Anda di halaman 1dari 4

Dana Desa Tingkatkan Infrastruktur dan Status Desa

Maumere, 28/01/2019 - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada Diseminasi Kebijakan
Pengelolaan Dana Desa di Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur pada Jumat (25/1)
menyatakan bahwa dalam empat tahun pertama (2015-2018), implementasi Dana Desa telah memberi
manfaat bagi masyarakat, terutama di sektor infrastruktur.

Infrastruktur yang dibangun mencakup 191,6 ribu km jalan desa; 1.140,4 km jembatan desa; 9 ribu pasar
desa; 4.175 unit embung desa; 24,8 ribu posyandu (Pusat Kesehatan Masyarakat); 959,6 ribu fasilitas air
bersih; 240,6 ribu unit MCK (tempat untuk mandi dan mencuci serta berfungsi sebagai toilet / toilet);
9.692 polindes (Pos Kesehatan Desa), 50.900 PAUD; dan 29,5 juta unit drainase.

Ada beberapa perubahan penting dalam alokasi transfer ke daerah dan Dana Desa pada tahun 2019,
antara lain: (i) Alokasi Dana Alokasi Umum (DAU) bersifat final sehingga menjamin daerah dalam hal
kepastian sumber pendanaan. untuk Anggaran Pemerintah Daerah (APBD); (ii) Minimal 25% dari Dana
Transfer Umum (DTU) masih digunakan untuk belanja infrastruktur sebagai upaya untuk membangun
infrastruktur ke daerah-daerah terpencil sehingga konektivitas dan persatuan dapat muncul secara
bersamaan; (iii) Perluasan penggunaan Dana Bagi Hasil (DBH), khususnya cukai pada produk tembakau
untuk mendukung program asuransi kesehatan nasional dan DBH Dana Reboisasi untuk pencegahan
kebakaran hutan mulai tahun 2018; (iv) Alokasi Dana Alokasi Khusus Fisik (DAK) berdasarkan proposal
regional dan target / target keluaran yang ingin dicapai dengan mencerminkan afirmasi yang lebih baik
untuk daerah, perbatasan, pulau, dan transmigrasi yang kurang beruntung; (v) Alokasi Dana Alokasi
Khusus Non-fisik lebih diarahkan untuk mengurangi beban publik terhadap akses ke layanan publik.
Untuk meningkatkan kualitas kinerja semua bidang DAK Non-Fisik, alokasi dan distribusi dana didasarkan
pada kinerja.

Selain itu, ada tambahan jenis DAK Non-Fisik yaitu Bantuan Operasional Kesetaraan (BOP), Museum BOP
dan Taman Budaya, Dana Layanan Pariwisata, dan Dana Biaya Layanan Pengolahan Limbah (vi) untuk
daerah yang berkinerja baik dalam meningkatkan layanan dasar publik dan meningkatkan kesejahteraan
masyarakat akan diberikan penghargaan dalam bentuk Dana Insentif Daerah (DID).

"Jadi, sekarang kami memiliki dana alokasi khusus yang bersifat non-fisik. Jadi, kami ingin daerah
bersaing untuk mencapai prestasi dan kemudian kami memberikan insentif tambahan di luar Dana
Alokasi Umum, DAK, DBH dan Dana Desa," jelas Menteri Keuangan.
Dalam hal hasil, implementasi Dana Desa juga berkontribusi pada pengurangan kemiskinan dan
ketidaksetaraan di daerah pedesaan. Ini dapat dilihat dari, antara lain, penurunan rasio pedesaan Gini,
dari 0,34 pada 2014 menjadi 0,32 pada 2018, dan penurunan jumlah penduduk miskin pedesaan dari
17,8 juta (14,2%) pada 2015 menjadi 15,8 juta orang (13,2) %) pada tahun 2018.

Selain itu, Dana Desa juga telah berhasil meningkatkan status 6.518 desa tertinggal menjadi desa-desa
berkembang dan meningkatkan status 2.665 desa berkembang menjadi desa mandiri.

Menteri Keuangan mengatakan bahwa untuk transfer regional dan Dana Desa di keempat kabupaten ini,
pada tahun 2019 peningkatannya bervariasi; (i) Kabupaten Sikka meningkat 10%, yaitu Rp1.087 triliun
(88% dari APBD); (ii) Kabupaten Lembata meningkat 11% menjadi Rp832 miliar (89% dari APBD); (iii)
Kabupaten Ende meningkat 9%, yaitu Rp1,15 triliun (90% dari APBD); dan (iv) Kabupaten Flores Timur
naik 2%, yaitu Rp1,014 triliun (90% dari APBD).

"Dana desa di Sikka telah meningkat rata-rata 14% dalam tiga tahun terakhir, terakhir pada 2019
mencapai Rp151,3 miliar. Demikian juga untuk Kabupaten Ende (13%), Kabupaten Lembata (9%), dan
Kabupaten Flores Timur ( 12%) juga mengalami peningkatan, dan tahun terakhir di 2019 adalah sebesar
Rp198,3 miliar, Rp131,8 miliar dan Rp173,6 miliar, "pungkasnya. (ip / ind / nr)

Lihat program dana desa empat tahun yang lalu

Infrastruktur adalah tema utama dari debat presiden kedua, dengan Jokowi menekankan kemajuan yang
dibuat di bawah kepemimpinannya melalui pengembangan jalan tol, bandara, irigasi, bendungan, dan
infrastruktur lainnya seperti konektivitas broadband. Secara khusus, satu inisiatif yang dipelopori oleh
Jokowi adalah program dana desa.

