Anda di halaman 1dari 18

TEORI KEPRIBADIAN CARL GUSTAV JUNG

Dibuat guna memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Kepribadian


Dosen Pengampu : Haniek Farida, S.Psi, M.Si

Disusun Oleh :
Aris Purmintosari 2018011169
Reja Juliansya 2018011086
Rizky Maulana Putra 2018011173
Kurniawan Pratama 2018011170
Seto Nugroho 2018011069

FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS SARJANAWIYATA TAMANSISWA
YOGYAKARTA
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah psikologi kepribadian.
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Psikologi Kepribadian. Penyusun
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, penyusun berharap adanya kritik dan saran yang membangun guna
perbaikan pengembangan skala psikologi di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu
yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya dan kita dapat
mengambil manfaatnya sehingga dapat memberikan ilmu pengetahuan terhadap pembaca.

Yogyakarta, 12 September 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................................. 2


DAFTAR ISI................................................................................................................................................ 3
BAB I ............................................................................................................................................................ 4
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 4
A. Latar Belakang ................................................................................................................................ 4
B. Rumusan Masalah .......................................................................................................................... 4
C. Tujuan Pembahasan ....................................................................................................................... 4
BAB II .......................................................................................................................................................... 6
TINJAUAN PUSTAKA .............................................................................................................................. 6
A. Biografi Carl Gustav Jung ............................................................................................................. 6
B. Struktur Kepribadian ..................................................................................................................... 7
C. Tingkatan Psyche ............................................................................................................................ 7
1) Kesadaran .................................................................................................................................... 7
2) Ketidaksadaran Pribadi ............................................................................................................. 8
3) Kesadaran Kolektif ..................................................................................................................... 8
4) Arketipe ....................................................................................................................................... 8
D. Dinamika Kepribadian ................................................................................................................. 10
a. Kausalitas dan Teleologi........................................................................................................... 10
b. Progresi dan Regresi ................................................................................................................. 11
E. Tipe Psikologis ............................................................................................................................... 11
1) Sikap ........................................................................................................................................... 11
2) Fungsi ......................................................................................................................................... 13
F. Perkembangan Kepribadian ........................................................................................................ 15
G. Tahap-tahap perkembangan Kperibadian ............................................................................. 15
BAB III....................................................................................................................................................... 17
PENUTUP.................................................................................................................................................. 17
A. Kesimpulan .................................................................................................................................... 17
B. Saran .............................................................................................................................................. 17
Daftar Pustaka .......................................................................................................................................... 18

3
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi, dan temperamen, ciri khas dan
perilaku seseorang jika dihadapkan pada situasi tertentu. Kepribadian dideskripsikan dalam
istilah sifat yang ditunjukkan seseorang. Disamping itu kepribadian diartikan dengan ciri-ciri
yang menonjol pada diri individu.
Kepribadian dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor keturunan dan lingkungan. Carl
Gustav Jung adalah orang pertama yang menemukan tipe kepribadian manusia dengan istilah
ekstrovers dan introvers, serta menggambarkan empat fungsi kepribadian manusia yang
disebut dengan fungsi berpikir, pengindera, intuitif dan perasa.
Motivasi awal Jung menyelidiki tipologi manusia adalah keinginannya untuk mengerti
dan memahami pandanga Freud tentang gangguan mental sangat berbeda dari pandangan
Adler. Pokok kajian Jung sangat khas, yaitu mengenai arketipe-arketipe tiap kejadian. Untuk
itu kami menyusun makalah ini selain guna memenuhi tugas mata kuliah, juga menambah
pengetahuan mengenai Carl Gustav Jung.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi Carl Gustav Jung?
2. Bagaimana struktur kepribadian Jung?
3. Bagaimana tingkatan psyche-nya Jung?
4. Bagaimana dinamika kepribadian Jung?
5. Bagaimana tipe psikologis dari Jung?
6. Bagaimana perkembangan kepribadian Jung?
7. Bagaimana tahap-tahap perkembangan kepribadian Jung?

C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui sejarah hidup dari Carl Gustav Jung.
2. Untuk mengetahui struktur kepribadian Jung.

