Anda di halaman 1dari 80

Hak Cipta © Pada : Lembaga Administrasi Negara

Edisi Tahun 2015

Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia


Jl. Veteran No. 10 Jakarta 10110
Telp. (62 21) 3868201, Fax. (62 21) 3800188

“AKUNTABILITAS”
Modul Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan
Golongan III

TIM PENGARAH SUBSTANSI:


1. Prof. Dr. Agus Dwiyanto
2. Ir. Sarwono Kusumaatmaja
3. Prof. Dr. JB Kristiadi
4. Prof. Dr. Sofyan Effendi
5. Dr. Muhammad Idris, M.Si

TIM PENULIS MODUL:


1. Dr. Bevaola Kusumasari, M.Si
2. Septiana Dwiputrianti, SE, M.Com (Hons), Ph.D
3. Enda Layuk Allo, Ph.D

Reka Cetak : Rudy Masthofani, S.Kom


COVER : Musthopa, S.Kom

Jakarta - LAN - 2015


iii + 71 hlm: 15 x 21 cm

ISBN: 978-602-7594-12-8
LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA
REPUBLIK INDONESIA

KATA PENGANTAR

Undang-Undang No 5 Tahun 2014 tentang Aparatur


Sipil Negara mengamanatkan Instansi Pemerintah untuk wajib
memberikan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) terintegrasi
bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) selama 1 (satu) tahun
masa percobaan. Tujuan dari Diklat terintegrasi ini adalah untuk
membangun integritas moral, kejujuran, semangat dan motivasi
nasionalisme dan kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul
dan bertanggungjawab, dan memperkuat profesionalisme serta
kompetensi bidang. Dengan demikian UU ASN mengedepankan
penguatan nilai-nilai dan pembangunan karakter dalam mencetak
PNS.
Selain itu dalam Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun
2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri
Sipil (PNS), ditetapkan bahwa salah satu jenis Diklat yang
strategis untuk mewujudkan PNS sebagai bagian dari ASN yang
profesional seperti tersebut di atas adalah Diklat Prajabatan.
Diklat ini dilaksanakan dalam rangka membentuk nilai-nilai dasar
profesi PNS. Kompetensi inilah yang kemudian berperan dalam
membentuk karakter PNS yang kuat, yaitu PNS yang mampu
bersikap dan bertindak profesional dalam melayani masyarakat
serta berdaya saing.
Dengan demikian untuk menjaga kualitas keluaran Diklat dan
kesinambungan Diklat di masa depan serta dalam rangka penetapan
standar kualitas Diklat, khususnya untuk memfasilitasi dan
mengatasi kesulitan para CPNS dalam mengikuti Diklat Prajabatan,
maka Lembaga Administrasi Negara berinisiatif menyusun Modul
Diklat Prajabatan ini.
Atas nama Lembaga Administrasi Negara, kami
mengucapkan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada tim
penyusun yang telah bekerja keras menyusun Modul ini. Begitu
pula halnya dengan instansi dan narasumber yang telah memberikan
review dan masukan, kami ucapkan terima kasih atas masukan dan
informasi yang diberikan.
Kami sangat menyadari bahwa Modul ini jauh dari sempurna.
Dengan segala kekurangan yang ada pada Modul ini, kami mohon
kesediaan pembaca untuk dapat memberikan masukan yang
konstruktif guna penyempurnaan selanjutnya. Semoga Modul ini
bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Jakarta, Desember 2014


Kepala
Lembaga Administrasi Negara,

Prof. Dr. Agus Dwiyanto


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN ..................................................................... 1
A. Latar Belakang..............................................................................1
B. Deskripsi Singkat...........................................................................2
C. Tujuan Pembelajaran.....................................................................2
D. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok............................................3

BAB II KONSEP AKUNTABILITAS.................................................7


A. Indikator Keberhasilan..................................................................7
B. Apa yang Dimaksud dengan Akuntabilitas ..................................7
C. Aspek-Aspek Akuntabilitas ..........................................................8
D. Pentingnya Akuntabilitas .............................................................9
E. Bagaimana Tingkatan dalam Akuntabilitas? ..............................11
F. Latihan ........................................................................................13
G. Rangkuman .................................................................................14
H. Evaluasi ......................................................................................15
I. Umpan Balik dan Tindak Lanjut .................................................15

BAB III MEKANISME AKUNTABILITAS....................................17


A. Indikator Keberhasilan ...............................................................17
B. Mekanisme Akuntabilitas Birokrasi Indonesia ...........................18
C. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Akuntabel .......................18
D. Langkah-Langkah yang Harus Dilakukan dalam
Menciptakan Framework Akuntabilitas .....................................22
E. Latihan ........................................................................................23
F. Rangkuman .................................................................................24
G. Evaluasi ......................................................................................25
H. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ................................................25
BAB IV AKUNTABILITAS DALAM KONTEKS .........................27
A. Indikator Keberhasilan ...............................................................27
B. Transparansi dan Akses Informasi .............................................27
C. Praktek Kecurangan (Fraud) dan Perilaku Korup ......................31
D. Penggunaan Sumber Daya Milik Negara ...................................35
E. Penyimpanan dan Penggunaan Data dan Informasi
Pemerintah....................................................................................36
F. Konflik Kepentingan ...................................................................37
G. Latihan ........................................................................................40
H. Rangkuman .................................................................................40
I. Evaluasi .......................................................................................42
J. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ................................................42

BAB V MENJADI PNS YANG AKUNTABEL................................43


A. Indikator Keberhasilan ...............................................................43
B. Apa yang diharapkan dari seorang PNS? ...................................44
C. Perilaku Berkaitan denganTransparansi dan Akses Informasi
(Transparency and Official Information Access) ........................45
D. Menghindari Perilaku yang Curang dan Koruptif
(Fraudulent and Corrupt Behaviour) ..........................................45
E. Perilaku Terhadap Penggunaan Sumber Daya Negara (Use of
Public Resources) ........................................................................46
F. Perilaku berkaitan dengan Penyimpanan dan Penggunaan
Data serta Informasi Pemerintah (Record Keeping and Use
of Government Information) ........................................................46
G. Perilaku berkaitan dengan Konflik Kepentingan (Conflicts
of Interest) ...................................................................................47
H. Bagaimana Mengambil Keputusan yang Akuntabel bagi
PNS? ............................................................................................48
I. Merancang Program/Kegiatan yang Akuntabel dan
Merancang Akuntabilitas Program/Kegiatan/Aktivitas ...............48
J. Latihan..........................................................................................54
K. Rangkuman .................................................................................54
L. Evaluasi .......................................................................................55
M. Umpan Balik dan Tindak Lanjut ...............................................55

BAB VI PENUTUP .............................................................................57


A. Simpulan .....................................................................................57
B. Tindak Lanjut .............................................................................58

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................59


LAMPIRAN .........................................................................................60
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ada berbagai cara yang dapat ditempuh dalam rangka
menyiapkan para CPNS untuk masuk pada sistem
pemerintahan. Salah satunya adalah melalui Diklat Prajabatan.
Mata diklat Akuntabilitas ini bertujuan membantu CPNS untuk
menjawab pertanyaan–pertanyaan yang berkaitan dengan
akuntabilitas publik. Selain itu, mata diklat ini juga bertujuan
untuk menanamkan nilai – nilai akuntabilitas yang nantinya
akan menjadi dasar CPNS dalam berperilaku.
Dalam Undang-undang No. 5 Tahun 2014 tentang
Aparatur Sipil Negara, pegawai ASN berfungsi sebagai:
1) Pelaksana kebijakan publik; 2) Pelayan publik; dan 3)
Perekat dan pemersatu bangsa. Fungsi-fungsi ASN ini
harus dilakukan dengan penuh tanggung jawab dan dapat
dipertanggungjawabkan kepada publik.
Akuntabilitas mengacu pada harapan implisit atau eksplisit
bahwa keputusan atau tindakan seseorang akan di evaluasi
oleh pihak lain dan hasil evaluasinya dapat berupa reward
atau punishment. Akuntabilitas yang dilakukan oleh PNS
akan teruji ketika PNS tersebut mengalami permasalahan
dalam transparansi dan akses informasi, penyalahgunaan
kewenangan, penggunaan sumber daya milik negara dan
konflik kepentingan. Seorang PNS dapat dikatakan PNS
yang akuntabel apabila mampu mengatasi masalah-masalah
tersebut. Dalam artian mampu mengambil pilihan yang tepat
ketika terjadi konflik kepentingan, tidak terlibat dalam politik
praktis, melayani warga secara adil dan konsisten dalam
menjalankan tugas dan fungsinya

Bab I ~ Pendahuluan | 1
B. Deskripsi Singkat
Dalam Mata Diklat Akuntabilitas PNS,secara substansi
pembahasan berfokus pada fasilitas pembentukan nilai-
nilai dasar akuntabilitas. Peserta diklat akan dibekali
dengan pembelajaran mengenai nilai-nilai dasar dan konsep
akuntabilitas publik, konflik kepentingan dalam masyarakat,
netralitas PNS, keadilan dalam pelayanan publik, transparan
dalam memberikan informasi dan data yang dibutuhkan
oleh publik, serta sikap dan perilaku yang konsisten.Mata
diklat ini disajikan dengan proses experiential learning, yang
memberikan penekanan-penekanan pada proses internalisasi
nilai-nilai dasar, kombinasi metode ceramah interaktif,
diskusi, studi kasus, simulasi, film pendek, studi lapangan
dan demonstrasi. Melalui mata diklat ini, peserta akan dinilai
kemampuannya dalam mengaktualisasikan nilai-nilai dasar
akuntabilitas guna pelaksanaan tugas jabatannya.

C. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti mata diklat Akuntabilitas PNS ini, peserta
Diklat Prajabatan diharapkan mampu:
1. Memahami nilai-nilai dasar dan konsep akuntabilitas serta
mengaktualisasikannya;
2. Mempunyai pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi
konflik kepentingan dalam masyarakat;
3. Memahami tugas yang harus dilaksanakan dan sadar akan
pentingnya kinerja untuk organisasi;
4. Melayani masyarakat secara adil dan merata;
5. Menunjukkan sikap netralitas PNS dari kepentingan
tertentu;
6. Menunjukkan sikap dan perilaku yang konsisten;
7. Mengaktualisasikan nilai-nilai dasar akuntabilitas.

2 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


Peta Kompetensi Peserta Mata Diklat Akuntabilitas PNS

D. Materi Pokok dan Sub Materi Pokok


Materi dan submateri pokok yang akan dibahas dalam modul
ini adalah sebagai berikut:
1. Konsep Akuntabilitas
a. Indikator keberhasilan
b. Apa yang dimaksud dengan akuntabilitas
c. Aspek-aspek akuntabilitas
d. Pentingnya akuntabilitas

Bab I ~ Pendahuluan | 3
e. Bagaimana tingkatan dalam akuntabilitas
f. Latihan
g. Rangkuman
h. Evaluasi
i. Umpan balik dan tindak lanjut
2. Mekanisme Akuntabilitas
a. Indikator akuntabilitas
b. Mekanisme akuntabilitas birokrasi Indonesia
c. Menciptakan lingkungan kerja yang akuntabel
d. Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam
menciptakan framework akuntabilitas
e. Latihan
f. Rangkuman
g. Evaluasi
h. Umpan balik dan tindak lanjut
3. Akuntabilitas dalam Konteks
a. Indikator keberhasilan
b. Transparansi dan akses informasi
c. Praktik kecurangan (fraud) dan perilaku korup
d. Penggunaan sumber daya milik negara
e. Penyimpanan dan penggunaan data dan informasi
pemerintah
f. Konflik kepentingan
g. Latihan
h. Rangkuman
i. Evaluasi
j. Umpan balik dan tindak lanjut

4 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


4. Menjadi PNS yang Akuntabel
a. Apa yang diharapkan dari seorang PNS?
b. Perilaku berkaitan dengan transparansi dan akses
informasi (transparency and official information access)
c. Menghindari perilaku yang curang dan koruptif
(fraudulent and corrupt behavior)
d. Perilaku terhadap penggunaan sumber daya negara (use
of publik resources)
e. Perilaku berkaitan dengan penyimpanan dan penggunaan
data serta informasi pemerintah (record keeping and
use of government information)
f. Perilaku berkaitan dengan konflik kepentingan (conflicts
of interest)
g. Bagaimana Mengambil Keputusan yang Akuntabel bagi
PNS?
h. Merancang Program/Kegiatan Yang Akuntabel dan
Merancang Akuntabilitas Program/Kegiatan/Aktivitas
i. Latihan
j. Rangkuman
k. Evaluasi
l. Umpan balik dan tindak lanjut
5. Penutup
a. Simpulan
b. Tindak Lanjut

Bab I ~ Pendahuluan | 5
6 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
BAB II
KONSEP AKUNTABILITAS

A. Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari Bab ini, peserta Diklat diharapkan
memiliki kemampuan untuk memahami akuntabilitas dari sisi
konseptual teoretis sebagai landasan untuk mempraktikkan
perilaku akuntabel.

