Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

MUTIARA KEGIATAN WIRAUSAHA MENURUT ISLAM

NAMA : EKA FITRIANI

STAMBUK : B 101 17 0

MATA KULIAH : KEWIRAUSAHAAN

KELAS : A

PRODI ILMU ADMINISTRASI PUBLIK

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS TADULAKO

2019
KATA PENGANTAR

ssalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya kami tidak
akan sanggup untuk menyelesaikan makalah ini dengan baik. Shalawat serta salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta kita yaitu Nabi Muhammad SAW yang kita nanti-
natikan syafa’atnya di akhirat nanti.

Penulis mengucapkan syukur kepada Allah SWT atas limpahan nikmat sehat-Nya, baik itu
berupa sehat fisik maupun akal pikiran, sehingga penulis mampu untuk menyelesaikan
pembuatan makalah sebagai tugas dari mata kuliah Kewirausahaan judul “Mutiara Kegiatan
Wirausaha Menurut Islam”.

Penulis tentu menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak
terdapat kesalahan serta kekurangan di dalamnya. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik serta
saran dari pembaca untuk makalah ini, supaya makalah ini nantinya dapat menjadi makalah yang
lebih baik lagi. Kemudian apabila terdapat banyak kesalahan pada makalah ini penulis mohon
maaf yang sebesar-besarnya.

Demikian, semoga makalah ini dapat bermanfaat. Terima kasih.

Palu, 19 November 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................................

DAFTAR ISI...................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ...............................................................................................

A. Latar Belakang ....................................................................................................


B. Rumusan Masalah ...............................................................................................
C. Tujuan Penulisan .................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................

A. Kegiatan Kewirausahaan di bidang Perdagangan Menurut Pandangan Islam ....


B. Perintah Kerja Keras ...........................................................................................
C. Manajemen Utang Piutang ..................................................................................
D. Membina Tenaga Kerja Bawahan .......................................................................

BAB III PENUTUP ........................................................................................................

A. Kesimpulan .........................................................................................................
B. Saran ...................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ajaran Islam mencakup seluruh aspek kehidupan manusia sebagaimana firman Allah Swt
(artinya) : Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam sebagai agama bagimu. (QS. Al-Maidah 5 : 3).
Oleh karenanya Islam adalah sebuah aturan, norma, pola hidup yang melingkupi kehidupan
manusia dan menjadi pedoman dalam mengarungi kehidupannya yang selanjutnya pedoman itu
dijabarkan dalam fiqih Islam. Sedang fiqih itu sendiri adalah suatu pola hidup yang ditawarkan
Islam dalam bentuk pemahaman secara mendalam terhadap hukum dan ketentuan Allah untuk
diaplikasikan dalam kehidupan manusia.
Adapun kewirausahaan dalam disiplin ilmu fiqh merupakan bagian pembahasan mu'amalah.
Sedangkan perdagangan adalah bahagian dari kegiatan kewirausahaan. Bila kita berbicara
tentang kewirausahaan menurut pandangan Islam, maka rambu-rambu yang harus diperhatikan
dalam kegiatan ini adalah teori-teori yang telah di gambarkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah
sebagai norma dan etika dalam berwirausaha khususnya dalam perdagangan.
Jual beli adalah interaksi antara si penjual dan pembeli. Di setiap interaksi, kerap kali kita jumpai
terjadinya kesenjangan dan permasalahan sosial. Karenanya, kedua belah pihak (penjual dan
pembeli) haruslah jeli memperhatikan setiap permasalaha tersebut. Sehingga keduanya bersifat
antisipatif untuk mencegah polemik yang timbul diakibatkan oleh permasalahan yang terjadi
dalam proses jual beli.
Selanjutnya, dalam jual beli juga ada istilah ‘Khiyar’ yang artinya pembatalan jual beli
(ruju’), dengan catatan : sipenjual dan pembeli harus mengetahui adanya sebab-sebab tertentu
yang membolehkan khiyar itersebut, sehingga tidak ada pihak yang merasa di rugikan. Didalam
fiqih mu’amalah, permasalahan jual beli dan syarat-syarat khiyar di bahas secara tuntas dan
gamblang. Oleh sebab itu, seyogyanya pedagang harus memperhatikan dan memahami hal-hal
yang terkait dengan permasalahan jual beli serta syarat-syarat khiyar tersebut.
Islam juga mengajarkan bagaimana manusia itu giat dalam menjalani aktifitas dan semangat
bekerja keras untuk mencari nafkah dan menjawab kebutuhan sehari-hari. Allah SWT, menyeru
manusia untuk bertebaran di muka bumi untuk menuntut karunia Allah, dalam hal ini maksudnya
adalah rezki Allah. Bahkan Rasulullah pun sangat menganjurkan kepada ummatnya untuk giat
dalam bekerja. Tidak sedikit hadits Rasulullah yang menegaskan tentang hal itu.
Untuk selengkapnya, mari kita cermati paparan isi makalah ini. Bagaimana etika dalam
berdagang, motif perdagangan, sifat-sifat yang harus dimiliki oleh para pedagang, etios kerja
seorang muslim (tentang perintah kerja keras), konsep hutang piutang, serta anjuran kepada
pimpinan untuk membina baeahannya.
B. Rumusan Masalah
1. Kegiatan Kewirausahaan di bidang Perdagangan Menurut Pandangan Islam
2. Perintah Kerja Keras
3. Manajemen Utang Piutang
4. Membina Tenaga Kerja Bawahan

C. Tujuan
Untuk mengetahui Kegiatan Kewirausahaan di bidang Perdagangan Menurut Pandangan
Islam, Perintah Kerja Keras, Manajemen Utang Piutang dan Membina Tenaga Kerja
Bawahan
BAB II
PEMBAHASAN