4
3. Untuk mengetahui tingkatan psyche Jung.
4. Untuk mengetahui dinamika kepribadian Jung.
5. Untuk mengetahui tipe psikologis Jung.
6. Untuk mengetahui perkembangan kepribadian Jung.
7. Untuk mengetahui tahap-tahap perkembangan kepribadian Jung.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Biografi Carl Gustav Jung


Carl Gustav Jung lahir pada 26 Juli 1875 di Kesswil, kota kecil dekat Danau
Constante, Swiss. Jung adalah anak dari pasangan Pendeta di Gereja Reformasi Swiss.
Johan Paul Jung dan Emilie Preiswerk Jung, putri seorang teolog. Keluarga ibu Jung
mempunyai tradisi spiritualisme dan mistisme, dan kakeknya dari garis ibu. Samuel
Preiswek adalah penganut okultisme dan sering berbicara dengan roh orang mati.
Orang tua Jung memiliki tiga anak, seorang anak laki-laki sebelum Carl Gustav Jung,
namun hanya hidup selama 3 hari, dan seorang putri yang lebih muda sembilan tahun
daripada Carl. Karena itu, kehidupan awal yang dimiliki Carl adalah anak tunggal.
Carl remaja adalah seorang yang penyendiri, tertutup dan tidak peduli dengan
sekolah, apalagi dia tidak punya semangat bersaing. Kemudian dimasukkan di sekolah
asrama Bassel, Swiss. Disini ia merasa tertekan karena dicemburui oleh teman-temannya.
Lalu dia mulai sering bolos dan pulang ke rumah dengan alasan sakit, mulai belajar dalam
keadaan perasaan tertekan.
Sebelum Jung memutuskan untuk masuk kedokteran ia belajar Biologi, Zoologi,
Palentologi, dan Arkeologi. Penyelidikannya dalam bidang filsafat, mitologi, literatur
kristen dari abad pertama, misistisisme, ghotisisme dan alkemia diteruskan sepanjang
hidupnya, bersamaan dengan minatnya dalam penelitian-penelitian ilmiah. Latar
belakang dan pikiran-pikirannya yang memadukan antara ilmu eksakta dan ilmu
humanisme, dapat menghasilkan sebuah pemikiran yang unik dan mempersatukan dua
pemikiran yang berbeda dalam satu kesatuan (integral), sehingga ia dapat
mengungkapkan dengan baik struktur dari psike.
Carl Gustav Jung menjadi asisten dokter pada klinik psikiatri di Burgholzli pada
Universitas di Zurich di bawah Eugene Bleuler tahun 1900. Tahun 1902 dia memperoleh
gelar dokter dengan desertasinya “ Zur Psychologie und Phatology of So-Called Occult
Phanomane” (On the Pshycology and Phatology of So Called Occult Phenomena). Dalam
desertasi ini, dia mengemukakan salah satu dari konsep dasarnya, yaitu keutuhan
fundamental dari psike yang merupakan dasar dari semua gejala kesurupan seorang anak

6
muda. Jung yakin bahwa ia dapat melihat usaha-usaha dari satu kepribadian yang lebih
lengka, dan masih tersembunyi dalam alam ketidaksadaran untuk masuk ke dalam alam
kesadaran.
Carl Gustav Jung adalah orang pertama yang merumuskan tipe kepribadian manusia
dengan istilah ekstrovert dan introvert, serta menggambarkan empat fungsi kepribadian
manusia yang disebut dengan fungsi berpikir, pengindera, intuitif, dan perasa.
Motivasi awal Jung menyelidiki tipologi manusia adalah keinginannya untuk
mengerti dan memahami pandangan Freud tentang gangguan mental sangat berbeda dari
pandangan Adler.
Perang dunia pertama adalah masa menyakitkan bagi Jung. Akan tetapi masa itu
merupakan batu loncatan baginya untuk melahirkan teori-teori kepribadian yang tiada
duanya di dunia. Setelah perang berakhir, Jung melakukan perjalanan ke berbagai negara.
Dia pensiun pada tahun 1946 dan mulai menarik diri dari kehidupan umum setelah
istrinya meninggal pada tahun 1955. Jung meninggal pada tanggal 6 Juni 1961 di Zurich.

