjelang masa kampanye.
f) Money politik
Sepertinya money politik ini selalu saja menyertai dalam setiap pelaksanaan
pilkada.Dengan memanfaatkan masalah ekonomi masyarakat yang cenderung masih
rendah, maka dengan mudah mereka dapat diperalat dengan mudah. Contoh yang nyata
saja yaitu di lingkungan desa Karangwetan, Tegaltirto, Berbah, Sleman, juga terjadi hal
tersebut. Yaitu salah satu dari kader bakal calon membagi bagikan uang kapada
masyarakat dengan syarat harus memilih bakal calon tertentu. Tapi memang dengan uang
dapat membeli segalanya. Dengan masih rendahnya tingkat pendidikan seseorang maka
dengan mudah orang itu dapat diperalat dan diatur dengan mudah hanya karena uang.
Jadi sangat rasional sekali jika untuk menjadi calon kepala daerah harus mempunyai
uang yang banyak. Karena untuk biayaini, biaya itu.
g) Dana kampaye
Sumber dana pasangan sering tidak transparan. Hasil audit dana kampanye baik
perorangan atau perusahan sering tidak diumumkan ke publik. Hal itu menimbulkan
kecurigaan publik, bahwa dana kampanye pasangan berasal dari dana korupsi atau
sumbangan yang dikemudian hari pasangan tersebut, maka pemberi sumbangan akan
menadpat imbalan berupa jabatan atau proyek-proyek pemerintah.
h) Mencuri start kampaye
Tindakan ini paling sering terjadi. Padahal sudah sangat jelas aturan-aturan yang berlaku
dalam pemilu tersebut. Berbagai cara dilakukan seperti pemasangan baliho, spanduk,
selebaran. Sering juga untuk bakal calon yang merupakan kepala daerah saat itu
melakukan kunjungan keberbagai daerah. Kunjungan ini intensitasnya sangat tinggi
ketika mendekati pemilu. Ini sangat berlawanan yaitu ketika sedang memimpin dulu.
Selain itu media TV lokal sering digunakan sebagi media kampanye. Bakal calon
menyampaikan visi misinya dalam acara tersebut padahal jadwal pelaksanaan kampanye
belum dimulai.
i) PNS tidak netral
Dalam berbagai kampanye masih ditemukan PNS yang memihak pasangan tertentu,
terutam incumbent (petahana). Dilain pihak calon incumbent memanfaatkan staf Pemda
untuk kepentingan kampanyenya, bila tidak menuruti akan diturunkan jabatanya atau
bahkan diberhentikan.

