Anda di halaman 1dari 19

Untuk bahan mengkaji Tekstil Nusantara

Konsep Budaya dalam Kajian Budaya (Cultural Studies)

Kajian disiplin ilmu lain telah terlebih dahulu mendefinisikan istilah budaya (culture) yang
dimasukkan ke dalam konsep masing-masing disiplin humaniora dan sosial, seperti
antropologi, sosiologi, politik, ekonomi dan seterusnya. Koentjaraningrat memberikan
definisi budaya sebagai sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka
kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat,
1990: 180). Dan, James Spradley nampaknya hampir sependapat dengan Koentjaraningrat. Ia
mengatakan budaya merupakan sistem pengetahuan yang diperoleh manusia melalui proses
belajar, yang kemudian mereka gunakan untuk menginterpretasikan dunia sekelilingnya,
sekaligus untuk menyusun strategi perilaku dalam menghadapi dunia sekitar. Lebih khusus,
dalam terminologi disiplin Kajian Budaya (Cultural Studies) menyajikan bentuk kritis atas
definisi budaya yang mengarah pada "the complex everyday world we all encounter and
through which all move" (Edgar, 1999: 102). Budaya secara luas adalah proses kehidupan
sehari-hari manusia dalam skala umum, mulai dari tindakan hingga cara berpikir,
sebagaimana konsep budaya yang dijabarkan oleh Kluckhohn. Pengertian ini didukung juga
oleh Clifford Geertz, kebudayaan didefinisikan serangkaian aturan-aturan, resep-resep,
rencana-rencana dan petunjuk-petunjuk yang digunakan manusia untuk mengatur tingkah
lakunya. Dalam kajian budaya atau Cultural Studies (CS), konsep budaya dapat dipahami
seiring dengan perubahan perilaku dan struktur masyarakat di Eropa pada abad ke-19.
Perubahan ini atas dampak dari pengaruh teknologi yang berkembang pesat. Istilah budaya
sendiri merupakan kajian komprehensif dalam pengertiannya menganalisa suatu obyek
kajian. Contohnya, selain ada antropologi budaya juga dikaji dalam studi Sosiologi, Sejarah,
Etnografi, Kritik Sastra bahkan juga Sosiobiologi. Fokus studi kajian budaya (CS) ini adalah
pada aspek relasi budaya dan kekuasaan yang dapat dilihat dalam budaya pop. Di dalam
tradisi Kajian Budaya di Inggris yang diwarisi oleh Raymonds Williams, Hoggarts, dan
Stuart Hall, menilai konsep budaya atau "culture" (dalam bahasa Inggris) merpakan hal yang
paling rumit diartikan sehingga bagi mereka konsep tersebut disebut sebuah alat bantu yang
kurang lebih memiliki nilai guna. Williams mendefinisikan konsep budaya menggunakan
pendekatan universal, yaitu konsep budaya mengacu pada makna-makna bersama. Makna ini
terpusat pada makna sehari-hari: nilai, benda-benda material/simbolis, norma. Kebudayaan
adalah pengalaman dalam hidup sehari-hari: berbagai teks, praktik, dan makna semua orang
dalam menjalani hidup mereka (Barker, 2005: 50-55). Kebudayaan yang didefinisikan oleh
Williams lebih dekat ‘budaya' sebagai keseluruhan cara hidup. Sebab ia menganjurkan agar
kebudayaan diselidiki dalam beberapa term. Pertama, institusi-institusi yang memproduksi
kesenian dan kebudayaan. Kedua, formasi-formasi pendidikan, gerakan, dan faksi-faksi
dalam produksi kebudayaan. Ketiga, bentuk-bentuk produksi, termasuk segala
manifestasinya. Keempat, identifikasi dan bentuk-bentuk kebudayaan, termasuk kekhususan
produk-produk kebudayaan, tujuan-tujuan estetisnya. Kelima, reproduksinya dalam
perjalanan ruang dan waktu. Dan keenam, cara pengorganisasiannya. Jika dibandingkan
dengan pendapat John Storey, konsep budaya lebih diartikan sebagai secara politis ketimbang
estetis. Dan Storey beranggapan ‘budaya' yang dipakai dalam CS ini bukanlah konsep budaya
seperti yang didefinisikan dalam kajian lain sebagai objek keadiluhungan estetis (‘seni
tinggi') atau sebuah proses perkembangan estetik, intelektual, dan spritual, melainkan budaya
sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari (Storey, 2007: 2). Dalam hal ini nampaknya Storey

1
setuju dengan definisi ‘budaya' menurut Raymonds Williams, lain halnya dengan Stuart Hall
yang lebih menekankan ‘budaya' pada ranah politik.

To say that two people belong to the same culture is to say that they interpret the
world in roughly the same ways and can express themselves, their thoughts and
feelings about the world, in ways which will be understood by each other. Thus
culture depends on its participants interpreting meaningfully what is happening
around them, and `making sense' of the world, in broadly similar ways.

(Hall, 1997: 2)

Dan, menurut Bennet istilah culture digunakan sebagai payung istilah (umbrella term) yang
merujuk pada semua aktivitas dan praktek-praktek yang menghasilkan pemahaman (sense)
atau makna (meaning). Baginya budaya berarti :

"Kebiasaan dan ritual yang mengatur dan menetukan hubungan sosial kita
berdasarkan kehidupan sehari-hari sebagaimana halnya dengan teks-teks tersebut-
sastra, musik, televisi, dan film-dan melalui kebiasaan serta ritual tersebut dunia sosial
dan natural ditampilkan kembali atau ditandai-dimaknai-dengan cara tertentu yang
sesuai dengan konvensi tertentu."

(Bennet 1980: 82-30)

