Anda di halaman 1dari 25

BAB VI

TEKNIK AKSES SATELIT

Pendahuluan
Materi pada Bab VI membahas tentang teknik akses satelit dalam sistem
Komunikasi Satelit. Isi materi berupa sistem akses SCPC, FDMA, TDMA,
CDMA dan IDR yang berkaitan dalam sistem komunikasi satelit.
Pada akhir penyajian materi ini, mahasiswa diharapkan mampu
menjelaskan konsep teknik akses SCPC, FDMA, TDMA, CDMA, dan IDR
dalam sistem telekomunikasi.

Penyajian
Yang dimaksud dengan Access ke satelit adalah sebagaimana cara – cara
agar sinyal – sinyal yang dipancarkan dari stasiun bumi dapat ditransmisikan ke
satelit. Untuk akses satelit dapat dilakukan dengan cara:
- Single Access
Yaitu penggunaan atau pemanfaatan satu transponder satelit oleh satu stasiun
bumi. Contoh : SCPC dan TV.
- Multiple Access
Yaitu penggunaan atau pemanfaatan satu transponder satelit oleh beberapa
stasiun bumi secara bersamaan, tanpa saling menganggu satu sama lain.
Contoh: FDMA, TDMA, IDR, dan VSAT.
- Routing Trafik
Andaikan ada 3 stasiun A, B, dan C akan berkomunikasi. Kapasitas saluran
satelit CXY. Metoda :
 Satu carrier per link → diperlukan N(N-1) carrier

Gambar 6.1 Raouting trafik satu carrier per link


 Satu Carrier per stasiun → diperlukan N carrier → memanfaatkan sifat
pancarluas satelit.

Gambar 6.2 Raouting trafik satu carrier per stasiun

6.1 Sistem Single Channel Per Carier (SCPC)


Sistem SCPC (Single Channel Per Carrier) merupakan salah satu metoda
akses dalam sistem komunikasi satelit yang berfungsi untuk melaksanakan proses
pengolahan kanal suara (voice channel) dengan band frekuensi dari 0,3 s/d 3,4
KHz menjadi kanalRF (Radio Frequency) yang terletak pada frekuensi sekitar 6
GHz untuk dipancarkan ke satelit dan atau sebaliknya mengolah kanal RF yang
terletak pada frekuensi disekitar 4 GHz menjadi kanal suara.
Di dalam sistem SCPC setiap kanal suara mempunyai carrier tersendiri
yang berbeda satu sama lain, masing – masing carrier dipancarkan dan menduduki
salah satu slot frekuensi pada transponder satelit, dimana spacing (jarak) antar
kanal adalah 30 KHz.
Dalam praktek penggunaannya sistem SCPC dapat dioperasikan dalam
empat jenis mode operasi, yaitu :
a. Mode DA (Demand Assigned)
Sistem SCPC DA yaitu cara pengoperasian dimana frekuensi pembawa
serta tujuan komunikasi dapat dipilih sesuai kebutuhan dan diatur oleh master
station, jadi untuk suatu hubungan tidak selalu menggunakan frekuensi yang tetap
karena semua carrier dapat digunakan secara bergantiansesuai dengan kebutuhan.
b. Mode FRASSER (Fast Re Assignment Service)
Sistem SCPC FRASSER yaitu cara pengoperasian dimana penggunaan
carrier tidak fixed, tapi tujuan komunikasinya fixed, ini berguna untuk lebih
mempercepat komunikasi ke suatu kota tertentu.
c. Mode PA P to P (Permanent Assignment Point to Point)
Sistem SCPC PA P to P yaitu cara pengoperasian dimana frekuensi
pembawa (carrier) serta tujuan komunikasi diatur secara fixed baik secara local
maupun secara remote, diaman stasiun transmit dan receive menggunakan
frekuensi yang berbeda tetapi berpasangan.
d. Mode PA Loop Back ( Permanent Assignment Loop Back)
Sistem SCPC PA Loop Back, yaitu cara pengoperasian dimana frekuensi
pembawa serta tujuan komunikasi diatur secara fixed, namun stasiun transmit dan
receive menggunakan frekuensi yang sama, jadi satu kanal frekuensi digunakan
baik untuk kirim maupun untuk terima. Mode ini lebih cocok digunakan baik
untuk kirim maupun untuk terima. Mode ini lebih cocok digunakan untuk
komunikasi secara broad cast, dan contoh pengoperasiannya sudah diaplikasikan
pada sistem SISDIKSAT saat ini.
Sistem SCPC digunakan untuk melayani komunikasi ke arah kota – kota
dengan kepadatan lalu lintas yang rendah. Namun dengan mode DA kanal – kanal
sistem SCPC dapat digunakan untuk komunikasi ke berbagai kota tujuan yang
berbeda – beda.
Translasi FDM-FM :

