Anda di halaman 1dari 17

SATUAN ACARA PEMBELAJARAN

KONSEP PENUAAN (AGING PROCESS)

Tema : Proses Menua (aging proses)


Sasaran : Mahasiswa SI Keperawatan UAP
Hari / Tanggal : Sabtu, Desember 2019
Waktu : 09.00-09.30 WIB
Tempat : Ruang Kelas SI Keperawatan
Pengajar : Imran Hanif

A. Tujuan Instruksional Umum


Setelah diberikan materi tentang teori proses penuaan selama 1 x 45 menit
diharapkan mahasiswa dapat memahami tentang Proses Menua (aging proses)

B. Tujuan Instruksional Khusus


1. Mahasiswa mampu memahami pengertian Proses Penuaan
2. Mahasiswa mampu memahami tentang beberapa Teori Penuaan secara
Biologis
3. Mahasiswa mampu memahami tentang beberapa Teori Penuaan Secara
Psikososiologi

C. Sasaran
Adapun sasaran dari pembelajaran ini adalah mahasiswa SI Keperawatan
UAP.

D. Materi (terlampir)
1. Pengertian Penuaan (aging proses)
2. Teori – Teori Penuaan

E. Media
1. Power Point
2. LCD

F. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Evaluasi

1
G. Kegiatan Penyuluhan
NO. TAHAP KEGIATAN KEGIATAN PESERTA
1. Pembukaan  Mengucapkan salam  Menjawab salam
( 5 menit )  Memperkenalkan diri  Mendengarkan
 Menjelaskan tujuan
pendidikan kesehatan
2. Pelaksanaan  Menjelaskan materi  Mendengarkan
( 20 menit )  Mahasiswa memperhatikan  Bertanya
penjelasan tentang penyakit
Teori- teori Penuaan
 Mahasiswa menanyakan
tentang hal-hal yang belum
jelas
3. Penutup  Menyimpulkan materi  Mendengarkan
( 20 menit )  Mengevaluasi Mahasiswa  Menjawab salam
tentang materi yang telah
diberikan (Quis).
 Mengakhiri pertemuan

H. Evaluasi
Menanyakan kembali tentang materi yang dijelaskan pada mahasiswa
tentang:
a. Teori biologis dan macam-macam teori yang ada
didalamnya.
b. Teori psikososial dan macam-macm teori yang ada
didalamnya.

2
MATERI PEMBELAJARAN

A. Definisi Penuaan

Menua (aging) adalah proses menghilangnya secara

perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/

mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi

normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap jejas

(termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang

diderita (Constantinides, 1994)

Penuaan adalah konsekuensi yang tidak dapat

dihindarkan. Menua (menjadi tua) adalah suatu proses

menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan

untuk memeperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi

normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan

memperbaiki kerusakan yang diderita (Constantindes, 1994)

Proses menua bukan merupakan suatu penyakit,

melainkan suatu masa atau tahap hidup manusia, yaitu; bayi,

kanak-kanak, dewasa, tua, dan lanjut usia. Orang mati bukan

3
karena lanjut usia tetapi karena suatu penyakit, atau juga suatu

kecacatan. Akan tetapi proses menua dapat menyebabkan

berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan

dari dalam maupun dari luar tubuh. Walaupun demikian,

memang harus diakui bahwa ada berbagai penyakit yang sering

menghinggapi kaum lanjut usia.

Proses menua sudah mulai berlangsung sejak seseorang

mencapai usia dewasa. Misalnya dengan terjadinya kehilangan

jaringan pada otot, susunan saraf, dan jaringan lain sehingga

tubuh mati sedikit demi sedikit. Sebenarnya tidak ada batas yang

tegas, pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun.

