Anda di halaman 1dari 29

PANDUAN TRANSFER PASIEN

RUMAH SAKIT ISLAM


IBNU SINA SIGLI
2019
Jl. Lingkar Keunire no. 21-24, Sigli Telp. (0653) 7820006
Email : rsi.ibnusina72@yahoo.com

PERATURAN
DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM IBNU
SINA SIGLI
NOMOR : 294/RSI-IS/VIII/2019

TENTANG
PEMBERLAKUAN PANDUAN TRANSFER PASIEN RUMAH
SAKIT ISLAM IBNU SINA SIGLI

BISMILLAAHHIRRAHMAANIRRAHIM
DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM IBNU SINA SIGLI
Menimbang :
a. Bahwa dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan di Rumah Sakit
Islam Ibnu Sina Sigli, maka diperlukan penyelenggaraan pelayanan yang
bermutu tinggi.
b. Bahwa agar pelayanan Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Sigli dapat
terlaksana dengan baik, perlu adanya Peraturan Direktur Tentang
Pemberlakuan Panduan Tranfer Pasien Rumah Sakit Rumah Sakit Islam
Ibnu Sina Sigli sebagai landasan bagi seluruh pasien.
c. Bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam a dan
b, perlu ditetapkan dengan Peraturan Direktur Rumah Sakit Rumah
Sakit Islam Ibnu Sina Sigli.

Mengingat : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 tahun 2014 tentang


Praktek kedokteran
2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 tentang
Kesehatan
3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 tahun 2009 tentang
Rumah Sakit
4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 143 tahun 2010 tentang Standar
Pelayanan Kedokteran
5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 290 tahun 2010 tentang
Persetujuan Tindakan Kedokteran
6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269 tahun 2010 tentang Rekam
Medis
7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 tahun 2017 tentang
Keselamatan pasien Rumah Sakit
9. Peraturan Direktur Nomor : 278/RSI-IS/VIII/2019 tentang
Kebijakan Akses Ke Rumah Sakit dan Kontinuitas Pelayanan
MEMUTUSKAN

Menetapkan : PERATURAN DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM IBNU SINA


SIGLI TENTANG PEMBERLAKUAN PANDUAN TRANSFER
PASIEN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TGK. CHIK DITIRO
SIGLI
KESATU : Peraturan Direktur Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Sigli Tentang
Pemberlakuan Panduan Transfer Pasien Rumah Sakit Rumah Sakit
Islam Ibnu Sina Sigli.
KEDUA : Kebijakan pelayanan Rumah Sakit Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Sigli
sebagaimana tercantum dalam lampiran Peraturan ini.
KETIGA : Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan Rumah Sakit Rumah
Sakit Islam Ibnu Sina Sigli dilaksanakan oleh wakil Direktur Rumah
Sakit Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Sigli
KEEMPAT : Isi dari diktum kesatu sampai dengan keempat terlampir dalam
lampiran Peraturan ini
KELIMA : Peraturan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di : Sigli
Pada Tanggal : 12 Agustus 2019

DIREKTUR RUMAH SAKIT ISLAM


IBNU SINA SIGLI,

Dr. FANNY NOVIYANTI,SE


NP. 201410 2 001
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat serta
Hidayah Nya sehingga Panduan Transfer Pasien Rumah Sakit Rumah Sakit Islam
Ibnu Sina Sigli ini telah selesai.

Buku Panduan Transfer Pasien ini diharapkan dapat menjadi pegangan bagi
Rumah Sakit Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Sigli khususnya tenaga medis guna
mendukung tercapainya pelayanan yang profesional terhadap pasien di Rumah Sakit
Rumah Sakit Islam Ibnu Sina Sigli. Kami mengucapkan terima kasih kepada
semua pihak yang telah membantu terciptanya buku ini. Kritik dan saran yang
membangun serta bermanfaat selalu kita terima guna tercapai perbaikan dimasa yang
akan dating
.

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.............................................................................................. i

Daftar Isi....................................................................................................... ii
BAB I DEFINISI .......................................................................................... 1
BAB II RUANG LINGKUP ......................................................................... 2
BAB III TATA LAKSANA .......................................................................... 3
3.1 Pengaturan Transfer..................................................................... 3
3.2 Keputusan melakukan transfer ..................................................... 3
3.3 Stabilisasi sebelum transfer .......................................................... 5
3.4 Pendamping pasien selama transfer ............................................. 6
3.5 Peralatan selama transfer ............................................................. 7
3.6 Pemantauan obat-obatan .............................................................. 11
3.7 Pemilahan metode transfer untuk pasien kritis ............................. 13
3.8 Alat transportasi untuk transfer .................................................... 13
BAB IV DOKUMENTASI ........................................................................... 17

ii
BAB I
DEFINISI

Transfer pasien adalah memindahkan pasien dari satu ruangan keruang


perawatan /ruang tindakan lain didalam rumah sakit (intra rumah sakit) atau
memindahkan pasien dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain (antar
rumah sakit).
Tujuan dari manajemen transfer pasien intra rumah sakit ataupun antar
rumah sakit adalah :
1. Agar pelayanan transfer dapat dilakukan secara professional dan berdedikasi
tinggi.
2. Agar proses transfer berjalan dengan lancar dan aman serta pelaksanaannya
sangat memperhatikan keselamatan pasien serta sesuai prosedur yang telah
ditetapkan.

1
BAB II
RUANG LINGKUP

Transfer pasien di dalam rumah sakit terdiri dari :

1. Transfer pasien dari IGD, Instalasi rawat Inap, Instalasi Kamar Operasi

2. Transfer pasien dari IRJ ke IGD, Instalasi rawat Inap, Instalasi Kamar Operasi

3. Transfer pasien dari Instalasi rawat Inap, Instalasi Kamar Operasi ke


rawat inap, Instalasi Kamar Operasi
4. Transfer pasien dari IGD ke Instalasi rawat Inap, Instalasi Kamar Operasi

5. Transfer pasien dari Kamar Operasi ke Instalasi rawat Inap, Instalasi Kamar

Operasi, IGD

6. Transfer pasien dari IGD, Instalasi rawat Inap, Instalasi Kamar Operasi, IGD ke

Instalasi Radiologi.

