Anda di halaman 1dari 64

TUGAS SAINTIFIKASI JAMU

TINJAUAN TENTANG SAINTIFIKASI JAMU DARI BERBAGAI SISI :

TEORI DAN PRAKTIK

DISUSUN OLEH :

Nimas Ayu Amanda Putri 192211101057

Diana Hanifiyah S. 192211101058

Yesika Yuristi M. 192211101059

Aissa Dinar Yanuariski 192211101060

Ulfi Mawadatur R. 192211101061

Dinda Rizqiyah N.M 192211101062

Maghfirah Izzani Maulani 192211101063

Dian Ayu Chotimah 192211101064

Dosen Pembimbing : Indah Yulia Ningsih S.Farm, M.Farm, Apt

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JEMBER
2019
TUGAS SAINTIFIKASI JAMU
TINJAUAN TENTANG SAINTIFIKASI JAMU DARI BERBAGAI SISI :
TEORI DAN PRAKTIK

DISUSUN OLEH :

Nimas Ayu Amanda Putri 192211101057

Diana Hanifiyah S. 192211101058

Yesika Yuristi M. 192211101059

Aissa Dinar Yanuariski 192211101060

Ulfi Mawadatur R. 192211101061

Dinda Rizqiyah N.M 192211101062

Maghfirah Izzani 192211101063

Dian Ayu Chotimah 192211101064

Dosen Pembimbing : Indah Yulia Ningsih S.Farm, M.Farm, Apt

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS JEMBER
2019

i
LEMBAR PENGESAHAN
TUGAS SAINTIFIKASI JAMU
TINJAUAN TENTANG SAINTIFIKASI JAMU DARI BERBAGAI SISI :
TEORI DAN PRAKTIK

Disetujui Oleh:

Dosen Pembimbing

Indah Yulia Ningsih S.Farm, M.Farm, Apt


NIP.198407122008122002

Mengetahui,

Ketua Program Studi Profesi Apoteker

Lidya Ameliana, S. Si., Apt., M.Farm.


NIP.KATA
198004052005012005
PENGANTAR

KATA PENGANTAR

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan
rahmat dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Tugas Saitifikasi Jamu “Tinjauan
tentang Saintifikasi Jamu dari Berbagai Sisi : Teori dan Praktik” dengan baik dan lancar.
Penyusunan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, kami
mengucapkan terima kasih kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa atas Limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini;
2. Ibu Lestyo Wulandari, S. Si., M.Farm., Apt, selaku Dekan Fakultas Farmasi
Universitas Jember;
3. Ibu Lidya Ameliana, S. Si., Apt., M.Farm, selaku Ketua Program Studi Profesi
Apoteker Fakultas Farmasi Universitas Jember;
4. Ibu Indah Yulia Ningsih S.Farm, M.Farm.,Apt, selaku Dosen Pembimbing PKPA
Saintifikasi Jamu yang telah bersedia meluangkan waktu memberikan bimbingan,
petunjuk dan nasehat;
5. Orang tua, saudara, keluarga kami tercinta, serta rekan dan teman-teman yang
telah memberikan dorongan, nasehat, dan doa sehingga Penulis dapat
melaksanakan PKPA;
6. Rekan-rekan mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker Angkatan IX Fakultas
Farmasi Universitas Jember, untuk perjuangannya bersama dalam suka maupun
duka, serta semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis mengharapkan semoga ilmu dan pengalaman yang telah diperoleh selama PKPA
Saintifikasi Jamu di B2P2TOOT Tawangmangu dapat berguna bagi calon Apoteker untuk
terjun ke masyarakat dalam rangka pengabdian profesi dan makalah ini dapat bermanfaat
bagi ilmu pengetahuan khususnya bidang saintifikasi jamu.

Jember, 13 November 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR JUDUL ....................................................................................................................i


LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................................................ii
KATA PENGANTAR.............................................................................................................. iii
DAFTAR ISI.......................................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR................................................................................................................ v
DAFTAR TABEL.................................................................................................................... vi
RINGKASAN ....................................................................................................................... vii
BAB 1. PENDAHULUAN ........................................................................................................1
BAB 2. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN ..............................................................................3
BAB 3. HASIL TERKINI SAINTIFIKASI JAMU...........................................................................8
BAB 4. PERATURAN TERKAIT SAINTIFIKASI JAMU ............................................................. 20
BAB 5. PERAN APOTEKER DALAM SAINTIFIKASI JAMU ...................................................... 24
BAB 6. METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SAINTIFIKASI JAMU ........................ 26
BAB 7. PUSTAKA RUJUKAN SAINTIFIKASI JAMU ................................................................ 32
BAB 8. MODEL STANDAR KLINIK DAN APOTEKER SAINTIFIKASI JAMU .............................. 34
BAB 9. STRATEGI PENDIRIAN KLINIK DAN GRIYA JAMU ................................................... 41
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 51

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2. 1 Hortus Medicus Tawangmangu ........................................................................ 5


Gambar 2. 2 Struktur Organisasi B2P2TOOT Tawangmangu ................................................. 7
Gambar 6. 1 Tahapan metodologi Saintifikasi Jamu dan keterkaitannya dengan
metodologi ........................................................................................................................ 30
Gambar 6. 2 Tahapan penelitian saintifikasi jamu berbasis pelayanan kesehatan ............... 31
Gambar 8. 1 Prosedur pelayanan di Rumah Riset Jamu Hortus Medicus ............................. 36
Gambar 9. 1 Denah lokasi klinik ......................................................................................... 48
Gambar 9. 2 Layout Klinik tampak depan ........................................................................... 48
Gambar 9. 3 Layout Klinik tampak atas ............................................................................... 49
Gambar 9. 4 Struktur Organisasi......................................................................................... 49

v
DAFTAR TABEL

Tabel 3. 1 Daftar Jamu Saintifik ............................................................................................ 9


Tabel 9. 1 Sumber Dana Awal ............................................................................................. 44
Tabel 9. 2 Rencana Pengadaan Modal Tetap ...................................................................... 44
Tabel 9. 3 Rencana Anggaran Tetap Taun Ke-1 ................................................................... 45

vi
RINGKASAN

Indonesia merupakan negara tempat tumbuhnya tanaman obat terbanyak yaitu


sekitar 80 persen dari total keseluruhan tanaman obat yang ada di dunia. Tanaman obat
tersebut sebagian besar digunakan oleh masyarakat dan terukti secara empiris memiliki
khasiat. Walaupun penggunaan jamu yang demikian luas di masyarakat, dokter secara
seluruhnya belum menerima pengobatan jamu karena tidak tersedianya bukti ilmiah yang
cukup. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk membuktikan khasiat jamu yaitu melalui
program pemerintah mengenai saintifikasi jamu (SJ) dengan menggunakan metode berbasis
pelayanan.
Tanaman obat yang telah terbukti secara empiris memiliki khasiat kemudian diteliti
oleh B2P2TOOT . Adapun ramuan yang telah diteliti secara ilmiah dan ditetapkan sebagai
jamu saintifik ada 11 macam untuk mengatasi 11 penyakit berikut ini, antara lain : Asam urat,
darah tinggi, maag, wasir, radang sendi, gangguan fungsi hati, kolesterol, kadar gula darah,
kebugaran jasmani, penurunan berat badan, batu saluran kemih.
Pada kegiatan saintifikasi jamu, Apoteker dapat berperan dalam beberapa hal, yaitu
penerapan praktik kefarmasian, pengadaan jamu berkualitas, penyimpanan dan distribusi
Jamu, pelayanan kefarmasian, pencacatan kefarmasian, pdan engembangan produk jamu
saintifik menjadi bentuk sediaan yang praktis. Proses penyediaan simplisia yang harus
diawasi agar didapatkan bahan baku terstandar. Penyediaan simplisia dilakukan dengan
melakukan budidaya dan pascapanen tanaman. Apoteker juga berperan pada proses
skrining resep, penyiapan obat, peracikan, pemberian etiket, pemberian kemasan pada obat,
penyerahan obat serta pemberian informasi obat, konseling, monitoring penggunaan obat,
home care, promosi dan edukasi, serta pencatatan dan pelaporan. Peran Apoteker dalam
pengembangan jamu base-line data tanaman obat tradisional, seleksi formula jamu, dan
studi klinik
Metode saintifikasi jamu terbagi menjadi penelitian kualitatif yang terdiri dari studi
etnomedisin, studi observasi non-intervensi dan pengukuran parameter respon kualitatif
serta penelitian kuantitatif yang meliputi observasi klinik dengan intervensi, uji klinik fase 1,
uji klinik fase 2, uji klinik fase 3 dan uji klinik fase 4. Pasien yang menjadi subjek penelitian
harus menandatangani informed consent yang merupakan persetujuan pasien untuk
menjalani pengobatan dengan obat tradisional atas keinginan sendiri tanpa paksaan apapun.

vii
Pasien dapat dikeluarkan dari subjek penelitian (eksklusi) apabila saat pengobatan pasien
mengalami efek samping serius atau pasien mengalami komplikasi diluar dari penyakit yang
diteliti. Penelitian dilakukan dengan mengambil data rekam medis. Untuk pelaksanaan
penelitian dan ethical clearance dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Pengembangan jalur obat tradisional terbagi menjadi tiga proses, yaitu proses
pertama zat aktif diambil dari tumbuhan obat. Proses kedua, tumbuhan obat yang biasa
disebut sebagai jamu digunakan oleh non-tenaga kesehatan, jamu biasanya digunakan di
pelayanan kesehatan tradisional. Jamu yang diperoleh dari non-tenaga kesehatan yang
memiliki khasiat baik dapat diangkat menjadi jamu yang bisa digunakan oleh tenaga
kesehatan dengan melalui tahapan penelitian. Kemudian proses ketiga, jamu yang berasal
dari tumbuhan obat digunakan oleh dokter atau rumah sakit kemudian tumbuhan obat
tersebut disebut sebagai jamu saintifik berdasarkan peraturan menteri kesehatan mengenai
penelitian dan pelayanan.
Standarisasi bahan baku menjadi salah satu titik kritis dalam bidang saintifikasi jamu.
Dalam upaya menyediakan bukti ilmiah yang terpercaya terkait mutu, keamanan, dan
manfaat obat tradisional (jamu) maka juga perlu dilakukan penjaminan mutu bahan baku
jamu. Standarisasi dan penjaminan mutu tersebut dilakukan mulai dari tahap pemilihan bibit
simplisia, pemilihan lokasi tanam, cara tanam, cara panen, waktu panen, pengolahan pasca
panen hingga produk tersebut sampai ke tangan masyarakat atau pasien. Adapun
standarisasi dan penjaminan mutu bahan baku dilakukan merujuk pada beberapa pustaka
yang sering digunakan dalam bidang saintifikasi jamu diantaranya adalah Vademekum
Tanaman Obat, Farmakope Herbal Indonesia, dan Materia Medika Indonesia yang diterbitkan
oleh Kementrian Kesehatan Indonesia.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 003/MENKES/PER/I/2010 tentang
Saintifikasi Jamu diklasifikasikan menjadi dua tipe klinik jamu yakni klinik jamu tipe A dan
klinik jamu tipe B. Kedua tipe klinik tersebut dibedakan dari 3 aspek yaitu aspek ruangan,
ketenagaan, sarana dan prasana yang digunakan. B2P2TOOT Tawangmangu termasuk ke
dalam klinik tipe A.
Pendirian Klinik Saintifikasi Jamu menurut PerMenKes Nomor 003 tahun 2010 pada
bagian kedua pasal 7 ayat (1) dapat diseleggarakan oleh pemerintah atau swasta. Beberapa
hal yang perlu dipertimbangkan sebelum mendirikan klinik saintifikasi jamu adalah seperti
pemilihan lokasi pendirian klinik atau griya jamu saintifikasi jamu sebaiknya strategis agar

viii
mudah dijangkau oleh masyarakat, Ketenagaan yang meliputi Dokter sebagai penanggung
jawab, Apoteker dan Tenaga kesehatan komplementer alternatif lainnya sesuai kebutuhan,
dokter dan apoteker tersebut harus mempunyai sertifikat pelatihan saintifikasi jamu. Selain
itu perlu dilakukan analisis SWOT yang meliputi kekuatan, kelemhan, peluang dan ancaman
bagi klinik saintifikasi jamu sebelum pendirian klinik Saintifikasi jamu, serta analisisis
keuangan untuk memperkirakan berapa jumlah dana yang dibutuhkan. Aspek keuangan,
meliputi Investasi dan modal kerja, serta Penilaian analisis keuangan (PBP, ROI, NPV, IRR,
BEP) yaitu analisa yang berkenaan dengan biaya operasional dan biaya investasi.

ix
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia merupakan negara tempat tumbuhnya tanaman obat terbanyak yaitu
sekitar 80 persen dari total keseluruhan tanaman obat yang ada di dunia, sehingga tidak
mengherankan jika lebih dari setengah jumlah masyarakat di Indonseia menggunakan jamu
untuk pengobatan dan pemeliharaan kesehatan (Jennifer dan Saptutyningsih, 2015; Andriati
dan Wahjudi, 2016). Dibalik rasanya yang pahit, ternyata sejak berabad-abad yang lalu jamu
sebagai salah satu pengobatan tradisional telah banyak memegang peranan penting di
sebagian besar kehidupan masyarakat Indonesia. Hal tersebut dapat dibuktikan dari relief
candi, maupun istilah Jamu (Jampi Oesada) yang dapat ditelusuri pada peninggalan tulisan
jaman dulu yakni di naskah Ghatotkacasraya (Mpu Panuluh), dan Serat Centhini dan Serat
Kawruh Bab Jampi-Jampi Jawi (Aditama, 2014).
Pengertian jamu menurut Permenkes No. 003/Menkes/Per/I/2010 adalah bahan
atau ramuan bahan yang berupa tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian
(galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan
untuk pengobatan berdasarkan pengalaman dan dapat diterapkan sesuai dengan norma
yang berlaku di masyarakat. Walaupun penggunaan jamu yang demikian luas di masyarakat,
dokter secara seluruhnya belum menerima pengobatan jamu karena tidak tersedianya bukti
ilmiah yang cukup (evidence based medicine/EBM) (Siswanto, 2012). Oleh karena itu
diperlukan upaya untuk membuktikan khasiat jamu yaitu melalui program pemerintah
mengenai saintifikasi jamu (SJ) dengan menggunakan metode berbasis pelayanan. Program
tersebut tertuang dalam Peraturan Kementerian Kesehatan RI No.003/PerMenkes/I/2010.
Saintifikasi jamu atau Scientific Based Jamu Development merupakan penelitian berbasis
pelayanan yang mencakup Pengembangan Tanaman Obat menjadi Jamu Saintifik. Jamu
saintifik yang dihasilkan berfungsi sebagai terapi pelengkap di sarana pelayanan kesehatan
serta dapat menjadi pilihan masyarakat jika menginginkan upaya preventif, promotif, kuratif,
rehabilitatif, dan paliatif menggunakan jamu (Aditama, 2014).
Apoteker sebagai tenaga kesehatan yang berperan langsung terhadap penanganan
obat atau obat tradisional telah diatur tugasnya dalam Undang Undang No. 36 tahun 2009
pasal 108 serta Peraturan Pemerintah No. 51 tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian
yang menyatakan bahwa praktik kefarmasian meliputi pembuatan termasuk pengendalian
mutu sediaan farmasi, pengvmanan, pengadaan, penyimpanan dan pendistribusian obat,
2

pelayanan obat atas resep dokter, pelayanan informasi obat, serta pengembangan obat,
bahan obat dan obat tradisional harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
keahlian dan kewenangan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Melalui
penyusunan makalah ini, mahasiswa sebagai calon apoteker diharapkan mampu memahami
saintifikasi jamu secara teori dan praktiknya sehingga dapat berkontribusi dalam hal
peningkatan kualitas jamu yang berkhasiat sekaligus aman bagi masyarakat Indonesia.