MUTIARA KEWIRAUSAHAAN MELALUI ISLAM


A. Kegiatan Kewirausahaan di bidang Perdagangan Menurut Pandangan Islam
Berwirausaha memberi peluang kepada orang lain untuk berbuat baik dengan cara
memberikan pelayanan yang cepat, membantu kemudahan bagi orang yang berbelanja,
memberi potongan, dll. Perbuatan baik akan selalu menenangkan pikiran yang kemudian akan
turut membantu kesehatan jasmani. Hal ini seperti yang diungkapkan dalam buku The
Healing Brain yang menyatakan bahwa fungsi utama otak bukanlah untuk berfikir, tetapi
untuk mengembaliakn kesehatan tubuh. Vitalitas otak dalam menjaga kesehatan banyak
dipengaruhi oleh frekwensi perbuatan baik. Dan aspek kerja otak yang paling utama adalah
bergaul, bermuamalah, bekerja sama, tolong menolong, dan kegiatan komunikasi dengan
orang lain.
Islam memang tidak memberikan penjelasan secara eksplisit terkait konsep tentang
kewirausahaan ini, namun di antara keduanya mempunyai kaitan yang cukup erat, memiliki
ruh atau jiwa yang sangat dekat, meskipun bahasa teknis yang digunakan berbeda.
Dalam sejarahnya Nabi Muhammad, istrinya dan sebagian besar sahabatnya adalah
para pedagang mancanegara yang piawai. Beliau adalah praktisi ekonomi dan sosok tauladan
bagi umat. Islam adalah agama kaum pedagang, disebarkan ke seluruh dunia setidaknya
sampai abad ke -13 M, oleh para pedagang muslim.
Dari aktivitas perdagangan yang dilakukan, Nabi dan sebagian besar sahabat telah
merubah pandangan dunia bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada kebangsawanan
darah, tidak pula pada jabatan yang tinggi, atau uang yang banyak, melainkan pada pekerjaan.
Oleh karena itu, Nabi juga bersabda “Innallaha yuhibbul muhtarif” (sesungguhnya Allah
sangat mencintai orang yang bekerja untuk mendapatkan penghasilan). Umar Ibnu Khattab
mengatakan sebaliknya bahwa, “Aku benci salah seorang di antara kalian yang tidak mau
bekerja yang menyangkut urusan dunia.
Keberadaan Islam di Indonesia juga disebarkan oleh para pedagang. Di samping
menyebarkan ilmu agama, para pedagang ini juga mewariskan keahlian berdagang khususnya
kepada masyarakat pesisir. Di wilayah Pantura, misalnya, sebagian besar masyarakatnya
memiliki basis keagamaan yang kuat, kegiatan mengaji dan berbisnis sudah menjadi satu
istilah yang sangat akrab dan menyatu sehingga muncul istilah yang sangat
terkenaljigang (ngaji dan dagang). Sejarah juga mencatat sejumlah tokoh Islam terkenal yang
juga sebagai pengusaha tangguh, Abdul Ghani Aziz, Agus Dasaad, Djohan Soetan, Perpatih,
Jhohan Soelaiman, Haji Samanhudi, Haji Syamsuddin, Niti Semito, dan Rahman Tamin.
Apa yang tergambar di atas, setidaknya dapat menjadi bukti nyata bahwa etos bisnis
yang dimiliki oleh umat Islam sangatlah tinggi, atau dengan kata lain Islam dan berdagang
ibarat dua sisi dari satu keping mata uang. Benarlah apa yang disabdakan oleh
Nabi, “Hendaklah kamu berdagang karena di dalamnya terdapat 90 persen pintu rizki” (HR.
Ahmad).

a. Motif berwirausaha di bidang perdagangan :