Transfer pasien antar rumah sakit terdiri dari :

1. Transfer pasien dari RSI Ibnu Sina Sigli ke rumah sakit lain atau sebaliknya.
2. Transfer pasien dari RSI Ibnu Sina Sigli ke rumah pasien atau sebaliknya.

2
BAB III

TATA LAKSANA

3.1 Pengaturan Transfer.

Sesuai jadwal dinas

3.2 Keputusan Melakukan Transfer.

1. Lakukan pendekatan yang sistematisdalam proses transfer.


2. Awali dengan pengambilan keputusan transfer, kemudian lakukan stabilisasi
pre transfer dan manajemen transfer. Hal ini mencakup tahapan evaluasi,
komunikasi, dokumentasi, pemantauan, penatalaksanaan, penyerahan pasien
antar ruangan dalam rumah sakit maupun ke rumah sakit rujukan / penerima,
dan kembali ke RSI Ibnu Sina Sigli
3. Pengambilan keputusan untuk melakukan transfer harus dipertimbangkan
dengan matang, karena transfer beresiko mengekpos pasien dan personil
rumah sakit akan resiko bahaya tambahan, serta menambah kecemasan
keluarga dan kerabat pasien.
4. Pertimbangkan resiko dan keuntungan dilakukan transfer, bila resikonya lebih
besar jangan dilakukan transfer.
5. Dalam transfer pasien diperlukan personil yang terlatih dan kompeten serta
peralatan dan kendaraan khusus.
6. Dalam transfer pasien diperlukan personil yang terlatih dan kompeten serta
peralatan dan kendaraan khusus.
7. Pengambilan keputusan harus melibatkan DPJP/dokter senior.
8. Dokumentasi pengambilan keputusan harus mencantumkan dokter yang
mengambil keputusan,waktu pengambilan keputusan serta alasan yang
mendasari keputusan tersebut.
9. Terdapat 3 alasan untuk melakukan transfer pasien keluar RSI Ibnu Sina
Sigli :
i. Transfer untuk penangganan dan perawatan spesialistik lebih lanjut :
i. Ini merupakan situasi emergensi dimana sangat diperlukan transfer
yang efisien untuk tatalaksana lebih lanjut, yang tidak dapat disediakan
oleh RSI Ibnu Sina Sigli.
ii. Pasien harus stabil dan teresusitasi dengan baik sebelum transfer
iii. Saat menghubungi jasa ambulance, pasien dapat dikategorikan sebagai
tipe transfer “gawat darurat” misalnya pasien dengan rupture
aneurisma aorta dan pasien “gawat” misalnya yang butuh
hemodialisa
ii. Transfer antar rumah sakit untuk alasan non medis (misalnya karena
ruangan penuh, fasilitas kurang mendukung, jumlah petugas tidak
memadai)
i. Idealnya sebaiknya pasien tidak ditransfer jika bukan karena
kepentingan mereka

3
ii. Terdapat beberapa kondisi dimana permintaan ruang rawat inap
melebihi kapasitas sehingga diputuskanlah untuk mentransfer pasien ke
unit lain atau rumah sakit lain.
iii. Pengambilan keputusan haruslah mempertimbangkan aspek etika,
apakah akan mentransfer pasein stabil yang telah berada / dirawat di
unit intensif rumah sakit atau mentransfer pasien baru yang
membutuhkan perawatan intensif tetapi kondisinya tidak stabil.
iv. Saat menghubungi ambulans, pasien ini dapat dikategorikan sebagai
pasien transfer “gawat”.

iii. Repatriasi/ Pemulangan kembali


i. Transfer hanya boleh dilakukan jika kondisi pasien telah stabil dan
kondisinya dinilai telah cukup baik oleh dokter DPJP yang merawat
ii. Pertimbangan akan resiko dan keuntungan transfer harus dipikirkan
dengan matang dan dicatat
iii. Jika telah diputuskan melakukan repratiasi, transfer pasien ini
haruslah menjadi prioritas di rumah sakit penerima dan biasanya lebih
diutamakan dibandingkan penerimaan pasien elektif di unit gawat
darurat, hal ini juga membantu menjaga hubungan baik antar rumah
sakit.
iv. Saat menghubungi ambulans, pasien ini dikategorikan sebagai pasien
transfer “elektif”
10. Saat keputusan transfer telah diambil, dokter yang bertanggung jawab
/dokter jaga wajib menghubungi rumah sakit yang dituju.
11. Dalam mentransfer pasien antar rumah sakit tim transfer RSI Ibnu Sina Sigli
akan menghubungi rumah sakit yang dituju dan melakukan negosiasi
dengan unit yang dituju. Jika unit tersebut setuju untuk menerima pasien
tersebut, tim RSI Ibnu Sina Sigli harus memastikan tersedianya alat yang
memadai di rumah sakit yang dituju.
12. Beritahukan kepada pasien (jika kondisinya memungkinkan) dan
keluarga perlunya dilakukan transfer antar rumah sakit dan mintalah
persetujuan tindakan transfer
13. Proses pengaturan transfer ini harus dicatat dalam rekam medis pasien
ini, yang meliputi : nama, jabatan dan detail kontak personil yang membuat
kesepakatan baik dari rumah sakit asal maupun rumah sakit penerima ;
tanggal dan waktu dilakukan komunikasi antar rumah sakit ; saran-saran /
hasil negosiasi dari kedua belah pihak.
14. Personil tim transfer harus mempunyai kompetensi yang sesuai,
berpengalaman, memiliki peralatan yang memadai, dapat bekerja sama dengan
jas layana ambulans, protokol rumah sakit, serta pihak-pihak lain yang terkait
dan juga memastikan proses transfer berjalan dengan aman dan lancar t anpa
menggangu pekerjaan lain di rumah sakit yang merujuk.
15. Pusat layanan ambulan harus diberitahu sesegera mungkin jika keputusan
transfer telah diambil. Bahkan bila waktu pastinya belum ditentukan. Hal ini
memungkinkan layanan ambulan untuk pengerahan petugas yang lebih efisien.