Gambar 6.3 Translasi FDM-FM


Translasi SCPC :

Gambar 6.4 Translasi SCPC

6.1.1 Spacing
Jarak antara satu carrier dengan carrier yang lain berdekatan dinamakan
Spacing. Untuk pengoperasian SCPC di PT TELKOM ditetapkan besarnya
spacing 30 KHz.
Telah diketahui bahwa Bandwidth frekuensi sebuah transponder satelit
Palapa adalah 36 MHz dengan demikian, maka kalau ditinjau dari segi bandwidth,
satu transponder harus mampu memuat 1200 kanal.

6.1.2 Channel Offset


Channel Offset adalah selisih frekuensi antara frekuensi kirim dan
frekuensi terima sebuah modem SCPC.
Contoh :
Modem A Modem B
Frekuensi Tx A Frekuensi Tx B
Frekuensi Rx A Frekuensi Rx B
Channel Offset adalah
F Tx A – F Rx A atau F Rx A – F Tx A
F Tx B – F Rx B atau F Rx B – F Tx B
Apabila
 F Tx > F Rx
( Modem dinamakan Listen Low)
 F Rx > F Tx
(Modem dinamakan Listen High)
Catatan :
Untuk keperluan pengukuran dilakukan loop back, modem akan
menerima sinyal – sinyal yang dipancarkan sendiri ( F Rx = F Tx).

6.1.3 Sistem Modulasi


Sistem modulasi yang digunakan adalah frekuensi modulasi (FM) plus
preemphasi IF center frekuensi 70,02 Mhz mulai dari 50,02 Mhz s/d 88,02 Mhz
dengan step 30 Khz.
Sedangkan untuk proses demodulasinya menggunakan TED ( Threshold
Extension Demodulator) Karena dengan teknik TED ini dapat memperbaiki
kualitas sebesar 4 dB dibandingkan dengan Threshold Discriminator biasa.
6.1.4 Parameter Penting Sistem SCPC
Parameter – parameter penting yang sangat berpengaruh terhadap kualitas adalah:
a. Power Transmit
Power transmit erat kaitannya dengan C/N yang diterima di penerima.
Dengan operating C/N sebesar yang diperoleh S/N sebesar 53 dB. Nilai S/N ini
cukup memenuhi syarat, akan tetapi marginnya sangat kecil. Andaikata power
transmit oleh suatu sebab misalnya hujan atau lalai dalam pemeliharaan,
menyebabkan S/N turun 3 dB, sehingga untuk harga S/N kurang dari 50 dB sudah
tidak memenuhi syarat atau standard CCITT.
Perlu diingat, bahwa transponder untuk sistem SCPC terdiri dari multi
carrier, jika level transmit dari carrier – carrier SCPC dinaikkan, transponder akan
dikemudikan kearah saturasi, sehingga akan mnyebabkan noise intermodulasi
naik. Hal ini akan mengakibatkan seluruh sistem SCPC pada transponder tersebut
mengalami penurunan kualitas, bahkan mungkin bisa mengakibatkan hal yang
lebih fatal.
b. Akurasi Frekuensi
Kita telah mengetahui bahwa alokasi bandwidth (spacing) satu kanal
SCPC adalah 30 Khz, sehingga akurasi frekuensi menjadi hal yang sangat kritis.
Frekuensi drift sebesar puluhan Hertz pada Master Oscilator akan menyebabkan
drift ditingkat RF dalam orde KHz dan jika drift ditingkat RF melebihi 4 Khz,
kualitas hubungan menjadi sangat buruk.
Keuntungan yang diperoleh dalam penggunaan SCPC
- Mode hubungan dapat disesuaikan apakah menggunakan PA atau DA
ataupun FRASER bersifat fleksibel.
- Dapat menggunakan sistem VOX ( Voice Operated Carrier), yang artinya
carrier akan memancar apabila pembicaraan atau signaling. Hal ini
merupakan suatu sistem yang dapat mengurangi daya yang dipancarkan ke
satelit.
6.2 Sistem Frequency Division Multiple Access (FDMA)