1. Berdagang untuk cari untung.
Pekerjaan berdagang adalah sebagian dari pekerjaan bisnis yang sebagian besar bertujuan
untuk mencari laba sehingga seringkali untuk mencapainya dilakukan hal-hal yang tidak
baik. Padahal ini sangat dilarang dalam agama Islam. Seperti diungkapkan dalam hadis :
“ Allah mengasihi orang yang bermurah hati waktu menjual, waktu membeli, dan waktu
menagih piutang.” Pekerjaan berdagang masih dianggap sebagai suatu pekerjaan yang
rendahan karena biasanya berdagang dilakukan dengan penuh trik, penipuan,
ketidakjujuran. Penyelewengan seperti ini berdampak buruk kepada perdangan, padahal
perdangan adalah salah satu usaha dan pekerjaaan Rasulullah SAW.
2. Berdagang adalah Hobi
Konsep berdagang adalah hobi banyak dianut oleh para pedagang dari Cina. Mereka
menekuni kegiatan berdagang ini dengan sebaik-baiknya dengan melakukan berbagai
macam terobosan.Yaitu dengan open display (melakukan pajangan di halaman terbuka
untuk menarik minat orang),window display (melakukan pajangan di depan toko),interior
display (pajangan yang disusun didalam toko), danclose display (pajangan khusus barang-
barang berharga agar tidak dicuri oleh orang yang jahat).
3. Berdagang Adalah Ibadah
Bagi umat Islam berdagang lebih kepada bentuk Ibadah kepada Allah swt. Karena apapun
yang kita lakukan harus memiliki niat untuk beribadah agar mendapat berkah. Berdagang
dengan niat ini akan mempermudah jalan kita mendapatkan rezeki. Para pedagang dapat
mengambil barang dari tempat grosir dan menjual ditempatnya. Dengan demikian
masyarakat yang ada disekitarnya tidak perlu jauh untuk membeli barang yang sama.
Sehingga nantinya akan terbentuk patronage buying motive yaitu suatu motif berbelanja
ketoko tertentu saja.
4. Perdagangan Pekerjaan Mulia Dalam Islam
Pekerjaan berdagang ini mendapat tempat terhormat dalam ajaran Islam, seperti
disabdakan Rasul yang artinya : “Mata pencarian apakah yang paling baik, Ya
Rasulullah?”Jawab beliau: Ialah seseorang yang bekerja dengan tangannya sendiri dan
setiap jual beli yang bersih.” (HR. Al-Bazzar).
Dalam QS.Al-Baqarah:275 dijelaskan bahwa Allah swt telah menghalalkan kegiatan jual
beli dan mengharamkan riba. Kegiatan riba ini sangat merugikan karena membuat kegiatan
perdagangan tidak berkembang. Hal ini disebabkan karena uang dan modal hanya berputar
pada satu pihak saja yang akhirnya dapat mengeksploitasi masyarakat yang terdesak
kebutuhan hidup.
b. Sifat-sifat yang harus dimiliki pedagang
Dalam perdagangan, seorang pedagang berorientasi kepada laba yang akan diperoleh dari
hasil perdagangan. Akan tetapi pedagang juga harus memperhatikan beberapa etika dan
perilaku terpuji dalam Perdagangan.
Menurut Imam Ghazali, ada 8 sifat dan perilaku yang terpuji dalam perdagangan, yaitu :
1. Sifat Takwa, Tawakkal, Zikir, dan Syukur
Sifat ini harus dimiliki oleh wirausahawan karena dengan sifat-sifat itu kita akan diberi
kemudahan dalam menjalankan setiap usaha yang kita lakukan. Dengan adanya sifat takwa
maka kita akan diberi jalan keluar penyelesaian dari suatu masalah dan mendapat rizki
yang tidak disangka. Dengan sikap tawakkal, kita akan mengalami kemudahan dalam
menjalankan usaha walaupun usaha yang kita jalani memiliki banyak saingan. Dengan
bertakwa dan bertawakkal maka kita akan senantiasa berzikir untuk mengingat Allah dan
bersyukur sebagai ungkapan terima kasih atas segala kemudahan yang kita terima. Dengan
begitu, maka kita akan merasakan tenang dan melaksanakan segala usaha dengan kepala
dingin dan tidak stress.
2. Tidak mengambil laba lebih banyak.
Membayar harga yang sedikit lebih mahal kepada pedagang yang miskin. Memurahkan
harga dan memberi potongan kepada pembeli yang miskin sehingga akan melipatgandakan
pahala. Bila membayar hutang, maka bayarlah lebih cepat dari waktu yang telah
ditetapkan. Membatalkan jual beli bila pihak pembeli menginginkannya. Bila menjual
bahan pangan kepada orang miskin secara cicilan, maka jangan ditagih apabila orang
tersebut tidak mampu membayarnya dan membebaskan ia dari hutang apabila meninggal
dunia.
3. Jujur
Dalam suatu hadist diriwayatkan bahwa:”Kejujuran akan membawa ketenangan dan
ketidakjujuran akan menimbulkan keragu-raguan.”(HR. Tirmidzi). Jujur dalam segala
kegiatan yang berhubungan dengan orang lain maka akan membuat tenang lahir dan batin.
4. Niat Suci dan Ibadah
Bagi seorang muslim kegiatan bisnis senantiasa diniatkan untuk beribadah kepada Allah
sehingga hasil yang didapat nanti juga akan digunakan untuk kepentingan dijalan Allah.
5. Azzam dan bangun Lebih Pagi
Rasul saw mengajarkan agar kita berusaha mencari rezeki mulai pagi hari setelah shalat
subuh. Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa : ”Hai anakku, bangunlah!sambutlah rizki
dari Rabb-mu dan janganlah kamu tergolong orang yang lalai, karena sesungguhnya Allah
membagikan rizki manusia antara terbitnya fajar sampai menjelang terbitnya
matahari.”(HR. Baihaqi)
6. Toleransi
Sikap toleransi diperlukan dalam bisnis sehingga kita dapat menjadi pribadi bisnis yang
mudah bergaul, supel, fleksibel, toleransi terhadap langganan dan tidak kaku.
7. Berzakat dan Berinfak
Hadits Rasulullhah : Artinya :“Tidaklah harta itu akan berkurang karena disedekahkan dan
Allah tidak akan akan menambahkan orang yang suka memberi maaf kecuali kemuliaan.
Dan tidaklah seorang yang suka merendahkan diri karena Allah melainkan Allah akan
meninggikan derajatnya.”(HR. Muslim). Dalam hadist tersebut telah diungkapkan bahwa
dengan berzakat dan berinfak maka kita tidak akan miskin, melainkan Allah akan melipat
gandakan rizki kita. Dengan berzakat, hal itu juga akan membersihkan harta kita sehingga
harta yang kita peroleh memang benar-benar harta yang halal.
8. Silaturahmi
Dalam usaha, adanya seorang partner sangat dibutuhkan demi lancarnya usaha yang kita
lakukan. Silaturrahmi ini dapat mempererat ikatan kekeluargaan dan memberikan peluang-
peluang bisnis baru. Pentingnya silaturahmi ini juga dapat dilihat dari hadist berikut :
Artinya :”Siapa yang ingin murah rizkinya dan panjang umurnya, maka hendaklah ia
mempererat hubungan silaturahmi.”(HR. Bukhari)

c. Masalah-masalah yang berkaitan dengan jual beli:


