Anda di halaman 1dari 14

Step 7

1. Mengapa penglihatan mata kanan buram setelah terkena


bola tenis?
Mata kena benda media refrakta rupture (kornea)
Mata rupturemembran descemen lipatan berkelok
(membuat cekungan)gara2 kena benda
tumpulmembuat visus turun dan kornea sulit jernih lagi
Kena bolaedem korneamengaburkan penglihatanliat
sinar jadi halcoa berdarahhifema—>iris robek-->buram
Hifema :
1 kurang dr ¼ vilume bilik mata depan yg terlihat
2 ¼ smp ½ dr bilik depan yg terlihat
3 ½ s,p ¾ dr volume bilik mata yg terlihat
4 pengisian sempurna dr bilik mata depan yg terlihat
Trauma edem menembus lapisan kornea smp mebran
basal sel2 radang akan memperbaikiapalagi msk smp
dlmmenyebabkan infeksi membuat coa keruh
Mikrohifema sebelum stadium 1 sebelumnya sudah ada
sel darah merah

2. Mengapa didapatkan visus turun mixed injection udem


kornea dan perdarahan di coa pupil middilatasi, reflek pupil
positif lambat?
Trauma matatrauma uveairidoplegi (kelemahan m.
spincter pupilpupil tdk bs miosisreflek pupil
lambatyg kanan midriasis
3. Macam2 dari trauma mata?
Trauma mata dapat terjadi secara mekani dan non mekanik
Mekanik, meliputi :
a. Trauma oleh benda tumpul, misalnya :
o Terkena tonjokan tangan
o Terkena lemparan batu
o Terkena lemparan bola
o Terkena jepretan ketapel, dan lain-lain

- Konkusio, yaitu trauma tumpul pada mata yang masih


reversibel, dapat sembuh dan normal kembali.
- Kontusio, yaitu trauma tumpul yang biasanya
menyebabkan kelainan vaskuler dan kelainan
jaringan/ robekan.

b. Trauma oleh benda tajam, misalnya:


o Terkena pecahan kaca
o Terkena pensil, lidi, pisau, besi, kayu
o Terkena kail, lempengan alumunium, seng, alat
mesin tenun.
c. Trauma oleh benda asing, misalnya:
Kelilipan pasir, tanah, abu gosok dan lain-lain

Non Mekanik, meliputi :


a. Trauma oleh bahan kimia:
o Air accu, asam cuka, cairan HCL, air keras
o Coustic soda, kaporit, jodium tincture, baygon
o Bahan pengeras bakso, semprotan bisa ular, getah
papaya, miyak putih
b. Trauma termik (hipermetik)
o Terkena percikan api
o Terkena air panas
c. Trauma Radiasi
o Sinar ultra violet
o Sinar infra merah
o Sinar ionisasi dan sinar X

4. Apa saja manifest yg muncul ketika tjd trauma mata?


a. Pada trauma mekanik karena benda tumpul dapat terjadi
Orbita
 Eksofthalmos
 Gangguan gerakan
 Hematom palpebra/ conjunctiva
 Fraktur rima orbita (dpt diraba)
 Fraktur dinding orbita
 enofthalmos
 N.optikus terjepit
 N.III, N.IV, NVI terjepit
Kelopak mata
 Hematom palpebra/ konjungtiva
 Ruptur palpebra, laserasi
Konjungtiva
 Khemosis
 Perdarahan konjungtiva
 Ruptur konjungtiva
Kornea
 Erosi kornea
 Ruptur kornea (iris prolaps)
 Edema kornea
Kelopak mata
 Hematom palpebra/ konjungtiva
 Ruptur palpebra, laserasi
Konjungtiva
 Khemosis
 Perdarahan konjungtiva
 Ruptur konjungtiva
Kornea
 Erosi kornea
 Ruptur kornea (iris prolaps)
 Edema kornea
Lensa
 Subluksasi lensa/ luksasi lensa
 Ruptur lensa
 Katarak traumatika
Segmen posterior
 Edema retina
 Perdarahan retina
 Ablatio retina
 Atrofi N.II
Perubahan tekanan bola mata
 Tekanan turun akibat ruptur kornea,
sklera
 Tekanan naik (glaukoma sekunder) akibat
hifema / kerusakan struktur sudut
iridokornealis