45
j) Pelanggaran kampanye
Pelanggaran kampanye dapat berbagai macam bentuk, salah satu yang menjadi sorotan
yaitu kampanye hitam seperti yang menimpa Jokowi Pada pemilukada Jakarta 2012.
Kampanye negatif ini dapat timbul karena kurangnya sosialisasi bakal calon kepada
masyarakat. Hal ini dikarenakan sebagian masyarakat masih kurang terhadap pentingnya
informasi. Jadi mereka hanya “manut” dengan orang yang di sekitar mereka yang
menjadi panutannya. Kampanye negatif ini dapat mengarah pada munculnya fitnah yang
dapat merusak integritas daerah tersebut Pengaturan mengenai kampanye secara yuridis
diatur dalam pasal 75 sampai dengan pasal 85 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004
yaitu meliputi pengaturan mengenai teknis kampanye, waktu pelaksanaan, pelaksana
kampanye, jadwal kampanye, bentuk dan media kampanye, dan larangan-larangan
selama pelaksanaan kampanye. Kandidat dan tim kampanyenya cenderung mencari celah
pelanggaran yang menguntungkan dirinya.
Pasal 75 ayat (2) berbunyi dimaksud pada ayat (1) dilakukan selama 14 (empat belas)
hari dan berakhir 3 (tiga) hari sebelum hari pemungutan suara", dengan terbatasnya
waktu untuk kampanye maka sering terjadi curi start kampanye dan kampanye diluar
waktu yang telah ditetapkan. Kampanye yang diharapkan dapat mendorong dan
memperkuat pengenalan pemilih terhadap calon kepala daerah agar pemilih mendapatkan
informasi yang lengkap tentang semua calon, menjadi tidak tercapai. Untuk itu ke depan
perlu pengaturan masa kampanye yang cukup dan peningkatan kualitas kampanye agar
dapat mendidik pemilih untuk menilai para calon dari segi program.
k) Intervensi DPRD
Pada umumnya terjadi apabila DPRD tidak setuju akan pasangan terpilih dengan
berbagai alasan. DPRD tidak mengirim berkas pemilihan kepada Gubernur dan
Mendagri, hal itu menghambat pelantikan pasangan terpilih. Hal itu pernah terjadi di
Gorontalo dan Aceh. Peran DPRD dalam Pilkada juga dapat memicu konflik. Pilkada
memang sepenuhnya dilaksanakan oleh KPU Daerah, tetapi pertanggungjawabannya
harus disampaikan kepada DPRD, seperti yang tertulis pada pasal 66 ayat 3 poin, bahwa
tugas dan wewenang DPRD dalam penyelenggaraan pemilihan kepala daerah dan
wakil kepala daerah adalahmeminta pertanggungjawaban pelaksanaan tugas KPUD.
Dalam hal ini, kerja KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah) berpotensi diintervensi
oleh partai politik yang mempunyai kekuatan di DPRD. Sebab, sejalan dengan
kewenangan yang besar dalam proses-proses politik lokal, partai politik berpotensi
mengintervensi fungsi KPUD, jika kerja KPUD dianggap tidak menguntungkannya.

D. MASALAH YANG DIHADAPI DALAM PELAKSANAAN PEMILU

46
1. Permasalahan Kemiskinan

Permasalahan pertama yang dihadapi bangsa ialah kemiskinan. Para ilmuan sosial telah sepakat
bahwa pada hakikatnya tidak ada demokrasi dikalangan orang-orang miskin. Pada hal, jumlah
orang-orang miskin di Indonesia masih besar jumlahnya. BPS menyebutkan bahwa jumlah orang-
orang miskin terus mengalami penurunan. Statistik kemiskinan 2 Januari 2012 menyebutkan jumlah
orang miskin sekitar 29,89 juta orang (12,36 persen). Sementara posisi Maret 2011 sebesar 30,02
juta orang (12,49 persen).

2. Permasalahan Pendidikan

Permasalahan keempat adalah pendidikan mayoritas bangsa Indonesia yang masih rendah.
Sebenarnya, kita amat berharap setelah ditetapkannya Pasal 31 ayat (4) UUD 1945 bahwa anggaran
pendapatan dan belanja negara dan anggaran pendapatan dan belanja daerah sekurang-kurangnya
dua puluh persen untuk pendidikan.

Dalam implementasinya, dapat dikatakan gagal meningkatkan tingkat pendidikan mayoritas bangsa
Indonesia. Walaupun dipopulerkan “pendidikan gratis,” dalam kenyataan tidak dapat diikuti oleh
orang-orang miskin. Oleh karena yang gratis, hanya pembayaran sekolah, sementara buku dan alat
tulis, pakaian seragam, sepatu, uang transport, uang makan dan sebagainya harus ditanggung oleh
orang tua, yang mayoritas tidak sanggup.

3. Golongan Putih

(Golput)Ini memang akan menjadi perdebatan panjang dan dengan adanya yang pro atau kontra.

4. Anak – anak pada masa kampanye

Ini sebenarnya sudah jadi polemik yang lama. Inti sebenarnya begini : anda, misalkan orang tua yang

mempunyai 2 orang anak, dan ikut kampanye, tetapi tidak ada yang jaga rumah. Walhasil anak –

anak anda jadi terancam. Tetapi jika anda membawa serta anak – anak anda, maka akan dicatat

sebagai pelanggaran kampanye.