Pada setiap orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat

berbeda, baik dalam hal pencapain puncak maupun menurunnya

B. Teori-Teori Penuaan

1. Teori Biologis

Teori biologis mencoba untuk menjelaskan proses fisik

penuaan, termasuk perubahan fungsi dan struktur,

pengembangan, panjang usia dan kematian. Perubahan-

perubahan dalam tubuh termasuk perubahan molekular dan

seluler dalam sistem organ utama dan kemampuan tubuh untuk

berfungsi secara adekuat dan melawan penyakit. Seiring dengan

brekembangnya kemampuan kita untuk menyelidiki komponen-

komponen yang kecil dan sangat kecil, suatu pemahaman

tantang hubungan hal-hal yang memengaruhi penuaan ataupun

4
tentang penyebab penuaan yang sebelumnya tidak diketahui,

sekarang telah mengalami peningkatan.

Walaupun bukan suatu definisi penuaan, tetapi lima

karakteristik penuaan telah dapat diidentifikasi oleh para ahli.

Teori biologis juga mencoba untuk menjelaskan mengapa orang

mengalami penuaan dengan cara berbeda dari waktu kewaktu

dan faktor apa yang memengaruhi umur panjang, perlawanan

terhadap organisme, dan kematian atau perubahan seluler. Suatu

pemahaman tentang perspektif biologi dapat memberikan

pengetahuan kepada perawat tentang faktor resiko spesifik

dihubungkan dengan penuaan dan bagaimana orang dapat

dibantu untuk meminimalkan atau menghindari resiko dan

memaksimalkan kesehatan.

a. Teori Radikal Bebas

Radikal bebas adalah produk metabolisme seluler yang

merupakan bagian molekul yang sangat reaktif. Molekul ini

memiliki muatan ekstraseluler kuat yang dapat menciptakan

reaksi dengan protein, mengibah bentuk dan sifatnya, molekul ini

juga dapat bereaksi dengan lipid yang berada dalam membran

sel, mempengaruhi permeabilitasnya atau dapat berikatan

dengan organel sel. Teori ini menyatakan bahwa penuaan

disebabkan karena terjadinya akumulasi kerusakan irreversibel

akibat senyawa pengoksidasi. Dimana radikal bebas dapat

terbentuk dialam, tidak stabilnya radikal bebas mengakibatkan

oksidasi bahan-bahan organik seperti karbohidrat dan protein.

5
b. Teori Genetika

Teori sebab akibat menjelaskan bahwa penuaan terutama

disebabkan oleh pembentukan gen dan dampak lingkungan pada

pembentukan kode genetik. Menurut teori genetike, penuaan

adalah suatu proses yang secara tidak sadar diwariskan yang

berjalan dari waktu ke waktu untuk mengubah sel atau struktur

jaringan. Dengan kata lain, perubahan rentang hidup dan

panjang usia telah ditentukan sebelumnya. Teori genetika terdiri

dari teori asam deoksiribonukleat (DNA), teori krtepatan dan

kesalahan, mutasi somatik, dan teori glikogen. Teori-teori ini

menyatakan bahwa proses replikasi pada tingkatan seluler

menjadi tidak terartur karena adanya informasi tidak sesuai yang

diberikan dari inti sel. Molekul DNA menjadi bersilangan

(crosslink) denga unsur yang lain sehingga mengubah informasi

genetik. Adanya crosslink ini mengakibatkan kesalahan pada

tingkat seluler yang akhirnya mengakibatkan sistem dan organ

tubuh gagal untuk berfungsi. Bukti yang mendukung teori-teori

ini termasuk perkembangan radikal bebas, kolagen, dan

lipofusin. Selain itu, peningkatan frekuensi kanker dan penyakit

autoimun yang dihubungkan dengan bertambahnya umur

menyatakan bahwa mutasi atau kesalahan terjadi pada tingkat

molekular dan selular.