Kelainan gerakan mata


 Kelopak mata
 Lagophthalmos (N.VII)
 Ptosis (N.III)
 Bola mata
 Strabismus
 Diplopia

b. Pada trauma mekanik karena benda tajam, dapat terjadi


Kelopak mata
 Luka sayat
 Luka tusuk, tembus
Konjungtiva
 Perdarahan
 Ruptur
Kornea
 Ruptur kornea
 Luka tusuk kornea
Kamera okuli anterior
 Luka tembus kornea akan sebabkan
kuman masuk
 Keruh o.k iridosiklitis akibat kuman
masuk
Iris : iridoreksis & iridodialisa
Lensa : katarak traumatika
Retina : perdarahan retina
CV : perdarahan CV

c. Trauma sinar UV
o Pasien yang telah terkena sinar ultra violet akan
memberikan keluhan 4-10 jam setelah trauma. Pasien
akan merasa mata sangat sakit mata seperti kelilipan
atau kemasukan pasir, fotofobia, blefarospasme, dan
konjungtiva kemotik.
o Kornea akan menunjukkan adanya infiltrat pada
permukaannya, yang kadang-kadang disertai dengan
kornea yang keruh dan uji fluoresein positif. Keratitis
terutama terdapat pada fisura paipebra.
o Pupil akan terlihat miosis. Tajam penglihatan akan
terganggu.
o Keratitis ini dapat sembuh tanpa cacat, akan tetapi
bila radiasi berjalan lama kerusakan dapat permanen
sehingga akan memberikan kekeruhan pada komea.
Keratitis dapat bersifat akibat efek kumulatif sinar
ultra violet sehingga gambaran keratitisnya menjadi
berat.

5. Apa saja pemeriksaan fisik dan penunjang dr scenario?


Pemeriksaan ophtalmology
a. Pemeriksaan Fisik : dimulai dengan pengukuran dan
pencatatan ketajaman penglihatan.
b. Slit lamp : untuk melihat kedalaman cedera di segmen
anterior bola mata.
c. Tes fluoresin : digunakan untuk mewarnai kornea,
sehingga cedera kelihatan jelas.
d. Tonometri : untuk mengetahui tekakan bola mata. nilai
normal tekanan bola mata (normal 12-25 mmHg).
e. Pemeriksaan fundus yang di dilatasikan dengan
oftalmoskop indirek : untuk mengetahui adanya benda
asing intraokuler.
f. Tes Seidel : untuk mengetahui adanya cairan yang
keluar dari mata. Tes ini dilakukan dengan cara
memberi anastesi pada mata yaang akan diperiksa,
kemudian diuji pada strip fluorescein steril. Penguji
menggunakan slit lamp dengan filter kobalt biru,
sehingga akan terlihat perubahan warna strip akibat
perubahan pH bila ada pengeluaran cairan mata.
g. Pemeriksaan ct-scan dan USG B-scan : digunakan untuk
mengetahui posisi benda asing.
h. Electroretinography (ERG) : untuk mengetahui ada
tidaknya degenerasi pada retina.
i. Kartu snellen: pemeriksaan penglihatan dan
penglihatan sentral mungkin mengalami penurunan
akibat dari kerusakan kornea, vitreous atau kerusakan
pada sistem suplai untuk retina.
j. Kalau perlu pemeriksaan tonometri Schiotz, perimetri,
gonioskopi, dan tonografi, maupun funduskopi
k. Pemeriksaan dengan menggunakan optalmoskop:
mengkaji struktur internal dari okuler, papiledema,
retina hemoragi.
l. Pemeriksaan Radiologi : Pemeriksaan radiology pada
trauma mata sangat membantu dalam menegakkan
diagnosa, terutama bila ada benda asing .Pemeriksaan
ultra sonographi untuk menentukan letaknya, dengan
pemeriksaan ini dapat diketahui benda tersebut pada
bilik mata depan, lensa, retina.pemeriksaan radiologi
pada trauma mata sangat membantu dalam
menegakkan diagnosa, terutama bila ada benda asing.
m. Kertas Lakmus : pada pemeriksaan ini sangat
membantu dalam menegakkan diagnosa trauma asam
atau basa.
n. Pemeriksaan Laboratorium, seperti :. SDP, leukosit,
kultur, kemungkinan adanya infeksi sekunder.