B. Apa yang Dimaksud dengan Akuntabilitas


Akuntabilitas adalah kata yang seringkali kita dengar, tetapi
tidak mudah untuk dipahami. Ketika seseorang mendengar
kata akuntabilitas, yang terlintas adalah sesuatu yang
sangat penting, tetapi tidak mengetahui bagaimana cara
mencapainya. Dalam banyak hal, kata akuntabilitas sering
disamakan dengan responsibilitas atau tanggung jawab.
Namun pada dasarnya, kedua konsep tersebut memiliki
arti yang berbeda. Responsibilitas adalah kewajiban untuk
bertanggung jawab, sedangkan akuntabilitas adalah kewajiban
pertanggungjawaban yang harus dicapai.
Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu,
kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang
menjadi amanahnya. Amanah seorang PNS adalah menjamin
terwujudnya nilai-nilai publik. Nilai-nilai publik tersebut
antara lain adalah:
1. Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika
terjadi konflik kepentingan, antara kepentingan publik
dengan kepentingan sektor, kelompok, dan pribadi;
2. Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari
dan mencegah keterlibatan PNS dalam politik praktis;
3. Memperlakukan warga negara secara sama dan adil dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik;

Bab II ~ Konsep Akuntabilitas| 7


4. Menunjukan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat
diandalkan sebagai penyelenggara pemerintahan.

C. Aspek-Aspek Akuntabilitas
1. Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (Accountability is
a relationship)
Hubungan yang dimaksud adalah hubungan dua pihak
antara individu/kelompok/institusi dengan negara dan
masyarakat. Pemberi kewenangan bertanggung jawab
memberikan arahan yang memadai, bimbingan, dan
mengalokasikan sumber daya sesuai dengan tugas dan
fungsinya. Dilain sisi, individu/kelompok/institusi
bertanggung jawab untuk memenuhi semua kewajibannya.
Oleh sebab itu, dalam akuntabilitas, hubungan yang terjadi
adalah hubungan yang bertanggung jawab antara kedua
belah pihak.
2. Akuntabilitas berorientasi pada hasil (Accountability is
results oriented)
Hasil yang diharapkan dari akuntabilitas adalah perilaku
aparat pemerintah yang bertanggung jawab, adil dan
inovatif. Dalam konteks ini, setiap individu/kelompok/
institusi dituntut untuk bertanggung jawab dalam
menjalankan tugas dan kewajibannya, serta selalu
bertindak dan berupaya untuk memberikan kontribusi
untuk mencapai hasil yang maksimal.
3. Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (Accountability
requires reporting)
Laporan kinerja adalah perwujudan dari akuntabilitas.
Dengan memberikan laporan kinerja berarti mampu
menjelaskan terhadap tindakan dan hasil yang telah dicapai
oleh individu/kelompok/institusi, serta mampu memberikan
bukti nyata dari hasil dan proses yang telah dilakukan.
Dalam dunia birokrasi, bentuk akuntabilitas setiap individu

8 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


berwujud suatu laporan yang didasarkan pada kontrak
kerja, sedangkan untuk institusi adalah LAKIP (Laporan
Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah).
4. Akuntabilitas memerlukan konsekuensi (Accountability is
meaningless without consequences)
Akuntabilitas adalah kewajiban. Kewajiban menunjukkan
tanggung jawab, dan tanggung jawab menghasilkan
konsekuensi. Konsekuensi tersebut dapat berupa
penghargaan atau sanksi.
5. Akuntabilitas memperbaiki kinerja (Accountability
improves performance)
Tujuan utama dari akuntabilitas adalah untuk memperbaiki
kinerja PNS dalam memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Dalam pendekatan akuntabilitas yang bersifat
proaktif (proactive accountability), akuntabilitas dimaknai
sebagai sebuah hubungan dan proses yang direncanakan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sejak awal,
penempatan sumber daya yang tepat, dan evaluasi kinerja.
Dalam hal ini proses setiap individu/kelompok/institusi
akan diminta pertanggungjawaban secara aktif yang terlibat
dalam proses evaluasi dan berfokus peningkatan kinerja.

D. Pentingnya Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah prinsip dasar bagi organisasi yang
berlaku pada setiap level/unit organisasi sebagai suatu
kewajiban jabatandalam memberikan pertanggungjawaban
laporan kegiatan kepada atasannya.
Dalam beberapa hal, akuntabilitas sering diartikan berbeda-
beda. Adanya norma yang bersifat informal tentang perilaku
PNS yang menjadi kebiasaan (“how things are done around
here”) dapat mempengaruhi perilaku anggota organisasi
atau bahkan mempengaruhi aturan formal yang berlaku.
Seperti misalnya keberadaan PP No. 53 Tahun 2010 tentang

Bab II ~ Konsep Akuntabilitas| 9


Disiplin Pegawai Negeri Sipil, belum sepenuhnya dipahami
atau bahkan dibaca oleh setiap CPNS atau pun PNS. Oleh
sebab itu, pola pikir PNS yang bekerja lambat, berdampak
pada pemborosan sumber daya dan memberikan citra PNS
berkinerja buruk. Dalam kondisi tersebut, PNS perlu merubah
citranya menjadi pelayan masyarakat dengan mengenalkan
nilai-nilai akuntabilitas untuk membentuk sikap, dan prilaku
PNS dengan mengedepankan kepentingan publik, imparsial,
dan berintegritas.
Akuntabilitas publik memiliki tiga fungsi utama (Bovens,
2007), yaitu:
1. Untuk menyediakan kontrol demokratis (peran
demokrasi); dengan membangun suatu sistem yang
melibatkan stakeholders dan users yang lebih luas
(termasuk masyarakat, pihak swasta, legislatif, yudikatif
dan di lingkungan pemerintah itu sendiri baik di tingkat
kementrian, lembaga maupun daerah);
2. Untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan
(peran konstitusional);
3. Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas (peran
belajar).
Akuntabilitas merupakan kontrak antara pemerintah dengan
aparat birokrasi, serta antara pemerintah yang diwakili oleh
PNS dengan masyarakat. Kontrak antara kedua belah pihak
tersebut memiliki ciri antara lain: Pertama, akuntabilitas
eksternal yaitu tindakan pengendalian yang bukan bagian dari
tanggung jawabnya. Kedua, akuntabilitas interaksi merupakan
pertukaran sosial dua arah antara yang menuntut dan yang
menjadi bertanggung jawabnya (dalam memberi jawaban,
respon, rectification, dan sebagainya). Ketiga, hubungan
akuntabilitas merupakan hubungan kekuasaan struktural
(pemerintah dan publik) yang dapat dilakukan secara asimetri
sebagai haknya untuk menuntut jawaban (Mulgan 2003).

10 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu: akuntabilitas
vertikal (vertical accountability), dan akuntabilitas horizontal
(horizontal accountability). Akuntabilitas vertikal adalah
pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas
yang lebih tinggi, misalnya pertanggungjawaban unit-
unit kerja (dinas) kepada pemerintah daerah, kemudian
pemerintah daerah kepada pemerintah pusat, pemerintah pusat
kepada DPR. Akuntabilitas vertikal membutuhkan pejabat
pemerintah untuk melaporkan “ke bawah” kepada publik.
Misalnya, pelaksanaan pemilu, referendum, dan berbagai
mekanisme akuntabilitas publik yang melibatkan tekanan dari
warga. Akuntabilitas horizontal adalah pertanggungjawaban
kepada masyarakat luas. Akuntabilitas ini membutuhkan
pejabat pemerintah untuk melaporkan “ke samping” kepada
para pejabat lainnya dan lembaga negara. Contohnya
adalah lembaga pemilihan umum yang independen, komisi
pemberantasan korupsi, dan komisi investigasi legislatif.

E. Bagaimana Tingkatan dalam Akuntabilitas

Bab II ~ Konsep Akuntabilitas| 11


Akuntabilitas memiliki 5 tingkatan yang berbeda yaitu
akuntabilitas personal, akuntabilitas individu, akuntabilitas
kelompok, akuntabilitas organisasi, dan akuntabilitas
stakeholder.
1. Akuntabilitas Personal (Personal Accountability)
Akuntabilitas personal mengacu pada nilai-nilai yang ada
pada diri seseorang seperti kejujuran, integritas, moral dan
etika. Pertanyaan yang digunakan untuk mengidentifikasi
apakah seseorang memiliki akuntabilitas personal antara
lain “Apa yang dapat saya lakukan untuk memperbaiki
situasi dan membuat perbedaan?”. Pribadi yang akuntabel
adalah yang menjadikan dirinya sebagai bagian dari solusi
dan bukan masalah.
2. Akuntabilitas Individu
Akuntabilitas individu mengacu pada hubungan antara
individu dan lingkungan kerjanya, yaitu antara PNS
dengan instansinya sebagai pemberi kewenangan. Pemberi
kewenangan bertanggung jawab untuk memberikan
arahan yang memadai, bimbingan, dan sumber daya serta
menghilangkan hambatan kinerja, sedangkan PNS sebagai
aparatur negara bertanggung jawab untuk memenuhi
tanggung jawabnya. Pertanyaan penting yang digunakan
untuk melihat tingkat akuntabilitas individu seorang PNS
adalah apakah individu mampu untuk mengatakan “Ini
adalah tindakan yang telah saya lakukan,dan ini adalah apa
yang akan saya lakukan untuk membuatnya menjadi lebih
baik”.
3. Akuntabilitas Kelompok
Kinerja sebuah institusi biasanya dilakukan atas kerjasama
kelompok. Dalam hal ini tidak ada istilah “Saya”, tetapi yang
ada adalah “Kami”. Dalam kaitannya dengan akuntabilitas
kelompok, maka pembagian kewenangan dan semangat
kerjasama yang tinggi antar berbagai kelompok yang ada
dalam sebuah institusi memainkan peranan yang penting

12 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


dalam tercapainya kinerja organisasi yang diharapkan.
4. Akuntabilitas Organisasi
Akuntabilitas organisasi mengacu pada hasil pelaporan
kinerja yang telah dicapai, baik pelaporan yang dilakukan
oleh individu terhadap organisasi/institusi maupun kinerja
organisasi kepada stakeholders lainnya.
5. Akuntabilitas Stakeholder
Stakeholder yang dimaksud adalah masyarakat umum,
pengguna layanan, dan pembayar pajak yang memberikan
masukan, saran, dan kritik terhadap kinerjanya. Jadi
akuntabilitas stakeholder adalah tanggungjawab organisasi
pemerintah untuk mewujudkan pelayanan dan kinerja yang
adil, responsif dan bermartabat.

F. Latihan
1. Dalam hal penyelenggaraan pemerintahan, sering kita
dengan istilah kata responsibilitas dan akuntabilitas. Kedua
kata tersebut mempunyai arti dan makna yang berbeda. Apa
yang membedakan antara responsibilitas dan akuntabilitas
dilihat dari pengertiannya? Dan berikan pendapat anda
terkait konsep responsibiltas dan akuntabilitas tersebut?
2. Akuntabilitas publik terdiri dari dua macam, yaitu
akuntabilitas vertikal (Vertical Accountability) dan
akuntabilitas horizontal (Horizontal Accountability). Ada
studi kasus seperti ini: bahwa ada pertanggungjawaban
unit-unit kerja (dinas) kepada pemerintah daerah,
kemudian pemerintah daerah kepada pemerintah pusat,
dan pemerintah pusat kepada DPR. Pertanyaannya,
termasuk bentuk akuntabilitas apakah studi kasus tersebut?
Akuntabilitas Vertikal atau Akuntabilitas Horizontal?
Jelaskan.
3. Dalam hal pelayanan publik, masih sering diketemukan
keluhan dari masyarakat terhadap kinerja pelayan publik.

Bab II ~ Konsep Akuntabilitas| 13


Masyarakat merasakan kinerja yang lambat, berbelit-belit,
maupun tidak efisien ketika berhadapan dengan pelayan
publik ataupun birokrasi publik. Padahal sejatinya sebagai
abdi negara, birokrasi publik harus memberikan pelayanan
yang baik kepada masyarakat, Menurut anda, seberapa
penting nilai-nilai akuntabilitas publik jika dikaitkan
dengan fenomena tersebut? Jelaskan.

G. Rangkuman
1. Dalam banyak hal, kata akuntabilitas sering disamakan
dengan responsibilitas atau tanggung jawab. Namun
pada dasarnya, kedua konsep tersebut memiliki arti
yang berbeda. Responsibilitas adalah kewajiban untuk
bertanggung jawab, sedangkan akuntabilitas adalah
kewajiban pertanggungjawaban yang harus dicapai.
2. Aspek - Aspek akuntabilitas mencakup beberapa hal berikut
yaitu akuntabilitas adalah sebuah hubungan, Akuntabilitas
berorientasi pada hasil, Akuntabilitas membutuhkan
adanya laporan, Akuntabilitas memerlukan konsekuensi,
serta Akuntabilitas memperbaiki kinerja.
3. Akuntabilitas publik memiliki tiga fungsi utama
(Bovens, 2007), yaitu pertama,untuk menyediakan
kontrol demokratis (peran demokrasi); Kedua, untuk
mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan (peran
konstitusional); Ketiga, untuk meningkatkan efisiensi dan
efektivitas (peran belajar).
4. Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu:
akuntabilitas vertical (vertical accountability), dan
akuntabilitas horizontal (horizontal accountability).
5. Akuntabilitas memiliki 5 tingkatan yang berbeda yaitu
akuntabilitas personal, akuntabilitas individu, akuntabilitas
kelompok, akuntabilitas organisasi, dan akuntabilitas
stakeholder.

14 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


H. Evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut dengan lengkap dan jelas:
1. Jelaskan pengertian akuntabilitas dan pentingnya
menerapkan akuntabilitas dalam kehidupan berorganisasi.
2. Sebutkan dan jelaskan aspek-aspek akuntabilitas.
3. Berbicara mengenai akuntabilitas, akuntabilitas mempunyai
beberapa tingkatan. Sebutkan dan jelaskan tingkatan dalam
akuntabilitas tersebut.

I. Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Coba Saudara periksa hasil jawaban Saudara pada Evaluasi
diatas, apabila jawaban Saudara sudah tepat maka Saudara
dianggap telah menguasai konsep akuntabilitas. Apabila
belum, Saudara dapat mengulang untuk mempelajari kembali.