3.3 Stabilisasi Sebelum Transfer.

4
1. Meskipun berpotensi memberi resiko tambahan terhadap pasien,
transfer pasien yang aman dapat dilakukan bahkan pada pasien sakit berat /
kritis.
2. Transfer sebaiknya tidak dilakukan bila kondisi pasien tidak stabil.
3. Hipovolemia adalah kondisi yang sulit ditoleransi oleh pasien akibat
akselerasi dan deselerasi selama transfer. Oleh karena itu hipovolemia harus
dikoreksi sebelum transfer dilakukan.
4. Unit / rumah sakit yang dituju harus memastikan adanya prosedur/
pengaturan pasien transfer yang memadai.
5. Perlu waktu hingga beberapa jam mulai dari keputusan diambil sampai
pasien di transfer ke unit atau rumah sakit lain.
6. Hal yang penting untuk dilakukan sebelum transfer :
a. Amankan patensi jalan nafas. Beberapa pasien mungkin membutuhkan
intubasi atau trakeostomi dengan pemantauan yang ketat.
b. Analisa gas darah harus dilakukan pada pasien yang menggunakan
ventilator portabel minimal 15 menit.
c. Terdapat jalur akses vena yang adekuat.
d. Pengukuran tekanan darah yang invasif dan kontiniu merupakan
tehnik terbaik untuk memantau tekanan darah pasien selama proses
transfer.
e. Jika terdapat pneumothorax, selang drainase dada harus terpasang
dan tidak boleh di klem.
f. Pasang kateter urin dan NGT jika diperlukan
g. Pemberian terapi tidak boleh ditunda saat menunggu pelaksanaan
transfer.
7. Unit / rumah sakit yang dituju dapat memberikan saran penanganan
segera / resusitasi yang perlu dilakukan terhadap pasien dengan situasi
khusus namun tanggung jawab tetap pada tim transfer.
8. Tim transfer harus familiar dengan peralatan yang ada dan secara independen
menilai kondisi pasien.
9. Seluruh peralatan dan obat-obatan harus di cek oleh petugas transfer.

3.4 Pendampingan Pasien Selama Transfer.

1. Pasien dengan sakit berat harus didampingi minimal oleh 2 orang tenaga
perawat.
2. Kebutuhan akan tenaga medis / petugas yang mendampingi tergantung
pada kondisi / situasi klinis dari tiap kasus.
3. Sebelum melakukan transfer petugas pendamping harus paham kondisi
pasien dan setiap aspek yang berkaitan dengan transfer.
4. Berikut ini adalah pasien yang tidak memerlukan dampingan dr icu/ dr anestesi
selama transfer.
a. Pasien yang mampu mempertahankan patensi jalan nafasnya dengan
baik.
b. Pasien dengan perintah DNR (Do Not Resucitate).
c. Pasien yang ditransfer untuk tindakan manajemen definitif akut
dimana intervensi anestesi tidak akan mempengaruhi hasilnya.
5. Berikut adalah panduan perlu tidaknya dilakukan transfer berdasarkan
tingkat / derajat kebutuhan perawatan pasien kritis (keputusan harus dibuat
oleh dr.icu atau DPJP).
5
a. Derajat 0.
Pasien yang dapat terpenuhi kebutuhannya diruang biasa di
unit /rumah sakit yang dituju. Biasanya tidak perlu didampingi oleh
dokter, perawat atau paramedis.

b. Derajat 1.
Pasien dengan resiko perburukan kondisi atau pasien yang
sebelumnya di rawat di high care unit; diman membutuhkan
perawatan diruang biasa dengan saran dan dukungan tambahan dari
tim perawatan kritis; dapat didampingi perawat, petugas ambulans dan
atau dokter.
c. Derajat 2
Pasien yang membutuhkan observasi / intervensi yang lebih ketat,
termasuk penanganan kegagalan 1 sistem organ atau pasca operasi
atau pasien yang sebelumnya dirawat di HCU; harus didampingi
oleh petugas yang kompeten, terlatih dan berpengalaman (dokter
dan perawat atau paramedis lainnya).
d. Derajat 3
Pasien yang membutuhkan bantuan nafas lanjutan dan bantuan nafas
dasar dengan dukungan / bantuan minimal 2 sistem organ, termasuk
pasien-pasien yang membutuhkan penangan kegagaglan multi
organ harus didampingi oleh petugass yang kompeten, terlatih dan
berpengalaman (biasanya dr,anestesi dan perawat ruang Intensif/IGD)
6. Semua petugas yang tergabung dalam tim transfer harus berkompeten,
terlatih dan berpengalaman.
7. Petugas yang mendampingi harus membawa telephone yang berisi nomer RSI
Ibnu Sina Sigli dan rumah sakit tujuan.
8. Keselamatan adalah parameter penting selama proses transfer.

3.5 Kompetensi Pedamping Pasien Dan Peralatan Yang Harus dibawa Selama
Transfer.

1. Kopetensi SDM untuk transfer intra RSI Ibnu Sina Sigli.

Petugas Ketrampilan yang


Pendamping dibutuhkan
Pasien (Minimal) Peralatan dasar

Derajat 0 Petugas Bantuan hidup


keamanan dasar

Derajat 0,5 Petugas Bantuan hidup


keamanan dasar

Derajat 1 Perawat/petugas  Bantuan hidup  Okseigen


yang dasar
 Suction
berpengalaman  Pelatihan
 Tiang infuse

6
(sesuai dengan tabung gas portable

kebutuhan pasien)  Pemberian  Syringe


obat-obatan pumps
 Kenal akan  Oksimetri
tanda
deteriorasi
 Ketrampilan
suction
 Semua
ketrampilan
diatas,
ditambah  Semua
Derajat 2 peralatan
 Pengalaman-
Perawat dan pengalaman diatas,
petugas tahun di ditambah
keamanan dalam  Monitor EKG
perawatan dan tekanan
intensif darah