1. Tas'ir: yaitu menentukan harga yang terbatas untuk komoditi, selama pemilik tidak
dizalimi dan pembeli tidak tercekik. Diharamkan tas'ir (penentuan harga) apabila
mengandung kezaliman kepada manusia, atau memaksa mereka dengan cara yang tidak
benar dengan sesuatu yang tidak mereka senangi, atau menghalangi mereka dari sesuatu
yang Allah SWT bolehkan untuk mereka. Boleh menentukan harga apabila tidak
sempurna kepentingan manusia (orang banyak) kecuali dengannya, seperti pemilik
komoditi tidak mau menjualnya kecuali dengan harga lebih, padahal orang banyak sangat
membutuhkannya. Maka ditentukan harga dengan nilai standar, tidak berbahaya dan tidak
membahayakan orang lain.
2. Ihtikar (monopoli): yaitu membeli komoditi dan menahannya supaya menjadi sedikit di
tengah-tengah manusia, lalu harganya menjadi naik. Ihtikar hukumnya haram, karena
mengandung sifat serakah, rakus dan mencekik manusia, dan barang siapa yang
melakukan ihtikar maka ia melakukan kesalahan.
3. Tawarruq: Apabila seseorang membutuhkan uang kontan dan ia tidak menemukan orang
yang memberikan pinjaman, maka ia boleh membeli suatu komoditi/barang secara
bertempo, kemudian ia menjualnya bukan kepada yang pertama dan mengambil manfaat
dengan harganya. Jual beli 'arbuun (uang muka): yaitu menjual suatu komoditi disertai
penyerahan uang dari pembeli kepada penjual, bahwa jika ia mengambil komoditi itu,
uang itu sudah termasuk harga, dan jika meninggalkannya, maka uang yang diserahkan
menjadi milik penjual, yang merupakan uang muka. Jual beli ini hukumnya boleh,
apabila dibatasi masa menunggu dengan masa yang sudah ditentukan.
d. Pembagian-pembagian khiyar:
Khiyar adalah pembatalan jual beli yang disebabkan oleh beberapa factor. khiyar terdiri
dari beberapa bagian, di antaranya adalah:
1. Khiyar majelis: dan ia ada pada jual beli, berdamai, sewa-menyewa, dan selainnya dari
penukaran yang tujuannya adalah harta. Ia adalah hak dua orang yang melakukan jual beli
secara bersamaan. Dan waktunya adalah dari saat transaksi sampai berpisah dengan
badan. Jika keduanya menggugurkannya, gugurlah ia. Jika salah satu dari keduanya
menggugurkannya, niscaya tersisa khiyar yang lain. Maka apabila keduanya berpisah,
terjadilah jual beli. Dan haram berpisah dari majelis karena takut ia mengundurkan diri.
2. Khiyar syarat: yaitu dua orang yang melakukan jual beli atau salah satunya mensyaratkan
khiyar hingga masa yang sudah diketahui, maka sah syarat itu, sekalipun lama. Masanya
dari saat transaksi hingga berakhirnya masa yang disyaratkan. Dan apabila berlalu masa
khiyar dan yang mensyaratkan tidak membatalkan penjualan, niscaya tetaplah jual beli.
Dan jika keduanya memutuskan khiyar saat masa itu, niscaya batalah, karena hak untuk
keduanya.
3. Khiyar perbedaan penjual dan pembeli: seperti jikalau keduanya berbeda pada kadar
harga, atau benda yang dijual, atau sifatnya, dan tidak ada saksi, maka ucapan adalah
ucapan penjual disertai sumpahnya, dan pemberi diberi pilihan antara menerima atau
membatalkan.
4. Khiyar 'aib: yaitu sesuatu yang mengurangi nilai yang dijual. Apabila (seseorang)
membeli suatu komoditi dan ia menemukan cacat padanya, maka boleh memilih (khiyar),
bisa jadi ia mengembalikannya dan mengambil harganya, atau menahannya dan
mengambil tambalan cacat itu. Maka dinilai komoditi yang tanpa cacat, kemudian dinilai
yang cacat dan ia mengambil perbedaan di antara keduanya. Dan jika keduanya berbeda
pendapat di sisi siapa terjadinya cacat itu seperti pincang (bagi binatang), dan rusaknya
makanan, maka ucapan (yang diterima adalah) ucapan penjual diserta sumpahnya, atau
keduanya saling mengembalikan.
5. Khiyar ghubn (penipuan, kecurangan): yaitu pembeli atau penjual melakukan
penipuan/kecurangan pada komoditi, kecurangan yang keluar dari kebiasaan atau 'uruf.
Hukumnya adalah haram. Apabila seseorang merasa dicurangi, maka ia mempunyai hak
khiyar di antara menahan dan membatalkan, seperti orang yang tertipu dengan orang
yang menghadap rombongan (yang mau memasuki pasar), atau tambahan orang yang
meninggikan harga (najisy) yang tidak ingin membeli, atau ia tidak mengetahui nilai dan
tidak pandai menawar dalam jual beli, maka ia mempunyai hak khiyar.
6. Khiyar tadlis (penyamaran): yaitu penjual menampakkan (memperlihatkan, memajang)
suatu komoditi dengan penampilan yang disenangi padanya, padahal ia kosong darinya.
seperti membiarkan laban (susu) di tetek (kambing, sapi, unta) saat menjual supaya
pembeli mengira banyak susunya, dan semisal yang demikian itu. Perbuatan ini
hukumnya haram. Maka apabila hal itu terjadi, maka ia (pembeli) memiliki hak khiyar di
antara menahan atau membatalkan. Apabila ia telah memerah susunya, kemudian
mengembalikannya, ia mengembalikan bersamanya satu sha' kurma sebagai gantian susu.
7. Khiyar mengabarkan harga apabila nyata perbedaan kenyataan (realita), atau kurang dari
yang dia kabarkan, maka pembeli memiliki hak khiyar di antara menahan dan mengambil
(harga) perbedaan atau membatalkan. Sebagaimana jikalau ia membeli pulpen dengan
harga seratus (100). Lalu datanglah kepadanya seseorang dan berkata, 'Juallah kepadaku
dengan harga pokoknya.' Ia berkata, 'Harga pokoknya (modalnya) adalah seratus lima
puluh (150).' Lalu ia menjual kepadanya. Kemudian jelas kebohongan penjual, maka
pembeli mempunyai hak khiyar. Dan tetapi khiyar ini pada tauliyah (pemberian hak
wali), syarikah (perusahaan bersama), murabahah, muwadha'ah. Dan dalam semua itu,
pembeli dan penjual harus mengetahui modal harta.
Apabila telah nampak bahwa pembeli itu susah atau curang, maka pembeli mempunyak
hak membatalkan jika ia menghendaki untuk memelihara hartanya.