B. Struktur Kepribadian
Batas antara kedua alam itu tidak tetap, melainkan dapat berubah-ubah, artinya luas
daerah kesadaran atau ketidak sadaran itu dapt bertambah atau berkurang (Sujanto dkk,
2004)

C. Tingkatan Psyche
1) Kesadaran
Dimensi kesadaran dari kepribadian ini adalah ego. Ego adalah jiwa sadar yang
terdiri dari persepsi, ingatan, pikiran, perasaan sadar manusia. Ego melahirkan perasaan
identitas dan kontinuitas seseorang. Dari segi pandangan sang pribadi ego, dipandang
berada pada dimensi kesadaran (Yusuf dkk, 2007)
Diemensi kesadaran manusia mempunyai dua komponen pokok, yaitu fungsi jiwa
dan sikap jiwa, yang masing-masing mempunyai peranan penting dalam orientasi
manusia dalam duinianya. Fungsi jiwa ialah suatu bentuk aktivitas kejiwaan yang
secara teori tidak berubah dalam lingkungan yang berbeda-beda. Jung membedakan
empat fungsi jiwa yang pokok yaitu pikiran, perasaan, pendirian dan intuisi. Pikiran

7
dan perasaan adalah fungsi jiwa yang rasional. Adapaun perasaan menilai atas dasar
menyenangkan dan tidak menyenangkan. Kedua fungsi jiwa yang irrasional yaitu
pendirian dan intuisi tidak memberikan penilaian, melainkan hanya semata-mata
pengamatan. Pendirian mendapatkan pengamatan dengan sadar melalui indera.
Adapaun intuisi mendapat pengamatan secara tidak sadar melalui naluri (Yusuf dkk,
2007).

2) Ketidaksadaran Pribadi
Ketidaksadaran pribadi berisi kompleks (konstelasi) perasaan, pikiran, persepsi,
ingatan yang terdapat dalam ketidaksadaran pribadi. Kompleks memiliki inti yang
bertindak seperti magnet menarik berbagai pengalaman ke arahnya (Yusuf dkk, 2007).

3) Kesadaran Kolektif
Kesadaran kolektif atau transpersonal adalah gudang bekas ingatan laten yang
diwariskan dari masa lampau leluhur seseorang . kesadaran kolektif adalah sisi psikis
perkembangan evolusi manusia yang menumpuk akibat dari pengalaman yang
berulang selama banyak generasi. Kesadaran kolektif hampir sepenuhnya terlepas dari
segala segi pribadi dalam kehidupan seseorang dan nampaknya bersifat universal.
Semua manusia kurang lebih memiliki ketidaksadarak kolektif yang sama. Jung
menghubungkan sifat universal ketidaksadaran kolektif itu dengan kesamaan struktur
otak pada semua ras manusia. Kesamaan struktur otak manusia ini disebabkan oleh
evolusi umum (Yusuf dkk, 2007).

4) Arketipe
Isi dari alam bawah sadar kolektif disebut dengan Archetype (arketipe). Jung juga
menyebutnya dengan dominan, image, bayangan-bayangan, mitologis atau primodial,
dan sebagainya. Arketipe merupakan ingatan ras akan suatu bentuk pikiran universal
yang diturunkan dari generasi ke generasi. Empat arketipe yang penting dalam
membentuk kepribadian seseorang adalah (Muhammad, 2017):
a. Persona