1.2 Tujuan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah:
a. Meningkatkan pemahaman dan kemampuan dalam memberikan evidence based
medicine penggunaan jamu melalui penelitian berbasis pelayanan kesehatan
b. Meningkatkan pemahaman mengenai peran dan fungsi apoteker dalam saintifikasi
jamu dan pengembangan pelayanan jamu pada fasilitas kesehatan tradisional
1.3 Manfaat
Manfaat penyusunan makalah ini adalah:
a. Mahasiswa dapat mempraktikkan pelayanan klinis terkait obat tradisional
b. Mahasiswa dapat menetapkan keputusan profesi pada pekerjaan kefarmasian di
Saintifikasi jamu berdasarkan ilmu pengetahuan, standar praktik kefarmasian,
perundang-undangan yang berlaku, serta etika profesi.
BAB 2. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN

2.1 Sejarah dan Perkembangan Saintifikasi Jamu


Keberadaan jamu hingga saat ini tidak dapat dipisahkan dari sejarah peradaban
manusia. Bukti fisik yang mendukung bahwa masyarakat telah mengenal jamu sejak zaman
dahulu diantaranya adalah fosil di tanah Jawa berupa lumpang, alu, dan pipisan yang terbuat
dari batu menunjukkan bahwa ramuan untuk kesehatan telah dimanfaatkan masyarakat
sejak zaman mesoneolitikum. Adapun fungsi ramuan sebagai pengobatan dibuktikan dengan
adanya prasasti menyerupai relief yang terdapat di Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan
Candi Penataran abad ke 8-9 M. Selain itu bukti fisik berupa tulisan terdapat pada Usada Bali
yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno, Sanskerta, dan Bahasa Bali di daun lontar pada tahun
991-1016 M. Pada abad 15-16 M di dalam primbon Kartasuro istilah djamoe mulai
dikenalkan, sedangkan uraiannya secara lengkap tersurat secara lengkap di Serat Centini
yang ditulis langsung oleh Kanjeng Gusti Adipati Anom Mangkunegoro III pada 1810-1823.
Perkembangan selanjutnya yaitu pembukuan ramuan jamu pada tahun 1850 yang ditulis
secara langsung oleh Atmasupana II yang berjumlah sekitar 1734 ramuan jamu. Istilah
Djamoe adalah penulisan singkat dari djampi yang mengandung makna doa atau obat dan
oesodo (husada) yang berarti kesehatan, sehingga kata djamoe dapat diartikan doa atau obat
yang berfungsi untuk meningkatkan kesehatan tubuh (Pringgoutomo, 2007; Tilaar, 2010).
Pada awal abad 17 bangsa Belanda, Inggris, ataupun Jerman khususnya dari
kalangan dokter tertarik mempelajari jamu hingga mendokumentasikannya ke dalam buku
diantaranya yang berjudul “Practical Observations on a Number of Javanese Medications”
oleh dr. Carl Waitz tahun 1829. Buku tersebut memuat herbal atau tanaman (jamu) asal
Indonesia yang menggantikan penggunaan obat lazim sebelumnya di daerah Eropa.
Beberapa herbal yang terdapat di dalam buku tersebut yaitu rebusan sirih (Piper bettle)
untuk batuk, rebusan kulit kayu manis (Cinnamomum) untuk demam yang persisten serta
fungsi daunnya untuk mengatasi gangguan GI. Pendirian kebun tanaman obat kemudian
dilakukan pada tahun 1850 oleh seorang ahli kesehatan Geerlof Wassink dengan tujuan agar
penggunaan herbal juga turut digunakan untuk pengobatan yakni dengan melalui instruksi
kepada para dokter (Pols, 2010). Hasil yang didapat dari pengobatan menggunakan herbal
oleh dokter tersebut dibukukan dalam Medical Journal of the Dutch East Indies. Ahli farmasi
4

bernama Willem Gerbrand Boorsma yang menjabat sebagai direktur Kebun Raya Bogor pada
tahun 1892 telah mampu melakukan isolasi bahan aktif dan membuktikan efek farmakologis
dari beberapa tanaman yaitu morfin, kinin, dan koka. Pada abad 19 pemanfaatan jamu di
Indonesia mulai dipublikasikan dalam bentuk buku yang ditulis oleh dr. Cornelis L.van der
Burg yang berjudul Materia indica, namun setelah ditemukannya teori baru tentang bakteri
serta sinar X oleh Pasteur maka pemanfaatan jamu mengalami penurunan secara drastis.
Penggunaan jamu dicetuskan kembali oleh dr. Abdul Rasyid dan dr. Seno Sastroamijoyo pada
tahun 1930 melalui manfaatnya untuk tindakan preventif sekaligus sebagai alternatif
penggunaan obat konvensional yang mahal. Para dokter yang tergabung dalam organisasi
profesi IDI mulai tertarik untuk mempelajari seni pengobatan tradisional Indonesia setelah
mengundang pengobat tradisional untuk mempraktikkan teknik pengobatan tradisional
dalam acara konferensi yang mereka adakan pada tahun 1939, sehingga pada tahun tersebut
kemudian diadakan konferensi I yang membahass secara khusus mengenai jamu yang
bertempat di Solo (Webster, 2008).
Perkembangan jamu juga ditandai dengan didirikannya tiga pabrik jamu besar yakni
PT Jamu Iboe Jaya (1910), PT Nyonya Meneer (1919), dan PT Sido Muncul (1940), sehingga
pada tahun 1966 melalui konferensi II tentang jamu di Solo, para dokter sepakat untuk
kembali meningkatkan penggunaan jamu terutama bagi masyarakat Indonesia di tanah Jawa
setalah 2 dekade terlupakan akibat perang dunia II. Bentuk realisasi dari kesepakatan
tersebut yaitu mulai dibangunnya pabrik jamu di Jawa Tengah. Akibat mulai banyaknya
industri jamu, maka pemerintah berinisiatif untuk melindungi konsumen dengan
mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan No. 246/MENKES/PER/V/1990 tentang Izin
Usaha Industri Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisional, sedangkan untuk
mengontrol peningkatan penggunaan dan pengawasan terhadap obat tradisional,
pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan No. 584/MENKES/SK/VI/1995
tentang Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T).
Pada abad 21 perhatian terhadap keberadaan jamu telah mengalami peningkatan
diantaranya yaitu banyaknya seminar yang membahas tentang jamu dan/atau obat
tradisional hingga diresmikannya jamu sebagai brand Indonesia oleh presiden Indonesia
secara langsung yaitu Bapak Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 27 Mei 2008 di Istana
Merdeka. Tanggal tersebut juga sekaligus ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Jamu.
Peristiwa tersebut kembali mempengaruhi pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan
mengenai pelayanan kesehatan tradisional yang terwujud dalam Undang Undang No.36
5

tahun 2009 tentang kesehatan. Adapun standar pelayanan yang digunakan mengacu pada
Standar Pelayanan Medik Herbal yang tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan No.
121/MENKES/SK/II/2008 dan diiringi dengan dikeluarkannya Farmakope Herbal Indonesia
Edisi pertama berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 261/SK/IV/2009.
Perkembangan jamu yang terus meningkat dapat dilihat dari terjadinya kenaikan
persentase masyarakat Indonesia yang menggunakan jamu setiap tahunnya yaitu dari 35,7%
hingga 59,12% dan dari 85% hingga 95,16% (Kemenkes, 2010). Setelah pencapaian hasil
tersebut, maka pemerintah menilai perlu untuk menyiapkan sebuah program yang bertujuan
untuk membuktikan secara ilmiah bahwa jamu mampu untuk mengobati indikasi tertentu
sehingga dapat digunakan secara formal oleh tenaga medis yang sampai saat ini disebut
dengan Saintifikasi Jamu. Klinik Saintifikasi Jamu Rumah Jamu Hortus Medicus B2P2TOOT
merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan program
Saintifikasi jamu dan tertuang dalam Permenkes Nomor 003 tahun 2010.

2.2 Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional
(B2P2TOOT) Tawangmangu
2.2.1 Sejarah dan Perkembangan B2P2TOOT
Awal dari pembentukan B2P2TOOT adalah pendirian kebun yang berisi kumpulan
tanaman obat pada awal kemerdekaan di Tawangmangu oleh Raden Mas Santoso
Soerjokoesoemo pada awal kemerdekaan RI, untuk menjaga kelestariannya R.M. santoso
menghibahkan kebun tersebut kepada negara. Pada bulan April 1948 kebun tersebut diberi
nama “Hortus Medicus Tawangmangu” oleh pemerintah melalui Lembaga Ejikman.

Gambar 2. 1 Hortus Medicus Tawangmangu


6

Lembaga tersebut telah dilakukan pergantian berkali-kali mulai 1948 hingga 1978.
Pada tanggal 28 April 1978 dikeluarkan Kepmenkes nomor 149 tahun 1978 yang menjadikan
koleksi tanaman obat menjadi lembaga riset yang disebut dengan Balai Penelitian Tanaman
Obat (BPTO) sebagai UPT Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen
Kesehatan RI. Tugas pokok dari badan tersebut yvitu menyelenggarakan riset tanaman obat
meliputi eksplorasi, adaptasi, dan budidaya, serta uji fitokimia tanaman obat. Pada
pertengahan tahun 2006 diterbitkan Permenkes nomor 491 tahun 2006 yang di dalamnya
berisi tentang peningkatan status kelembagaan BPTO menjadi Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT). Penggantian nama
tersebut mengamanatkan bahwa kegiatan riset yang dilakukan oleh B2P2TOOT juga sekaligus
mendukung upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.
Jamu di masa perkembangan selanjutnya kemudian dimasukkan dalam pelayanan
kesehatan formal melalui perilisan program Saintifikasi Jamu yang terdapat dalam dasar
hukum berupa Permenkes Nomor 003 Tahun 2010. Saintifikasi jamu merupakan riset
berbasis pelayanan untuk mendapatkan bukti ilmiah mengenai keamanan dan khasiat jamu
sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pelayanan kesehatan formal.
7

2.2.2 Struktur Organisasi B2P2TOOT Tawangmangu

KEPALA

BAGIAN TATA USAHA

SUBBAGIAN
SUBBAGIAN
UMUM
KEUANGAN
Edwin Fajar S., MPH

Bidang Program, Bidang Layanan dan Sarana


Kerjasama, dan Jaringan Penelitian
Informasi

Seksi Program Seksi


dan Evaluasi Kerjasama
dan Jaringan
Informasi
Seksi Sarana
Seksi Pelayanan Penelitian dan
Teknis Pengembangan
Amalia Damayanti, Santoso, S.Farm

Gambar 2. 2 Struktur Organisasi B2P2TOOT Tawangmangu


BAB 3. HASIL TERKINI SAINTIFIKASI JAMU

Jamu adalah ciri khas dari kebudayaan Nusantara Indonesia yang dimanfaatkan
untuk pengobatan, pemeliharaan kesehatan secara turun temurun. Ramuan Jamu Saintifik
yang digunakan pada Rumah Riset Jamu “Hortus Medicus” adalah racikan simplisa, serbuk
dan juga ekstrak tanaman obat yang telah diteliti keamanan, mutu dan khasiatnya melalui
riset praklinik dan riset klinik. Jaminan keamanan dan mutu dari jamu didukung dengan cara
pembuatan simplisia yang baik, dimulai dari standarisasi benih/bibit, budidaya, panen,
pascapanen serta analisis mutu di Laboratorium Terpadu B2P2TOOT.
Pemanfaatan Ramuan Jamu Saintifik untuk memelihara kesehatan oleh masyarakat
sebagai upaya preventif, promotif dan kuratif, diharapkan dapat mengurangi pengeluaran
biaya kesehatan. Selain itu budaya minum jamu tidak boleh hilang karena merupakan
warisan nenek moyang yang harus dilestarikan.
Tanaman obat yang telah diteliti dan menjadi ramuan jamu yang
sudah terbukti secara ilmiah saat ini berjumlah 11 jenis yaitu ramuan jamu saintfik untuk :
1. Asam urat
2. Darah tinggi
3. Maag
4. Wasir
5. Radang sendi
6. Gangguan fungsi hati
7. Kolesterol
8. Kadar gula darah
9. Kebugaran jasmani
10. Penurunan berat badan

11. Batu saluran kemih


9

Daftar Jamu Saintifik untuk beberapa penyakit ditunjukkan pada Tabel 3.1.

Tabel 3. 1 Daftar Jamu Saintifik

Formula Jamu Nama Tanaman Kandungan Mekanisme


Saintifikasi
Diuretik : Flavonoid
Asam urat Herba tempuyung Alkaloid, mencegah pembentukan
(Hiperurisemia) (Sonchus arvensis) Flavonoid, asam urat melalui
Saponin, penghambatan enzim
Triterpen, Dan xanthine oksidase
Steroid (Hendriani dkk., 2014)
(Rukmantara
dkk., 2013)

Kayu secang Flavanoid, Antiinflamasi: senyawa


(Caesalpinia sappan) Saponin, golongan polifenol,
Alkaloid, Tanin, termasuk didalamnya
Fenolik, senyawa golongan
Triterpenoid, flavonoid, telah dilaporkan
Glikosida mempunyai potensi
(Kusmiati dan sebagai inhibitor XO
Priadi, 2014) (Ningsih dan Churiyah,
2018)

Daun kepel Terpenoid, Flavonoid adalah kelompok


(Stelechocarpus Flavonoid, senyawa polifenol yang
burahol) Alkaloid dantelah terbukti memiliki
Tanin (Sunarni aktivitas penghambatan XO
dkk., 2016) yang ditandai dengan
penurunan uric acid
(Sunarni dkk., 2016)
Analgesik: Kurkumin efektif
Rimpang temulawak Fenol, Flavonoid, menghambat kadar serum
(Curcuma Triterpenoid, dan xanthine oksidase hati
xanthorriza) Glikosida (XOD), dan selanjutnya
(Hayani, 2006) memperbaharui aktivitas
enzim antioksidan normal
(SOD, GSH-Px), mengurangi
akumulasi MDA dalam
serum dan sebagai
antiinflamasi (Chen dkk.,
2019).