Bab II ~ Konsep Akuntabilitas| 15


16 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
BAB III
MEKANISME AKUNTABILITAS

A. Indikator Keberhasilan
Setiap organisasi memiliki mekanisme akuntabilitas tersendiri.
Mekanisme ini dapat diartikan secara berbeda-beda dari setiap
anggota organisasi hingga membentuk perilaku yang berbeda-
beda pula. Contoh mekanisme akuntabilitas organisasi,
antara lain sistem penilaian kinerja, sistem akuntansi, sistem
akreditasi, dan sistem pengawasan (CCTV, finger prints,
ataupun software untuk memonitor pegawai menggunakan
komputer atau website yang dikunjungi).
Untuk memenuhi terwujudnya organisasi sektor publik yang
akuntabel, maka mekanisme akuntabilitas harus mengandung
dimensi:
1. Akuntabilitas kejujuran dan hukum (accountability for
probity and legality). Akuntabilitas hukum terkait dengan
kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang diterapkan
2. Akuntabilitas proses (process accountability). Akuntabilitas
proses terkait dengan: Apakah prosedur yang digunakan
dalam melaksanakan tugas sudah cukup baik dalam hal
kecukupan sistem informasi akuntansi, sistem informasi
manajemen, dan prosedur administrasi? Akuntabilitas ini
diterjemahkan melalui pemberian pelayanan publik yang
cepat, responsif, dan murah. Pengawasan dan pemeriksaan
akuntabilitas proses dilakukan untuk menghindari
terjadinya kolusi, korupsi dan nepotisme.
3. Akuntabilitas program (program accountability).
Akuntabilitas ini dapat memberikan pertimbangan Apakah
tujuan yang ditetapkan dapat tercapai, dan Apakah ada
alternatif program lain yang memberikan hasil maksimal
dengan biaya minimal.

Bab III ~ Mekanisme Akuntabilitas | 17


4. Akuntabilitas kebijakan (policy accountability).
Akuntabilitas ini terkait dengan pertanggungjawaban
pemerintah atas kebijakan yang diambil terhadap DPR/
DPRD dan masyarakat luas.

B. Mekanisme Akuntabilitas Birokrasi Indonesia


Akuntabilitas tidak akan mungkin terwujud apabila tidak ada
alat akuntabilitas. Di Indonesia, alat akuntabilitas antara lain
adalah:
1. Perencanaan Strategis (Strategic Plans) yang berupa
Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional/
Daerah, Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM)
Nasional/Daerah, dan Rencana Kerja Pemerintah (RKP)
Nasional/Daerah, Rencana Strategis (Renstra) untuk setiap
Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Sasaran Kerja
Pegawai (SKP) untuk setiap PNS.
2. Kontrak Kinerja. Semua Pegawai Negeri Sipil (PNS) tanpa
terkecuali mulai 1 Januari 2014 menerapkan adanya kontrak
kerja pegawai. Kontrak kerja yang dibuat untuk tiap tahun
ini merupakan kesepakatan antara pegawai dengan atasan
langsungnya. Kontrak atau perjanjian kerja ini merupakan
implementasi dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 46
Tahun 2011 tentang Penilaian Prestasi Kerja PNS.
3. Laporan Kinerja yaitu berupa Laporan Akuntabilitas Kinerja
Instansi Pemerintah (LAKIP) yang berisi perencanaan dan
perjanjian kinerja pada tahun tertentu, pengukuran dan
analisis capaian kinerja, serta akuntabilitas keuangan.

C. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Akuntabel


1. Kepemimpinan
Lingkungan yang akuntabel tercipta dari atas ke bawah
dimana pimpinan memainkan peranan yang penting dalam
menciptakan lingkungannya. Pimpinan mempromosikan

18 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


lingkungan yang akuntabel dapat dilakukan dengan
memberikan contoh pada orang lain (lead by example),
adanya komitmen yang tinggi dalam melakukan pekerjaan
sehingga memberikan efek positif bagi pihak lain untuk
berkomitmen pula, terhindarnya dari aspek-aspek yang
dapat menggagalkan kinerja yang baik yaitu hambatan
politis maupun keterbatasan sumber daya, sehinggadengan
adanya saran dan penilaian yang adil dan bijaksana dapat
dijadikan sebagai solusi.
2. Transparansi
Tujuan dari adanya transparansi adalah
a. Mendorong komunikasi yang lebih besar dan kerjasama
antara kelompok internal dan eksternal;
b. Memberikan perlindungan terhadap pengaruh yang tidak
seharusnya dan korupsi dalam pengambilan keputusan;
c. Meningkatkan akuntabilitas dalam keputusan-keputusan;
d. Meningkatkan kepercayaan dan keyakinan kepada
pimpinan secara keseluruhan.
3. Integritas
Dengan adanya integritas menjadikan suatu kewajiban
untuk menjunjung tinggi dan mematuhi semua hukum
yang berlaku, Undang-undang, kontrak, kebijakan, dan
peraturan yang berlaku. Dengan adanya integritas institusi,
dapat memberikan kepercayaan dan keyakinan kepada
publik dan/atau stakeholders.
4. Tanggungjawab (Responsibilitas)
Responsibilitas institusi dan responsibilitas perseorangan
memberikan kewajiban bagi setiap individu dan lembaga,
bahwa ada suatu konsekuensi dari setiap tindakan yang telah
dilakukan, karena adanya tuntutan untuk bertanggungjawab
atas keputusan yang telah dibuat. Responsibilitas terbagi
dalam responsibilitas perorangan dan responsibilitas
institusi.

Bab III ~ Mekanisme Akuntabilitas | 19


a. Responsibiltas Perseorangan:
• Adanya pengakuan terhadap tindakan yang telah
diputuskan dan tindakan yang telah dilakukan
• Adanya pengakuan terhadap etika dalam pengambilan
keputusan
• Adanya keterlibatan konstituen yang tepat dalam
keputusan
b. Responsibilitas Institusi:
• Adanya perlindungan terhadap publik dan sumber
daya
• Adanya pertimbangan kebaikan yang lebih besar
dalam pengambilan keputusan
• Adanya penempatan PNS dan individu yang lebih baik
sesuai dengan kompetensinya
• Adanya kepastian kebijakan dan prosedur yang
ditetapkan dan fungsinya untuk melindungi sumber
daya organisasi
5. Keadilan
Keadilan adalah landasan utama dari akuntabilitas. Keadilan
harus dipelihara dan dipromosikan oleh pimpinan pada
lingkungan organisasinya. Oleh sebab itu, ketidakadilan
harus dihindari karena dapat menghancurkan kepercayaan
dan kredibilitas organisasi yang mengakibatkan kinerja
akan menjadi tidak optimal.
6. Kepercayaan
Rasa keadilan akan membawa pada sebuah kepercayaan.
Kepercayaan ini yang akan melahirkan akuntabilitas.
Dengan kata lain, lingkungan akuntabilitas tidak akan lahir
dari hal-hal yang tidak dapat dipercaya.
7. Keseimbangan
Untuk mencapai akuntabilitas dalam lingkungan kerja, maka
diperlukan adanya keseimbangan antara akuntabilitas dan

20 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


kewenangan, serta harapan dan kapasitas. Setiap individu
yang ada di lingkungan kerja harus dapat menggunakan
kewenangannya untuk meningkatkan kinerja. Adanya
peningkatan kerja juga memerlukan adanya perubahan
kewenangan sesuai kebutuhan yang dibutuhkan. Selain itu,
adanya harapan dalam mewujudkan kinerja yang baik juga
harus disertai dengan keseimbangan kapasitas sumber daya
dan keahlian (skill) yang dimiliki.
8. Kejelasan
Kejelasan juga merupakan salah satu elemen untuk
menciptakan dan mempertahankan akuntabilitas. Agar
individu atau kelompok dalam melaksanakan wewenang
dan tanggung jawabnya, mereka harus memiliki gambaran
yang jelas tentang apa yang menjadi tujuan dan hasil yang
diharapkan. Dengan demikian, fokus utama untuk kejelasan
adalah mengetahui kewenangan, peran dan tanggungjawab,
misi organisasi, kinerja yang diharapkan organisasi, dan
sistem pelaporan kinerja baik individu maupun organisasi.
9. Konsistensi
Konsistensi menjamin stabilitas. Penerapan yang tidak
konsisten dari sebuah kebijakan, prosedur, sumber
daya akan memiliki konsekuensi terhadap tercapainya
lingkungan kerja yang tidak akuntabel, akibat melemahnya
komitmen dan kredibilitas anggota organisasi.

Bab III ~ Mekanisme Akuntabilitas | 21


D. Langkah-Langkah yang Harus Dilakukan dalam
Menciptakan Framework Akuntabilitas

Berikut adalah 5 langkah yang harus dilakukan dalam membuat


framework akuntabilitas di lingkungan kerja PNS:
1. Menentukan tujuan yang ingin dicapai dan tanggungjawab
yang harus dilakukan. Hal ini dapat dilakukan melalui
penentuan tujuan dari rencana strategis organisasi,
mengembangkan indikator, ukuran dan tujuan kinerja, dan
mengidentifikasi peran dan tanggung jawab setiap individu
dalam organisasi.
2. Melakukan perencanaan atas apa yang perlu dilakukan
untuk mencapai tujuan. Cara ini dapat dilakukan melalui
identifikasi program atau kebijakan yang perlu dilakukan,

22 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


siapa yang bertanggung jawab, kapan akan dilaksanakannya
dan biaya yang dibutuhkan. Selain itu, perlu dilakukannya
identifikasi terhadap sumberdaya yang dimiliki organisasi
serta konsekuensinya, apabila program atau kebijakan
tersebut berhasil atau gagal untuk dilakukan.
3. Melakukan implementasi dan memantau kemajuan yang
sudah dicapai. Hal tersebut penting dilakukan untuk
mengetahui hambatan dari impelementasi kebijakan atau
program yang telah dilakukan.
4. Memberikan laporan hasil secara lengkap, mudah dipahami
dan tepat waktu. Hal ini perlu dilakukan sebagai wujud
untuk menjalankan akuntabilitas dalam menyediakan
dokumentasi dengan komunikasi yang benar serta mudah
dipahami.
5. Melakukan evaluasi hasil dan menyediakan masukan atau
feedback untuk memperbaiki kinerja yang telah dilakukan
melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat korektif.

E. Latihan
1. Untuk memenuhi terwujudnya organisasi sektor publik
yang akuntabel, maka mekanisme akuntabilitas harus
mengandung dimensi: Akuntabilitas Kejujuran dan
Hukum, Akuntabilitas Proses, Akuntabilitas Program, serta
Akuntabilitas Kebijakan. Ada studi kasus seperti berikut:
Pemerintah Pusat maupun daerah sudah memulai
program pengadaan barang dan jasa dengan mekanisme
secara elektronik yang disebut e-procurement. Tujuannya
adalah pertama, agar tidak ada main mata antara pengada
proyek dan pihak yang mengadakan proyek
(Meminimalisir Kasus KKN). Kedua, agar pelaksanaan
pengadaan barang dan jasa dapat dilaksanakan dengan
cepat dan teratur

Pertanyaannya, termasuk dimensi akuntabilitas apakah


studi kasus tersebut? Jelaskan.

Bab III ~ Mekanisme Akuntabilitas | 23


2. Akuntabilitas tidak mungkin terwujud apabila tidak ada
alat akuntabilitas. Di Indonesia, alat akuntabilitas antara
lain adalah: Perencanaan Strategis, Kontrak Kinerja, dan
Laporan Kinerja. Ada studi kasus sebagai berikut: Dalam
menentukan arah dan sasaran kinerja pembangunan
dibutuhkan yang namanya Rencana Pembangunan Jangka
Panjang (RPJP) Nasional/Daerah, Rencana Pembangunan
Menengah Nasional/Daerah, dan Rencana Kerja
Pemerintah (RKP) Nasional/Daerah, Rencana Strategis
(Renstra) untuk setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah
(SKPD) dan Sasaran Kerja Pegawai (SKP) untuk setiap
PNS. Pertanyannya, termasuk alat akuntabilitas yang
manakah studi kasus tersebut? Jelaskan.

F. Rangkuman
1. Setiap organisasi memiliki mekanisme akuntabilitas
tersendiri. Mekanisme ini dapat diartikan secara berbeda-
beda dari setiap anggota organisasi hingga membentuk
perilaku yang berbeda-beda pula. Contoh mekanisme
akuntabilitas organisasi, antara lain sistem penilaian
kinerja, sistem akuntansi, sistem akreditasi, dan sistem
pengawasan (CCTV, finger prints, ataupun software untuk
memonitor pegawai menggunakan komputer atau website
yang dikunjungi).
2. Untuk memenuhi terwujudnya organisasi sektor publik
yang akuntabel, maka mekanisme akuntabilitas harus
mengandung 3 dimensi yaitu Akuntabilitas kejujuran dan
hukum, Akuntabilitas proses, Akuntabilitas program, dan
Akuntabilitas kebijakan.
3. Akuntabilitas tidak mungkin terwujud apabila tidak ada alat
akuntabilitas. Di Indonesia, alat akuntabilitas antara lain
adalah Perencanaan Strategis (Strategic Plans), Kontrak
Kinerja,dan Laporan Kinerja

24 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


4. Dalam menciptakan lingkungan kerja yang akuntabel,
ada beberapa aspek yang harus diperhatikan yaitu:
Kepemimpinan, Transparansi, Integritas, Tanggung Jawab
(responsibilitas), Keadilan, Kepercayaan, Keseimbangan,
Kejelasan, dan Konsistensi
5. Langkah yang harus dilakukan dalam membuat framework
akuntabilitas di lingkungan kerja PNS yaitu: Tentukan
Tanggung Jawab dan Tujuan, Rencanakan Apa Yang Akan
Dilakukan Untuk Mencapai Tujuan, Lakukan Implementasi
dan Monitoring Kemajuan, Berikan Laporan Secara
Lengkap, serta Berikan Evaluasi dan Masukan Perbaikan.

G. Evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut dengan lengkap dan jelas:
1. Jelaskan dimensi-dimensi dalam akuntabilitas dalam rangka
mewujudkan organisasi sektor publik yang akuntabel.
2. Tanggung jawab (responsibilitas) merupakan salah satu
poin yang harus dimiliki apabila ingin menciptakan
lingkungan kerja yang akuntabel. Sebutkan dan jelaskan
bentuk-bentuk responsibilitas.
3. Jelaskan tahapan yang harus dilakukan dalam membuat
framework akuntabilitas di lingkungan kerja PNS.

I. Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Apabila Saudara telah mampu menjawab tiga pertanyaan diatas
dengan benar maka Saudara telah memenuhi kriteria belajar
tuntas. Apabila belum, Saudara dapat melakukan pendalaman
kembali terhadap materi yang telah diuraikan pada Bab ini.

