Anda di halaman 1dari 3

MENGUATNYA PERAN NEGARA PADA MASA

PEMERINTAHAN ORDE BARU SERTA DAMPAKNYA


BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT

DISUSUN OLEH: TOBBY KURNIAWAN

Telah Tercatat didalam buku Sejarah, bahwa terlalu kuatnya peran Negara dalam
mengatur sendi-sendi kehidupan rakyat, akan berdampak bagi kehidupan rakyat itu pula.
Dampak yang dirasakan bisa merupakan dampak yang baik maupun dampak yang buruk.
Hal ini pun terjadi pada masa pemerintahan Orde baru yang berkuasa kurang lebih 32
tahun lamanya. Selama 32 tahun tersebut, terjadi berbagai hal di Negara Indonesia. Salah
satunya ialah menguatnya peran Negara akibat adanya centre of power. Centre of power ini
membuat kekuasaan terpusat pada tangan presiden. Sehingga, Presiden mendominasi
seluruh alat kelengkapan negara dibawahnya.

Selain itu, di dalam pemerintahan Orde baru, menguatnya kinerja dan peran negara
disebabkan oleh adanya dukungan serta pemusatan dan penguatan didalam 3 sektor yaitu
sektor milliter, ekonomi, dan budaya. Didalam sektor milliter, penguatan dilakukan dengan
dengan cara memperbaiki kinerja Angkatan Darat. Didalam sektor ekonomi, penguatan
dilakukan dengan cara menambah jumlah dana bantuan luar negeri. Serta didalam sektor
budaya penguatan dilakukan dengan cara menyebarkan organisasi-organisasi turunan
Golongan Karya ke pelosok-pelosok Indonesia.

Selain beberapa penyebab diatas, tercatat juga dalam catatan Sejarah bahwa penyebab
lain dari menguatnya peran Negara tercermin dari adanya system Reward and Punishment
serta fusi pada Partai Politik. System Reward and Punishment disini membuat para
pendukung kekuatan Orde baru mendapat imbalan dari dukungannya, namun lain halnya
dengan para penentang kekuasaan Orde Baru, maka mereka akan mendapat hukuman dari
ketidak setujuannnya terhadap kekuasaan Orde baru. Selain itu, adanya fusi pada partai
politik yang mengerucutkan partai politik menjadi 3 (PDI,PPP, ddan Golkar) membuat
pemerintah mudah dalam mengawasinya serta yang akan berkuasa hanya akan berasal dari
3 partai tersebut.

Menguatnya peran Negara pada massa Orde baru, membuat penguasa menjadi otoriter
dan kurang fleksibel dalam menerima tanggapan ataupun komentar. Hal ini tercermin dari
adanya pengawasan pemerintah dalam bidang pers. Segala bentuk penerbitan surat kabar,
dll akan di awasi oleh suatu dapartemen bernama dapartemen penerangan. Jika suatu
media massa ingin tetap hidup, maka media massa tersebut harus memberitahukan hal-hal
yang baik tentang pemerintahan Orde baru. Sehingga disini, pers seakan-akan dijadikan alat
pemerintah untuk mempertahankan kekuasaannya. Pers tidak dapat menjalankan fungsi
sebagaimana mestinya, yaitu sebagai pendukung dan pembela masyarakat. Selain itu
pembentukan Dewan pers hanya sebagai formalitas semata, dimana Dewan pers bukannya
menjadi pelindung sesama rekan jurnalis, malah menjadi anak buah pemerintahan Orde
baru. Hal ini terlihat jelas pada saat terjadinya pembredalan media massa seperti Detik,
Tempo, dll pada tahun 1994, sebenarnya banyak anggota dari Dewan pers yang tidak setuju,
namun tidak berani dalam bertindak karena takut akan system Reward and Punishment,
dimana penentang akan mendapat hukuman.