Karakter Akademik Kajian Budaya Kajian budaya sebagai suatu disiplin ilmu (akademik)
yang mulai berkembang di wilayah Barat (1960-an), seperti Inggris, Amerika, Eropa
(kontinental), dan Australia mendasarkan suatu pengetahuan yang disesuaikan dengan
konteks keadaan dan kondisi etnografi serta kebudayaan mereka. Pada tahap kelanjutannya di
era awal abad 21 kajian budaya dipakai di wilayah Timur untuk meneliti dan menelaah
konteks sosial di tempat-tempat yang jarang disentuh para praktisi kajian budaya Barat,
antara lain Afrika, Asia, atau Amerika Latin. Secara institusional, kajian budaya menelurkan
berbagai karya berupa buku-buku, jurnal, diktat, matakuliah bahkan jurusan di universitas-
universitas. Menurut Barker, inti kajian budaya bisa dipahami sebagai kajian tentang budaya
sebagai praktik-praktik pemaknaan dari representasi (Barker, 2000: 10). Teori budaya marxis
yang menggali kebudayaan sebagai wilayah ideologi yang lebih banyak dijelaskan pada
aliran wacana (discourse) dan praktik budaya seperti layaknya media berupa teks-teks (sosial,
ekonomi, politik). Chris Barker (2000) mengakui bahwa kajian budaya tidak memiliki titik
acuan yang tunggal. Selain itu, kajian budaya memang terlahir dari indung alam pemikiran
strukturalis/pascastrukturalis yang multidisipliner dan teori kritis multidisipliner, terutama di
Inggris dan Eropa kontinental. Artinya kajian budaya mengkomposisikan berbagai kajian
teoritis disiplin ilmu lain yang dikembangkan secara lebih longgar sehingga mencakup
potongan-potongan model dari teori yang sudah ada dari para pemikir
strukturalis/pascastrukturalis. Sedangkan teori sosial kritis sebenarnya sudah mendahului
tradisi disiplin "kajian budaya" melalui kritik ideologinya yang dikembangkan Madzhab
Frankfurt. Sebuah kritik yang dimaknai dari pandangan Kantian, Hegelian, Marxian, dan
Freudian. Sehubungan dengan karakter akademis, pandangan lain dari Ben Agger (2003)
membedakan kajian budaya sebagai gerakan teoritis, dan kajian budaya sebagai mode analisis
dan kritik budaya ateoritis yang tidak berasal dari poyek teori sosial kritis, yaitu kritik
ideologi (Agger, 2003). Komposisi teoritis yang diajukan sebagai karakter akademis dalam
kajian budaya mengekspresikan temuan-temuan baru dalam hal metodologi terhadap cara
pemaknaan sebuah praktik-praktik kebudayaan yang lebih koheren, komprehensif,

2
polivocality (banyak suara) dan menegasikan keobjektifan suatu klaim pengetahuan maupun
bahasa. Karakter akademis kajian budaya memang sangat terkait dengan persoalan
metodologi. Penteorisasian tidak hanya merujuk pada satu wacana disiplin tunggal namun
banyak disiplin, maka ini pun yang disebut sebagai ciri khas kajian budaya dengan istilah
polivocality. Senada dengan yang disampaikan oleh Paula Sakko (2003), kajian budaya
mengambil bentuk kajian yang dicirikan dengan topik lived experience (pengalaman yang
hidup), discourse (wacana), text (teks) dan social context (konteks sosial). Jadi, metodologi
dalam kajian budaya ini tersusun atas wacana, pengalaman hidup, teks, dan konteks sosial
dengan menggunakan analisis yang luas mengenai interaksi antara ‘yang hidup', yang
dimediasi, keberyakinan (agama), etnik, tergenderkan, serta adanya dimensi ekonomi dan
politik dalam dunia jaman sekarang (modern/kapitalis). Bagi Saukko, hal yang paling
fundamental dalam "kajian budaya", pertama, ketertarikan dalam budaya yang secara radikal
berbeda dari budaya yang ada (high culture to low culture/popular), kedua, analisis dengan
kritis budaya yang menjadi bagian integral dari pertarungan dan budaya (teks dan konteks
sosial). Hal yang harus dipenuhi dalam memandang konteks sosial adalah sensitifitas pada
konteks sosial dan kepedulian pada kesejarahan. Sedangkan yang menjadi bagian terpenting
dari metodologi kajian budaya dan dianggap good/valid research adalah truthfulness, self-
reflexivity, polivocality. Dan, menerapkan sebuah validitas dekonstruktif yang biasa
digunakan oleh peneliti pascastrukturalis, yaitu postmodern excess (Baudrillard),
genealogical historicity (Foucalt), dan deconstructive critique (Derrida). Pada kerangka
bagan yang dibuat Saukko dalam bukunya itu, Truthfullness digambarkan dengan paradigma;
ontologi, epistemologi, metapora, tujuan penelitian dan politik yang disandingkan dengan
model triangulasi, prism, material semiotic dan dialogue. Self-reflexivity ditempatkan pada
jalur seperti yang digunakan teori sosial kritis yang dilandaskan pada kritik ideologi dan
peran atas basis kesadaran yang merepresentasikan ruang dialog dan wacana saling bertemu,
mempengaruhi, mengaitkan berbagai kepentingan, pola kekuasaan serta konteks sosial dan
sejarahnya. Polivocality menyematkan berbagai pandangan yang berbeda (atau suara) dengan
cakupan teori-teori yang saling mengisi dan dengan mudah dapat didukung satu sama lain,
meski ini membutuhkan ketelitian dalam mengkombinasikan pandangan-pandangan lain agar
memberikan kesesuaian bagi karekater akademis Kajian budaya. Paradigma yang digunakan
mengambil model triangulasi yang berupaya mengkombinasikan berbagai macam bahan atau
metode-metode untuk melihat apakah saling menguatkan satu sama lain. Maka, kajian
budaya sangat berpotensi memberikan peluang bagi suatu kajian yang baru dan menarik
minat mahasiswa. Validitas (keabsahan) penelitian dalam Cultural Studies yang menuju
‘kebenaran' (truth) maka yang dipakai adalah triangulation.

Paradigms

Ontology

Epistemology

Metaphor

Goal of Research

Politics

Triangulation Fixed reality Reflect reality Magnifying glass Truth Bias Prisms Fluid reality
Social construction of reality Prism refracting vision Conveying multiple realities Pluralist

3
science and society Material semiotic Interactive reality Material/semiotic construction of
reality Prism diffracting light Creating egalitarian realities Egalitarian and science society
Dialogue Interactive reality Material/semiotic construction of reality Dialogue Dialoges
between multirealities Egalitarian and pluralist science and society

Sumber : Paula Saukko, Doing Research in Cultural Studies, 2003

Selain itu, dalam makalah Melani Budianta, metode kajian budaya seringkali disebut metode
multidisipliner, lintas-, trans-, atau anti-disiplin (Grossberg:2). Jannet Wolff mengemukakan
sejumlah masalah metode interdisipliner kajian budaya yang mengkritik kebiasaan memakai
karya seni dalam studi-studi non-seni (sosiologi, sejarah, politik dasn seterusnya) yang
memperlakukan karya tersebut sebagai fakta (mengutip bagian-bagian dari isi) tanpa
"menghargai" fungsi karya seni tersebut sebagai karya seni. Karena pemakaian teori yang
eklektik dan pendekatan yang berbeda-beda setiap kajian budaya membuat model dan
perangkat analisisnya masing-masing tergantung topik permasalahan yang digarapnya
(Wolff, 1992; 706-717).

Daftar Pustaka

Agger, Ben, Teori Sosial Kritis, Kreasi Wacana, Jogjakarta, 2003.