Rimpang kunyit Alkaloid, Asam Antiinflamasi : Kurkumin


(Curcuma amino dan efektif menghambat kadar
domestica) serum dan xanthine
10

Flavonoid (Deb oksidase, dan selanjutnya


dkk., 2013) memperbaharui aktivitas
enzim antioksidan normal
(SOD, GSH-Px), mengurangi
akumulasi MDA dalam
serum (Chen dkk., 2019).

Herba meniran Flavonoid, Imunomodulator :


(Phylllanthus niruri) Alkaloid, Menghambat pelepasan
Terpenoid, sitokin, Meningkatkan
Lignan, Polifenol, fagositosis(Jantan, 2019)
Tanin, Kumarin
dan Saponin
(Bagalkotkar
dkk., 2006)

Darah tinggi Herba seledri (Apium Alkaloid, Asam Diuretik dan Vasodilator
(Hipertensi ) graveolens) Amino, dengan blok kanal Ca
Flavonoid, (Tashakori-sabzevar dkk.,
Glikosida, Fenol, 2016)
Saponin, Steroid,
Tanin, Terpenoid
(Graveolens dkk.,
2018)

Daun kumis kucing Flavonoid, Diuretik : Meningkatkan


(Orthosiphon Triterpen, ekskresi ion Na+, K+, Cl –
stamineus) Diterpen, (Chai dan Wong, 2014)
Sesquiterpen,
Monoterpen,
Turunan Asam
Caffeic (Chai dan
Wong, 2014)

Herba pegagan Alkaloid, Diuretik : Membuang


(Centella asiatica) Flavanoid, Tanin, kelebihan garam dan air
Terpenoid, atau diuretik
Saponin, Steroid
(Roy dkk., 2018)

Rimpang temulawak Fenol, Flavonoid, Melindungi endotel


(Curcuma Triterpenoid, vaskular : kurkumin
xanthorriza) Glikosida menurunkan produksi
(Hayani, 2006) sitokin inflamasi (IL-1β, IL-
18) dalam serum (Chen
dkk., 2019).

Rimpang kunyit Alkaloid, Asam Antiinflamasi : kurkumin


(Curcuma amino dan menurunkan produksi
domestica)
11

Flavonoid (Deb sitokin inflamasi (IL-1β, IL-


dkk., 2013) 18) dalam serum

Herba meniran Flavonoid, Diuretik dan sebagai


(Phyllanthus niruri) Alkaloid, vasodilator, senyawa kimia
Terpenoid, pada herba meniran dapat
Lignan, Polifenol, memblok kanal Ca2+ di sel
Tanin, Kumarin endotel (Tashakori-
dan Saponin sabzevar dkk., 2016).
(Bagalkotkar
dkk., 2006)

Gangguan Rimpang kunyit Alkaloid, Asam Gastroprotektif :


lambung/ (Curcuma amino dan Melindungi mukosa
maag(Dispepsia) domestica) Flavonoid (Deb lambung dengan
dkk., 2013) peningkatan cairan mukosa
lambung

Rimpang jahe Alkaloid, Antiemetik : Gingerol


(Zingiber officinale) Saponin, meningkatkan motilitas
Flavonoid, gastrointestinal dan
Terpenoid, memiliki kemampuan
Fenolik terutama untuk memblok reseptor
Gingerol 5HT3 dalam saluran
gastrointestinal (GIT)

Biji jinten hitam Steroid, Tanin, Antiinflamasi :


(Nigella sativa) Flavonoid, menghambat sitokin
Kumarin, inflamasi seperti
Glikosida, interleukin-1 dan 6 dan
Saponin, faktor transkripsi
Diterpen

Daun sembung Flavonoid, Fenol, Gastroprotektif :


(Blumea Monoterpen Melindungi mukosa
balsamifera) Sesquiterpen, lambung dengan
Diterpen peningkatan cairan mukosa
lambung

Wasir Daun ungu Alkaloid, Laksatif, melunakkan tinja


(Hemoroid) (Grapthopyllum Flavonoid,
pictum) Steroid, Saponin,
Tanin

Daun duduk Flavonoid, Memperkuat dinding


(Desmodium Steroid, Tanin, pembuluh darah kapiler
triquitram) Alkaloid,
Trigonelin,
Hipaforin
12

Daun iler (Coleus Flavonoid, Antiinflamasi :


atropurpureus) Steroid, Tanin menghambat sitokin
inflamasi seperti
interleukin-1 dan 6 dan
faktor transkripsi, faktor
nuklir κB

Rimpang temulawak Fenol, Flavonoid, Analgesik : Kurkumin


(Curcuma Triterpenoid, menghambat
xanthorriza) Glikosida siklooksigenase yang
(Hayani, 2006) menyebabkan asam
arakidonat tidak dapat
berubah menjadi
prostaglandin
Antiinflamasi :
Rimpang kunyit Alkaloid, Asam menghambat sitokin
(Curcuma amino dan inflamasi seperti
domestica) Flavonoid (Deb interleukin-1 dan 6 dan
dkk., 2013) faktor transkripsi
Imunomodulator :
Herba meniran Flavonoid, Menghambat pelepasan
(Phyllanthus niruri) Alkaloid, sitokin, Meningkatkan
Terpenoid, fagositosis (Jantan, 2019)
Lignan,
Pollifenol, Tanin,
Kumarin,
Saponin
(Bagalkotkar
dkk., 2006)

Radang sendi Rimpang temulawak Fenol, Flavonoid, Analgesik : Kurkumin


(Osteoartritis) (Curcuma Triterpenoid, menghambat
xanthorriza) Glikosida siklooksigenase yang
(Hayani, 2006) menyebabkan asam
arakidonat tidak dapat
berubah menjadi
prostaglandin

Herba meniran Flavonoid, Analgesik : Menghambat


(Phyllanthus niruri) Alkaloid, pelepasan sitokin (Jantan,
Terpenoid, 2019)
Lignan,
Polyphenol,
Tanin, Kumarin,
Saponin
(Bagalkotkar
dkk., 2006)
13

Rimpang kunyit Alkaloid, Asam Analgesik : Kurkumin


(Curcuma amino, Flavonoid menghambat
domestica) (Deb dkk., 2013) siklooksigenase yang
menyebabkan asam
arakidonat tidak dapat
berubah menjadi
prostaglandin.

Biji adas (Foeniculum Fenolik, Analgesik : Flavonoid


vulgare) Glikosida, menghambat sintesis
Alkaloid, Tanin, protaglandin
Fitosterol,
Flavonoid,
Saponin

Daun kumis kucing Flavonoid, Antiinflamasi :


(Orthosiphon Triterpen, Menghambat pelepasan
aristatus) Diterpen, sitokin (Jantan, 2019)
Sesquiterpen,
Monoterpen,
Turunan Asam
Caffeic (Chai Dan
Wong, 2014)

Herba rumput Tanin, Saponin, Antiinflamasi : Flavonoid


bolong (Equisetum Flavonoid, menghambat sintesis
debile) Terpenoid, protaglandin dan
Glikosida, Menghambat pelepasan
Fenolik. sitokin (Jantan, 2019)

Gangguan Daun jombang Flavonoid, hepatoprotektor :


fungsi hati (Taraxacum Taraxasterol, Meningkatkan detoksifikasi
officinale) Kolin, Inulin, hati
Taraxin, Pektin,
Asparagin.

Rimpang temulawak Alkaloid, Asam Antihepatotoksik :


(Curcuma amino, Flavonoid Kurkumin sebagai
xanthorriza) (Deb dkk., 2013) antioksidan mampu
mencegah kerusakan sel
hepar karen aperoksidasi
lipid dengan cara memutus
rantai antar ion
superoksida.

Rimpang kunyit Alkaloid, Asam Melancarkan aliran


(Curcuma amino, Flavonoid empedu (kolagogum) :
domestica) (Deb dkk., 2013) Kurkumin menstimulasi
dinding kantong empedu
14

yang berperan dalam


pemecahan lemak
sehingga dapat
melancarkan aliran
empedu

Kolesterol tinggi Daun jati cina Alkaloid, Antikolesterol : Flavonoid,


(Alexandrina senna) Saponin, Tanin, steroid, tanin menghambat
Flavonoid, kerja enzim HMG KoA
Steroid, reduktase yaitu enzim yang
Triterpenoid berperan dalam
membentuk kolestrol

Daun jati belanda Alkaloid, Antikolesterol :


(Guazuma ulmifolia) Saponin, Tanin, Meningkatkan
Flavonoid, metabolisme kolestrol
Steroid, menjadi asam empedu dan
Triterpenoid meningkatkan ekskresi
(Iswantini dan asam empedu melalui
Silitonga, 2011) feses. Dan Flavonoid,
steroid, tanin menghambat
kerja enzim HMG KoA
reduktase

Herba tempuyung Alkaloid, Antikolesterol :


(Sonchus arvensis) Saponin, Tanin, Menurunkan efektivitas
Flavonoid enzim di hati dalam
memproduksi asam lemak

Herba teh hijau Alkaloid, Antikolesterol :


(Camellia sinensis) Saponin, Tanin, Menurunkan sintesis
Flavonoid kolestrol dan
meningkatkan regulasi
hepatic LDL reseptor

Rimpang temulawak Alkaloid, Asam Analgesik : Menghambat


(Curcuma amino, Flavonoid pelepasan sitokin, (Jantan,
xanthorriza) (Deb dkk., 2013) 2019)

Rimpang kunyit Alkaloid, Asam Menurunkan trigliserida :


(Curcuma amino, Flavonoid Kurkumin menekan
domestica) (Deb dkk., 2013) aktivitas enzimatik HMG-
CoA reduktase.

Herba meniran Flavonoid, Imunomodulator :


(Phyllanthus niruri) Alkaloid, Menghambat pelepasan
Terpenoid, sitokin, Meningkatkan
Lignan, Polifenol, fagositosis(Jantan, 2019)
Tanin, Kumarin
dan Saponin
15

(Bagalkotkar
dkk., 2006)

Kadar gula Salam (Syzygium Tanin, Glikosida, menghambat penyerapan


darah (diabetes) polyanthum Wight Flavonoid, glukosa dari usus tetapi
Walp) Alkaloid Dan juga secara signifikan
Saponin meningkatkan penyerapan
(Triwidyawati glukosa dalam jaringan
dkk., 2015) otot (TriWidyawati dkk.,
2015).

Sambiloto Flavonoid, peningkatan ekspresi


(Andrographis Diterpenoid, protein GLUT-4 dalam
paniculata (Burn.f.) Polifenol, jaringan otot. Oleh karena
Ness) Diterpen itu, lebih banyak glukosa
(Komalasari Dan digunakan dalam jaringan
Harimurti, 2015) otot(Komalasari dan
Harimurti, 2015)

Kayu Manis Sinamaldehida, stimulasi pelepasan insulin


(Cinnamomum Sinamat, Asam dan pensinyalan reseptor
verum J.S. Presl) Sinamat dan insulin, aktivasi dan
sejumlah Minyak regulasi enzim yang terlibat
Atsiri yang dalam metabolisme
berkontribusi karbohidrat, glikolisis,
terhadap bau, glukoneogenesis, stimulasi
juga pengambilan glukosa sel
mengandung dan peningkatan
Tanin transporter glukosa-4
Prosianidin, reseptor. Studi lain
Lendir, dan menunjukkan bahwa
sedikit Kumarin. cinnamtannin B1,
Sinamaldehida proanthocyanidin yang
(Trans- diisolasi dari kulit batang
Sinamaldehida) kayu manis ceylon,
adalah unsur merangsang fosforilasi
utama dalam reseptor insulin-subunit
barkoil kayu pada adiposit serta
manis. Namun, reseptor insulin lainnya
komponen (Alsamydai dan Al-
utama minyak mamoori, 2018).
daun adalah
eugenol
(Alsamydai Dan
Al-Mamoori,
2018)

Temulawak Alkaloid, Asam memiliki efek perlindungan


(Curcuma amino, Flavonoid terhadap perkembangan
xanthorrhiza Roxb.) (Deb dkk., 2013) resistensi insulin yang
16

diinduksi obesitas dan


kadar glukosa darah tinggi
dan dapat memberikan
pendekatan terapi yang
cocok untuk pengobatan
diabetes mellitus tipe
2(Kim dkk., 2014)

Kebugaran Kunyit (Curcuma Alkaloid, Asam Sebagai immunostimulatir,


jasmani longa L.) amino, Flavonoid aktivitas stimulator imun
(Deb dkk., 2013) yang kuat dengan aktivasi
makrofag, proliferasi
splenosit dan pelepasan
sitokin (Chandrasekaran
dkk., 2013)

Temulawak Alkaloid, Asam Sebagai immunostimulatir,


(Curcuma amino, Flavonoid aktivitas stimulator imun
xanthorrhiza Roxb.) (Deb dkk., 2013) yang kuat dengan aktivasi
makrofag, proliferasi
splenosit dan pelepasan
sitokin (Chandrasekaran
dkk., 2013)

Meniran Flavonoid, Menghambat pelepasan


(Phyllanthus niruri L. Alkaloid, sitokin, Meningkatkan
Terpenoid, fagositosis(Jantan, 2019)
Lignan, Polifenol,
Tanin, Kumarin
dan Saponin
(Bagalkotkar
dkk., 2006)

Penurunan Tempuyung Alkaloid, Menurunkan efektivitas


berat badan (Sonchus arvensis L.) Flavonoid, enzim di hati dalam
(obesitas) Saponin, memproduksi asam lemak
Triterpen, Dan
Steroid
(Rukmantara
dkk., 2013)

Kelembak (Rheum Alkaloid, asam chrysophanic dapat


officinale Baill) Flavonoid, menekan akumulasi lipid
Glikosida, Tanin, dan menurunkan faktor
Senyawa Fenol, adipogenik. Asam
Antrakuinon Chrysophanic dapat
(Emodin And memperbaiki obesitas
Chrysophanic dengan mengaktifkan
Acid Are The protein kinase alpha 5-AMP
Active yang diaktifkan (subunit
17

Compound katalitik AMPK) untuk


)(Angel dkk., mengontrol jalur
2016) adipogenik dan
termogenik.

Emodin kemungkinan
memberikan efek
antiobesitasnya dengan
mengatur jalur protein
pengikat unsur sterol
(SREBP) (Liu dkk., 2017)

Kemuning (Murraya Flavonoid, Tanin, Murraya paniculata


paniculata (L.) Jack ) Steroid memiliki efek yang lebih
(Iswantini Dan tinggi untuk menghambat
Silitonga, 2011) aktivitas lipase pankreas,
oleh karena itu Murraya
paniculata dapat
digunakan sebagai obat
antiobesitas, karena
inhibitor aktivitas lipase
pankreas mampu menekan
penyerapan lemak
makanan dari usus
(Iswantini dan Silitonga,
2011).

