Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH KIMIA ORGANIK

IDENTIFIKASI ALDEHIDA DAN KETON MELALUI REAKSI FEHLING DAN


REAKSI TOLLENS

DISUSUN OLEH:

Tobby Kurniawan (1800020033)


BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang.

Aldehida dan keton merupakan senyawa karbon yang diturunkan dari alkana serta
memiliki rumus umum yang sama yaitu CnH2nO. Untuk aldehida dan keton memiliki
persamaan serta perbedaan baik dari sifat fisika, kimia, dan kegunaan. Suatu aldehida
memiliki satu gugus alkil dan satu hidrogen yang terikat pada karbon karbonil dengan rumus
RCHO, sedangkan keton memiliki 2 gugus alkil yang terikat pada karbon karbonil dengan
rumus RCOR.
Aldehida dan keton umumnya mengalami reaksi pada gugus karbonil oleh karena itu
struktur dan sifat gugus fungsi diketahui terlebuh dahulu. Senyawa karbonil pada aldehida
lebih mudah teroksidasi dari pada keton. Namun secara fisik kedua senyawa ini memiliki
sifat yang sama, maka untuk membedakannya dilakukukan pengujian dengan pelarutan pada
oksidator lemah seperti pereaksi fehling dan pereaksi tollens.

1.2. Rumusan masalah.


Didalam makalah ini saya mempunyai 2 rumusan masalah, seperti:
1. Bagaimana cara membuat masing-masing pereaksi atau reagen?
2. Bagaimana cara pengujian dengan masing-masing pereaksi atau reagen serta seperti apa
perubahannya?

1.3. Tujuan.
Makalah ini dibuat bertujuan untuk memenuhi tugas kimia organik 1, serta untuk
menambah pengetahuan pembaca mengenai salah satu cara untuk mengindentifikasi aldehida
dan keton yaitu melalui pereaksi kimia (zat-zat pengoksidasi lemah) baik itu dengan
menggunakan reagen/pereaksi fehling maupun dengan reagen/pereaksi tollens.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pembuatan masin-masing reagen.


1. Cara pembuatan reagen fehling.
Reagen fehling disini terdiri dari 2 bagian yaitu, Fehling A dan Fehling B. Fehling
A adalah larutan CUSO4, Sedangkan Fehling B adalah campuran larutan NaOH
dengan KNaC4H4O6. Berikut cara membuat laruta fehling A dan fehling B:
» Fehling A.
Untuk membuat larutan fehling alirkan perlahan H2SO4 pekat kedalam
gelas kimia berisi 100 ml akuades sambil sesekali diaduk. Selanjutnya
masukkan CuSO4.H2SO4 kedalam gelas kimia tersebut, setelah melarut
kemudian diencerkan dengan akuades sampai volum larutan menjadi 500
ml. kemudian pindahkan pereaksi ini kedalam botol reagen.

» Fehling B.
Untuk membuat larutan Fehling B pertama-tama siapkan 250 ml akuades
didalam gelas kimia 600 ml, kemudian larutkan 50 gr Naoh kedalam
akuades, selanjutnya tambahkan 173 gr garam tartrat, dan encerkan larutan
ini sampai volumnya menjadi 500 ml.

Apabila fehling A dan B telah dibuat maka apabila ingin melakukan pengujian,
selanjutnya tinggal mencampurkan kedua larutan tersebut dengan perbandinan yang
sama serta panaskan agar membentuk larutan reagen fehling yang sebenarnya.

2. Pembuatan reagen Tollens.


Reagen tollens tidak tersedia secara komersial karena daya tahannya yang tidak
lama. Untuk itu reagen ini harus dibuat secara segar. Untuk membuat reagen tollens
dapat dilakukan dengan melarutkan perak nitrat dengan NaOH, kemudian endapan
coklat (Ag2O) yang terbentuk dilarutkan dengan larutan amonia sehingga membentuk

kompleks perak amoniakal .


Reaksi:

Larutan kompleks perak amoniakal inilah yang berperan dalam identifikasi


aldehida dan keton. Namun biasanya larutan amoniakal ini juga sering ditulis secara
sederhana menjadi Ag2O

B. Reaksi identifikasi Aldehida dan Keton.


Seperti yang diketahui hal yang membedakan aldehida dan keton adalah kemampuan
mereka untuk dioksidasi. Aldehida merupakan larutan yang mudah untuk dioksidasi
sedangkan keton tidak, untuk itu kita dapat mengidentifikasi kedua senyawa tersebut
dengan menggunakan reagen fehling dan tollens.
1. Identifikasi dengan pereaksi atau reagen Fehling.
Pada pengujian dengan menggunakan reagen fehling, biasanya hasil reaksi akan
menghasilkan asam karbosilat serta endapan merah bata ( Cu2O ) jika ia termasuk
dalam kelompok. senyawa aldehida. Dan tidak bereaksi jika ia termasuk dalam
kelompok senyawa keton.