Selain kesebelas kelemahan pemilukada secara langsung di Indonesia, masih terbadapat banyak
kelemahan, antar lain :

47
1. Manipulasi perhitungan suara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara dapat terjadi di setiap
tingkatan, yaitu di KPPS, PPK, KPU Kabupaten, dan KPU Provinsi. Permasalahan
penghitungan suara dan rekapitulasi hasil penghitungan suara akan manipulasi, disebabkan
oleh banyaknya TPS yang tersebar dalam wilayah yang luas. Dengan banyaknya TPS yang
tersebar luas membuat para pasangan calon sulit mengontrolnya karena memerlukan saksi
yang banyak dan biaya besar. Di lain pihak para penyelenggara Pilkada di beberapa daerah
tidak netral, berhubung sistem seleksi anggota KPUD tidak belum memadai. Hal itu,
memunculkan konflik pasca pilkada. Munculnya konflik pasca pilkada dapat terjadi akibat
kecurangan-kecurangan pada saat seperti, kempanye, manipulasi data berupa
penggelembungan suara dan rasa tidak puas akibat calon idaman kalah.
2. Dalam pelaksanaan pilkada di lapangan banyak sekali ditemukan penyelewengan
penyelewengan. Kecurangan ini dilakukan oleh para bakal calon seperti : Intimidasi. Sebagai
contoh yaitu pegawai pemerintah melakukan intimidasi terhadap warga agar mencoblos salah
satu calon. Hal ini sangat menyeleweng dari aturan pelaksanaan pemilu.
3. Beratnya persyaratan pengajuan calon. Dalam UU No. 32 tahun 2004 Pasal 59 ayat 2
disebutkan bahwa hanya partai politik yang memperoleh suara 15% kursi DPRD atau 15%
dari akumulasi suara sah yang diperoleh dalam pemilu legislatif yang berhak mengajukan
calon. Pandangan diatas sangat relefan dengan kejadian yang terjadi di beberapa daerah
termasuk daerah Bali. Dimana beberapa daerah yang ada di Bali, sekitar 80% dimenangkan
oleh PDIP sehingga daerah-daerah tersebut sulit mendapatkan dua pasang calon.
4. Sistem dua putaran yang dianut ternyata dijadikan sarana dibeberapa daerah untuk
mengajukan anggaran pilkada secara berlebihan. Di Surabaya misalnya, KPUD mengajukan
anggaran dua putaran, dan disetujui oleh DPRD kotaSurabaya sekitar 36 milyar, dari dana ini,
23 milyar diantaranya dianggarkan untuk putaran pertama dan selebihnya dianggarkan untuk
putaran kedua. Padahal, disurabaya tidak mungkin terjadi putaran kedua sebab calon yang ada
tidak lebih dari empat pasang.
5. Cara pemilihan kepala daerah dengan menempatkan figur sebagai pertimbangan utama dalam
menentukan pilihan kepala daerah. konsekuensi dari cara pemilihan semacam akan
meningkatkan ketegangan hubungan antar pendukung pasangan calon sebab penerimaan dan
penolakan terhadap pasangan calon dalam konteks kultur Indonesia lebih banyak disebabkan
oleh hubungan yang bersifat emosional ketimbang rasional.
6. Besarnya daerah pemilihan, yaitu seluruh wilayah propinsi untuk pemilihan gubernur dan
seluruh wilayah kabupaten untuk pemilihan bupati, menyebabkan proses pelaksanaan
kampanye sulit dikendalikan.
7. Ketidaksiapan pemilih untuk menerima kekalahan calon yang diunggulkan. Dibeberapa
daerah yang telah melakukan pemilihan kepala daerah secara langsung, kejadian seperti ini
sering terjadi sehingga menimbulkan konflik antar pendukung pasangan calon.

48
2.4. Pemilukada Tidak Langsung atau Pemilukada Melalui DPRD

A. Isu RUU Pemilukada

RUU Pemilukada merupakan topik yang hangat diperbincangkan akhir-akhir ini.