Jati Belanda Alkaloid, Meningkatkan


(Guazuma ulmifolia Saponin, Tanin, metabolisme kolestrol
Lam.) Flavonoid, menjadi asam empedu dan
Steroid, meningkatkan ekskresi
Triterpenoid asam empedu melalui
(Iswantini Dan feses. Dan Flavonoid,
Silitonga, 2011) steroid, tanin menghambat
kerja enzim HMG KoA
reduktase

Batu saluran Tempuyung Alkaloid, Kalium dalam tempuyung


kemih (Sonchus arvensis L.) Flavonoid, akan menyingkirkan
Saponin, kalsium dan bergabung
Triterpen, Dan dengan oksalat yang dapat
Steroid membentuk batu ginjal,
(Rukmantara sehingga dapat larut dan
dkk., 2013) keluar bersama urine ( M,
A. H., Yusrin dan H.
Anggraini, 2009)

Kumis Kucing Flavonoid, mengubah morfologi


(Orthosiphon Triterpen, kristal, yaitu kristal
Diterpen, terfragmentasi. Oleh
18

aristatus (Blume) Sesquiterpen, karena itu, dapat dikatakan


Miq.) Monoterpen, bahwa ekstrak tersebut
Turunan asam dapat bermanfaat untuk
caffeic (Chai Dan perawatan batu saluran
Wong, 2014) kemih, karena kristal yang
terfragmentasi memiliki
kecenderungan yang lebih
kecil untuk menggumpal.
(S.Muryantoa dkk., 2015)

Keji beling Polifenol, mineral penting seperti


(Strobilanthus Flavonoid, potasium dan natrium yang
crispus B1) Katekin, Alkaloid, tinggi memiliki sifat alkali,
Kafein, Tanin mineral tersebut akan
(Nurraihana Dan menghancurkan dan
Norfarizan menyingkirkan kalsium
Hanoon, 2013) oksalat (batu ginjal)
sehingga dapat larut dan
keluar bersama urine
(Astuti dkk., 2016)

Alang-alang Karbohidrat, aktivitas antiurolithiatic


(Imperata cylindrica Glikosida, yang potensial dalam
(L.)) Flavanoid, mencegah pembentukan
Triterpenoid dan sebagai kuratif dalam
(Cylindrica, melarutkan batu (Nagal
2012) dan Singla, 2013)

Kunyit (Curcuma Alkaloid, Asam curcumin menunjukkan


longa L.) amino dan efek terhadap Proteus
Flavonoid (Deb mirabilis yang
dkk., 2013) menghambat aktivitas
urease — enzim yang
diproduksi oleh
mikroorganisme ini.
Penambahan curcumin
meningkatkan waktu
induksi dan mengurangi
efisiensi pertumbuhan
struvite dibandingkan
dengan tidak adanya
curcumin (Prywer dan
Torzewska, 2012)

Meniran Flavonoid, Ini meningkatkan ekskresi


(Phyllanthus niruri L.) Alkaloid, magnesium dan kalium
Terpenoid, urin menyebabkan
Lignan, Polifenol, penurunan signifikan
Tanin, Kumarin oksalat urat dan asam urat
dan Saponin pada pasien dengan
19

(Bagalkotkar hiperoksaluria dan


dkk., 2006) hiperurikururia. Konsumsi
Phyllanthus niruri
berkontribusi pada
penghilangan batu saluran
kemih (Pucci dkk., 2018).

Temulawak Alkaloid, Asam Penambahan kurkumin


(Curcuma amino dan mengurangi efisiensi
xanthorrhiza Roxb.) Flavonoid (Deb pertumbuhan struvite
dkk., 2013) (kristal) dibandingkan
dengan tidak adanya
curcumin (Prywer dan
Torzewska, 2012)
BAB 4. PERATURAN TERKAIT SAINTIFIKASI JAMU

4.1 Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan


Peraturan terkait saintifikasi jamu pada Undang-Undang ini dijelaskan dalam
pelayanan kesehatan tradisional. Pengobatan berdasarkan warisan turun temurun dengan
cara empiris dan dapat dipraktikkan sesuai peraturan pada masyarakat disebut dengan
pelayanan kesehatan tradisional. Pembina dan pengawas dari pelayanan kesehatan
tradisional adalah Pemerintah sehingga dapat terjamin dari sisi aman dan
kebermanfaatannya. Penggunaan alat maupun teknologi dalam menunjang pelayanan
kesehatan tradisional harus sudah diberi izin oleh lembaga kesehatan yang berwenang.
Seluruh pekerjaan kefarmasian termasuk yang berkaitan dengan obat tradisional wajib
dikerjakan tenaga kesehatan yang ahli dan berwenang seperti yang sudah dijelaskan dalam
peraturan dan Undang-undang. Apabila terdapat oknum yang melakukan tindak pelayanan
kesehatan tradisional lalu merugikan, menimbulkan luka berat hingga kematian maka akan
ditindak pidana maupun denda sesuai peraturan yang ada (Undang-Undang Republik
Indonesia, 2009).

4.2 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 003/Menkes/Per/I/201


Tentang Saintifikasi Jamu Dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan
Di dalam peraturan ini, disebutkan bahwa pelayanan kesehatan yang dilakukan
bersamaan dengan pembuktian ilmiah merupakan pengertian dari saintifikasi jamu.
Beberapa tujuannya yaitu terkait dengan pemberian landasan secara ilmiah tentang
pemakaian, penyediaan, manfaat jamu pada pelayanan kesehatan. Upaya preventif,
promotif, rehabilitatif maupun paliatif masuk dalam ruang lingkup yang utama dari
saintifikasi jamu.
Jamu yang dipakai dalam saintifikasi jamu adalah jamu yang telah dilakukan penetapan oleh
Komisi Nasional Saintifikasi Jamu. Tempat kegiatan saintifikasi jamu juga sudah diatur dalam
peraturan ini yaitu hanya dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah
maupun swasta yang sudah menerima izin juga sesuai peraturan yang ada dan selain itu juga
harus dapat dijangkau dari sisi harga yang ditawarkan. Kemudian hasil yang didapatkan dari
fasilitas pelayanan kesehatan oleh pemerintah dimasukkan ke dalam pendapatan negara
bukan pajak dengan pengelolaan sesuai peraturan.
21

Peraturan ini mengatur tentang beberapa hal terkait saintifikasi jamu yang terdiri
dari 6 bab. Pada bab 1 menjelaskan tentang pengertian dari saintifikasi jamu, jamu, obat
tradisional, tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, pengobatan komplementer-
alternatif, ilmu pengetahuan biomedik, sertifikat kompetensi, surat bukti registrasi tenaga
pengobatan komplementer-alternatif, surat tugas tenaga pengobatan komplementer-
alternatif, dan surat izin kerja tenaga pengobatan komplementer-alternatif. Sedangkan pada
bab 2 menjelaskan tentang tujuan dari pengaturan saintifikasi jamu, ruang lingkup saintifikasi
jamu dan sintifikasi jamu dalam rangka upaya kuratif hanya dapat dilakukan atas permintaan
tertulis pasien sebagai komplementer alternatif setelah pasien memperoleh penjelasan yang
cukup.
Pada bab 3 menjelaskan tentang tempat dilakukannya saintifikasi jamu dalam
penelitian berbasis pelayanan kesehatan, seperti B2P2TOOT, klinik jamu, sentra
pengembangan dan penerapan pengobatan tradisional (SP3T), balai kesehatan tradisional
masyarakat (BKTM)/loka kesehatan tradisional masyarakat (LKTM), dan rumah sakit yang
ditetapkan. Pada bab 3 ini juga dijelaskan bahwa klinik jamu terdiri dari tipe A dan B,
perbedaan dari keduanya yaitu pada persyaratan mengenai ketenagaan, sarana, dan
ruangan. Ketenagaan klinik jamu terdiri dari dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Dokter
harus memiliki surat tanda registrasi (STR) dan surat izin praktik (SIP). Apoteker harus
memiliki surat tanda registrasi Apoteker (STRA) dan surat izin praktik Apoteker (SIPA). Dokter
dan Apoteker juga harus memiliki surat bukti registrasi sebagai tenaga pengobat
komplementer alternative (SBR-TPKA) dan surat tugas sebagai tenaga pengobat
komplementer alternatif (ST-TPKA/SIK-TPKA). Jamu hanya dapat diberikan setelah
mendapatkan persetujuan tindakan dari pasien. Persetujuan diberikan setelah pasien
mendapatkan penjelasan dan diberikan secara lisan atau tertulis sesuai dengan peraturan
perundamg-undangan yang berlaku. Tenaga kesehatan atau tenaga lain harus melakukan
pencatatan dalam rekam medis (medical record) yang dibuat berdasarkan pedoman
pelayanan jamu.
Dalam bab 4 menjelaskan tentang tentang Pembinaan dan Pengawasan
Pembinaan dan pengawasan penelitian saintifikasi jamu berbasis pelayanan dilakukan oleh
Komisi Nasional Saintifikasi Jamu, sedangkan pembinaan dan peningkatan saintifikasi jamu
di daerah dapat dibentuk komisi daerah saintifikasi jamu. Kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota dapat mengambil tindakan administratif kepada fasilitas pelayanan
kesehatan/tenaga pengobatan komplementer alternatif/tenaga pengobat tradisional yang
22

melakukan pelanggaran terhadap ketentuan peraturan ini. Pada bab 5 menjelaskan bahwa
dalam jangka waktu 3 bulan setelah peraturan ini ditetapkan, kepala dinas kesehatan
kabupaten/kota harus memfasilitasi pemberian surat tugas tenaga pengobatan
komplementer alternatif/surat izin kerja tenaga pengobatan komplementer alternatif (ST-
TPKA/SIK-TPKA). Sedangkan bab 6 menjelaskan mengenai ketentuan tempat dan waktu
mulai berlakunya peraturan. Peraturan ini ditetapkan di Jakarta pada tanggal 4 Januari 2010
oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR.PH
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2010) .

4.3 Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 88 Tahun 2013 tentang
Rencana Induk Pengembangan Bahan Baku Obat Tradisional
Pada peraturan ini disebutkan bahwa program saintifikasi jamu melakukan
pengembangan sumber daya manusia dengan mendidik para dokter dan Apoteker yang akan
melaksanakan penelitian berbasis pelayanan tersebut di rumah sakit dan puskesmas,
membangun infrastruktur layanan kesehatan tradisonal dan menerbitkan Vademekum
Tanaman Obat. Ketersediaan BBOT (Bahan Baku Obat Tradisional) simplisia sangat
dibutuhkan, khususnya dalam program saintifikasi kamu yang akan dilaksanakan di seluruh
Indonesia. Setiap klinik Saintifikasi Jamu akan membutuhkan pasokan BBOT simplisia untuk
melaksanakan penelitian. Implikasinya adalah BBOT simplisia yang telah teruji khasiatnya
akan diperlukan oleh industri jamu dan para dokter dimasa mendatang.
Dalam penyusunan Rencana Induk Pengembangan Bahan Baku Obat Tradisional
(BBOT), perlu dilakukan analisis permasalahan yang dihadapi. Analisis masalah dilakukan
dengan menggunakan metode yang berorientasi pada tujuan (objective oriented method).
Tujuan utama dirumuskan sebagai “mengembangkan kemandirian dan daya saing industri
obat tradisional nasional”. Analisis dilakukan melalui studi literatur dan diskusi terfokus pada
tujuan untuk menentukan masalah yang dihadapi dan membaginya kedalam sebab dan
akibat serta memilihnya pada aspek-aspek yang terkait dengan kebijakan, kelembagaan,
IPTEK dan pendanaan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2013a).

4.4 Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


296/Menkes/Sk/Viii/2013 tentang Komisi Nasional Saintifikasi Jamu
Dalam peraturan ini terdapat susunan keanggotaan Komisi Nasional Saintifikasi
Jamu. Komisi ini terdiri dari pelindung, pengarah, penanggung jawab, ketua, wakil ketua,
23

sekretaris, anggota bidang pra pelayanan (ketersediaan kontinuitas bahan uji dan distribusi)
dan anggota bidang pelayanan (penelitian berbasis pelayanan) (Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia, 2013).
BAB 5. PERAN APOTEKER DALAM SAINTIFIKASI JAMU

Peran Apoteker dalam saintifikasi jamu belum dijelaskan secarra terperinici pada
Permenkes No. 03/2010 sehingga diperlukan peraturan yang menjabarkan peran Apoteker
saintifikasi Jamu yang komplementer sehingga dapat menjamin penelitian berbasis
pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan obat tradisional. Pada kegiatan saintifikasi jamu,
Apoteker dapat berperan dalam beberapa hal, yaitu (Aditama, 2014) :
1. Penerapan praktik kefarmasian;
2. Pengadaan jamu berkualitas;
3. Penyimpanan dan distribusi Jamu;
4. Pelayanan kefarmasian;
5. Pencacatan kefarmasian;
6. Pengembangan produk jamu saintifik menjadi bentuk sediaan yang praktis.

5.1 Peran Apoteker dalam Budidaya dan Pascapanen


Dalam proses penyediaan simplisia, Apoteker terlibat didalamnya sebagai pengawas
dan pemastian simplisia (Suharmiati, 2012). Proses penyediaan simplisia yang harus diawasi
agar didapatkan bahan baku terstandar. Penyediaan simplisia dilakukan dengan melakukan
budidaya dan pascapanen tanaman. Proses budidaya tanaman diawali dengan melakukan
pembibitan, lalu mengolah media tanam, melakukan penanaman, memelihara dan
memanen tanaman. Sedangkan proses pascapanen merupakan proses selanjutnya dari
pemanenan tanaman. Tujuannya agar didapatkan peningkatan sifat-sifat mutu dari hasil
panen yang terdiri dari karakteristik tampilan (bentuk, ukuran dan warna), tekstur dan
keamanan hasil panen. Selain itu, juga juga diharapkan agar kualitas hasil panen bertahan,
memudahkan penyimpanan untuk dilakukan proses selanjutnya sehingga meminimalisir
terjadinya kerusakan (Kementerian Pertanian Republik Indonesia, 2013).
25

5.2 Peran Apoteker dalam Pelayanan Farmasi Klinik


Dalam pelayanan farmasi klinik, tentunya Apoteker juga berperan dimulai dari proses
skrining resep, penyiapan obat, peracikan, pemberian etiket, pemberian kemasan pada obat,
penyerahan obat serta pemberian informasi obat, konseling, monitoring penggunaan obat,
home care, promosi dan edukasi, serta pencatatan dan pelaporan. Peran dan tanggung jawab
Apoteker dalam penyelenggaraan praktik kefarmasian tersebut dalam rangka promotif,
preventif, kuratif dan rehabilitatif baik bagi perorangan, kelompok dan masyarakat. Hal ini
sesuai dengan paradigma pelayanan kefarmasian yang sekarang berkembang yaitu
bergesernya orientasi seorang Apoteker dari drug oriented menjadi patient oriented
(Suharmiati, 2012).
5.3 Peran Apoteker dalam Pengembangan Jamu
Dalam penelitian dan pengembangan bidang jamu dan tanaman obat , Apoteker juga
turut andil untuk melakukannya. Pembuktian empiris mengenai khasiat dan keamanan obat
tradisional (jamu) merupakan hal yang penting agar jamu dapat menjadi komponen dalam
sistem pelayanan kesehatan di Indonesia karena hanya jamu yang terbukti berkhasiat serta
aman yang dapat digunakan dalam sistem pelayanan kesehatan. Program saintifikasi jamu
yaitu suatu penelitian berbasis pelayanan yang mencakup pengembangan tanaman obat
menjadi jamu saintifik yang terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut (Aditama, 2014):
a. Base-line data tanaman obat tradisional
Base-line data tanaman obat tradisional dapat diperoleh dengan melakukan studi
etnofarmakologi terkait penggunaan tanaman obat secara tradisional.
b. Seleksi formula jamu
Seleksi formula jamu dilakukan pada formula jamu yang berpotensial untuk terapi
alternatif/ komplementer.
c. Studi klinik
di klinik yaitu untuk mendapatkan bukti terkait manfaat serta keamanan.
BAB 6. METODE PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN SAINTIFIKASI JAMU

Menurut PerMenkes RI No.03 Tahun 2010 tentang Saintifikasi Jamu dalam


Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan memiliki tujuan :
a. Memberikan landasan ilmiah (evidence based) penggunaan jamu secara empiris
melalui penelitian pelayanan kesehatan;
b. Mendorong terbentuknya jejaring dokter atau dokter gigi serta tenaga kesehatan
lainnya sebagai peneliti dalam upaya preventif, promotif, paliatif dengan penggunaan
jamu
c. Meningkatkan kegiatan penelitian secara kualitatif terhadap pasien melalui
penggunaan jamu
d. Meningkatkan penyediaan jamu yang memiliki khasiat yang nyata, aman, telah teruji
secara klinis dan dimanfaatkan secara luas untuk pengobatan sendiri maupun pada
fasilitas pelayanan kesehatan (Kemenkes RI, 2010).