Bab III ~ Mekanisme Akuntabilitas | 25


26 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
BAB IV
AKUNTABILITAS DALAM KONTEKS

A. Indikator Keberhasilan
Setelah mempelajari mengenai bab akuntabilitas dalam
konteks ini, peserta diharapkan dapat memiliki pemahaman
atas ranah dan kasus umum yang terkait dengan penerapan
akuntabilitas secara menyeluruh dalam organisasi.

B. Transparansi dan Akses Informasi


Keterbukaan informasi telah dijadikan standar normatif
untuk mengukur legitimasi sebuah pemerintahan. Dalam
payung besar demokrasi, pemerintah senantiasa harus
terbuka kepada rakyatnya sebagai bentuk legitimasi (secara
substantif). Partisipasi ini dapat berupa pemberian dukungan
atau penolakan terhadap kebijakan yang diambil pemerintah
ataupun evaluasi terhadap suatu kebijakan.
Ketersediaan informasi publik ini nampaknya telah
memberikan pengaruh yang besar pada berbagai sektor dan
urusan publik di Indonesia. Salah satu tema penting yang
berkaitan dengan isu ini adalah perwujudan transparansi tata
kelola keterbukaan informasi publik, dengan diterbitkannya
UU Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik (selanjutnya disingkat: KIP). Konteks lahirnya UU ini
secara substansial adalah memberikan jaminan konstitusional
agar praktik demokratisasi dan good governance bermakna
bagi proses pengambilan kebijakan terkait kepentingan
publik, yang bertumpu pada partisipasi masyarakat maupun
akuntabilitas lembaga penyelenggara kebutuhan publik.
Seperti bunyi Pasal 3 UU Nomor 14 Tahun 2008 tercantum
beberapa tujuan, sebagai berikut: (1) Menjamin hak warga
negara untuk mengetahui rencana pembuatan kebijakan publik,
program kebijakan publik, dan proses pengambilan keputusan

Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 27


publik, serta alasan pengambilan suatu keputusan publik; (2)
Mendorong partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan
kebijakan publik; (3) Meningkatkan peran aktif masyarakat
dalam pengambilan kebijakan publik dan pengelolaan
Badan Publik yang baik; (4) Mewujudkan penyelenggaraan
negara yang baik, yaitu yang transparan, efektif dan efisien,
akuntabel serta dapat dipertanggungjawabkan; (5) Mengetahui
alasan kebijakan publik yang mempengaruhi hajat hidup
orang banyak; (6) Mengembangkan ilmu pengetahuan dan
mencerdaskan kehidupan bangsa; dan/atau (7) Meningkatkan
pengelolaan dan pelayanan informasi di lingkungan Badan
Publik untuk menghasilkan layanan informasi
Semua warga negara Indonesia berhak mendapatkan informasi
publik1 dari semua Badan Publik. Informasi publik disini adalah
“Informasi publik adalah informasi yang dihasilkan, disimpan,
dikelola, dikirim, dan/atau diterima oleh suatu Badan Publik
yang berkaitan dengan penyelenggara dan penyelenggaraan
negara dan/atau penyelenggara dan penyelenggaraan Badan
Publik lainnya yang sesuai dengan Undang-undang ini serta
informasi lain yang berkaitan dengan kepentingan publik”
(Pasal 1 Ayat 2). Informasi publik terbagi dalam 2 kategori:
1. Informasi yang wajib disediakan dan diumumkan.
2. Informasi yang dikecualikan (informasi publik yang
perlu dirahasiakan). Pengecualiannya tidak boleh bersifat
permanen. Ukuran untuk menjadikan suatu informasi
publik dikecualikan atau bersifat rahasia adalah: (i) Undang-
undang; (ii) kepatutan; dan (iii) kepentingan umum.
Sedangkan Badan Publik adalah lembaga eksekutif, legislatif,
yudikatif, dan badan lain yang fungsi dan tugas pokoknya
berkaitan dengan penyelenggaraan negara, yang sebagian atau
seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah, atau organisasi nonpemerintah yang sebagian atau
seluruh dananya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan
1 UU KIP tidak mengatur hak tersebut untuk non-WNI

28 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


Belanja Negara dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah, sumbangan masyarakat, dan/atau luar negeri (Pasal
1 Ayat 3).
Keterbukaan informasi memungkinkan adanya ketersediaan
(aksesibilitas) informasi bersandar pada beberapa prinsip.
Prinsip yang paling universal (berlaku hampir diseluruh
negara dunia) adalah:
1. Maximum Access Limited Exemption (MALE)
Pada prinsipnya semua informasi bersifat terbuka dan bisa
diakses masyarakat. Suatu informasi dapat dikecualikan
hanya karena apabila dibuka, informasi tersebut dapat
merugikan kepentingan publik. Pengecualian itu juga
harus bersifat terbatas, dalam arti: (i) hanya informasi
tertentu yang dibatasi; dan (ii) pembatasan itu tidak berlaku
permanen.
2. Permintaan Tidak Perlu Disertai Alasan
Akses terhadap informasi merupakan hak setiap orang.
Konsekuensi dari rumusan ini adalah setiap orang bisa
mengakses informasi tanpa harus disertai alasan untuk
apa informasi tersebut diperlukan. Seorang pengacara
publik tidak perlu menjelaskan secara detail untuk apa ia
membutuhkan informasi tentang suatu putusan pengadilan
yang telah berkekuatan hukum tetap. Prinsip ini penting
untuk menghindari munculnya penilaian subjektif
pejabat publik ketika memutuskan permintaan informasi
tersebut. Pejabat publik bisa saja khawatir informasi itu
disalahgunakan. Argumentasi ini sebenarnya kurang kuat,
karena penyalahgunaan informasi tetap bisa dipidanakan.
3. Mekanisme yang Sederhana, Murah, dan Cepat
Nilai dan daya guna suatu informasi sangat ditentukan oleh
konteks waktu. Seorang wartawan misalnya, terikat pada
deadline saat ia meminta informasi yang berkaitan dengan
berita yang sedang dia tulis. Dalam kasus lain, seorang
pegiat hak asasi manusia membutuhkan informasi yang

Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 29


cepat, murah, dan sederhana dalam aktivitasnya. Informasi
bisa jadi tidak berguna jika diperoleh dalam jangka waktu
yang lama, karena bisa tertutup oleh informasi yang
lebih baru. Selain itu, mekanisme penyelesaian sengketa
informasi juga harus sederhana.
4. Informasi Harus Utuh dan Benar
Informasi yang diberikan kepada pemohon haruslah
informasi yang utuh dan benar. Jika informasi tersebut
tidak benar dan tidak utuh, dikhawatirkan menyesatkan
pemohon. Dalam aktivitas pasar modal biasanya ada
ketentuan yang melarang pemberian informasi yang tidak
benar dan menyesatkan (misleading information). Seorang
advokat atau akuntan publik biasanya mencantumkan
klausul disclaimer. Pendapat hukum dan pendapat akuntan
dianggap benar berdasarkan dokumen yang diberikan oleh
pengguna jasa.
5. Informasi Proaktif
Badan publik dibebani kewajiban untuk menyampaikan
jenis informasi tertentu yang penting diketahui publik.
Misalnya, informasi tentang bahaya atau bencana alam
wajib disampaikan secara proaktif oleh Badan Publik tanpa
perlu ditanyakan oleh masyarakat.
6. Perlindungan Pejabat yang Beritikad Baik
Perlu ada jaminan dalam undang-undang bahwa pejabat
yang beriktikad baik harus dilindungi. Pejabat publik yang
memberikan informasi kepada masyarakat harus dilindungi
jika pemberian informasi dilandasi itikad baik. Misalnya,
pejabat yang memberikan bocoran dan dokumen tentang
praktik korupsi di instansinya.
Atas dasar prinsip tersebut, maka pada dasarnya semua PNS
berhak memberikan informasi, namun dalam praktiknya tidak
semua PNS punya kemampuan untuk memberikan informasi
berdasarkan berapa prinsip-prinsip diatas (seperti resiko
dampak kerugian yang muncul, utuh dan benar). Pejabat publik

30 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


yang paling kapabel dan berwenang untuk memberikan akses
informasi publik dan informasi publik ialah Pejabat Pengelola
Informasi dan Dokumentasi (PPID). Tugas mayoritas ASN
dalam konteks informasi ialah hanya berwenang memberikan
informasi atas apa yang dibutuhkan oleh pimpinan untuk
mendukung pelaksanaan tugasnya.

ATURAN TERKAIT
1. Pasal 28 F UUD 1945
2. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang
Keterbukaan Informasi Publik (UU KIP)
3. UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Hak atas informasi
lingkungan hidup
4. UU Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
5. UU Nomor 28 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan
Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN
6. UU Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi
7. UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers

C. Praktik Kecurangan (Fraud) dan Perilaku Korup


Aparat pemerintah dituntut untuk mampu menyelenggarakan
pelayanan yang baik untuk publik. Hal ini berkaitan dengan
tuntutan untuk memenuhi etika birokrasi yang berfungsi
memberikan pelayanan kepada masyarakat. Etika pelayanan
publik adalah suatu panduan atau pegangan yang harus dipatuhi
oleh para pelayan publik atau birokrat untuk menyelenggarakan
pelayanan yang baik untuk publik. Buruknya sikap aparat
sangat berkaitan dengan etika.
Isu etika menjadi sangat vital dalam administrasi publik dalam
penyelenggaraan pelayanan sebagai inti dari administrasi
publik. Diskresi administrasi menjadi starting point bagi

Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 31


masalah moral atau etika dalam dunia administrasi publik
Rohr (1989: 60 dalam Keban 2008: 166). Sayangnya etika
pelayanan publik di Indonesia belum begitu diperhatikan.
Buruknya etika para aparatur pemerintah Indonesia dapat
terlihat dari masih banyaknya keluhan oleh masyarakat.
Laporan Ombudsman tahun 2012 di salah satu provinsi
(Perwakilan Jatim) mengilustrasikan hal tersebut.
Tabel 1.
Jumlah Laporan Masyarakat Berdasarkan Substansi
Laporan
Substansi Laporan Jumlah Persentase
Penyalahgunaan Wewenang 64 32,29%
Penundaan Berlarut 60 30,59%
Tidak Memberikan Pelayanan 19 9,92%
Permintaan Uang, Barang, & Jasa 16 8,5%
Penyimpangan Prosedur 13 7,08%
Berpihak 10 5,1%
Diskriminasi 8 4,25%
Tidak Patut 2 1,13%
Konflik Kepentingan 1 0,57%
Tidak Kompeten 1 0,57%
Dari Tabel diatas terlihat bahwa laporan masyarakat terbanyak
adalah dikarenakan penyalahgunaan wewenang yaitu
sebanyak 64 laporan yaitu sekitar 32,29% dari seluruh laporan
yang masuk. Hal ini menjadi bukti bahwa penyalahgunaan
wewenang terus tumbuh di tubuh birokrasi Indonesia yang
berkaitan dengan etika para pelaksananya yaitu aparat
pemerintah.

Penyalahgunaan wewenang akan berdampak pada praktik


kecurangan (fraud). The Institute of Internal Auditor (“IIA”),
mendefinisikan fraud sebagai “An array of irregularities

32 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


and illegal acts characterized by intentional deception”:
sekumpulan tindakan yang tidak diizinkan dan melanggar
hukum yang ditandai dengan adanya unsur kecurangan yang
disengaja. International Standards of Auditing seksi 240 –
The Auditor’s Responsibility to Consider Fraud in an Audit
of Financial Statement paragraf 6 mendefenisikan fraud
sebagai “…tindakan yang disengaja oleh anggota manajemen
perusahaan, pihak yang berperan dalam governance
perusahaan, karyawan, atau pihak ketiga yang melakukan
pembohongan atau penipuan untuk memperoleh keuntungan
yang tidak adil atau illegal”.
Cakupan (tipologi) dari fraud sangat luas. Association of
Certified Fraud Examiners (“ACFE”) di Amerika Serikat
menyusun peta mengenai fraud. Peta ini berbentuk pohon,
dengan cabang dan ranting. Tiga cabang utama dari fraud tree
adalah: (1) kecurangan tindak pidana korupsi, (2) kecurangan
penggelapan asset (asset misappropriation), dan (3)
kecurangan dalam laporan keuangan (fraudulent statement).
Pada umumnya fraud terjadi karena tiga hal yang dapat terjadi
secara bersamaan, yaitu:
1. Peluang untuk melakukan fraud. Peluang ini biasanya
muncul sebagai akibat lemahnya pengendalian internal
di organisasinya. Terbukanya kesempatan ini, juga dapat
menggoda individu atau kelompok yang sebelumnya tidak
memiliki motif untuk melakukan fraud.
2. Insentif atau tekanan untuk melakukan fraud. Beberapa
contoh pressure dapat timbul karena masalah keuangan
pribadi. Sifat-sifat buruk seperti berjudi, narkoba,
berhutang berlebihan dan tenggat waktu dan target kerja
yang tidak realistis.
3. Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan
fraud. Hal ini terjadi karena seseorang mencari pembenaran
atas aktifitasnya yang mengandung fraud. Pada umumnya
para pelaku fraud meyakini atau merasa bahwa tindakannya

Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 33


bukan merupakan suatu kecurangan tetapi adalah suatu
yang memang merupakan haknya, bahkan kadang pelaku
merasa telah berjasa karena telah berbuat banyak untuk
organisasi. Dalam beberapa kasus lainnya terdapat pula
kondisi dimana pelaku tergoda untuk melakukan fraud
karena merasa rekan kerjanya juga melakukan hal yang
sama dan tidak menerima sanksi atas tindakan fraud
tersebut.
Keberhasilan pembangunan suatu etika perilaku dan kultur
organisasi yang anti kecurangan dapat mendukung secara
efektif penerapan nilai-nilai budaya kerja, yang sangat erat
hubungannya dengan hal-hal atau faktor-faktor penentu
keberhasilannya yang saling terkait antara satu dengan yang
lainnya, yaitu : 1) Komitmen dari Top Manajemen Dalam
Organisasi; 2) Membangun Lingkungan Organisasi Yang
Kondusif: 3) Perekrutan dan Promosi Pegawai; 4)Pelatihan
nilai-nilai organisasi atau entitas dan standar-standar
pelaksanaan ; 5) Menciptakan Saluran Komunikasi yang
Efektif; dan 6) Penegakan kedisiplinan.
Seluruh PNS dapat turut serta mengembangkan lingkungan
kerja yang positif untuk membantu pembentukan suatu etika
dan aturan perilaku internal organisasi. Setiap orang dapat
memberikan pandangan-pandangan dalam pengembangan dan
pembaharuan etika dan aturan perilaku (code of conduct) yang
berlaku dalam organisasi; berperilaku yang sesuai dengan code
of conduct; memberikan masukan kepada pimpinan sebelum
mengambil keputusan penting atau yang berhubungan dengan
masalah hukum dan implementasinya terhadap pelaksanaan
sanksi pelanggaran etika dan aturan perilaku organisasi.