Rancangan undang-undang pilkada ini dibuat untuk menentukan kepastian hukum terhadap
evaluasi kebijakan pemilu – walaupun telah ada Bawaslu dan Panwas - yang dirasa belum dapat
mengatasi beberapa masalah dalam proses pemilu. Selain itu menurut Abdul Malik RUU ini
bertujuan untuk menghasilkan kepala daerah yang tidak terangkut masalah hukum karena adanya
seleks calon yang ketat sebelumnnya, Pembahasan ruu pilkada ini telah dilaksanakan semenjak
awal tahun 2012 namun, hingga saat ini pembahasan ruu ini belum juga rampung. Kerumitan
serta tarik ulur kepentingan dalam pembahasan ruu pilkada ini semakin lama semakin membuat
ruu pilkada berujung pada kebuntuan. Namun, beberapa orang seperti Abdul Maluk Haramain
anggota komisi II DPR RI, Ramlan Surbakti, dan beberapa praktisi serta ilmuwan politik
mendesak agar RUU Pilkada ini segera disahkan.
RUU Pilkada membahas beberapa hal-hal penting yang mendasar dan berbeda dari
Pilkada yang dilaksanakan selama ini. Salah satu hal yang paling krusial dalam pembahasan
RUU PILKADA ini adalah penyelanggaraan serentak Pemilihan Kepala Daerah karena hal ini
akan dianggap lebih efisien dan hemat anggaran. RUU ini juga membahas mengenai pembatasan
wewenang calon incumbent dalam menggelonorkan dana bantuan sosal dan rotasi jabatan
pegawai jelang PEMILUKADA. Pembatasan wewenang ini untuk mengurangi terjadinya
kecurangan indikasi money politic. Pola yang biasa digunakan oleh calon Incumbent dalam
meningkatkan elektabilitas dirinya adalah dengan cara memberikan dana bantuan sosial jelang
pemilu serta rotasi pegawai. Dilansir dalam Metrotvnews.com Ramlan surbakti memberikan
contoh dari praktik ini adalah pemberiian uang sebesar Rp100 Juta kepada setiap desa yang
terjadi di Pemilu Kada Jawa Barat.
Selain itu RUU Pilkada ini juga membahas terkait dengan dinasti politik kepala daerah.
Pemerintah telah mengidentifikasi sebanyak 57 kepala daerah membangun dinasti politik lokal.
Dan sejauh ini sebagian besar kandidat yang kerabat petahana terpilih kembali. Namun, menurut
Ganjar Pranowo anggota Komis II DPR menyatakan bahwa bukanlah dinasti politik yang
menjadi masalah tetapi lebih maslah pada kompetensi dari calon tersebut. Sehingga menurut
ganjar yang penting dari pencolanan adalah kompetensi dari calon itu sendiri. Ada juga mengenai
isu pemisahan wewnang antara MK dan MA dalam penyelesaian berbagai masalah sengketa
pemilu. Adapula Isu mengenai Wakil Gubernur dan bupati/walikota merupakan kalangan
birokrat. Usulan ini mencuat setelah beberapa kasus muncul mengenai pasangan gubernur dan