6.1 Pelaksanaan Saintifikasi Jamu


Pelaksanaan kegiatan saintifikasi jamu dilaksanakan pada fasilitas pelayanan
kesehatan milik pemerintah atau swasta. Fasilitas pelayanan kesehatan adalah tempat yang
digunakan untuk menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan. Fasilitas pelayanan
kesehatan yang digunakan pada kegiatan saintifikasi jamu adalah klinik saintifikasi jamu,
klinik pratama maupun utama, puskesmas dan atau rumah sakit dengan koordinator dokter
saintifikasi jamu (Purwadianto, dkk., 2017).

6.2 Bahan Uji Saintifikasi Jamu


Bahan baku dalam penelitian pelayanan yang telah memiliki bukti dapat dilayankan
oleh Dokter Saintifikasi Jamu. Sumber bahan baku saintifikasi jamu saat ini berasal dari
B2P2TOOT sebagai penyedia jamu saintifik yang terstandar. Pemesanan bahan dapat
dilakukan melalui website dengan alamat www.sijae.org. Sistem pada website ini akan
mengingatkan adanya laporan yang harus diserahkan sebelum pemesanan jamu berikutnya
yang meliputi manfaat dan kualitas jamu. Data yang tercatat dalam sistem ini diharapkan
27

mampu menjadi bagian evidence base jamu yang dikembangkan oleh B2P2TOOT
(Purwadianto, dkk., 2017).

6.3 Metodologi Saintifikasi Jamu


6.3.1 Penelitian Kualitatif
a. Studi Etnomedisin
Studi perbandingan mengenai perbandingan penggunaan obat tradisional
oleh berbagai etnis.
b. Studi Observasi Non-Intervensi
Obsetvasi non-intervensi adalah bagian dari studi etnomedisin, studi
epidemiologi dengan melakukan pengamatan, pencatatan terhadap praktek
pengobatan secara tradisional pada komunitas etnis tertentu. Tujuan dari studi
ini adalah untuk mendapatkan evidence base dari modalitas yang digunakan oleh
para praktisi pengobatan, utamanya ramuan. Peneliti yang merupakan pengawas
melakukan pencatatan sesuai dengan kaidah uji klinik antara lain karakteristik
pasien, jenis keluhan/gejala yang dipahami oleh praktisi, jenis ramuan, identifikasi
simplisia, posologi, respon pemberian jamu, serta terjadinya kejadian tidak
diinginkan (KTD). Pengawas mengikuti jalanya proses penyembuhan pasien yang
terpilih, serta melakukan pengamatan terhadap kesinambungan bahan baku jamu
(Purwadianto, dkk., 2017)
c. Pengukuran Parameter Respon Kualitatif
Secara kualitatif, suatu penelitian akan menghasilkan data yang mendukung
peran pelayanan kesehatan tradisional yang mengarah pada paradigma sehat
untuk meningkatkan kualitas hidup individu serta memberikan manfaat
penggunaan jamu. Pengumpulan data kualitatif dapat dilakukan melalui berbagai
cara seperti wawancara terstruktur, wawancara mendalam, pengisian kuisoner
oleh responden, diskusi kelompok dan pengukuran (Purwadianto, dkk., 2017).

6.3.2 Penelitian Kuantitatif


a. Observasi Klinik dengan Intervensi
Peneliti melakukan saintifikasi dengan jalan membakukan beberapa variabel
praktek pengobatan tradisional untuk uji klinik antara lain jamu empiris, jenis
28

keluhan atau gejala, seleksi pasien mengikuti kriteria inklusi dan eksklusi, serta
outcome pengobatan yang ingin dicapai.
Jamu empirik distandarkan dengan menentukan dosis untuk sekali minum
dan juga dalam sehari, waktu penggunaan serta cara penyiapan mengikuti Cara
Penyiapan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) sehingga jamu empiris ini nantinya
layak menjadi bahan uji. Komponen variabel lain yang telah dibakukan juga
ditawarkan kepada praktisi pengobatan tradisional untuk digunakan. Data
observasi intervensi dapat memberikan informasi sebelum dan sesudah
penelitian dan tanpa pembanding. Analisis komprehensif serta kritis terhadap
data ini juga dapat menjadi data pendukung efikasi dan keamanan jamu dari studi
praklinik dan empirik (Purwadianto, dkk., 2017).
b. Uji Klinik Fase 1
Uji ini melibatkan orang sehat yang bertujuan untuk melihat profil
farmakologis (farmakokinetik dan farmakodinamik) dan toksisitas pada manusia
(human pharmacology and toxicity) (Siswanto, 2012).
c. Uji Klinik Fase 2
Uji klinik fase 2 bertujuan untuk melihat efek terapeutik awal dan keamanan
(therapeutic exploratory). Komisi Nasional Saintifikasi Jamu sepakat untuk uji
klinik fase 2 dalam rangka melihat efikasi awal dan keamanan, cukup
menggunakan pre-post test design (tanpa pembanding). Apabila pada uji klinik
fase 2 membuktikan efikasi awal yang baik, maka dapat dilanjutkan uji klinik fase
3 untuk melihat efektivitas dan keamanannya pada sampel yang lebih besar pada
target populasi yang sebenarnya (Siswanto, 2012).
d. Uji Klinik Fase 3
Uji klinik fase 3 bertujuan untuk melihat efektivitas dan keamanan
(therapeutic confirmatory) (Lee, dkk., 2005). Setelah uji klinik fase 3 menunjukkan
efektivitas yang baik untuk indikasi tertentu dan aman, barulah obat dapat
dipasarkan (dengan persetujuan Badan POM). Desain uji klinik fase 3 Jamu ini
sebaiknya menggunakan randomized trial meski tanpa ketersamaran (open label
randomized trial) (Siswanto, 2012).
e. Uji Klinik Fase 4
Uji klinik fase 4 bertujuan untuk mendapatkan tambahan data manfaat dan
keamanan yang lebih rinci dan lebih komprehensif. Uji pasca pemasaran termasuk
29

dalam uji klinik fase 4. Postmarketing surveillance dilakukan dengan


menggunakan desain observasi tanpa intervensi atau non-eksperimental untuk
mengevaluasi dosis, jangka waktu penggunaan, interaksi dengan obat atau
dengan jamu lainnya. Uji ini juga bertujuan untuk menilai terjadinya efek samping
jangka panjang, atau melihat efek samping yang belum diketahui pada saat uji
klinik sebelumnya (Purwadianto, dkk., 2017).

6.4 Tahapan Metodologi Saintifikasi Jamu


Saintifikasi Jamu mengusulkan tahapan pembuktian manfaat dan keamanan jamu
baik untuk formula turun temurun maupun formula baru. Untuk mendapatkan data tentang
jenis tanaman, ramuan tradisional, dan kegunaan ramuan tersebut, tahap pertama dalam
penelitian Saintifikasi Jamu adalah melakukan studi etnomedisin dan etnofarmakologi
terhadap kelompok etnis masyarakat tertentu. Dari studi etnomedisin dan etnofarmakologi
ini diharapkan mampu mengidentifikasi jenis tanaman, bagian tanaman yang digunakan,
ramuan yang digunakan dan indikasi dari tiap tanaman maupun ramuan, baik untuk tujuan
pengobatan maupun pemeliharaan. Data sangat penting sebagai “bahan dasar” pembuktian
ilmiah yang lebih lanjut (Siswanto, 2012).
Data hasil studi etnomedisin dan etnofarmakologi ini tentunya perlu dikaji oleh
para ahli farmakologi herbal untuk dilakukan skrining guna ditetapkan jenis tanaman dan
jenis ramuan yang potensial untuk dilakukan uji manfaat dan keamanan. Tahapan
metodologi Saintifi kasi Jamu dan keterkaitannya dengan metodologi dapat dilihat pada
Gambar 6.1.
30

Gambar 6. 1 Tahapan metodologi Saintifikasi Jamu dan keterkaitannya dengan metodologi

6.5 Penatalaksanaan Penelitian Saintifikasi Jamu


Tahapan dalam pelaksaanaan riset dalam saintifikasi jamu dapat dilihat pada Gambar
6.2. Pasien yang menjadi subjek penelitian harus menandatangani informed consent. Pada
informed consent berisi persetujuan pasien untuk menjalani pengobatan dengan obat
tradisional atas keinginan sendiri tanpa paksaan apapun setelah menerima informasi
mengenai resiko ataupun efek samping yang bisa saja terjadi (Kemenkes RI, 2010).
Tenaga kesehatan atau tenaga lainnya yang melakukan penelitian berbasis
pelayanan jamu kepada pasien harus melakukan pencatatan rekam medis yang dibuat sesuai
dengan pedoman pelayanan jamu di fasilitas kesehatan. Pasien dapat dikeluarkan dari subjek
penelitian (eksklusi) apabila saat pengobatan pasien mengalami efek samping serius atau
pasien mengalami komplikasi diluar dari penyakit yang diteliti. Penelitian dilakukan dengan
mengambil data rekam medis. Untuk pelaksanaan penelitian dan ethical clearance dilakukan
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku (Kemenkes RI, 2010).
31

Pasien melakukan pendaftaran dengan mengisi formulir

Pasien mendapatkan kartu pasien dan berkas rekam medis

Dilakukan pemeriksaan (informed consent)

Dilakukan pencatatan rekam medis

Dilakukan penentuan sampel inklusi dan


eksklusi

Dilakukan pengajuan ethical clearance

Dilakukan Penelitian

Gambar 6. 2 Tahapan penelitian saintifikasi jamu berbasis pelayanan kesehatan

6.6 Pengembangan Saintifikasi Jamu


Pengembangan jalur obat tradisional terbagi menjadi tiga proses, yaitu proses
pertama zat aktif diambil dari tumbuhan obat untuk selanjutnya dikembangkan menjadi obat
modern dan diedarkan di fasilitas pelayanan kesehatan modern. Proses kedua, tumbuhan
obat yang biasa disebut sebagai jamu digunakan oleh non tenaga kesehatan, jamu biasanya
digunakan di pelayanan kesehatan tradisional. Jamu yang diperoleh dari non tenaga
kesehatan yang memiliki khasiat baik dapat diangkat menjadi jamu yang bisa digunakan oleh
tenaga kesehatan dengan melalui tahapan penelitian. Kemudian proses ketiga, jamu yang
berasal dari tumbuhan obat digunakan oleh dokter atau rumah sakit kemudian tumbuhan
obat tersebut disebut sebagai jamu saintifik berdasarkan peraturan menteri kesehatan
mengenai penelitian dan pelayanan (Siswanto, 2012).
BAB 7. PUSTAKA RUJUKAN SAINTIFIKASI JAMU

Suatu bahan baku obat tradisional atau jamu dapat berasal dari berbagai macam
tempat tumbuh, varietas, umur tanaman dan masa panen yang beragam. Dengan adanya
berbagai macam perbedaan tersebut maka akan berpengaruh terhadap variasi kandungan
kimia dan efek yang dihasilkan. Standarisasi bahan baku menjadi salah satu titik kritis dalam
bidang saintifikasi jamu. Dalam upaya menyediakan bukti ilmiah yang terpercaya terkait
mutu, keamanan, dan manfaat obat tradisional (jamu) maka juga perlu dilakukan penjaminan
mutu bahan baku jamu. Standarisasi dan penjaminan mutu tersebut dilakukan mulai dari
tahap pemilihan bibit simplisia, pemilihan lokasi tanam, cara tanam, cara panen, waktu
panen, pengolahan pasca panen hingga produk tersebut sampai ke tangan masyarakat atau
pasien. Adapun standarisasi dan penjaminan mutu bahan baku dilakukan merujuk pada
beberapa pustaka yang sering digunakan dalam bidang saintifikasi jamu, antara lain:

7.1 Vademekum Tanaman Obat


Vademekum tanaman obat diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. Buku ini terdiri dari 5 beberapa jilid antara lain (B2P2TOOT, 2016):
a. Jilid I : diterbitkan pada tahun 2010
b. Jilid II : diterbitkan pada tahun 2011
c. Jilid III : diterbitkan pada tahun 2013
d. Jilid IV : diterbitkan pada tahun 2013
e. Jilid V : diterbitkan pada tahun 2014
Buku Vademekum tanaman obat memuat informasi mengenai pedoman teknis
pemanfaatan tanaman obat yang berisi tentang identitas botani, ekologi, dan penyebaran,
teknik budidaya dan pasca panen, aspek keamanan, aspek manfaat, dan khasiat, kandungan
kimia, bagian tanaman yang digunakan, efek samping, kontraindikasi, peringatan, toksisitas,
interaksi dan formula (Kementrian Kesehatan RI, 2012). Buku ini juga mencantumkan
beberapa spesies tanaman obat yang digunakan sebagai formula di Klinik Hortus Mediscus
Tawangmangu.