Gambar 6.5 FDMA

Jenis akses sudah lama diaplikasikan pada komunikasi satelit. Setiap


sinyal carrier dari stasiun bumi akan dipancarkan ke satelit secara simultan. Setiap
sinyal carrier dari stasiun bumiyang akses ke satelit akan menduduki alokasi band
frekuensi tertentu dengan center frekuensi yang berbeda pada suatu transponder.
Jika pada suatu transponder di duduki oleh lebih dari dua sinyal carrier, maka
level sinyal carrier yang dipancarkan oleh stasiun-stasiun bumi mempunyai
batasan level EIRP yang tidak boleh dilampau. Jenis akses ini tidak memerlukan
pengontrolan yang rumit dan singkronisasi.
Jenis akses ini diaplikasikan pada komunikasi.
- Single channel per carrier (SCPC)
- FDM/FM (Multiple Analog)
- Intermediate data rate (IDR)
6.2.1 Konfigurasi transmisi FDMA
FDM/FM/FDMA
- Sumber sinyal analog
- 1 carrier per stasiun
TDM/PSK/FDMA
- Sumber sinyal digital
- 1 carrier per stasiun
SCPC/FDMA
- Sumber sinyal Analog atau Digital
- 1 carrier per link
Teknik FDMA yang digunakan di satelit :
- FDM-FM-FDMA (MCPC – Multi Channel Per Carrier)
- SCPC (Single Channel Per Carrier)
- FM-FDMA untuk Televisi
- Companded FDM-FM-FDMA dan SSB-AM-FDMA

Gambar 6.6 Teknik FDMA pada sistem Satelit


6.2.2 Keuntungan dan Kerugian System FDMA
Keuntungannya :
- Mudah diterapkan pada komunikasi satelit.
- Teknologi FDM-FM sudah dikenal.
- Tidak membutuhkan sinkronisasi waktu.
- Sistem keseluruhan Sederhana pengoperasian mudah, peralatan murah,
dan terbukti handal.
- Dimensioning stasiun bumi kecil
Kerugiannya :
- Timbul intermodulasi pada TWT satelit, karena dioperasikan dengan multi
carrier.
- Fleksibilitas rendah : kalau ada rekonfigurasi kapasitas (=lebar pita)
modifikasi diperlukan di TXR dan RXR ( untuk saluran tersebut, untuk
saluran bertetangga, filter, dan peralatan lain mungkin perlu diubah)
- Kapasitas berkurang drastis sejalan dengan penambahan jumlah carrier →
akibat noise intermodulasi dan back – off.
- Perlunya pemerataan daya tiap saluran di TXR untuk menghindari capture
effect (harus real time mengantisipasi pelemahan akibat hujan, awan tebal,
dsb)