49
bupati/walikota serta wakilnya tidak paham dengan alur birokrasi, mereka terpilih karena
elektabilitas yang tinggi namun tidak disertai dengan kemampuan politik dan birokrasi yang
memadai.
Isu terakhir yang menjadi pembicaraan akhir-akhir ini adalah isu mengenai wacana
pemilihan Bupati/Walikota atau Gubernur yang tidak dipilih secara langsung melainkan dipilih
oleh DPRD. Pada awalnya dalam RUU Pilkada Bab 2 pasal 2 dikatakan bahwa Gubernur dipilih
oleh DPRD Provinsi scara demokratis berdasar asa bebas, jujur, rahasia dan adil. Namun, hal ini
mendapatkan protes dari banyak pihak maka panitia mengubahnya dengan Bupati/Walikota yang
dipilih oleh DPRD. Namun tetap saja, keputusan ini masih menuai protes. Pasalnya
Djohermansyah dilansir dalam republika.co.id menyatakan bahwa perubahan usul itu terkait
dengan usulan penambahan wewenang terhadap Gubernur, sehingga menyatakan gubernur harus
dipilih secara langsung sedangkan Bupat/Walikota lebih baik dipilih oleh DPRD. Penambahan
kewenangan yang dimaksudkan adalah pemberian sejumlah izin pengelolaan sumber daya dan
penertibaban izin investasi kehutanan, pertambangan, perkebunan, dan perikanan. Adapun
bupati/walikota diberi kewenangan untung menangani pelayanan public seperti pendidikan,
kesehatan, kependudukan, pekerjaan umum, dan perhubungan.
Alasan kuat dari wacana pemilihan Gubernur atau bupati/walikota dipilih oleh DPRD
adalah terkait efisiensi dan penghematan biaya. Wakil ketua DPR RI Priyo Budi Santoso dilansir
dalam metrotvnews.com lebih cenderung untuk mengabaikan masalah efesiensi dan
penghematan biaya melalui pemilihan Gubernur atau Bupati/walikota melalui DPRD, dia lebih
penghematan biaya dan efisiensi cukup dilaksanakan dengan cara pelaksanaan Serentak dari
Pemilukada. Dalam pernyataanya priyo menuturkan bahwa dia lebih memilih untuk pemilihan
secara langsung keduanya baik gubernur atau bupati/walikota. Namun, bila disuruh memilih
priyo lebih memilih untuk mengadakan pemilu kada langsung untuk bupati/walikota dan
pemilihan oleh DPRD untuk gubernur. Hal ini dapat dipahami karena tujuan dari desentralisasi
dan politik lokal adalah agar pemerintahan lebih tanggap terhadap kepentingan masyarakat
didaerah masing-masing, maka yang terbaik adalah melalui mekanisme pemilihan secara
langsung pada tingka bupati/walikota dengan segala konsekuensinya.
Pendapat priyo ini diperkuat dnegan pendapat dari ketua DPD RI Imam Gusman yang
dilansir dalam suaramerdeka.com yang merekomendasikan pemilukada gubernur dan
bupati/walikota dilakukan secara langsung atau dipilih rakyat. Menurutnya pemilukada mampu
mendekatkan rakyat karena terjadi transfer kekuasaan secara langsung. Dia mengatakan bahwa
dengan pemilukada rakyat bisa memilih dan menilai kinerja pemimpin atau wakilnya. Sehingga,
istilanya, tidak berlaku ungkapan memilih kucng dalam karung, karena seleksi dilakukan secara
terbuka.

B. Kelebihan Pemilukada Perwakilan atau Pemilukada melalui DPRD

50
C. Kelebihan Pilkada Perwakilan
1. Pemilihan Kepala Daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat memungkinkan
penghematan APBN yang dituju pada Pemilukada karena dapat mengurangi biaya
politik dikarenakan NKRI memiliki ribuan pulau yang memerlukan biaya transportasi
yang tinggi dan pembiayaan panitia pemilihan setiap daerah.
2. Tidak Merobek Kohesivitas merupakan perasaan daya tarik individu terhadap kelompok
dan motivasi mereka untuk tetap bersama kelompok dimana hal tersebut menjadi faktor
penting dalam keberhasilan kelompok.
3. Tidak Terjadinya konflik Horizontal kerusuhan demokrasi