 Standar
kompotensi
dokter harus
diatas standar  Defibrillator
minimal : yang lengkap
Dokter :

 Minimal 6
bulan
Dokter, perawat pengalaman
Derajat 3 dan petugas perawatan
keamanan pasien intensif
dan bekerja di
ICU
 Ketrampilan  Ventilator
bantuan hidup
dasar dan dan peralatan
lanjut transfer yang
memenuhi
standar
minimal

7
 Ketrampilan

menangani
jalan nafas
dan
pernafasan.
Minimal ST
level 3 atau
sederajat
Perawat :

 Minimal 2
tahun kerja di
ICU
 Ketrampilan
bantuan hidup
dasar dan
lanjut

2. Kompetensi SDM untuk transfer antar rumah sakit

Petugas Ketrampilan yang


dibutuhkan
Pasien Pendamping Peralatan dasar

(Minimal)
Derajat 0 Perawat dan Bantuan hidup Kendaraan HDS /
petugas ambulans dasar Ambulans

Derajat 0;5 Perawat dan Bantuan hidup Kendaraan HDS /


(orang petugas ambulans dasar Ambulans
tua/delirium)

Derajat 1 Perawat dan  Bantuan hidup  Kendaraan


petugas ambulans dasar HDS /
 Pelatihan tabung ambulans
gas  Oksigen
 Pemberian obat-  Suction
obatan
 Kenal akan  Tiang infuse
tanda ditoleransi portable
 Ketrampilan  Syringe pumps
suction

8
 Semua  oksimetri
ketrampilan
diatas,
ditambah
Derajat 2 Dokter, perawat  Penggunaan
dan petugas alat
pernafasan  Aambulans
ambulans
 Bantuan EMS
hidup lanjut
 Penggunaan  Semua
kantong peralatan
pernafasan diatas,
ditambah
Standar kompetensi  Monitor
dokter harus diatas
EKG dan
standar minimal
tekanan
darah

 Defibrillator

Dokter, perawat  Ambulans


dan petugas lengkap 118
ambulans  Monitor
Derajat 3
portable ICU
lengkap
Dokter :  Ventilator dan
peralatan
 Minimal 6
transfer yang
bulan
memenuhi
pengalaman
perawatan standar
pasien intensif minimal
dan bekerja di
ICU
 Ketrampilan
bantuan hidup
dasar dan lanjut
 Ketrampilan
menangani jalan
nafas dan

pernafasan.
Minimal ST
level 3 atau
sederajat

9
Perawat :

 Minimal 2
tahun kerja di
ICU
 Ketrampilan
bantuan hidup
dasar dan lanjut

3.6 Pemantauan Obat-Obatan Dan Peralatan Selama Transfer Pasien Kritis.

1. Pasien dengan kebutuhan perawatan kritis memerlukan pemantauan


selama proses transfer.
2. Standard pelayanan/ pemantauan selama proses transfer setidak- tidaknya sama
dengan standar RSI Ibnu Sina Sigli atau rumah sakit tujuan.
3. Peralatan pemantauan harus tersedian dan berfungsi dengan baik sebelum
transfer dilakukan. Standar minimal transfer pasien yang baik adalah :
a. Kehadiran petugas yang kompeten selama transfer.
b. EKG yang kontiniu.
c. Pemantauan tekanan darah.
d. Saturasi oksigen.
e. Terpasangnya jalur intravena.
f. Terkadang diperlukan jalur vena centra.
g. Peralatan untuk memantau cardiac output.
h. Pemantauan end tidal caron dioxide pada pasien dengan ventilator. i.
Mempertahankan dan mengamankan jalan nafas.
i. Pemantaun temperatur pasien secara terus menerus.
4. Pengukuran tekanan darah non invasif intermitten, sensitif terhadap
gerakan dan tidak dapat diandalkan pada mobil yang bergerak, selain itu juga
cukup menghabiskan baterai monitor.
5. Pengukuran tekanan darah invasif dan kotinyu (melalui kanul arteri)
disarankan.
6. Idealnya semua pasien derajat 3 harus dipantau pengukuran tekanan
darah yang invasif selama transfer (wajib pada pasien cedera otak akut;
pasien denga tekanan darah tidak stabil atau berpotensi menjadi tidak stabil;
pasien dengan inotropik).
7. Kateterisasi vena sentral tidak wajib tapi membantu memantau filling
status. Akses vena sentral diperlukan dalam pemberian obat inotropic dan
vasopressor.
8. Pemantauan tekanan darah kranial mungkin diperlukan pada pasien-pasien
tertentu.
9. Pada pasien dengan pemasangan ventilator lakukan pemantauan suplai
oksigen, tekanan pernafasan dan pengaturan ventilator.
10. Tim transfer yang terlibat harus memastikan obat-obatan yang diperlukan,
antara lain :
a. Obat resusitasi dasar.
b. Obat sedasi.
c. Analgetik.
d. Relaksan otot.
e. Obat inotropik.
11. Hindari pengunaan tiang dengan selang infus yang terlalu banyak agar
akses ke pasien tidak terhalang dan stabilitas brankart terjaga.
12. Semua infus harus menggunakan syringe pump.
13. Penggunaan tabung oksigen tambahan harus terpasang dengan baik.
14. Petugas transfer harus familiar dengan semua peralatan di ambulans.
15. Pertahankan temperature pasien, lindungi telinga dan mata pasien selama
transfer.
16. Seluruh peralatan harus kokoh, ringan dan tahan lama.
17. Peralatan listrik harus dapat berfungsi dengan menggunakan baterai.
18. Baterai tambahan harus dibawa.
19. Monitor portabel harus mempunyai layar yang jernih dan terang dan
dapat memperlihatkan EKG, saturasi oksigen arteri, pengukuran tekanan
darah, kapnografi dan temperature.
20. Alarm dari alat harus terlihat jelas dan terdebgar keras.
21. Ventilator mekanik portabel harus mempunyai (minimal) :
a. Alarm yang berbunyi jika tekanan tinggi atau terlepasnya alat
dari pasien.
b. Mampu menyediakan tekanan ahkir ekpirasi positif dan berbagai
macam konsentrasi oksigen inspirasi.
c. Pengukuran rasio inspirasi : ekspirasi, frekuensi pernafasan
permenit dan volume tidal.
d. Mampu memberikan ventilasi tekanan terkendali dan
pemberian tekanan positif berkelanjutan.
22. Semua peralatan harus terstandarisasi sehingga terwujudnya suatu proses
transfer yang lancar dan tidak adanya penundaan dalam pemberian terapi.
23. Pasien harus dipantau terus menerus dan dicatat dalam lembar pemantauan
24. Monitor, ventilator dan pompa harus selalu terlihat oleh petugas dan
berada pada posisi yang aman dibawah pasien.