6.3 Sistem Time Division Multiple Access (TDMA)


Sistem TDMA adalah merupakan salah satu metode akses sistem
komunikasi satelit, dimana pada sistem ini sudah menggunakan teknologi digital
yaitu:
- Setiap sinyal carrier dari sistem bumi akan dipancarkan ke satelit dalam
bentuk Burst – Burst.
- Setiap burst akan menempati time-slot tertentu secara berurutan dalam
satu frame.
- Setiap sinyal carrier dari stasiunbumi yang akses ke satelit akan
menggunakan frekuensi yang sam, sehingga yang termonitor hanya satu
carrier yang ditampilkan.
- Mengingat ada pengaturan waktu transmit dari setiap carrier stasiun bumi,
maka diperlukan sistem singkronisasi.
- Fungsi jarak antara stasiun bumi dan satelit sangat penting untuk
menentukan waktu pancar stasiun – stasiun bumi.
Dalam system TDMA ini stasiun bumi memancarkan burst-burst pada
tome slot (celah waktu) tertentu secara kontinu dan bergiliran antara yang satu
dengan yang lain sehingga antara stasiun bumi dibedakan atas time slot yang
didudukinya.
Lebar time slot stasiun bumi tidak harus sama tetapi berbeda-beda
tergantung pada jumlah kanal yang harus ditransmisikan. Untuk stasiun bumi
dengan kanal yang lebih banyak memerlukan time slot yang lebih besar
dibandingkan dengan stasiun bumi dengan kanal yang lebih kecil. Selain itu
system TDMA ini setiap stasiun bumi dalam jaringan TDMA tersebut
menggunakan hanya satu frekuensi pancran saja. Untuk lebih jelsnya bagaimana
system TDMA ini dapat dilihat dari gambar berikut.

Gambar 6.7 TDMA

Dari gambar di atas tampak contoh penerapan system TDMA untuk tiga
buah stasiun bumi yaitu stasiun bumi 1, stasiun bumi 2, stasiun bumi 3. Tiap
stasiun bumi dari ketiga stasiun bumi tersebut memancarkan buest-burstnya
secara bergantian waktunya tapi semuanya hanya satu frekuensi pancar yaitu F1.
Pada saat T1 maka stasiun bumi 1 yang memancarkan burstnya dan
kemudian pada saat T2 giliran stasiun bumi 2 yang memancarkan burstnya dan
demikian seterusnya.
Jika dilihat dari waktu pendudukan transponder untuk masing-masing
stasiun bumi maka dari gambar di atas ini burst stasiun bumi bergiliran
menduduki transponder satelit berurut bergilir menurut waktu dengan waktu
pendudukan yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Antar burst stasiun bumi yang satu dengan yang lainnya diberikan jarak
waktu tertentu yang disebut guard time sedang untuk sinkronisasi ataupun acuan
waktu digunakan burst reference.
Tiap burst dari stasiun bumi tersebut tersusun atas beberapa sub burst yang
digunakan untuk pengaturan kanal-kanal dari stasiun bumi tersebut karena salam
system TDMA hanya digunakan satu frekuensi pancaran sehingga transponder
satelit hanya dibebani satu frekuensi carrier oleh karena itu terhindar dari
intermodulasiselain itu juga pasti jauh dari gangguan interferensi frekuensi.

6.3.1 Konfigurasi Perangkat System TDMA

Gambar 6.8 Konfigurasi perangkat sistem TDMA


System TDMA atau jaringan TDMA secara keseluruhan terdiri atas
beberapa perangkat dengan konfigurasi sebagai berikut :
a. Satelit atau transponder satelit bias satu ataupun beberapa. Transponder yang
berfungsi sebagai repeater (pengulang) serta penguta dan translasi frekuensi
dari frekuensi up link menjadi frekuensi down link dengan selisih sebesar
2225 MHz untuk penggunaan dalam daerah frekuensi c-band maka besarnya
frekuensi up link ini berkisar antara 5925 MHz sampai 6425 MHz dan
frekuensi down linknya berkisar antara 3700 MHz-4200 MHz sedang untuk
penggunaan band frekuensi low band maka besarnya frekuensi up link
berkisar antara 14000 MHz dan frekuensi down linknya berkisar antara
11700 MHz sampai 12200 MHz.
b. Beberapa stasiun bumi terminal (nodes) yang merupakan terminal bagi
sinyal-sinyal yang datang dari satelit maupun yang akan menuju ke satelit.
Stasiun bumi terminal ini berfungsi untuk mengolah seluruh sinyal yang
datang dari bumi agar dapat ditransmisikan ke satelit maupun sebaliknya.