7.2 Farmakope Herbal Indonesia


Farmakope Herbal Indonesia (FHI) diterbitkan pertama kali pada tahun 2008 dan
berisikan mengenai standart simplisia dan ekstrak obat untuk pengobatan untuk melengkapi
33

buku Materia Medika Indonesia yang telah terbit sejak lama. diantaranya sebagai berikut
(Departemen Kesehatan RI, 2008) :
a. FHI Jilid I : diterbitkan pada tahun 2008
b. Suplemen 1 FHI edisi 1 : diterbitkan pada tahun 2010
c. Suplemen 2 FHI edisi 1 : diterbitkan pada tahun 2011
d. Suplemen 3 FHI edisi 1 : diterbitkan pada tahun 2013
FHI berisi tentang ketentuan umum serta 70 monografi simplisia dan ekstrak
diantaranya sebagai berikut :
a. Identitas simplisia (pemerian, mikroskopis, senyawa identitas, pola kromatografi,
susut pengeringan, abu total, abu tidak larut asam, sari larut air, dan sari larut etanol
b. Kandungan kimia simplisia
c. Pembuatan ekstrak
d. Identitas ekstrak (pemerian, senyawa identitas, persyaratan kadar air, abu total, dan
abu tidak larut asam)
e. Kandungan kimia ekstrak dan penetapan kadarnya

7.3 Materia Medika Indonesia


Materia Medika Indonesia (MMI) diterbitkan oleh Departemen Kesehatan Republik
Indonesia yang memuat monografi mencakup nama simplisia, pemerian, makroskopis,
mikroskopis, indentifikasi (gambar penampang melintang simplisia dan gambar serbuk),
kadar abu, kadar abu tidak larut asam, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, cara
penyimpanan, isi, penggunaan, nama daerah dan foto berwarna dari simplisia tersebut
(Departemen Kesehatan RI, 1995). Buku Materia Medika Indonesia terdiri dari 6 jilid antara
lain:
a. Jilid I : diterbitkan pada tahun 1977
b. Jilid II : diterbitkan pada tahun 1978
c. Jilid III : diterbitkan pada tahun 1979
d. Jilid IV : diterbitkan pada tahun 1980
e. Jilid V : diterbitkan pada tahun 1989, disusun oleh Direktorat Pengawasan Obat dan
Makanan
f. Jilid VI : diterbitkan pada tahun 1995
BAB 8. MODEL STANDAR KLINIK DAN APOTEKER SAINTIFIKASI JAMU

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 003/MENKES/PER/I/2010 tentang


Saintifikasi Jamu dalam Penelitian Berbasis Pelayanan Kesehatan, Klinik jamu merupakan
praktik perorangan dokter atau dokter gigi maupun praktik berkelompok/bersama dengan
dokter atau dokter gigi yang lain. Klinik jamu dibedakan menjadi dua tipe klinik jamu yaitu
klinik jamu tipe A dan klinik jamu tipe B. Perbedaan ini didasarkan oleh beberapa aspek yakni
aspek tenaga kerja, sarana dan prasarana. Adapun perbedaandari dua tipe klinik jamu
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Klinik Jamu Tipe A
Klinik Jamu tipe A memiliki tenaga kerja berupa: dokter sebagai penanggung
jawab, asisten apoteker, tenaga kesehatan komplementer alternatif lainnya (sesuai
dengan kebutuhan), dan Diploma 3 tentang pengobatan tradisional (yang telah
bergabung bersama dalam asosiasi pengobatan trasdisional) dan di akui oleh
Departemen Kesehatan serta tenaga administrasi. Aspek sarana dan prasarana yang
menjadi prasayarat pada klinik B2PTOTOOT diantaranya peralatan medis, peralatan
jamu. Ruangan yang harus ada berupa ruang tunggu, ruang pendaftaran dan rekam
medis, ruang konsultasi/pelaksanaan penelitian, ruang pemeriksaan, ruang peracikan,
gudang penyimpanan jamu, ruang diskusi, ruang laboratorium, ruang apotek jamu.
2. Klinik Jamu Tipe B
Klinik Jamu tipe B memiliki tenaga kerja berupa: Dokter sebagai penanggung
jawab, tenaga kesehatan komplementer alternatif lain sesuai kebutuhan, Diploma (D3)
pengobat tradisional dan/atau yang tergabung dalam Asosiasi Pengobat Tradisonal
yang telah diakui oleh Departemen Kesehatan, tenaga administrasi. Aspek sarana dan
prasarana yang menjadi prasayarat pada klinik B2PTOTOOT diantaranya peralatan
medis, peralatan jamu. Ruangan yang harus ada berupa ruang tunggu, ruang
konsultasi/pelaksanaan penelitian, ruang pemeriksaan, ruang peracikan.

8.1 Sarana dan Prasarana


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 003 tahun 2010, Klinik Jamu tipe A
harus memenuhi persyaratan ruang sebagai berikut: ruang pendaftaran dan rekam medis
dilengkapi adanya ruang tunggu, dengan tambahan ruang konsultasi, ruang pemeriksaan,
ruang peracikan jamu, ruang peralatan medis, ruang peralatan jamu, ruang penyimpanan
35

jamu, ruang diskusi, ruang laboratorium sederhana, serta apotek jamu. Sedangkan sarana
yang dimiliki oleh Instalasi rumah riset jamu di B2P2TOOT terdiri atas ruang tunggu pasien
dengan prasarana berupa kursi tempat duduk, tempat administrasi, 6 ruang periksa, 6
tempat tidur, 1 ruang USG dan EKG, laboratorium klinik, dan griya jamu serta ditunjang
dengan fasilitas lain berupa mushola, kebun koleksi tanaman obat, kantin, kebun sayuran
organik, footstone therapy area, taman dan gazebo (Kementerian Kesehatan RI, 2016).

8.2 Ketenagaan Persyaratan


Ketenagaan di klinik jamu tipe A meliputi dokter sebagai penanggung jawab, asisten
apoteker, tenaga kesehatan komplementer alternatif, D3 pengobat tradisional, dan tenaga
administrasi sedangkan pada klinik jamu tipe B meliputi dokter sebagai penanggung jawab,
tenaga kesehatan komplementer alternatif, Diploma (D3) pengobat tradisional dan, tenaga
administrasi (B2P2TOOT, 2016).

8.3 Alur Pelayanan Pengobatan pada Apotek dan Klinik Saintifikasi Jamu
Alur pelayanan pada Apotek Klinik SJ secara umum hampir sama seperti pelayanan
di fasilitas kesehatan lain seperti di puskesmas dan rumah sakit. Aspek yang membedakan
Klinik Jamu dengan fasilitas kesehatan lain adalah waktu pendaftaran, kewajiban pasien
dalam menandatangani informed consent dan request consent, pengisian identitas pasien
secara lengkap, serta pengobatan jamu yang diperoleh. Jadwal prakteknya yaitu pada hari
Senin-Jumat (sabtu, minggu dan hari libur tutup) pada jam 08.30-11.30 dengan biaya
pendaftaran Rp 5.000 dan biaya penggantian jamu Rp 30.000.
Berdasarkan situs resmi B2P2TOOT, prosedur pelayanan di Rumah Riset Jamu Hortus
Medicus secara deskriptif sebagai berikut:
36

Pasien Pasien
baru Lama

Pasien mengisi Pasien Pasien


formulir dibuatkan kartu menandatanga Pasien
pendaftaran pasien pasien dan ni informed mengumpulkan
baru atau berkas rekam consent & kartu pasien
mengumpulkan medis request consent
kartu identitas

Pasien membayar PNBP Rp. 5000,-

Pasien menerima bukti


pembayaran PNBP, kartu
pasien dan nomor antrian

Berkas rekam medis dimasukan dalam map antrian sesuai nomor urut.

Panggilan pemeriksaan dokter melalui mesin antrian di ruang tunggu.

Pasien diperiksa Dokter.

Pasien mendapatkan resep untuk ditukarkan dengan jamu sesuai


dengan anamnesa dokter

Pasien menyerahkan resep ke Griya Jamu untuk diracik

Pasien menerima jamu dan penjelasan cara penggunaan

Gambar 8. 1 Prosedur pelayanan di Rumah Riset Jamu Hortus Medicus


37

Griya jamu adalah hilir dari pelayanan klinik jamu. Jamu yang digunakan berupa
racikan simplisia, serbuk dan ekstrak tanaman obat yang telah melalui uji kemanan, mutu
dan khasiat. Kegiatan yang dilaksanakan pada Griya Jamu meliputi skrining resep dan
penyiapan jamu, jamu yang disiapkan/disediakan dalam bebagai bentuk baik berupa kapsul
maupun rebusan. Dalam hal ini apoteker bertugas untuk melakukan skrining resep yang
berisi diagnosa dokter selanjutnya mempersiapkan jamu yang sudah terstandarisasi sesuai
dengan bentuk sediaan yang diinginkan (racikan/rebusan/kapsul). Jamu yang yang telah
dipersiapkan dikemas dan diberi etiket. Apoteker menyerahkan ramuan jamu sekaligus
memberikan edukasi mengenai cara penggunaan (merebus/aturan minum dan informasi lain
yang terkait jamu).

8.4 Alur Pengadaan Bahan Baku di Klinik Saintifikasi Jamu


8.4.1 Pengumpulan Bahan Baku
Hal pokok yang harus diperhatikan dalam tahap pengumpulan bahan baku simplisia
yakni bagian tanaman yang akan digunakan, umur tanaman serta waktu yang tepat untuk
panen. Waktu panen berhubungan erat dengan aktivitas fisiologis tanaman sehingga akan
berdampak pula pada kandungan metabolit sekunder yang secara umum dibentuk pada saat
masa akhir pertumbuhan. Umur tumbuhan sangat mempengaruhi kandungan metabolit
sekundernya. Tahapan awal yang dilakukan pada pengumpulan ini adalah memisahkan
bagian tanaman yang akan dibuat simplisia untuk menghindari ketercampuran antara
simplisia satu dengan simplisia yang lain. Kemudian bahan diletakkan di transit room.
Simplisia yang memenuhi standar kualitas dapat langsung menuju proses sortasi basah.
8.4.2 Sortasi Basah
Sortasi basah dilakukan dengan tujuan mengurangi kontaminasi awal dari mikroba
dan membuang/memisahkan kotoran atau bahan asing tak diinginkan yang dapat
mempengaruhi kualitas simplisia (tanah, kerikil, rumput gulma, dll). Proses dilakukan secara
manual. Simplisia yang telah disortasi dan telah dipastikan bersih dari kotoran dan bahan
asing, maka proses dapat dilanjutkan (Kementrian Kesehatan RI, 2011).
8.4.3 Proses Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan kotoran yang masih menempel setelah
proses sortasi basah. Air yang digunakan haruslah air bersih (standar air minum), tanpa
kandungan pengotor atau kontaminan yang berpeluang merusak kualitas simplisia tersebut.
Air yang digunakan adalah mengalir dan dilakukan lebih dari satu/dua kali pencucian, dengan
begitu dipastikan simplisia yang didapat sudah bersih. Bahan-bahan simplisia dalam jumlah
38

besar, akan lebih efektif jika dicuci dengan sistem bak bertingkat yang menerapkan konsep
air mengalir. Kotoran yang melekat pada bagian yang susah dibersihkan dapat dihilangkan
dengan penyemprotan air bertekanan tinggi atau dengan cara disikat (Kementrian
Kesehatan RI, 2011).
8.4.4 Penirisan
Penirisan dilakukan dengan tujuan mengurangi kadar air pasca pencucian. Untuk
mencegah terjadinya pembusukan produk sebaiknya simplisia yang telah dicuci ditiriskan
pada rak susun. Tahap ini dilakukan ditempat teduh dengan aliran udara yang cukup dan
sebaiknya simplisia dibolak-balik agar mempercepat terbebas dari air/terjadinya penguapan.
Setelah air dipastikan kering dan air di permukaan simplisia hilang, maka simplisia siap untuk
masuk proses perajangan (Kementrian Kesehatan RI, 2011).
8.4.5 Perajangan
Perajangan merupakan kegiatan untuk mendapatkan ukuran produk yang lebih kecil
atau pengubahan bentuk dengan menggunakan alat/mesin. Sebagian jenis bahan
baku/simplisia seringkali harus diubah bentuknya terlebih dahulu menjadi irisan, potongan
atau serutan. Hal ini bertujuan untuk memudahkan kegiatan pengeringan, pengemasan,
penggilingan dan penyimpanan serta pengolahan, selain itu juga dimaksudkan untuk
memperbaiki penampilan fisik simplisia dan untuk pemenuhan standar kualitas (terutama
keseragaman ukuran) serta agar lebih praktis dan tahan lama dalam penyimpanan.
Perajangan harus dilakukan hati-hati, tidak boleh dilakukan terlalu tebal dan tidak boleh
terlalu tipis, karena jika terlalu tebal maka akan memperlambat proses penguapan dan bahan
jadi lebih mudah membusuk, sebaliknya jika terlalu tipis dapat mengakibtakna kandungan
menurun karena cairan dalam sel akan menguap secara keseluruhan, terutama pada
tanaman dengan kandungan minyak astiri(Kementrian Kesehatan RI, 2011).
8.4.6 Pengeringan
Untuk keperluan penyimpanan agar lebih praktis dan tahan lebih lama, perlu
dikeringkan terlebih dahulu untuk disimpan dalam bentuk simplisia kering. Pengeringan
bertujuan guna menghilangkan kadar air agar bahan tidak mudah rusak dan dapat
meningkatkan kualitas simplisia, menghentikan reaksi enzimatis, dan mecegah pertumbuhan
kapang, jamur, dan mikroba. Proses pengeringan dapat terjadi dengan dua cara, yaitu dengan
cara manual dan menggunakan oven. Pengeringan secara manual juga terdiri dari dua cara
yaitu dengan cara di angin-anginkan di tempat yang teduh serta tidak terkena cahaya
matahari secara langsung, dan ditutup kain hitam yang berpori besar, cara manual yang
39

kedua adalah dengan mengeringkan dibawah matahari langusng. Sistem ini dapat dilakukan
untuk bahanbahan yangbertekstur relaif keras dan mengandung senyawa yang stabil. Proses
pengeringan, juga dapat dilakukan dengan oven, cara ini biasanya digunakan untuk
pengeringan daun, rimpang, kulit dan batang selama 2-3 hari pada suhu 40-500C agar zat aktif
tidak rusak (Kementrian Kesehatan RI, 2011).
8.4.7 Sortasi Kering
Sortasi Kering dilakukan secara manual yang bertujuan guna memisahkan kotoran,
bahan organik asing, dan pengotor fisik dan simplisia yang rusak akibat proses penanganan
sebelumnya.
8.4.8 Pengemasan
Pengemasan bertujuan untuk memproteksi produk saat pengangkutan, distribusi,
dan penyimpanan dari faktor luar yang dapat merusak/ menurunkan kualitas produk.
Kemasan yang digunakan dapat berasal dari bahan organik maupun non organik seperti dari
kertas, kayu, bambu atau menggunakan plastik, kaleng, dan alumunium foil. Setelah proses
pengemasan selesai, tahapan selanjutnya yaitu pemberian label. Tahapan pelabelan, terlebih
dahulu dilakukan pemeriksaan apakah produk sudah dikemas dengan baik dan benar-benar
di pastikan tidak ada cacat produk. Label produk berisi nama, bagian tanaman, asal tanaman
serta berat bersih, tanggal panen, tanggal simpan, status kualitas bahan.
8.4.9 Proses Penyimpanan
Penyimpanan bertujuan untuk mempertahankan kualitas dan kestabilan senyawa
aktif agar tetap memenuhi persyaratan mutu yang telah ditetapkanselain itu juga sebagai
stok persediaan jadi harus tetap tersedia setiap saat bila diperlukan. Selama dalam
penyimpanan simplisia dapat mengalami kerusakan mutu karena beberapa faktor seperti:
cahaya, oksidasi, kelembapan, kontaminasi, serangga, dan tumbuhnya kapang (Kementrian
Kesehatan RI, 2011). Penyimpanan simplisia harus memenuhi kaidah FIFO "first in first out"
artinya adalah simplisia yang disimpan lebih awal harus digunakan terlebih dahulu.
8.4.10 Proses Distribusi
Distribusi bertujuan untuk menyalurkan barang dari tempat pennyimpanan menuju
ke konsumen. Saat ada permintaan dari klinik dan apotek saintifikasi jamu, simplisia yang
sudah siap di gudang penyimpanan langsung didistribusikan ke klini yang meminta. Di klinik
dan apotek tersebut akan dilakukan peracikan oleh apoteker sesuai dengan kebutuhan
pasien.
BAB 9. STRATEGI PENDIRIAN KLINIK DAN GRIYA JAMU