D. Penggunaan Sumber Daya Milik Negara


Untuk kelancaran aktivitas pekerjaan, hampir semua instansi
pemerintah dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti
telepon, komputer, internet dan sebagainya. Tidak hanya itu,

34 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


bahkan semua instansi pemerintah memiliki aset-aset lain,
seperti: rumah dinas, mobil dan kendaraan dinas lainnya.
Kesemuanya itu dimanfaatkan untuk mencapai tujuan
organisasi dalam melayani publik. Oleh karena itu disebut
sebagai fasilitas publik.
Fasilitas publik dilarang pengunaannya untuk kepentingan
pribadi, sebagai contoh motor atau mobil dinas yang tidak
boleh digunakan kepentingan pribadi. Hal-hal tersebut
biasanya sudah diatur secara resmi oleh berbagai aturan dan
prosedur yang dikeluarkan pemerintah/instansi. Setiap PNS
harus memastikan bahwa:
-- Penggunaannya diatur sesuai dengan prosedur yang berlaku
-- Penggunaannya dilaklukan secara bertanggung-jawab dan
efisien
-- Pemeliharaan fasilitas secara benar dan bertanggungjawab.
Namun, kadang permasalahannya tidak selalu “hitam dan
putih”. Mari kita ambil contoh kasus.
Contoh Kasus
Seorang PNS mendapat fasilitas mobil dinas. Suatu malam,
anaknya yang balita tiba-tiba panas tinggi, bolehkan dia
menggunakan mobil dinasnya untuk membawa sang anak ke
Rumah Sakit? Bagaimana jika kelurga tetangga yang sakit
meminjam mobil dinas tersebut untuk pergi berobat?
Dalam banyak kasus, penggunaan fasilitas publik sering
terkait dengan masalah etika. Dalam penggunaan fasilitas
publik, pertanyaan-pertanyaan berikut dapat membantu dalam
pengambilan keputusan:
• Apakah penggunaan fasilitas tertentu dapat merugikan
instansi dan negara?
• Apakah penggunaan fasilitas tertentu merugikan reputasi
pribadi Anda dan juga yang lain?
• Apakah penggunaan fasilitas menguntung diri pribadi
semata?

Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 35


E. Penyimpanan dan Penggunaan Data dan Informasi
Pemerintah
Mulgan (1997) mengidentifikasikan bahwa proses suatu
organisasi akuntabel karena adanya kewajiban untuk
menyajikan dan melaporkan informasi dan data yang
dibutuhkan oleh masyarakat atau pembuat kebijakan atau
pengguna informasi dan data pemerintah lainnya.
Informasi ini dapat berupa data maupun penyampaian/
penjelasan terhadap apa yang sudah terjadi, apa yang sedang
dikerjakan, dan apa yang akan dilakukan. Jadi, akuntabilitas
dalam hal ini adalah bagaimana pemerintah atau aparatur
dapat menjelaskan semua aktifitasnya dengan memberikan
data dan informasi yang akurat terhadap apa yang telah mereka
laksanakan, sedang laksanakan dan akan dilaksanakan. Hal
yang tidak kalah pentingnya adalah akses dan distribusi dari
data dan informasi yang telah dikumpulkan tersebut, sehingga
pengguna/stakeholders mudah untuk mendapatkan informasi
tersebut.
Informasi dan data yang disimpan dan dikumpulkan serta
dilaporkan tersebut harus relevant (relevan), reliable
(dapat dipercaya), understandable (dapat dimengerti),
serta comparable (dapat diperbandingkan), sehingga dapat
digunakan sebagaimana mestinya oleh pengambil keputusan
dan dapat menunjukkan akuntabilitas publik. Untuk lebih
jelasnya, data dan informasi yang disimpan dan digunakan
harus sesuai dengan prinsip sebagai berikut:
1. Relevant information diartikan sebagai data dan informasi
yang disediakan dapat digunakan untuk mengevaluasi
kondisi sebelumnya (past), saat ini (present) dan mendatang
(future).
2. Reliable information diartikan sebagai informasi tersebut
dapat dipercaya atau tidak bias.
3. Understandable information diartikan sebagai informasi
yang disajikan dengan cara yang mudah dipahami pengguna

36 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


(user friendly) atau orang yang awam sekalipun.
4. Comparable information diartikan sebagai informasi
yang diberikan dapat digunakan oleh pengguna untuk
dibandingkan dengan institusi lain yang sejenis.
Contoh dari akuntabilitas ini adalah bagaimana suatu
organisasi (sekolah) dapat mengumpulkan dan menyajikan
data dan informasi yang dibutuhkan. Baik data dan informasi
yang dibutuhkan oleh murid, orang tua murid, guru, kepala
sekolah, masyrarakat, pemerintah sebagai bagian dari
akunbatilitasnya terhadap publik. Sekolah memiliki hubungan
yang sangat penting untuk berkewajiban akuntabel pada
pemerintah, masyarakat, guru dan murid. Jadi, informasi
tentang perkembangan sekolah, kegiatan-kegiatan dan
kebijakannya adalah bagian dari akuntabilitas. Informasi dan
data tersebut meliputi keuangan, pelayanan, efisiensi dan
efektifitas operasional.

F. Konflik Kepentingan
Konflik kepentingan adalah situasi yang timbul di mana tugas
publik dan kepentingan pribadi bertentangan. Tidak masalah
jika seseorang tersebut punya konflik kepentingan, tapi
bagaimana seseorang tersebut menyikapinya.

Tipe-tipe Konflik Kepentingan


Ada 2 jenis umum Konflik Kepentingan:
1. Keuangan
Penggunaan sumber daya lembaga (termasuk dana,
peralatan atau sumber daya aparatur) untuk keuntungan
pribadi.
Contoh :
a. Menggunakan peralatan lembaga/unit/divisi/bagian
untuk memproduksi barang yang akan digunakan atau
dijual secara pribadi

Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 37


b. Menerima hadiah atau pembayaran mencapai sesuatu
yang diinginkan
c. Menerima dana untuk penyediaan informasi pelatihan
dan / atau catatan untuk suatu kepentingan.
d. Menerima hadiah pemasok atau materi promosi tanpa
otoritas yang tepat
2. Non Keuangan
Penggunaan posisi atau wewenang untuk membantu diri
sendiri dan / atau orang lain
Contoh:
a. Berpartisipasi sebagai anggota panel seleksi tanpa
menggunakan koneksi, asosiasi atau keterlibatan dengan
calon.
b. Menyediakan layanan atau sumber daya untuk
kepentingan group, kelompok asosiasi atau organisasi
keagamaan tanpa biaya atau kontribusi kepada lembaga/
organisasi (melalui sistem seperti penerimaan negara
bukan pajak).
c. Penggunaan posisi yang tidak tepat untuk memasarkan
atau mempromosikan nilai-nilai atau keyakinan pribadi.

Bagaimana cara mengidentifikasi konflik kepentingan:


1. Tugas publik dengan kepentingan pribadi
Apakah saya memiliki kepentingan pribadi atau swasta
yang mungkin bertentangan, atau dianggap bertentangan
dengan kewajiban publik?
2. Potensialitas
Mungkinkah ada manfaat bagi saya sekarang, atau di masa
depan, yang bisa meragukan objektivitas saya? Bagaimana
keterlibatan saya dalam mengambil keputusan / tindakan
dilihat oleh orang lain?
3. Proporsionalitas
Apakah keterlibatan saya dalam keputusan tampak adil dan

38 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


wajar dalam semua keadaan?
4. Presence of Mind
Apa konsekuensi jika saya mengabaikan konflik
kepentingan? Bagaimana jika keterlibatan saya
dipertanyakan publik?
5. Janji
Apakah saya membuat suatu janji atau komitmen dalam
kaitannya dengan permasalahan? Apakah saya berdiri
untuk menang atau kalah dari tindakan/keputusan yang
diusulkan?

Konsekuensi Kepentingan Konflik


1. Hilangnya/berkurangnya kepercayaan pegawai dan
stakeholders
2. Memburuknya reputasi pribadi atau reputasi Institusi
3. Tindakan indisipliner
4. Pemutusan hubungan kerja
5. Dapat dihukum baik perdata atau pidana

G. Latihan
1. Buruknya etika para aparatur pemerintah Indonesia dapat
terlihat dari masih banyaknya keluhan oleh masyarakat.
Laporan Ombudsman tahun 2012 di salah satu provinsi
(Perwakilan Jatim) mengemukan bahwa ada beberapa
contoh tindakan buruk aparatur pemerintah yaitu
Penyalahgunaan Wewenang, Penundaan Berlarut, Tidak
Memberikan Pelayanan, Permintaan Uang dan Barang,
Penyimpangan Prosedur, Berpihak, Diskriminasi, Tidak
Patut, Konflik Kepentingan, serta Tidak Kompeten. Melihat
beberapa contoh tindakan buruk aparatur pemerintah
tersebut, bagaimana tanggapan anda jika mengaitkannya
dengan perspektif etika pelayanan publik ataupun etika
birokrasi publik?

Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 39


2. Konflik kepentingan adalah situasi yang timbul di mana
tugas publik dan kepentingan pribadi bertentangan. Ada
dua jenis umum Konflik Kepentingan yaitu Keuangan
(Penggunaan sumber daya lembaga termasuk dana,
peralatan atau sumber daya aparatur untuk keuntungan
pribadi) dan Non-Keuangan (Penggunaan posisi atau
wewenang untuk membantu diri sendiri dan/atau orang
lain). Ada contoh studi kasus seperti berikut: Bahwa ada
seseorang Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) menunjuk
satu pemenang tender proyek pengadaan barang dan jasa
publik tanpa melalui proses yang akuntabel dan transparan
(terindikasi ada permainan atau kongkalikong antara
pemberi dan penerima proyek). Dilihat dari jenis umum
konflik kepentingan, temasuk jenis konflik kepentingan
apakah studi kasus tersebut? Jelaskan.

H. Rangkuman
1. Ketersediaan informasi publik telah memberikan pengaruh
yang besar pada berbagai sektor dan urusan publik
di Indonesia. Salah satu tema penting yang berkaitan
dengan isu ini adalah perwujudan transparansi tata kelola
keterbukaan informasi publik, dengan diterbitkannya UU
Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi
Publik (selanjutnya disingkat: KIP).
2. Keterbukaan informasi memungkinkan adanya ketersediaan
(aksesibilitas) informasi bersandar pada beberapa prinsip.
Prinsip yang paling universal (berlaku hampir diseluruh
negara dunia) adalah sebagai berikut : Maximum Access
Limited Exemption (MALE), Permintaan Tidak Perlu
Disertai Alasan, Mekanisme yang Sederhana, Murah,
dan Cepat, Informasi Harus Utuh dan Benar, Informasi
Proaktif, serta Perlindungan Pejabat yang Beritikad Baik.
3. Aparat pemerintah dituntut untuk mampu
menyelenggarakan pelayanan yang baik untuk publik.

40 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


Hal ini berkaitan dengan tuntutan untuk memenuhi etika
birokrasi yang berfungsi memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Etika pelayanan publik adalah suatu panduan
atau pegangan yang harus dipatuhi oleh para pelayan publik
atau birokrat untuk menyelenggarakan pelayanan yang
baik untuk publik. Buruknya sikap aparat sangat berkaitan
dengan etika.
4. Informasi dan data yang disimpan dan dikumpulkan
serta dilaporkan harus relevant (relevan), reliable
(dapat dipercaya), understandable (dapat dimengerti),
serta comparable (dapat diperbandingkan), sehingga
dapat digunakan sebagaimana mestinyaoleh pengambil
keputusan dan dapat menunjukkan akuntabilitas publik.
5. Ada 2 jenis umum konflik kepentingan yaitu keuangan
(Penggunaan sumber daya lembaga termasuk dana,
peralatan atau sumber daya aparatur untuk keuntungan
pribadi) dan non keuangan (Penggunaan posisi atau
wewenang untuk membantu diri sendiri dan /atau orang
lain).

I. Evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut dengan lengkap dan jelas:
1. Sebutkan dan jelaskan prinsip-prinsip keterbukaan
informasi yang berlaku universal.
2. Jelaskan apa saja yang dapat memicu munculnya praktik
kecurangan dalam suatu organisasi.
3. Jelaskan prinsip-prinsip yang harus ada pada data dan
informasi khususnya yang akan dipakai oleh publik.

J. Umpan Balik dan Tindak Lanjut


Coba Saudara cek hasil jawaban Saudara pada evaluasi diatas.
Apabila Saudara telah menjawab semuanya dengan benar

Bab IV ~ Akuntabilitas Dalam Konteks | 41


maka Saudara dianggap telah menguasai bab ini, namun
apabila belum Saudara perlu mengulang untuk mempelajari
kembali.