6.3.2 Keuntungan dan kelemahan System TDMA


a. Keuntungan
- Setiap saat hanya ada satu carrier pada satu transponder
 Tidak ada intermodulasi sehingga penguatan dapat maksimum
 Tidak ada capture effect
 Tidak perlu pemerataan daya carrier
- Throughput tinggi meski jumlah akses banyak
- Penalaan mudah, karena stabum tx dan rx pada frekuensi yang sama
- Pengolahan digital
b. Kerugian
- Perlu sinkronisasi
- Stabum dirancang untuk througput tinggi (ukuran tetap karena daya
transponder max)
- Peralatan rumit dan mahal (tetapi biaya terkompensasi di throughput
Gambar 6.9 Throughput sistem TDMA

6.3.3 Pengembangan System TDMA


Meskipin TDMA ini merupakan regenerasi dari system FDMA, tetapi
TDMA juga memiliki kelemahan, yaitu : Pemborosan bandwidth dimana time slot
dialokasikan menurut jenis pembicaraannya.
Versi terbesar dari TDMA adalah Extended TDMA (E-TDMA) yang
dirancang untuk mengatasi masalah pemborosan bandwidth tersebut. Daripada
TDMA menunggu untuk menentukan apakah subscriber sedang melakukan
transmit maka E TDMA ditunjuk subscriber secara dinamik. E TDMA mengirim
data secara terus-menerus sampai perhentian dimana normal speech berisi. Ketika
subscriber memiliki sesuatu untuk ditransmit, maka subscriber menaruh satu bit
ke dalam deretan buffer. System meneliti buffer lalu memberitahu bahwa
pelanggan memiliki sesuatu untuk ditransmit, dan mengalokasikan bandwidth
dengan berurutan. Jika subscriber tidak mempunyai sesuatu untuk ditransmit,
deretan semata-mata menuju subscriber berikut. Jadi daripada ditunjuk secara
acak maka waktu dialokasikan sesuai kebutuhan. Jika partner dalam pembicaraan
telepon tidak berbicara saling menindih satu sama lain teknik ini hamper dua kali
lipat dari efisiensi spectral dari TDMA membuatnya hampir sepersepuluh kali
sama efisiensinya dengan transmisi analog.
6.4 Sistem Code Division Multiple Access (CDMA)
Sistem CDMA adalah merupakan salah satu metode akses sistem
telekomunikasi satelit, dimana :
- Setiap sinyal carrier dari stasiun bumi akan di pancarkan ke satelit harus
melalui proses spreading dengan kode-kode tertentu.
- Setiap sinyal carrier dari stasiun bumi, akan di pancarkan ke satelit secara
simultan pada frekuensi yang sama.
- Supaya tidak mengalami gangguan (interferensi) dalan komunikasi maka
level carrier yang di pancarkan oleh setiap stasiun bumi pada level yang
relative kecil.
- Stasiun bumi penerima akan menerima sinyal carrier dari satelit dan
memprosesnya dengan kode yang sama.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar:

Gambar 6.10 CDMA


6.4.1 Sistem DS-CDMA
Sinyal interferensi, multipath, atau jamming akan ikut tersebat pada saat pengalian
oleh kode (pada saat pengkorelasian)

Gambar 6.11 Sistem DS-CDMA


6.4.2 FH-CDMA
Synthesizer frek carrier dikendalikan oleh kode

Gambar 6.12 Sistem FH-CDMA


6.4.3 Keuntungan dan kerugian System CDMA
a. Keuntungan
- Pengoperasian cukup sederhana
- Handal terhadap interferensi, multipath, jamming
b. Kerugian
- Throughput rendah