c. Teori Cross Link

Teori crosslink dan jaringan ikat menyatakan bahwa

molekul kolagen dan elastin, komponen jaringan ikat,

6
membentuk senyawa yang lama meningkatkan rigiditas sel,

crosslink diperkirakan akibat reaksi kimia yang menimbulkan

aenyawa antara molekul-molekul yang normalnya terpisah atau

secara singkatnya sel-sel tua atau usang, reaksi kimianya

menyebakan kurang elastis dan hilangnya fungsi. Contoh

crosslink jaringan ikat terkait usia meliputi penurunan kekuatan

daya rentang dinding arteri, tanggalnya gigi, tendon kering dan

berserat.

d. Teori Wear and Tear

Teori ini mengusulkan bahwa akumulasi sampah metabolik

atau zat nutrisi dapat merusak sintesis DNA, sehingga

mendorong malfungsi molekular dan akhirnya malfungsi organ

tubuh. Pendukung teori ini percaya bahwa tubuh akan

mengalami kerusakan berdasarkan suatu jadwal.

Radikal bebas adalah contoh dari produk sampah

metabolisme yang menyebabkan kerusakan ketika akumulasi

terjadi. Radikal bebas dengan cepat dihancurkan oleh sistem

enzim pelindung pada kondisi normal. Beberapa radikal bebas

berhasil lolos dari proses perusakan ini dan berakumulasi

didalam struktur biologis yang penting, saat itu kerusakan organ

terjadi.

Karena laju metabolisme terkait secara langsung pada

pembentukan radikal bebas, sehingga ilmuwan memiliki

hipotesis bahwa tingkat kecepatan produksi radikal bebas

berhubungan dengan penentuan waktu rentang hidup.

7
Pembatasan kalori dan efeknya pada perpanjangan rentang

hidup mungkin berdasarkan pada teori ini. Pembatasan kalori

telah terbukti dapat meningkatkan masa hidup pada tikus

percobaan. Sepanjang masa hidup, tikus-tikus tersebut telah

mengalami penurunan angka kejadian kemunduran fungsional,

dan mengalami lebih sedikit kondisi penyakit yang berkaitan

dengan peningkatan umur, berkurangnya kemunduran fungsional

tubuh, dan menurunnya insidensi penyakit yang berhubungan

dengan penuaan.

e. Teori Imunitas

Teori imunitas menggambarkan suatu kemunduran dalam

sistem imun yang berhubungan dengan penuaan. Ketika orang

bertambah tua, pertahanan mereka terhadap organisme asing

mengalami penurunan, sehingga mereka lebih rentan untuk

menderita berbagai penyakit seperti kanker dan infeksi. Seiring

dengan berkurangnya fungsi sistem imun, terjadilah peningkatan

dalam respons autoimun tubuh. Ketika orang mengalami

penuaan, mereka mungkin mengalami penyakit autoimun seperti

artritis reumaoid dan alergi terhadap makanan dan faktor

lingkungan yang lain.

Penganjur teori ini sering memusatkan pada peran kelenjar

timus. Berat dan ukuran kelenjar timus menurun seiring dengan

bertambahnya umur, seperti halnya kemampuan tubuh untuk

diferensiasi sel T. karena hilangnya diferensiasi sel T, tubuh salah

mengenali sel yang tua dan tidak beraturan sebagai benda asing

8
dan menyerangnya. Pentingnya pendekatan pemeliharaan

kesehatan, pencegahan penyakit, dan promosi kesehatan

terhadap npelayanan kesehatan, terutama pada saat penuaan

terjadi tidak dapat diabaikan. Walaupun semua orang

memerlukan pemeriksaan rutin untuk memastikan deteksi dini

dan perawatan seawal mungkin, tetapi pada orang lanjut usia

kegagalan melindungi sistem imun yang telah mengalami

penuaan melalui pemeriksaan kesehatan ini dapat mendorong ke

arah kematian awal dan tidak terduga. Selain itu, program

imunisasi secara nasional untuk mencegah kejadian dan

penyebaran epidemi penyaki, seperti pneumonia dan influenza

diantara orang lanjut usia juga mendukung dasar teoritis praktik

keperawatan.

f. Teori Neuroendokrin

Diskusi sebelumnya tentang kelenjar timus dan sistem

imun serta interaksi antara sistem saraf dan sistem endokrin

menghasilkan persamaan yang luar biasa. Pada kasus

selanjutnya para ahli telah memikirkan bahwa penuaan terjadi

oleh karena adanya suatu perlambatan dalam sekresi hormon

tertentu yang mempunyai suatu dampak pada reaksi yang diatur

oleh sistem saraf. Hal ini lebih jelas ditunjukkan dalam kelenjar

hipofisis, tiroid, adrenal, dan reproduksi.