42 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


BAB V
MENJADI PNS YANG AKUNTABEL

A. Indikator Keberhasilan
Di dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur
Sipil Negara (ASN) disebutkan bahwa penyelenggaraan
kebijakan dan Manajemen ASN berdasarkan pada asas:
1. Kepastian hukum;
2. Profesionalitas;
3. Proporsionalitas;
4. Keterpaduan;
5. Delegasi;
6. Netralitas;
7. Akuntabilitas;
8. Efektif dan efisien;
9. Keterbukaan;
10. Nondiskriminatif;
11. Persatuan dan kesatuan;
12. Keadilan dan kesetaraan dan;
13. Kesejahteraan.
ASN sebagai profesi berlandaskan pada prinsip sebagai
berikut:
1. Nilai dasar;
2. Kode etik dan kode perilaku;
3. Komitmen, integritas moral dan tanggung jawab pada
pelayanan publik;
4. Kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas;
5. Kualifikasi akademik;

Bab V ~ Menjadi PNS Yang Akuntabel | 43


6. Jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas,
dan;
7. Profesionalitas jabatan.
Setelah mempelajari bab ini, peserta diharapkan memiliki
kemampuan untuk berperilaku secara akuntabel dalam ranah
dan kasus umum yang terkait dengan penegakan akuntabilitas

B. Apa yang diharapkan dari seorang PNS? Perilaku


Individu (Personal Behaviour)
1. PNS bertindak sesuai dengan persyaratan legislatif,
kebijakan lembaga dan kode etik yang berlaku untuk
perilaku mereka.
2. PNS tidak mengganggu, menindas, atau diskriminasi
terhadap rekan atau anggota masyarakat.
3. Kebiasaan kerja PNS, perilaku dan tempat kerja pribadi dan
profesional hubungan berkontribusi harmonis, lingkungan
kerja yang nyaman dan produktif.
4. PNS memperlakukan anggota masyarakat dan kolega
dengan hormat, penuh kesopanan, kejujuran dan keadilan,
dan memperhatikan secara tepat untuk kepentingan mereka,
hak-hak, keamanan dan kesejahteraan.
5. PNS membuat keputusan adil, tidak memihak dan segera,
memberikan pertimbangan untuk semua informasi yang
tersedia, Undang-undang dan kebijakan dan prosedur
institusi tersebut.
6. PNS melayani stakeholders (lingkup pemerintah,
swasta atau masyarakat) setiap hari dengan tepat waktu,
memberikan masukan informasi dan kebijakan.

44 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


C. Perilaku Berkaitan denganTransparansi dan Akses
Informasi (Transparency and Official Information
Access)
1. PNS tidak mengungkapkan informasi resmi atau dokumen
yang diperoleh selain seperti yang dipersyaratkan oleh
hukum atau otorisas iyang diberikan oleh institusi.
2. PNS tidak menyalahgunakan informasi resmi untuk
keuntungan pribadi atau komersial untuk diri mereka
sendiri atau yang lain. Penyalahgunaan informasi resmi
termasuk spekulasi saham berdasarkan informasi rahasia
dan mengungkapkan isi dari surat-surat resmi untuk orang
yang tidak berwenang.
3. PNS mematuhi persyaratan legislatif, kebijakan setiap
instansi dan semua arahan yang sah lainnya mengenai
komunikasi dengan pimpinannya di tingkat kementrian/
lembaga/daerah (menteri, kepala lembaga, kepala
daerah),staf menteri, anggota media dan masyarakatpada
umumnya.

D. Menghindari Perilaku yang Curang dan Koruptif


(Fraudulent and Corrupt Behaviour)
1. PNS tidak terlibat dalam penipuan atau korupsi.
2. PNS dilarang untuk melakukan penipuan yang
menyebabkan kerugian keuangan aktual atau potensial
untuk setiap orang atau institusinya.
3. PNS dilarang berbuat curang dalam menggunakan posisi
dan kewenangan mereka untuk keuntungan pribadinya.
4. PNS melaporkan setiap perilaku curang atau korup.
5. PNS melaporkan setiap pelanggaran kode etik.
6. PNS memahami dan menerapkan kerangka akuntabilitas
yang berlaku di sektor publik.

Bab V ~ Menjadi PNS Yang Akuntabel | 45


E. Perilaku Terhadap Penggunaan Sumber Daya Negara
(Use of Publik Resources)
1. PNS bertanggung jawab untuk pengeluaran yang resmi.
2. PNS menggunakan sumber daya yang didanai publik
secara teliti dan efisien. Hal ini termasuk fasilitas kantordan
peralatan, kendaraan, voucher biaya taksi, kredit korporasi
kartu dan pembelian barang dan jasa.
3. PNS hanya menggunakan pengeluaran yang berhubungan
dengan pekerjaan.
4. PNS tidak menggunakan waktu kantor atau sumber daya
untuk pekerjaan partai politik atau keuntungan pribadi atau
keuangan.
5. PNS mematuhi kebijakan dan pedoman dalam penggunaan
setiap instansi komputasi dan komunikasi fasilitas,
danmenggunakan sumber daya tersebut secara bertanggung
jawab.
6. PNS berhati-hati untuk memastikan bahwa setiap
perjalanan dinas yang dilakukan untuk tujuan resmi dan
benar-benar diperlukan.
7. PNS menggunakan kekayaan dan barang milik negara
secara bertanggung jawab, efektif dan efisien.

F. Perilaku berkaitan dengan Penyimpanan dan


Penggunaan Data serta Informasi Pemerintah
(Record Keeping and Use of Government Information)
1. PNS bertindak dan mengambil keputusan secara transparan.
2. PNS menjamin penyimpanan informasi yang bersifat
rahasia.
3. PNS mematuhi perencanaan yang telah ditetapkan.
4. PNS diperbolehkan berbagi informasi untuk mendorong
efisiensi dan kreativitas.

46 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


5. PNS menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan
Negara.
6. PNS memberikan informasi secara benar dan tidak
menyesatkan kepada pihak lain yang memerlukan informasi
terkait kepentingan kedinasan.
7. PNS tidak menyalahgunakan informasi intern negara,
tugas, status, kekuasaan, dan jabatannya untuk mendapat
atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri
atau untuk orang lain.

G. Perilaku berkaitan dengan Konflik Kepentingan


(Conflicts of Interest)
1. PNS harus dapat memastikan kepentingan pribadi atau
keuangan tidak bertentangan dengan kemampuan mereka
untuk melakukan tugas-tugas resmi mereka dengan tidak
memihak.
2. Ketika konflik kepentingan yang timbul antara kinerja
tugas publik dan kepentingan pribadi atau personal, maka
PNS dapat memilih untuk kepentingan umum.
3. PNS memahami bahwa konflik kepentingan sebenarnya,
dianggap ada atau berpotensi ada di masa depan. Situasi
yang dapat menimbulkan konflik kepentingan, meliputi:
a. Hubungan dengan orang-orang yang berurusan dengan
lembaga-lembaga yang melampaui tingkat hubungan
kerja profesional;
b. Menggunakan keuangan organisasi dengan bunga secara
pribadi atau yang berurusan dengan kerabat seperti:
• Memiliki saham atau kepentingan lain yang dimiliki
oleh PNS di suatu perusahaan atau bisnis secara
langsung, atau sebagai anggota dari perusahaan lain
atau kemitraan, atau melalui kepercayaan;
• Memiliki pekerjaan diluar, termasuk peran sukarela,

Bab V ~ Menjadi PNS Yang Akuntabel | 47


janji atau direktur, apakah dibayar atau tidak; dan
• Menerima hadiah atau manfaat.
4. Jika konflik muncul, PNS dapat melaporkan kepada
pimpinan secara tertulis, untuk mendapatkan bimbingan
mengenai cara terbaik dalam mengelola situasi secara tepat.
5. PNS dapat menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan
dalam melaksanakan tugasnya.

H. Bagaimana Mengambil Keputusan yang Akuntabel


bagi PNS?
Pengambilan keputusan secara akuntabel dan beretika berarti
dapat membuat keputusan dan tindakan yang tepat dan
akurat. Sebuah keputusan yang akuntabel dan beretika sangat
penting dalam menjaga kepercayaan dan keyakinan terhadap
masyarakat dalam pekerjaan pemerintahan. Dalam praktiknya,
penempatan kepentingan umum berarti bahwa:
1. Memastikan tindakan dan keputusan yang berimbang dan
tidak bias.
2. Bertindak adil dan mematuhi prinsip-prinsip due process.
3. Akuntabel dan transparan.
4. Melakukan pekerjaan secara penuh, efektif dan efisien.
5. Berperilaku sesuai dengan standar sektor publik, kode
sektor publik etika sesuai dengan organisasinya.
6. Mendeklarasikan secara terbuka bila terjadi adanya potensi
konflik kepentingan.

I. Menganalisis Dampak dan Resiko Bila PNS Tidak


Mengimplementasikan Nilai Akuntabilitas
Kompleksitas kebutuhan dan tuntutan terhadap institusi/
lembaga pemerintah, mendorong wewenang dan
tanggungjawab tidak lagi hanya dikonsentrasikan pada

48 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


pimpinan. Pendelegasian dan distribusi wewenang dan
tanggungjawab pada bawahan bukan sekedartrend semata,
namun sesuatu kebutuhan yang memang mendesak.
Contoh kasus yang akan diangkat adalah, bagaimana
akuntabilitas menjadi sangat penting untuk menjamin
tercapainya sasaran dan tujuan dari program/kegiatan
pemerintah.
Akuntabilitas terjadi sepanjang umur siklus (life cycle) dari
suatu program/kegiatan. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan,
dan berakhirnya siklus program/kegiatan. Untuk itu suatu
program/kegiatan sendiri seharusnya dirancang sebagai
program/kegiatan yang akuntabel. Tiga pertanyaan menjadi
penting dalam merancang program yang akuntabel, yaitu:
i. siapa saja pemangku kepentingan program/kegiatan dan
pelaksanaan program/kegiatan?
ii. dalam aspek apa program/kegiatan harus akuntabel?
iii. apa bentuk akuntabilitas dari masing-masing aspek kepada
masing-masing pemangku kepentingan untuk masing-
masing aspek?.
Ketiga pertanyaan bisa menjadi dasar yang dapat diturunkan
dalam 10 tahap untuk membangun suatu program/kegiatan
yang akuntabel, seperti sebagai berikut:
1. Tentukan individu/kelompok/komunitas sasaran dari
program/kegiatan tersebut.
2. Tetapkan tujuan-tujuan dan sasaran (outcomes dan impact)
yang diharapkan tercapai dari terlaksananya program/
kegiatan terhadap individu/kelompok/komunitas sasaran.
3. Inventarisasi model/metode yang dapat dijadikan dasar
atau praktik baik (best practices) yang telah ada yang bisa
digunakan untuk mencapai tujuan dan sasaran, pilih dan
gunakan.
4. Rencana aksi yang dibutuhkan sehingga program tepat

Bab V ~ Menjadi PNS Yang Akuntabel | 49


sasaran terhadap individu/kelompok/komunitas sasaran
(fits with the goals).
5. Petakan kapasitas organisasi yang dibutuhkan untuk
mengimplementasikan aksi-aksi/aktivitas-aktivitas diatas.
6. Buat rencana aksi secara rinci.
7. Buat evaluasi proses melalui pengukuran kualitas program/
kegiatan dan implementasi program/kegiatan yang terukur.
8. Review hasil capaian program (outcomes)
9. Evaluasi proses dan capaian yang diintegrasikan dengan
peningkatan kualitas berkelanjutan
10. Jika program sukses, pikirkan bagaimana keberlanjutan
tersebut dapat terus dipertahankan
Langkah-langkah di atas dapat disederhanakan dalam diagram
alur (flowchart) seperti tergambar dalam Gambar 1 dan Gambar
2. Gambar 1 merupakan diagram alur lengkap dari proses
perancangan program/kegiatan yang akuntabel, sementara
Gambar 2 merupakan versi sederhana, dimana lebih menitik
beratkan pada aspek akuntabilitas dalam rancangan program/
kegiatan.
Sebagai alat bantu dari proses perancangan metode/instrumen
akuntabilitas dari program/kegiatan (dan juga aktivitas bagian
dari suatu kegiatan). Tabel 1 dapat digunakan dalam alat bantu
untuk menganalisis dampak jika suatu program/kegiatan dan
aktifitas yang tidak akuntabel.

50 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


Gambar 1. Diagram Alur Proses Perencanaan Program/
Kegiatan Yang Akuntabel

MULAI A

Identifikasi dan tentukan


Tentukan individu/
para pemangku
kelompok/komunitas kepentingan dari program/
sasaran program/kegiatan kegiatan

Identifikasikan kebutuhan
dan harapan dari individu/ Buat rencana rinci dari
kelompok/komunitas masing-masing aktivitas
sasaran

Tetapkan tujuan dan Tentukan metode dan


sasaran (outcomes) yang instrumen pengukuran dan
ingin dicapai pertanggungjawaban
kualitas pelaksanaan
program/kegiatan

Inventarisasi model
berbasiskan bukti dan Tentukan metode dan
praktik-praktik baik yang instrumen pengukuran dan
bisa digunakan dalam pertanggungjawaban
rancangan program kualitas capaian program/
kegiatan

Identifikasi aktivitas- Buat skenario integrasi


aktivitas yang diperlukan evaluasi proses dan
untuk mencapai target dan capaian terhadap proses
sasaran program/kegiatan peningkatan kualitas
berkelanjutan

Identifikasi kapasitas
organisasi yg diperlukan
(SDM, anggaran, dlsb) Buat skenario bagaimana
menjamin keberlanjutan
program, jika sukses

A
SELESAI

Bab V ~ Menjadi PNS Yang Akuntabel | 51


Gambar 2. Diagram Alur Proses Akuntabilitas Pada
Proses Perencanaan Program/Kegiatan

MULAI A

Tentukan individu/ Tentukan metode dan


instrumen pengukuran dan
kelompok/komunitas
pertanggungjawaban
sasaran program/kegiatan
kualitas pelaksanaan
program/kegiatan

Identifikasikan kebutuhan
dan harapan dari individu/
kelompok/komunitas Tentukan metode dan
sasaran instrumen pengukuran dan
pertanggungjawaban
kualitas capaian program

Tetapkan tujuan dan


sasaran (outcomes) yang
ingin dicapai
Buat skenario integrasi
evaluasi proses dan
capaian terhadap proses
peningkatan kualitas
berkelanjutan
PERENCANAAN
PROGRAM/KEGIATAN

Buat skenario bagaimana


menjamin keberlanjutan
program, jika sukses
Identifikasi dan tentukan
para pemangku
kepentingan dari program

SELESAI

52 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


TABEL 1. Instrumen Menganalisis Resiko Dampak
Tidak Dilakukannya Nilai Akuntabilitas

Metode/
Akuntabilitas Subyek Resiko Jika Tidak
Instrumen
Kepada Siapa Akuntabilitas Dilakukan
Akuntabilitas

Organisasi
Tim Kerja

Program /
Kegiatan
Individu

Sasaran
PNS
Publik • Wewenang
Vertikal

Target • Luaran
Sasaran kerja
Kegiatan/ (output)
Layanan • Penggunaan
Tim Kerja sumber
daya milik
Unit Kerja negara
Horizontal

Organisasi (uang dan


fasilitas
lain)
Institusi
Inspeksi • Capaian
(a.l BPK) kegiatan
(outcomes)

Bab V ~ Menjadi PNS Yang Akuntabel | 53


J. Latihan
1. PNS yang akuntabel adalah PNS yang mampu mengambil
pilihan yang tepat ketika terjadi konflik kepentingan, tidak
terlibat dalam politik praktis, melayani warga secara adil
dan konsisten dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
Namun kenyataanya masih banyak PNS yang tidak
menjalankan nilai-nilai tersebut. Bagaimana tanggapan
anda terhadap masih sering dijumpainya kasus PNS yang
tidak taat aturan maupun belum mampu menempatkan
dirinya sebagai pelayan publik?
2. Fenomena PNS yang masih seringkali diketemukan
memungut uang imbalan atas layanan yang diberikan
kepada masyarakat tentunya menjadi permasalahan bagi
kita semua. Ada istilah “jika ingin cepat harus ada uang
pelicin”. Padahal hal tersebut sangat tidak diperbolehkan
dan melanggar aturan yang sudah ditetapkan mengenai
pelayanan publik. Bagaimana tanggapan anda terhadap
fenomena tersebut dilihat dari perspektif perilaku yang
curang dan koruptif?