Barker, Chris, Cultural Studies : Teori dan Praktik, Terj. Tim KUNCI Cultural Studies

Centre, Bentang, 2005.

___________and Dariusz Galasinski, Cultural studies and Discourse of Analysis, SAGE


Publication, 2001.

Storey, John, Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop, terj. Laily Rahmawati, Jalasutra,
2007.

Tony Bennet, "Popular Culture : A Teaching Object, Screen Education" (1980) yang dikutip
dalam buku Keith Tester, Media, Budaya dan Moralitas, terj. Muhammad Syukri, Kreasi
Wacana dan Juxtapose, 2003.

Paula Saukko, Doing Research in Cultural Studies, Sage Publication, California, 2003.

Grossberg, Lawrence et.al., "Cultural Studies : An Introduction" dalam Lawrence Grossberg,


Cary Nelson, Paula Treichler (eds), Cultural Studies, Routledge, New York, 1992.

Wolff, Janet, "Excess and Inhibition : Interdisiplinarity in the Study of Art" dalam Lawrence
Grossberg, Cary Nelson, Paula Treichler (eds.), Cultural Studies, Routledge, New York,
1992.

Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, Rineka Cipta, 1990.

Edgar, Andrew and Peter Sedgwick (ed.), Cultural Theory The Key Concepts, Routledge,
1999.

4
Watson, Graham Rewriting Culture, chapter 5 (penerbit dan tahun tidak diketahui). Paula
Saukko, Doing Research in Cultural Studies, Sage Publication, California, 2003, hal. 25.

Asal Usul Budaya dan Perkembangan Antropologi

Dalam mempelajari asas-asas dan ruang lingkup antropologi, selain mengetahui fase-fase
perkembangan ilmu antropologi, antropologi masa kini, ilmu ilmu bagian dari antropologi,
hubungan antara antropologi sosial dan budaya, dan metode ilmiah dari antropologi. Tapi
yang ingin saya bahas disini asal usul “budaya” dan perkembangan antropologi.

1. ASAL USUL BUDAYA

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan
bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan
budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari
kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah
tanah atau bertani.

Kebudayaan dapat diartikan sebagai keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk


sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasi lingkungan dan
pengalamannya, serta menjadi pedoman bagi tingkah lakunya. Suatu kebudayaan adalah
milik bersama anggota suatu masyarakat atau suatu golongan sosial, yang disebarkan kepada
anggota-anggotanya dan diwariskan kepada generasi berikutnya melalui proses belajar dan
dengan menggunakan simbol-simbol yang terwujud dalam bentuk yang terucapkan maupun
yang tidak (termasuk juga berbagai peralatan yang dibuat oleh manusia).

Dan dengan demikian, setiap anggota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai
kebudayaannya tersebut yang dapat tidak sama dengan anggota-anggota lainnya, disebabkan
oleh pengalaman dan proses belajar yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang
mereka hadapi tidak selamanya sama. Munculnya budaya juga dipengaruhi karena adanya
sebuah interaksi.

Adapun syarat-syarat terjadinya interaksi ialah:

- Adanya kontak sosial

Bisa diartikan kontak berarti bersama - sama menyentuh. Dalam pengertian sosiologis,
kontak merupakan gejala sosial. Jadi, kontak sosial merupakan aksi individu atau kelompok
dalam bentuk isyarat yang memiliki makna bagi si pelaku dan si penerima, dan si penerima
membalas aksi itu dengan reaksi. Kita juga bisa membedakan kontak dengan cara, sifat,
bentuk, dan tingkat hubungannya.

- Komunikasi

komunikasi adalah tindakan seseorang menyampaikan pesan terhadap orang lain dan orang
lain itu memberi tafsiran atas sinyal tersebut serta mewujudkannya dalam perilaku. Dari
uraian di atas, tampak bahwa komunikasi hampir sama dengan kontak. Namun, adanya

5
kontak belum tentu berarti terjadin komunikasi. Komunikasi menuntut adanya pemahaman
makna atas suatu pesan dan tujuan bersama antara masing - masing pihak. Dalam
berkomunikasi kita juga mengenal 4 unsur yaitu pengirim, penerima, pesan, dan umpan balik
(feedback).

2. PERKEMBANGAN ANTROPOLOGI

Adapun pendapat bahwa munculnya antropologi menyebabkan ‘Rasisme’. Sebelum


mengetahui mengapa ada pendapat tersebut ada baiknya kita mengetahui apa itu ‘Rasisme’.

Menurut Wikipedia Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan
bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya
atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras
yang lainnya.

Berbicara tentang munculnya antropologi itu menyebabkan rasisme karna dalam arti tertentu,
praktik antropologi dimulai begitu manusia mulai berfikir tentang masyarakat dan keyakinan-
keyakinan mereka, dan secara sadar memutuskan untuk membandingan diri mereka sendiri
dengan masyarakat-masyarakat lain yang melakukan kontak dengan mereka.

Ahli sejarah Yunani, Herodotus (484-425 SM) menghabiskan bertahun-tahun untuk


melakukan perjalanan di Asia, Mesir dan Yunani, dan menuliskan gambaran terperinci
tentang pakaian, panen, etiket dan ritual dari orang-orang yang ia jumpai. Ibn Khaldun
(13326-1406) adalah seorang ahli politik dan sejarah yang tinggal beberapa tahun. Ia
menghasilkan karya ilmiah yang menakjubkan, karena mengelompokkan orang-orang yang
diamatinya menjadi dua kelompok masyarakat, yaitu suku Bedouin yang dianggap liar,
nomaden serta agresif, dan masyarakt kota yang menetap, berpendidikan dan kadang-kadang
korup, yang menggantungkan hidup mereka pada pertanian lokal.

Dan karna adanya perbedaan-perbedaan itulah menyebabkan Rasisme. Sebagai masyarakat


yang hidup dimasa kini kita tidak akan bisa menghindari yang namanya rasisme. tetapi
sebagai orang Indonesia dan berdasarkan norma pancasila ada baiknya kita mengaplikasikan
sila ke-3 pancasila yaitu “Persatuan Indonesia”.

