Anda di halaman 1dari 16

1. Pengertian NAPZA, NARKOBA.

Jawab :
NAPZA adalah singkatan dari narkotika, alcohol, psikotropika, dan zat memengaruhi
tubuh terutama susunan saraf pusat yang dapat menyebabkan gangguan fisik, psikis dan
fungsi social. Istilah lain NAPZA adalah NARKOBA, singkatan dari narkotik dan obat
berbahaya. NARKOBA lebih dulu popular ditengah masyarakat.
NARKOBA (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya) yakni zat – zat kimiawi jika
dimasukan kedalam tubuh manusia (baik secara oral, dihirup maupun intravena, suntik)
dapat mengubah pikiran, suasana hati, dan perasaan dan perilaku seseorang.
Penyalahgunaan NAPZA adalah penggunaan NAPZA yang bersifat patologis, paling
sedikit telah berlangsung
2. Jenis penggolongan NAPZA.
a. Berdasarkan undang – undang
1) Penggolongan narkotika terdiri dari 3 golongan, yaitu :
i. Golongan I, yaitu narkotika yang tidak digunakan untuk terapi dan
berpotensi tinggi untuk ketergantungan, misalnya heroin.
ii. Golongan II, yaitu narkotika yang dapat digunakan untuk terapi tetapi
berpotensi tinggi untuk ketergantungan, misalnya morfin.
iii. Golongan III, yaitu narkotika yang digunakan untuk terapi dan berpotensi
rendah untuk ketergantungan, misalnya kodein.
2) Penggolongan psikotropika terdiri dari 4 golongan, yaitu :
i. Golongan I, yaitu psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan
ilmu pengetahuan dan tidak digunakan untuk terapi, tetapi berpotensi tinggi
untuk ketergantungan ( misalnya : ekstasi, amfetamin, sabu-sabu)
ii. Golongan II, yaitu psikotropika yang dapat digunakan untuk terapi tetapi
berpotensi tinggi untuk ketergantungan ( misalnya : fensiklidin/PCP,
metilfenindat )
iii. Golongan III, yaitu psikotropika yang digunakan untuk terapi dan
berpotensi sedang untuk ketergantungan ( misalnya : amobarbital dan
flunitrazepam )
iv. Golongan IV, yaitu psikotropika yang digunakan untuk terapi dan
berpotensi ringan untuk ketergantungan ( misalnya : diazepam/valium,
nitrazepam/DUM, megadon, BK)
b. Berdasarkan efek terhadap susunan saraf pusat.
1) Depresan
Depresan adalah zat tyang bekerja menekan susunan saraf pusat yang dapat
mengakibatkan penurunan kesadaran. Yang termasuk golongan depresan adalah
opioida (morfin,heroin/putau/codein), sedative (penenang), hipnotik (obat tidur),
tranquilizer (anti cemas), alcohol dalam dosis rendah.
2) Stimulan
Stimulant adalah zat yang mempunyai khasiat merangsang kerja otak, sehingga
menyebabkan pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Yang termasuk
golongan ini adalah kokain, amfetamin (shabu-shabu dan extasi), kafein, dan
nikotin.`
3) Halusinogen
Halusinogen adalah zat yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang dapat
merubah perasaan dan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang
berbeda sehingga seluruh perasaan dapat terganggu, golongan ini tidak digunakan
dalam terapi medis. Yang termasuk golongan ini adalah kanabis (ganja), LSD,
mescalin, fensiklidin, berbagai jenis jamur, tanaman kecubung.
3. Rentang Respon pengguna NAPZA.
Rentang respon gangguan penyalahgunaan NAPZA berfluktuasi dari kondisi yang ringan
sampai dengan yang berat. Indikator rentang respon ini berdasarkan perilaku yang
ditampakkan oleh pengguna penyalahgunaan NAPZA, sebagai berikut :
a. Respon adaptif
b. Respon maladaptif
c. Eksperimental, rekreasional, situasional, penyalahgunaan dan ketergantungan
 Eksperimental : kondisi pengguna taraf awal yang disebabkan rasa ingin tahu dari
pengguna, dimana hal ini timbul karena adanya keinginan untuk mencari
pengalaman yang baru dan biasa juga dikenal dengan taraf coba-coba.
 Rekreasional : penggunaan zat adiktif pada waktu berkumpul dengan yang lain
untuk bersosialisasi. Penggunaan ini mempunyai tujuan rekreasi bersama dengan
pengguna zat adiktif lainnya.
 Situasional : penggunaan zat adiktif mempunyai tujuan secara individual yang
sudah menjadi kebutuhan bagi dirinya sendiri. Seringkali penggunaan ini
merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah yang sedang
dihadapinya. Misalnya, individu menggunakan zattersebut pada saat sedang ada
konflik, sedang dalam keadaan stres dan frustasi.
 Penyalahgunaan : penggunaan zat yang sudah cukup patologis dan sudah mulai
digunakan secara rutin, minimal selama 1 bulan serta sudah terjadi penyimpangan
perilaku yang menganggu fungsi dan peran di lingkungan sosial seperti dalam
pendidikan dan pekerjaan.
 Ketergantungan : penggunaan zat yang sudah berat dan telah terjadi
ketergantungan fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik ditandai dengan adanya
toleransi dan sindroma putus obat. Toleransi merupakan suatu kondisi dari
individu yang mengalami peningkatan dosis (jumlah zat) untuk dapat mencapai
tujuan yang biasa diinginkannya. Sedangkan sindroma putus zat merupakan suatu
kondisi dimana individu yang biasa menggunakan zat adiktif secara rutin, pada
dosis tertentu menurunkan jumlah zat yang digunakan atau berhenti memakai,
sehingga menimbulkan kumpulan gejala sesuai dengan macam zat yang
digunakan.
4. Psikopatologi
5. Tanda dan gejala pengguna NAPZA ( masing masing jenis).
Opiate Ganja Sedatif – hipnotik Alcohol Amfetamin
Tanda dan Gejala Intoksikasi
 Eforia  Eforia  Pengendalian  Mata merah  Selalu
 Mengantuk  Mata diri berkurang  Bicara cadel terdorong
 Bicara merah  Jalan  Jalan untuk
cadel  Mulut sempoyongan sempoyongan bergerak
 Konstipasi kering  Mengantuk  Perubahan  Berkeringat
 Penurunan  Banyak  Memperpanjang persepsi  Gemetar
kesadaran bicara dan tidur  Penurunan  Cemas
tertawa  Hilang kemampuan  Depresi
 Nafsu kesadaran menilai  Paranoid
makan
meningkat
 Gangguan
persepsi
Tanda dan gejala putus zat
 Nyeri  Jarang  Cemas  Cemas  Cemas
 Mata dan ditemukan  Tangan  Depresi  Depresi
hidung gemetar  Muka merah  Kelelahan
berair  Perubahan  Mudah  Energy
 Perasaan persepsi marah berkurang
panas  Gangguan daya  Tangan  Kebutuhan
dingin ingat gemetar tidur
 Diare  Sulit tidur  Mual muntah meningkat
 Gelisah  Sulit tidur
 Sulit tidur