3.7 Pemilahan Metode Transfer Antar RS Untuk Pasien Kritis.

1. Pemilihan metode transfer harus memperhatikan komponen penting,


antara lain :
a. Derajat urgensi untuk melakukan transfer.
b. Kondisi pasien.
c. Faktor geografik.
d. Kondisi cuaca.
e. Alur lalulintas.
f. Ketersedian.
g. Area untuk mendarat ditempat tujuan.
h. Jarak tempuh.
2. Pilihan kendaraan untuk transfer pasien , antara lain :
i. Jasa ambulan gawat darurat i. Siap sedia 24 jam.
ii. Jalur darat.
iii. Durabilitas : dengan pertimbangan petugas dan peralatan yang
dibutuhkan dengan lamanya waktu yang dibutuhkan.
iv. Kontak : pusat ambulan : AGD 118, ambulans 119.
3.8 Alat Transportasi Untuk Transfer Pasien Antar Rumah Sakit.

1. Gunakan ambulan RSI Ibnu Sina Sigli yang dilengkapi dengan socket
listrik, suplai oksigen, monitor dan peralatan lainnya.
2. Sebelum melakukan transfer pastikan kebutuhan – kebutuhan transfer
pasien terpenuhi.
3. Standard peralatan di ambulans :
a. Suplai oksigen.
b. Ventilator.
c. Jarum suntik.
d. Jarum suntik.
e. Baterai cadangan.
f. Syringe pumps.
g. Alat penghangat portable.
h. Defibrilator.
4. Tim transfer dapat memberi sara mengenai kecepatan amabulan
berasarkan kondisi pasien.
5. Keputusan menggunakan sirene diserahkan kepada supir ambulan. Tujuannya
adalah untuk memfasilitasi transfer yang lancar dan segera dengan akselerasi
dan deselerasi yang minimal.
6. Pendampingan oleh polisi perlu dipertimbangkan pada area yang padat
penduduknya.
7. Petugas harus tetap duduk selama transfer dan menggunakan sabuk
pengaman.
8. Jika terdapat kegawatdaruratan medis dan pasien membutuhkan intervensi
segera, berhenti di tempat yang aman dan segera lakukan tindakan.
9. jika petugas diperlukan turun dari ambulans, gunakan pakaian yang
jelas terlihat oleh pengguna jalan lainnya.

9. Dokumentasi Dan Penyerahan Pasien Transfer Antar Rumah Sakit.

1. Lakukan pencatatan yang lengkap pada semua tahapan transfer, meliputi :


a. Detail kondisi pasien
b. Alasan melakukan transfer
c. Nama konsultan yang merujuk dan menerima rujukan d. Status klinis
pre-transfer.
d. Detail tanda vital, pemeriksaan fisik dan terapi yang diberikan
selama transfer berlangsung
2. Pencatatan harus terstandarisasi antar rumah sakit jejaring dan diterapkan
untuk transfer intra dan antar rumah sakit.
3. Rekam medis harus mengandung :
a. Resume singkat mengenai kondisi pasien sebelum, selam dan
sesudah transfer ; termasuk kondis medis yang terkait, faktor
lingkungan dan terapi yang diberikan.
b. Data untuk proses audit.
c. Tim transfer harus mempunyai salinannya.
4. Harus ada prosedur untuk menyelidiki masalah-masalah selama transfer,
termasuk penundaan transportasi.
5. Tim transfer harus mempunyai informasi yang jelas mengenai lokasi
rumah sakit yang dituju sebelum melakukan transfer.
6. Saat tiba di rumah sakit tujuan harus ada serah terima antara tim
transfer dengan pihak rumah sakit penerima yang akan bertanggung jawab
atas perawatan pasien selanjutnya.
7. Proses serah terima pasien harus mencakup pemberian informasi
mengenai riwayat penyakit pasien, tanda vital, pemeriksaan penunjang,
terapi dan kondisi pasien selama transfer.
8. Hasil pemeriksaan penunjang harus didiskripsikan dan di serahkan
kepada rumah sakit penerima.
9. Setelah serah terima pasien, tim transfer dibebas tugaskan dari
kewajjiban untuk merawat pasien tersebut.
10. Perlu penyediaan jumlah pakaian, sejumlah peralatan yang dapat dibawa,
dan sejumlah uang untuk memfasilitasi tim transfer kembali.

10. Komunikasi Dalam Transfer Pasien Antar Rumah Sakit

1. Pasien (jika memungkinkan) dan keluarganya harus diberitahu alasan dan


transfer dan lokasi dari rumah sakit tujuan. Berikanlah nomor telepon RS dan
tujuan dan jelaskan cara mencapai RS tersebut.
2. Pastikan RS tujuan dapat dan setuju menerima passien sebelum proses
transfer dilakukan.
3. Kontak pertama harus dilakukan oleh DPJP dari kedua RS untuk
mendiskusikan hal-hal yang diperlukan oleh pasien.
4. Untuk kontak selanjutnya tunjuklah 1 orang sebagai komunikator
utama sampai proses transfer selesai :
a. Jika selama transfer terjadi pergantian jaga perawat yang
ditunjuk, berikan penjelasan mengenai kondisi pasien yang dirujuk
dan lakukan penyerahan tanggung jawab kepada perawat yang
menggantikan.
b. Komunikator utama harus menghubungi layanan ambulans , jika
ingin menggunakan jasanya dan harus menjadi satu-satunya untuk
diskusi selanjutnya antar rumah sakit dan jasa ambulan.
c. Harus memberikan informasi terbaru mengenai kebutuhan
perawatan pasien kepada RS tujuan.
5. Tim transfer harus berkomunikasi dengan RS asal dan tujuan mengenai
penangan medis yang diperlukan dan terus update perkembangan kondisi
pasien.