9.1 Pendahuluan
9.1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan salah satu negara yang kaya dengan tanaman obat. Terdapat
sekitar 30.000 spesies tanaman obat, dimana 25% dari jumlah tersebut atau sekitar 7.500
jenis sudah diketahui memiliki khasiat herbal atau tanaman obat. Namun hanya 1.200 jenis
tanaman yang sudah dimanfaatkan untuk bahan baku obat-obatan herbal atau jamu (PT. Sido
Muncul, 2015).
Kementrian Kesehatan telah memberikan terobosan berupa saintifikasi jamu dalam
upaya memberikan dukungan ilmiah (evidence based) terhadap jamu untuk dapat
dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan formal. Saintifikasi jamu adalah pembuktian
ilmiah dari keamanan dan khasiat jamu melalui observasi klinik yaitu penelitian berbasis
pelayanan kesehatan (Departemen Kesehatan RI, 2010). Salah satu contoh pengembangan
saintifikasi jamu adalah yang dilakukan oleh Badan Litbangkes di Balai Besar Penelitian dan
Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT) Tawangmangu, Jawa
Tengah yang telah berhasil mengembangkan ramuan tanaman obat yang terbukti secara
ilmiah
Berdasarkan hal tersebut, dalam upaya untuk mendukung terobosan pemerintah
terkait pengembangan saintifikasi jamu maka perlu dilakukan pendirian klinik dan griya jamu
di desa Jubung, Kabupaten Jember- Jawa Timur. Lokasi tersebut dipilih karena terdapat
Wahana Edukasi Tanaman Obat (WETO) milik universitas Jember yang dijadikan sebagai
sarana wisata berbasis edukasi. Selain menjadi sarana wisata dan edukasi, WETO juga
menjadi sarana yang mendukung penelitian dari berbagai disiplin ilmu yang ada di
Universitas Jember. Tercatat sekitar 200 jenis tanaman obat di lahan seluas 1 hektar tersebut.
Pendirian klinik saintifikasi jamu ini akan memberikan potensi bisnis yang cukup baik, karena
selain belum ada pesaing di daerah tersebut, pemilihan lokasinya juga menambah daya tarik
tersendiri bagi masyarakat.
9.1.2 Motto Klinik dan Griya Jamu
Motto kami adalah “Wujudkan Indonesia Sehat bersama Jamu”
42

9.1.3 Visi Pendirian Klinik dan Griya Jamu


Menjadi Pusat Pengembangan Pelayanan Kesehatan Tradisional Masyarakat yang
Aman, dan Berkualitas.
9.1.4 Misi Pendirian Klinik dan Griya Jamu
1. Meningkatkan wawasan masyarkat terkait kesehatan tradisional berbasis
pelayanan kesehatan.
2. Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan keterjangkauan
pelayanan kesehatan tradisional.
3. Mengembangkan klinik dan griya jamu yang mampu bersaing dalam bidang
pelayanan dan pengelolaan bisnis yang profesional.
9.1.5 Tujuan Pendirian Klinik dan Giya Jamu
Tujuan didirikannya klinik dan apotek saintifikasi jamu :
1. Sebagai tempat untuk memberikan pelayanan kesehatan tradisional sekaligus
melakukan pemantauan dan evaluasi pelayanan kesehatan tradisional.
2. Sebagai sarana edukasi bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi
mengenai jamu serta penggunaan jamu yang aman, efektif dan efisien.

9.2 Profil Klinik


9.2.1 Nama dan Lokasi Klinik
Klinik saintifikasi jamu akan diberi nama “Balai Kesehatan Tradisional Masyarakat
Jember” atau BKTM Jember. Klinik BKTM Jember sesuai namanya akan memberikan
pelayanan kesehatan tradisional khususnya bagi masyarakat sekitar jember untuk
mendapatkan pengobatan menggunakan bahan alami berupa jamu yang berasal dari bahan
herba alami pilihan dan telah terstandarisasi. Klinik BKTM Jember berlokasi di Jalan Brawijaya
No. 108 Jubung, Sukorambi, Kabupaten Jember (68151). Klinik BKTM Jember ini juga memiliki
apotek sendiri sebagai bagian akhir pelayanan klinik, yaitu menyediakan jamu baik berupa
kapsul maupun rebusan. Jamu yang digunakan berupa racikan simplisia, serbuk dan juga
ekstrak tanaman obat yang telah diteliti keamanan, mutu dan khasiat melalui riset praklinik
dan riset klinik.
9.2.2 Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah yang memiliki kompetensi dan kecakapan
praktik dan telah memiliki sertifikat pelatihan dalam pengobatan tradisional, serta
komunikasi efektif dalam setiap kegiatan, baik yang berhubungan dengan administratif,
43

pengelolaan, maupun pelayanan di klinik sehingga visi dan misi klinik dapat terlaksana. Klinik
BKTM Jember merekrut 6 karyawan dengan susunan sebagai berikut :
1) Dokter : 1 orang
2) Apoteker Pengelola Apotek (APA) : 1 orang
3) Petugas Laboratorium : 1 orang
4) Perawat : 1 orang
5) Administrasi : 1 orang

9.3 Analisis SWOT


9.3.1 Kekuatan/Strength
1. Klinik BKTM Jember merupakan satu-satunya klinik kesehatan tradisional yang
ada di Jember.
2. Klinik BKTM Jember dilengkapi dengan praktek dokter untuk melakukan
pemeriksaan kesehatan, serta laboratorium sederhana untuk mendukung
diagnosa dokter, sekaligus terdapat apotek sebagai sarana penyiapan jamu yang
telah diresepkan.
3. Menyediakan layanan informasi, edukasi dan monitoring bagi masyarakat.
4. Memiliki Letak yang sangat strategis karena mudah dijangkau, dekat dengan
Wahana Edukasi Tanaman Obat (WETO) Agrothecnopark Jubung, Universitas
Jember, dan Hotel Jember Indah.
5. Menyediakan inovasi pojok jamu, yaitu tempat minum jamu yang diberikan
secara gratis kepada pasien yang sedang berobat. Jamu yang disediakan berupa
minuman herbal yang bersifat promotif dan preventif, misalnya minuman jahe,
minuman secang, minuman temulawak dll.
9.3.2 Kelemahan/Weakness
1. Klinik BKTM Jember merupakan klinik kesehatan tradisional yang baru pertama
kali ada di Jember sehingga belum dikenal dan familiar oleh masyarakat.
2. Jamu yang tersedia masih terbatas jenis dan jumlahnya.
3. Pola penyakit masyarakat di sekitar klinik belum diketahui.
9.3.3 Peluang/Oppurtunity
1. Budaya Back to nature yang diserukan oleh WHO mendorong masyarakat untuk
lebih memilih jamu yang berbahan alami daripada obat – obat konvensional.
44

2. Klinik BKTM Jember akan bekerjasama dengan B2P2TOOT dalam proses


pengadaan bahan jamu.
3. Klinik BKTM Jember memiliki Dokter dan apoteker yang sudah melakukan
pelatihan saintifkasi jamu dan bersertifikat.
9.3.4 Ancaman / Threats
1. Masyarakat belum mengetahui secara dalam tentang pengobatan herbal
2. Masyarakat sebagian besar menggunakan obat-obat konvensional
3. Masyarakat masih menganggap klinik jamu sekedar menjual jamu seperti
pedagang jamu pada umumnya.

9.4 Analisis Keuangan


9.4.1 Sumber dana dan Biaya
a. Sumber dana pendirian klinik dan griya jamu dari dana pemerintah Dinas
Kesehatan Kabupaten dan Kementerian Kesehatan serta dari dana penelitian.
Tabel 9. 1 Sumber Dana Awal

Sumber dana awal Dinas Kesehatan Kabupaten Rp. 300.000.000


Dana penelitian Rp. 50.000.000
Total Rp. 350.000.000
Modal Tetap / Inventaris Rp. 159.000.000
Modal Operasional 1 Tahun Rp. 163.200.000
Modal Cadangan Rp. 27.800.000

b. Rencana Pengadaan Modal Tetap / Inventaris


Tabel 9. 2 Rencana Pengadaan Modal Tetap

No. Kebutuhan Harga Satuan Total Harga


1. Sewa Ruko Rp. 25.000.000
2. Etalase 3xRp.1.000.000 Rp. 3.000.000
Kursi 8x100.000 Rp. 800.000
Kursi Tunggu 3xRp1.500.000 Rp. 4.500.000
Komputer 1xRp6.000.000 Rp. 6.000.000
Printer 1xRp1.000.000 Rp. 1.000.000
Peralatan Racik 1xRp2.500.000 Rp. 2.500.000
Lemari Es 1xRp2.000.000 Rp. 2.000.000
Telepon 1xRp500.000 Rp. 500.000
Televisi 1xRp1.500.000 Rp. 1.500.000
Kalkulator + jam dinding Rp. 250.000
Perlengkapan kamar mandi Rp. 100.000
Galon 1xRp.60.000 Rp. 60.000
45

AC 3xRp1.500.000 Rp. 4.500.000


Papan nama klinik dan apotek 2xRp250.000 Rp. 500.000
Plang neon board Apoteker Rp. 200.000
Tabung pemadam kebakaran 1 kg Rp. 150.000
Peralatan kebersihan Rp. 100.000
Bak cuci tangan, peracikan Rp. 200.000
Total Rp. 52.860.000
3. Perlengkapan Apotek (simplisia, Rp. 80.000.000
jamu, alat peracikan, label/etiket,
timbangan, kantong simplisia,
kwitansi, nota, stempel, kertas
perkamen, dll)
4. Perijinan Klinik dan Apotek Rp. 4.000.000
5. Peralatan tindakan Medis dan Rp. 50.000.000
laboratorium
6. Pelaksanaan penelitian Rp. 10.000.000
7. Marketing dan promosi Rp. 5.000.000
8. Biaya tak terduga Rp. 10.000.000
TOTAL INVESTASI Rp.159.000.000

c. Rencana Anggaran Tetap Tahun Ke – 1


Tabel 9. 3 Renana Anggaran Tetap Taun Ke-1

No. Kebutuhan Jumlah Total Harga / Bulan


1. Dokter 1xRp4.000.000 Rp . 4.000.000
Apoteker Pengelola Apotek 1xRp3.500.000 Rp . 3.500.000
Petugas Laboratorium 1xRp1.500.000 Rp . 1.500.000
Perawat 1xRp1.500.000 Rp . 1.500.000
Administrasi 1xRp1.000.000 Rp. 1.000.000
Total Rp. 11.500.000
2. Listrik, Air, dan Telepon Rp. 1.000.000
Biaya Pemeliharaan klinik & apotek Rp. 750.000
Biaya reklame klinik & apotek Rp. 350.000
Total Rp. 2.100.000
Total Per Bulan Rp. 13.600.000
Total operasional setahun Rp. 163.200.000

9.4.2 Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Tahun ke-1


a. Biaya rutin per bulan tahun ke-1
1. Tenaga kerja
 a) Dokter Rp. 4.000.000
 b) Apoteker Rp 3.500.000
46

 c) Asisten Apoteker / TTk Rp 1.500.000


 d) Perawat Rp. 1.500.000
 e) Administrasi Rp. 1.000.000
Jumlah Rp 11.500.000
2. Biaya lain-lain
 Biaya pemeliharaan klinik dan apotek Rp 1.000.000
 Listrik, air, telepon, Rp 750.000
 Biaya reklame Rp 350.000
Jumlah Rp 2.100.000
BIAYA TOTAL Rp. 13.600.000
b. Biaya rutin tahun ke-1
Biaya rutin bulanan x 12 bulan Rp 163.200.000
TOTAL BIAYA RUTIN TAHUN KE-1 Rp 163.200.000
c. Proyeksi pendapatan tahun ke-1
Pada tahun ke-1 diproyeksikan pasien yang datang ke klinik jamu sekitar
25 pasien/hari dengan simplisia / jamu per paket Rp 50.000 untuk semua jenis
penyakit tarif sama.

 Jumlah pasien yang datang ke klinik jamu tahun ke-1


25 pasien x 30 hr x 12 bln x Rp 50.000 = Rp 450.000.000

 Pasien yang mendapat lebih dari 1 paket


10 pasien x 30 hr x 12 bln x Rp. 50.000,00 = Rp. 180.000.000
JUMLAH = Rp 630.000.000
d. Pengeluaran rutin tahun ke-1
 Pembelian simplisia
50% x Rp 630.000.000 = Rp. 315.000.000
 Pengeluaran rutin tahun ke-1 = Rp 163.200.000
JUMLAH = Rp. 478.200.000
e. Perkiraan laba rugi tahun ke-1
 Pemasukan tahun ke-1 = Rp 630.000.000
 Pengeluaran tahun ke-1 = Rp 478.200.000
Perkiraan laba kotor = Rp 151.800.000
Pajak final (1% x proyeksi pendapatan 1 tahun) = 1% x 630.000.000
47

= 6.300.000
Perkiraan laba bersih = Rp 145.500.000

f. Perhitungan BEP tahun ke-1


 Payback Periode
Pay Back Period = Total investasi : Laba bersih
= Rp 159.000.000 : Rp 145.500.000
= 1,09 (13 bulan)
 ROI (Return On Investment)
ROI = Laba bersih : Total investasi x 100%
= Rp 145.500.000 : Rp 159.000.000 x 100%
= 91,51 %
 BEP (Break Even Point)

Biaya variable = total pengeluaran 1 tahun – biaya tetap 1 tahun


= Rp. 478.200.000– Rp 163.200.000
= Rp 315.000.000
Maka, BEP = 326.400.000/tahun
= 27.200.000/bulan

Persentase BEP

= 51,81 %

g. Kapasitas BEP
Kapasitas BEP = % BEP x jumlah lembar resep/tahun
= 51,81 % x (25 resep x 30 hari x 12 bulan)
= 4663 resep / tahun
= 388 resep / bulan
48

9.5 Denah dan Layout


9.5.1 Denah Klinik

Gambar 9. 1 Denah lokasi klinik

Lokasi Klinik BKTM Jember terletak di Jalan Brawijaya No. 108 Jubung, Sukorambi,
Kabupaten Jember berada di pinggir jalan yang dilalui banyak orang dan berada dekat dengan
pemukiman penduduk. Terdapat area Wahana Edukasi Tanaman Obat (WETO), hotel, dan
pertokoan.
9.5.2 Layout Klinik
Layout Klinik ditunjukkan pada Gambar 9.2 dan Gambar 9.3

Gambar 9. 2 Layout Klinik tampak depan


49

Gambar 9. 3 Layout Klinik tampak atas

Ruangan Klinik terdiri dari ruang tunggi, tempat administrasi/kasir, ruang


pemeriksaan dokter, toilet, ruang penyimpanan dokumen, ruang peracikan/penyiapan jamu,
ruang penyimpanan / gudang jamu, dan ruang konseling.