Kokain Kanabis (Ganja) Inhalasia Alcohol


Tanda dan Gejala Intoksikasi
 Eforia   Keletihan  Gangguan
 Dilatasi pupil  Selalu berdebat konsentrasi dan
 Tanda vital  Agresif daya nilai
meningkat  Gangguan  Suka berdebat
 Aritmia konsentrasi dan  Bicara cadel
 Energy daya nilai  Muka merah
meningkat  Jalan  Mata merah
 Keringat sempoyongan  Jalan
banyak  Sulit berdiri sempoyongan
 Mual, muntah  Bicara cadel  Suit berdiri
 Agresif  Kelemahan otot  Kesadaran
 Resiko perilaku  Penglihatan menurun
kekerasan kabur
 Kejang
 Nyeri di dada  Penurunan
 Halusinasi kesadaran
 Waham

Tanda dan gejala putus zat


 Keletihan  Cemas  jarang/tidak ada  tremor pada
 Batin tertekan  Menguap lidah, mata
 Gelisah  Keringat tangan yang
 Cemas  Nafsu makan direngangkan
 Bingung berkurang  nyeri kepala
 Tidak bisa tidur  tremor  berkeringat
 Ide bunuh diri  mual, muntah
 tidak bisa tidur
 tekanan darah
meningkat
 halusinasi.