Gambar 6.13 Throughput sistem CDMA

6.4.4 Kombinasi Multiple akses

Gambar 6.14 Kombinasi Multiple akses


6.5 Sistem IDR (Internet Data Rate)
IDR (Internet Data Rate) merupakan salah satu jenis dari komunikasi
digital. System IDR ini berfungsi untuk mengirimkan data secara terus-menerus
dari satu titik ke titik lain dan kanal-kanal yang ditransmisikan dimultipleks
dahulu sebelum dikirim secara bersamaan.
6.5.1 Standar-standar dalam Sistem Telekomunikasi IDR
Dalam operasinya, system telekomunikasi IDR menggunakan standar yang
telah digunakan di banyak Negara yaitu IESS [Intelsat Earth Station Standars]
dokumen IESS 308. Di dalam dokumen IESS -308 tersebut dijelaskan
persyaratan-persyaratan yang diperlukan untuk perangkat-perangkat stasiun bumi
yang beroperasi dalam system transmisi IDR digital carrier.
Secara singkat berikut ini akan di jelaskan beberapa standar dalam
dokumen IESS-308 yang berhubungan dengan modem
- Jenis modulasi yang digunakan adalah QPSK koheren dengan menggunakan
FEC rate ¾
- Kecepatan informasi (informasi rate) yang ditransmisikan mulai dari 64 kbps
sampai dengan 44,374 Mbps.
- Pada kecepatan informasi 1.544,2.048,6.132,8.448,32.064,34.368, dan 44.376
Mbps, Intelsattelah mendefenisikan sesuatu overhead framing yang akan
memberikan fasilitas ESC (Engineering Service Cicuits) dan Maintenance
Alarm.
- FEC coding pada rate ¾ adalah dari jenis puncture Type Convolutional
Encoder.
- FEC decoding yang digunakan adalah dari jenis soft Deission Viterbi
Dekoding yang harus mempunyai Coding Gain cukup besar untuk Eb/ no
yang dipersyaratkan.
- Untuk mengurangi maximum power flux density dalam transmisi, di gunakan
teknik scrambling sebagaimana dipersyaratkan dalam CCTT rec. V35.
- Demodulator yang digunakan di persyaratkan harus memenuhi kriteria BRE
Informasi yang dapat dilewatkan oleh IDR dapat berupa voice, fax dan
data sedangkan unutk video sulit dilewatkan oleh LDR. Di bawah ini adalah
gambar dari kompigurasi system stasiun bumi.

Gambar 6.15 Konfigirasi stasiun bumi melalui IDR

- E/C : Digital echo canceller


- MX : Multiplication equipment (ADPCMA atau PCME)
- U/D : Up/Down Converter
- HPA : High Power Amplifier
- LNA : Low Noise Amplifier
- DUPL : Duplexer

6.5.2 Modem IDR


Modem IDR adalah perangkat yang berfungsi mengubah sinyal digital
baseband dari perangkat tail link ke dalam bentuk sinyal IF yang dapat
ditransmisikan melalui transmisi satelit, serta mengubah kembali sinyal IF yang
dapat ditransmisikan melalui transmisi satelit, serta mengubah kembali sinyal IF
dari transmisi satelit ke dalam bentuk sinyal digital baseband ke perangkat tail
link.
Sinyal digital baseband dari dan ke peralatan tail link pada umumnya
mempunyai format HDB-3, sedangkan sinyal IF dari dan ke perangkat transmisi
adalah sinyal 70 MHz dengan modulasi QPSK.
Gambar 6.16 Modem IDR