B. Perintah Kerja Keras


Dalam Islam digunakan istilah kerja keras, kemandirian (‫)بيده‬, dan tidak cengeng. Setidaknya
terdapat beberapa ayat al-Qur’an maupun Hadits yang dapat menjadi rujukan pesan tentang
semangat kerja keras dan kemandirian ini, seperti;
1. Firman Allah SWT :
Artinya : “Bekerjalah kamu, maka Allah dan orang-orang yang beriman akan melihat
pekerjaan kamu”(Q.S. At-Taubah : 105)
2. Sabda Rasulullah SAW :
Artinya :“Amal yang paling baik adalah pekerjaan yang dilakukan dengan cucuran
keringatnya sendiri” (HR. Abu Dawud)
3. Sabda Rasulullah SAW :
Artinya : “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan bahasa yang sangat simbolik ini Nabi mendorong umatnya untuk kerja keras
supaya memiliki kekayaan, sehingga dapat memberikan sesuatu pada orang lain. “Manusia harus
membayar zakat (Allah mewajibkan manusia untuk bekerja keras agar kaya dan dapat
menjalankan kewajiban membayar zakat)”. Oleh karena itu, apabila shalat telah ditunaikan maka
bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia (rizki) Allah. (Q.S. al-Jumu’ah : 10)
4. Sabda Rasulullah SAW :
Artinya : “Sesungguhnya bekerja mencari rizki yang halal itu merupakan kewajiban setelah
ibadah fardlu” (HR.Tabrani dan Baihaqi).
Nash-Nahs tersebut di atas jelas memberikan isyarat agar manusia bekerja keras dan hidup
mandiri. Bekerja keras merupakan esensi dari kewirausahaan. Prinsip kerja keras, menurut
Wafiduddin, adalah suatu langkah nyata yang dapat menghasilkan kesuksesan (rezeki), tetapi
harus melalui proses yang penuh dengan tantangan (reziko). Dengan kata lain, orang yang berani
melewati resiko akan memperoleh peluang rizki yang besar. Kata rizki memiliki makna
bersayap, rezeki sekaligus resiko.
Kemauan yang keras dapat menggerakkan motivasi untuk bekerja dengan sungguh-sungguh.
Orang akan berhasil apabila mau bekerja keras, tahan menderita, dan mampu berjuang untuk
memperbaiki nasibnya. Menurut Murphy dan Peck, untuk mencapai sukses dalam karir
seseorang, maka harus dimulai dengan kerja keras. Kemudian diikuti dengan mencapai tujuan
dengan orang lain, penampilan yang baik, keyakinan diri, membuat keputusan, pendidikan,
dorongan ambisi, dan pintar berkomunikasi. Allah memerintahkan kita untuk tawakkal dan
bekerja keras untuk dapat mengubah nasib. Jadi intinya adalah inisiatif, motivasi, kreatif yang
akan menumbuhkan kreativitas untuk perbaikan hidup. Selain itu kita juga dianjurkan untuk
tetap berdoa dan memohon perlindungan kepada Allah swt sesibuk apapun kita berusaha karena
Dialah yang menentukan akhir dari setiap usaha.

C. Manajemen Utang Piutang


1. Konsep Sosial (muamalah) Dalam Islam
Manusia dalam hidup dan kehidupannya tidak dapat melepaskan diri dari hidup
berkelompok, yang demikian sudah terlihat semenjak manusia itu lahir. Pakar sosiologi Ellwood
menyatakan; kehidupan sosial harus dipandang sebagai satuan tabiat kejiwaan yang lebih tinggi
dan lebih sesuai yang telah tumbuh dari satuan biologi. Unsur-unsur keharusan biologi manusia
untuk hidup dan berkehidupan sosial dapat diketahui dari berbagai macam pendekatan di
antaranya ialah; kebutuhan untuk perlindungan; kebutuhan untuk makan; kebutuhan untuk
berkembang biak; dan kebutuhan untuk bermasyarakat. Memenuhi kebutuhan tersebut, manusia
dengan segenap potensi yang ada berupaya memperoleh kebutuhan mereka berdasarkan
kemampuan masing-masing. Hal demikian teridentifikasi dari hasil usaha manusia yang variatif
dan berimplikasi kepada tingkatan sosial mereka.