6. Penatalaksanaan
7. Askep
8. Efek dan dampak penggunaan NAPZA
Jawab :
Pengguna NAPZA dalam jangka waktu yang lama dapat mempengaruhi :
1. Kesehatan
Organ tubu yang paling banyak dipengaruhi adalah system saraf pusat yaitu otak dan
sumsum tulang belakang, dan organ lain seperti jantung, paru-paru, hati, ginjal dan
panca indera. Tetapi sebenarnya penyalahgunaan NAPZA membahayakan seuruh
tubuh. Sudah terlalu banyak kasus kematian terjadi akibat pemakaian NAPZA,
terutama karena pemakaian berlebih (overdosis) dan kematian karena AIDS (akibat
pemakaian NAPZA terinveksi HIV). Juga banyak remaja meninggal karena penyakit,
kecelakaan dan perkelahian akibat pengaruh NAPZA.
2. Pendidikan.
Misalnya kebiasaan malas, sering bolos, dikeluarkan dari sekolah.
3. Pekerjaan
Misalnya konflik dengan teman kerja, tidak masuk kantor, pemutusan hubungan kerja
(PHK).
4. Ekonomi.
Misalnya kerugian matri yang mengakibatkan kemiskinan.
5. Social dan psikologis
Ketergantungan pada NAPZA menyebabkan orang tidak lagi berfikir dan berperilaku
normal. Perasaan, pikiran dan perilakunya dipengaruhi oleh zat yang dipakainya.
Berbagai ganguan psikis atau kejiwaan yang sering dialami oleh mereka yang
menyalahgunaakan ingin bunuh diri, kasar, marah, agresif, pergaulan yan terbatas
karena lebih mudah bergaul dengan sesame pengguna NAPZA. Gangguan jiwa ini bisa
sementaratetapi bisa juga selamanya. Gangguan psikologis yang paling jelas adalah
pengguna tidak bisa mengendalikan diri untuk terus menerus menggunakan NAPZA.
9. Penkes
10. pathway
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PELITA HARAPAN
LAPORAN PENDAHULUAN

Nama Mahasiswa :
Ruangan :

A. TINJAUAN TEORITIS

1. Definisi
Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif Lain (NAPZA) adalah bahan atau zat atau obat
yang bila masuk ke dalam tubuh manusia akan mempengaruhi tubuh terutama otak atau
susunan saraf pusat, sehingga menyebabkan gangguan kesehatan fisik, psikis, dan fungsi
sosialnya karena terjadi kebiasaan, ketagihan (adiksi) serta ketergantungan (dependdensi)
terhadap NAPZA.
Istilah NAPZA umumnya digunakan oleh sektor pelayanan kesehatan yang
menitikberatkan pada upaya penanggulangan dari sudut kesehatan fisik, psikis, dan sosial.
NAPZA sering disebut juga sebagai zat psikoaktif, yaitu zat yang bekerja pada otak sehingga
menimbulkan perubahan perilaku, perasaan, dan pikiran.
Ada kata lain yang sering berhubungan dengan NAPZA, yaitu NARKOBA, yang
merupakan singkatan dari Narkotika dan Obat / Berbahaya. Istilah ini sangat populer di
masyarakat termasuk media massa dan aparat penegak hukum yang sebenarnya mempunyai
makna yang sama dengan NAPZA. Ada juga yang menggunakan istilah “Madat” untuk
NAPZA, namun istilah ini tidak disarankan karena istilah tersebut hanya berkaitan dengan
penggunaan jenis narkotika turunan opium saja.

2. Rentang Respon Gangguan Penyalahgunaan NAPZA


Rentang respon gangguan penyalahgunaan NAPZA berfluktuasi dari kondisi yang ringan
sampai dengan yang berat. Indikator rentang respon ini berdasarkan perilaku yang
ditampakkan oleh pengguna penyalahgunaan NAPZA, sebagai berikut :
d. Respon adaptif
e. Respon maladaptif
f. Eksperimental, rekreasional, situasional, penyalahgunaan dan ketergantungan
 Eksperimental : kondisi pengguna taraf awal yang disebabkan rasa ingin tahu dari
pengguna, dimana hal ini timbul karena adanya keinginan untuk mencari
pengalaman yang baru dan biasa juga dikenal dengan taraf coba-coba.
 Rekreasional : penggunaan zat adiktif pada waktu berkumpul dengan yang lain
untuk bersosialisasi. Penggunaan ini mempunyai tujuan rekreasi bersama dengan
pengguna zat adiktif lainnya.
 Situasional : penggunaan zat adiktif mempunyai tujuan secara individual yang
sudah menjadi kebutuhan bagi dirinya sendiri. Seringkali penggunaan ini
merupakan cara untuk melarikan diri atau mengatasi masalah yang sedang
dihadapinya. Misalnya, individu menggunakan zattersebut pada saat sedang ada
konflik, sedang dalam keadaan stres dan frustasi.
 Penyalahgunaan : penggunaan zat yang sudah cukup patologis dan sudah mulai
digunakan secara rutin, minimal selama 1 bulan serta sudah terjadi penyimpangan
perilaku yang menganggu fungsi dan peran di lingkungan sosial seperti dalam
pendidikan dan pekerjaan.
 Ketergantungan : penggunaan zat yang sudah berat dan telah terjadi
ketergantungan fisik dan psikologis. Ketergantungan fisik ditandai dengan adanya
toleransi dan sindroma putus obat. Toleransi merupakan suatu kondisi dari
individu yang mengalami peningkatan dosis (jumlah zat) untuk dapat mencapai
tujuan yang biasa diinginkannya. Sedangkan sindroma putus zat merupakan suatu
kondisi dimana individu yang biasa menggunakan zat adiktif secara rutin, pada
dosis tertentu menurunkan jumlah zat yang digunakan atau berhenti memakai,
sehingga menimbulkan kumpulan gejala sesuai dengan macam zat yang
digunakan.