11. Audit Dan Jaminan Mutu.

1. Buatlah catatan yang jelas dan lengkap selama transfer.


2. Dokumentasi ini akan digunakan sebagai acuan data dasar dan sumber audit .
3. RSI Ibnu Sina Sigli bertanggung jawab untuk menjaga berlangsungnya
proses pelaporan insidens yang terjadi selama transfer dengan
menggunakan protokol standar RSI Ibnu Sina Sigli.
4. Data audit akan ditinjau ulang secara teratur oleh RSI Ibnu Sina Sigli.
BAB IV
DOKUMENTASI

1. FORMULIR TRANSFER PASIEN


RM. 18

No. Rekam Medis :

Jl. Lingkar Keunire No. 21-24, Gampong Cot, Sigli Nama Lengkap : L/P
Telp. (0653) 7820006 / HP. 08116801118
Tanggal Lahir :

TRANSFER PASIEN ANTAR RUANGAN


Hari/Tanggal:....................................................... Jam:................ WIB Umum / BPJS
Tanggal Masuk RS : ................................................. Jam ................. WIB ASAL PASIEN
Dx Medis : ............................................. Ruangan : ............................................. Kelas : ..................
Dokteryangmerawat: 1 ................................................................... Pindah ke ruangan : ............................. Kelas : ..................
2 .................................................................... Tiba di ruangan .............................. WIB
3 ....................................................................
CARA PINDAH
Brankar KursiRoda Jalan Digendong
Alasan Masuk / Pindah Rawat Inap :

Temuan penting / signifikan untuk disampaikan / pemeriksaan yang abnormal :

Diagnosa sekarang :

Tindakan medis yang sudah dilakukan :

PEMBERIAN THERAPI
Infus : ........................................................................
Obat Injeksi
Nama obat : Jam Pemberian :
1 WIB
2 WIB
3 WIB
4 WIB
Obat Oral
1 ................................................................................. 4 .................................................................................
2 ................................................................................. 5 .................................................................................
3 ................................................................................. 6 .................................................................................
Lain-lain
Kondisi saat pindah (Observasi terakhir pukul .....................WIB)
Keadaanumum:.......................................... Kesadaran : .......................................... GCS:E-.......... M-.......... V-.......... =..............
0
TD : ...................... mmHg Nadi:...................... x/m Suhu:...................... C Nafas ........................ x/m
Intake:......................CC Output:...................... CC Balance ........................ CC
TherapyOksigen: Tidak Ya NasalKanule............Liter SungkupRebreating NRM
Nyeri : Tidak Ya, Skor Nyeri : ...........
ResikoJatuh: Tidak Ya, Skor Resiko Jatuh : ..........
Kewaspadaan: Kontak Droplet Airbone
Perawat yang mengirim Perawat yang menerima Diketahui oleh DPJP (Dokter Jaga /
Case Manager)

( ......................................... ) ( ......................................... ) ( ......................................... )


Nama Jelas & Tanda Tangan Nama Jelas & Tanda Tangan Nama Jelas & Tanda Tangan
SERAH TERIMA PASIEN ANTAR RUANGAN

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/2


099/SPO/RSI-
RSI IS/VIII/2019
IBNU SINA SIGLI
Ditetapkan,
DIREKTUR RSI
IBNU SINA SIGLI
STANDAR Tanggal terbit:
PROSEDUR 12 Desember
OPERASIONAL 2019
Dr. FANNY NOVIYANTI,SE
Np. 201410 2 001
Adalah penatalaksanaan serah terima pasien antar
PENGERTIAN
ruangan.
1. Sebagai acuan dalam penata laksanaan serah terima
pasien antar ruangan.
TUJUAN 2. Supaya pelayanan keperawatan dan pelayanan medik
pasien tidak terputus dan tetap berkesinambungan .
3. Menghindari salah komunikasi dan salah persepsi.
Peraturan Direktur RSI Ibnu Sina Sigli Nomor :
KEBIJAKAN 278/RSI-IS/VIII/2019 Tentang Akses Ke
Rumah Sakit dan Kontinuitas Pelayanan.
1. Serah terima dilakukan pada setiap pemindahan
pasien dari unit satu ke unit lain
2. Serah terima harus dilakukan secara sistematis.
3. Serah terima dilakukan oleh Perawat yang
menguasai pasien terkait
4. Serah terima dari Unit Gawat Darurat harus disertai
dengan form penjelasan secara sistematik yang sudah
diisi lengkap.
5. Untuk pasien dari unit perawatan intensif, unit
hemodialisa, unit, unit cath lab, unit radiologi yang
akan pindah ke unit rawat inap biasa, maka pasien di
jemput dari ruangan tujuan.
6. Pasien yang akan dipindahkan, dirapikan dan
disiapkan alat-alat bantunya.
PROSEDUR 7. Informasikan ke unit tujuan untuk bersiap-siap
menerima pasien melalui telepon.
8. Antar pasien ke unit tujuan minimal dengan 1 orang
Perawat dengan menggunakan kursi roda stretcher
atau tempat tidur pasien,disesuaikan dengan kondisi
pasien.
9. Serah terima dilakukan oleh Perawat unit yang
memindahkan kepada penanggung jawab unit yang
dituju.
SERAH TERIMA PASIEN ANTAR RUANGAN