Sejarah Timbulnya Budaya


Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi.Budaya terbentuk dari banyak
unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan, dan karya seni.Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak
terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan
secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda
budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu
dipelajari
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan
luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-
budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.
Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan
orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit

6
nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas
keistimewaannya sendiri."Citra yang memaksa" itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam
berbagai budaya seperti "individualisme kasar" di Amerika, "keselarasan individu dengan
alam" di Jepang dan "kepatuhan kolektif" di Cina.
Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan
pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang
dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa
bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.
Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk
mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang
lain.
Budaya yang ada sampai saat ini adalah budaya yang diwariskan turun temurun dari
nenek moyang kita yang hidup berates-ratus tahun sebelum kita.Sumber lahirnya budaya
tersebut adalah karena adanya interaksi antara manusia pada zaman dahulu dengan
sesamanya dan dengan suatu yang mereka percayai sehingga menjadi sebuah kebiasaan dan
dianggap sakral dan penting.Hal itulah yang mendorong manusia zaman dulu untuk
menyebarkannya dan meneruskan kebiasaan yang mereka lakukan secara turun temurun
sehingga disebutlah budaya seperti sekarang ini.
Dari setiap daerah selalu ada budaya dan tentu saja tiap daerah memiliki budaya yang
berbeda walaupun ada sedikit kemiripan yang mungkin saja terjadi karena adanya campuran
kebudayaan yang masuk ke daerah tersebut.Seperti kebudayaan wayang,wayang tidak hanya
1 jenis di suatu daerah.Wayang memiliki beberapa jenis seperti wayang golek,wayang
kulit,wayang orang,wayang suket dan lain-lain.Dari hal tersebut bisa disimpulkan bahwa
kebudayaan dapat beralkulturasi dengan kebudayaan lainnya sesuai dengan keinginan
manusia tersebut.
Berdasarkan kesimpulan tersebut bisa ditarik juga sebuah pemikiran bahwa
sebenarnya kebudayaan yang sekarang ada mungkin saja adalah gabungan dari beberapa kali
masuknya suatu unsur budaya ke suatu daerah dengan budayanya sendiri sehingga terus
menerus berubah dan berkembang hingga sekarang ini.Seperti di Indonesia sendiri.Indonesia
memiliki nilai sejarah yang tinggi karena keanekaragaman budayanya dan juga luasnya
wilayah Indonesia.
Kebudayaan Indonesia pertama kali muncul pada zaman kerajaan Kutai dengna
ditemukannya prasasti yupa dan tugu batu yang menandakan pada zaman tersebut sudah ada
peradaban yang memiliki suatu budaya.Lalu terus menerus kebudayaan itu berkembang dan
bergabung dengan munculnya kebudayaan baru yang bisa datang dari luar atau dari dalam
negri.

Seperti saat zaman penjajahan,bangsa barat datang ke Indonesia dengan tujuan untuk
mencari rempah-rempah,memperluas daerah jajahan dan menyebarkan ajaran agama yang
tentu saja mengubah kebudayaan masyarakat Indonesia pada saat itu yang bercorak agama
Islam dan Hindhu-Budha.Pola penyebaran bisa dengan pernikahan,penjajahan atau dengan
cara damai lainnya.Setelah beberapa ratus tahun budaya Indonesia hamper terbentuk seperti
budaya yang sekarang ada.
Kebudayaan daerah sekarang yang ada juga terbentuk karena keterbukaan masyarakat
dengan kebudayaan asing yang masuk bersamaan dengan berkembangnya teknologi dan
globalisasi.Tapi di dalam gencarnya era globalisasi,masih ada beberapa daerah yang tetap
tidak ingin terpengaruh kebudayaan asing seperti suku Baduy,suku Anak Dalam,suku Asmat

7
dan lain-lain.Hal itu terjadi karena masih kentalnya adat istiadat suku tersebut terhadap
kepercayaan mereka dengan leluhur mereka sehingga mereka tidak menginginkan perubahan
walaupun perubahan tersebut membawa hal baik ke dalam kehidupan mereka.
Kebudayaan dapat dibagi menjadi 3 macam dilihat dari keadaan jenis-jenisnya:
· Hidup-kebatinan manusia, yaitu sesuatu yang menimbulkan tertib damainya hidup
masyarakat dengan adat-istiadatnya,pemerintahan negeri, agama atau ilmu kebatinan
· Angan-angan manusia, yaitu sesuatu yang dapat menimbulkan keluhuran bahasa,
kesusasteraan dan kesusilaan.
· Kepandaian manusia, yaitu sesuatu yang menimbulkan macam-macam kepandaian tentang
perusahaan tanah, perniagaan, kerajinan, pelayaran, hubungan lalu-lintas, kesenian yang
berjenis-jenis; semuanya bersifat indah

Pengertian Budaya dan Kebudayaan

A. Pengertian Budaya

Kata Kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta, Budhayah, yaitu bentuk jamak dari budhi
yang berarti budi atau akal.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak
unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan, dan karya seni.Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak
terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan
secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda
budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu
dipelajari.

Dengan demikian budaya dapat diartikan hal-hal yang bersangkutan dengan akal dan cara
hidup yang selalu berubah dan berkembang dari waktu ke waktu. Ada pendapat lain yang
mengupas kata budaya sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk budi-daya yang
berarti daya dari budi.

B. Pengertian Kebudayaan

Dalam hal ini, Prof. Dr. Koentjoroningrat mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan
sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusiadalam rangka kehidupanbermasyarakat
yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar. Hal tersebut berarti bahwa hampir seluruh
tindakan manusia adalah kebudayaan karena hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka
kehidupan masyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar, seperti tindakan naluri,
refleks, beberapa tindakanakibat proses fisiologi, atau kelakuan apabila ia sedang membabi
buta. Bahkan tidankan manusia yang merupakan kemampuan naluri yang terbawa oleh
makhluk manusia dalamgennya bersamanya (seperti makan, minum, atau berjalan), juga

8
dirombak olehnya menjadi tindakan yang berkebudayaan.

Kebudayaan menurut Ki Hajar Dewantara berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan
manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni alam dan zaman (kodrat dan masyarakat) yang
merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran
di dalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada
lahirnya bersifat tertib dan damai.

Malinowski menyebutkan bahwa kebudayaan pada prinsipnya berdasarkan atas berbagai


system kebutuhan manusia. Tiap tingkat kebutuhan itu menghadirkan corak budaya yang
khas. Misalnya, guna memenuhi kebutuhan manusia akan keselamatannya maka timbul
kebudayaan yang berupa perlindungan, yakni seperangkat budaya dalam bentuk tertentu,
seperti lembaga kemasyarakatan.

E.B Taylor (1873:30) dalam bukunya Primitive Culture kebudayaan adalah suatu satu
kesatuan atau jalinan kompleks, yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, susila,
hokum, adat-istiadat dan kesanggupan-kesanggupan lain yang diperoleh seseorang sebagai
anggota masyarakat.

C. Perbedaan Budaya dan Kebudayaan

Dari tulisan di atas dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara budaya dan kebudayaan
adalah bahwa budaya itu merupakan cipta, rasa dan karsa suatu masyarakat, sedangkan
kebudayaan merupakan hasil dari cipta, rasa dan karsa masyarakat tersebut.