Sejak mulai berlaku pada tahun 2015, program ini telah diterima dengan baik - pemungutan suara
dengan 85 persen kepuasan di antara masyarakat Indonesia pada tahun 2018.

Berdasarkan UU 6/2014 (dikenal sebagai UU Desa), program dana desa mensyaratkan bahwa
pemerintah pusat mengalokasikan dana untuk masing-masing provinsi dan kabupaten, di atas transfer
antar pemerintah lainnya. Setiap desa diberikan otonomi untuk menentukan penggunaan dana ini, yang
kemudian secara resmi diusulkan dalam rencana pengeluaran. Skema ini adalah bagian dari visi Jokowi
untuk membangun Indonesia “dari pinggiran”, dengan fokus pada daerah-daerah yang lebih
terpinggirkan di Indonesia. Ini bertujuan untuk menutup kesenjangan infrastruktur antara daerah
pedesaan dan perkotaan, meningkatkan akses pedesaan ke layanan masyarakat yang vital, dan
meningkatkan kesejahteraan sosial.

Presiden Dana Internasional untuk Pengembangan Pertanian (IFAD) Gilbert Houngbo percaya bahwa
program ini terbukti menjadi katalis untuk transformasi pedesaan melalui sektor pertanian. Antara 2015
dan 2018, skema pendanaan berhasil dalam pengembangan 191.600 kilometer jalan desa, 58.000 unit
irigasi, 8.900 pasar desa, dan hingga 24.000 posyandu (pos pelayanan terpadu), yang merupakan klinik
bulanan untuk anak-anak dan wanita hamil, yang menyediakan vaksinasi dan suplemen gizi).

Jumlah dana yang dialokasikan juga telah meningkat selama periode empat tahun, mencapai Rp60
triliun (lebih dari AUD 6 miliar) pada tahun 2018. Menurut Menteri Desa, Daerah Tertinggal dan
Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, distribusi dana telah menjadi proses yang halus dan transparan. Dia
mengutip keterlibatan masyarakat melalui pemantauan dan pengawasan sebagai faktor utama dalam
hal ini.

Meskipun ada peningkatan besar dalam pembangunan pedesaan dan infrastruktur karena skema
pendanaan, program ini menghadapi pengawasan, terutama dari Indonesia Corruption Watch (ICW).
“Ada total 170 kasus korupsi pada tahun 2018 yang terjadi di kabupaten [menunjukkan bahwa]
anggaran desa merupakan sektor yang rentan,” kata Wana Alamsyah dari ICW. Pada 2015, sekitar 30
persen kasus korupsi yang tercatat di sektor desa terkait dengan program dana desa. Peneliti ICW, Egi
Primayogha memperkirakan bahwa korupsi selama periode empat tahun dari program berjumlah
kerugian Rp40 miliar (lebih dari AUD4 juta), menyoroti bahwa tata kelola yang lebih baik diperlukan
untuk memandu proses distribusi dana.

Program ini juga menghadapi kritik dari para pendukung lingkungan, yang berpendapat bahwa proses
pemantauan dan perencanaan yang lebih baik perlu diimplementasikan untuk memastikan bahwa
belanja desa selaras dengan tujuan keberlanjutan nasional.

Ke depan, Jokowi berharap bahwa dana tersebut akan dialihkan lebih ke arah pemberdayaan ekonomi
masyarakat melalui pariwisata. Menggunakan desa-desa Umbul Ponggok di Klaten, Jawa Tengah, dan
Embung Nglanggeran di Gunung Kidul, Yogyakarta, sebagai contoh, ia menekankan bahwa inovasi
melalui sektor pariwisata, antara lain, dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi di daerah pedesaan.
Mendukung masyarakat pedesaan melalui pemberdayaan ekonomi dan sosial sangat penting bagi masa
depan Indonesia, dan akan menjadi faktor penting dalam pemilihan mendatang bagi masyarakat agraris
yang dominan.

Alokasi dana desa sangat berpengaruh terhadap proses pembangunan infrastruktur, terutama di daerah
pinggiran. Seperti yang kita lihat bahwa dalam 4 tahun terakhir, pembangunan di desa sudah semakin
meningkat. Hal ini membuktikan bahwa visi presiden Jokowi untuk membangun Indonesia “dari
pinggiran” sedikit demi sedikit telah tercapai. Namun, Meskipun ada peningkatan besar dalam
pembangunan pedesaan dan infrastruktur karena skema pendanaan, program ini menghadapi
pengawasan, terutama dari Indonesia Corruption Watch (ICW).

The allocation of village funds is very influential on the process of infrastructure development, especially
in rural areas. As we have seen, in the last 4 years, development in the village has increased. This proves
that President Jokowi's vision to develop Indonesia "from the periphery" has been gradually achieved.
However, despite the large increase in rural development and infrastructure due to funding schemes,
the program faces scrutiny, especially from Indonesia Corruption Watch (ICW).