3. Jenis NAPZA
a. Heroin
Heroin berupa serbuk putih seperti tepung yang bersifat opioid yang dapat menekan
rasa nyeri dan memiliki sifat depresan (menekan) sistem saraf pusat.
b. Kokain
Kokain diolah dari pohon Coca yang mempunyai sifat halusinogenik.
c. IIKOw
Putauw merupakan salah satu golongan heroin yang berbentuk bubuk.
d. Ganja
Ganja berisi zat kimia delta-9-tetra hidrokanbiol yang berasal dari daun Cannabis
yang dikeringkan. Ganja dikonsumsi dengan cara dihisap seperti rokok tetapi ganja
dihisap melalui hidung.
e. Shabu-shabu
Shabu-shabu merupakan kristal yang berisi methamphetamine, yang dikonsumsi
dengan menggunakan alat khusus yang disebut dengan Bong yang kemudian dibakar.
f. Ekstasi
Ekstasi merupakan suatu zat dengan komponen kimiawi methylendioxy
methamphetamine dalam bentuk tablet atau kapsul, yang mampu meningkatkan
ketahanan seseorang yang biasa disalahgunakan untuk aktivitas seksual dan aktivitas
hiburan di malam hari.
g. Diazepam, Nipam, Megadon
Merupakan jenis obat-obatan yang jika dikonsumsi secara berlebihan dapat
menimbulkan efek halusinogenik.
h. Alkohol
Alkohol merupakan minuman yang berisi produk fermentasi yang menghasilkan
etanol dengan kadar diatas 40% yang mampu menyebabkan depresi susunan saraf
pusat. Penggunaan alkohol dalam dosis tinggi dapat memicu sirosis hepatik, hepatitis
alkoholik maupun gangguan sistem persarafan