Menguatnya peran Negara pada masa Orde baru juga membuat system pemerintahan
menjadi sentralistik. Pemerintahan sentralistik adalah suatu system pemerintahan dimana
pemerintah pusatlah yang memegang seluruh kendali kekuasaan. Hal ini dapat dilihat,
bahwa pada masa Orde baru, pemerintah daerah tidak mempunyai kekuasaan untuk
mengurus rumah tangga pemerintahannya sendiri. Tetapi harus menjalankan seluruh
keputusan atau perintah yang dikeluarkan pemerintah pusat. Akibatnya banyak keputusan
atau perintah yang dikeluarkan pemerintah pusat yang tidak sesuai diterapkan di daerah-
daerah lain.

Adapun sudah saya katakan sebelumnya bahwa menguatnya peran Negara pasti akan
berdampak pada kehidupan masyarakat Negara/Bangsa itu sendiri. Begitu juga pada massa
Orde baru menguatnya peran Negara juga membawa dampak bagi kehidupan masyarakat.
Dampak tersebut ada yang berupa dampak positif maupun negative. Berikut saya jabarkan
dampak dari menguatnya peran Negara pada masa Orde baru.

1. Dampak negative.
Orde baru menyebakan kebebasan rakyat seakan terpasung dengan adanya fusi
partai politik, pengawasan dan pengekangan pers, serta system pemerintahan yang
sentralistik. Selain itu, keragaman sosiokultural dan adat istiadat bangsa Indonesia
juga mati. Hal ini tekait dari adanya semboyan persatuan dan kesatuan bangsa yang
selalu digembor gemborkan serta keluarnya UU No. 5/1979 tentang pemerintahan
desa, dimana setiap desa wajib membentuk LKMD sebagai satu-satunya perwakilan
masyarakat desa. Sehingga lembaga-lembaga adat yang telah dibentuk sebelumnya
mengalami kemunduran fungsi. Dampak negative lainnya adalah melemahnya
kontribusi dan peran masyarakat. Hal ini diakibatkan dari berlakunya system Reward
and Punishment. Sisitem ini mengakibatkan rakyat tidak mempunyai keberanian
dalam menyampaikan penolakan, aspirasi, ataupun komentar karena takut akan
dicap sebagai penentang dan diberikan hukuman.

2. Dampak positive.
Ternyata selain dampak negative, menguatnya peran Negara pada massa Orde baru
juga membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat. Dampak positive dapat
kita lihat dari beberapa hal berikut:
Ø Berkembangannya pertanian rakyat hingga Indonesia menjadi Negara
berswasembada pangan. Hal ini tercipa karena adanya program pemerintah
yaitu Revolusi hijau dan Repelita.
Ø Murahnya harga sembako dan BBM. Murahnya harga sembako dan BBM ini
dikarenakan Indonesia masih tergabung dalam OPEC sebagai Negara
pengekspor minyak dan Indonesia merupakan Negara berswasembada
pangan. Selain itu, pada masa orde baru harga minyak mentah relative stabil,
tanpa ada peningkatan maupun penurunan harga, sehingga tidak
memengaruhi harga sembako.
Ø Berkurangnya buta huruf di kalangan masyarakat karena murahnya biaya
pendidikan serta digalakkannya kursus-kursus demi menuntaskan buta huruf.
Ø Terbukanya lapangan pekerjaan. Terbukanya lapangan pekerjaan adalah
timbal balik dari berkembangnya Indonesia menjadi Negara berswasembada
beras. Hal ini menyebabkan Indonesia membutuhkan banyak tenaga kerja
untuk memenui kebutuhan ekspor.
Ø Berhasilnya program KB walaupun pada awalnya mendapat tentangan.
Keberhasilan KB tercipta dari adanya penyebaran slogan-slogan di media
masa yang membuat masyarakat sadar akan pentingnya KB.

Jadi dapat disimpulkan bahwa peran Negara didalam memegang pemerintahan tidak
boleh terlalu kuat maupun terlalu lemah. Kalau terlalu kuat, akan menuju kepada
pemerintahan yang otoriter dan mengekang serta akan berdampak pada kehidupan rakyat,
baik itu positive maupun negative. Namun jika terlalu lemah akan menuju kepada
penyelewengan nilai-nilai luhur bangsa oleh masyarakat, serta kesewenangan rakyat kepada
pemerintah.