D. Hubungan Budaya, Kebudayaan dan Sejarah

Sudah jelas dan pasti bahwa budaya atau kebudayaan itu memiliki sejarah sebagaimana ilmu-
ilmu yang lain. Budaya dan kebudayaan merupakan salah satu ruang lingkup sejarah. Tanpa
ada sejarah budaya atau kebudayaan, maka kita tidak akan tahu asal atau awal mula muncul
dan perkembangannya. Misalnya saja, sejarah budaya Hindu dan Budha di Indonesia atau
sejarah budaya Islam di Indonesia. Dengan melihat atau membaca sejarah, maka kita jadi
tahu bagaimana sebuah kebudayaan Hindhu-Budha, Islam, Kristen dll berkembang di
Indonesia. Jadi sejarah dan budaya atau kebudayaan itu sangat berkaitan dan penting untuk
dipelajari agar kita tahu mana yang benar-benar budaya asli bangsa Indonesia, dan mana yang
campuran (akulturasi/asimilasi). Begitupun juga dengan sejarah budaya atau kebudayaan
bangsa lain, tak ada salahnya untuk kita baca sejarahnya.

Pengertian Kebudayaan. Kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu Buddhayah,
yang merupakan bentuk jamak dari kata Buddhi yang mempunyai arti budi atau akal.
Sehingga kebudayaan dapat diartikan sebagai “hal-hal yang bersangkutan dengan budhi atau
akal”. Adapun perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia
sebagai makhluk yang berbudaya, yang berupa prilaku dan benda-benda yang bersifat nyata,
misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-
lain. Culture, merupakan istilah bahasa asing yang sama artinya dengan kebudayaan, berasal

9
dari kata latin “colere” yang berarti mengolah atau mengerjakan (mengolah tanah atau
bertani). Dari asal arti tersebut yaitu “colere” kemudian “culture” diartikan sebagai segala
daya dan kegiatan manusia untuk mengolah dan merubah alam. Kebudayaan sangat erat
hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski
mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh
kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah
Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun
temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai
superorganic, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu
pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi
segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-
kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.

Pengertian Budaya. Budaya secara harfiah berasal dari bahasa latin yaitu Colere yang
memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang. (menurutSoerjanto
Poespowardojo 1993). Budaya merupakan keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil
karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia
dengan cara belajar. Budaya berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang
merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang
berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture,
yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga
sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai
"kultur" dalam bahasa Indonesia.

Pengertian Kebiasaan.Tradisi dalam bahasa latin: traditio, "diteruskan" atau kebiasaan, dalam
pengertian yang paling sederhana adalah sesuatu yang telah dilakukan untuk sejak lama dan
menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara,
kebudayaan, waktu, atau agama yang sama. Hal yang paling mendasar dari tradisi adalah
adanya informasi yang diteruskan dari generasi ke generasi baik tertulis maupun (sering kali)
lisan, karena tanpa adanya ini, suatu tradisi dapat punah. Definisi kebiasaan: sesuatu yang
kamu lakukan secara periodik (present tense/saat ini). Dulunya, (past tense) hal itu nggak
pernah kamu lakukan, tapi sekarang jadi ngelakukannya secara periodik.

Pengertian adat istiadat. Adat Istiadat adalah aneka kelaziman dalam suatu negeri yang
mengikuti pasang naik dan pasang surut situasi masyarakat. Kelaziman ini pada umumnya
menyangkut pengejawatahan unjuk rasa seni budaya masyarakat, seperti acara-acara
keramaian anak negeri, seperti pertunjukan randai, saluang, rabab, tari-tarian dan aneka
kesenian yang dihubungkan dengan upacara perhelatan perkawinan, pengangkatan penghulu
maupun untuk menghormati kedatangan tamu agung. Adat istiadat semacam ini sangat
tergantung pada situasi sosial ekonomi masyarakat. Bila sedang panen baik biasanya megah
meriah, begitu pula bila keadaan sebaliknya. Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri
dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim
dilakukan di suatu daerah.

10
Budaya berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari
buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal
manusia. Dalam Bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin
Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Dalam Bahasa Indonesia, kata culture biasanya
diterjemahkan sebagai "kultur".

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak
unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas,
pakaian, bangunan, dan karya seni.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. Budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.
Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini
tersebar, dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.

Budaya di Indonesia sangat berpengaruh pada perkembangan zaman dari waktu ke waktu dan
perubahan kondisi alam di Indonesia. Hal ini sesuai dengan pendapat seorang ahli dari
Indonesia, Ki Hajar Dewantara, yang mengemukakan bahwa budaya merupakan hasil
perjuangan suatu masyarakat terhadap zaman dan alam yang membuktikan kejayaan hidup
masyarakat dalam menghadapi rintangan dan kesulitan untuk mencapai kebahagiaan dan
keselamatan di hidupnya. Kondisi alam yang berbeda-beda di setiap daerah di seluruh
wilayah Indonesia menyebabkan banyaknya jenis budaya yang berkembang. Hal ini
disebabkan karena pengalaman hidup dan besarnya usaha untuk bertahan dengan kondisi
alam yang sulit sangat mempengaruhi tingkah laku dan tutur bahasa yang mereka miliki.
Namun sebagai bangsa Indonesia yang bersemboyan bhineka tunggal ika, kita harus saling
menghargai budaya-budaya yang ada di negara tercinta ini.

Kebudayaan menurut Koentjaraningrat yang sebagaimana telah dikutip oleh Budiono K yaitu
menegaskan bahwa, “Menurut antropologi, kebudayaan ialah seluruh sistem gagasan, rasa,
tindakan dan karya yang dihasilkan oleh manusia dalam kehidupan masyarakat, yang
dijadikan miliknya dengan belajar”. Maka berdasarkan pengertian tersebut ini berarti bahwa
ada pewarisan budaya-budaya leluhur lewat sebuah proses pendidikan.

Sedangkan, menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi kebudayaan merupakan hasil
karya cipta dan rasa masyarakat. Kebudayaan memang memiliki hubungan yang sangat erat
dengan perkembangan di masyarakat. Menurut seorang arkeolog, R. Seokmono, budaya
merupakan hasil usaha manusia berupa benda maupun hasil buah pikiran manusia selama
hidupnya. Sedangkan menurut Effat al-Syarqawi yang mengartikan budaya berdasarkan sudut
pandang Islam, mengemukakan bahwa budaya merupakan khazanah sejarah suatu
masyarakat yang tercermin dalam kesaksian dan nilai-nilai yang menggariskan bahwa
kehidupan harus memiliki tujuan dan makna rohaniah.