4. Golongan NAPZA
Berdasarkan Undang-Undang RI, NAPZA terbagi menjadi beberapa golongan yang
dibagi menjadi :
a. Narkotika (menurut UU RI nomor 22 tahun 1997 tentang narkotika)
Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik
sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan
kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat
menimbulkan ketergantungan. Narkotika dibedakan ke dalam golongan-golongan
sebagai berikut :
Narkotika Golongan I
Narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak
ditujukan untuk terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi untuk menimbulkan
ketergantungan. Contoh : heroin, putauw, kokain, ganja.
Narkotika Golongan II
Narkotika yang berkhasiat untuk pengobatan. Digunakan sebagai pilihan terakhir dan
dapat digunakan dalam terapi atau tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta
mempunyai potensi tinggi menimbulkan ketergantungan. Contoh : morfin, petidine.
Narkotika Golongan III
Narkotika yang berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi atau
tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan
mengakibatkan ketergantungan. Contoh : kodein.
b. Psikotropika (menurut UU RI no.5 tahun 1997 tentang psikotropika)
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika yang
berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang dapat
menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku. Psikotropika
dibedakan dalam golongan-golongan sebagai berikut :
Psikotropika Golongan I
Psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk kepentingan ilmu pengetahuan dan
tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat untuk menimbulkan
sindroma ketergantungan. Contoh : ekstasi, shabu-shabu, Lysergic Acid
Dyethylamide (LSD).
Psikotropika Golongan II
Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi
dan/atau tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat untuk menimbulkan
sindroma ketergantungan. Contoh : amfetamin, metilfenidat atau ritalin).
Psikotropika Golongan III
Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi
obat-obatan dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang
untuk menimbulkan sindroma ketergantungan. Contoh : pentobarbital, flunitrazepam.
Psikotropika Golongan IV
Psikotropika yang berkhasiat untuk pengobatan dan sangat luas digunakan dalam
terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan untuk
menimbulkan sindroma ketergantungan. Contoh : diazepam, bromazepam,
fenobarbital, klonazepam, klordiazepoxide, nitrazepam (seperti pil BK, pil Koplo,
rohip, dum, MG).
c. Zat Adiktif
Zat adiktif adalah suatu bahan atau zat yang apabila digunakan dapat menimbulkan
kecanduan atau ketergantungan.
d. Zat Psikoaktif
Zat psikoaktif adalah golongan zat yang bekerja secara selektif terutama pada otak,
sehingga dapat menimbulkan perubahan pada perilaku, emosi, kognitif, persepsi dan
kesadaran seseorang. Ada 2 jenis psikoaktif, yaitu :
Psikoaktif Bersifat Adiksi
 Golongan Opioida : morfin, heroin (putauw), candu, kodein, petidine.
 Golongan Cannabis : ganja (mariyuana), minyak hassish.
 Golongan Kokain : serbuk kokain dan daun koka.
 Golongan Alkohol : semua minuman yang mengandung ethyl alcohol seperti
brandy, bir, wine, cognac, brem, tuak, anggur orangtua (AO), dan sebagainya.
 Golongan Sedatif Hipnotik : BK, rohypnol, magadon, dumolid, nipam, madrax.
 Golongan Methylene Dioxy Ampethamine (MDA) : amphetamine benzedrine,
dexedrine.
 Golongan Methylene Dioxy Meth Ampetahamine (MDMA) : ekstasi.
 Golongan Halusinogen : LSD, meskaloin, mushroom, kecubung.
 Golongan Solven dan inhalansia : aica aibon (glue), aceton, thiner, N2O.
 Nikotin : tembakau.
 Kafein : kopi dan teh.
 Golongan lainnya.
Psikoaktif Bersifat Non Adiksi
 Obat neuroleptika untuk kasus gangguan jiwa psikotik, obat anti depresi.

Berdasarkan efeknya terhadap perilaku yang ditimbulkan, NAPZA dapat digolongkan


menjadi beberapa golongan, yaitu :
Golongan Depressan (Downer)
Adalah jenis NAPZA yang berfungsi mengurangi aktifitas fungsional tubuh. Jenis ini
membuat pemakainya merasa tenang, pendiam dan bahkan membuatnya tertidur dan
tidak sadarkan diri. Golongan ini termasuk opioida (morfin, heroin/putauw, kodein),
sedatif (penenang), hipnotik (obat tidur), tranquilizer (anti cemas) dan lain-lain.
Golongan Stimulan (Upper)
Adalah jenis NAPZA yang dapat merangsang fungsi tubuh dan meningkatkan kegairahan
kerja. Jenis ini membuat pemakainya menjadi aktif, segar dan bersemangat. Zat yang
termasuk ke dalam golongan ini adalah amphetamine (shabu-shabu, ekstasi), kafein,
kokain.
Golongan Halusinogen
Adalah jenis NAPZA yang dapat menimbulkan efek halusinasi yang bersifat merubah
perasaan dan pikiran dan seringkali menciptakan daya pandang yang berbeda, sehingga
seluruh perasaan dapat terganggu. Golongan ini tidak digunakan dalam terapi medis.