2.5. Pentingnya Pemilihan Langsung


Pemilu merupakan salah satu ruh terpenting dalam demokrasi. Demokrasi secara
sederhana dapat dikatan sebagai pemerintah dari, untuk dan oleh rakyat, hal ini mengindikasikan
bahwa rakyat merupaka pemegang kedaulatan dalam sebuah sistem demokrasi, terlepas dari
berbagai macam model demokrasi yang berkembang saat ini. Demokrasi dalam konsepsi filsu
yunani kuno dilaksanakan dengan mengumpulkan seluruh warga negara dalam sebuah koloseum
untuk menentukan sebuah kebijakan. Demokrasi langsung ini dapat terjadi dikarenakna
pembatasan warga negara hanya pada pria dewasa, bentuk geografis dari polis / City-state yang
cenderung kecil dan memiliki warga negara yang sedikit pula. Dewasa ini hal seperti itu mustahil
rasanya dilakukan. Bentuk geografis negara sudah tidak lagi berupa polis namun terkadang
berbentuk kepulauan yang aksesibilitasnya terhadap pulau-pulau terluar terkadang masih susah,,
mencakup wilayah yang sangat luas, dan cakupan warga negara yang lebih besar dari pada
zaman yunani kuno. Maka dari itu diperlukan PEMILU untuk selanjutnya tetap mengembangkan
demokrasi dengan kondisi saat ini.
Pemilu dapat dikatakan sebagai mekanisme mengubah suara pemilih menjadi kursi di
lembaga eksektif dan legislative (serta yudikatif di beberapa negara). Melihat pengertian pemilu
seperti diatas maka kita dapat menarik kesimpulan juga bahwa pemilu dapat digunakan sebagai
sarana akuntabilitas dan aksesibilitas terhadap wakil mereka dalam pemerintahan. Pada tahun
2004 indonesia telah melaksanakan Pemilu lebih baik dan maju karena menghendaki penguatan
partisipasi rakyat dalam penyelengaraan pemilu (Sulardi, 2009). Pada masa orde baru pemimpin
daerah dipilih oleh pemerintah. Namun, pasca reformasi penyelenggaraan pemilukada
merupakan isu yang hangat di perbincangan beriringan dengan kebijakan desentralisasi
pemerintahan. Kebijakan desentralisasi dengan memberikan wewenang yang sangat luas pada
bupati/walikota bertujuan agar respon terhadap kearifan lokal masyarakat tertentu lebih mudah
terakomodir sehingga terwujudnya pemerintahan daerah yang demokrais dan kesejahteraan
masyarakat.

51
Pemilihan secara langsung bagi para kepala daerah dan para anggota dewan perwakilan
rakyat daerah merupakan salah satu syarat utama bagi terwujudnya pemerintahan daerah yang
akuntabel dan responsive, serta terbangungnya persamaan hak politk di tingkat lokal (Smith,
1985 dalam Hidayat 2010). Hal ini menyatakan bahwa melalui mekanisme pemilukada dapat
membuat wakil dapat akuntabel terhadap masyarakat, evaluasi ini akan menjadi masukan bagi
pengetahuan masyarkat pada pemilukada berikutnya. Hal ini sejalan dengan pemikiran Arghiros
(2001 dalam Hidayat 2010) yang mengemukakan bahwa ketika desentralisasi sebagai tujuan dan
demokratisasi di tingkat lokal diartikulasi sebagai tujuan, maka sanga jelas bahwa pilkada
langsugn merupakan paket yang tidak terpisahkan dari dua konsep tersebut. Pendapat yang sama
apabila kita analisis dari pernyataan berikut “we can have election without democracy, but we
cannot have democracy without election”.
Pemilihan gubernur dan bupati/walikota harus dilaksanakan dengan cara pemilukada.
Bukanlah masalah efisiensi dan penghematan dana saja yang perlu diperhatikan, tetapi yang lebih
penting adalah penjagaan nilai-nilai demokrasi agar pemerintahan daerah tetap demokratis.
Permasalahan pembagian wewenang antara gubernur dan bupati/walikota tidak dapat dijadikan
alasan salah satu dari bentuk pemerintahan daerah ini dilaksanakan dengan penunjukan DPRD,
hal ini dikarenakan sekecil apapun wewnang yang dimiliki oleh lembaga pemerintahan harus
tetap akuntabel, transparan, dan responsive. Hal ini akan dapat mewujudkan cita-cita dari
desentralisasi yaitu menciptakan pemerintahan daerah yang demokratis serta terwujudnya
kesejahteraan masyarakat.