Salah satu area neurologis yang mengalami gangguan

secara universal akibat penuaan adalah waktu reaksi yang

diperlukan untuk menerima, memproses, dan bereaksi terhadap

9
perintah. Dikenal sebagai perlambatan tingkah laku, respon ini

kadang-kadang diinterpretasikan sebagai tindakan melawan,

ketulian, atau kurangnya pengetahuan. Pada umumnya,

sebenarnya yang terjadi bukan satupun dari hal-hal tersebut,

tetapi orang lanjut usia sering dibuat untuk merasa seolah-olah

mereka tidak kooperatif atau tidak patuh. Perawat dapat

memfasilitasi proses pemberian perawatan dengan cara

memperlambat instruksi dan menunggu respon mereka.

g. Riwayat Lingkungan

Menurut teori ini, faktor-faktor di dalam lingkungan

(misalnya karsinogen dari industri, cahaya matahari, trauma dan

infeksi) dapat membawa perubahan dalam proses penuaan.

Walaupun faktor-faktor ini diketahui dapat mempercepat

penuaan, dampak dari lingkungan lebih merupakan dampak

sekunder dan bukan merupakan faktor utama dalam penuaan.

Perawat dapat mempunyai pengetahuan yang mendalam

tentang dampak dari aspek ini terhadap penuaan dengan cara

mendidik semua kelompok umur tentang hubungan antara faktor

lingkungan dan penuaan yang dipercepat. Ilmu pengetahuan

baru mulai untuk mengungkap berbagai faktor lingkungan yang

dapat memengaruhi penuaan.

2. Teori Psikososiologis

Teori psikososialogis memusatkan perhatian pada

perubahan sikap dan perilaku yang menyertai peningkatan usia,

10
sebagai lawan dari implikasi biologi pada kerusakan anatomis.

Untuk tujuan pembahasan ini, perubahan sosiologis atau nonfisik

dikombinasikan dengan perubahan psikologis.

Masing-masing individu, muda, setengah baya, atau tua

adalah unik dan memiliki pengalaman, melalui serangkaian

kejadian dalam kehidupan, dan melalui banyak peristiwa. Salama

40 tahun terakhir, beberapa teori telah berupaya untuk

menggambarkan bagaimana perilaku dan sikap pada awal tahap

kehidupan dapat memengaruhi reaksi manusia sepanjang tahap

akhir hidupnya. Pekerjaan ini disebut proses “penuaan yang

sukses” contoh dari teori ini termasuk teori kepribadian.

a. Teori Kepribadian

Kepribadian manusia adalah suatu wilayah pertumbuhan

yang subur dalam tahun-tahun akhir kehidupannya yang telah

merangsang penelitian yang pantas dipertimbangkan. Teori

kepribadian menyebutkan aspek-aspek pertumbuhan psikologis

tanpa menggambarkan harapan atau tugas spesifik lansia. Jung

mengembangkan suatu teori pengembangan kepribadian orang

dewasa yang memandang kepribadian sebagai ektrovert atau

introvert ia berteori bahwa keseimbangan antara keddua hal

tersebut adalah penting kesehatan. Didalam konsep intoritas dari

Jung, separuh kehidupan manusia berikutnya digambarkan

dengan memeiliki tujuannya sendiri yaitu untuk

mengembangkan kesadaran diri sendiri melalui aktivitas yang

dapat merefleksikan diri sendiri.