5. Penyebab Penyalahgunaan NAPZA


Penyebab penyalahgunaan NAPZA sngat kompleks akibat interaksi berbagai faktor, yaitu
:
a. Faktor Individual
Kebanyakan penyalahgunaan NAPZA dimulai pada saat remaja, sebab masa remaja
merupakan masa transisi dimana seseorang mengalami perubahan biologi, psikologi
maupun sosial yang pesat.
b. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan meliputi faktor keluarga dan lingkungan pergaulan, baik sekitar
rumah, sekolah, teman sebaya, maupun lingkungan sosial atau masyarakat.
c. Lingkungan Keluarga
Terdiri dari berbagai kondisi seperti komunikasi antar anggota keluarga yang kurang
baik, hubungan antar anggota keluarga yang kurang harmonis, kurangnya sosok di
keluarga yang menjadi teladan dalam hidupnya, kurangnya kehidupan beragama,
kegiatan masing-masing anggota keluarga yang terlampau sibuk dan kurangnya
perhatian antar sesama anggota keluarga.
d. Lingkungan Sekitar
Faktor lingkungan sekitar yaitu keluarga / sekolah / tempat kerja yang kurang
disiplin, tempat tinggal / sekolah / tempat kerja yang terletak dekat dengan tempat
hiburan, keluarga / sekolah / tempat kerja yang kurang memberi kesempatan pada
masing-masing individu untuk mengembangkan diri secara kreatif dan positif, dan
adanya anggota keluarga / teman sekolah / teman sebaya / teman kerjanya yang juga
pengguna NAPZA.
e. Lingkungan Pergaulan
berteman dengan penyalahguna atau adanya tekanan atau ancaman dari orang lain.
f. Lingkungan Masyarakat / Sosial : lemahnya penegak hukum, situasi politik, sosial
dan ekonomi yang kurang mendukung.

6. Akibat Penyalahgunaan NAPZA


Beberapa aspek yang timbul sebagai akibat langsung penyalahgunaan NAPZA antara lain
:
a. Secara Fisik
Penggunaan NAPZA akan mengubah metabolisme tubuh seseorang. Hal ini terlihat
dari peningkatan dosis yang semakin lama semakin besar dan gejala putus obat.
Keduanya menyebabkan seseorang untuk berusaha terus menerus mengkonsumsi
NAPZA.
b. Secara Psikis
Berkaitan dengan berubahnya beberapa fungsi mental, seperti rasa bersalah, malu dan
perasaan nyaman yang timbul dari mengkonsumsi NAPZA. Cara yang kemudian
ditempuh untuk beradaptasi dengan perubahan mental itu adalah dengan
mengkonsumsi NAPZA lagi.
c. Secara Sosial
Dampak sosial yang memperkuat pemakaian NAPZA. Proses ini biasanya diawali
dengan perpecahan di dalam kelompok sosial terdekat seperti keluarga, sehingga
muncul konflik dengan orangtua, teman-teman, pihak sekolah atau pekerjaan.
Perasaan dikucilkan oleh pihak-pihak ini kemudian menyebabkan si penyalahguna
bergabung dengan kelompok orang-orang serupa, yaitu para penyalahguna NAPZA
juga.

7. Gejala Klinis Penyalahgunaan NAPZA


a. Perubahan Fisik
Gejala fisik yang terjadi tergantung dari jenis zat yang digunakan, tapi secara
umum dapat digolongkan sebagai berikut :
 Pada saat menggunakan NAPZA ; jalan sempoyongan, bicara pelo (cadel),
apatis (acuh tak acuh), mengantuk, agresif, curiga.
 Bila kelebihan dosis (overdosis) : napas sesak, denyut jantung dan nadi
lambat, kulit teraba dingin, napas lambat atau berhenti, meninggal.
 Bila sedang ketagihan (putus zat / sakau) : mata dan hidung berair,
menguap terus menerus, diare, rasa sakit di seluruh tubuh, takut air
sehingga malas mandi, kejang, kesadaran menurun.
 Pengaruh jangka panjang : penampilan tidak sehat, tidak peduli terhadap
kesehatan dan kebersihan, gigi tidak terawat dan keropos, terdapat bekas
suntikan pada lengan atau bagian tubuh lain (pada para pengguna jarum
suntik).
b. Perubahan Sikap Dan Perilaku
 Prestasi sekolah ataupun kerja menurun, sering tidak mengerjakan tugas-
tugas yang diberikan, membolos, pemalas, kurang bertanggung jawab.
 Pola tidur berubah, begadang, sulit bangun di pagi hari, mengantuk di
siang hari.
 Sering bepergian sampai larut malam, kadang tidak pulang tanpa memberi
tahu terlebih dahulu.
 Sering mengurung diri, berlama-lama di kamar mandi, menghindar
bertemu dengan anggota keluarga lain di rumah.
 Sering mendapat telepon dan didatangi oleh orang yang tidak dikenal oleh
keluarga, kemudian menghilang.
 Sering berbohong dan meminta banyak uang dengan berbagai alasan yang
tidak jelas penggunaannya, mengambil dan menjual barang berharga milik
sendiri atau milik keluarga, mencuri, terlibat tindak kekerasan atau
berurusan dengan polisi.
 Sering bersikap emosional, mudah tersinggung, marah, kasar, sikap
bermusuhan, tertutup dan penuh rahasia.