K. Rangkuman
1. PNS yang akuntabel adalah PNS yang mampu mengambil
pilihan yang tepat ketika terjadi konflik kepentingan, tidak
terlibat dalam politik praktis, melayani warga secara adil
dan konsisten dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
2. ASN sebagai profesi berlandaskan pada prinsip sebagai
berikut yaitu Nilai dasar, Kode Etik dan Kode Perilaku,
Komitmen, Integritas Moral dan Tanggung Jawab Pada
Pelayanan Publik, Kompetensi Yang Diperlukan Sesuai
Dengan Bidang Tugas, Kualifikasi Akademik, Jaminan
Perlindungan Hukum Dalam Melaksanakan Tugas, serta
Profesionalitas Jabatan.

54 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


3. Pengambilan keputusan secara akuntabel dan beretika
berarti dapat membuat keputusan dan tindakan yang tepat
dan akurat. Sebuah keputusan yang akuntabel dan beretika
sangat penting dalam menjaga kepercayaan dan keyakinan
terhadap masyarakat dalam pekerjaan pemerintahan. Dalam
praktiknya, penempatan kepentingan umum berarti bahwa:
Memastikan tindakan dan keputusan yang berimbang dan
tidak bias; Bertindak adil dan mematuhi prinsip-prinsip due
process; Akuntabel dan transparan; Melakukan pekerjaan
secara penuh, efektif dan efisien; Berperilaku sesuai
dengan standar sektor publik, kode sektor publik etika
sesuai dengan organisasinya serta Mendeklarasikan secara
terbuka bila terjadi adanya potensi konflik kepentingan.

L. Evaluasi
Jawablah pertanyaan berikut dengan lengkap dan jelas
1. Bagaimana seharusnya perilaku dari seorang PNS sehingga
dapat dikatakan memiliki akuntabilitas tinggi?
2. Jelaskan bagaimana seorang PNS yang akuntabel
menghadapi terjadinya konflik kepentingan.
3. Jelaskan bagaimana proses pengambilan keputusan yang
akuntabel dan beretika.

M. Umpan balik dan tindak lanjut


Apakah Saudara dapat menjawab tiga pertanyaan diatas
dengan benar? Apabila sudah, maka Saudara dianggap sudah
mengerti mengenai bagaimana menjadi PNS yang akuntabel.
Namun apabila belum, Saudara perlu mempelajari kembali
materi ini.

Bab V ~ Menjadi PNS Yang Akuntabel | 55


56 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik
BAB VI
PENUTUP

A. Simpulan
Dalam banyak hal, kata akuntabilitas sering disamakan
dengan responsibilitas atau tanggung jawab. Namun pada
dasarnya, kedua konsep tersebut memiliki arti yang berbeda.
Responsibilitas adalah kewajiban untuk bertanggung jawab,
sedangkan akuntabilitas adalah kewajiban pertanggungjawaban
yang harus dicapai.
Mekanisme akuntabilitas pada suatu organisasi akan berbeda
dengan mekanisme akuntabilitas organisasi lainnya. Contoh
mekanisme akuntabilitas organisasi, antara lain sistem
penilaian kinerja, sistem akuntansi, sistem akreditasi, dan
sistem pengawasan (CCTV, finger prints, ataupun software
untuk memonitor pegawai menggunakan komputer atau
website yang dikunjungi).
Ada banyak aspek yang harus diperhatikan dalam menciptakan
lingkungan organisasi yang akuntabel. Aspek-aspek tersebut
yaitu:
a. Kepemimpinan;
b. Transparansi;
c. Integritas;
d. Tanggung Jawab (responsibilitas);
e. Keadilan;
f. Kepercayaan;
g. Keseimbangan;
h. Kejelasan; dan
i. Konsistensi.

Bab VI ~ Penutup | 57
PNS yang akuntabel adalah PNS yang mampu mengambil
pilihan yang tepat ketika terjadi konflik kepentingan, tidak
terlibat dalam politik praktis, melayani warga secara adil dan
konsisten dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

B. Tindak Lanjut
Materi akuntabilitas yang dituangkan di dalam modul ini
dirancang untuk mempersiapkan Calon Aparatur Sipil
Negara sehingga dapat masuk ke dalam sistem pemerintahan.
Selain modul ini, peserta diharapkan dapat menggali konsep
akuntabilitas dari berbagai sumber lain dan mencoba untuk
menyelesaikan kasus-kasus terkait akuntabilitas yang terjadi
di tataran pemerintahan Indonesia.
Mengerti konsep akuntabilitas saja tidaklah cukup. Para peserta
diharapkan juga dapat membantu institusi/organisasinya
dalam menerapkan berbagai mekanisme akuntabilitas untuk
mengukur kinerja pegawai nya dan mempraktikan berbagai
prinsip-prinsip yang akan menjadikan seorang PNS menjadi
PNS yang akuntabel.

58 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntablitias Publik


DAFTAR PUSTAKA

Bovens, M. 2007. Analysing and Assessing Accountability: A


Conceptual Framework’ European Law Journal, Vol.
13(4), pp. 447–468.
Maccarthaigh, Muiris & Boyle, Richard. 2014. Civil Service
Accountability: Challenge And Change. An Foras
Riaracháin Institute Of Publik Administration
Alnoor Ebrahim, 2010, The Many Faces of Nonprofit Accountability,
Harvard Business School, Working Paper 10-069, Boston,
MA
Matthew Chinman, Pamela Imm, Abraham Wandersman, Getting
To Outcomes™ 2004: Promoting Accountability Through
Methods and Tools for Planning, Implementation, and
Evaluation, RAND Corporation, Santa Monica, CA

Daftar Pustaka | 59
LAMPIRAN

Contoh Kasus Mengenai Pelanggaran Akuntabilitas


A. Dari Berbagai Surat Kabar
1. Link :
http://www.solopos.com/2011/06/06/bupati-pengurus-
harus-tanggung-jawab-101370
Pengurus Harus Tanggung Jawab
Sragen (Solopos.com) – Indikasi kerugian Koperasi
Handayani yang merupakan koperasi pegawai negeri sipil
senilai Rp 2,5 miliar menjadi tanggung jawab pengurus
koperasi.
Bupati Sragen Agus Fatchur Rahman memberikan
deadline bagi koperasi itu untuk segera mengadakan
pra Rapat Akhir Tahun (RAT) pada bulan ini untuk
mempertanggungjawabkan indikasi kerugian itu.
“Saya sudah memanggil pengurus koperasi PNS itu Sabtu,
akhir pekan lalu. Pada intinya uang senilai Rp 2,5 miliar
itu masih utuh, hanya beralih fungsi menjadi barang bukan
uang. Semua permasalahan koperasi harus dijelaskan
secara detail kepada anggota dalam RAT,” tegas Bupati
Agus Fatchur Rahman saat dijumpai wartawan di kantor
dinasnya, Senin (6/6/2011). (trh)
2. Link :
http://www.solopos.com/2013/06/20/kenaikan-harga-
bbm-ketua-rt-tak-mau-tanggung-jawab-pencairan-
blsm-417872
Ketua RT Tak Mau Tanggung Jawab Pencairan BLSM
Kamis, 20 Juni 2013 23:53 WIB | Muhammad Khamdi/
JIBI/SOLOPOS |
SOLO – Sejumlah ketua RT di Kota Solo menolak

60 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


bertanggungjawab atas kekacauan data penerima
Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang
bakal dicairkan dalam bulan ini. Penolakan itu sebagai
langkah terbaik daripada menerima komplain dari
warga. Sebagaimana diketahui, pencairan BLSM sebagai
kompensasi atas kenaikan harga bahan bakar minyak
(BBM).
“Kami tidak mau bertanggungjawab apabila BLSM itu cair
dan dititipkan kepada kami. Lebih baik kami kembalikan
kepada Kantor Pos,” kata Ketua RT 002/RW 015
Semanggi, Rudi Sutopo saat berbincang dengan Solopos.
com, di Semanggi, Kamis (20/6/2013).
Rudi memastikan data penerima BLSM tidak tepat sasaran.
Hal itu berdasarkan kesalahan pendataan sebelumnya dari
pemerintah pusat. Bahkan, dia memprediksi bakal terjadi
kekisruhan di masyarakat.
“Pendataan penerima jaminan kesehatan masyarakat
(Jamkesmas) dan keluarga miskin saja masih amburadul.
Masak pemerintah bilang bakal tepat sasaran. Kan lucu.
Semestinya pemerintah melakukan perbaikan data dulu,
dari dulu sampai sekarang datanya masih ngawur, orang
kaya dapat bantuan sedangkan warga miskin tidak
mendapat bantuan. Dan saya yakin pembagian BLSM akan
seperti itu,” kata dia.
Rudi meminta kepada pemerintah mengecek ulang ke
lapangan atas kondisi masyarakat miskin di Kota Solo.
Sementara itu, Ketua RT 003/RW 008 Serengan, Harjanto,
mengatakan tidak tepat apabila BLSM ditumpukan kepada
ketua RT.
“Yang mendata siapa, kok kami tiba-tiba diberi
tanggungjawab untuk mengurus itu. Perlu saya tegaskan,
BLSM itu tidak tepat sasaran,” jelas Harjanto.

Lampiran | 61
3. Link :
http://news.detik.com/read/2014/04/17/081136/255774
6/10/2/tuntut-kenaikan-gaji-pantaskah-pns-pengadilan-
mogok-kerja
Tuntut Kenaikan Gaji, Pantaskah PNS Pengadilan
Mogok Kerja?
Kamis, 17/04/2014 08:15 WIB
Prins David Saut
Jakarta - Ratusan PNS pengadilan di berbagai pelosok
Indonesia mogok kerja sejak kemarin dengan tuntutan
kenaikan kesejahteraan. Mereka mengancam akan mogok
hingga waktu yang tidak ditentukan, jika tuntutannya tidak
dipenuhi. Lalu, pantaskah PNS yang bertugas sebagai
panitera itu mogok kerja?
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No 21 tahun 1975
tentang Sumpah/Janji Pegawai Negeri Sipil yang dikutip
detikcom, Kamis (17/4/2014), para PNS sebelum diangkat
telah bersumpah akan setia kepada negara dan pemerintah
dengan penuh pengabdian. Berikut kutipan sumpah
tersebut:
Bahwa saya, untuk diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil
akan setia dan taat sepenuhnya kepada Pancasila, Undang-
Undang Dasar 1945, Negara, dan Pemerintah;
Bahwa saya, akan mentaati segala peraturan perundang-
undangan yang berlaku dan melaksanakan tugas kedinasan
yang dipercayakan kepada saya dengan penuh pengabdian,
kesadaran, dan tanggung jawab;
Bahwa saya, akan senantiasa menjunjung tinggi kehormatan
Negara, Pemerintah, dan martabat Pegawai Negeri serta
akan senantiasa mengutamakan kepentingan Negara dari
pada kepentingan saya sendiri, seseorang atau golongan;
Bahwa saya, akan memegang rahasia sesuatu yang menurut

62 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


sifatnya atau menurut perintah harus saya rahasiakan;
Bahwa saya akan bekerja dengan jujur, tertib, cermat, dan
bersemangat untuk kepentingan Negara
Selain itu, Mahkamah Agung (MA) tempat mereka
bernaung juga telah membuat code of conduct yang
tertuang dalam Surat Keputusan Sekretaris MA Nomor
008-A/SEK/SK/I/2012. Dalam Pasal 5 ayat 1 disebutkan
kewajiban pegawai MA yaitu:
a. Wajib melaksanakan perintah kedinasan yang diberikan
oleh atasan yang berwenang
b. Menaati ketentuan jam kerja
c. Wajib menciptakan dan memelihara suasana kerja yang
baik
d. Menjaga nama baik korps pegawai dan institusi MA
Adapun larangan diatur tegas dalam Pasal 5 ayat 2:
a. Dilarang melakukan tindakan yang dapat berakibat
merugikan stakeholder MA
b. Dilarang terlibat dalam kegiatan yang bertentangan
dengan peraturan perundang-undangan, ketertiban
umum dan/kesusilaan
4. Link :
http://news.detik.com/bandung/read/2012/05/07/13211
7/1910974/486/keliaran-di-mal-waktu-jam-kerja-5-pns-
terjaring-razia
Keliaran di Mal Waktu Jam Kerja, 5 PNS Terjaring
Razia
Senin, 07/05/2012 13:21 WIB
Baban Gandapurnama - detikNews
Bandung - Sebanyak lima Pegawai Negeri Sipil (PNS)
lingkungan Pemkot Bandung terjaring razia gerakan
disiplin PNS. Mereka kedapatan keliaran di dua mal saat