Cara kerja :
Data input yang masuk ke modulator berasal dari interface, data ini
pertama masuk ke bagian scrambler untuk mendapat perlakuan pengacakan
supaya memiliki karakteristik pseudo random sehingga spektrumnya menjadi
lebih rata.
Bagian Differensial encoder merupakan bagian yang dapat mengurangi
keraguan dua state dari 4 state QPSK pada demodulator di penerima.
Data kemudian dilakukan ke bagian Convolutional encoder, bagian ini
akan menambahkan bit-bit koreksi, sehingga kesalahan akan dapat dikurangi pada
bagian penerima. Pada bagian bit-bit koreksi akan dipergunakan oleh bagian
Decoder untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi pada transmisi.
Convolutional encoder akan memecah data menjadi 2 urutan data yang terpisah
yaitu data p dan Q.
Selanjutnya data p dan data Q keluaran Convolution Encoder diproses oleh
Nyquit filter agar diperoleh spectrum yang memenuhi standar IESS yang telah
disebutkan.
Data yang sudah terfilter tersebut kemudian diproses oleh modulator
kuadratur yang akan menghasilkan sinyal QPSK. Bentuk spectrum sinyal keluaran
modulator tersebut sama dengan spectrum inputnya, tetapi menjadi “double side”
dengan center terletak pada frequency Carrier.
RF synthesizer membangkitkan sinyal osilator likal yang akan
menyebabkan sinyal QPSK keluaran modulator dikonversi menjadi sinyal IF
dengan frekuensi 50 MHz sampai dengan 90 MHz, dengan step 2,5 KHz.
Frekuensi keluaran RF synthesizer ini dpat di program dari panel depan dengan
bantuan sebuah mikroprosesor.
Bagian akhir modulator adalah sebuah IF Amplifier yang berfungsi
menaikkan level sinyal IF keluaran modulator. Di dalam amplifier ini terdapat
rangkaian pengontrol level, sehingga level sinyal IF keluaran dapat dikontrol dari
panel depan melalui bantuan mikroprosesor. Level daya yang keluar dapat
deprogram dengan jangkauan = 5 dBm dengan step 0,5 dB.