11
b. Teori Tugas Perkembangan

Beberapa ahli teori sudah menguraikan proses maturasi

dalam kaitannya dengan tugas yang harus dikuasai pada tahap

sepanjang rentang hidup manusia. Hasil penelitian Ericson

mungkin teori terbaik yang dikenal dalam bidang ini. Tugas

perkembangan adalah aktivitas dan tantangan yang harus

dipenuhi oleh seseorang pada tahap-tahap spesifik dalam

hidupnya untuk mencapai penuaan yang sukses. Erickson

menguraikan tugas utama lansia adalah mampu melihat

kehidupan seseorang sebagai kehidupan yang dijalani dengan

integritas. Pada kondisis tidak adanya pencapaian perasaan

bahwa ia telah menikmati kehidupan yang baik, maka lansia

tersebut beresiko untuk disibukkan dengan rasa penyesalan atau

putus asa. Minat yang terbaru dalam konsep ini sedang terjadi

pada saat ahli gerontologi dan perawat gerontologi memeriksa

kembali tugas perkembanagn lansia.

c. Teori Disengagement

Teori disengagement (teori pemutusan hubungan),

dikembangkan pertama kali pada awal tahun 1960-an,

menggambarkan proses penarikan diri oleh lansia dari peran

bermasyarakat dan tanggung jawabnya. Menurut ahli teori ini,

proses penarikan diri ini dapat diprediksi, sistematis, tidak dapat

dihindari, dan penting untuk fungsi yang tepat dari masyarakat

yang sedang tumbuh. Lansia dikatakan bahagia apabila kontak

12
sosial telah berkurang dan tanggung jawab telah diambil oleh

generasi yang lebih muda. Manfaat pengurangan kontak sosial

bagi lansia adalah agar ia dapat menyediakan waktu untuk

merefleksikan pencapaian hidupnya dan untuk menghadapi

harapan yang tidak terpenuhi, sedangkan manfaatnya bagi

masyarakat adalah dalam rangka memindahkan kekuasaan

generasi tua pada generasi muda.

Teori ini banyak menimbulkan kontroversi, sebagian karena

penelitian ini dipandang cacat dan karena banyak lansia yang

menentang “postulat” yang dibangkitkan oleh teori untuk

menjelaskan apa yang terjadi didalam pemutusan ikatan atau

hubungan. Sebagai contoh, dibawah kerangka kerja teori ini,

pensiun wajib menjadi kebijakan sosial yang harus diterima.

Dengan meningkatnya rentang waktu kehidupan alami, pensiun

pada usia 65 tahun berarti bahwa seorang lanjut usia yang sehat

dapat berharap untuk hidup 20 yahun lagi. Bagi banyak individu

yang sehat dan produktif, prospek diri suatu langkah yang lebih

lambat dan tanggung jawab yang lebih sedikit merupakan hal

yang tidak diinginkan. Jelasnya, banyak lansia dapat terus

menjadi anggota masyarakat produktif yang baik sampai mereka

berusia 80 sampai 90 tahun.

d. Teori Aktivitas

Lawan langsung dari teori disengagement adalah teori

aktivitas penuaan, yang berpendapat bahwa jalan menuju

penuaan yang sukses adalah dengan cara tetap aktif. Havighurst

13
yang pertama menulis tentang pentingnya tetap aktif secara

sosial sebagai alat untuk penyesuaian diri yang sehat untuk

lansia pada tahun 1952. Sejak saat itu, berbagai penelitian telah

memvalidasi hubungan positif antara mempertahankan interaksi

yang penuh arti dengan oranglain dan kesejahteraan fisik dan

mental orang tersebut. Gagasan pemenuhan kebutuhan

seseorang harus seimbang dengan pentingnya perasaan

dibutuhkan oleh orang lain. Kesempatan untuk turut berperan

dengan cara yang penuh arti bagi kehidupan seseorang yang

penting bagi dirinya adalah suatu komponen kesejahteraan yang

penting bagi lansia. Penelitian menunjukkan bahwa hilangnya

fungsi peran pada lansia secara negatif memengaruhi kepuasan

hidup. Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan pentingnya

aktivitas mental dan fisik yang berkesinambungan untuk

mencegah kehilangan dan pemeliharaan kesehatan sepanjang

masa kehidupan manusia.