Adapun diagram alir identifikasi aldehida dan keton dengan reaegen fehling adalah
sebagai berikut: 5 tetes fehling A

Dimasukkan kedalam 2 tabung berbeda


5 tetes NaOH
10 tetes fehling B

1 ml sampel (Aseton dan Glukosa)

Dipanaskan + 2 menit dalam water bath

Diamati perubahan yang terjadi


Hasil

Dari percobaan terhadap 2 sampel tersebut didapat data sebagai berikut:

No. Nama Sampel + Reagen Fehling (tanpa Sampel + Reagen Hasil


Sampel pemanasan) Fehling (setelah uji
pemanasan) (+)/(-)

1. Aseton Biru lebih tua Tetap, Biru lebih tua -

2. Fruktosa Coklat Endapan merah bata +

Pada pengujian pertama yaitu fehling ditambahkan dengan aseton didapatkan bahwa
reaksi tersebut bernilai negative, hal ini dikarenakan aseton bukan berasal dari senyawa
aldehida melainkan keton, dimana ia tidak memiliki gugus OH atau H bebas. Seperti yang
diketahui reagen fehling dapat dianggap sebagai larutan CuO, dimana ia memiliki atom O
yang hanya bisa bereaksi dengan gugus OH atau H bebas agar menghasilkan asam karboksilat
dan hasil sampingannya Cu2O ( endapan merah bata).

Selanjutnya pada pengujian dengan sampel kedua yaitu Glukosa, didapatkan bahwa reaksi
bernilai fositive, senyawa tersebut menghasilkan endapan merah bata pada saat dipanaskan,
hal ini membuktikan bahwa glukosa merupakan senyawa aldehida, dimana ia memiliki gugus
OH atau H bebas yang akan bereaksi dengan ataom O dari reagen fehling (CuO).

2. Identifikasi dengan pereaksi atau reagen Tollens.


Sama seperti pengujian dengan pereaksi atau reagen fehling, pengujian dengan
reagen Tollens biasanya menghasilkan asam karboksilat namun berbeda dalam
produk sampingannya, yaitu endapan cermin perak atau Ag.
Adapun diagram alir identifikasi aldehida dan keton dengan reaegen fehling
adalah sebagai berikut:

1 ml reagen tollens

dimasukkan kedalam 2 tabung reaksi yang berbeda

Ditambahkan 1 ml larutan sampel (Formaldehida dan aseton)

Dipanaskan + 2 menit

Diamati perubahan yang terjadi

Hasil

Dari pengujian kedua sampel tersebut didapatkan hasil pengujian sebagai berikut:

No. Nama Sampel + Reagen Sampel + Reagen Hasil uji


Sampel Tollens (tanpa Tollens (setelah (+)/(-)
pemanasan) pemanasan)

1. Formaldehid Hitam + Cermin perak Cermin Perak +

2. Aseton Bening Bening -

Pada pengujian pertama yakni menggunkan sampel formaldehid, reaksi terbukti


positive, dimana ia menghasilkan endapan cermin perak. Cermin perak telah terbentuk
sebelum pemanasan, namun belum murni seutuhnya dimana masih terdapat endapan hitam,
untuk itu dipanaskan lagi agar murni. Endapan cermin perak terbentuk karena formaldehid
termasuk kedalam senyaa aldehida. Dimana ia memiliki gugus H atau OH bebas yang akan
bereaksi dengan atom O pada Ag2O membentuk asam karbosilat dengan hasil sampingan
cermin perak atau Ag.

Dan pada pengujian kedua dengan menggunakan sampel aseton, reaksi terbukti
negative, dimana tidak terjadi reaksi antara aseton dengan reagen tollens. hal ini
dikarenakan aseton merupakan senyawa keton dimana ia tidak memiliki gugus H atau
OH bebas. Ketidakpunyaan gugus H atau OH bebas ini lah yang menyebabkan aseton
tidak dapat bereaksi dengan reagen tollens. Dimana pada pereaksian dengan tollens
seharusnya gugus H atau OH tersebut bereaksi dengan atom O yang terdapat pada Ag2O
membentuk asam karboksilat dan hasil samping cermin perak.

C. Kesimpulan.
Jadi pada identifikasi aldehida dan keton menggunakan reagen fehling dan tollens,
hanya senyawa aldehida yang dapat bereaksi, hal ini dikarenakan pada aldehida terdapat
gugus H atau OH bebas, sedangkan keton tidak. Selain itu, hasil reaksi dari pengujian
dengan kedua reagen ini sama yaitu asam karboksilat. Namun berbeda dalam hasil
sampingannya, jika menggunakan reagen fehling hasil sampingannya berupa endapan
merah bata (Cu2O) sedangkan kalau menggunakan reagen tollens hasil sampingannya
berupa endapan cermin perak (Ag).

DAFTAR PUSTAKA

Mulyono. 2009. Membuat reagen kimia di laboratorium. Jakarta: PT Bumi Aksara


Purba, Michael. 2006. Kimia untuk SMA kelas XII. Jakarta: Erlangga

Hart, Harold. 1990. Kimia Organik. Jakarta: Erlangga

Willbraham, and Michael S. Marta. 1992. Kimia organik dan hayati. Bandung: ITB