9.6 Struktur Organisasi

Penanggung
Jawab Klinik
dr. Dian Ayu, M.kes

Administrasi
Aissa Dinar, S.E

Pelayanan Pelayanan
Medis Kefarmasian

Petugas
Dokter Perawat Apoteker
Laboratorium
dr.Dian Ayu, M.kes Ns. Diana Hanifiya, S. Kep Maghfirah Izzani, A.Md.A.K. Yesika Yuristi, S. Farm., Apt

Gambar 9. 4 Struktur Organisasi


50

9.7 Analisis Pesaing


9.7.1 Hasil Survei Denah Lokasi
Berdasarkan hasil survei yang telah dilakukan terhadap denah lokasi diperoleh data-
data sebagai berikut :
a) Lokasi Pendirian
klinik dan griya jamu relatif aman dan terjangkau karena letaknya dekat
dan strategis serta deat dengan Wahana Edukasi Tanaman Obat yang dapat
menarik masyarkat.
b) Jumlah Pesaing
Jumlah klinik dan griya jamu yang serupa pada daerah dekat lokasi
pendirian klinik belum ada ada pesaing.
c) Kepadatan penduduk dan tingkat ekonomi sosial
Kepadatan penduduk di sekitar pendirian klinik dan apotek saintifikasi
jamu cukup tinggi karena terletak dekat dengan jalan raya, dekat dengan
terminal bis. Dengan adanya sekolah, hotel, kantor pemerintah, dan banyaknya
rumah makan, warung, kafe, bengkel, dan toko-toko setempat yang
menunjukan area ini sangat strategis. Selain itu, juga terdapat banyak
perumahan warga di sekitarnya.
9.7.2 Potensi Pasar
Letak yang sangat strategis, berada di jalan utama, dan padat penduduk menjadikan
potensi klinik dan apotek cukup menjanjikan. Berikut analisis perkiraan konsumen:
a) Diperkirakan jumlah pasien yang datang berobat 30 pasien/hari. Klinik dan
apotek menerapkan beberapa usaha untuk mencegah resep keluar.
b) Pasien dari beberapa praktek dokter di sekitar lokasi : 2 pasien/hari.
9.7.3 Market Share
a) Jumlah pesaing di sekitar klinik dan griya jamu : 0
b) Jumlah perkiraan pasien yang datang berobat ke klinik dan griya jamu : 20
pasien/hari
51

DAFTAR PUSTAKA

Aditama, T. Y. 2014. Jamu & Kesehatan. Jakarta: Badan Litbang Kesehatan Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.

Alsamydai, A. dan F. Al-mamoori. 2018. Anti – diabetic activity of cinnamon : a review.


International Research Journal of Pharmacy and Medical Sciences. (August):2–5.

Andriati dan R. M. T. Wahjudi. 2016. Tingkat penerimaan penggunaan jamu sebagai alternatif
penggunaan obat modern pada masyarakat ekonomi rendah-menengah dan atas
society ’s acceptance level of herb as alternative to modern medicine for lower ,
middle , and upper class group. Masyarakat, Kebudayaan Dan Politik. 29(3):133–145.

Angel, B. P. L., S. Tabin, G. Rc, K. An, dan G. Bansal. 2016. Biochemistry & pharmacology :
open access phytochemical analysis of wild and in vitro raised plants of rheum
species using hplc. Biochemistry & Pharmacology. 5(4)

Astuti, Y., A. U. Mulyo, dan Harminani. 2016. The effect of normal dose extract gempur batu
kejibeling ( bl) to the histological of rat‘s digestive tract. International Conference of
Medical & Health Sciences

B2P2POOT. 2019. PROFIL. B2P2TOOT 2019. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik


Indonesia. http://anyflip.com/wmni/cjov/basic [Diakses 10 November 2019].

Bagalkotkar, G., S. R. Sagineedu, M. S. Saad, dan J. Stanslas. 2006. Phytochemicals from


phyllanthus niruri linn . and their pharmacological properties : a review. Journal of
Pharmacy and Pharmacology. (Burkill 1996):1559–1570.

Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional (B2P2TOOT).
2016. Profil Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Obat dan Obat Tradisional.
Karanganyar: Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Chai, T. dan F. Wong. 2014. Traditional and Folk Herbal Medicine Recent Research. india:
DAYA PUBLISHING HOUSE, NEW DELHI.

Chandrasekaran, C. V, K. Sundarajan, J. R. Edwin, dan G. M. Gururaja. 2013. Immune ‑


stimulatory and anti ‑ inflammatory activities of curcuma longa extract and its
polysaccharide fraction. Pharmacognosy Research

Chen, Y., C. Li, S. Duan, X. Yuan, J. Liang, dan S. Hou. 2019. Biomedicine & pharmacotherapy
curcumin attenuates potassium oxonate-induced hyperuricemia and kidney in fl
ammation in mice. Biomedicine & Pharmacotherapy. 118(May):109195.

Cylindrica, I. 2012. Phytochemical screening and anthelmintic activity of methanolic extract


52

of. International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences. 4:20–22.

Deb, N., P. Majumdar, dan A. K. Ghosh. 2013. Pharmacognostic and phytochemical


evaluation of the rhizomes of curcuma longa linn . Journal of PharmaSciTech.
22313788(2):81–86.

Departemen Kesehatan RI. 2008. Farmakope Herbal Indonesia Jilid I. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.

Departemen Kesehatan RI. 1995. Materia Medika Indonesia Jilid VI. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI.

Graveolens, A., B. Diffusa, dan C. C. Blume. 2018. Matrix science medica ( msm )
phytochemical and antioxidant screening of anacylus pyrethrum , cuscumis melo linn
, cuscumis sativus linn , daucus sativus , foeniculum vulgare , trachyspermum ammii
and theit effect on various human ailments. Matrix Science Medica. 2(2)

Hayani, E. M. 2006. Analisis kandungan kimia rimpang temulawak. Balai Penelitlan Tanarnan
Rempah Dan Obat,. 309–312.

Hendriani, R., E. Y. Sukandar, dan S. Sukrasno. 2014. In vitro evaluation of xanthine oxidase
inhibitory activity of sonchus arvensis leaves. (January):1–4.

Iswantini, D. dan R. F. Silitonga. 2011. Extracts as antiobesity : in vitro inhibitory effect on


pancreatic lipase activity. HAYATI Journal of Biosciences. 18(1):6–10.

Jantan, I. 2019. An insight into the modulatory effects and mechanisms of action of
phyllanthus species and their bioactive metabolites on the immune system. Frontiers
in Pharmacology. 10(August):1–19.

Jennifer, H. dan E. Saptutyningsih. 2015. Preferensi individu terhadap pengobatan tradisional


di indonesia. Jurnal Ekonomi Dan Studi Pembangunan. 16(1):26–41.

Kemenkes RI. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.


003/MENKES/PER/I/2010 Tentang Saintifikasi Jamu Dalam Penelitian Berbasis
Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kementrian Kesehatan RI. 2011. Pedoman Umum Panen Dan Pascapanen Tanaman Obat.
Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional.

Kementerian Kesehatan RI. 2012. Vademekum Tanaman Obat Jilid III. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.
53

Kemenkes RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 88 Tahun 2013
Tentang Rencana Induk Pengembangan Bahan Baku Obat Tradisional. Jakarta :
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Kemenkes RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


296/Menkes/SK/VIII/2013 Komisi Nasional Saintifikasi Jamu. Jakarta : Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia

Kemenkes RI. 2013. Peraturan Kementerian Pertanian Republik Indonesia Nomor


73/Permentan/Ot.140/7/2013 Pedoman Panen, Pascapanen, Dan Pengelolaan
Bangsal Pascapanen Hortikultura Yang Baik. Jakarta: Indonesia.

Kementerian Kesehatan RI. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 6
Tahun 2016 Tentang Formularium Obat Herbal Asli Indonesia. Jakarta: Kementerian
Kesehatan RI.

Kim, M., C. Kim, Y. Song, dan J. Hwang. 2014. Antihyperglycemic and anti-inflammatory
effects of standardized curcuma xanthorrhiza roxb . extract and its active compound
xanthorrhizol in high-fat diet-induced obese mice. Evidence-Based Complementary
and Alternative Medicine. 2014

Komalasari, T. dan S. Harimurti. 2015. A review on the anti-diabetic activity of andrographis


paniculata ( burm . f .) nees based in-vivo study. International Journal of Public Health
Science (IJPHS). 4(4):256–263.

Kusmiati, K. dan D. Priadi. 2014. Analisa senyawa aktif ekstrak kayu secang ( caesalpinia
sappan l .) yang berpotensi sebagai antimikroba [ analysis on compound extract
secang wood ( caesalpinia sappan l .) as potential ... analysis on compound extract
secang wood ( caesalpinia sappan l . Teknologi Industri Hijau. (May 2014)

Lee, C. J., L. H. Lee., C. L. Wu, B. R. Lee. 2005. Clinical Trials of Drugs and Biopharmaceuticals.
Edisi pertama. London: CRC Press.

Liu, Yanfei, M. Sun, H. Yao, Yue Liu, dan R. Gao. 2017. Herbal medicine for the treatment of
obesity : an overview of scientific evidence from 2007 to 2017. Evidence-Based
Complementary and Alternative Medicine. 2017

M, A. H., Yusrin, dan H. Anggraini. 2009. Pengaruh frekuensi penggunaan teh daun
tempuyung kering (sonchus arvensis) terhadap daya larut kalsium oksalat (cac2oa).
Jurnal Kesehatan. 2:30–37.

Nagal, A. dan R. K. Singla. 2013. Herbal resources with antiurolithiatic effects : a review. Indo
Global Journal of Pharmaceutical Sciences. 3(1):6–14.

Ningsih, S. dan Churiyah. 2018. Evaluasi aktivitas inhibisi xantin oksidase dan kandungan
senyawa polifenol dari ekstrak sappan. BIOTEKNOLOGI & BIOSAINS INDONESIA.
54

5(December):157–167.

Nurraihana, H. dan N. A. Norfarizan Hanoon. 2013. Minireview phytochemistry ,


pharmacology and toxicology properties of strobilanthes crispus. International Food
Research Journa. 20(5):2045–2056.

Pols H (2010) The Triumph of Jamu. Dalam http://www.insideindonesia.org /stories/the-


triumph-of jamu-26061327 [Diakses 9 November, 2019].

Pringgoutomo, S. 2007. Riwayat Perkembangan Pengobatan Dengan Tanaman Obat Di Dunia


Timur Dan Barat. Buku Ajar Kursus Herbal Dasar Untuk Dokter. Edisi 1–5. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.

Prywer, J. dan A. Torzewska. 2012. Effect of curcumin against proteus mirabilis during
crystallization of struvite from artificial urine. Evidence-Based Complementary and
Alternative Medicine. 2012(3)

PT. Sido Muncul. 2015. Delivering the vision - laporan tahunan pt. sido muncul, tbk tahun
2015. Jakarta: PT Sido Muncul

Pucci, N. D., G. S. Marchini, E. Mazzucchi, S. T. Reis, M. Srougi, dan W. C. Nahas. 2018. Effect
of phyllanthus niruri on metabolic parameters of patients with kidney stone : a
perspective for disease prevention. IBJU. 44(4):758–764.

Purwadianto, A., E. Poerwaningsih., Y. Widyasturi., A. Neilwan., N. S. 2017. Pedoman


Penelitian Jamu Berbasis Pelayanan Kesehatan. Jakarta: Lembaga Penerbit Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.

Roy, A., M. L. Krishnan, dan N. Bharadvaja. 2018. Natural products chemistry & qualitative
and quantitative phytochemical analysis of centella asiatica. Natural Product
Chemistry and Research. 6(4):4–7.

Rukmantara, B., S. Putra, D. Kusrini, dan E. Fachriyah. 2013. Isolasi senyawa antioksidan dari
fraksi etil asetat daun tempuyung (sonchus arvensis l). Jurnal Kimia Sains Dan
Aplikasi. 16(3):69–72.

Siswanto. 2012. Saintifikasi jamu sebagai upaya terobosan untuk mendapatkan bukti ilmiah
tentang manfaat dan keamanan jamu. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan.
15(2):203–211.

S.Muryantoa, B., S. D. Hadia, E.F.Purwaningtyasa, dan A.P.Bayusenob. 2015. Effect of


orthosiphon aristatus leaves extract on the crystallization behavior of struvite
(mgnh4po4.6h2o). Research Gate. (August 2014)

Suharmiati. 2012. Kajian Hukum Peran “ Apoteker ” Dalam Saintifikasi Jamu. Buletin
55

Penelitian Sistem Kesehatan. 15:20–23.

Sunarni, T., F. Leviana, I. Fidrianny, M. Immaculata, Wirasutisna, dan K. Ruslan. 2016.


Antihyperuricemic and xanthine oxidase inhibitory activities of fractions from
ethanolic leaves extract of stelechocarpus burahol. Asian Journal of Pharmaceutical
and Clinical Research. 9(6)

Tashakori-sabzevar, F., B. Marjan, M. Imenshahidi, M. Daneshmandi, H. Fatehi, Y. Entezari,


dan S. Ahmad. 2016. Evaluation of mechanism for antihypertensive and vasorelaxant
effects of hexanic and hydroalcoholic extracts of celery seed in normotensive and
hypertensive rats. Brazillian Journal of Pharmacognosy. 26(5):619–626.

Tilaar, M. 2010. The Green Science of Jamu. Jakarta: PT Dian Rakyat.

TriWidyawati, N. A. Yusoff, M. Z. Asmawi, dan M. Ahmad. 2015. Antihyperglycemic effect of


methanol extract of syzygium polyanthum (wight.) leaf in streptozotocin-induced
diabetic rats. Nutrients. 7764–7780.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36. Kesehatan. 2009. Jakarta: 13 Oktober 2009.

Webster A. 2008. Herbal. www.indonesianembassy.ir/english/images/


Indonesian%20Herbal. pdf. [Diakses 9 November 2019].