8
Persona ialah topeng ego, citra/sisi kepribadian yang ingin ditunjukkan manusia
yang kepada dunia luar. Kebanyakan orang mengembangkan persona dengan
menghilangkan bagian-bagian kepribadian yang lebih dalam. (Feist & Feist, 2014).
b. Shadow
Merupakan arketipe yang terdiri dari insting-insting binatang yang diwarisi
manusia dalam evolusinya dari bentuk-bentuk kehidupan yang lebih rendah ke
bentuk yang lebih tinggi. shadow merupakan isi psikis yang tidak ingin ditampilkan
atau bahkan dihargai oleh seseorang atau individu. Shadow merupakan bagian dari
hidup seseorang namun ia tidak diinginkan untuk muncul karena dianggap lemah,
tidak dapat diterima secara sosial atau bahkan cenderung aneh. Manifestasi shadow
berakar pada satu dari dua pengalaman besar seseorang (1) melihat dirinya sendiri
sebagai yang jelek atau tidak sempurna. Ini disebabkan mungkin karena terlalu
sering atau berulang kali dicemooh oleh orang lainbahwa dirinya tidak berguna,
hingga kemudian ia tidak dapat melihat apa yang baik dalam dirinya, atau (2)
bangga atau merasa dihargai karena karakter negatif yang dimilikinya, misalnya
orang yang suka atau haus akan kekuasaan (Muhammad, 2017).
c. Anima dan Animus
Merupakan elemen kepribadian secara psikologis berpengaruh terhadap sifat
bisexual manusia. Anima adalah arketipe sifat kewanitaan feminisme pada laki-
laki, sedangkan animus adalah arketipe sifat kelelakian/maskulin pada permpuan.
Anima dan animus disebut syzygy. Anima adalah sisi kewanitaan yang hadir dalam
alam bawah sadar kolektif pria. Anima biasanya dipersonifikasikan sebagai gadis
kecil, yang spontan dan sangat perasa. Anima lebih diasumsikan dengan kedalaman
perasaan dan kekuatan hidup. Jung percaya anima berakar dari pengalaman-
pengalaman laki-laki sebelumnya dengan perempuan.- ibu, saudara perempuan dan
kekasih – yang berpadu membentuk gambaran umum perempuan. Sedangkan
animus adalah sisi kepribadian yang hadir dalam alam bawah sadar wanita. Animus
dipersonifikasikan sebagai orang bijak yang cenderung logis, rasionalistik dan
argumentatif. Jung yakin bahwa animus bertanggung jawab terhadap pola pikir dan
opini perempuan sama seperti anima menghasilkan perasaan dan suasana hati pada
laki-laki (Muhammad, 2017).

9
d. Diri
Arketipe tergantung dari diri, kesadaran yang berjuang untuk memusat,
mencapai keutuhan dan memperoleh makna (Feist & Feist, 2014). Jung percaya
bahwa setiap pribadi memiliki sebuah kecenderungan warisan untuk bergerak
menuju pertumbuhan, penyempurnaan dan perlengkapan dan Jung menyebut sifat
bawaan ini sebagai arketipe-self. Sebagai yang paling komprehensif dari semua
arketipe, self adalah arketipenya semua arketipe, karena dialah yang mendorong
semua arketipe lain dan menyatukan mereka di dalam proses realitas-diri. Self tidak
mudah untuk dijelaskan atau digambarkan. Jadi self adalah kepribadian total
baikkesadaran maupun bawah sadar. Self adalah pusat dari kepribadian.

D. Dinamika Kepribadian
Gagasan Jung tentang dinamika kepribadian akan membahas kausalitas dan teleologi
dan tentang progresi dan regresi.
a. Kausalitas dan Teleologi
Kausalitas meyakini bahwa peristiwa-peristiwa masa kini memiliki asal-usul di
dalam pengalaman-pengalaman masa laly yang merupakan asal adanya motivasi. Jung
mengkritik pendapat Freud mengenai sudut pandang kausal dalam penjelasannya
mengenai perilaku orang dewasa berdasarkan pengalaman masa kanak-kanak awal
mereka (Feist & Feist, 2014).
Motivasi berasal dari masa lalu dan tujuan teleologis. Kausalitas berisi keyakinan
bahwa peristiwa masa kini memiliki asal usul pengalaman sebelumnya. Freud sangat
meyakini dan berpegang pada kausalitas, namun Jung tidak sependapat dengan Freud,
karena Jung berpendapat bahwa teleologis juga mengambil tempat dalam
mempengaruhi motivasi. Teleologis berisi keyakinan bahwa peristiwa masa kini
domotivasikan oleh tujuan dan aspirasi kedepan yang mengarahkan tujuan seseorang.
Jung mempunyai pandangan yang sama terhadap mimpi yang berasal dari
pengalaman masa lalu. Namun Jung juga menambahkan bahwa mimpi dapat membantu
seseorang dalam menentukan masa depan seseorang.

10
b. Progresi dan Regresi
Progresi adalah proses adaptasi manusia terhadap dunai batin mereka dan dunia luar
mereka yang melibatkan aliran maju energi psikis untuk mencapai realisasi diri.
Sedangkan regresi adalah proses adaptasi dengan dunia batin yang mengendalikan arus
mundur energi psikis. Kedua istilah tersebut sangat esensial jika manusia ingin
mencapai pertumbuhan individual atau “realisasi diri “. Jika, progresi dan regresi
dipadukan, dikerjakan bersama-sama, seimbang satu sama lain, maka proses
perkembangan pribadi yang sehat akan tercapai.