2. Konsep hutang piutang menurut Al-Quran


Tingkatan sosial yang terjadi dalam kehidupan manusia akan menyebabkan kebaikan bagi
mereka jika satu dengan yang lain saling mengisi dan tidak saling menzalimi. Konsep sosial
seperti itulah yang diatur dalam Al-Quran untuk terjaga keharmonisan sosial sebagai kebutuhan
dasar bagi umat manusia. Perbedaan tingkatan sosial manusia antara lain adalah terjadi dalam
aspek perekonomian. Perbedaan itulah yang melatari perbuatan utang piutang kerap terjadi
dalam kehidupan manusia. Al-Quran sebagai pedoman umat Islam menjelaskan secara rinci
tentang perbuatan tersebut yaitu pada ayat 282 dari surat Al-Baqarah.
Mengawali ayat tersebut, Allah SWT. berfirman : Artinya :“ Hai orang-orang yang
beriman, apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah
kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan
benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah mengajarkannya, meka
hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan (apa yang akan
ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi
sedikitpun daripada hutangnya. Jika yang berhutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah
(keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakkan, maka hendaklah walinya
mengimlakkan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki
(di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang
perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa maka yang seorang
mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka
dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas
waktu membayarnya”...Al-Ayah. (QS. Al-Baqarah : 282)
Dalam penafsiran ini, tadaayantum diartikan dengan muamalah karena utang piutang
merupakan perbuatan sosial manusia yang di dalamnya terlibat debitor(pemberi
utang) dan kreditor (orang yang berutang). Ayat tersebut, Allah SWT. menuntun hamba-Nya
yang mukmin, jika mereka bermuamalah hutang piutang hendaknya ditulis supaya jelas
jumlahnya, waktunya, dan memudahkan untuk persaksian. Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa
ayat tersebut diturunkan berkenaan dengan hutang piutang yang terjamin, jelas masanya dan
telah dihalalkan oleh Allah SWT. Beliau juga mengatakan, ketika Rasulullah SAW. sampai di
kota Madinah dijumpai di sana orang biasa meminjamkan buah untuk setahun, dua tahun atau
tiga tahun, maka Rasulullah SAW. bersabda, Artinya : “ Barangsiapa meminjamkan harus
meminjamkan dengan takaran yang tertentu, timbangan yang tertentu dan masa yang tertentu.
(HR. Bukhari – Muslim).
Pada ayat di atas “hendaklah kamu menuliskannya”,Ibnu Katsir memahami perintah
menulis di sini hanya merupakan petunjuk ke jalan yang baik dan terjaminnya keselamatan yang
diharapkan, bukan perintah wajib. Ibnu Juraij berkata, “pada mulanya perintah menulis itu wajib,
kemudian kewajiban itu di-nasakh dengan ayat 283 QS. Al-Baqarah :
Artinya : “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak
memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang
berpiutang). Akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah
yang dipercaya itu menunaikan amanatnya(hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah
Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan barangsiapa yang
menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah
Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS. Al-Baqarah :283)
Di akhir ayat tersebut nyata bahwa tidak ada tulis menulis lanjut Ibnu Juraij. Menuliskan
utang piutang sebagai manajemen sosial manusia berdasarkan ayat di atas dalam bentuk
“anjuran” dan bukan sebuah “kewajiban” adalah sebuah petunjuk yang melegitimasikan bahwa
dalam diri manusia mempunyai dua kecenderungan yang berbeda yaitu baik (taqwa) dan buruk
(fujur). Hal tersebut sebagaimana firman Allah SWT. dalam Al – Quran surat Asy-Syamsu ayat
8-10 yang artinya : “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa manusia sifat fujur dan takwa.
Sungguh bahagia orang yang mensucikan jiwanya, dan sungguh celaka orang yang mengotori
jiwanya”.
Berdasarkan kecenderungan jiwa manusia sebagaimana yang tertuang dalam QS. Asy-
Syamsu ayat 8-10 dan telah dibuktikan secara ilmiah melalui ilmu psykologi manusia. Maka
perintah Allah SWT. kepada manusia untuk mencatat utang piutang merupakan sebuah konsep
yang terbaik untuk keutuhan kehidupan sosial manusia sendiri. Dengan konsep demikianlah
kenyamanan (prudential) manusia terwujud. Kendatipun pencatatan utang piutang bukan sebuah
kewajiban, akan tetapi dalam keadaan tertentu, pencatatan tersebut menjadi wajib apalagi
berkaitan dengan kepentingan manusia secara umum (maslahah ‘ammah). Karena hukum Islam
sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Hal demikian didasarkan kepada kaidah ushul
fiqh, “al-Maslahatul ‘ammah muqaddimatun minal maslahatil syakhsiyah (kepentingan umum
lebih diutamakan daripada kepentingan pribadi)”.
Pencatatan utang piutang sebagai sebuah konsep yang dibutuhkan oleh manusia juga
diperkuat oleh keberadaan ilmu akuntansi sebagai sebuah pengetahuan yang sangat dibutuhkan
oleh manusia. Ilmu tersebut berkonsentrasi tentang proses mengenali, mengukur dan
mengkomunikasikan informasi ekonomi untuk memperoleh pertimbangan dan keputusan yang
tepat oleh pemakai informasi yang bersangkutan. Kemudian output-output dari pengetahuan
tersebut diintegrasikan menjadi sebuah definisi akuntansi secara luas.
Ayat selanjutnya Allah SWT. berfirman, artinya : “Dan hendaklah seorang penulis di antara
kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan (menolak) menuliskannya
sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis.
Maksud dari firman tersebut, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah SWT. mengajarkan
supaya antara orang yang berhutang dan yang mengutang ada pencatat, yaitu seorang yang adil,
jujur dan tidak memiliki kepentingan, hanya semata-mata memberikan tenaga yang dibutuhkan
oleh saudara sesama muslim. Sedangkan orang yang dimintakan bantuan untuk menuliskan
transaksi tersebut adalah sebuah kewajiban untuk ditunaikan menurut Ibnu Katsir. Hal demikian
terpahami dari hadis Rasulullah SAW. yang artinya: “Sesungguhnya setengah daripada sedaqah