Lampiran | 63
jam kerja, Senin (7/5/2012).
Dua PNS kedapatan sedang berada di dalam Mal Pasarbaru,
Jalan Oto Iskandardinata. Sedangkan tiga PNS lainnya di
Mal Bandung Indah Plaza (BIP), Jalan Merdeka.
"Razia ini dalam rangka gerakan disiplin aparatur sesuai
dengan Putusan Pemerintah (PP) No 53 tentang disiplin
PNS," kata Penyidik Satpol PP Kota Bandung Akhmad
Fauzan saat ditemui di BIP.Akhmad menjelaskan, kegiatan
razia PNS di waktu jam kerja sering dilakukan. Tujuannya
agar PNS menegakan disiplin sesuai aturan yangberlaku.
"Razia ini sekaligus mengingatkan supaya PNS timbul
kesadarannya dalam disiplin. PNS itu punya tanggung
jawab kepada masyarakat," terangnya.
Razia PNS ini melibatkan petugas Satpol PP dan Badan
Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Bandung. Satpol PP
mengerahkan 4 unit atau sekitar 60 personel yang disebar
ke empat titik wilayah yakni Utara, Selatan, Timur, dan
Barat. Sasarannya mal serta pusat perbelanjaan. Mengenai
jumlah seluruhnya PNS yang terjaring razia, Ahkmad
mengatakan belum mendapat laporan.
Razia tadi digelar sekitar pukul 09.00 WIB. Lima PNS
terjaring di BIP dan Pasarbaru kemudian diminta membuat
Berita Acara Pemeriksaan (BAP). Semua PNS yang kena
razia itu wanita.
"Selanjutnya data razia ini diserahkan kepada BKD.
Setelah itu BKD melaporkan ke SKPD tempat PNS itu
bekerja. Soal sanksi nanti diputuskan oleh Kepala SKPD
masing-masing," tutup Akhmad.

64 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


5. Link :
http://finance.detik.com/read/2014/03/13/102152/252432
7/4/masih-banyak-pns-kumpul-kebo-asusila-dan-nyambi-
jadi-calo
Masih Banyak PNS Kumpul Kebo, Asusila, dan Nyambi
Jadi Calo
Herdaru Purnomo - detikfinance
Kamis, 13/03/2014 10:21 WIB
Jakarta -Badan Kepegawaian Negara (BKN) sepanjang
2013 menangani 246 kasus Pegawai Negeri Sipil.
Seluruhnya telah diberikan sanksi tegas oleh BKN. Dari
kasus sebanyak itu, kasus terbanyak tercatat gara-gara
tidak masuk kerja. Sejak diberlakukannya PP No. 53/2010
tentang Disiplin PNS, makin banyak pegawai yang tidak
displin harus menerima risiko. "Sanksi atas pelanggaran
disiplin ini mulai dari teguran sampai pemberhentian," ujar
Kepala BKN Eko Sutrisno seperti dikutip detikFinance
dari situs resmi Sekretariat Kabinet, Kamis (13/3/2014).
Selain pelanggaran disiplin, kasus lain yang diberikan
sanksi antara lain tindakan asusila, kumpul kebo,
mencemarkan martabat bangsa, pemerintah, pemalsuan
dokumen, penyalahgunaan wewenang.
"Ada juga yang menggunakan ijazah palsu, ada juga yang
menjadi calo PNS," tambahnya.Di awal tahun ini, Badan
Pertimbangan Kepegawaian (Bapek) telah menggelar
sidang untuk mengambil keputusan terhadap 54 kasus dari
berbagai instansi pusat maupun daerah.
Dari 54 kasus PNS tersebut, Bapek mengabulkan 38 kasus
untuk diberhentikan, baik dengan hormat, tidak dengan
hormat, maupun pemberhentian atas permintaan sendiri.
Adapun kasus lainnya, ada yang ditunda, ada juga yang
diringankan dari pemberhentian dengan hormat tidak atas
permintaan sendiri (PDHTAPS) menjadi turun pangkat

Lampiran | 65
dan lain-lain.
"Namun untuk kasus pelanggaran akibat tidak masuk kerja,
semuanya tetap diberhentikan. Misalnya, yang semula
diputuskan pemberhentian tidak dengan hormat, menjadi
pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan
sendiri," kata Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
dan Reformasi Birokrasi Azwar Abubakar.
Azwar menambahkan, meskipun sudah diputus oleh
PPK dan BAPEK, PNS masih punya kesempatan untuk
melakukan banding ke Pengadilan Tata Usaha Negara
(PTUN), sekiranya tidak puas dengan keputusan tingkat
pertama dan kedua. (dru/dnl)
6. Link :
http://www.tempo.co/read/news/2012/03/02/177387605/
Sering-Membolos-4-Pegawai-Negeri-Brebes-dipecat
Sering Membolos, 4 Pegawai Negeri Brebes dipecat
Jum'at, 02 Maret 2012 | 14:10 WIB
TEMPO/ ADITYA HERLAMBANG PUTRA
TEMPO.CO, Brebes - Sebanyak empat pegawai negeri
sipil (PNS) di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dipecat.
Sementara tujuh lainnya mendapat sanksi non job atau
pembebasan tugas dari jabatan. Sanksi tegas itu dikeluarkan
Bupati Brebes Agung Widiyantoro karena mereka telah
melakukan pelanggaran berat. “Mereka terlibat tindak
kriminal dan mangkir kerja selama 40 hari. Ini pelanggaran
berat. Sebagai PNS seharusnya memberi contoh yang baik,”
ujar Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten
Brebes, Athoilah, Jumat 2 Maret 2012. Pemecatan dan
pemberian sanksi ini terkait dengan aduan masyarakat dan
mengacu Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010
tentang disiplin PNS. Selain dipecat dan dibebastugaskan,
BKD Brebes telah menurunkan empat PNS dari jabatan
selama tiga tahun akibat pelanggaran sedang. “Ini sebagai

66 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


bukti keseriusan kami dalam penanganan disiplin PNS di
lingkungan pemerintah daerah,” ujar Atholilah.
Kepala Inspektorat Daerah Kabupaten Brebes, Wisnu
Broto, menyatakan kebijakan pemecatan ini terkait
dengan laporan dari Inspektorat Daerah Kabupaten Brebes
yang mengirimkan 23 nama PNS yang telah melakukan
pelanggaran. Dari jumlah tersebut sebanyak 15 kasus
pelanggaran bidang kepegawaian seperti tidak disiplin
serta tiga kasus tindakan pidana korupsi.
“Sedangkan sisanya masalah moral dan penyalahgunaan
wewenang,” ujar Wisnu Broto. Menurut dia, temuan
pelanggaran ini berdasarkan aduan dari masyarakat yang
jumlahnya mencapai 28 pengaduan, tapi setelah diteliti dan
dilakukan penelusuran lebih lanjut yang terbukti hanya 23
kasus. Wisnu meminta agar masyarakat terus berpartisipasi
untuk mengadukan bila mendapatkan temuan pelanggaran
PNS.
7. Link:
http://lampost.co/berita/2-pns-lampung-utara-dipecat-
dengan-tidak-hormat
2 PNS Lampung Utara Dipecat Dengan Tidak Hormat
2013-03-18 14:50:00
KOTABUMI (Lampost.co): Menurut data Inspektorat
Lampung Utara, Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang
dikenakan hukuman disiplin yang diputuskan pada 2013,
15 PNS terkena sanksi sesuai tingkat kesalahannya dan 2
PNS telah diberhentikan dengan tidak hormat.
Sekretaris Inspektorat Lampung Utara Nozi Efialis
mengatakan, pemberhentian itu sesuai Peraturan
Pemerintah (PP) Nomor 53 Tahun 2010, tentang disiplin
PNS.“PNS yang diberhentikan itu karena melanggar
disiplin pegawai merujuk PP Nomor 53 Tahun 2010, yakni
tidak masuk kerja lebih dari 46 hari selama setahun tanpa

Lampiran | 67
keterangan yang jelas,” kata Nozi.
Berdasarkan rekapitulasi, selain dua orang PNS yang
pemberhentian dengan tidak hormat, pihak inspektorat
juga telah menjatuhkan sangsi beragam bagi 15 PNS yang
melanggar aturan. Dengan rincian; teguran ringan secara
tertulis (3) PNS, penundaan kenaikan pangkat selama
setahun (8) dan pembebasan dari jabatan struktural (2).
Dilanjutkan pemindahan dalam rangka penurunan jabatan
setingkat lebih rendah (1) serta penundaan gaji berkala
selama setahun (1).
“Selain dua PNS yang diberhentikan, ada 15 PNS yang
telah dijatuhi sanksi beragam sesuai dengan tingkat
kesalahan yang dilakukan,” kata dia kembali.Sanksi yang
diputuskan tahun ini, merupakan kasus yang terjadi pada
2012 lalu. Pada 2013 sampai Maret, pihak inspektorat
masih menangani 8 kasus pelanggaran.
“Delapan kasus pelanggaran PNS masih dalam tahap
pemeriksaan yang dilakukan oleh tim kerja Inspektorat
untuk menetapkan jenis pelanggaran dan hukuman yang
akan diterapkan,” kata dia menambahkan. (YUD/L-4)
8. Link :
http://finance.detik.com/read/2012/02/29/145955/1854
624/4/ms-hidayat-tidak-boleh-pns-dan-pejabat-negara-
berbisnis
MS Hidayat: Tidak Boleh PNS dan Pejabat Negara
Berbisnis
Rabu, 29/02/2012 15:12 WIB
Suhendra - detikfinance
Jakarta - Menteri Perindustrian MS Hidayat punya
pandangan tersendiri soal apakah PNS dan pejabat negara
sebaiknya boleh berbisnis atau tidak saat masih aktif
bertugas.Berdasarkan pengalamannya, untuk menghindari
konflik kepentingan dan tak fokus, Hidayat menanggalkan

68 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


jabatan di perusahaanya ketika ditunjuk jadi pejabat negara.
"Pengusaha seperti saya ketika menjadi menteri diminta
melepaskan melepaskan semua jabatan di perusahaan,"
kata Hidayat kepada detikFinance, Rabu (29/2/2012).
Saat ini, lanjut Hidayat, sebagai menteri yang membawahi
suatu kementerian, ia juga fokus meminta kepada
bawahannya khususnya teras atas untuk tak berbisnis. "Ya
tentu saja menjadi concern kami. Tidak boleh PNS dan
Pejabat negara berbisnis," katanya.
Larangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk melakukan
bisnis di luar pekerjaannya memang sejak dua tahun lalu
sudah dicabut. Aturan yang dibuat pada zaman Presiden
Soeharto dulu sudah digantikan oleh PP 53/2010 pada
pemerintah Presiden SBY di 6 Juni 2010 tentang disiplin
PNS.
"Sudah tidak berlaku, soalnya PP 6 tahun 74 sudah dicabut
dan sekarang berlaku PP 53 tahun 2010," ungkap Direktur
Penyuluhan Pelayanan dan Humas Ditjen Pajak Dedi
Rudaedi.
Dedi mengungkapkan hal tersebut setelah dikonfirmasi
apakah pegawai pajak boleh berbisnis diluar pekerjaannya
atau tidak. Dedi memberikan data-data PP 6 tahun 1974
telah diperbarui menjadi PP 30 tahun 1980.
Dalam PP 30 tahun 1980 yang merupakan pengganti PP No
6 tahun 1974, pada pasal 3 ayat 1 tertuang larangan pegawai
yang dalam aturan itu mengatakan, untuk PNS golongan
III/d ke bawah diperbolehkan melakukan bisnis lain
tetapi harus seizin Menteri atau pejabat yang berwenang.
Sementara untuk golongan IV/a, tidak diizinkan sama
sekali untuk membuka usaha lain.
Serta, PNS golongan ruang III/d ke bawah, serta istri
dari PNS wajib mendapat izin tertulis dari Pejabat Yang
Berwenang apabila memiliki Perusahaan Swasta atau

Lampiran | 69
melakukan kegiatan usaha dagang.
(hen/dnl).

B. Dari Sumber Video/Visual


1. Wani Piro (Pasti Beres)
http://www.youtube.com/watch?v=Kl90PJDhtic
2. Conflict of Interest
http://www.youtube.com/watch?v=xnRpMQvW_ow
3. Masyarakat Peduli Pelayanan Publik http://www.youtube.
com/watch?v=GbySZUFJ8yQ
4. Etika Administrasi Akuntabilitas Pejabat Negara
http://www.youtube.com/watch?v=zfiqrgINaIE
5. Good Teamwork And Bad Teamwork
http://www.youtube.com/watch?v=fUXdrl9ch_Q
6. Jaga Netralitas Pns, Panwaslu Bekerjasama Dengan BKD
http://www.youtube.com/watch?v=OT3AcE5iO4Y
7. Snowball of Accountability
http://www.youtube.com/watch?v=Ep_1nluEkiY
8. Strengthening the Culture of Accountability, Transparency,
and Risk Management
http://www.youtube.com/watch?v=3pzQZKx5p2g
9. DPR Minta Pemerintah Tetap Jaga Netralitas Pns
http://www.youtube.com/watch?v=EER0OKQ1cJY
10. TNI dan Politik, NETRAL
http://www.youtube.com/watch?v=Vypac4_mP8I
11. Thinking like a Policy Analyst
http://www.youtube.com/watch?v=Xj0WHlawk4g

70 | Modul Diklat Prajabatan Golongan III - Akuntabilitas Publik


12. Beckie Mann Policy Analyst
http://www.youtube.com/watch?v=v1K5_ZnRarw

Lampiran | 71
ISBN: 978-602-7594-12-8