E. Tipe Psikologis
1) Sikap
Menurut Jung, sikap adalah kecenderungan untuk bereaksi bahkan kearah yang
khas. Setiap orang memiliki kecenderungan untuk bersikap kearah introversi sekaligus
ekstroversi. Kedua sikap tersebut mendukung terbentuknya hubungan yang
kompensatoris satu sama lain, hubungan ini dapat digambarkan sebagai “yin dan
yang”. (Feist & Feist, 2014)
a. Introversi
Introversi adalah membalikkan energi psikis ke dalam sebuah orientasi terhadap
objektivitas. Orang-orang introver selalu mendengarkan dunia batin mereka dengan
semua bias, fantasi, mimpi dan persepsi yang terindividualisasikan. Orang-orang
ini tetap bersentuhan dengan dunia eksternal, tetapi mereka melakukannya dengan
selektif dan didasarkan kepada pandangan subjek mereka.
Orang dengan tipe ini akan menikmati kesendiriannya dan akan mencurhkan
perhatiannya terhadap hal-hal yang sifatnya subjektif. Dan oleh karenanya ia akan
tampak lebih bisa mandiri dalam melakukan penilaian (Feist & Feist, 2014).

b. Ekstroversi
Ekstroversi adalal sikap yang mengarahkan energi psikis keluar sehingga
seseorang diorientasikan menuju sesuatu yang objektif dan menjauh dari subjektif.
Seorang ekstrover akan menaruh perhatian lebih pada dunia di luar dirinya,
kejadian dan benda atau barang lain, dan akan dapat dengan mudah menjalin

11
hubungan dengan mereka. Orang tipe ini akan memiliki kecenderungan untuk
superficial, siap untuk menerima dan mengadopsi conventional satndart,
tergantung dalam usaha untuk memberikan kesan yang baik (Feist & Feist, 2014).
Jung berpendapat bahwa antara sikap jiwa ekstroverrs dan introvers ini terdapat
hubungan yang kompensatoris. Dengan mendasarkan pada komponen pokok dari
kesadaran itu sampailah Jung pada pembagian tipe ekstravers dan empat tipe
intravers. Jadi orang yang kesadarannya bertipe pemikir maka ketidaksadarannya
adalah perasa. Orang yang kesadarannya ekstravers, ketidaksadarannya bersifat
intravers. Adapaun tipologi kepribadian menurut Jung.
Sikap jiwa Fungsi jiwa Tipe Ketidaksadarannya
kepribadian
Ekstravers Pikiran Pemikir- Perasa-introvers
ekstravers
Perasaan Perasa- Pemikir-introvers
ekstravers
Pendirian Pendirian- Intuitif-introvers
ekstravers
Intuisi Intuisi- Pendirian-
ekstravers introvers
Introvers Pikiran Pemikir- Perasa-ekstravers
introvers
Perasaan Perasa- Pemikir-ekstravers
introvers
Pendirian Pendirian- Intuitif-ekstravers
introvers
Intuisi Intuitif- Pendirian-
introvers ekstravers

Dalam kenyataanya tipe kepribadian yang murni seperti yang digambarkan di


tabel itu jarang sekali. Terdapat variasi tipe tersebut dalam kenyataannya lebih
banyak daripada yang digambarkan dalam tabel itu. Disamping tipe pokok tersebut
dapat dikemukakan tipe campuran, yakni 1) pikiran empiris, 2) pikiran, 3) pikiran
ituitif-spekulatif, 4) intuisi, 5) pikiran empiris, 6) perasaan, 7) perasaan-pendirian ,
dan 8) pendirian. (Feist & Feist, 2014)
Orang yang ekstravers terutama dipengaruhi oleh dunia obyektif, yaitu dunia
luar dirinya. Orientasinya terutama tertuju keluar: pikiran, perasaan, serta tindaka-