11
Budaya dan kebudayaan sudah ada ketika manusia berpikir, berkarya dan berkreasi. Bahkan
akan senantiasa menunjukkan mengenai pola pikir dan interpretasi manusia pada
lingkungannya. Dalam kebudayaaan ini pula terkandung nilai-nilai yang dianut oleh
masyarakat setempat dan hal ini menuntun untuk memaksa manusia dalam berperilaku yang
sesuai dengan budayanya. Di antara kebudayaan yang satu dengan lainnya ternyata
mempunyai sebuah perbedaan dalam menentukan nilai-nilai hidup dan berperan serta pada
adat istiadat atau tradisi yang dihormati. Adat istiadat atau tradisi yang berbeda inilah antara
yang satu dengan lainnya tak dapat dikatakan tentang benar atau salahnya, karena hal ini
merupakan sebuah penilaian yang selalu terikat pada kebudayaan tertentu.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan


Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam
masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah
untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah
benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa
perilaku, dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan
hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk
membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur
kebudayaan, antara lain sebagai berikut :

Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:

alat-alat teknologi
sistem ekonomi
keluarga
kekuasaan politik.

Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:

sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk
menyesuaikan diri dengan alam.

12
Budaya Indonesia – Pengertian, Sejarah, Unsur, Faktor, Manfaat, Para Ahli

Budaya Indonesia – Pengertian, Sejarah, Unsur, Faktor, Manfaat, Para Ahli :


Menafsirkan sejarah budaya peristiwa masa lalu yang berkaitan dengan manusia melalui hal-
hal politik, budaya dan sosial, atau berhubungan dengan seni. Jacob Burckhardt merupakan
orang yang membuat sejarah dalam budaya disiplin.

Pengertian Kebudayaan
Sebelum kita memahami kebudayaan Indonesia, terlebih dahulu patut kiranya kita memahami
arti kebudayaan itu sendiri, kata kebudayaan dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa
Sansekerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau
akal.

Dengan demikian kebudayaan di artikan sebagai hal hal yang bersankutan dengan budi dan
akal. Kata kebudayaan dalam bahasa inggris diterjemhkan dengan istilah culture. Dalam
bahasa Belanda di sebut cultuur. Kedua bahasa ini di ambil dari bahasa latin colore yg berarti
mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan tanah. Dengan demikian
culture atau cultuur diartikan sebagai segala kegiatan manusiauntuk mengolah dan mengubah
alam. ada pula yang berpendapat bahwa kata budaya dari budi daya yang berarti daya dari
budi, yaitu berupa cipta, karsa, dan rasa.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.
Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini
tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia. Dengan demikian, budayalah yang
menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan
memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti budi atau akal. Kebudayaan adalah
hasil dari cipta, rasa dan karsa manusia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan
masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala
sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh
masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Kebudayaan Menurut Para Ahli


 Herskovits
memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke
generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
 Andreas Eppink
kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu
pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain,
tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu
masyarakat.

13
 Edward Burnett Tylor
kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung
pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-
kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
 Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi
kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah
sesuatu yang akan memengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan
yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu
bersifat abstrak.

Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia


sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata,
misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-
lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan
bermasyarakat.

Kebudayan Menurut Wujudnya


a. kebudayaan berwujud abstrak
b. kebudayaan berwujud konkret dan
c. kebudayaan berwujud benda (fisik).

Keberagaman sama pengertiannya dengan keanekaragaman, banyak dan bermacam macam.


Sehingga yang dimaksud keanekaragaman kebudayaan adalah bahwa kebudayaan tersebut
bermacam macam, bisa ditinjau dari berabgai aspek, misalnya dari aspek peralatan dan
perlengkapan hidup manusia, mata pencaharian hidup, sistem ekonomi, sistem
kemasyarakatan, bahasa, kesenian, sistem pengetahuan dan religi/kepercayaan.

Kajian Budaya
Kajian budaya merupakan disiplin akademis antara poluper ilmiah. Penelitian ini
pencampuran ekonomi politik, geografi, sosiologi, teori sosial, teori sastra, teori film,
antropologi budaya, filsafat, dan sejarah seni untuk mempelajari fenomena budaya di
berbagai komunitas.

Kajian budaya peneliti sering berkonsentrasi penelitian tentang bagaimana tertentu fenomena
yang terkait dengan masalah ideologi, kebangsaan, etnis, kelas sosial, dan gender. Istilah ini
diciptakan oleh Richard Hoggart pada tahun 1964 ketika ia mendirikan Center for
Contemporary Cultural Studies Birmingham.

Sejarah Budaya Indonesia


Sejarah Kebudayaan Indonesia sedang dibahas perkembangannya dalam setiap periode.
Wilayah Indonesia memiliki banyak pulau yang dipisahkan oleh laut dan selat memiliki
sejarah perkembangan budaya tidak seragam.
 Perbedaan (jangka waktu) di luar intervensi budaya dari daerah budaya lokal.
 Perbedaan intensitas budaya asing yang masuk ke daerah masing-masing.

Dua faktor utama berperan dalam membentuk budaya Indonesia saat ini. Dalam
perkembangan, ada unsur-unsur yang mendasari pengembangan unsur-unsur lain, yaitu

14
unsur-unsur agama. Ini memberikan pandangan kelahiran hidup. Sejarah Kebudayaan
Indonesia membahas agama dan filsafat yang berkembang di Indonesia.

Agama selalu hadir dalam bentuk apapun dalam setiap budaya etnis di dunia. Tak
terkecuali etnis di Nusantara. Bentuk agama mereka membentuk hal pertama adalah untuk
menghormati kekuatan alam yang mengisi ruang. Kekuasaan meliputi kekuatan negatif dan
positif. Tak bisa dipungkiri bahwa dua kekuatan yang hadir dalam kehidupan manusia.

Ketika peradaban mulai berkembang, agama menyesuaikan bentuknya dengan pikiran


manusia. Ketua kelompok dipilih oleh anggota berdasarkan konsep Primus inter pares.
Selama waktunya sebagai pemimpin, ketua kelompok dituntut untuk dapat mengatur layanan
pada semua anggotanya.

Jadi, ketika agama-agama besar dunia datang untuk hidup penduduk di Nusantara pada awal
era kita. Di bidang agama, nenek moyang kita sudah memiliki dasar yang baik, yang mampu
mengidentifikasi kekuatan supranatural. Mereka sudah bisa mengatur warganya sesuai
dengan pandangan hidup pada kekuatan supranatural. Mereka juga mampu menciptakan seni
yang didedikasikan untuk kekuatan supranatural, dan berbagai bentuk lain dari penghargaan
untuk bidang supranatural.