adalah membantu pekerjaan orang yang tidak mampu dikerjakan”. Dalam hadis yang lain,
artinya : “Barangsiapa yang menyembunyikan ilmu yang diketahuinya, akan dikendalikan di hari
kiamat dengan kendali api neraka”.
Dalam dunia akuntansi, pengajaran Allah SWT. tersebut telah diterapkan secara utuh.
Sebagai sebuah disiplin ilmu, mengaplikasikan sebuah metode atau konsep adalah berangkat dari
proses-proses eksperimen ilmiah. Begitu juga dengan akuntansi sebagai sebuah ilmu.
Hasil dari sebuah penelitian, pakar akuntansi Marcus Aurelius melaporkan bahwa, karakter ideal
para akuntan adalah, “Seseorang hendaknya berkepribadian jujur; bukan diperintahkan jujur”.
Pandangan Marcus tersebut menjadi nyata bahwa ajaran Al-Quran sangat memahami konsep
sosial berdasarkan kebutuhan manusia. Masih dalam ayat yang sama, Allah melanjutkan firman
yang artinya: “ Dan hendaklah orang yang berhutang itu mendiktekan (apa yang ditulis), dan
hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya”.
Firman Allah SWT. di atas bermaksud bahwa dalam proses pencatatan utang, data – data
tersebut bersumber dari pihak pengutang bukan dari pemberi hutang. Karena posisi orang yang
berhutang adalah pihak yang lemah dibandingkan dengan pemberi utang. Kendati pun demikian,
Allah tetap memperingatkan orang yang berhutang untuk bertakwa kepada-Nya, jangan sampai
mengurangi atau merugikan pihak pemberi utang dan jangan menyembunyikan apa pun dalam
perjanjian tersebut.
Firman Allah SWT. di atas mengingatkan kita kepada diskripsi Kelly
tentang psychopathology manusia yang cenderungan menerapkan konsep hostility yaitu
seseorang mencoba untuk membuat orang lain berbuat dengan cara yang sesuai dengan harapan
dia. Dan dalam firman Allah SWT. di atas memberikan sinyal tentang eksistensihostility dalam
diri manusia yaitu dengan melindungi pihak yang berhutang dari tekanan (pressure) pemberi
hutang dengan cara menjadikan data-data pengutang sebagai data primer dalam transaksi hutang
piutang. Dan begitu juga untuk melindungi pemberi hutang dari pressurepengutang yaitu Allah
SWT. mewajibkan kepada pengutang untuk memelihara komitmen berdasarkan perjanjian yang
telah dibuat.
Dan firman Allah SWT., artinya : “Jika orang yang berhutang itu orang yang lemah
akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mendiktekan, maka hendaklah
walinya mendiktekan dengan jujur”.
Firman Allah SWT. sangat jelas kepada kita bahwa jika yang berhutang itu orang bodoh
atau tidak sempurna akal, maka keterlibatan wali pengutang untuk menuliskan hutang tersebut
adalah sebuah kewajiban dalam sebuah transaksi hutang piutang.
Masih dalam ayat yang sama Allah berfirman, artinya: “ Dan persaksikanlah dengan dua orang
saksi dari orang-orang laki di antaramu. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang
laki-laki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa
maka seorang lagi mengingatkannya”.
Ibnu Katsir menerangkan maksud firman Allah SWT. di atas dengan hadis yang
bersumber (sanad) dari Abu Hurairah r.a. Rasulullah bersabda, artinya: “Wahai para wanita,
bersedekahlah kalian dan perbanyaklah meminta ampunan (istighfar) karena aku melihat
kebanyakan ahli neraka adalah wanita. Salah seorang wanita bertanya, mengapa wanita banyak
menghuni neraka ya Rasulullah?, Rasul menjawab, karena banyak mengomel dan memungkiri
budi suami. Aku tidak melihat orang yang kurang akal dan agamanya yang dapat mengalahkan
orang yang sempurna akal selain kalian. Ditanya, apakah kekurangan akal dan agama kami?,
jawab Rasul, adapun kurang akal, maka terbukti dalam kesaksian dua wanita sama dengan satu
lelaki, dan pada hari-hari tertentu tidak melaksanakan salat dan tidak puasa, maka ini termasuk
kurang agamanya”. (HR. Muslim).
Hadis di atas merupakan sebuah jawaban yang digunakan oleh Ibnu Katsir terhadap
pertanyaan, kenapa kesaksian dua wanita sama dengan satu lelaki?. Menurut penulis, jika hanya
berpegang kepada hadis tersebut, maka jawaban dari pertanyaan itu belum terjawab. Karena
hadis itu justru menjadikan ayat di atas sebagai referensi Rasulullah SAW. dalam menjawab
pertanyaan kalangan sahabat wanita bahwa akal perempuan tidak sekuat dengan akal laki-laki.
Tentang firman Allah SWT. ini, Zaid bin Khalid mengatakan, Rasulullah SAW. bersabda,
artinya: “Sukakah aku beritakan kepadamu sebaik-baik saksi, ialah yang memberikan
kesaksiannya sebelum diminta”. (HR. Bukhari – Muslim).
Berdasarkan hadis di atas, kriteria saksi yang jujur adalah saksi yang menerangkan apa yang ia
ketahui, dan menyampaikan apa yang diketahui ketika diperlukan dalam menyelesaikan suatu
persengketaan. Dalam hadis lain Rasulullah SAW. bersabda, artinya: “Sukakah aku beritahukan
kepadamu sejahat-jahat saksi, ialah mereka yang memberikan kesaksian sebelum diminta”. (HR.
Bukhari – Muslim).
Hadis yang kedua ini, Rasulullah SAW. memberitahukan kepada kita bahwa kriteria
saksi yang tidak jujur adalah menyampaikan kesaksian ketika tidak diperlukan dalam
menyelesaikan sebuah persoalan. Lanjutan firman Allah SWT. dengan artinya: “ Dan janganlah
kamu jemu menulis hutang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya.
Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat
kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu”.
Kemudian di akhir ayat 282 QS. Al Baqarah Allah SWT. berfirman, artinya: “Kecuali
jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa
bagi kamu, (jika) kamu tidak menuliskannya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan
janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka
sesungguhnya itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah
mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.
Al-Qurtubi dalam tafsirnya berkenaan ayat 282 QS. Al-Baqarah mengatakan : “Ketika
Allah SWT. memerintahkan penulisan, penyaksian, dan pegadaian, ini merupakan
teks qat’i(pasti) yang berbicara mengenai pemeliharaan dan pengembangan harta, serta sebagai
penyangkal terhadap orang-orang yang jahil yang tidak mengetahui hal itu. Mereka
mengeluarkan seluruh harta dan tidak meninggalkan kecukupan untuk diri keluarga dan
perbuatan semacam ini sangat dibenci oleh Allah SWT.” Wallahu a’lam.