12
tindakannya, terutama ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan sosial
maupun lingkungan non-sosial.
Orang yang introvers terutama dipengaruhi oleh dunia subyektif, yaitu dunia di
dalam dirinya sendiri. Orientasinya terutama tertuju ke dalam pikiran, perasaan,
serta tindakan-tindakannya terutama ditentukan oleh faktor-faktor subyektif.
Penyesuaiinya dengan dunia luar kurang baik, jiwanya tertutup, sukar bergaul,
sukar berhubungan dengan hatinya sendiri. Bahaya bagi orang yang introvers ini
adalah jarak dengan dunia obyektif terlalu jauh, sehingga orang lepas dari dunia
obyektifnya (Sujanto, 2004).
2) Fungsi
Baik introvers maupun ekstrovers dapat berkombinasi dengan satu atau lebih dari
empat fungsi psikologis, sehingga membentuk delapan orientasi tindakan. Empat
fungsi ini – mengindera, berpikir, merasa dan mengintuisi (Sujanto, 2004).
a. Thinking (berpikir)
Aktivitas intelektual logis yang menghasilkan rantai-rantai ide disebut berpikir.
Tipe berpikir bisa bersifat ekstrovers atau introvers, tergantung sifat dasar
seseorang. Orang-orang yang berpikir secara ekstrivers sangat mengendalikan
pikiran-pikiran konkret, namun mereka bisa juga menggunakan ide-ide abstrak jika
ide-ide ini dipancarkan kepada mereka dari luar. Orang-orang yang berpikir
introvers mereka bereaksi terhadap stimuli eksternal, namun interpretasi mereka
mengenai suatu peristiwa lebih diwarnai oleh makna internal yang mereka berikan
kepada stimuli tersebut daripada fakta-fakta obyektif itu sendiri.
b. Feeling (merasa)
Perasaan adalah pengevaluasian setiap aktivitas sadar, bahkan terhadap hal-hal
yang dinilai sebagai sesuatu yang tidak begitu disukai. Perasaan berfungsi sebagai
evaluasi, menerima atau menolak ide dan objek berdasarkan apakah mereka itu
membangkitkan perasaan positif atau negatif, memberi pengalaman subjektif.
Orang yang merasa ekstrovers menggunakan data objektif untuk melakukan
evaluasi. Orang yang merasa secara introvers melandaskan penetapan nilai
utamanya pada persepsi subjektif lebih daripada fakta objektif.
c. Sensing (mengindera)

13
Fungsi menerima stimuli fisik dan mentransmisikannya ke alam sadar perseptual
disebut sensasi/penginderaan.penginderaan melibatkan panca indera serta
merespon rangsang dan salam tubuh sendiri. Mereka yang mengindera secara
ekstrovers memahami stimuli eksternal secara objektif, kebanyakan sama dengan
stimuli yang nyata. Mereka yang mengindera secara introvers sebagian besar
terpengaruh oleh sensasi-sensasi subjektif indera.
d. Intuiting (mengintuisi)
Intuisi melibatkan persepsi yang melampaui kerja kesadaran, seperti
penginderaan, dilandaskan pada fakta-fakta dasar yang absolut, yakni serangkaian
fakta yang menyediakan materi kasar bagi pikiran dan perasaan. Mengintuisi
berbeda dari merasa karena lebih kreatif, bahkan seringkali menambahkan elemen-
elemen dari penginderaan alam sadar. Orang-orang yang mengintuisi secara
ekstrovers diorientasikan ke arah fakta-fakta dunia eksternal. Stimuli penginderaan
yang kuat ikut campur tangan dengan intuisi, maka orang yang intuitif menekan
banyak penginderaan mereka dan dituntun oleh tebakan da terkaan yang berbalikan
dengan data indera. Orang yang nengintuisi secara introvers dituntun oleh persepsi
bawah sadar fakta-fakta yang pada dasarnya subjektif dan memiliki sedikit saja
kemiripan dengan realitas eksternal atau tidak sama sekali.
Jung membedakan empat fungsi pokok, yaitu :
Fungsi jiwa Sifatnya Cara kerja
Pikiran Rasional Dengan penilaian :
benar- salah
Perasaan Rasional Dengan penilaian :
senang-tak senang
Pendirian Irrasional Tanpa penilaian:
sadar indriah
Intuisi Irrasional Tanpa penilaian:
sadar naluriah

Pada dasarnya tiap manusia memiliki keempat fungsi itu, akan tetapi biasanya
hanya salah satu fungsi saja yang paling berkembang (dominan). Fungsi yang
paling berkembang itu merupakan fungsi superior dan menentukan tipe orangnya,
jadi ada tipe pemikir, tipe perasa, tiper pendirian, dan tipe intuisi (Sujanto, 2004).