Perbedaan utama pendalaman sektarian karena akulturasi dengan lapisan budaya yang harus
dipenuhi. Sampai saat ini kehidupan beragama di Indonesia berjalan dengan baik, toleransi,
dan melanjutkan tradisi dan budaya kehidupan, diberbagai kelompok-kelompok maupun etnis
besar atau kecil.

Unsur-Unsur Pokok Kebudayaan


7 unsur pokok kebudayaan (universal culture), yakni sebagai berikut:
1. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah
tangga, senjata, alat-alat produksi, transportasi, dan sebagainya).
2. Mata pencaharian hidup dan sistem-sistem ekonomi(pertanian, perternakan, sistem
produksi, sistem distribusi, dan sebagainya)
3. Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hokum, sistem
perkawinan, dan seterusnya)
4. Bahasa (lisan maupun tertulis)
5. Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan seebagainya)
6. Sistem pengetahuan
7. Sistem kepercayaan (religi)

Faktor Pembentuk Keragaman Budaya


Masyarakat Indonesia terdiri dari ratusan suku bangsa yang tersebardi lebih dari 13 ribu
pulau. Setiap suku bangsa memiliki identitas social, politik, dan budaya yang berbeda-beda,
seperti bahasa, adat istiadat serta tradisi, sistem kepercayaan dan sebagainya. Dangan
identitas yang berbeda beda ini, kita dapat mengatakan bahwa Indonesia memiliki
kebudayaan local yang sangat beragam.

Keberagaman kebudayaan terbentuk bukan dengan sendirinya. Fakor utama pembentuk


keberagaman adalah manusia yang memiliki kebudayaan tersebut. Selain itu masih ada faktor
lain, yaitu :

15
1. Lingkungan
Kondisi alam dimana manusia tinggal akan sangat mempengaruhi corak budaya yang mereka
munculkan. Masyarakat petani akan memunculkan alat alat pertanian seperti cangkul, alaat
pembajak tanah dan lain lain. Begitu pun masyarakat nelayan juga akan memunculkan alat
alat untuk menangkap ikan. Keadaan lingkungan tempat tinggal masyarakat menentukan
sistem mata pencaharian masyarakat tersebut, sehingga memunculkan berbagai mata
pencaharian.

2. Pertemuan bangsa bangsa


Perpindahan bangsa bangsa pendukung kebudayaan Dongson dari Yunan (Cina Selatan) ke
Nusantara menyebabkan masyarakat Nusantara mengenal kebudayaan perunggu, cara
melebur dan mencetak logam. Candi candi di Indonesia seperti Borobudur dan Prambanan
tidak terlepas dari pengaruh kebudayaan Hindu dan Budha dari India. Begitu pula pertemuan
bangsa bangsa yang disebabkan karena penjajahan dan perdagangan juga akan sangat
mempengaruhi keanekaragaman kebudayaan yang ada di indonesia.

3. Kepercayaan yang kuat dan mengakar


Misalnya orang Mesir Kuno memiliki kepercayaan kuat bahwa roh orang yang meninggal
akan tetap abadi selama jasad/jenazahnya masih utuh. Karena itu jenaza para raja dirawat dan
diawetkan, kemudian ditempatkan pada tempat tempat yang kokoh agar tetap aman. Maka
muncullah teknologi bangun piramida yang sangat hebat dan teknik pengawetan mayat
(Mumi) yang terkenal.

4. Faktor Ras
Penelitian Antropologi Fisis menyatakan bahwa perbedaan antar ras (induk bangsa) terletak
pada ciri ciri tubuhnya. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa selain segi fisiknya, ada
perbedaan juga pada segi jiwa dan rohaninya Perbedaan itu memungkinkan adanya
perbedaan budaya.

Faktor Penyebab Perubahan Budaya


Kebudayaan selalu berubah, unsur unsur yang ada didalam siatu kebudayaan akan selalu
beradaptasi dengan keadaan lingkungan fisik, geografis dan lingkungan sosial. Terdapat
beberapa faktor yang menyebabkan suatu kebudayaan berubah, yaitu sebagai berikut :

1. Faktor Latar Belakang Historis


Sebagai contoh Indonesia, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Yunan, yaitu wilayah
Cina bagian selatan. mereka pindah dan melakukan perjalanan hingga sampai ke pulau pula
di Nusantara. Sebelum sampai di kepulauan nusantara, mereka telah berhenti di berbagai
tempat dan menetap dalam jangka waktu yang lama, bahkan mungkin hingga beberapa
generasi.

Selama bermukim di tempat tempat tersebut mereka telah melakukan adaptasi dengan
lingkungan lingkungannya, mereka juga mengembangkan pengetahuan, pengalaman dan
keterampilan keterampilan khusus sebelum melakukan perjalanan kembali. Perbedaan jalur
perjalanan, proses adaptasi di beberapa tempat persinggahan yang berbeda dan perbedaan
pengalaman serta pengetahuan itulah yang menyebabkan timbulnya perbedaan suku bangsa
dan budaya yang ada di Indonesia.

16
2.Faktor Manusia
Manusia dianggap sebagai makhluk paling sempurna karena dikarunia cipta, rasa dan karsa
oleh Tuhan Yang Maha Esa. Dengan akal manusia mampu menghasilkan karya, hasil karya
masyarakat melahirkan teknologi atau kebudayaan kebendaan yang berguna untuk memenuhi
kebutuhan manusia. Dengan perasaan manusia mampu membedakan baik buruk, indah jelek.
Karsa merupakan upaya manusia untuk melindungi diri terhadap kekuatan kekuatan lain yang
ada dalam masyarakat.

Kekuatan kekuatan tersembunyi yang ada dalam masyarakat tidak selamanya baik. Untuk
menghadapi kekuatan kekuatan buruk, manusia terpakasa melindungi diri dengan
menciptakan kaidah kaidah yang pada hakikatnya merupakan petunjuk petunjuk tentang
bagaimana manusia harus bertindak dan berperilaku dalam pergaulan hidup. Dengan
ketiganya itu manusia dapat menciptakan suatu kebudayaan yang bersifat meterial maupun
non material.

3.Faktor Lingkungan Alam (Kondisi Geografis)


Terjadinya gempa bumi, angin topan, banjir besar, gunung meletus, kemarau yang
berkepanjangan, dan lain lainnya yang menyebabkan masyarakat yang mendiami suatu
daerah terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya. Dan saat itulah masyarakt tersebut
akan beradaptasi dengan sendirinya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara
membentuk atau menciptakan kebudayaan yang baru.