No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 2/2


099/SPO/RSI-
IS/VIII/2019
RSI
IBNU SINA SIGLI
10. Informasi serah terima untuk ke unit rawat inap
biasa meliputi sedikitnya :
a. Identitas pasien minimal nama lengkap dan
rekam medik pasien. Diagnosis kerja
/diagnosis masuk yang dibuat oleh dokter
IGD/DPJP
b. Kondisi terakhir (tanda vital dan kesadaran).
c. Rencana / instruksi penanganan yang
diberikan oleh DPJP pasien termasuk rencana
diit.
d. Riwayat alergi pasien.
Tindakan dan/atau obat yang telah diberikan
di unit-unit ambulatory maupun di IGD.
11. Petugas yang menerima pasien mencatat semua
PROSEDUR informasi yang Diberikan.
12. Petugas yang menerima pasien melakukan
readback informasi yang dicatat tersebut dan
mengkonfirmasikannya.
13. Pastikan bahwa serah terima tidak ada yang
terlewat, bila ada yang kurang dimengerti dapat
ditanyakan.
14. Dokumentasikan kegiatan yang meliputi
sedikitnya tanggal kegiatan, siapa yang mengantar
pasien dan siapa yang menerima pasien.
15. Rapikan kembali alat-alat yang sudah tidak
digunakan oleh pasien.
1. Instalasi Rawat Inap.
2. Instalasi Rawat Jalan.
3. Instalasi Gawat Darurat
UNIT TERKAIT 4. Instalasi Laborotorium
5. Instalasi Radiologi
TRANSFER PASIEN DARI IGD KE
INSTALASI RAWAT JALAN
No. Dokumen : No. Revisi : Halaman : 1/1
100/SPO/RSI-
IS/VIII/2019

RSI
IBNU SINA SIGLI

Ditetapkan,
DIREKTUR RSI
IBNU SINA SIGLI
Tanggal terbit:
STANDAR
12 Agustus
PROSEDUR 2019
OPERASIONAL
Dr. FANNY NOVIYANTI,SE
Np. 201410 2 001
PENGERTIAN Pasien yang datang di IGD dengan keadaan tidak
memerlukan pelayanaan gawat darurat / gawat semu.
Pasien False Emergency harus tetap dilayani karena
TUJUAN pada dasarnya IGD/Rumah sakit tidak boleh menolak
penderita yang memerlukan pertolongan.
Peraturan Direktur RSI Ibnu Sina Sigli Nomor :
KEBIJAKAN 278/RSI-IS/VIII/2019 Tentang Akses Ke
Rumah Sakit dan Kontinuitas Pelayanan.
1. Lakukan Triage Pasien
PROSEDUR 2. Anjurkan ke Rawat Jalan jika ATS 5 (pagi hari)
3. Antarkan pasien ke Rawat Jalan/ Poliklinik
1. Instalasi Gawat Darurat.
UNIT TERKAIT 2. Instalasi Rawat Jalan.
3. Instalasi Rekam Medik.
SERAH TERIMA DARI IGD KE RUANGAN

No. Dokumentasi : No. Revisi Halaman : 1/1


RSI 038 /SPO/RSI-IS/VI/2018
IBNU SINA SIGLI
Tanggal Terbit Ditetapkan oleh Direktur
RSI IBNU SINA SIGLI
29 Juni 2018

STANDARD
PROSEDUR
OPERASIONAL

dr. FANNY NOVIYANTI, SE


NP : 2014102001

Pengertian Tehnik atau cara menyampaikan (operan) dan menerima sesuatu


(laporan) yangberkaitan dengan pasien dari Instalai Gawat Darurat
ke Ruangan
Tujuan Sebagai acuan dalam pelaksanaan serah terima pasien antara ruang
IGD dengan Rawat Inap
Supaya pelayanan keperawatan dan pelayanan medik tidak terputus
Menghindari salah komunikasi dan salah pesrsepsi
Kebijakan Surat Keputusan Direktur RSI IBNU SINA SIGLI No. 28/SK/RSI-
IS/III/2018 tentang Kebijakan Pelayanan Pasien.
Prosedur 1. Pasien yang akan dipindahkan dirapikan dan disiapkan alat
bantunya.
2. Informasikan ke unit tujuan supaya bersiap siap menerima
pasien melalui telepon
3. Antar pasien ke unit tujuan minimal di dampingi oleh satu
orang perawat, dengan menggunakan media transport sesuai
kebutuhan pasien.
4. Serah terima dilakukan oleh perawat unit yang
memindahkan kepada penanggung jawab unit yang di tuju.
5. Informasi serah terima ke unit yang dituju meliputi :
a. Identitas pasien.
b. Diagnosa kerja/diagnosa medis yang di buat oleh dokter
c. Kondisi terakhir (tanda vital dan kesadaran)
d. Riwayat alergi pasien
e. Rencana/instruksi penanganan yang di berikan oleh DPJP
pasien termasukrencana diit
f. Tindakan dan atau obat-obatan yang telah diberikan di
IGD
g. Data SIM RS pasien sudah di pindahkan ke ruang yang
dituju.
6. Petugas yang menerima pasien mencatat semua informasi
yang diberikan.
7. Petugas yang menerima pasien melakukan readback
informasi yang dicatat tersebut dan mengkonfirmasikannya.
8. Pastikan bahwa serah terima tidak ada yang terlewatkan, bila
ada yang kurang mengerti dapat ditanyakan.
9. Pasien telah selesai diserah terima

Unit Terkait 1. IGD


2. HCU
3. Rawat Inap
SERAH TERIMA DARI RAWAT INAP KE IBS

No. Dokumentasi : No. Revisi Halaman : 1/1


015/SPO/RSI-IS/VI/2018
RSI
IBNU SINA SIGLI
Tanggal Terbit Ditetapkan oleh Direktur
RSI IBNU SINA SIGLI
29 Juni 2018