2.6. Manfaat Pemilu

1. Pemilu merupakan implementasi perwujudan kedaulatan rakyat. Asumsi demokrasi adalah


kedaulatan terletak di tangan rakyat. Karena rakyat yang berdaulat itu tidak bisa memerintah
secara langsung maka melalui pemilu rakyat dapat menentukan wakil-wakilnya dan para
wakil rakyat tersebut akan menentukan siapa yang akan memegang tampuk pemerintahan.
2. Pemilu merupakan sarana untuk membentuk perwakilan politik. Melalui pemilu, rakyat dapat
memilih wakil-wakilnya yang dipercaya dapat mengartikulasikan aspirasi dan
kepentingannya. Semakin tinggi kualitas pemilu, semakin baik pula kualitas para wakil rakyat
yang bisa terpilih dalam lembaga perwakilan rakyat.
3. Pemilu merupakan sarana untuk melakukan penggantian pemimpin secara konstitusional.
Pemilu bisa mengukuhkan pemerintahan yang sedang berjalan atau untuk mewujudkan
reformasi pemerintahan. Melalui pemilu, pemerintahan yang aspiratif akan dipercaya rakyat
untuk memimpin kembali dan sebaliknya jika rakyat tidak percaya maka pemerintahan itu
akan berakhir dan diganti dengan pemerintahan baru yang didukung oleh rakyat.

52
4. Pemilu merupakan sarana bagi pemimpin politik untuk memperoleh legitimasi. Pemberian
suara para pemilih dalam pemilu pada dasarnya merupakan pemberian mandat rakyat kepada
pemimpin yang dipilih untuk menjalankan roda pemerintahan. Pemimpin politik yang terpilih
berarti mendapatkan legitimasi (keabsahan) politik dari rakyat.
5. Pemilu merupakan sarana partisipasi politik masyarakat untuk turut serta menetapkan
kebijakan publik. Melalui pemilu rakyat secara langsung dapat menetapkan kebijakan publik
melalui dukungannya kepada kontestan yang memiliki program-program yang dinilai aspiratif
dengan kepentingan rakyat. Kontestan yang menang karena didukung rakyat harus
merealisasikan janji-janjinya itu ketika telah memegang tampuk pemerintah Penjelasan Atas
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014
Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, Dan Walikota

53
BAB III

PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Pilkada langsung telah memberikan ruang baru bagi tumbuhnya demokratisasi di daerah,
terdapat sejumlah keunggulan pilkada langsung adalah, pertama, kepala daerah punya legitimasi kuat
untuk memerintah. Kedua, pilkada langsung lebih menjamin stabilitas pemerintahan daerah, karena
masa kerja kepala daerah pasti yang tidak bisa dijatuhkan oleh DPRD. Ketiga, probabilitas aspirasi
publik yang terserap lebih tinggi karena keterpilihannya ditentukan suara pemilih. Meskipun kadang-
kadang disertai pula tingkat kekerasan dan konflik yang tak mungkin dapat dihindari karena masih
banyak yang perlu disempurnakan baik ditataran aturan main maupun di tingkat penyelenggaraannya.
Menyusul berbagai fakta inefisiensi pilkada, baik itu berupa tenaga, biaya, maupun waktu,
namun survei LSI selama Oktober 2010 mendapatkan hasil, mayoritas (78%) responden masih
menghendaki pilkada langsung tetap dipertahankan sebagai sarana terbaik dalam memilih pemimpin-
pemimpin di daerah (www.koran jakarta.com/beritadetail.php?id=
68561-Tembolok, Minggu 28 November 2010 Jam 21.30).
Pendapat senada berasal dari Komisi II (Pemerintahan) DPR RI yang menilai pemilihan
kepala daerah (pilkada) secara langsung masih menjadi pilihan terbaik
(www.tempointeraktif.com/hg/.../brk,20100803-268319,id.html, Minggu 28 November 2010 Jam
21.14). Selanjutnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpendapat bahwa pilkada secara
langsung dinilai masih yang terbaik walaupun tidak dapat dipungkiri pilkada langsung mempunyai
dampak besar baik secara sosiologis maupun ekonomis (diunduh dari
news.okezone.com/read/.../pilkada-langsung-perluditinjau-ulang-Tembolok, Minggu 28 November
2010 Jam 21.11). Penolakan penghapusan pilkada langsung juga disampaikan oleh para gubernur saat
menjadi peserta Raker Gubernur se-Indonesia di Pekanbaru (Media Indonesia, 22 Desember 2009).
Berikut ini rekomendasi untuk pilkada langsung yang berkualitas dan lebih murah:
1. Menyempurnakan regulasi pilkada sehingga menjamin kepastian hukum bagi
terselenggaranya pemilu yang demokratis dan menjamin penegakan hukum dalam hal ada
pelanggaran.
2. Electoral process didesain murah, antara lain melalui:
a. Updating data kependudukan dan pemilih dilakukan secara periodik oleh pemerintah,
selanjutnya pemilih cukup menerima undangan tanpa ada kartu pemilih.
b. Bentuk kampanye yang melibatkan massa dibatasi, diatur pembatasan belanja kampanye,
dan sosialisasi calon menjadi tanggung jawab KPUD Teknik penyuaraan memanfaatkan
e-voting.