8. Komplikasi Dari Penyalahgunaan NAPZA


Komplikasi yang bisa terjadi pada pengguna NAPZA antara lain : infeksi Human
Immunodeficiency Virus (HIV), hepatitis B dan hepatitis C, gastritis, penyakit kulit dan
kelamin, bronchitis dan chirosis hepatis. Masalah kesehatan yang muncul yaitu depresi
sistem pernapasan, depresi pusat pengatur kesadaran, kecemasan yang sangat berat sampai
panik, perilaku agresif, gangguan daya ingat, gangguan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-
hari dan kebersihan diri, gangguan sistem muskuloskeletal misalny nyeri sendi dan otot, serta
perilaku mencederai diri.

9. Tujuan Terapi Dan Rehabilitasi


a. Abstinensia atau menghentikan sama sekali penggunaan NAPZA.
Tujuan ini tergolong sangat ideal, namun banyak orang tidak mampu atau mempunyai
motivasi untuk mencapai tujuan ini. Terutama kalau ia baru menggunakan NAPZA
pada fase-fase awal. Pasien tersebut dapat ditolong dengan meminimasi efek-efek
yang langsung atau tidak langsung dari NAPZA. Sebagian pasien memang telah
abstinesia terhadap salah satu NAPZA tetapi kemudian beralih untuk menggunakan
jenis NAPZA yang lain.
b. Pengurangan frekuensi dan keparahan relaps.
Sasaran utamanya adalah pencegahan relaps. Bila pasien pernah menggunakan satu
kali saja setelah “clean” maka ia disebut “slip”. Bila ia menyadari kekeliruannya, dan
ia memang telah dibekali ketrampilan untuk mencegah pengulangan penggunaan
kembali, pasien akan tetap mencoba bertahan untuk selalu abstinensia. Pelatihan
relapse prevention programe, program terapi kognitif, opiate antagonist maintenance
therapy dengan naltreson merupakan beberapa alternatif untuk mencegah relaps.
c. Memperbaiki fungsi psikologi dan fungsi adaptasi sosial.
Dalam kelompok ini, abstinensia bukan merupakan sasaran utama. Terapi rumatan
(maintence) metadon merupakan pilihan untuk mencapai sasaran terapi golongan ini.

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian
a. Fisik
Data fisik yang mungkin ditemukan pada klien dengan penggunaaan NAPZA pada
saat pengkajian adalah sebagai berikut : nyeri, gangguan pola tidur, menurunnya
selera makan, konstipasi, diare, perilaku seks melanggar norma, kemunduran dalam
kebersihan diri, potensial komplikasi jantung, hati, infeksi pada paru-paru, dan
sebagainya.
b. Emosional
Perasaan gelisah (takut kalau diketahui), tidak percaya diri, curiga dan tidak berdaya.
c. Sosial
Lingkungan sosial yang biasa akrab dengan klien biasanya adalah teman pengguna
zat, anggota keluarga lain pengguna zat, lingkungan sekolah atau kampus yang
digunakan oleh para pengedar.
d. Intelektual
Pikiran yang selalu ingin menggunakan zat adikitif, perasaan ragu untuk berhenti,
aktivitas sekolah atau kuliah menurun sampai berhenti, pekerjaan terhenti.
e. Spiritual
Kegiatan keagamaan tidak ada, nilai-nilai kebaikan ditinggalkan karena perubahan
perilaku (tidak jujur, mencuri, mengancam dan lain-lain).
f. Keluarga
Ketakutan akan perilaku klien, malu pada masyarakat, penghamburan dan pengurasan
secara ekonomi oleh klien, komunikasi dan pola asuh tidak efektif, dukungan moril
terhadap klien tidak terpenuhi.

2. Diagnosa Keperawatan
Ada beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin dapat timbul pada klien dengan
penyalahgunaan obat, antara lain :
a. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak mampu mengatasi
keinginan menggunakan zat adiktif.
b. Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan.
c. Perubahan pemeliharaan kesehatan dan ADL berhubungan dengan efek
penggunaan zat adiktif.
d. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan pola asuh yang salah.
e. Gangguan kesadaran somnolent berhubungan dengan intoksikasi obat sedative
hipnotik.