6.5.3 Demodulator IDR

Gambar 6.17 Demodulator IDR

Diproses oleh AGC Amplifier dan low pass filter. AGC amplifier
berfungsi unutk membuat sinyal yang berasal dari peralatan transmisi mempunyai
level yang konstan, sedangkan Low Pass Filter berfungsi untuk menghilangkan
sinyal-sinyal dari peralatan transmisi yang dengan frekuensi lebih besar dari 90
MHz.
Selanjutnya sinyal itu ditransmisikan ke frekuensi IF 300 MHz. proses
translasi dari sinyal IF QPSK menjadi sinyal if 300 MHz ini terjadi dengan cara
mengalikan sinyal IF QPSK dengan sinyal osilator local yang berasal dari
multiple Loop Synthesizer. Frekuensi keluaran multiple Loop Synthesizer ini
dapat deprogram dari panel depan dengan bantuan mikroprosesor untuk
dikehendaki memiliki frekuensi carrier sebesar 65,0 MHz misalnya, maka
mikroprosesor akan memerintahkan multiple Loop Synthesizer untul keluaran
pengali (mixer) akan diperoleh dua buah sinyal QPSK dengan frekuensi carrier 20
MHz dan 430 MHz. dari dua sinyal QPSk tersebut hanya satu sinyal yang dapat
lolos keluar dari filter if 300 MHz, yaitu sinyal dengan frekuensi carrier 300 MHz.
Sinyal IF 300 MHz tersebut kemudian dioecah menjadi dua untuk
selanjutnya diproses oleh Quadrature Demodulator. Quadrature Demodulator ini
berfungsi sebagai detektif koheren sebagaimana telah diterangkan pada sub bab
2.1.2 di muka. Quadrature Demodulator ini mendapatkan carrier local yang
berasal dari Quadrature VCXO, menghasilkan sinyal baseband P dan Q.
selanjutnya sinyal-sinyal baseband ini masing-masing diproses oleh filter digital
yang memberikan fungsi penapisan optimum, serta membuang sinyal-sinyal dari
noise diluar band yang diinginkan. Jika diamati dengan menggunakan osiloskop,
sinyal baseband ini akan teramati sebagai pola mata (eye pattern) yang sangat
popular.
Sinyal baseband P dan Q keluaran Quadrature Demodulator tersebut
kemudia diproses oleh Quantizer menghasilkan data P dan Q masing-masing 11
bit, yang nantinya akan diproses oleh Viterbi Dekode.
6.5.4. Keuntungan dan kerugian system IDR
a. Keuntungan :
- System ini mendukung perkembangan kea rah jaringan ISDN, dengan
biaya investasi yang rendah.
- Sangat fleksibel dalam pengalokasian frekuensi.
- Penggunaan daya yang lebih efisien disbanding pada system analog.
- Dapat diintegrasikan langsung keperalatan stasiun bumi yang ada, baik
analog maupun digital.
b. Kerugian :
- Menggunakan system Permanent Assignment (PA), maka hubungan antar
stasiun bumi terbatas. Untuk penggunaan secara luas, diperlukan hubungan
hoop ganda.
6.5.5 Parameter penting dalam operasi modem IDR
- BER ( Bit Error Rate)
Perbandingan antara banyak dat yang salah diterima dengan jumlah data yang
diterima seluruhnya.
Contoh : BER = 10-3, 1 bit salah dalam 1000 bit data yag diterima.
- Eb/No
Perbandingan antara energy per bit dengan cepat daya noise. Besaran ini juga
menunjukkan kualitas dari signal RF/IF yang diterima oleh modem. Unsure
yang dipengaruhi besaran Eb/No adalah kecepatan transmisi data dan noise
bandwidth dari demodulator.
- Noise Bandwidth
Ini adalah bandwith dari sebuah filter ideal yang akan menghasilkan daya
noise equivalen dengan daya noise keluran filter demodulator.
- FEC (Forward Error Correction)
Perbandingan jumlah bit informasi dengan jumlah bit yang ditransmisikan.
Contoh : FEC Rate : ¾ berarti setiap bit yang ditransmisikan mengandung 3
bit informasi FEC.
- Transmission Rate
Adalah banyaknya bit yang ditransmisikan dalam 1 detik.
TR = (Information Rate = Overhead Bit) x 1/FEC
= (2048 Kbps + 96 Kbps) x 4/3
= 2858,667 Kbps
6.6 Penutup
Kesimpulan
Teknik akses ke satelit adalah sebagaimana cara – cara agar sinyal – sinyal yang
dipancarkan dari stasiun bumi dapat ditransmisikan ke satelit. Hal ini dapat
dilakukan dengan; Single Access, yaitu penggunaan atau pemanfaatan satu
transponder satelit oleh satu stasiun bumi, contohnya SCPC dan TV, Multiple
Access, yaitu penggunaan atau pemanfaatan satu transponder satelit oleh beberapa
stasiun bumi secara bersamaan, tanpa saling menganggu satu sama lain,
contohnya FDMA, TDMA, IDR, dan VSAT, dan Routing Trafik melalui satu
carrier per link dan satu carrier per stasiun.

Evaluasi
Berilah tanda √ jika Anda mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan di
bawah ini dan tanda X jika Anda belum mampu menjawab pertanyaan.
 Mampukah Anda menjelaskan teknik SCPC?
 Mampukah Anda menjelaskan teknik FDMA?
 Mampukah Anda menjelaskan teknik TDMA?
 Mampukah Anda menjelaskan teknik CDMA?

Soal-soal Latihan
1. Jelaskan sistem kerja teknik akses SCPC pada Komunikasi Satelit?
2. Jelaskan sistem kerja teknik akses FDMA pada Komunikasi Satelit?
3. Jelaskan sistem kerja teknik akses TDMA pada Komunikasi Satelit?
4. Jelaskan sistem kerja teknik akses CDMA pada Komunikasi Satelit?
5. Apa yang dimakud dengan teknik akses IDR dalam sistem Komunikasi
Satelit?