D. Membina Tenaga Kerja Bawahan


Hubungan antara pengusaha dan pekerja harus dilandasi oleh rasa kasih sayang, saling
membutuhkan, dan tolong menolong. Hal ini dapat dilihat dari hubungan dalam bidang
pekerjaan. Pengusaha menyadiakan lapangan kerja dan pekerja menerima rezeki berupa upah
dari pengusaha. Pekerja menyediakan tenaga dan kemampuannya untuk membantu pengusaha
untuk menyelesaikan pekerjaan yang diperintahkan. Majikan mempunyai hak untuk memerintah
bawahan dan mendapat keuntungan. Majikan juga mnemiliki kewajiban yaitu membayar upah
karyawan sesegera mungkin dan melindungi karyawannya. Seperi dalam Hadist Rasulullah:
Artinya :“Berikanlah kepada karyawanmu upahnya sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu
Majah
Disamping itu, keberhasilah suatu badan usaha yang dikololah oleh pengusaha sangat
tergantung kepada para pekerjanya. Jika para pekerja ulet dalam pekerjaannya, maka
keberhasilan itu akan semakin cepat dan pesat. Maka, dalam hal ini peran penting seorang
pengusaha dalam memmbina tenaga kerja bawahannya juga tidak bisa di abaikan. Kedua belah
pihak harus mampu membangun solidaritas dalam bekerja. Baik itu antara pekerja dan atasan,
mau pun sesama para pekerja. Jika terjadi kesenjangan, maka seorang atasan yang mengelolah
usaha yang bersangkutan harus cepat tanggap, mengidentifikasi permasalahan, dan mengambil
tindakan serta melakukan pembinaan terhadap bawahannya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berwirausaha adalah merupakan kegiatan sosial yang dapat membantu sesama makhluk
yang saling ketergantungan antara satu sama lain. Islam sangat menganjurakan manusia untuk
berusaha memperoleh rezki yang telah Allah janjikan dengan jalan usaha. Diantara sekian
banyak cara dalam berwirausaha, perdagangan adalah salah satunya yang juga merupakan dunia
usaha yang pernah ditekuni oleh Rasulullah SAW. Beliau telah memberikan contoh terhadap
ummat bagaimana pedagang itu semestinya. Bahkan dalam Al-Quran secara tidak langsung telah
dituangkan tuntunan dalam bemuamalah khususnya dalam perdagangan.
Disamping berdagang adalah untuk menjawab kebutuhan ekonomi, ada beberapa motif
seseorang dalam menggeluti dunia perdagangan. Diantaranya adalah : Bedagang untuk cari
untung, berdagang merupakan hobi, berdagang adalah ibadah, berdagang merupakan pekerjaan
mulian dalam Islam. Namun demikian, sepantasnyalah seorang pedagang melestarikan sifat-sifat
terpuji seperti yang dikemukan oleh Imam Al-Ghazali, yaitu : sifat taqwa, zikir dan syukur, tidak
mengambil laba secara berlebihan, sifat jujur, niat untuk ibadah, azzam dan bangun lebih pagi,
toleransi, silaturrahim, dan sebagainya.
Didalam bertransaksi adakalanya pembeli tidak selalu membayar saat bertransaksi dalam
arti kata transaksi hutang piutang. Maka dalam hal ini, Al-Quran telah memberikan solusi
tentangnya. Yaitu, dengan menuliskan disertai dengan dua orang saksi laki-laki yang adil. Jika
ditempat itu tidak ada orang laki-laki, maka boleh perempuan dengan catatan satu orang laki-laki
bandingannya adalah dua orang perempuan. Selanjutnya, didalam jual beli, juga ada istilah
khiyar yang berarti pembatalan atau pengembalian barang yang sudah dibeli sesuai dengan
ketentuan dan kesepakatan antara kedua belah pihak yaitu : penjual dan pembeli. Karenanya, ada
khiyar yang dibolehkan dan ada juga khiyar yang dilarang.
Dalam sebuah usaha, seorang atasan harus mampu membina tenaga kerja bawahannya
dengan baik demi terwujudnya hasil usaha yang lebih baik. Tiak hanya mementingkan
kepentingan pribadi, tapi juga harus memperhatikan dan membina hubungan yang baik,
membangun solidaritas yang tinggi.

B. Saran
Tidak dapat kita pungkiri, bahwa tuntutan ekonomi sering membawa kesenjangan dalam
berbagai hal menyangkut perdagangan. Tidak jarang pedagang yang melakukan kecurangan
dalam berdagang, serta melanggar etika-etika perdagangan yang telah di ajarkan oleh Alla dan
RasulNya. Disamping itu, ada pula orang yang pesimis dalam berusaha dan bekerja. Sementara
Allah dan RasulNya sangat mencintai orang-orang yang giat dalam bekerja dan berusaha untuk
memenuhi kebutuhan mereka. Oleh sebab itu, melalui makalah ini kami menyarankan kepada
para pembaca agar mempedomani Al-Quran dan Hadits serta berpedoman kepada disiplin ilmu
fiqih tentang tata cara bermuamalah.
Menyarankan kepada para wirausaha untuk meluruskan niat dalam berusaha agar usaha
yang digeluti bernilai ibadah, sehingga tidak hanya mendapat imbalan renzi yang mulia, tetapi
juga mendapat imbalan pahala disisi Allah.
DAFTAR PUSTAKA

http://suryaputraalhikmah.blogspot.com/2012/03/mutiara-wirausaha-melalui-islam.html