3. Intervensi Keperawatan
Dx.1. Koping individu tidak efektif berhubungan dengan tidak mampu mengatasi
keinginan menggunakan zat adiktif.
Tujuan : klien mampu untuk mengatasi keinginan menggunakan zat adiktif
Intervensi :
Individu :
- Identifikasi situasi yang menyebabkan timbulnya sugesti
- Identifikasi perilaku ketika sugesti datang
- Diskusikan cara mengalihkan pikiran dari sugesti yang lebih positif
- Bantu klien mengekspresikan perasaannya
Kelompok :
- Diskusikan pengalaman mengucapkan kata-kata yang mengandung semangat
menghindari zat adiktif
Keluarga :
- Motivasi keluarga untuk membantu klien mampu jujur bila sugestinya dating
- Diskusikan upaya keluarga membantu klien mengurangi sugesti
- Bantu suasana mendukung keakraban di rumah

Dx.2. Distress spiritual berhubungan dengan kurangnya pengetahuan.


Tujuan : klien meningkatkan kegiatan spiritual
Intervensi :
Individu :
- Bantu mengidentifikasi kebutuhan spiritual
- Identifikasi arti keyakinan keagamaan
- Motivasi menjalankan keagamaan
Kelompok :
- Diskusikan nilai-nilai kebaikan
- Lakukan kegiatan ibadah bersama
Keluarga :
- Diskusikan pentingnya kegiatan keagamaan
- Bantu menyiapkan kegiatan keagamaan di rumah
- Motivasi orang tua sebagai contoh untuk kegiatan keagamaan

Dx.3. Perubahan pemeliharaan kesehatan dan ADL berhubungan dengan efek


penggunaan zat adiktif.
Tujuan : klien mampu mengambil keputusan merubah dan memperbaiki gaya hidupnya
Intervensi :
Individu :
- Identifikasi gaya hidup selama menggunakan zat adiktif
- Diskusikan kerugian gaya hidup pengguna zat adiktif
- Bantu kebiasaan mengontrol penggunaan zat/merokok
- Bantu latihan gaya hidup sehat : makan, mandi dan tidur teratur
Kelompok :
- Diskusikan gaya hidup sehat dan manfaatnya
Keluarga :
- Identifikasi gaya hidup keluarga
- Diskusikan keluarga sebagai model dan tempat berlatih untuk hidup sehat

Dx.4. Koping keluarga tidak efektif berhubungan dengan pola asuh yang salah.
Tujuan : keluarga mampu memberikan kenyamanan pada klien sehingga mampu berhenti
menggunakan zat adiktif
Intervensi :
Kelompok :
- Beri kesempatan untuk mengekspresikan perasaan
- Diskusikan cara menghadapi perilaku klien dan rencana sebelum pulang
- Bantu mencapai kesepakatan tndak lanjut perawatan rehabilitasi mental
Keluarga :
- Identifikasi penerimaan keluarga terhadap masalah
- Bantu menerima masalah
- Identifikasi harapan untuk sembuh total
- Bantu respon keluarga bila klien menggunakan zat adiktif
- Bantu keluarga latihan mengucapkan kata-kata yang menghargai dan mendukung
klien untuk berhenti

Dx.5. Gangguan kesadaran somnolent berhubungan dengan intoksikasi obat sedative


hipnotik.
Tujuan : klien mampu melakukan interaksi dan memberikan respon terhadap stimulus
secara optimal.
Intervensi :
Individu :
- Observasi tanda-tanda vital terutama kesadaran
- Bekerja sama dengan dokter dalam pemberian terapi medis
- Memberikan rasa nyaman dan aman dengan pengaturan posisi
- Menjaga keselamatan diri klien selama kesadaran terganggu
- Observasi keseimbangan cairan
Keluarga :
- Berikan penjelasan tentang pengaruh zat adiktif terhadap kondisi fisik, social dan
emosional klien

DAFTAR PUSTAKA
Allen K.M. (1996). Nursing care of the addicted client. Philadelphia : Lippincott.

Morgan. (1991). Segi praktis psikiatri. Jakarta : Bina Rupa Aksara.

Smith, C.M. (1995). Community health nursing : theory and practice. Philadelphia : W.B.
Saunders Company.

Stuart Sundeen (1998). Principles and practice of psychiatric nursing. St Louis :


Mosby Year Book.

The Indonesian Florence Nightingale Foundation. (1999). Kiat penanggulangan dan


penyalahgunaan ketergantungan NAPZA. Jakarta : EGC.
Tom, Kus, Tedi. (1999). Bahaya NAPZA bagi pelajar. Bandung :Yayasan Al-Ghifari.