54
c. Penghitungan suara mulai di tingkat kecamatan. Kompensasinya durasi waktu
pemungutan suara dipepanjang dan jumlah pemilih di TPS diperbanyak.
d. Sebagaimana usulan Perludem, pelanggaran pemilu di tangani oleh masing-masing
institusi yang berwenang, yakni untuk pelanggaran pidana di tangani oleh institusi
penegak hukum dan pelanggaran administrasi di tangani oleh KPU/KPUD. Lembaga
pengawas pemilu ditiadakan
3. Upaya penghematan anggaran bisa dilakukan dengan menggelar pilkada secara serentak
dengan daerah-daerah di wilayah yang sama. Dipertimbangkan pula penyederhanaan pemilu
menjadi dua kali pemilu dalam jangka waktu 5 (lima) tahun, yakni apakah hanya ada pemilu
legislatif dan pemilu eksekutif atau pemilu nasional dan pemilu local.
4. Melakukan pendidikan pemilih yang masif untuk menyiapkan pemilih menjadi cerdas dalam
membuat keputusan memilih, yang tidak bisa dibeli dengan imbalan uang/materi apapun.
Pemilih cerdas akan mendorong hanya yang berkualitas yang maju di pencalonan.

55
DAFTAR PUSAKA

Dwipayana, AA GN Ari, ”Pilkada Langsung dan otonomi Daerah”, diunduh dari


http//www.plod.ugm.ac.id/makalah/pilkadal_dan_otoda.htm (28 Juni 2005)
Hidayat, Syarif, Refleksi Realitas Otonomi Daerah dan Tantangan Masa Depan, Pustaka Quantum),
Jakarta, 2000
Marijan, Kacung, Demokratisasi di Daerah: Pelajaran Pilkada Secara Langsung, Pustaka Eureka,
Surabaya, 2006
Pratikno, ”Demokrasi dalam Pilkada Langsung”, Makalah, Sarasehan Menyongsong Pilkada
Langsung, IRCOS-FNSt, Hotel Saphir, Yogyakarta, 25-26 Januari 2005
Ramlan Surbakti, “ Ketidakpastian Hukum Dalam Pengaturan Tahapan Penyelenggaraan Pemilihan
Umum” dalam Ramlan Surbakti (et.all.) , Perekayasaan Sistem Pemilu, Jakarta, Kemitraan, 2008.
Sutisna, Agus, “Menimbang Ulang Pilkada Langsung”, diunduh dari
politik.kompasiana.com/.../menimbang-ulang-pilkada-langsung-Tembolok (28 November 2010)

56