Pemeriksaan Penunjang: USG


a. Ultrasonografi. Anatomi intraokular dan deteksi IOFB,
terutama jika oftalmoskopi direk terganggu, seperti
akibat hifema penuh
Mencari: Ablasio retina, ablasio vitreus posterior,
perdarahan/kekeruhan vitreus, ablasio koroid, ruptur
koroid/skleral

b. CT-Scan
Suspek ruptur/laserasi tersembunyi, terdapat IOFB,
fraktur orbital/fasial
i. •Potongan aksial dan koronal:
ii. •Evaluasi kondisi atap dan dasar orbita, otot
ekstraokular, lokalisasi benda asing
c. MRI
Lebih akurat dari CT-Scan dalam deteksi kerusakan
bola mata, seperti ruptur posterior tersembunyi

6. Apa DD dan diagnose dr skenario?


Diagnosis : trauma tumpul
DD : trauma tajam, trauma kimia, trauma bneda asing

7. Terapi dari diagnosis?


Trauma tumpul
 Pada hematoma kelopak dini dapat diberikan
kompres dingin untuk menghentikan perdarahan
dan menghilangkan rasa sakit
 Bila telah lama, untuk memudahkan absorbsi dapat
dilakukan kompres hangat pada kelopak
 Bila perdarahan terletak lebih dalam dan mengenai
kedua kelopak dan berbentuk kaca mata yang
sedang dipakai, maka keadaan ini disebut sebagai
hematoma kaca mata dan merupakan keadaan
sangat gawat. Hematoma kaca mata terjadi akibat
pecahnya arteri oftalmika yang merupakan tanda
fraktur basis kranii. Darah masuk ke dalam kedua
rongga orbita sampai pada batas septum orbita
kelopak mata, akan memberikan bentuk hematoma
ini.

Trauma tajam
 Bila terlihat salah satu tanda di atas atau dicurigai adanya
perforasi bola mata maka secepatnya dilakukan
pemberian antibiotika topikal dan mata ditutup dan
segera dikirim pada dokter mata untulk dilakukan
pembedahan.
 Pada setiap terlihat kemungkinan trauma perforasi
sebaiknya dipastikan apakah ada benda asing yang
masuk ke dalam mata dengan membuat foto.
 Pada pasien dengan luka tembus bola mata selamanya
diberikan antibiotika sistemik atau intravena dan pasien
dipuasakan untuk tindakan pembedahan.
 Pasien juga diberi anti tetanus profilaktik, analgetika, dan
kalau perlu penenang. Sebelum dirujuk mata tidak diberi
salep, karena salep dapat masuk ke dalam mata. Pasien
tidak boleh diberi steroid local dan beban yang diberikan
pada mata tidak menekan bola mata.

Trauma kimia
 Setiap trauma kimia pada mata memerlukan tindakan
segera.
 lrigasi daerah yang terkena trauma kimia merupa
tindakan yang segera harus dilakukan karena dapat
memberikan penyulit yang lebih berat.
 Pembilasan dilakukan dengan memakai garam fisiologi
atau air bersih lainnya selama mungkin dan paling
sedikit 15-30 menit.
 Luka bahan kimia harus dibilas secepatnya dengan air
yang tersedia pada saat itu seperti dengan air keran,
larutan garam fisiologik, dan asam berat.
 Anestesi topikal diberikan pada keadaan dimana
terdapat blefarospasme berat.
 Untuk bahan asam digunakan larutan natrium
bikarbonat 3% sedang untuk basa larutan asam borat,
asam asetat 0.5% atau bufer as asetat pH 4.5% untuk
menetralisir. Diperhatikan kemungkinan terdapat benda
asing penyebab luka tersebut.
 Untuk bahan basa diberikan EDTA. Pengobatan yang
diberi adalah antibiotika topikal, sikioplegik dan bebat
mata selama mata masih sakit.
 Regenerasi epitel akibat asam lemah dan alkali sangat
lambat yang biasanya sempurna setelah 3-7 hari.

Trauma kimia (asam)


 Pengobatan dilakukan dengan irigasi jaringan yang
terkena secepatnya dan selama mungkin untuk
menghilangkan dan melarutkan bahan yang
mengakibatkan trauma.
 Biasanya trauma akibat asam akan normal kembali,
sehingga tajam penglihatan tidak banyak terganggu.

Trauma kimia (basa)


 Tindakan bila terjadi trauma basa adalah dengan
secepatnya melakukan irigasi dengan garam fisiologik.
Sebaiknya irigasi dilakukan selama mungkin. Bila
mungkin irigasi dilakukan paling sedikit 60 menit segera
setelah trauma.
 Penderita diberi sikloplegia, antibiotika, EDTA untuk
mengikat basa. EDTA diberikan setelah 1 minggu trauma
alkali diperlukan untuk menetralisir kolagenase yang
terbentuk pada hari ke tujuh.