e. Teori Kontinuitas

Teori kontinuitas, juga di kenal sebagai suatu teori

perkembangan, merupakan suatu kelanjutan dari dua teori

sebelumnya dan mencoba untuk menjelaskan dampak

kepribadian pada kebutuhan untuk tetap aktif atau memisahkan

diri agar mencapai kebahagiaan dan terpenuhinya kebutuhan di

usia tua. Teori ini menekankan pada kemampuan koping individu

sebelumnya dan kepribadian sebagai dasar untuk memprediksi

bagaimana seseorang akan dapat menyesuaikan diri terhadap

14
perubahan akibat penuaan. Ciri kepribadian dasar dikatakan

tetap tidak berubah walaupun usianya telah lanjut. Selanjutnya,

ciri kepribadian secara khas menjadi lebih jelas pada saat orang

tersebut bertambah tua. Seseorang yang menikmati bergabung

dengan orang lain dan memiliki kehidupan sosial yang aktif akan

terus menikmati gaya hidupnya ini sampai usianya lanjut. Orang

yang menyukai kesendirian dan memiliki jumlah aktivitas yang

terbatas mungkin akan menemukan kepuasan dalam

melanjutkan gaya hidupnya ini. Lansia yang terbiasa memiliki

kendali dalam membuat keputusan mereka sendiri tidak akan

dengan mudah menyerahkan peran ini hanya karena usia

mereka yang telah lanjut. Selain itu, individu yang telah

melakukan manipulasi atau abrasi dalam interaksi interpersonal

mereka selama masa mudanya tidak akan tiba-tiba

mengembangkan suatu pendekatan yang berbeda didalam masa

akhir krhidupannya.

Ketika perubahan gaya hidup dibebankan pada lansia oleh

perubahan sosial-ekonomi atau faktor kesehatan, permasalahan

mungkin akan timbul. Kepribadian yang tetap tidak diketahui

selama pertemuan atau kunjungan singkat kadang-kadang dapat

menjadi fokal dan juga menjadi sumber kejengkelan ketika

situasi mengharuskan adanya suatu perubahan didalam

pengaturan tempat tinggal. Keluarga yang berhadapan dengan

keputusan yang sulit tentang perubahan pengaturan tempat

tinggal untuk seorang lansia sering memerlukan banyak

dukungan. Suatu pemahaman tentang pola kepribadian lansia

15
sebelumnya dapat memberikan pengertian yang lebih diperlukan

dalam proses pengambilan keputusan ini.

DAFTAR PUSTAKA

Pringgoutumo, dkk. 2002. Buku Ajar Patologi 1 (umum), Edisi 1.


Jakarta. Sagung Seto.

Sutisna Hilawan (1992), Patologi. Jakarta, Bagian Patologi Anatomi


FKUI.

Gunawan S, Nardho, Dr, MPH, 1995, Upaya Kesehatan Usia Lanjut.


Jakarta: Dep Kes R.I.

LAMPIRAN SOAL

Petunjuk soal:
1. Jawablah soal sesuai dengan pemahaman mahasiswa tentang materi yang
disampaikan.
2. Waktu mengerjakan soal 15 menit.
3. Mahasiswa yang tidak mengikuti/mengerjakan quis dinyatakan tidak lulus
pada materi ini.

Soal:

16
1. Sebutkan Teori teori Biologis pada proses Penuaan yang kalian ketahui,
Jelaskan !
2. Sebutkan Teori toeri Psikososiologis pada proses Penuaan yang kalian
ketahui, Jelaskan !

17