4.Faktor perubahan Nilai Nilai dan Sikap


Setiap individu dalam melaksanakan aktivitas yang selalu berdasarkan serta berpedoan
kepada nilai nilai yang ada dan hidup dalam masyarakat. Di lain pihak nilai nilai ini sangat
mempengaruhi tindakan dan perilaku manusia baik secara perorangan, kelompok maupun
terhadap masyarakat itu sendiri.Dikatakan demikian karena nilai nilai tersebut adalah
sekumpulan perorangan, kelompok atau masyarakat tidak petut terhadap obyek material
maupun non material. Dengan yang selalu diinginkan, di cita citakan dan dianggap penting
oleh seluruh manusia sebagai anggota masyarakat.

5.Pengaruh Kebudayaan lain


Dengan adanya hubungan antarmanusia dan antarkelompok manusia di dalam masyarakat
akan terjadi kontak dan pertukaran budaya dari satu individu ke individu lainnya. Keadaan
seperti ini mendorong terjadinya proses perubahan suatu kebudayaan yang ada di dalam suatu
masyarakat. Proses perubahan kebudayaan antara lain asimilasi, akulturasi, enkulturasi dan
inovasi.

6.Faktor Kemajuan Teknologi


Perkembangan teknologi yang begitu cepat menimbulkan perkembangan perkembangan pula
di lapang sosial. Misalnya pengaruh penemuan radio mempunyai efek pada lapangan
rekreasi, pendidikan, pengangkutan, agama, pertanian, ekonomi, pemerintah dan sebagainya.

7.Perubahan Kependudukan
Perubahan kependudukan bisa terjadi karena adanya gerak kemasyarakatan. Gerak
kemasyarakatan ini dapat dibagi menjadi dua yaitu gerak ekemasyarakatan yang bersifat
vertikal dan horizontal.

Manfaat Keberagaman Budaya di Indonesia

17
Kebudayaan mempunyai fungsi yang sangat besar bagi manusia. Bermacam macam kekuatan
yang harus dihadapi masyarakat dan anggota anggotanya seperti kekuatan alam maupun
kekuatan kekuatan lain dalam masyarakat itu sendiri yang tidak terlalu baik baginya.

Manusia juga mempunyai banyak kebutuhan agar kehidupannya nyaman dan tentram.
Dengan akal manusia menghasilkan suatu kebudayaan yang dapat menjadi sarana untuk
memenuhi kebutuhannya serta untuk menghadapi berbagai macam kekuatan dalam
kehidupannya.

Keberagaman budaya di Indonesia mempunyai berbagai manfaat bagi Indonesia sendiri,


antara lain sebagai berikut:
1. Dapat memperkaya perbendaharaan istilah dalam bahasa Indonesia
2. Potensi keberagaman budaya dapat dijadikan objek dan tujuan pariwisata
3. Pemikiran yang timbul dari sumber daya manusia di masing masing daerah dapat pula
dijadikan acuan bagi masyarakat.
4. Jika difasilitasi dengan baik, maka keberagaman budaya dapat meingkatkan rasa
persatuan dan kesatuan bangsa.
5. Mendorong integrasi nasional.

Contoh Keberagaman Budaya Lokal di Masyarakat Setempat


1.Keberagaman Suku Bangsa
Suku bangsa Jawa merupakan komunitas terbesar dari penduduk di Indonesia, diikuti dengan
suku bangsa Sunda, Madura, Minangkabau, Bugis, Batak, Bali, Ambon, Dayak, dan
sebagainya.
Menurut Van Vollenhoven suku bangsa Indonesia diklasifikasikan menjadi 19 daerah suku
bangsa yaitu Aceh, Gayo Alas dan Batak, Nias dan Batu, Minangkabau, Mentawai, Sumatera
Selatan, Melayu, angka dan Belitung, Kalimantan, Minahasa, Sangir dan Talaud, Gorontalo,
Toraja, Sulawesi Selatan, Ternate, Ambon, Kepulauan Barat Daya, Irian, Timor, Bali dan
Lombok, Jawa Tengah dan Jawa TImur, Surakarta dan Yogyakarta dan Jawa Barat.

2.Keberagaman Bahasa
Di Indonesia ada sekitar 250 bahasa dan dialek yang dikelompokkan berdasarkan keompok
suku bangsa yang hidup tersebar di nusantara. Bahasa lokal atau bahasa daerah yang utama di
Indonesia antara lain bahasa Aceh, Batak, Betawi, Jawa, Sasak, Dayak, Minahasa, Toraja,
Bugis, Ambon, Irian dan bahasa bahasa daerah lainnya.

Diantara bahasa bahasa daerah tersebut terdapat ragam dialek yang berbeda beda. Bahasa
nasional Indonesia diperkenalkan secara resmi sejak kemerdekaan Indonesia dan diberi nama
bahasa Indonesia. Struktur bahasa Indonesia merupakan bahasa Melayu yang diperkaya oleh
bahasa bahasa daerah Nusantara.
3.Keberagaman Agama
Di Indonesia para penduduknya megnantu beberapa agama, yaitu : Islam, Kristen, Katolik,
Hindu, Budha dan Konghuchu.

4.Keberagaman Kesenian
Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki senian dan kebudayaan yang berbeda. Sebagai
contoh suku Jawa memiliki alat musik yang bernama gamelan, sedangkan suku Sunda
memiliki alam musik yang bernama angklung.

5.Keberagaman Tradisi

18
a.Tradisi Upacara Labuhan Merapi
Tradisi budaya ini dilaksanakan setiap tanggal 30 rajab sebagai serangkaian kegiatan upacara
penobatan Sri Sulttan Hamengkubowono X sebagai sultan Ngayogyakarta Hadiningrat.
b.Tradisi Ngaben
Adalah upacara pembakaran mayat yang dilakukan oleh para penganut agama Hindu Bali.
Upacara ini dilaksanakan antara bulan Juni-September yang merupakan kesempatan terakhir
bagi keluarga yang ditinggalkan untuk mengabdikan dirinya kepada orangtua yang sudah
meninggal dan belum sempat di-aben, tetapi telah dikubur.

Upacara Ngaben di Bali menggunakan 39 jenis tumbuhan yang mengandung minyak atsiri
.Pada upacara ngaben di Bali dipergunakan 39 jenis tumbuhan. Dari 39 jenis tersebut banyak
yang tergolong penghasil minyak atsiri dan bau harum seperti kenanga, melati, cempaka,
pandan, sirih dan cendana. Jenis lain yaitu dadap dan tebu hitam diperlukan untuk, kelapa
gading diperlukan untuk menghanyutkan abu ke sungai.

c.Tradisi batapung tawar maayun


Adalah upacara menyiapkan menjadi seorang anak yang merupakan tradisi budaya masyakat
martapura, Amuntai, Kandangan dan Banjarmasin
d.Tradisi era era tu urau
Adalah upacara tindik telinga untuk gadis gadis yang menginjak dewasa, yang merupakan
tradisi budaya suku bangsa Waropen, Papua.

19