Trauma sinar infra merah


 Tidak ada pengobatan terhadap akibat buruk yang
sudah terjadi kecuali mencegah terkenanya mata
oleh sinar infra merah ini.
 Steroid sistemik dan lokal diberikan uniuk mencegah
terbentuk jaringan parut pada makula atau untuk
mengurangi gejala radang yang timbul.

Trauma sinar UV
 Pengobatan yang diberikan adalah sikloplegia,
antibiotika lokal, analgetik, dan mata ditutup untuk
selama 2-3 hari. Biasanya sembuh setelah 48 jam.

Trauma sinar X
 Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika topikal
dengan steroid 3 kali sehari dan sikioplegik satu kali
sehari.
 Bila terjadi simblefaron pada konjungtiva dilakukan
tindakan pembedahan.

Trauma tajam
 Antibiotik dan bebat mata
 Hifema : pasien ditidurkan 30 derajat kepala
 Trauma kimia : irigasi, cek ph air mata, jika terkena lem
di debridement.
 Untuk mengurangi inflamasi : steroid dan antibiotik
 Jika ada defek epitel tidak boleh diberi steroid dan
anastesi topikal karena akan memperlambat
penyembuhan.

Trauma tumpul
 Hematoma kelopak : dikompres dingin untuk
menghentikan perdarahan, kompres hangat untu
memudahkan absorpsi darah
 Edem konjungtiva: dekongestan untuk cegah
bendungan konjungtiva, diinsisi jika terjadi kemotik.
Hematom konjungtiva : funduskopi
 Edem kornea : larutan hipertonik nacl 5% atau garam
hipertonik 2-8%
 Erosi kornea : klorampenikol dan sulfasetamid tetes
mata
 Erosi kornea rekuren : sudah merusak membran basal,
terapi bertujuan untuk pelumas permukaan kornea
agar yang sudah regenerasi tidak terkelupas kembali.
Diberi antibiotik dan kontak lensa lembek untuk
mempertahankan epitel.

8. Apa saja komplikasi yg ditimbulkan akibat trauma tajam


maupun tumpul pd mata?
a. Glaukoma Sekunder Pasca Truma
i. Trauma dapat mengakibatkan kelainan jaringan dan
susunan di dalam mata yang dapat mengganggu
pengaliran cairan mata sehingga menimbulkan
glaukoma sekunder. Jenis kelainan yang menimbulkan
glaukoma adalah kontusi sudut.
ii. Glaukoma Kontusi Sudut
1. Etiologi
Trauma dapat mengakibatkan tergesernya pangkal
iris ke belakang sehingga terjadi robekan
trubekulum dan gangguan fungsi trubeklum ini akan
mengakibatkan hambatan pengaliran keluar cairan
mata.
2. Pengobatan
Pengobatan biasanya dilakukan seperti mengobati
glaukoma terbuka yaitu dengan obat lokal atau
sistemik. Bila tidak terkontrol pengobatan maka
dilakukan pembedahan.
iii. Glaukoma Dengan Dislokasi Lonsa
1. Patofisiologi
Akibat trauma tumpul dapat terjadi putusnya zonula
Zinn, yang mengakibatkan kedudukan lensa tidak
normal. Kedudukan lensa normal ini akan
mendorong iris ke depan sehingga terjadi
penutupan bilik mata. Penutupan sudut bilik mata
akan menghambat pengaliran keluar cairan mata
sehingga akan menimbulkan glaukoma sekunder.
2. Pengobatan
Pengobatan yang dilakukan adalah mengangkat
penyebab lensa sehingga sudut terbuka kembali.

b. Kebutaan
Kategori: ada 5 katagori:
Buta menurut WHO:
 kategori 1 : rabun atau penglihatan <6/18
 kategori 2 : rabun, tajam penglihatan <6/60
 kategori 3 : buta sosial
 tajam penglihatan <3/60
 lapang pandangan <10˚
 kategori 4 : buta
 tajam penglihatan <1/60
 lapang pandangan <5˚
 kategori 5 : buta dan tidak ada persepsi sinar.

9. Prognosis dr scenario?
Tergantung dr keparahan tingkat trauma
Refersible : baik
Alatio retina : irrefersible
Faktor :
Adanya jaringan prolabs
Ada tdknya komplikasi
Luas panjang luka

Sumber :
1. Gondowiarjo TD, Simanjuntak GW, 2006, “ Panduan
Manajemen Klinis Perdami “, Jakarta.
2. Renstra Penanggulangan Gangguan Penglihatan Dan
Kebutaan Untuk Mencapai Vision 2020. Depkes RI. 2003
3. Ilmu Penyakit Mata. Persatuan Dokter Spesialis Mata
Indonesia.2002.