14
F. Perkembangan Kepribadian
Tujuan perkembangan manusia adalah aktualisasi diri. Yang berarti diferensiasi
sempurna dan saling hubungan yang selaras seluruh aspek kepribadian manusia, ini berarti
psyche memiliki pusat baru yaitu diri yang menggantikan aku (Yusuf, 2007).
Dalam perkembangan kepribadian terjadi energi psikis yang dipindahkan, artinya
dapat ditransfer dari satu aspek atau sistem ke aspek atau sistem lain. Transfer energi psikis
ini berlangsung atas dasar prinsip pokok dinamika, yaitu transfer dari proses yang lebih
primitif, instingtif, dan rendah diferensiasinya ke proses yang bersifat kultural,
spiritual,dan tinggi aktualisasinya.
Jung berpendapat bahwa kepribadian itu mempunyai kecerdasan untuk berkembang
ke arah suatu kebulatan yang stabil. Perkembangan kepribadian ini adalah panjabaran
kebulatan asli (realisasi atau penemuan diri) yang semula tidak punya diferensiasi dan
tujuan. Supaya tujuan perkembangan ini dapat tercapai, maka semua aspek kepribadian
harus mengalami diferensiasi dan berkembang sepenuhnya (Yusuf, 2007).
Untuk mencapai kepribadian yang integral serta sehta, maka setiap sistem atau aspek
kepribadian itu harus mencapai tahap diferensiasi dan berkembang sepenuhnya. Proses
diferensiasi dan berkembang secara penuh itu disebut proses pembentukan dan atau
penemuan diri. Jung menyebutkan proses pembentukan diri ini sebagai individuasi (Yusuf,
2007).

G. Tahap-tahap perkembangan Kperibadian


Proses individuasi ini ditandai oleh bermacam-macam perjuangan batin melalui
bermacam-macam tahap perkembangan, yaitu :
1) Tahap pertama
Membuat sadar fungsi pokok serta sikap jiwa yang ada dalam ketidaksadaran.
Dengan cara ini, tegangan dalam batin berkurang dan kemampuan untuk orientasi serta
penyesuaian diri meningkat.
2) Tahap kedua
Membuat sadar image. Dengan menyadari image ini, orang akan mampu melihat
kelemahan-kelemahannya sendiri yang diproyeksikan.
3) Tahap ketiga

15
Menyadari bahwa manusia hidup dalam berbagai tegangan pasangan yang
berlawanan, baik rohaniah maupun jasmaniah. Manusia harus tabah dalam menghadapi
masalah dan dapat mengatasinya.

4) Tahap keempat
Adanya hubungan yang selaras antara kesadaran dan ketidaksadaran, hubugan yang
selaras dengan segala aspek kepribadian yang ditimbulkan oleh titik pusat kepribadian
yaitu diri. Diri menjadi titik pusat kepribadian, menerangi, menghubungkan serta
mengkoordinasikan seluruh aspek kepribadian. Gambaran manusia yang mampu
mengkoordinasikan seluruh aspek kepribadian disebut dengan manusia integral atau
manusia sempurna (Yusuf, 2007).

16
BAB III

PENUTUP
A. Kesimpulan
Kepribadian dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor keturunan dan lingkungan. Carl
Gustav Jung adalah orang pertama yang menemukan tipe kepribadian manusia dengan
istilah ekstrovers dan introvers, serta menggambarkan empat fungsi kepribadian manusia
yang disebut dengan fungsi berpikir, pengindera, intuitif dan perasa.
Manusia yang memiliki sifat ekstrovert akan lebih mudah beradaptasi dengan
lingkungan dan lebih bergantung kepada orang lain, sedangkan individu yang introvert
akan lebih banyak menyendiri dengan pemikiran-pemikiran subyektifnya, namun ia
mampu menjadi pribadi yang mandiri.

B. Saran
1. Penulis mampu memahami teori kepribadian dari Jung.
2. Penulis mampu mengaplikasikan teori kepribadian Jung.

17
Daftar Pustaka

Feist, Jess dan Gregory J. Feist. 2014. Theories Of Personality. Jakarta: Salemba Humanika.
Muhammad, Hamdi. 2017. Teori Kepribadian Carl Gustav Jung. Jurnal Ilmiah.
Sujanto, Agus dkk. 2004. Psikologi Kepribadian. Jakarta: PT. Bumi Aksara.
Yusuf, Syamsu dan Achmad J. Nurihsan. 2007. Teori Kepribadian. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.

18