STANDARD
PROSEDUR
OPERASIONAL

dr. FANNY NOVIYANTI, SE


NP : 2014102001

Pengertian Tata cara serah terima pasien yang akan dioperasi antara perawat
Ruangan dengan perawat kamar operasi.
Tujuan Diketahui program pengobatan dan pelaksanaan operasi oleh
petugas ruangan dan kamar operasi agar pelaksanaan operasi bisa
berhasil dengan baik dan mengutamakan keselamatan pasien.
Menyiapkan obat obatan, darah dan persiapan khusus lainnya yang
dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan operasi tersebut.
Kebijakan Surat Keputusan Direktur RSI IBNU SINA SIGLI No. 28/SK/RSI-
IS/III/2018 tentang Kebijakan Pelayanan Pasien.
Prosedur 1. Petugas ruangan mengetahui jadwal operasi
2. Petugas ruangan mempersiapkan area operasi sesuai prosedur
yangberlaku.
3. Petugas ruangan mempersiapkan semua catatan medik
pasientermasuk surat izin operasi untuk dibawa bersama pasien
ke ruangoperasi.
4. Petugas ruangan menyertakan perlengkapan penunjang
operasimisalnya : Persediaan darah yangdiperlukan saat
operasi.
5. Setengah jam sebelum jadwal operasi atau setelah ada
panggilandari petugas kamar operasi, pasien dibawa ke kamar
operasi denganmemakai tempat tidur yang dipakai di ruangan.
6. Serah terima pasien pra operasi dilakukan di ruang transfer.
7. Petugas ruangan menyerahkan pasien disertai berita acara
serahterima yang ditanda tangani oleh petugas ruangan dan
petugaskamar operasi dan ditulis dalam buku register kamar
operasi.
8. Petugas kamar operasi memeriksa kelengkapan berita
acara,kelengkapan identitas, catatan medik pasien, keadaan
umum pasien,surat izin tindakan dan kelengkapan penunjang
lainnya seperti persediaan darah.
9. Kejadian khusus dan pengobatan selama operasi berlangsung
dicatatdalam berita acara oleh asisten operasi / on loop.
10. Setelah operasi selesai, asisten menyiapkan berita acara, catatan
medikpasien.
11. Pasien dipersiapkan untuk serah terima dengan petugas
ruangan.
PASIEN RUJUK

No. Dokumentasi : No. Revisi Halaman : 1/1


046/SPO/RSI-IS/VI/2018
RSI
IBNU SINA SIGLI
Tanggal Terbit Ditetapkan oleh Direktur
RSI IBNU SINA SIGLI
29 Juni 2018

STANDARD
PROSEDUR
OPERASIONAL

dr. FANNY NOVIYANTI, SE


NP : 2014102001

Pengertian Memindahkan pasien dari RSI Ibnu sina sigli ke rumah sakit lain
Tujuan Untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada pasien dengan baik
dan optimal
Kebijakan Surat Keputusan Direktur RSI Ibnu Sina Sigli No.28/SK/RSI-
IS/VI/2018 tentang Kebijakan Pelayanan Pasien.
Prosedur 1. Dokter mengatasi kegawatdaruratan pasien. Dokter
menentukan diagnosa penyakit yang dideritanya dan alasan
rujuk
2. Dokter umum menghubungi rumah sakit yang akan dituju,
serta melaporkan kondisi pasien
3. Dokter membuat surat rujukan yang berisi resume tertulis
mengenai kondisi klinis pasien, kebutuhan pasien akan
pelayanan lebih lanjut dan tindakan yang telah dilakukan
beserta alasan rujuk
4. Pasien dirujuk didampingi oleh perawat yang bertanggung
jawab pasien
5. Sesampai di rumah sakit yang dituju, dilakukan serah terima
pasien antar perawat dan dokter yang menerima dirumah
sakit rujukan tersebut dan tanda tangan penerima pasien di
lembar serah terima pasien
Unit Terkait 1. IGD
2. Rawat Inap
3. KIA
RM. 18

No. Rekam Medis :

Jl. Lingkar Keunire No. 21-24, Gampong Cot, Sigli Nama Lengkap : L/P
Telp. (0653) 7820006 / HP. 08116801118
Tanggal Lahir :

TRANSFER PASIEN ANTAR RUANGAN


Hari/Tanggal:....................................................... Jam:................ WIB Umum / BPJS
Tanggal Masuk RS : ................................................. Jam................. WIB ASAL PASIEN
Dx Medis : ............................................. Ruangan : ............................................. Kelas : ..................
Dokteryangmerawat: 1 ................................................................... Pindah ke ruangan : ............................. Kelas : ..................
2 .................................................................... Tiba di ruangan .............................. WIB
3 ....................................................................
CARA PINDAH
Brankar KursiRoda Jalan Digendong
Alasan Masuk / Pindah Rawat Inap :

Temuan penting / signifikan untuk disampaikan / pemeriksaan yang abnormal :

Diagnosa sekarang :

Tindakan medis yang sudah dilakukan :

PEMBERIAN THERAPI
Infus : ........................................................................
Obat Injeksi
Nama obat : Jam Pemberian :
1 WIB
2 WIB
3 WIB
4 WIB
Obat Oral
1 ................................................................................. 4 .................................................................................
2 ................................................................................. 5 .................................................................................
3 ................................................................................. 6 .................................................................................
Lain-lain
Kondisi saat pindah (Observasi terakhir pukul ..................... WIB)
Keadaanumum:.......................................... Kesadaran : .......................................... GCS:E-.......... M-.......... V-.......... =..............
0
TD : ...................... mmHg Nadi:...................... x/m Suhu:...................... C Nafas ........................ x/m
Intake:......................CC Output:...................... CC Balance .........................CC
TherapyOksigen: Tidak Ya NasalKanule............Liter SungkupRebreating NRM
Nyeri : Tidak Ya, Skor Nyeri : ...........
ResikoJatuh: Tidak Ya, Skor Resiko Jatuh : ..........
Kewaspadaan: Kontak Droplet Airbone
Perawat yang mengirim Perawat yang menerima Diketahui oleh DPJP (Dokter Jaga /
Case Manager)

( ......................................... ) ( ......................................... ) ( ......................................... )


Nama Jelas & Tanda Tangan Nama Jelas & Tanda Tangan Nama Jelas & Tanda Tangan